Anda di halaman 1dari 36

artifisial check dam :)

Practice Description :D

check dam ( CD ) adalah suatu bangunan air yang berfungsi untuk mengendalikan sedimen di sungai fungsi

berikutnya yaitu untuk memperbaiki dasar sungai sehingga lebih baik tingkat kemiringan dasar salurannya

Pengendalian sedimen :

Mencegah terjadinya proses sedimentasi adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat dilakukan, karena

sedimentasi adalah hasil suatu proses gejala alam yang sangat komplex di atas permukaan bumi ini. Proses ini

berlangsung secara menerus dan kadang kadang lebih diperparah oleh kegiatan manusia. Oleh aliran air hujan

bahan bahan hasil sedimentasi tersebut dihanyutkan memasuki palung – palung sungai.

Secara teknis proses sedimentasi dapat diperlambat mencapai tingkat yang tidak membahayakan, yaitu tingkat

sedimentasi yang seimbang dengan kemampuan daya angkut aliran sungai secara fluvifal dan dapat dihindarkan

gerakan sedimen secara massa. Dengan demikian alur sungai di daerah pengendapan pada tingkat – tingkat

tertentu dapat distabilkan baik vertikal maupun horisontal.

Guna memperlambat proses sedimentasi, maka diperlukan data mengenai tipe sedimen yang dihasilkan dan

cara terangkutnya, lokasinya, volume, intensitas evolusi dasar sungainya, hujan, debit sungai, sebab – sebab

bencana yang pernah terjadi,dan lain –lain (ini sih yang susah n agak ribet ).

Usaha – usaha yang dilakukan untuk memperlambat proses sedimentasi ini antara lain dengan mengadakan

pekerjaan teknik sipil untuk mengendalikan gerakannya menuju bagian sungai di sebelah hilirnya, jadi

bangunan ini amat di rekomendasikan pemasangannya di daerah hulu sehingga sedimentasi di daerah hilirnya

menjadi sedikit dan normal, tapi bila terjadi sedimentasi di daerah hilir maka perlu di lakukan kegiatan kegiatan

perawatan sungai yaitu normalisasi atau kegiatan optimalisasi buka tutup pintu atau permainan debit air yang

akan digunakan untuk mengalirkan sedimen sampai ke laut.


selain mengendalikan sedimen di sungai, bangunan ini juga mempunyai fungsi yaitu memperbaiki dasar saluran

suatu sungai dimana dengan sedimen yang di tangkap dan mengendap di hulu bangunan dapat menstabilkan

atau mengatur kemiringan dasar saluran yang tidak beraturan..

mungkin cuma segitu sepengetahuan saya tentang CD

modus lain saya menulis ini adalah sekalian belajar karena besok saya ujian n menjelaskan ini

jadi mohon maaf jikan ada salah salah persepsi atau pengertian :)

terima kasih banyak

http://mochamadhw.blogspot.com/2013/05/artifisial-check-dam.html
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan

Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau

tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik

Tenaga Air. Kebanyakan dam juga memiliki bagian yang disebut pintu air untuk membuang air yang tidak

diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan. Kementerian Pekerjaan Umum Indonesia mendefinisikan

bendungan sebagai "bangunan yang berupa tanah, batu, beton, atau pasangan batu yang dibangun selain untuk

menahan dan menampung air, dapat juga dibangun untuk menampunglimbah tambang atau

lumpur."[1] Bendungan (dam) dan bendung (weir) sebenarnya merupakan struktur yang berbeda.[2] Bendung

(weir) adalah struktur bendungan berkepala rendah (lowhead dam), yang berfungsi untuk menaikkan muka air,

biasanya terdapat di sungai. Air sungai yang permukaannya dinaikkan akan melimpas melalui puncak / mercu

bendung (overflow). Dapat digunakan sebagai pengukur kecepatan aliran air di saluran / sungai dan bisa juga

sebagai penggerak pengilingan tradisional di negara-negara Eropa. Di negara dengan sungai yang cukup besar

dan deras alirannya, serangkaian bendung dapat dioperasikan membentuk suatu sistem transportasi air. Di

Indonesia, bendung dapat digunakan untuk irigasi bila misalnya muka air sungai lebih rendah dari muka tanah

yang akan diairi.

Dam dapat diklasifikasikan menurut struktur, tujuan atau ketinggian. Berdasarkan struktur dan bahan yang

digunakan, bendungan dapat diklasifikasikan sebagai dam kayu, "embankment dam" atau "masonry dam",

dengan berbagai subtipenya. Tujuan dibuatnya termasuk menyediakan air untuk irigasi atau penyediaan air di

perkotaan, meningkatkan navigasi, menghasilkan tenaga hidroelektrik, menciptakan tempat rekreasi

atau habitat untuk ikan dan hewan lainnya, pencegahan banjir dan menahan pembuangan dari tempat industri

seperti pertambangan atau pabrik. Hanya beberapa dam yang dibangun untuk semua tujuan di atas. Menurut

ketinggian, dam besar lebih tinggi dari 15 meter dan dam utama lebih dari 150 m. Sedangkan, dam

rendah kurang dari 30 m, dam sedang antara 30 - 100 m, dan dam tinggi lebih dari 100 m. Kadang-kadang ada

yang namanya Bendungan Sadel sebenarnya adalah sebuah dike, yaitu tembok yang dibangun sepanjang sisi

danau untuk melindungi tanah di sekelilingnya dari banjir.


Ini mirip dengan tanggul, yaitu tembok yang dibuat sepanjang sisi sungai atau air terjun untuk melindungi tanah

di sekitarnya dari kebanjiran. Bendungan Pengecek check dam adalah bendungan kecil yang didisain untuk

mengurangi dan mengontrol arus erosi tanah. Bendungan kering dry dam adalah bendungan yang didisain

untuk mengontrol banjir. Ia biasanya kering, dan akan menahan air yang bila dibiarkan akan membanjiri daerah

dibawahnya.

Lokasi proyek pembangunan Waduk Jatigede merupakan bagian wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung

mencakup daerah aliran sungai Kab.Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Indramayu, Kuningan serta

Brebes Jawa Tengah.Rencana letak Dam Proyek Pembangunan Waduk Jatigede terletak di Kampung Jatigede

Kulon Desa Cijeungjing Kecamatan Jatigede Kabupaten Sumedang. Adapun lahan yang dibutuhkan seluas

4.891,13 ha yang meliputi 5 (lima) kecamatan atau 26 (dua puluh enam) desa.

Fluktuasi Debit Air di Sungai Cimanuk yang tercatat di bendung rentang sangat besar : Q max = 1.004 m3/det;

Q min = 4 m3/det, Ratio = 251

Lahan kritis DAS Cimanuk di Rentang pada saat ini telah mencapai kurang lebih 110.000 Ha atau sekitar 31 %

dari luas DAS Cimanuk

Potensi air Sungai Cimanuk di Rentang rata-rata sebesar 4,3 milyar m3/th dan hanya dapat dimanfaatkan 28%

saja, sisanya terbuang ke laut karena belum ada waduk

Sistem irigasi rentang seluas 90.000 Ha sepenuhnya mengandalkan pasokan air dari sungai Cimanuk ( river

runoff ), sehingga pada musim kemarau selalu mengalami defisit air irigasi yang mengakibatkan kekeringan

disamping itu, diwilayah hilir Sungai Cimanuk ( Pantura CIAYU ) pada musim kemarau terjadi pula krisis

ketersedian air baku untuk keperluan domestik, perkotaan dan industri

Waduk jatigede perlu segera dibangun guna mengatasi krisis air tersebut, baik untuk menjamin ketersediaan air

irigasi Rentang maupun air baku untuk wilayah Pantura CIAYU.

