Anda di halaman 1dari 10

Doa Lamaran Pernikahan

‫الر ِحي ِْم‬


َّ ‫الر ْحمٰ ِن‬
َّ ِ‫ِب ْس ِم هللا‬
Bismillahirrahmanirrahim

ُ‫ئ َم ِز ْيدَه‬ ُ ِ‫ب ْالعَالَ ِميْنَ َح ْمدًايُ َوافِى نِعَ َمهُ َويُ َكاف‬ ِ ِّ ‫ا َ ْل َح ْمد ِ ََُّلِلِ َر‬
َ ‫س ْل‬
‫طانِك‬ ُ ‫يَا َربَّنَا لَ َك ْال َح ْمدُ َك َما يَ ْنبَغ ْى ِل َجالَ ِل ِو ْج ِه َك َو َع ِظي ِْم‬
َ ‫علَى اَ ِل‬
‫س ِيِّ ِدنَا ُم َح َّم ٍد‬ َ ‫س ِلِّ ْم‬
َ ‫علَى‬
َ ‫س ِيِّ ِدنَا ُم َح َّم ٍد َو‬ َ ‫اَللَّ ُه َّم‬
َ ‫ص ِِّل َو‬
Allahumma ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui ...

Segala puji dan syukur dilimpahkan kepadaMu, yang dengan izin dan ridhaMu hari ini kami dapat menghadiri acara peresmian penerimaan lamaran antara

ananda .................................... dan ................................

Allahumma ya Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang...

Hanya dengan kodrat dan iradatMu, segala sesuatu adalah atas izinMu, maka Engkau terpautkan kedua hati insan yang berlainan jenis, yang InsyaAllah hari ini

diresmikan dengan disaksikan kerabat keluarga masing-masing dalam satu ikatan, agar lebih saling mengenal dan memantapkan landasan kasih sayang yang

ikhlas, dengan saling mengisi kekurangan dan kelebihan dari masing-masing pihak, dalam mewujudkan cita-cita bersama dalam ikatan pernikahan. Dalam kaitan

inilah kami bermohon kehadirat-Mu bimbingan dan ridha-Mu menaungi niat keduanya, dengan selalu memperoleh rahmat dan hidayah-Mu agar pilihan yang

didambakannya dapat terpatri dengan khidmat.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun...

Kami adalah insan yang lemah dengan kesalahan dan kekeliruan yang kami perbuat, kiranya Engkau berkenan mengampuninya. Sesungguhnya Engkau Maha

Pengampun dan kabulkanlah do’a kami.

‫س ِمي ُع العَ ِلي ُم‬


َّ ‫ت ال‬ َ ‫َربَّنَا تَقَب َّْل ِمنَّا ِإنَّ َك أَ ْن‬
‫الر ِحي ُم‬
َّ ‫اب‬ ُ ‫ت الت َّ َّو‬ َ ‫علَ ْينَا ِإنَّ َك أَ ْن‬
َ ْ‫َوتُب‬
ِ َّ‫اب الن‬
‫ار‬ َ ‫سنَةً َوقِنَا‬
َ َ‫عذ‬ ِ ‫سنَةً َوفِي‬
َ ‫اآلخ َرةِ َح‬ َ ‫َربَّنَا آتِنَا فِي الدُّ ْن َيا َح‬
ُ‫ َو ْال َح ْمد‬. َ‫س ِلين‬
َ ‫علَى ْال ُم ْر‬ َ ‫ َو‬. َ‫صفُون‬
َ ‫سال ٌم‬ َ ِ‫ب ْال ِع َّزة‬
ِ ‫ع َّما َي‬ ِ ِّ ‫س ْب َحانَ َر ِب َِّك َر‬ ُ
َ‫ب ْال َعالَ ِمين‬
ِ ِّ ‫ِ ََّلِلِ َر‬
Amin ya Rabbal ’Alamin.

