Anda di halaman 1dari 73
613.62 @) SAE STN yet MEE RE pated He SR ind GANGGUAN| KESEHATAN _AKIBAT; FAKTOR PSIKOSOSIAL DI TEMPAT, KERJA KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2011 SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BINA GIZI DAN KIA Pekerja memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan bangsa karena jumlahnya yang sangat besar, berperan dalam mengembangkan pembangunan perekonomian negara, dan merupakan tulang punggung ekonomi keluarga. Bila pekerja sehat dan produktif, ekonomi keluarga meningkat dan berdampak pada ekonomi bangsa sehingga angka kemiskinai dapat diturunkan yang pada akhirnya dapat meningkatkan ste 5 ; serta menurunkan angka IMR dan MMR. ey a Dalam perkembangan industrialisasi dan teknologi, m: bahan dan alat yang digunakan mempunyai kesehatan pekerja. Pekerja dapat terkena berbagai penyakit baik penyakit menular yang saat ini masih tinggi juga penyakit tidak menular termasuk penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan lingkungan di tempat kerja. Gangguan kesehatan karena sangat berpengaru produktivitas pekerja dan selanjutnya bila tidak baik akan menyebabkan kecacatan seumur yang cukup bagi diagnosis penyakit melakukan penanganan yang tepat. Sori Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga: Saya menyambut baik adanya pedoman ini, semoga bermanfaat bagi dokter di pelayanan kesehatan dasar dalam memberikan pelayanan bagi pekerja. Direktur Jengétal Bina Gizi dan KIA DR. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS man Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karuniaNya buku Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja ini dapat diselesaikan. Perkembangan industri saat ini sarat akan teknologi yang selain berdampak positif dari segi ekonomi namun juga dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Dokter di fasilitas kesehatan dasar sangat berperan untuk mencegah timbulnya penyakit dan kecacatan akibat kerja dengan melakukan deteksi dini dan penanganan yang tepat. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja ini, diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup bagi petugas kesehatan, dan dapat membantu dalam mengembangkan program. Terimakasih kami sampaikan kepada PERDOKI yang berperan dalam penyusunan pedoman ini. Terima kasih | Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga: Akhir kata, kami berharap semoga pedoman ini dapat bermanfaat bagi petugas- kesehatan khususnya dokter di fasilitas kesehatan dasar. Jakarta, November 2011 Direktur Bina Kesehatan Kerja dan Olahraga ‘ant Dr. Kuwat Sri Hudoyo, MS nn Tataleksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan DAFTAR ISI Halaman KATA SAMBUTAN .... i KATA PENGANTAR .... bgeestvas Suraavousesn . ili ID NESTARULS [Perera ease ete ore cerscenccezcrscetce ecacsnayssazeszsresesapsncernesee Vv BABI. PENDAHULUAN s 1 PEUATARIBELAIAN GE oy crescte-riissseseiesecarsecrsnieeny 1 BE UUUAN Rare cttersscnireccor i cracateivaseceaaninentiss . 3 C. SASARAN 3 DI IRUANGITINGKUBS cneiteuieniinsnenaciin oo BAB II. PATOFISIOLOG! GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT STRESOR PSIKOSOSIAL DI TEMPAT KERQA ......0:..00::..c0sqctnmetenn =O) A. PENGERTIAN ~ 5 B. JENIS STRESOR PSIKOSOSIAL = 6 C. PATOFISIOLOG! GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT STRESSOR PSIKOSOSIAL DI TEMPATSRERUA Ss sscassveoonresssose> eigenen 9 BAB III. BERBAGAI GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT STRESOR PSIKOSOSIAL DI TEMPAT KERMA o.oo. cccccceeseeceeseeseeeee 1 B. BURN Out (Kelelahan berat/Kejenuhan) C. ANSIETAS (Gangguan Cemas) Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan Vv D. GANGGUAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DAN ALKOHOL . —. DEPRESI.. F GANGGUAN SOMATOFORM PAKIBATIKERUAS cece teem neo ee 36 BAB IV. PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN ... 39 A. PENCEGAHAN Du... ieee 89 B. PENATALAKSANAAN .........c:sccessseseesecseeeseess 42 DAFTAR PUSTAKA . M PENYUSU: 17 Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan BAB | PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan globalisasi dan _ industrialisasi memacu persaingan di dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk bekerja secara maksimal dan efisien. Di sisi lain pekerja dapat dihadapkan pada situasi, kondisi atau lingkungan kerja yang tidak kondusif diantaranya bekerja dalam shift, beban kerja yang berlebihan, bekerja monotoni, mutasi dalam pekerjaan, tidak jelasnya peran kerja, konflik dengan teman kerja yang merupakan stresor psikososial yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan fisik maupun mental emosional para pekerja. Penelitian BELSTRESS yang bertujuan untuk menemukan hubungan antara stress kerja dan faktor risiko penyakit kardiovaskular meneliti 16.329 pria dan 5.090 wanita yang demands) dan kontrol pekerjaan yang rendah low. serta dukungan sosial di tempat kerja yang ren: lah (/ O social support). Penelitian ini menemukan bah pekerjaan secara positif berkaitan dengan tekanan darah kadar kolesterol total pada pria dan hipertensi pada Kontrol pekerjaan berhubungan dengan diabetes pria maupun wanita.' 4 Pelfrene E.; De Backer G.; Mak R. de Smet P,; Komitzer b : Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatar Penelitian yang dilakukan oleh Yoshihisa Fujino dkk pada 110.792 pekerja laki-laki di Jepang dari tahun 1988 — 1990 menemukan pekerja yang bekerja gilir (rotating-shift) dibandingkan dengan pekerja siang (day worker) memiliki risiko lebih tinggi untuk meninggal akibat penyakit jantung iskemik (risiko relatif = 2,32; 95% confidence interval: 1,37 — 3,95; p = 0,002). Selain itu pekerja dengan faktor risiko penyakit jantung koroner seperti hipertensi, kelebihan berat badan, kebiasaan mengonsumsi alkohol, dan merokok sangat rentan terhadap efek dari kerja gilir pada risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik. Prayitno (1993) melakukan penelitian pada 52 pekerja lepas pantai, menemukan adanya pekerja dengan stres berat sebanyak 40,38% dan pekerja dengan penyakit jantung koroner sebesar 4,5%. Widyahening menemukan adanya gangguan mental emosional pada 39,4% pilot dan co pilot penerbangan sipil. Sedangkan Darmadi menemukan adanya 53% pramugari yang mengalami gangguan haid akibat beban kerja kuantitatif yang tinggi. Stresor psikososial pada pekerja dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan antara lain stres kerja, sindroma burn out, kecemasan, depresi dan penyakit kronik lainnya. Hal ini tentunya akan menimbulkan kerugian pada perusahaan karena secara signifikan menyebabkan kerugian ekonomis (economic loss). Sedangkan pada diri pekerja, dampak stresor psikososial juga dapat menimbulkan penurunan gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustrasi hingga terganggunya kesehatan fisik, gangguan psikiatrik hingga keinginan bunuh diri. cardiovascular risk factors ~ Results from the BELSTRESS study. Arch Public Health. 2002, 60,245 — 268. Fujino, Y; Iso, H; Tamakoshi, A; Inaba, Y; Koizumi, A; Kubo, T; et al. A prospective cohort study of shift work and risk of ischemic heart disease in Japanese male workers. American Journal of Epidemiology Vol. 164, No. 2, 128 — 135. 2006. Seri Pedoman Tataleksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan Gangguan kesehatan akibat faktor psikososial di tempat kerja harus ditangani sedini mungkin dan bersifat holistik (menyeluruh) agar pekerja dapat melakukan adaptasi dan mampu mengatasi masalah stresor psikososial tersebut. Mengingat cukup banyaknya. gangguan kesehatan akibat stresor di tempat kerja, maka diperlukan kemampuan dokter di fasilitas kesehatan dasar untuk dapat melakukan deteksi dan penanganan sedini mungkin serta melakukan rujukan bila perlu dirujuk ke tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. B. TUJUAN Sebagai acuan dokter umum di fasilitas pelayanan kesehatan dalam tatalaksana gangguan kesehatan akibat stresor psikososial pada pekerja. C. SASARAN Dokter umum di fasilitas pelayanan kesehatan. D. RUANG LINGKUP Pengenalan/identifikasi pajanan, faktor risiko dan penyakit serta tatalaksana dan pencegahan gangguan kesehatan akibat stresor psikososial pada pekerja. ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 3 Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan BAB II PATOFISIOLOGI GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT STRESOR PSIKOSOSIAL DI TEMPAT KERJA A. PENGERTIAN Masalah psikososial adalah perubahan dalam kehidupan individu baik yang bersifat psikologis ataupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik dan dianggap berpotensi cukup besar sebagai faktor = penyebab terjadinya gangguan fisik dan psikis secara nyata.__ pada individu tersebut. Stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik, atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol (Morgan & King, 1986). Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu: Eustress yang merupakan stress yang bersifat s positif, dan konstruktif (bersifat_ membangun) yang merupakan stres yang bersifat tidak sehat, n destruktif (bersifat merusak) Stresor Adalah penyebab stres. Stresor Psikososial psikososial. