Anda di halaman 1dari 17

MEWUJUDKAN ZONA INTEGRITAS

DI
LEMBAGA PEMASYARAKATAN PEREMPUAN KELAS IIA
SEMARANG

Oleh

1. Binar Asdi Hulu 199004162017121001


2. Galang Pradipta 199108122017121002
3. Hanifah Rahmawati Hasanah 199108142017122002
4. Ida Elsha Nastiti 199307172017122001
5. Nanang Yunendar 198706142017121002
6. Priyo Wibowo 198412062017121001
7. Qorintya Pathya S 199606022017122002
8. Rangga Ahrizal Purwanto 199301312017121001
9. Syevira Ayu Nur Fathanah 199204222017122001

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAERAH


PROVINSI JAWA TENGAH
SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam mewujudkan tujuan Negara dan melaksanakan cita-cita bangsa yang
tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu
dibentuk Aparatur Sipil Negara yang profesional, akuntabel, sinergi, transparan dan
inovatif. Aparatur Sipil Negara yang menjadi pelaksana kebijakan harus mampu
memberikan pelayanan prima dan menjadi perekat serta pemersatu bangsa. Untuk
menjalankan peran tersebut Aparatur Sipil Negara harus berpedoman pada Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UU Nomor 5
Tahun 2014 tentang ASN).
Menurut Undang-undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara,
setiap instansi pemerintah wajib memberikan pendidikan dan pelatihan terintegrasi
bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama satu tahun masa percobaan. Diklat yang
terintegrasi ini bertujuan untuk membangun integritas moral, semangat, motivasi
nasionalisme, karakter kepribadian yang bertanggung jawab dan memperkuat
profesionalisme serta kompetensi bidang.
Untuk mewujudkan PNS yang profesional, harus dilaksanakan kegiatan Diklat
Prajabatan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000
tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Diklat ini
dilaksanakan dalam rangka membentuk nilai-nilai dasar profesi PNS yang dapat
membentuk karakter PNS yang kuat dan mampu bersikap profesional dalam melayani
masyarakat dan berdaya saing.
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dengan pola pembelajaran klasikal
yag didominasi dengan metode ceramah menunjukkan bahwa tidak mudah untuk
membentuk nilai-nilai dasar profesi PNS, terutama proses internalisasi pada diri
masing-masing peserta. Untuk menunjang proses pembelajaran di pendidikan dan
pelatihan perlu dilakukan studi lapangan yang langsung memperlihatkan
implementasi nilai-nilai dasar profesi PNS. Oleh karena itu dilakukan studi lapangan di
Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II Semarang sebagai bentuk
pembelajaran materi ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen
mutu dan Anti korupsi) secara langsung yang bertujuan agar CPNS Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia dapat melihat sejauh mana Nilai ANEKA diterapkan.

B. TUJUAN
1. Memperoleh gambaran yang realistis mengenai mekanisme pelayanan di
Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II Semarang.
2. Mendapatkan informasi nyata mengenai implementasi teori nilai-nilai dasar
profesi PNS di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II Semarang.
3. Mengidentifikasi hasil implementasi ANEKA di Lembaga Pemasyarakatan Kelas
II Semarang yang bisa diterapkan di instansi kantor imigrasi.
BAB II
DESKRIPSI LOKUS

A. Struktur Organisasi
Dalam Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI No : M. 01- PR-
07-10 tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehakiman dan Hak
Asasi Manusia RI dijelaskan bahwa, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (KALAPAS)
mempunyai tugas untuk mengkoordinasikan kegiatan administrasi keamanan dan tata
tertib serta pengelolaan tata usaha yang meliputi urusan kepegawaian, keuangan dan
rumah tangga sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan
pemasyarakatan narapidana, anak didik atau penghuni Lapas.
Struktur Organisasi Lembaga Pemasyarakatan Klas II. A Wanita Semarang
sebagaimana keputusan di atas terdiri dari :

Kepala Lapas

Sub Bagian
Tata Usaha

Urusan Kepegawaian Urusan


dan Keuangan Umum

Seksi Pembinaan dan Seksi Kegiatan Seksi Administrasi Kesatuan Pengamanan


Pendidikan Kerja Keamanan dan Tata Lembaga
Tertib Pemasyarakatan

Subseksi Subseksi Subseksi


Registrasi Bimbingan Bimbingan Kerja Subseksi
Sarana Kerja Subseksi Subseksi
Kemasyarakatan dan Pengelolaan
Hasil Kerja Keamanan Pelaporan dan
dan Perawatan Tata Tertib

