Anda di halaman 1dari 7

Seulanga

dan Diana | Kombinasi Farmakoterapi dan Psikoterapi pada Pengobatan Episode Depresif Sedang dengan
Gejala Somatis

Kombinasi Farmakoterapi dan Psikoterapi Pada Pengobatan Episode Depresif


Sedang Dengan Gejala Somatis

Seulanga Rachmani, Diana Mayasari
Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak
Episode depresif merupakan diagnosis kejiwaan yang termasuk dalam kelompok diagnosis gangguan mood afektif. Kelainan
fundamental dari gangguan jiwa kelompok ini adalah adanya perubahan yang nyata pada suasana perasaan (mood) atau
afek menuju ke arah depresi yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketidakgairahan hidup, perasaan tidak berguna,
dan putus asa. Seorang wanita usia 24 tahun datang ke poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung dengan keluhan
utama merasa sedih yang berlebihan sejak tiga minggu yang lalu setelah dirinya didiagnosis menderita kista folikuler oleh
dokter spesialis kandungan. Pasien telah mendapatkan penjelasan bahwa kista tersebut dapat sembuh sendiri apabila
pasien memiliki anak lagi, namun pasien tetap merasa khawatir dan tidak bisa melawan rasa sedihnya ketika mengingat
kondisinya tersebut. Pasien juga menjadi malas bekerja dan beraktivitas, lebih sering di rumah, dan mengalami gangguan
tidur, sakit kepala, serta pegal-pegal pada tubuhnya. Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan klinis sedangkan
pada pemeriksaan psikiatri didapatkan gangguan berupa mood hipotimia dengan afek yang sempit dan serasi, tidak
didapatkan gangguan isi pikir dan tidak didapatkan gangguan persepsi. Pasien didiagnosis dengan aksis I: (F.32.11) episode
depresif sedang dengan gejala somatik, aksis II: tidak ada diagnosis, aksis III: tidak ada diagnosis, aksis IV: masalah dengan
psikososial, dan aksis V: Global Assestment of Functioning (GAF) score 70-61 (pada saat pemeriksaan). Pasien mendapatkan
terapi psikofarmaka dengan obat antidepresan golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) Fluoxetin 1x10 mg
dan obat antiansietas golongan benzoiazepine Merlopam 2x5 mg yang dikombinasikan dengan psikoterapi suportif
Cognitive Behavioural Therapy (CBT). Kombinasi pemberian obat tersebut memiliki efek samping yang minimal dan tingkat
keberhasilan yang lebih baik. Episode depresif pada pasien ini disebabkan oleh kekhawatiran pasien yang berlebihan
terhadap penyakit kista folikel yang dideritanya.

Kata kunci: afektif, depresif, mood, psikoterapi, somatik, wanita

Combination Of Pharmacotherapy And Psychotherapy On The Treatment Of
Moderate Depressive Episode With Somatic Symptoms

Abstract
Depressive episode is a psychiatric Diagnoses which is included in the mood affective group disorder. The fundamental
abnormality of this group disorders is the presence of a marked changing in mood or affect towards depression state which
characterized by glooming, lethargy, lack of passion, the feeling of worthless, and hopeless. A 24 years old woman, came to
polyclinic psychiatry hospital Provinsi Lampung with a chief complaint of having excessive sad feeling since three weeks ago
after she was diagnosed with follicular cysts by an obstetrician. The patient already had the explanation that these cysts is a
self limiting desease if she have more children, but she is still worried and can’t fight her sadness when she remembers her
disease. She now feel lazy to work, more often stay at home, she also have sleep problem, feel headache, and sore on her
body. Physical examination found no clinical abnormalities while psychiatric examination found abnormities in mood as
hipotimia with harmonious narrow affect, without thought disorder and persepsion disorder. Patient was diagnosed with
axis I: (F.32.11) moderate depressive episode with somatic symptoms, axis II: no diagnosis, axis III: no diagnosis, axis IV:
problems with psychosocial, and Axis V: Global Assessment of Functioning (GAF) score of 70-61 (at present time). Patient
was treated with pharmacotherapy antidepression group Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) fluoxetine 1x10 mg
and antianxietas group benzoiazepine Merlopam 2x5 mg which combined with psychotherapy Cognitive Behavioural
Therapy (CBT). The combination of these drugs has minimal side effects and better success rates. The depressive episodes
in this patient is caused by her excessive fears toward her follicular cysts disease.

