Anda di halaman 1dari 21

Referat

ANESTESI PADA SKOLIOSIS

Oleh :

M. Ukrio Zefrizon
Majdah Rummy Rosidi
Sabrina Maharani
Refica Dewita S

Pembimbing :

dr. Dino Irawan, SpAn

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2018
BAB I

1.1 Pendahuluan
Anestesiologi ialah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi menghilangkan nyeri
dan rumatan pasien sebelum, selama dan sesudah pembedahan. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dibidang anestesi berlansung dengan sangat pesat. Pemahaman
yang memadai terhadap ilmu anestesi akan membantu praktisis dalam melaksanakan prosedur
anestesi, terutama dalam menentukan pilihan terhadap anestetik yang akan digunakan. Selain
efek anestesi, anestesi dapat pula mengakibatkan dampak pada sistem kardiovaskuer,
respirasi, dan termoregulasi.1 Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan anestesi pada suatu
operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi yang terdiri dari
persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi, menetukan prognosis, dan persiapan
pada hari operasi. Sedangkan tahap pelaksanaan anestesi terdiri dari premedikasi, masa
anestesi dan pemeliharaan, tahap pemulihan, dan perawatan pasca anestesi.2,3.

Skoliosis berasal dari bahasa Yunani yang berati kurva atau bengkok. Skoliosis
didefinisikan sebagai abnormalitas lengkungan ke lateraldai tulang belakang denan ukuran
lengkungan lebih besar dari 10 derajat. Ketika tubuh dilihat dari belakang, normalnya tulang
belakang terlihat lurus, namun pada skoliosis akan terlihat lekukan abnormal ketika tubuh
dilihat baik dari belakang, lateral, atau dari sisi ke sisi.4

Prevalensi skoliosis seluruh di Amerika menyerang 2-3 % atau sekitar 7 juta penduduk.
Sebagian besar skoliosis terdiagnosis pada anak dengan rentang usia 10-15 tahun. Pada tahun
2004, berdasarkan data The American Academy of Orthopedic Surgeons, sekitar 1,26 juta
pasien dengan gangguan tulang belakang dilayanan kesehatan, 93% diantaranya didiagnosis
skoliosis, dan paling banyak mengalami skoliosis idiopatik.5,6

Tindakan operasi memperbaiki deformitas dan mengehntikan perkembangan yang lebih


lanjut dari lengkungan skoliosis. Konsesus terakhir menyatakan tindakan operasi dilakukan
pada pasien dengan kurva tulang belakang lebih besar dari 40-45 derajat dimana masih terjadi
pertumbuhan. Banyak implan tersedia untuk memberi stabilitas yang baik dan tekanan untuk
perbaikan yang kuat pada kolumna spinalis.7

Pada pasien skoliosis, tindakan anestesi dapat dilakukan dengan melakukan manajemen
pre operatif, intraoperatif, dan perencanaan post operatif yang benar. Beberapa kesulitan yang
dapat ditemukan selama tindakan anestesi pada pasien skoliosis adalah sistem pernapasa,
sistem kardiovaskular, dan perdarahan.8
BAB II

2.1 Skoliosis

a. Defenisi
Skoliosis adalah deformitas tulang belakang yang kompleks yang mengakibatkan
kelengkungan dan rotasi tulang belakang serta adeformitas tulang rusuk. Biasanya ada
keterlibatan sekunder dari sistem pernapasan, kardiovaskular dan neurologis.9

b. Epidemiologi

Berdasarkan pada The National Scoliosis Foundation di Amerika Serikat


didapatkan skoliosis pada 6.000 orang. Dari 2-4% adalah skoliosis idiopatik skoliosis
pada dewasa yang sering terjadi pada umur 10-16 tahun. Terbanyak pada pasien
skolisosis idiopatik adalah wanita. Kelengkungan tulang belakang sering terdapat pada
daerah thorak atau torakolumbal dan pada banyak kasus sering melengkung ke arah
kanan.9

c. Etiologi

Penyebab dan patogenesis skoliosis belum dapat ditentukan dengan pasti.


