Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN GENETIKA

GEN YANG TERANGKAI SEKS

(TES BUTA WARNA)

KELOMPOK DIHIBRID

1. AGUSTINA ADHI SURYANI 4401412055

2. AMALIA TRISTIANA 4401412063

3. DINULLAH ALHAQ 4401412126

ROMBEL 01 PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

13 OKTOBER 2014
KEGIATAN 8

GEN YANG TERANGKAI SEKS

(TES BUTA WARNA)

A. Tujuan
1) Mengenal sifat genetic manusia yang ditentukan oleh gen yang terangkai pada
kromosom seks.
2) Mengetahui perbedaan jumlah penderita buta warna berdasarkan jenis kelamin.

B. Landasan Teori

Buta warna adalah suatu kondisi ketika sel-sel retina tidak mampu merespon warna dengan
semestinya. Sel-sel kerucut didalam retina mata mengalami perlemahan atau kerusakan.
Dalam Kalat (2010), buta warna dideskripsikan sebagai defisiensi penglihatan berwarna,
sebuah gangguan proses persepsi perbedaan warna. Penyebab buta warna adalah kondisi
yang diturunkan secara genetik. Menurut Kalat (2010), buta warna merupakan penyakit
keturunan yang terekspresi pada pria, tetapi tidak pada wanita. Wanita secara genetis sebagai
carrier. Istilah buta warna atau color blind sebetulnya salah pengertian dan menyesatkan,
karena seorang penderita buta warna tidak buta terhadap seluruh warna. Akan lebih tepat bila
disebut gejala defisiensi daya melihat warna tertentu saja atau color vision difiency. Orang yang
mengalami buta warna tidak hanya melihat warna hitam putih saja, tetapi yang terjadi adalah
kelemahan atau penurunan pada penglihatan warna-warna tertentu misalnya kelemahan pada
warna merah, hijau, kuning, dan biru. Buta warna permanen biasanya terjadi karena faktor
keturunan. Sedangkan orang yang tidak mengalami buta warna dapat mengalami buta warna
apabila terjadi faktor-faktor tertentu seperti kecelakaan.
Prevalensi buta warna di Indonesia adalah sebesar 0,7% (Riskesdas 2007), sedangkan
Serikat pada tahun 2006 menurut Howard Hughes Medical Institute, terdapat 7% pria, atau
sekitar 10.5 juta pria, dan 0.4% wanita tidak dapat membedakan merah dari hijau, atau mereka
melihat merah dan hijau secara berbeda dibandingkan populasi umum. Sejumlah 95 %
gangguan buta warna terjadi pada reseptor warna merah dan hijau pada mata pria.Faktor
utama yang sampai saat ini dipercaya sebagai penyebab utama buta warna adalah faktor
genetik yang sex-linked, artinya kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Hal ini yang
menyebabkan lebih banyak penderita buta warna laki-laki dibandingkan wanita.
Penglihatan Normal disebut juga trichromatic. Trichromats dapat mencocokkan semua
3 warna dasar. Adanya kelainan dari mencocokkan ketiga warna dasar karena adanya
disfungsi dan sel kerucut, disebut anomalous trichromatic. Bentuk kelainan melihat warna yang
hanya bisa mencocokkan 2 macam warna dasar, yang disebabkan karena hilangnya beberapa
sel kerucut disebut dichromatic.
Bentuk buta warna yang sangat jarang terjadi adalah monochromatic.Monochromats
tidak bisa mendiskripstkan warna, dan hannya bisa menerima warna abu-abu. Tipe ini
dibedakan menjadi 2 berdasarkan kelainan anatominya yaitu:
1. Rod monochromats (tidak terdapat sel kerucut pada retina), dan disertai berkurangnya daya
penglihatan.
2. Cone monochromats (hanya memiliki satu macam sel kerucut), biasanya masih memiliki
aktivitas visual yang baik.
Selain dibedakan berdasarkan kelainan jumlah warna yang dapat dilihat seperti di atas,
masing-masing tipe dibedakan lagi berdasarkan jenis warna yang dapat dilihat, yaitu tipe
trichromatic dan dichromatic. Pada tipe ini terdapat 2 macam kelainan yaitu: protan dan deutan.
Protan dan Deutan pada trichromatic disebut protanomaly dan deuteranomaly, sedangkan
Protan dan Deutan pada dichromatic disebut protanopia dan deuteranopia. Hanya terdapat
pada tipe dichromatic yang disebut deuteranopia.
Tabel 1. Tipe Buta Warna dan Penyebabnya
Type Form Cause
Red Defects
Protanomaly Trichromatic Disfungsional sel kerucut L
Protanopia Dichromatics Hilangnya sel kerucut L
Deuteranomaly Trichromatic Disfungsional sel kerucut M
Deuteranopia Dichromatics Hialngnya sel kerucut M
Blue Yellow Defectss
Tritanopia Dichromatics Hilangnya sel kerucut S
Keterangan :
* Protanomaly disebabkan disfungsional sel kerucut L (sel kerucut L juga disebut kerucut
Merah).
* Protanopia disebabkan hilangnya sel kerucut L.
* Deuteranomaly disebabkan disfungsional sel kerucut M (kerucut hijau).
* Deuteranopia disebabkan hilangnya sel kerucut M.
* Tritanopia disebabkan hilangnya sel kerucut S (kerucut biru).