1. Kepala Lembaga Pemasyarakatan


2. Sub Bagian Tata Usaha
a. Urusan Kepegawaian dan Keuangan
b. Urusan Umum
3. Seksi Pembinaan dan Pendidikan
a. Subseksi Regsitrasi
b. Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan
4. Seksi Kegiatan Kerja
a. Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja
b. Subseksi Sarana Kerja
5. Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib
a. Subseksi Keamanan
b. Subseksi Pelaporan dan Tata Tertib
6. Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan

B. Tugas Pokok dan Fungsi

Tugas Pokok :
• Melaksanakan Pemasyarakatan Narapidana/ anak didik sesuai peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.

Fungsi :
• Melaksanakan pembinaan narapidana /anak didik;
• Memberikan bimbingan, mempersiapkan sarana dan mengelola hasil kerja;
• Melakukan hubungan sosial kerohanian Napi /AD;
• Melakukan pemeliharaan keamanan dan ketertiban; dan
• Melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga.

C. Visi dan Misi

• Terwujudnya Lembaga Pemasyarakatan

Visi yang Unggul dalam Pembinaan, PRIMA


dalam Pelayanan dan Tangguh dalam
Pengamanan.

• Melaksanakan perawatan, pembinaan


dan pembimbingan WBP dalam

Misi kerangka penegakan hukum,


pencegahan dan penanggulangan
kejahatan serta pemajuan dan
perlindungan hak asasi manusia.
BAB III
DESKRIPSI LESSON LEARNED

Studi lapangan yang dilaksanakan dengan lokus di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan


(LPP) Klas IIA Semarang ini dilaksanakan melalui dua alternatif kegiatan yaitu mengundang
narasumber ke tempat pelatihan dan kunjungan virtual tematik yang dilaksanakan pada
tanggal 05 Juni 2018.
Pelaksanaan Studi Lapangan ini dilakukan setelah Peserta Latihan Dasar (Latsar) menerima
materi tentang Nilai-Nilai Dasar Aparatur Sipil Negara, yang terdiri dari Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA).
Berdasarkan hasil studi lapangan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Semarang,
dapat diuraikan keterkaitan pelaksanaan tugas-tugas Pegawai LPP Klas IIA Semarang dengan
Nilai-Nilai Dasar Aparatur Sipil Negara sebagai berikut:

A. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah suatu kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai.
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk
memenuhi tanggungjawab yang menjadi amanahnya.
Menurut Kepala Sub Bagian Tata Usaha Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A
Wanita Semarang (LPP Kelas IIA Semarang), Endang Budiardi, menyampaikan penerapan
nilai dasar akuntabilitas pada LPP Klas IIA Semarang berdasarkan indikator nilai dasar
akuntabilitas, yaitu diantaranya:
1) Kepemimpinan: Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah dimana
pimpinan memainkan peranan yang penting dalam menciptakan lingkungannya.
Kepala LPP Kelas II A Semarang punya komitmen untuk melaksanakan tugas secara
professional, sehingga mempengaruhi para pegawai pada LPP tersebut untuk juga
bekerja melaksanakan tugas secara profesional
2) Transparansi: Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang dilakukan
oleh individu maupun kelompok/ instansi.
LPP Kelas II A Semarang telah membuka informasi publik terkait berita maupun
kegiatan yang dilakukan didalam LPP Kelas II A Semarang melalui website,
sehingga masyarakat dapat mengakses informasi yang dibutuhkan.
Selain itu di dalam aktivitas internal Lapas pun telah dilakukan transparansi
dimana DIPA kantor dapat diakses oleh seluruh pegawai, sehingga pengawasan
terhadap penggunaan DIPA LPP Klas IIA Semarang dapat dilakukan oleh seluruh
pegawai, bukan hanya jajaran pimpinan dan bagian keuangan saja.
3) Integritas: konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung
tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.
Para pegawai Lapas Kelas II A Semarang memegang teguh integritas dengan
bertindak sesuai dengan ucapan, sikap dan hati nurani. Sekaligus mematuhi
peraturan yang ada.
4) Tanggung Jawab: Kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang
di sengaja maupun yang tidak di sengaja. Tanggungjawab berarti berbuat sebagai
perwujudan kesadaran akan kewajiban.
Setiap pegawai Lapas Kelas II A Semarang selalu sadar akan tanggungjawab atas
tugas yang dibebankan pada mereka. Mereka tidak mengeluh karena bekerja
melebihi jam kerja yang telah ditentukan.
5) Keadilan: Kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik
menyangkut benda atau orang.
Lapas Kelas II A Semarang tidak membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan
maupun pembinaan pada warga binaannya. Setiap warga binaan mendapatkan
hak-hak yang sesuai dengan aturan hukum.
6) Kepercayaan: rasa keadilan akan membawa pada sebauah kepercayaan.
Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.
7) Keseimbangan: untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka
diperlukan keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan
dan kapasitas.
8) Kejelasan: pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus memiliki gambaran
yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang diharapkan.
9) Konsistensi: adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu
sampai pada tercapai tujuan akhir.
Lapas Kelas II A Semarang konsisten untuk mempertahankan status Wilayah Bebas
Korupsi selama 2 Tahun dan terus berjuang untuk menjaga prestasi tersebut.
B. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia
terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Penerapan
Nasionalisme dalam pelayanan publik dirumuskan dalam lima indikator yaitu:
1. Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
Ketuhanan YME menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak membatasi
agama dalam ruang privat. Nilai-nilai ketuhanan yang dikehendaki Pancasila adalah
nilai-nilai ketuhanan yang positif, yang digali dari nilai-nilai keagamaan yang
terbuka (inklusif), membebaskan dan menjunjung tinggi keadilan dan
persaudaraan.
2. Sila kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila kedua memiliki konsekuensi ke dalam dan ke luar. Ke dalam berarti menjadi
pedoman negara dalam memuliakan nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia.
Ini berarti negara menjalankan fungsi “melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa”.
3. Sila ketiga: Persatuan Indonesia
Keberadaan bangsa Indonesia terjadi karena memiliki satu nyawa, satu akal yang
tumbuh dalam jiwa rakyat sebelumnya, yang menjalani satu kesatuan riwayat, yang
membangkitkan persatuan karakter dan kehendak untuk hidup bersama.
4. Sila keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan / Perwakilan
Demokrasi permusyawaratan mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama , badan
permusyawaratan/perwakilan bisa menjadi ajang memperjuangkan asprasi
beragam golongan yang ada di masyarakat. Fungsi kedua, semangat
permusyawaratan bisa menguatkan negara persatuan, bukan negara untuk satu
golongan atau perorangan.
5. Sila kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia
Dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, para pendiri bangsa menyatakan bahwa
Negara merupakan organisasi masyarakat yang bertujuan menyelenggarakan
keadilan.
Berdasarkan hasil studi lapangan di LPP Kelas IIA Semarang, dapat diuraikan keterkaitan
pelaksanaan tugas-tugas Pegawai LPP Kelas IIA Semarang dengan Nilai-Nilai Dasar
Aparatur Sipil Negara Nasionalisme sebagai berikut:
1. Upacara/Apel Rutin.
2. Upacara Peringatan hari besar Nasional.
3. Pegawai LPP Kelas IIA Semarang bebas dari paham radikal.
4. Pemasangan Bendera Merah Putih di depan kantor.
5. Patuh pada aturan perundang-undangan dalam pelaksanaan tugas-tugasnya.
6. Kepala Lapas berlaku adil terhadap setiap pegawai baik.
7. LPP Kelas IIA Semarang melibatkan seluruh pegawai berstatus PNS maupun CPNS
dalam membangun WBK di UPT nya.
8. Pegawai LPP Kelas IIA Semarang yang berasal dari multi etnis dan agama saling
menghargai dan menghormati satu sama lain.
9. Seluruh pegawai menghormati dan menjalankan setiap kebijakan dan peraturan
yang ada dengan tanggung jawab.