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugé Strain adalah manifestasi fisiologi, psikologi dan perilaku dari stres yang bersifat jangka pendek. Stres kerja adalah respon fisik dan emosional yang berbahaya yang timbul bila tuntutan pekerjaan tidak sesuai dengan kemampuan atau kebutuhan pekerja (NIOSH). . JENIS STRESOR PSIKOSOSIAL Potensi bahaya psikososial (psychosocial hazards) menurut definisi dari International Labour Organization (ILO, 1986) mempunyai pengertian interaksi antara job content, organisasi kerja dan manajemen, dan keadaan lingkungan serta organisasi di satu pihak dan kompetensi serta kebutuhan pekerja di pihak lain. Interaksi itu terbukti mempunyai pengaruh yang berbahaya terhadap kesehatan pekerja melalui persepsi dan pengalaman pekerja. Potensi bahaya psikososial di tempat kerja antara lain sebagai berikut: Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan Tabel 1. Potensi bahaya psikososial? Jenis Contoh Job content Kurangnya variasi atau pendeknya siklus kerja, kerja yang dibagi dalam bagian-bagian kecil atau kurang bermakna, kemampuan pekerja lebih tinggi dibandingkan tugas yang dibebankan kepadanya, ketidakpastian status pekerjaan, pekerjaan yang secara rutin harus berinteraksi dengan berbagai karakter manusia. Beban kerja dan Beban kerja berlebih atau kurang, kecepatan mesin kecepatan kerja (machine pacing), terus-menerus berhadapan dengan tenggat waktu yang singkat (continually subject to deadlines) Jadwal kerja Kerja gilir, kerja malam, jadwal kerja yang tidak fleksibel, jam kerja yang tidak pasti, jam kerja panjang, unsociable hours. Kontrol Partisipasi rendah dalam pengambilan keputusan, tidak ada pengendalian terhadap beban kerja dan kecepatan kerja, dil. Lingkungan dan Ketersediaan peralatan yang tidak memadai, peralatan peralatan yang kurang cocok, atau pemeliharaan peralatan yang tidak memadai, keadaan lingkungan kerja yang penuh sesak, pencahayaan yang buruk, bising berlebihan. Budaya dan fungsi Komunikasi yang buruk, kurangnya dukungan untuk organisasi pemecahan masalah dan pengembangan diri Hubungan antar lsolasi sosial atau fisik, hubungan yang buruk dengan pribadi di tempat kerja | atasan, konflik antarpribadi, kurangnya dukungan sosial, bullying, pelecehan. Peran dalam Ketidakjelasan peran (role ambiguity), konflik peran organisasi (role conflict), dan adanya tanggung jawab terhadap orang-orang (responsibility for people) Pengembangan karir | Karir tidak jelas dan mandek, kurang promosi atau promosi berlebihan, bayaran yang buruk, , ketidakamanan pekerjaan (job insecurity). 3 Leka, S; Jain, A. Health impact of psychosocial hazards at work: an overview. WHO, 2010. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan iz Status Kesehatan Faktor risiko fisiologis © Hipertensi © Hiperkolesterolemia © Faktor genetik (keturunan) Faktor risiko perilaku ® =merokok © gizi buruk © aktivitas fisik kurang Faktor risiko psikososial Job content ingkungan dan peralatan " Fungsi dan budaya organisasi lubungan antar pribadi di tempat kerja Peran dalam organisasi Perkembangan karir Home-work interface Keadaan berisiko Kemiskinan Status pekerjaan/ pendidikan rendah Kerja penuh stres Polusi lingkungan Diskriminasi Kekuatan ekonomi- politik rendah Kesenjangan yang besar dalam pendapatan/kekuasaan dalam komunitas Perumahan yang tidak memadai ‘Akses ke makanan yang tidak adekuat an Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehalan C. PATOFISIOLOG! GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT STRESSOR PSIKOSOSIAL DI TEMPAT KERJA Risiko untuk sires kerja Reaksi sires Konsekuens' jangka Job content Fisiologis panjang pada pekeria + Beban kerja dan pacu + Perilaku Sosial dan psikis eae ernest 7 + Kesehatan mental , ‘emosional i * Gangguan kognitif + Kontrol seSheake/ Koga . faa oan cen + Lingkungan den perilaku peralatan Fisik dan fisiologis + Budaye organisasi + Gangguan + Hubungan antarpribadi muskuloskeletal Peran dalam organisasi + Penyokit + Pengembangan karir kardioveskular + Homework interface Kerakerte arial denis kelenin + Usia + Pendidikan Competitiveness + Over commitment Gambar 2. Faktor patofisiologi gangguan kesehatan akibat stressor psikososial di tempat kerja D. PROSES ADAPTASI TUBUH TERHADAP STRESO PSIKOSOSIAL (Hans Selye) Jika pekerja mengalami stresor terus-menerus maka mengalami proses adaptasi yang terdiri dari tiga fa Fase 1: reaksi kewaspadaan (Alarm reacti Orientasi terhadap tuntuta mulai mulai menghayati 1 adrenalin, kortison dan h Seri Pedoman Tatalaksana Penyekit Akibat Kerja Bagi Petuga: Fase 2: Fase 3: teaksi perlawanan (Resistancy reaction). Tubuh mengerahkan daya tahan untuk melawan faktor penyebab stress. Jika pajanan berlangsung lama, sumber penyesuaian habis dan terbatas kemampuan tubuh. reaksi kehabisan tenaga (Exhaustion reaction). Mekanisme pertahanan badan perlahan-lahan menurun dan terjadi kelelahan sehingga mulai timbul gangguan fisik. Pekerja berisiko Terdapat sejumlah pekerjaan yang teridentifikasi sebagai berisiko tinggi untuk terjadinya stresor tersebut. Pekerjaan yang secara teratur mengharuskan kontak dengan orang lain, beban kerja tinggi, tenggat waktu ketat, dan ancaman serangan fisik. Contoh pekerjaan ‘seperti itu adalah guru, perawat, polisi, petugas di penjara, militer, dokter, manajer hotel, administrasi publik (misalnya manajer rumah sakit), peneliti ilmiah, pedagang eceran, pemadam kebakaran, pekerja sosial, petugas ambulan dan paramedik, pengemudi transportasi publik. 10 Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehaten ————— rrr —“‘OOC — BAB IIl BERBAGAI GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT STRESOR PSIKOSOSIAL DI TEMPAT KERJA A. STRES AKIBAT KERJA 1. Defi adalah respon fisik dan emosional yang berbahaya yang timbul bila tuntutan pekerjaan tidak sesuai dengan kemampuan atau kebutuhan pekerja (NIOSH). A 2. Penyebab Penyebab stres kerja dapat dikelompokkan menjadi:* 1. Lingkungan fisik Kondisi lingkungan kerja yang buruk terkait dengan hal- hal berikut ini dapat menjadi sumber stres dalam tempat kerja: + Luas ruangan yang tidak mencukupi untuk bekerja secara nyaman, aman dan efisien. + Ketiadaan privasi dapat mengganggu bagi se pekerja. * Tataletak kantoryang terbukamengal mudah teralih, bising, interupsi kesulitan dalam berkonsentrasi + Tataletak tempat kerja menekuk berlebihan, mi angkut material. 4 Stranks, J. Stress at work - management and preventic Heinemann, 2005. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga: + Kontrol suhu dan kelembaban yang tidak adekuat mengakibatkan ketidaknyamanan. * Penerangan yang buruk sehingga tugas tidak dapat dikerjakan secara aman. + Tingkat bising yang berlebihan sehingga pekerja harus menaikkan suaranya Ventilasi yang tidak memadai mengakibatkan ketidaknyamanan, terutama pada musim kemarau atau cuaca panas. . Organisasi Kebijakan, prosedur, budaya dan gaya operasional organisasi dapat menyebabkan stres. Budaya didefinisikan sebagai 'suatu keadaan atau satu perangkat _ perilaku dalam suatu organisasi tertentu’. + Staf yang tidak mencukupi untuk ukuran beban kerja mengakibatkan kerja lembur berlebihan. Terlalu banyak pos yang tidak terisi, sehingga pekerja harus melakukan tugas tambahan pada pos-pos yang sebelumnya tidak pernah diinstruksikan atau ditraining. Koordinasi antar departemen yang buruk ining yang kurang memadai untuk dapat rjakan tugas dengan baik menciptakan astian dan kurangnya percaya diri dalam tugas tersebut. an Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan + Prosedur kerja yang kaku tanpa pendekatan yang fleksibel + Tidak diberikan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan. 3. Cara organisasi ditangani Gaya manajemen, filosofi, sistem kerja, pendekatan dan tujuan dapat menimbulkan stres individual pada pekerja sebagai akibat dari: * Ketidakkonsistenan dalam gaya dan pendekatan oleh manajer yang berbeda-beda. + Besarnya kompetisi sehingga mengorbankan keselamatan dan kesehatan prosedur kerja. + Manajemen krisis sepanjang waktu aki ketidakmampuan manajemen dalam merencanal dan menangani permintaan mendadak yang dibuat oleh klien. Informasi dipandang sebagai kekuatan oleh beberapa orang mengakibatkan ditahannya informasi penting yang berkaitan dengan tugas, prosedur dan sister dengan sengaja. Prosedur yang selalu berubah akibat manajemen melakukan riset dasar aw: Ketergantungan yang berlebihan didasarkan pada asumsi bah menerima keuntungan ek: + Keharusan kerja gili efek pada kehidupan: beberapa kasus. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Ke 4. Peran dalam organisasi Setiap pekerja memiliki peran, fungsi atau keperluannya dalam organisasi. Stres dapat tercipta akibat: * Ketidakjelasan peran (role ambiguity) + Konflik peran + Tanggungjawab yang terlalu kecil. + Kurangnya dukungan dari manajemen senior + Harus bertanggungjawab terhadap orang dan barang dimana manajer pemula mungkin belum cukup terlatih untuk menangani hal tersebut. 