Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

PRAKTIKUM EKOLOGI DASAR

Tentang
“ SUKSESI SEDERHANA ”

Oleh :

NAMA : Mutia Musdalifah Tuasalamony


NIM : 2017-76-048
Kelompok :5

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, karunia
dan hidayah-Nya sehingga praktikan dapat menyelesaikan laporan mengenai
“Kompetisi Interspesifik” untuk memenuhi tugas praktikum Ekologi Dasar.

Dengan keterbatasan komponen praktikum berupa referensi yang ada,


saya selaku praktikan berusaha dengan besar hati dan sungguh – sungguh
untuk menyelesaikan laporan ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
nilai yang memuaskan.

Ucapan terima kasih kepada Bapak Abdul Mahid Ukratalo, S.Si


Penanggung jawab praktikum Ekologi Dasar yang telah memberikan ilmu,
membimbing prakttikan serta memberikan penanaman konsep bahwa dalam
penulisan laporan yang baik dan benar dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan
dalam setiap sistematika penulisan yang kemudian akan membantu praktikan di
kemudian hari dalam penyusunan skripsi nantinya.

Sehingga Laporan “Suksesi Sederhana” ini dapat terselesaikan dengan


baik dan tepat waktu. Sesungguhnya praktikan menyadari sepenuhnya bahwa
laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu praktikan sangat
mengharapkan masukan dan kritik yang membangun. Untuk melengkapi dan
menyempurnakan laporan ini ke depan, sehingga lebih bernilai dan berdaya
guna.
Aamiin..........................................

Ambon , 16 Mei 2018

Mutia Musdalifah Tuasalamony

ii
DAFTAR ISI

LEMBARAN JUDUL ............................................... Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................... 1

A. Dasar Teori ............................................................................................... 1

B. Tujuan Praktikum......................................................................................2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3

BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM ............................................................... 8

A. Waktu dan Tempat ................................................................................... 8

B. Alat dan Bahan ......................................................................................... 8

C. Cara Kerja ................................................................................................ 8

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 9

A. Hasil ......................................................................................................... 9

B. Pembahasan ............................................................................................9

BAB V. PENUTUP ........................................................................................... 14

A. Kesimpulan ............................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 15

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Dasar Teori
Seiring bertambahnya waktu, perlahan –lahan suatu ekosistem akan
mengalami perubahan dari kondisi semula. Perubahan-perubahan yang terjadi
tersebut sangtalah mudah untuk diamati dan biasanya dalam perubahan itu
terdapat pergantian komunitas dalam ekosistem tersebut. Suatu ekosistem
yang stabil akan selalu berusaha dalam kedaaan setimbang (dynamic
equilibirium) di antara komponen – komponen pembentuk ekosistem tersebut.
(Campbell, 2000).
Ekosistem mempunyai sifat yang elastis da daya lentur setiap ada
perubahan atatu gangguan, amaka akan ada mekanisme atau proses yang
mengembalikan kepada keadaan yang setimbang lagi, sejauh perubahan
tersebut masih berada dalam batas-batas daya lenturnya (Sutanto, 2002)
Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara
teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga
terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan
perkataan lain. suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak
seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai akibat
modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Pengertian suksesi
adalah proses perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu menuju ke
arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil. Proses suksesi akan berakhir
apabila lingkungan tersebut telah mencapai keadaan yang stabil atau telah
mencapai klimaks. Ekosistem yang klimaks dapat dikatakan telah memiliki
homeostatis, sehingga mampu kestabilan internalnya . (Heddy, 1986 dalam
Kurniawati, 2010).

