Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PASCAPANEN NILAM

Disajikan pada Mata Kuliah PTP 366 Teknik Pascapanen


Dosen Pengampu Ir. Indriyani, M.P

Disusun Oleh :
Kelompok 4
Alwin Perangin Angin (J1B115008) (4)
M. Ribut Wahyu Pratama (J1B115029) (10)
Siska Dewi Sitorus (J1B115035) (13)
Dabarnus (J1B115040) (17)
M. Hasbi Abdillah (J1B115045) (19)
Benardo A. Ambarita (J1B115062) (24)

TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
MEI 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
”Pascapanen Nilam”.
Makalah ini berisi penjelasan tentang klasifikasi tanaman nilam, proses
pemanenan nilam, tahapan-tahapan pascapanen nilam hingga menghasilkan
minyak nilam serta standar mutu minyak nilam. Makalah ini juga dilengkapi
dengan beberapa gambar yang dapat memudahkan pembaca dalam memahami apa
itu tanaman nilam dan bagaimana teknik pascapanen yang benar untuk
menghasilkan minyak nilam yang baik dan bermutu.
Dengan selesainya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kapada
semua pihak yang telah berperan dalam penyusunan makalah dari awal hingga
akhir. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca untuk
lebih memahami dan mampu menerapkan teknik pascapanen yang benar untuk
tanaman nilam yang dapat bermanfaat dalam dunia kerja di bidang Teknik
Pertanian.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini.

Jambi, Mei 2018

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................... i
KATA PENGANTAR.......................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................ iii

ii
Bab I Pendahuluan............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang....................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................... 2
1.2 Manfaat.................................................................................. 2
Bab II Isi.............................................................................................. 3
2.1 Klasifikasi Tanaman Nilam................................................... 3
2.2 Minyak Nilam........................................................................ 4
2.3 Pemanenan Nilam.................................................................. 5
2.4 Pascapanen Nilam................................................................. 6
2.4.1 Pengeringan....................................................................
2.4.2 Penyulingan....................................................................
2.4.3 Pengemasan....................................................................
2.4.4 Penyimpanan..................................................................
2.5 Standar Mutu Minyak Nilam.................................................
Bab III Penutup................................................................................... 9
3.1 Kesimpulan............................................................................ 9
3.2 Saran...................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 10

iii
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Minyak atsiri atau yang disebut juga dengan essential oils, etherial
oils
atau volatile oils adalah komoditi ekstrak alami dari jenis tumbuhan yang
berasal dari daun, bunga, kayu, biji-bijian bahkan putik bunga. Setidaknya ada
150 jenis minyak atsiri yang selama ini diperdagangkan di pasar internasional
dan 40 jenis diantaranya dapat diproduksi di Indonesia (Manurung, 2010).
Salah satu komoditi yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan minyak atsiri
adalah nilam. Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan herba tropis
penghasil minyak atsiri yang dalam perdagangan internasional dikenal sebagai
minyak patchouli (patchai : hijau) dan ellai : daun.
Minyak atsiri yang berasal dari tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth)
merupakan salah satu komoditi non migas yang belum dikenal secara meluas di
Indonesia, tapi cukup popular di pasaran Internasional. Indonesia merupakan
penghasil minyak nilam terbesar di dunia yang setiap tahunnya memasok 70%
hingga 90% kebutuhan dunia. Ekspor nilam Indonesia berfluktuasi dengan laju
peningkatan ekspor sekitar 6% per tahun atau sebesar 700 ton sampai 2.000 ton
minyak nilam per tahun. Prospek industri minyak atsiri sebetulnya cukup cerah,
karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Pangsa pasar minyak nilam
Indonesia diperkirakan mencapai 80% dari ekspor minyak nilam dunia. Minyak
nilam termasuk komoditi ekspor karena memiliki prospek yang cukup cerah dan
selalu dibutuhkan secara berkesinambungan dalam industri-industri parfum,
wewangian, kosmetik, sabun, farmasi, flavouring agent dan lain-lain. Minyak
nilam dalam industri digunakan sebagai fiksasi yang belum dapat digantikan oleh
minyak lain sampai dengan saat ini.
Saat ini banyak terjadi kendala dalam mendapatkan minyak nilam yang
bermutu bagus antara lain kandungan rendemen yang didapatkan cukup rendah,
kadar patchouli alcohol yang rendah, dan adanya kontaminasi kandungan logam
dan lain-lain sehingga mengakibatkan kualitas minyak nilam Indonesia masih
rendah. Atas dasar hal inilah maka perlu untuk memahami lebih lanjut mengenai
penanganan pascapanen nilam agar pemanfaatan nilam sebagai minyak atsiri
dapat lebih optimal.

