Anda di halaman 1dari 16

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Setiap makhluk hidup mempunyai siklus dalam hidupnya. Siklus sel

adalah kegiatan yang terjadi dari satu pembelahan sel kepembelahan berikutnya.

Siklus sel sendiri meliputi pertambahan massa, duplikasi bahn genetis yang

dikenal sebagai interfase dan pembelahan sel. Apabila sel sedang tidak dalam

proses membelah diri, kromosom-kromosom tidak tampak dengan bantuan

mikroskop cahaya. Pada banyak sel, termasuk bawang, satu atau lebih dari

kromosom itu mempunyai nukleolus. Hal ini dapat diamati dengan mikroskop

biasa. Keadaan yang amat lembut ini pada kromosom selama masa antara

pembelahan sel tidak seharusnya menggambarkannya. Mereka justru aktif dalam

sintesis RNA dan sejenak sebelum pembelahan sel berikutnya, juga sistesis DNA.

Sebenarnya kandungan DNA menjadi dua kali diantara pembelahan- pembelahan

sel (Sumadi dan Aditya, 2007).

Pembelahan sel adalah suatu proses dimana material seluler dibagi ke

dalam dua sel anak. Ada dua macam pembelahan sel, yaitu pembelahan secara

langsung ’amitosis’ dan pembelahan secara tidak langsung ’mitosis dan

meiosis’.Sel-sel mengalami pembelahan melalui serangkaian proses yang terjadi

berulang kali dari pertumbuhan ke pembelahan, yang dikenal sebagai siklus sel,

siklus sel terdiri atas lima fase utama : G1, S, G2, mitosis, dan sitokinesis

(Susanti et al., 2014).

Kromosom merupakan unit dasar kehidupan.Di dalamnya terdapat materi

genetik DNA dan RNA yang mengontrol semua aktifitas hidup, termasuk

metabolism dan penurunan sifat. DNA merupakan materi genetic utama pada
2

sebagian besar organisme, sedang RNA umumnya terbatas pada virus. Bentuk,

ukuran dan jumlah kromosom setiap spesies pada dasarnya selalu tetap, sehingga

sangat bernilai untuk tujuan taksonomi, mengetahui ke anekaragaman, hubungan

kekerabatan danevolusi, meskipun dalam ke adaan tertentu dapat pula

terjadivariasi. Berdasarkan bentuk, jumlah dan ukuran kromosom dapat di buat

peta standard yang disebut karyotin peatau karyo gram. Apabila pasangan

kromosom digambar tunggal, maka disebut ideogram

(SetyawandanSutikno, 2000).

Kromosom memiliki peranan yang sangat penting bagi keberlangsungan

suatu makhluk hidup, karena kromosom merupakan alat pengangkutan bagi gen –

gen yang akan dipindahkan dari suatu sel induk ke sel anakannya, dari generasi

yang satu ke generasi yang lainnya. Pengamatan terhadap perilaku kromosom

sama pentingnya dengan mempelajari struktur kromosom. Perilaku atau aktivitas

kromosom dapat terlihat dalam siklus sel, termasuk didalamnya adalah

pembelahan sel (mitosis atau meiosis). Analisis kromosom, baik mitosis maupun

meiosis merupakan langkah awal yang dapat dilaksanakan untuk mempelajari

kromosom (RitongadanWulansari, 2011).

Meiosis adalah salah satu cara sel untuk mengalami pembelahan. Ciri

pembelahan secara meiosis adalah: Terjadi di sel kelamin, Jumlah sel anaknya ,

Jumlah kromosen 1/2 induknya, Pembelahan terjadi 2 kali. Meiosis hanya terjadi

pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi

perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah kromosom

induk terhadap sel anak. Di samping itu, pada meiosis terjadi dua kali periode
3

pembelahan sel, yaitu: Pembelahan I (meiosis I), dan pembelahan II (meiosis II)

(Simawati, 2008).

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses

pembelahan miosis dan untuk mempelajari tahapan – tahapan meiosis tanaman

lily di bawah mikroskop. Pada puncuk bunga lily ( Lilium longiflorum Thunb ).

