Anda di halaman 1dari 16

I.

KEHAMILAN EKTOPIK

A. INSIDEN DAN ETIOLOGI

Kehamilan ektopik adalah suatu ovum yang telah dibuahi tertanam di luar rongga uterus

(figure 21-7). Insieden kehamilan ektopik pada populasi umum adalah 2% (Lowdermilk, 2013).

Kehamilan ektopik sering di sebut kehamilan tuba karena sekitar 95% adalah terletak di tuba

fallopi. Meskipun lebih jarang terjadi, kehamilan ektopik juga dapat terjadi di rongga perut,

ovarium, atau pada serviks. Dari semua ektopik kehamilan tuba, kehamilan tuba, lebih dari

setengan (sekitar 55%) berada di ampula, atau bagian terbesar tuba (Lowdermilk, 2013).

Figur 21 – 5 Kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik bertanggung jawab atas 10-15% dari semua kehamilan yang

berhubungan dengan kematian ibu (Lowdermilk, 2013). Ini adalah penyebab kematian ibu paling

umum di trimester awal (Lowdermilk, 2013). Selain itu, kehamilan ektopik merupakan penyebab

utama infertilitas. Ibu akan sulit hamil setelah kehamilan etopik dan lebih resiko mengalami

kehamilan ektopik pada kehamilan berikutnya.

Insiden kehamilan ektopik dilaporkan meningkat. Kenaikan tersebut kemungkinan

karena tenik diagnostic telah di tingkatkan, seperti pengukuran beta hCG yang lebih sensitive

dan USG transvaginal, sehingga lebih banyak kasus yang teridentifikasi. Penyebab lain meliputi

peningkatan insiden kerusakan dan infeksi pada tuba yang menular secara seksual. Popularitas

1
metode kontrasepsi yang menjadi faktor predisposisi kehamlan ektopik (misalnya, intrauterine

device IUD), penggungaan metode sterilisasi tuba yang meningkatkan kemungkinan kehamilan

ektopik, meningkatnya teknik reproduksi dibantu, dan peningkatan operasi tuba (Lowdermilk,

2013).

Kehamilan ektopik dikelompokan sesuai dengan lokasi implantasi (misalnya, tuba,

ovarium, atau perut). Lokasi uterus adalah satu satunya organ yang mampu memgandung dan

mempertahankan kehamilan cukup bulan. Hanya sekitaar 5% kehamilan abdomen yang berhasil

mencapai viabilitas. Pembedahan untuk mengkat embrio atau janin biasanya dilakukan jika

kehamilan abdomen diidentifikasi karena tingginya resiko pendarahan setiap saat selama

kehamilan (Lowdermilk, 2013). resiko cacat janin pada kehamilan abdomen juga tinggi sebagai

akibat dari kelainan tekanan yang di sebabkan oleh oligohidramnion. Masalah yang paling umum

adalah wajah atau tengkorak asimetri, defomitas berbagai sendi, defisiensi tungkai, dan

anomaly system syaraf pusat (Figur 21 -8) (Lowdermilk, 2013).

B. MANIFESTASI KLINIS

Sebagian besar kasus kehamilan ektopik (tuba) didiagnosis sebelum rupture

berdasarkan tiga gejala- yang paling klasik 1. Nyeri abdomen, 2 menstruasi tertunda dan 3

pendarahan vagina yang abnormal (bercak) yg terjadi kira kira 6 sampai 8 minggu setelah

periode menstruasi normal terakhir (Lowdermilk, 2013). Nyeri abdomen terjadi pada hampir

setiap kasus. Nyeri yg dirasakan pada awalnya bersifst tumpul, pada satu sisi kuadran bawah.

Ketidaknyamanan dapat berkembang dari nyeri tumpul ke nyeri kolik saat posisi tuba

membentang, hingga menjadi nyeri tajam dan menusuk (Lowdermilk, 2013). Nyeri berkembang

terus menerus, dan berat yang umumnya terjadi pada seluruh abdomen bagian bawah

(Lowdermilk). Hingga 90% ibu dengan kehamilan ektopik melaporkan periode menstruasi

tertunda 1 sampai 2 minggu atau lebih cepat dari bisasanya, atau periode tidak teratur.

Perdarahan pervagina intermiten berwarna merah terang hingga gelap sedang atau coklat

2
terjadi pada sampi sekitar 80% perempuan. Jika kehamilan ektopik tidak didiaknose hingga

setelah terjadi rupture, nyeri bahu satu sisi mungkin dilaporkan selain yang umum terjadi, atau

nyeri akut mendalam pada abdomen kuadran bawah. Nyeri bahu yang dilaporkan merupakan

hasil dari iritasi diafrahma akibat darah dalam rongga peritoneal.