1
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui potensi
tanaman nilam serta mempelajari teknik-teknik panen dan
penanganan pascapanen tanaman nilam

I.3 Manfaat
Dengan selesainya penulisan makalah ini diharapkan agar mahasiswa
mampu menerapkan teknik penanganan pascapanen yang benar untuk
tanaman nilam sehingga dapat dihasilkan minyak nilam dengan mutu yang
baik.

II. ISI

2.1 Klasifikasi Tanaman Nilam

2
Nilam (Pogostemon sp.) termasuk famili Labiateae, ordo Lamiales, klas
Angiospermae dan devisi Spermatophyta. Di Indonesia terdapat tiga jenis nilam
yang dapat dibedakan antara lain dari karakter morfologi, kandungan dan kualitas
minyak, dan ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Ketiga jenis nilam
tersebut adalah: 1) P. cablin Benth. Syn. P. patchouli Pellet var. Suavis Hook yang
disebut nilam Aceh, 2) P. heyneanus Benth yang disebut nilam Jawa dan 3) P.
hortensis Becker yang disebut nilam sabun. Di antara ketiga jenis nilam, yang
paling luas penyebarannya dan banyak dibudidayakan yaitu nilam Aceh, karena
kadar minyak dan kualitas minyaknya lebih tinggi dari kedua jenis yang lainnya.
1. Pogostemon cablin Benth (Nilam Aceh)
Nilam aceh merupakan tanaman introduksi yang diperkirakan berasal dari
Filipina atau semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia lebih dari seabad
yang lalu. Nama lain Pogostemon cablin adalah Pogostemon metha. Nilam ini
memiliki ciri daunnya agak membulat seperti jantung, di bagian bawah daun
terdapat bulu-bulu rambut sehingga warnanya tampak pucat dan tidak atau
jarang berbunga. Kadar minyaknya antara 2,5 – 5% dan komposisi minyaknya
bagus.
2. Pagostemon heyneatus Benth (Nilam Jawa)
Sering juga dinamakan nilam jawa atau nilam hutan berasal dari India,
disebut juga nilam kembang karena dapat berkembang/berbunga. Nilam jenis
ini sering tumbuh secara liar di pekarangan rumah atau ditempat yang jarang
dijamah oleh manusia, oleh karena itu nilam ini sering disebut nilam hutan.
Daunnya lebih tipis dibanding daun nilam jenis Pogostemon cablin dan ujung
daunnya agak runcing. Kandungan minyaknya lebih rendah, hanya 1/3-½ dari
nilam aceh, yaitu berkisar antara 0,5-1,5%. Oleh karena itu, nilam jenis ini
kurang diminati oleh petani meskipun bentuk tanamannya lebih besar dan
rimbun dibanding nilam aceh. Namun, nilam jawa lebih toleran terhadap
nematoda dan penyakit layu bakteri dibanding nilam Aceh, diduga disebabkan
oleh kandungan fenol dan lignin yang lebih tinggi dari pada nilam Aceh
(Nuryani, Mustika dan Syukur, 2001).
3. Pogostemon hortensis Backer (Nilam Sabun)
Nilam jenis ini disebut nilam sabun, karena digunakan sebagai pengganti
sabun. Bentuknya hampir sama dengan nilam jawa (Pagostemon heyneatus).

