Anda di halaman 1dari 50

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIKINSTABILITY

PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS INTRACRANIAL HAEMORAGHEA


DI UNIT RAWAT JALAN (URJ) GERIATRI RSUD dr. SOETOMO
SURABAYA

Oleh:
KELOMPOK B4b
1. Amanatul Firdaus., S.Kep. 13172312034086
2. Lusia Saun Selong, S.Kep. 13172312034087
3. Nindhita Dyah S., S.Kep. 13172312034088
4. Rifa Rindayani S., S.Kep. 13172312034089
5. Dwiko Nur G., S.Kep. 13172312034085

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITASAIRLANGGA
SURABAYA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia menarik untuk diamati
karena dari tahun ke tahun jumlahnya cenderung meningkat. Jumlah penduduk lansia di
Indonesia pada tahun 2010 sekitar 24 juta jiwa atau sekitar 9,77% dari seluruh jumlah
penduduk. Prediksi untuk tahun 2020 adalah sekitar 28,8 juta jiwa atau sekitar 11,34% dari
total jumlah penduduk. Usia harapan hidup pada tahun 2010 mencapai lebih dari 70 tahun
(Sutriyanto, 2012).
Manusia adalah makhluk hidup yang bersifat sebagai makhluk sosial yang eksploratif
dan potensial. Dengan menyadari sifat manusia tersebut, tentu manusia erat kaitannya dengan
kesehatan. Hal ini dikarenakan dengan memiliki tubuh yang sehat akan membantu melakukan
aktivitas sehari-harinya tanpa memiliki keluhan-keluhan yang membatasi gerak seseorang.
Hidup sehat berperan penting dalam kehidupan semua orang. Sehingga hal ini perlu
diperhatikan secara seksama terutama kesehatan bagi para lansia (lanjut usia).
Jumlah lanjut usia di dunia semakin bertambah sebagai hasil dari peningkatan usia
harapan hidup dan penurunan angka kematian (WHO, 2012; Karcharnubarn & Rees, 2009).
Usia harapan hidup di Indonesia adalah 69,4 tahun (Menkokesra, 2011). Rata-rata
pertumbuhan lansia berusia 80 tahun atau lebih di dunia pertahun adalah 3,8% dan persentase
tersebut 2 kali lebih tinggi daripada usia 60 tahun keatas. Sehingga pada tahun 2050
diperkirakan Indonesia menjadi Negara terbesar keenam dengan jumlah lansia berusia 80
tahun atau lebih setelah Cina, India, USA, Jepang, dan Brasil yaitu mencapai 10 juta (United
Nation Population Division, 2002). Indonesia merupakan Negara dengan era penduduk
berstruktur lansia karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun keatas semakin meningkat
dan lebih besar dari 7% (Kepmenkes RI No. 264, 2010 & Tira, 2012). Lanjut usia adalah
suatu kelompok populasi yang berisiko (at risk). Kelompok berisiko yang memiliki
karakteristik secara biologis dan usia perubahan pada kondisi sosial, ekonomi, gaya hidup dan
kejadian hidup (Stanhope & Lancaster, 2004). Batasan lansia (lanjut usia) menurut WHO
meliputi, usia pertengahan (middle age) yaitu usia antara 45 sampai 59 tahun, lanjut usia
(eldery) yaitu usia antara 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) yaitu usia antara 76 sampai
90 tahun, dan usia sangat tua (very old) yaitu usia diatas 90 tahun (Setiabudhi, 1999).
Pada lansia akan mengalami proses penuaan dimana menghilangnya secara perlahan-
lahan kemampuan pada jaringan untuk memperbaiki dirinya atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga akan tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang dideritanya (Constantinedes, 1994).
Semakin bertambahnya usia pada lansia, cenderung akan mengalami berbagai
gangguan fungsi dan gerak. Masalah-masalah pada lansia antara lain, mudah jatuh, mudah
lelah, gangguan mental akut, nyeri dada, sesak nafas, berdebar-debar, pembengkakan kaki
bagian bawah, nyeri punggung bawah atau pinggang, nyeri pada sendi pinggul, berat badan
menurun, gangguan penglihatan dan pendengaran, serta kesemutan (Bandiyah, 2009).
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia dapat mempengaruhi keseimbangan
tubuh. Kemampuan keseimbangan tentu dapat berkurang seiring penambahan usia karena
terjadi perubahan pada sistem saraf pusat atau neurologis, sistem sensori seperti sistem visual,
vestibular dan propiosepsi serta sistem muskuloskeletal (Miller, 2004).
Berkurangnya keseimbangan pada lansia akan mempengaruhi kondisi lain seperti
mengalami gangguan berjalan dan jatuh. Gangguan berjalan dan jatuh adalah salah satu dari
banyaknya masalah penting bagi lansia (Farabi, 2007). Menurut WHO, prevalensi jatuh
sekitar 28-35% dari penduduk usia 65 tahun keatas dan 32-42% pada usia 70 tahun keatas
(WHO, 2007). Berdasarkan survei masyarakat AS, Tenetti (1992) mendapatkan sekitar 30%
lansia yang berumur lebih dari 65 tahun jatuh setiap tahunnya, separuh dari angka tersebut
mengalami jatuh berulang (Tenetti, 1992).
Jatuh secara singkat dapat diartikan sebagai kejadian yang dapat menyebabkan
seseorang mendadak berada di posisi yang lebih rendah dari posisi semula dengan atau tanpa
kehilangan kesadaran atau luka dan tanpa unsur kesengajaan. Selain jatuh, lansia sering
mengalami gangguan berjalan (gait disorders). Gangguan berjalan sendiri merupakan
terjadinya penurunan pada kecepatan berjalan atau berkurangnya kualitas pada gerakan,
simetris tubuh dan kesatuan gerakan tubuh (Farabi, 2007).
Berdasarkan kondisi ketidakseimbangan yang dialami lansia terkait degenerasi dalam
tubuhnya, maka diperlukan asuhan keperawatan yang komprehensif guna menjaga kondisi
lansia agar dapat meningkatkan kestabilan postural dan tidak mengalami kejadian jatuh.

2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada Tn. KF dengan Prioritas masalah resiko
jatuh, maka penulis mampu:
1. Melakukan Pengkajian pada klien dengan masalah resiko jatuh.
2. Melakukan Perencanaan pada klien dengan gangguan resiko jatuh.
3. Melaksanakan Implementasi sesuai rencana yang telah ditetapkan pada klien dengan
gangguan resiko jatuh.
4. Merumuskan diagnosa Keperawatan berdasarkan analisa masalah resiko jatuh.
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan.
Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Memberikan informasi/evaluasi asuhan keperawatan pada Klien dengan resiko jatuh
sehingga dapat mengurangi resiko kejadian jatuh pada pasien.

2. Bagi Pendidikan
Agar dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang asuhan keperawatan
dengan resiko jatuh.

3. Bagi masyarakat
Memberikan informasi yang mudah tentang resiko jatuh pada klien \agar masyarakat
dapat melakukan upaya pencegahan dan perawatan terhadap masalah kesehatan.
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN INSTABILITY DAN RESIKO JATUH

1. Lansia
1.1 Definisi
Usia lanjut adalah suatu tahap akhir dari siklus kehidupan manusia dan merupakan
bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap
individu. Berdasarkan kriteria Badan Kesehatan Dunia (WHO) membagi batasan usia lansia
menjadi: kelompok usia 45 – 59 tahun sebagai usia pertengahan (middle elderly), kelompok
usia 60 – 74 tahun disebut lansia (elderly), kelompok usia 75 – 90 tahun disebut tua (old), dan
usia di atas 90 tahun disebut sangat tua (very old). Berdasarkan UU No. 13 Tahun 1998
menyatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas
(Rohana, 2011).
Penurunan anatomik dan fungsi organ lebih tepat jika tidak dikaitkan ke dalam umur
kronologik akan tetapi dengan umur biologiknya. Dengan kata lain, mungkin seseorang
dengan usia kronologik baru mencapai usia dewasa akhir, tetapi sudah menunjukkan berbagai
penurunan anatomik dan fungsional yang nyata akibat umur biologiknya yang sudah lanjut
sebagai akibat tidak baiknya faktor nutrisi, pemeliharaan kesehatan, dan kurangnya aktivitas.
Menua adalah proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya
sehingga tidak dapat bertahan terhadap paparan dan memperbaiki kerusakan yang diderita
(Darmojo, 2006).
1.2 Epidemologi
Gangguan keseimbangan postural merupakan hal yang sering terjadi pada lansia.
Apabila keseimbangan postural lansia tidak terkontrol, maka akan dapat meningkatkan
resiko jatuh (Siburian, 2006). Faktor risiko jatuh pada lansia meliputi faktor intrinsik
(host) dan faktor ekstrinsik (environmental). Faktor intrinsik terdiri dari: permasalahan
keseimbangan dan berjalan, kelemahan otot, riwayat jatuh sebelumnya, penggunaan alat
bantu, permasalahan penglihatan, radang sendi, depresi, permasalahan kognitif, serta usia
lebih dari 80 tahun. Faktor ekstrinsik meliputi: penggunaan alas kaki yang tidak tepat,
permukaan lantai yang licin atau kasar, pencahayaan yang kurang, serta banyaknya
hambatan yang terdapat pada lingkungan (Rubenstein, 2002).
Setiap tahunnya terdapat satu per tiga lansia di dunia yang berumur di atas 65 tahun
mengalami jatuh. Angka ini cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Jatuh dan osteoporosis secara bersamaan mengakibatkan terjadinya fraktur panggul pada
lansia. Sebanyak 38% lansia yang jatuh dan dirawat di rumah sakit mengalami fraktur
panggul dan 90% kejadian fraktur panggul dialami oleh lansia berumur 70 tahun ke atas
(British Columbia, 2004). Sekitar satu per empat kematian di AS disebabkan oleh jatuh
dan terjadi pada 13% populasi lansia yang berusia di atas 65 tahun. Sekitar 30-73% lansia
yang mengalami jatuh cenderung akan terjadi jatuh yang berulang. Jatuh yang berulang
menjadi alasan utama ketergantungan lansia pada lingkungan sekitar. Efek panjang yang
dirasakan lansia yaitu berkurangnya rasa percaya diri, depresi, hingga terisolasi secara
sosial (Josephson, 2006).