5. Relasi dalam organisasi Bagaimana orang menjalin hubungan satu sama lain dalam kerangka kerja dan struktur organisasi dapat “ a menjadi penyebab stres yang bermakna akibat: * Buruknya hubungan dengan atasan yang mungkin timbul akibat kurangnya pemahaman tentang peranan dan tanggungjawab masing-masing, kebiasaan yang dipegang, dan emosi manusiawi lainnya seperti kerakusan, sirik dan tidak adanya respek. * Buruknya hubungan dengan kolega dan bawahan yang diakibatkan oleh beragamnya emosi manusia. Kesulitan dalam mendelegasikan tanggungjawab kibat kurangnya pelatihan manajemen, kebutuhan erjaan harus dikerjakan dengan sebaiknya’, tidak kepercayaan pada bawahan dan tidak ada ji yang jelas tentang fungsi individual dari Se pekerja. Konflik pribadi yang timbul akibat perbedaan dalam bahasa, aksen, ras, jenis kelamin, temperamen, tingkat pendidikan dan pengetahuan. Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan * Tidak adanya umpan balik dari kolega atau manajemen menimbulkan perasaan terisolasi dan putus asa. 6. Pengembangan karir Stres dapat diakibatkan oleh: * Tidak adanya keamanan pekerjaannya (job security) akibat perubahan berkelanjutan dalam struktur organisasi. * Promosi berlebih (overpromotion) akibat seleksi yang tidak tepat atau karena tidak ada orang lain lagi yang tersedia untuk mengisi pos itu secara efektif. * Promosi kurang (underpromotion) menciptakan perasaan ‘telah diabaikan’. Ambisi yang terhalang dimana ambisi pribadi peker} tidak perlu terikat dengan persepsi manajemen tentang kemampuannya saat ini dan di masa mendatang. + Pekerjaan tersebut tidak mempunyai status yang memadai. + Tidak dibayar sama _ seperti orang lain yang mengerjakan pekerjaan yang sama. 7. Hubungan sosial dan personal Hubungan yang ada antara orang atas da personal seringkali menyebabkan stre Pelecahan seksual; Pelecehan rasial dan di Konflik dengan tuntutan keluarga Terbaginya kesetiaan antara kebutuha dan tuntutan organisasi. Seni Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kese 8. Peralatan Peralatan kerja yang tidak dapat dipercaya, sudah out- of-date, tidak memadai seringkali menyebabkan kondisi stres di antara pekerja. Peralatan mungkin: * Tidak cocok untuk pekerjaan atau lingkungan kerja; * Tua dan/atau dalam kondisi buruk; * Tidak dapat dipercaya atau tidak dipelihara secara semestinya dengan teratur sehingga sering rusak dan menghambat pekerjaan; + Ditempatkan dengan buruk mengakibatkan manual . handling berlebihan atau perilu menempuh jarak yang 7 jauh untuk melakukan bagian-bagian lain dari suatu proses kerja. + Desain peralatan dan penempatan mengakibatkan pekerja harus mengadopsi postur yang tidak nyaman dan menetap. + Selain menimbulkan bising dan panas beberapa peralatan menimbulkan ketidaknyamanan = dan mengurangi komunikasi verbal yang efektif antar pekerja. Kemampuan Individu (Individual concerns) Semua orang berbeda dalam hal kebiasaan, kepribadian, mi ivasidan dalam kemampuan mereka untuk mehadapi dan -menanggulangi stressor. Orang dapat mengalami suatu respon stres akibat: + Kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan; * Kurangnya kepercayaan diri dalam mengatasi masalah antarpribadi, seperti akibat agresi, menjadi -bulanan (bullying) dan pelecehan di tempat ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bogi Petugas Kesehatan + Kurang percaya diri sehingga membiarkan orang lain mendominasi dalam pengertian memutuskan bagaimana melakukan pekerjaan. * Kurang pandai mengatur waktu mengakibatkan tekanan dari penyelia dan pekerja lain agar tugas dapat selesai dengan baik dan tepat waktu; + Kurangnya pengetahuan tentang mengatasi stres. 3. Gejala-gejala stres akibat kerja - Gejala fisiologis berupa otot tegang, jantung berdebar- debar, perut mual, dan keringat dingin. - Gejala psikologis berupa mudah marah, emosi meledak- ledak, mudah panik. - Gejala psikosomatik dalam bentuk gangguan musculoskeletal (nyeri otot, kram), gangguan sistem pernafasan (asma, spasmus bronchitis), gangguan kardiovaskuler (migraine, hipertensi), gangguan kulit (eksim, jerawat), kelenjar endokrin (hipertitoid, diabetes, infertilitas), gangguan sistem saraf (neurostenia), mata (glaucoma), gastrointestinal (gastritis, peptic ulcer, diare), genitourinarial (dismenorhea, gangguan haid) - Gejala perilaku berupa absensi, menghindariberint atau berkomunikasi dengan orang lain, menghinda hal yang biasa disukai, sulit tidur, perub: makan, banyak merokok, ganggua kerja, dan penurunan prestasi ker} 4. Diagnosis Padaanamnesis ditanyakanidentitas, riwayatperk: fisik dan mental, pendidikan, penyakit dim kelua pekerjaan dahulu dan sekarang, riwayat dan sekarang. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga: Pemeriksaan psikiatrik dilihat dari penampilan umum: kesadaran, perilaku, sikap, pembicaraan, dil. Keadaan afektif: perasaan dasar, ekspresi, afektif, empati. Fungsi kognitif: daya ingat, daya konsentrasi, daya orientasi, kemampuan menolong diri sendiri dil. Persepsi, proses berpikir, daya nilai sosial, dan tanggapan tentang diri, lingkungan kerja, lingkungan di luar pekerjaan serta keluarga. Langkah-langkah dalam menegakkan diagnosis stres akibat kerja: 1. Dapat dilakukan dengan pengisian kuesioner stress kerja (lihat lampiran) fe. 2. Menentukan pajanan di tempat kerja: beban kerja, waktu kerja, proses kerja, jam istirahat, lama kerja, hubungan antar individu. 3. Menentukan adanya hubungan pajanan dengan diagnosis klinis. 4. Besarnya pajanan dapat dinilai dari beban kerja melebihi kapasitasnya, jam istirahat yang kurang, tidak adanya pengaturan shift kerja yang baik, waktu kerja yang lama lebih dari 8 jam/hari, pekerjaan yang monoton selama masa kerja, tidak ada refresing selama bekerja, tidak ada kejelasan jenjang karier, job tidak sesuai keahliannya, comunikasi yg buruk di tempat kerja, hubungan atasan gan bawahan, hubungan antar sesama teman dak harmonis dan tidak ada penghargaan bagi ekerjaan: faktor keluarga, lingkungan ial di masyarakat. PAK: stress akibat kerja. oman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 5. Penatalaksanaan Untuk tatalaksana stres akibat kerja dilakukan dengan lima langkah pendekatan: Identifikasi bahaya Siapa yg mungkin dirugikan Evaluasi Risiko Mencatat temuan-temuan Review OER CEs Unni pengendalian stress akibat kerja (NIOSH, 1990): Beban kerja fisik maupun mental harus disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas masing-masing « Jam kerja disesuaikan dengan tuntutan tugas maupun tanggung jawab di luar pekerjaan + Memberi kesempatan pengembangan karier ‘ promosi, dan pengembangan menurut kemampuan dan _ keahlian tertentu * Mengupayakan lingkungan sosial yang sehat di tempat kerja * Tugas-tugas pekerja harus dirancang untuk dapat menyediakan stimulasi dan kesempatan agar pekerja bersangkutan dapat menggunakan keterampilannya pengembangan tugas. + Penilaian Risiko Stres. + Menghilangkan faktor penyeb: menghilangkan faktor-faktor peningkatan stress. * Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. * Memposisikan pekerja berdasar kema dengan pemberian pelatihan yang kerja (job rotation) untuk mencega! Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petug * Melakukan mecitasi dan relaksasi * Konseling pekerja (employee counseling) - Merupakan media diskusi tentang permasalahan yang dihadapi, pokok penyebab luapan emosinya agar dapat mempertahankan diri lebih baik - Konseling dapat dilaksanakan oleh tenaga profesional atau dokter maupun supervisor atau teman sekerjanya - Untuk mendapatkan kesehatan mental yang baik, dengan ciri: merasa nyaman dan merasa mudah berkomunikasi dengan orang lain serta tidak ada kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang mudah. OUT (Kelelahan berat/Kejenuhan) 4. Definisi “Burn out” adalah keadaan kelelahan berat yang prosesnya bertahap di mana seseorang, dalam responnya terhadap stres dan ketegangan fisik, mental dan emosional yang berkepanjangan, melepaskan diri dari pekerjaan dan hubungan bermakna _lainnya. aera produktivitas pun yang merasa terlalu banyak i, berisiko mengalami bum out, _ pekerja keras yang tidak mendapat au kenaikan pangkat dan gaji dalam lima tahun. erjadi pada Ibu yang keletihan tinggal di rumah man Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Pelugas Kesehatan karena telah berjuang dengan tanggung jawab berat mengurus anak-anak, pekerjaan rumah tangga, serta harus mengurus orangtuanya yang sudah tua. Faktor lain yang berkontribusi terhadap kelelahan, termasuk gaya hidup, ciri kepribadian tertentu (tipe A), apa yang pekerja tersebut lakukan dalam waktu senggangnya, dan bagaimana dia melihat dunia ini apakah menyenangkan, membosankan atau bahkan menakutkan. Penyebab kelelahan terkait kerja: + Merasa mempunyai sedikit atau bahkan tidak ada otoritas dalam melaksanakan pekerjaannya * Kurangnya pengakuan/imbalan untuk pekerjaan yang baik. + Ketidakjelasan fungsi/tugasnya e : + Terlalu menuntut atau mempunyai harapan berlebihan- pada organisasi tempat dia bekerja. + Melakukan pekerjaan yang monoton/tidak menantang. * Bekerja dalam lingkungan semrawut atau suasana tegang Gaya Hidup penyebab kelelahan: * Bekerja terlalu banyak/berat, tanpa cukup wakt bersantai dan bersosialisasi. + Menjadi orang yang diharapkan seba: untuk terlalu banyak orang lain. + Mengambil terlalu banyak tangg bantuan yang cukup dari orang I in «Tidak cukup tidur * Kurang baiknya hubungan dengan orang mendukung). Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Keyja Bagi Petugas/ Ciri-ciri kepribadian (type A) dapat berkontribusi pada kelelahan,a.1.: * Kecenderungan perfeksionis, tak ada yang pernah cukup baik + Pesimistis melihat diri dan dunia + Kebutuhan untuk berada dalam posisi mengendalikan, + keengganan untuk mendelegasikan kepada orang lain + Selalu ingin mencapai yg tertinggi/ terbaik 3. Gejala karakteristik burn out + Kecemasan dan depresi + Sikap sinis + Sikap selalu curiga b. * Penggunaan alkohol dan obat berlebihan A. * Penampilan terlalu percaya diri * Berulang-ulang merasa sakit secara fisik dengan masalah sakit kepala, perut, masuk angin, dll Empat Tahapan ‘Burn out’. + Phase 1 : Kelelahan fisik, mental dan emosional + Phase 2: Merasa malu dan penuh keraguan. Tampak semua hal terasa sangat sulit, + Phase 3: Sinisme dan perasaan tak nyaman berkepanjangan. Anda hanya ingin dibiarkan sendirian. Tidak punya energi atau kepentingan lagi untuk hal-hal 1g biasanya Anda kerjakan : Merasa jadi orang gagal, tidak berdaya dan m krisis yang ditandai dengan merasa tak $ asa, kesal, Marah dan frustrasi. Tidak In Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan Tanda- tanda menuju ‘Burn out’. Pasien/pekerja mungkin berada dalam kondisi menuju kelelahan jika dia berpendapat: + Setiap hari adalah hari yang buruk. + Mengerjakan pekerjaan maupun kegiatan di rumah seperti membuang energi percuma. * Sudah merasa lelah sepanjang waktu. * Sebagian besar hari dihabiskan pekerja untuk tugas, baik fisiknya maupun pikirannya. * Merasa bahwa apa pun yang dia lakukan tidak akan ada bedanya dan tidak akan dihargai. Tabel 2. Perbedaan antara Stress Kerja dengan Burn out a Stres Burnout Emosi: reaksi berlebihan Emosi yang tumpul Menghasilkan urgensi dan hiperaktif | Menghasilkan ketidakberdayaan dan keputusasaan Kehilangan energi Kehilangan motivasi, cita-cita, dan harapan Menghasilkan detasemen dan d Kerusakan primer ad Mungkin met t| berguna Mengarah pada gangguan kecemasan Kerusakan primer adalah fisik Bisa membunuh Anda secara prematur Seri Pedoman Tetalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas 4. Diagnosis Langkah-langkah dalam menegakkan diagnosis ‘Burn out’: + Dapat dilakukan dengan pengisian kuesioner burn out (lihat lampiran) + Menentukan pajanan di tempat kerja: beban kerja, waktu kerja, proses kerja, jam istirahat, lama kerja, hubungan antar individu. + Menentukan adanya hubungan pajanan dengan diagnosis klinis. 5. Penatalaksanaan Faktor yang berkontribusi untuk Burn out pada pekerja > adalah beban kerja yang berlebihan, kurang berperan dalam = kontrol pekerjaan, kurangnya pengakuan dalam kontribusi kerja, ambiguitas peran, kurangnya peluang untuk kemajuan rir, kKepemimpinan yang kurang baik, dan konflik dengan pinan/teman sekerja. pin Strategi untuk mengurangi burn out + Membuat batas yang sangat jelas antara kerja dan kehidupan pribadi. Memelihara dengan baik dan memberi batas yang tegas antara hubungan profesional dan hubungan pribadi * Memastikan bahwa diterapkan istirahat pada hari kerja : ra teratur misalnya istirahat minum teh, makan siang, dll diri sendiri dan tim manajemen anda tentang yang mungkin dicapai selama hari kerja. Men bahaya kesehatan fisik dan mental dan menempatkan beberapa mekanisme di tempat kerja man Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan + Makan dengan benar, cukup tidur, dan berolahraga secara teratur. + Tetap berhubungan dengan teman-teman di lingkungan sendiri. + Sediakan waktu untuk berpartisipasi dalam lokakarya eksternal, seminar, melanjutkan pendidikan, dan lain-lain. « Mengambil cuti tahunan untuk istirahat rutin setiap tahun untuk “reenergise” Jika strategi di atas tidak berhasil, cari dukungan profesional yang sesuai dan bantuan dari staf konseling untuk membantu menangani stres pekerja/pasien, dan untuk mendiskusikan pilihan-pilinan lain yg tersedia. C. ANSIETAS (Gangguan Cemas/Gangguan Ansietas Menyeluruh) 1. Gejala Mula-mula pasien memperlihatkan gejala fisik yang berkaitan dengan ketegangan misalnya sefalgia, jantung berdebar keras atau dengan insomnia. Anamnesis lebih lanjut akan menampilkan ciri khas ansietas yang menonjol (kecemasan yang tidak jelas penyebabnya) 2. Diagnosis Pedoman diagnostik: Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap serta pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan indikasi. Selain ciri khas di atas terdapat pula: - + ketegangan mental (cemas/binggung, rasa tegang atau gugup, konsentrasi buruk) Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 25 + Ketegangan fisik (gelisah, sefalgia, tremor, tidak bisa santai) ¢ Muncul gejala fisik (pusing, berkeringat, denyut jantung cepat dank eras, mulut kering, nyeri perut). Gejala bisa berlangsung berbulan-bulan dan sering muncul kembali. Sering dicetuskan oleh peristiwa yang menegangkan pada mereka yang cenderung khawatir secara kronik. Untuk menegakkan diagnosis ansietas dapat dibantu dengan pemeriksaan mini cex. 3. Penatalaksanaan 1). Terapi non farmakologi a. Edukasi pasien Sebaiknya dilakukan ke seluruh pasien tanpa memandang gangguan anxietas atau pengobatan tipe apa. Bantu pasien dan keluarga untuk mengerti bahwa gangguan yang muncul adalah penyakit yang nyata yang membutuhkan perawatan dan dukungan Fokuskan materi edukasi pada hal yang jadi perhatian pasien Meyakinkan dan menyisipkan harapan Bicara dengan pasien di luar masalah somatis Serangan panik: - jelaskan pada pasien bahwa mereka sedang terancam jiwanya. - ajarkan keluarga bahwa serangan panik dapat melumpuhkan penderitanya ‘Sori Podoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan e Diskusikan mengenai pilihan pengobatan dan risiko serta keuntungan dari pengobatan farmakoterapi dan psikososial. b. Teknik relaksasi e Mengambil napas dalam dan hembuskan nafas perlahan-lahan e Dapat digunakan untuk mengatasi gangguan anxietas menyeluruh e Digunakan untuk menurunkan kekambuhan dan mengendalikan manifestasi somatis. ° Teknik ini akan lebih baik lagi jika dikombinasikan dengan terapi kognitif c. Perubahan gaya hidup e Penurunan stres e Menurunkan dan menghindari konsumsi alkohol dan kafein e Olah raga teratur d. Cognitive Behavioral Therapy e Menggunakan pendekatan berorientasi gejala e Psikoedukasi an ° Identifikasi gejala pasien, menjelaskan penyebab dari gejala dan teknik-teknik mengatasi gejala tersebut ° Teruskan pengawasan panik ° Restrukturisasi kognitif - Investigasi dan membalikan rasa. muncul dari kesalahan_ interpret sensasi. - Ajarkan pasien bagaimana berpikir ten pendapatnya mengenai suatu situasi y berbeda dengan sebelumnya Seri Pedoman Tetalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga e. Pajanan di dalam tubuh - Melibatkan pajanan sesungguhnya pada pasien sehingga menyebabkan rasa takut itu tumbuh. 2). Terapi Farmakologi * Benzodiazepine (Alprazolam, bromazepam, clobazam) * Azaspirodecanedione (Buspirone) * Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (Sertraline, fluoxetine) * Serotonin Norepinephrine Reuptake Inhibitor, SNRI (Venlafaxine) + Tricyclic Antidepressant, TCA (Clomipramine, imipramine) + Antihistamin (Hydroxyzine) * Monoamine oxidase inhibitor (Phenelzine, tranylcypromine) + Beta-Blocker (Propanolol) * Anticonvulsants (Gabapentin, pregabalin) 4. Prognosis? 2 mum, dengan perawatan yang teratur, sekitar n_membaik dalam waktu 3 minggu sejak awal pengobatan dan 77% membaik dalam waktu 9 bulan. Tatelaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan D. GANGGUAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DAN ALKOHOL 1. Diagnosis Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 atau lebih gejala di bawah ini dialami dalam masa 1 tahun. a. adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa_ untuk menggunakan zat adiktif. b. kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan zat seperti usaha penghentian. c. keadaan putus zat secara fisiologis ketika terjadi penghentian penggunaan zat yang dibuktikan dengan adanya gejala putus zat yang khas. d. terbukti adanya toleransi, berupa peningkatan dosis zat adiktif yang diperlukan guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis yang lebih rendah. e. secara progresif mengabaikan kesenangan atau minat lain yang disebabkan penggunaan zat adiktif. f. tetap menggunakan zat meskipun ia menyadari adanya akibat yang merugikan kesehatannya. ‘ 2. Tatalaksana Pasien perlu segera dirujuk untuk dirawat ketergantungan obat. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga: E: DEPRES! 1. Definisi Depresi adalah perasaan yang sedih dan kehilangan minat terhadap segala sesuatu. Keadaan sedih menyebabkan perubahan pada beberapa jenis neurotransmitter dan pemindaian intraneuronal di otak, yang selanjutnya menyebabkan kehilangan fungsi neuron tertentu dan hambatan yang berlebihan pada hubungan dalam synaps. 2. Penyebab Faktor risiko dan jenis pekerjaan yang menyebabkan depresi sama dengan penyebab stress kerja. 