Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan

pertanian yang memiliki peranan yang penting dalam kegiatan ekonomi

Indonesia. Salah satu tujuan dari pembangunan peternakan adalah untuk

memenuhi kebutuhan gizi masyarakat yang bersumber dari protein hewani berupa

daging, telur dan susu yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas

sumberdaya manusia (Kamiluddin, 2009).

Produk utama yang telah berhasil dikembangkan petani peternak adalah

ternak sapi potong. Telah begitu banyak program pemerintah dalam

pengembangan ternak, utamanya ternak sapi potong. Di antaranya program

swasembada daging sapi dan program pengadaan sejuta ekor sapi oleh pemerintah

Sulawesi Selatan. Sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan

makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan penting

artinya dalam kehidupan masyarakat. Ternak sapi potong yang banyak dipelihara

petani peternak khususnya daerah Sulawesi Selatan adalah jenis Sapi Bali. Jenis

ternak ini cukup potensial dikembangkan di daerah tropic dan

pemeliharaannyapun cukup sederhana. Ternak sapi potong bisa menghasilkan

berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan berupa daging,

disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kompos, biogas, kulit,

tulang dan lain sebagainya (Siregar, 2009).

Daging khususnya daging sapi potong merupakan sumber protein hewani

yang banyak dibutuhkan oleh konsumen. Indonesia sampai saat ini belum mampu

memenuhi kebutuhan daging tersebut, sehingga sebagian dari kebutuhan masih

1
harus di impor. Kondisi yang demikian mengisyaratkan peluang untuk

pengembangan usaha budidaya ternak terutama sapi potong.

Kecamatan Sinjai Tengah merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten

Sinjai dimana sektor pertaniannya memegang peranan penting dalam

perekonomian masyarakat. Kecamatan Sinjai Tengah memiliki potensi wilayah

dengan padang pengembalaan yang cukup luas dan hijauan pakan ternak dan

limbah pertanian (jerami padi, batang jagung dan lainnya) sehingga cukup

potensial untuk pengembangan ternak sapi Potong. Jumlah populasi ternak sapi

potong yang tercatat di daerah ini cukup besar dan terus mengalami peningkatan

tiap tahunnya selama lima tahun terakhir. Penggambaran peningkatan populasi

tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut :

Tabel 1. Populasi Ternak Sapi Potong Tiap Desa/Kelurahan di Kecamatan


Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai Keadaan Tahun 2011
Sapi
No Desa/Kelurahan Jumlah
Jantan Betina
1. Kompang 160 311 471
2. Saotanre 165 322 487
3. Baru 292 567 859
4. Saotengga 399 776 1.175
5. Pattongko 348 676 1.024
6. Bonto 198 384 582
7. Saohiring 409 795 1.204
8. Kanrung 450 875 1.325
9. Samaenre 405 787 1.192
10. Mattunreng Tellue 659 1.281 1.940
11. Gantarang 85 164 249
Jumlah 2011 3.570 6.938 10.508
2010 2.727 6.781 8.692
2009 1.911 4.080 5.991
2008 2.118 3.720 5.838
2007 1.738 2.999 4.737
Sumber : Dinas Peternakan Kabupaten Sinjai Tahun 2012

Berdasarkan data pada tabel 2 tertera bahwa jumlah populasi ternak sapi

potong di Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai terus mengalami

2
peningkatan dari tahun ke tahun selama kurung waktu 5 tahun yaitu tahun 2007 –

2011 sebesar 4.737 meningkat menjadi 10.508 ekor.

Desa Mattunreng Tellue merupakan salah satu desa yang memiliki populasi

sapi potong paling besar di Kecamatan Sinjai Tengah pada Tahun 2011 yaitu 1940

ekor. Pengembangan ternak sapi potong di Desa ini memiliki prospek yang cukup

bagus. Hal ini terlihat dari fakta di lapangan berdasarkan hasil survey peneliti

bahwa di desa ini sekitar 80% penduduknya memiliki ternak utamanya ternak sapi

potong. Beternak sapi potong bagi warga Desa Mattunreng Tellue merupakan

bagian kehidupan masyarakat yang telah menyatu secara sosial dan budaya.

Ternak Sapi warga desa selain digunakan sebagai alat untuk membantu petani

membajak sawah/tegalan juga sebagai tabungan dan sebagai pendapatan

tambahan keluarga.

Setiap usaha yang dilaksanakan diharapkan dapat memberikan hasil berupa

pendapatan/ keuntungan yang maksimal, begitu pula halnya bagi petani peternak

di Desa Mattunreng Tellue. Namun pengelolaan usahaternak yang dilakukan oleh

petani-peternak masih sangat sederhana, selain itu mereka pada umumnya belum

dapat menaksir seberapa besar jumlah pendapatan yang mereka peroleh dari

usahaternaknya.

Oleh karena itu, untuk lebih mengembangkan usaha taniternak sapi potong

yang dijalankan oleh petani peternak di desa Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai

Tengah Kabupaten Sinjai, maka penting diketahui seberapa besar pendapatan

usaha ternak sapi potong para petani peternak. Hal inilah yang mendorong

peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Pendapatan Usaha

Ternak Sapi Potong Pada Berbagai Skala Tingkat Kepemilikan Di Desa

Mattunreng Tellue Kec. Sinjai Tengah Kab. Sinjai.

