Anda di halaman 1dari 29

PERENCANAAN PELABUHAN

DEFINISI PELABUHAN

Pelabuhan (port) adalah daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang, yang dilengkapi
dengan fasilitas terminal laut meliputi dermaga dimana kapal dapat bertambat untuk bongkar
muat barang, kran- kran (crane )untuk bongkar muat barang, gudang laut (transito) dan tempat-
tempat penyimpanan dimana kapal membongkar barang muatannya, dan gudang- gudang
dimana barang- barang dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama selama menunggu
pengiriman ke daerah tujuan atau pengapalan.

Pelabuhan merupakan suatu pintu gerbang untuk masuk ke suatu wilayah atau Negara dan
sebagai prasarana penghubung antar daerah, antar pulau atau bahkan antar Negara, benua dan
bangsa.

Lokasi pelabuhan ditetapkan dengan memperhatikan :


a) Arah angin
b) Keadaan tinggi gelombang
c) Perbedaan pasang surut
d) Kemungkinan adanya perluasan pelabuhan
e) Luas perairan di muka pelabuhan untuk memutar kapal
f) Keamanan terhadap kebakaran
g) Strategi
h) Pemeriksaan keadaan tanah

ARAH ANGIN
Dalam perencanaan sesungguhnya, arah angin ditentukan dengan melakukan survey
menggunakan alat anemometer sehingga nantinya bisa didapat arah angin dominan dan
besarannya. Dalam tugas ini, arah angin dominan, durasi dan kecepatannya sudah ditentukan.
Arah angin diukur 47⁰ dari arah utara searah jarum jam. Arah angin laut yang digunakan adalah
angin dari arah laut pada titik yang direncanakan akan dibangun pelabuhan.

KEADAAN TINGGI GELOMBANG


Ini penting karena sangat menentukan dan dapat menyebabkan kapal tidak melakukan bongkar
muat.
Gelombang/ombak dapat terjadi jika keadaan yang seimbang dari permukaan air laut
mengalami perubahan yang disebabkan karena :
a. Gerakan kapal
b. Gempa bumi
c. Letusan gunung berapi
d. Tiupan angin

Gelombang yang disebabkan oleh tiupan angin sangat penting untuk diketahui agar dalam
kolam pelabuhan dapat diusahakan air berada dalam kondisi tenang. Tinggi gelombang yang
terjadi dalam kolam disyaratkan melebihi 30 cm atau tergantung kapal yang berlabuh.
Berikut ini adalah tabel kriteria besar gelombang yang cukup agar suatu jenis kapal dapat
melakukan bongkar muat dengan aman.

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Tabel 1 - Tinggi gelombang yang diperkenankan dikaitkan dengan besar ukuran dan jenis
kapal

Untuk tinggi gelombang yang terjadi pada suatu titik P dalam kolam pelabuhan dapat juga
dihitung dengan rumus (formula Stevenson).

(Pers 2.1 hal 63 “Perencanaan Pelabuhan“ oleh Bambang Triatmodjo)


dimana :

Hp = tinggi gelombang di titik P di dalam pelabuhan (m)


H = tinggi gelombang di mulut pelabuhan (m)
b = lebar mulut (m)
D = jarak dari mulut ke titik P (m)
B = lebar kolam pelabuhan di titik P, yaitu panjang busur lingkaran dengan jari-jari D dan
pada pusat titik tengah mulut (m)

Catatan : Persamaan diatas tidak berlaku untuk titik yang berjarak kurang dari 15 m dari mulut.

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Bila ternyata dalam perhitungan Hp > H izin = 0.6 m, maka perlu dipasang “Breakwater” agar air
dalam kolam pelabuhan lebih tenang. Breakwater dipengaruhi oleh ombak, berupa :
 Gaya tekan hidrostatik, yang besarnya tergantung dari naik dan turunnya ombak.
 Gaya tekan dinamis, yang menjelma dengan pecahnya ombak.

