Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

FISIKA MATEMATIKA I
METODE CRAMER

OLEH:
SILVIANI AGUSTINA E1Q 012 057
SYAMSUL HAKIM E1Q 012 063

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
TAHUN 2015
A. PENGERTIAN ATURAN CRAMER
Aturan cramer adalah metode menyelesaikan persamaan matematika linier. Aturan
Cramer ini berkaitan dengan penyelesaian sebuah matriks bujur sangkar (matriks
yang baris dan kolomnya sama ). Aturan Cramer digunakan untuk mencari nilai variabel
dengan menggunakan determinan.
𝑎 𝑏 𝑐 𝐴
[𝑑 𝑒 𝑓 𝐵]
𝑔 ℎ 𝑖 𝐶
Matriks di atas dapat dipecah menjadi,
𝑎 𝑏 𝑐
[𝑑 𝑒 𝑓 ] = 𝑚𝑎𝑡𝑟𝑖𝑘𝑠 𝐴
𝑔 ℎ 𝑖
𝐴 𝑏 𝑐
[𝐵 𝑒 𝑓 ] = 𝑚𝑎𝑡𝑟𝑖𝑘𝑠 𝐴1
𝐶 ℎ 𝑖
𝑎 𝐴 𝑐
[𝑑 𝐵 𝑓 ] = 𝑚𝑎𝑡𝑟𝑖𝑘𝑠 𝐴2
𝑔 𝐶 𝑖
𝑎 𝑏 𝐴
[ 𝑑 𝑒 𝐵 ] = 𝑚𝑎𝑡𝑟𝑖𝑘𝑠 𝐴3
𝑔 ℎ 𝐶

Determinan matrik di atas,

𝑎 𝑏 𝑐
𝐴 = [𝑑 𝑒 𝑓 ]
𝑔 ℎ 𝑖

𝑎 𝑏 𝑐
𝑑 𝑓 𝑑 𝑒
det 𝐴 = [𝑑 𝑒 𝑓 ] = 𝑎 |𝑒 𝑓 | − 𝑏 | |+𝑐| |
ℎ 𝑖 𝑔 𝑖 𝑔 ℎ
𝑔 ℎ 𝑖

det 𝐴 = 𝑎(𝑒𝑖 − ℎ𝑓) − 𝑏(𝑑𝑖 − 𝑔𝑓) + 𝑐(𝑑ℎ − 𝑔𝑒)

𝐴 𝑏 𝑐
𝐴1 = [𝐵 𝑒 𝑓 ]
𝐶 ℎ 𝑖

𝐴 𝑏 𝑐
𝑒 𝑓 𝐵 𝑓 𝐵 𝑒
det 𝐴1 = [𝐵 𝑒 𝑓 ] = 𝐴 | |−𝑏| |+𝑐| |
ℎ 𝑖 𝐶 𝑖 𝐶 ℎ
𝐶 ℎ 𝑖

det 𝐴1 = 𝐴(𝑒𝑖 − ℎ𝑓) − 𝑏(𝐵𝑖 − 𝐶𝑓) + 𝑐(𝐵ℎ − 𝐶𝑒)


𝑎 𝐴 𝑐
𝐴2 = [ 𝑑 𝐵 𝑓 ]
𝑔 𝐶 𝑖

𝑎 𝐴 𝑐
𝑑 𝑓 𝑑 𝐵
det 𝐴2 = [ 𝑑 𝐵 𝑓 ] = 𝑎 |𝐵 𝑓
|−𝐴| |+𝑐| |
𝐶 𝑖 𝑔 𝑖 𝑔 𝐶
𝑔 𝐶 𝑖

det 𝐴2 = 𝑎(𝐵𝑖 − 𝐶𝑓) − 𝐴(𝑑𝑖 − 𝑔𝑓) + 𝑐(𝑑𝐶 − 𝑔𝐵)

𝑎 𝑏 𝐴
𝐴3 = [𝑑 𝑒 𝐵 ]
𝑔 ℎ 𝐶
𝑎 𝑏 𝐴
𝑑 𝐵 𝑑 𝑒
det 𝐴3 = [𝑑 𝑒 𝐵 ] = 𝑎 |𝑒 𝐵
|−𝑏| |+𝐴| |
ℎ 𝐶 𝑔 𝐶 𝑔 ℎ
𝑔 ℎ 𝐶
det 𝐴3 = 𝑎(𝑒𝐶 − ℎ𝐵) − 𝑏(𝑑𝐶 − 𝑔𝐵) + 𝐴(𝑑ℎ − 𝑔𝑒)