3
1.2 Perumusan Masalah

Masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah seberapa besar

pendapatan peternak sapi potong pada berbagai skala tingkat kepemilikan ternak

di desa Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pendapatan

peternak sapi potong pada berbagai skala tingkat kepemilikan ternak di Desa

Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai.

1.4 Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Peternakan Kabupaten Sinjai dalam

kebijakan pengembangan peternakan khususnya pengembangan ternak sapi

Potong .

2. Sebagai bahan masukan bagi petani peternak sapi potong untuk lebih

mengembangkan ternak sapi potong di Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten

Sinjai .

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Usaha Ternak Sapi potong

Dilihat dari pola pemeliharaannya peternakan sapi potong di Indonesia

dapat dibagi menjadi tiga kelompok (Mubyarto, 1989 : 22), yaitu :

a) Peternakan rakyat dengan cara pemeliharaan yang tradisional

Keterampilan sederhana dan menggunakan bibit lokal dalam jumlah dan

mutu yang relatif terbatas. Ternak pemakan rumput digembalakan di padang

umum, di pinggir jalan dan sawah, di pinggir sungai atau di tegalan sendiri.

Kalau siang hari diberi minum dan dimandikan seperlunya sebelum

dimasukkan ke dalam kandang. Pemeliharaan dengan cara ini dilakukan setiap

hari dan dikerjakan oleh anggota keluarga peternak. Tujuan utama ialah

sebagai hewan kerja dalam membajak sawah/tegalan, hewan penarik gerobak

atau pengangkut beban sedang kotorannya dipakai sebagai pupuk.

b) Peternakan rakyat dengan cara pemeliharaan yang semi komersil

Keterampilan yang mereka miliki dapat dikatakan lumayan. Penggunaan

bibit unggul, obat–obatan dan makanan penguat cenderung meningkat,

walaupun lamban. Jumlah ternak yang dimiliki 2 – 5 ekor ternak. Bahan

makanan berupa ikutan panen seperti bekatul, jagung, jerami dan rumput-

rumputan yang dikumpulkan oleh tenaga kerja dari keluarga sendiri. Tujuan

utama dari memelihara ternak adalah untuk menambah pendapatan keluarga

dan konsumsi sendiri.

c) Peternak komersil

Usaha ini dijalankan oleh golongan ekonomi yang mempunyai

kemampuan dalam segi modal, sarana produksi dengan teknologi yang agak

5
modern. Semua tenaga kerja dibayar dan makanan ternak terutama dibeli dari

luar dalam jumlah yang besar. Tujuan utamanya adalah mengejar keuntungan

sebanyak – banyaknya. Biaya produksi ditekan serendah mungkin agar dapat

menguasai pasar.

Pemeliharaan sapi potong di Indonesia sebagian besar masih bersifat

tradisional, dimana petani peternak masih memanfaatkan hanya sebagai tenaga

kerja dan penghasil pupuk saja, serta sebagai ternak potong. Sementara itu

kebutuhan akan daging yang berkualitas semakin terus meningkat. Oleh karena itu

upaya perbaikan dalam sistem pemeliharaan berupa penggemukan sapi melalui

sistem perkandangan sangat diperlukan untuk memacu produksi daging. Sapi

potong sangat respon terhadap usaha-usaha perbaikan, walaupun mempunyai

pertumbuhan yang lambat tetapi penimbunan lemaknya lebih cepat sehingga dapat

meningkatkan persentase karkas yang lebih baik dari jenis sapi lainnya (Bandini,

1999 : 34).

Jenis sapi potong yang banyak dikembangkan di Indonesia adalah Sapi bali

yang merupakan ternak potong andalan Indonesia. Sapi Bali merupakan sapi hasil

keturunan dari sapi liar yang sudah mengalami proses yang cukup lama. Sapi Bali

memiliki bulu halus, pendek – pendek, dan mengkilap. Pada saat muda, warna

bulunya yang cokelat akan berubah menjadi hitam. Sapi Bali dapat mencapai

bobot badan jantan dewasa antara 350 – 400 kg dan betina dewasa antara 250 –

300 kg. Hewan ini memiliki persentase karkas yang tinggi lemaknya sedikit, serta

perbandingan tulang sangat rendah. Selama ini sapi potong dijual untuk

memenuhi kebutuhan pasar lokal seperti rumah tangga, hotel, restaurant, industri

pengolahan daging serat pasar antar pulau terutama untuk pasar kota-kota besar

(Bandini, 1999 : 17).

6
Menurut Guntoro, (2002 : 37) pemeliharaan sapi potong umumnya

menggunakan tiga sistem, yaitu sistem Intensif, semi Intensif dan Ekstensif.

1. Sistem pemeliharaan secara Intensif.

Sistem ini biasanya dilakukan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk

penggemukan sapi. Sapi potong yang dipelihara secara intensif disediakan

kandang yang memadai dan sanitasi serta pemeriksaan kesehatan sapi

dilakukan secara berkelanjutan.

2. Sistem pemeliharaan secara semi intensif

Pada sistem ini, sapi yang dipelihara diikat dibawah pohon yang rimbun dan

diberi pakan secar kontinyu. Sapi sepenuhnya dibawah pengawasan oleh

peternak, terutama dalam hal sanitasi kandang/lingkungan, pakan, dan obat-

obatan.