PERBEDAAN PASANG SURUT


Terjadinya pasang surut disebabkan oleh gaya tarik pergerakan deklinasi dari benda-benda
angkasa dari suatu sistem tata surya. Akibat terjadinya pasang surut ini, terjadi ketidak-tetapan
ketinggian muka air terhadap suatu posisi di daratan. Dalam menentukan lokasi perlabuhan perlu
diperhatikan arus pasang surutnya karena dapat merusak dasar dan konstruksi breakwater.

KEMUNGKINAN PERLUASAN PELABUHAN


Dalam merencanakan suatu pelabuhan, maka kemungkinan perluasan pelabuhan perlu
dipikirkan untuk rencana jangka panjang, apalagi kalau yang direncanakan adalah pelabuhan
umum.
Perlu diperhatikan tersedianya ruang untuk :
a. Perencanaan dermaga
b. Penambahan bangunan-bangunan sipil
c. Perluasan pelabuhan
d. Kemungkinan pembangunan dock untuk perbaikan, perawatan untuk pembuatan kapal, dll.

LUAS DAERAH PERAIRAN DI MUKA PELABUHAN UNTUK MEMUTAR KAPAL


Untuk memutar kapal, diperlukan diameter minimum 20% lebih panjang dari panjang kapal
terbesar yang menggunakannya. (sumber : ”Perencanaan Pelabuhan” hal 37 oleh Bambang
Triatmodjo)

Jadi,
D = 20%L + L
dimana,
L = Panjang kapal
Dalam perencanaan tugas ini, dipakai ukuran kapal yang terbesar yaitu PASSENGER : 70000 GT
dengan L = 260 m, jadi :

(Sumber : “Perencanaan Pelabuhan” oleh Bambang Triatmodjo, tabel hal 37)

D = 20%L + L
D = (20/100)*(260m)+(260m) = 312m
R min = ½*D
R min = ½*312m =156m

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
KEAMANAN TERHADAP KEBAKARAN
Dalam perencanaan pelabuhan, kemungkinan kebakaran harus dihindari antara lain dengan
menempatkan unit-unit kebakaran pada tempat tempat yang diperkirakan mudah terbakar.

STRATEGI
Pada perencanan pelabuhan, tidak hanya diperlukan strategi ekonomi, tapi perlu pula strategi
pertahanan dan keamanan. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, kita dapat
membuat beberapa sketsa rencana penempatan pelabuhan yang tepat dan mendekati
sempurna. Perlu pula diperhatikan jaringan lalu lintas yang sudah ada agar tidak terganggu.

PEMERIKSAAN KEADAAN TANAH


Pemeriksaan keadaan tanah sangat penting, terutama untuk keperluan :
a) Perencanaan konstruksi pondasi. Penyelidikan tanah yang dilakukan bisa dengan beberapa
cara:
1) Pengambilan contoh tanah tidak terganggu
2) Pengambilan contoh tanah terganggu

Untuk mendapatkan parameter tanah c, γ, dan φ perlu diambil contoh tanah asli dan diuji
di laboratorium dengan menggunakan Triaxial Test. Contoh tanah tidak terganggu harus
mewakili dengan baik tanah di kedalaman tempat asalnya. Untuk mempertahankan kondisi
tersebut harus dilakukan teknik tertentu, seperti boring.
Setelah didapat parameter tanahnya, maka dapat ditentukan jenis konstruksi pondasi yang akan
digunakan.

b) Penentuan jenis kapal keruk yang dipakai.

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
FETCH EFEKTIF
Pada perencanaan pelabuhan ini, data mengenai gelombang tidak diperoleh. Untuk itu
diperlukan menghitung “fetch efektif” guna memperoleh data tersebut. Fetch adalah jarak
antara terjadinya angin sampai lokasi gelombang tersebut. Dengan diperolehnya fetch efektif,
ditambah data mengenai kecepatan angin berhembus, maka dapat diketahui tinggi gelombang
pada lokasi pelabuhan dengan menggunakan grafik (terlampir).