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu

syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium Sitogenetika Program

Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, dan

sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


4

TINJAUAN PUSTAKA

Pembelahan meiosis lebih kompleks dibandingkan pembelahan mitosis,

karena terjadi dua kali siklus pembelahan. Pada meiosis terjadi perpasangan

kromosom homolog dan segregasi kromosom secara bebas. Pembelahan pertama

dari meiosis disebut pembelahan reduksi. Meiosis pertama mengubah inti dari

suatu meiosit yang mengandung kromosom diploid menjadi inti haploid yang

mengandung kromosom n. Jumlah kromosom direduksi saat pasangan kromosom

homolog terpisah. Pembelahan kedua disebut equation devision atau meiosis

kedua. Miosis kedua mengubah dua hasil dari pembelahan meiosis pertama

menjadi 4 inti haploid (Suryo, 2007).

Kejadian peningkatan keragaman pada tanaman adalah saat proses meiosis

dan penyerbukan. Meiosis yang terjadi pada sel telur (megasporofit) maupun

calon serbuk sari yang biasanya terjadi saat bunga masih kuncup, merupakan

proses pemisahan kromosom dari 2n menjadi 1n. Saat meiosis, mungkin saja

terjadi pindah silang gen, delesi, insersi atau translokasi. Peningkatan keragaman

berikutnya terjadi saat penyerbukan dan pembuahan, dimana kromosom dari

serbuk sari terpilih bergabung melebur dengan kromososm dari ovul, sehingga

menjadi embrio dengan kandungan kromosom 2n. Kandungan kromosom pada

setiap butir serbuk sari dari bunga yang sama bisa saja berbeda secara genetik jika

terjadi proses pindah silang gen, delesi, insersi atau translokasi saat

meiosis (Rahayu et al., 2015).


5

Suatu meiosis sel mengalami dua pembelahan berurutan meiosis

mereduksi atau mengurangi jumlah kromosom menjadi setengahnya.Sel anakan

yang dihasilkan adalah 4 sel, bukan 2 sel seperti mitosis. Dua pembelahan meiosis

dilangsungkan oleh hanya satu proses duplikasi kromosom, sehingga hasilnya

keempat sel anakan hanya memiliki separuh jumlah kromosom induknya. Reduksi

jumlah kromosom terjadi selama meiosis I. Di saat terjadi reduksi dalam meiosis

dari dua kromosom dalam sel-sel diploid menjadi masingmasing unit tunggal,

maka individu memberikan satu jiplakan tunggal dari setiap satuan hereditas ke

sel-sel germ haploid yang dengannya ia memperanakan turunannya. Setiap fase

pada meiosis memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri-ciri itu berupa tingkah laku

kromosom yang hamper sama dengan pembelahan mitosis (Gindo, 2004).

Didalam pengamatan meiosis, metode yang digunakan dalam pengamatan

meiosis pada bunga lili adalah metode tanpa larutan former atau larutan fiksatif,

karena bunga lili yang digunakan masih segar, baru dipetik. Penggunaan bunga

lili karena mempunyai ukuran kromosom yang besar, sehingga akan

mempermudah dalam pengamatannya. Pemilihan umur mikrospora yang tepat

sangat penting, karena akan berpengaruh terhadap fase-fase yang dapat diamati

pada meiosis. Jika terlalu tua, maka proses meiosis sudah terlewat sehingga tidak

dapat diamati secara detail. Apabila terlalu muda, maka proses meiosis belum

terjadi (Ritonga dan Aida, 2010).

Waktu minimum yang dibutuhkan untuk jaringan dalam fiksatif ini adalah

24 jam dan maksimum 1 minggu. Konsentrasi formaldehid tidak terlalu

berpengaruh, dan berkisar dari 2,5-10%. Fiksasi dilakukan dengan cara

membenamkan potongan kecil jaringan ke dalam larutan fiksatif. Pengambilan


6

jaringan dilakukan dengan pisau yang tajam. Hal ini bertujuan untuk menghindari

kerusakan pada jaringan (Genesser, 1994).