2. KESEIMBANGAN
2.1 Definisi
Keseimbangan merupakan kemampuan relatif untuk mengontrol pusat
gravitasi (center of gravity) atau pusat massa tubuh (center of mass) terhadap bidang
tumpu (base of support). Pusat gravitasi (center of gravity) adalah suatu titik dimana
massa dari suatu obyek terkonsentrasi berdasarkan tarikan gravitasinya. Pada manusia
normal, pusat gravitasi terletak di perut bagian bawah dan sedikit di depan sendi lutut.
Agar dapat menjaga keseimbangan, pusat gravitasi tersebut harus berpindah untuk
mengompensasi gangguan yang dapat menyebabkan orang kehilangan
keseimbangannya (Barnedh, 2006).
Keseimbangan melibatkan berbagai gerakan di setiap bagian tubuh dan
didukung oleh sistem muskuloskeletal serta bidang tumpu. Tujuan tubuh
mempertahankan keseimbangan, yaitu untuk menyangga tubuh melawan gaya
gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar
sejajar dan seimbang dengan bidang tumpu, serta menstabilkan bagian tubuh ketika
tubuh lain bergerak (Irfan, 2012). Kemampuan untuk menyeimbangkan massa tubuh
dengan bidang tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif
dan efesien (Yuliana, 2014).
2.2 Fisiologi Keseimbangan
Keseimbangan tercipta apabila terdapat integritas antara tiga sistem sensorik
(visual, vestibular, dan proprioseptif), sistem saraf pusat sebagai unit pemroses
(central processing), serta sistem neuromuskuloskeletal sebagai efektor melalui respon
motorik untuk merespon perubahan gravitasi, pergerakan linear atau angular, dan
perubahan lingkungan.
Sistem proprioseptif memiliki peranan dalam menjaga keseimbangan postural
dan memiliki hubungan dengan traktus spinoserebralis posterior dan anterior. Traktus
ini membawa informasi proprioseptif dan postural dari ekstremitas bawah. Sinyal-
sinyal yang dijalarkan dalam traktus spinoserebralis posterior terutama berasal dari
kumparan otot dan sebagian kecil berasal dari reseptor somatik di seluruh tubuh,
seperti organ tendon Golgi, reseptor taktil yang besar pada kulit, dan reseptor-reseptor
sendi. Semua sinyal ini memberitahu serebelum tentang bagaimana keadaan (1)
kontraksi otot, (2) derajat ketegangan tendon otot, (3) posisi dan kecepatan gerakan
bagian tubuh, dan (4) kekuatan kerja pada permukaan tubuh (Guyton, 2008). Traktus
ini kemudian naik di medulla spinalis ipsilateral masuk ke pedunkulus serebelum
inferior dan berakhir di serebelum. Traktus spinoserebralis anterior menerima
masukan somatosensorik dari batang tubuh dan ekstremitas atas, masuk ke radiks
dorsalis, traktus tersebut menyilang dan naik ke serebelum melalui pedunkulus
serebelum superior. Traktus ini membawa informasi proprioseptif dari batang tubuh
dan ekstremitas atas dan sebagian kecil ekstremitas bawah (Barnerdh, 2006).
Batang otak juga memiliki sistem dalam mengatur gerakan seluruh tubuh dan
keseimbangan. Sistem keseimbangan postural melibatkan nuklei retikular pontin dan
nuklei retikular medular. Kedua rangkaian ini berfungsi secara antagonistik satu sama
lain dimana nuklei retikular pontin akan merangsang otot-otot antigravitasi dan nuklei
retikular medular berfungsi untuk merelaksasi otot yang sama (Guyton, 2008).
Nuklei retikular pontin menjalarkan sinyal eksitasi menuju medula melalui
traktus retikulospinal pontin pada kolumna anterior medula spinalis. Serabut-serabut
dari jaras ini berakhir pada neuron-neuron motorik bagian medial dan anterior yang
merangsang otot-otot aksial tubuh yang berfungsi untuk melawan gravitasi, meliputi:
otot-otot kolumna vertebra dan otot-otot ekstensor dari anggota tubuh. Sebaliknya
nuklei retikular medular menjalarkan sinyal inhibitorik ke neuron-neuron motorik
anterior antigravitasi yang sama melalui traktus yang berbeda, yaitu traktus
retikulospinal medula yang terletak pada kolumna lateralis medula spinalis. Nuklei
retikular medular menerima input kolateral yang kuat dari traktus kortikospinal,
traktus rubrospinal, dan jaras motorik lainnya dan secara normal semua sistem ini
mengaktifkan sistem inhibitorik retikular medular untuk memberikan umpan balik
sinyal eksitasi dari sistem retikular pontin, sehingga dalam keadaan normal, otot-otot
tidak tegang secara abnormal (Guyton, 2008).
Seluruh nuklei vestibular, fungsinya berkaitan dengan nuklei retikular pontin
untuk mengatur otot-otot antigravitasi. Nuklei vestibular menjalarkan sinyal eksitasi
yang kuat ke otot-otot antigravitasi melalui traktus vestibulospinalis medialis dan
lateralis dalam kolumna anterior medulla spinalis. Peran spesifik dari nuklei
vestibular adalah untuk mengatur secara selektif sinyal-sinyal eksitatorik dari berbagai
otot antigravitasi untuk menjaga keseimbangan sebagai responnya terhadap sinyal dari
apparatus vestibular (Guyton, 2008). Traktus vestibulospinalis lateralis mendapatkan
informasi lewat macula (utrikulus dan sakulus) dan berperan dalam percepatan linear.
Pada waktu gerakan percepatan linear tersebut terjadi eksitasi neuron motorik
ekstensor dan inhibisi neuron motorik fleksor. Sedangkan traktus vestibulospinalis
medial menjalar ke medulla spinalis servikal dan torakal atas fasikulus longitudinalis
medial. Traktus vestibulospinalis medial terutama berfungsi mengatur refleks
vestibulospinal untuk stabilisasi kepala dan mata, traktus ini menghubungkan kanalis
semisirkularis ke neuron motorik servikalis yang menginervasi otot-otot leher
(Barnerdh, 2006).
Jika seseorang berdiri di atas permukaan yang tidak bergerak dengan lapang
visual yang stabil, maka input visual dan somatosensorik mendominasi kontrol
orientasi dan keseimbangan karena mereka merupakan sistem keseimbangan yang
lebih sensitif dari sistem vestibular terhadap perubahan posisi tubuh yang halus.
Sistem somatosensorik khususnya proprioseptif lebih sensitif terhadap perubahan
cepat dari orientasi tubuh, sedangkan sistem visual lebih sensitif terhadap perubahan
posisi yang lebih lambat. Sedangkan bila seseorang berdiri di atas permukaan yang
bergerak atau miring, otot-otot batang tubuh dan ekstremitas bawah berkontraksi
dengan cepat untuk mengembalikan pusat gravitasi tubuh ke posisi seimbang. Dalam
hal ini yang berperan adalah sistem proprioseptif dan vestibular. Sistem vestibular
terutama berperan dalam perubahan posisi yang lambat. Sedangkan perubahan posisi
yang cepat terutama dikompensasi oleh sistem proprioseptif (Barnerdh, 2006).
2.3 Komponen-Komponen Pengontrol Keseimbangan
1) Sistem Informasi Sensoris
a. Sistem Visual
Penglihatan merupakan sumber utama informasi tentang lingkungan
dan penglihatan berperan dalam mengidentifikasi dan mengatur jarak sesuai
dengan tempat kita berada. Penglihatan muncul ketika mata menerima sinar
yang berasal dari obyek sesuai jarak pandang (Irfan, 2012). Sistem visual juga
memberikan informasi mengenai posisi kepala, penyesuaian kepala untuk
mempertahankan penglihatan, dan mengatur arah serta kecepatan pergerakan
kepala karena ketika kepala bergerak, objek sekitar berpindah dengan arah
berlawanan (Colby, 2007). Masukan reseptor visual berperan penting terutama
pada landasan penunjang yang tidak stabil, misalnya pada saat bertumpu pada
tumit, goyangan anteroposterior pada tubuh akan berkurang pada saat mata
terbuka dibandingkan dengan mata tertutup (Sugiarto, 2005). Gambar anatomi
mata disajikan pada Gambar

(Sistem Visual)
Sistem visual memegang peranan penting dalam menjaga
keseimbangan. Sekitar dua puluh persen serabut saraf dari mata berinteraksi
dengan sistem vestibular. Gangguan visual yang dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan, di antaranya:
- aneisokonia adalah perbedaan kemampuan magnifikasi atau pembesaran
dan pembentukan bayangan di retina pada mata kanan dan kiri,
- anisometropia adalah keadaan di mana terdapat perbedaan refraksi yang
signifikan antara ke dua mata (perbedaan 10 Dioptri),
- diplopia (double vision) adalah keadaan melihat bayangan ganda akibat
sumbu ke dua mata tidak parallel,
- gangguan fungsi binocular vision, yaitu gangguan dalam mengordinasikan
ke dua mata sebagai satu kesatuan dalam aspek konvergensi dan
divergensi dengan aspek akomodasi,
- serta strabismus yaitu gangguan aligment mata kanan dan kiri (Sugiarto,
2005).
b. Sistem Vestibular
Aparatus vestibular merupakan organ sensoris untuk mendeteksi
sensasi keseimbangan. Alat ini terbungkus di dalam labirin tulang. Dalam
sistem ini terdapat tabung membran dan ruangan yang disebut labirin
membranosa dan merupakan bagian fungsional dari apparatus vestibular.
Labirin membranosa terdiri atas: koklea (duktus koklearis), tiga kanalis
seminiverus, dan ruangan besar yaitu, utrikulus dan sakulus. Koklea
merupakan organ sensorik utama pendengaran dan tidak berhubungan dengan
keseimbangan. Kanalis seminiverus bertanggung jawab terhadap
keseimbangan dinamis, yaitu keseimbangan saat tubuh sedang bergerak seperti
berjalan atau dalam keadaan tidak seimbang (tersandung atau tergelincir),
sedangkan fungsi dari utrikulus dan sakulus sebagai penjaga keseimbangan
statis tubuh, yaitu berperan dalam kontrol postur dan monitoring kepala
(Guyton, 2008). Pada permukaan dalam utrikulus dan sakulus terdapat daerah
sensorik kecil yang disebut sebagai makula. Makula pada utrikulus berperan
penting dalam menentukan orientasi kepala ketika kepala dalam posisi tegak,
sebaliknya makula pada sakulus memberikan sinyal orientasi kepala saat
seseorang sedang berbaring. Anatomi sistem vestibular dijabarkan pada
Gambar

Setiap makula ditutupi oleh lapisan gelatinosa yang dilekati oleh kristal
kalsium karbonat kecil yang disebut statokonia. Dalam makula, juga terdapat
beribu-ribu sel rambut dan akan menonjolkan silia ke dalam lapisan gelatinosa
tersebut. Setiap sel rambut mempunyai 50 sampai 70 silia kecil yang disebut
stereosilia, ditambah satu silium besar yang disebut kinosilium. Perlekatan
filamentosa yang tipis, menghubungkan ujung setiap stereosilium dengan
strereosilum selanjutnya yang lebih panjang dan pada akhirnya ke kinosilium.
Apabila stereosilia melekuk ke arah kinosilium pelekatan filamentosa akan
menarik stereosilia berikutnya ke arah luar badan sel dan mampu
menghantarkan ion positif mengalir ke dalam sel dari cairan endolimfatik di
sekelilingnya sehingga menimbulkan depolarisasi membran reseptor.
Sebaliknya, pelekukan stereosilia ke arah berlawanan (ke belakang kinosilium)
akan menurunkan tegangan pada pelekatan dan keadaan ini mampu menutup
saluran ion dan terjadilah hiperpolarisasi reseptor.
Pada setiap makula, setiap sel rambut diarahkan ke berbagai jurusan
sehingga beberapa dari sel rambut dapat terangsang ketika kepala menunduk
ke depan, dan yang lainnya terangsang ketika kepala menengadah ke belakang

atau ketika membelok ke salah satu sisi. Pola inilah yang nantinya
memberitahukan kepada otak posisi kepala dalam ruangan.