Keywords: affective, depressive, mood, psychotherapy, somatic, woman

Korespondensi : Seulanga Rachmani, Jl. Imam Bonjol Gg. Madani No.26 Kemiling Bandar lampung, HP 082181929668, email
seulanga.rachmani112@gmail.com


Pendahuluan adalah adanya perubahan yang nyata pada
Episode depresif merupakan diagnosis suasana perasaan (mood) atau afek menuju ke
kejiwaan yang termasuk dalam kelompok arah depresi.1
diagnosis gangguan suasana perasaan World Health Organization (WHO), telah
(gangguan mood afektif). Kelainan mendefinisikan depresi sebagai suatu bentuk
fundamental dari gangguan jiwa kelompok ini gangguan mental yang ditandai dengan adanya


J Medula Unila | Volume 7 | Nomor 2 | April 2017 | 133
Seulanga dan Diana | Kombinasi Farmakoterapi dan Psikoterapi pada Pengobatan Episode Depresif Sedang dengan
Gejala Somatis

beberapa gejala yang meliputi: penurunan antianxietas. Michael Fredman menyatakan


mood, kehilangan minat terhadap sesuatu, dan bahwa kombinasi antara psikofarmaka dan
perasaan bersalah, yang disertai dengan psikoterapi terbukti dapat meningkatkan
adanya gangguan pada pola tidur, penurunan efektifitas terapi.6
pada nafsu makan, kehilangan energy, atau
penurunan konsentrasi.2 WHO juga Kasus
menyatakan bahwa depresi merupakan Seorang wanita usia 24 tahun datang
gangguan mental yang serius yang ditandai berobat ke poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi
dengan perasaan sedih dan kekhawatiran.3 Lampung ditemani oleh suami dan orang
Menurut WHO terdapat lebih dari 300 tuanya dengan keluhan utama merasa sedih
juta orang di dunia dari segala umur yang yang berlebihan sejak tiga minggu yang lalu.
menderita depresi.4 Riset Kesehatan Dasar Pada anamnesis didapatkan pasien merasa
tahun 2013 menyatakan prevalensi gangguan sedih setelah dirinya didiagnosis menderita
mental emosional termasuk depresi pada kista folikel oleh seorang dokter spesialis
penduduk Indonesia adalah sekitar 6,0%, dan kandungan tiga bulan sebelum ke RS Jiwa
prevalensi ganguan mental emosional di pasien telah mendapatkan penjelasan oleh
provinsi Lampung sendiri adalah sekitar 1,2%.5 dokter kandungannya bahwa kista tersebut
Pada perempuan gangguan depresi dapat dapat sembuh dengan sendirinya apabila ia
terjadi dengan prevalensi sekitar 25% dan pada memiliki anak lagi, namun ia tidak dapat
pria dapat mencapai 15% dalam seumur melawan rasa sedih ketika mengingat
hidup.1 World Health Organization (WHO) kondisinya tersebut mungkin membuat ia tidak
memprediksi pada tahun 2020 nanti depresi bisa mempunyai anak lagi semejak 2 bulan
akan menjadi salah satu penyakit mental yang terakhir.
paling banyak dialami oleh masyarakat di Sekitar tiga minggu yang lalu pasien
dunia.4 telah pergi ke tiga dokter spesialis kandungan
Depresi timbul sebagai akibat interaksi yang berbeda, dan ketiganya menyatakan
yang kompleks dari faktor-faktor sosial, bahwa pada dirinya tidak terdapat kelainan
psikologis dan biologis. Orang-orang yang berupa kista folikel, namun ia masih tetap
mengalami banyak permasalahan dalam merasa sedih dengan penyakit yang ia derita.
kehidupan seperti pengangguran, kematian, Sejak saat itu juga ia lebih sering berdiam diri di
dan trauma psikologis lebih mungkin untuk dalam rumah. Ia merasa nafsu makannya
mengalami depresi. Selain hal tersebut, menurun, sulit untuk memulai tidur, dan pada
terdapat juga hubungan timbal balik antara saat tidur sering terbangun di malam hari
depresi dan kesehatan fisik, misalnya penyakit secara tiba-tiba, sehingga kualitas tidurnya pun
kardiovaskular yang dapat menyebabkan menjadi terganggu dan sering merasakan sakit
depresi dan begitu pula sebaliknya.4 kepala serta pegal pada tubuhnya. Ia juga
Gangguan depresi pada umumnya akan menjadi malas bekerja dan melakukan kegiatan
menghilang dalam beberapa hari namun dapat sehari-hari, sehingga pekerjaan rumah tangga
juga berkelanjutan dan mempengaruhi lebih banyak dikerjakan oleh saudaranya.
aktivitas sehari-hari. Pada keadaan ini, depresi Pasien tidak pernah mengalami keluhan
tersebut telah menjadi gangguan kejiwaan yang sama sebelumnya. Ia tidak memiliki
yang berpengaruh terhadap kehidupan, dan riwayat penyakit hipertensi, diabetes melitus,
hampir selalu menghasilkan hendaya pada trauma kepala sebelumnya, kejang saat kecil,
fungsi interpersonal, sosial dan pekerjaan. asma maupun alergi obat. Ia tidak pernah
Dampak depresi bagi kehidupan pasien lebih mengkonsumsi rokok, narkoba, minuman keras
sering berdiam diri di rumah dan merasa nafsu dan sebagainya, namun pasien mengaku jarang
makan menurun dan mengganggu aktifitas berolahraga.
pasien.2 Pasien merupakan anak kedua dari tiga
Ada banyak terapi yang dapat digunakan saudara. Sejak lahir pasien tinggal bersama
untuk mengatasi depresi yaitu melalui orang tua dan dua saudaranya. Kedua orang
psikoterapi menggunakan terapi aktivasi tua memberi perhatian yang sama kepada
perilaku, terapi perilaku kognitif, dan terapi setiap anaknya. Pasien memiliki hubungan
interpersonal, atau menggunakan psiko- yang baik dengan orang tua, dan saudaranya.
farmaka dengan obat antidepresan dan obat

