Anda di halaman 1dari 6
Kelainan Bawaan Celah bibir dan langit-langit Abdominal Wall Defect Neural Tube Defect Atresia Ani Birth
Kelainan Bawaan
Celah bibir dan langit-langit
Abdominal Wall Defect
Neural Tube Defect
Atresia Ani
Birth Defects Indonesia
Talipes
Proporsi
Penyebab
Kematian Bayi
Tahun 2015
Lainnya
Kelainan Bawaan
392.000
303.000
Sepsis
401.000
Kelahiran Prematur
947.000
Asksia & Trauma
637.000
Sumber : WHO (data penyebab kematian bayi
tahun 2000 - 2015)
Bayi 0 - 6 Hari
%
Bayi 7 - 28 Hari
%
Penyebab
Kematian Bayi
Sepsis
20,5
Gangguan/Kelainan Pernafasan
35,9
Kelainan Bawaan
18,1
Prematuritas/BBLR
32,4
Pneumonia
15,4
Sindrom Gawat Pernapasan
12,8
Riskesdas
Prematuritas
12,8
Sepsis
12
Kuning
2,6
2,6
Hipotermi 6,3
2007
Cedera Lahir 2,6
Kelainan Pendarahan & Kuning
5,6
Tetanus
2,6
Postmatur
2,8
Desiensi Nutrisi
2,6
Kelainan Bawaan
1,4
Sindrom Kematian Bayi Mendadak
2,5
Prevalensi Bayi dengan Kelainan Bawaan
per 1000 Kelahiran Hidup
di Asia Tenggara (Tahun 1980 - 2001)
Persentase Jenis Kelainan Bawaan
pada Survei Sentinel Kelainan Bawaan
September 2014 - Maret 2018
Talipes Equinovarus
21,9
Orofacial Cleft
20,4
Neural Tube Defect
Abdominal Wall Defect
18,4
16,14
Atresia Ani
9,7
Hypospadias/Epispadias
4,8
Kembar Siam
4,2
Microcephaly
2,3
Sumber : Laporan Surveilans Kelainan Bawaan
Global Report on Birth Defects,
March of Dimes Birth Defects Foundation, 2006
Tidak semua kelainan bawaan dapat dicegah, tetapi wanita dapat mengurangi resiko
tersebut dengan menerapkan gaya hidup sehat sebelum masa kehamilan.
ISSN 2442-7659
2018
Kementerian Kesehatan RI
Pusat Data dan Informasi
Jl. HR Rasuna Said Blok X5 Kav. 4-9 Lantai 6 Blok C
Jakarta Selatan
Said Blok X5 Kav. 4-9 Lantai 6 Blok C Jakarta Selatan ISSN 2442-7659 World Birth Defects

ISSN 2442-7659

X5 Kav. 4-9 Lantai 6 Blok C Jakarta Selatan ISSN 2442-7659 World Birth Defects Day 3
X5 Kav. 4-9 Lantai 6 Blok C Jakarta Selatan ISSN 2442-7659 World Birth Defects Day 3

World Birth Defects Day

3 Maret

Faktor penyebab Talipes Equinovarus Orofacial Cleft Neural Tube Defect Faktor Genetik Normal Status Gizi Ibu
Faktor penyebab
Talipes Equinovarus
Orofacial Cleft
Neural Tube Defect
Faktor Genetik
Normal
Status Gizi Ibu
Abdominal Wall Defect
Atresia Ani
Hypospadias/Epispadias
Bumil Kekurangan Asam Folat
Normal
Hypospadias
Epispadias
Kembar Siam
Microcephaly
A
Bumil Kelebihan Vit A
Pajanan Lingkungan
Normal
Bumil mengkonsumsi alkohol
Akses Fasilitas Kesehatan
Prevalensi Bayi dengan Kelainan
Bawaan per 1000 Kelahiran Hidup
di Asia Tenggara
(tahun 1980 - 2001)
Filipina
52,9
Singapura
54,2
Brunei Darussalam
54,7
Vietnam
55,1
Malaysia
56
Myanmar
58,5
Indonesia
59,3
Thailand
59,9
Kamboja
64,5
Laos
67,5
Global Report on Birth Defects,
March of Dimes Birth Defects Foundation, 2006
Persentase Jenis Kelainan Bawaan pada Survei Sentinel Kelainan Bawaan
Kelainan
September 2014 - Maret 2018
Talipes Equinovarus
21,9
Orofacial Cleft
20,4
Neural Tube Defect
Abdominal Wall Defect
18,4
16,14
Atresia Ani
9,7
Bawaan
Hypospadias/Epispadias
4,8
Kembar Siam
4,2
Microcephaly
2,3
Sumber : Laporan Surveilans Kelainan Bawaan