Pembangunan waduk jatigede merupakan stratregi pemerintah untuk mengetasi kekeringan di musim

kemaraudan banjir di musim penghujan khususnya di daerah pantura jawa timur. Pembangunan waduk jati

gede sudah di rencanakan sejak tahun 1963. Di samping itu, waduk jatigede diharapkan dapat berfungsi sebagai

penyedia air baku khususnya untuk areal pertanian yang merupakan salah satu penyedia padi regional dan

nasional, di samping kepentingan-kepentingan lainnya yang bersifat strategis, seperti pembangkit tenaga listrik,

perikanan dan pariwisata.


Pembangunan waduk jatigede membuat beberapa wilayah permukiman maupun persawahan menjadi

tergenang, hal tersebut membawa konsekuensi terhadap adanya perubahan mata pencaharian. Dampak dari

berubahnya lingkungan fisik yang mengakibatkan dampak lanjutan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat

yaitu terjadinya perubahan fungsi lahan dari lahan pertanaian menjadi pembangunan waduk yang menimbulkan

dampak lanjutan terhadap perubahan mata pencaharian penduduk.

Daerah yang akan tergenang bendungan jatigede merupakan daerah pertanian karena didukung oleh luasnya

wilayah pertanian dan juga keadaan geografis di mana merupakan daerah yang letaknya berada di sekitar hutan

dengan potensi alam yang memadai bagi tumbuhnya sektor pertanian yang mayoritas penduduknya sebagai

petani.

Hilangnya lahan subur yang termasuk di dalamnya adalah pertanian, kabupaten sumedanf yang akan kehilangan

80.000 ton padi per tahun. Selain itu terdapat penduduk yang memiliki profesi utama di luar sektor pertanian

pun masih tergantung pada sektor usaha ini dalan membantu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi

berbagai kebutuhan sosial ekonominya.

Masyarakat yang selama ini menjadi petani sawah akan sulit untuk berpindah mata pencaharian baik di

perikanan, pariwisata, maupun lainnya. Puluhan ribu warga yang dengan terpaksa harus meninggalkan

daerahnya yang selama ini sudah hidup berpuluh-puluh tahun secara turun temurun. Mereka harus memulai

hidup baru lagi segala sesuatunya. Puluhan ribu orang akan kehilangan pekerjaanya, terutama yang selama ini

hidupnya dari hasil pertanian baik palawija maupun sawah.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka, rumusan masalah adalah sebagai

berikut :

1.2.1 Bagaimana struktur organisasi dari sebuah proyek?

1.2.2 Bagaimana struktur organisasi dari proyek bendungan jatigede?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

1.3.1 Untuk mengetahui bagaimana struktur organisasi dalam sebuah proyek

1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana struktur organisasi pada Proyek Bendungan jatigede
1.4 Manfaat

Berdasarkan tujuan penelitian yang diuraikan di atas maka, manfaat yang ingin

dicapai sebagai berikut:

1.4.1 Bagi Penulis

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai struktur organisasi dalam suatu proyek,

khususnya Proyek bendungan jatigede

1.4.2 Bagi Lembaga

Untuk mendapatkan teori mengenai struktur organisasi dalam suatu proyek.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Struktur Organisasi

2.1.1 definisi

Struktur organisasi adalah suatu susunan komponen-komponen atau unit-unit kerja dalam sebuah

organisasi. Struktur organisasi menunjukan bahwa adanya pembagian kerja dan bagaimana fungsi atau

kegiatan-kegiatan berbeda yang dikoordinasikan. Dan selain itu struktur organisasi juga menunjukkan

mengenai spesialisasi-spesialisasi dari pekerjaan, saluran perintah maupun penyampaian laporan. Struktur

organisasi adalah suatu susunan atau hubungan antara kemponen bagian-bagian dan posisi dalam sebuah

organisasi, komponen-komponen yang ada dalam organisasi mempunyai ketergantungan. Sehingga jika

terdapat suatu komponen baik maka akan berpengaruh kepada komponen yang lainnya dan tentunya akan

berpengaruh juga kepada organisasi tersebut.

Struktur organisasi merupakan susunan dan hubungan antara setiap bagian maupun posisi yang terdapat pada

sebuah organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan-kegiatan operasionalnya dengan maksud untuk

mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Struktur organisasi dapat menggambarkan secara jelas

pemisahan kegiatan dari pekerjaan antara yang satu dengan kegiatan yang lainnya dan juga bagaimana

hubungan antara aktivitas dan fungsi dibatasi. Di dalam struktur organisasi yang baik harus dapat menjelaskan

hubungan antara wewenang siapa melapor atau bertanggung jawab kepada siapa, jadi terdapat suatu

pertanggung jawaban apa yang akan di kerjakan.

2.1.2 Fungsi Struktur Organisasi

Adapun fungsi / kegunaan dari struktur dalam sebuah organisasi, berikut dibawah ini penjelasannya:

1. Kejelasan tanggung jawab.


Setiap anggota dari organisasi harus dapat bertanggung jawab dan juga apa saja yang harus dipertanggung

jawabkan. Setiap anggota suatu organisasi tentunya harus dapat bertanggung jawab kepada pimpinannya atau

kepada atasannya yang telah memberikan kewenangan, karena pelaksanaan atau implementasi kewenangan

tersebut yang perlu di pertanggung jawabkan. Itulah fungsi struktur organisasi tentang kejelasan tanggung

jawab.

2. Kejelasan kedudukan.

Yang selanjutnya yaitu kejelasan mengenai kedudukan,disini artinya anggota atau seseorang yang ada didalam

struktur organisasi sebenarnya dapat mempermudah dalam melakukan koordinasi dan hubungan, sebab adanya

keterkaitan penyelesaian mengenai suatu fungsi yang telah di percayakan kepada seseorang atau anggota.

3. Kejelasan mengenai jalur hubungan.

Fungsi selanjutnya yaitu sebagai kejelasan jalur hubungan maksudnya dalam melaksanakan pekerjaan dan

tanggung jawab setiap pegawai didalam sebuah organisasi maka akan dibutuhkan kejelasan hubungan yang

tergambar dalam struktur sehingga dalam jalur penyelesaian suatu pekerjaan akan semakin lebih efektif dan

dapat saling memberikan keuntungan.

4. Kejelasan uraian tugas.

Dan Fungsi lainnya yaitu kejelasan mengenai uraian tugas didalam struktur organisasi akan sangat membantu

pihak atasan atau pimpinan untuk dapat melakukan pengawasan maupun pengendalian, dan juga bagi bawahan

akan dapat lebih berkonsentrasi dalam melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan karena uraian yang jelas. Itulah

salah satu fungsi sebagai kejelasan uraian tugas.


2.1.3 Elemen Struktur Organisasi

Ada enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh para manajer ketika hendak mendesain struktur, antara

lain:

· Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa

pekerjaan tersendiri.

· Departementalisasi. Dasar yang dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan secara bersama-sama.

Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan.

· Rantai komando. Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi ke eselon

paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa.

· Rentang kendali. Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.

· Sentralisasi dan Desentralisasi. Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan keputusan

terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi. Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi.

· Formalisasi. Sejauh mana pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.