J Medula Unila | Volume 7 | Nomor 2 | April 2017 | 134
Seulanga dan Diana | Kombinasi Farmakoterapi dan Psikoterapi pada Pengobatan Episode Depresif Sedang dengan
Gejala Somatis

Menurut orang tua pasien lahir normal, lebih banyak bersedih dan menundukkan
cukup bulan, dibantu dokter langsung kepalanya sehingga disimpulkan bahwa mood
menangis, dan tidak ada kecacatan waktu lahir. pasien adalah hipotimia dengan afek yang
Pasien mendapat air susu ibu (ASI) selama dua sempit. Pada pemeriksaan Isi pikir pasien
tahun, riwayat imunisasi lengkap dan tidak terdapat adanya ide kekhawatiran dan tidak
memiliki gangguan dalam pertumbuhan dan didapatkan adanya waham. Bentuk pikir
perkembangan. Semasa kanak-kanak hingga realistik, arus pikir koheren, keserasian baik,
remaja pasien mempunyai banyak teman, dan produktivitas baik, kontinuitas baik, dan tidak
tergolong anak yang aktif baik di lingkungan didapatkan hendaya bahasa. Pasien juga tidak
sekitar rumah maupun di lingkungan sekolah. mengalami halusinasi maupun gangguan
Pasien menempuh pendidikan hingga S-1 dan persepsi lainnya. Penilaian fungsi kognitif
ia mempunyai keinginan untuk melanjutkan menunjukkan bahwa kecerdasan pasien baik,
pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. konsentrasi kurang, orientasi (waktu, tempat
Pasien beragama Islam, orang tua telah dan orang) baik. Daya ingat jangka panjang,
mengajarkan pasien, sholat, mengaji, dan ilmu jangka menengah, jangka pendek, dan jangka
tentang agama Islam sejak pasien masih kecil, segera juga baik. Penilaian pasien dalam norma
dan selama ini ia juga taat beribadah. sosial dan uji daya nilai tidak terganggu. Dalam
Pasien sudah menikah selama kurang penilaian diri, pasien merasa dirinya sakit,
lebih tiga tahun dengan orang yang ia pilih. Ia mengetahui penyebabnya namun tidak dapat
mempunyai satu orang anak laki-laki berusia menerapkan dalam praktiknya.
dua tahun. Sejak 2 tahun yang lalu mereka Diagnosis pada pasien ini dibuat secara
sangat ingin mempunyai anak perempuan, multiaksial dengan diagnosis pada aksis I:
namun hingga saat ini belum mendapatkannya. Episode depresif sedang dengan gejala somatik
Suaminya selalu menyindir ingin memiliki anak berupa cephalgia dan myalgia (F.32.11), pada
perempuan. Pasien selalu merasa sedih setiap aksis II: tidak ada diagnosis, aksis III: tidak ada
suaminya menyindir ingin memiliki anak diagnosis, aksis IV: masalah dengan psikososial,
perempuan. Kebutuhan keluarga sehari-hari aksis V: Global Assestment of Functioning (GAF)