Do’a Lamaran (Khitbah)

Lamaran atau khitbah adalah suatu acara sebelum pernikahan yang hukumnya
sunnah. Tujuannya adalah untuk menunjukkan keseriusan seorang calon suami
pada calon istrinya, dan supaya lebih saling mengenal antara kedua calon pengantin
dan antara keluarga kedua belah pihak.
Bagi orang yang mengikuti acara lamaran, sudah seharusnya mendo'akan kedua
calon pengantin yang telah sama-sama sepakat dan serius untuk melangsungkan
pernikahan. Salah satu rangkaian do'a yang biasa dipakai adalah sebagai berikut,
.‫اركََّّلَ ُه َماَّفِيََّّ ِشب ِل ِه َما‬
ِ َ‫اركََّّ َعلَي ِه َماَّ َوب‬ ِ َ‫اَللَّ ُه ََّّمَّب‬
ِ َ‫اركََّّفِي ِه َماَّ َوب‬
Allahumma baarik fiihimaa wa baarik 'alaihimaa wa baarik lahumaa fii syiblihimaa

Artinya: “Ya Allah, berkatilah (apa yang di miliki) keduanya, jauhkanlah (apa yang
dikhawatirkan) keduanya, dan berkatilah dalam keturunan keduanya (nanti).”
Doa penutup acara pertunangan
Assalamu’alaikum,wr,wb.

Sembari menadahkan tangan, marilah kita sejenak menundukkan kepala.

Astagfirullahal’azim (3x)

A’uzubillahiminassyaithanirrajim, Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahirrobbil’alamin, wasshalatuwasshalamu’ala asrhofil anbiyai walmursalin


wa’ala aalihi wa shohbihi rosulillahi ajema’in.

Allahummaghfirli wa liwalidayya warhamhuma kama robbayanishogira.

Allahumma ihdinasshirothalmustaqim sirothollazi naan’am ta’alaihim ghoiril maghdu


bi’alaihim waladhollin,amin..

Ya Allah, Yang Maha Pengampun. Ampunilah dosa-dosa kami, khilaf dan salah yang pernah
kami lakukan baik itu disengaja maupun tidak disengaja.

Ya Allah, Yang Maha Pembimbing hidup kami. Bimbinglah setiap langkah kehidupan yang
kami tapaki guna mengarungi kehidupan yang sesaat ini.

Ya Allah, Ya Tuhan kami, hari ini kami mengadakan acara pertunangan saudara kami guna
ingin melaksanakan sunah mu, menambah wawasan keislaman kami, meningkatkan
persaudaraan kami, meningkatkan semangat kami dalam beribadah serta memotivasi hidup
kami agar istiqomah di jalan kebenaran Mu. Ya Robb, Ridhoi dan berkahilah pertunangan
saudara kami ini.

Ya Allah, Ya Rahman. Hidupkanlah kami dalam cahaya, rahmat dan keimanan Mu.
Matikanlah kami dalam ibadah terbaik yang kami miliki kepada Mu dan bimbinglah setiap
langkah hidup kami. Sungguh, hanya kepada Mu lah tempat kami bergantung.

Robbana zolamna anfusana wa ilantaghfirlana watarhamna lana kunanna minalghosirin.

Robbana atina fiddunia hasanah wa fil a khiroti hasanah waqina ‘azabannar.


Subbhanakarabbika rabbil’izati ‘amma yasifun wassalamu’alarmursalin.
Walhamdulillahirrobil’alamin.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

PELAKSANAAN KHITBAH.
Tanya:
Ada beragam tatacara peminangan dalam masyarakat, ini saya kira karena perbedaan adat dan daerahnya saja. Sekarang saya tanya ke bapak Kiyai
Yusuf tentang tatacara yang ada dalam syari’at, minimal saya tahu bagaimana sebenarnya peminangan menurut syariat yang benar, sekian terima kasih.
Dari Abdul Jalil, Muntilan.
Jawab:
Menarik memang, Indonesia itu negeri kaya budaya dan adat, jadi tak aneh jika terjadi yang demikian itu. Dan saya kira tidak ada salahnya kita melihat
tatacara yang ada dalam Islam, karena paling tidak kita tahu batasan-batasannya.