Cara perhitungan / pembuatan fetch efektif yaitu :

a) Dari lokasi yang akan direncanakan dibuat pelabuhan, ditarik garis lurus yang sejajar arah
angin yang ada.
b) Dari garis tersebut, dapat dilihat 2 kemungkinan :
 Garis tersebut akan mengenai daratan
 Garis tersebut tidak akan mengenai daratan

c) Selanjutnya buat garis lurus yang membentuk sudut 45˚ dengan garis sejajar arah angin
tersebut, ke arah kiri dan kanan.

d) Sudut 45˚ tersebut kemudian dibagi dalam beberapa segmen yang sudutnya 5˚ sehingga
terdapat beberapa garis lurus.
e) Apabila dari garis-garis lurus tersebut ada garis yang tidak mengenai daratan/pulau, diganti
dengan garis yang baru dengan sudut tertentu dengan arah kedaratan/pulau.
f) Ukur panjang garis dari lokasi pelabuhan sampai ke ujung seberang yang berpotongan tegak
lurus dari arah angin (Xi).
g) Hitung cosinus sudut tersebut.
h) Buat dalam bentuk tabel.

Catatan :
 Garis yang mengenai daratan adalah garis dimana jika mengena daratan maka arah
anginnya akan kembali.

 Garis yang tidak mengenai daratan adalah garis dimana jika tidak mengena daratan
maka arah angin akan terus.

 Peta yang digunakan untuk menghitung fetch


efektif perlu diperhatikan skalanya. Dalam
tugas ini, peta yang digunakan dicetak
sehingga skalanya menjadi 1:1000 (1 cm pada
peta = 1000 meter di lapangan). Hal ini dapat
diperiksa pada skala batang yang ada pada
peta seperti pada Gambar 3.

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Contoh perhitungan Fetch untuk R1 :
Data didapat dari data peta tugas.
R1 = 20115.71 m (pada peta dengan autocad)
Atau
R1 = 20.11571 km
α1 = 45o
maka panjang fetchnya:
R1 cos α1 = 20.116 * cos 45
R1 cos α1 = 14.224 km
Perhitungan selanjutnya dibuat dalam bentuk tabel.

Ri Ri Cos α
No Sudut Cos α
(m) (km) (km)
R1 45.000 0.707 20115.711 20.116 14.224
R2 40.000 0.766 22128.253 22.128 16.951
R3 35.000 0.819 24797.575 24.798 20.313
R4 30.000 0.866 27847.140 27.847 24.116
R5 25.000 0.906 26606.387 26.606 24.114
R6 20.000 0.940 25666.172 25.666 24.118
R7 15.000 0.966 24967.629 24.968 24.117
R8 10.000 0.985 23729.136 23.729 23.369
R9 5.000 0.996 22048.418 22.048 21.965
R10 0.000 1.000 19624.575 19.625 19.625
R11 5.000 0.996 19121.646 19.122 19.049
R12 10.000 0.985 19180.177 19.180 18.889
R13 15.000 0.966 19716.940 19.717 19.045
R14 20.000 0.940 20215.087 20.215 18.996
R15 25.000 0.906 19334.540 19.335 17.523
R16 30.000 0.866 17696.260 17.696 15.325
R17 35.000 0.819 16600.646 16.601 13.598
R18 40.000 0.766 2554.318 2.554 1.957
R19 45.000 0.707 2275.539 2.276 1.609
16.903 338.902

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Dari data di atas
Fetch Efektif = 338.9024/16.9025 = 20.0504 km
TINGGI GELOMBANG
UL = 38 knots = 19.54889 m/s

Untuk mengetahui nilai UW perlu diketahui nilai RL terlebih dahulu. Nilai RL dapat dicari
menggunakan bantuan Grafik hubungan kecepatan angin di darat dan laut. (“Perencanaan
Pelabuhan” oleh Bambang Triatmodjo, hal 124)

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Cara membaca Grafik:
 Plot nilai UL pada bagian absis disesuaikan dengan satuannya (m/det ; mph ; kn).
 Kemudian tarik garis vertikal sampai menyentuh lengkung pada grafik.
 Tarik garis horizontal dari pertemuan garis vertikal dan lengkung pada grafik menuju
ordinat.
 Nilai pada bagian ordinat merupakan nilai RL.