Solusinya (aturan cramer) adalah:

det 𝐴1
x=
det 𝐴

det 𝐴2
y=
det 𝐴

det 𝐴3
z=
det 𝐴

untuk matriks berordo n x n,

𝑎11 𝑎12 𝑎13 … 𝑎1𝑛


𝑎21 𝑎22 𝑎23 … 𝑎2𝑛
|𝑎31 𝑎32 𝑎33 … 𝑎3𝑛 |
| : … |
: …
𝑎𝑛1 𝑎𝑛2 𝑎𝑛3 … 𝑎𝑛𝑛

Teorema-teorema yang harus diperhatikan dalam penggunaan aturan Cramer :


1. jika A adalah sebuah matriks bujursangkar yang mengandung paling sedikit satu
baris bilangan nol, maka det(A) = 0
2. jika A adalah sebuah matriks segitiga yang berukuran n x n maka determinan A
adalah hasil perkalian semua unsur pada kolom utama
3. jika sebuah matriks bujursangkar mempunyai dua baris yang sebanding maka nilai
determinan matriks tersebut sama dengan nol.
B. PENYELESAIAN LINIER
Suatu sistem persamaan linear belum tentu punya solusi, keberadaan solusi ini sangat
tergantung dari sistem persamaan linear itu sendiri. Suatu sistem persamaan linear (SPL),
dalam keterkaitanya dengan solusi, mempunyai tiga kemungkinan, yaitu :
a. SPL mempunyai solusi tunggal
b. SPL mempunyai solusi tak hingga banyak
c. SPL tidak mempunyai solusi
Masalah solusi SPL ini dapat diilustrasikan dalam diagram kartesius. Misalkan SPL
terdiri dari dua persamaan dan dua peubah (x dan y). Setiap persamaan pada SPL dapat
direpresentasikan dalam bentuk suatu garis. Suatu SPL dikatakan mempunyai solusi tunggal
jika dua garis tersebut berpotongan di satu titik (lihat gambar 1.1.a). Sementara itu, SPL
tersebut dikatakan mempunyai solusi tak hingga jika dua garis tersebut berimpit (lihat
gambar 1.1.b), sedangkan SPL tersebut dikatakan tidak mempunyai solusi jika dua garis
tersebut tidak pernah berpotongan/sejajar (lihat gambar 1.1.c).

Gambar 1.1 a. SPL solusi tunggal. b. SPL solusi tak hingga. c. SPL tidak punya solusi

Jika suatu SPL memiliki solusi (tunggal atau tak hingga banyak) maka SPL tersebut
dinamakan SPL konsisten. Sementara itu, SPL yang tidak mempunyai solusi dinamakan
SPL yang tak konsisten. Persamaan linear homogen jika nilai persamaan sama dengan nol,
nonhomogen jika nilainya tidak sama dengan nol.
Persamaan linear atau disebut juga sebagai persamaan garis adalah persamaan yang
mengandung peubah dengan pangkat tertinggi 1. Suatu persamaan linear minimal
mengandung satu peubah. Persamaan linear dengan satu peubah bisa diselesaikan secara
langsung dengan menggunakan konsep aljabar. Sedangkan untuk persamaan linear dua
peubah atau lebih, untuk mendapatkan penyelesaiannya memerlukan minimal persamaan
sebanyak peubah pada masing-masing persamaan. Dua persamaan linear atau lebih yang
memiliki penyelesaian yang sama disebut sebagai sistem persamaan linear. Sistem
persamaan linear bisa diselesaikan dengan menggunakan metode grafik, substitusi {saja),
eliminasi (saja), campuran substitusi-eliminasi, dan dengan menggunakan matriks.
Perhatikan contoh sistem persamaan linear dua peubah berikut ini.

3x-y = 2 ... (1)

x + y = 6... (2)

Berikut ini adalah penyelesaian sistem persamaan linear pada contoh di atas dengan
menggunakan beberapa metode.