3. Sistem pemeliharaan Ekstensif

Pemeliharaan sapi dilakukan dengan cara di gembalakan di padang

penggembalaan. Sapi yang dipelihara dikandangkan pada kandang yang sangat

sederhana, berpagar, beratap pelepah daun lontar dan berlantai tanah.

Ternak sapi khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya

penghasil bahan makanan berupa daging yang memilki nilai ekonomi, dan penting

artinya dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau sekelompok ternak dapat

menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama berbagai macam makanan

berupa daging disamping hasil ikutan lainnya berupa pupuk kandang, kulit, tulang

dan lain sebagainya (Wardoyo, 1993 : 83).

Ternak sapi bermanfaat lebih luas dan bernilai ekonomis lebih besar

daripada ternak lain. Usaha ternak sapi merupakan usaha yang menarik sehingga

mudah merangsang pertumbuhan usaha. Sebaliknya hewan ternak yang nilai

7
kemanfaatan dan ekonominya rendah pasti akan mudah terdesak mundur dengan

sendirinya. Hal ini bisa dibuktikan perkembangan ternak sapi di Indonesia labih

maju daripada ternak besar ataupun kecil seperti kerbau, babi, domba dan

kambing. Contoh dibawah memperlihatkan kemanfaatan sapi yang luas dan nilai

ekonominya yang tinggi.

1. Sapi sebagai tabungan masyarakat di desa-desa.

2. Mutu dan harga daging atau kulit menduduki peringkat atas bila

dibandingkan daging atau kulit kerbau dan kuda.

3. Memberikan kesempatan kerja, banyak usaha ternak sapi di Indonesia

yang bias dan mampu menampung tenaga kerja cukup banyak sehingga

bias menghidupi banyak keluarga.

4. Sapi merupakan salah satu sumber budaya masyarakat, misalnya sapi

untuk keperluan sesaji, sebagai ternak karapan di Madura dan sebagai

ukuran martabat manusia dalam masyarakat (social standing) (Sugeng,

2002 : 9).

Sejauh ini, usaha ternak seperti sapi potong telah banyak berkembang di

Indonesia. Namun masih bersifat peternakan rakyat, dengan skala usaha yang

sangat kecil yaitu berkisar 1 – 3 ekor. Rendahnya skala usaha ini karena para

petani-peternak umumnya masih memelihara sebagai usaha sambilan, dimana

tujuan utamanya adalah tabungan, sehingga manejemen pemeliharaannya masih

dilakukan secara konvensional (Rianto dan Purbowati, 2009 : 27).

Sodiq dan Abidin (2002 :3-4) mengemukakan bahwa lebih dari 90% usaha

peternakan di Indonesia merupakan usaha peternakan rakyat. Pada masa-masa

mendatang, diharapkan terjadi pergeseran skala dan tipe usaha peternakan rakyat

ke arah industri peternakan. Berdasarkan skala usaha dan tingkat pendapatan

8
peternak, Soehadji dalam Anggraini (2003) mengklasifikasikan usaha peternakan

menjadi empat kelompok, yaitu :

a. Peternakan sebagai usaha sambilan, yaitu petani mengusahakan komoditas

pertanian terutama tanaman pangan, sedangkan ternak hanya sebagai usaha

sambilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga (subsisten) dengan tingkat

pendapatan usaha dari peternakan < 30%.

b. Peternakan sebagai cabang usaha, yaitu peternak mengusahakan pertanian

campuran dengan ternak dan tingkat pendapatan dari usaha ternak mencapai

30−70%.

c. Peternakan sebagai usaha pokok, yaitu peternak mengusahakan ternak sebagai

usaha pokok dengan tingkat pendapatan berkisar antara 70−100%.

d. Peternakan sebagai industri dengan mengusahakan ternak secara khusus

(specialized farming) dan tingkat pendapatan dari usaha peternakan mencapai

100%.

Usaha peternakan komersial umumnya dilakukan oleh peternak yang

memiliki modal besar serta menerapkan teknologi modern. Usaha peternakan

memerlukan modal yang besar, terutama untuk pengadaan pakan dan bibit. Biaya

yang besar ini sulit dipenuhi oleh peternak pada umumnya yang memiliki

keterbatasan modal (Mubyarto dalam Anggraini 2003).

Keberhasilan usaha peternakan sapi potong yang dijalankan peternak

tergantung dari manajemen pemeliharaannya. Pemeliharaan ternak oleh tenaga

kerja yang professional sangat dibutuhkan guna meningkatkan produktivitas

ternak. Tenaga kerja merupakan alat kekuatan fisik dan otak manusia yang tidak

dapat dipisahkan dari manusia dan ditujukan pada usaha produksi. Tenaga kerja

berkaitan erat dengan konsep penduduk, dalam hal ini pengertian tenaga kerja

9
adalah semua penduduk usia kerja (15 – 64 tahun) yakni penduduk yang potensial

dapat bekerja dan yang tidak bekerja tetapi siap untuk bekerja atau yang sedang

mencari pekerjaan (Harnanto, 1993).

Tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja pria, wanita dan tenaga kerja anak-

anak yang berasal dari dalam keluarga dan luar keluarga. Satu hari kerja setara

pria (1 HKP) menggunakan jumlah jam kerja selama 8 jam dengan standard :

Tenaga kerja pria dewasa = >15 Tahun = 1 HKP

Tenaga kerja Wanita = > 15 Tahun = 0.8 HKP

Tenaga kerja anak-anak = >10 – 15 Tahun = 0.5 HKP

(Harnanto, 1993).

