Anda di halaman 1dari 22

7

a) Tanda tidak pasti hamil

Adalah perubahan-perubahan fisiologi yang dapat dikenali

dari pengakuan atau yang dirasakan oleh wanita hamil, tandanya

adalah:

(1) Amenorea (berhentinya menstruasi)

(2) Mual (nause) dan muntah (emesis)

(3) Pingsan

(4) Kelelahan

(5) Payudara tegang

(6) Sering buang air kecil

(7) Konstipasi

(8) Pigmentasi kulit

(9) Varises

b) Tanda kemungkinan hamil

Adalah perubahan-perubahan fisiologis yang dapat diketahui

oleh pemeriksaan fisik kepada wanita hamil. Tandanya adalah:

(1) Pembesaran perut

(2) Randa hegar

(3) Tanda goodel

(4) Tanda chadwick

(5) Tanda piscasek

(6) Kontraksi Barxton-hicks

(7) Tanda ballottement


8

(8) Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif

c) Tanda pasti hamil

Adalah tanda yang menunjukan langsung keberadaan janin

dapat dilihat langsung oleh pemeriksa, tandanya adalah:

(1) Gerakan janin dalam rahim

(2) Denyut jantung janin

(3) Bagian-bagian janin

(4) Terlihat bentuk janin pada pemeriksaan USG

(5) Keluhan normal yang biasa terjadi dalam kehamilan

2. Perubahan perubahan yang terjadi dalam kehamilan yaitu :

a. Sistem endoktrin

Perubahan fisiologi dalam kehamilan salah satunya dipengaruhi

oleh perubahan sekresi hormone. Adanya hCG yang diproduksi oleh

sel-sel trofoblas menyebabkan peningkatan produksi ovarium steroid

hormone . Pada saat kehamilan, fungsi endoktrin dari plasenta

menjadi lebih luas untuk menghasilkan hormone maupun releasing

factor. (Bayu Irianti, dkk, 2014).

b. Sistem reproduksi

Selama kehamilan uterus merupakan organ yang sangat jelas

mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi pada badan uterus

meliputi bagian desidua, miometrium dan perimetrium. Penebalan dan

peningkatan vaskuleritas lapisan uterus atau desidua dipengaruhi oleh

hormone progesterone dan esterogen, terutama didaerah fundus dan


9

bahan uterus. Pada awal kehamilan, esterogen mempengaruhi

miometrium sehingga mengalami peningkatan jumlah sel akibat

penebalan dan peningkatan ukuran (Bayu Irianti, dkk 2014).

c. Kardiovaskuler

Selama kehamilan dan masa nifas, jantung dan sirkulasi

mengalami adaptasi fisiologi. Perubahan pada fungsi jantung mulai

tampak selama 8 minggu pertama kehamilan (Mc Laughlin dan

Robert, 1999). Curah jantung meningkat bahkan sejak minggu kelima

dan mencerminkan berkurangnya resistensi vaskuler sistemik dan

meningkatnya kecepatan jantung. Kecepatan nadi istirihat meningkat

sekitar 10 denyut/menit selama kehamilan (Stein, dkk, 1999) dalam

(Bayu Irianti, dkk, 2014).

d. Sistem pernapasan

Beberapa penelitian menyebabkan bahwa konsumsi oksigen

meningkat sebesar 30% sampai 40% selama kehamilan, kenaikan

progresif terutama disebabkan kebutuhan metabolisme janin, uterus,

plasenta yang kedua untuk meningkatkan kerja jantung dan

pernapasan. Produksi karbon dioksida menunjukan perubahan yang

sama dibandingkan konsumsi oksigen (Marcos, 2004) dalam (Bayu

Irianti, dkk, 2014).

e. Payudara

Kehamilan akan memberikan efek membesarnya payudara yang

disebabkan oleh peningkatan suplai darah, stimulasi oleh sekresi


10

estrogen dan progesterone dari kedua korpus luteum dan plasenta dan

terbentuknya duktus asini yang baru selama kehamilan. Pada awal

kehamilan, ibu akan merasakan perasaan panas dan nyeri pada

payudara, kemudian seiring bertambahnya usia kehamilan, payudara

akan memebesar dan akan tampak vena-vena halus pada kulit.