Penyelesaian sistem persamaan linear dengan menggunakan metode grafik


Untuk menyelesaikan sistem persamaan linear dengan menggunakan metode grafik
adalah dengan menggambar grafik kedua persamaan pada satu koordinat kartesius dan
penyelesaiannya merupakan titik potong kedua grafik. Agar diperoleh penyelesaian yang
akurat, perlu diperhatikan ketika menggambar koordinat kartesiusnya. Pastikan satuan pada
kedua sumbu sama dan konsisten. Perhatikan gambar grafik persamaan linear di bawah
berikut ini.
Perhatikan bahwa kedua garis tersebut berpotongan di satu titik, yaitu titik (2,4). Titik
ini merupakan penyelesaian dari sistem persamaan linear di atas. Dengan demikian, kita
peroleh penyelesaian sistem persamaan linear di atas adalah x = 2 dan y = 4.

Penyelesaian sistem persamaan linear dengan menggunakan metode substitusi (saja)


Kenapa menggunakan kata "saja"? Karena hanya metode substitusi yang digunakan
untuk menyelelesaikan sistem persamaan ini. Penyelesaian sistem persamaan linear dengan
menggunakan metode substitusi adalah dengan mengganti salah satu peubah pada suatu
persamaan dengan peubah yang diperoleh dari persamaan lainnya. Misalkan kita ubah
peubah y pada persamaan (1) dengan peubah y yang diperoleh dari persamaan (2). Berikut
ini adalah prosesnya.

𝑥 + 𝑦 = 6; 𝑦 = 6−𝑥

3𝑥 − 𝑦 = 2 ; 3𝑥 − (6 − 𝑥) = 2 ; 3𝑥 − 6 + 𝑥 = 2

4𝑥 − 6 = 2 ; 4𝑥 = 8 ; 𝑥 = 2

Untuk memperoleh nilai peubah y, kita substitusi kembali nilai x yang telah diperoleh
untuk persamaan (2)

𝒚 = 6 − 𝑥 ;𝑦 = 6 − 2 = 4

Penyelesaian ini sama dengan penyelesaian yang diperoleh dengan metode grafik.

Penyelesaian sistem persamaan linear menggunakan metode eliminasi


Penyelesaian sistem persamaan linear dengan menggunakan metode eliminasi adalah
menghilangkan salah satu peubah dengan operasi penjumlahan atau pengurangan dengan
terlebih dahulu membuat sama koefisien peubah yang mau dihilangkan tanpa
memperhatikan tanda positif atau negatif. Jika peubah yang mau dihilangkan bertanda sama,
eliminasi dilakukan dengan menggunakan operasi pengurangan. Sebaliknya, jika peubah
yang mau dihilangkan memiliki tanda yang berbeda, eliminasi dilakukan dengan
menggunakan operasi penjumlahan.

Perhatikan bahwa pada sistem persamaan linear di atas, peubah y sama-sama memiliki
koefisien 1 namun dengan tanda yang berbeda. Berarti kita bisa langsung mengeleminasi
peubah y tersebut dengan cara menjumlahkan kedua persamaan sebagai berikut.
3𝑥 − 𝒚 = 2

𝑥 + 𝑦 = 6+
4𝑥 + 0 =8

𝑥 = 2

Untuk mengeliminasi peubah x, perlu terlebih dahulu menyamakan koefisien peubah x


pada kedua persamaan. Caranya adalah dengan mencari KPK dari kedua koefisien x dan
jadikan koefisien peubah kedua persamaan tersebut sama dengan KPK-nya. Pada contoh di
atas, koefisien x pada persamaan (1) adalah 3 dan koefisien x pada persamaan (2) adalah 1.
KPK dari 3 dan 1 adalah 3. Berarti koefisien x pada kedua persamaan harus menjadi 3. Agar
koefisien x pada kedua persamaan tersebut menjadi sama, yaitu 3, kalikan persamaan (2)
dengan 3 sehingga persamaan (2) menjadi 3x + 3y = 18. Karena tanda koefisien x pada
kedua persamaan sama-sama positif maka untuk mengeliminasi koefisien x adalah dengan
operasi pengurangan sebagai berikut.

3𝑥 − 𝑦 = 2

3𝑥 + 3𝑦 = 18 _

0 − 4𝑦 = −16

𝑦 = 4

Lagi-lagi hasilnya sama dengan kedua metode sebelumnya, yaitu x = 2 dan y = 4.