Pada usaha sapi potong jumlah ternak yang pelihara diukur dalam satuan

ternak (ST). Satuan Ternak (ST) adalah ukuran yang digunakan untuk

menghubungkan berat badan ternak dengan jumlah makanan ternak yang

dimakan. Jadi ST memiliki arti ganda, yaitu ternak itu sendiri atau jumlah

makanan ternak yang dimakannya. Mula-mula ST digunakan pada ternak

pemamah biak (ruminansia) untuk mengetahui daya tampung suatu padang

rumput terhadap jumlah ternak yang dapat dipelihara dengan hasil rumput dari

padang tersebut (Direktorat Bina Usaha Petani Ternak dan Pengelolaan Hasil

Peternakan, 1985).

Satu ekor sapi dewasa lebih dari 2 tahun akan mengkonsumsi rumput/

dedaunan/ hijauan sebanyak ± 35 kg sehari. Seekor ternak muda (umur 1 – 2

tahun) mengkonsumsi setengah dari jumlah itu (15 – 17½ kg) dan seekor pedet

(umur kurang dari 1 tahun) akan mengkonsumsi ± seperempatnya (7½ - 9 kg).

Oleh karena itu kita sebut satu ekor sapi dewasa = 1 Satuan Ternak (ST), satu ekor

sapi muda = ½ ST dan 1 ekor anak sapi = ¼ ST. Bila kita hendak memelihara

10
seekor ternak dewasa selama 1 bulan, maka jumlah makanan ternak yang

dikonsumsi adalah 30 ST/ hari, yaitu 30 x 35 kg rumput = 1.050 kg. Bila 1 tahun,

maka dibutuhkan 365 x 35 kg = 12. 775 kg. Kita sebut 12.775 kg rumput = 1 ST/

Tahun (Direktorat Bina Usaha Petani Ternak dan Pengelolaan Hasil Peternakan,

1985).

Satuan ternak digunakan disamping untuk menghitung daya tampung

makanan ternak suatu padang rumput atau daya tampung sisa hasil usaha tani

suatu areal tanah pertanian terhadap jumlah ternak, dapat juga digunakan untuk

perhitungan berbagai masukan dan keluaran fisik. Dengan demikian, biaya

masukan dan penerimaan dapat pula diperhitungkan. Masukan fisik misalnya

rumput, hijauan, dan makanan ternak lainnya, luas kandang, luas padang rumput

jumlah air minum, obat, perkawinan ternak dan tenaga buruh. Output fisik

misalnya jumlah pupuk kandang, jumlah berat badan dan tenaga kerja (Direktorat

Bina Usaha Petani Ternak dan Pengelolaan Hasil Peternakan, 1985).

2.2 Skala Kepemilikan Ternak

Saleh (2006) mengatakan bahwa pada usaha peternakan sapi potong setiap

penambahan 1 ST ternak sapi dapat meningkatkan pendapatan peternak. Hal ini

menunjukkan bahwa skala usaha berpengaruh signifikan terhadap pendapatan

peternak. Ditambahkan pula oleh Krisna dan Manshur (2006) bahwa tinggi

rendahnya pendapatan yang diperoleh peternak dalam menjalankan usaha

ternaknya dipengaruhi oleh jumlah ternak yang dipelihara. Semakin banyak ternak

yang dipelihara, semakin banyak keuntungan yang akan diterima oleh peternak.

Menurut Prawirokusumo (1991) dalam Siregar (2009) bahwa usaha yang

bersifat tradisional diwakili oleh para petani dengan lahan sempit yang

11
mempunyai 1-2 ekor ternak. Ditambahkan pula oleh Mubyarto (1991)

Berdasarkan kepemilikan lainnya, petani Indonesia dibedakan menjadi 3 jenis

yaitu :

a. Petani yang tidak memiliki lahan (landless labor)


b. Petani pemilik lahan
c. Petani pemilik penyewa penggarap artinya selain menyewa lahan, juga
memiliki lahan sendiri.

Menurut Bessant (2005) bahwa skala kepemilikan sapi potong petani-

peternak yang berstatus sebagai peternakan rakyat, dikelompokkan menjadi 3

bagian yaitu skala kecil (1 – 5 ekor), skala menengah (6 – 10 ekor) dan skala besar

(>10 ekor).

Menurut Abidin (2002) meskipun masih berskala kecil, usaha sapi potong

memerlukan pencatatan. Selain itu perlu di susun rencana cash flow selama masa

usaha perlu juga di pertimbangkan pembelian barang. Hal seperti ini tidak terlalu

berpengaruh jika skala usaha masih kecil tetapi akan berpengaruh besar jika skala

usaha semakin besar. Sedangkan menurut Siregar (2009) jumlah sapi yang akan

digemukkan perperiode penggemukan tidak ada batasannya, tetapi tergantung

pada modal usaha yang dimiliki dan fasilitas-fasilitas penunjang yang di kuasai

seperti lahan, kandang, dan kemampuan peternak dalam mengelolah dan mengatur

pemasarannya. Apabila tertanggulangi maka lebih baik mengelolah dalam jumlah

banyak agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

2.3 Biaya Produksi

Dalam arti luas, biaya (cost) adalah sejumlah uang yang dinyatakan dari

sumber-sumber (ekonomi) yang dikorbankan (terjadi dan akan terjadi) untuk

mendapatkan sesuatu atau mencapai tujuan tertentu, istilah biaya kadang-kadang

12
dianggap sinonim dengan (1) harga pokok dan (2) beban dari sesuatu untuk tujuan

tertentu tersebut. Untuk mudahnya, pengertian biaya sebagai harga pokok dan

sebagai beban itu, disebut pengertian biaya dalam arti sempit, yakni apabila

pengorbanan yang diperlukan itu terjadi dalam rangka merealisasikan pendapatan

(Harnanto, 1992 : 24).