Setiap apparatus vestibularis terdapat tiga buah kanalis semisirkularis


dikenal sebagai kanalis semisirkularis anterior, posterior, dan lateral
(horizontal) yang tersusun tegak lurus satu sama lain, sehingga kanalis ini
terdapat dalam tiga bidang. Sel-sel rambut akan menjalarkan sinyal yang sesuai
ke nervus vestibularis untuk memberitahukan sistem saraf pusat mengenai
perubahan perputaran kepala dan kecepatan perubahan pada setiap tiga bidang
ruangan. Dengan kata lain, mekanisme kanalis semisirkularis dapat
meramalkan akan terjadinya ketidakseimbangan, sehingga menyebabkan pusat
keseimbangan mengadakan tindakan pencegahan antisipasi yang sesuai.
Dengan cara ini, orang tidak akan jatuh secara tak terduga sama sekali, karena
sebelum terjadinya ketidakseimbangan orang itu mulai mengadakan koreksi
keadaan tubuhnya (Guyton, 2008).
c. Sistem Somatosensorik
Somatosensorik adalah perasaan yang dirasakan pada bagian tubuh
yang berasal dari somatopleura yaitu kulit, otot, tulang, dan jaringan
pengikatnya. Somatosensorik tediri dari perasaan dangkal (perasa
eksteroseptif), perasa dalam (perasa proprioseptif), dan perasa luhur.
Somatosensorik eksteroseptif sederhana meliputi rasa nyeri, rasa suhu, dan rasa
raba. Somatosensorik proprioseptif terdiri dari rasa nyeri dalam, rasa getar,
rasa tekan, rasa gerak, dan rasa sikap. Somatosensorik luhur adalah perasaan
yang mempunyai sifat diskriminatif dan tiga dimensional, misalnya dengan
meraba, menekan, dan merasakan suhu suatu benda dengan mata tertutup,
dapat menentukan benda apa yang dipegang, dari bahan apa benda itu dibuat,
dan sebagainya. Susunan somatosensorik adalah perantara untuk menyadari
dan merasakan rangsang dari dunia luar. Dari susunan saraf perifer,
rangsangan diteruskan melalui neuron-neuron ke susunan saraf pusat yang
mengolah impuls, sehingga dapat menghasilkan suatu perasaan. Impuls
tersebut dinamakan impuls aferen. Ada dua jenis susunan saraf yang digunakan
untuk mengalirkan impuls aferen tersebut, yaitu susunan eksteroseptif dan
susunan proprioseptif (Sugiarto, 2005).
Susunan proprioseptif adalah susunan saraf yang menghantarkan
impuls rasa tekan, rasa gerak, rasa sikap, rasa getar, rasa nyeri dalam, dan rasa
diskriminatif. Sel neuron sistem proprioseptif mempunyai neurit dan dendrit
yang hampir sama panjangnya. Informasi proprioseptif disalurkan ke otak
melalui kolumna dorsalis medula spinalis. Sebagian besar masukan (input)
proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada pula yang menuju ke korteks
serebri melalui lemniskus medialis dan thalamus (Willis Jr, 2007). Macam-
macam reseptor dalam sistem proprioseptif yaitu: korpus vaterpacini untuk
rasa tekan, letaknya di bagian bawah kulit dan jaringan ikat, organ golgi di
dalam tendon dan selaput sendi, muscle spindle ada dalam otot berfungsi
sebagai stretch reseptor, piring Golgi-Massoni ada dalam kulit untuk
menangkap rasa tekan halus (Sugiarto, 2005). Pengaturan serebral dan
sereberal terhadap gerakan voluntar yang melalui sistem somatosensorik
dijabarkan pada Gambar
Gambar: Pengaturan Serebral dan Sereberal Terhadap Gerakan Voluntar
Sumber: Guyton dan Hall, 2008
2) Central Processing
Central processing berfungsi untuk menentukan titik tumpu tubuh dan
alligment gravitasi pada tubuh serta mengorganisasikan respon sensorimotor yang
dibutuhkan oleh tubuh. Respon motorik yang dihasilkan oleh sistem saraf pusat
berguna untuk menjaga postur tubuh agar tetap seimbang. Sistem saraf pusat
menerima input sensorik, menginterpretasikan dan mengintegrasikan kemudian
menghubungkan pada sistem neuromuskular untuk memberikan output motorik
yang korektif sehingga mampu menciptakan keseimbangan yang baik ketika dalam
keadaan diam (statis) ataupun keadaan bergerak (dinamis). Komponen sistem saraf
pusat yang terlibat dalam proses kontrol postural yaitu: corteks, thalamus, basal
ganglia, nuckelus vestibular, dan cerebellum (Suadnyana, 2013).
3) Efektor
a. Respon otot-otot postural yang strategis
Respon otot-otot postural yang sinergis mengarah pada waktu dan jarak
dari aktivitas kelompok otot yang diperlukan untuk mempertahankan
keseimbangan dan kontrol postur. Beberapa kelompok otot baik pada
ekstremitas atas maupun bawah berfungsi mempertahankan postur saat berdiri
tegak serta mengatur keseimbangan tubuh dalam berbagai gerakan (Irfan,
2012).
Keseimbangan pada tubuh dalam berbagai posisi hanya akan
dimungkinkan jika respon dari otot-otot postural bekerja secara sinergi sebagai
reaksi dari perubahan posisi, titik tumpu, gaya gravitasi, dan aligment tubuh.
Kerja otot yang sinergi berarti bahwa adanya respon yang tepat (kecepatan dan
kekuatan) suatu otot terhadap otot yang lainnya dalam melakukan fungsi gerak
tertentu. Gerak dengan pola normal berasal dari adanya perencanaan gerak
yang diimplementasikan dalam bentuk aktivasi otot dengan kekuatan dan
kecepatan yang sesuai (Irfan, 2012).
b. Kekuatan Otot
Kekuatan otot diperlukan saat melakukan aktivitas. Semua gerakan
yang dihasilkan merupakan hasil dari adanya suatu peningkatan tegangan otot
sebagai respon motorik. Kekuatan otot dapat dijabarkan sebagai kemampuan
otot menahan beban baik berupa beban internal (internal force) maupun beban
eksternal (external force). Kekuatan otot sangat berhubungan dengan sistem
neuromuskuler yaitu seberapa besar kemampuan sistem saraf mengaktivasi
otot untuk melakukan kontraksi, sehingga semakin banyak serabut otot yang
teraktivasi, maka semakin besar pula kekuatan yang dihasilkan otot tersebut
(Irfan, 2012).
Kekuatan otot dari kaki, lutut serta pinggul harus adekuat untuk
mempertahankan keseimbangan tubuh saat adanya gaya dari luar. Kekuatan
otot tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan otot untuk melawan
gaya gravitasi serta beban eksternal lainnya yang secara berkelanjutan
mempengaruhi posisi tubuh. Kemampuan otot untuk melakukan reaksi tegak
dan stabil merupakan bentuk dari aktivitas otot untuk menjaga keseimbangan
baik saat statis maupun dinamis. Hal tersebut dapat dilakukan apabila otot
memiliki kekuatan dengan besaran tertentu (Irfan, 2012).
c. Range of Motion
Range of motion merupakan luas lingkup gerak sendi yang bisa
dilakukan oleh sendi. ROM juga merupakan ruang gerak suatu kontraksi otot
dalam melakukan gerakan, apakah otot tersebut memendek atau memanjang
secara penuh atau tidak sehingga berpengaruh terhadap keseimbangan. ROM
menentukan kemampuan sendi dalam membantu gerak tubuh dan
mengarahkan gerakan terutama saat gerakan yang memerlukan keseimbangan
yang tinggi, serta keterjangkauan lingkup gerak sendi untuk memenuhi
kebutuhan gerak yang memungkinkan untuk seimbang (Suadnyana, 2013).
2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan
1) Pusat Gravitasi (Center of Gravity-CoG)
Pusat gravitasi merupakan titik utama pada tubuh yang mendistribusikan massa
tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam
keadaan seimbang. Gangguan keseimbangan dapat terjadi karena adanya
perubahan postur sebagai akibat dari perubahan titik pusat gravitasi. Pada manusia,
pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat. Pusat gravitasi
manusia ketika berdiri tegak adalah tepat di atas pinggang di antara depan dan
belakang vertebra sakrum ke dua. Kemampuan seseorang untuk mempertahankan
keseimbangan dalam berbagai bentuk posisi tubuh sangat dipengaruhi oleh
kemampuan tubuh menjaga centre of gravity untuk tetap dalam area batas
stabilitas tubuh (stability limit). Stability limit adalah batas dari luas area di mana
tubuh mampu menjaga keseimbangan tanpa adanya perubahan tumpuan (Irfan,
2012). Pusat gravitasi tubuh dijabarkan pada Gambar

2) Garis gravitasi (Line of Gravity-LOG)


