Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH PBL KEDOKTERAN KERJA

INDUSTRI BIJIH PLASTIK


MODUL KOMPREHENSIF

KELOMPOK 15

PEMBIMBING : dr. Lie T. Merijanti, MKK

ANGGOTA KELOMPOK:
1. Albab Youndra Darmawan 03013217 (Ketua)
2. Yurika Afianti 03013215 (Sekretaris)
3. Vanya Hermalia Puspita Mardani 03013197 (Anggota)

PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
KATA PENGANTAR

Laporan dengan judul “Kesehatan Kerja pada Pabrik Bijih Plastik” ini
merupakan hasil studi lapangan mengenai bahaya potensial, gangguan kesehatan yang
mungkin terjadi, resiko kecelakaan kerja, dan solusi untuk mengurangi resiko tersebut
pada pekerja serta lingkungan pabrik bijih plastik.
Laporan ini disusun mengingat masih kurangnya pemahaman dan kesadaran
mengenai kesehatan kerja bagi para pekerja. Selain untuk para pekerja, laporan ini juga
dapat bermanfaat bagi mahasiswa kedokteran sebagai bahan pembelajaran mengenai
kesehatan kerja di lingkungan pabrik bijih plastik.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada dr. Lie T.
Merijanti, MKK selaku pembimbing kami, seluruh staff pengajar yang telah membantu
proses pendidikan dan pekerjaan di lapangan, dan seluruh pekerja pabrik bijih plastik
atas kerjasamanya, serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan
ini. Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kami dengan senang hati menerima segala kritik maupun saran untuk menyempurnakan
laporan ini.

Jakarta, Oktober 2016

Penyusun
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Plastik adalah bahan murah, ringan dan tahan lama, yang mudah dibentuk
menjadi berbagai macam produk yang sering digunakan sehari-hari. Akibatnya,
produksi plastik meningkat tajam selama 60 tahun terakhir. Namun dalam proses
pembuatannya plastik ternyata menghasilkan beberapa masalah, baik bagi pekerja
maupun lingkungan(1).
Masalah mengenai kesehatan dan keselamatan kerja penting diketahui sebab
ketika pekerjaan mulai dikaitkan dengan bahaya kesehatan, maka hal ini dapat
menimbulkan penyakit-penyakit akibat kerja, penyakit lain, atau mungkin
memperburuk penyakit yang sudah diderita sebelumnya(2). Gangguan kesehatan
ataupun kecelakaan kerja yang dapat terjadi di lingkungan kerja merupakan
permasalahan yang rumit karena terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
timbulnya gangguan kesehatan di tempat kerja. Faktor tersebut bisa berasal dari
pekerja, lingkungan, maupun dari kebijakan perusahaan itu sendiri(3).
Bahaya kerja sesungguhnya dapat dicegah asal ada kemauan yang kuat untuk
mencegah(4). Untuk dapat mengidentifikasi bahaya kerja yang ada pada pabrik bijih
plastik, penulis melakukan observasi, wawancara, dan pengukuran langsung kondisi
lingkungan tempat kerja serta beberapa pekerja yang bekerja di pabrik tersebut.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Utama
Untuk mengurangi kejadian kecelakaan kerja di pabrik bijih plastik

1.2.2 Tujuan khusus :


1. Untuk mengidentifikasi bahaya kerja yang mungkin timbul di pabrik bijih
plastik
2. Untuk memberikan solusi terhadap bahaya kerja yang ditimbulkan

1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi penulis
Dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran mengenai kesehatan kerja
1.3.2 Bagi pekerja
Dapat mencegah keluhan-keluhan yang mungkin timbul di lingkungan kerja.
1.3.3 Bagi pemilik usaha
Dapat meningkatkan produktifitas usaha.