Biaya berkaitan dengan tingkat harga suatu barang yang harus dibayar.

Biaya yang tidak tergantung pada tingkat output disebut biaya tetap atau fixed cost

(FC), biaya variabel atau variabel cost (VC) berubah-ubah sesuai dengan

perubahan output. Biaya total atau Total Cost (TC) untuk setiap tingkat output

merupakan penjumlahan dari biaya tetap total atau Total Fixed Cos (TFC) dan

biaya variabel total atau Total Variabel Cost (TVC) (Arsyad, 1995 : 258).

Penggolongan biaya produksi dilakukan berdasarkan sifatnya. Biaya tetap

(fixed cost) ialah biaya yang tidak ada kaitannya dengan jumlah barang yang

diproduksi. Petani peternak harus tetap membayarnya, berapapun jumlah komoditi

yang dihasilkan usahatani ternaknya. Sebagai contoh, apabila petani menyewa

lahan untuk jangka panjang waktu yang lama, maka jumlah sewa lahan yang harus

dibayar petani setiap tahunnya sama dan tidak bergantung kepada produksi yang

diperoleh petani pada tahun tersebut. Biaya memelihara ternak kerja tidak berubah

apakah ternak tersebut dipergunakan sepanjang tahun atau tidak. Biaya tetap

menjadi sangat penting apabila petani memikirkan tambahan investasi, seperti

peralatan pertanian, ternak kerja, mesin pertanian atau bangunan. Tiap tambahan

investasi hanya dapat dibenarkan apabila petani mampu membelinya dan dalam

jangka panjang dapat mamberikan arus keuntungan. Keuntungan ini dapat terjadi

karena berkurangnya biaya tidak tetap (variabel cost) atau meningkatnya produksi

13
pada waktu yang bersamaan atau berkurangnya biaya tetap untuk tiap satuan

komoditi yang dihasilkan (Soekartawi, dkk, 1986 ; 12-13) .

Menurut Abidin (2002 : 59), pencatatan perlu dilakukan untuk dua pos

besar, yaitu pos pengeluaran atau biaya dan pos pendapatan. Pengeluaran atau

biaya dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

1) Biaya tetap (fixed cost), diartikan sebagai biaya yang besarnya tetap,

walaupun hasil produksinya berubah sampai batas tertentu. Termasuk dalam

biaya tetap adalah biaya tetap adalah sewa lahan, pembuatan kandang,

pembelian peralatan dan pajak.

2) Biaya variabel (variabel cost) adalah biaya yang jumlahnya berubah jika hasil

produksinya berubah. Termasuk dalam biaya ini adalah pembelian pakan,

pembelian pupuk, biaya pembelian bibit, biaya obat-obatan dan tenaga kerja.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa diluar biaya tersebut, perlu juga diperhitungkan

biaya-biaya yang pada usaha peternakan tradisional tidak pernah diperhitungkan,

seperti perhitungan gaji tenaga kerja dari anggota keluarga, bunga modal dan

biaya penyusutan.

Selanjutnya Swastha dan Suktojo (1993 : 217) menyatakan bahwa kita perlu

mengetahui beberapa konsep tentang biaya seperti : biaya variabel, biaya tetap,

dan biaya total.

1) Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah yang disebabkan oleh adanya

perubahan jumlah hasil. Apabila jumlah barang yang dihasilkan bertambah,

maka biaya biaya variabelnya juga meningkat. Biaya variabel yang

dibebankan pada masing-masing unit disebut biaya variabel rata-rata

(average variabel cost).

14
2) Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya-biaya yang tidak berubah-ubah (constant) untuk

setiap kali tingkatan/jumlah hasil yang diproduksi. Biaya tetap yang

dibebankan pada masing-masing unit disebut biaya tetap rata-rata (average

fixed cost).

3) Biaya Total

Biaya total adalah keseluruhan biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan

atau dengan kata lain biaya total ini merupakan jumlah dari biaya tetap dan

biaya variabel. Biaya total yang dibebankan pada setiap unit disebut biaya

total rata-rata (average total cost).

Biaya Total = Biaya Tetap + Biaya Variabel

Biaya usaha tani biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : (a) Biaya

Tetap (fixed cost); dan (b) biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap ini

umumnya didefenisikan sebagai biaya yang relative tetap jumlahnya, dan terus

dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Disisi lain

biaya tidak tetap atau biaya variabel biasanya didefenisikan sebagai biaya yang

besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh (Soekartawi, 1995 : 56).

2.4 Penerimaan Usaha Ternak

Penerimaan usaha ternak adalah nilai uang yang diterima dari penjualan

pokok usata ternak, tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan usaha ternak.

Penerimaan kotor usaha ternak adalah jumlah produksi yang dihasilkan dalam

suatu kegiatan usaha ternak dikalikan dengan harga jual yang berlaku dipasaran.