Sirkulasi vaskuler meningkat, puting membesar dan terjadi

hiperpigmentasi areola.

f. Sistem perkemihan

Perubahan terjadi secara signifikan pada system perkemihan

selama kehamilan, selain mengelola zat-zat sisa dan kelebihan yang

dihasilkan akibat peningkatan volume darah dan curah jantung organ

perkemihan juga mengelola produksi produk sesa metabolisme dan

menjadi organ terutama yang mengeksresikan sisa dari janin.

Setelah 12 minggu kehamilan, progesterone dapat menyebabkan

pelebaran dan atonia pada ginjal dan ureter. Dengan adanya kemajuan

kehamilan, rahim yang memebesar dapat menekan ureter saat

melewati tepi panggul dan menyebabkan dilatasi lebih lanjut dengan

menghalangi aliran ureter. Perubahan ini dapat menyebabkan

frekuensi saluran kemih selama kehamilan (Fitri Duhita, dkk, 2014).

g. Sistem Pencernaan

Adanya kehamilan menyebabkan beberapa perubahan pada

system pencernaan maternal akibat menjadi penekanan disekitar

rongga abnominal karena pembesaran uterus, serta perubahan estrogen


11

dan progesterone. Kondisi ini membutuhkan penyesuaian tubuh secara

anatomis dan fisiologi untuk mendukung kecukupan pemenuhan

nutrisi fetal maupun maternal. Perubahan system pencernaan pada ibu

terjadi pada traktus gastrointestinal maupun pada organ asesoris

lainnya (kelenjar saliva, pancreas, liver dan kantong empedu). Dalam

aktivitasnya, fungsi traktus gastrointestinal salah satunya diatur oleh

beberapa jenis pepsida, termasuk hormone (estrogen dan

progesterone). Perubahan yang terjadi pada system pencernaan dan

kondisi yang menyertainya (Nova Yulita, dkk, 2014).

h. Metabolisme

Sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan janin dan

plasenta yang utmbuh pesat, ibu hamil menglami perubahan metabolic

yang besar dan intens. Pada trimester ke-3, laju metabolic basal ibu

meningkat sebanyak 10% pada wanita dengan kehamilan kembar

(Shinagawa, dkk, 2006). Tambahan kebutuhan total energy selama

kehamilan diperkirakan mencapai 80.000 kkal atau sekitar 300 kkal/

hari (hytten dan Chamberlin, 1991) dalam (Yuliza Angraeni, 2014).

i. Sistem muakuloskeletal

Dalam keadaan hamil sistrem musculoskeletal banyak mengalami

perubahan uterus sebagai kompensasi sebagai kompensasi posisi

anterior menyesuaikan gravitasi ekstermitas bawah. Lordosis

berlebihan dari punggung bawah, fleksi ke depan leher, dan gerakan

kebawah dari bahu biasanya terjadi untuk mengkompensasi rahim


12

yang membesar dan dan perubahan pusat gravitasi. Selain itu

ketidaknyamanan ini karena adanya ketegangan yang meningkat pada

otot-otot dan ligament yang mendukung tulang punggung (Wang dan

Apgar, 1998). Kelemahan di ligament dari tulang belakang

menciptakan ketidakstabilan ditulang belakang rentan menyebabkan

ketegangan otot. Diperkirakan bahwa hamper semua wanita

mengalami ketidak nyamanan terkain musculoskeletal selama

kehamilan, dan hanya 25% tidak mengeluhkan ketidak nyamanan

tersebut (Borg, 2005) dalam (Fitria Duhita, dkk, 2014).

j. Kulit

Meningkatnya aliran darah kekulit selama kehamilan meningkat

kelebihan panas yang terbentuk karena meningkatnya metabolisme.