2.1.4 Faktor Penentu Struktur organisasi

Sebagian organisasi terstruktur pada garis yang lebih mekanistis sedangkan sebagian yang lain mengikuti

karakteristik organik.[1] Berikut adalah faktor-faktor utama yang diidentifikasi menjadi penyebab atau penentu

struktur suatu organisasi

Strategi

Struktur organisasi adalah salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya.[6] Karena

sasaran diturunkan dari strategi organisasi secara keseluruhan, logis kalau strategi dan struktur harus terkait

erat.[6] tepatnya, struktur harus mengikuti strategi.[6] Jika manajemen melakukan perubahan signifikan dalam

strategi organisasinya, struktur pun perlu dimodifikasi untuk menampung dan mendukung perubahan ini.
[6] Sebagian besar kerangka strategi dewasa ini terfokus pada tiga dimensi -inovasi, minimalisasi biaya, dan

imitasi- dan pada desain struktur yang berfungsi dengan baik untuk masing-masing dimensi.[6]

Strategi inovasi adalah strategi yang menekankan diperkenalkannya produk dan jasa baru yang menjadi

andalan.[6] Strategi minimalisasi biaya adalah strategi yang menekankan pengendalian biaya secara ketat,

menghindari pengeluaran untuk inovasi dan pemasaran yang tidak perlu, dan pemotongan harga.

[6] Strategi imitasi adalah strategi yang mencoba masuk ke produk-produk atau pasar-pasar baru hanya setelah

viabilitas terbukti.[6]

Ukuran organisasi

Terdapat banyak bukti yang mendukung ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara signifikan memengaruhi

strukturnya.[6] Sebagai contoh, organisasi-organisasi besar yang mempekerjakan 2.000 orang atau lebih

cenderung memiliki banyak spesialisasi, departementalisasi, tingkatan vertikal, serta aturan dan ketentuan

daripada organisasi kecil.[6]Namun, hubungan itu tidak bersifat linier.[6] Alih-alih, ukuran

memengaruhi struktur dengan kadar yang semakin menurun. Dampak ukuran menjadi kurang penting saat

organisasi meluas.[6]

Teknologi

Istilah teknologi mengacu pada cara sebuah organisasi mengubah input menjadi output.[6] Setiap organisasi

paling tidak memiliki satu teknologi untuk mengubah sumber dayafinansial, SDM, dan sumber daya fisik

menjadi produk atau jasa.[6]

Lingkungan

Lingkungan sebuah organisasi terbentuk dari lembaga-lembaga atau kekuatan-kekuatan di luar organisasi yang

berpotensi memengaruhi kinerja organisasi.[6] Kekuatan-kekuatan ini biasanya meliputi pemasok, pelanggan,

pesaing, badan peraturan pemerintah, kelompok-kelompok tekanan publik, dan sebagainya.[6]

Struktur organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya karena lingkungan selalu berubah.[6] Beberapa organisasi

menghadapi lingkungan yang relatif statis -tak banyak kekuatan di lingkungan mereka yang berubah.

[6] Misalnya, tidak muncul pesaing baru, tidak ada terobosan teknologi baru oleh pesaing saat ini, atau tidak

banyak aktivitas dari kelompok-kelompok tekanan publik yang mungkin memengaruhi organisasi.

[6] Organisasi-organisasi lain menghadapi lingkungan yang sangat dinamis -peraturan pemerintah cepat

berubah dan memengaruhi bisnis mereka, pesaing baru, kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, preferensi
pelanggan yang terus berubah terhadap produk, dan semacamnya. Secara signifikan, lingkungan yang statis

memberi lebih sedikit ketidakpastian bagi para manajer dibanding lingkungan yang dinamis.[6] Karena

ketidakpastian adalah sebuah ancaman bagi keefektifan sebuah organisasi, manajemen akan menocba

meminimalkannya.[6] Salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian lingkungan adalah melalui penyesuaian

struktur organisasi.

2.2 STRUKTUR ORGANISASI PROYEK KONSTRUKSI

2.2.1 Definisi

Struktur organisasi proyek secara umum dapat diartikan dua orang atau lebih yang melaksanakan suatu ruang

lingkup pekerjaan secara bersama – sama dengan kemampuan dan keahlianya masing – masing untuk mencapai

suatu tujuan sesuai yang direncanakan. Dengan adanya organisasi kerja yang baik diharapkan akan memberikan

hasil efisien, tepat waktu serta dengan kualitas tinggi.

Suatu proyek konstruksi yaitu proyek fisik yang dicapai dengan kegiatan konstruksi merupakan suatu sistem.

Sedangkan sistem itu sendiri secara konseptual berpengertian adanya perangkat atau kelompok yang

menyangkut beberapa usur yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama.

Proyek konstruksi yang mempunyai tujuan menghasilkan suatu bangunan fisik yang memenuhi dan

persyaratan melalui suatu ruang lingkup pekerjaan tertentu yang dilakukan beberapa orang atau beberapa

kelompok orang. Untuk proyek proyek besar yang harus di laksanakan oleh beberapa kontraktor, maka pemilik

proyek dapat memberikan kepercayaan yang penuh pada suatu badan yang disebut manajemen konstruksi ( MK

) yang bertindak dan atas nama pemilik sebagai manajer.

2.2.2 Unit Organisasi Pemilik Proyek / Employer

1. Pemilik Proyek

Pemilik proyek adalah pihak yang menginginkan suatu fasilitas proyek, sekaligus yang menangung pembiayaan

proyek yang akan didirikan.

Pemimpin Proyek adalah orang yang diangkat untuk memimpin pelaksanaan kegiatan proyek, mempunyai hak,

wewenang, fungsi serta bertanggung jawab penuh terhadap proyek yang dipimpinnya dalam mencapai target

yang telah ditetapkan.


Tugas Pimpinan Proyek (pimpro) :

a. Mengambil keputusan terakhir yang berhubungan dengan pembangunan proyek.

b. Menandatangani Surat Perintah Keja (SPK) dan surat perjanjian (kontrak) antara pimpro dengan

kontraktor.

c. Mengesahkan semua dokumen pembayaran kepada kontraktor.

d. Menyetujui atau menolak pekerjaan tambah kurang.

e. Menyetujui atau menolak penyerahan pekerjaan.

f. Memberikan semua instruksi kepada konsultan pengawas.

2. Bendahara.

Bendahara adalah orang yang bertanggung jawab kepada Pemimpin Proyek atas pengaturan penbiayaan sesuai

dengan peraturan yang berlaku pada pelaksanaan keuangan Daerah Provinsi Sumatera Selatan.

Tugas dan kewajiban Bendahara yaitu :

a. Mematuhi peraturan-peraturan serta ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi pelaksanaan keuangan Daerah

dan Negara.

b. Membuat buku kas umum beserta buku penunjangnya.

c. Mengadakan data yang bersifat kearsipan yang menyangkut dengan pembukuan.

d. Bertangung jawab atas uang kas proyek yang diamanatkan oleh Pemimpin Proyek.

e. Menyelenggarakan pengurusan keuangan baik bersifat penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran serta

bertanggung jawab sepenuhnya atas pengolahan keuangan proyek.


f. Membuat Surat Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pembangunan (SPJP).

3. Kepala Urusan Tata Usaha

Tugas kepala urusan tata usaha yaitu:

a. Menginventaris semua barang-barang milik proyek.

b. Membuat pembukuan arsip-arsip selama pelaksanaan proyek.

c. Memelihara peralatan administrasi dan bangunan kantor.

d. Mempersiapkan semua kebutuhan perlengkapan administrasi dan alat-alat kantor untuk menunjang

kelancaran proyek tersebut.

4. Kepala Urusan Teknik

Tugas kepala urusan teknik yaitu :

a. Membantu pelaksana kegiatan dalam mengendalikan proyek sejak awal kegiatan sampai pelaksanaan

kegiatan.

b. Membantu mengevaluasi pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan sehingga sesuai dengan yang direncanakan.

c. Memberikan saran-saran teknis kepada pelaksanaan kegiatan.

d. Mengambil keputusan yang berhubungan dengan proyek atas persetujuan pelaksana kegiatan.

e. Mengumpulkan, meneliti dan mengelola data yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek.