3
Daunnya tipis, ujung daun agak runcing dan tidak berbunga. Kadar minyaknya
rendah, hanya berkisar 0,5-1,5% dan komposisi minyaknya pun jelek.
Tanaman nilam adalah tanaman penghasil minyak atsiri, oleh sebab itu
produksi, kadar dan mutu minyak merupakan faktor penting yang dapat
dipergunakan untuk menentukan keunggulan suatu varietas. Di samping itu,
karakter lainnya seperti sifat ketahanan terhadap penyakit juga merupakan salah
satu indikator penentu. Banyak faktor yang mempengaruhi kadar dan mutu
minyak nilam antara lain: genetik (jenis), budidaya, lingkungan, panen dan pasca
panen.
Dibawah ini menunjukkan bahwa bentuk daun nilam masing-masing
varietas berbeda dan hasil minyak dengan kualitas minyak nilam yang terbaik
didapat dari tanaman varietas Lhoksumawe karena daunnya tebal (Nuryani dkk,
2007).

Gambar varietas Lhoksumawe

2.2 Syarat Tumbuh Nilam


Lahan dan iklim sangat mempengaruhi produksi dan kualitas
minyak nilam, terutama ketinggian tempat dan ketersedian air. Nilam yang
tumbuh di dataran rendah – sedang (0-700 m dpl) kadar minyaknya lebih
tinggi dibandingkan nilam yang tumbuh di dataran tinggi (> 700 m dpl).

Nilam sangat peka terhadap kekeringan, kemarau panjang setelah panen


dapat menyebabkan tanaman mati. Nilam dapat tumbuh di berbagai jenis
tanah (andosol, latosol, regosol, podsolik, kambisol), akan tetapi tumbuh
lebih baik pada tanah yang gembur dan banyak mengandung humus. Lahan
harus bebas dari penyakit terutama penyakit layu bakteri, budog, nematoda,
dan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Pada tabel berikut menunjukkan
kesesuaian tanah dan iklim dengan berbagai parameter yang dapat
menghasilkan tanaman nilam dengan mutu yang baik.(Nuryani dkk, 2007)

4
2.3 Minyak Nilam
Minyak nilam berwarna kuning jernih dan berbau khas, mengandung
senyawa patchouli alcohol yang merupakan penyusun utama dalam minyak
nilam, dan kadarnya mencapai 50-60%. Patchouli alcohol merupakan senyawa
seskuiterpen alkohol tersier trisiklik, tidak larut dalam air, larut dalam alkohol,
eter atau pelarut organik yang lain, mempunyai titik didih 280,37˚C dan kristal
yang terbentuk memiliki titik leleh 56˚C. Minyak nilam selain mengandung
senyawa Patchouli Alkohol (komponen utama) juga mengandung komponen
minor lainnya, pada umumnya senyawa penyusun minyak atsiri bersifat asam dan
netral, begitu pula dengan minyak nilam, tersusun atas senyawa-senyawa yang
bersifat asam dan netral misalnya senyawa asam 2-naftalenkarboksilat yang
merupakan salah satu komponen minor penyusun minyak nilam (Guenther, 1987).
Sebagai komoditas ekspor, minyak nilam mempunyai prospek yang baik
karena dibutuhkan secara kontinyu dalam industri parfum, kosmetik, sabun, obat-
obatan, dan lain-lain. Penggunaan minyak nilam dalam industri tersebut karena
daya fiksasinya yang tinggi terhadap bahan pewangi lain, sehingga dapat
mengikat bau wangi dan mencegah penguapan zat pewangi sehingga bau wangi
tidak cepat hilang atau lebih tahan lama, serta tidak dapat digantikan dengan zat
sintetis lainnya. Minyak nilam juga dapat digunakan sebagai bahan pestisida
nabati. Limbah dari hasil penyulingan minyak nilam yang terdiri dari ampas daun
dan batang mempunyai potensi dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dupa,
obat nyamuk bakar, dan pupuk kompos serta sisa air dari hasil penyulingan
setelah dipekatkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk aroma terapi.