Adapaun penerimaan usaha ternak adalah merupakan hasil perkalian antara

15
produksi yang diperoleh dengan harga jual. Pernyataan ini dapat ditulis sebagai

berikut (Siregar, 2009) :

Total Penerimaan (TR) = Q x P

Dimana : TR = Total Revenue/penerimaan (Rp/Thn)

Q = Jumlah Produksi per tahun

P = harga (Rupiah)

Penerimaan perusahaan bersumber dari pemasaran atau penjualan hasil

usaha seperti panen tanaman dan barang olahannya serta panen dari peternakan

dan barang olahannya. Penerimaan juga bisa bersumber dari pembayaran tagihan-

tagihan, bunga, deviden, pembayaran dari pemerintah dan sumber lainnya yang

menambah aset perusahaan (Kadarsan, 1995:12).

Siregar (2009) menyatakan bahwa penerimaan kotor usaha ternak adalah

jumlah produksi yang dihasilkan dalam suatu kegiatan usaha ternak dikalikan

dengan harga jual yang berlaku dipasaran. Adapun penerimaan usaha ternak

adalah merupakan hasil perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga

jual. Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai Tri = Yi . Pyi. Dimana TR adalah

total penerimaan, Y adalah produksi yang diperoleh dalam suatu usaha ternak (i),

Py adalah harga Y.

2.5 Pendapatan Usaha Ternak

Menurut Soekartawi (1995 ; 57), pendapatan usahatani ternak adalah selisih

antara penerimaan dan semua biaya. Selanjutnya (Rasyaf, 1996 : 32) menyatakan

bahwa pendapatan petani atau peternak adalah selisih antara penerimaan dengan

semua biaya yang dikeluarkan selama melakukan kegiatan usahanya. Bila

16
penerimaan dikurangi dengan biaya produksi maka hasilnya dinamakan

pendapatan.

Menurut Cahyono (1995 : 23) pendapatan usaha ternak ada 2 macam yaitu

pendapatan kotor dan pendapatan bersih (keuntungan). Pendapatan kotor usaha

ternak yaitu keseluruhan hasil atau nilai uang dari hasil usaha ternak. Sedangkan

pengeluaran total usaha ternak adalah semua nilai masukan yang habis terpakai

atau dikeluarkan dalam proses produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja

keluarga peternak. Pendapatan bersih usaha ternak yaitu jumlah pendapatan kotor

usaha tani dikurangi dengan biaya. Dengan kata lain bahwa pendapatan adalah

selisih antara hasil penjualan hasil ternak dengan biaya usaha ternak.

Analisa pendapatan mempunyai kegunaan bagi petani peternak maupun

pemilik faktor produksi. Ada dua tujuan dari analisa pendapatan yaitu (1)

menggambarkan keadaan sekarang atau suatu kegiatan usaha, (2) menggambarkan

keadaan yang akan dari perencanaan atau tindakan. Bagi petani peternak, analisa

pendapatan memberikan bantuan untuk mengukur apakah kegiatan usahanya pada

saat ini berhasil atau tidak. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa ada usaha ternak

yang menggunakan tenaga kerja dari keluarga sehingga lebih tepat kalau

pendapatan itu dihitung sebagai pendapatan yang berasal dari kerja keluarga.

Dalam hal ini, kerja keluarga tidak usah dihitung sebagai pengeluaran dengan kata

lain dalam pendapatan kerja keluarga. Kerja yang berasal dari keluarga tidak

dianggap sebagai pengeluaran. Apabila biaya yang tidak dibayarkan ini dihitung

sebagai biaya usaha ternak, maka analisis usaha ternak itu akan berakhir dengan

angka negatif. Dikatakan bahwa pendapatan yang diterima hampir seluruhnya

digunakan untuk dikosumsi (Patong dan Soeharjo, 1978).

17
Analisis pendapatan berfungsi untuk mengukur berhasil tidaknya suatu

kegiatan usaha, menentukan komponen utama pendapatan dan apakah komponen

itu masih dapat ditingkatkan atau tidak. Kegiatan usaha dikatakan berhasil apabila

pendapatannya memenuhi syarat cukup untuk memenuhi semua sarana produksi.

Analisis usaha tersebut merupakan keterangan yang rinci tentang penerimaan dan

pengeluaran selama jangka waktu tertentu (Aritonang, 1993).

Analisis usaha ternak sapi sangat penting sebagai kegiatan rutin suatu usaha

ternak komersil. Dengan adanya analisis usaha dapat di evalusi dan mencari

langkah pemecahan berbagai kendala, baik usaha untuk mengembangkan, rencana

penjualan maupun mengurangi biaya-biaya yang tak perlu (Murtidjo, 1993).

Usaha ternak sapi telah memberi kontribusi dalam peningkatan pendapatan

keluarga peternak. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa peningkatan pendapatan

keluarga peternak sapi tidak dapat dilepaskan dari cara mereka menjalankan dan

mengelolah usaha ternaknya yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial

dan faktor ekonomi.

Pendapatan usaha ternak sapi sangat dipengaruhi oleh banyaknya ternak

yang dijual oleh peternak itu sendiri sehingga semakin banyak jumlah ternak sapi

maka semakin tinggi pendapatan bersih yang diperoleh (Soekartawi, 1995).