Penyebab pigmentasi kulit belum jelas hingga kini, dugaan bahwa

progsteron dan estrogen memiliki efek menstimulasi melanosit (Fitri

Duhita, dkk, 2014).

k. Perubahan Sistem-Sistem Lain

1) Mata

Selama kehamilan tekanan intraocular menurun, sensivitas kornea

berkurang. Pada akhir kehamilan terjadi perubahan yaitu

peningkatan ketebalan kornea yang diduga karena oedema.

Intraocular mengalami menurunan sebesar 19,6%. Sekitar 35%

dari total penurunan tejadi antara minggu ke-12 dan ke-18

kehamilan (Qureshi, 1997) dalam (Bayu Irianti, 2014).


13

2) Susunan Syaraf Pusat

Pada trimester tiga kehamilan sebagai wanita hamil mengalami

penurunan daya ingat, namun hal ini bersifat sementara dan akan

pulih setelah kehamilan berakhir.

3) Pola Istirahat

Pada kehamilan 12 minggu hingga 2 bulan pasca persalinan ibu

hamil mengalami kesulitan tidur yang bias menyebabkan depresi

postpasrtum.berdasarka penelitian Liora Kempler (2012), ada

hubungan yang signifikan antara gangguan tidur kualitas buruk

dan depresi, yang telah mengarah pada consensus bahwa ada

hubungan dua arah antara tidur dan seasana hati. Peneliti telah

mengemukakan bahwa gangguan tidur adalah factor lain yang

dapat yang dapat berkontribusi pada kecendrungan bagi

perempuan untuk menjadi depresi dalam periode postpartum

dibandingkan dengan periode lain. Pasca Natal Depression (PDN)

umumnya terjadi pada 15,5% yang berhubungan dengan gangguan

tidur, namun tidak ad apenelitian yang mencoba untuk

memeberikan memberikan intervensi tidur yang difokuskan untuk

wanita hamil dan menilai apakah ini dapat meningkatkan tidur,

dan suasana hati ibu setelah melahirkan. Adanya pendidikan

kesehatan tentang postpartum.


14

3. Keluhan Saat Kehamilan yaitu :

a. Keluhan trimester 1

1) Mual muntah

2) Hipersalivasi

3) Pusing

4) Mudah lelah

5) Hertburn

6) Peningkatan frekuensi berkemih

7) Konstipasi

8) Psikologis

b. Keluhan trimester II

1) Pusing

2) Sering berkemih

3) Nyeri perut bawah

4) Nyeri punggung

5) Flek kecoklatan pada wajah dan sikaratik

6) Sekret vagina

7) Konstipasi

8) Penambahan berat badan

9) Pergerakan janin

c. Kehamilan trimester III


15

1) Sering berkemih

2) Vasises

3) Wasir

4) Sesak nafas

5) Bengkak dan keram pada kaki

6) Gangguan tidur dan mudah lelah

7) Nyeri perut bawah

8) Hertburn

9) Kontraksi braxton hicks

4. Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual muntah pada ibu hamil

trimester pertama yang menjadi setiap saat (Wiknjosastro,2007).

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita

hamil hingga mengganggu aktivitas. Batasa mual dikatakan lebih dari 10

kali muntah dengan penurunan keadaan umum ibu (Erna Setiayanungrum,

2017).

Nausea dan vomitus yang berat serta tidak dapat diatasi dan bertahan

sesudah trimester pertama. Biasanya hiperemesis gravidarum terjadi pada

kehamilan dan umumnya mengenai ibu hamil dengan keadaan yang

mengakibatkan kadar HCG yang tinggu seperti pada penyakit trofoblastik

kehamilan atau k ehamilan kembar (Lockhart, 2014).