Figur 21 – 6 A. Koreksi cerclage pada dilatsi os serviks prematur. B. Tampilan melintangdari

os serviks yang ditutup.

Ibu mungkin menunjukan tanda tanda syok seperti pingsan dan pusing, terkait dengan

jumlah perdarahan dalam rongga perut dan tidak selalu berhubungan dengan perdarahan

vagina yang jelas. Ekimosis, kebiruan disekitar umbilicus (tanda Cullen), menunjukan

hamatoperitoneum serta merupakan tanda rupture intraabdominal pada kehamilan tidak

terdiaknosis.

C. PENATALAKSANAAN KEHAMILAN TUBA

Diaknosis diferensial dari kehamilan ektopik melibatkan pertimbangan sejumlah

masalah yang mengarah pada tanda dan gejala. Banyak dari ibu datang ke unit gawat darurat

karena mengalami pendarahan atau nyeri trimester awal. Keguguran, ruptor kista korpus

luteum, apendistis, salpingitis, kista ovarium, torsi ovarium dan infeksi saluran kemih adalah

semua diagnosis yang memungkin. Kunci untuk diteksi dini kehamilan ektopik adalah memiliki

3
indeks kecurigaan tinggi terhadap kondisi ini. Setiap ibu dengan nyeri abdomen, bercak atau

pendarahaan vagina dan tes kehamilan positif harus menjalani skrining untuk kehamilan ektipik.

Figur 21 – 7 Lokasi implatasi pada kehamilan ektopik. Lokasi yang sering adalah ampula,

ismus, intertisial, fimbria, ligamen, tuboovarium, ovarium, rongga abdomen, dan serviks

(oseksternal).

Alat skrining yang paling penting untuk kehamilan ektopik adalah kadar beta hCG seri

kuantitatif dan USG transvaginal. Skrining labolatorium meliputi pengukiran kadar serum

progesterone dan beta hCG, jika salah satu di antaranya memiliki nilai lebih rendah dari yang di

harapkan untuk kehamilan normal,m ibu diminta untuk kembali dalam waktu 48 jam untuk

pemeriksaan serial. USG transvaginal dilakukan untuk memastikan kehamilan intrauterine atau

tuba (Lowdermilk, 2013). Kantong intrauterine harus terlihat oleh USG abdomen pada 5-6

minggu menstruasi atau 28 hari setelah ovulasi. Kemampuan USG transvaginal dalam

mengidentifikasi kehamilan intrauterine paling cepat pada usia kehamilan 1 minggu. Ketiga

tingkat beta hCG lebih besar dari 1.000 miliunit internasional/ml kantong kehamilan terlihat satu

setengah pada saat itu (Lowdermilk, 2013).

Ibu juga harus di kaji terhadap pendarahan aktif yang berhubungan dengan rupture

tuba. Jika terdapat pendarahan internal, penkajian mungkin menemukan adanya vertigo, nyeri

bahu, hipotensi dan takikardia. Pemeriksaan vagina harus dilakukan hanya sekali dan dengan

sangat hati hati. Sekitar 20% dari ibu dengan kehamilan tuga memiliki massa teraba pada

4
pemeriksaan. Pecah massa dimungkinkan selama pemeriksaan bimanual: sehingga sentuhan

lembut sangat penting.

D. PERAWATAN SEGERA

Penatalaksanaan bedah. Penatalaksanaan bedah bergantung pada lokasi dan penyebab

kehamilan ektopik, tingkat keterlibatan jaringan dan keinginan ibu untuk hamil lagi. Salah satu

pilihan adalah pengakatan seluruh tuba (salpingektomi) jika tuba tidak rupture dan ibu ingin bisa

hamil lagi, salpingostomi dapat dilakukan sebagi gantinya. Pada prosedur ini, sayatan dibuat

diarea kehamilan pada tuba dan produk konsepsi diangkat secara hati hati dan pelan. Sayatan

tidak dijahit tapi dibiarkan menutup oleh factor sekunder, metode ini dapat meminimalkan

jaingan parut.