Untuk menghitung jumlah pendapatan maka digunakan rumus sebagai

berikut (Soekartawi, 2003, 57-58):

Pd = TR - TC

Dimana :

Pd = Total Pendapatan yang diperoleh petani peternak (Rp/Thn)

TR = Total Revenue/Penerimaan yang diperoleh petani peternak (Rp/Thn)

18
TC = Total Cost/Biaya yang dikeluarkan petani peternak (Rp/Thn).

Di dalam usaha tani ternak modern, kunci keberhasilan untuk menghasilkan

pendapatan finansial yang optimum dan untuk mempertahankan kelestarian usaha

adalah tersedianya kekayaan asset perusahaan dengan jumlah yang cukup dan

dalam kombinasi yang tepat. Contohnya, tersedianya lahan, hewan, mesin-mesin

dan faktor modal lainnya, tenaga kerja, dan keterampilan. Jumlah Aset yang

dikuasai seorang pengusaha, syarat dan kondisi yang ada pada waktu kekayaan

tadi diperoleh (Manullang, 2002).

2.6 Penelitian Terdahulu

A.H. Hoddi dan M.B. Rombe (2011) dalam penelitiannya mengenai analisis

pendapatan peternakan sapi potong di Kec. Tanete Rilau Kab. Barru menyatakan

bahwa Usaha peternakan sapi potong di Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten

Barru menguntungkan dengan rata-rata pendapatan per tahun yang diperoleh

peternak pada stratum A dengan kepemilikan sapi 7-10 ekor sebesar Rp.

3.705.159/Tahun, stratum B dengan kepemilikan sapi 11-15 ekor sebesar Rp.

6.131.045/Tahun dan stratum C dengan kepemilikan sapi 15 ekor ke atas sebesar

Rp. 9.140.727/Tahun. Jika di lihat dari pendapatan pertahun yang diperoleh

peternak pada masing-masing stratum hasilnya tidak sebanding dengan UMR

(upah minimum regional) dengan apa yang selama ini dia kerjakan, dalam artian

peternak masih perlu meningkatkan kinerja dalam mengelola usaha peternakannya

agar menghasilkan upah yang lebih baik lagi.

Risqina, Dkk (2011) dalam jurnalnya mengenai Analisis Pendapatan

Peternak Sapi Potong dan Sapi Bakalan Karapan di Pulau Sapudi Kabupaten

Sumenep dengan menggunakan skala usaha 4-5 ekor dan skala usaha 2-3 ekor

19
pada peternak sapi potong serta skala usaha 4 – 6 ekor pada peternak sapi bakalan

karapan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan maka di dapatkan hasil bahwa

usaha sapi potong hingga skala usaha 4-5 ekor masih belum memberikan

keuntungan berdasarkan analisis B/C ratio dan BEP. Sementara bagi peternak sapi

bakalan karapan skala usaha 4 – 6 ekor lebih menguntungkan dari pada skala

usaha 2-3 ekor.

Siregar S.A (2009) dalam penelitiannya mengenai Analisis Pendapatan

Peternak Sapi Potong di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat menyatakan

bahwa skala usaha (jumlah ternak sapi) merupakan faktor yang sangat

berpengaruh dalam peningkatan pendapatan peternak sapi potong di Kecamatan

Stabat Kabupaten Langkat.

Eniza Saleh, Dkk (2006) dalam jurnalnya mengenai Analisis Pendapatan

Peternak Sapi Potong di Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang

menyatakan bahwa skala usaha (jumlah ternak sapi), motivasi beternak

berpengaruh berpengaruh meningkatkan pendapatan peternak sapi potong.

Sebesar 49,8% pendapatan peternak sapi potong secara bersama-sama dipengaruhi

oleh skala usaha (jumlah ternak sapi), umur peternak, tingkat pendidikan,

pengalaman beternak, jumlah tanggungan keluarga, motivasi beternak dan jumlah

tenaga kerja.

20
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juli 2012 (jadwal

penelitian terlampir) di desa Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai Tengah,

Kabupaten Sinjai dengan alasan dari kasus banyaknya masyarakat petani peternak

yang tidak mengetahui seberapa besar pendapatan dari hasil beternak sapi potong

yang telah turun temurun mereka lakoni.

3.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif yaitu suatu jenis

penelitian yang menggambarkan fenomena suatu variabel penelitian yang meliputi

pendapatan peternak sapi potong di desa Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai

Tengah Kabupaten Sinjai.

3.3 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini digambarkan pada tabel berikut :

Tabel 2. Indikator Pengukuran Variabel Penelitian

Variabel Sub Variabel Indikator Pengukuran


Pendapatan Total Penerimaan (TR)  Penjualan Ternak Sapi Potong
 Penjualan Daging
 Ternak yang Dikonsumsi
 Ternak diterima (pemberian keluarga)
 Feses
Total Biaya (TC) 1. Biaya Tetap
 Penyusutan Kandang dan Peralatan
 Pajak
2. Biaya Varibel
 Pakan
 Tenaga Kerja
 Vaksin/Obat-obatan dan IB

21
3.4 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan petani peternak yang

beternak sapi potong di desa Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai Tengah,

Kabupaten Sinjai. Pada penelitian ini digunakan pengambilan sampel, di sebabkan

karena jumlah populasi peternak yang cukup besar yaitu sebanyak 346 petani

peternak di desa Mattunreng Tellue. Dari jumlah populasi tesebut dilakukan

penentuan sampel minimum yang dapat mewakili populasi. Penentuan ukuran

besarnya sampel dilakukan berdasarkan pendapat Gay dan Diehl (1992) dalam

Wiyadi (2009) bahwa pada jenis penelitian deskriptif, sampel penelitian minimal

10% dari populasi. Jadi, penentuan ukuran besarnya sampel di ambil 15% dari

populasi sehingga diperoleh sampel sebanyak 52 petani-peternak.