Suatu jaringan dipotong tanpa diberi perlakuan, maka segera jaringan

tersebut mengaiami perubahan yaitu akar kering dan mengkerut. Apabila jaringan

dipertahankan dalam keadaan basah (dimasukkan larutan garam), tidak akan

mengalami perubahan dengan segera, tetapi akan dirusak oleh bakteri, sehingga

untuk mempertahankan elemenelemen sel atau jaringan tersebut perlu di beri

media yaitu fiksatif (Brata, 2013).

Berlangsungnya pembelahan sel secara langsung adalah proses

pembelahan sel tanpa melalui fase-fase atau tahap-tahap pembelahan sel.

Pembelahan secara langsung disebut juga pembelahan amitosis atau pembelahan

biner. Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan yang melalui

tahapan-tahapan tertentu. Setiap tahapan pembelahan sel ditandai dengan

penampakan kromosom yang berbeda- beda. Pembelahan sel secara tidak

langsung adalah pembelahan mitosis dan meiosis. Pertumbuhan dan

perkembangan serta reproduksi makhluk hidup tidak dapat lepas dari aktivitas

pembelahan sel. Menurut teori sel modern, semua sel berasal dari sel-sel yang

telah ada melalui proses pembelahan sel. Sekitar 10 – 14 sel yang menyusun

tubuh manusia berasal dari pembelahan sel zigot (satu sel) yang merupakan

peleburan 2 sel gamet. Sel-sel gamet ini berasal dari proses pembelahan sel-sel

parental tertentu (Enjel, 2014).

Meiosis hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan

nuftah. Pada meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi

pengurangan jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada
7

meiosis terjadi dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I(meiosis I)

dan pembelahan II (meiosis II). Meiosis I dan meiosis IIterjadi pada sel tumbuhan.

Demikian juga pada sel hewan terjadi meiosis I dan meiosis II.Baik pada

pembelahan meiosis I dan II, terjadi fase-fasepembelahan seperti pada mitosis.

Oleh karena itu dikenal adanya profase I, metafase I, anafase I , telofase I, profase

II, metafase II, anafase II, dan telofase II. Akibat adanya dua kali proses

pembelahan sel, maka pada meiosis, satu sel induk akan menghasilkan empat

sbaru, dengan masing-masing sel mengandung jumlah kromosom setengah dari

jumlah kromosom sel induk (Dwidaputri, 2011).


8

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Praktikum

Adapun praktikum dilaksanakan di Laboratorium Sitogenetika Program

Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada hari Selasa, 3 Oktober 2017 pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai, pada

ketinggian tempat ±25 mdpl.

Bahan dan Alat Praktikum

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah bunga lili

( Lilium longiflorum Thunb ).sebagai objek yang akan diamati, larutan HCl 1 N

untuk melunakkan sel-sel akar tanaman, aquadest untuk mencuci objek yang

diamati, larutan asam asetat untuk melunakkan akar tanaman, asetokarmin sebagai

pewarna kromosom, tissue untuk membersihkan larutan yang tumpah dan

membersihkan alat alat serta meja selesai praktikum, dan buku untuk mencatat

hasil pengamatan yang dilakukan,

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop untuk

melihat kromosom tanaman, pisau silet untuk memotong akar tanaman, pinset

untuk mengambil objek pada saat perendaman dalam larutan, bunsen untuk

mensterilkan preparat, pensil dengan karetnya sebagai alat bantu pemencetan

(squash), preparat dan object glass untuk meletakkan objek yang akan diamati,

Gelas penutup untuk meletakkan dan menutup objek yang akan diamati, korek

api untuk menyalakan bunsen, petridish sebagai tempat objek yang diamati, botol

kultur sebagai wadah untuk merendam potongan akar tanaman, jarum pentul
9

untuk mengambil objek, pipet tetes untuk meneteskan asetokarmin di preparat,

alat tulis untuk mencatat hasil praktikum dan kamera digunakan untuk

mendokumentasikan objek praktikum.