Untuk metode campuran eliminasi - substitusi


Cara eliminasi dan substitusi adalah dengan mencari salah satu peubah terlebih dahulu
dengan salah satu metode, misalnya eliminasi. Setelah diperoleh nilai salah satu peubah,
lakukan metode substitusi nilai peubah yang telah diketahui tersebut ke salah satu
persamaan sehingga diperoleh nilai peubah lainnya.

Sistem Persamaan Linear Tiga Peubah (SPLTP)


Sistem persamaan linear tiga peubah atau sering disingkat sebagai SPLTP adalah sistem
persamaan linear yang dibangun oleh tiga persamaan linear yang masing-masing memiliki
maksimal 3 peubah. Permasalahan SPLTP bisa diselesaikan dengan menggunakan metode
campuran eliminasi - substitusi atau dengan menggunakan matriks (aturan cramer), Cukup
sulit untuk menyelesaikan SPLTP dengan menggunakan grafik, karena kita perlu
menggambar masing-masing grafik persamaan linear tiga peubah pada koordinat kartesius
yang memiliki 3 sumbu koordinat. Cara paling mudah, seperti dijelaskan sebelumnya adalah
dengan metode campuran eliminasi - substitusi. Jika kita hanya menggunakan satu metode,
eliminasi saja atau substitusi saja akan membutuhkan proses yang cukup panjang. Berikut
ini adalah proses penyelesaian SPLTP yang paling efektif. Cukup dengan lima langkah.

1. Eliminasi salah satu peubah dengan menggunakan dua persamaan.


2. Lakukan kembali eliminasi terhadap peubah yang sama dengan peubah yang
dieliminasi pada nomor 1, tapi untuk dua persamaan linear yang berbeda.
3. Eliminasi salah satu peubah dari sistem persamaan linear dua peubah yang diperoleh
dari hasil eliminasi pada nomor 1 dan nomor 2.
4. Substitusi peubah yang diperoleh dari hasil eliminasi nomor 3 untuk peubah pada salah
satu persamaan linear dua peubah.
5. Substitusi dua nilai peubah yang diperoleh dari nomor 3 dan nomor 4 pada salah satu
persamaan linear tiga peubah pada soal.

Perhatikan contoh berikut ini.

Tentukan nilai x, y, dan z pada sistem persamaan linear tiga peubah berikut ini.

𝑥 − 𝑦 + 𝑧 = −1 . . . (1)

2𝑥 + 𝑦 + 3𝑧 = 2 . . . (2)

3𝑥 + 4𝑦 − 𝑧 = 0 . . . (3)

Kita ikuti langkah-langkah yang telah dijelaskan sebelumnya untuk menyelesaikan sistem
persamaan linear tiga peubah di atas.

Langkah 1:

Eliminasi salah satu peubah, misalnya peubah z dengan menggunakan persamaan (1)
dan (2).

Sebelumnya, kita samakan dulu koefisien z (tanpa tanda) pada kedua persamaan, yaitu
dengan cara mengalikan persamaan (1) dengan bilangan 3.
3𝑥 − 3𝑦 + 3𝑧 = −3

2𝑥 + 𝑦 + 3𝑧 = 2 _

𝑥 − 4𝑦 = −5 . . . (4)

Langkah 2:

Eliminasi peubah z (peubah yang juga dieliminasi pada langkah 1) dengan


menggunakan persamaan (1) dan (3)

𝑥−𝑦 + 𝑧 = −1

3𝑥 + 4𝑦 − 𝑧 = 0 +

4𝑥 + 3𝑦 = −1 . . . (5)

Langkah 3:

Eliminasi sal ah satu peubah dari persamaan (4) dan (5), misalnya peubah x

Untuk bisa mengeliminasi peubah x dari persamaan (4) dan (5) kalikan persamaan (4)
dengan bilangan 4.