Dalam Suksesi terjadi suatu proses perubahan dalam komunitas yang


berlangsung menuju kesatu arah secara teratur, lebih lanjut dikatakan bahwa

1
suksesi ini tidak lebih dari pengertian jenis yang oportunis (jenis-jenis pionir)
oleh jenis-jenis yang lebih mantap dan dapat menyesuaikan secara lebih baik
dengan lingkungannya. Selama suksesi berlangsung hingga tercapai
keseimbangan dinamis dengan lingkungannya, terjadi pergantian-pergantian
masyarakat tumbuhan hingga terbentuk masyarakat yang disebut klimaks
(Kartawinata, Ressodarno, dan Soegiarto, 1992 dalam Sutanto, 2002).
Adanya perubahan didalam masyarakat tumbuhan terutama disebabkan
oleh aktivitas masing-masing masyarakat tumbuhan didalam lingkungannya
sendiri. Dijelaskan lebih lanjut bahwa didalam hutan, pohon-pohon akan
meningkat dalam bentuk dan ukurannya, sehingga bersifat menaungi dan
akibatnya kelembaban akan bertambah tinggi. Tumbuhan mengambil hara dari
dalam tanah dalam bentuk yang berbeda. Akumulasi humus, perubahan pH
tanah dan kandungan air semuanya akan berubah, akibatnya habitat akan
berubah pula. Perubahan ini akan menciptakan keadaan habitat yang baik
untuk pertumbuhan jenis yang lain dari jenis yang sudah ada sebelumnya.
Dengan demikian, jenis yang berbeda dalam kondisi selanjutnya akan
menguasai (Heddy, 1986 dalam Kurniawati, 2010).

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum Suksesi Sederhana yaitu untuk mengetahui
tahap-tahap dan proses suksesiyaang terjadi pada komunitas tumbuhan bawah
sebelum dan sesudah diberi perlakuan.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Suksesi Secara Umum

Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara


teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga
terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan
perkataan lain, suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak
seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai akibat
modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem (Heddy, Suwasono,
1986)

Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk


komunitas klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu komunitas terakhir dan
stabil (tidak berubah) yang mencapai keseimbangan dengan lingkungannya.
Komunitas klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau
keseimbangan, yaitu suatu komunitas yang mampu mempertahankan
kestabilan komponennya dan dapat bertahan dan berbagai perubahan dalam
sistem secara keseluruhan (Heddy, Suwasono, 1986)
Suksesi merupakan perubahan, adaptasi dan perkembangan secara
gradual (setahap demi setahap) dari tumbuh-tumbuhan sesuai dengan faktor
lingkungan hingga mencapai klimaks. Berdasarkan tingkat gangguan terhadap
tumbuhan, maka suksesi dibedakan dalam suksesi primer dan suksesi
sekunder. Suksesi primer adalah perkembangan tumbuhan secara gradual
pada suatu daerah yang sama sekali belum ada vegetasi hingga mencapai
keseimbangan atau klimaks. Suksesi ini dikenal dengan suksesi autogenik
karena muncul pada kondisi dengan faktor-faktor lingkungan yang dominan
mempengaruhi pertumbuhan individu dalam komunitas tumbuh-tumbuhan
tersebut (Odum, E. P. 1998)

3
Jenis Jenis Suksesi
Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam
suksesi yaitu :
1) Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang
mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk
habitat baru. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami maupun oleh
campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat berupa tanah longsor,
letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai. Gangguan oleh
campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara,
timah, dan minyak bumi). Suksesi primer ini diawali tumbuhnya tumbuhan
pionir, biasanya berupa lumut kerak. Lumut kerak mampu melapukkan batuan
menjadi tanah sederhana. Lumut kerak yang mati akan diuraikan oleh pengurai
menjadi zat anorganik. Zat anorganik ini memperkaya nutrien pada tanah
sederhana sehingga terbentuk tanah yang lebih kompleks.Benih yang jatuh
pada tempat tersebut akan tumbuh subur. Setelah itu. akan tumbuh rumput,
semak, perdu, dan pepohonan. Bersamaan dengan itu pula hewan mulai
memasuki komunitas yang haru terbentuk. Hal ini dapat terjadi karena suksesi
komunitas tumbuhan biasanya selalu diikuti dengan suksesi komunitas hewan.
Secara langsung atautidak langsung. Hal ini karena sumber makanan hewan
berupa tumbuhan sehingga keberadaan hewan pada suatu wilayah komunitas
tumbuhan akan senantiasa menyesuaikan diri dengan jenis tumbuhan yang
ada. Akhirnya terbentuklah komunitas klimaks atau ekosistem seimbang yang
tahan terhadap perubahan (bersifat homeostatis).Salah satu contoh suksesi
primer yaitu peristiwa meletusnya gunung Krakatau. Setelah letusan itu, bagian
pulau yang tersisa tertutup oleh batu apung dan abu sampai kedalaman rata -
rata 30 m. (Odum, E. P. 1998)
2) Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas
tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih
terdapat kehidupan/substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder
dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir. Gangguan yang