Interpolasi untuk menentukan letak dari nilai UL :


X1 =0 m Y1 = 15
X2 = 3.6278 m Y2 = 20
X =? Y = 19.5489
Ket: satuan meter untuk X, X1 dan X2 munjukkan panjang dengan skala 1:1 yang diukur di autocad.

(𝑋2−𝑋1)𝑥(𝑌−𝑌1)
𝑋 = 𝑋1 + ( 𝑌2−𝑌1
)
(3.6278−0)𝑥(19.5489−15)
𝑌 =0+( )
20−15
𝑌 = 3.3005 m
Kemudian diukur sepanjang 3.3005 m(diautocad) dari nilai 15, itulah letak dari nilai 19.5489

Dengan menggunakan interpolasi didapatkan nilai RL :


X1 =0 m Y1 = 0.5
X2 = 4.5127 m Y2 =1
X = 3.9495 m Y =?
Ket: satuan meter untuk X, X1 dan X2 munjukkan panjang dengan skala 1:1 yang diukur di autocad.

(𝑌2−𝑌1)𝑥(𝑋−𝑋1)
𝑌 = 𝑌1 + ( )
𝑋2−𝑋1
(1−0.5)𝑥(3.9495−0)
𝑌 = 0.5 + ( 4.5127−0
)
𝑌 = 0.937

Maka :
RL = 0.937

UL = 19.549 m/s, maka RL =Uw/UL = 0.937

UW = RL * UL
= 0.937 * 19.549
= 18.326 m/s
UA = 0.71 Uw ^(1.23)
= 0.71 (18.3261.23)
= 25.4 m/s

Setelah didapat nilai UA, berikutnya akan dicari nilai tinggi gelombang (Ho) dan periode
gelombang (T). Nilai tersebut dapat dicari dengan menggunakan grafik peramalan gelombang
(Gambar 3.27. “Perencanaan Pelabuhan” oleh Bambang Triatmodjo, hal 128) untuk :
UA = 25.4 m/s dan fetch efektif = 20.05 km.

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Dengan menggunakan interpolasi didapat nilai dari grafik :
Grafik merah
Periode (T) = 5 d (titik berada tepat di garis)

Tinggi gelombang :
X1 =0 m Y1 = 1.75 m
X2 = 0.8033 m Y2 =2 m
X = 0.2508 m Y =?
Ket: satuan meter untuk X, X1 dan X2 munjukkan panjang dengan skala 1:1 yang diukur di autocad.

(𝑌2−𝑌1)𝑥(𝑋−𝑋1)
𝑌 = 𝑌1 + ( 𝑋2−𝑋1
)
(2−1.75)𝑥(0.2508−0)
𝑌 = 1.75 + ( 0.8033−0
)
𝑌 = 1.828 m
Maka :
Tinggi gelombang (Ho) = 1.828 m

Grafik Kuning
Periode :
X1 =0 m Y1 =6d
X2 = 1.6975 m Y2 =7d
X = 0.9381 m Y =?
Ket: satuan meter untuk X, X1 dan X2 munjukkan panjang dengan skala 1:1 yang diukur di autocad.

(𝑌2−𝑌1)𝑥(𝑋−𝑋1)
𝑌 = 𝑌1 + ( 𝑋2−𝑋1
)
(7−6)𝑥(0.9381−0)
𝑌 =6+( )
1.6975−0
𝑌 = 6.553 d
Maka :
Periode (T) = 6.553 d

Tinggi gelombang :
X1 =0 m Y1 = 2.5 m
X2 = 1.0838 m Y2 =3 m
X = 0.4901 m Y =?
Ket: satuan meter untuk X, X1 dan X2 munjukkan panjang dengan skala 1:1 yang diukur di autocad.