5
Selain itu tanaman nilam telah banyak dimanfaatkan sebagai obat
tradisional. Akar dari tanaman ini digunakan untuk pencahar, bagian daun sebagai
deodoran, obat luka, bawasir, disentri, stomakikum, penyakit empedu,
sielagogum, stemutatori, ganguan haid dan obat peluruh haid. Semua bagian dari
tumbuhan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai karminatif, obat sakit kepala,
emetik, obat diare, dan insektisida (Kasahara dan Hemmi, 1995 dalam Halimah,
2011).
2.3 Pemanenan Nilam
Minyak nilam diperoleh dari penyulingan daun dan tangkai tanaman
nilam. Pada tanaman yang tumbuh baik, panen dapat dilakukan pada umur 6-8
bulan setelah tanam. Sebaiknya cabang-cabang tingkat pertama tidak dipanen
terutama bila panen dilakukan pada musim kemarau. Minimal satu cabang
ditinggalkan untuk menstimulir pertumbuhan cabang-cabang baru dan mencegah
kematian tanaman terlalu cepat. Panen biasanya dilakukan dengan dipangkas
setinggi 10-20 cm dari tanah. Produksi terna (daun dan ranting) pertama masih
rendah (sekitar 50-75% dari produksi normal). Panen berikutnya dapat dilakukan
setiap 4-6 bulan sekali tergantung dari curah hujan dan kesuburan tanah. Bila
panen dilakukan menjelang musim kemarau, regenerasi tunas biasanya lebih
lambat. Dalam keadaan demikian panen dapat diundur menjadi 6 bulan, yaitu
menunggu sampai awal musim hujan. Waktu panen perlu diatur sedemikian rupa
(disesuaikan dengan pola hujan), sehingga setelah tanaman dipangkas (dipanen)
tidak mengalami musim kering yang terlalu lama.
Panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau menjelang malam dan
jangan pada slang hari. Hal ini dimaksudkan agar daun tetap mengandung minyak
atsiri yang tinggi. Apabila dilakukan pada slang hari maka sel-sel daun akan
melakukan proses metabolisme yang akan mengurangi laju pembentukan minyak,
daun kurang elastis, sehingga kehilangan minyak akan lebih besar karena daun
mudah robek. Begitu pula dengan adanya transpirasi daun yang lebih cepat
menyebabkan jumlah minyak yang dihasilkan akan berkurang. Pemanenan
dilakukan sebelum daun berubah warna menjadi coklat karena daun yang
demikian telah kehilangan sebagian minyaknya. Kandungan minyak tertinggi
terdapat pada tiga pasang daun termuda yang masih berwarna hijau.

6
2.4 Pascapanen Nilam

2.4.1 Pengeringan
Untuk mendapatkan mutu dan rendemen minyak yang tinggi maka
daun nilam harus dijemur. Pelayuan dan pengeringan daun nilam bertujuan
untuk menguapkan sebagian air dalam bahan sehingga penyulingan
berlangsung lebih mudah dan lebih singkat. Selain itu juga untuk
menguraikan zat yang tidak berbau wangi menjadi berbau wangi.
Pengeringan biasanya dengan cara dijemur, terna (daun dan tangkai
nilam) hasil panen dijemur selama 5 jam yang diikuti pengering-angin
selama 2-3 hari sampai kadar airnya mencapai 12-15%. Lapisan daun
nilam harus dibalik 2-3 kali sehari agar keringnya merata dan terhindar
dari proses fermentasi. Harus dihindari penumpukan daun dalam keadaan
basah. Pengeringan yang terlalu cepat dapat menyebabkan daun menjadi
rapuh dan sulit disuling, sebaliknya pengeringan terlalu lambat
menyebabkan daun menjadi lembab dan mudah terserang jamur, sehingga
rendemen dan mutu minyak yang dihasilkan rendah.

Gambar penjemuran nilam


Tanda pengeringan sudah cukup waktu yaitu timbulnya bau nilam
yang lebih keras dan khas bila dibandingkan daun segar. Daun yang sudah
cukup kering dapat segera disuling. Bila penyulingan tidak dapat langsung
dilaksanakan, penyimpanan daun kering disarankan tidak lebih dari satu
minggu. Sebelum disuling sebaiknya dilakukan perajangan pada daun dan
ranting yang telah kering dengan panjang rajangan berkisar 15 - 20 cm.