C. Etika Publik
Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta keyakinan untuk
menentukan perbuatan yang pantas, guna menjamin adanya perlindungan hak-hak
individu, mencakup cara-cara pengambilan keputusan untuk membantu membedakan
hal-hal yang baik dan buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan sesuai
nila-nilai yang dianut.
Dalam hal ini Etika Publik merupakan refleksi tentang standar/norma yang menentukan
baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan
publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.
Adapun nilai-nilai indikator etika publik yang perlu dipelajari bersama antara lain:
1. Jujur
2. Bertanggung jawab
3. Integritas tinggi
4. Cermat
5. Disiplin
6. Hormat
7. Sopan
8. Taat pada peraturan perundang-undangan
9. Taat pada perintah, dan
10. Menjaga kerahasiaan pemerintah
Berdasarkan hasil studi lapangan di LPP Kelas IIA Semarang, dapat diuraikan keterkaitan
pelaksanaan tugas-tugas Pegawai LPP Kelas IIA Semarang dengan Nilai-Nilai Dasar
Aparatur Sipil Negara Etika Publik sebagai berikut:
1. Keramahan dan sikap sopan pegawai dalam melayani masyarakat
2. Berpakaian rapi sesuai aturan
3. Totalitas dalam menjalankan pekerjaan, tercermin pada saat pegawai tidak pulang
pada hari libur atau bukan jam kerjanya.
4. Suasana lingkungan kerja yang relatif bersih.
5. Atasan menegur pegawai yang melakukan kesalahan secara berjenjang, secara lisan
maupun tertulis, dan bawahan yang ditegur pun menerima dan taat pada atasan.
6. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai, tercermin dalam
sikap atasan yang sangat mengapresiasi keberadaan dan kinerja CPNS.

D. Komitmen Mutu
Penyelenggaraan pemerintahan yang baik, bersih, dan melayani masyarakat dengan baik
adalah sesuatu yang harus terus menerus diupayakan dan ditingkatkan. Penilaian
masyarakat terhadap mutu layanan yang mereka terima dari berbagai institusi
penyelenggara pemerintahan sangat beragam. Oleh karena itulah, penerapan
manajemen mutu secara terpadu di seluruh lembaga pemerintah menjadi sebuah
keharusan.
Adapun nilai-nilai indikator etika publik yang perlu dipelajari bersama antara lain:
1. Efektif
2. Efisien
3. Inovasi
4. Orientasi Mutu
Sedangkan point-point yang dapat dipelajari tentang Anti Korupsi di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas II Semarang adalah sebagai berikut:
1. Adanya Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan untuk memastikan apakah WBP
layak mendapatkan pembebasan bersyarat atau tidak, sehingga keputusan yang
diambil dapat lebih dipertanggungjawabkan.
2. Adanya patroli keliling yang dilaksanakan secara rutin di lingkungan lapas, untuk
melihat adakah pelayanan yang masih perlu ditingkatkan, selain itu apakah
terdapat penyimpangan atau pelanggaran di lingkungan Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Semarang.
3. Adanya pembuatan tombol darurat jika terjadi kerusuhan atau ada
permasalahan seperti sakit di dalam lingkungan sel WBP
4. Melaksanakan pembenahan dan penguatan SDM dengan persamaan pola pikir,
dengan tujuan dan sasaran pembangunan ZI menuju WBK WBBM
5. Pimpinan terlibat langsung dalam pembuatan SKP
6. Implementasi Kebijakan Pengaduan Masyarakat lewat media sosial dan kotak
saran (tindak lanjut, monitoring, evaluasi, serta tindak lanjut hasil evaluasi)
7. Melakukan survey indeks kepuasan masyarakat
8. Adanya kejelasan alur pelayanan di lingkungan LPP Semarang
9. Adanya sarana pengaduan atas layanan yang ada di lingkungan Lembaga
Pemasyarakatan Klas IIA Semarang