Begini pak Jalil, sebelum khitbah dilangsungkan, disunnahkan untuk khutbah terlebih dahulu sebagai pembuka. Khutbah ini memuat kata sambutan serta
Mau’idlotul hasanah tentang Khitbah (pinangan) dan diawali dengan bacaan Hamdalah, sholawat, wasiat taqwa, dan setelah mau’idlotil hasanah dilanjutkan
dengan doa. Berikut contoh khutbahnya:
ِ ‫من‬
‫للا بِس ِْم‬ ِ ْ‫حِ ي ِْم الرَّ الرَّ ح‬, ‫ِل ْالحَمْ د‬ ِ ّ ِ ‫َاع َهدَانا َ الَّذِي‬ َّ
ِ ‫الز ْخرآءِ السَّمْ َح ِة اْل َحنِ ْي ِفيَّ ِة ْالِمل ِة الِ ِت ّب‬ َ ْ‫ اْلغَرَّ اءِ اْلمنِيفَ ِة أ َ َوامِ ِرهَا الِ ْق ِتفَاءِ أَر‬. ‫ض ِل َم َو ِار َد بِ ِه اَ ْو َر َد حَمْ دًا تَعَالَى َو س ْب َحانَه أَحْ َمده‬
َّ ‫شدَنا َ و‬ ْ َ‫ان اْلف‬ ِ ‫س‬ َ ْ‫اإلح‬ِ ‫ َو‬. ‫َو عَََ بْده م َح َّمدًا أَنَّ َوأ َ ْش َهد‬
‫ق ْال َم ْخصوص َرس ْوله‬ ِ ‫ اْلعَظِ ي ِْم بِاْلخ َْل‬. ‫اْلعَ ِلي ِْم السَّمِ ي ِْع َحض َْرةِ منَا َج ِة اِلَى َو ْال َم ْخطوب‬. ‫ى‬ َ ‫سلَّ َم َو‬
َ ‫علَ ْي ِه للا‬
َّ ‫صل‬ َ ‫على َو‬ َ ‫ص َحا ِب ِه َو ْالك َِري ِْم الغ ِ ّر أ َ ِل ِه‬
ْ َ ‫لهدَايَ ِة نج ْو ِم أ‬
ِ ْ‫صابِ ِه َو ا‬ َّ
َ ‫الظ ََل ِم َم‬. ‫للا اتَّقوا آ َمنوا الَّ ِذيْنَ يُّ َها أ َ يآ‬
َ َّ‫الَ َو تقَاتِ ِه َحق‬
َّ‫م ْسلِم ْونَ أَنتم َو ِإالَّ ت َموتن‬.
Lalu dilanjutkan Mu’idhatil hasanah yang menerangkan tentang khitbah, setelah itu mengucapakan: ‫ ك َِر ْي َمتِك ْم فِى ِجئتكم‬/ “aku mendatangi kalian untuk melamar
wanita mulia kalian.” Apabila wakil maka: ‫ ك َِر ْي َمت َك ْم خَاطِ بًا َعنْه جئتكم‬/ “aku mendatangi kalian sebagai ganti dari orang yang mewakilkan kepadaku untuk melamar
wanita mulia kalian.” Kemudian: ‫ع ْنكَ ِب َمرْ غوب لَسْت‬
َ . / “aku tidaklah orang yang benci terhadapmu.” Begitu juga ketika yang melamar adalah wali atau
gantinya.