Dalam Kalat (2010) disebutkan bahwa pada kasus buta warna yang paling umum, individu
mengalami kesulitan untuk membedakan warna merah dan hijau. Sekitar 8% pria adalah
penderita buta warna merah hijau, sementara penderita wanita hanya 1% (Bowmaker, 1998).
Tipe buta warna ada 3 (Widyastuti, M. et all, 2004), yaitu:
1. Monokromat atau buta warna total (monochomacy)
Sering dianggap sebagai buta warna oleh orang umum. Kondisi ini ditandai dengan retina mata
mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu
diterima retina.
2. Dikromat atau buta warna parsial (dichromacy)
Yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi turunan, yakni:
a. Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna
merah atau perpaduannya kurang.
b. Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau.
c. Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan
3. Anomaly trikromat (anomalous trichromacy)
Yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitifitas warna dari satu atau lebih sel kerucut
pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga
klasifikasi turunan pada trikromasi, yaitu:
a. Protonomali, lemah mengenal warna merah.
b. Deuteromali, warna hijau sulit dikenal.
c. Trinomali, warna biru sulit dikenal.

Metode untuk tes buta warna yang dipakai adalah metode yang ditemukan oleh Dr. Shinobu
Ishihara yaitu metode Ishihara. Berupa lingkaran berwarna yang beberapa diantaranya
dirancang agar ada angka tertentu. Subjek diminta merespon dari masing-masing gambar yang
diberikan oleh pemeriksa (Widianingsih, R. et al., 2010).
C. Permasalahan

1. Berapa persentase wanita yang buta warna? Laik-laki butawarna? Sesuaikan


dengan teori yang ada? Jelaskan.
2. Jika wanita normal tetapi ayahnya butawarna menikah dengan laki-laki normal,
bagaimana keturunan yang mungkin lahir ?
3. Buatlah silsilah keluarga anda berkaitan dengan sifat butawarna, lengkapi dengan
kemungkinan genotip masing-masing individu.

D. Metode

Alat dan bahan : Buku Ishihara dan alat tulis


Cara Kerja :
1) menentukan anggota kelompok yang akan diuji

2) meminta anggota kelompok yang ditunjuk untuk membaca angka yang terdapat
pada setiap lembar buku ishihara.

3) Setiap hasil pembacaan angka dicatat pada tabel pengamatan yang telah tersedia.

4) Melakukan hal yang sama pada anggota kelompok yang lain secara bergantian.

5) Dengan menggunakan kunci yang terdapat pada buku ishihara, ditentukan fenotip
dan kemungkinan genotip dari masing-masing anggota kelompok.