B. Rumusan Masalah
1. Apa bahaya kerja yang ditemukan pada pabrik bijih plastik?
2. Apa gangguan kesehatan yang mungkin timbul di pabrik bijih plastik?
3. Apa solusi yang bisa diterapkan pada pabrik bijih plastik?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Plastik
Plastik merupakan molekul karbon dengan rantai panjang dan mempunyai berat
molekul yang tinggi (polymers) yang mudah dibuat menjadi berbagai bentuk dan dapat
dicetak menjadi benda padat.(4)
1. Jenis plastik dan sifatnya(4)
a. Polyethylene Terephthlate (PET), kadang menyerap bau dan rasa dari
makanan, mudah didaur ulang. Biasanya digunakan untuk membuat
barang keperluan rumah tangga dan botol obat-obatan serta pakaian.
b. High-Density Polyethylene (HDPE) tidak diketahui sifatnya pada
makanan, mudah didaur ulang. Biasanya digunakan sebagai botol susu,
botol sabun, kodisioner dan lain sebagainya.
c. Polyvinyl chloride (PVC) terkadang didaur ulang tapi relatif susah
karena keras. Biasanya digunakan untuk pipa dan gantung baju.
d. Low-Density Polyethylene (LDPE) merupakan tipe plastik yang relatif
tidak membahayakan, karena ketahanan dan fleksibilitasnya. Terkadang
di daur ulang. Biasa digunakan untuk cling film dan kantong plastik
belanja.
e. Polypropylene (PP) jarang didaur ulang karena keras dan tahan terhadap
temperatur yang relatif tinggi. Biasanya digunakan sebagai botol sirup,
box makan siang dan lain sebagainya.
f. Polystyrene (PS) jarang di daur ulang karena susah. Biasanya digunakan
sebagai cangkir kopi sekali pakai, sendok garpu plastic dan lain
sebagainya.
g. Tipe lain (Polycarbonate and Polylactide) susah untuk didaur ulang.
Biasanya digunakan sebagai compact disc, botol bayi, dan kotak medis.
2. Kandungan berbahaya dalam plastik
a. Bisphenol A (BPA) berbahaya bagi perempuan, beresiko mengidap
kanker bayudara
b. Phtalates dapat menyebabkan pubertas dini, dan beresiko menimbulkan
kanker payudara
c. Vinyl Chloride merupakan satu dari beberapa beberapa bahan yang
dapat menimbulkan terjadinya kanker payudara oleh NTP dan IARC
d. Dioxin telah ditetapkan oleh NTP dan IARC sebagai bahan karsinogenik
dan dapat mengganggu kerja system endokrin
e. Styrene ditetapkan oleh IARC sebagai bahan karsinogenik

Pada pabrik bijih plastik yang kami kunjungi, bahan yang digunakan adalah PVC dan
Noryl PPO.

a. PVC
Sifat dari PVC : (5)
 Keras, kaku, dan sedikit rapuh
 Dalam bentuk serbuk atau tepung putih memiliki daya tahan yang baik
terhadap air,asam, alkali
 Tidak beracun
 Tidak mudah terbakar
 Isolator yang baik
 Tidak mudah larut pada beberapa larutan
 Dapat melunak pada pemanasan 800 C.

b. Noryl PPO (Modified Polyphenylene Oxide)


Noryl PPO merupakan campuran polifenilen dan stirena yang memiliki
sifat mekanik, tremal, dan listrik yang luar biasa. Sifat Noryl PPO yang sukar
menyerap air, isolator yang baik, dan tahan api menjadikan noryl sebagai salah
satu termoplastik yang paling stabil dan banyak digunakan pada perumahan dan
untuk komponen struktural. (6,7)

Sifat-sifat Noryl PPO :


1. Stabil dalam berbagai tingkat suhu
2. Sukar menyerap air
3. Kuat dan kaku
4. Mudah dibentuk, dicat, dan dilem
5. Ringan
6. Mudah terbakar
2.2 Jenis Hazard(2)
1. Kontaminan Udara
Pada umumnya diklasifikasikan menjadi kontaminan padat dan kontaminan gas
atau uap.
a. Kontaminan Padat
 Debu: Berupa partikel yang dihasilkan melalui proses penghancuran,
penggilingan, ledakan, dan pemanasan materi organik atau anorganik seperti
batu, logam, batu bara, dan kayu. Segala proses yang menghasilkan debu yang
dapat bertahan cukup lama di udara untuk terhirup atau termakan harus
dianggap berbahaya sampai dibuktikan sebaliknya.
 Asap: Terbentuk ketika materi dari benda padat yang diuapkan mengental di
udara dingin. Pada banyak kasus, partikel padat hasil dari pengentalan bereaksi
dengan udara untuk membentuk oksida.
 Kabut: Berupa cairan yang larut di dalam atmosfir. Kabut terbentuk oleh cairan
yang mengental dari uap kembali menjadi bentuk cair atau dari cairan yang
tersebar oleh proses pengecilan ukuran.
 Aerosol: Sebuah bentuk kabut yang memiliki ciri khas berupa partikel cairan
yang sangat mudah terhirup.
 Fibres: Partikel padat yang ukuran panjangnya beberapa kali lebih besar
daripada diameternya. Seperti misalnya pada asbes.

b. Kontaminan Gas dan Uap


 Gas: Cairan tidak berbentuk yang menyebar untuk mengisi ruang tertutup. Di
alam, mereka bersifat atomik, diatomik, atau molekular yang berlawanan
dengan tetesan atau partikel yang terbuat dari jutaan atom atau molekul. Melalui
evaporasi, cairan berubah menjadi uap dan bercampur dengan atmosfir di
sekelilingnya.
 Uap: Bentuk yang sudah menguap dari substansi yang seharusnya dalam
keadaan padat atau cair pada suhu dan tekanan ruangan.