Jika pembedahan direncanakan, perawatan praoperasi dan pascaoperasi yang umum

dan sesuai untuk kehamilan ektopik diberikan. sebelum pembedahan, tanda tanda vital (denyut

nadi, pernapasan dan TD) yang dikaji setiap 15 menit atau sesuai kebutuhan, sesuai dengan

tingkat keparahan dari pendarahan dan kondisi ibu. Uji labolatorium praoperasi mencakup

pemeriksaan golongan darah dan factor Rh jumlah sel darah lengkap, dan kadar beta hCG serum

kuantitatif. USG digunakan untuk memastikan kehamilan diluar uterus. Donor darah mungkin

diperlukan. perawat memverifikasi Rh ibu dan status antibody serta mencari immunoglobulin

Rh (D) jika diperlukan.

Penatalaksaan medis. Penatalaksanaan medis mecakup pemberian metotreksat untuk

mengakhiri kehamilan tuba. Metotreksat adalah asam folat dan antagonis antimetabolite yang

menghancurklan sel sel membelah dengan cepat. Ibu dengan kehamilan ektopik yang

memenuhi syarat untuk terapi metotreksat adalah hermodinamik stabil. Massa tidak rupture

dan dengan USG ukuran diameter massa kurang dari 3.5 cm tidak ada aktivitas jantung Janis

pada pemeriksaan USG kadar beta hCG serum kurang dari IU/L dan jika ibu bersedia untuk

mematuhi pantauan pascatindakan (Lowdermilk, 2013) terapi metoreksat menhindari

5
Figur 21 – 8 Kehamilan ektopik abdomen

pembedahan serta merupakan cara yang aman, efektifdan hemat biaya pada banyak kasus

kehamilan tuba ibu menginformasikan tentang bagaimana obat bekarja. Efek samping yang

mungkin terjadi, siapa yang dihubungi jika ada kekahawatiran atau masalah berkembang, serta

pentingnya tindak lanjut perawatan.

II. MOLA HIDATIDOSA (KEHAMILAN MOLAR)

Mola hidatisoda (kehamilan molar) adalah pertumbuhan tofoblas plasenta jinak dimana

villi korionik berkembang menjadi edematous, kristik veskel transparan avaskuler yang

6
menggantung secara berkelompok seperti anggur. Mola hidatidosa adalah penyakit tofobalistik

gasentional. Penyakit tubafoblas sastasional (gestanational tropbalistik disease – GTD) adalah

spectrum kehamilan yang berhubungan dengan gangguan proliferative trofobalistik tanpa janin

yang hidup. Selain mola hidatidosa, GTD termasuk gestational trophoblastic neoplasia (GTN).

GTN mengacu pada jaringan trofoblas persisten yang diduga menjadi ganas (Lowdermilk, 2013).

Meskipun hamper selau fatal, kini GTN adalah ginekologi karena diagnosis dan pengobatan dini

(Lowdermilk, 2013).

A. INSIDEN DAN ETIOLOGI

Mola hidatidosa pada 1 dari 1000 kehamilan di amerika serikan (Lowdermilk, 2013)

penyebabnya tidak diketahui meskipun mungkin terkait dengan cacat pada ovum atau definisi

gizi. Ibu pada peningkatan tesiko untuk pembentukan mola hidatiosa adalah mereka yang telah

menggunakan klomifen (camid) untuk stimulasi ovulasi dan mereka yang berada di remaja awal

atau lebih dari 40 tahun. Factor resiko lain termasuk riwayat keguguran dan gizi factor (misalnya,

definisi asupan koefisien karoten dan lemak hewani) (Lowdermilk, 2013).

B. JENIS

Lebih lanjut, mola hidatidosa dapat dikategorikan sebagai mola lengkap atau sebagian.

Mola lengkap dihasilkan dari pembuahan telor dimana inti telah hilang atau tidak aktif inti dari

sperma (23,X) menduplikatkan diri sendiri (menghasilkan jumlah diploid 46,XX) karena sel telur

tidak memiliki materi genetic atau materinya tidak aktif, mola menyerupai sekelompok anggur

putih (fvesikel hidrofobik (terisi cairan) tumbuh cepat, menyebabkan Rahim menjadi besar, tidak

sesai dengan usia kehamilan, biasanya mola lengkap tidak mengandung janin, plasenta, selaput

ketuban, atau cairan. Tidak ada plasenta untuk menerima darah ibu, shingga menjadi

pendarahanan kedalam rongga Rahim dan pen darahan vagina. Pada sekitar 20% ibu dengan

mola lengkap, kariokarsinoma atau GTN terjadi (Lowdermilk, 2013).