Garis gravitasi adalah garis imajiner yang berada vertikal melalui pusat
gravitasi dengan pusat bumi. Hubungan antara garis gravitasi, pusat gravitasi
dengan bidang tumpu akan menentukan derajat stabilitas tubuh. Garis gravitasi
pada seseorang yang sedang berdiri berjalan mulai dari prosesus mastoideus pada
tulang temporal, bagian anterior sakral ke-dua, bagian posterior dari hip, dan
anterior knee dan ankle,seperti yang dijabarkan pada Gambar 2.8 (Neumann,
2002).
3) Bidang Tumpu (Base of Support-BOS)
Bidang tumpu adalah bagian dari tubuh yang berhubungan dengan permukaan
tumpuan. Ketika garis gravitasi tepat berada pada bidang tumpu, tubuh dalam
keadaan seimbang. Stabilitas yang baik terbentuk dari luasnya area bidang tumpu.
Semakin besar bidang tumpu, semakin tinggi stabilitas. Misalnya berdiri dengan
kedua kaki akan lebih stabil dibanding berdiri dengan satu kaki. Base of Support
pada gerak manusia akan memberikan reaksi pada pola gerak individu. Semakin
dekat bidang tumpu dengan pusat gravitasi, maka stabilitas tubuh makin tinggi
(Wen Chang, 2009).
2.5 Penyusun Keseimbangan Postural
Kontrol postural tidaklah dianggap sebagai salah satu sistem atau set dalam
meluruskan dan mencapai keseimbangan refleks. Sebaliknya, kontrol postural
dianggap sebagai keterampilan motorik yang kompleks berasal dari interaksi antara
berbagai proses sensorimotor. Terdapat dua tujuan utama dalam kontrol postural yaitu:
orientasi postural dan keseimbangan postural. Orientasi postural dipengaruhi oleh
kontrol aktif alignment tubuh terhadap gravitasi, landasan penyangga, sistem visual,
dan informasi internal. Orientasi spasial pada kontrol postural bergantung pada
interpretasi sistem visual, vestibular, dan somatosensoris. Keseimbangan postural
dipengaruhi oleh koordinasi sensorimotor untuk menstabilkan center of mass dan
penjalaran eksternal pada stabilitas postural.
Horak (2006) menyimpulkan terdapat 6 komponen dasar penyusun sistem
kontrol postural, seperti terlihat pada Gambar 2.10. Penurunan kemampuan pada salah
satu komponen dapat menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan dan
meningkatkan kejadian jatuh pada lansia.
1) Kendala Biomekanik (Biomechanical Constraints)
Komponen kendala biomekanik yang terpenting dalam keseimbangan adalah
ukuran dan kualitas dari bidang tumpu (base of support) yaitu kaki. Keterbatasan
pada ukuran, kekuatan, lingkup gerak, nyeri, atau kontrol dari kaki akan
mempengaruhi keseimbangan (Tinetti et al, 1988). Pada posisi berdiri, terdapat
area seperti kerucut (limit of stability) yang menjelaskan kemampuan seseorang
dalam menggerakkan pusat gravitasi tubuh dan mengontrol keseimbangan tanpa
merubah bidang tumpu, (McCollum dan Leen, 1989).
Pada gambar A menunjukkan lansia pria sehat yang berusaha menggerakkan
pusat gravitasi tubuh ke arah depan tanpa melewati batas stabilitas, sedangkan
gambar B menunjukkan lansia wanita dengan gangguan multisensoris yang
berusaha menggerakkan pusat gravitasi tubuh ke arah depan tanpa melewati batas
stabilitas. Gambar C menunjukkan lansia wanita dengan gangguan multisensoris
yang berusaha menggerakkan pusat gravitasi tubuh ke belakang, tetapi secara tiba-
tiba mengambil langkah untuk melebarkan bidang tumpu. Secara singkat, batas
stabilitas diartikan sebagai kemampuan untuk menggerakkan pusat gravitasi
sejauh mungkin pada arah anteroposterior atau mediolateral tanpa memindahkan
bidang tumpu (Sibley et al, 2015).
Sistem saraf pusat mengatur keadaan internal pada batas stabilitas kerucut
dengan mengatur seberapa besar gerakan yang diperlukan dalam mengontrol
keseimbangan. Pada sebagian besar lansia dengan defisit keseimbangan, stabilitas
kerucut ini sangatlah kecil atau representasi sistem saraf pusat terhadap stabilitas
kerucut mengalami penurunan (Duncan et al, 1990).
2) Strategi Gerakan (Movement Strategies)
Sistem saraf pusat memiliki 3 sistem untuk menjaga keseimbangan setelah
tubuh mengalami perturbasi/gangguan, di antaranya: refleks regang, respon
postural otomatis, dan respon volunter. Respon postural otomatis berhubungan
dengan long loop reflexes yang biasanya terjadi sekitar 100-120 msec pada orang
dewasa normal. Respon postural otomatis diinformasikan melalui situasi feedback
dan feedforward. Feedforward mendeskripsikan mengenai pengaturan sistem saraf
pusat dalam mengatur respon postural saat mengantisipasi suatu perubahan posisi
tertentu. Sebagai contoh pada gerakan menangkap bola. Gerakan menangkap bola
merupakan gerakan yang disadari atas perubahan pusat gravitasinya, tetapi respon
postural otomatis setidaknya akan memprediksi keadaan ini dengan mengantisipasi
gerakan volunteer dalam rangka menstabilisasi pusat gravitasi tubuh sehingga
perubahan sikap atau gerakan terhadap stimulus yang diberikan akan menjadi
akurat. Sementara, feedback berhubungan dengan situasi dimana tubuh
mendapatkan gaya eksternal, seperti: tergelincir atau terdorong. Maka, pusat
gravitasi tubuh berubah dan sistem saraf pusat berperan dalam mengatur respon
postural untuk menyesuaikan pusat gravitasi tubuh terhadap bidang tumpu. Respon
yang diberikan dapat berupa respon protektif atau respon korektif (Guccione,
2001).
Penelitian dalam bidang respon postural otomatis berfokus pada respon
neurofisiologi pada perturbasi postural dalam paradigma feedback. Bentuk gerakan
yang biasanya digunakan dalam menyusun perturbasi misalnya ketika pasien
berdiri secara normal. Variabel primer yang dites yaitu latency (waktu dalam
melakukan respon otot) dan sequence (ketepatan gerakan respon otot). Nashner
menjelaskan mengenai 3 strategi gerakan sebagai respon normal dalam
mengantisipasi perturbasi postural yang tidak diinginkan. (1). Ankle Strategy
digunakan pada perubahan bidang tumpu yang cukup kecil. Pada strategi ini,
aktivasi otot dilakukan dari distal ke proksimal yaitu mengaktivasi otot-otot bagian
ekstremitas bawah. Misalnya, saat tubuh mengalami kehilangan keseimbangan ke
arah belakang, maka otot yang akan diaktivasi pertama kali yaitu m. tibialis
anterior (100 msec) yang diikuti oleh m. quadriceps dan m. abdominal.
Sebaliknya, apabila tubuh kehilangan keseimbangan ke arah depan maka otot yang
akan diaktivasi yaitu: m. gastrocnemius, m. hamstring, dan m. paraspinal. (2). Hip
Strategy terjadi ketika perturbasi besar atau pusat gravitasi tubuh mendekati limit
of stability (batas stabilitas) akibat bidang tumpu yang tidak stabil. Tujuan dari
strategi ini yaitu mempertahankan pusat gravitasi tubuh terhadap bidang tumpu
dengan mengaktivasi tubuh bagian proksimal ke distal. Pada forward sway akan
mengaktivasi m. abdominal dan m. quadriceps, sedangkan backward sway akan
mengaktivasi m. paraspinal dan m. harmstring. (3). Stepping strategy terjadi saat
perturbasi dalam jumlah yang sangat besar yaitu pusat gravitasi tubuh melebihi
batas stabilitas. Strategi ini digunakan untuk memperbesar bidang tumpu sehingga
dapat mempertahankan keseimbangan (Nashner et al, 1979).

3) Strategi Sensoris (Sensory Strategies)


Informasi sensoris dari somatosensori, visual, dan vestibular, harus
diintegrasikan untuk menginterpretasi keadaan lingkungan. Dalam lingkungan
yang cukup terang dengan basis yang kuat dari dukungan, orang sehat
mengandalkan informasi somatosensori (70%), visual (10%), dan vestibular
(20%). Namun, ketika seseorang berdiri di atas permukaan yang tidak stabil,
mereka meningkatkan bobot sensorik untuk vestibular dan informasi visual mereka
serta mengurangi ketergantungan masukan somatosensori untuk orientasi postural
(Peterka, 2002).
Kemampuan untuk meningkatkan informasi bobot sensorik (re-weight sensory)
bergantung pada seberapa penting konteks sensori dalam menjaga stabilitas ketika
seorang individu bergerak dari satu konteks sensori ke yang lainnya. Seorang
individu dengan gangguan defisit periperal pada sistem vestibular atau
somatosensori (neuropati) akan mengalami keterbatasan dalam kemampuan untuk
meningkatkan informasi bobot sensorik dan memiliki peluang jatuh lebih tinggi
(Horak, 2006).
4) Orientasi dalam Ruang (Orientation in Space)
Kemampuan untuk mengarahkan bagian-bagian tubuh sehubungan dengan
gravitasi, bidang tumpu, sistem visual dan referensi internal adalah komponen
penting dari kontrol postural. Sistem saraf yang sehat secara otomatis mengubah
cara tubuh berorientasi pada ruang, tergantung pada konteks dan tugas. Orang
yang sehat dapat mengidentifikasi gravitasi vertikal dalam gelap untuk jarak 0,5°.
Penelitian telah menunjukkan bahwa persepsi vertikal atau tegak, mungkin
memiliki beberapa representasi saraf (Karnath et al, 2000). Persepsi vertikal visual
atau kemampuan untuk menyelaraskan garis ke gravitasi vertikal dalam gelap,
tidak tergantung pada persepsi postural (atau proprioseptif) vertikal; misalnya
kemampuan untuk menyelaraskan tubuh dalam ruang tanpa visual.
Ketiadakakuratan referensi internal pada vertikalitas akan menghasilkan
keselarasan (alignment) postural otomatis yang tidak selaras dengan gravitasi dan
membuat seseorang tidak stabil (Bisdorff et al, 1996).
5) Kontrol Dinamik (Control of Dynamics)
Mengontrol keseimbangan selama berjalan dan ketika berpindah dari satu
postur ke lainnya memerlukan kontrol yang kompleks dari pusat gravitasi tubuh.
Tidak seperti dalam posisi tegak, pusat gravitasi tubuh tidak dalam basis dukungan
kaki ketika berjalan atau berubah dari satu postur ke yang lain (Winter et al, 1993).
Stabilitas postural ke arah depan selama berjalan datang dari ayunan ekstremitas di
bawah jatuhnya pusat gravitasi. Namun, stabilitas lateral berasal dari kombinasi
kontrol tubuh bagian lateral dan peletakan kaki bagian lateral (Bauby dan Kuo,
2000). Seorang lansia yang rentan terhadap jatuh cenderung memiliki penempatan
lateral yang lebih besar dari pusat gravitasi tubuh serta penempatan kaki secara
lateral dan tidak teratur (Prince et al, 1997).
6) Proses Kognitif (Cognitive Processing)
Banyak sumber daya kognitif yang diperlukan dalam kontrol postural. Bahkan
berdiri diam-diam membutuhkan proses kognitif, seperti dapat dilihat oleh
peningkatan waktu reaksi pada orang berdiri dibandingkan dengan mereka yang
duduk dengan dukungan. Semakin sulit tugas postural, semakin pengolahan
kognitif diperlukan. Dengan demikian, waktu reaksi dan kinerja dalam tugas
kognitif menurunkan kesulitan saat tugas postural meningkat (Teasdale dan
Simoneau, 2001). Karena kontrol postur dan sumber lain berbagi proses kognitif,
kinerja tugas postural juga terganggu oleh tugas kognitif sekunder (Camicioli et al,
1997). Individu yang memiliki pengolahan kognitif yang terbatas karena gangguan
neurologis dapat menggunakan lebih dari proses kognitif yang tersedia untuk
mengendalikan postur. Jatuh merupakan hasil dari proses kognitif yang tidak
cukup untuk mengontrol postur sementara sibuk dengan tugas kognitif sekunder
lainnya (Horak, 2006).