2. Bahaya Kimia
Termasuk semua zat kimia berbahaya dalam bentuk padat, cair, gas, kabut,
debu, asap, dan uap yang mengeluarkan dampak beracun jika terhirup, terserap melalui
kulit, atau tercerna baik itu termakan maupun terminum. Bahaya kimia melalui udara
terdapat dalam konsentrasi dari kabut, uap, gas, asap, atau padat. Beberapa dapat
menjadi racun jika terhirup dan beberapa dari zat tersebut dapat mengiritasi kulit yang
berkontak dengannya. Beberapa dapat menjadi racun jika terserap oleh kulit atau jika
tercerna dan beberapa zat bersifat korosif terhadap jaringan tubuh yang hidup. Derajat
risiko pada pekerja akibat terpapar zat-zat kimia ini bergantung pada alam, potensi dari
dampak beracun yang dimiliki zat, serta berat dan durasi paparan itu sendiri.

3. Bahaya Biologis
Terjadi pada paparan terhadap bakteri, virus, jamur, dan organisme hidup
lainnya yang dapat menyebabkan infeksi akut dan kronis jika masuk ke dalam tubuh
baik secara langsung atau melalui luka di kulit. Pekerjaan yang berhubungan dengan
tanaman atau binatang dan produknya, atau dengan makanan dan pengolahan makanan
dapat memaparkan pekerja pada bahaya biologis. Pekerja medis dan laboratorium dapat
pula terpapar pada bahaya biologis ini. Semua pekerjaan yang melibatkan kontak
dengan cairan tubuh memaparkan pekerja pada bahaya biologis.
Pada pekerjaan yang berhubungan dengan binatang, cara menangani bahaya
biologis yang ada adalah dengan mencegah dan mengendalikan penyakit di populasi
binatang juga dengan menangani binatang yang terinfeksi dengan baik dan benar.
Selain itu, risiko pekerja dapat juga diminimalisir dengan menjaga kebersihan
pribadi, terutama memperhatikan luka lecet dan gores yang ada di tangan dan lengan
bawah. Pada pekerjaan di mana terdapat potensi paparan terhadap bahaya biologis, para
pekerja harus melatih untuk senantiasa menjaga kebersihan pribadinya, seperti
misalnya membiasakan diri untuk selalu mencuci tangan.
Rumah sakit harus menyediakan ventilasi yang cukup, alat pelindung pribadi
yang cukup seperti sarung tangan dan alat bantu napas, sistem pembuangan limbah
beracun yang adekuat, serta pengendalian risiko yang benar termasuk isolasi terhadap
penyakit menular seperti misalnya tuberkulosis.

4. Bahaya Fisik
Termasuk bising, getaran, pencahayaan, suhu, dan radiasi elektromagnetik yang
mengionisasi maupun yang tidak secara berlebihan.

5. Bahaya Ergonomis
Ilmu alam dari ergonomi mempelajari dan mengevaluasi berbagai aktivitas
secara keseluruhan seperti mengangkat, menahan, mendorong, berjalan, dan meraih.
Banyak masalah ergonomis berasal dari perubahan teknologi seperti meningkatnya
pengulangan terhadap suatu aktivitas tertentu. Sejumlah masalah berasal dari desain
aktivitas yang buruk dari suatu pekerjaan. Keadaan-keadaan ini dapat menyebabkan
munculnya masalah ergonomis seperti getaran yang berlebihan, bising, gerakan yang
berulang, masalah yang berkaitan dengan pengangkatan benda berat, dan rancangan
yang buruk dari peralatan atau area kerja.
Gerakan-gerakan yang berulang dalam waktu lama seperti pada pekerjaan yang
melibatkan proses pengurutan barang dapat sering menyebabkan iritasi dan radang
pada bungkus tendon di tangan dan lengan, atau sebuah kondisi yang dikenal dengan
istilah carpal tunnel syndrome. Bahaya ergonomis terutama dihindari dengan
rancangan yang efektif dari sebuah pekerjaan atau tempat pekerjaan juga dengan
peralatan kerja yang dirancang dengan lebih baik yang sesuai dengan kebutuhan
pekerja, berkaitan dengan lingkungan fisik dan aktivitas di dalam pekerjaan.
Evaluasi dari keadaan ketika bekerja jika ditinjau dari sisi ergonomis termasuk
mencari tahu jumlah keseluruhan dari kebutuhan fisiologikal dan psikologikal
pekerjaan pada pekerjanya. Secara menyeluruh, keuntungan dari lingkungan kerja yang
ergonomis dan dirancang dengan baik dapat termasuk peningkatan efisiensi,
berkurangnya kecelakaan kerja, biaya pelaksanaan pekerjaan yang lebih murah, dan
penggunaan tenaga kerja dari para pekerja yang lebih efektif.