Kemungkinan penyebab pertama adalah genetik. Penyebab kedua ialah postur, yang
mempengaruhi terjadinya skoliosis postural kongenital. Penyebab ketiga ialah
abnormalitas anatomi vertebrae dimana lempeng epifisis pada sisi kurvatura yang cekung
menerima tekanan tinggi yang abnormal sehingga mengurangi pertumbuhan. Sementara
pada sisi yang cembung menerima tekanan lebih sedikit, yang dapat menyebabkan
pertumbuhan yang lebih cepat. 9

Selain itu arah rotasi vertebra selalu menuju ke sisi cembung, sehingga
menyebabkan kolumna anterior vertebre secara relatif menjadi terlalu panjang jika
dibandingkan dengan elemen-elemen posterior. Penyebab keempat ialah ketidak
seimbangan dari kekuatan dan masa kelompok otot di punggung.9
d. Klasifikasi: 9,14
 scoliosis idiopatik
Dari semua kejadian pasien yang menderita penyakit scoliosis terdapat sekitar 70%
pasien scoliosis yang tidak diktehui pasti penyebabnya.
 Neuromuscular
- UMN (cerebral palsy)
- LMN (Poliomielitis, meningomielokel)
- Muscular dystrophy
- Myotonic dystrophy
 Congenital
- Hemivertebre
- Dengan deficit neurologis ( myelomeningokele)
 Gangguan Mesenkimal
- Bawaan ( sindrom Marfan,Penyakit Morquio, amyoplasia
- Acquired (misalnya, Rheumatoid arthritis, penyakit Still)
- Lainnya (misalnya, Penyakit Scheurmann, osteogenesis imperfecta)
 Trauma
- Vertebral ( fraktur, radiasi, operasi)
- Extravertebral ( Luka bakar, operasi toraks)

Skoliosis fungsional disebabkan karena posisi yang salah atau tarikan otot
paraspinal unilateral, yang dapat disebabkan karena nyeri punggung dan spasme otot.
Perbedaan panjang tungkai, herniasi diskus, atau penyakit pada sendi panggul juga dapat
men yebabkan terjadinya skoliosis fungsional. Pada skoliosis fungsional, tidak terjadi
rotasi vertebra yang bermakna dan biasanya reversibel. Terapi terhadap penyebab
skoliosis dapat memperbaiki kirvatur yang terjadi. Skoliosis struktural biasanya tidak
reversibel dan bisa berupa skoliosis idiopatik, kongenital, atau yang didapat.9

e. Patofisiologi

Kelainan tulang punggung yang disebut skoliosis ini berawal dari syaraf yang
lemah bahkan lumpuh yang menarik ruas ruas tulang belakang. Tarikan ini berfungsi
untuk menjaga ruas tulang belakang berada pada garis yang normal. Namun karena
beberapa faktor seperti salah satunya posisi duduk yang miring membuat syaraf menjadi
lemah bahkan lumpuh yang mengakibatkan ketidak seimbangan pada ruas tulang
belakang. 9

f. Gejala Klinis

Gejala yang paling umum dari skoliosis ialah suatu lekukan yang tidak normal dari tulang
belakang. Skoliosis dapat menyebabkan kepala tampak bergeser dari tengah atau satu
pinggul atau pundak lebih tinggi daripada sisi berlawanannya. Maslaah yang dapat timbul
akibat skoliosis ialah penuruan kualitas hidup dan disabilitas nyeri, deformitas yang
mengganggu secara kosmetik, hambatan fungsional, masalah paru, kemungkinan
terjadinya progresifitas saat dewasa, dan gangguan psikologis.9,14

g. Diagnosis
I. Anamnesis
Pada skoliosis kurag dari 20 derajat, jarang menimbulkan gejala. Namun keluhan
yang muncul adalah rasa pegal. Pada kelengkungan 2-40 derajat, penderita akan
mengalami penurunan daya tahan dalam posisi berdiri atau duduk yang lama. Bila kurva
diatas 40 derajat akan menyebabkan kelainan tulang belakang yang cukup berat, keluhan
akan semakin berat seiring dengan pertumbuhan tulang.9,14

II. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan skoliosis, baju pasien harus dibuka agar tulang belakang dapat
diperiksa secara langsung. Posisi terbaik untuk pemeriksaan ialah posisi berdiri,
meskipun pemeriksaan dengan posisi duduk, tidur tengkurap, atau tidur miring juga dapat
dilakukan sesuai dengn kondisi pasien. Hal hal yang harus diperhatikan pada
pemeriksaan fisik ialah deviasi prosessu spinosus dari garis tengah punggung yang
tampak miring, rib hump, asimetri skapula, kesimetrisan pinggul serta bagian atas dan
bawah trunkus, bentuk ( C atau S), dari arah puncak kurvatura. Skoliometer dapat
digunakan untuk mengukur sudut kurvatura tanpa foto radiografi.9
Salah satu pemeriksaan fisik adalah dengan cara “ The Addam’s Forward
Bending Test”. Pemeriksaan dilakukan dengan melihat pasien dari belakang yaitu dengan
menyuruhnya membungkuk 90 derajatke depan dengan lengan menjuntai ke bawah dan
telapak tangan berada pada lutut. Temuan abnormal berupa ketidaksimetrisan ketinggian
iga atau otot otot vertebra pada satu sisi. 9

Secara umum, tanda tanda skoliosis yang bisa diperhatikan pada penderita yaitu: 9

1. Tulang bahu yang berbeda

2. Tulang belikat yang menonjol

3. Lengkungan tulang belakang yang nyata

4. Tulang panggul yang terlihat miring

5. Perbedaan antara ruang lengan dan tubuh

III. Pemeriksaan Penunjang

Secara tradisional, diagnosis klinis dari skoliosis dan follow up keberhasilan


terapi dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan radiografi, yang dapat mengukur
derajat kurvatura skoliosis secara kuantitatif. Teknik standar untuk mengukur kurvatura
skoliosis ialah sudut Cobb. Kurva skoliosis dikatakan ringan bila sudut Cobb yang
terbentuk <25 derajat, sedang bila 25-45 derajat, dan berat bila > 45 derajat. Pada anak
anak dan remaja, maturitas tulang dilihat dari garis Risser pada krista iliaka untuk
memperkirakan pertumbuhan tulang yang pesat, progresifitas skoliosis, dan berhentinya
pertumbuhan. Kurva skoliosis yang disertai rotasi mungkin lebih sulit untuk ditangani
dan menyebabkan gangguan pada rongga dada sehingga dapat mengganggu pernapasan.

2.2 Pra penilaian anestesi


Pentingnya pada saat melakukan pe operasi untuk mengidentifikasi area dari skoliosis,
umur pasien, derajat penyakit, dan penyebab dari skoliosis tersebut. Lokasi dari pembengkokan
tulang belakang memiliki hubungan dengan abnormalitas fungsi paru pada pasien yang
mengalami skoliosis di daerah thoraks, sedangkan pada pasien skoliosis servikal bisa
menyebabkan gangguan pada jalan nafas. Pertumbuhan dan perkembangan paru terjadi sampai
umur 8 tahun. Jumlah peningkatan alveoli saat lahir adalah 20 juta. Dann 250 juta saat berumur 4
tahun. Pada pasien yang mengalami skoliosis thoraks pada fase ini akan mengalami gangguan
pada perkembangan paru. Jumlah dari alveolar kan berkurang sehingga menyebabkan
terganggunya pertukaran gas dan hipertensi pulmonar.14
Derajat dari kelengkungan dari thoraks > 60 akan menyebabkan penurunan fungsi paru.
Apabila > 100o akan menyebabkan penurunan dari pertukaran udara. Pada pasien skoliosis
idiopatik remaja cenderung mengalami tulang yang lebih bengkok ke kanan apabila pasien
tersebut lebih dominan menggunakan tangan kanan. Berikut bebrapa hal yang diperhatikan pada
pasien scoliosis: 14