(𝑌2−𝑌1)𝑥(𝑋−𝑋1)
𝑌 = 𝑌1 + ( 𝑋2−𝑋1
)
(3−2.5)𝑥(0.4901−0)
𝑌 = 2.5 + ( 1.0838−0
)
𝑌 = 2.726 m
Maka :
Tinggi gelombang (Ho) = 2.726 m

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Cara membaca grafik di bagi menjadi 2 bagian:

Cara 1
 Plot nilai Fetch Efektif pada garis vertical dibagian kanan grafik, kemudian tarik garis ke arah kiri.
 Plot Tegangan Angin pada garis horizontal di bagian bawah grafik, kemudian tarik garis ke arah
atas.
 Jika garis Tegangan Angin dan Fetch bertemu, di situlah nilai yang akan di ambil untuk
mendapatkan nilai Tinggi Gelombang ataupun periode atau nilai lainnya

Cara 2
 Plot nilai Fetch Efektif pada garis vertical dibagian kanan grafik, kemudian tarik garis dari titik
tersebut ke arah kiri grafik . Garis yang dibuat harus sejajar dengan garis nilai durasi kecepatan
angin yang ada pada grafik.
 Plot Tegangan angin pada garis horizontal da bagian bawah grafik, kemudian tarik hingga
bersentuhan dengan garis Fetch Efektif yang telah dibuat sejajar dengan garis nilai durasi
kecepatan angin.
 Titik persilangan garis tersebut akan menentukan nilai tinggi gelombang atau periode.

Dari cara 1 dan cara 2, hasilnya memiliki nilai berbeda. Dan dari cara tersebut, kita mengambil nilai
tinggi gelombang tau periode yang nilainya tinggi.

Keterangan :
UL = kecepatan angin di darat (m/s)
UA = faktor tegangan angin
UW = kecepatan angin di laut (m/s)
RL = perbandingan antara kecepatan angin di laut dan di darat

Selain berdasarkan UA dan fetch efektif, perhitungan Ho dan T bisa juga berdasarkan data UA dan
durasi dengan menggunakan grafik yang sama, yaitu untuk :
UA = 25.4 m/s dan durasi 4 jam.

Cara 3
 Plot nilai durasi kecepatan angin yang ada pada grafik.
 Plot Tegangan angin pada garis horizontal di bagian bawah grafik, kemudian tarik hingga
bersentuhan dengan garis durasi kecepatan angin yang telah dibuat.
 Titik persilangan garis tersebut akan menentukan nilai tinggi gelombang atau periode.

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Grafik Hijau
Periode :
X1 =0 Y1 =6
X2 = 1.7017 Y2 =7
X = 1.086 Y =?

(𝑌2−𝑌1)𝑥(𝑋−𝑋1)
𝑌 = 𝑌1 + ( 𝑋2−𝑋1
)
(7−6)𝑥(1.086−0)
𝑌 =6+( )
1.7017−0
𝑌 = 6.638
Maka :
Periode (T) = 6.638 d

Tinggi gelombang :
X1 =0 Y1 = 2.5
X2 = 1.0692 Y2 =3
X = 0.5869 Y =?

(𝑌2−𝑌1)𝑥(𝑋−𝑋1)
𝑌 = 𝑌1 + ( 𝑋2−𝑋1
)
(3−2.5)𝑥(0.5869−0)
𝑌 = 2.5 + ( 1.0692−0
)
𝑌 = 2.774
Maka :
Tinggi gelombang (Ho) = 2.774 m

Dari ke tiga data yang di dapat untuk nilai Ho dan T diatas diambil nilai yang lebih besar, sehingga
tinggi dan periode gelombang adalah :

Dari grafik hijau:


 Tinggi Gelombang (Ho) = 2.774 meter
 Periode (T) = 6.638 detik

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Dalam peraturan perencanaan pelabuhan, jenis kapal berpengaruh pada ukuran tinggi gelombang
ijin.

Sumber :”Perencanaan Pelabuhan” oleh Soedjono Kramadibrata, hal 144

Ho = 2.774 m > Hizin = 0.2m

Maka, untuk bisa masuknya kapal dengan ukuran 1000 DWT ke pelabuhan di perlukan
pembangunan breakwater.

