Anda di halaman 1dari 39

Kkm 11 sep – 08 okt 2017

Retinopati
Prematuritas
Aisyah Nurul Shafira
Annisaa Syahfitri
Edwin Jehezkiel Ngantung
Marnie Christine Ondang
Pieters Manaek Tua Bakara
Rahdian Husa
Rizka Matoka

Supervisor Pembimbing : Dr. dr. Vera Sumual, Sp.M (K)


Latar Belakang
• Retinopati prematuritas (ROP)  pertama
kalinya digambarkan oleh Terry pada tahun
1940 sebagai Retrolental Fibroplasia.
• Sebanyak 7000 anak di Amerika Serikat
mengalami kebutaan akibat ROP. Lebih dari
50.000 anak di seluruh dunia setiap tahunnya
dibutakan oleh ROP.

Tejiro B,2006. Retinopathy of prematurity. Dalam: arch soc esp oftalmol; 81:129-130.
Gargely K,2010. Retinopathy of prematurity-epidemics, incidence, prevalence, blindness. Faculty of medicine, comenicus university
Bratistava, Slovakia.
Latar Belakang
• Hubungan antara umur kehamilan yang
rendah, hambatan pertumbuhan, faktor
pertumbuhan tergantung pada oksigen, dan
hiperoksia yang terjadi harus lebih jelas
dipahami.
• Retinopati prematuritas terjadi akibat
kepekaan pembuluh darah retina di masa
perkembangan terhadap oksigen dengan
konsentrasi tinggi.
Tejiro B,2006. Retinopathy of prematurity. Dalam: arch soc esp oftalmol; 81:129-130.
Gargely K,2010. Retinopathy of prematurity-epidemics, incidence, prevalence, blindness. Faculty of medicine, comenicus university
Bratistava, Slovakia.
ANATOMI DAN
EMBRIOGENESIS RETINA

Wisnuwardani F, Sovani I, et al. Perkembangan dan Struktur Retina. Pustaka Unpad. 2013. [cited: 14 September
2017]. Available from:
http://repository.unpad.ac.id/17004/1/pustaka_unpad_perkembangan_dan_struktur_retina.pdf
Embriologi

Wisnuwardani F, Sovani I, et al. Perkembangan dan Struktur Retina. Pustaka Unpad. 2013. [cited: 14 September
2017]. Available from:
http://repository.unpad.ac.id/17004/1/pustaka_unpad_perkembangan_dan_struktur_retina.pdf
embriologi
Trimester pertama

• Perkembangan dimulai pada minggu ke-empat


• Proliferasi dan diferensiasi Neuroretina, Epitel
Pigmen Retina, Sel ganglion, fotoreseptor,
membran limitans interna, membran limitans
eksterna lapisan pleksiform interna, lapisan
pleksiform eksterna, lapisan inti dalam

Wisnuwardani F, Sovani I, et al. Perkembangan dan Struktur Retina. Pustaka Unpad. 2013. [cited: 14 September
2017]. Available from:
http://repository.unpad.ac.id/17004/1/pustaka_unpad_perkembangan_dan_struktur_retina.pdf
embriologi
Trimester kedua

• Munculnya vaskularisasi retina yang


berlangsung secara cepat
• Maturasi retina

Wisnuwardani F, Sovani I, et al. Perkembangan dan Struktur Retina. Pustaka Unpad. 2013. [cited: 14 September
2017]. Available from:
http://repository.unpad.ac.id/17004/1/pustaka_unpad_perkembangan_dan_struktur_retina.pdf
embriologi
Trimester ketiga
• Diferensiasi fotoreseptor
• Perkembangan fovea
• Perkembangan vaskular retina pada bagian
perifer nasal secara umum sudah lengkap
pada bulan ke-8
• Bulan ke-9 retina sudah berdiferensiasi dengan
baik, ditandai dengan maturasi sel EPR dan
fotoreseptor
Wisnuwardani F, Sovani I, et al. Perkembangan dan Struktur Retina. Pustaka Unpad. 2013. [cited: 14 September
2017]. Available from:
http://repository.unpad.ac.id/17004/1/pustaka_unpad_perkembangan_dan_struktur_retina.pdf
PERKEMBANGAN RETINA SETELAH LAHIR