I. Sistem pernapasan
Skoliosis menurunkan kapasital vital paru (VC), mengurangi kapasitas residual
fungsional (FRC), dan pola penyakit paru restriktif yang ditandai dengan peningkatan
tingkat respirasi dan penurunan volume tidal. Tingkat keparahan kerusakan paru
dipengaruhi oleh sudut scoliosis (> 70o), jumlah vertebra yang terlibat (7 atau lebih), lokasi
cephalad dari kelengkungan dan hilangnya deviasi yang terlihat pada kyphosis toraks.
Kerusakan paru-paru dimanifestasikan oleh penurunan tekanan oksigen arterial akibat
shunting pulmoner.9 Abnormalitas dari fungsi paru terjadi karena geometri dari kerangka
thoraks akan menyebabkan penurunan pengembangan dinding dada
Ketika skoliosis semakin berkembang, pertukaran gas dipengaruhi oleh ketidakcocokan
ventilasi-perfusi, hipoventilasi alveolar, dan peningkatan gradien alveolar-arteri. Lama
periode hipoksemia menghasilkan hipertensi pulmonal, hiperkapnia, dan akhirnya gagal
napas.10 Pembedahan untuk skoliosis dilakukan untuk memperlambat perkembangan
penyakit dan mencegah komplikasi. Skoliosis dapat membatasi fungsi dari otot-otot
pernafasan yaitu, interkostalis tidak dapat meregang karena perubahan ruang interkostal,
menempatkan mereka pada kerusakan mekanis.10
Selain itu, efektivitas otot dapat terhambat dengan terbatasnya kemampuan thoraks
untuk berkembang. Skoliosis secara umum dikaitkan dengan perkembangan defek paru
restriktif yang dimanifestasikan oleh penurunan kapasitas paru total (TLC) pada tes fungsi
paru. Skoliosis infantil dan juvenil lebih dikaitkan dengan hipoplasia paru yang sebenarnya
karena deformitas toraks muncul selama periode pertumbuhan dan perkembangan paru.
Hipoinflasi dan atelektasis yang berlangsung lama menyebabkan pengurangan volume
paru lebih lanjut.11 Penurunan TLC sering dikaitkan dengan peningkatan volume residual
(RV), menghasilkan rasio RV / TLC yang sangat tinggi yang mencerminkan disfungsi otot
ekspirasi, yang tidak mengeluarkan nafas sepenuhnya. Dalam kasus skoliosis yang parah,
loop aliran-volume dapat menunjukkan bukti penurunan obstruksi saluran nafas yang
mungkin disebabkan oleh peradangan saluran napas kronis sekunder akibat pembersihan
sekresi yang buruk.9,12

II Sistem kardiovaskular
Perubahan kardiovaskular yang terkait dengan skoliosis lebih jarang tetapi lebih
serius daripada perubahan dalam sistem respirasi. Efeknya adalah perikarditis restriktif
dengan kemungkinan efusi perikardial sekunder. Pengisian jantung yang terbatas
menurunkan potensi peningkatan cardiac output. Selain itu, pemindahan atau kompresi
jantung karena deformitas toraks menyebabkan pengisian normal dapat terganggu dan
output jantung saat istirahat dapat terganggu. Selain kerusakan mekanis miokardium, dapat
terjadi kelainan kardiovaskular sekunder pada ketidakcukupan kronis sistem respirasi.13

III. Sistem neurologi


Pasien yang memiliki defisit neurologis berada pada peningkatan risiko cedera
sumsum tulang belakang selama operasi skoliosis.4,14
Table 1 Suggested preoperative investigations be-fore major spine surgery9

Minimum O pt i o na l
i nve stig a ti o ns i nve stig a ti o ns
 Plain chest X-  PFT
Respiratory ray (bronchodilator
System reversibility)
 Pulmonary
 ABG diffusion
Capacity
 Spirometry(FE
V1,FVC)
 Dobutamine
 ECG stress echo
Cardiovasc
ular system  Dipyridamole/th
 Echo allium
Scintigraphy
 Complete  Liver function
Blood blood count tests
 Clotting
profile