3 Proses Penurunan Keseimbangan pada Lansia


Penurunan keseimbangan pada lansia disebabkan oleh berbagai macam faktor di
antaranya adalah adanya gangguan pada sistem sensorik, gangguan pada sistem saraf
pusat (SSP), maupun adanya gangguan pada sistem muskuloskeletal. Informasi mengenai
posisi tubuh terhadap lingkungan atau gravitasi diberikan oleh sistem sensorik, sedangkan
sistem saraf pusat berfungsi untuk memodifikasi komponen motorik dan sensorik
sehingga stabilitas dapat dipertahankan melalui kondisi yang berubah-rubah. Gangguan
pada sistem sensorik meliputi gangguan pada sistem visual, vestibular, dan
somatosensoris (Suadnyana, 2013).
Sistem visual seperti sistem organ lain mengalami degenerasi karena proses penuaan.
Pada sistem visual lansia, terjadi penebalan jaringan fibrosa dan atrofi serabut saraf,
berkurangnya sel-sel reseptor di retina, serta perubahan elastisitas lensa dan otot siliaris.
Penurunan fungsi visual tersebut, menyebabkan masalah dalam persepsi bentuk dan
kedalaman serta informasi visual mengenai posisi tubuh yang diperlukan untuk kontrol
postural (Barnedh, 2006).
Sistem lain yang mengalami penurunan fungsi adalah sistem vestibular. Perubahan
degeneratif tersebut mengenai organ vestibular seperti: otolith, epithelium sensorik dan
sel rambut, nervus vestibularis, dan serebelum. Makula secara progresif mengalami
demineralisasi dan menjadi terpecah-pecah. Hal ini mengakibatkan penurunan
kemampuan dalam menjaga respon postural terhadap gravitasi dan pergerakan linear.
Selain itu terjadi pula atrofi sel rambut disertai pembentukan jaringan parut dan setelah
usia di atas 70 tahun terjadi penurunan sebanyak 20% jumlah sel rambut di makula dan
40% di krista ampularis kanalis semisirkularis (Barnedh, 2006).
Sistem somatosensori memberikan informasi tentang posisi tubuh dan kontak dari
kulit melalui tekanan, taktil sensor, getaran, serta proprioseptor sendi dan otot. Sensasi
kulit melalui sentuhan, getaran dan tekanan sensor penting dalam setiap aktivitas sehari-
hari, terutama yang melibatkan gerakan. Sensitivitas kulit berkurang dengan
bertambahnya usia. Kurangnya masukan dari taktil, tekanan dan getaran reseptor
membuatnya sulit untuk berdiri atau berjalan dan mendeteksi perubahan dalam
pergeseran, yang penting dalam menjaga keseimbangan (Suadnyana, 2013).
Lansia juga mengalami penurunan dalam kemampuan motorik. Hal ini berhubungan
dengan penurunan terhadap kontrol neuromuskular, perubahan sendi, dan struktur
lainnya. Menurunnya sistem muskuloskeletal berpengaruh terhadap keseimbangan tubuh
lansia karena terjadinya atropi otot yang menyebabkan penurunan kekuatan otot, terutama
ekstremitas bawah, sehingga menyebabkan langkah kaki lansia menjadi lebih pendek,
jalan menjadi lebih lambat, tidak dapat menapak dengan kuat dan cenderung mudah
goyah, serta ada kecenderungan untuk tersandung. Hal ini mengakibatkan lansia menjadi
kurang percaya diri dan lebih berhati-hati dalam berjalan. Penurunan kekuatan otot pelvis
dan tungkai juga menjadi faktor kontribusi bagi penurunan respon postural tersebut.
Secara bersamaan, hampir seluruh gerakan menjadi tidak elastis dan halus. Gangguan
motorik ini utamanya disebabkan oleh mulai hilangnya neuron-neuron di medulla
spinalis, otak, dan serebelum (Siti, 2009)

II. Resiko Jatuh


1. Definisi
Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang
melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai/tempat
yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Darmojo, 2004).
Jatuh merupakan suatu kejadian yang menyebabkan subyek yang sadar menjadi
berada di permukaan tanah tanpa disengaja. Dan tidak termasuk jatuh akibat pukulan
keras, kehilangan kesadaran, atau kejang. Kejadian jatuh tersebut adalah dari penyebab
yang spesifik yang jenis dan konsekuensinya berbeda dari mereka yang dalam keadaan
sadar mengalami jatuh (Stanley, 2006).
2. Faktor Resiko
a. Faktor Instrinsik
Faktor instrinsik adalah variabel-variabel yang menentukan mengapa
seseorang dapat jatuh pada waktu tertentu dan orang lain dalam kondisi yang sama
mungkin tidak jatuh (Stanley, 2006). Faktor intrinsik tersebut antara lain adalah
gangguan muskuloskeletal misalnya menyebabkan gangguan gaya berjalan,
kelemahan ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope yaitu kehilangan kesadaran
secara tiba-tiba yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke otak dengan
gejala lemah, penglihatan gelap, keringat dingin, pucat dan pusing (Lumbantobing,
2004).
b. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik merupakan faktor dari luar (lingkungan sekitarnya)
diantaranya cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang licin, tersandung benda-
benda (Nugroho, 2000). Faktor-faktor ekstrinsik tersebut antara lain lingkungan yang
tidak mendukung meliputi cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang licin,
tempat berpegangan yang tidak kuat, tidak stabil, atau tergeletak di bawah, tempat
tidur atau WC yang rendah atau jongkok, obat-obatan yang diminum dan alat-alat
bantu berjalan (Darmojo, 2004).
3. Penyebab Jatuh dari Lingkungan Rumah
Faktor-faktor lingkungan yang menyebabkan jatuh adalah penerangan yang tidak baik
(kurang atau menyilaukan), lantai yang licin dan basah, tempat berpegangan yang tidak
kuat/tidak mudah dipegang dan alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang tidak
stabil dan tergeletak di bawah. (Darmojo, 2004).
Menurut Friedman, 1998 adalah kondisi interior rumah meliputi bagaimana ruangan-
ruangan tersebut dilengkapi oleh perabot , kelayakan perabot, penerangan yang tidak
memadai dan eksterior rumah meliputi lantai, tangga, jeruji dalam keadaan buruk, tempat
obat-obatan tidak terjangkau dan pintu masuk dan pintu keluar ke rumah tidak terdapat
penerangan dan ruang gerak yang cukup untuk keluar dari rumah, kabel listrik telanjang
di lantai, kolam renang yang tidak di pagari secara memadai.
4. Akibat Jatuh
Jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan psikologis.
Kerusakan fisik yang paling ditakuti dari kejadian jatuh adalah patah tulang panggul.
Jenis fraktur lain yang sering terjadi akibat jatuh adalah fraktur pergelangan tangan,
lengan atas dan pelvis serta kerusakan jaringan lunak. Dampak psikologis adalah
walaupun cedera fisik tidak terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan jatuh lagi dapat
memiliki banyak konsekuensi termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya diri, penbatasan
dalam aktivitas sehari-hari, falafobia atau fobia jatuh (Stanley, 2006).
5. Komplikasi
Menurut Kane (1996), yang dikutip oleh Darmojo (2004), komplikasi-komplikasi jatuh
adalah :
a. Perlukaan
Perlukaan (injury) mengakibatkan rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat
sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri/vena, patah tulang
atau fraktur misalnya fraktur pelvis, femur, humerus, lengan bawah, tungkai atas.
b. Disabilitas
Disabilitas mengakibatkan penurunan mobilitas yang berhubungan dengan
perlukaan fisik dan penurunan mobilitas akibat jatuh yaitu kehilangan kepercayaan
diri dan pembatasan gerak.
c. Kematian
6. Pencegahan
Menurut Tinetti (1992), yang dikutip dari Darmojo (2004), ada 3 usaha pokok untuk
pencegahan jatuh yaitu :
a. Identifikasi Faktor Resiko
Pada setiap lanjut usia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya
faktor instrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assessment keadaan sensorik,
neurologis, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering menyebabkan jatuh.
Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh
harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan. Lantai
rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat, peralatan
rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk, dapat bergerser sendiri) sebaiknya
diganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu jalan/tempat aktivitas lanjut usia. Kamar mandi dibuat tidak licin
sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC
sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.
b. Penilaian Gaya Berjalan / Gait
Setiap lanjut usia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam
melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Bila goyangan badan pada saat
berjalan sangat berisiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi
medis. Penilaian gaya berjalan juga harus dilakukan dengan cermat, apakah kakinya
menapak dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan
benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup
untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat
kelainan/penurunan
c. Mengatur/Mengatasi Faktor Situasional
Faktor situasional yang bersifat serangan akut yang diderita lanjut usia dapat
dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lanjut usia secara periodik. Faktor
situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan
lingkungan , faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan
kondisi kesehatan lanjut usia. Aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang
diperbolehgkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Maka di anjurkan
lanjut usia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau berisiko tinggi
untuk terjadinya jatuh.

7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bersifat individual, artinya berbeda untuk tiap kasus karena
perbedaan faktor-faktor yang bekerjasama mengakibatkan jatuh. Bila penyebab
merupakan penyakit akut penangananya menjadi lebih mudah, lebih sederhana, dan
langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh secara efektif. Tetapi lebih banyak pasien
jatuh karena kondisi kronik, multifaktorial sehingga diperlukan terapi gabungan antara
obat, rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lanjut usia itu. Pada
kasus lain intervensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan, misalnya
pembatasan bepergian/aktivitas fisik, penggunaan alat bantu gerak.
Untuk penderita dengan kelemahan otot ekstremitas bawah dan penurunan fungsional
terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot sehingga
memperbaiki fungsionalnya. Sering terjadi kesalahan, terapi rehabilitasi hanya diberikan
sesaat sewaktu penderita mengalami jatuh. Padahal terapi ini diperlukan secara terus-
menerus sampai terjadi peningkatan kekuatan otot dan status fungsional.
Terapi untuk penderita dengan penurunan gait dan keseimbangan difokuskan untuk
mengatasi penyebab/faktor yang mendasarinya. Penderita dimasukkan dalam progam gait
training dan pemberian alat bantu berjalan. Biasanya progam rehabilitasi ini dipimpin
oleh fisioterapis.
Penderita dengan dizziness syndrom, terapi ditujukan pada penyakit kardiovaskuler
yang mendasari, menghentikan obat-obat yang menyebabkan hipotensi postural seperti
beta bloker, diuretic dan antidepresan. Terapi yang tidak boleh dilupakan adalah
memperbaiki lingkungan rumah/tempat kegiatan lanjut usia seperti tersebut di
pencegahan jatuh (Darmojo, 2004).
III. Konsep Askep
1. Fokus Pengkajian
Setiap penderita lansia jatuh, harus dilakukan assesmen seperti dibawah ini : ( Kane,
1994; Fischer, 1982 )
1. Riwayat Penyakit ( Jatuh )
Anamnesis dilakukan baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau
keluarganya. Anamnesis ini meliputi :
a. Seputar jatuh : mencari penyebab jatuh misalnya terpeleset, tersandung,
berjalan, perubahan posisi badan, waktu mau berdiri dari jongkok, sedang
makan, sedang buang air kecil atau besar, sedang batuk atau bersin, sedang
menoleh tiba – tiba atau aktivitas lain.
b. Gejala yang menyertai : nyeri dada, berdebar – debar, nyeri kepala tiba-tiba,
vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak nafas.
c. Kondisi komorbid yang relevan : pernah stroke, Parkinsonism, osteoporosis,
sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi, defisit sensorik.
d. Review obat – obatan yang diminum : antihipertensi, diuretik, autonomik
bloker, antidepresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik, psikotropik.
e. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh, rumah maupun tempat – tempat
kegiatannya.