Gangguan alat gerak yang mungkin terjadi berupa :


1. Low Back Pain
Pekerjaan tertentu membawa risiko tinggi akan nyeri punggung. Ini termasuk
pekerjaan berat yang dilakukan secera manual, pertambangan, pengangkutan,
penanganan material, pekerjaan yang membutuhkan postur tidak biasa, dan
postur yang harus dipertahankan untuk waktu yang lama atau melibatkan sering
membungkuk, memutar atau getaran seluruh tubuh. Kegiatan ini membutuhkan
pilihan yang tepat, latihan fisik, penempatan yang tepat dan adopsi kriteria aman
untuk angkat beban.
2. Nyeri bahu dan leher
Penelitian menunjukkan bahwa bekerja dengan tangan lebih tinggi dari bahu
menyebabkan pekerja lebih sering mengalami nyeri leher dan bahu baik akut
maupub kronis. Namun, peningkatan beban kerja di bahu dan otot leher juga
dapat menimbulkan nyeri tanpa mengangkat lengan di atas bahu. Bukti lebih
lanjut dari kerja yang berkaitan dengan nyeri leher dan pundak disajikan oleh
fakta bahwa penerapan prinsip-prinsip ergonomis untuk meningkatkan metode
kerja dapat mengurangi rasa nyeri.

6. Bahaya Psikologis
Dapat termasuk aktivitas pekerjaan yang membosankan dan berulang, tekanan
dari pekerjaan, gaji rendah, dan kurangnya apresiasi dari pimpinan.

2.3 Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja(8)


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan Industri :
a. Syarat Udara Ruangan
1. Suhu dan Kelembaban
 Suhu 
: 18 – 28o C
 Kelembaban : 40 % - 60 % 

2. Debu

Kandungan debu maksimal didalam udara ruangan dalam pengukuran rata-
rata 8 jam adalah sebagai berikut :
No Jenis Debu Konsentrasi Maksimal
1. Debu total 0,15 mg/m3
2. Asbes bebas 5 serat/ml udara dengan
panjang serat 5 u
(Mikron)

3. Pertukaran udara
3
0,283 M /menit/orang dengan laju ventilasi : 0,15 – 0,25 m/detik. Untuk
ruangan kerja yang tidak menggunakan pendingin harus memiliki lubang
ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan menerapkan sistim ventilasi
silang. 


b. Tata Cara Pengaturan Udara Ruangan 



 Pengertian
Penyehatan udara ruang adalah upaya yang dilakukan agar suhu dan
kelembaban, debu, pertukaran udara, bahan pencemar dan mikroba di ruang
kerja memenuhi persyaratan kesehatan.

 Tata cara pelaksanaan 



1) Suhu dan kelembaban

Agar ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan perlu
dilakukan upaya-upaya sebagai berikut : 

a. Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5m
b. Bila suhu udara > 28oC perlu menggunakan alat penata 
udara
seperti Air Conditioner (AC), kipas angin, dll. 

c. Bila suhu udara luar < 18oC perlu menggunakan pemanas ruang.
d. Bila kelembaban udara ruang kerja > 60 % perlu menggunakan
alat dehumidifier. 

e. Bila kelmbaban udara ruang kerja < 40 % perlu menggunakan
humidifier (misalnya : mesin pembentuk aerosol). 


2) Debu

Agar kandungan debu di dalam udara ruang kerja perkantoran
memenuhi persyaratan kesehatan maka perlu dilakukan upaya- upaya
sebagai berikut :
a. Kegiatan membersihkan ruang kerja perkantoran dilakukan pada
pagi dan sore hari dengan menggunakan kain pel basah atau
pompa hampa (vacuum pump). 

b. Pembersihan dinding dilakukan secara periodik 2 kali/tahun dan
dicat ulang 1 kali setahun. 

c. Sistem ventilasi yang memenuhi syarat. 


3) Pertukaran udara

Agar pertukaran udara ruang perkantoran dapat berjalan dengan baik
maka perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
a. Untuk ruangan kerja yang tidak ber AC harus memiliki lubang

ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan menerapkan

sistem ventilasi silang. 

b. Ruang yang menggunakan AC secara periodik harus dimatikan

dan diupayakan mendapat pergantian udara secara alamiah
dengan cara membuka seluruh pintu dan jendela atau dengan
kipas angin. 

c. Membersihkan saringan/filter udara AC secara periodik sesuai
ketentuan pabrik. 


