Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Pada umumnya, sayuran merupakan salah satu bahan makanan yang dibutuhkan oleh
tubuh. Melalu sayuran terdapat nutrisi seperti vitamin, protein, dan zat-zat mineral lain yang
dapat mendukung kesehatan tubuh manusia. Oleh karena itulah, sayuran menjadi salah satu
kebutuhan utama masyarakat, setelah nasi tentunya. Indonesia sebagai negara tropis yang
memiliki sinar matahari sepanjang tahun, memungkinkan sayuran untuk tumbuh sepanjang
tahun juga. Fakta ini membuat upaya budidaya tanaman sayuran semakin hari semakin banyak
berkembang. Selain karena kemungkinan tumbuhnya yang tinggi di Indonesia, sayuran juga
memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena manfaatnya yang tinggi. Sayuran terdiri dari beberapa
jenis sayuran. Berdasarkan jenis-jenisnya tersebut, sayur-sayuran memiliki karakteristik sendiri-
sendiri. Tentu untuk memudahkan serta mensukseskan upaya budidaya, penting bagi para
petani untuk mengetahui benih yang ingin dibudidayakan serta teknik pembudidayaannya.
Tanaman terong (Solanum melongena) merupakan jenis sayuran tahunan semusim.
Selain India, Indonesia dipercaya merupakan asal tanaman terong. Tanaman ini banyak
dijumpai tumbuh liar di hutan-hutan kita. Namun, saat ini terong ditanam meluas diberbagai
belahan bumi. Terdapat banyak ragam terong yang dibudidayakan di Indonesia, mulai dari
terong lokal seperti terong gelatik, terong kopek, terong bogor, terong medan hingga terong
impor seperti terong Jepang. Bentuk dan warna buah terong cukup beragam ada yang putih,
hijau hingga ungu. Bentuknya pun ada yang bulat, lonjong besar, hingga lonjong dengan ujung
lancip.

1.2. Tujuan
a) Mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian perlakuan terhadap pertumbuhan
tanaman terung

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. TERONG
Tanaman terong (Solanum melongena) merupakan jenis sayuran tahunan semusim.
Selain India, Indonesia dipercaya merupakan asal tanaman terong. Tanaman ini banyak
dijumpai tumbuh liar di hutan-hutan kita. Namun, saat ini terong ditanam meluas diberbagai
belahan bumi. Terdapat banyak ragam terong yang dibudidayakan di Indonesia, mulai dari
terong lokal seperti terong gelatik, terong kopek, terong bogor, terong medan hingga terong
impor seperti terong Jepang. Bentuk dan warna buah terong cukup beragam ada yang putih,
hijau hingga ungu. Bentuknya pun ada yang bulat, lonjong besar, hingga lonjong dengan ujung
lancip.

2.1.1. TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN TERONG


a) Kondisi tanah ideal untuk budidaya terong adalah tanah lempung berpasir dengan
kisaran pH 6,5-7. Terong berproduksi maksimal pada kisaran suhu 22-30oC. Tanaman
ini membutuhkan sinar matahari yang cukup, oleh karena itu cocok ditanam pada musim
kemarau. Terong masih satu keluarga dengan cabe, tomat dan kentang. Hama dan
penyakit yang biasa menyerang tanaman-tanaman tersebut bisa juga mengganggu
budidaya terong. Oleh karena itu dalam melakukan rotasi tanaman, usahakan tidak
dengan tanaman-tanaman tersebut.
b) Penyemaian Benih. Benih yang baik untuk budidaya terong memilki daya tumbuh di
atas 75%. Dengan benih seperti itu, kebutuhan benih untuk satu hektar mencapai 300-
500 gram. Sebelum ditanam di lahan terbuka, benih terong sebaiknya disemaikan
terlebih dahulu.
c) Persiapan Lahan dan Penanaman. Lahan untuk budidaya terong dicangkul atau
dibajak dengan kedalaman 30 cm. Bersihkan tanah dari gulma dan kerikil. Bentuk
bedengan dengan lebar 1 meter tinggi 30 cm dan panjang disesuaikan dengan bentuk
lahan. Jarak antar bedengan 40 cm. Gunakan pupuk organik sebagai pupuk dasar, bisa
berupa kompos atau pupuk kandang sebanyak 15 ton per hektar. Taburkan di atas
bedengan dan aduk hingga merata. Budidaya terong menghendaki tingkat keasaman
tanah sekitar pH 5-6. Apabila pH kurang dari 5 tambahkan kapur pertanian atau dolomit