7
Perajangan pada daun segar dapat menyebabkan penurunan rendemen
akibat penguapan minyak selama proses penjemuran dan pengering-
anginan.
2.4.2 Penyulingan
Secara umum penyulingan adalah pemisahan komponen-komponen
suatu campuran dari dua jenis cairan atau lebih berdasarkan perbedaan
tekanan uap dari masingmasing zat tersebut. Penyulingan minyak nilam
adalah suatu proses pengambilan minyak dari terna kering dengan bantuan
air, dimana minyak dan air tidak tercampur (Romansyah, 2002).
Campuran cairan yang disuling dapat berupa cairan yang tidak larut
(immiscible) dan selanjutnya membentuk dua fasa, atau cairan yang saling
melarutkan secara sempurna (miscible) yang hanya membentuk satu fasa.
Pada prakteknya penyulingan campuran cairan dua fasa dilakukan
untuk memisahkan minyak atsiri dengan cara penguapan dengan bantuan
uap. Minyak dipisahkan dari air sehingga diperoleh minyak nilam murni,
yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk industri kosmetik, sabun, obat,
dan lain-lain.
Yuhono dan Suhiran (2007) dan Ma’mun (2011) menyebutkan
bahwa secara umum cara penyulingan minyak nilam dilakukan dengan
tiga macam, yaitu :
1. Penyulingan cara direbus (Water Distillation)
Penyulingan dengan cara direbus kurang banyak digunakan di
lapangan dibandingkan dengan cara dikukus dan diuap langsung. Hal
ini dikarenakan cara ini kurang efisien dan biayanya relatif tinggi. Daun
nilam kontak langsung (terendam) dengan air mendidih. Bagian utama
dari alat penyuling secara direbus yaitu tungku api, ketel untuk merebus
air, kondensor (pendingin), dan penampung/pemisah minyak.
Penyulingan direbus, daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi
air dan dipanasi. Kapasitas ketel penyulingan bervariasi, mulai dari
200-2.000 liter. Ketel dibuat dari bahan antikarat, seperti stainless steel,
besi, atau tembaga berlapis aluminium. Dari ketel akan keluar uap,
kemudian dialirkan lewat pipa yang terhubung dengan kondensor

8
(pendingin). Uap berubah menjadi air. Air yang sesungguhnya
merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes di ujung pipa
dan ditampung dalam wadah. Selanjutkan, dilakukan proses
pemisahaan sehingga diperoleh minyak nilam murni.
Pada cara ini bahan yang akan disuling kontak langsung dengan air
mendidih (terendam). Bahan tersebut mengapung di atas air atau
terendam secara sempurna tergantung dari bobot jenis dan jumlah
bahan yang disuling. Cara penyulingan ini baik digunakan untuk bahan
yang berbentuk tepung dan bungs-bungaan yang mudah menggumpal
jika dikenai panas, tetapi kurang baik untuk bahan yang mengandung
fraksi sabun atau bahan yang larut dalam air.
2. Penyulingan cara dikukus (Water and Steam Distillation)
Penyulingan dengan cara dikukus paling banyak digunakan di
lapangan. Bagian utama dari alat penyuling secara dikukus yaitu tungku
api, ketel penyuling, kondensor (pendingin), dan penampung/pemisah
minyak.
Pada cara ini bahan diletakkan di atas rak-rak atau saringan
berlobang. Terna kering berada pada jarak tertentu di atas permukaan
air. Ketel suling diisi air sampai permukaan air berada tidak jauh dari
saringan. Ciri khas metode ini adalah uap selalu dalam keadaan basah,
jenuh dan tidak terlalu panas dan bahan yang disuling hanya
berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas.
2. Penyulingan cara uap langsung (Steam Distillation)
Bagian utama dari alat penyuling secara uap langsung yaitu tungku
api, ketel uap, ketel penyuling, kondensor (pendingin), penampung/
pemisah minyak. Penyulingan dengan uap langsung prinsipnya hampir
sama dengan penyulingan uap dan air, tetapi pada penyulingan uap
langsung sumber panas terdapat pada ketel uap yang letaknya terpisah
dari ketel suling, terna kering berada dalam ketel suling dan uap air
dialirkan dari ketel uap pada bagian bawah suling dan menggunakan
tekanan lebih tinggi. Sistem penyulingan uap menjamin kesempurnaan
produksi minyak atsiri. Pada sistem ini bahan tidak kontak langsung

9
dengan air maupun api. Prinsipnya, uap bertekanan tinggi dialirkan dari
ketel perebus air ke ketel berisi daun nilam (ada dua ketel). Uap air
yang keluar dialirkan lewat pipa menuju kondensor hingga mengalami
proses kondensasi. Cairan (campuran air dan minyak) yang menetes
ditampung, selanjutnya dipisahkan untuk mendapatkan minyak nilam
murni.