Situasi Global

Situasi Global Menurut WHO lebih dari 8 juta bayi di seluruh dunia setiap tahunnya lahir dengan

Menurut WHO lebih dari 8 juta bayi di seluruh dunia setiap tahunnya lahir dengan kelainan bawaan.

Di Amerika Serikat hampir 120.000 bayi lahir dengan kelainan bawaan setiap tahun. Kelainan bawaan

merupakan salah satu penyebab utama dari kematian bayi. Data WHO menyebutkan bahwa dari 2,68 juta kematian bayi, 11,3% disebabkan oleh kelainan bawaan.

Gambar 1. Proporsi Penyebab Kematian Bayi di Dunia Tahun 2015 Lainnya Kelainan Bawaan 392.000 303.000
Gambar 1. Proporsi Penyebab Kematian Bayi di Dunia Tahun 2015
Lainnya
Kelainan Bawaan
392.000
303.000
Sepsis
401.000
Kelahiran Prematur
947.000
Asksia & Trauma
637.000
Sumber : WHO (data penyebab kematian bayi di dunia tahun 2000 - 2015)

Di Indonesia, hasil Riskesdas tahun 2007 menjelaskan kelainan bawaan menjadi salah satu penyebab

kematian bayi. Pada bayi usia 0-6 hari, kematian bayi yang disebabkan oleh kelainan bawaan sebesar 1,4%, sedangkan pada usia 7-28 hari, menjadi meningkat persentasenya menjadi 18,1%.

Gambar 2. Penyebab Kematian Bayi 0 - 6 Hari dan 7 - 28 Hari, Riskesdas 2007

 
 
       
   
       
 

Bayi 0 - 6 Hari

%

 

Bayi 7 - 28 Hari

%

Gangguan/Kelainan Pernafasan 35,9 Prematuritas/BBLR 32,4 Sepsis 12 Hipotermi 6,3 Kelainan Pendarahan & Kuning
Gangguan/Kelainan Pernafasan
35,9
Prematuritas/BBLR
32,4
Sepsis
12
Hipotermi
6,3
Kelainan Pendarahan & Kuning
5,6
Postmatur
2,8
Kelainan Bawaan
1,4
Sepsis 20,5 Kelainan Bawaan 18,1 Pneumonia 15,4 Sindrom Gawat Pernapasan 12,8 Prematuritas 12,8 Kuning 2,6
Sepsis
20,5
Kelainan Bawaan
18,1
Pneumonia
15,4
Sindrom Gawat Pernapasan
12,8
Prematuritas
12,8
Kuning
2,6
2,6
Cedera Lahir 2,6
Tetanus
2,6
Desiensi Nutrisi
2,6
Sindrom Kematian Bayi Mendadak
2,5

Sumber : Riskesdas, 2007

 

Definisi dan Klasifikasi

Sumber : Riskesdas, 2007   Definisi dan Klasifikasi Menurut WHO, kelainan bawaan adalah kelainan struktural atau

Menurut WHO, kelainan bawaan adalah kelainan struktural atau fungsional, termasuk gangguan metabolik, yang ditemukan sejak lahir.

Menurut ICD-10, kelainan bawaan diklasikasikan menjadi 11 kelompok, yaitu kelainan bawaan pada:

1. Sistem saraf;

2. Organ mata, telinga, wajah, dan leher;

3. Sistem peredaran darah;

4. Sistem pernapasan;

5. Celah bibir dan celah langit-langit;

6. Sistem pencernaan;

7. Organ reproduksi;

8. Saluran kemih;

9. Sistem otot dan rangka;

10. Kelainan bawaan lainnya; dan

11. Kelainan yang disebabkan oleh kromosom yang abnormal.

Kelainan bawaan dapat diidentikasi pada sebelum kelahiran, saat lahir, maupun di kemudian hari setelah bayi lahir. Kelainan bawaan dapat mempengaruhi bentuk organ, fungsi organ, maupun keduanya. Kelainan bawaan pada bayi bervariasi dari tingkat ringan hingga berat. Kesehatan dan kemampuan bertahan bayi dengan kelainan bawaan bergantung pada bagian organ tubuh yang mengalami kelainan.