2
sebanyak 1-2 ton per hektar satu minggu sebelum tanam. Buat lubang tanam secara
berbaris, satu bedengan sebanyak dua baris. Jarak tanam antar lubang tanam 60 cm
dan jarak antar baris 70 cm. Lebar lubang dan kedalaman disesuaikan dengan ukuran
polybag bibit. Sebelum bibit dipindahkan, siram bedengan dengan air. Tanaman terong
cenderung tidak tahan dengan kekeringan. Pindahkan bibit tanaman satu lubang diisi
satu bibit tanaman. Hati-hati dalam memindahkan tanaman, jaga agar akar tanamah
tidak putus atau rusak.
d) Perawatan Tanaman. 1) Lakukan penyulaman tanaman setelah satu minggu. Cabut
tanaman yang terlihat layu atau tidak sehat dan pertumbuhannya abnormal. Pencabutan
dilakukan beserta media tumbuhnya, Ganti dengan bibit baru. 2) Pemupukan tambahan
dilakukan mulai dari 2 minggu setelah bibit ditanam. Untuk budidaya terong non-organik
berikan pupuk urea dengan dosis 80 kg/ha dan KCl 45 Kg/ha. Sedangkan untuk
budidaya terong organik berikan pupuk kompos atau pupuk kandang, masing-masing
satu kepal atau kira-kira 0,5 kg per tanaman. 3) Ulangi pemberian pupuk susulan pada
minggu ke-5 dan ke-7 setelah bibit ditanam. Sambil memberikan pupuk susulan, siangi
gulma yang terdapat dalam bedengan tanaman. Bersihkan juga semak belukar yang
terdapat disekitar area tanaman. Pemasangan ajir atau bilah bambu untuk menopang
tanaman dilakukan setelah tanaman berumur 3 minggu. 4) Penancapan ajir hendaknya
berjarak 5-7 cm dari pangkal batang. Jangan sampai penancapan ajir melukai akar
tanaman. Ikat tanaman pada ajir dengan tali rafia. Apabila tidak turun hujan penyiraman
hendaknya dilakukan setiap tiga hari sampai tanaman berbunga. Setelah tanaman
berbunga, tingkatkan frekuensinya hingga dua hari sekali.
e) Panen. Panen pertama usaha budidaya terong biasanya dilakukan setelah 70-80 hari
sejak bibit ditanam. Selanjutnya, panen dilakukan setiap 3-7 hari sekali. Dalam satu kali
musim tanam, bia mencapai 13-15 kali panen, bahkan bisa lebih.Waktu yang tepat
untuk panen adalah pagi dan sore hari. Buah dipetik dengan tangkainya, buah terung
tidak tahan lama. Oleh karena itu harus segera dipasarkan begitu selesai panen. Sortasi
untuk budidaya terong dilakukan berdasarkan ukuran dan warna buah.

2.2. Bawang Merah


Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman hortikultura musiman yang
memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun pada saat-saat tertentu sering mengalami banjir produksi
sehingga harganya anjlok. Diperparah lagi dengan kebijakan impor yang diterapkan pemerintah
yang seringkali memperparah kejatuhan harga bawang merah di pasaran. Untuk menghindari

3
fluktuasi harga yang sangat merugikan petani, perlu upaya untuk melakukan budidaya bawang
merah diluar musim. Seiring dengan pembatasan kegiatan budidaya di musim-musim puncak.
Budidaya bawang merah memerlukan penyinaran matahari lebih dari 12 jam sehari.
Tanaman ini cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 900 meter dari
permukaan laut. Suhu optimum untuk perkembangan tanaman bawang merah berkisar 25-32
derajat celcius. Sedangkan keasaman tanah yang dikehendaki sekitar pH 5,6-7.