2.Pemeriksaan Fisik
a. anda vital : nadi, tensi, respirasi, suhu badan ( panas / hipotermi ).
b. Kepala dan leher : penurunan visus, penurunan pendengaran, nistagmus,
gerakan yang menginduksi ketidakseimbangan, bising Jantung : aritmia,
kelainan katup.
c. Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer,
kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor.
d. Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi problem kaki (
podiatrik ), deformitas.

2. Assesmen Fungsional
Dilakukan observasi atau pencarian terhadap :
a. Fungsi gait dan keseimbangan : observasi pasien ketika dari bangku langsung
duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan, ketika
mau duduk dibawah.
b. Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat bantu,
memakai kursi roda atau dibantu.
c. Aktifitas kehidupan sehari – hari : mandi, berpakaian, bepergian, kontinens.
FORMAT PENGKAJIAN LANSIA
ADAPTASI TEORI MODEL CAROL A MILLER

Nama Poli : URJ Geriatri RSDS Tanggal Pengkajian : 07 Mei 2018

1. IDENTITASKLIEN :
Nama : Tn SF
Umur : 65 Th
Agama : Islam
Alamat asal : Surabaya
Tanggal datang : 07 Mei 2018Lama Tinggal di Panti -
2 DATA KELUARGA :
.
Nama : Ny. N
Hubungan : Istri
Pekerjaan : IRT
Alamat : Surabaya Telp : .-
3 STATUS KESEHATAN SEKARANG :
.
Keluhan utama: Lemas

Pengetahuan, usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan:


Menggunakan alat bantu (walker) untuk mobilisasi

Obat-obatan:
Lacons syrup 60ml 3x1 cth, metronidazole (oral) 3x500 mg, amlodipin 1x10g (oral), vit b complex 1 x 1.

4. AGE RELATED CHANGES(PERUBAHAN TERKAIT PROSES MENUA) :

FUNGSI FISIOLOGIS

1. Kondisi Umum
Ya Tidak
Kelelahan : √
Perubahan BB : √
Perubahan nafsu makan : √
Masalah tidur : √
Kemampuan ADL : √
KETERANGAN : Pasien mengatakan merasa sesak saat beraktivitas

2. Integumen
Ya Tidak
Lesi / luka : √
Pruritus : √
Perubahan pigmen : √
Memar : √
Pola penyembuhan lesi : √
KETERANGAN : Terdapat callus pada punggung kaki dan tumit D/S px

3. Hematopoetic
Ya Tidak
Perdarahan abnormal : √
Pembengkakankellimfe : √
Anemia : √
KETERANGAN : Tidak ada gangguan

4. Kepala
Ya Tidak
Sakit kepala : √
Pusing : √
Gatal pada kulit kepala : √
KETERANGAN : Px mengatakan saat merasa mual akan terasa pusing

5. Mata
Ya Tidak
Perubahan : √
penglihatan
Pakai kacamata : √
Kekeringan mata : √
Nyeri : √
Gatal : √
Photobobia : √
Diplopia : √
Riwayat infeksi : √
KETERANGAN : Px mengalami presbiopi +3/-1 pada kedua mata

6. Telinga
Ya Tidak
Penurunan pendengaran : √
Discharge : √
Tinitus : √
Vertigo : √
Alat bantu dengar : √
Riwayat infeksi : √
Kebiasaan membersihkan telinga : √
Dampak pada ADL : Normal, tidak ada gangguan
KETERANGAN :
7. Hidung sinus
Ya Tidak
Rhinorrhea : √
Discharge : √
Epistaksis : √
Obstruksi : √
Snoring : √
Alergi : √
Riwayat infeksi : √
KETERANGAN : Px tidak ada keluhan

8. Mulut, tenggorokan
Ya Tidak
Nyeri telan : √
Kesulitan menelan : √
Lesi : √
Perdarahan gusi : √
Caries : √
Perubahan rasa : √
Gigi palsu : √
Riwayat Infeksi : √
Pola sikat gigi : Px menggunakan pasta gigi untuk saat menggosok gigi
KETERANGAN : Tidak ada masalah

9. Leher
Ya Tidak
Kekakuan : √
Nyeri tekan : √
Massa : √
KETERANGAN : Tidak ada masalah

10. Pernafasan
Ya Tidak
Batuk : √
Nafas pendek : √
Hemoptisis : √
Wheezing : √
Asma : √
KETERANGAN : Px mengeluhkan sering kehabisan napas saat beraktivitas
11. Kardiovaskuler
Ya Tidak
Chest pain : √
Palpitasi : √
Dipsnoe : √
Paroximal nocturnal : √
Orthopnea : √
Murmur : √
Edema : √
KETERANGAN : Tidak ada keluhan

12. Gastrointestinal
Ya Tidak
Disphagia : √
Nausea / vomiting : √
Hemateemesis : √
Perubahan nafsu makan : √
Massa : √
Jaundice : √
Perubahan pola BAB : √
Melena : √
Hemorrhoid : √
Pola BAB : Tidak teratur, seringkali keras
KETERANGAN : Px mengatakan sudah satu minggu tidak BAB. Distensi
abdomen pada regio 8 dan 9. Bising usus 3x/menit

13. Perkemihan
Ya Tidak
Dysuria : √
Frekuensi : 5-6 kali per hari
Hesitancy : √
Urgency : √
Hematuria : √
Poliuria : √
Oliguria : √
Nocturia : √
Inkontinensia : √
Nyeri berkemih : √
Pola BAK : Normal
KETERANGAN : Tidak mengalami gangguan
14. Reproduksi (laki-laki)
Ya Tidak
Lesi : √
Disharge : √
Testiculer pain : √
Testiculer massa : √
Perubahan gairah sex : √
Impotensi : √

Reproduksi (perempuan)
Lesi :
Discharge :
Postcoital bleeding :
Nyeri pelvis :
Prolap :
Riwayat menstruasi : ......................................................................................
Aktifitas seksual :
Pap smear :
KETERANGAN : Tidak ada gangguan

15. Muskuloskeletal
Ya Tidak
Nyeri Sendi : √
Bengkak : √
Kaku sendi : √
Deformitas : √
Spasme : √
Kram : √
Kelemahan otot : √
Masalah gaya berjalan : √
Nyeri punggung : √
Pola latihan : Px mengatakan setiap hari px latihan berjalan
menggunakan walker
Dampak ADL : Karena kelemahan ekstrimitas bagian bawah px tidak
bisa ADL secara mandiri
KETERANGAN : ADl px dibantu sebagian

16. Persyarafan
Ya Tidak
Headache : √
Seizures : √
Syncope : √
Tic/tremor : √
Paralysis : √
Paresis : √
Masalah memori : √
KETERANGAN : Kelemahan ekstremitas bagian bawah

5. POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL :


Psikososial YA Tidak
Cemas : √
Depresi : √
Ketakutan : √
Insomnia : √
Kesulitan dalam mengambil keputusan : √
Kesulitan konsentrasi : √
Mekanisme koping : Baik, px segera control ketika ada keluhan
Persepsi tentang kematian: biasa saja, hal alami yang terjadi
Dampak pada ADLtidak ada masalah

Spiritual
 Aktivitas ibadah : Px mengatakan tidak ibadah karena tidak bisa wudlu (keterbatasan
fisik)
 Hambatan: keterbatasan fisik
KETERANGAN : Distres spiritual

6. LINGKUNGAN :

 Kamar : di lantai satu, bersama istri, tempat tidur setinggi pinggang, tidak memiliki
pagar pembatas

 Kamar mandi : terpisah dari kamar tidur, jarak ±10m, tidak menggunakan lantai anti
selip

 Dalam rumah: perabot diatur normal saja,

 Luar rumah : naik turun dua step lantai tidak ada pegangan tangan

7. ADDITIONAL RISK FACTOR


Riwayatperilaku (kebiasaan, pekerjaan, aktivitas) yang mempengaruhikondisisaatini:
Aktivitas latihan kadang tidak diawasi orang lain, px tidak merokok, tidur malam cukup
8. NEGATIVE FUNCTIONAL CONSEQUENCES

1. Kemampuan ADL : Ketergantungan berat


2. AspekKognitif : Tidak ada gangguan kognitif
3. TesKeseimbangan :Risiko tinggi jatuh
4. GDS : Tidak ada indikasi depresi
5. Status Nutrisi : Moderate nutritional risk
6. Fungsi social lansia : Fungsi baik
7. HasilpemeriksaanDiagnostik :
No Jenis pemeriksaan Tanggal Hasil
Diagnostik Pemeriksaan
Lampiran

1. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)