4𝑥 – 𝑙6𝑦 = −20

4𝑥 + 3𝑦 = −1 _

− 19𝑦 = −19

−19
𝑦= = 1 … (6)
−19

Langkah 4:

Substitusi nilai y = 1 yang diperoleh dari langkah 3 pada salah satu dari persamaan
(4) atau (5), misalnya pada persamaan (4)

𝑥 − 4𝑦 = −5

𝑥 − 4(1) = −5

𝑥 = −5 − 4 = −1 . . . (7)
Langkah 5:

Substitusi nilai y = 1 dan x = -1 pada salah satu dari persamaan (1), (2), atau (3),
misalnya pada persamaan (1)

𝑥 − 𝑦 + 𝑧 = −1 − 1 − 1 + 𝑧 = −1 𝑧 = 2 − 1 = 1

Jadi, penyelesaian dari sistem persamaan linear tiga peubah di atas adalah 𝑥 = −1, 𝑦 =
1, 𝑑𝑎𝑛 𝑧 = 1

C. MENYELESAIKAN PERSAMAAN LINIER DENGAN ATURAN CRAMER


Jika AX = B adalah sistem yang terdiri dari n persamaan linier dalam n bilangan tak
diketahui sehingga det(A) 0, maka sistem tersebut mempunyai pemecahan yang unik.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini.
1. Carilah solusi dari persamaan dibawah ini menggunakan aturan cramer.

x1 + 2x3 = 6

-3x1 + 4x2 + 6x3 = 30

-x1 – 2x2 + 3x3 = 8

Penyelesaian:
Bentuk SPL di atas menjadi persamaan matriks

1 0 2
𝐴 = [ −3 4 6 ]
−1 −2 3

Karena bilangan takdiketahui atau solusinya ada 3, berarti kita bentuk matriks A1, A2
dan A3. Dengan matriks A1 dibentuk dari matriks A dengan mengganti entri-entri kolom
pertama pada matriks A dengan nilai-nilai pada sebelah kanan sama dengan ( = ) di
persamaan diatas yaitu . Kemudian untuk membentuk matriks A2, kita mengganti entri-entri
kolom kedua matriks A dengan , begitu juga untuk membentuk matriks A3 yaitu mengganti
entri-entri pada kolom ketiga. Sehingga diperoleh A1, A2 dan A3 seperti dibawah ini.

6 0 2 1 6 2 1 0 6
A1 = [30 4 6 ], A2 = [ −3 30 6 ], A3 = .[−3 4 30 ]
8 −2 3 −1 8 3 −1 −2 8

Untuk menghitung determinan pada matriks A, A1, A2 dan A3 dapat menggunakan Kofaktor.
1 0 2
det 𝐴 = [ −3 4 6 ]
−1 −2 3

= a11C11 + a12C12 + a13C13

= a11(-1)1+1M11 + a12(-1)1+2M12 + a13(-1)1+3M13

= a11M11 – a12M12 + a13M13

4 6 −3 6 −3 4
= 1[ ] − 0[ ] + 2[ ]
−2 3 −1 3 −1 −2

= 1[4(3)-6(-2)] – 0[-3(3)-6(-1)] + 2[-3(-2)-4(-1)]

= 24 – 0 – 20

= 44

6 0 2
det A1 = [30 4 6 ]
8 −2 3

= a11C11 + a12C12 + a13C13

= a11(-1)1+1M11 + a12(-1)1+2M12 + a13(-1)1+3M13

= a11M11 – a12M12 + a13M13

4 6 30 6 30 4
= 6[ ] − 0[ ] + 2[ ]+ 2
−2 3 8 3 8 −2

= 6[4(3)-6(-2)] – 0[30(3)-6(8)] + 2[30(-2)-4(8)]

= 144 – 0 – 184

= -40

1 6 2
det A2 = [ −3 30 6 ]
−1 8 3

= a11C11 + a12C12 + a13C13

= a11(-1)1+1M11 + a12(-1)1+2M12 + a13(-1)1+3M13

= a11M11 – a12M12 + a13M13


30 6 −3 6 −3 30
= 1[ ] − 6[ ] + 2[ ]
8 3 −1 3 −1 8

= 1[30(3)-6(8)] – 6[-3(3)-6(-1)] + 2[-3(8)-30(-1)]

= 42 + 18 + 12

= 72

1 0 6
det A3 = .[−3 4 30 ]
−1 −2 8

= a11C11 + a12C12 + a13C13

= a11(-1)1+1M11 + a12(-1)1+2M12 + a13(-1)1+3M13

= a11M11 – a12M12 + a13M13

4 30 −3 30 −3 4
= 1[ ] − 0[ ] + 6[ ]
−2 8 −1 8 −1 −2

= 1[4(8)-30(-2)] – 0[-3(8)-30(-1)] + 6[-3(-2)-4(-1)]