4) Gas pencemar

Agar kandungan gas pencemar dalam udara ruang kerja perkantoran
tidak melebihi konsentrasi maksimum perlu dilakukan tindakan-
tindakan sebagai berikut :
a. Pertukaran udara ruang diupayakan dapat berjalan dengan baik
b. Ruang kerja tidak berhubungan langsung dengan dapur. 

c. Dilarang merokok didalam ruang kerja. 

d. Tidak menggunakan bahan bangunan yang mengeluarkan bau

yang menyengat. 

5) Mikroba

Agar angka kuman di dalam udara ruang tidak melebihi batas
persyaratan maka perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai berikut :
a. Karyawan yang sedang menderita penyakit yang ditularkan

melalui udara untuk sementara waktu tidak boleh berkerja.
b. Lantai dibersihkan dengan antiseptik.
c. Memelihara sistem ventilasi agar berfungsi dengan baik.
d. Memelihara sistem AC sentral.

c. Persyaratan Pencahayaan di Ruangan


Intensitas cahaya di ruang kerja minimal 100 lux.

1. Pengertian
Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja


yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. 

2. Tata cara pelaksanaan
agar pencahayaan memenuhi persyaratan kesehatan
perlu dilakukan tindakan sebagai berikut :
 Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak menimbulkan
kesilauan dan memilki intensitas sesuai dengan peruntukannya. 

 Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang optimum
dan bola lampu sering dibersihkan
 Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik segera diganti. 


d. Persyaratan Kebisingan Ruangan


Tingkat kebisingan di ruang kerja maksimal 85 dBA

1. Pengertian
kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki


sehingga mengganggu atau membahayakan kesehatan.
2. Tata cara pelaksanaan
agar kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau
membahayakan perlu diambil tindakan sebagai berikut :
 Pengaturan tata letak ruang harus sedemikian rupa agar tidak
menimbulkan kebisingan. 

 Sumber bising dapat dikendalikan dengan cara antara lain : meredam,
menyekat, pemindahan, pemeliharaan, penanaman pohon, membuat
bukit buatan, dan lain-lain. 


e. Persyaratan Ruang dan Bangunan


1. Bangunan kuat, terpelihara, bersih dan tidak memungkinkan terjadinya
gangguan kesehatan dan kecelakaan. 

2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin dan
bersih. 

3
3. Setiap karyawan mendapatkan ruang udara minima l10m /karyawan. 

4. Dinding bersih dan berwarna terang, permukaan dinding yang selalu 
terkena
percikan air terbuat dari bahan yang kedap air.
5. Langit-langit kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal 2,50 m 
dari
lantai. 

6. Atap kuat dan tidak bocor. 

7. Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya minimal
1/6 kali luas lantai. 

f. Persyaratan Instalasi
1. Instalasi listrik, pemadam kebakaran, air bersih, air kotor, air limbah, air hujan
harus dapat menjamin keamanan sesuai dengan ketentuan teknis yang berlaku.
2. Bangunan kantor yang lebih tinggi dari 10 meter atau lebih tinggi dari bangunan
lain disekitarnya harus dilengkapi dengan penangkal petir. 


BAB III
HASIL PBL

3.1 Profil Perusahaan


3.1.1 Jenis usaha : Industri
3.1.2 Bidang : Bijih Plastik
3.1.3 Tahun Berdiri : 2014
3.1.4 Alamat : Jalan Cengkareng Dalam No. 28B RT 15/12 Kelurahan
Cengkareng Timur, Kecamatan Cengkareng Jakarta
Barat
3.1.5 Jumlah pekerja : 5 orang
3.1.6 Tata Ruang : (terlampir)
3.1.7 Jam Kerja : Senin-Sabtu, 24 jam
3.1.8 Hasil Produksi : Gantungan (120-180 lusin/hari)
Keranjang (9 karung/hari)

3.2 Sanitasi Tempat Kerja


Terdapat satu toilet yang digunakan bersama oleh seluruh pekerja dengan
tingkat sanitasi yang rendah. Kebersihan di tempat kerja pun kurang, terlihat dari
banyaknya debu yang berasal dari bijih plastik di dalam maupun di luar ruangan kerja.
Tempat penampungan air untuk pendingin mesin dibersihkan tiap 2 hari sekali.