7
Pada mola sebagian, studi kromosom sering menunjukan kariotipe 69,XXY ; 69,XXX atau

69,XYY. Susunan ini terjadi akibat pembuahan dua sperma ke ovum yang tampaknya normal

Mola sebagian sering memiliki bagian embrio atau janin dan kantong ketuban / keainan kognital

biasanya muncul (Lowdermilk, 2013). Potensi untuk transformasi maligna adalah 5-10%

(Lowdermilk, 2013).

C. MANIFESTASI KLINIS

Pada tahap awal manifestasi klinis mola hidatidosa lengkap tidak dapat dibedakan dari

kehamilan normal. Kemudian pendarahan vaginaterjadi di m=hamper 95% kasus. Cairan yang

kluar dari vagina mungkin menjadi coklat gelap (menyerupai jus prune) atau merah terang, baik

sedikt atau banyak. ini dapat berlangsung hanya beberapa hari atau sebentar sebentar selama

berminggu minggu. Pada awal kehamilan biasanya utuerus pada kemhamilan molahidatiosa

adalah satu setengah lebih besar dari yang seharusnya. Persentase meningkat terjadi pada ibu

dengan kehamilan mola hidati=osa yang mengalami pembesarn uterus berlebih dari yang

seharusnya, smentara itu persentase ibu dengan kehamnilan mola hidatidosa yang memiliki

uterus yang lebih kecil dari yang seherusnya hanya 25.

Anemia karena kehilangan darah, mulal dan muntah yang belebihan (hipermesis

gravidum), serta kram perut yang disebakan oleh distensi uterus adalah temuan yang relative

sering, ibu juga bias mengeluarkan veskula dari rahim, yang sering adalah vili edematous

avascular. Pro – eklamsia terjadi pada sekitar 70% ibu dengan mola hidatidosa yang besar dan

tumbuh cepat serta terjadi lebih awal dari biasanya dalam kehamilan, jika pre – klamsia

didiangnos sebelum 24 minggu kehamilan , mola hidatidosa harus dicurigai dan diawasi.

Hipertirodisme merupakan kompilasi serus dari mola hidatidosa. Biasanya bengobatan mola

hidatidosa adalah dengan mengembalikan fungsi tirois normal. Mola sebagian menyebabkan

beberapa gejala ini dan mungkin salah untuk keguguran tidak lengkap atau tidak jelas

(Lowdermilk, 2013).

8
D. DIAGNOSIS

USG transvaginal dan kadar hCG serum digunakan untuk diagnosis. USG transvaginal

adalah alat yang paling akurat untuk mendiagnosis mola hidatidosa. Karakteristik massa

intrauterine pola difusi menyebar, sering disebut pola badai salju, terlihat ditempat, atau

bersama dengan, suatu embrio atau janin. Jaringan trofoblas mengeluarkan hormone hCG. Pada

kehamilan mola, kadar hCG terus menerus tinggi atau meningkat setelah usia khamilan 10-12

minggu, di mana pada kehamilan normal kadarnya sudah menurun (Lowdermilk, 2013).

E. PENATALAKSANAAN

Meskipun sebagian besar mola hilang secara spontan, kuret esap merupakan metode

yang aman, cepat dan efektif untuk mengevakuasi mola hidatidosa jika diperlukan (Lowdermilk,

2013). Induksi persalinan dengan agen oksitoksik atau prostaglandin tidak dianjurkan karena

peningkatan resiko embolisasi dari jaringan trofoblastik (Lowdermilk). Pemberian imuoglobulin

Rh0 (D) untuk ibu dengan Rh negative diperlukan untuk mencegahisomunisasi.

Perawat memberikan ibu dan keluarganya informasi tentang proses penyakit,

kebutuhan tindak lanjut jangka panjang dan konsekuensi uang mungkin penyanyakit. Perawat

membantu ibu dan keluarganya mengatasi keguguran serta mengakui bahwa kehamilan itu

tidak normal. Selain itu, ibu dan keluarganya didorong untuk mengekspresikan perasaan

mereka, serta disediakan informasi mengenai kelompok pendukung atau sumber daya konseling

yang di perlukan. Penjelasan tentang pentingnya menunda kehamilan berikutnya dan konseling

kontrasepsi disediakan untuk meyakinkan tentang konsistensi dan keandalan metode yang

dipilih.