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada

wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada


16

umumnya menjadi buruk karena terjadi pada pagi hari, tetapi dapat timbul

setiap sat dan bahkan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6

minggu setelah hari pertama haid dan berlangsung selama kurang lebih 10

minggu. Hiperemesis gravidarum (vomitus yang merusak dalam khamilan)

adalah nousea dan vomitus dalam kehamilan yang berkembang

sedemikian luas sehingga menjadi efek sistemik, dehidrasi dan penurunan

berat badan. Hiperemesis gravidarum diartikan sebagai muntah yang

terjadi secara berlebihan selama kehamilan (Niwang Ayu, 2016).

a. Etiologi

Pada tubuh wanita yang hamil terjadi perubahan-bahan yang

cukup besar yang ungkin merusak keseimbangan didalam badan.

Misalnya saja yang dapat menyebabkan mual dan muntah ialah

masuknya bagian-bagian villus ke dalam peredaran darah ibu,

perubahan endokrin misalnya hypofungsi cortex gl suprarenalis,

perubahahan matabolik dan kurangnya pergerakan lambung. Pada

hyperemesis yang berat dapat diketemukan necrose dibagian central

lobus hati degenerasi lemak pada hati. Kelainan ini rupa-rupanya

disebabkan oleh kelaparan bukan oleh adanya toxin-toxin. Mungkin

juga terdapat kelainan degenerative pada ginjal. Kadang-kadang ada

polyneuritis akibat kekurangan vit B karena muntah. Secara pendek

etiologi belum jelas, tetapi faktor psychis sangat mempengaruhi

penyakit ini (Erna Styaningrum, 2017).


17

Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti.

Frekuensi kejadian adalah 2 per 1000 kehamilan. Faktor-faktor

predisposisi yang dikemukakan:

1) Pada umumnya terjadi pada primigravida, mola hidatidosa,

diabetes dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar HCG

2) Faktor organik, yaitu karena masuknya viki khoreales dalam

sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat kehamilan serta

resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan-

perubahan ini serta adanya alergi yaitu merupakan salah satu

respon dari jaringan ibu terhadap janin.

3) Faktor psikologi, keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan,

takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memeliki tanggung

jawab, dan sebagainya.

4) Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah

tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan

dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebai ibu dapat

menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan

muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhdap keengganan menjadi

hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.

5) Faktor endoktrin lainnya: hypertiroid, diabetes dan lain-lain

(Niwang ayu, 2016).

b. Patologi
18

Pada otopsi wanita meninggal karena hiperemesis gravidarum

diperoleh keterangan bahwa terjadinya kelainan pada oragan-organ

tubuh adalah sebagai berikut:

1) Hepar. Pada tingkat ringan ditemukan degenerasi lemak

sentrilobuler tanpa nekrosis.

2) Jantung. Jantung atrofi, menjadi lebih kecil dari biasanya, kadang

kala dijumpai perdarahan sub-endokradial.

3) Otak. Terdapatbercak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan

seperti pada ensepalopati wirnicke.

4) Ginjal. Ginjal tampak pucat dan degenerasasi lemak dapat

ditemukan pada tubuli kontorti (Niwang ayu, 2016).

c. Patofisilogi

Peningkatan kadar esterogen dapat menyebabkan mual pada

trimester pertama. Apabila mualmuntah terjadi terus menerus dapat

mengakibatkan cadangan karbohidrat, dan lemak habis terpakai untuk

keperluan energi. Sehingga oksidasi lemak tidak sempurna, da terjadi

ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida dan

aseton darah. Mual dapat dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan

plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Dehidrasi juga

menyebabkan hemokosentrasi, sehingga aliran jaringan berkurang.

Selain terjadi dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, terjadi

pula robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma


19

molarry-weiss) yang berakibat perdarahan gastrointestinal (Erna

Styaningrum, 2017).