• Makula merupakan bagian permukaan okular


yang paling belum berkembang saat lahir
• Perkembangan tajam penglihatan berlanjut
dengan cepat sampai sekitar usia 4 tahun.
• Perubahan yang paling terlihat adalah
pigmentasi makula, perkembangan cincin
anular, diferensiasi refleks fovea, dan
diferensiasi fotoreseptor sel kerucut.
Wisnuwardani F, Sovani I, et al. Perkembangan dan Struktur Retina. Pustaka Unpad. 2013. [cited: 14 September
2017]. Available from:
http://repository.unpad.ac.id/17004/1/pustaka_unpad_perkembangan_dan_struktur_retina.pdf
10 LAPISAN RETINA
Dari bagian dalam vitreus, ke arah posterior) :
1. membrana limitans interna
2. lapisan serat saraf
3. lapisan sel ganglion
4. lapisan pleksiform interna
5. lapisan inti dalam
6. lapisan pleksiform eksterna
7. lapisan inti luar
8. membrana limitans eksterna
9. lapisan fotoreseptor
10. epitel pigmen retina.
Wisnuwardani F, Sovani I, et al. Perkembangan dan Struktur Retina. Pustaka Unpad. 2013. [cited: 14 September
2017]. Available from:
http://repository.unpad.ac.id/17004/1/pustaka_unpad_perkembangan_dan_struktur_retina.pdf
definisi
Retinopati prematuritas

• Persalinan preterm/prematur adalah


persalinan yang berlangsung pada usia
kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari
pertama haid terakhir (ACOG 1995).
• Retinopati pada prematuritas (RPP) adalah
suatu retinopati proliferatif pada bayi
prematur sebagai akibat terpapar pada
oksigen konsentrasi tinggi.
Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD, Preterm Birth. In: Williams Obstetrics 22nd ed. McGraw-Hill New York. 2005: 855-
73
Kansky JJ. Retinal vascular disorders. Dalam: Kansky JJ, penyunting. Clinical opthalmology. Edisi ke-3. London: Butterworth Heinemann, 1994. h. 374–6.
EPIDEMIOLOGI
• Prevalensi ROP adalah 73% di Swedia (368
dari 506 kelahiran preterm) dan 33% di
Norwegia (95 dari 290 kelahiran preterm).
• RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2007
terdapat 71 % mengalami ROP dari 20,22%
bayi preamatur lahir.

Hellström A, Smith L, Dammann O. Retinopathy of prematurity. The Lancet 2013;382:1445-57.


Lukitasari A. Retinopati pada prematuritas. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala 2012;12:118-21.
EPIDEMIOLOGI
• RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado 
September 2015-September 2016 bayi-bayi
ROP 9 dari 11 bayi laki-laki, 7 dari 11 bayi
memiliki BB < 1.500 gram, 8 dari 10 bayi
diberikan oksigen, serta 10 dari 11 memiliki
penyulit lainnya.

Taliwongso D, Sumual V, Saerang J. S. M. Hubungan Faktor Risiko Dengan Terjadinya Retinopathy Of


Prematurity (ROP). Jurnal Kedokteran Klinilk 2016;1:116-125.
ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

• Penggunaan O2
• Anemia dan Transfusi Darah
• Defisiensi Vitamin E
• Paparan Cahaya
• Karbondioksida
• Septikemia

Patz A, Palmer EA. Retinopathy of prematurity. Dalam: Schachat AP, Murphy RB, Patz A, penyunting.
Retina Volume II. St Louis: Mosby, 1989. h. 509–30.
Flynn JT. Retinopathy of prematurity. Dalam: Nelson LB, Calhoun JH, Harley RD, penyunting. Pediatric
opthalmology. Edisi ke-3. Philadelphia: Sounders, 1991. h. 59–77.
Patofisiologi
Vaskulogenesis • Penggunaan O2
Vaskulogenesis Bayi Prematur Faktor Risiko
Retina • Anemia
Retina
Abnormal • Septikemia