Adapun do’anya sebagai berikut:


‫طبَةَ َه ِذ ِه اجْ عَلْ اَللّه َّم‬ ْ ِ‫طبَةً ْالخ‬
ْ ‫َاركَةً نا َ ِفعَةً ِخ‬
َ ‫صلَ َحةً مب‬
ْ ‫ظاهِرً ا أَبَدًا دَا ِئ َمةً َم‬
َ ‫ الرَّ احِ مِ يْنَ أَرْ َح َم يَا ِب َرحْ َمتِكَ أ َ ِخرً ا َو أ َ َّوالً بَاطِ نًا َو‬. ‫علَ ْينَا وتبْ ْالعَ ِليْم السَّمِ يْع أَنتَ اِنَّكَ مِ نَّا تَ ََ قَبَّلْ َربَّنَا‬
َ َ‫الرَّ حِ يْم الت َّ َّواب أ َ ْنتَ اِنَّك‬. ‫س ْب َحانكَ فِ ْي َها َدع َْواه ْم‬
‫ِل اْلحَمْ د أَ ِن َدع َْواه ْم َوأَخِ ر َسَلَم ِف ْي َها تَحِ يَّته ْم َو اللَّه َّم‬ ِ ّ ‫اْلعَالَمِ يْنَ َر‬.
ِِّ ‫ب‬
“Ya Allah, jadikanlah pinagan ini sebagai pinangan yang bermanfaat, yang diberkahi, yang membawa kemaslahatan dan abadi selama-lamanya, secara
lahir dan batin, di permulaan dan akhir dengan rahmat-Mu, Wahai Tuhan paling Penyayang di antara para penyayang. Ya Allah terimalah doa kami,
sungguh Engkau adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sungguh Engkau adalah Maha Menerima taubat lagi Maha
Penyayang. Do`a mereka di Surga adalah “Subhanaka Allahumma,” ( Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami), salam penghormatan mereka adalah salam
(sejahtera dari segala bencana), dan penutup doa mereka adalah “Alhamdulillahi robbil ‘alamin,” (segala puji bagi Allah , Tuhan semesta alam).

Dan khitbah ini mempunyai beberapa ketentuan yang telah digariskan oleh syari'at agama Islam, yakni wanita yang akan dipinang tidak ada halangan-
halangan hukum yang melarang dilangsungkanya pernikahan seperti masih dalam keadaan nikah (punya suami), dan 'Iddah Raj'iyyah, serta belum dipinang
oleh orang lain secara sah.
Sebab haram hukumnya bagi seseorang meminang pinanganya orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat hadits :
َ‫على الرَّ جل ي َْخطب ال‬ ْ ‫ى أَخِ ْي ِه ِخ‬
َ ‫طبَ ِة‬ َ ِ‫) المسلم و رى البخا رواه( قَ ْبلَه اْلخَاط‬
َّ ‫ب يَتركَ َحت‬
"Seorang laki-laki tidak boleh melamar lamaran saudarnya sehingga orang yang melamar sebelumnya meninggalkan lamaranya." (HR. Bukhori-Muslim)

Setelah keduanya bertunangan, hendaknya masing-masing pasangan menyiapkan diri untuk memperdalam ilmu agamanya dan bersikap zuhud, serta
bersama-sama berazam satu dasar hidup, yakni qana’ah (menerima apa adanya) setelah pertunangan hendaknya segera menentukan tanggal pernikahan
agar terhidar dari fitnah manusia, karena pertunangan yang dibuat bukanlah jalan untuk membolehkan keduanya bergaul dalam batas-batas yang longgar.
Demikian semoga pak Jalil bisa memahaminya, sekian, Wallahu A’lam

Doa penutup Lamaran

Istighfar 3 x,
Al Fatihah, Ayat Kursi,

Doa syukur nikmat :


"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau berikan
padaku dan kepada Ibu Bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh
yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada
anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. Al-Ahqaaf [46]:15)

Doa bebas:
Segala puji bagiMu ya Allah Tuhan semesta alam, segala puji bagimu ya Allah yaa
Rahmaan ya Rahiim. Segala puji bagi Engkau yang telah mengumpulkan kami
dalam acara lamaran ini, yaitu sebuah langkah awal untuk menuju gerbang
pernikahan sesuai dengan sunnah NabiMu.

Ya Allah berikanlah kepada calon kedua mempelai ini ketenangan dalam menuju
pernikahan nanti, cucurkanlah rahmat-Mu, tunjukanlah jalan yang Engkau ridhai
kepada mereka. Agar diberikan kelancaran dalam persiapannya dan diberikan
kesehatan dan kesiapan lahir dan batin.