dipenuhi bersama antara keduanya. Pasien 70 - 61 (pada saat dilakukan pemeriksaan).
bekerja sebagai guru SD dan ibu rumah tangga. Pasien mendapatkan terapi psikofarmaka
Pasien dikenal di lingkungan rumah dan dengan antidepresan golongan Selective
lingkungan pekerjaannya sebagai sosok yang Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) (Fluoxetin 1
ceria, dan tidak ada konflik antara dirinya x 10 mg) dan obat antiansietas golongan
dengan suaminya maupun dengan teman benzoiazepine (Merlopam 2x5 mg) yang
kerjanya. Saat ini pasien, suami, dan anaknya dikombinasikan dengan psikoterapi suportif
tinggal satu rumah bersama dengan kedua Cognitive-Behavioural Therapy (CBT).
orang tua dan dua saudaranya, karena kondisi
yang dialaminya sejak tiga minggu terakhir ini. Pembahasan
Pada pemeriksaan fisik didapatkan Menurut Pedoman Penggolongan Dan
keadaan umum pasien baik, kesadaran baik, Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ-III) gangguan
tekanan darah pasien 110/80 mmHg, frekuensi jiwa ditandai dengan adanya gejala klinis yang
nadi 88 x/menit, frekuensi napas 19 x/menit, bermakna, dapat berupa suatu sindrom atau
suhu 36,7 oC. Status generalis dan status pola perilaku atau pola psikologik yang
neurologis pasien berada dalam batas normal. menimbulkan distress atau penderitaan pada
Hasil pemeriksaan laboratorium pasien yaitu seseorang, antara lain dapat berupa: rasa
Hb: 12 gr/dl, Ht: 36%, leukosit: 5000/mm3, nyeri, rasa tidak nyaman, rasa tidak tenteram,
Trombosit: 210.000/mm3, eritrosit: 4,7 juta/mm3 dan disfungsi organ tubuh, serta dapat
Pada pemeriksaan status mental, menimbulkan kecacatan atau keterbatasan
didapatkan pasien berada dalam kondisi sesorang dalam melakukan aktivitas kehidupan
composmentis, penampilan rapi, sikap sehari-hari.1 Pada pasien ini ditemukan adanya
kooperatif. Perilaku tenang, namun kontak gangguan pada suasana perasaan yang
mata dengan pemeriksa kurang. Pasien menimbulkan distress dan kecacatan di dalam
berbicara spontan, lancar, intonasi sedang, kehidupan sehari-hari dan kehidupan sosialnya,
volume cukup, kualitas cukup, artikulasi jelas, contoh pada pasien ini mengeluhkan badan
kuantitas cukup. Selama wawancara pasien terasa pegal-pegal dan malas melakukan

J Medula Unila | Volume 7 | Nomor 2 | April 2017 | 135
Seulanga dan Diana | Kombinasi Farmakoterapi dan Psikoterapi pada Pengobatan Episode Depresif Sedang dengan
Gejala Somatis

aktifitas sehari-hari sehingga dapat zat-zat psikoaktif sehingga diagnosis (F.0)