Prosedur Praktikum

Dengan Perendaman Larutan Fiksatif

- Dimasukkan kuncup bunga lili ke dalam larutan fiksatif dan di simpan di

tempat dengan suhu kamar apabila kurang dari 24 jam atau di simpan

dalam lemari es apabila lebih dari 24 jam

- Dikeluarkan sel induk megaspora dengan menggunakan jarum pentul

- Dibilas potongan bunga lili menggunakan aquades sebanyak 3 kali

- Diletakkan bagian tersebut di atas gelas objek dan teteskan 2 tetes

acetokarmin serta biarkan 15 menit agar warna bias terserap, kemudian

tutup dengan gelas penutup

- Dilewatkan preparat diatas Bunsen 2-3 kali

- Diketuk preparat dengan karet pinsil dan ditekan dengan ibu jari

- Diamati preparat di bawah mikroskop

- Digambar hasil yang diperoleh di lembar data.

Tanpa Perendaman Larutan Fiksatif


- Dimasukkan kuncup bunga lili ke dalam larutan non fiksatif yaitu larutan

etanol 70 % selama 15 menit

- Dikeluarkan sel induk megaspora dengan menggunakan jarum pentul

- Dibilas potongan bunga lili menggunakan aquades sebanyak 3 kali


10

- Diletakkan dibagian tersebut di atas gelas objek dan teteskan 2 tetes

acetokarmin

- Dibiarkan beberapa saat agar warna bias terserap, kemudian tutup dengan

gelas penutup

- Diletakkan preparat di atas api bunsen sebanyak 2-3 kali

- Diketuk – ketuk preparat dengan karet pensil dan ditekan dengan ibu jari

- Diamati preparat di bawah mikroskop dan digambar hasil yang diperoleh


11

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

No Gambar Asli Referensi

1. Larutan Fikastif

Pembelahan meiosis
pada tahap anafase

Penampang megasprora
Meiosis Fase anaphase
bunga lili
2. Kontrol

Pembelahan meiosis
pada tahap anafase

Meiosis Fase metaphase


Penampang megasprora
bunga lili

Sumber: Ritonga, A. dan Wulansari. 2011. Analisis Mitosis. IPB Press. Bogor.

Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan bahwa meiosis adalah

proses pembelahan sel yang terjadi pada sel-sel kelamin dari organisme yang

mengadakan reproduksi secara generatif atau seksual. Hal ini sesuai dengan

literatur Simawita (2008) yang menyatakan bahwa meiosis adalah salah satu cara

sel untuk mengalami pembelahan. Ciri pembelahan secara meiosis adalah: Terjadi
12

di sel kelamin, Jumlah sel anaknya , Jumlah kromosen 1/2 induknya, Pembelahan

terjadi 2 kali.

Pada praktikum analisis meiosis ini menggunakan bunga lili yang masih

kuncup sebagai objek praktikum. Hal ini dikarenakan oleh bunga lili yang

memiliki ukuran kromosom yang besar jumlah kromosom bunga lili Kromosom

lili berjumlah 2n=24, sementara pada tingkat haploid kromosom berjumlah 12.

. Hal ini sesuai dengan literatur Ritonga dan Aida (2010) yang menyatakan

bahwa penggunaan bunga lili karena mempunyai ukuran kromosom yang besar,

sehingga akan mempermudah dalam pengamatannya.

Pada praktikum meiosis digunakan bunga lili yang masih kuncup atau

belum mekar. Hal ini dikarenakan pemilihan umur mikrospora yang tepat sangat

penting, karena akan berpengaruh terhadap fase-fase yang dapat diamati pada

meiosis. Jika terlalu tua, maka proses meiosis sudah terlewat sehingga tidak dapat

diamati secara detail. Apabila terlalu muda, maka proses meiosis belum terjadi.

Hal ini sesuai dengan literatur Ritonga dan Aida (2010) yang menyatakan bahwa

pemilihan umur mikrospora yang tepat sangat penting, karena akan berpengaruh

terhadap fase-fase yang dapat diamati pada meiosis. Jika terlalu tua, maka proses

meiosis sudah terlewat sehingga tidak dapat diamati secara detail.