 Cross match

 Urea/electrolytes

2.3 Intraoperative monitoring .

Teknik anastesi

I. Premedikasi

Dianjurkan untuk menghindari penggunaan narkotik atau sedasi berat pada

gangguan fungsi paru. Bronkodilator dapat digunakan sebagai bagian dari optimasi fungsi

paru-paru sebelum operasi, dan Pada pasien yang berisiko aspirasi, H2 block agen atau

penghambat pompa proton dapat diberikan dengan atau tanpa sodium sitrat.14
II. Induksi

Induksi obat diberikan secara intravena sedangkan untuk induksi inhalasi

tergantung pada kondisi pasien. Penggunaan suksinilkolin dapat terjadi respon

hyperkalemik pada pasien myopathies, pengunaan suksinilkolin ini juga dapat

menyebabkan hipertermia pada sindrom-sindrom tertentu seperti King-Denborough,

defisiensi adenilat kinase dan lain-lain. Oleh karena itu sebaiknya untuk menghindari

penggunaan suksinilkolin pada keadaan tersebut.4, 14

III. Intubasi

Tindakan intubasi pada pasien scoliosis akan sedikit kesulitan dikarenakan

terjadinya distorsi pada trakea dan bronkial akibat dari tidak lurusnya tulang toraks atau

servikal. Pada tindakan intubasi perlu diperharikan dan dipantau apakah ventilasi tetap

terpenuhi atau tidak. 14

IV. Maintenance

Diperlukan kedalaman anestesi yang stabil selama tindakan proses pembedahan,

teknik narkotik inhalasi dapat digunakan (nitrous oxide) atau teknik intravena

menggunakan propofol. Non-depolarizing neuromuscular blocking dapat digunakan untuk

menjaga relaksasi pada pasien, disarankan untuk menggunakan atracurium dengan terus

menerus secara infus dan mempertahankan dalam keadaan konstan. Cairan intravena harus

dihangatkan dan kasur yang digunakan disarankan memberikan rasa hangat. 14

V. Monitoring intra operative

Hampir sama dengan pasien lainnyanya, pada pasien scoliosis monitoring yang

perlu dilakukan seperti monitor EKG, tekanan darah pasien, saturasi oksigen atau

tercukupinya kebutuhan oksigen pasien, suhu tubuh, stetoskop pada dada untuk memantau
pernapasan atau memonitoring keberhasilan intubasi. Pemantauan urin output pasien juga

perlu dilakukan dengan cara memasang kateter, hal ini dilakukan untuk memantau

keseimbangan cairan dan untuk koreksi hipotensi akibat terjadinya syok hipovolemik

akibat kekurangan cairan atau kehilangan darah pada saat dilakukannya tindakan

pembedahan. 4,7,14

VI. Posisi

Pada pasien scoliosis pengaturan posisi pasien berguna untuk kemudahan tindakan

operatif dan penjagaan ventilasi pasien. Posisi kepala pasien harus benar benar

diperhatikan untuk mencegah terjadinya kebutaan akibat tekanan pada bola menyebabkan

trombosis pada arteri retina sentral Posisi kepala tidak boleh terlalu fleksi atau ekstensi

sehingga dapat diinspeksi dengan mudah Posisi kepala dan leher pada saat dilakukan

pembedahan harus sering untuk diperiksa ulang Ekstremitas atas harus diposisikan abduksi

tidak lebih dari 90 derajat .4,14

Gambar 1. Posisi pasien scoliosis

Posisi perut pasien dapat memengaruhi besar kecilnya perdarahan yang terjadi

karena dengan adanya peningkatan tekanan abominal, maka olexus vena vertebra akan

meningkat dan dapat terjadi perdarahan. Posisi yang benar, pemberian pelemas otot dan

anesteia yang dalam dapat menurunkan risiko peningkatan ketegangan tekanan dinding
perut. Volume intravaskular dapat dipertahankan dengan mengganti darah dengan tiga kali

volume cairan saline. Pertimbangan untuk membuat pasien dalam keadaan hipotensi dapat

dilakukan untuk mengurangi perdarahan. Pemberian anestesi inhalasi kuat, vasodilator,

ganglionic blocking agents, beta adrenergic blocking agents, angiotensin converting enzim,

dan kombinasinya dapat diberikan untuk mencapai keadaan hipotensi. Keadaan ini akan