disimpulkan bahwa pasien ini mengalami gangguan mental organik dan juga (F.1)
gangguan jiwa. penggunaan zat-zat psikoaktif menjadi dapat
Di dalam PPDGJ-III dijelaskan bahwa disingkirkan. Pada pemeriksaan status mental
gangguan suasana perasaan (mood/afektif) pasien tidak didapatkan adanya gejala psikotik,
merupakan kelompok penyakit yang memiliki waham maupun halusinasi sehingga diagnosis
kelainan fundamental pada perubahan suasana (F.2) skizofrenia juga dapat disingkirkan. Pada
perasaan (mood) atau afek, biasanya kearah pasien didapatkan adanya gangguan afektif
depresi, atau ke arah elasi (suasana perasaan yaitu mood hipotimia, afek sempit dengan
yang meningkat). Depresi (F32) adalah kesesuaian yang serasi sehingga diagnosis (F.3)
gangguan afektif yang ditandai dengan suasana gangguan mood [afektif] dapat dimasukkan.
perasaan yang murung, hilangnya minat dan Pada pasien juga didapatkan keluhan berupa
kegembiraan, serta berkurangnya energi untuk perasaan sedih, menyendiri, mudah lelah dan
aktivitas sehari-hari.1 malas bekerja, yang baru pertama kali
PPDGJ-III telah mengelompokkan gejala dirasakan pasien sejak tiga minggu lalu
depresi menjadi gejala utama dan gejala sehingga diagnosis pasien adalah (F.32) episode
lainnya. Gejala utama terdiri dari: (1) afek depresif. Pada pasien didapatkan dua gejala
depresif, (2) kehilangan minat (anhedonia), dan utama depresi yang terdiri dari: (1) kehilangan
(3) kehilangan energi yang ditandai dengan minat dan kegembiraan, (2) berkurangnya
cepat lelah. Sementara gejala lainnya adalah: energi yang menuju keadaan mudah lelah dan
(1) daya konsentrasi atau perhatian berkurang, menurunnya aktivitas, dan tiga gejala lainnya
(2) harga diri maupun kepercayaan diri yang yang terdiri dari, (1) konsentrasi dan perhatian
berkurang, (3) rasa bersalah atau rasa tidak berkurang, (2) harga diri maupun percaya diri
berguna, (4) pandangan suram serta pesimistis yang berkurang, (3) tidur terganggu, disertai
tentang masa depan, (5) ide atau perbuatan dengan gejala somatis berupa sakit kepala dan
membahayakan diri atau bunuh diri, (6) tidur pegal pada tubuh, sehingga diagnosis klinis
terganggu, (7) nafsu makan berkurang.1 aksis I yang tepat adalah (F.32.11) episode
Berdasarkan tingkatannya, depresi dapat depresif sedang dengan gejala somatik.
dikelompokkan menjadi ringan, sedang, dan Pada anamnesa terhadap riwayat
berat sesuai dengan banyaknya dan beratnya kehidupan pribadi yang dialami pasien tidak
gejala serta dampaknya terhadap fungsi didapatkan adanya gangguan tumbuh kembang
kehidupan. Untuk dapat dikategorikan depresi pada usia kanak-kanak dan remaja dan pasien
sedang, sekurang-kurangnya harus ada dua dapat menyelesaikan pendidikan SD hingga
dari tiga gejala utama depresi ditambah sarjana dengan baik. Penilaian fungsi kognitif
dengan tiga atau empat dari gejala lainnya, dan pasien menunjukkan bahwa kecerdasan dan
telah berlangsung minimal dua minggu baik, namun daya konsentrasi kurang. Daya
lamanya serta menghadapi kesulitan yang ingat jangka panjang, jangka menengah, jangka
nyata untuk meneruskan kegiatan sehari-hari pendek, dan jangka segera juga baik sehingga
dan kegiatan sosialnya.1 diagnosis pada aksis II adalah tidak ada
Proses diagnosis gangguan jiwa diagnosis.
berdasarkan PPDGJ-III ditegakkan secara Pada anamnesa terhadap penyakit fisik
multiaksial dengan menggunakan lima aksis pasien ditemukan adanya gejala sakit kepala
yaitu aksis I adalah gangguan klinis dan kondisi dan pegal pada tubuh, sementara pemeriksaan
lain yang menjadi fokus perhatian klinis, aksis II fisik pada pasien tidak menemukan adanya
adalah gangguan kepribaian dan retardasi penyakit fisik, sehingga diagnosis kondisi medis
mental, aksis III adalah kondisi medik umum, pada aksis III adalah tidak ada diagnosis.
aksis IV adalah masalah pada psikososial dan Pada anamnesa terhadap stresor psiko-
lingkungan, dan aksis V adalah penilaian fungsi sosial didapatkan bahwa pasien sering merasa
secara global.1 sedih setelah dirinya didiagnosis menderita
Berdasarkan data yang diperoleh melalui kista folikel oleh dokter spesialis kandungan.
anamnesis, pemeriksaan fisik dan rekam medik Sehingga pasien khawatir tidak dapat memiliki
diketahui bahwa pasien tidak mempunyai anak lagi. Meskipun telah mendapatkan
riwayat demam tinggi, riwayat kejang, riwayat penjelasan bahwa kista tersebut dapat sembuh
kelainan organik, maupun riwayat pemakaian sendiri, namun pasien tetap merasa khawatir