Gambar. Penyulingan nilam

Pemilihan cara tersebut berdasarkan sifak fisik dan kimia bahan


yang akan disuling, dan tiap-tiap cara mempunyai keunggulan serta
kelemahannya masingmasing. Untuk mendapatkan rendemen dan mutu
minyak yang baik disarankan untuk pengolahan minyak nilam dengan
menggunakan cara penyulingan dikukus dan uap langsung. Namun
demikian karena cara penyulingan dikukus merupakan penyulingan
dengan tekanan uap rendah, cara ini tidak menghasilkan uap dengan cepat
sehingga perpanjangan waktu penyulingan cukup penting artinya baik
ditinjau dari mutu maupun rendemen minyak. Bahan konstruksi alat
penyuling akan mempengaruhi mutu minyak dan warna minyak. Jika
dibuat dari bahan plat besi tanpa galvanis akan menghasilkan minyak
berwarna gelap dan keruh karena karat. Alat penyulingan yang baik dibuat
dari besi tahan karat (Stainless Steel) atau dari plat besi yang digalvanis
(Carbon Steel). Setidaknya bahan ini terdapat pada bagian pipa pendingin
dan pemisah minyak, agar diperoleh hasil minyak yang berwarna lebih
muda dan jernih.

10
Dalam penyulingan daun nilam perlu diikutsertakan tangkainya.
Tangkai tersebut mempunyai kadar minyak rendah, namun diperlukan agar
daun tidak terlalu padat (membentuk ronga-rongga untuk melewatkan uap
panas) karena daun nilam cenderung menggumpal bila terkena uap air
panas. Proporsi tangkai terhadap daun mempengaruhi rendemen minyak
yang dihasilkan. Semakin tinggi proporsi tangkai maka rendemen minyak
semakin berkurang. Rendemen yang tertinggi diperoleh dari campuran
daun dan tangkai dengan perbandingan 1 : 1. Terna kering yang sudah
dimasukkan ke dalam ketel suling, sebaiknya dibasahi dengan air supaya
terna tersebut dapat dipadatkan. Pembasahan dan pemadatan dilakukan
terhadap terna selama pengisian ketel suling. Harus diingat bahwa
penyulingan terna kering nilam akan menyerap air sebanyak bobotnya jadi
pada penyulingan yang menggunakan sistem kohobasi hal ini harus
diperhatikan agar tidak terjadi kekurangan air selama penyulingan. Lama
penyulingan dengan cara penyulingan dikukus 5-10 jam, sedangkan
dengan cara uap langsung lamanya berkisar antara 4-6 jam. Lama
penyulingan ini tergantung dari cara, kapasitas ketel suling dan kecepatan
penyulingan.
Untuk penyulingan secara dikukus, kecepatan penyulingan yang
baik adalah 0,6 uap/kg terna. Pada penyulingan dengan uap langsung
tekanan uap langsung tekanan uap mula-mula 1,0 ATM, lalu dinaikkan
secara bertahap sampai 2,5 - 3 kg/cm2 (tekanan dalam ketel suling 0,5 -
1,5 kg/cm2) pada akhir-akhir penyulingan. Hal ini dimaksudkan agar
fraksi berat antara lain patchouli alkohol sebagian besar baru akan
tersuling pada suhu tinggi atau jika waktu penyulingan cukup lama. Bahan
konstruksi penampung/pemisah minyak sebaiknya juga Stainless Steel.
Volume dan susunan alat pemisah minyak dibuat sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi emulsi minyak dalam air, terutama untuk minyak
yang bobot jenisnya hampir sama dengan air.