2.2.1. Teknis Budidaya Bawang Merah

a) Benih Bawang Merah. Varietas benih untuk budidaya bawang merah cukup banyak.
Ada benih lokal hingga benih hibrida impor. Bentuk benihnya ada yang dari biji, ada juga
berupa umbi. Kebanyakan budidaya bawang merah di sentra-sentra produksi
menggunakan umbi sebagai benih. Benih bawang merah yang baik berasal dari umbi
yang dipanen tua, lebih dari 80 hari untuk dataran rendah dan 100 hari dataran tinggi.
Benih bawang merah yang baik setidaknya telah disimpan 2-3 bulan. Ukuran benih
sekitar 1,5-2 cm dengan bentuk yang bagus, tidak cacat, berwarna merah tua
mengkilap. Kebutuhan benih untuk budidaya bawang werah tergantung dengan varietas,
ukuran benih dan jarak tanam. Untuk jarak tanam 20×20 dengan bobot umbi 5 gram
dibutuhkan sekitar 1,4 ton benih per hektar. Untuk bobot yang sama dengan jarak tanam
15×15 dibutuhkan 2,4 ton per hektar. Bila bobot umbi lebih kecil, kebutuhan umbi per
hektarnya lebih sedikit lagi.
b) Pengolahan Tanah dan Penanaman. Tanah dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2
meter, tinggi 20-30 cm dan panjang sesusai dengan kondisi kebun. Jarak antar
bedengan 50 cm, sekaligus dijadikan parit sedalam 50 cm. Cangkul bedengan sedalam
20 cm, gemburkan tanahnya. Bentuk permukaan atau bagian atas bedengan rata, tidak
melengkung. Tambahkan kapur atau dolomit sebanyak 1-1,5 ton per hektar apabila
keasaman tanah kurang dari pH 5,6. Penambahan kapur setidaknya diberikan 2 minggu
sebelum tanam. Gunakan 15-20 pupuk kompos atau pupuk kandang sebagai pupuk
dasar. Tebarkan pupuk di atas bedengan dan aduk dengan tanah hingga merata. Bisa
juga ditambahkan urea, ZA, SP-36 dan KCL sebanyak 47 kg, 100 kg, 311 kg dan 56 kg
setiap hektarnya. Campur pupuk buatan tersebut sebelum diaplikasikan. Biarkan selama
satu minggu sebelum bedengan ditanami. Siapkan benih atau umbi bawang merah yang
siap tanam. Apabila umur umbi masih kurang dari 2 bulan, lakukan pemogesan terlebih

4
dahulu. Pemogesan adalah pemotongan bagian ujung umbi, sekitar 0,5 cm. Fungsinya
untuk memecahkan masa dorman dan mempercepat tumbuhnya tananaman.
c) Perawatan. 1). Penyiraman pada budidaya bawang merah hendaknya dilakukan sehari
dua kali setiap pagi dan sore. Setidaknya hingga tanaman berumur 10 hari. Setelah itu,
frekuensi penyiraman bisa dikurangi hingga satu hari sekali. 2). Pemupukan susulan
diberikan setelah tanaman bawang merah berumur 2 minggu. Jenis pupuk terdiri dari
campuran urea, ZA, dan KCl yang diaduk rata. Komposisi masing-masing pupuk
sebanyak 93 kg, 200 kg dan 112 kg untuk setiap hektarnya. Pemupukan susulan
selanjutnya diberikan pada minggu ke-5 dengan komposisi urea, ZA, KCl sebanyak 47
kg, 100 kg, 56 kg per hektar. Pemupukan diberikan dengan membuat garitan disamping
tanaman. 3). Penyiangan gulma biasanya dilakukan sebanyak dua kali dalam satu
musim tanam. Untuk menghemat biaya, lakukan penyiangan bersamaan dengan
pemberian pupuk susulan. Namun apabila serangan gulma menghebat, segera lakukan
penyiangan tanpa menunggu pemberian pupuk susulan. 4).Jarak tanam untuk budidaya
bawang merah pada saat musim kemarau dipadatkan hingga 15×15 cm. Sedangkan
pada musim hujan setidaknya dibuat hingga 20×20 cm. Benih bawang merah ditanam
dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi kedalam tanah.
d) Panen. Ciri-ciri budidaya bawang merah siap panen apabila 60-70% daun sudah mulai
rebah. Atau, lakukan pemeriksaan umbi secara acak. Khusus untuk pembenihan umbi,
tingkat kerebahan harus mencapai lebih dari 90%. Budidaya bawang merah biasanya
sudah bisa dipanen setelah 55-70 hari sejak tanam. Produktivitas bawang merah dangat
bervariasi tergantung dari kondisi lahan, iklim, cuaca dan varietas. Di Indonesia,
produktivitas budidaya bawang merah berkisar 3-12 ton per hektar dengan rata-rata
nasional 9,47 ton per hektar. Umbi bawang merah yang telah dipanen harus dikeringkan
terlebih dahulu. Penjemuran penjemuran bisa berlangsung hingga 7-14 hari. Pembalikan
dilakuan setiap 2-3 hari. Bawang yang telah kering, kadar air 85%, siap untuk disimpan
atau dipasarkan.