Ya Allah, jadikanlah pertemuan kedua keluarga besar ini sebagai awal dari
keberkahan, ikatkanlah tali silaturahiim ini dengan kuat, sehingga akan muncul sikap
saling sayang menyayangi agar engkau ridho dan engkau berikan ketenangan
kepada kami.

Doa Robithoh:
Ya Allah, Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam kecintaan kepada-Mu,
telah berjumpa dalam menta’ati-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah
terjalin dalam membela syariat-Mu. Maka teguhkanlah, ya Allah, ikatannya,
kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati ini dengan
cahaya-Mu yang tidak pernah sirna, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman
kepada-Mu dan indahnya kepasrahan kepada-Mu, hidupkalah ia dengan
bermakfirah kepada-Mu, dan matikanlah ia diatas kesyahidan di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya
Allah kabulkanlah. Dan curahkanlah kesejahteraan dan keselamatan dan kedamaian
kepada baginda kami Muhammad SAW, serta kepada keluarga dan para sahabat
beliau.

Doa Nabi Adam:


Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal
khosirin.

Subhana robbika robbi 'izzati amma


yaasifun..wassalamualaamursalin..walhamdulillahirobbilalamin..
DO'A LAMARAN TETEH LINDA

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Alhamdulillahi robbil ‘Alamiin, hamdan yuwafi ni’amahu
wa yukafiu maziidah

Yaa Robbana lakal hamdu kama yanbaghi lijalaali wajhika wa’dhimi sulthonik
Allohumma sholli wa salim ‘ala sayidina Muhammadin wa‘ala ‘alihi washohbihi

wa man tabi’ahum bi ihsaanin ila yaumiddin

Ya Allah Ya Rohman
Hari ini kami berkumpul dalam acara khitbah/ lamaran
antara ……………. bin ………………. dan
…………………………binti ……………………….
Berikanlah kami kemudahan menuju pelaksanan salah satu
sunnah NabiMu yaitu Akad nikah nanti, karena itu Ya
Allah berkahilah semua urusan kami :

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.


Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya

Allohumma habib ilainal iman wa zayyinhu fii quluubina


Wa karrih ilainal kufro wal fusuuqo wal 'ishyan
Waj'alna minar rosyidin
Ya Allah jadikanlah kami mencintai keimanan dan
hiasilah keimanan itu dalam hati kami
Dan jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan dan
kemaksiatan (termasuk hubungan kedua calon mempelai
yang memang belum dihalalkan oleh Allah)
Dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami


Rukunkan antar hati kami. Tunjuki kami jalan keselamatan

Robbana hablana min ajwajina wa dzurriyyatina qurrota a’yun


waj’alna lilmuttaqiina imaama
Ya Allah berikanlah kepada kami pasangan hidup dan
anak-anak yang sholeh-sholehah yang menjadi penyejuk
pandangan mata hati kami
Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang
bertaqwa

Allohumma aslihlana diinana alati huwa ‘ishmatu


amrina, wa ashlihlana dunyana alati fiha ma’asyuna, wa
ashlihlana akhirotana alati fiha ma’aduna waj’alil
hayata ziyadatallana fi kulli khoir, waj’alil mauta

roohata lana min kulli syarri.

Ya Alloh perbaikilah sikap keagamaan kami, karena


agama adalah benteng urusan kami
Ya Alloh perbaikilah dunia kami, karena di dunia ini kami hidup
Ya Alloh perbaikilah akhirat kami, karena ke
akhiratlah kami akan kembali
Ya Alloh jadikanlah sisa-sisa hidup kami sebagai
tambahan segala kebaikan kami
Dan jadikanlah kematian kami sebagai akhir segala keburukan kami.

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar


Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari


kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami

Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami


Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan
daripada amal usaha kami sendiri

Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu


Muhammad SAW di padang mahsyar nanti.