No Kriteria Skor Skor


yang
didapat
1 Makan 0 = tidak mampu
5 = dengan bantuan (memaotong makanan,
mengoleskan selai , dll atau membutuhkan menu 10
makanan tertentu, misal makana cair, bubur)
10 = mandiri
2 Mandi 0 = dependen 0
5 = mandiri
3 Berpakaian 0 = dependen
5 = butuh bantuan
10
10 = mandiri (mengancingkan, memakai resleting,
menalikan renda/tali)
4 Berhias 0 = butuh bantuan dalam perawatan pribadi
5 = mandiri (mencuci wajah. Keramas, gosok gigi, 5
bercukur)
5 Kontrol Bowel (BAB) 0 = inkontiensia/ membutuhkan bantuan enema untuk
BAB
10
5 = sesekali BAB tidak sadar (occasional accident)
10 = Kontrol BAB baik
6 Kotrol Bladder (BAK) 0 = inkontiensia atau memakia kateter dan tidak mampu
merawat kateter dan baik
10
5 = sesekali BAK tidak sadar (occasional accident)
10 = Kontrol BAK baik
7 Penggunaan toilet 0 = Tidak mampu
(mencuci, menyeka, 5 = butuh bantuan, tetapi bisa melakukan sesuatu
5
menyiram) dengan mandiri
10 = mandiri
8 Naik turun tangga 0 = Tidak mampu
5 = dengan bantuan 0
10 = mandiri
9 Mobilisasi di permukaan 0 = tidak mampu mobilisasi atau berjalan/kursi roda <
datar 45,72 m (50 yard)
5 = mandiri dengan kursi roda > 45,72 m (50 yard),
mampu memosisikan kursi roda di pojok ruangan
5
10 = berjalan dengan bantuan 1 orang > 45,72 m (50
yard)
15 = berjalan mandiri (mungkin dengan bantuan alat,
pegangan) sejauh > 45,72 m (50 yard)
10 Berpindah ( dari kursi ke 0 = tidak mampu berpindah, tidak dapat duduk dengan 0
tempat tidur dan seimbang
sebaliknya 5 = dengan bantuan lebih banyak (1 aau 2 orang yang
membantu)
10 = dengan bantuan lebih sedikit
15 = mandiri
TOTAL SKOR
55

Interpretasi:
0-20 = ketergantungan total
21-60 = Ketergantungan berat
61-90 = ketergantungan sedang
91-99 = ketergantungan ringan
100 = mandiri
(Lewis, Carole & Shaw, Keiba, 2006)
2. Aspek Kognitif
MMSE (Mini Mental Status Exam)
Nama :
Tgl/Jam:

N Aspek Nilai Nilai Kriteria


o Kognitif maksima Klie
l n
1 Orientasi 5 5 Menyebutkan dengan benar :
Tahun : 2018
Hari : Senin
Musim :Kemarau
Bulan : Mei
Tanggal : tujuh
2 Orientasi 5 5 Dimanasekarangkitaberada ?
Negara: Indonesia
Panti :URJ Geriatri
Propinsi: Jawa Timur
Wisma/Kamar :Ruang Tunggu
Kabupaten/kota :Surabaya
3 Registrasi 3 3 Sebutkan 3 namaobyek (misal : kursi, piring,
kertas), kemudian ditanyakankepadaklien,
menjawab :
1) Kursi 2). piring 3). Kertas
4 Perhatiandankalkulas 5 5 Meminta klien berhitung mulai dari 100 kemudian
i kurangi 7 sampai 5 tingkat.
Jawaban :
1). 93 2). 86 3). 79 4). 72 5). 65
5 Mengingat 3 3 Mintaklienuntukmengulangiketigaobyekpadapoinke
- 3 (tiappoinnilai 1)
1) kursi 2)piring 3) Kertas
6 Bahasa 9 9 Menanyakan pada klien tentang benda (sambil
menunjukan benda tersebut).
1). Pulpen
2). Kertas
3). Minta klien untuk mengulangi kata berikut :
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab :
tidak ada, dan, jika, atau tetapi
Minta klien untuk mengikuti perintah berikut yang
terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda
5). Lipat dua
6). Taruh dilantai.
Perintahkan pada klien untuk hal berikut (bila
aktifitas sesuai perintah yang dituliskan di kertas
nilai satu poin.
7). “Tutup mata anda”
8). Perintahkan kepada klien untuk menulis kalimat
dan
9). Menyalin gambar 2 segi lima yang saling
bertumpuk

Total nilai 30 30
Interpretasihasil :
24 – 30 : tidakadagangguankognitif
18 – 23 : gangguankognitifsedang
0 - 17 : gangguankognitifberat
Kesimpulan : Tidak ada gangguan kognitif

3. Tes Keseimbangan
Time Up Go Test
No Tanggal Pemeriksaan Hasil TUG (detik)
1 7 Mei 2018 60 detik
2
3
Rata-rata Waktu TUG -

Interpretasi hasil Resiko tinggi jatuh

Interpretasi hasil:
Apabila hasil pemeriksaan TUG menunjukan hasil berikut:
>13,5 detik Resiko tinggi jatuh
>24 detik Diperkirakan jatuh dalam kurun waktu 6
bulan
>30 detik Diperkirakan membutuhkan bantuan
dalam mobilisasi dan melakukan ADL
(Bohannon: 2006; Shumway-Cook,Brauer& Woolacott: 2000; Kristensen, Foss & Kehlet:
2007: Podsiadlo & Richardson:1991)

4. GDS
Pengkajian Depresi
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tdk Hasil
1. Anda puas dengan kehidupan anda saat ini 0 1 0
2. Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan 1 0 0
3. Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong 1 0 0
4. Anda sering merasa bosan 1 0 0
5. Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu 0 1 0
8. Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda 1 0 1
7. Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu 0 1 0
8. Anda sering merasakan butuh bantuan 1 0 1
9. Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar melakukan 1 0 1
sesuatu hal
10. Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda 1 0 0
11. Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 0 1 0
12. Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda 1 0 0
13. Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat 0 1 0
14. Anda merasa tidak punya harapan 1 0 0
15. Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri anda 1 0 0
Jumlah 3
(Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam Gerontological
Nursing, 2006)
Interpretasi :Jika Diperoleh skore 5 atau lebih, maka diindikasikan depresi

5. Status Nutrisi

Pengkajian determinan nutrisi pada lansia:

No Indikators score Pemeriksaan


1. Menderita sakit atau kondisi yang mengakibatkan perubahan jumlah 2 0
dan jenis makanan yang dikonsumsi
2. Makan kurang dari 2 kali dalam sehari 3 0
3. Makan sedikit buah, sayur atau olahan susu 2 0
4. Mempunyai tiga atau lebih kebiasaan minum minuman beralkohol 2 0
setiap harinya
5. Mempunyai masalah dengan mulut atau giginya sehingga tidak 2 1
dapat makan makanan yang keras
6. Tidak selalu mempunyai cukup uang untuk membeli makanan 4 0
7. Lebih sering makan sendirian 1 0
8. Mempunyai keharusan menjalankan terapi minum obat 3 kali atau 1 1
lebih setiap harinya
9. Mengalami penurunan berat badan 5 Kg dalam enam bulan terakhir 2 0
10. Tidak selalu mempunyai kemampuan fisik yang cukup untuk 2 2
belanja, memasak atau makan sendiri
Total score 4
(American Dietetic Association and National Council on the Aging, dalam Introductory
Gerontological Nursing, 2001)

Interpretasi:
0 – 2 : Good
3 – 5 : Moderate nutritional risk
6 ≥ : High nutritional risk
6. Fungsi sosial lansia
APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA

Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

NO URAIAN FUNGSI SKOR


1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga ADAPTATION 2
(teman-teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
2. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)saya PARTNERSHIP 2
membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapkan
masalah dengan saya
3. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya GROWTH 2
menerima dan mendukung keinginan saya untuk
melakukan aktivitas / arah baru
4. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya AFFECTION 2
mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-
emosi saya seperti marah, sedih/mencintai
5. Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya RESOLVE 2
meneyediakan waktu bersama-sama
Kategori Skor: TOTAL 10
Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
1). Selalu : skore 22). Kadang-kadang : 1
3). Hampir tidak pernah : skore 0
Intepretasi:
< 3 = Disfungsi berat
4 - 6 = Disfungsi sedang
> 6 = Fungsi baik
Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005
ANALISA DATA

Tanggal Data DiagnosaKeperawatan


07 Mei 2018 DS : Resiko tinggi jatuh
Klien mengatakan badannya
lemas setelah jatuh
DO :
- Klien tampak lemas
- Klien berjalan
menggunakan walker
dirumah
- Kelemahan pada
eksteremitas bawah
- Kekuatan otot
5 5
4 4

- TUG 1 menit dengan


menggunakan alat bantu
jalan

07 Mei 2018 DS: Konstipasi


klien mengatakan sudah 1
minggu tidak BAB, dan BAB
seringkali sulit dan keras
Klien mengatakan mual dan
perut penuh

DO:
Distensi pada abdomen regio
8 dan 9
Bising usus 3x/menit

07 Mei 2018 DS: Distress spiritual


Klien mengatakan kesulitan
dalam melakukan ibadah
karena kakinya lemah

DO:
- Klien menggunakan
walker untuk berjalan
- Kelemahan pada
eksteremitas bawah
- Kekuatan otot
5 5
4 4

- TUG 1 menit dengan


menggunakan alat bantu
jalan

PrioritasMasalah :

1. Resiko tinggi jatuh


2. Konstipasi
3. Distress Spiritual
FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NamaKlien :Tn.SF

Wisma/ Ruang : URJ Geriatri Rumah sakit Dr.Soetomo Surabaya

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Intervensi /NIC

Kriteria Hasil / NOC

1 Resiko tinggi jatuh Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman di sekitar
berupa modifikasi lingkungan dan pendidikan pasien (lantai tidak licin, tidak ada penghalang pada jalur
kesehatan dalam 1 hari kunjungan diharapkan yang dilewati pasien, cahaya cukup terang, tidak bising,
klien mampu : suhu ruangan)
2. Orientasikan pada pasien tentang lingkungan URJ
1. Lingkungan sekitar klien aman dan Geriatri
nyaman (lantai tidak licin, tidak ada 3. Berikan HE kepada klien dan keluarga tentang faktor-
penghalang pada jalur yang dilewati faktor resiko penyebab, komplikasi dan dampak dari
pasien, cahaya cukup terang, tidak jatuh
bising, suhu ruangan) 4. Motivasi keluarga klien untuk mendampingi klien dalam
2. Klien dan keluargamenyatakan paham mobilisasi
faktor-faktor resiko penyebab, 5. Berikan HE kepada keluarga tentang upaya pencegahan
komplikasi dan dampak dari jatuh jatuhdengan memodifikasi lingkungan rumah agar
3. Keluarga menyatakan paham tentang nyaman dan aman bagi pasien.
upaya pencegahan jatuh dengan 6. Bantu klien menggunakan kursi roda
memodifikasi lingkungan rumah agar 7. Latih gerakan ROM aktif
nyaman dan aman bagi pasien. 8. Evaluasi pemahaman klien dan keluarga tentang
4. Klien menyatakan paham tentang pengetahuan yang diberikan
lingkungan sekitar URJ geriatri
2 Konstipasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Identifikasi faktor penyebab dan kontribusi konstipasi
berupa pendidikan kesehatan dalam 1 hari 2. Anjurkan klien dan keluarga untuk meningkatkan
kunjungan diharapkan klien mampu : asupan cairan
1. Bebas dari ketidaknyaman dan 3. Anjurkan klien dan keluarga untuk mencatat
konstipasi warna,volume ,frekuensi dan konsistensi tinja
2. Mengidentifikasi indikator untuk 4. Anjurkan kien untuk diet tinggi serat.
mencegah konstipasi 5. Konsultasi dengan dokter untuk terapi selanjutnya