= 92 – 0 + 60

= 152

Berdasarkan teorema diatas, maka diperoleh :

det 𝐴1 −40 −10


𝑥1 = = =
det 𝐴 44 11

det 𝐴2 72 18
𝑥1 = = =
det 𝐴 44 11

det 𝐴3 152 38
𝑥1 = = =
det 𝐴 44 11

−10 18 38
Sehingga solusi dari SPL di atas adalah 𝑥1 = , 𝑥2 = 11, dan 𝑥3 = 11 .
11

2. Tentukan solusi dari Sistem Persamaan Linear (SPL) di bawah ini

4𝑥1 + 3𝑥2 + 𝑥3 = 35
3𝑥1 + 11𝑥2 + 2𝑥3 = 85
2𝑥1 + 8𝑥2 + 5𝑥3 = 79
Penyelesaian:
Bentuk SPL di atas menjadi persamaan matriks
4 3 1 𝑥1 35
[3 11 2 ] [ 𝑥2 ] = [ 85 ]
2 8 5 𝑥3 79

Tentukan masing-masing nilai determinan dari matriks A, A1, A2, dan A3

4 3 1
det 𝐴 = [ 3 11 2 ]
2 8 5

= a11C11 + a12C12 + a13C13

= a11(-1)1+1M11 + a12(-1)1+2M12 + a13(-1)1+3M13

= a11M11 – a12M12 + a13M13

11 2 3 2 3 11
= 4[ ] − 3[ ] + 1[ ]
8 5 2 5 2 8

= 4[11(5) - 8(2)] – 3[3(5) - 2(2)] + 1[3(8) - 2(11)]

= 156 – 33 +2

= 125

35 3 1
det 𝐴1 = [ 85 11 2 ]
79 8 5

= a11C11 + a12C12 + a13C13

= a11(-1)1+1M11 + a12(-1)1+2M12 + a13(-1)1+3M13

= a11M11 – a12M12 + a13M13

11 2 85 2 85 11
= 35 [ ]− 3[ ] + 1[ ]
8 5 79 5 79 8

= 35[11(5) - 8(2)] – 3[85(5) - 79(2)] + 1[85(8) - 79(11)]

= 1365 – 801 +167

= 375
4 35 1
det 𝐴2 = [ 3 85 2 ]
2 79 5

= a11C11 + a12C12 + a13C13

= a11(-1)1+1M11 + a12(-1)1+2M12 + a13(-1)1+3M13

= a11M11 – a12M12 + a13M13

85 2 3 2 3 85
= 4[ ] − 35 [ ] + 1[ ]
79 5 2 5 2 79

= 4[85(5) - 79(2)] – 35[2(5) - 2(2)] + 1[3(79) - 2(85)]

= 1068 – 385 + 67

= 750

4 3 35
det 𝐴3 = [3 11 85 ]
2 8 79

= a11C11 + a12C12 + a13C13

= a11(-1)1+1M11 + a12(-1)1+2M12 + a13(-1)1+3M13

= a11M11 – a12M12 + a13M13

11 85 3 85 3 11
= 4[ ] −3[ ] + 35 [ ]
8 79 2 79 2 8

= 4[11(79) - 8(85)] – 3[2(79) - 2(85)] + 35[3(8) - 2(11)]

= 756 – 201 + 70

= 625

Berdasarkan teorema di atas, maka diperoleh :

det 𝐴1 375
𝑥1 = = =3
det 𝐴 125

det 𝐴2 750
𝑥1 = = =6
det 𝐴 125

det 𝐴3 625
𝑥1 = = =5
det 𝐴 125
Sehingga solusi dari SPL di atas adalah 𝑥1 = 3, 𝑥2 = 6, dan 𝑥3 = 5.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.budiutomo.com/2010/11/aturan-cramer.html. Diakses pada tanggal 16 Agustus
2015 pukul 06:07 WITA.
http://diarykuliahsiijo.blogspot.com/2013/07/aturan-cramer-determinan-matriks.html.
Diakses pada tanggal 17 Agustus 2015 pukul 14:00 WITA.
bobo.staff.mipa.uns.ac.id/files/2012/09/BAB-III.pdf. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2015
pukul 4:35 WITA.

https://aimprof08.wordpress.com/2012/11/17/mencari-solusi-persamaan-menggunakan-
aturan-cramer/. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2015 pukul 4:54 WITA.