menurunkan risiko perdarahan sebanyak 30-50 % pada tekanan darah arteri 50-60

mmHg.4,7,14

VII. Hipetermi maligna

Hipetermi maligna dapat terjadi pada pasien akibat dari anastesi sukinilkolin,

terdapat beberapa laporan yang diterbitkan terkait antara myopati dengan hipertermia

maligna dan beberapa sindrom ini memiliki kelainan skeletal termasuk scoliosis. Tanda

yang perlu diperhatikan terjadinya awal dari hipertermia maligna yaitu suhu tubuh yang

naik, denyut jantung yang meningkat, ventrikel aritmia atau hiperkapnia. Penatalaksanaan

pada hipertermia maligna yaitu pemberian oksigen 100%, menghentikan agen pemicu,

pendinginan, pernapasan suportif, dan obat-obat seperti dantrolene.4,14

VIII. Konservasi darah

Dalam operasi tulang belakang yang luas kehilangan darah biasanya 10 hingga 30

ml.kg, sehingga perlu untuk mempertimbangkan terjadinya hipotermia, gangguan

koagulasi, hyperkalemia, hipokalsemia, reaksi transfusi, cedera paru-paru akut, infeksi

yang ditularkan dan lain-lain. Untuk mengurangi kehilangan darah dapat dilakukan dengan

transfusi darah atau dengan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kehilangan

darah pada tindakan operatif scoliosis, yaitu:4,7,14


a. Saat pasien ditempatkan pada meja operasi, tekanan pada intraabdominal harus

diminimalkan, hal ini bertujuanuntuk pengurangan tekanan vena epidural.

b. Anestesi hipotensif dianggap cukup metode yang aman dan efektif untuk

mengurangi darah kehilangan hingga 58% selama operasi tulang belakang. Mean

tekanan arteri biasanya dijaga pada 60-65mmhg. Anestesi hipotensif dapat tercapai

dengan menggunakan agen hirup, sodium nitroprusside, obat pemblok ganglion,

misalnya, trimetaphan, calcium channel blocker misalnya nicardipine, beta blocker

mis. propranolol, esmolol, labetalol, nitrogliserin, fenoldopam dan lain-lain.

c. Agen antifibrinolitik misalnya aprotinin menghambat plasmin dan kallikrein dan

mempertahankan fungsi platelet.

IX. Wake up

Pada saat melakukan tes eake up Anestesiolog harus mempunyai dua asisten bahkan

lebih. Teknik anestesi pada pasien skoliosis dapat bervariasi. Umumnya pada pasien yang

menagalami skoliosis idiopatik adalah remaja yang sehat dan dapat bertoleransi dengan

teknik anestesi dan pembedahan. Penggunaan nitrous oxide, infus narkotik, dan relaksan

dapat diberikan. Pemberian suksinilkolin dihindari pada pasien yang mengalami gangguan

pada otot.

Pasien yang memiliki derajat kelengkungan lebih dari 120 derajat, skoliosis

kongenital, kifosis, neurofibromatosis, pasien skoliosis yang sedang mengalami infeksi

memiliki risiko terjadinya paraplegia akibat adanya distraksi pada korda spinalis dan

terganggunya suplai aliran darah ke korda. Untuk mengetahui adanya defisit neurologis

dapat dilakukan pemeriksaan SSEP dan wake up test. Profilaksis preoperatif menggunakan
kortikosteroid dosis tinggi dapat dipertimbangkan pada pasien yang sebelumnya sudah

diketahui mengalami defisit neurologis.

Pada saat melakukan pemeriksaan SSEP, akan berpengaruh terhadap obat obatan

anestesi, kecuali obat relaksan otot. Nitrous oxide, diazepam, droperidol, ethomidate,

thiopental, dan obat obatan narkotik. Pemberian nitrous oxide dapat menurunkan

amplitudo dan peningkatan dari latensi. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah apabila

bila dilakukan anestetik yang dalam dan stabil. Contohnya, pemberian narkotika melalui

drip infus lebih baik bila dibandingkan dengan pemberian dosis intermitten. Apabila nilai

dari SSEP menjadi abnormal, dokter anestesi harus mempertahankan pemberian oksigen

dan perfusi dari saraf tulang belakang yang adekuat. Hipovolemi dan anemia harus segera

dikoreksi, saturasi dipertahankan ke nilai normal agar tidak terjadi keadaan hiperventilasi.