6) Data kelompok dihimpun menjadi data kelas, dibedakan berdasarkan jenis kelamin.

7) Mengambil kesimpulan dari kegiatan tersebut.

8) Selain melakukan tes buta warna di kelas, kami juga melakukan tes butawarna di MI
Roudlotul Huda Sekaran dengan probandus anak SD kelas 4 berjumlah 34 orang
dengan perbandingan laki-laki 19 orang dan perempuan 15 orang.

E. Hasil dan Pembahasan

Hasil pengamatan dengan probandus anak SD kelas 4

No. Nama Angka yang sebenarnya (tebal) dan angka yang dibaca Kesimpulan

12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x

1. Abdul 12 8 5 20 21 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

2. Ahmad 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

3. Ananda 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

4. Aulia 12 8 5 29 71 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

5. Aura 12 8 5 29 71 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

6. Zaki 12 8 5 29 71 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

7. Diana 12 8 5 20 24 7 45 2 9 16 x 35 96 x Normal
8. Erintan 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

9. Helmi 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

10. Khotidjah 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

11. Maya 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

12. Denis 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

13. Rifqi 12 8 5 29 71 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

14. Saputra 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

15. Rafli 12 8 5 29 71 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

16. Rohma 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

17. Samudra 12 8 5 20 41 7 15 2 x 16 x 35 96 x Normal

18. Ardi 12 8 5 29 24 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

19. Bayu 12 8 5 29 74 7 45 2 X 16 x 35 96 x Normal

20. Diva 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

21. Fatimah 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

22. Julian 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

23. Khilmi 12 8 5 29 74 7 45 2 x 29 x 35 96 x Normal

24. Farid 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

25. Sandi 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

26. Satrio 12 8 5 28 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

27. Nabila 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

28. Revanda 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

29. Lis 12 8 5 28 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

30. azzam 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

31. Rafael 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

32. Septian 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

33. Alfi 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

34. Tiara 12 8 5 29 74 7 45 2 x 16 x 35 96 x Normal

Keterangan = dicetak miring  perempuan (p)

Dicetak lurus  laki-laki (l)