J Medula Unila | Volume 7 | Nomor 2 | April 2017 | 136
Seulanga dan Diana | Kombinasi Farmakoterapi dan Psikoterapi pada Pengobatan Episode Depresif Sedang dengan
Gejala Somatis

dan sedih hingga menangis ketika mengingat dengan ketidak-mampuan untuk mewujudkan
kondisinya tersebut sehingga ddiagnosis pada hal tersebut.7 Aaron Beck menyatakan trias
aksis IV adalah stresor masalah dengan kognitif depresi setidaknya mencakup tiga hal
psikososial. yaitu persepsi negatif terhadap diri sendiri,
Dengan menggunakan skala Global persepsi negatif terhadap lingkungan yakni
Assessment of Functioning (GAF) penilaian adanya kecenderungan menganggap dunia
terhadap kemampuan pasien untuk berfungsi bermusuhan dengan dirinya, dan persepsi
dalam kehidupannya pada saat dilakukan negatif tentang masa depan yakni bayangan
wawancara psikiatri disimpulkan bahwa pasien tentang penderitaan dan kegagalan.7
mengalami beberapa gejala depresi yang Terdapat sekitar 97% pasien yang
sifatnya sedang dan menetap, dengan mengalami depresi mengeluhkan tentang
disabilitas dalam fungsi yang masih bersifat adanya penurunan energi dimana mereka
ringan. Sehingga secara umum masih tergolong merasa mengalami kesulitan dalam
baik, maka pada aksis V skor GAF pasien pada menyelesaikan tugas, mengalami keterbatasan
saat dilakukan pemeriksaan adalah 70 - 61. dalam melakukan aktvitas, pekerjaan dan
Di dalam textbook of clinical psychiatry mengalami penurunan motivasi untuk terlibat
disebutkan bahwa depresi lebih sering terjadi dalam kegiatan baru.7 Selain itu, sekitar 80%
pada perempuan dengan prevalensi hampir pasien depresi juga mengeluhkan masalah
dua kali lipat lebih besar dibandingkan laki-laki. pada tidur khususnya terjaga pada dini hari
Hal ini dapat terjadi mungkin disebabkan oleh (terminal insomnia) dan sering terbangun pada
perbedaan hormon dan perbedaan stressor malam hari karena memikirkan masalah yang
psikososial antara perempuan dan laki-laki, dihadapi.7 Pada kebanyakan pasien juga dapat
pengaruh melahirkan, serta model perilaku terjadi penurunan nafsu makan, serta
yang dipelajari tentang ketidakberdayaan.1 penurunan berat badan.7 Sekitar 33% pasien
Depresi lebih sering terjadi rata-rata pada usia juga mungkin mengatakan perasaannya yang
sekitar 40 tahun-an namun juga dapat timbul sedih, tidak punya harapan, dicampakkan atau
pada masa anak dewasa muda atau lanjut tidak berharga dan biasanya terdapat pikiran
usia.2 untuk melakukan bunuh diri, dan sekitar 10-
Kaplan & Sadock menyebut setidaknya 15% diantaranya memang melakukan bunuh
ada lima hal yang menjadi penyebab utama diri.7 Ada pula pasien depresi yang tidak
depresi yang terdiri dari faktor biologis yang mengakui dan tidak menyadari bahwa ia
berupa abnormalitas metabolit amin biogenik sedang mengalami depresi karena tidak
seperti 5-hidroksiindolasetat, asam mengeluh tentang adanya gangguan mood
homovanilat (HVA) dan 3-metoksi-4-hidroksi meskipun secara jelas mereka telah menarik
fenilglikol (MHPG) di dalam darah, urine dan diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang
cairan serebrospinalis. Faktor neurokimia yang sebelumnya dianggap menarik bagi diri
berupa ikatan glutamat dan glisin pada mereka.7 Hal ini sesuai dengan kondisi pasien
reseptor N-Metil-D-Aspartat (NMDA) di daerah yang menjadi malas bekerja dan melakukan
hipokampus yang berlebihan pada saat kegiatan sehari-hari, sulit untuk memulai tidur,
mengalami stress kronis. Faktor genetik berupa dan pada saat tidur sering terbangun di malam
pola pewarisan genetik yang kompleks di hari secara tiba-tiba, dan juga merasa nafsu
dalam keluarga. Faktor psikososial berupa makannya menurun.
peristiwa hidup yang penuh tekanan seperti Pasien ini mendapat terapi psikofarmaka
kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun, dengan menggunakan antidepresan golongan
kematian pasangan, PHK atau keluar dari Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)
pekerjaan, dan faktor kepribadian dimana Fluoxetin 1x10 mg. Pemberian obat
orang-orang dengan gangguan kepribaian antidepresan dibandingkan dengan placebo
seperti obsesif kompulsif, histrionik dan menunjukkan peningkatan dan respon klinis
borderline cenderung akan lebih berisiko untuk yang lebih besar untuk terjadinya remisi
mengalami depresi.2 dengan [NNT]= 9.8 Pengobatan gangguan
Edward Bibring menyatakan bahwa depresi dengan menggunakan antidepresan
depresi adalah fenomena yang terjadi ketika telah terbukti sebagai terapi depresi yang
seseorang menyadari adanya perbedaan yang efektif dan dapat menurunkan risiko bunuh diri
nyata antara keinginan dan harapan yang tinggi terutama pada lansia.9 Fluoxetin merupakan