5. Pengawas Lapangan.

Pengawas lapangan adalah orang yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan apakah

sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati agar dapat memberikan laporan kepada Pimpinan Proyek

mengenai kualitas material dan peralatan yang digunakan sesuai dengan rencana atau belum.

Tugas dan tanggung jawab pengawas lapangan yaitu :

a. Melaksanakan pengawasan pekerjaan di lapangan, sehingga tetap terlaksana dengan baik sesuai dengan

rencana kerja.

b. Menampung segala persoalan di lapangan dan menyampaikannya kepada pemimpin proyek.

c. Membantu survey dan mengumpulkan data di lapangan.


d. Menjaga hubungan baik dengan instasi serta masyarakat setempat yang berhubungan dengan pekerjaan.

e. Meneliti laporan bulanan yang diserahkan oleh kontaktor.

6. Pelaksana Kegiatan.

Tugas pelaksana kegiatan yaitu :

a. Mengendalikan proyek sejak awal kegiatan sampai selesai pelaksanaan.

b. Memberikan semua instruksi kepada konsultan pengawas.

c. Menyetujui atau menolak pekerjaan tambah kurang

d. Menyetujui atau menolak penyerahan pekerjaan

7. Pemegang Kas.

Tugas pemegang kas yaitu :

a. Meyelenggarakan data-data kearsipan yang berhubungan dengan bukti-bukti pembukuan keuangan selama

pelaksanaan proyek.

b. Bertanggung jawab atas pengelolaan admisinistrasi keuangan proyek.

c. Melaksanakan pembayaran atas persetujuan pelaksana kegiatan serta menyiapkan surat permintaan

pembayaran (SPP).

d. Menyelenggarakan buku kas umum dengan buku-buku pembantunya.

8. Pelaksana Administrasi Keuangan.

Tugas pelaksana adminstrasi keuangan yaitu :

a. Mempersiapkan daftar biaya berkaitan dengan rancangan dalam bentuk batas biaya dan target biaya untuk

setiap bagian pekerjaan.

b. Menyelenggarakan sistem administrasi umum dan teknis dalam rangka memperlancar pengelolaan proyek.
c. Membuat pembukuan arsip-arsip yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek.

d. Melaksanakan pengendalian biaya selama pelaksanaan proyek.

2.2.3 Unit Organisasi Kontraktor Pelaksana

1. General Superintendent.

General Superintendent adalah unit organisasi kontraktor pelaksana yang berada dilapangan. General

Superintendent merupakan wakil mutlak dari perusahaan.

Tugas General Superintendent yaitu :

a. Mengkoordinir seluruh pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

b. Bertanggung jawab atas seluruh pelaksanaan proyek dari awal sampai selesai.

c. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan kontrak.

d. Memotivasi seluruh stafnya agar bekerja sesuai dengan ketentuan dan sesuai dengan tugasnya masing-

masing.

2. Deputy General Superintendent.

Tugas Deputy General Superintendent yaitu :

a Bertanggung jawab kepada general superintendent.

b.Mengambil keputusan yang berkenaan dengan proyek atas persetujuan general superintendent.

c. Membantu general superintendent dalam mengkoordinir pelaksanaan proyek dari awal sampai selesai.

3. Site Engineer Manager.

Tugas Site Engineer Manager yaitu :

a.Bertanggung jawab atas urusan teknis yang ada dilapangan.

b. Memberikan cara-cara penyelesaian atas usul-usul perubahan desain dari lapangan berdasarkan persetujuan

pihak pemberi perintah kerja, sedemikian rupa sehingga tidak menghambat kemajuan palaksanaan di lapangan.
c.Melakukan pengawasan terhadap hasil kerja apakah sesuai dengan dokumen kontrak.

4. Site Adm. Manager.

Tugas Site Adm. Manager yaitu :

a. Bertanggung jawab atas penyelenggaraan administrasi di lapangan.

b. Membuat laporan keuangan mengenai seluruh pengeluaran proyek.

c. Membuat secara rinci pembukuan keuangan proyek.

d. Memeriksa pembukuan arsip-arsip selama pelaksanaan proyek.

5. Site Operation Manager.

Tugas site Operation Manager yaitu :

a. Mengkoordinir pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

b. Melaksanakan kegiatan sesuai dokumen kontrak.

c. Memotivasi pelaksana agar mampu bekerja dengan tingkat efisiensi dan

efektifitas yang tinggi.

d. Menetapkan rencana dan petunjuk pelaksanaan untuk keperluan pengendalian dari pelaksanaan pekerjaan.

6. Progress/ Monthly Certificate (MC)

Tugas Progress/MC yaitu :

a. Memberikan rekomondasi kepada perencana agar dapat mencapai kemajuan pekerjaan yang telah

direncanakan.

b. Memonitor kemajuan pekerjaan yang telah selesai.

c. Memeriksa kemajuan apakah pekerjaan sesuai dengan perencanaan.

7. Quality Control.
Tugas Quality Control yaitu :

a. Memeriksa kualitas hasil pekerjaan yang telah selesai.

b. Memberikan saran kepada pelaksana agar hasil pekerjaan tersebut sesuai dengan dokumen.

c. Memeriksa kualitas material yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.

8. Pelaksana.

Tugas pelaksana yaitu :

a. Melaksanakan pekerjaan harian sesuai dokumen kontrak.

b. Megkoordinir pekerja agar bekerja efektif dan efisien.

c. Melaksanakan pekerjaan harian lapangan.

9. Surveyor/Drawing.

Tugas Surveyor/Drawing yaitu :

a. Membuat gambar-gambar kerja yang diperlukan dalam proyek.

b. Bertanggung jawab atas data-data pengukuran di lapangan.

c. Melakukan pengukuran sebelum dan sesudah pelaksanaan proyek.

https://koleksitugasku.blogspot.com/2017/03/makalah-tentang-dam-atau-waduk.html
DAM PENGENDALI

1. Pembuatan Rancangan Dam Pengendali (DPi)

a. Persiapan

Contoh Penerapan Dam Pengendali Tipe Busur. (Sumber Foto: BTP DAS Surakarta)

1. Pemilihan calon lokasi

Pemilihan calon lokasi dilakukan dengan cara inventarisasi terhadap beberapa calon lokasi dam

pengendali yang telah ditetapkan dalam Rencana Teknik Tahunan (RTT) yang telah disusun, dengan

kriteria sebagai berikut :

a) Lahan kritis dan potensial kritis

b) Sedimentasi dan erosi sangat tinggi

c) Struktur tanah stabil (badan bendung)

d) Luas DTA 100 -250 ha

e) Tinggi badan bendung 8 meter

f) Kemiringan rata-rata daerah tangkapan 15-35 %

g) Prioritas Pengamanan bangunan vital

2. Orientasi lapangan

Calon lokasi yang terpilih (memenuhi kriteria) kemudian dilakukan orientasi lapangan untuk

menentukan letak dan ukuran badan bendung, saluran pelimpah dan daerah tangkapan air (DTA) serta

daerah genangan air.

3. Konsultasi

Berdasarkan hasil orientasi lapangan dilakukan konsultasi dengan instansi terkait baik secara formal
(Dinas Kimpraswil/PU, Dinas Pertanian dsb.) maupun non formal (kelompok tani, lembaga adat dsb)

untuk memperoleh masukan sebelum lokasi dan tipe dam pengendali ditetapkan.

4. Pengadaan bahan dan alat

Pengadaan bahan dan alat diprioritaskan terhadap bahan habis pakai, sedangkan peta dasar dan peralatan

lain seperti alat ukur/survey lapangan dapat memanfaatkan yang sudah ada.

