Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

“Pembuatan Sediaan Infus KCl 0,38% Isotonis Cum Glucose


Sebanyak 100 mL”

Dosen :
Dwi Nurahmanto, M. Sc., Apt.

Anggota Kelompok A2:

1. Dwipa Noor Maulina Ulfa (152210101009)


2. Dindha Pratiwi Setyaningrum (152210101010)
3. Ulfi Mawadatur Rohmah (152210101011)
4. Elif Nur Aidah (152210101013)
5. Himawan Gus Wantoro (152210101014)
6. Maulidya Barikatul Iftitah (152210101015)

LABORATORIUM BAGIAN FARMASETIKA


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2018
I. TUJUAN
Mahasiswa dapat :
1) Mempelajari cara pembuatan sediaan steril volume besar beserta cara
sterilisasinya
2) Mempelajari cara perhitungan tonisitas
3) Membuat sediaan yang bebas dari pirogen

II. LATAR BELAKANG


Obat-obat injeksi yang digunakan melalui rute parenteral merupakan
obat-obatan yang paling banyak dipakai pada pasien rawat inap (Laksmi,
2014). Pasien rawat inap umumnya mendapatkan beberapa sediaan parenteral
yang harus diberikan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Terapi Intravena (IV) adalah menempatkan cairan steril melalui jarum,
langsung ke vena pasien. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit (Na +,
Ca2+, K+), nutrient (glukosa), vitamin atau obat (Brunner & Sudarth, 2002).
Pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran
darah (Perry dan Potter, 2006). Pemberian obat dilakukan secara kontinu
dengan kecepatan yang lambat dan terkontrol (Kozier, 2004).
Menurut Perry dan Potter (2006) cairan intravena dibedakan menjadi
beberapa tipe, yaitu cairan hipotonis, isotonis, dan hipertonis.
1) Cairan hipotonis mempunyai osmolaritas yang lebih rendah
dibandingkan serum. Cairan akan ditarik dari dalam pembuluh darah
ke jaringan sekitarnya sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju
dan menyebabkan pembengkakan sel hingga hemodialisis. Contohnya
adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
2) Cairan isotonis mempunyai osmolaritas mendekati serum, sehingga
terus berada di dalam pembuluh darah. Contohnya adalah cairan
Ringer-Laktat (RL), dan normalsaline/larutan garam fisiologis (NaCl
0,9%).
3) Cairan hipertonis mempunyai osmolaritas lebih tinggi dibandingkan
serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke
dalam pembuluh darah dan mengakibatkan penyusutan sel. Contohnya
adalah Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-
Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%.
Pada praktikum kali ini sediaan infus KCl 0,38% dibuat isotonis yaitu
tekanan osmosis sediaan sama dengan tekanan osmosis plasma darah,
tujuannya untuk mengurangi kerusakan jaringan dan iritasi, dan mencegah
terjadinya hemolisis.
Sediaan untuk LVP harus steril, bebas pirogen, dan dikemas dalam
wadah dosis tunggal. Jika di dalam sediaan mengandung pirogen, akan
menimbulkan efek yang besar dikarenakan sediaan tersebut langsung masuk
ke dalam pembuluh darah. Infus dikemas dalam wadah Large Volume
Parenteral (LVP) plastik atau gelas yang cocok ntuk intravena. Infus bisa
diberikan dengan atau tanpa bahan tambahan (Levchuk, 1992). Sediaan
parenteral Volume besar (LVP) dikemas dalam wadah 100 ml dan tidak
melebihi 1000 ml. Khusus cairan irigasi dan dialisis diperbolehkan lebih dari
1000 ml.

III. PRAFORMULASI
3.1 Tinjauan Farmakologi
a. Efek Utama :
- Sebagai sumber ion kalium
- Untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi kalium, pengobatan
hipokalemia atau hipochloremik alkalis dan pengobatan keracunan
digitalis.
b. Efek Samping
- Dosis berlebih dapat menyebabkan hiperkalemia khusunya pada
pasien gangguan ginjal.
- Gejala-gejalanya meliputi paraesthesia ekstremitas (bagian
kaki/tangan), kelelahan otot, paralisis, cardiak arithmias, heart
block, cardiak arrest, dan kebingungan. Dapat menyebabkan nyeri
atau radang pembuluh darah
c. Kontraindikasi
- Pasien dengan konsentrasi kalium plasma lebih dari 5 mmol/liter

