Anda di halaman 1dari 9

Mutu Pelayanan Phlebotomi di Laboratorium Secara Umum

Personel (Phlebotomist)

Laboratorium harus memiliki prosedur dokumentasi untuk pengelolaan personel dan memelihara
rekaman seluruh personel untuk menunjukkan kesesuaiannya terhadap persyaratan.

a. Kualifikasi phlebotomist

Manajemen laboratorium harus mendokumentasikan kualifikasi phlebotomist. Kualifikasi harus


mencerminkan pendidikan, pelatihan yang tepat, pengalaman, dan keterampilan yang diperlukan
dan sesuai dengan tugas yang dilakukan.

b. Pelatihan

Laboratorium harus memberikan pelatihan untuk semua personel yang meliputi bidang bidang
berikut:

a.) Sistem manajemen mutu


b.) Proses dan prosedur pekerjaan yang ditugaskan
c.) Sistem informasi laboratorium yang berlaku
d.) Kesehatan dan keselamatan, termasuk pencegahan atau penghambatan efek kejadian yang
tidak diinginkan
e.) Etika
f.) Kerahasiaan informasi pasien

c. Penilaian kompetensi

Kondisi akomodasi dan lingkungan

Laboratorium atau ruangan Phlebotomi harus memiliki ruangan yang dialokasikan untuk
melakukan pekerjaan yang memastikan mutu, keamanan dan manfaat dari layanan yang diberikan
kepada pasien, kesehatan dan keselamatan personel laboratorium, pasien dan pengunjung.
Laboratorium harus mengevaluasi dan menentukan ruangan yang sesuai dan memenuhi syarat.

a. Fasilitas Laboratorium

Fasilitas laboratorium atau ruangan phlebotomi harus menyediakan lingkungan yang sesuai untuk
tugas yang dilakukan. Untuk memastikan kondisi tersebut terpenuhi :

a) Akses ke area.
b) Informasi medis, sampel pasien, dan sumber daya laboratorium harus terlindungi dari akses
yang tidak berwenang.
c) Fasilitas laboratorium atau ruangan phlebtomi sebaiknya mendukung proses pekerjaan
dengan benar. Hal ini mencakup, misalnya sumber listrik, pencahayaan, ventilasi, air,
pembuangan limbah dan kondisi lingkungan.
d) Sistem komunikasi di dalam laboratorium disesuaikan dengan ukuran dan kompleksitas dari
fasilitasi untuk memastikan penyampaian pesan yang efisien.
e) Fasilitas dan perangkat keselamatan disediakan dan fungsinya diverifikasi.
b. Fasilitas Penyimpanan

Ruang dan kondisi penyimpanan harus tersedia untuk memastikan kesinambungan integritas
sampel, dokumen, formulir, bahan habis pakai, hasil, dan item lain yang dapat memengaruhi mutu
hasil phlebotomi. Sampel yang telah diambil harus disimpan sedemikian rupa agar menjaga
kualitas dan mencegah jkontaminasi silang. Pelabelan adalah hal yang sangat penting pada proses
phlebotomi.

c. Fasilitas pengambilan sampel pasien

Harus dipertimbangkan kenyamanan, privasi dan kebutuhan pasien dan akomodasi untuk
pendamping pasien (misalnya wali) selama pengambilan sampel. Fasilitas di mana prosedur
pengambilan sampel pasien dilakukan harus memungkinkan pengambilan sampel dilakukan
sedemikian rupa sehingga hasil valid atau tidak berpengaruh buruk pada mutu pemeriksaan.
Fasilitas pengambilan sampel pasien harus memiliki dan memelihara perangkat pertolongan
pertama yang tepat untuk pasien maupun staf.