2.3. Tumpang Sari


Tumpangsari merupakan salah satu bercocok tanam yang mencampur proses
penanaman (polyculture), dalam suatu lahan yang sama dan waktu yang sama, hal ini di
lakukan untuk mencapai produksi yang tinggi karena dengan tumpang sari tanaman pokok bisa
tumbuh selayaknya pertumbuhan dan tidak terganggu oleh tanaman tumpangsarinya. Contoh
tanaman tumpang sari seperti jagung dan kedelai, atau jagung dan kacang tanah. Tumpangsari

5
atau di kenal dengan double-cropping memeiliki banyak keuntungan contohnya pada hama
tanaman yang tidak menyukai tanaman tumpangsari, hal ini membuat hama yang menyerang
tidak jadi untuk menyerang.
Tumpangsari dapat di lakukan untuk tanaman tunggal atau monokultur. Bukan hanya
pada sektor pertanian pada kehutanan ada yang namanya Wana Tani, suatu tumpangsari yang
mengaitkan antara tanaman semusim dan tanaman pohon hutan. Mina Padi hal ini tidak jauh
berbeda tumpangsari yang di tanam dalam suatu tempat atau wilayah yang sama antara padi
dan ikan di budidayakan secara bersamaan. Jika kita amati sekilas tumpangsari memiliki pola
yang hampir sama dengan pola monokultur namun tumpangsari memiliki kelebihan yang jika
kita sesuaikan dengan lahan dan kondisi kita. Berikut ini adalah keuntungan dalam tumpangsari
:
1. Resiko kerugian akan berkurang karena dalam penanaman akan saling menutupi
pengeluaran dalam pendapatan anda.
2. Dapat memaksimalkan lahan yang kecil menjadi lebih berpotensi.
3. Unsur hara yang di tanam akan jauh berguna karena dalam satu areal dapat terserap
oleh tanaman secara baik dan tidak terbuang.
Jika anda memiliki lahan yang pas untuk berbudidaya, tumpang sari mungkin cocok
untuk anda yang saat ini akan berbudidaya. Hasil yang didapat dari tanaman akan jauh
menguntungkan di bandingkan dengan menanam tanaman pokok ” hanya satu tanaman “.

2.4. Pewiwilan
Pewiwilan merupakan teknik yang hampir sama dengan teknik pemotongan tunas
aksiler pada tanaman. Kedua cara ini sangat bagus diterapkan bagi pembudidayaan. Pewiwilan
dan pemotongan tunas aksiler (tunas samping) pada tanaman dapat anda lakukan dengan cara
memotong 2 - 3 tunas liar yang berada pada batang pokok utama tanaman. Pemotongan tunas
aksiler/tunas liar ini merupakan kegiatan pewiwilan yang bertujuan untuk merangsang
pembentukan bunga dan buah, sehingga pada akhirnya tanaman akan tumbuh bagus dan
menghasilkan buah yang berbuah lebat.

6
BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1. Lokasi dan Waktu


 Lokasi : Lahan STPP Malang
 Waktu Penanaman : 20 juli 2017

3.2. Metode Pelaksanaan


- Metode pembelajaran adalah learning by reseach
- Metode Penelitian menggunakan Rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan
5 ulangan. Perlakuan adalah Persaingan tanaman (jumlah bawang / polibag pada pola
tanam tumpang sari):
P1 = Terong Tanpa bawang (tanpa wiwilan)
P2 = Terong Tanpa bawang (wiwilan)
P3 = Terong 1 tanaman bawang / polibag (wiwilan)
P4 = Terong 2 Tanaman Bawang / polibag (wiwilan)
P5 = Terong 3 tanaman bawang / polibag (wiwilan)
P6 = Terong 4 Tanaman Bawang / polibag (wiwilan)