Penyebab

pada bagian organ tubuh yang mengalami kelainan. Penyebab Kelainan bawaan dapat terjadi dalam setiap fase kehamilan.

Kelainan bawaan dapat terjadi dalam setiap fase kehamilan. Umumnya kelainan terjadi pada fase trimester pertama kehamilan di saat proses pembentukan organ tubuh. Selain itu, ada pula kelainan yang terjadi di trimester selanjutnya karena pada masa tersebut jaringan dan organ masih terus tumbuh dan berkembang.

Sekitar 50% kelainan bawaan tidak diketahui penyebabnya, namun ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi, yaitu:

Faktor genetik Gen merupakan faktor utama yang mempengaruhi kelainan bawaan. Bayi dalam kandungan mungkin mewarisi gen yang Gen merupakan faktor utama yang mempengaruhi kelainan bawaan. Bayi dalam kandungan mungkin mewarisi gen yang memiliki kelainan (anomali) ataupun terjadi mutasi genetik pada saat perkembangan janin. Orangtua yang memiliki ikatan saudara (pernikahan sedarah) dapat meningkatkan terjadinya kelainan bawaan dan dua kali lipat meningkatkan risiko kematian neonatal dan anak, gangguan intelektual, disabilitas mental dan kelainan lainnya.

Faktor sosial ekonomi dan demogra Kemiskinan merupakan faktor risiko yang penting. Diperkirakan 94% kelainan bawaan terjadi di negara berkembang dengan Kemiskinan merupakan faktor risiko yang penting. Diperkirakan 94% kelainan bawaan terjadi di negara berkembang dengan prevalensi malnutrisi yang cukup tinggi dan paparan terhadap zat/faktor yang menambah risiko terjadinya gangguan janin, terutama infeksi dan alkohol.

Usia ibu saat hamil juga berpengaruh. Semakin bertambahnya usia, semakin tinggi risiko terjadinya kelainan pada kromosom seperti Sindrom Down.

3.
3.

Faktor lingkungan Pajanan pada ibu hamil seperti pestisida, obat, alkohol, tembakau, timbal, merkuri dan bahan psikoaktif lainnya, zat kimia tertentu, rokok, dan radiasi dapat meningkatkan risiko bayi mengalami kelainan bawaan. Bekerja maupun tinggal di daerah pertambangan atau daerah pembuangan limbah juga meningkatkan risiko terjadi kelainan bawaan.

4.
4.

Infeksi Infeksi Silis dan Rubella pada ibu hamil merupakan salah satu penyebab kelainan bawaan, umumnya terjadi di negara berkembang. Infeksi virus Zika yang baru-baru ini terjadi menyebabkan peningkatan bayi lahir dengan mikrosefali (ukuran kepala yang lebih kecil dibandingkan dengan anak-anak seusia).

5.
5.

Status gizi Kurangnya konsumsi iodium dan asam folat pada ibu hamil meningkatkan risiko bayi dengan neural tube defect sedangkan konsumsi vitamin A yang berlebihan dapat mempengaruhi perkembangan janin. Obesitas serta Diabetes mellitus juga berhubungan dengan beberapa kelainan bawaan.

Ibu hamil yang memiliki satu atau lebih risiko di atas belum tentu akan melahirkan bayi dengan kelainan bawaan. Ada pula ibu yang melahirkan bayi dengan kelainan bawaan tanpa adanya risiko seperti disebutkan di atas. Hal yang utama adalah selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan (dokter kandungan atau bidan) selama kehamilan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kelainan bawaan.

Deteksi
Deteksi

Deteksi dini terhadap kelainan bawaan dapat dilakukan saat sebelum kehamilan, saat masa kehamilan dan ketika bayi lahir.

1.
1.