3. Gejala-gejala Gejala utama adalah: a. Afek depresif b. Kehilangan minat dan kegembiraan c. Berkurangnya energi(mudah lelah) Gejala lainnya Konsentrasi dan perhatian berkurang Harga/kepercayaan diri berkurang Gagasan rasa bersalah dan tidak berguna Gagasan/perbuatan bunuh diri Tidur terganggu Nafsu makan berkurang Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis e>paoco Tanda-tanda: * Rasa lelah yang terus menerus bahkan juga sewaktu _ beristirahat + Hilangnya kesenangan yang biasanya dapat dinikmati + Mulai menarik diri dari kegiatan dan interaksi sosial 30 ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 4. Diagnosis Diagnosa ditetapkan bila; * Sekurang kurangnya ada 2 dari 3 gejala utama. * Sekurang kurangnya ada 2 gejala lainnya (a-g). ¢ Selamanya seluruh episode berlangsung sekurang- kurangnya 2 minggu. Pengelompokan depresi GEJALA GEJALA DEPRESI UTAMA LAIN FUNGSI KETERANGAN MINIMAL | MINIMAL Ringan 2 2 Baik Distres + Sedang 2 3dan4 Terganggu | Berlangsung minimal 2 minggu Berat 3 4 Sangat Intensitas gejala berat terganggu Secara klinis praktis umumnya depresi dibedakan sebagai depresi berat atau ringan namun ada pula yang membedakan sebagai berikut: 1. Depresi agitatif Ditandai dengan aktivitas yang meningkat, mondar- mandir, | mengejar-ngejar orang, _ terus-menerus meremas-remas tangan dll. 2. Depresi dan ansietas Gangguan cemas menyeluruh atau fobia dapat terjadi a bersama-sama dengan depresi. 3. Depresi terselubung Tidak munculnya gejala perasaan terdepresi bukanlah suatu halangan untuk mendiagnosis depresi. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuges Kesehatan 31 4. Somatisasi Gejala somatik dapat menyembunyikan gejala yang sesungguhnya dari gangguan depresi namun dapat pula diperberat dengan adanya depresi 5. Pseudodemensia Istilah ini diperuntukkan bagi pasien depresi yang menunjukkan gangguan memori yang bermakna seperti yang terjadi pada pasien demensia 6. Depresi sekunder pada demensia Pada stadium awal demensia sering dijumpai depresi mungkin sebagai dampak dari insight akan deteriorasi fungsi dan menurunnya kemampuan secara progresif Pemeriksaan pasien depresi Salah satulangkahawal yang pentingdalampenatalaksanaan depresi yaitu dengan mendeteksi atau mengidentifikasi. Ada 4 pertanyaan yang harus diajukan dalam memeriksa pasien depresi: 1. Apakah pada dasarnya Anda merasa puas dengan kehidupan Anda? 2. Apakah hidup Anda terasa kosong? _ 3. Apakah Anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri Anda? 4. Apakah Anda merasa bahagia pada sebagian besar waktu Anda? Pertanyaan tersebut dapat dilengkapi dengan mengeksplorasi hal-hal berikut ini: 1. Apakah pasien mempunyai riwayat depresi? Apakah pasien terisolasi secara sosial? kah pasien menderita penyakit kronik? Serf Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan Bilamana ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada depresi harus dilakukan lagi pemeriksaan yang lebih rinci sebagai berikut: 1. Riwayat klinis/Anamnesis + Riwayat keluarga + Gangguang psikiatrik yang lampau + Kepribadian + Riwayat sosial * Ide/percobaan bunuh diri + Gangguan-gangguan somatik * Perkembangan gejala-gejala depresi 2. Pemeriksaan fisik + Pemeriksaan fisik pada pasien depresi sangat penting karena gejala-gejala depresi sering disertai dengan penyakit fisik Depresi dapat merupakan gejala dari suatu penyakit fisik contohnya penyakit cushing, karsinoma paru, usus besar atau pankreas 3. Pemeriksaan kognitif * Penilaian gejala depresi sangat penting dalam mem follow up penatalaksanaan pasien * Bilamana depresi terjadi sekunder pada demensia maka fungsi kognitif pasien tidak akan membaik ketika depresi menghilang, bahkan deteriosasi kognitif akan berlanjut terus 4, Pemeriksaan status mental + Penampilan dan perilaku + Perasaan/suasana perasaan & * Pembicaraan + Isi pikiran + Ansietas * Gejala hipokondrial Seni Pedoman Tatalaksane Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 33 5. Pemeriksaan lainnya « Ureum dan elektrolit pada darah * Darah lengkap dan hitung jenis + B12 dan folic acid pada darah + Test fungsi tiroid + Thorax foto + Lain-lain: serum sifilis (TPHA, VDRL), EKG, EEG, CT scan, dst . Komorhbiditas Komorbiditas didefinisikan sebagai adanya dua atau lebih gangguan psikiatrik atau gangguan psikiatrik dengan penyakit fisik lain pada seorang pasien pada waktu yang sama. Komorbiditas mempunyai implikasi terhadap diagnosis, terapi dan prognosis. Sakit kepala, putus asa, retardasi psikomotor agak sulit untuk dikaitkan apakah ini suatu problem organik atau mungkin suatu keadaan depresi. Kondisi-kondisi komorbiditas yang sering dijumpai: * Gangguan depresi dan stroke * Gangguan depresi dan diabetes mellitus * Gangguan depresi dan infark miokard/penyakit jantung koroner + Gangguan depresi dan penyakit parkinson + Gangguan depresi dan penyakit lain (Alzheimer, Huntington, dll) . Penatalaksanaan Meningkatnya pengenalan depresi oleh para dokter dan perawat harus diikuti dengan penatalaksanaan yang adekuat dengan menggunakan kombinasi terapi psikologis dan farmakologis disertai pendekatan multidisiplin yang -menyeluruh. Dapat dipergunakan semua_ teknik-teknik psikoterapi (psychodynamic cognitive behavioural, dll) Intervensi Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan terapeutik untuk memacu kemandirian seperti melatih keterampilan sehari-hari (daily living skills) dan peningkatan keamanan di rumah, suport praktis serta pemberian informasi a. Terapi non farmakologi + Edukasi Pasien * Olahraga + Psikoterapi * Cognitive Behavioral Therapy + Terapi interpersonal * Psikoterapi psikodinamik * Terapi pemecahan masalah * Terapi pasangan * Terapi kelompok * Electroconvulsion Therapy b. Farmakoterapi * Selective Serotonin Reuptake Inhibitor, SSRI (Sertraline) + Dopamine Norepinephrine Reuptake Inhibitor (Bupropion) + NaSSA (Mirtazapine) + Selective Norepinephrine Reuptake _ Inhibito: (Reboxetine) : + SSRE (Tianeptine) * Serotonine Norepinephrine Reuptake Inhibitor, SNRI (Duloxetine, venlafaxine) ; * Serotonin modulator (nefazodone, trazodone) * Tetracyclic Antidepressants (Maproptiline, mianserin * Tricyclic Antidepressants (Clomipramine, imipramine amitriptilin) * Monoamine oxidase tranylcypromine) Lithium inhibitor = (P| Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas 7. Prognosis Roth, dkk (1950) dan Murphy (1980) mengatakan bahwa hanya sepertiga dari pasien-pasien dengan depresi yang sembuh. Setelah selama satu tahun belum sembuh, dirujuk ke pelayanan psikiatri. Prognosis yang buruk (penyakit terus berlanjut atau seringkali kambuh) berhubungan dengan keparahan penyakit tetapi tidak berhubungan dengan gejala klinis. Umumnya penderita akan sembuh dan tetap berfungsi dengan baik jika depresi diobati dan ditatalaksana dengan baik. F. GANGGUAN SOMATOFORM AKIBAT KERJA 1. Definisi Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pekerja atau gangguan pada kemampuan pekerja untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau » pekerjaan. Gangguan somatoform tidak disebabkan oleh itu. Penderitanya dapat terlihat n ingatan atau tampak ‘mati rasa” jika ubungkan dengan peristiwa tersebut, atau tampak cemas atau bahkan menunjukkan reaksi emosional yang Pasien PTSD dapat mengalami flashback atau buruk tentang traumanya. Emosi penderitanya k stabil, mudah marah atau sedih, serta mudah an Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan merasa takut, sulit berkonsentrasi, atau bahkan gangguan memor. Gejalanya dapat hilang timbul, biasanya dipicu oleh hal-hal yang berkaitan dengan kejadian. Misalnya korban perkosaan yang merasa takut luar biasa saat mendengar berita kasus perkosaan. Ciri utama adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang ulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medik meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif. Penderita menyangkal dan menolak untuk membahas kaitan antara keluhan fisik dengan problem atau konflik kehidupan yang dialaminya meskipun didapatkan gejala kecemasan dan depresi. Tidak adanya saling pengertian antara dokter dan pasien mengenai kemungkinan penyebab keluhan-keluhannya yang menimbulkan frustasi dan kekecewaan pada kedua belah pihak. 3. Diagnosis Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam- macam yang tidak berdasar atas adanya kelainan fisik dan sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun. Tidak mau menerima nasihat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhan. Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampak dari perilakunya 4. Penatalaksanaan Diberikan anti depresan amitriptilin dengan dosi: 300 mg. Psikoterapi suportif, terapi perilal keluarga. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga: n Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan BAB IV PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN A. PENCEGAHAN Terdapat tiga tahapan pencegahan, yaitu: 1. Pencegahan primer Pencegahan primer bertujuan mengurangi_insidensi gangguan psikiatrik dalam suatu populasi dan untuk kelompok mereka yang tidak termasuk kelompok berisiko. Diusahakan dengan mengurangi atau meniadakan pengaruh buruk lingkungan kerja dan memperkuat kemampuan individu untuk menghadapi dan menanggulangi kesulitan yang dihadapinya. Dilakukan dengan kampanye promosi dan edukasi kesehatan jiwa dan pesan disampaikan kepada setiap orang yang termasuk kelompok berisiko atau tidak. Sebagai contoh adalah kampanye bahaya kesehatan akibat merokok atau asap rokok. 2. Pencegahan sekunder Pencegahan sekunder bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan gangguan psikiatrik yang dialami pekerja serta mengurangi/ memperpendek durasi penyakit. Pencegahan sekunder ditujukan kepada kelompok yang dicurigai terkena risiko atau gangguan stress akibat kerja. Sebagai contoh adalah pada kelompok perokok disampaikan bahaya tentang banyaknya rokok yang diisap dan ganggua' penyakit yang akan dialami. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 39 3. Pencegahan tersier Pencegahan tersier difokuskan pada kelompok orang yang telah mengalami gangguan stress akibat kerja dan diupayakan untuk dipulihkan kesehatannya. Dalam pencegahan ini diupayakan konseling, pengobatan klinis dan rehabilitasi mental. Menghilangkan stressor kerja: a. dimulai work design/ergonomics design * perbaikan organizational behavioral (flexible responsive, komunikasi diteruskan, Diagnosa dini). + assertiveness training. Pengendalian kognitif + konseling, psikoterapi, berpikir positif, religi Kegiatan relaksasi + tehnik pernafasan, meditasi/yoga/relaksasi otot * olah raga, piknik Kegiatan sosial Untuk menciptakan gairah kerja perlu * Pekerjaan yg sesuai dg kemampuan, pendidikan dan bakat + Lingkungan yg harmonis (naker-majikan, naker-naker) + Upah yg memadai * Kehidupan keluarga yg harmonis + Lingkungan hidup yg nyaman Cara mengatasi stres di tempat kerja + Pelihara kesehatan fisik dan jiwa + Rencanakan masa depan + Terus menerus menyiapkan diri terhadap perubahan utk menghindari stres dan “survive” di dunia yang kompetitif. 40 Seri Pedomen Tatalaksane Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehaten + Lakukan refreshing, reenergizing dan remotivating + Sisihkan waktu untuk keluarga dan sumber dukungan emosional dan moral + Hindari membuat beberapa keputusan besar sekaligus * Hindari alkohol, merokok dan zat-zat lain saat dalam kondisi stres * Tingkatkan iman dan takwa * Ubahlah sesuatu yang dapat diubah dan terimalah sesuatu yang tak dapat diubah * Berbuat sesuatu yang sesuai minat ¢ Berpikir positif + Lakukan pekerjaan yang disenangi ¢ Bicarakan masalah dengan orang yang dapat dipercaya ° Belajar dari pengalaman untuk memecahkan masalah * Binalah hubungan silaturahmi + Relaksasi, menenangkan pikiran, zikir. + Pemeriksaan kesehatan + Pemeriksaan awal bekerja + Pemeriksaan tahap awal adalah upaya penilaian status kesehatan jiwa tahap awal terhadap calon tenaga kerja sebagai persyaratan menjadi tenaga kerja. Pemeriksaan yang dilakukan satunya dengan menggunakan kuesion untuk mengetahui kepribadian, hubungé kemampuan menghadapi stres, kepe masalah psikologis lainnya. 7 * Pemeriksaan berkala * Pemeriksaan Kesehatan Khusus, Pelayanan promotif ¢ KIE (Komunikasi Informasi dan Eduk: masalah psikososial dan kesehatan ji penyuluhan, poster, leaflet dan Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kese + Penyuluhan tentang kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol dan penggunaan napza. + Olahraga, rekreasi, kegiatan keagamaan. B. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan gangguan stres kerja terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Diagnosis Okupasi Dalam menegakkan diagnosa gangguan stres kerja maka perlu dilakukan 7 langkah (Buku Pengantar Penyakit Akibat Kerja, 2007) sebagai berikut: a. Menentukan diagnosis Klinis. Untuk menyatakan, bahwa suatu penyakit adalah akibat hubungan pekerjaan, harus dibuat Diagnosis klinis dahulu. b. Menentukan pajanan yang dialami individu tersebut dalam pakerjaan. Identifikasi semua pajanan yang dialami oleh pekerja tersebut. Untuk itu perlu dilakukan anamnesis pekerjaan yang lengkap dan kalau periu dilakukan pengamatan di tempat kerja dan mengkaji data sekunder yang ada. i, Menentukan apakah ada hubungan pajanan dengan l Ik menentukan adanya hubungan antara pajanan dan penyakit, harus berdasarkan dari bukti yang ada. d. Menentukan apakah pajanan yang dialami cukup besar. Penentuan besarnya pajanan, dapat dilakukan secara antitatif dengan melihat data pengukuran lingkungan nmasa kerja atau secara kualitatif dengan mengamati an Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan e. Menentukan apakah data faktor-faktor individu yang berperan. Faktor individu apakah ada yang dapat mempercepat atau memperlambat kemungkinan terjadi penyakit akibat hubungan kerja, misalnya kebiasan merokok,faktor genetik atau kebiasaan memakai alat pelindung dengan baik. f. Menentukan apakah ada faktor lain diluar pekerjaan. Apakah ada faktor di luar pekerjaan yang juga dapat menjadi penyebab penyakit, misalnya kanker paru selain dapat disebabkan oleh asbes, juga dapat disebabkan oleh kebiasaan merokok g. Menentukan diagnosis akibat kerja Apabila dapat dibuktikan, bahwa paling sedikit ada satu faktor pekerjaan yang berperan sebagai penyebab penyakit, maka penyakit tersebut dapat dikategorikan sebagai PAK. Adapun langkah-langkah dalam menegakkan gangguan kesehatan akibat faktor psikososial di tempat kerja sebagai berikut : 1). Anamnesa Ditanyakan keluhan utamanya atau alasan berobat yang dikemukakan secara spontan oleh pasien atau keluarga yang mengantar. Keluhan utama dapat dibagi empat yaitu: Keluhan fisik murni Keluhan fisik atau jasmaniah murni tanpa ada keluhan mental emosional seperti batuk pilek, demam, luka bakar, luka sayat, memar, patah tulang, pusing setelah trauma kepala dan sebagainya. ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 43 Keluhan fisik ganda Keluhan fisik yang disertai dengan keluhan keluhan yang dapat saling berkaitan dan dapat pula masing masing berdiri sendiri seperti Kurang gizi disertai murung, demam tifoid disertai kesadaran menurun, usia lanjut disertai pikun, gegar otak disertai gangguan daya ingat, kejang disertai ketergantungan obat/alcohol, dsb. Keluhan psikosomatik Keluhan fisik yang biasanya berlatarbelakang factor mental emosional, biasanya berhubungan dengan ketujuh sistem tubuh manusia yaitu: * kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah): berdebar-debar, tengkuk pegal, tekanan darah tinggi. + gastrointestinal(sistem pencernaan): ulu hati sakit, perut sakit, kembung, mencret kronis. * traktus respiratorius (sistem pernafasan): sesak nafas, asma(mengik) * dermis(kulit): gatal-gatal, eksim, banyak keringat, sering gugup, gangguan haid. * traktus urogenital (sistem kemih dan alat kelamin): mengompol, impoten, nafsu seks berkurang/ berlebih Keluhan mental emosional Keluhan yang jelas berlatar belakang faktor mental emosional yang berkaitan dengan masalah alam perasaan, alam pikiran dan perilaku dapat dibagi dalam 5 kelompok keluhan: 44 ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan * susah tidur/gangguan tidur, perilaku anti social, agresif, menantang. + gelisah, mengamuk, memgacau, ketakutan, curiga, cemburu, menarik diri, perilaku aneh/ kacau, mendengar suara bisikan. ¢ murung, mudah tersinggung, banyak menangis/ tertawa, gembira/sedih, banyak bicara/membisu, hiperaktif/pasif * kecemasan yang tak rasional dan perilaku menghindar cemas, was was, panik, takut yang tidak rasional/fobia, prestasasi kerja menurun. Setelah menanyakan keluhan utama kesehatan menanyakan _ pertanyaa berikut : 1. Sudah berapa lama keluhan itu ada (let bulan) dan timbulnya berapa kali dalam satu bulan ? (satu kali perbulan) 2. Apakah keluhan itu timbul bila ada stress bila sedang banyak pikiran ? (ya) 3. Bagaimana dengan produktifitas belajar, nafsu makan dan gai (menurun secara bermakna) 4. Apakah ada masalah dalam | masyarakat ? (iya) ‘ides 5. Apakah selama ini menggunakan penenang, alkohol, rokok, narkoti psikoaktif lainnya tanpa petunjuk Bila salah satu pertanyaan di Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Potuga: jawaban yang dikurung, maka dapat dikatakan bahwa pasien ini mempunyai masalah kesehatan jiwa. Bila pada seorang pasien ditemukan tanda- tanda adanya gangguan stres kerja, maka perlu dilakuan anamnesa, seperti : * sudah berapa lama gangguan tersebut dialami * apakahjenis pekerjaan yang dilakukan sehari-hari * apakah tugasnya hanya pagi dan siang hari atau bekerja dalam shift * apakah ia puas dengan pekerjaan yang dilakukan * bagaimana hubungan dengan teman sekerja atau atasan maupun bawahan * apakah keluarga memberikan saran dalam mengatasi kesulitan dalam pekerjaan sehari-hari + bagaimanakah sifat-sifat kepribadiannya, dan lain-lain. Kuesioner untuk anamnesa tipe kepribadian seseorang : * Apakah anda selalu bekerja dengan cepat * Apakah anda kurang sabar apabila melihat pekerjaan yang lambat dan tidak mencapai kinerja + Apakah anda selalu berfikir tentang 2 (dua) atau lebih pekerjaan dalam satu saat yang sama « Apakah anda merasa bersalah jika mengambil cuti atau istirahat beberapa jam * Apakah anda gagal untuk memikirkan sesuatu yang menarik atau sesuatu yang indah 46 Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan + Apakah anda selalu membuat jadwal beberapa aktifititas yang harus anda hadiri + Apakah anda mempunyai perilaku yang tegang atau gerakan tertentu saat anda harus mencapai sasaran kerja tertentu + Apakah anda selalu mengevaluasi sesuatu yang bernilai dengan ukuran kuantitas seperti kinerja, gaji, dan lain-lain. 2). Pemeriksaan fisik Secara umum tidak ditemukan gangguan stress akibat kerja bila stress belum berlangsung kronis. Pemeriksaan fisik yang ditemukan akan berkaitan dengan gangguan stress akibat kerja seperti penurunan berat badan pada gangguan depresi, kenaikan tekanan darah pada gangguan somatoform, gastritis, cephalgia, stomatitis aphtosa, dan lain-lain. 3). Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk menegakkan diagnosa gangguan stress akibat kerja adalah: * Pemeriksaan Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) untuk mendalami_ tipe kepribadian MMPI adalah suatu test kepribadian yang obyektif untuk membantu para psikiater untuk mengenal pasien, kepribadiannya dan tingkat penyakitnya. Bagian pada MMPI berdasarkan fakta atau gejala dari kesehatan umum, gejala neurologi, gej pada sistem organ (kardiovaskuler, pencern dan lain-lain), kebiasaan pendidikan, sikap gej psikiatrik (delusi, halusinasi, depresi, obsesi, kompuls) moral dan maskulin-feminim. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 47 * pemeriksaan stress test (treadmill, ergocycle, harvard step test) * pemeriksaan sleep EEG pada gangguan depresi yang mengalami insomnia * pemeriksaan ECG pada gangguan somatoform * Kuesioner digunakan pula untuk melihat berat ringannya suatu penyakit seperti PANNS Score untuk gangguan jiwa psikosis 4. Diagnosis banding Gangguan Somatoform yang mengenai sistem pembuluh darah harus dibedakan dengan hipertensi esensial, begitu pula dengan gangguan somatoform lainnya yang mengenai sistem organ tubuh yang dipengaruhi sistem saraf otonom. jaksana penanganan kasus _Gangguan stres kerja dapat diatasi dengan pemberian: a. Psikofarmaka Berbagai jenis psikofarmaka dapat diberikan seperti : * Anti Anxietas + Anti Depresan «Anti Psikotika emberian psikofarmaka tersebut biasanya diberikan dosis kecil dahulu kemudian ditingkatkan dalam imal kKemudian diturunkan secara perlahan- dosis maintenance. Bila kondisi pasien telah Pada kasus yang ringan dapat diberikan psikoterapi jenis suportif yang singkat saja an Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan + Pada kasus kronis dan berat perlu dirujuk ke Dokter spesialis Jiwa untuk psikoterapi psikoanaiisis. + Dapatpuladiberikan terapi kelompok (Group Therapy) yang dapat digunakan untuk menghilangkan distress, meningkatkan kepercayaan diri, menimbulkan insight pada klien, memperbaiki relasi sosial dan perilaku seseorang. 3. Kembali bekerja Setelah pulin dari gangguan stress akibat kerja, pekerja tersebut diupayakan kembali ketempat kerja semula dengan supervisi dari supervisornya. Gradasi beban kerja ditingkatkan mulai dari kerja ringan, sedang, sampai kembali bekerja seperti semula. 4. Penilaian kecacatan Gangguan stress akibat kerja ringan dilingkungan kerja tidak akan menimbulkan kecacatan pada pekerja. Sedangkan gangguan stress akibat kerja berat seperti episode depresif, gangguan ketergantungan narkoba dan zat adiktif lainnya dapat menimbulkan kecacatan pada pekerja. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 49 DAFTAR PUSTAKA 1. Quick,J.C: Handbook of Occupational Health Psychology, United Book Press, Baltimore, 2003 2. Schulz,P.D and Schultz,S.E: Psychology and Industry today: An Introduction to Industrial and Organizational Psychology. Macmillan Publishing Company, 4th edition, New York, 1986 3. Heerdjan,S: Apa itu Kesehatan Jiwa, FKUI, Jakarta 1987 4. Solomon,P and Patch,V.D: Handbook of Psychiatry; Lange Medical Publication, Ja[an, 1971 caplan,H.l and Sadock,B,J: Comphrehensive Text book of 1 ry, William and Wilkins, Baltimore, 5th Edition,1989 6. Goldberger, and Breznitz,S: Handbook of Stress,Theoritical and Clinical Aspects, The Free Press, New York, 1982 1n Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan Lampiran 1 Tes Cepat Untuk Mendeteksi Stres Kerja A 10. Saya tidak mempunyai waktu untuk melakukan hobi atau kegiatan lain di luar pekerjaan. Saya sering membawa pekerjaan ke rumah dan mengerjakannya pada malam hari. Saya tidak dapat melakukan pekerjaan atau tugas sebaik biasanya. Kadang-kadang saya merasa penilaian saya kabur dan tidak sebaik biasanya. Kelihatannya pada hari kerja saya, tidak tersedia cukup waktu untuk mengerjakan semua hal yang harus saya kerjakan. Saya seringkali merasa tidak sabar dengan kecepatan kerja yang ada. Kadang-kadang saya sangat enggan pergi kerja. Saya mencoba menyelesaikan tugas lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit. Hal ini kadang-kadang mengakibatkan saya tidak mempunyai waktu lagi untuk mengatasi masalah- masalah yang timbul tak terduga. Nafsu makan saya berubah. Kadang-kadang saya ingin kudapan/ngemil terutama makanan yang manis-manis, atau kadang-kadang saya malah kehilangan nafsu makan. Saya merasa terlalu banyak tenggat waktu yang harus dipenuhi baik dalam pekerjaan ataupun dalam hidup saya, yang sulit untuk dipenuhi. Kadang-kadang saya merasa marah dan kesal pada sesuatu yang tidak jelas atau merasa bahwa ada sesuatu yang hilang, tetapi saya tidak tahu apa yang hilang itu. ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesahatan 51 11. Rasa percaya diri dan kepuasan diri saya lebih rendah dari biasanya. 12. Saya seringkali mempunyai sedikit perasaan bersalah jika saya relaks dan tidak mengerjakan sesuatu meskipun dalam waktu sebentar saja. 13. Saya sering berpikir tentang masalah pribadi, bisnis atau kehidupan profesional saya yang harus saya kerjakan. Masalah-masalah tersebut seringkali mengganggu_pikiran saya pada saat saya sedang menikmati aktivitas rekreasi. 14. Kadang-kadang saya merasa sangat kelelahan. Saya juga merasakan kelelahan itu disaat saya bangun tidur. 15. Saya mencoba mengajak orang lain untuk cepat-cepat mengerjakan tugasnya. Semua orang kelihatannya bergerak terlalu lamban. 16. Kadang-kadang saya menyela dan menyelesaikan kalimat orang lain. 17. Walau saya kelihatan sedang mendengarkan pembicaraan orang lain, tapi sebenarnya saya sedang sibuk dengan pikiran i saya sendiri. Se mempunyai kecenderungan untuk makan, berbicara, -bergerak, berjalan dan mengerjakan hampir segala sesuatunya dengan cepat. 19. ‘Saya merasa sangat sakit dan nyeri, terutama pada leher atau kepala, dada, punggung baweh, bahu dan rahang. (pada -wanita: sikius mens struasi seringkali tidak teratur). aya menjadi marah dan meradang jika mobil atau lalu lintas an saya bergerak terlalu lamban. Saya merasa frustrasi 7 ae Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 21. 22. 23. 24. 25. Kadang-kadang saya merasa depresi, mudah tersinggung, mudah terluka, cepat marah,tegang, ceroboh, daya ingat dan konsentrasi terganggu. Kadang-kadang saya berkeringat berlebihan. Gairah seks saya menurun, atau saya merasa tidak puas pada kehidupan seksual saya. Saat mengerjakan tugas rutin, saya menjadi tidak sabar. Saya menggertakkan gigi saya, terutama jika saya merasa stress atau tidak sabar. Saya mempunyai ketergantungan yang besar pada alkohol, nikotin, caffeine, atau obat-obatan (baik obat resep atau obat bebas). Hasil: Sumber: Suicide and Mental Health Association International 2004- Nilai <4 Anda tidak dalam keadaan stres akibat kerja dan tidak mudah dan kemungkinan kecil untuk menjadi stres akibat kerja. Nilai 5 -— 13 Anda cenderung untuk mendapat stres akibat kerja dan menderita efek negatif dari sires kerja. Anda sebaiknya melakukai pengendalian terhadap stres dan mengikuti konseling. Nilai 14 negatifnya. Dan harus secepatnya mengaté segera konsultasi ke dokter dan mencari koi dalam manajemen stres. Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Lampiran 2 TEST UNTUK BURN OUT Petunjuk: Baca setiap item berikut, seberapa sering hal ini belaku/ terjadi pada Anda baik saat Anda di tempat kerja atau diluar tempat kerja, lalu pilih nilai Anda. (Jarang benar) 1 - 2 - 3-4-5 (Biasanya benar) Saya merasa lelah bahkan ketika Saya sudah cukup tidur. Saya puas dengan pekerjaan saya Saya merasa sedih tanpa alasan yang jelas. Saya pelupa. Saya marah dan membentak orang. a av © DH > Saya menghindari orang-orang di tempat kerja dan dalam kehidupan pribadi saya. 7. Saya mengalami kesulitan tidur karena mengkhawatirkan tentang pekerjaan Saya menjadi lebih sering sakit dibandingkan dulu. a sering mengalami konflik. 1n Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 15. Saya sudah bekerja keras tetapi hanya sedikit yang saya capai/dapatkan. 16. Saya merasa frustrasi dengan pekerjaan saya 17. Saya tidak suka bekerja atau berangkat ke tempat kerja 18. Kegiatan sosial akan menguras tenaga saya. 19. Seks tidak layak untuk diusahakan. 20. Ketika tidak bekerja sebagian besar waktu saya digunakan untuk menonton TV. 21. Saya tidak punya harapan banyak pada pekerjaan saya, untuk masa depan saya. 22. Selama jam istirahat saya atau saat saya tidak bekerja,saya khawatir akan pekerjaan saya. 23. Perasaan saya tentang pekerjaan mengganggu kehidupan pribadi saya. 24. Tampaknya pekerjaan saya tak ada gunanya. penilaian: 25 - 50 --- Anda baik baik saja 51 - 75 --- Jika Anda melakukan tindakan pencegahan, And baik-baik saja. 76 - 124 --- Anda calon penderita BurnOut/ kelelahai 125- seterusnya --- Anda sudah menderita Burn Out From Overcoming Job Bumout: How To by Dr. Beverly Potter, published by one F Beverly A. Potter. ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga: Lampiran 3 Penilaian Tingkat Keparahan Burn out Skala Tingkat Keparahan Burn out dapat digunakan untuk memantau perubahan kelelahan dari waktu ke waktu atau untuk respon terhadap intervensi terapeutik. Pasien diminta untuk menanggapi pernyataan masing-masing dengan skala 1 sampai 7, dimana 1 menunjukkan “Sangat Tidak Setuju” dan 7 menunjukkan “Sangat Setuju”. 