3.2 Tijauan Sifat Fisika Kimia


a. KCl (Kalium Klorida)
 Nama lain : Potassium klorida
 Pemerian : Serbuk atau kristal putih atau tidak berwarna, berasa asin
atau tidak berasa dan tidak berbau.
 Kelarutan : praktis tidak laut dalam aseton dan eter (20OC), 1:250
dalam etanol 95% (20OC), 1 : 14 dalam gliserin (20OC), 1 : 2,8
dalam air (20OC), dan 1: 1,8 dalam air (100OC).
 Stabilitas : Kalium klorida stabil dan penyimpanannya dalam wadah
tertutup rapat dan di tempat yang sejuk dan kering. Larutan kalium
klorida dapat disterilisasi dengan autoklaf atau dengan penyaringan
(filtrasi).
 Kegunaan : sebagai agen tonisitas. Kalium klorida banyak digunakan
dalam berbagai farmasi dalam formulasi parenteral dan
nonparenteral. Penggunaan utamanya, pada sediaan parenteral dan
ophthalmic, yaitu untuk menghasilkan larutan isotonik.
 Inkompatibilitas: Larutkan KCl bereaksi kuat dengan bromine
trifluoride dan dengan campuran asam sulfat dan kalium
permanganat. Adanya HCl, NaCl, dan MgCl akan menurunkan
kelarutan KCl dalam air. Larutan intravena KCl inkompatibel dngan
protein hidrolisat.
b. Glukosa
 Pemerian : kristal yang tidak berbau, berasa manis, tidak berwarna
atau sebagai bubuk kristal putih atau granular
 Kelarutan : praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, 1:60 larut
dalam etanol 95% (20oC), mudah larut dalam air dan gliserin.
 Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan, stabil dalam keadaan
penyimpanan yang kering, dengan pemanasan tinggi dapat
menyebabkan reduksi pH dan karamelisasi dalam larutan. Harus
disimpan dalam wadah tertutup dengan baik di tempat yang sejuk
dan kering. Sterilisasi larutan glukosa dengan autoklaf.
 PH : 3,5 – 5,5 (dalam 20% w/v larutan air)
 Kegunaan : sebagai agen tonisitas
 Inkompatibiltas: tidak cocok dengan sejumlah obat seperti
sianokobalamin, kanamisin SO4, novobiosin Na dan wafarin Na,
Eritromisin, Vit B komplek. Dalam bentuk aldehida, glukosa dapat
bereaksi dengan amina, amida, asam amino, peptida, dan protein.
Dan akan menimbulkan warna coklat dan dekomposisi apabila
bereaksi dengan alkali yang kuat.
 Efek samping : Larutan glukosa hipertonik dapat menyebabkan sakit
pada tempat pemberian (lokal), tromboklebitise, larutan glukose
untuk infus dapat menyebabkan gangguan cairan dan elektrolit
termasuk edema, hipokalemia, hipopostemia, hipomagnesia.
 Penggunaan : Larutan glukosa bersifat isosomotik dengan darah
pada konsentrasi 5,05% (glukosa anhidrat) dan 5,51% (glukosa
monohidrat). Larutan glukosa 5% sering digunakan pada kondisi
kekurangan cairan. Larutan glukosa lebih dari 5% bersifat
hiperosmotik dan biasa digunakan sebagai sumber karbohidrat.
c. HCl
 Pemerian: cairan yang jernih, tidak berwarna, dengan bau yang
menyengat.
 Kelarutan: Dapat bercampur dengan air; larut dalam dietil eter,
etanol (95%), dan metanol.
 Stabilitas : Harus disimpan dalam wadah tertutup, gelas atau wadah
inert lainnya pada suhu di bawah 38˚C. Hindarkan penyimpanan di
dekat alkali terkonsentrasi, logam, dan sianida .
 Inkompatibilitas : Asam klorida dapat bereaksi hebat dengan dengan
alkali. Asam klorida juga bereaksi dengan banyak logam, dan
membebaskan hidrogen.
 Kegunaan : sebagai agen pengasam, dengan pH= 0,1 (10% v / v
larutan berair)

d. Norit
 Pemerian : Serbuk hitam dan tidak berbau, tidak berasa
 Kegunaan : Untuk kelebihan H2O2 dalam sediaan
 Kelarutan : Praktis tidak larut dalam suasana pelarut biasa
 Stabilitas : Stabil ditempat yang tertutup dan kedap udara, hindari
temperatur tinggi dan cahaya secara langsung
 Inkompatibilitas : Interaksi dengan oksidator kuat, dan hindari
kontak dengan asam kuat.
 Konsentrasi : 0,1-0,3%
e. Aqua steril bebas pirogen
Merupakan air murni yang diproses dengan destilasi atau proses
pemurnian lain untuk menghilangkan bahan kimia hasil metabolit
mikroba dan patogen.