Patofisiologi hiperemesis gravidarum dapat disebabkan karena

peningkatan Hormone Chorionic Gonodhotropin (HCG) dapat menjadi

faktor mual dan muntah. Peningkatan kadar hormon progesteron

menyebabkan otot polos pada sissstem gastrointestinal mengalami

reaksi sehingga motilitas menurun dan lambung menjadi kosong

Hiperemesis Gravidarum yang merupakan komplikasi ibu hail muda

bila terjadi terus menerus dapat mengakibatkan dehidrasi,

ketidakseimbangan elektrolit, serta dapat mengakibatkan cadangan

karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi.

Pada beberapa kasus berat, perubahan yang terjadi berhubungan

dengan malnutrisi dan dehidrasi yang menyebabkan terdapatnya non

protein nitrogen, asam urat, dan penurunan klorida dalam darah,

kekurangan vitamin B1, B6, B12, dan dapat mengakibatkan terjadinya

anemia (Mitayani, 2012).

d. Tanda dan Gejala

Menurut Niwang Ayu (2016) batas mual dan muntah berapa

banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan.

Ada yang mengatakan bila lebih dari sepuluh kali muntah . akan tetapi

bila keadaan umum ibu terpengaruh diangggap sebagai hiperemesis

gravidarum. Menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga

tingkatan, yaitu:
20

1) Tingkat 1 (ringan)

a) Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan

umum penderita.

b) Ibu merasa lemah

c) Nafsu makan tidak ada

d) Berat badan menurun

e) Merasa nyeri pada epigastrium

f) Nadi meningkat sekitar 100 per menit

g) Tekanan darah menurun

h) Turgor kulit berkurang

i) Lidah mengering

j) Mata cekung

2) Tingkat II (sedang)

a) Penderita tampak lebih lemah dan apatis

b) Turgor kulit mulai jelek

c) Lidah mengering mulai jelek

d) Lidah mengeringdan dan tampak kotor

e) Nadi kecildan cepat

f) Suhu badan naik (dehidrasi)

g) Mata mulai ikterik

h) Berat badan turun dan mata cekung

i) Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan kontipasi

j) Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria


21

3) Tingkat III (berat)

a) Keadaan umum lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen

sampai koma)

b) Dehidrasi hebat

c) Nadi kecil, cepat dan halus

d) Suhu badan meningkat dan tensi turun

e) Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal

dengan enselopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia

dan penurunan mental

f) Timbul ikterus yang menunjukan adanya payah hati.

e. Diagnosis

Menetapkan kejadian hiperemesis gravidarum tidak sukar, dengan

menetukan kehamilan, muntah berlebihan sampai menimbulkan

gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah yang terus

menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh

kembang janin dalam rahim dengan manifestasi klinisnya, oleh karena

itu hiperemesis gravidarum berkelanjutan harus dicegah dengan harus

mendapat pengobatan yang adekuat (Rukiyah, 2014).

Menurut Nugroho (2012) amenore yang disertai muntah hebat

atau segala yang dimakan dan diminum akan dimuntahkan, pekerjaan

sehari-hari terganggu dan haus hebat. Fungsi vital nadi meningkat

tekana darah menurun dan gangguan kesadaran.

f. Komplikasi
22

Komplikasi yang mungkin terjadi menurut Lockhart (2014) adalah

sebagai berikut:

1) Penuruna berat badan yang begitu banyak

2) Dehidrasi dengan selanjutnya gangguan keseimbangan cairan dan

cairan elektrolit

3) Gangguan keseimbangan asam basa.

g. Pencegahan

Prinsip pencegahan menurut Rukiyah (2013), adalah dengan

memberikan edukasi tentang diet dan gaya hidup untuk mengurangi

gejala dan meningkatkan kualitas hidup ibu hamil. Diet ibu hamil yaitu

dengan makan sedikit-sedikit tapi sering, kaya akan karbohidrat dan

rendah lemak, memberikan makanan selingan seperti biskuit dengan

teh hangat saat bangun dan sebelum tidur, mengindari makanan yang

berlemak dan berbau. Makan sebiknya dalam keadaan panas atau

sangat dingin. Edukasi gaya hidup bisa dengan istirahat dan hubungan

emosional.