3.3 Lingkungan Tempat Kerja


3.3.1 Pencahayaan : Terdapat 5 buah lampu neon di sekeliling ruangan
kerja, penyinaran di siang hari cukup
3.3.2 Ventilasi : Cukup banyak
3.3.3 Suhu : 33,9oC
3.3.4 Kelembaban : 69 RH
3.3.5 Kebisingan : 78 dB

3.4 Alur Kerja


 Pemilahan
Memilah antara bahan yang basah dan yang kering, serta bahan halus dan yang
masih kasar
 Pengeringan
Bahan baku yang basah dikeringkan dengan 2 cara, yaitu dioven atau dijemur
di bawah sinar matahari
 Penggilingan
Bahan baku yang masih utuh atau kasar harus mengalami proses penggilingan
terlebih dahulu dengan menggunakan mesin penggiling agar menjadi bentuk
serpihan sebelum dimasukkan dalam mesin pencetak
 Pencetakan
Bijih plastik dimasukkan langsung ke dalam mesin pencetak dan secara
otomatis mesin langsung menghasilkan barang sesuai dengan cetakan yang
telah dipasang pada mesin sebelumnya. Barang yang dihasilkan berupa
gantungan baju dan keranjang.
 Pengemasan
Barang-barang yang telah dicetak, disusun kemudian dimasukkan dalam
karung. Pengemasan dilakukan secara manual oleh pekerja pabrik. Setelah
dimasukkan dalam karung, karung ditutup dengan cara dijahit. Kemudian
karung berisi barang yang telah dicetak dipindahkan dengan cara dipanggul
oleh pekerja pabrik tersebut.

Kegiatan produksi di pabrik bijih plastik ini berlangsung dari hari Senin hingga
Sabtu dan terbagi menjadi 2 shift kerja. Shift kerja pertama berlangsung dari jam 07.00
sampai jam 19.00 dengan 3 orang pekerja, sedangkan shift kerja kedua berlangsung
dari jam 19.00 sampai jam 07.00 dengan 2 pekerja. Waktu istirahat tidak ditentukan.
Istirahat dapat dilakukan di sela-sela jam kerja.
3.5 Identifikasi Faktor Resiko di Tempat Kerja
Urutan Bahaya Potensial Gangguan Risiko Kecelakaan
Kegiatan Fisik Kimia Biologi Ergonomi Psikologi Kesehatan Kerja
yang mungkin
terjadi
Pemilahan Debu plastik PVC - Membungkuk Harus Gangguan Iritasi mata
Bahan menguasai Pernapasan,
semua LBP,
proses, kelelahan,
waktu stress
istirahat
tidak
terjadwal
Pengeringan Panas, dan PVC - Harus Gangguan Trauma kaki
debu menguasai pernapasan,
plastik semua kelelahan,
proses, stress
waktu
istirahat
tidak
terjadwal
Penggilingan Bising dan PVC - Harus Gangguan Tangan terjepit
debu menguasai pernapasan ,
semua kelelahan,
proses, stress
waktu
istirahat
tidak
terjadwal
Pencetakan Panas, - Membungkuk, Harus Gangguan Kesetrum, Tangan
bising,vibrasi, desain alat menguasai pernapasan terjepit, cedera anggota
dan sengatan semua dan tubuh
listrik proses, pendengaran,
waktu cetakan yang
istirahat terjatuh,
tidak kelelahan, stres
terjadwal
Packing Beban - Angkat beban Harus Nyeri bahu, Tertusuk Jarum
berlebih berat menguasai kelelahan,
semua stress
proses,
waktu
istirahat
tidak
terjadwal
3.6 Aplikasi Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Tempat Kerja
Berdasarkan hasil wawancara dengan pekerja, tidak ada keluhan yang dirasakan
selama bekerja di pabrik bijih plastik. Namun pernah terjadi kecelakaan kerja berupa
tersengat listrik dan juga sempat ada cetakan yang terjatuh sehingga mengenai pekerja.
Pemilik usaha telah menganjurkan pemakaian alat keselamatan, seperti masker
dan sarung tangan. Namun melalui observasi yang telah dilakukan, para pekerja belum
mematuhi untuk menggunakan alat keselamatan yang disediakan. Di tempat kerja juga
sudah tersedia alat pemadam kebakaran sebagai persiapan jika terjadi situasi darurat.