IV. FORMULASI
4.1 Permasalahan dan penyelesaian
a. Sediaan tidak boleh mengandung pirogen
Penyelesaian : menggunakan aqua steril bebas pirogen sebagai
pelarut, tidak didiamkan pada udara terbuka lebih dari 4 jam dengan
suhu 220 C, menggunakan norit (carbo-adsorben) untuk
menghilangkan pirogen
b. Pemberian carbo-adsorben dapat menyerapbahan yang termasuk zat
organik
Penyelesaian : menambahkan bahan yang berserap dengan jumlah
yang kira-kira sama, misalnya glukosa 95%
c. Sediaan harus dibebaskan dari carbo-adsorben
Penyelesaian : carbo-adsorben diaktifkan dengan pemanasan 70-800C
(pemanasan stabil pada ± 100 C), saring dengan kertas saring rangkap
dua. Filtrat dipanaskan dan saring kembali dengan kertas saring
pertama. Filtrat tidak dipanaskan dan saring kembali dengan selapis
kertas saring
d. Perhitungan isotonis dengan menggunakan glukosa sebagai pengganti
NaCl
Penyelesaian : menggunakan metode ekivalensi NaCl
Pada formula KCl = 0.57 gram, maka NaCl yang digunakan adalah

sebesar =

x = 0.4332 gram NaCl

Larutan isotonis NaCl dalam darah = 0.90 gram/100 ml (sediaan


yang akan dibuat adalah 150 ml), sehingga larutan isotonis dalam
darah, yaitu :

x 0.90 gram = 1.35 gram


NaCl yang dibutuhkan = 1.35 gram – 0.4332 gram
= 0.9168 gram
Ekivalen glukosa = 0.16 (1 gram glukosa ∞ 0.16 NaCl)

Glukosa yang dibutuhkan = x 1 gram

= 5.73 gram
4.2 Formulasi
R/ KCl 0.38%
Glukosa q.s.
HCl 0.1 N ad pH 5-6
Norit 0.1%
Aqua steril bebas pirogen ad 100 ml

4.3 Perhitungan berat dan volume


Volume dilebihkan menjadi 150 ml
Penimbangan bahan :

KCl = x 0.38 gram = 0.57 gram

Norit = x 0.1 gram = 0.15 gram


Glukosa  dilebihkan menjadi 5.7825 gram

4.4 Cara sterilisasi bahan sediaan yang akan dibuat


Sediaan infus KCl 0.38% disterilisasi dengan metode filtrasi atau
menggunakan autoklaf pada suhu 1150 C selama 30 menit

V. ALAT DAN BAHAN

5.1 Alat
1) Kaca arloji 6) Pinset
2) Beker glass 7) Sendok porselen
3) Erlenmeyer 8) Pipet tetes
4) Batang pengaduk 9) Corong
5) Gelas ukur
5.2 Bahan
1) KCl
2) Glukosa
3) HCl 0,1 N
4) Norit

VI. CARA KERJA


`

VII. DESAIN BROSUR DAN LABEL


VIII. HASIL PRAKTIKUM

8.1 Penimbangan Bahan


 KCl = 1,13 gram
 Glukosa = 11,51 gram
 Norit = 0,28 gram

8.2 Evaluasi Sediaan


 pH =6
 Organoleptis = jernih

8.3 Sterilisasi Sediaan


Sediaan infus KCl disterilisasi dengan sterilisasi akhir menggunakan
autoklaf pada suhu 121oC selama 101 menit 42 detik.
 Waktu pemanasan = 39 menit 21 detik
 Waktu pengeluaran udara = 6 menit 44 detik
 Waktu menaik = 29 menit 36 detik
 Waktu kesetimbangan = 2 menit 0 detik
 Waktu pembinasaan = 15 menit 0 detik
 Waktu tambahan jaminan sterilisasi = 1 menit 0 detik
 Waktu penurunan = 4 menit 15 detik
 Waktu pendinginan = 3 menit 46 detik
+
Total waktu = 101 menit 42 detik