Data pengamatan

Jenis kelamin Penglihatan Tally Frekuensi Presentase

Perempuan Normal IIIII IIIII IIIII 15 100%

Buta warna - 0 0%

Laki-laki Normal IIIII IIIII IIIII IIII 19 100%

Buta warna - 0 0%

pengamatan kelas

Jenis kelamin Penglihatan Tally Frekuensi Presentase

Perempuan Normal IIIII IIIII IIIII IIIII III 23 100%

Buta warna - 0 0%

Laki-laki Normal II 2 100%

Buta warna - 0 0%

Pada percobaan kali ini adalah mengenai buta warna. Untuk mengetahui seseorang
buta warna atau tidak, dilakukan tes buta warna, yaitu dengan cara seseorang yang akan dites
buta warna membaca plate pada buku tes ishihira . Lempengan-lempengan tersebut tersebut
berupa angka-angka yang tersusun dari titik-titik dengan warna dan ukuran tertentu. Jika
normal, maka dapat membaca benar antara 1-13, jika tidak normal/buta warna bila kurang dari
itu. Pada praktikum kali ini, menggunakan probandus anak kelas 4 SD berjumlah 34 orang
dengan laki-laki berjumlah 19 orang dan perempuan 15 orang. Hasilnya adalah tidak semua
anak dapat menjawab dengan benar 100%. Terdapat 2 orang anak yang menjawab salah 2 kali
dan 1 orang anak menjawab salah 3 kali. Dengan adanya kesalahan yang dilakukan 2-3 kali hal
tersebut menandakan bahwa probandus semuanya normal. Dan berdasarkan pengamatan,
anak yang salah menjawab labih banyak anak laki-laki daripada perempuan, hal ini sesuai
dengan pernyataan Nina Karina, 2007 bahwa gen buta warna terkait dengan dengan kromosom
X (X-linked genes). Jadi kemungkinan seorang pria yang memiliki genotif XY untuk terkena buta
warna secara turunan lebih besar dibandingkan wanita yang bergenotif XX untuk terkena buta
warna. Jika hanya terkait pada salah satu kromosom X nya saja, wanita disebut carrier atau
pembawa, yang bisa menurunkan gen buta warna pada anak-anaknya. Menurut salah satu riset
5-8% pria dan 0,5% wanita dilahirkan buta warna. Dan 99% penderita buta warna termasuk
dikromasi, protanopia, dan deuteranopia .
Pada praktikum yang dilakukan dalam kelas probandus sejumlah 25 orang, dengan
perempuan berjumlah 23 dan 2 orang laki-laki. Hasilnya yaitu 100% semua anggota
mempunyai mata yang normal atau dengan kata lain tidak buta warna.
Pada umumnya buta warna disebabkan oleh faktor gen atau keturunan yang diwariskan
dengan cara bersilang. Dimana sifat dari ayah akan diturunkan pada semua anak yang
perempuan(baik carrier atau penderita), dan sifat dari ibu akan diturunkan pada semua anak
yang laki-laki. Laki-laki itu biasanya cenderung terkena buta warna karena gen yang berfungsi
atau bersifat resesif buta warna dibawa oleh kromosom X, dimana laki-laki hanya memiliki satu
kromosom X. Laki-laki juga tidak bisa sebagai carrier karena laki-laki hanya memiliki satu
kromosom X, sedangkan pada perempuan jarang terkena buta warna karena perempuan
memiliki dua kromosom x. Jika satu kromosom X membawa gen resesif c, maka perempuan
tersebut hanya pembawa atau normal carrier (XCXc). Jika dua kromosom X pada perempuan
terpaut gen resesif c maka disebut pendetita buta warna (XcXc).
Meskipun kami tidak bisa mendeteksi genotip dari probandus wanita, normal atau
normal heterozigot (carrier). Untuk penentuan genotip dari masing-masing probandus
digunakan aturan berikut ini:
Seperti pada literatur, karena buta warna bersifat resesif pada kromosom X maka dapat
dilambangkan dengan XC, sedangkan pasangan alelnya yang dominan pada huruf X tidak
dituliskan huruf C, untuk kromosom Y tidak diberi tanda, sehinggga didapatkan hal-hal berikut:
XCXC = perempuan normal
XCXc = perempuan carrier
XcXc = perempuan buta warna
XCY= laki-laki normal
XcY= laki-laki buta warna
Sehingga genotip untuk masing-masing probandus laki-laki pada percobaan ini
adalah XY. Karena mereka semua tidak buta warna, sedangkan untuk probandus wanita ada
dua kemungkinan yakni normal homozigot atau normal heterozigot. Untuk yang normal
dominan homozigot fenotipnya XX, sedangkan untuk normal heterozigot XXc. Untuk
mengetahui apakah wanitanya normal atau carrier dapat diketahui dari keturunannya nanti bila
mereka menikah dengan laki-laki normal.
Untuk mengetahui bermacam-macam kemungkinan daari pewarisan buta warna dapat
dilakukan persilangan/perkawinan berikut ini:
1. Perkawinan antara wanita normal dengan laki-laki normal.
P : ♀ XCXC >< ♂ XCY
G: XC XC . Y
F1: X CX C , X CY
(NORMAL) (NORMAL)
Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita normal dengan
laki-laki normal akan menghasilkan keturunan XCXC (wanita normal) dan XCY (laki-laki normal).
Perkawinan tersebut mempunyai perbandingan ratio fenotip 1:1, bahwa kemungkinan semua
anaknya normal 100%, akan tetapi anak wanitanya normal heterozigotik/carrier 50% dan anak
laki-lakinya normal 50%.
Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya maka dari keturunan F1 dikawinkan lagi.
2. Perkawinan antara wanita carrier (XCXc) dengan laki-laki normal (XCY)
P : ♀ XCXc >< ♂ XCY
G : XC XC
Xc Y
F1: XCXC(normal) XCXc(carrier)
XCY(normal) XcY(penderita)
Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita carrier kawin
dengan laki-laki normal maka akan menghasilkan dua anak normal,satu anak carrier, dan satu
anak penderita buta warna. Jadi dari hasil persilangan diatas perbandingan ratio fenotip(F1)
yaitu 1:2:1. Sehingga peluang lahir anak normal 50%, peluang lahir anak perempuan carrier
25% dan pekuang anak buta warna sebersar 25%. Dan dapat diketahui pula yang menurunkan
sifat buta warna adalah gen ibu.
Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya, maka dari hasil keturunan F1
dikawinkan lagi dengan hasil sebagai berikut:
Dengan F1 tadi: XCXC(normal) XCXc(carrier)
XCY(normal) XcY(penderita)
Maka P : ♀XCXC >< ♂XcY
G: XC Xc
Y
C c
F1: X X (normal) XCXc(carrier)
XcY(penderita) XCY(normal)
Artinya dari hasil persilangan F1 didapatkan F2nya, bila ada seorang wanita normal dikawinkan
dengan laki-laki penderita akan menghasilkan 1 anak normal, 2 anak carrier, dan 1 anak
penderita buta warna. Jadi dari hasil persilangan diatas ratio fenotip F2 yaitu 1:2:1. Jadi
peluang lahir anak perempuan carrier sebesar 50%, peluang anak laki-laki normal 25%, dan
peluang anak buta warna 25%.

