Anda di halaman 1dari 6

A.

Pendahuluan

Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan yang memberikan

pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam

mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu rumah sakit

dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang

ditetapkan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Menurut Permenkes RI

no.340/MENKES/PER/III/2010 yang pada saat ini RS tipe D memiliki kemampuan

memberikan pelayanan kedokteran umum dan kedokteran gigi serta dapat

menampung pelayanan yang berasal dari puskesmas. Pada kasus, pihak keluarga tidak

terima dengan pelayanan yang berada di RS tipe D dalam perawatan yang sudah

diberikan oleh ICU selama 2 hari. Dengan permasalahan seperti itu, sebagai dokter

yang berada dalam struktural kepemimpinan RS harus dapat menyelesaikan masalah

atas ketidakpuasan keluarga pasien ini perlu analisis kasus lebih lanjut.

B. Penjelasan dan Persyaratan RS tipe D

Berdasarkan Kepmenkes RI No.56 tahun 2014 tentang klasifikasi Rumah sakit

bahwa RSU kelas D harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medic

paling sedikit dua pelayanan medic spesialis dasar. Kriteria fasilitas RSU tipe D

meliputi Pelayanan Medik Umum (Pelayanan Medic Dasar, Pelayanan Medik Gigi

Mulut dan Pelayanan Kesehatan Ibu Anak/KB), Pelayanan Gawat Darurat (pelayanan

gawat darurat 24 jam dan 7 hari seminggu dengan kemampuan melakukan

peneriksaan awal kasus darurat,melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai standar),

Pelayanan Medik Spesialis dasar (sekurang-kurangnya 2 dari 4 jenis pelayanan

spesialis dasar meliputi Pelayanan Penyakit dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obstetri

dan Ginekologi), Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan (seperti pelayanan asuhan

keperawatan dan asuhan kebidanan), Pelayanan Penunjang Medik (labortaorium dan


Radiologi), Pelayanan Penunjang Klinik (Perawatan high care unit, pelayanan darah,

Gizi, Farmasi, sterilisasi instrument dan rekam medic) dan pelayanan Penunjang Non

Klinik (pelayanan Loundry, jasa Boga, pengelolaan limbah, teknik dan pemeliharaan

fasilitas, gudang, ambulance, komunikasi, kamar jenazah, pemadam kebakaran,

pengelolaan gas medic dan penampungan air bersih).

Pada pelayanan Medik dasar minimal harus ada 4 orang dokter umum dan satu

orang dokter gigi sebagai dokter tetap. Sedangkan pelayanan medic spesialis dasar

harus ada masing-masing minimal satu orang dokter spesialis dari dua jenis pelayanan

spesialis dasar dengan satu orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap. Tenaga

kefarmasian 3 orang apoteker dan perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur

adalah 2:3 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan pelayanan RS.

Dimana jumlah tempat tidur minimal 50 buah.

 SOP IGD RS

Melakukan pendaftaran IGD saat pasien masuk ruang gawat darurat oleh pihak

keluarga pasien, Melakukan proses triase dan pemeriksaan kondisi umum pasien

(status IGD diprioritaskan yang berlabel merah), Perawat IGD melaporkan kepada

dokter setelah proses triase, Dokter melakukan paramedic dan tindakan kegawatan

yang diperlukan, Dokter menjelaskan harus menjelaskan tindakan yang akan

dilakukan dan disetujui oleh pasien/keluarga, Apabila pasien menolak

pemeriksaan/tindakan wjib menandatangi surat penolakan, Untuk pasien tanpa

pengantar/kondisi tidak sadar dan mengamcan jiwa, dokter berhak melakukan

tindakan penyelamatan pasien, Apabila diperlukan pemeriksaan penunjang, dokter

perlu membuat surat pengantar ke unit lait dengan mengkonfirmasi via telepon,

Dokter jaga IGD wajib mencatat hasil penunjang medic di dokumen RM dan

salinannya
 SOP ICU RS

Untuk mendapatkan informasi yang penting dan lengkap, dilakukan pertukaran

informasi yang baik dengan dokter yang merujuk unit perawatan di ICU, melakukan

survey primer (airway, Breathing, Circulation), melakukan survey sekunder

(pemeriksaan menyulurh), Monitoring dasar sesuai denga pasien (mis. Saturasi O2,

EKG , dll), mencatat perlakuan pasien dan mlekaukan pemeriksaan dasar (darah

rutinm pemeriksaan mikrobiologi, EKG, foto thorax, dll), Menjelaskan rencana

penatalaksaan pasien pada staf perawat, Menginformasikan pada konsulatan harian

ICU yang bertugas dan dari semua hasil pemeriksaan dan instruksi harus ditulis di

status harian pasien ICU.