Praktikum analisis meiosis ini menggunakan 2 perlakuan yaitu dengan

menggunakan larutan fiksatif dan nonfiksatif. Larutan fiksatif digunakan karena

bunga lili yang digunakan masih segar, baru dipetik. Hal ini sesuai dengan

literatur Ritonga dan Aida (2010) yang menyatakan bahwa di dalam pengamatan

meiosis, metode yang digunakan dalam pengamatan meiosis pada bunga lili
13

adalah metode tanpa larutan former atau larutan fiksatif, karena bunga lili yang

digunakan masih segar, baru dipetik.

Pembelahan meiosis terdiri dari tahap fase- fase , yaitu meiosis I dan

meiosis II. Meiosis I dapat dibedakan lagi menjadi interfase I, profase I, metafase

I, anafase I, dan telofase I. Meiosis II juga dibedakan atas interfase II, profase II,

metafase II, anafase II, dan telofase II. Pembelahan meiosis ini merupakan proses

yang dinamis, tidak terputus – putus, dan tidak terdapat batas yang kelas antar

setiap fasenya. Hal ini sesuai dengan literatur (Dwidaputri, 2011) bahwa meiosis

hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada

meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan

jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi

dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis I) dan pembelahan

II (meiosis II). Meiosis I dan meiosis II terjadi pada sel tumbuhan

Berdasarkan pengamatan terhadap pembelahan meiosis pada bunga

Lilium sp, meiosis I dapat diamati fase-fasenya secara lengkap yaitu profase I,

metafase I, anafase I dan telofase I. Tetapi meiosis II yang secara teori mirip

dengan mitosis tidak dapat diamati fase-fasenya secara lengkap.hal ini sesuai

literatur Enjel, (2014). Berlangsungnya pembelahan sel secara langsung adalah

proses pembelahan sel tanpa melalui fase-fase atau tahap-tahap pembelahan sel.

Pembelahan secara langsung disebut juga pembelahan amitosis atau pembelahan

biner. Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan yang melalui

tahapan-tahapan tertentu. Setiap tahapan pembelahan sel ditandai dengan

penampakan kromosom yang berbeda- beda. Pembelahan sel secara tidak

langsung adalah pembelahan mitosis dan meiosis. Pertumbuhan dan


14

perkembangan serta reproduksi makhluk hidup tidak dapat lepas dari aktivitas

pembelahan sel. Menurut teori sel modern, semua sel berasal dari sel-sel yang

telah ada melalui proses pembelahan sel. Sekitar 10 – 14 sel yang menyusun

tubuh manusia berasal dari pembelahan sel zigot (satu sel) yang merupakan

peleburan 2 sel gamet. Sel-sel gamet ini berasal dari proses pembelahan sel-sel

parental tertentu .

Larutan asam asetat 45% digunakan sebagai larutan fiksasi, yaitu

larutan yang nantinya dapat masuk kedalam sel dan meluruhkan organel sel yang

ada pada sitoplasma sehingga pengamatan kromosom dapat dilakukan dengan

mudah. Saat maserasi digunakan larutan larutan asam asete dan larutan HCl 1 N

dengan perbandingan 3 : 1, larutan yang berfungsi untuk melunakkan jaringan ini

harus dikombinasikan pada suhu 600C selama 2-3 menit agar maserasi berjalan

dengan baik. Hal ini sesuai literatur Genesser,( 1994).yang menyatakan tentang

Waktu minimum yang dibutuhkan untuk jaringan dalam fiksatif ini adalah 24 jam

dan maksimum 1 minggu. Konsentrasi formaldehid tidak terlalu berpengaruh, dan

berkisar dari 2,5-10%. Fiksasi dilakukan dengan cara membenamkan potongan

kecil jaringan ke dalam larutan fiksatif. Pengambilan jaringan dilakukan dengan

pisau yang tajam. Hal ini bertujuan untuk menghindari kerusakan pada jaringan .
15

KESIMPULAN

1. Meiosis adalah proses pembelahan sel yang terjadi pada sel-sel kelamin

dari organisme yang mengadakan reproduksi secara generatif atau seksual.