Deteksi pada masa sebelum kehamilan Pada masa ini dilakukan deteksi melalui riwayat kesehatan keluarga, apakah ada risiko penyakit tertentu dalam keluarga atau apakah salah satu dari orangtua merupakan pembawa (carrier) terhadap penyakit tertentu. Deteksi ini penting dilakukan di daerah yang banyak kejadian perkawinan antar-keluarga.

2.
2.

Deteksi pada masa kehamilan Kondisi kesehatan ibu hamil menjadi salah satu risiko yang dapat meningkatkan terjadinya kelainan bawaan, seperti usia ibu hamil, perilaku konsumsi alkohol, perilaku merokok, dan lainnya. USG dapat mendeteksi kelainan struktur organ dan Sindrom Down pada trimester pertama dan kelainan organ yang lebih berat tingkat keparahannya pada trimester berikutnya.

3.
3.

Deteksi pada saat kelahiran Beberapa kelainan bawaan seperti Anensefali, Celah bibir, dan Talipes/Club foot dapat dideteksi secara langsung. Sedangkan kelainan bawaan lain seperti gangguan pendengaran dan kelainan

Situasi Nasional

seperti gangguan pendengaran dan kelainan Situasi Nasional Menurut Global Report on Birth Defects yang dirilis oleh

Menurut Global Report on Birth Defects yang dirilis oleh March of Dimes Birth Defects Foundation pada tahun 2006, prevalensi bayi dengan kelainan bawaan di Indonesia adalah 59,3 per 1.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia masih termasuk negara dengan prevalensi bayi dengan kelainan bawaan yang cukup tinggi.

Gambar 3. Prevalensi Bayi dengan Kelainan Bawaan per 1000 Kelahiran Hidup

di Asia Tenggara (Tahun 1980 - 2001)

 
 

Filipina

52,9 54,2 54,7 55,1 56 58,5 59,3 59,9
52,9
54,2
54,7
55,1
56
58,5
59,3
59,9

64,5

Singapura

Brunei Darussalam

Vietnam

Malaysia

Myanmar

Indonesia

Thailand

Kamboja

Laos

67,5

Sumber : Global Report on Birth Defects, March of Dimes Birth Defects Foundation, 2006

 

Kelainan bawaan dan kelahiran prematur merupakan penyebab penting kematian, penyakit kronis dan

disabilitas pada anak.

menganjurkan pelaksanaan upaya pencegahan primer dan tatalaksana anak dengan kelainan bawaan melalui:

1. Penyusunan dan pemantapan registrasi dan sistem surveilans;

2. Peningkatan keahlian dan kapasitas;

Pada tahun 2010, World Health Assembly meluncurkan resolusi yang

3. Pemantapan penelitian dan kajian tentang penyebab, diagnosis dan upaya pencegahan;

4. Peningkatan upaya kerjasama internasional.

Kementerian Kesehatan telah melakukan surveilans sentinel kelainan bawaan di rumah sakit sejak September 2014. Rumah sakit yang diikutsertakan dalam surveilans ini hingga saat ini adalah sebanyak 28 rumah sakit di 18 provinsi.

Gambar 4 . Rumah Sakit Pelaksana Surveilans Kelainan Bawaan Aceh Sumut Kaltim Sulut Riau Sulteng
Gambar 4 . Rumah Sakit Pelaksana Surveilans Kelainan Bawaan
Aceh
Sumut
Kaltim
Sulut
Riau
Sulteng
Sumbar
Sumsel
DKI Jakarta
Papua
Sulsel
Jateng
Banten
DIY
Jabar
Bali
Jatim
NTB
Keterangan=
= 1 Rumah Sakit