3. Perkawinan antara wanita buta warna (XcXc) dengan laki-laki normal (XCY)
P : ♀ XcXc >< ♂ XCY
G : Xc XC,Y
F1 XCXc X cY
(carrier) (buta warna)
Dari persilangan diatas menunjukkan bahwa bila seorang wanita buta warna kawin
dengan laki-laki normal maka akan menghasilkan keturunan pertama yaitu wanita normal
carrier (XCXc) dan laki-laki buta warna (XcY). Namun pada kenyataannya, jika seorang penyidap
buta warna itu adalah ibunya, maka akan diwariskan secara silang pada anak laki-lakinya. Hal
ini disebabkan karena yang membawa penyakit adalah gonosomnya (kromosom kelamin). Dan
dari diagram diatas dapat diketahui perbandingan ratio fenotipnya sebesar 1:1
sehingga peluang lahir anak perempuan normal carrier sebesar 50% dan peluang lahir anak
laki-laki buta warna sebesar 50%.
Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya, maka dari keturunan hasil F1
disilangkan lagi dengan hasil sebagai berikut:
Dengan F1: ♀ XCXc(carrier) ♂XcY(buta warna)
Maka : P : ♀ XCXc >< ♂ XcY
G: XC,Xc Xc,Y
F1: XCXc(carrier) XcXc(buta warna)
XCY(normal) XCY(normal)
Artinya dari hasil persilangan F1 didapatkan F2nya, bila ada seorang wanita carrier dikawinkan
dengan laki-laki normal akan menghasilkan 1 anak carrier, 2 anak normal dan 1 anak penderita.
Jadi dari hasil persilangan diatas ratio fenotip F2 yaitu 1:2:1. Maka peluang lahir anak
perempuan carrier sebesar 25%, anak laki-laki normal sebesar 50% dan peluang anak buta
warna 25%.