3.7 Temuan-Temuan Kasus Penyakit Akibat Kerja


Pekerja tidak mengatakan ada keluhan

3.8 Temuan-Temuan Hasil Pemeriksaan Kesehatan Karyawan

No Nama Usia Berat Badan Tinggi Tekanan


Badan Darah
1. Adi 22 tahun 44.5 kg 157 cm 110/70
2. Iman 24 tahun 53.9 kg 163 cm 120/70
3. Bidin 23 tahun 50.3 kg 160 cm 110/80

BAB IV
PEMBAHASAN
3.1 Tingkat Resiko di Tempat Kerja
3.1.1 Suhu dan Kelembaban
Suhu di lingkungan tempat kerja : 33,9oC
Suhu optimal yang dianjurkan : 18-28 oC
Kelembaban di lingkungan tempat kerja : 68%
Kelembaban optimal yang dianjurkan : 60%

Resiko terhadap kesehatan yang mungkin terjadi :


 Mudah lelah dan tidak nyaman
 Penurunan produktifitas kerja dan kurang konsentrasi
 Heat rash
 Heat exhaustion
 Heat stroke
Cara meminimalkan resiko :
 Perlu menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner (AC),
kipas angin, dll.
 Ventilasi yang cukup
 Pemeriksaan secara berkala
 Perbanyak minum
 Alat pelindung diri, misal sarung tangan
 Pekerja harus diberikan waktu istirahat yang cukup di lingkungan yang
lebih nyaman.

Tingkat Resiko : Tinggi karena terpapar terus-menerus dalam 24 jam

3.1.2 Kebisingan
Tingkat kebisingan di tempat kerja sebesar 78 db dengan paparan 24 jam,
selama 6 hari dalam seminggu. Sedangkan tingkat kebisingan maksimal 85dB

Resiko terhadap kesehatan yang mungkin terjadi :


 Gangguan pendengaran (tuli)
 Ketidaknyamanan psikologis
Cara meminimalkan resiko :
 Pengawasan alat
 Mengendalikan dengan cara antara lain meredam, menyekat, atau
memindahkan mesin yang digunakan
 Menggunakan alat pelindung telinga

Tingkat Resiko : Tinggi karena walaupun belum mencapai batas kebisingan


maksimal, namun para pekerja terpapar terus-menerus dalam 24 jam

3.1.3 Proses Pemilahan, Pengeringan, dan Penggilingan


 Aktivitas yang dilakukan :
a) Kontak langsung dengan bijih plastik (inhalasi dan dermal)
a) Sering membungkuk
a) Mengoperasikan mesin penggiling

 Resiko terhadap kesehatan


a) Gangguan pernapasan dan iritasi kulit
b) Low back pain
c) Kecelakaan kerja karena mesin penggiling

 Cara meminimalkan resiko :


a) Memakai alat pelindung diri, seperti masker, sarung tangan, dan
alas kaki
b) Memperbaiki posisi kerja
c) Mengatur waktu istirahat agar pekerja selalu dapat berkonsentrasi
ketika bekerja

3.1.4 Proses Pencetakan


 Aktivitas yang dilakukan :
a) Sering membungkuk
b) Mengoperasikan mesin
c) Kontak langsung dengan barang plastik yang baru diproduksi
 Resiko terhadap kesehatan :
a) Low back pain
b) Tersengat listrik
c) Panas dan debu bijih plastic
d) Cedera anggota tubuh

 Cara meminimalkan resiko :


a) Memperbaiki posisi kerja
b) Memakai sarung tangan tiap berkontak langsung dengan mesin
maupun barang yang baru keluar dari mesin
c) Memakai masker
d) Istirahat yang cukup untuk menjaga konsentrasi

3.1.5 Pengemasan
 Aktivitas yang dilakukan :
a) Penjahitan karung
b) Memindahkan karung ke tempat pengumpulan

 Resiko terhadap kesehatan :


a) Kecelakaan saat penjahitan
b) Nyeri bahu dan leher

 Cara meminimalkan resiko :


a) Mengurangi beban angkat
b) Menjaga konsentrasi

3.1.6 Kapasitas Kerja dan Beban Kerja


 Total pekerja yang bekerja di pabrik bijih plastik berjumlah 5 orang,
dimana dibagi ke dalam 2 shift kerja, yaitu 3 orang dari pukul 07.00
sampai 19.00 dan 2 orang dari pukul 19.00 sampai 07.00. Hal ini
menuntut tiap pekerja pada tiap shift kerja untuk memahami dan
menguasai seluruh alur kerja yang ada.
 Para pekerja melakukan kegiatan dengan total waktu 12 jam/hari tanpa
waktu istirahat yang ditentukan. Istirahat dapat dilakukan di sela-sela
proses produksi berlangsung.

3.1.7 Analisa Hasil Inspeksi


Untuk menserasikan kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar dapat
meningkatkan produktifitas, perlu ditetapkan waktu istirahat yang terjadwal bagi
pekerja. Selain itu diharapkan kepatuhan penuh pekerja untuk memakai alat pelindung
diri yang telah dianjurkan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Ditemukan bahaya kerja berupa debu, panas, lembab, sengatan listrik dan
potensi kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh mesin penggiling maupun
pencetak. Para pekerja dapat mengalami gangguan kesehatan akibat bahaya
tersebut walaupun sekarang belum terdapat keluhan dari para pekerja. Untuk
mengurangi potensi bahaya yang mungkin terjadi para pekerja diperlukan
kepatuhan dan perhatian khusus baik dari pemilih maupun pekerjaan akan kondisi
lingkungan tempat kerjanya.