TINGGI GELOMBANG PECAH (HB)

Dalam menghitung tinggi gelombang pecah, maka diperlukan data-data :


O Panjang gelombang (Lo)
O Periode (T) = 6.638 detik
O Tinggi gelombang (Ho) = 2.774 m
𝑘𝑒𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑢𝑡 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑢𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑎𝑛𝑡𝑎𝑖
O Kelandaian = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑢𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑑𝑎𝑟𝑎𝑡

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Dari peta dibuat potongan untuk mengetahui kelandaian

Perhitungan kedalaman laut pada potongan I-I


Jarak dari daratan Kedalaman
No
(m) (m)
1 0 0
2 10.0476 -1
3 20.095 -2
4 30.1425 -3
5 40.1899 -4
6 49.8809 -5
7 59.0097 -6
8 70.3288 -7
9 80.3771 -8
10 90.4262 -9
11 100.4756 -10

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN

Dari peta diperoleh :


Kedalaman laut = 10 m
Jarak dari daratan = 100. 4756 m
Maka :

10 𝑚
m= = 0.0995 atau kemiringannya sebesar 9.952 %
100.4756 𝑚

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Panjang Gelombang (Lo)
Rumus :
Lo = 1,56 * T2

Lo = 1.56*(6.638)2
= 68.738 m ≈ 69 m

Jadi, panjang gelombang (Lo) = 69 m

Tinggi gelombang pecah


Dari data – data yang ada :
Tinggi gelombang (Ho) = 2.774 m
Kelandaian pantai (m) = 0.0995
Periode (T) = 6.638 detik
Rumus :

Ho/gT2 = 2.774/(9.81*(6.638)2) = 0.00642

Dari gambar (sumber: “Perencanaan Pelabuhan” oleh Bambang Triatmodjo, hal. 117) diperoleh:
Hb/Ho’ = 1.23 (Grafik dapat dilihat pada halaman berikut)
Hb = 1.23 * Ho
= 1.23 * 2.774m
= 3.41202 m

Jadi, tinggi gelombang pecah (Hb) = 3.41202 m


Rumus :
Hb/gT2 = 3. 41202m/(9.81*(6.638)2) = 0.0079 m ≈ 0.008 m

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Cara membaca grafik:
 Plot nilai Ho/gT2 pada absis.
 Tarik garis vertikal ke arah atas hingga menyentuk salah satu lengkung sesuai nilai m
(kelandaian)
 Tarik haris horizontal menuju ordinat hingga bisa didapat nilai Ho/Ho’ .

Dari gambar (“Perencanaan Pelabuhan” oleh Bambang Triatmodjo, hal. 118)


Didapat db/Hb = 0.99
db = Hb * 0.99
= 3.41202 * 0.99
= 3.3779 m

Jadi, kedalaman gelombang pecah (db) = 3.38 m

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Cara membaca grafik:
 Plot nilai Hb/gT2 pada absis.
 Tarik garis vertikal ke arah atas hingga menyentuk salah satu lengkung sesuai nilai m
(kelandaian)
 Tarik garis horizontal menuju ordinat hingga bisa didapat nilai db/Hb .

ENERGI GELOMBANG
Energi gelombang terdiri dari energi kinetic dan energi potensial.

Maka diperoleh :

(1024)(9.81)((2.774)2 )
E = = 9662.553 kg/det2
8

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
PERENCANAAN BREAKWATER
Breakwater adalah bangunan yang digunakan untuk melindungi daerah perairan pelabuhan dari
gangguan gelombang.

Macam dan Tipe Breakwater


 Breakwater yang dihubungan dengan pantai
 Breakwater lepas pantai

Pemecah gelombang terdiri atas tiga tipe, yaitu :


 Pemecah gelombang sisi miring
 Pemecah gelombang sisi tegak
 Pemecah gelombang campuran

Perencanaan breakwater sisi miring biasanya dibuat dari tumpukan batu alam yang dilindungi oleh
lapisan pelindung (armour) berupa batu besar atau beton dengan bentuk tertentu. Beton dan batu
buatan terdiri dari :
 Tetrapod -- mempunyai empat kaki yang berbentuk kerucut terpancung
 Tribar -- mempunyai tiga kaki yang saling dihubungkan dengan lengan
 Ouddripod -- mempunyai bentuk mirip tetrapod tetapi sumbu-sumbu dari ketiga kakinya
berada pada bidang datar
 Dolos -- terdiri dari dua kaki saling silang menyilang dan dihubungkan dengan lengan