Hiperoksia

Pendarahan Jaringan Parut


Destruksi Lapisan
di Badan di Retina
Epitel Vaskular
Vitreus

Ablasio Retina Visus ↓ Kebutaan Strabismus

Setiawan bambang, 2007. Peroksidase lipid dan penyakit terkait stress oksidatif pada bayi premature. Dalam:
majalah kedokteran Indonesia vol.57 no.1, Jakarta 2007.
Anjli Hussain, 2004. Management of retinopathy in a tertiary care center. Dalam: Journal of the Bombay
ophtamologists association vol.3 no.1.
Skrining
• Usia kehamilan ≤ 32 minggu atau berat badan ≤
1500 gram saat kelahiran.
• Neonatus dengan usia kehamilan > 32 minggu
atau berat badan antara 1500-2000 gram saat
kelahiran yang membutuhkan suplementasi oksigen
lebih dari 1 minggu.
• Semua neonatus dengan faktor resiko seperti
pemakaian oksigen lebih dari 28 hari, sepsis,
transfusi darah berulang, sindrom gawat napas,
dan kelahiran kembar
Sari pediatri, Vol.14, No.3, Oktober 2012, Skrining Retinophaty of Prematurity di Rumah Sakit Fasilitas
Terbatas.
Pemeriksaan Fisik
• Pada pemeriksaan fisik didapatkan gambaran pada
segmen anterior bervariasi.
– Pada stadium 1-3 kemungkinan tidak didapatkan
gambaran yang khas.
– Pada stadium 4-5 bisa didapatkan leukokoria.
– Pada keadaan plus desease dapat ditemukan bendungan
pembuluh darah iris, kekakuan pupil dan kekeruhan vitreus.
• Pemeriksaan segmen posterior akan memperlihatkan
gambaran fundus yang bervariasi sesuai dengan
klasifikasi ROP.

Sari pediatri, Vol.14, No.3, Oktober 2012, Skrining Retinophaty of Prematurity di Rumah Sakit Fasilitas
Terbatas.
Diagnosis
• Pemeriksaan fundus dilakukan pada bayi yang
memiliki usia gestasi 30 minggu atau kurang;
berat lahir kurang dari 1500 g; atau berat
lahir 1500-2000 g dengan persyaratan
suplementasi oksigen atau tidak stabil
• Midriatik yang disarankan  Cyclomydril
(0,2% siklopentolat dan 1,0% phenylephrine)

American Academy of Ophtalmology. Pediatric Ophthalmology and Strabismus: Pediatric Ophtalmology. American Academy
of Ophtalmology: 2011.
Klasifikasi
Lokasi : Zone
I. Retina posterior dalam area 60∞lingkaran
dengan titik pusat N. optikus.
II. Dari cincin posterior (zone I) ke arah oraserata
nasal
III. Sisa daerah retina temporal.

American Academy of Ophtalmology. Pediatric Ophthalmology and Strabismus: Pediatric Ophtalmology. American Academy
of Ophtalmology: 2011.
Klasifikasi

Kansky JJ. Retinal vascular disorders. Dalam: Kansky JJ, penyunting. Clinical opthalmology. Edisi ke-3. London:
Butterworth Heinemann, 1994. h. 374–6.
Klasifikasi

American Academy of Ophtalmology. Pediatric Ophthalmology and Strabismus: Pediatric Ophtalmology. American
Academy of Ophtalmology: 2011.
Stadium
I. Adanya garis batas antara daerah
vaskularisasi dan non-vaskularisasi di retina.
II. Garis batas meninggi / melebar dan berisi
(ridge).
III. Ridgediikuti proliferasi fibrovaskular di luar
retina.
IV. Lepasnya retina sub-total.
V. Lepasnya retina total disertaifunnel.
Nasution A. Faktor-Faktor Risiko untuk Terjadinya Retinopati pada Prematuritas. SP. Desember 2001: Vol. 3, No. 3.
Stadium
Penyakit dengan tanda (+) :
• Apabila di sekeliling ridge ditemukan
pembuluh darah yang melebar dan berkelok-
kelok.

