Anda di halaman 1dari 5

Hemopoesis atau hematopoiesis ialah proses pembentukan

darah. Tempat hemopoesis pada manusia berpindah-pindah


sesuai dengan umur :
a) Janin : umur 0-2 bulan (kantung kuning telur)
umur 2-7 bulan (hati, limpa)
umur 5-9 bulan (sumsum tulang)
b) Bayi : Sumsum tulang
c) Dewasa. : vertebra, tulang iga, sternum, tulang tengkorak,
sacrum dan pelvis, ujung proksimal femur.
Pada orang dewasa dalam keadaan fisiologik semua
hemopoesis terjadi pada sumsum tulang. Untuk kelangsungan
hemopoesis diperlukan :
1. Sel induk hemopoetik (hematopoietic stem cell)
Sel induk hemopoetik ialah sel-sel yang akan berkembang
menjadi sel-sel darah, termasuk eritrosit, lekosit,
trombosit, dan juga beberapa sel dalam sumsum tulang
seperti fibroblast. Sel induk yang paling primitif sebagai
pluripotent (totipotent) stem cell
Sel induk pluripotent mempunyai sifat :
a. Self renewal : kemampuan memperbarui diri sendiri
sehingga tidak akan pernah habis meskipun terus
membelah;
b. Proliferative : kemampuan membelah atau
memperbanyak diri;
c. Diferensiatif : kemampuan untuk mematangkan diri
menjadi sel-sel dengan fungsi-fungsi tertentu.
Menurut sifat kemampuan diferensiasinya maka sel induk
hemopoetik dapat dibagi menjadi :
a. Pluripotent (totipotent)stem cell: sel induk yang
mempunyai yang mempunyai kemampuan untuk
menurunkan seluruh jenis sel-sel darah.
b. Committeed stem cell : sel induk yang mempunyai
komitmet untuk berdiferensiasi melalui salah satu garis
turunan sel (cell line). Sel induk yang termasuk golongan
ini ialah sel induk myeloid dan sel induk limfoid.
c. Oligopotent stem cell : sel induk yang dapat
berdiferensiasi menjadi hanya beberapa jenis sel.
Misalnya CFU-GM (colony forming unit-
granulocytelmonocyte) yang dapat berkembang hanya
menjadi sel-sel granulosit dan sel-sel monosit.
d. Unipotent stem cell : sel induk yang hanya mampu
berkembang menjadi satu jenis sel saja. Contoh CFU-E
(colony forming unit-erythrocyte) hanya dapat menjadi
eritrosit, CFU-G (colony forming unit-granulocyte)hanya
mampu berkembang menjadi granulosit.
2. Stroma sumsum tulang
Sumsum tulang membentuk suatu lingkungan yang cocok
untuk sel punca bertahan hidup, memperbaharui diri dan
membentuk sel progenitor berdiferensiasi. Sumsum tulang
tersusun atas sel-sel stroma dan jaringan mikrovaskular.
Sel-sel stroma meliputi Sel endotel, Sel lemak ,Fibroblast,
Makrofag , Sel reticulum dan sel-sel menyekresi molekul-
molekul ekstraseluler seperti kolagen, glikoprotein
(fibronektin dan trombospondin) serta glikosaminoglikan
(asam hialuronat dan turunan kondroitin)untuk membentuk
matriks ekstraseluler. Selain itu, sel-sel stroma menyekresikan
beberapa faktor pertumbuhan yang diperlukan sel punca untuk
bertahan hidup.
Sel punca mesenkimal juga disebut sel stroma
mesenkimal pluripoten sangan penting dalam pembentukan sel
stroma. Bersama dengan osteonlast, sel-sel ini membentuk
cekungan dan menyediakan faktor-faktor pertumbuhan,
molekul adhesi dan sitokin-sitokin yang menyokong sel punca,
misalnya protein yang bergerigi, pada sel-sel stroma berikatan
dengan reseptor NOTCH-1 pada sel-sel punca yang kemudian
menjadi faktor transkripsi yang terlibat dalam siklus sel.
Untuk dapat keluar dari sumsum tulang, sel harus
melewati endotel pembuluh darah dan proses mobilisasi ini
dibantu oleh pemberian faktor-fantor pertumbuhan seperti
faktor perangsang koloni granulosit (G-CSF). Sedangkan,
kembalinya sel puncabergantung pada gradient kemokin faktor
1 yang berasal dari stroma (stroma derived factor-1/ SDF-1).
Beberapa interaksi yang penting mempertahankan viabilitas
sel punca dan produksinya dalam stroma yaitu stem cell factor
(SCF) dan protein-protein bergerigi yang diekspresikan pada
stroma dan reseptor-reseptor KIT dan NOCTH yang
diekspresikan pada sel punca.

3. Regulasi hemopoiesis
Sel punca membelah menjadi satu sel menggantikan sel
punca tersebut (perbaharui diri) dan berdiferensiasi
menjadi progenitor awal lalu masuk ke galur sel tertentu.
Hal ini dipengaruhi oleh faktor transkripsi untuk
meregulasi ketahan hidup sel punca seperti SCL, GATA-
2, NOTCH-1. Menetapkan sel ke galur myeloid yaitu
PU.1 dan CEBP. Diferensiasi eritropoietik dan
megakariositik yaitu GATA-1 dan FOG-1.

4. Faktor pertumbuhan
Sel stroma merupakan sumber utama pertumbuhan
kecuali eritopoeitin 90% disintesis di ginjal dan
trombopoietin di hati. Faktor pertumbuhan yang bekerja
di sel stroma yaitu IL-1 dan TNF.
Yang bekerja pada sel punca pluripoten dan sel progenitor
dini myeloid & limfoid yaitu SCF, FLT-L3, VEGF.
Yang bekerja pada sel progenitor multipoten yaitu IL-3,
GM-CSF, IL-6, G-CSF dan trombopoietin (G-CSF dan
trombopoietin memperkuat efek FTL-L, IL-3 dan GM-
CSF).
Yang bekerja pada sel progenitor yang telah ditetapkan
yaitu G-CSF, eritropoietin, IL-5, M-CSF, trombopoietin.
5. Apoptosis
Apoptosis adalah kematian sel yang direncanakan
(pengerutan sel, kondensasi kromatin inti, fragmentasi inti
dan pemecahan DNA padsa lokasi intranukleosom).
Apoptosis disebabkan oleh enzim protease sistein
intraseluler (caspases) yang diaktifkan. Sel terinfeksi akan
mengeluarkan (mengekspresikan) FAS atau TNF di
membrane sel lalu ditangkap oleh CTL lewat FAS-L lalu
akan menginduksi apoptosis lewat pengaktifan enzim
caspases. Ketika sel terinfeksi maka mitokondria akan
keluarkan sitokrom C yang akan berikatan dengan APAF-
1 lalu mengaktifkan caspases. Ketika terjadi kerusakan
DNA akibat kemoterapi atau radiasi maka p53 akan
mendeteksi kerusakan yang terjadi lalu aktifkan apoptosis
dengan keluarkan proapoptosis BAX yang akan
merangsang pelepasan sitokrom C lalu caspases
teraktivasi dan terjadilah apoptosis dan keluarkan signal
kepada makrofag untuk memfagositosis sel tersebut
(APC).
Tetapi ada pula protein anti apoptosis yaitu BCL-2
sebagai ketahan hidup sel, misalnya untuk
menentukan masa hidup trombosit dengan cara
memblok pelepasan sitokrom C.