J Medula Unila | Volume 7 | Nomor 2 | April 2017 | 137
Seulanga dan Diana | Kombinasi Farmakoterapi dan Psikoterapi pada Pengobatan Episode Depresif Sedang dengan
Gejala Somatis

obat antidepresi yang relatif aman digunakan Pada pasien ini, CBT dilakukan dalam
karena obat ini memiliki efek kardiologik dan bentuk konseling dengan menitikberatkan
efek samping yang minimal dibandingkan obat pada pembenahan kognitif dan behavioural
antidepresi dari golongan lainnya.10 Spektrum yang menyimpang. Konseling dijadwalkan
antidepresi obat ini juga cukup luas, dengan sebanyak 6 sesi yang dilakukan setiap satu
gejala putus obat yang sangat minimal, serta minggu sekali dengan durasi 1 jam untuk setiap
lethal dose yang tinggi (>6.000 mg) sehingga satu sesi nya. Aspek kognitif yang dibenahi
relatif lebih aman untuk pasien yang antara lain mengubah cara pikir, kepercayaan,
melakukan perawatan jalan.10 sikap, asumsi, dan imajinasi pasien. Sedangkan
Selain antidepresan pasien ini juga aspek behavioral yang dibenahi antara lain
mendapat terapi psikofarmaka dengan mengubah hubungan yang salah antara situasi
menggunakan obat antiansietas golongan permasalahan dengan kebiasaan mereaksi
benzoiazepine Merlopam 2x5 mg. Telah diteliti permasalahan, mengubah kebiasaan perilaku,
bahwa semua antidepresan yang ada saat ini memberikan ketenangan pada pikiran dan
membutuhkan waktu tiga sampai empat tubuh, sehingga pasien merasa lebih baik dan
minggu pengobatan untuk dapat memberikan dapat berpikir dengan lebih jelas. Kombinasi
pengaruh terapeutik yang bermakna, walaupun farmakoterapi antidepresan dan psikoterapi
ada beberapa obat bisa saja dapat mulai CBT menunjukkan respon klinis yang lebih baik
menunjukkan pengaruhnya lebih dini.11 Oleh dengan NNT= 6,58. Hal Ini berarti dengan
karena itu antidepresan dianjurkan menggabungkan antidepresan dengan CBT
pemberiannya bersamaan dengan obat akan meningkatkan respon perbaikan untuk
benzoiazepin selama dua minggu sebagai satu dari setiap enam pasien.13
terapi simptomatis.11 Kecuali terjadi efek
samping yang tidak diinginkan, terapi Simpulan
antidepresan harus dinaikkan dosisnya sampai Pasien wanita 24 tahun dengan keluhan
kadar maksimum yang telah direkomendasikan utama merasa sedih yang berlebihan sejak tiga
atau dipertahankan kadar tersebut setidaknya minggu yang lalu didiagnosis (F.32.11) episode
selama empat atau lima minggu sebelum depresi sedang dengan gejala somatik
percobaan obat dianggap tidak berhasil.11 mendapatkan terapi secara rawat jalan dengan
Apabila dianggap berhasil terapi antidepresan menggunakan kombinasi farmakoterapi dan
harus dipertahankan setidaknya selama 6 psikoterapi. Pasien mendapat terapi fluoxetin
bulan atau selama episode depresi 1x10 mg dan merlopam 2x5 mg selama dua
sebelumnya, bergantung mana yang lebih minggu, dan dianjurkan untuk kembali kontrol
lama.11 Oleh karena itu pasien dianjurkan ke poliklinik setelah 2 minggu kemudian untuk
untuk kembali kontrol ke poliklinik Rumah Sakit mendapatkan penyesuaian dosis, penilaian
Jiwa setelah dua minggu kemudian untuk ulang terhadap status mental, dan untuk
mendapatkan penyesuaian dosis obat. memulai konseling CBT hingga 6 minggu ke
Ada banyak penelitian yang telah dilakukan depan. Terapi psikoterapi menggunakan terapi
menyatakan bahwa kombinasi farmakoterapi aktivasi perilaku, terapi perilaku kognitif, dan
dan psikoterapi adalah terapi yang paling terapi interpersonal pada pasien dengan cara
efektif untuk mengatasi gangguan depresi memberitahu keluarga agar selalu dapat
terutama depresi sedang hingga berat.12 Tiga megawasi dan mendukung perubahan pada
jenis psikoterapi jangka pendek yang umum pasien sehingga pasien dapat sembuh kembali.
digunakan yaitu terapi kognitif, terapi Secara keseluruhan prognosis adalah bonam
interpersonal, dan terapi perilaku. Namun karena keluarga memberikan motivasi dan
secara keseluruhan, hanya Cognitive- dukungan yang kuat untuk kesembuhan pasien
Behavioural Therapy (CBT) atau terapi perilaku- yang ditunjukkan dengan komitmen keluarga
kognitif yang ianggap sebagai psikoterapi yang untuk memperhatikan dan mengajak pasien
paling efektif untuk mengatasi depresi, karena untuk rutin berobat.
CBT adalah psikoterapi terstruktur yang
mengenali bahwa cara manusia berpikir Daftar Pustaka
(cognition) dan cara manusia dalam bertindak 1. Maslim R. Pedoman penggolongan dan
(behavioural) akan dapat mempengaruhi cara diagnosis gangguan jiwa di Indonesia. Edisi
manusia merasakan.12 ke-3. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa


J Medula Unila | Volume 7 | Nomor 2 | April 2017 | 138
Seulanga dan Diana | Kombinasi Farmakoterapi dan Psikoterapi pada Pengobatan Episode Depresif Sedang dengan
Gejala Somatis

Departemen Kesehatan RI; 2004. Compared with Placebo for Depression in


2. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Primary Care. Am Fam Physician. 2010. 1;
Concise Textbook of Clinical Psychiatry. 82(1):42.
Edisi ke-3. Philadelphia: Lippincott 9. Barak Y, Olmer A, Aizenberg D.
Williams & Wilkins; 2008. Antidepressants reduce risk of suicide
3. Maramis WF, Maramis AA. Catatan ilmu among elderly depressed patients.
kedokteran jiwa. Edisi ke-2. Surabaya: Neuropsychopharmacology. 2006. 31:178-
Airlangga University Press; 2009. 81.
4. World Health Organization [internet]. 10. Devanand DP. Fluoxetine treatment of
Geneva: World Health Organization; patients with depression and cognitive
Diperbarui Februari 2017 [diakses tanggal impair. Int J Psychiatry. 2003. 18 (2):123-
27 Februari 2017]. Tersedia dari 30.
http://www.who.int/mediacentre/factshe 11. Roose SP, Sackeim HA, Krishnan KR,
ets/fs369/en/ Pollock BG, Alexopoulos G, Lavretsky H, et
5. Badan Penelitian dan Pengembangan al. Antidepressant pharmacotherapy in
Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar 2013. the treatment of depression in the very
Indonesia: Kementrian Kesehatan RI; 2013 old: A randomized, placebo-controlled
6. Friedman MA Detweiler JB, Leventhal HE, trial. Am J Psychiatry. 2004; 161(11):2050-
Home R, Keitner GI dan Miller IW, 59.
Combined Psychotherapy and Pharmaco- 12. Arean PA, Cook BL. Psychotherapy and
therapy for the Treatment of Major combined psychotherapy/pharmaco-
Depressive Disorder. J Clin Psychology. therapy for life depression. Biol Psychiatry.
2004. 11:47–68. 2002; 52(3):293-03.
7. Ismail R. Siste K. Gangguan Depresi. 13. Driessen E, Hollon S. Cognitive Behavioral
Dalam: Elvira S, Hadiskanto G, editor. Buku Therapy for Mood Disorders: Efficacy,
Ajar Psikiatri. Jakarta: FKUI; 2010. hlm. Moderators and Meiators. Psychiatr Clin
265-79, 209-19 North Am. 2010 ; 33(3): 537–55.
8. Blake JG. Effectiveness of Antidepressants


J Medula Unila | Volume 7 | Nomor 2 | April 2017 | 139