11
Gambar. Minyak nilam hasil penyulingan
2.4.3 Pengemasan
Seletah dilakukan pemisahan minyak yang sempurna, maka produk
akhir minyak nilam murni siap ditampung dalam wadah dan dilakukan
pengemasan. Bahan kemasan harus memenuhi persyaratan umum yaitu :
1. Bentuk dan rupa yang menarik
2. Kuat
3. Mudah dipakai
4. Tidak beracun
5. Tidak mudah meledak karena tekanan
6. Dapat menjamin mutu produk yang dikemas.
Selain persyaratan umum, bahan kemasan yang digunakan untuk
minyak atsiri termasuk minyak nilam memerlukan persyaratan khusus
yaitu :
1. Bahan kemasan tidak bereaksi dengan minyak atsiri
2. Sangat rapat sehingga tidak mudah menguap
3. Tidak dilalui oleh cahaya
4. Tidak dipengaruhi oleh faktor air, panas, cahaya, oksigen
5. Bersifat insulator panas

2.4.4 Penyimpanan
Penyimpanan minyak nilam dalam jumlah relatif kecil (<5 liter)
sangat baik bila disimpan dalam botol gelas berwarna sehingga lebih
resisten terhadap cahaya. Penyimpanan minyak nilam dalam jumlah besar

12
(>5 liter) dapat menggunakan kemasan plastik karena beberapa jenis
plastik seperti polietilen, polistiren, dan poliester memiliki sifat resisten
terhadap bahan kimia. Untuk tujuan ekspor, minyak nilam dikemas dalam
drum yang terbuat dari logam seng dan besi yang dilapisi dengan galvanis
atau bahan plastik (coating) yang tidak bereaksi dengan minyak nilam.

Gambar. Pengemasan nilam tujuan ekspor


Jenis bahan kemasan berpengaruh pada waktu atau lamanya masa
penyimpanan. Sampai penyimpanan 5 bulan, sifat minyak nilam masih
memenuhi syarat mutu atau standar perdagangan. Namun demikian masih
ada keterbatasan, bahwa untuk minyak nilam yang disimpan dalam
kemasan botol berwarna hijau, standar penyimpanan minyak nilam selama
120 hari. Sedangkan kemasan aluminium dan besi bertahan sampai 90
hari. Dalam kemasan seng minyak nilam hanya bertahan sampai 60 hari.

2.5 Standar Mutu Minyak Nilam


Secara kuantitas minyak nilam Indonesia lebih unggul, namun dari segi
mutu masih kalah bersaing dan harga yang diberikan untuk minyak nilam
Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan RRC. Singapura dikenal sebagai
penyalur minyak nilam dunia, tetapi sebagian besar minyaknya berasal dari
Indonesia yang kemudian diolahnya kembali untuk memenuhi standar mutu yang
dikehendaki konsumen karena minyak nilam Indonesia cenderung rendah. Kurang
baiknya mutu minyak nilam Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah :
1. Bahan olah yang tidak memenuhi syarat

13
2. Peralatan penyulingan yang kebanyakan tidak sesuai atau kurang memenuhi
syarat
3. Lokasi penyulingan yang tidak cocok sehingga kekurangan air atau air yang
ada tidak bersih
4. Pengemasan dan kondisi tempat penyimpanan yang juga tidak memenuhi
syarat
Mutu minyak nilam umumnya ditentukan oleh beberapa faktor, baik
menyangkut pra panen maupun pasca panen. Faktor pra panen yang
menyangkut bahan tanaman, teknik budidaya, cara dan waktu panen
maupun faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan
mutu bahan olah, yang akhirnya akan berpengaruh terhadap mutu hasil
olahannya. Sedangkan faktor pasca panen yang mencakup penanganan
bahan olah, cara pengolahan termasuk alatnya, pengemasan, dan
penyimpanan sangat berpengaruh pula terhadap mutu produk akhir. Oleh
karena itu, untuk meningkatkan mutu minyak nilam Indonesia maka faktor-
faktor tersebut harus diperhatikan dengan baik. SNI 06-2385-2006. Standar
ini menetapkan persyaratan mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus
uji, pengemasan dan penandaan minyak nilam. Menurut standar ini minyak
nilam adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan cara penyulingan daun
tanaman. Persyaratan mutu standar Minyak Nilam menurut SNI 06-2385-
1998 adalah sebagai berikut :
No Jenis Uji Satuan Persyaratan
Kuning muda sampai
1 Warna -
coklat kemerahan
2 Bobot jenis 20°C/20°C 0,950 - 0,975
3 Indeks bias nD20 - 1,507 - 1,515
Larutan jernih atau
Kelarutan dalam etanol 90%
4 - opalesensi ringan dalam
pada suhu 20°C ± 3°C
perbandingan volume 1:10
5 Bilangan asam - Maks. 8
6 Bilangan ester - Maks. 20
7 Putaran optik - (-)48° - (-)65°
8 Patchouli alcohol (C15H26O) % Min. 30
9 Alpha copaene (C15H24) % Maks. 0,5
10 Kandungan besi (Fe) Mg/kg Maks. 25