4
menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami
atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angina topan, erosi,
banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan
kekeringan hutan. Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia
contohnya adalah pembukaan areal hutan. (Odum, 1992)

Tahap-Tahap Suksesi
Adapun tahapan-tahapan suksesi sederhana yaitu :
1) Nudation, yaitu terbukanya areal baru
2) Migraton, yaitu sampai dan tersebarnya biji di areal terbuka tersebut
3) Ecesis, yaitu proses perkecambahan, pertumbuhan dan perkembanagn tumbuhan
baru
4) Competition, yaitu proses yang mengakibatkan pergantian jenis-jenis tumbuhan
5) Reaction, yakni adanya perubahan habitat karena aktivitas jenis-jenis baru
6) Climax, yaitu tingkat kestabilan komunitas (Odum, 1992)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Suksesi


Faktor-faktor lingkungan dapat mempengaruhi kecepatan laju susksesi
dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu :

Iklim
a) Curah hujan
Curah hujan menentukan ketersediaan air untuk pertumbuhan dan
proses-proses penting lainnya pada vegetasi). Air merupakan salah satu faktor
penting yang dapat menentukan tipe vegetasi. Air dapat mengubah kadar
garam tanah sehingga dapat mempengaruhi vegetasi suatu daerah. Jumlah
hujan yang turun berlainan antara suatu daerah dengan daerah lainnya,
tergantung dari beberapa faktor yaitu topografi, letak daerah dan letak
geografis. (Djambatan Suharno, 1999)
b) Suhu
Suhu di daerah tropika tidak pernah turun sampai titik beku dan
kebanyakan berkisar antara 200°C dan 280°C. Suhu tropika yang tinggi

5
disebabkan oleh sudut jatuh pancaran surya yang hampir tegak. Perubahan
tahunan panjangnya hari yang hanya kecil, dan kapasitas bahan dalam lautan
dan tanah jatuh pancaran surya yang hampir tegak. Perubahan tahunan
panjangnya hari yang hanya kecil, dan kapasitas bahan dalam lautan dan
tanah. Suhu yang tinggi pada daerah tropika kebanyakan disebabkan oleh suhu
minimum yang lebih tinggi dan tidak dipengaruhi suhu maksimumnya yang
dekat di khatulistiwa mencapai kira-kira 300°C. (Djambatan Suharno, 1999)
c) Kelembapan
Kelembaban udara dipengaruhi oleh temperatur, yaitu apabila suhu turun
menyebabkan kelembaban relatif bertambah, sedangkan jika suhu naik maka
kelembaban akan berkurang. Kelembaban dan suhu juga mempengaruhi dalam
menentukan daerah distribusi tumbuhan terutama pepohonan. (Djambatan
Suharno, 1999)
d) Angin
Pengaruh angin terhadap vegetasi cukup penting. Angin memberikan
pengaruh terhadap konfigrasi, distribusi tumbuhan dan juga mempengaruhi
faktor ekologi lainnya seperti kandungan air dalam udara, suhu di suatu tempat
melalui pengaruhnya terhadap penguapan. Angin juga mempengaruhi secara
langsung vegetasi yaitu dengan menumbangkan pohon-pohon atau
mematahkan dahan-dahan atau bagian-bagian lain. (Djambatan Suharno,
1999)
e) Cahaya
Cahaya juga memainkan peranan penting dalam penyebaran, orientasi
dan pembungaan tumbuhan. Di dalam hutan tropika, cahaya merupakan
faktor pembatas, dan jumlah cahaya yang menembus melalui sudut hutan
akan tampak menentukan lapisan atau tingkatan yang terbentuk oleh
pepohonan. (Odum, E. P. 1998)
Fisiologis
Fisiologi yaitu meliputi faktor topografi berurusan dengan corak permukaan
daratan dan mencakup ketinggian, kemiringan tanah, lapis alas geologi yang
mempengaruhi pengirisan, pengikisan dan penutupan. Berbagai corak
permukaan tanah itu berpengaruh pada sifat dan sebaran komunitas tumbuhan.