Dalam perencanaan breakwater, dipilih model “Rubble Mound” karena memiliki keuntungan :
 Elevasi puncak bangunan rendah
 Gelombang refleksi kecil
 Kerusakan berangsur-angsur
 Perbaikan murah
 Harga murah

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
MENENTUKAN BERAT DARI UNIT ARMOUR

Diketahui, syarat pembuatan Breakwater terpenuhi, yaitu:


Ho > H ijin = 2.774 m > 0,2 m
 ᵞr batu alam = 165 lbs/cuft
 ᵞr tetrapod = 140 lbs/cuft
 ᵞw = 64 lbs/cuft
 Sr = 165/64 = 2.578
 H = 2.774 m = ft
 Cot θ =
 KA (lapis lindung) = (tetrapod) dan (batu alam)
 KD = (tabel 5.2)

Berat Unit Armour (Lapis Pelindung)


Lapisan I (Tetrapods) :
W= = lbs

W1 = lbs * Fk = *1,5 = lbs

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
RENCANA KEDALAMAN PERAIRAN
Rencana kedalaman perairan disesuaikan dengan ukuran kapal yang akan menggunakan
pelabuhan tersebut. Pada umumnya kedalaman air dasar kolam pelabuhan berdasarkan full loaded
draft (maximum draft). Dari kapal yang tertambat dengan jarak aman / ruang bebas (clearance)
sebesar 0,8 – 1,0 m di bawah lunas kapal.
Taraf dermaga ditetapkan antara 0,5 – 1,5 m di atas air pasang sesuai dengan besarnya
kapal.

(Sumber : “Perencanaan Pelabuhan” oleh Soedjono Karmadibrata, hal 310).

Data yang digunakan adalah data kapal yang paling maksimum, sehingga untuk panjang, lebar
dan sarat kapal akan digunakan data kapal Container :

Diketahui :
Kapal Berat Panjang (m) Lebar (m) Draft (m)
Passenger 50000 GT 231 30.5 7.6
Cargo 50000 DWT 216 31.5 12.4
Container 50000 DWT 250 32.3 13.4
Tanker/Liquid Carrier 50000 DWT 219 33.1 12.7
Ore Carrier 50000 DWT 204 32.3 12
Dry Bulk 50000 DWT 222 32.6 11.9
Fishing Boat 1000 DWT 67 10.8 3.9

 Sarat kapal : 13.4 m


 Clearance :1m
Kedalaman perairan :
h = Sarat kapal + beda pasang surut + clearance +1/3 tinggi ombak
= 13.4 + 1.5 + 1 + 1/3*2.774
= 16.825 m

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN

H=16.825 m
13.4 m

1.5 m
1/3*2.774m
= 0.925 m

Jadi:
Untuk kedalaman perairan diambil yang terbesar = 16.825 m
Untuk tinggi rencana = 16.825 m + free board (=1.5 m)
= 18.325 m

LEBAR ALUR PELAYARAN


Alur pelayaran yang dalam hal ini menggunakan dua jalur untuk melayani kapal yang akan
masuk ke kolam pelabuhan. Dalam perencanaan ini, kapal dengan lebar terbesar yang akan
beroperasi adalah Container : 50000 DWT = 32.3 m.