4. Perkawinan antara wanita normal (XCXC) dengan laki-laki buta warna (XcY)
P : ♀ XCXC >< ♂ XcY
G: XC Xc,Y
F1: XCXc(carrier) XCY(normal)
Dari persilangan diatas dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita normal kawin
dengan laki-laki buta warna kana menghasilkan keturunan XCXc(carrier) dan XCY(normal).
Perkawinan tersebut mempunyai perbandingan ratio fenotip sebesar 1:1, sehingga peluang
anak laki-laki normal sebesar 50% dan anak perempuan carrier sebesar 50%. Adapun yang
menurunkan sifat buta warna adalah gen ayah.
Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya maka dari keturunan hasil F1
disilangkan lagi dengan hasil sebagai berikut:
Dengan F1 = ♀ XCXc(carrier) dan ♂ XCY(normal)
Maka : P : ♀ XCXc >< ♂ XCY
G: XC,Xc XC,Y
F1: XCXC(normal) XCXc(carrier)
XCY(normal) XcY(penderita)
Artinya dari hasil persilangan F1 didapatkan F2nya, bila ada seorang wanita carrier kawin
dengan laki-laki normal akan menghasilkan 1 anak carrier, 2 anak normal, dan 1 anak
penderita. Jadi dari hasil persilangan diatas ratio fenotip F2nya yaitu 1:2:1. Maka peluang lahir
anak perempuan carrier sebesar 25%, anak laki-laki normal sebesar 25%, anak perempuan
normal 25%, dan anak laki-laki penderita 25%.

5. Perkawinan antara wanita carrier (XCXc) dengan laki-laki buta warna (XcY)
P : ♀ XCXc >< ♂ XcY
G : XC,Xc Xc,Y
F1: XCXc(carrier) XcXc(buta warna)
XCY(normal) XcY(penderita)
Dari persilangan diatas menunjukkan bahwa bila ada seorang wanita carrier kawin
dengan laki-laki buta warna maka akan menghasilkan keturunan pertama(F1) antara lain wanita
carrier (XCXc), laki-laki normal (XCY), wanita buta warna (XcXc), dan laki-laki buta warna (XcY).
Dan dari persilangan dapat diketahui ratio fenotip (F1) yaitu 1:2:1 sehingga peluang lahir anak
normal sebesar 25%, anak normal carrier 25% dan anak buta warna sebesar 50%.
Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya maka dari keturunan hasil F1
disilangkan lagi dengan hasil sebagai berikut:

Dengan F1 = ♀ XCXc(carrier) XcXc(buta warna)


XCY(normal) XcY(penderita)
Maka :
Misal P : ♀ XcXc >< ♂ XCY
G: Xc XC,Y
F2: XCXc(carrier)
XcY(penderita)
Artinya dari hasil persilangan F1didapatkan F2nya, bila ada seorang wanita buta warna (XcXc)
dengan laki-laki normal akan menghasilkan 1 anak carrier dan 1 anak penderita. Jadi dari hasil
persilangan diatas ratio fenotip F2 yaitu 1:1. Maka peluang lahir anak perempuan carrier
sebesar 50% dan anak laki-laki penderita sebesar 50%. Maka dapat disimpulkan yang
menurunkan sifat buta warna adalah gen ibu, walaupun ayahnya normal.
6. Perkawinan antara wanita buta warna (XcXc) dengan laki-laki buta warna (XcY)
P : ♀ XcXc >< ♂ XcY
G: Xc Xc,Y
F1: XcXc(buta warna) , XcY(buta warna)
Dari hasil persilangan diatas dapat diketahui apabila ada seorang wanita buta warna
kawin dengan laki-laki buta warna maka keturunan F1 100% buta warna (baik laki-laki maupun
perempuan). Jadi tidak pernah bisa menghasilkan keturunan yang normal karena semua
parentalnya penderita buta warna (buta warna merupakan penyakit yang diturunkan).

Jawaban Permasalahan
1. Presentase wanita yang buta warna 100% dan laki-laki buta warna 100%.

Berdasarkan teori yang ada menyebutkan bahwa Menurut Kalat (2010), buta warna
merupakan penyakit keturunan yang terekspresi pada pria, tetapi tidak pada wanita.
Wanita secara genetis sebagai carrier. Hal tersebut sesuai dengan data hasil observasi
yang dilakukan pada anak SD kelas 4 yang didapatkan beberapa anak laki-laki kurang
mampu untuk menjawab semua angka yang ada dalam buku Ishihara dengan benar
100%. Anak laki-laki lebih kurang mampu menjawab dengan benar daripada pada anak
perempuan.