5. Administrasi

Persiapan administrasi meliputi :

a) Administrasi kegiatan

b) Surat menyurat (pemberitahuan, surat ijin, kesepakatan masyarakat dsb.)

b. Pengumpulan data dan informasi lapangan.

1. Data primer

Data primer diperoleh dengan cara survey dan pengukuran lapangan, meliputi sebagai berikut :

a) Topografi lokasi bangunan

b) Penutupan lahan dan pola tanam

c) Tanah (jenis, tekstur, permeabilitas)

d) Luas DTA

e) Jumlah, kepadatan dan pendapatan penduduk dan tingkat harga/upah disekitar lokasi

2. Data sekunder, meliputi :

Data sekunder dapat diperoleh dengan cara pengumpulan data yang telah ada/tersedia baik di instansi

pemerintah, swasta dsb.

a) Administrasi wilayah

b) Curah hujan (jumlah, intensitas dan hari hujan)

c) Erosi dan sedimentasi

d) Adat istiadat masyarakat disekitar lokasi

c. Pengolahan dan analisa data/informasi.

Dari hasil pengumpulan data dan informasi di lapangan dilakukan pengolahan dan analisa, sebagai berikut :

1. Dari data tanah, erosi/sedimentasi, topografi, curah hujan dan luas DTA diolah dan dianalisa menjadi:

a) Letak bangunan
b) Spesifikasi teknis bangunan utama dan pelengkap

c) Debit aliran air/debit banjir rencana

d) Daya tampung air

e) Umur teknis bangunan

2. Dari data jumlah penduduk, mata pencaharian, pendapatan serta adat istiadat diolah dan dianalisa

menjadi informasi:

a) Potensi ketersediaan tenaga kerja

b) Standar satuan biaya/upah yang berlaku.

d. Penyusunan rancangan teknis

Sesuai norma yang berlaku rancangan dam pengendali (DPi) berisi :

1. Tata letak bangunan

a) Administrasi

b) Geografis

2. Kata Pengantar

3. Lembar pengesahan

4. Rísalah/data umum lokasi

5. Spesifikasi teknis

a) Fisik

b) Hidrologi

c) Sosek dan budaya

6. Rencana anggaran biaya (RAB).

Rencana anggaran biaya disusun secara rinci didasarkan pada volume pekerjaan dan satuan biaya

(bahan, upah) yang berlaku.

7. Tata waktu pelaksanaan.

Rancangan harus memuat tata waktu pelaksanaan baik kegiatan fisik maupun pemeliharaan.

Penyusunan rancangan sebaiknya dibuat pada T-1. Namun demikian pada kondisi tertentu penyusunan

rancangan dapat dibuat pada T-0 sebelum pelaksanaan pekerjaan.


8. Sosialisasi

Sebelum dilakukan pembuatan dam pengendali, agar dilakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada

kelompok tani yang akan melaksanakan kegiatan tersebut. Disamping itu pada saat pengukuran

dan penyusunan rancangan dam pengendali, kelompok tani tersebut dilibatkan sehingga ada rasa

memiliki dan ini akan meningkatkan kontinuitas atau kelestarian kegiatan tersebut khususnya pasca

proyek.

9. Gambar dan peta

Rancangan dam pengendali perlu dilampiri gambar dan peta yang meliputi

a) Gambar detail konstruksi dan spesifikasi teknis bangunan utama (badan bendung), saluran pelengkap

(saluran pelimpah, saluran pembagi) skala 1 : 50 s/d 1 : 100.

b) Peta situasi/administrasi, skala 1 : 50.000 atau 1 : 100.000.

c) Peta kontur site (lokasi) bangunan utama, pelengkap dan daerah tangkapan air serta daerah genangan

air, skala 1 : 1000 s/d 1 : 10.000.

10. Mekanisme Prosedur

Rancangan Dam Pengendali (DPi) disusun oleh Kepala Sub Dinas yang menangani perencanaan pada

Dinas Kabupaten/Kota, dan dikonsultasikan dengan Dinas Kimpraswil/PU. Sebagai penilai adalah

BPDAS dan disahkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota.

e. Hasil Kegiatan

Sebagai hasil kegiatan penyusunan rancangan berupa buku rancangan dam pengendali (DPi) yang dilengkapi

dengan lampiran data, gambar dan peta dan telah disahkan oleh instansi terkait yang berwenang.

Gambar skematis tentang bangunan pengendali tipe busur dan tipe kedap air dapat dilihat pada Gambar 14 dan

15 di bawah ini.
Gambar 1. Dam Pengendali (Tipe busur)

Gambar 2. Dam Pengendali (tipe kedap air)

2. Pembuatan Dam Pengendali (DPi)

a. Persiapan

1. Penyiapan Kelembagaan

a) Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi rencana pelaksanaan pembuatan

dam pengendali.

b) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.

2. Pengadaan sarana dan prasarana

Pengadaan peralatan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan habis pakai. Sedang pembuatan

sarana dan prasarana dibuat dengan tujuan untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan di

lapangan yang antara lain :


a) Pembuatan jalan masuk

b) Pembuatan gubuk kerja/gubuk material

3. Penataan areal kerja

a) Pembersihan lapangan

b) Pengukuran kembali

c) Pemasangan patok batas

d) Pembuatan badan bendung dan saluran pelimpah/spill way di tanah milik masyarakat, tidak ada ganti

rugi.

b. Pembuatan

1. Pembuatan profil bendungan

2. Pengupasan, penggalian dan pondasi bangunan

3. Pembuatan saluran pengelak

4. Pembuatan/pemadatan tubuh bendung

5. Pembuatan saluran pengambilan/lokal dan pintu air

6. Pembuatan bangunan pelimpah (spill way)

7. Pembuatan bangunan lain untuk sarana pengelolaan: jalan inspeksi

8. Pemasangan gebalan rumput

c. Pemeliharaan

Pemeliharaan bangunan Dam Pengendali (DPi) meliputi :

1. Pemeliharaan badan bendung dan saluran pelimpah serta saluran pembagi

2. Perbaikan gebalan rumput

d. Pelaksanaan Pembuatan Dam Pengendali

Berdasar sistem pembayarannya, pembuatan bangunan Dam Pengendali dapat dilaksanakan melalui dua

alternatif, yaitu:

1. Sistem Swakelola, melalui SPKS dengan kelompok tani, dalam rangka pemberdayaan sumberdaya dan

meningkatkan partisipasi masyarakat lokal secara langsung serta menumbuhkan rasa memilikinya dan

kepedulian memelihara apabila konstruksi telah selesai.

2. Sistem pemborongan oleh Pihak III, melalui lelang dengan mengutamakan potensi lokal yang ada.
e. Organisasi pelaksana

Sebagai pelaksana dalam rancangan pembuatan Dam Pengendali adalah kelompok masyarakat dan/atau pihak

ketiga didampingi Petugas Lapangan Gerhan dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota yang diserahi

tugas dan tanggung jawab di bidang Kehutanan.

f. Jadwal Kegiatan

Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang tertuang dalam rancangan.

g. Hasil Kegiatan

Hasil kegiatan adalah berupa bangunan Dam Pengendali (DPi) yang dibuat sesuai dengan rancangan. Hasil

kegiatan diserahkan kepada Dinas Kehutanan Kab/Kota yang selanjutnya diserahkan kepada Kepala Desa

oleh Bupati untuk pemanfaatan dan pemeliharaannya.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 22/Menhut-V/2007 TENTANG …

File Format: PDF/Adobe Acrobat – View as HTML

Kehutanan tentang Pedoman Teknis dan Petunjuk. Pelaksanaan Kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi. Hutan

dan Lahan Tahun 2007. Mengingat ..

