Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jagung merupakan salah satu sumber daya alam yang melimpah di
Indonesia. Produksi jagung di Indonesia setiap tahunnya menunjukkan
peningkatan. Berdasarkan informasi dari Biro Pusat Statistik (2015),
Produksi jagung tahun 2015 (ARAM II) diperkirakan sebanyak 19,61 juta
ton pipilan kering atau mengalami kenaikan sebanyak 0,604 jutan ton (3,3
persen) dibandingkan dengan tahun 2014. Kenaikan produksi diperkirakan
terjadi karena kenaikan luas panen seluas 58,7 ribu hektar (1,5 persen) dan
kenaikan produktivitas sebesar 0,8 kuintal/hektar (1,7 persen). Bukti
lainnnya dapat diamati dari semakin banyaknya produk-produk makanan
yang bahan utamanya berasal dari jagung. Dampak dari banyaknya jagung
yang dikonsumsi menyebabkan bertambahnya limbah bonggol jagung yang
berpotensi mencemari lingkungan.
Masyarakat selama ini memanfaatkan limbah tongkol jagung
sebagai pakan ternak bahkan tidak sedikit juga yang membuangnya tanpa
pengolahan lebih lanjut. Salah satu upaya yang dilakukan untuk
memanfaatkan limbah pertanian tersebut serta meningkatkan nilai
ekonominya ialah diolah menjadi arang aktif atau karbon aktif yang
selanjutnya diaplikasikan sebagai adsorben. Tongkol jagung memiliki
kandungan senyawa karbon yang cukup tinggi, yaitu selulosa (41%) dan
hemiselulosa (36%) yang cukup tinggi yang mengindikasikan bahwa
tongkol jagung berpotensi sebagai bahan pembuat arang aktif. Selain itu
juga tongkol jagung memiliki kandungan kadar abu yang rendah yaitu
0,91%. Arang aktif dari tongkol ini memiliki beberapa kelebihan
diantaranya mempunyai potensi yang baik sebagai adsorben karena
kandungan karbonnya lebih besar dari pada kadar abunya, mudah dibuat,
murah, bahan bakunya mudah didapat dan melimpah, mudah digunakan,
aman, dan tahan lama (Lorenz dan Kulp, 1991).
Pada dasarnya karbon aktif dapat dibuat dari semua bahan yang
mengandung karbon baik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, binatang

1
2

maupun barang tambang seperti berbagai jenis kayu, sekam padi, tulang
binatang, batubara, kulit biji kopi, tempurung kelapa, tempurung kelapa
sawit, mahkota nanas, tongkol jagung, dan lain-lain (Manocha, Statish
2003). Dari pernyataan ini dapat diambil makna bahwa tongkol jagung
dapat di olah menjadi karbon aktif.
Karbon aktif merupakan senyawa karbon yang telah ditingkatkann
daya adsorbsinya dengan melakukan proses karbonasi dan aktivasi. Pada
proses tersebut terjadi penghilangan hidrogen, gas-gas dan air dari
permukaan karbon sehingga terjadi perubahan fisik pada permukaanya.
Pada umumnya karbon aktif dibuat melalui proses dengan penambahan
bahan-bahan kimia. Jeni-jenis bahan kimia yang digunakan sebagai
aktivator adalah hidroksida logam alkali, garam-garam karbonat, klorida,
sulfat, fosfat dan logam alkali tanah seperti ZnCl2, NaOH, H3PO4, dan uap
air pada suhu tinggi (Mugiyono Saputro, 2010).
Pembuatan karbon aktif dibagi menjadi dua macam yaitu aktivasi
kimia dan aktivasi fisika. Proses aktivasi fisika membutuhkan suhu tinggi
600oC-900oC. Pada penelitian ini digunakan zat kimia natrium karbonat
(Na2CO3) sebagai aktivator dengan variasi konsentrasi yaitu 5%, 5,5%, 6%,
6,5%, dan 7% dengan suhu pembakaran 700oC-900oC, (Ranada, dkk 2009)
menyatakan bahwa semakin tinggi suhu karbonasi, maka daya serap yang
dihasilkan meningkat. Oleh karena itu dipilih suhu 700oC-900oC. Karbon
aktif yang dibuat berbentuk bubuk halus dengan ukuran 100 mesh, (tri
Kurnia Dewi, dkk 2009) semakin halus ukuran karbon aktif, maka daya
serap yang dihasilkan juga meningkat. Pada penelitian ini akan digunakan
tongkol jagung sebagai bahan baku membuat karbon aktif, dan diharapkan
produk yang dihasilkan sesuai dengan standar karbon aktif (SNI) 06-3730-
1995.
Fenol merupakan limbah cair yang biasanya berasal dari industri
tekstil, perekat, obat, dan sebagainya. Fenol dikenal juga sebagai
monohidroksibenzena, merupakan kristal putih yang larut dalam air pada
temperatur kamar (Teguh Wirawan, 2012). Fenol merupakan senyawa
organik (C6H5OH) yang berbau khas dan bersifat racun serta korosif
3