Menghitung lebar alur untuk 2 jalur

Lebar kapal (B) = 32.3 m


Panjang kapal (L) = 250 m

Untuk lebar alur pelayaran dipakai rumus:


L = 1.5 B + (1.2 s/d 1.5) B + 30 + (1.2 s/d 1.5) B + 1.5 B
(Sumber : ”Perencanaan Pelabuhan” oleh Soedjono Kramadibrata, hal 341)

L = 1.5 (32.3 m) + 1.5 (32.3 m) + 30 + 1.5 (32.3 m) + 1.2 (32.3 m) = 223.8 m


Untuk memutar kapal dipakai rumus :
d = 1.5 *L = 1.5 * 223.8 m = 335.7 m
R = 0.75 *L = 0.75 * 223.8 m = 167.85 m

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN

R = 389,565m

R = 259,71m

Rencana Tambatan / Panjang Dermaga dan Lebar Dermaga


Rumus untuk menghitung panjang dermaga adalah sebagai berikut :

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
Dalam tugas ini, ada 7 jenis kapal yang direncanakan akan berkunjung, sehingga perencanaan
jumlah tambatan harus dihitung sesuai kebutuhan.
 Tambatan Passenger 50.000 GT
Data penumpang yang diramalkan/tahun = 750.000 org/tahun
Jumlah Kapal yang berkunjung/tahun : 750.000/50.000 = 15 kapal
Jumlah Kapal/hari : 15/315 = 0.013 kapal ≈ 1 kapal
Jumlah tambatan yang dibutuhkan = 1 buah

 Cargo 50.000 DWT


Data tonase yang diramalkan/tahun = 550.000 ton/tahun
Jumlah kapal yang berkunjung/tahun : 550.000/50.000 = 11 kapal
Jumlah kapal/hari : 11/315 = 0.035 kapal ≈ 1 kapal
Jumlah tambatan yang dibutuhkan = 1 buah

 Container 50.000 DWT


Data tonase yang diramalkan/tahun = 250.000 ton/tahun
Jumlah kapal yang berkunjung/tahun : 250.000/50.000 = 5 kapal
Jumlah kapal/hari : 5/315 = 0.016 kapal ≈ 1 kapal
Jumlah tambatan yang dibutuhkan = 1 buah

 Tanker/Liquid Carrier
Data tonase yang diramalkan/tahun = 200.000 ton/tahun
Jumlah kapal yang berkunjung/tahun : 200.000/50.000 = 4 buah
Jumlah kapal/hari : 4/315 = 0.013 kapal ≈ 1 kapal
Jumlah tambatan yang dibutuhkan = 1 buah

 Ore Carrier 50.000 DWT


Data tonase yang diramalkan/tahun = 100.000 ton/tahun
Jumlah kapal yang berkunjung/tahun : 100.000/25.000 = 4 kapal
Jumlah kapal/hari : 4/315 = 0.013 kapal ≈ 1 kapal
Jumlah tambatan yang dibutuhkan = 1 buah

 Dry Bulk 50.000 DWT


Data tonase yang diramalkan/tahun = 100.000 ton/tahun
Jumlah kapal yang berkunjung/tahun : 100.000/25.000 = 4 kapal
Jumlah kapal/hari : 4/315 = 0.013 kapal ≈ 1 kapal
Jumlah tambatan yang dibutuhkan = 1 buah

 Fishing Boat 1000 DWT


Data tonase yang diramalkan/hari = 50.000 ton/hari
Jumlah kapal yang berkunjung/hari :50.000/1000 = 50 kapal
Jumlah tambatan yang dibutuhkan =

Keterangan :
1 tahun = 365 hari (asumsi bahwa jumlah hari kerja selama 1 tahun = 315 hari)

Dari hasil perhitungan, semua kapal yang ada intensitas kapal per harinya sangat sedikit, sehingga
diambil keputusan untuk membuat 1 tambatan untuk ketujuh jenis kapal tersebut. Tambatan yang
akan dibuat adalah :
a. Panjang Dermaga
10
d = 1* 250 m + (1+1)* 100 * 250 m = 300 m

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149


PERENCANAAN PELABUHAN
b. Lebar Dermaga
Dalam merencanakan lebar dermaga banyak ditentukan oleh kegunaan dari dermaga
tersebut, ditinjau dari jenis volume barang yang mungkin ditangani pelabuhan / dermaga
tersebut. Diambil lebar dermaga 20 m untuk jalan kendaraan dan gudang barang.

Kesimpulan :
Jadi, panjang total dermaga = 300 m dan lebar dermaga = 20 m

REKI THOMAS PARAPAGA - 14021101149