Tabel 1 . Daftar Rumah Sakit Pelaksana Surveilans Kelainan Bawaan

Aceh

Aceh RSUD dr. Zainoel Abidin Jateng RSUP dr. Kariadi

RSUD dr. Zainoel Abidin

Jateng

Aceh RSUD dr. Zainoel Abidin Jateng RSUP dr. Kariadi

RSUP dr. Kariadi

Sumut

Sumut RSUP H Adam Malik RSUD Kabupaten Brebes

RSUP H Adam Malik

Sumut RSUP H Adam Malik RSUD Kabupaten Brebes

RSUD Kabupaten Brebes

 
  RSUD dr. Pirngadi J a t i m RSUD dr. Soetomo

RSUD dr. Pirngadi

Jatim

  RSUD dr. Pirngadi J a t i m RSUD dr. Soetomo

RSUD dr. Soetomo

Sumbar

Sumbar RSUP dr. M Djamil RSUD dr. Saiful Anwar

RSUP dr. M Djamil

Sumbar RSUP dr. M Djamil RSUD dr. Saiful Anwar

RSUD dr. Saiful Anwar

 
  RSUD Pariaman K a l t i m RSUD Kota Balikpapan

RSUD Pariaman

Kaltim

  RSUD Pariaman K a l t i m RSUD Kota Balikpapan

RSUD Kota Balikpapan

Riau

Riau RSUD Kota Dumai B a l i RSUP Sanglah

RSUD Kota Dumai

Bali

Riau RSUD Kota Dumai B a l i RSUP Sanglah

RSUP Sanglah

Sumsel

Sumsel RSUP dr. Mohammad Hoesin D I Y RSUP dr. Sardjito

RSUP dr. Mohammad Hoesin

DIY

Sumsel RSUP dr. Mohammad Hoesin D I Y RSUP dr. Sardjito

RSUP dr. Sardjito

DKI Jakarta

D K I J a k a r t a RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo RSUD Wates

RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo

D K I J a k a r t a RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo RSUD Wates

RSUD Wates

 
  RSAB Harapan Kita N T B RSUD Prov. Nusa Tenggara Barat

RSAB Harapan Kita

NTB

  RSAB Harapan Kita N T B RSUD Prov. Nusa Tenggara Barat

RSUD Prov. Nusa Tenggara Barat

 
  RSIA Budi Kemuliaan RSUD Patut Patuh Patju

RSIA Budi Kemuliaan

  RSIA Budi Kemuliaan RSUD Patut Patuh Patju

RSUD Patut Patuh Patju

 
  RSIA Bunda S u l u t RSUP Prof. dr. RD Kandou

RSIA Bunda

Sulut

  RSIA Bunda S u l u t RSUP Prof. dr. RD Kandou

RSUP Prof. dr. RD Kandou

 
  RS Hermina Jatinegara Sulteng RSUD Undata

RS Hermina Jatinegara

Sulteng

  RS Hermina Jatinegara Sulteng RSUD Undata

RSUD Undata

Banten

B a n t e n RSUD dr. Adjidarmo Lebak Sulsel RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo

RSUD dr. Adjidarmo Lebak

Sulsel

B a n t e n RSUD dr. Adjidarmo Lebak Sulsel RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo

RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo

Jabar

Jabar RSUP dr. Hasan Sadikin Papua RSUD Jayapura

RSUP dr. Hasan Sadikin

Papua

Jabar RSUP dr. Hasan Sadikin Papua RSUD Jayapura

RSUD Jayapura

Tujuan umum dari surveilans kelainan bawaan adalah menurunkan angka kejadian kelainan bawaan yang kemudian dapat menurunkan angka kesakitan, kelainan (disabilitas), dan kematian bayi dan anak yang disebabkan karena kelainan bawaan melalui kegiatan surveilans.

Tujuan khusus surveilans kelainan bawaan di Indonesia adalah:

1. Mendapatkan data dasar mengenai kejadian kelainan bawaan;

2. Mengidentikasi populasi yang at increased risk terhadap kelainan bawaan;

3. Monitor tren prevalensi kelainan bawaan;

4. Mengidentikasi adanya kluster kelainan bawaan di populasi;

5. Mengetahui faktor risiko terhadap terjadinya kelainan bawaan;

6. Mengestimasi kebutuhan pelayanan terhadap kelainan bawaan;

7. Menentukan program atau intervensi yang tepat untuk menurunkan prevalensi kelainan bawaan dan kematian perinatal;

8. Memberikan dasar untuk penelitian epidemiologi dan program pencegahan.

Kasus kelainan bawaan yang dilakukan surveilans dipilih dengan berdasarkan kriteria berikut:

1. Mempunyai dampak besar terhadap kesehatan masyarakat;

2. Mudah dikenali pada saat/segera setelah lahir;

3. Dapat dicegah dengan upaya pencegahan primer;

4. Diagnosis serta terapi dininya sangat berpengaruh terhadap tingkat kesehatan penderitanya.

Dalam surveilans ini disepakati 16 jenis kelainan bawaan yang mempunyai potensi yang dapat dicegah, dapat dideteksi dalam tujuh hari pertama kelahiran, dan/atau yang dapat terlihat dan didiagnosis secara visual, mudah dikenali tanpa bantuan alat penunjang.