Sumber: PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 22/Menhut-V/2007 tentang PEDOMAN

TEKNIS. GERAKAN NASIONAL REHABILITASI. HUTAN DAN LAHAN. (GN-RHL/Gerhan).

DEPARTEMEN KEHUTANAN. 2007 …www.dephut.go.id/files/L1_P22_07.pdf

Tanggul Penghambat

Tanggul penghambat atau cek dam adalah bendungan kecil dengan konstruksi sederhana (urugan tanah atau

batu), dibuat pada alur jurang atau sungai kecil. Tanggul penghambat berfungsi untuk mengendalikan sedimen

dan aliran permukaan yang berasal dari daerah tangkapan di sebelah atasnya.
Tanggul penghambat dibuat dengan luas daerah tangkapan air dari 100 – 250 ha, dan dapat lebih luas untuk

wilayah-wilayah tertentu yang mempunyai curah hujan yang rendah. Tinggi dan panjang bendungan maksimal

adalah 10 meter tergantung pada kondisi geologi dan topografi lokasi yang bersangkutan. Pembuatan tanggul

penghambat biasanya dilakukan pada musim kemarau.

Keuntungan

 Menghindari pendangkalan waduk / sungai yang ada di hilirnya.

 Mengendalikan aliran permukaan di daerah hilir

 Menyediakan air untuk kebutuhan air minum, air rumah tangga, pengairan daerah di sebelah bawahnya

(terutama pada musim kemarau), ternak dan sebagainya.

 Meningkatkan permukaan air tanah daerah sekitar tanggul penghambat

 Pengembangan perikanan di daerah genangan tanggul penghambat

 Pebaikan iklim mikro setempat

 Untuk rekreasi

Kelemahan

 Perlu pemeliharaan termasuk pengerukan sedimentasi

 Perlu tambahan tenaga kerja

 Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi

Faktor biofisik

 Ketersediaan bahan-bahan untuk membangun tanggul penghambat

Faktor sosial ekonomi

 Pembuatannya perlu gotong royong atau dibiayai pemerintah

 Perlu insentif bagi pengelolaan tanggul penghambat

Pakar IPB Usul Pembangunan Cek Dam di Hulu

Jakarta, CyberNews. Pakar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Konservasi Tanah dan Air Institut Pertanian Bogor

(IPB), Prof. Naik Sinukaban mengusulkan pembangunan cek dam di wilayah hulu (puncak Bogor) agar Jakarta

tidak terkena banjir besar lagi.


Menurutnya, cek dam merupakan salah satu teknik konservasi tanah dan air yang sederhana, namun berguna

untuk menampung air hujan yang turun. Dengan demikian dapat menurunkan koefisien aliran permukaan

sungai yang selama ini menjadi penyebab banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya.

“Di setiap sungai di daerah hulu hendaknya dibangun cek dam. Cukup dengan ukuran kecil, misalnya dengan

daya tampung sekitar 100 atau 200 meter kubik. Selain dapat mencegah banjir, cek dam juga dapat memberikan

manfaat untuk irigasi dan sebagainya,” kata Prof Naik dalam siaran pers IPB, Jumat (9/2).

Tingginya aliran permukaan, disebutkan Prof. Naik, juga mengakibatkan hilangnya jumlah air sebanyak 1,5

miliar liter kubik di setiap musim hujan. Padahal, dengan jumlah tersebut, dapat memenuhi kebutuhan air bagi

11 juta warga Jakarta dan dapat mengairi sekitar 20 ribu hektar area persawahan.

Lebih lanjut Prof Naik menjelaskan, masalah banjir Jakarta hanya bisa diselesaikan jika pemerintah pusat

melakukan intervensi, yakni dengan membuat badan khusus untuk menanganinya. Sebab DAS Jabodetabek

melibatkan lebih dari satu pemerintah provinsi dan menyangkut departemen terkait, seperti Departemen

Pertanian dan Departemen Kehutanan.

Menyinggung proyek Banjir Kanal Timur yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, Prof Naik mengatakan, hal

tersebut perlu dilakukan, namun tidak cukup efektif. Karenanya ia mengusulkan, sebagian pendanaan proyek

tersebut, hendaknya bisa diperuntukkan bagi pembuatan cek dam di daerah hulu.( mh habieb shaleh/Cn08 )

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0702/09/nas14.htm, 9 Pebruari 2007

Bupati Wonogiri Ajak Bupati Wilayah Hilir Bantu Bangun Cekdam

Reporter : Widjajadi
WONOGIRI–MI: Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi mengajak sejumlah bupati di wilayah hilir Bengawan

Solo agar bersedia membantu membangunkan cekdam atau bendungan di bagian hulu, sebagai upaya mencegah

bencana banjir berskala besar seperti yang terjadi pada 26 Desember 2007 lalu tidak terulang lagi.

“Kalau saja pemerintah pusat bersedia menyetujui usulan pembangunan 22 cekdam di tiga aliran sungai

wilayah hulu yang pernah diajukan Pemkab Wonogiri sejak 2003 silam, saya yakin banjir akhir Desember lalu

tidak perlu terjadi. Tapi sudahlah, saya kini mencoba membujuk para bupati yang ada di wilayah hilir untuk

kepentingan pembangunan waduk di bagian hulu. Dan syukurlah, Bupati Karanganyar dan Sragen langsung

menyatakan kesediaan,” ungkap Begug kepada Media Indonesia, Kamis (7/2).

Selain dua bupati tersebut, sejumlah pengusaha di Solo ternyata juga menyatakan kesediannya untuk secara

kongsi membangunkan cekdam di bagian hulu. Mereka yang berimpati untuk membangunkan cekdam, karena

mengaku sedih melihat banjir luapan Bengawan Solo pada 26 – 29 Desember itu, telah menenggelamkan

puluhan ribu rumah ,menghancurkan tanaman padi serta merusakkan berbagai infrastruktur yang ada di wilayah

hilir mulai dari Sukoharjo, Jateng hingga Tuban, Jatim, hingga kerugian mencapai Rp 2 triliun lebih.

Bupati Wonogiri menambahkan,dengan adanya cekdam-cekdam di bagi an hulu, nantinya sedimentasi yang

masuk ke Waduk Gajah Mungkur jelas lebih bisa diminimalisasi. Selain itu cekdam bisa menjadi pengatur debit

air yang masuk ke waduk terbesar di Asia Tenggara itu, jika sewaktu-waktu curah hujan di bagian hulu sangat

tinggi sebagaimana yang terjadi pada akhir Desember tahun silam.

“Jadi ketika di bagian hulu hujan deras, dan waduk tidak lagi mampu menampung air maka pintu cekdam bisa

ditutup dahulu, sehingga hilir tidak lagi banjir seperti akhir Desember lalu. Yang jelas terkait bantuan

pembangunan cekdam, Pemkab Wonogiri hanya fasilitator. Pelaksanaan terserah mereka yang mau bantu,”

imbuhnya.