3.3. Tahapan Pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan
1. Pemilihan benih tanaman. Tanaman cabai keriting menggunakan varietas TM 99.
Tanaman bawang merah menggunakan varietas Tajuk.
2. Persemaian benih. Benih tanaman cabai keriting dan terong disemai terlebih
dahulu pada plastik persemaian. Benih bawang merah menggunakan umbi dan
langsung ditanam .
3. Persiapan media tanam. Media tanam merupakan campuran antara tanah dan
pupuk kadang kambing dengan perbandingan 1:1. Media dicampur rata dan
dimasukkan kedalam polibag. Media dipolibag ditimbang dengan berat 12 kg per
polibag.
4. Penanaman. Tanaman cabai keriting dan terong dipindah tanamkan setelah
tanaman berumur 3 minggu di persemaian. Tanaman bawang merah di tanam
bersamaan dengan penamanam cabai keriting dan terong. Jumlah umbi bawang

7
setiap polibagnya sesuai perkalakuan. Sebelum penanaman bawang merah
dilakukan pemotongan bagian atas umbi 1/3 bagian.
5. Pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan yang dilakukan adalah penyiraman,
penyulaman, pewiwilan, pemupukan susulan (mengunakan bio urine),
pengendalian gulma, pengendalian hama penyakit.
6. Panen dilakukan sesuai dengan ciri-ciri siap panen masing-masing komoditas.
Bawang merah dipanen setelah berumur 60-70 hari. Cabai keriting dan terong
dipanen secara berkala.
7. Pasca panen bawang merah dilakukan dengan membuang sisa tanah dan
mengeringkan dengan cara menggantung umbi. Pasca panen cabai keriting dan
terong dilakukan dengan cara pembersihan, sortasi, grading dan pengemasan.
3.4. Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Pengamatan
pertumbuhan dilakukan seminggu sekali terhadap:
1. Tinggi tanaman
Tinggi tanaman diamati dengan mengukur tinggi tanaman setelah tanaman berumur 7
hst, 14 hst, dan 21 hst. Pengukuran dilakukan mulai dari pangkal batang sampai titik
tumbuh.

3.5. Analisis Data

Analisis Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F dengan tarag 5 %.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pertumbuhan Tanaman


4.1.1. Rekapan Data Tinggi Tanaman Terong
Berdasarkan Hasil pengamatan yang telah dilakukan untuk Tanaman Terong, maka
diperoleh data tinggi tanaman terong, dapat dilihat pada Table 1:

Table 1. Rekapan Data Tinggi Tanaman Terung

TINGGI TERUNG
PERLAKUAN MINGGU KE-
U1 U2 U3 U4 U5 U6
1 5.5 4 7 5 6 9
2 7 5 8.4 5.5 6.5 9.3
P1 3 8.5 7 9 6.5 7.5 9.7
4 9 8 10.5
5 11 9 14.6
1 21 4 7 5.5 14 6.5
2 4 5.8 6 6.5 14 6.9
P2 3 6 7 5 7 11 7.4
4 6.5 8 6
5 6.8 10.5 6
1 3.5 3.5 4 11 4.5 6.9
2 5.5 3.5 7.3 12.5 6 7.1
P3 3 7 6.5 7.8 13.5 7 8.3
4 10 7 8
5 12 12 9
1 3.6 4 9 5.5 4.7 8
2 5.5 5 10 8 6 8.5
P4 3 7 8 11 13 7 9
4 10 9 12
5 15.3 14 12
1 5.5 4 2.2 5 6 15
2 6 4.3 4 5.5 9 20
P5 3 6 5.5 4 7.5 11 22
4 6 6 6
5 8 6.5 8.5
1 5 4 5 13 2 8
2 5.5 5 7 14 3 8.5
P6 3 6.5 5.5 7.5 15 10 9
4 8 12 8.5
5 11.5 14.5 10.5
Sumber : Hasil Pengamatan

9
4.1.2. Analisis
a) 7 HST
Berdasarkan rekapitulasi data pada Tabel 1 maka dapat di analisis tinggi tanaman
terung pada 7 HST sbb. Selebihnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Table 2. Analisis Data Tinggi Tanaman 7 HST

Pengamtan 1 (7HST) Tinggi Terong


Perlakuan Kelompok/Ulangan
1 2 3 4 5 6
T1 5.5 4 7 5 6 9 36.5
T2 2.1 4 7 5.5 14 6.5 39.1
T3 3.5 3.5 4 11 4.5 6.9 33.4
T4 3.6 4 9 5.5 4.7 8 34.8
T5 5.5 4 2.2 5 6 15 37.7
T6 5 4 5 13 2 8 37
25.2 23.5 34.2 45 37.2 53.4 218.5