14
III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Minyak nilam berwarna kuning jernih dan berbau khas, mengandung
senyawa patchouli alcohol yang merupakan penyusun utama dalam minyak
nilam, dan kadarnya mencapai 50-60%. Minyak nilam selain mengandung
senyawa Patchouli Alkohol (komponen utama) juga mengandung komponen
minor lainnya, pada umumnya senyawa penyusun minyak atsiri bersifat asam dan
netral, begitu pula dengan minyak nilam, tersusun atas senyawa-senyawa yang
bersifat asam dan netral misalnya senyawa asam 2-naftalenkarboksilat yang
merupakan salah satu komponen minor penyusun minyak nilam.
Tahapan pasca panen nilam meliputi pemanenan pada umur tanam 6-8
bulan setelah tanam. Selanjutnya pengeringan nilam, penyulingan, pengemasan
dan penyimpanan minyak nilam.
Mutu minyak nilam umumnya ditentukan oleh beberapa faktor, baik
menyangkut pra panen maupun pasca panen. Faktor pra panen yang menyangkut
bahan tanaman, teknik budidaya, cara dan waktu panen maupun faktor lingkungan
sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan mutu bahan olah, yang akhirnya
akan berpengaruh terhadap mutu hasil olahannya. Sedangkan faktor pasca panen
yang mencakup penanganan bahan olah, cara pengolahan termasuk alatnya,
pengemasan, dan penyimpanan sangat berpengaruh pula terhadap mutu produk
akhir.

15
3.1 Saran

Sebaiknya pengolahan minyak nilam di Indonesia harus mengacu pada


standar mutu yang ada dan tahapan proses yang baik agar kualitas minyak nilam
yang dihasilkan Indonesia dapat bersaing di pasar ekspor. Tahapan yang harus
diperhatikan meliputi tahapan prapanen maupun pascapanen dari budidaya nilam.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad, Choirul.2015. Panduan Budidaya Nilam dan Produksi Minyak Atsir.


Balai Penelitian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ISBN: 978-602-74164-
7-5

Guenther, E, 1987. Minyak Atsiri. Diterjemahkan oleh R.S. Ketaren dan R.


Mulyono. Jakarta, UI Press.

Halimah, Diana Pramifta Putri dan Yulfi Zetra. 2011. Minyak Atsiri Dari
Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Melalui Metode
Fermentasi Dan Hidrodistilasi Serta Uji Bioaktivitasnya. Prosiding
Tugas Akhir. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Irawan, Bambang.2010. Peningkatan Mutu Minyak Nilam Dengan Ekstraksi Dan


Destilasi Pada Komposisi Beberapa Pelarut. Thesis Magister Teknik Kimia
Universitas Diponogoro.

Kasahara, S. dan S. Hemmi. 1995. Medical Herb Index in Indonesia. 2nd ed. PT
EISAI. Jakarta

Ma’mun. 2011. Pasca panen nilam. Bunga rampai nilam; Status teknologi dan
hasil penelitian. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Deptan.
Bogor.

16
Nuryani, Y. Emmyzar, Wahyudi. 2007. Nilam Perbenihan dan Budidaya
Pendukung Varietas Unggul. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perkebunan. Bogor.

Romansyah. 2002. Studi Pengembangan Agroindustri Minyak Nilam (Patchouli


oil) Skala Kecil Di Kabupaten Asahan-Sumatera Utara. Skripsi. Jurusan
Teknik Industri. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Yuhono, J. T. dan S. Suhiran. 2007. Strategi Peningkatan Rendemen dan Mutu


Minyak Dalam Agribisnis Nilam. Balai Penelitian Tanaman Obat dan
Aromatik Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat 2007 Vol.
No. (19(1)). Hal. 30 – 43.

17