Tabel 2. Daftar 16 Jenis Kelainan Bawaan Prioritas Surveilans Kelainan Bawaan

Kelainan Bawaan

Kode ICD - 10

1. Anencephaly

QOO

2. Encephalocele

Q01

3. Microcephaly

Q02

4. Spina bida

Q05

5. Congenital Cataract/Katarak bawaan

Q12

6. Cleft palate/Celah langit-langit

Q35

7. Cleft lip/Celah bibir

Q36

8. Cleft lip and palate/Celah bibir dan langit-langit

Q37

9. Atresia ani

Q42

10. Hypospadias

Q54

11. Epispadias

Q64

12. Talipes equinovarus/Kaki pengkor

Q66

13. Omphalocele

Q79.2

14. Gastroschizis

Q79.3

15. Extremitas reduction

Q79.8

16. Conjucted twin/kembar siam

Q89.4

Kriteria inklusi sasaran surveilans ini adalah:

1. Lahir dengan salah satu atau lebih kelainan bawaan yang disurveilans;

2. Umur saat didiagnosis ≤7 hari;

3. Luaran dari kehamilan dapat berupa lahir hidup maupun lahir mati;

4. Umur Gestasi ≥ 20 minggu atau berat lahir ≥500 gram.

Pencatatan surveilans dilakukan dengan menggunakan formulir khusus pencatatan surveilans bawaan, sedangkan sistem pelaporan melalui Indonesia Registry Web Portal, Registri Penyakit Indonesia (www.ina-registry.org).

Hasil surveilans menunjukkan, pada periode September 2014 – Maret 2018 terdapat 1.085 bayi dengan kelainan bawaan yang dilaporkan dan terdapat 956 kasus kelainan bawaan yang sesuai dengan kriteria inklusi. Delapan jenis kelainan bawaan terbanyak yang dilaporkan pada periode September 2014 – Maret 2018 berturut-turut adalah adalah Talipes/kaki pengkor dan Orofacial cleft defect/kelainan celah bibir dan langit-langit, Neural tube defect, Abdominal wall defect, Atresia ani, Hypospadias, Epispadias, kembar siam, dan mikrosefali.

Gambar 5. Jenis Kelainan Bawaan dalam Surveilans Kelainan Bawaan

Talipes Equinovarus Orofacial Cleft Neural Tube Defect Normal Abdominal Wall Defect Atresia Ani
Talipes Equinovarus
Orofacial Cleft
Neural Tube Defect
Normal
Abdominal Wall Defect
Atresia Ani
Hypospadias/Epispadias
Normal
Hypospadias
Epispadias
Kembar Siam
Microcephaly
Normal
 

Gambar 6. Persentase Jenis Kelainan Bawaan pada Survei Sentinel Kelainan Bawaan September 2014 - Maret 2018

 

Talipes Equinovarus

18,4 16,14 9,7 4,8 4,2 2,3
18,4
16,14
9,7
4,8
4,2
2,3

21,9

Orofacial Cleft

20,4

Neural Tube Defect

Abdominal Wall Defect

Atresia Ani

Hypospadias/Epispadias

Kembar Siam

Microcephaly

Sumber : Laporan Surveilans Kelainan Bawaan

 

Upaya Pencegahan

Surveilans Kelainan Bawaan   Upaya Pencegahan Tidak semua kelainan bawaan dapat dicegah. Upaya pencegahan

Tidak semua kelainan bawaan dapat dicegah. Upaya pencegahan dapat dilakukan sejak masa remaja, pranikah dan prakonsepsi, antenatal (masa kehamilan), dan pasca persalinan atau masa neonatal (bayi usia 0-28 hari).

7

Secara umum, pencegahan tersebut meliputi :

1.
1.