Sedangkan Bupati Karanganyar Rina Iriani ketika dikonfirmasi menyatakan, kesediaan untuk membangunkan

cekdam di bagian hulu Bengawan Solo ini, dilatarbelangi oleh kepentingan rakyatnya agar tidak terganggu lagi

oleh banjir, yang bisa menganggu pertanian teknis serta pemukimannya. “Sebab sebagian besar pertanian teknis

di Kabupaten Karanganyar selama ini sangat menggantungkan irigasi dari Waduk Gajah Mungkur. Kalau air

terukur jelas dibutuhkan, tapi kalau banjir seperti Desember lalu, petani kan jelas jadi rugi besar. Karena itu

cekdam di bagian hulu Bengawan Solo memang perlu dibangun. Kita sedang memikirkan dananya,” ungkap

Rina Iriani.
Yang jelas, di tengah penantian realisasi pembangunan cekdam dari para bupati di bagian hilir serta kepedulian

pengusaha, Bupati Begug mengaku terus melakukan program penghijauan di bagian hulu dan juga pengerukan

lumpur enam sungai besar yang airnya bermuara di Waduk Gajah Mungkur. Setidaknya sejak sepekan terakhir

ini, 5000 warga Wonogiri telah dikerahkan untuk melakukan pengerukan lumpur di sungai Keduang sepanjang

10 km.

Saat ini aliran air dan lumpasan Sungai Keduang yang memiliki luas sekitar 35.993 hektare mengakibatkan

terjadinya sedimentasi setebal 4,1 milimeter.

Tingginya laju sedimentasi yang dialami Waduk Gajah Mungkur berasal dari lima sungai besar di bagian hulu.

Selain Keduang, maka sungai lainnya adalah Wiroko, Solo Hulu, Alang, dan Wuryantoro.

“Karena luas sungai berbeda, laju sedimentasi pun lain. Jadi, tidak semua wilayah harus ditangani dengan cara

yang sama. Saya saat ini juga menunggu pembicaraan dengan pihak Perum Jasa Tirta I untuk penanganan

sedimentasi waduk ini,” tandas dia sekali lagi. (WJ/OL-03)

Sumber: http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?Id=158398, 07 Februari 2008 11:45 WIB

Check Dam (CD)

Practice Description

Check Dam

A check dam is a small barrier or dam constructed across a swale, drainage ditch or other area of concentrated

flow for the purpose of reducing channel erosion. Channel erosion is reduced because check dams flatten the

gradient of the flow channel and slow the velocity of channel flow. Most check dams are constructed of rock,

but hay bales, logs and other materials may be acceptable. Contrary to popular opinion, most check dams trap

an insignificant volume of sediment.


This practice applies in small open channels and drainageways, including temporary and permanent swales. It is

not to be used in a live stream. Situations of use include areas in need of protection during establishment of

grass and areas that cannot receive a temporary or permanent non-erodible lining for an extended period of

time.

Typical Components Of The Practice

 Site Preparation

 Materials Installation

 Erosion and Sediment Control

 Construction Verification

Construction

Prior to start of construction a qualified design professional should determine the location, elevation and size of

the structure to optimize flattening of channel grade. Usually, check dam dimensions are taken from a standard

drawing. Check dams are typically constructed using materials included in a contract. Note: Construction with

rock is the only check dam material covered in this edition of the handbook.

Site Preparation

Determine location of any underground utilities.

Locate and mark the site for each check dam in strategic locations (to avoid utilities and optimize effectiveness

of each structure in flattening channel grade).

Remove debris and other unsuitable material which would interfere with proper placement of the check dam

materials.

Excavate a shallow keyway (12”-24” deep and at least 12” wide) across the channel and into each abutment for

each check dam.

Materials Installation

As specified, install a non-woven geotextile fabric in the keyway in sandy or silty soils. This may not be

required in clayey soils.

Construct the dam with a minimum 2:1 side slopes over the keyway and securely embed the dam into the

channel banks. Position rock to form a parabolic top, perpendicular to channel flow, with the center portion at

the elevation shown in the design so that the flow goes over the structure and not around the structure.
Erosion and Sediment Control

Install vegetation (temporary or permanent seeding) or mulching to stabilize other areas disturbed during the

construction activities.

Construction Verification

Check finished size, grade and shape for compliance with standard drawings and materials list (check for

compliance with specifications if included in contract specifications).

Common Problems

Consult with a qualified design professional if any of the following occur:

 Variations in topography on site indicate check dam will not function as intended. Change in plan will

be needed.

 Materials specified in the plan are not available.

Maintenance

Inspect the check dam for rock displacement and abutments for erosion around the ends of the dam after each

significant rainfall event. If the rock appears too small, add additional stone and use a larger size.

Inspect the channel after each significant rainfall event. If channel erosion exceeds expectations, consult with

the design professional and consider adding another check dam to reduce channel flow grade.

Sediment should be removed if it reaches a depth of ½ the original dam height. If the area behind the dam fills

with sediment there is a greater likelihood that water will flow around the end of the check dam and cause the

practice to fail.

Check dams may be removed when their useful life has been completed. The area where check dams are

removed should be seeded and mulched immediately unless a different treatment is prescribed.

Sumber: http://www.swcc.state.al.us

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/dam-penghambat-check-dam/
Usaha untuk memperlambat proses sedimentasi adalah dengan mengadakan pekerjaan teknik sipil untuk

mengendalikan gerakannya menuju bagian sungai di sebelah hilir. Pekerjaan teknik sipil tersebut berupa

pembangunan bendung penahan (check dam), kantong lahar, bendung pengatur (sabo dam), bendung

konsolidasi serta pekerjaan normalisasi alur sungai dan pengendalian erosi di lereng-lereng pegunungan.

Bendung Penahan (check dam)

Bendung-bendung penahan dibangun di sebelah hulu yang berfungsi memperlambat gerakan dan berangsur-

angsur mengurangi volume banjir lahar. Untuk menghadapi gaya-gaya yang terdapat pada banjir lahar maka

diperlukan bendung penahan yang cukup kuat. Selain itu untuk menampung benturan batu-batu besar, maka

mercu dan sayap bendung harus dibuat dari beton atau pasangan yang cukup tebal dan dianjurkan sama dengan

diameter maksimum batu-batu yang diperkirakan akan melintasi. Sangat sering runtuhnya bendung penahan

disebabkan adanya kelemahan pada sambungan konstruksinya, oleh sebab ini sambungan-sambungan harus

dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Walaupun terdapat sedikit perbedaan perilaku gerakan sedimen, tetapi metode pembuatan desain untuk

pengendaliannya hampir sama, kecuali perbedaan pada konstruksi sayap mercu serta ukuran pelimpah dan

bahan tubuh bendung. Untuk bendung pengendali gerakan sedimen secara fluvial yang bahannya berbutir halus,

mercunya dapat dibuat lebih tipis. Bahan untuk tubuh beton selain beton dan pasangan batu dapat juga dari

kayu, bronjong kawat, atau tumpukan batu. Sedangkan untuk bendung penahan gerakan massa biasanya

digunakan beton dan pasangan batu. Tipe bendung yang dipakai adalah tipe gravitasi yang lebih rendah dari 15

m.
Bendung Pengatur (sabo dam)

Di samping dapat pula menahan sebagian gerakan sedimen, fungsi utama bendung pengatur adalah untuk

mengatur jumlah sedimen yang bergerak secara fluvial dalam kepekatan yang tinggi, sehingga jumlah sedimen

yang meluap ke hilir tidak berlebihan. Dengan demikian besarnya sedimen yang masuk akan seimbang dengan

kemampuan daya angkut aliran air sungainya, sehingga sedimentasi pada daerah kipas pengendapan dapat

dihindarkan.

Pada sungai-sungai yang diperkirakan tidak akan terjadi banjir lahar, tetapi banyak menghanyutkan sedimen

dalam bentuk gerakan fluvial, maka bendung-bendung pengatur dibangun berderet-deret di sebelah hulu daerah

kipas pengendapan. Untuk sungai-sungai yang berpotensi banjir lahar, maka bendung-bendung ini dibangun di

antara lokasi sistem pengendalian lahar dan daerah kipas pengendapan.