Ya Allah Ya Rohiim
Jadikanlah hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini

Ya Allah Tunjukanlah kepada kami yang benar itu benar,


dan berilah kami kekuatan untuk dapat mengikuti kebenaran itu.
Dan tunjukanlah kepada kami yang salah itu salah, dan
berilah kami kekuatan untuk meninggalkan kesalahan itu.

Ya Allah ampunilah dosa kami, dosa ibu dan bapak kami,


sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil.
Ya Allah, kabulkanlah doa dan permintaan kami

Robbana Atina fid dunya hasanah wa fil akhirotu hasanah waqina ‘adzabannar
Subhanaka Robbika Robbil ‘Izati ‘amma yashifun wasalaamun ‘alal mursalin
Walhamdulillahi Robbil ‘alamiin

Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wa barokatuh


HUKUM TUNANGAN (KHITBAH)
Lazimnya beberapa pasangan yang akan menikah, melalui proses pertunangan. Yang ingin saya tanyakan, apakah dalam Islam dikenal adanya pertunangan ?

Dan apakah hukumnya ?

Jawaban :

Pinangan (meminang/melamar) atau khitbah dalam bahasa Arab, merupakan pintu gerbang menuju pernikahan. Khitbah menurut bahasa, adat dan

syara, bukanlah perkawinan. Ia hanya merupakan mukaddimah (pendahuluan) bagi perkawinan dan pengantar kesana. Khitbah merupakan proses meminta

persetujuan pihak wanita untuk menjadi istri kepada pihak lelaki atau permohonan laki-laki terhadap wanita untuk dijadikan bakal/calon istri. [1]

Landasan syariat Khitbah (tunangan)

َّ َّ‫اءَّأَوَََّّّأ َكنَنتُمََّّ ِفيَّأَنفُ ِس ُكم‬


َِّ ‫س‬
َ ‫الن‬ َ َّ‫علَي ُكمَََِّّّفي َما‬
ِ َّ‫ع ََّّرضتُمََّّ ِب َِّهَّ َِّمنََّّ ِخط َب َِّة‬ ََّ َّ‫ح‬
ََّ ‫جنَا‬ ََّ ‫َو‬
َُّ َّ‫ل‬
”Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam
hatimu…”(Al-Baqarah: 235).

Seluruh kitab dan kamus bahasa Arab membedakan antara kata-kata "khitbah" (melamar) dan "zawaj" (menikah). Demian juga adat/kebiasaan

membedakan antara lelaki yang sudah meminang (bertunangan) dengan yang telah menikah; dan syari'at pun membedakan secara jelas antara kedua istilah

tersebut.

Karena itu, khitbah tidak lebih dari sekedar mengumumkan keinginan untuk menikah dengan wanita tertentu, sedangkan zawaj (pernikahan)

merupakan aqad yang mengikat dan perjanjian yang kuat yang mempunyai batas-batas, syarat-syarat, hak-hak, dan akibat-akibat tertentu.

Pinangan yang kemudian berlanjut dangan “pertunangan” yang kita temukan dalam masyarakat saat ini hanyalah merupakan budaya atau tradisi

saja yang intinya adalah khitbah itu sendiri, walaupun disertai dengan ritual-ritual seperti tukar cincin, selamatan dll. Ada satu hal penting yang perlu kita catat,

anggapan masyarakat bahwa pertunangan itu adalah tanda pasti menuju pernikahan, hingga mereka mengira dengan melaksanakan ritual itu, mereka sudah

menjadi mahram, adalah keliru. Pertunangan (khitbah) belum tentu berakhir dengan pernikahan. Oleh karenanya baik pihak laki-laki maupun wanita harus tetap

menjaga batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syariat.

Namun Masa khitbah bukan lagi saat untuk memilih. Mengkhitbah sudah jadi komitmen untuk meneruskannya ke jenjang pernikahan. Jadi jika

ingin melakukan istikharah sebaiknya dilakukan sebelum khitbah. Khitbah dilaksanakan saat keyakinan sudah bulat, masing-masing keluarga juga sudah saling

mengenal dan dekat, sehingga peluang untuk dibatalkan akan sangat kecil, kecuali ada takdir Allah yang menghendaki lain.