Peningkatan gizi wanita sepanjang usia reproduksi dengan memastikan terpenuhinya kebutuhan vitamin dan mineral (khususnya asam folat dan iodium). Bagi wanita yang berencana untuk hamil, sebaiknya rutin mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) yang mengandung 400 mikrogram asam folat setiap harinya, maksimal sebulan sebelum kehamilan dan dilanjutkan selama masa kehamilan. Asam folat dapat diperoleh dari makanan seperti kacang-kacangan dan alpukat serta suplemen asam folat.

2.
2.

Pencegahan atau pembatasan konsumsi substansi berbahaya, khususnya alkohol, rokok/tembakau dan zat adiktif lainnya. Ibu hamil sebaiknya menghindari mengkonsumsi alkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang. Tidak ada batasan aman alkohol untuk dikonsumsi ibu hamil. Rokok sangat berbahaya bagi ibu hamil, bahkan asap rokok dapat meningkatkan risiko kesehatan selama kehamilan.

3.
3.

Pengelolaan Diabetes Mellitus melalui konseling, pengendalian berat badan, diet dan pemberian insulin bila diperlukan. Wanita yang merencanakan kehamilan harus menjaga berat badan agar tetap ideal. Wanita dengan berat badan berlebih dan obesitas berisiko lebih besar mengalami komplikasi saat kehamilan. Diet gizi seimbang, olahraga teratur, dan kontrol gula darah khususnya pada penderita diabetes dapat meningkatkan kesehatan ibu hamil dan tentunya mengurangi risiko terjadinya kelainan pada janin.

4.
4.

Pencegahan paparan bagi ibu hamil terhadap zat-zat berbahaya, misalnya logam berat, pestisida, obat-obat tertentu. Beberapa jenis infeksi dapat berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan janin. Untuk mencegah pajanan infeksi, sebaiknya ibu hamil menerapkan hal-hal berikut: menghindari mengunjungi daerah berisiko infeksi virus Zika, Cacar air, dan Rubella, cuci tangan dengan sabun, tidak mengkonsumsi makanan mentah, dan menghindari memelihara hewan yang berisiko seperti kucing (toxoplasma).

5.
5.

Peningkatan cakupan vaksinasi, terutama untuk Virus Rubella untuk anak dan perempuan dewasa (paling lambat tiga bulan sebelum hamil). Beberapa penyakit dapat dicegah dengan vaksinasi. Wanita yang merencanakan kehamilan juga sebaiknya mempertimbangkan vaksinasi untuk mencegah infeksi dari beberapa penyakit seperti Rubella.

Beberapa tes dilakukan sebagai deteksi dini kemungkinan adanya infeksi pada tubuh seperti Rubella, Cacar air, Silis, dan dilakukan pengobatan jika memang sudah terinfeksi.

6.
6.

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil, petugas kesehatan, dan pihak-pihak yang terlibat dalam upaya pencegahan kelainan bawaan. Ibu hamil sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan setelah mengetahui dirinya hamil. Kunjungan antenatal dilakukan rutin setiap bulan atau minimal empat kali selama kehamilan untuk memantau perkembangan janin dan sebagai deteksi dini jika terjadi kelainan pada organ dan infeksi lainnya.

Petugas kesehatan perlu menjelaskan setiap pilihan tindakan dengan rinci agar bila pasangan mempunyai faktor keturunan/risiko kelainan bawaan dapat memahami masalah yang akan dihadapi dan mempersiapkan diri untuk menjalani pilihan dengan sebaik mungkin.

8

Upaya pencegahan kelainan bawaan melibatkan berbagai sektor terkait di luar kesehatan, misalnya perindustrian, pertanian, sosial, komunikasi dan informasi, agama, pendidikan dan budaya. Keterlibatan institusi internasional dan perserikatan bangsa-bangsa, lembaga donor, dan pihak swasta sangat diperlukan dalam upaya pencegahan kelainan bawaan.

Upaya Pengobatan

dalam upaya pencegahan kelainan bawaan. Upaya Pengobatan Dalam melakukan tatalaksana kelainan bawaan tersebut

Dalam melakukan tatalaksana kelainan bawaan tersebut diperlukan kerjasama yang mantap antar- disiplin ilmu terkait. Banyak jenis kelainan bawaan secara struktur organ dapat diperbaiki dengan cara operasi/bedah pediatrik. Untuk kelainan bawaan secara fungsi organ seperti Thalassemia, kelainan sel sabit, dan Hipotiroid sudah bisa dilakukan pengobatan sejak dini. Namun di negara berkembang, kedua jenis terapi tersebut tidak selalu mudah dilakukan karena berbagai kendala. Demikian juga halnya dengan perawatan kelainan bawaan di berbagai tingkat pelayanan. Peran orangtua dan keluarga dalam perawatan bayi dengan kelainan bawaan sangat besar. Perawatan khusus, termasuk upaya rehabilitatif, mungkin diperlukan dalam jangka waktu panjang, bahkan mungkin seumur hidup.