Menurut Niwang Ayu (2016) pencegahan terhadap hiperemesis

gravidarum diperlukan dengan jalan memberikan penerapan tentang

kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologis. Hal itu

dapat dapat dilakukan dengan cara:

1) Memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan

gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang

setelah kehamian berumur 4 bulan.


23

2) Ibu dianjurkan untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan

makanan dalam jumlah kecil terapi sering.

3) Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi

dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh

hangat.

4) Hidari makanan yang berminyak dan berbau lemak.

5) Makan makanan dan minuman yang disajikan jangan terlalu

panas atau terlalu dingin.

6) Usaha defekasi teratur.

h. Penatalaksanaan

Bila pencegahan tidak berhasil, maka dilakukan pengobatan yaitu:

1) Terapi obat menggunakan sedatif, yang sering diberikan adalah

Pohenobarbital. Vitamin yang dianjurkan adalah B1, B2, B6. Pada

keadaan lebih berat diberikan antihistamika seperti disklomin,

hidrokloride, dan avomin.

2) Isolasi, penderita disendirikan dalm kamar dalam kamar yang

tenang, tetapi cerah dan peredaran darah yang baik. Catat cairan

yang keluar dan masuk. Hanya dokter dan perawat yang boleh ke

dalam kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita

mau makan. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala

akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.

3) Terapi psikologik, perlu diyakinkan kepada penderita bahwa

penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena


24

kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan

konflik yang kiranya dapan menjadi latar belakang penyakit ini.

4) Diet, penekanan karbohidrat kompleks terutama pada pagi hari,

serta menghidari makanan yang berlemak gorengan untuk

menekan rasa mual dan muntah (Rukiyah, 2014).

B. Teori Manajemen Kebidanan

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan

sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tidakan berdasarkan

teori ilmiah. Proses penatalaksaan asuhan kebidanan atau manajemen

kebidanan merupakan langkah-langkah yang berurutan dimulai dari

pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan evaluasi (Rismalinda, 2014).

Dalam penyusunan srudi kasus ini, penulis akan menerapkan manajemen

asuhan kebidanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan hiperemesis

gravidarum menggunakan 7 langkah varney yang dapat digunakan untuk

memecahkan masalah yang terjadi dan bagaimana asuhan yang

diberikankepada ibu hamai dengan hiperemesis gravidarum. Proses menurut

Varney memiliki 7 langkah yang dimulai dari pengumpulan data dasar sampai

pada evaluasiasuhan yang diberikan. 7 langkah Varney tersebut adalah:

1. Langkah 1 : Pengkajian

Pengkajian adalah pertama yang dipakai dalam menerapkan asuhan

kebidanan yang bertujuan untuk mengumpulkansemua informasi yang

akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

2. Langkah II : Interpretasi Data


25

Interpretasi data adalah langkah kedua yang dilakukan untuk

mongidentifiklasi yang benar terhadap diagnosis/masalah dan kebutuhan

klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data telah dikumpulkan

(Rukiyah, 2014).

3. Langkah III : Diagnosa Potensial

Dalam langkah ini digunakan untuk mengidentifikasi masalah atau

iagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang

telah diidentifikasi lngkah ini membutuhkan antisipasi, bila

memungkinkan dilakukan pencegahan, bidan dapatbersiap-siap bila

diagnosa atau masalah potensial benar-benar menjadi (Rukiyah, 2014)

4. Langkah IV : Antisipasi

Pada langkah ini, yang dilakukan bidan adalah mengidentifikasi

perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasi atau

ditangani bersama dengaanggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi

yang lain masih bisa menunggu beberapa waktu lagi contohnya pada

kasus-kasus kegawatdaruratan kebidanan, seperti perdarahan yang

memerlukan tindakan KBI dan KBE (Betty Mangkuji, dkk, 2013).