6
garam mineral. Dapat berdiri tegaknya tanaman di atas tanah merupakan
masalah yang peka. Beberapa jenis tanaman tidak dapat tumbuh pada pada
tanah jenis tertentu kecuali jika pohon itu telah tersesuaikan secara khusus.
(Michael, P., 1996) .

Edatik
Tanah membentuk lingkungan untuk sistem akar yang rumit pada tumbuhan
dan bagian bawah tanah lainnya seperti rhizoma, subang dan umbi lapis
maupun untuk sejumlah jasad tanah. Tanah juga secara terus menerus
menyediakan air dan garam mineral. Dapat berdiri tegaknya tanaman di atas
tanah merupakan masalah yang peka. Beberapa jenis tanaman tidak dapat
tumbuh pada pada tanah jenis tertentu kecuali jika pohon itu telah tersesuaikan
secara khusus. (Michael, P., 1996) .

Biotik
Meliputi pengaruh jasad kehidupan baik hewan maupun tumbuhan. Pengaruh
itu dapat langsung ataupun tidak langsung dan dapat merugikan atau
menguntungkan tumbuhan tersebut. Di dalam hutan banyak terdapat
tumbuhan, komunitas tersebut berinteraksi satu sama lain dan menyesuaikan
diri dengan keadaan lingkungannya. (Michael, P., 1996) .

7
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada :
1. Waktu : Rabu, 18 Mei pukul 12.00 – 15.00 WIT
2. Tempat : Pekarangan belakang Laboratorium Ekologi Dasar

B. Alat dan Bahan


1. Alat
Adapun alat yang dibutuhkan dalam praktikum ini yaitu :
 Alat tulis
 Patok
 Tali Rafia
 Batu
 Alat ukur Panjang
2. Bahan
Adapun bahan dalam praktikum ini adalah :
 Lahan atau suatu komunitas yang teduh dan tempat yang terbuka
(terkena sinar matahari langsung)

C. Cara Kerja
1. Pada tempat terbuka buat ukuran plot 1m x 1m lingkari dengan tali
rafia sebagai penanda
2. Lakukan analisis analisis vegetasi pada petk tersebut, sehingga
diperoleh jumlah spesies dan analogikan nama spesises contoh
Spesies A, B, C, dan sebagainya
3. Bersihkan dari semua vegetasi yang terdapat di dalamnya
4. Amati Perkembangan jenis tumbuhan yang muncul 3 hari sekali
selama 2 pekan dan laukan analisis vegetasi seperti sebelumnya

8
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dalam praktikum ini adalah
sebagai berikut :