5.2 Saran
5.2.1 Bagi Pekerja
Mematuhi anjuran untuk menggunakan alat pelindung diri selama bekerja

5.2.2 Bagi Institusi Pemerintah


Melakukan penyuluhan mengenai kesehatan kerja serta kesehatan lingkungan di
sekitar pabrik

5.2.3 Bagi Perusahaan


Memperhatikan kesehatan dan keselamatan pekerja agar produktifitas juga bisa
maksimal

5.2.4 Bagi Institusi Pendidikan


Memberikan edukasi sejak dini mengenai pentingnya perlindungan dalam bekerja
dan bahaya-bahaya yang mungkin timbul ketika bekerja.

DAFTAR PUSTAKA
1 Thompson R, Moore C, vom Saal F, Swan S. Plastics, the environment and human
health: current consensus and future trends. Philosophical Transactions of the
Royal Society B: Biological Sciences. 2009;364(1526):2153-2166.
2 World Health Organization, 2001. Occupational Health : A Manual for Primary
Health Care Worker.
3 Prihandoyo AA, Andreina W, Nurkertamanda D, Sriyanto. Analisa Pengaruh
Keadaan Lingkungan Fisik dan Proses Produksi Terhadap Manajemen
Pengelolaan K3
( Studi Kasus Industri Plastik CV Sumber Agung Jawa Tengah).
TI-UNDIP. 2009. ISBN : 978-979-704-802-0.
4 –
5 Stevens MP, 2001. Kimia Polimer Edisi 1. Terjemahan Sopyan I, Paramita P.
Jakarta.
6 Plastics International, Noryl® PPO (Modified Polyphenylene Oxide),
http://www.plasticsintl.com/datasheets/419943590Noryl.pdf.
7 Aetna Plastics Corp, Noryl® / PPO (Polyphenylene Oxide, modified),
http://www.aetnaplastics.com/products/d/Noryl.
Lampiran Dokumentasi
Lampiran Tabel POAC

Bahaya Akibat Efek Probabilitas Risiko


Bahaya
Debu Gangguan L H M
saluran
pernapasan
Panas dan Dehidrasi, L H M
lembab Heat stress,
rasa tidak
nyaman
Bising Gangguan L H M
pendengaran
Membungkuk Nyeri bahu, L H M
dan low back pain,
mengangkut pegal-pegal
Shift kerja Rasa bosan, L H M
stress,
kelelahan
Kecelakaan Luka lecet, L L L
kerja gores, atau
memar pada
tangan atau
kaki

Aktivitas kegiatan : Pemilahan, Pengeringan, dan Penggilingan


Bahaya Akibat Bahaya E P R Mengurangi resiko dengan Resiko sisa
Kontak langsung Gangguan pernapasan dan L H M Memakai masker, sarung tangan, dan alas
bijih plastik iritasi mata kaki yang tepat
(inhalasi dan melalui
mata)
Sering membungkuk Low back pain L M M Memperbaiki posisi
Bising NIHL (Noise-Induced Hearing L L L Menggunakan penutup telinga, penyekat,
Loss peredam suara
Panas Dehidrasi, ketidaknyamanan L M M Perbanyak minum air, menambahkan
pendingin ruangan
Shift Kerja Penurunan konsentrasi L M M Menetapkan waktu istirahat

Aktivitas kegiatan : Pencetakan


Bahaya Akibat Bahaya E P R Mengurangi resiko dengan Resiko sisa
Sering membungkuk Low back pain L M M Memeberi waktu istirahat
Mengoperasikan Tersengat listrik H L M Menjaga konsentrasi, memakai alat
mesin pelindung diri
Tertimpa cetakan Cedera kaki H L M Menjaga konsentrasi
Bising NIHL (Noise-Induced Hearing L L L Menggunakan penutup telinga, penyekat,
Loss) peredam suara
Kontak langsung Iritasi L M M Menggunakan sarung tangan
dengan bahan jadi

Aktivitas kegiatan : Pengemasan


Bahaya Akibat Bahaya E P R Mengurangi resiko dengan Resiko sisa
Tertusuk jarum Luka terbuka L L L Menjaga konsentrasi
Angkat berat Nyeri bahu dan leher L M M Tidak mengangkat beban yang berlebihan