2. Analisis meiosis menggunakan bunga lili sebaga objek praktikum karena

kromosom bunga lili besar-besar sehingga mudah diamati dimikroskop

Kromosom lili berjumlah 2n=24, sementara pada tingkat haploid

kromosom berjumlah 12

3. Larutan fiksasi, yaitu larutan yang nantinya dapat masuk kedalam sel dan

meluruhkan organel sel yang ada pada sitoplasma sehingga pengamatan

kromosom dapat dilakukan dengan mudah dan larutan HCl 1 N dengan

perbandingan 3 : 1, larutan yang berfungsi untuk melunakkan jaringan ini

harus dikombinasikan pada suhu 600C selama 2-3 menit agar maserasi

berjalan dengan baik.

4. Analisis meiosis yang dilakukan menggunakan bunga lili adalah bunga

yang masih kuncup dikarenakan jika terlalu tua, maka proses meiosis

sudah terlewat sehingga tidak dapat diamatisecara detail apabila terlalu

muda maka proses meiosis belum terjadi.

5. Analisis meiosis menggunakan 2 perlakuan untuk menganalisis kromosom

yaitu perlakuan larutan fiksatif dan nonfiksatif. Larutan fiksatif digunakan

karena bunga lili yang digunakan masih segar, dan baru dipetik

6. Kromosom bunga lili terlihat pada fase meiosis 1

7. Pembelahan meiosis terdiri dari tahap fase- fase , yaitu meiosis I dan

meiosis II. Pembelahan meiosis ini merupakan proses yang dinamis, tidak

terputus – putus, dan tidak terdapat batas yang kelas antar setiap fasenya.
16

DAFTAR PUSTAKA

Brata, T. 2013. Fiksatif, Zat Warna dan Pewarnaan. Pelatihan Mikroteknik


Tumbuhan. Purwokerto

Dwidaputri, G. A. 2011. Induksi Poliploidi Bunga Lili Dengan Pemberian


Oryzalin. FMIPA Udayana. Denpasar.

Enjel . 2014. Studi Sitotaksonomi pada Genus Zingiber. Biodiversitas Vol. 1


No.1.

Gindo, A. 2004. Kelainan Komosom Pada Abortus Spontan. FK USU. Medan.

Geneser, F. 1994. Buku Teks Histologi , Alih Bahasa; Arifin Guna Wijaya J.
Jakarta: Bina Rupa Aksara

Rahayu, Hary dan Vitri. 2015. Karakteristik Morfologi Dan Perkembangan Bunga
Aeschynanthus tricolor Hook. (Gesneriaceae) [Morphological
Characteristic And Flower Development Of
Aeschynanthus tricolor Hook. (Gesneriaceae)]. Berita Biologi Vol. 14
No. 3.

Ritonga, A. W.,A.dan Wulansari. 2011. Analisis Mitosis. InstitutPertanian Bogor,


Bogor.

Ritonga, A.W dan Aida. 2010. Analisis Meiosis. FP IPB. Bogor.

Simawati, K.. 2008. Identifikasi karyotipe terung belanda (Solanum betaceum


Cav.) kultivar Brastagi Sumatera Utara.
Jurnal Biologi Sumatera Utara. Vol 2(1): 7 – 11.

Sumadi dan Aditya ,M. 2007. Biologi Sel .Yogyakarta : Graha Ilmu.
Susanti, E, Juliyati H, Indrianingrum R, Dahniari W. 2014. Makalah Pembelahan
Sel. STIKES Harapan Bangsa.Purwokerto.

Setyawan, D.A dan Sutikno. 2000. Karyotipe Kromosom Pada Allium sativum L.
(Bawang Putih) dan Pisum sativum L. (Kacang Kapri). FMIPA.
Universitas Negeri Surakarta. Surakarta.
Suryo, H. 2007. Sitogenetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.