Khitbah, meski dilakukan berbagai upacara, hal itu tak lebih hanya kebiasaan yang tujuannya hanya untuk menguatkan dan memantapkannya

saja. Dan khitbah bagaimanapun keadaannya tidak akan dapat memberikan hak apa-apa kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi lelaki lain

untuk meminangnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

َّ‫علَى‬ َُّ ‫الر ُج‬


ََّ َّ ‫ل‬ َّ َّ ‫ب‬ ُ ‫لَ َّ َيخ‬
ََّ ‫ط‬ ٍ ‫علَى َّبَي َّعِ َّ َبع‬
َّ ‫ َّ َو‬،‫ض‬ ُ ‫سلَّ ََّم ََّّأ َنَّ َّ َي ِبي ََّع َّبَع‬
ََّ َّ َّ‫ض ُكم‬ َ ‫علَي َِّه َّ َو‬ َّ َّ ‫صلَّى‬
ََّ َّ ُ‫للا‬ ََّ َّ َّ‫نَ َهى َّالنَّ ِبي‬
َُّ ‫َاط‬
‫ب‬ ََّ ‫بَّقََّبلَ َّهَُّأَوََّّ َيأ َذ‬
ِ ‫نَّلََّ َّهَُّالخ‬ َُّ ‫َاط‬ِ ‫كَّالخ‬ ََّ َّ،‫ِخط َب َِّةََّّأ َ ِخي ِه‬
ََّ ‫حتَّىَََّّيت ُر‬
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang

meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya.
Dari hadits diatas mayoritas ulama' menyimpulkan bahwa hukum dari tunangan adalah mubah. [2]
Namun sebagian ulama' cenderung memandang bahwa tunangan itu hukumnya sunah, dalam mazhab syafi'i telah pasti diketahui bahwa tunangan

dihukumi sebagai sebuah perkaramustahab (disukai). [3]

Hal ini dengan alasan bahwa akad nikah adalah perjanjian luar biasa bukan seperti akad-akad yang lain, sehingga disunahkan didahului khitbah

sebagai periode penyesuaian kedua mempelai dan masa persiapan untuk menuju mahligai rumah tanggapun akan lebih mantap.

Kadar yang boleh dilihat dari wanita yang dipinang

Mayoritas ulama mazhab berpendapat bahwa yang boleh dilihat dari anggota tubuh wanita yang dipinang hanyalah wajah dan kedua telapak
tangan, [4] dalilnya adalah :

َ َّ‫أل ََّّ َما‬


‫ظ َه ََّرَّ َِّمن َها‬ ََّّ ‫نَّ ِزي َنت َ ُه‬
َّ َِّ‫نَّأ‬ ََّ َّ‫َوألَّيُب َِّدَّي‬
“Dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya), kecuali apa yang biasa terlihat darinnya. (QS. An-Nur : 31)

Sedangkan sebagian ulama Hanabilah membolehkan melihat bagian tubuh wanita yang dipinang sebatas yang tampak disaat bekerja di rumah,
seperti wajah, kedua telapak tangan, leher, kepala, kedua tumit kaki, dan sebagainya. Tidak boleh memandang anggota tubuh yang pada umumnya tertutup
seperti dada, punggung, dan sesamanya. Dalilnya adalah riwayat dimana Nabi memperbolehkan seorang sahabat memandang wanita tanpa
sepengetahuannya. Diketahui bahwa beliau mengizinkan memandang segala yang tampak pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin hanya memandang
wajah, kemudian diperbolehkan memandang yang lain karena sama-sama tampak seperti halnya wajah. [5]
Sedangkan Hanafiyyah membolehkan laki-laki yang meminang untuk melihat wajah, telapak tangan dan telapak kaki. [6]

Wallahu a’lam bis Shawwab.