Peralatan

Laboratorium harus dilengkapi dengan semua peralatan yang dipersyaratkan untuk memberikan
pelayanan. Peralatan yang digunakan ada proses phlebotomi biasanya merupakan alat dispossable
atau sekali pakai. Peralatan ini harus dijamin kualitasnya dan dijamin kesterilannya. Harus
disediakan tempat khusus pembuangan alat-alat sekali pakai tersebut.
Mutu Pelayanan Phlebotomi
Mutu merupakan suatu pemenuhan persyaratan dengan meminimalkan kerusakan yang mungkin
ditimbulkan atau zero defect. Berkaitan dengan mutu pelayanan Kesehatan, ada 3 variabel yang
dapat digunakan untuk mengukur mutu yaitu :

1. Input (struktur), ialah segala sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pelayanan
laboratorium kesehatan, seperti SDM, dana, fasilitas, peralatan, bahan, teknologi, organisasi,
informasi dan lain-lain. Pelayanan laboratorium kesehatan yang bermutu memerlukan dukungan
input yang bermutu pula. Hubungan input dengan mutu adalah dalam perencanaan dan
penggerakan pelaksanaan pelayanan kesehatan.

2. Proses, ialah interaksi professional antara pemberi layanan dengan konsumen (pasien/
masyarakat). Proses ini merupakan variable penilaian mutu yang penting.

3. Output/outcome, ialah hasil pelayanan kesehatan, merupakan perubahan yang terjadi pada
konsumen (pasien/masyarakat), termasuk kepuasan dari konsumen tersebut.

Konsep mutu meliputi :

1. Aspek teknik keilmuan yang mencangkup bagaimana keahlian klinik yang dimiliki untuk
memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan SOP.

2. Aspek interpersonal yang mencangkup bagaimana tenaga kesehataan dapat memberikan


kepuasan kepada pelanggan dengan kecakapan berkomunikasi, pelayanan yang nyaman, tepat
waktu dan lingkungan yang aman dan nyaman.

3. Aspek kemanjuran yang mencangkup dampak kondisi perbaikan dari pelayanan kesehatan
yang diberikan.

4. Aspek kelayakan yang mencangkup pelayanan yang tepat terhadap kondisi dari pasien.

5. Aspek fungsi pelayanan yang mencangkup pelayanan yang ditawarkan untuk memenuhi
kebutuhan pasien.

Untuk meningkatkan mutu pelayanan, Salah satu pendekatan mutu yang digunakan adalah
Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Magement, TQM). TQM adalah Suatu proses dengan
tujuan pada perbaikan kualitas yang terus menerus, bukan hanya pada standart minimal melainkan
berfokus pada perbaikan seluruh proses pelayanan kesehatan (phlebotomy) sehingga pasien
mendapatkan hasil yang terbaik. Payung konsep TQM meliputi penilaian kualitas, pelaksanaan
struktur,proses, hasil dan kepuasan pelanggan. engurangi pengulangan dan kesalahan prosedur
tindakan pelayanan kesehatan.

Komponen TQM :

1. Struktur :

a. Struktur fisik: fasilitas, pengadaan dan ketersediaan barang


b. Struktur personalia : jumlah personal, kualifikasi, ratio dan ketersediaan direktur/supervisor.

c. Struktur manajemen dan administrasi : SOP tertulis, pencatatan dan pelaporan, komunikasi
dg pimpinan

2. Proses semua tindakan yg dilakukan terhadap


pasien/pelanggan, prosedur, ketrampilan. tanggung jawab.

3. Hasil (Outcome) : hasil dari tindakan yang sudah dikerjakan secara tuntas terhadap
pasien. Contoh Outcome buruk, kematia, kesakitan, ketidaknyamanan, ketidakpuasan

4. Kepuasan (satisfaction) tingkat kepuasan dapat diketahu dengan kuesioner dan wawancara

Selain TQM juga Perlu diterapkan Continous Quality improvement (CQI) yaitu Suatu kerangka
kerja teoritis dan komitmen manajemen untuk memperbaiki struktur, proses, hasil dan kepuasan
pelanggan yang dilakukan secara terus menerus.