terhadap kulit (menimbulkan iritasi), sehingga perlu adanya penanganan


limbah fenol dalam air sangat berpengaruh besar dalam penentuan kualitas
air. Salah satu metode dalam penurunan limbah fenol dari industri adalah
dengan mengadsorbsi limbah ke dalam media, hal ini dilakukan dengan
memasukan adsorben (karbon aktif) dalam air sehingga limbah fenol akan
diserap oleh adsorben (Putranto, dkk 2005).

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik
(2015) bahwa produksi jagung di Indonesia setiap tahun menunjukkan
peningkatan. Semakin meningkatnya produksi jagung maka dibuktikan
semakin banyak pula produk-produk makanan yang bahan utamanya
berasal dari jagung. Dampak dari banyaknya jagung yang dikonsumsi
menyebabkan bertambahnya limbah tongkol jagung yang berpotensi
mencemari ligkungan. Kondisi tersebut jelas menjadi masalah dalam
pencemaran lingkungan.
Fenol merupakan limbah cair yang biasanya berasal dari industri
tekstil, perekat, obat, dan sebagainya (Teguh Wirawan, 2012). Fenol
merupakan senyawa organik yang berbau khas dan bersifat racun serta
korosif terhadap kulit (menimbulkan iritasi), sehingga perlu adanya
penanganan limbah fenol karena kadar fenol dalam air sangat berpengaruh
besar dalam penentuan kualitas air.
Pada penelitian sebelumnya didapatkan karbon aktif yang
memenuhi standar dengan suhu 700oC dan konsentrasi natrium karbonat 5%
yang dapat menyerap limbah fenol sebanyak 99,68% sampai 99,75%. Oleh
karena itu, pada penelitian ini memvariasikan konsentrasi natrium karbonat
(Na2CO3) 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7% sebagai aktivator, agar dapat
meningkatkan kualitas dari karbon aktif dilakukan juga analisa kadar air,
kadar abu, zat terbang, dan juga pengujian daya serap terhadap larutan
iodium dan daya serap fenol pada air limbah.
Berdasarkan hal-hal yang diungkapkan diatas, maka dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
4

1. Apakah dengan suhu 700oC dan memvariasikan konsentrasi


aktivator 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7% dapat menghasilkan
karbon aktif yang lebih berkualitas dan sesuai dengan standar
karbon aktif (SNI) 06-3730-1995?
2. Bagaimana karakteristik dari karbon aktif tongkol jagung
teraktivasi Na2CO3 ?
3. Berapakah konsentrasi optimum aktivator yang dapat
mengadsorpsi fenol secara maksimal dalam air limbah?
4. Berapakah konsentrasi fenol yang terserap oleh karbon aktif
dalam air limbah?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui karakterisasi karbon aktif yang dibuat dari bonggol jagung
sesuai variabel kadar air, kadar abu serta zat menguap dan uji daya serap
terhadap larutan iodium, metilen biru, dan fenol pada air limbah.
2. Mengetahui konsentrasi optimum aktivator yang dapat mengadsorpsi fenol
secara maksimal dalam air limbah.
3. Mengetahui berapa banyak fenol dalam air limbah yang terserap oleh
karbon aktif.
4. Membuat karbon aktif dengan aktivator Na2CO3 agar memenuhi standar
dari karbon aktif SNI.

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah :
1. Memanfaatkan dan meningkatkan nilai tambah tongkol jagung secara
optimal sehingga dapat menghasilkan karbon aktif yang bernilai
ekonomis.
2. Memberikan informasi tentang manfaat karbon aktif dan pengolahan
limbah tongkol jagung, sehinngga petani dapat mengerti betapa
pentingnya limbah bonggol jagung.
3. Sebagai referensi bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk
melanjutkan penelitian ini sebagai uji penyerapan karbon aktif dari
5

tongkol jagung, dapat diaplikasikan sebagai adsorben terhadap air


limbah.
4. Memberikan informasi mengenai pengurangan kadar fenol pada air
limbah industri agar tidak merusak ekosistem.

1.5 Relevansi
Keterkaitan hasil penelitian terhadap bidang keilmuan teknik kimia yang
terdapat di proposal laporan akhir ini yaitu proses pembuatan dan analisa
produk untuk mendapatkan karbon aktif yang dapat mengurangi kadar fenol
dalam air limbah industri.