Nasution A. Faktor-Faktor Risiko untuk Terjadinya Retinopati pada Prematuritas. SP. Desember 2001: Vol. 3, No. 3.
Stadium

Stadium 1 Stadium 2
American Academy of Ophtalmology. Pediatric Ophthalmology and Strabismus: Pediatric Ophtalmology. American
Academy of Ophtalmology: 2011.
Stadium

Stadium 3 Stadium 4
American Academy of Ophtalmology. Pediatric Ophthalmology and Strabismus: Pediatric Ophtalmology. American
Academy of Ophtalmology: 2011.
Stadium

Plus disease
American Academy of Ophtalmology. Pediatric Ophthalmology and Strabismus: Pediatric Ophtalmology. American
Academy of Ophtalmology: 2011.
Penatalaksanaan
• Umumnya ROP membaik sendiri dan tidak
membutuhkan pengobatan. Pada stadium 3
dan lebih lanjut pengobatan diperlukan untuk
menghentikan pertumbuhan pembuluh darah
abnormal pada retina atau mengatasi
ablaretinay yang terjadi.

Sumber : Buku Ilmu Penyakit Mata FKUI edisi 5


Bentuk pengobatan ROP

1. Terapi krio, memakai suhu beku untuk


membekukan bagian retina yang dipengaruhi
ROP.

2. Terapi laser, dipergunakan untuk membakar


bagian kecil retina yang dikenai ROP.

Sumber : Buku Ilmu Penyakit Mata FKUI edisi 5


Bentuk pengobatan ROP

3. Skleral buckle, Terapi ini merupakan terapi


bedah yang digunakan bila terapi krio laser
gagal dalam mencegah terjadinya retinopati
pada prematuritas stadium IV dan V.
4. Vitrektomi, diindikasikan pada retinopati
pada prematuritas stadium V, namun pada
stadium ini kemampuan untuk dapat melihat
lagi juga rendah.
Flynn JT, Bancalari E, Bachynski BN, Buckley EB, dkk. Retinopathy of prematurity diagnosis, severity and natural history.
Opthalmology. 1987. 94 : 620-9
Bentuk pengobatan ROP

• Terapi yang dilakukan disaat pernyakitnya


belum terlalu parah merusak retina, akan
mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi
dan menyelamatkan bayi dari kebutaan
permanen.

Risk factor for retinopathy of prematurity. Country Hills eye center. Dikutip dari: http://www.connections.com/eyedoc/roprisk.html
Komplikasi
• Miopia, ambliopia, strabismus, nistagmus,
katarak, retinal breaks, dan retinal detachment
• Follow-up dari dokter mata diperlukan dalam
jangka panjang.

KN Siva Subramanian. Retinopathy of Prematurity Follow-up. Medscape. 2015. [cited: 14 September 2017].
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/976220-followup#e4
Prognosis
• ROP biasanya mengalami regresi pada kebanyakan
pasien stadium 1 dan 2. Sekitar 90% pasien pada
tahap ini menunjukkan involusi spontan.
• Saat ROP mencapai stadium 3  butuh pengobatan.
• Prognosis pengobatan  mencegah kehilangan
penglihatan sekitar 70 sampai 80% pasien.
• Ketajaman visual  perubahan anatomis residual
yang cenderung mempengaruhi daerah makula atau
karena strabismus, ambliopia, atau ametropia tinggi.

João BFF, Eckert GU, Tartarella MB, Procianoy RS. Prevention of retinopathy of prematurity. Arq Bras Oftalmol.
2011;74(3):217-21
Prognosis
• Tingkat keberhasilan untuk reattachment  25% -
50%.
• Bayi dengan stadium IV dan V ROP mungkin
mengalami ambliopia parah, yang membuat
rehabilitasi terapi dan visual menjadi sulit.
• Bayi dengan ROP berisiko mengalami gangguan
pertumbuhan.
• ROP Stage V memiliki risiko 30%  glaukoma
sudut tertutup.
• ROP dengan detasemen retina  risiko kebutaan.