IX. PEMBAHASAN

Infus adalah suatu piranti kesehatan yang digunakan untuk


menggantikan cairan yang hilang dan menyeimbangkan elektrolit tubuh. Infus
juga digunakan sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum
diketahui, misal pada kasus dehidrasi karena asupan oral tidak memadai,
demam, dan lain-lain. Pada praktikum ini dilakukan pembuatan sediaan steril
infus KCl 0,38% isotonis cum glukosa sebanyak 100 ml. Sediaan ini banyak
digunakan karena hypochoraemic alkalosis yang sering terjadi pada pasien
kekurangan kalium (hypokalemia) dapat diatasi dengan ion klorida dari
sediaan ini. Glukosa berfungsi sebagai agen tonisitas dan nutrisi parenteral
dimana glukosa juga membantu memenuhi kebutuhan glukosa darah untuk
kemudian diubah menjadi energi.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, larutan intravena volume
besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah
bertanda volume lebih dari 100 mL. Dalam Farmakope Indonesia Edisi III
dijelaskan bahwa Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau
emulsi, bebas pirogen, dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah,
disuntikkan langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak. Kecuali
dinyatakan lain, infus intravena tidak diperbolehkan mengandung bakterisida
dan zat dapar. Larutan untuk infus intravena harus jernih dan praktis bebas
partikel. Volume terukur tidak kurang dari nilai nominal, memenuh syarat
injeksi yang tertera dalam injeksi, dan disimpan dalam wadah dosis tunggal.

Keuntungan sediaan infus yaitu :


1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat
2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
3. Dapat menghindari biovaibilitas obat dalam saluran gastrointenstinalis
4. Obat dapat diberikan kepada penderita sakit keras atau dalam keadaan
koma
5. Dapat menghindari kerusakan obat dalam saluran gastrointestinal

Kerugian sediaan infus yaitu :