FK 1326.17361
JKT 1670.91 344.7364
JKP 1329.65833 3.484722
JKKel 1436.22167 110.0481
Jkgalad 231.203611

Tabel Anova

F tab F tab
SK db JK KT Fhit (5%) 1%
Perlakuan 5 3.484722 0.696944 0.07536 2.6 3.86
Kelompok 5 110.0481 22.00961 2.379895 2.6 3.86
galad 25 231.2036 9.248144
total 35
Tidak berbeda
nyata

10
b) 14 HST
Berdasarkan rekapitulasi data pada Tabel 1 maka dapat di analisis tinggi tanaman
terung pada 14 HST sbb. Selebihnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Table 3. Analisis Data Tinggi Tanaman 14 HST


Pengamtan 1 (14HST)Tinggi Terong
Perlakuan Kelompok/Ulangan
1 2 3 4 5 6
T1 7 5 8.4 5.5 6.5 9.3 41.7
T2 4 5.8 6 6.5 14 6.9 43.2
T3 5.5 3.5 7.3 12.5 6 7.1 41.9
T4 5.5 5 10 8 6 8.5 43
T5 6 4.3 4 5.5 9 20 48.8
T6 5.5 5 7 14 3 8.5 43
33.5 28.6 42.7 52 44.5 60.3 261.6
FK 1900.96
JKT 2304.24 403.28
JKP 1906.69667 5.736667
JKKel 2013.97333 113.0133
Jkgalad 284.53

Tabel Anova

F tab F tab
SK db JK KT Fhit (5%) 1%
Perlakuan 5 5.736667 1.147333 0.10081 2.6 3.86
Kelompok 5 113.0133 22.60267 1.985965 2.6 3.86
galad 25 284.53 11.3812
total 35
Tidak berbeda
nyata

11
c) 21 HST
Berdasarkan rekapitulasi data pada Tabel 1 maka dapat di analisis tinggi tanaman
terung pada 14 HST sbb. Selebihnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Table 4. Analisis Data Tinggi Tanaman 21 HST


Pengamtan 1 (21HST)Tinggi Terong
Perlakuan Kelompok/Ulangan
1 2 3 4 5 6
T1 8.5 7 9 6.5 7.5 9.7 48.2
T2 6 7 5 7 11 7.4 43.4
T3 7 6.5 7.8 13.5 7 8.3 50.1
T4 7 8 11 13 7 9 55
T5 6 5.5 4 7.5 11 22 56
T6 6.5 5.5 7.5 15 10 9 53.5
41 39.5 44.3 62.5 53.5 65.4 306.2

FK 2604.40111
JKT 2993.08 388.6789
JKP 2623.34333 18.94222
JKKel 2708.23333 103.8322
Jkgalad 265.904444

Tabel Anova

F tab F tab
SK db JK KT Fhit (5%) 1%
Perlakuan 5 18.94222 3.788444 0.356185 2.6 3.86
Kelompok 5 103.8322 20.76644 1.952435 2.6 3.86
galad 25 265.9044 10.63618
total 35
Tidak berbeda
nyata

12
4.2. Pembahasan
berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan sesusai dengan umur tanaman terung
dapat dilihat bahwa, hasil analisis 7 HST, 14 HST dan 21 HST untuk pertumbuhan tinggi
tanaman terung menunjukan bahwa Ftabel lebih besar dari Fhitung, maka dapat dikatakan
bahwa perlakuan yang diberikan pada tanaman terung tidak berbeda nyata.

13
BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa dari 6 perlakuan yaitu terung tidak diwiwil, terung diwiwil, terurung diwiwil + 1 Bawang,
terung diwiwil + 2 bawang, terung diwiwil + 3 bawang, dan terung diwiwil + 4 bawang yang telah
diberikan / dilaksanakan pada tanaman terung tidak berpengaruh / tidak berbeda nyata
terhadap pertumbuhan tinggi tanaman terung.

14
DAFTAR PUSTAKA

https://alamtani.com/budidaya-terong/ diakses tanggal 4 september 2017

https://alamtani.com/budidaya-bawang-merah/ diakses tanggal 4 september 2017

https://guruilmuan.blogspot.co.id/2016/02/5-cara-merawat-cabe-merah-besar-biar.html diakses
tanggal 4 september 2017

http://www.agrotani.com/pengertian-tumpang-sari/ diakses tanggal 4 september 2017

15