Stanley J, Swierzewski. Retinopathy of Prematurity Treatment, Prognosis, Prevention. 2015. Dikutip dari :
http://www.healthcommunities.com/retinopathy-of-prematurity/
Pencegahan
• Hindari kelahiran prematur.
• Perawatan pranatal dan konseling.
• Skrining neonatal untuk deteksi dan
pengobatan tepat waktu penyakit bila
diperlukan.
• Pemantauan kebutuhan oksigen secara seksama
pada bayi prematur.
• Pemeriksaan mata secara teratur.
João BFF, Eckert GU, Tartarella MB, Procianoy RS. Prevention of retinopathy of prematurity. Arq Bras Oftalmol.
2011;74(3):217-21
Stanley J, Swierzewski. Retinopathy of Prematurity Treatment, Prognosis, Prevention. 2015. Dikutip dari :
http://www.healthcommunities.com/retinopathy-of-prematurity/
Edukasi
Bayi berisiko tinggi ROP sebaiknya dilakukan
pemeriksaan/skrining ROP. Apabila ditemukan
kelainan atau curiga ROP, sebaiknya dirujuk ke
rumah sakit terdekat yang memiliki dokter
spesialis mata sehingga dapat ditangani lebih
lanjut untuk menghindari komplikasi.
Kesimpulan
• Retinopati prematuritas penyebab utama kebutaan pada
BBLR/BBLSR
• Retinopati prematuritas adalah suatu retinopati proliferatif pada
bayi prematur sebagai akibat terpapar pada oksigen konsentrasi
tinggi.
• Faktor risiko : penggunaan O2, anemia dan transfusi darah,
defisiensi vitamin E, paparan cahaya, karbondioksida, septikemia.
• ROP pada umumnya membaik sendirI. Namun pada stadium 3 dan
selanjutnya perlu pengobatan
• Bentuk pengobatan ROP antara lain terapi krio, terapi laser, bedah
retina, dan vitrektomi
• Deteksi dini dan skrining pada bayi dengan resiko tinggi penting
untuk menghindari ROP.
• Terapi yang dilakukkan disaat pernyakitnya belum terlalu parah
merusak retina, akan mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi
dan menyelamatkan bayi dari kebutaan permanen.
Referensi
1. Tejiro B,2006. Retinopathy of prematurity. Dalam: arch soc esp oftalmol; 81:129-130.
2. Gargely K,2010. Retinopathy of prematurity-epidemics, incidence, prevalence, blindness. Faculty
of medicine, comenicus university Bratistava, Slovakia.
3. Wisnuwardani F, Sovani I, et al. Perkembangan dan Struktur Retina. Pustaka Unpad. 2013. [cited:
14 September 2017]. Available from:
http://repository.unpad.ac.id/17004/1/pustaka_unpad_perkembangan_dan_struktur_retina.pdf
4. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD, Preterm Birth. In:
Williams Obstetrics 22nd ed. McGraw-Hill New York. 2005: 855-73
5. American Academy of Ophtalmology. Pediatric Ophthalmology and Strabismus: Pediatric
Ophtalmology. American Academy of Ophtalmology: 2011.
6. Kansky JJ. Retinal vascular disorders. Dalam: Kansky JJ, penyunting. Clinical opthalmology. Edisi ke-
3. London: Butterworth Heinemann, 1994. h. 374–6.
7. American Academy of Ophtalmology. Retinopathy of prematurity-europe. 2013 Nov [cited 2017
Sep]. Available from: http://www.aao.org/topicdetail/ retinopathy-of-prematurity—Europe
8. Zin A. The increasing problem of retinopathy of prematurity. J Comm Eye Health 2001;14:58-9.
9. Hellström A, Smith L, Dammann O. Retinopathy of prematurity. The Lancet 2013;382:1445-57.
10. Lukitasari A. Retinopati pada prematuritas. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala 2012;12:118-21.
11. Taliwongso D, Sumual V, Saerang J. S. M. Hubungan Faktor Risiko Dengan Terjadinya Retinopathy