F. TINDAK LANJUT PERAWATAN

Tindak lanjut penatalaksaaan mencakup pemeriksaan fisik dan pinggul (pelvis), serta

pengukuran kadar beta hCL dua mingguan sampai kadarnya menurun hingga normal dan tetap

9
normal selama 3 minggu. Pengukuran bulanan diambil selama 6 bulan dan kemudian setiap 2

bulan untuk total selama 1 tahun. Peningkatan titier dan pembesaran Rahim dapat menunjukan

koriokarsinoma (GTD ganas). Sekitar 15% sampai 28% ibu dan kehamilan mola hidatidosa

lengkap beresiko memerlukan penatalaksanaan lanjut dengan kemoterapi untuk penyakit

trofoblastik persistern (Lowdermilk, 2013) rujukan ke sumberdaya dukungan masyarakat

mungkin diperlukan. Sumber dari internet seperti “share: pregnancy and infant loss support,

inc,” di www.nationalshare.org dan “international society for the study of trophobalastic

disease” di www.isstd.org juga mungkin berguna.

III. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pertimbangan Keperawatan pada Ibu yang Menjalani Pengobatan Metotreksat untuk

Kehamilan ektopik.

PEMBERIAN

 Periksa tinggi dan berat badan ibu saat ini.

 Periksa untuk memastikan bahwa uji labolatorium dan diagnostik telah selesai, meliputi:

 Jumlah sel darah lengkap, golongan darah, dan status andtibodi –Rh

 Fungsi hati dan ginjal tes

 Kadar beta-hCG serum (seharusnya <5.000 IU / L)

 USG transvaginal untuk memastikan ukuran masa dan tidak adanya aktivitas janin

 Memberikan metotreksat 50 mg/m2 intramuskular (IM)

 Memberikan imunoglobulin Rh0(D) (50 mcg untuk 300 mcg IM sesuai instruksi dokter

jika ibu memiliki darah Rh-Negatif).

MENGAJARKAN PASIEN DAN KELUARGANYA

 Tinjau bagaimana metotreksat bekerja.

10
 Menginformasikan ibu dari kemungkinan efek samping, umumnya adalah nyeri gas,

stomatis, dan konjungtivitis; efek samping yang jarang terjadi antra lain pleuritis,

gastritis, dermatitis, alopesia, entritis, enzim hati meningkat, dan penekanan tulang

sumsum.

 Beritahu pasien untuk menghentikan suplemen asam folat.

 Berituahu pasien untuk menghindari makanan “pembentuk gas”.

 Beritahu pasien untuk menghindari paparan sinar matahari karena obat akan

membuatnya lebih fotosensitif.

 Beritahu pasien untuk tidak melakukan aktifitas berat.

 Beritahu pasien untuk menghindari meletakan apapun di vaginanya – tidak ada tampon,

douches, atau berhubungan seksual intravagina.

 Beritahu pengguna untuk segera melaporkan penyedia layanan kesehatan jika dia

memiliki nyeri abdomen berat yang mungkin terjadi tanda ruptur akan datang atau

aktual.

TINDAK LANJUT

 Informasikan ibu untuk kembali ke klinik atau ke petugas layanan kesehatan sesuai

instruksi dokter untuk pengukuran kadar beta hCG.

 Jika kadar beta hCG tidak turun seperti seharusnya, dosis metotreksat kedua mungkin

diperlukan.

 Nasehati ibu bahwa dia akan perlu untuk kembali ke klinik atau petugas layanan

kesehatan untuk pengukuran beta hCG mingguan sampai kadar < 15 IU/L. Kunjungan

lanjutan mingguan mungkin diperlukan untuk beberapa bulan sampai kadar beta hCG

diingnkan tercapai. Sumber : Gilbert, E. 2013. Manual of high risk pregnancy and

delivery. Edisi ke-4. St. Louis: Mobsy; Murray, H., Baakdah, H., bardell, T., & Tulandi, 2013

11
“Diagnosis and Treatment of Ectopic Pregnancy”. Canadian Medical Association Jurnal,

173 (8)905-902.