Penilaian pelayanan Phlebotomy untuk data Continous Quality improvement (CQI) :

1. Waktu tanggap petugas terhadap pasien rawat inap

2. Waktu tunggu untuk pasien rawat jalan

3. Waktu yg dibutuhkan untuk prosedur phlebotomy

4. Prosentase keberhasilan phlebotomy

5. Jumlah phlebotomy lebih dari 1 tusukan

6. Jumlah dan ukuran hematom

7. Jumlah pasien yang sinkope

8. Jumlah waktu konfirmasi identitas pasien/telephon

9. Jumlah pengambilan darah ulang

10. Jumlah formulir permintaan yang tidak lengkap

11. Jumlah spesimen yg diterima pada tabung yang salah

Kompetensi minimal seorang Flebotomy antara lain :

 Flebotomis mampu berkomunikasi dgn pasien untuk menjelaskan tujuan pengambilan


darah, apa yang akan dilakukan dan bgm caranya, menjelaskan tujuan dan cara persiapan
pasien .
 Mampu mengerjakan tugas2 administrasi.
 Harus mengerti dan mematuhi prosedur keselamatan pasien dan dirinya.
 Harus dapat menyiapkan bahan dan alat 2 yg akan digunakan serta memilih
antikoagulansia.
 Harus memahami prosedur dan tehnik flebotomi venipuncture dan skinpuncture yang
benar.
 Melakukan labelisasi pada tabung / wadah sampel secara benar.
 Mampu melakukan tranportasi sampel secara benar serta tepat waktu ke laboratorium.
 Harus mampu menangani komplikasi akibat pelaksaan flebotomi secara benar dan cepat.

Quality Control
Mutu layanan adalah suatu hal penting dari pelaksanaan phlebotomi demi mencegah infeksi,
kontrol dan membantu mengurangi kecelakaan atau kesalahan. Pada tabel dibawah (sumber :
WHO-guidelines on drawing blood; best practice in phlebotomy) dijabarkan komponen utama dari
mutu layanan, dan menjelaskan mengapa mutu layanan sangat penting.

Elemen Notes
Pelatihan dan Edukasi Pendidikan dan pelatihan diperlukan untuk semua staf yang
melakukan tindakan flebotomi. Hal Itu harus termasuk
pemahaman tentang anatomi, kesadaran akan risiko dari paparan
darah, dan konsekuensi dari pencegahan dan pengendalian infeksi.
Standar Operasional Prosedur SOP diperlukanuntuk setiap langkah prosedur. SOP tersebut harus
(SOP) tertulis dan dapat dibaca oleh setiap pekerja kesehatan.
Pengidentifikasian pasien Identifikasi harus sesuai dengan formulir permintaan laboratorium.
yang tepat Untuk donor darah, identitas pendonor harus akurat dan sesuai
dengan hasil tes screening
Untuk darah sampling, setelah sampel diambil dari pasien, suatu
sistem identifikasi dan tracking diperlukan untuk memastikan
bahwa sampel tepat sesuai dengan hasil dan dengan pasien.
Kondisi dari sampel Kondisi dari sampel harus terjaga kualitasnya sedemikian rupa
sehingga kualitas hasilnya memuaskan.
Transportasi sampel yang Menjadikan transportasi yang aman dari sampel atau produk darah
aman sebagai bagian dari praktik terbaik akan meningkatkan kualitas
hasil dari pengujian laboratorium.
Sistem pelaporan kejadian Suatu sistem diperlukan untuk melaporkan semua peristiwa
merugikan. Log book atau buku(daftar) harus dilengkapi dengan
detail akurat dari kecelakaan, kemungkinan penyebab dan
menejemen resiko.