Survey Kepuasan WBP Survey Kepuasan Pengunjung


22 Mei 2018 03 Mei 2018
Contoh Salah Satu Alur Proses Pelayanan Pemberian Cuti Mengunjungi Keluarga

Adanya sarana pengaduan atas pelayanan yang ada di LPP Klas IIA Semarang

E. Anti Korupsi
Corruptio (bahasa latin) merupakan asal kata dari korupsi yang berarti kerusakan,
kebobrokan, dan kebusukan. Selaras dengan kata asalnya, korupsi sering dikatakan
sebagai kejahatan luar biasa yang menyebabkan kerusakan baik dalam ruang lingkup
pribadi, keluarga, masyarakat, dan kehidupan yang lebih luas. Oleh karena itulah, nilai-
nilai anti korupsi harus tertanam dalam diri setiap aparatur sipil negara.
Adapun nilai-nilai anti korupsi yang perlu ditanamkan dalam diri setiap Aparatur Sipil
Negara, antara lain:
1. Jujur
2. Peduli
3. Mandiri
4. Disiplin
5. Tanggung jawab
6. Kerja keras
7. Sederhana
8. Berani, dan
9. Adil
Untuk point-point yang dapat dipelajari tentang Anti Korupsi di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas II Semarang adalah sebagai berikut:
1. Adanya Unit Pengendali Gratifikasi di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas II
Semarang
2. Semua Warga Binaan diperlakukan sama, dengan fasilitas yang sama, tanpa melihat
latar belakang WBP dan menolak gratifikasi untuk pemberian fasilitas di dalam
lapas.
3. Adanya banner Wilayah Bebas Korupsi di LPP Semarang
4. Adanya transparansi DIPA yang dapat diakses seluruh pegawai Lapas
BAB IV
DESKRIPSI ACTION PLAN

Berdasarkan hasil pengamatan dari narasumber dan kunjungan virtual tematik pada
pelaksanaan Studi Lapangan di LPP Kelas IIA Semarang diperoleh data dan informasi terkait
aktualisasi atau Implementasi Nilai-Nilai Dasar Aparatur Sipil Negara, yakni Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi, yang dipraktekkan oleh jajaran
pegawai Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Semarang dalam melaksanakan
tugas dan kewajibannya.

Sebagai Calon Aparatur Sipil Negara yang berkerja pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia Unit Pelaksana Teknis Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta, dengan berbekal
pengalaman dan hasil pelaksanaan studi lapangan, dengan ini menyusun rencana aktualisasi
nilai-nilai dasar Aparatur Sipil Negara yang kelak dapat diterapkan pada Kantor Imigrasi Kelas
I Surakarta sebagai berikut

A. Akuntabilitas
Action Plan Akuntabilitas pada Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta
1) Menghargai dan menghormati setiap kebijakan yang diambil oleh pimpinan, dan
melaksanakannya dengan kesadaran penuh.
2) Memberikan akses informasi publik pada masyarakat melalui media sosial terkait
program pelayanan dan kebijakan Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta
3) Menunjukan kesesuaian antara ucapan, sikap dan hati nurani dengan perbuatan
maupun tingkah laku.
4) Melaksanakan tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab
5) Tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun
pemohon
6) Selalu memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pemohon atau masyarakat
agar menumbuhkan rasa percaya pada pelayanan Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta
7) Memberikan informasi dan petunjuk yang jelas dalam pelayanan Kantor Imigrasi
Kelas I Surakarta baik secara langsung melalui customer service maupun pentunjuk-
petunjuk tertulis pada kantor dan melalui media sosial.
8) Berusaha untuk menuntaskan pekerjaan hingga selesai.
B. Nasionalisme
Adapun nilai-nilai Nasionalisme yang dapat diterapkan pada Kantor Imigrasi Kelas I
Surakarta adalah sebagai berikut:
1. Membangun suasana saling menghargai dan menghormati antar umat beragama
2. Dilaksanakannya pengajian rutin pada akhir bulan setiap hari jumat.
3. Memberi kesempatan pada rekan kerja untuk melaksanakan ibadah.
4. Tidak membeda-bedakan pemohon paspor.
5. Menerapkan toleransi dalam bekerja di lingkungan Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta
yang heterogen (terdiri dari berbagai suku dan agama).
6. Pegawai bersinergi dalam menyelesaikan pekerjaan dimana pegawai saling
bergotong royong dalam penyelesaian pekerjaan
7. Pelaksanaan apel pagi secara rutin di Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta.
8. Melakukan upacara dalam rangka memperingati hari besar Nasional.
9. Menunjukan kepatuhan dalam menjalankan peraturan yang berlaku di Kantor
Imigrasi Kelas I Surakarta
10. Bermusyawarah dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Kantor Imigrasi
Kelas I Surakarta.
11. Menjalankan kesepakatan yang telah ditetapkan dalam musyawarah secara penuh
kesadaran dan tanggung jawab.
12. Menerapkan gaya hidup sederhana dalam bekerja.
13. Bersikap proaktif dalam membantu rekan kerja yang membutuhkan pertolongan.