B. Pengkajian

1. Nyeri

2. Sulit tidur

3. Merasa panas

4. fisikologis

5. keadaan ekonomi

6. spiritual

C. Diagnosa keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas jaringan kulit sekunder akibat sectio

caesaria ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi

2. Ansietas yang berhubungan dengan kritisituasi, ancaman yang dirasakan dari

3. kesejahteraan maternal yang ditandai dengan pasien mengatakan sulit tidur

4. Gangguan pemenuhan keb. Cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan

5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembesaran buah kehamilan

extrauterin

6. Resiko shock hypovolemik berhubungan dengan perdarahan hebat

7. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurang pengetahuan Tentang

kesuburan yg mengancam

D. Rencana keperawatan (Intervensi)

1. Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas jaringan kulit sekunder akibat sectio

caesaria ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi

Tujuan: nyeri berkurang

Intervensi:

12
a) Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri, perhatikan isyarat verbal dan non verbal

setiap 6 jam

Rasional: menentukan tindak lanjut intervensi.

b) Pantau tekanan darah, nadi dan pernafasan tiap 6 jam

Rasional: nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah meningkat, nadi,

pernafasan meningkat

c) Kaji stress psikologis ibu dan respons emosional terhadap kejadian

Rasional: Ansietas sebagai respon terhadap situasi dapat memperberat

ketidaknyamanan karena sindrom ketegangan dan nyeri.

d) Terapkan tehnik distraksi (berbincang-bincang)

Rasional: mengalihkan perhatian dari rasa nyeri

e) Ajarkan tehnik relaksasi (nafas dalam) dan sarankan untuk mengulangi bila

merasa nyeri

Rasional: relaksasi mengurangi ketegangan otot-otot sehingga nmengurangi penekanan

dan nyeri.

f) Beri dan biarkan pasien memilih posisi yang nyaman

Rasional: mengurangi keteganagan area nyeri.

g) Kolaborasi dalam pemberian analgetika.

Rasional: analgetika akan mencapai pusat rasa nyeri dan menimbulkan penghilangan

nyeri.

E. Ansietas yang berhubungan dengan kritisituasi, ancaman yang dirasakan dari

kesejahteraan maternal yang ditandai dengan pasien mengatakan sulit tidur

13
Tujuan: ansietas berkurang, pasien dapat menggunakan sumber/system pendukung

dengan efektif.

Intervensi:

1) Kaji respons psikologi pada kejadian dan ketersediaan sitem pendukung.

Rasional: Makin ibu meraakan ancaman, makin besar tingkat ansietas.

2) Tetap bersama ibu, dan tetap bicara perlahan, tunjukan empati.

Rasional: membantu membatasi transmisi ansietas interpersonal dan

mendemonstrasakan perhatian terhadap ibu/pasangan.

3) Beri penguatan aspek positif pada dari ibu

Rasional: membantu membawa ancaman yang dirasakan/actual ke dalam perspektif.

4) Anjurkan ibu pengungkapkan atau mengekspresikan perasaan.

Rasional: membantu mengidentifikasikan perasaan dan memberikan kesempatan untuk

mengatasi perasaan ambivalen atau berduka. Ibu dapat merasakan ancaman emosional

pada harga dirinya karena perasaannya bahwa ia telah gagal, wanita yang lemah.

5) Dukung atau arahkan kembali mekanisme koping yang diekspresikan.

Rasional: Mendukung mekanisme koping dasar dan otomatis meningkatkan

kepercayaan diri serta penerimaan dan menurunkan ansietas.

6) Berikan masa privasi terhadap rangsangan lingkungan seperti jumlah orang

yang ada sesuai keinginan ibu.

Rasional: Memungkinkan kesempatan bagi ibu untuk memperoleh informasi, menyusun

sumber-sumber, dan mengatasi cemas dengan efektif.

F. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan

14
Intervensi:

1. Kaji perdarahan (juml, warna, gumpalan) Cek. Darah lengkap.

2. Anjurkan banyak minum

3. Anjurkan Bed rest

4. Kolaborasi dengan tim medis transfusi darah

G. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembesaran buah kehamilan

extrauterin

Intervensi:

1. Kaji tingkat nyeri klien Durasi, lokasi, frekw, jenis nyeri (akut, kronik, mendadak,

terus2)

2. Ciptakan Lingkungan Yang nyaman

3. Ajarkan tehnik relaxasi dan distraksi

4. Kompres dingin

5. Posisi yg nyaman

6. Kolab. Dg tim medis : analgetik

H. Resiko shock hypovolemik berhubungan dengan perdarahan hebat

Intervensi:

a. Monitor vital sign

b. Kaji perdarahan

c. Cek darah lengkap (hb).

d. Pasang infus

e. Check gol. Drh

f. Kolaborasi Dgn tim medis : transfusi darah

15
g. Observasi tanda shock

I. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang

kesuburan yang mengancam

Intervensi:

1. Kaji tingkat kecemasan

2. Kaji tingkat pengetahuan

2. Ajari pasien untuk lebih terbuka

3. Beri penjelasan ttg proses penyakit.

4. Anjurkan keluarga untuk memberi support system

16