Jika SSEP masih menunjukkan hasil yang abnormal walaupun setelah dilakukan

usaha perbaikan, wake up test harus dilakukan untuk menentukan operatif tetap dilanjutkan

atau tidak. Bukti menunjukkan bahwa semakin pendek interval waktu antara deteksi cedera

dan penggantian instrumen memberikan hasil neurologis yang lebih baik. Penilaian tes

wake up digunakan untuk menilai integritas spinal motorik. Pasien diintruksikan untuk

meremas tangan anestesiolog, dan perhatikan respon terhadap remasan tangan dan kaki.

Apabila pasien mampu meremas tangan anestesiolog dan dapat memindahkan kakinya,

anestesia harus diperdalam dengan menggunakan benzidiazepin seperti midazolam,

tiopental, atau pelemas otot. Selain pemeriksaan wake up, ada beberapa parameter yang

juga penting untuk diperhatikan pada pasien yang akan kita ekstubasi.
Berikut beberapa parameter pasien untuk dilakukan ekstubasi:1

a. Kapasitas vital >10 ml/kg

b. Vulem tidal > 3 ml/kg

c. Frekuensi pernapasan spontan < 30 kali permenit

d. Kekuatan inspirasi negatif >-30 cmH20

2.4 Postoperative management

I. Perawatan pasca operasi

Pasien yang menjalani operasi skoliosis sering memiliki morbiditas yang sudah ada

sebelumnya, dan operasi dapat mengakibatkan morbiditas lebih lanjut seperti kehilangan

darah yang signifikan dan pergeseran cairan, hipotermia, dan lain-lain. Setelah koreksi

scoliosis sebaiknya semua pasien harus dirawat di ruangan perawatan intensif. Ini sangat

penting pada mereka dengan myelopathy, disfungsi pulmonal, penyakit kardio vaskular,

operasi tulang belakang yang luas. Oksigen sungkup dapat diberikan untuk beberapa jam

pertama setelah ekstubasi dan mungkin diperlukan waktu yang lebih lama pada mereka

yang sudah disfungsi paru ada sebelumnya. Komplikasi paru (ARDS, pneumonia,

atelectasis, emboli paru) adalah komplikasi pasca operasi yang paling umum, komplikasi

tertentu lainnya yang bisa terjadi setelah operasi scoliosis adalah cedera neurologis, ileus,

pneumotoraks dan komplikasi pada buang air kecil. 14,15

II. Analgesia pasca operasi

Manajemen nyeri sangat dibutuhkan pada tindakan atau prosedur operatif yang

minimal maupun luas. Pendekatan analgesia dianjurkan menggunakan kombinasi

analgesik primer, opioid dan teknik regional jika perlu. Opioid dapat diberikan intravena

ataupun melalui infus, namun terdapat beberapa efek sampingnya seperti depresi
pernapasan, mual-muntah, dan sedasi, Sehingga perlu dibatasi penggunaannya. Studi

menunjukkan optimal dosis ofmorphine yaitu 2-5 mcg, pada pemberian analgesia selama

24 jam akan memberikan efek samping sedikit. Penggunaan opioid tidak akan mengganggu

penilaian neurologis. Namun efek dari suatu dosis opioid intratekal tunggal akan

mengakibatkan efek kerja yang terbatas. Teknik lain seperti infus, anestesi lokal atau

opioid atau keduanya telah digunakan. Penggunaan intravena ketamine dosis rendah telah

menunjukkan kemanjuran dengan dosis awal 0,25 mg.kg-1, diikuti melalui infus 2 - 2,5

mcg.kg-1.4,14

III. Pemeriksaan Laboratorium

Ketika pasien sudah sampai diruang pemulihan, darah harus diperiksa untuk

menilai gas darah, hematokrit, elektrolit, BUN, dan kreatinin. Apabila sebelumnya terjadi

perdarahan hebat, jumlah trombosit, protrombin, dan PTT harus dieevaluasi. Hiponatremi

dan ekskresi natrium urin tinggi dapat terjadi saat pemebedahan skoliosis. Oleh karena itu,

pemeriksaan elektrolit darah diperiksa tiap 12 jam pada 24 jam pertama dan perhari selama