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Gunakan komunikasi terapeutik untuk membangun


3 Distress Spiritual berupa pendidikan kesehatan dalam 1 hari kepercayaan dan kepedulian empatik
kunjungan diharapkan klien mampu 2. Dorong klien untuk meninjau kehidupan masa lalu dan
1.Klien mampu menyatakan kenyamana dari fokus pada peristiwa dan hubungan yang memberikan
pelaksanan praktek spiritual kekuatan spiritual dan dukungan.
3. Dorong klien dan keluarga untuk perpartisipasi dalam
2. klien menyatakan kepada perawat tentang
kelompok keagamaan
konflik spiritual yang dialami klien
4. Ajarkan metode relaksasi,meditasi dan citra dipandu
3.Klien mampu beradaptasi terhadap
ketidakmampuan fisik atau cacat fisik
(Untuk di Poli Geriatri) FORMAT IMPLEMENTASI & EVALUASI

Nama Klien : Tn. SF

Tgl/ Jam DX Keperawatan Implementasi Evaluasi Paraf

07 Mei 2018 Resiko tinggi jatuh 1. Menciptakan lingkungan yang aman dan S:
nyaman di sekitar pasien (lantai tidak licin,
1. Klien dan keluarga menyatakan paham
tidak ada penghalang pada jalur yang dilewati
faktor-faktor resiko penyebab, komplikasi
pasien, cahaya cukup terang, tidak bising,
dan dampak dari jatuh
suhu ruangan)
2. Keluarga menyatakan paham tentang
2. Mengorientasikan pada pasien tentang
upaya pencegahan jatuh dengan
lingkungan URJ Geriatri
memodifikasi lingkungan rumah agar
3. Memberikan HE kepada klien dan keluarga
nyaman dan aman bagi pasien.
tentang faktor-faktor resiko penyebab,
3. Klien menyatakan paham tentang
komplikasi dan dampak dari jatuh
lingkungan sekitar URJ geriatri
4. Memotivasi keluarga klien untuk
mendampingi klien dalam mobilisasi O:
5. Memberikan HE kepada keluarga tentang
upaya pencegahan jatuhdengan memodifikasi 1. Lingkungan sekitar klien aman dan
lingkungan rumah agar nyaman dan aman nyaman (lantai tidak licin, tidak ada
bagi pasien. penghalang pada jalur yang dilewati
6. Membantu klien menggunakan kursi roda pasien, cahaya cukup terang, tidak bising,
7. Melatih gerakan ROM aktif suhu ruangan)
8. Mengevaluasi pemahaman klien dan keluarga 2. Klien nampak lemah dan duduk dikursi
tentang pengetahuan yang diberikan roda dengan kekuatan otot
5 5
4 4
3. Hasil TUG 1 menit dengan bantuan alat

A.: Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan

1. Anjurkan klien dan keluarga untuk


kontrol rutin 1 bulan sekali atau jika
mengalami masalah kesehatan
2. Berikan motivasi kepada keluarga
untuk selalu mendampingi klien
3. Anjurkan klien untuk selalu melakukan
ROM aktif di rumah

07 Mey 2018 Konstipasi 1. Mengidentifikasi Faktor Penyebab Dan S : Klien dan keluarga menyatakan paham
Kontribusi Konstipasi tentang pencegahan sembelit
2. Menganjurkan Klien Dan Keluarga Untuk
Meningkatkan Asupan Cairan O : px dan klg dapat menyebutkan kembali
3. Menganjurkan Klien Dan Keluarga Untuk faktor penyebab, cara mencegah sembelit
Mencatat Warna,Volume ,Frekuensi Dan dan mencatat pola BAB px
Konsistensi Tinja A: masalah teratasi
4. Menganjurkan Kien Untuk Diet Tinggi Serat.
5. Konsultasi Dengan Dokter Untuk Terapi P: Hentikan Intervensi dan follow up pada px
Selanjutnya dan keluarga untuk melakukan tindakan
yang telah didiskusikan bersama
07Mey 2018 Distres spiritual 1. Menggunakan komunikasi terapeutik untuk S: Px mengatakan akan mencoba sholat dg
membangun kepercayaan dan kepedulian duduk dan meminta bantuan klg untuk
empatik wudlu.
2. Mendorong klien untuk meninjau kehidupan
masa lalu dan fokus pada peristiwa dan O:
hubungan yang memberikan kekuatan 1. Px tampak tenang
spiritual dan dukungan. 2. Klg memahami bahwa px
3. Mendorong klien dan keluarga untuk membutuhkan bantuan untuk
perpartisipasi dalam kelompok keagamaan melaksanakan ibadah.
4. mengajarkan metode relaksasi dan meditasi 3. Px memahami teknik relaksasi atau
5. Anjurkan Klg untuk membantu aktivitas meditasi
sholat px (membantu wudlu dan menyiapkan
px untuk persiapan sholat) A: Masalah teratasi sebagian

P: Hentikan Intervensi dan follow up pada px


dan keluarga untuk melakukan tindakan
yang telah didiskusikan bersama
DAFTAR PUSTAKA

Achmanagara, A. 2007. Hubungan Faktor Internal dan Eksternal dengan


Keseimbangan Lansia di Desa Pamijen Sokaraja Banyumas. Depok:
Universitas Indonesia

Bandiyah, S. 2009. Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha


Medika

Berbudi, A. 2014. Core Stability and Balance Board Exercise better Improving
Balance Compared with Balance Board Exercise in Students Age 18-24
years with Less Physical Activities. Sport and Fitness Journal, vol. 2, no. 1:
p.134-149

Chandler, J.M. 2000. Balance and Falls in The Elderly: Issues In Evaluation and
Treatment dalam Guccione, A.A.; Geriatric Physical Therapy. Boston:
Mosby

Constantinedes, P. 1994. General Pathobiology. New York: Appleton and Lange

Farabi, A. 2007. Hubungan Tes “Timed Up and Go” dengan Frekuensi Jatuh
Pasien Lanjut Usia. Semarang: Universitas Diponegoro [Skripsi]

Guccione, A. 2001. Geriatric Physical Therapy. USA: Harcourt Health Sciences


Company, p. 280– 285 17.

Guyton, A. & Hall, J. 2008. Fisiologi Kedokteran. Singapore: Elsevier

Hyun, J. & Kim, N. 2014. The Effects of Balance Training and Ankle
Training on The Gait of Elderly People Who Have Fallen. PhysTherSci. 27:
p. 139-142

Irfan. 2010. Physionote. (diakses: 08 Mei 2018) Diunduh dari: http://


www.wordpress.com

Jowir, R. 2009. Latihan Keseimbangan. (diakses: 08 mei 2018) Diunduh dari:


http://seripayku.blogspot.com/2009/0 4/latihan-keseimbangan.html

Karcharnubarn, R. & Rees, P. 2009. Population Ageing and Healthy Life


Expectancy in Thailand. (diakses: 15 Januari 2015) Diunduh dari:
http://www.geog.leeds.ac.uk/fileadmi n/downloads/school/people/postgrads
/r.karcharnurbarn/Population_Ageing _and_Health_Expectancy_in_Thailan
d_draft_3_PHR.pdf

Kibler, W.B. 2006. The Role of Core Stability in Athletics Function. Sport Med,
36(3), pp.189-198
Kahle, N. 2009. The Effects of Core Stability Training on Balance Testing in
Young. The University of Toledo

Kloos, A.D. & Heiss, D.G. 2007. Exercise for Impaired Balance, dalam Kisner, C.
dan Colby, N. 2005, Therapeutic Exercise, Edisi kelima, Philadelpia, FA
Davis Company

Menkokesra. 2011. Human Development Index. (diakses: 09 Mei 2018) Diunduh


dari:http://datakesra.menkokesra.go.id/sites/default/files/pendidikan_file/h
uman_development_index_2011.pdf

Miller, C.A. 2004. Nursing for Wellness in Older Adults: Theory and Practice
(4th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins

Mauk, K.L. 2010. Gerontological nursing competencies for care (second ed.).
Sudbury: Janes and Barlett Publisher

Nugroho, W. 2000. Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta: EGC. p. 19-28, 34-


35, & 37

Nelson, R T. & Banndy, W.D. 2004. Eccentric Training and Static Stretching
Improve Hamstring Flexsibiliti of high School Males. Journal of Athletic

Neumann, D. 2000. Kinesiology of the Musculoskeletal System: Foundation for


Physical Rehabilitation. Mosby: USA

Pudjiastuti & Utomo, B. 2003. Fisioterapi pada Lansia. Jakarta: EGC

Setiabudhi. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai Aspek. Jakarta:


PT. Gramedia Pustaka Utama

Suadnyana, I.A.A. 2014. Core Stability Exercise Meningkatkan Keseimbangan


Dinamis Lanjut Usia di Banjar Bebengan, Desa Tangeb, Kecamatan
Mengwi, Kabupaten Badung. Denpasar: Universitas Udayana [Skripsi]

Squire, L., Berg, D., Bloom, F., Lac, S., Ghosh, A., & Spitzer, N. 2008.
Fundamental Neuroscience. Elsevier: USA

Satria, H. 2015. Pelatihan 12 Balance Exercise Lebih Meningkatkan


Keseimbangan Dinamis daripada Balance Strategy Exercise pada Lansia di
Banjar Bumi Shanti, Desa Dauh Puri Kelod, Kecamatan Denpasar Barat.
Denpasar : Universitas Udayana

Sibley, K. Beauchamp, M. Ooteghem, K. Straus, S. & Jaglal, S. 2015. Using the


System Framework for Postural Control to Analyze the Components of
Balance Evaluated in Standardized Balance Measures: A Scoping Review.
American Congress of Rehabilitation Medicine. 96: p. 122- 132
Training; 39(3):254-258. (diakses: 08 Mei 2018) Diunduh dari:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/arti cles/PMC522148

United Nations Population Division. 2002. World Population Prospects: The 2002
Revision. New York: United Nations

Yusuf, R.S. 2010. Laporan Pendahuluan Pengukuran Status Nutrisi pada Lansia,
sMasase Abdomen, Menghitung Bising Usus dan Diet Tinggi Serat.
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

WHO. 2012. Ageing. (diakses: 09 Mei 2018) Diunduh:


http://www.who.int/topics/ageing/en/
WHO. 2007. WHO Global Report on Falls Prevention in Older Age. Geneva:
WHO Press 10. Tenetti, M.E. 1992. Falls, Injuries Due to Falls, and The
Risk of Admission to Anursing Home. England: N.Engl.J.Med. p.337:1279-
1284
WHO. 2004. Global Database on Body Mass Index. (diakses: 08 Mei 2018)
Diunduh dari: http://apps.who.int/bmi/index.jsp?intr oPage=intro_3.html

Anda mungkin juga menyukai