Mutu pelayanan untuk pasien dan pekerja kesehatan


Beberapa faktor dapat meningkatkan standard keselamatan dan kualitas perawatanbaik untuk
pasien dan pekerja kesehatan, serta tes laboratorium. Faktor-faktor tersebut tertera dibawah,
meliputi :
Ketersediaan persediaan dan peralatan pelindung yang tepat

Pengadaan pasokan (alat-alat) merupakan tanggung jawab langsung dari bagian administrasi
(Manajemen). Sebagai suatu struktur yang bertanggungjawab untuk untuk menyiapkan layanan
flebotomi, maka manajemen harus :

 Menyediakan bahan pembersih (seperti sabun dan air, atau alkohol rub), sarung tangan non-
steril yang pas, jarum sekali pakai, dan alat suntik atau alat lancing dalam jumlah yang
cukup untuk memastikan bahwa setiap pasien memiliki jarum dan alat suntik steril atau
setara untuk setiap pengambilan sampel darah
 menyediakan tabung-tabung sampel laboratorium yang cukup untuk mencegah praktik-
praktik berbahaya (misalnya menguraikan darah untuk mendaur ulang tabung laboratorium)

Beberapa perangkat yang dirancang untuk keamanan tersedia di pasaran; perangkat tersebut
mengurangi paparan darah dan cedera. Namun, penggunaan perangkat tersebut harus disertai
dengan praktik pencegahan dan pengendalian infeksi lainnya, dan pelatihan dalam penggunaannya.
Tidak semua perangkat keamanan berlaku untuk proses flebotomi. Sebelum memilih perangkat
yang direkayasa keamanan, pengguna harus menyelidiki perangkat yang tersedia secara
menyeluruh untuk menentukan penggunaan yang tepat, kompatibilitas dengan praktik flebotomi
yang ada, dan kemanjuran dalam melindungi staf dan pasien.

Ketersediaan profilaksis pasca paparan

Terkadang paparan dan informasi spesifik tentang suatu insiden harus dicatat dalam daftar.

Layanan dukungan harus terdapat bagi mereka yang mengalami paparan yang tidak disengaja.
APD dapat membantu untuk mencegah infeksi HIV dan hepatitis B . Imunisasi hepatitis B harus
diberikan kepada semua pekerja kesehatan (termasuk petugas kebersihan dan penanganan limbah),
baik setelah masuk ke layanan kesehatan atau sebagai bagian dari APD.

Menghindari peralatan flebotomi yang terkontaminasi

Torniquets adalah sumber potensial dari Staphylococcus aureus resisten methicillin (MRSA),
dengan hingga 25% dari torniket terkontaminasi karena kurangnya kebersihan tangan pada bagian
phlebotomist atau penggunaan kembali torniket yang terkontaminasi . Selain itu, perangkat tusukan
jari yang dapat digunakan kembali dan perangkat pengujian tempat perawatan terkait (misalnya
glucometers) yang terkontaminasi dengan darah telah terlibat dalam wabah hepatitis B.

Untuk menghindari kontaminasi, setiap item yang umum digunakan, seperti glucometers, harus
terlihat bersih sebelum digunakan pada pasien, dan barang sekali pakai tidak boleh digunakan
kembali.

Pelatihan di phlebotomy
Semua staf harus dilatih dalam proses mengeluarkan darah (proses flebotomi), untuk mencegah
risiko yang tidak perlu dari paparan darah dan untuk mengurangi efek samping bagi pasien.

• Kelompok pekerja kesehatan yang secara historis tidak dilatih secara formal dalam proses
mengeluarkan darah harus didorong untuk mengikuti pelatihan tersebut; Praktek pencegahan dan
kontrol infeksi yang lemah dapat menghasilkan keamanan yang buruk bagi staf dan risiko bagi
pasien.

• Pengawasan oleh staf berpengalaman dan pelatihan terstruktur diperlukan untuk semua pekerja
kesehatan, termasuk dokter, yang melakukan pengambilan sampel darah.

Kerjasama pasien

Salah satu penanda penting kualitas pelayanan di phlebotomy adalah keterlibatan dan kerja sama
pasien; ini saling menguntungkan baik bagi pekerja kesehatan maupun pasien.

Informasi yang jelas - baik tertulis atau lisan - harus tersedia untuk setiap pasien yang mengalami
proses flebotomi.