2 hari. Penurunan yang drastis dan cepat pada konsentrasi natrium <125 mEq/L akan

menyebabkan edema serebral dan kejang. Pemberian Ringer Lactat untuk menjaga

pengeluaran urin minimun 0,5-1 ml/kg/jam. Pemberian cairan koloid dapat diberikan

apabila serum albumin menurun.4,14


BAB III

KESIMPULAN

Skoliosis disebabkan oleh beberapa etiologi, mengarah ke keterlibatan pernafasan yang

ditandai oleh paru-paru restriktif, ventilasi-perfusial, distribusi dan hipoksemia. Keterlibatan

kardiovaskular biasanya dalam bentuk peningkatan tekanan jantung, Anestesi sering dibutuhkan

untuk mengkoreksi pasien bedah ortopedi, sehingga perlunya dilakukan pertimbangan dan

penggelolalaan pada anastesi pasien skoliosi. Penilaian dan optimasi pra-anestesi yang dilakukan

dari sistem pernapasan dan kardiovaskular. Pertimbangan intraoperatif sangat penting dilakukan,

seperti pemantauan suhu dan balance mengontrol cairan, positioning, pemantauan integritas tulang

belakang dan konservasi darah, serta perawatan intensif pasca operasi dan terapi nyeri perlu untuk

diperhatikan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Beattie C. Sejarah dan prinsip prinsip ilmu anestesi. Dalam : Gilman AG, Hardman JG,
Limbird LE. Edisi ke-10. Jakarta. EGC. 2008. Hlm.313-21.

2. Latief, Said. Analgesia regional. Dalam : petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi II. Jakarta.
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2009.

3. Donson. M.B., dkk. Penuntun Praktis Anestesi. Jakarta. EGC. 1994

4. Scoliosis Research Society. What is Scoliosis ? [homepage on the internet]. [cited 2015 Sep
20]. Available from :
http://www.srs.org/patient_and_family/patient_handbook/what_is_scoliosis.htm

5. Scoliosis Media and Community Guide [booklet]. Stoghton : National Scoliosis Foundation
and DePuy Spine, Inc., 2009

6. Katz S, editir. The Burdon of Musculoskeletal Disease in The United States. Rosemont Bone
and Joint Decade, American Academy of Orthopedic Surgeon, 2008

7. Reamy, BV, Slakey JB. Adolescent Idiopathic Scoliosis : Review and Current Concept. Am
Fam Physician. 2001 ; 64 (1):111-6

8. Raw DA, Beattie JK, Hunter JM. Review article: Anaesthesia for spinal surgery in adults.
British Journal of Anaesthesia 2003; 91:886-904.

9. Goldstein LA, Waugh TR. Classification and terminology of scoliosis. Clin Orthop 1973;
93:10-22.

10. Koumbourlis AC. Review: Scoliosis and the respiratory sys-tem. Paed Resp Rev 2006;
7:152-160.

11. Vedantam R, Lenke LG, Bridwell KH, et al. A prospective evaluation of pulmonary function
in patients with adolescent idiopathic scoliosis relative to the surgical approach used for spinal
arthrodesis. Spine 2000; 25:82-90.

12. Day GA, Upadhyay SS, Ho EK, et al. Pulmonary functions in congenital scoliosis. Spine
1994; 19:1027-31.

13. Boyer J, Amin N, Taddonio R, et al. Evidence of airway ob-struction in children with idiopathic
scoliosis. Chest 1996; 109:1532-1535.
14. Victor M, Eddy S. Anasthesiology Problem-Oriented Patient Management. USA. 1998: 936-
956
15. Pelealu J, Leonard S. Rehabilitasi Medik Pada Skoliosis. Universitas manado. 2013; 8-14

Anda mungkin juga menyukai