1. Rasa nyeri saat disuntikkan
2. Memberikan efek fisikologis pada penderita yang takut suntik
3. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hapir tidak dapat diperbaiki
4. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita oleh tenaga medis yang
berkompeten
5. Lebih mahal dari bentuk sediaan non steril dikarenakan ketatnya
persyaratan yang harus dipenuhi (steril, bebas pirogen, jernih, praktis,
dan bebas partikel)
Sediaan steril infus KCl 0,38% dibuat dengan cara menimbang KCl
sebanyak 1,13 g kemudian ditambah aqua steril bebas pirogen ad larut dan
menimbang glukosa sebanyak 11,51 g kemudian ditambah aqua steril bebas
pirogen ad larut lalu keduanya dicampur ad homogen dan di ad kan hingga
300 ml. Setelah itu dilakukan pengujian pH dengan kertas indikator pH.
Selanjutnya dipanaskan pada suhu 80°C, ditambahkan norit sebanyak 0,28 g,
kemudian dipanaskan kembali selama 10 menit. Setelah dipanaskan,
campuran disaring dengan kertas saring rangkap dua, lalu dipanaskan kembali
selama 10 menit, disaring kembali dengan kertas saring yang sama, dan
terakhir disaring dengan satu kertas saring baru.
Sediaan steril infus KCl 0,38% harus memiliki sifat isotonis yaitu
konsentrasi larutan sama dengan konsentrasi sel darah merah sehingga tidak
terjadi pertukaran cairan antara di plasma dan sel darah. KCl dan
glukosa yang digunakan harus disetarakan dengan larutan NaCl 0,9%.
Penyuntikan larutan yang tidak isotonis ke dalam tubuh dapat menimbulkan
hal-hal yang tidak diinginkan. Bila larutan hipotonis terhadap cairan tubuh,
maka air akan diserap masuk ke dalam sel-sel tubuh yang akhirnya
mengembang dan dapat pecah. Pada larutan hipertonis terhadap cairan-cairan
tubuh, air dalam sel akan ditarik keluar, yang mengakibatkan mengerutnya
sel. Selain bersifat isotonis, sediaan steril infus juga harus bersifat isohidris
yaitu mempunyai pH yang sama dengan pH darah atau cairan tubuh yang lain
dimana sediaan tersebut akan dimasukkan.
Sediaan infus harus bebas pirogen. Pirogen adalah senyawa kompleks
polisakarida yang mengandung radikal yang ada unsur N dan P. Selama
radikal masih terikat, selama itu dapat menimbulkan demam dan pirogen
bersifat termostabil. Untuk menghilangkan pirogen dapat digunakan norit.
Norit merupakan salah satu karbon aktif (carboadsorben) yang digunakan
untuk menyerap pirogen yang ada pada sediaan yang kemungkinan terbawa
oleh partikel atau komponen bahan maupun alat yang digunakan. Bahan
berupa carbon aktif harus dipanaskan pada suhu 70ºC - 80ºC selama 10 menit
untuk meningkatkan aktivitas atau kemampuan mengadsorbsi pirogen.
Namun norit tidak hanya menyerap pirogen namun juga zat organik lainnya.
Dalam sediaan ini zat organik tersebut adalah glukosa, untuk mengatasi hal
tersebut maka jumlah glukosa yang digunakan ditambahkan sebanyak atau
35% dari berat norit, jadi jumlah glukosa yang ditambahkan sama dengan
jumlah yang diabsorbsi oleh norit.
Setelah ditambah dengan norit, sediaan harus dipanaskan kembaali
selama 10 menit dan disaring dengan ketas saring rangkap dua. Lalu filtrat
dipanaskan lagi selama 10 menit kemudian disaring kedua kali dengan kertas
saring yang digunakan untuk penyaringan yang pertama. Hal ini diharapkan
bahwa sediaan akan semakin berkurang jumlah pirogennya karena dilewatkan
pada kertas saring yang mengandung norit dan untuk menahan norit yang
mengadsorbsi pirogen. Penyaringan ketiga menggunakan kertas saring satu
lapis. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan norit total sehingga sediaan
terbebas dari norit. Norit harus dihilangkan dari sediaan infus karena
ketika berada dalam sirkulasi sistemik akan menjadi toksik dan
bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) serta dapat menyerap bahan
organik, termasuk glukosa. Sediaan steril infus KCl yang dibuat
mengggunakan pelarut aqua steril bebas pirogen.
Pelarut yang diguanakan pada pembuatan sediaan steril infus
intravena adalah aqua steril bebas pirogen, karena sediaan ini akan langsung
masuk ke dalam sirkulasi sistemik dalam waktu lama. Apabila pirogen sampai
masuk ke dalam sirkulasi sistemik maka sel-sel imun di dalam darah akan
memberikan respon berupa demam.
Volume sediaan yang dibuat adalah 150 ml. Volume ini dilebihkan 50
ml sesuai dengan persyartan pembuatan sediaan infus yaitu volume yang
dibuat adalah volume yang diinginkan ditambahkan 50 ml. Sementara volume
yang dimasukkan kekemasan adalah 102 ml. Hal ini sesuai dengan
persyaratan FI IV dimana untuk cairan encer dengan volume lebih dari 50 ml
ditambahkan 2% dari sediaan yang tertera pada etiket. Hal ini untuk memberi
toleransi kehilangan volume selama proses pemindahan sediaan kedalam
kemasan.
Sediaan steril yang telah dibuat dilakukan uji pH sebelum
dipanaskan. Dimana didapatkan pH sebesar 6. Hal ini sesuai dengan rentang
pH yang diharapkan, sebab bila pH sediaan terlalu basa, glukosa dalam
sediaan dapat menjadi karamel, dan jika pH terlalu asam, maka sediaan dapat
meniritasi atau merusak sel karena terjadi gangguan keseimbangan elektrolit.
Larutan glukosa intravena (terutama larutan hyperosmotic, yang juga
memiliki pH rendah) dapat menyebabkan nyeri lokal, iritasi vena, dan
tromboflebitis, dan nekrosis jaringan jika ekstravasasi terjadi. Beberapa di
antaranya, reaksi mungkin terjadi karena adanya produk degradasi setelah
autoklaf atau teknik yang buruk dalam memberikan larutan. Infus intravena
dapat menyebabkan gangguan cairan dan elektrolit termasuk hipokalemia,
hipomagnesemia, dan hipofosfatemia. Tujuan utama dari pengaturan pH
dalam sediaan infus ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat, misalnya
perubahan warna, efek terapi utama obat, menghindari kemungkinan
terjadinya reaksi dari obat tersebut, sehingga obat tersebut memiliki aktivitas
dan potensi. Selain itu untuk mencegah terjadinya rangsangan atau
rasa sakit ketika disuntikkan. pH yang terlalu tinggi akan menyebabkan
nekrosis jaringan, sedangkan pH yang terlalu rendah akan mengganggu
kenyamanan dalam penggunaan obat, yaitu sakit jika disuntikkan.
Berdasarkan hasil pengujian sediaan secara organoleptis, sediaan
berwarna putih jernih. Hasil tersebut sesuai dengan persyaratan sediaan infus
yaitu jernih dan tidak berwarna kecuali bahan aktif obat yang berwarna.
Selain jernih, sediaan infus yang dibuat sudah larut homogen dan tidak
terdapat partikel-partikel yang kasat mata.
Persyaratan lain sediaan infus adalah steril. Steril adalah kondisi
sediaan yang terbebas dari partikel asing, tidak terdapat mikroorganisme serta
memenuhi persyaratan yang menyatakan sediaan tersebut steril. Agar sediaan
yang dibuat steril, maka perlu dilakukan proses sterilisasi dengan cara
sterilisasi akhir menggunakan panas basah di dalam autoklaf pada suhu
121°C. Panas basah sangat efektif meskipun pada suhu yang tidak terlalu
tinggi, dikarenakan adanya uap air yang berkondensasi pada bahan-bahan
yang disterilkan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah
kerena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial
organisme tersebut (Ansel, 1989). Waktu sterilisasi yang dibutuhkan untuk
membuat sediaan steril infus KCl 0,38% adalah 1 jam 41 menit 42 detik
dengan rincian waktu pemanasan 39 menit 21 detik, waktu pengeluaran udara
6 menit 44 detik, waktu menaik 29 menit 36 detik, waktu kesetimbangan 2
menit, waktu pembinasaan 15 menit, waktu tambahan jaminan sterilisasi 1
menit, waktu penurunan 4 menit 15 detik, dan waktu pendinginan 3 menit 46
detik. Proses sterilisasi bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang
terdapat di dalam sediaan. Untuk proses sterilisasi akhir, nilai SAL (Sterility
Assurance Level) yang harus dicapai adalah 10-6.