Of Prematurity (ROP). Jurnal Kedokteran Klinilk 2016;1:116-125.
12. Patz A, Palmer EA. Retinopathy of prematurity. Dalam: Schachat AP, Murphy RB, Patz A, penyunting.
Retina Volume II. St Louis: Mosby, 1989. h. 509–30.
Referensi
13. Payne JW. Retinopathy of prematurity. Dalam: Avery ME, Taeusch HW, penyunting. Disease of the newborn. Edisi
ke-5. Philadelphia: Sounders, 1984. h. 909–13.
14. Brooks SE, dkk. The effect of blood transfussion protocol on retinopathy of prematurity a prospective, Randomized
study. Pediatrics, 1999; 104:514–18.
15. Sacks LM, Schaffer DB, Anday EK, Peckam GJ, Papadopoulos MD. Retrolental fibroplasea and blood transfussion
in very low birth weight infants. Pediatric 1981; 68: 770–4.
16. Clark C, Gibbs JAH, Maniello R, Outerbridge EW, Aranda JV. Blood transfussion: A posxible risk factor in
retrolental fibroplasia. Acta Pediatr Scond 1981; 70:535– 9.
17. Flynn JT. Retinopathy of prematurity. Dalam: Nelson LB, Calhoun JH, Harley RD, penyunting. Pediatric
opthalmology. Edisi ke-3. Philadelphia: Sounders, 1991. h. 59–77.
18. Sullivan L. Iron, plasma antioxidants and the oxygen radical of prematurity. AJDC 1988; 142:1341–4.
19. Risk factor for retinopathy of prematurity. Country Hills eye center. Dikutip dari:
http://www.connections.com/eyedoc/roprisk.html.
20. What causes retinopathy of prematurity. Dikutip dari: com/pbpb-c.html” http://www.rdcbraille. com/pbpbc.html.
21. Reynolds JD, Hardy RJ, Kennedy KA, Spencer R, Van Heuven WAJ, Fielder AR. Effect of light reduction on
retinopathy of prematurity
22. Gunn TR, Easdown J, Outerbridge EW, Aranda JV. Risk factors in retrolental fibroplasia. Pediatrics 1980;
65:1096–100.
23. Mittal M, Dhanireddy R, Higgins RD. Candida sepsis and association with retinopathy of prematurity. Pediatrics
1998; 101:654–7.
24. Benson C Ralph. Retinophati prematuritas. Dalam: Obsteri dan Ginekologi. Jakarta: EGC,2004.
25. Setiawan bambang, 2007. Peroksidase lipid dan penyakit terkait stress oksidatif pada bayi premature. Dalam:
majalah kedokteran Indonesia vol.57 no.1, Jakarta 2007.
26. Anjli Hussain, 2004. Management of retinopathy in a tertiary care center. Dalam: Journal of the Bombay
ophtamologists association vol.3 no.1.
Referensi
27. Kretzer FL, Hittner HM. Retinopathy of prematurity: clinical implications of retinal
development. Arch Dis Child. Oct 1988;63(10 Spec No):1151-67.
28. Sari pediatri, Vol.14, No.3, Oktober 2012, Skrining Retinophaty of Prematurity di
Rumah Sakit Fasilitas Terbatas.
29. Vaugan, Asbury (2010). Oftalmologi Umum. Jakarta:EGC.
30. Buku Ilmu Penyakit Mata FKUI edisi 5.
31. Flynn JT, Bancalari E, Bachynski BN, Buckley EB, dkk. Retinopathy of prematurity
diagnosis, severity and natural history. Opthalmology. 1987. 94 : 620-9
32. Risk factor for retinopathy of prematurity. Country Hills eye center. Dikutip dari:
http://www.connections.com/eyedoc/roprisk.html
33. KN Siva Subramanian. Retinopathy of Prematurity Follow-up. Medscape. 2015.
[cited: 14 September 2017]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/976220-followup#e4
34. João BFF, Eckert GU, Tartarella MB, Procianoy RS. Prevention of retinopathy of
prematurity. Arq Bras Oftalmol. 2011;74(3):217-21
35. Stanley J, Swierzewski. Retinopathy of Prematurity Treatment, Prognosis,
Prevention. 2015. Available from :
http://www.healthcommunities.com/retinopathy-of-prematurity/