1. Motivasi saya lebih rendah, ketika saya dalam keadaan kelelahan. Berbagai kegiatan menyebabkan saya menjadi kelelahan. Saya mudah kelelahan Kelelahan saya mengganggu fungsi fisik saya. ak & DD Kelelahan saya sering mengakibatkan berbagai masalah bagi saya. Kelelahan saya mencegah berjalannya fungsi fisik saya 7. Kelelahan saya mengganggu saya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab tertentu. 8 Kelelahan saya merupakan salah satu dari tiga hal yang paling membuat saya tidak berdaya. 9. Kelelahan saya menggangu kehidupan keluarga, kehidupan -__ sosial dan pekerjaan saya. jumlah tanggapan dibagi dengan 9. Skor yang lebih tinggi ikkan tingkat kelelahan yang lebih tinggi. 56 Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan Lampiran 4 KUESIONER SKRINING STRESS (berhubungan dengan kehidupan sehari-hari) A. KUESIONER HOLMES & RAHE (kejadian penting dalam hidup) Petunjuk : Berilah tanda silang ‘ X ‘ pada nomor di bawah ini, Kejadian- kejadian/ pengalaman dalam hidup yang anda rasakan atau yang dialami selama 1 (satu ) tahun ini. No Masalah Kematian suami / istri Perceraian Perpisahan dalam perkawinan 1 2 3 4 | Penahanan 5 _|Kematian keluarga dekat 6 7 8 Perasaan tersinggung atau sakit Perkawinan Kehilangan pekerjaan /jabatan 9 _| Rujuk dalam perkawinan 10 | Pensiun / Pengasingan diri 11 | Perubahan kesehatan seorang anggota keluarga 12 | Kehamilan istri 13. | Kesulitan seks 14 | Tambah anggoia keluarga baru 15. | Penyesuaian bisnis / pekerjaan 16 | Perubahan status keluarga 17_| Perubahan frekuensi dalam berdebat / berargum 18 | Menggadaikan rumah 19 |Mencegah terjadinya penggadaian / pinjaman 20 | Perubahan tanggung jawab dalam pekerjaan Seri Pedoman Tataleksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Potugas Kesohatan 57 No. Masalah 21 | Anak laki-laki / perempuan meninggalkan rumah 22_| Konflik dengan ipar / mertua/ menantu 23 | Prestasi pribadi yang luar biasa 24 | Istri mulai bekerja atau berhenti bekerja 25__| Mulai atau berhenti sekolah 26_| Perubahan dalam kondisi kehidupan. 27_| Menukar / merubah kebiasaan pribadi 28 | Kesulitan dengan atasan 29 | Perubahan jam kerja 30_| Tukar/ pindah tempat tinggal 31__| Tukar/ pindah sekolah 32_| Perubahan dalam hiburan 33 | Perubahan dalam kegiatan keagamaan 34 | Perubahan dalam kegiatan sosial 35_| Pinjaman dengan rumah sebagai jaminan 36 | Perubahan dalam kebiasaan tidur 37 | Perubahan dalam jumlah pertemuan keluarga 38 | Perubahan dalam kebiasaan makan 39_| Berlibur 40_| Natal/ Lebaran/ Galungan / Hari besar keagamaan 41 Inggaran Ringan Penilaian (diisi oleh pemeriksa) atiap nomor diberi skor masing-masing sesuai di bawah ini. _Kemudian dihitung total skornya. TAL SKOR = Kesimpulanss Ring 1 - 149 Stress sed 150 - 299 ess be > 300 domen Tatalaksane Penyekit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan B. KUESIONER SKRINING STRESS sehari-hari (Persepsi diri sendiri) Pilih SATU pernyataan di bawah ini yang paling sesuai dengan keadaan anda. Beri tanda silang (X) pada pilhan tersebut. Keluhan dirasakan dalam 2 minggu terakhir, beberapa hari atau waktu yang lebih lama. 1 (0) Saya merasa bahagia dengan kehidupan ini (1) Saya sedang merasa sedih atau kurang enak perasaan (2) Saya sering merasa sedih yang tidak dapat dihilangkan (3) Saya mengalami sedih atau tidak bahagia yang tak tertahankan 2 (0) Saya merasa bangga dengan prestasi yang saya raih (1) Saya merasa kecil hati dengan prestasi yang kerjakan saat ini (2) Rasanya saya kurang siap meraih prestasi yang diharapkan (3) Sebenarnya saya tidak pernah mampu berprestasi lagi 3 (0) Saya yakin diri saya cukup sukses (1) Dibandingkan dengan orang lain secara umum, saya merasa diri saya telah gagal (2) Apapun yang saya lakukan, tidak dapat membuat saya puas (3) Diri saya adalah orang yang gagal total Pilih SATU pernyataan di bawah ini yang paling sesuai dengan keadaan anda. Beri tanda silang (X) pada pilhan tersebut. Keluhan dirasakan dalam 2 minggu terakhir, beberapa hari atau waktu yang lebih lama. 4 (0) Saya selalu merasa puas atas hal yang saya lakukan (1) Dalam beberapa hal saya tidak merasa puas sepe (2) Apapun yang saya lakukan, sering membuat say’ pernah puas (3) Saya selalu merasa tidak puas dan bosan den gan sega Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 59 Saya tidak merasa mempunyai dosa yang tidak diampuni Kadang-kadang saya merasa punya dosa yang tidak diampuni Rasa bersalah / dosa yang saya rasakan, sulit diampuni Saya selalu dihantui perasaan dosa yang tak dapat dimaafkan (0) Hubungan saya dengan orang lain, baik-baik saja (1) (2) (3) (0) (1) (2) (3) (0) (1) (0) (1) (2) (3) Rasanya mungkin saya sedang dihukum atau dibenci orang lain Saya merasa orang lain sering membenci saya atau menghukum saya Saya yakin bahwa saya sedang dibenci orang lain Saya merasa bahagia terhadap diri saya sendiri Saya agak kecewa terhadap diri saya sendiri Saya benar-benar kecewa terhadap diri saya sendiri Saya benci pada diri saya sendiri Saya merasa percaya diri seperti orang lain pada umumnya Saya terkadang mencela diri sendiri karena kelemahan dan kesalahan saya Saya selalu menyalahkan diri sendiri karena kesalahan saya Saya hanya menyalahkan diri sendiri terhadap segala yang terjadi dalam kehidupan ini Saya tetap optimis dan tidak pernah sedikitpun berpikir untuk bunuh diri Saya kadang-kadang berpikir untuk bunuh diri, tapi tidak saya lakukan Bila ada kesempatan, saya akan bunuh diri Saya pernah bunuh diri dan ingin mengulangi lagi 60 Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan 10 (0) 11 (0) (1) (2) (3) 12 (0) 13 (0) Saya tetap dapat ceria dan tegar karena hal sepele yang menyedihkan Dibandingkan sebelumnya, saya sekarang jadi mudah menangis Sekarang saya sering menangis dan lebih lama dari biasanya Biasanya jika sedih saya selalu menangis, tapi sekarang walau saya ingin ternyata saya tak dapat lagi melakukannya Saya merasa cukup sabar dibandingkan sebelumnya Sekarang saya merasa lebih mudah marah dibandingkan sebelumnya Sekarang saya sering merasa tersinggung atau marah- marah oleh hal-hal yang sepele Sekarang saya selalu marah-marah walaupun saya tidak tahu sebabnya. Saya selalu merasa berminat terhadap segala aktifitas saya Akhir-akhir ini saya kurang berminat terhadap aktifitas saya Saya hampir selalu kehilangan minat terhadap aktifitas saya ie Saya sama sekali tidak berminat terhadap aktifitas saya. Saya selalu dapat mengambil keputusan dengan baik seperti biasanya Sekarang saya lebih sering menunda_ keputusan dibandingkan biasanya Sekarang saya merasa kesulitan mengambil keputusat Sekarang saya benar-benar tidak mampu menga keputusan Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas K 14 (0) (1) (2) (3) Saya merasa penampilan fisik saya, baik-baik saja Saya kuatir, jangan-jangan saya tampak tidak menarik Saya merasa ada perubahan sehingga membuat penampilan saya tidak menarik Saya merasa yakin bahwa saya berpenampilan buruk Pilih SATU pernyataan di bawah ini yang paling sesuai dengan keadaan anda. Beri tanda silang (X) pada pilhan tersebut. Keluhan dirasakan dalam 2 minggu terakhir, beberapa hari atau waktu yang lebih lama. 15 (0) (1) (2) (3) 16 (0) (1) (2) (3) 7 (0) 1) (2) (3) Saya selalu merasa dapat bekerja dengan baik seperti biasanya Sekarang saya perlu suatu usaha tertentu untuk mulai bekerja Sekarang saya harus memaksa diri sekuat tenaga untuk mengerjakan sesuatu Sekarang saya tidak akan mampu mengerjakan apapun Saya dapat tidur dengan lelap secara teratur seperti biasanya Sekarang saya kurang dapat menikmati tidur nyenyak seperti biasanya Sekarang saya sering terbangun, walaupun saya tidak ingin begitu Sekarang saya tidak dapat tidur lagi, meskipun mengantuk Saya merasa segar dan semangat seperti biasanya Saya merasa agak mudah cepat lelah dibandingkan _ biasanya Setelah melakukan apa saja, saya pasti merasa lelah Saya merasa sangat lelah dan letih untuk memulai sesuatu Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesenatan 18 (0) Nafsu makan saya baik-baik saja (1) Nafsu makan saya tidak sebaik biasanya (2) Sekarang nafsu makan saya jauh berkurang ( 3) Sekarang saya malas dan tidak memiliki nafsu makan lagi Skor : < 5 = tidak ada gangguan > 6 = ada gangguan (Endnotes) 1 Guidotti TL. Stress and psychosocial factors at work. In: Handbook of occupational and environment medicine. Oxford: Praeger; 2010. p.838-9 2 Generalized Anxiety Disorder. Aetna InteliHealth. Available from: http:/www.intelihealth.com/IH/ihtlH/c/9339/9472. htmi#prognosis 3 Guidotti TL. Stress and psychosocial factors at work. In: Handbook of occupational and environment medicine. Oxford: Praeger; 2010. p.838-9 ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petuga: GO: St Oo Oo Sees NQOaRON>09° TIM PENYUSUN dr. Erna Tresnaningsih, MOH, PhD , SpOk dr. Edduwar |. Riyadi, SpKj dr. Suryo Wibowo, MS, SpOk Dr. dr. Astrid Sulistomo, MPH, SpOk Dr. dr. Dewi Soemarko, MS, SpOk dr. Kuwat Sri Hudoyo, MKK dr. Dina Dariana, MKK dr. Istiati Suraningsih, MMK dr. Harumiti, MKK dr. Zilfa Yeni, MKK . dr. Darwin . dr. Bambang Setia Sutrisno . dr. Inne Nutfiliana, MKK . drg. Sarah Ifke Pasolang Rosa Jaya, SKM, MKM Winda Kusumaningrum, Ssi . Ahmad Najmudin Mabruri, SKM Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan eee a Pee rs ra 7 a ISBN 774-b02-9364-b1-3 ML