Karena populasi bersifat heterogen yaitu jumlah kepemilikan ternak dan

luas lahan yang berbeda-beda. Maka dilakukan penarikan sampel secara Stratified

Random Sampling, berdasarkan skala kepemilikan ternak yaitu sebagai berikut :

Tabel 3. Hasil Perhitungan Pengambilan Sampel

No Skala Kepemilikan Ternak Populasi Perhitungan Sampel


1 1 – 5 ekor (Skala Kecil) 240 240 / 346 x 52 36
2 6 – 10 ekor (Skala Menengah) 80 80 / 346 x 52 12
3 > 10 ekor (Skala Besar) 26 26 / 346 x 52 4
Jumlah 346 52

3.5 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah :

a. Data kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka yang meliputi penerimaan

dan komponen biaya-biaya yang dikeluarkan petani peternak selama

melakukan usaha ternak sapi potong, seperti biaya tetap dan biaya variabel.

Biaya tetap seperti biaya penyusutan kandang, biaya penyusutan peralatan,

22
pajak. Sedangkan biaya variabel meliputi biaya vaksin/obat-obatan, biaya

pakan, tenaga kerja, IB, dan lain-lain.

Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah :

a. Data primer adalah data yang bersumber dari hasil wawancara langsung

dengan petani peternak sapi potong di desa Mattunreng Tellue Kecamatan

Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai, meliputi : identitas responden seperti nama,

pendidikan, umur, pengalaman beternak dan lain sebagainya serta data biaya

usaha ternak dan penerimaan usaha ternak sapi potong.

b. Data sekunder adalah data yang bersumber dari laporan-laporan, instansi

pemerintah, Dinas Peternakan, BPS dan instansi-instansi terkait.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap usaha peternakan

sapi potong di Desa Mattunreng Tellue di Kecamatan Sinjai Tengah,

Kabupaten Sinjai.

2. Wawancara yaitu pengumpulan data dengan melakukan interview pada

petani yang beternak sapi potong. Untuk memudahkan proses wawancara

tersebut digunakan bantuan kuisioner atau daftar pertanyaan yang telah

disusun sesuai kebutuhan penelitian seperti biaya produksi, penerimaan,

jumlah ternak sapi, identitas responden dan lain sebagainya.

23
3.7 Analisa Data

Analisa data yang digunakan untuk mengetahui pendapatan usaha

peternakan Sapi Potong di desa Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai Tengah,

Kabupaten Sinjai adalah analisa data kuantitatif dengan menggunakan rumus

pendapatan, sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui Total Biaya (TC) yang dikeluarka Peternak digunakan

rumus berikut :

Biaya Total (TC) = Biaya Tetap + Biaya Variabel

b. Untuk mengetahui penerimaan usaha peternakan sapi potong adalah sebagai

berikut :

Total Penerimaan (TR) = Q x P (Soekartawi, 2003, 57-58)

Dimana : TR = Total Revenue/penerimaan (Rp/Thn)

Q = Jumlah Produksi per tahun

P = harga (Rupiah)

c. Untuk mengetahui pendapatan atau keuntungan usaha peternakan sapi potong

digunakan rumus :

Pd = TR - TC (Soekartawi, 2003, 57-58)

Dimana :

Pd = Total Pendapatan yang diperoleh petani peternak (Rp/Thn)

TR = Total Revenue/Penerimaan yang diperoleh petani peternak (Rp/Thn)

TC = Total Cost/Biaya yang dikeluarkan petani peternak (Rp/Thn)

24
3.8 Konsep Operasional

 Pendapatan usaha ternak sapi potong adalah selisih antara penerimaan usaha

sapi potong dengan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak sapi potong di

desa Mattunreng Tellue Kec. Sinjai Tengah Kab. Sinjai.

 Penerimaan usaha ternak sapi potong meliputi penerimaan dari penjualan

ternak sapi, penjualan daging sapi, penjualan feses (pupuk kandang), ternak

yang dikonsumsi, ternak yang diterima (dari pemberian keluarga) di Desa

Mattunreng Tellue Kec. Sinjai Tengah Kab. Sinjai.

 Biaya tetap usaha ternak sapi potong adalah biaya yang tidak mengalami

perubahan sebagai akibat perubahan jumlah hasil yang diperoleh oleh petani

peternak di desa Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten

Sinjai yang terdiri atas biaya penyusutan kandang, penyusutan peralatan, dan

pajak.

 Biaya variabel usaha ternak sapi potong adalah biaya yang mengalami

perubahan sebagai akibat perubahan jumlah produksi yang diperoleh. Yang

termasuk dalam biaya ini adalah biaya bibit/ taksiran nilai ternak awal tahun,

biaya pakan, tenaga kerja, biaya vaksin dan obat-obatan, dan biaya IB yang

dinyatakan dalam rupiah per tahun.

 Biaya produksi usaha ternak sapi potong adalah keseluruhan biaya tetap dan

biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani peternak di Desa Mattunreng

Tellue dalam usaha ternaknya yang dinyatakan dalam rupiah per tahun.

25