Sumber :

Sumber : March of Dimes . 2006. Global Report On Birth Defects . New York: White

March of Dimes. 2006. Global Report On Birth Defects . New York: White Plains . 2006. Global Report On Birth Defects. New York: White Plains

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. 2015. Pedoman Surveilans Kelainan Bawaan Berbasis Rumah Sakit (Hospital - Based). Jakarta : Pedoman Surveilans Kelainan Bawaan Berbasis Rumah Sakit (Hospital - Based). Jakarta :

Kementerian Kesehatan RI.

WHO. 2016. Fact Sheet : Congenital Anomalies . http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs370/en/ (akses 12 Maret 2018) Fact Sheet : Congenital Anomalies. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs370/en/ (akses 12 Maret 2018)

CDC. 2017. Facts about Birth Defects . https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/facts.html (akses 12 Maret 2018) Facts about Birth Defects. https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/facts.html (akses 12 Maret 2018)

WHO. 2018. World Birth Defects Day . http://www.who.int/life-course/news/events/world-birth- defects-day-2018/en/ (akses 12 Maret World Birth Defects Day. http://www.who.int/life-course/news/events/world-birth- defects-day-2018/en/ (akses 12 Maret 2018)

WHO. Congenital Anomalies . http://www.who.int/topics/congenital_anomalies/en/ (akses 12 Maret 2018) Congenital Anomalies. http://www.who.int/topics/congenital_anomalies/en/ (akses 12 Maret 2018)

March of Dimes. Birth Defects and Other Health Conditions . . Birth Defects and Other Health Conditions. https://www.marchofdimes.org/complications/birth-defects-and-health-conditions.aspx (akses 12 Maret 2018) http://www.worldbirthdefectsday.org/ (akses 12 Maret 2018)

Laporan Surveilans Kelainan Bawaan periode September 2014 – Maret 2018 http://www.icd10data.com/ICD10CM/Codes/Q00-Q99 (akses 16 April 2018)(akses 12 Maret 2018) http://www.worldbirthdefectsday.org/ (akses 12 Maret 2018)

9

Membuat Perencanaan Kesehatan Sebelum dan Selama Kehamilan 1 2 Perencanaan Kehamilan Hindari Pajanan Berbahaya Tidak
Membuat Perencanaan
Kesehatan Sebelum dan Selama Kehamilan
1
2
Perencanaan Kehamilan
Hindari Pajanan Berbahaya
Tidak merokok
Jagalah kesehatan
sebelum hamil
Tidak mengkonsumsi
alkohol
Konsumsi TTD
yang mengandung
400 mikrogram
asam folat setiap hari
Berhati-hatilah dengan
pajanan berbahaya
di lingkungan kerja
dan di rumah
3
4
Menerapkan Pola Hidup Sehat
Konsultasi dengan Tenaga Kesehatan
Diet gizi seimbang,
dengan menyertakan
konsumsi buah, sayuran,
kacang-kacangan,
susu dan protein rendah lemak.
Periksa kesehatan
secara rutin
Lakukan aktivitas sik
Diskusikan semua obat,
baik obat dengan resep
maupun obat bebas
Menjaga kondisi
kesehatan tertentu seperti
menjaga kadar gula bagi
penderita diabetes
Bicarakan tentang
riwayat kesehatan keluarga
Sumber : https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/prevention.html
TIM REDAKSI :
Penanggung Jawab
Redaktur
Penyunting
Penulis
Desainer Grafis/Layouter
: Didik Budijanto
Kontributor
: Balitbangkes
: Rudy Kurniawan
1. M. Karyana
: Nuning Kurniasih
2. Retna Mustika Indah
: Eka Satriani Sakti
Dit. Kesehatan Keluarga
: Dian Mulya
1. Nida Rohmawati