X. KESIMPULAN
10.1 Infus adalah larutan intravena volume besar yang digunakan untuk
menggantikan cairan tubuh yang hilang dan menyeimbangkan elektrolit
tubuh yang diberikan dalam jangka waktu lama secara kontinyu.
10.2 Persyaratan infus intravena antara lain steril, bebas pirogen, isotonis,
isohidris, tidak diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar,
harus jernih dan praktis bebas partikel, dan disimpan dalam wadah dosis
tunggal.
10.3 Sediaan steril infus KCl 0,38% isotonis cum glukosa banyak digunakan
untuk terapi hypochoraemic alkalosis yang sering terjadi pada pasien
kekurangan kalium (hypokalemia).
10.4 Berdasarkan hasil pengujian pH dan organoleptis, sediaan steril infus
KCl 0,38% isotonis cum glukosa telah memenuhi persyaratan yaitu pH =
6, jernih, dan bebas partikel.
10.5 Sediaan steril infus KCl 0,38% isotonis cum glukosa disterilisasi akhir
dengan panas basah menggunakan autoklaf 121°C. Waktu yang
dibutuhkan untuk sterilisasi adalah 1 jam 41 menit 42 detik dengan waktu
pembinasaan selama 15 menit.

XI. LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan


Republik Indonesia.
Anonim. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th edition. London:
Pharmaceutical Press.
Anonim. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi diterjemahkan oleh Farida
Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608, 700.
Jakarta: UI Press.
B. Kozier, Erb G, Berman A, Snyder SJ. 2004. Fundamentals of nursing Edisi ke-
7. New Jersey: Pearson Education.
Brunner and Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8
Volume 2. Jakarta : EGC.
Levchuk, J.W. 1992. Parenteral Products in Hospital and Home Care Pharmacy
Practice, dalam Avis, Kenneth E., Lieberman, Hebert A. dan Lachman,
Leon, (Eds.), Pharmaceutical Dosage Forms. Parenteral Medications
Volume 1, 2nd Ed., 270-273, 513-514, 557, Marcel Dekker Inc., New York.
Maharani, Laksmi, Aris W. Astuti, dan Anisyah Achmad. 2014. Kompatibilitas
Pencampuran Sediaan Parenteral di Bangsal Bedah Saraf RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, Maret 2014 Vol. 3 No.
1, hlm 1–9. ISSN: 2252–6218. DOI: 10.15416/ijcp.2014.3.1.1.
Potter, & Perry, A. G. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konse,.
Proses, Dan Praktik Edisi 4 Volume.2. Jakarta: EGC.