Jika tanah pondasi terdiri dari batuan yang lunak, maka gerusan tersebut dapat dicegah dengan pembuatan

bendung anakan (sub dam). Kadang-kadang sebuah bendung memerlukan beberapa buah sub-dam, sehingga

dapat dicapai kelandaian yang stabil pada dasar alur sungai di hilirnya. Stabilitas dasar alur sungai tersebut

dapat diketahui dari ukuran butiran sedimen, debit sungai dan daya angkut sedimen, kemudian barulah jumlah

sub-dam dapat ditetapkan. Selanjutnya harus pula diketahui kedalaman gerusan di saat terjadi banjir besar dan

menetapkan jumlah sub-dam yang diperlukan, agar dapat dihindarkan terjadinya keruntuhan bendung-bendung

secara beruntun.

Penentuan tempat kedudukan bendung, biasanya didasarkan pada tujuan pembangunannya sebagaimana tertera

di bawah ini:

– Untuk tujuan pencegahan terjadinya sedimentasi yang mendadak dengan jurnlah yang sangat besar yang

dapat timbul akibat terjadinya tanah longsor, sedimen luruh, banjir lahar dan lain-lain maka tempat kedudukan

bendung haruslah diusahakan pada lokasi di sebelah hilir dari daerah sumber sedimen yang labil tersebut, yaitu

pada alur sungai yang dalam, agar dasar sungai naik dengan adanya bendung tersebut
– Untuk tujuan pencegahan terjadinya penurunan dasar sungai, tempat kedudukan bendung haruslah

sebelah hilir dari diusahakan penempatannya di ruas sungai tersebut. Apabila ruas sungai tersebut cukup

panjang, maka diperlukan beberapa buah bendung yang dibangun secara berurutan membentuk terap-terap

sedemikian, sehingga pondasi bendung yang lebih hulu dapat tertimbun oleh tumpukan sedimen yang tertahan

oleh bendung di hilirnya.

– Untuk tujuan memperoleh kapasitas tampung yang besar, maka tempat kedudukan bendung supaya

diusahakan pada lokasi di sebelah hilir ruas sungai yang lebar sehingga dapat terbentuk semacam kantong.

Kadang-kadang bendung ditempatkan pada sungai utama di sebelah hilir muara anak-anak sungai yang

biasanya berupa sungai arus deras (torrent) dapat berfungsi sebagai bendung untuk penahan sedimen baik dari

sungai utama maupun dari anak-anak sungainya.

Bendung Konsolidasi

Peningkatan agradasi dasar sungai di daerah kipas pengendapan dapat dikendalikan dan dengan demikian alur

sungai di daerah ini tidak mudah berpindah-pindah. Guna lebih memantapkan serta mencegah terjadinya

degradasi alur sungai di daerah kipas pengendapan ini, maka dibangun bendung-bendung konsolidasi

(consolidation dam). Jadi bendung konsolidasi tidak berfungsi untuk menahan atau menampung sedimen yang

berlebihan.

Apabila elevasi dasar sungai telah dimanfaatkan oleh adanya bendung-bendung konsolidasi, maka degradasi

dasar sungai yang diakibatkan oleh gerusan dapat dicegah. Dengan demikian dapat dicegah pula keruntuhan

bangunan perkuatan lereng yang ada pada bagian sungai tersebut. Selanjutnya bendung-bendung konsolidasi

dapat pula mengekang pergeseran alur sungai dan dapat mencegah terjadinya gosong pasir.

Tempat kedudukan bendung konsolidasi ditentukan berdasarkan tujuan pembuatannya dengan persyaratan

sebagai berikut:
– Untuk tujuan pencegahan degradasi dasar sungai, bendung-bendung konsolidasi ditempatkan pada ruas

sungai yang dasarnya selalu menurun. Jarak antara masing-masing bendung didasarkan pertimbangan

kemiringan sungai yang stabil.

– Apabila terdapat anak sungai, mesti dipertimbangkan penempatan bendung-bendung konsolidasi pada

lokasi yang terletak di sebelah hilir muara anak sungai tersebut.

– Untuk tujuan pencegahan gerusan pada lapisan tanah pondasi suatu bangunan sungai, bendung-bendung

konsolidasi ditempatkan di sebelah hilir bangunan tersebut.

– Untuk menghindarkan tergerus dan jebolnya tanggul pada sungai-sungai arus deras serta mencegah

keruntuhan lereng dan tanah longsor, bendung-bendung konsolidasi ditempatkan langsung pada kaki-kaki

tanggul, kaki lereng dan kaki tebing bukit yang akan diamankan.

– Apabila pembangunan sederetan bendung-bendung konsolidasi dikombinasikan dengan perkuatan

tebing, jarak antara masing-masing bendung yang berdekatan supaya diarnbil 1,5 – 2,0 kali lebar sungai

Kantong Lahar

Bahan-bahan endapan hasil letusan gunung berapi atau hasil pelapukan batuan lapisan atas permukaan tanah

yang oleh pengaruh air hujan bergerak turun dari lereng-lereng gunung berapi atau pegunungan memasuki

bagian hulu alur sungai arus deras. Oleh aliran air sungai arus deras ini bahan-bahan endapan ini bergerak turun

baik secara massa maupun secara fluvial dengan konsentrasi yang tinggi memasuki bagian sungai di sebelah

hilirnya.

Suplai sedimen yang berlebihan akan menimbulkan penyempitan penampang sungai dan kapasitas alirannya

akan mengecil. Di waktu banjir, maka aliran banjir yang melalui ruas-ruas yang sempit akan meluap dan

menyebabkan terjadinya banjir yang merugikan.


Salah satu usaha yang dilaksanakan dalam rangka mengurangi suplai sedimen ini adalah menampungnya baik

untuk selama mungkin atau untuk sementara pada ruangan-ruangan yang dibangun khusus yang disebut

kantong lahar. Dalam rangka pengendalian banjir lahar, kantong lahar ini merupakan salah satu komponen

sistem pengendalian banjir lahar. Di saat terjadinya banjir lahar, bahan-bahan yang berukuran besar diharapkan

dapat tertahan pada deretan bendung penahan, sedangkan kantong-kantong lahar diharapkan dapat berfungsi

menahan dan menampung bahan-bahan berbutir lebih halus (pasir dan kerikil), Dengan demikian suplai

sedimen ke bagian hilirnya akan dapat dikurangi, hingga pada tingkat yang seimbang dengan kemampuan daya

angkut aliran sungai sampai muaranya.

Selanjutnya pada daerah gunung berapi yang masih aktif, suplai sedimen akan berlangsung secara terus-

menerus tanpa berakhir. Dalam keadaan demikian deretan bendung-bendung penahan dan bendung-bendung

pengatur tidak akan mampu menampung suplai sedimen yang terus-menerus tanpa berakhir, maka kantong-

kantong lahar akan sangat berperanan guna menahan masuknya sedimen yang berlebihan ke dalam alur sungai,

khususnya ke dalam alur sungai-sungai di daerah kipas pengendapan. Guna meningkatkan fungsi kantong-

kantong lahar biasanya diusahakan supaya kantong senantiasa dalam keadaan kosong, yaitu menggali endapan

yang sudah masuk ke dalamnya. Hasil galiannya biasanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, yang

kualitasnya cukup baik , Pada gunung berapi yang masih aktif dengan periode letusan yang panjang, diperlukan

adanya kantong yang cukup besar, jika perlu dengan membebaskan tanah-tanah yang akan digunakan sebagai

kantong secara permanen. Pada saat aliran lahar terhenti dan sambil menunggu periode letusan selanjutnya,

kantong dapat dimanfaatkan untuk berbagai usaha pertanian.

https://fadlysutrisno.wordpress.com/2010/07/15/bangunan-pengendali-sedimen/