2. Perkawinan antara wanita normal dengan laki-laki normal.

P : ♀ XCXC >< ♂ XCY

G: XC XC . Y

F1: X CX C , X CY

(NORMAL) (NORMAL)
Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita normal dengan
laki-laki normal akan menghasilkan keturunan XCXC (wanita normal) dan XCY (laki-laki
normal). Perkawinan tersebut mempunyai perbandingan ratio fenotip 1:1, bahwa
kemungkinan semua anaknya normal 100%, akan tetapi anak wanitanya normal
heterozigotik/carrier 50% dan anak laki-lakinya normal 50%.
Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya maka dari keturunan F1 dikawinkan
lagi.
Perkawinan antara wanita carrier (XCXc) dengan laki-laki normal (XCY)
P: ♀ XCXc >< ♂ XCY
G: XC XC
Xc Y
F1: XCXC(normal) XCXc(carrier)
XCY(normal) XcY(penderita)
Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita carrier kawin
dengan laki-laki normal maka akan menghasilkan dua anak normal,satu anak carrier,
dan satu anak penderita buta warna. Jadi dari hasil persilangan diatas perbandingan
ratio fenotip(F1) yaitu 1:2:1. Sehingga peluang lahir anak normal 50%, peluang lahir
anak perempuan carrier 25% dan pekuang anak buta warna sebersar 25%. Dan dapat
diketahui pula yang menurunkan sifat buta warna adalah gen ibu.
3. Silsilah keluarga
Ibu : wanita carier = XCXc
Ayah : laki-laki normal = X CY
Perkawinan antara wanita carrier (XCXc) dengan laki-laki normal (XCY)
P: ♀ XCXc >< ♂ XCY
G: XC XC
Xc Y
F1: X X (normal) XCXc(carrier)
C C

XCY(normal) XcY(penderita)
Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ibu seorang wanita carrier dan ayah
laki-laki normal maka akan menghasilkan keturunan dua anak normal, satu anak carrier,
dan satu anak penderita buta warna. Jadi dari hasil persilangan diatas perbandingan
ratio fenotip (F1) yaitu 1:2:1. Sehingga peluang lahir anak normal 50%, peluang lahir
anak perempuan carrier 25% dan peluang anak buta warna sebesar 25%. Dalam
keluarga saya, saya (perempuan) merupakan wanita normal, dan kakak laki-laki saya
penderita buta warna parsial yang susah untuk membedakan warna hijau dan merah.

F. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa:
3. Semua probandus yang diteliti tidak buta warna, dengan genotip laki-laki XY dan genetip
perempuan XX atau XXC(carrier)
4. Buta warna lebih banyak diderita oleh laki-laki daripada perempuan.
c
5. Buka warna adalah suatu penyakit keturunan yang disebabkan oleh gen resesif yang
terdapat pada kromosom X.
6. Hasil keturunan dari contoh persilangan
Wanita carrier (XCXc) dengan laki-laki normal (XCY) akan menghasilkan keturunan 2 anak
normal, 1 anak carrier, dan 1 anak buta warna dengan perbandingan fenotip sebesar
1:2:1 sehingga peluang lahir anak normal sebesar 50%, perempuan carrier sebesar 25%
dan peluang anak laki-laki buta warna sebesar 25%.
7. Yang menurunkan sifat buta warna adalah gen ibu.
G. Daftar Pustaka

Kalat, James W. 2010. Biopsikologi Edisi 9 (Diterjemahkan oleh Dhamar Pramudito).


Jakarta: Salemba Humanika.

Pinel, John P.T. 2009. Biopsikologi Edisi Ketujuh (diterjemahkan oleh Helly P Soetjipto dan
Sri M Soetjipto). Yogyakarta: Pustaka Pelopor.

Widyastuti, M., Suyanto, Yulianto, F. 2004. Tes Buta Warna Berbasis Komputer. Jurnal
Teknik Informatika.

Widianingsih, R. Kridalaksana, A. Hakim, Ahmad. 2010. Aplikasi Tes Buta Warna Dengan
Metode Ishihara Berbasis Komputer. Jurnal Informatika Mulawarman Vol 5 No.1