5. Langkah V : Perencanaan Asuhan yang Menyeluruh

Pada langkah ini, direncanakan asuhan yang menyeluruh yang

ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Rencana asuhan

yang menyeluruh tidak hanya meliputi hal yang sudah teridentifikasi dari

kondisi klien atau dari setiap atau dari setiap masalah yang berkaitan,

apakah dibutuhkan konseling dan apakah perlu merujuk klien. Setiap


26

asuhan yang direncanakan harus disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu

bidan dan pasien (Betty Mangkuji, dkk, 2013).

6. Langkah VI : Pelaksanaan

Pada keenam ini, kegiatan yang dilakukan adalah melaksanankan

rencana asuhan yang sudah dibuat pada langkah ke-5 secara aman dan

efesien. Kegiatan ini bisa dilakukan oleh bidan atau anggota tim kesehatan

yang lain. Jika bidan tidak melakukan sendiri, bidan tetap memikul

tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaanya. Dalam situasi ini,

bidan harus berkolaborasi dengan tim kesehatan lain atau dokter. Dengan

demikian, bidan harus bertanggung jawab atas terlaksananya rencana

asuhan yang menyeluruh yang telah dibuat bersama tersebut (Betty

Mangkuji, dkk, 2013).

7. Langkah VII : Evaluasi

Pada langkah terakhir ini, yang dilakukan oleh bidan dalah:

a. Melakukan evaluasi kefekyifan asuhan yang sudah diberikan, yang

mencakup pemenuhan kebutuhan, untuk menilai apakah sudah benar-

benar terlaksana/terpenuhi sesuai dengan kebutuhan yang telah

teridentifikasi dalam masalah dan diagnosis ( Betty Mangkuji, dkk,

2013).

b. Mengulang kembali darinawal setiap asuhan yang tidak efektif untuk

mengetahui mengapa proses manajemen ini tidak efektif. 7 soap.

Data perkembangan untuk asuhan kebidanan menggunakan metode

SOAP menurut Rismalinda 2014) yaitu :


27

a) S: Subjek Data, mengambarkan pendokumentasian hasil

pengumpulan data klien dan keluarga melalui anamnesa sebagai

langkah 1 Varney.

b) O: Objektif Data yaitu menggambarkan pendokumentasian hasil

pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan diagnostik yang

dirumusjkan dalam fokus untuk mendukung asuhan sebagai

langkah 1 Varney

c) A: Analisa data yaiu mengambarkan pendokumentasian hasil

analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu

identifikasi, diagnosa atau masalah, antisipasi diagbosa dan

masalah potensial, perlunya tindakan segera oleh bidan atau

dokter, konsultan atau kolaborasi dan rujukan sebagai langkah 2, 3,

4 Varney.

d) P: Pelaksanaan yaitu menggambarkan pendokumentasian dari

perencanaan, tindakan Implementasi (I) dan Evaluasi (E)

berdasarkan Assesmwnt sebagai langkah 5,6 dan 7 Varney.


28

Bagan 2.1

Alur pikir bidan dari varney ke SOAP

Alur pikir Bidan


Pencatatan Dari Asuhan

Proses manajemen Kebidanan

Dokumentasi Asuhan Kebidanan

7 Langkah Varney 5 Langkah


(Kompresi Bidan) SOAP NOTES

Data Data Subjek, Objektif

Analisa dan
intrspretasi data
Masalah/diagnosa Asesment / diagnosis 1. Diagnosis
2. Antipasi diagnosis/masalah
Antipasi potensial
Diagnosis/masalah 3. Tindakan segera
Potensial
Kebutuhan segera
Untuk konsultasi, potensial
Planning :
Perencanaan Perencanaan 1. Asuhan mandiri
2. Kolaboratif
3. Tes diagnosit / leb
4. Konseling
Implementasi Implementasi 5. Follow up