C. Etika Publik
Adapun nilai-nilai Etika Publik yang dapat diterapkan pada Kantor Imigrasi Kelas I
Surakarta adalah sebagai berikut:
1. Melayani pemohon secara profesional, tidak berpihak dan non diskriminatif.
2. Memberikan pelayanan yang didahului dengan 3S (Senyum, Salam, Sapa) sebagai
perwujudan sikap hormat, sopan dan santun.
3. Menjaga komunikasi dan kerja sama pada setiap bagian.
4. Penegakan kode etik ASN bagi seluruh pegawai Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta yang
tidak memenuhi syarat jam kerja ASN.
D. Komitmen Mutu

Adapun nilai-nilai Komitmen Mutu yang dapat diterapkan pada Kantor Imigrasi Klas I
Surakarta adalah sebagai berikut:

1. Adanya sidak dan audit rutin yang dilaksanakan secara rutin di lingkungan
Kanim, untuk melihat adakah pelayanan yang masih perlu ditingkatkan, selain
itu apakah terdapat penyimpangan atau pelanggaran di lingkungan Kantor
Imigrasi Klas I Surakarta.
2. Melaksanakan pembenahan dan penguatan SDM dengan persamaan pola pikir,
dengan tujuan dan sasaran pembangunan ZI menuju WBK WBBM
3. Pimpinan terlibat langsung dalam pembuatan SKP, memberikan motivasi dan
dorongan agar bawahan bekerja dengan baik dan turut serta dalam
mengembangkan organisasi.
4. Melakukan survey indeks kepuasan masyarakat
5. Pembuatan alur pelayanan di lingkungan Kantor Imigrasi Klas I Surakarta
6. Pembuatan sarana pengaduan atas layanan yang ada di lingkungan Kantor
Imigrasi Klas I Surakarta

E. Anti Korupsi
Adapun nilai-nilai Anti Korupsi yang dapat diterapkan pada Kantor Imigrasi Klas I
Surakarta adalah sebagai berikut:

1. Dibentuknya unit pengendali gratifikasi di lingkungan Kanim Surakarta


2. Pembuatan banner Wilayah Bebas Korupsi dan Larangan Pemberian Gratifikasi di
lingkungan Kanim Surakarta.
3. Memberikan perlakuan yang sama bagi semua pemohon paspor tanpa
memperhatikan latar belakang pemohon dan menolak gratifikasi untuk proses
pembuatan paspor.
BAB V
PENUTUP

Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan prajabatan bertujuan membentuk pribadi


Aparatur Sipil Negara yang berkompeten dan unggul berlandaskan 5 nilai dasar ANEKA
(Akuntabilitas, NAsionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi). Kegiatan ini
memberikan gambaran kepada CPNS tentang penerapan nilai ANEKA di Lapas Kelas II A
Semarang. Adapun Kegiatan yang mengandung ANEKA antara lain:
1. Pelayanan yang ramah dan sopan kepada WBP dan pengunjung
2. Adanya keterbukaan dan transparansi baik bagi lingkungan intern pegawai Lapas
maupun dalam pelayanan publik terhadap WBP dan pengunjung.
3. Adanya kejelasan alur pelayanan di LPP Klas IIA Semarang
4. Adanya tombol darurat untuk penanganan masalah secara cepat dan tuntas dalam
lingkungan lapas
5. Adanya pembentukan Unit Pengendalian Gratifikasi di lingkungan LPP Klas IIA
Semarang
Berbagai kegiatan tersebut di atas pada akhirnya memampukan Lembaga Pemasyarakatan
Perempuan Klas IIA Semarang dalam mendapatkan predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK)
yang ke depan akan terus diusahakan untuk ditingkatkan menjadi Wilayah Birokrasi Bersih
dan Melayani (WBBM).
Hal ini telah memberikan gambaran kepada CPNS untuk nanti bisa menerapkan nilai
ANEKA di tempat kerja Kantor Imigrasi Klas I Surakarta.