Kepmenkes No.1778/MENKES/SK/XII/2010 Dalam menyelenggarakan

pelayanan ICU, pelayanannya sesuai ICU primer, sekunder dan tersier. Kualifikasi

tenaga kesehatan yang bekerja di ICU harus mempunyai pengetahuan yang memadai,

mempunyai ketrampilan yang sesuai dan mempunyai komitmen terhadap waktu. Pada

RS kelas D termasuk pelayanan ICU primer terdapat kepala ICU (dokter sp.anestesi

atau spesialis lain), Tim medis (dokter spesialis sebagai konsultan, dokter jaga 24 jam

dengan kemampuan RJP yang bersertifikat), Perawat (yang terlatih dan bersertifikat)

dan tenaga non kesehatan (kesehatan administrasi, tenaga pekarya, dan tenaga

kebersihan). Jumlah perawat ditentukan berdasarkan jumlah tempat tidur dan

kesediaan ventilasi mekanik, perbandingan perawat : pasien yang menggunakan

ventilasi mekanik adalah 1:1, sedangkan perbandingan perawat : pasien yang tidak

menggunakan ventilasi mekanik adalah 1:2

C. Pembahasan Kasus

Keluarga pasien menuntut pihak rumah sakit dapat disebabkan karena adanya

komunikasi yang tidak efektif pada dokter IGD merujuk ke dokter ICU, adanya
miscommunication, dimana dokter yang tidak menjelaskan kepada keluarga pasien

tentang kondisi pasien, kurangnya monitoring oleh perawat/tenaga medis lainnya

mengenai kondisi pasien, bisa karena keterbatasan sumber daya manusia di RS (mis.

Kurangnya tenaga medis yang bertugas, faktor kelelahan dari tenaga medis di ICU

tersebut akibat banyaknya pasien di RS tersebut), dapat disebakan juga karena standar

pelayanan ICU/UGD dibawah standar yang sudah ditetapkan, dapat pula disebabkan

penulisan rekam medis yang tidak lengkap, penulisan kurang jelas atau adanya

kesalahan diagnosis.

D. Solusi Masalah

Solusi yang dapat dilakukan oleh pihak RS yaitu melakukan identifikasi permasalahan

yang sebenarnya terjadi, yaitu dengan menanyakan langsung kepada pihak-pihak yang

terkait (kelaurga pasien, dokter yang bertugasm tenaga medis lain yang terlibat).

Mengumpulkan data/keterangan fakta yang ada. Setelah mengetahui akar

permasalahan, mengadakan pertemuan para ahli atau konsultan untuk membuat

alternative solusi permasalahan. Contohnya, jika benar pihak RS bersalah, maka RS

harus bertanggung jawab dengan mengganti rugi kepada pihak pasien dan keluarga,

dapat memberikan psikiater atau psikolog untuk mengatasi kondisi mental dan

menghibur keluarga yang ditinggalkan sertameredam kemarahan keluaraga pasien.

Sehingga dapat dilakukan pengambilan keputusan alternative solusi yang terbaik.

Untuk unit-unit dan tenaga medis RS perlu dilakukan pengawasan dan pendisiplinan

serta evaluasi masalah, monitoring supaya tidak terulang kembali atau muncul

permsalahan yang baru.

E. Kesimpulan

Pelayanan UGD maupun ICU di suatu RS yang tidak memenuhi standar yang sudah

ditetapkan menimbulkan ketidakpuasan pasien maupun pihak keluarga.


F. Saran

Suatu RS yang memberikan pelayanan ICU atau UGD harus memnuhi standar yang

sudah ditentukan UU,

Semua pelayanan yang dilakukan oleh dokter, perawat atau petugas medis lainnya

harus menjelaskan tindakan dan tujuan yang akan dilakukan dan perlu mengajukan

surat informed concent kepada pasien maupun keluarga pasien.

G. Daftar Pustaka

 Permenkes RI no.340/MENKES/PER/III/2010 Tentang Klasifikasi Rumah

Sakit. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI

 Kepmenkes No.1778/MENKES/SK/XII/2010 Tentang Pedoman

Penyelenggaraan Pelayanan ICU di Rumah Sakit. Jakarta: Kementrian

Kesehatan RI

 Kepmenkes RI No.56 tahun 2014 Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah

Sakit. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI


KASUS PERMASALAHAN PELAYANAN ICU DAN IGD

DI RS KELAS D

TUGAS PAPER

Disusun Oleh

Gratiana Kartika

41110051

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

YOGYAKARTA

2015