Tabel 1. Hasil Pengamatan Suksesi Sederhana

NO Sebelum Sesudah

Waktu (hari)
Spesies Σ Spesies
3 6 9 12 Σ

1 A 25 A 15 24 53 91 183
2 B 24 B 1 17 20 27 70
3 C 28 C 4 10 40 47 101
4 D 3 D 0 0 0 0 0

B. Pembahasan

Pada Praktikum kali ini membahas tentang suksesi tumbuhan yang


bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya suksesi alami dari lahan yang
ternaungi dan terbuka. Suksesi merupakan proses perubahan dalam suatu
komunitas yang berlangsung hingga menuju suatu arah pembentukan
komunitas secara teratur. Suksesi merupakan proses yang terjadi akibat
adanya modifikasi lingkungan fisik dalam suatu komunitas tersebut. Praktikum
ini dilakukan dengan membuat petak/plot sebanyak 1 buah dengan luas 1 ×1
m2, petak inilah yang dibuat gundul (dirusak) dengan cara membersihkan area
petak ini hingga akar tanaman yang ada manjadi hilang sama sekali.
Petak/plot dibuat dengan menggunakan tali rafia dengan warna yang
mencolok (misalnya merah), pemilihan warna ini bertujuan agar pembatas
(garis) tersebut masih dapat terlihat jelas walaupun nantinya tumbuh berbagai

9
tumbuhan dengan lebat. Pengamatan tentang suksesi ini dilakukan 3 hari sekali
selama 2 minggu setelah analisis vegetasi dan pembersihan lahan.
Pada saat pembuatan petak/plot dan pembersihan/pencangkulan lahan,
dihitung sebagai minggu ke 0. Selama berlangsungnya pengamatan suksesi,
praktikan mengalami beberapa minggu di mana tidak turun hujan (± 1 minggu),
sedangkan di sisa minggu yang ada, hampir setiap harinya turun hujan. Perlu
diketahui bahwa hujan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman dan
berlangsungnya suksesi di dalam tumbuhan pada petak yang bersangkutan.
Semakin deras hujan yang terjadi, maka akan dapat dipastikan suksesi yang
terjadi juga akan semakin subur (lebat).
Pada minggu pertama (hari ke- 3, dan ke- 6), masih sedikit vegetasi yang
tumbuh baik dari spesies A B, C bahkan spesies D masih 0 atau belum tumbuh
sama sekali . Hal ini kemungkinan pada petak tersebut, proses pencangkulan
sampai menghilangkan akar dari tanaman yang ada sebelumnya sehingga
diperlukan proses yang lama untuk menumbuhkan kembali tanaman tersebut.
Pada minggu kedua (hari ke-9 dan ke-12) mengalami peningkatan jumlah
spesies yaitu spesies A, B, dan C dengan sangat signifikan terkecuali spesies D
dari tidak mengalami proses pertumbuhan sama sekali atau 0.
Penambahan populasi serta tinggi varietas ini kemungkinan dikarenakan
sering terjadinya hujan yang mengakibatkan tumbuhnya ilalang pada petak/plot
pengamatan. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa vegetasi yang pertama muncul adalah jenis rerumputan yaitu ilalang.
Hal ini disebabkan jenis suksesi merupakan suksesi sekunder, dimana sudah
terdapat kehidupan sebelumnya. Vegetasi yang biasanya muncul pertama kali
biasanya berupa tumbuhan pelopor atau pionir yaitu tumbuhan yang
berkemampuan tinggi untuk hidup pada lingkungan yang serba terbatas pada
berbagai faktor pembatas. Kehadiran kelompok pionir ini akan menciptakan
kondisi lingkungan tertentu yang memberikan kemungkinan hidup bagi
tumbuhan lainnya.
Proses terjadinya suksesi dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang
baik secara terpisah-pisah maupun dalam kombinasi dapat mempengaruhi
ketidakhadiran atau kehadiran, keberhasilan atau kegagalan berbagai

10
komunitas tumbuhan melalui vegetasi penyusunnya. Sehingga dari percobaan
yang telah dilakukan dapat dikatakan berhasil sebab tampak terjadinya proses
suksesi yakni perubahan dalam suatu komunitas yang berlangsung menuju ke
suatu arah pembentukan komunitas secara teratur. Hal ini nampak dengan
munculnya beberapa jenis vegetasi yang nantinya akan membentuk suatu
komunitas baru. Dengan tahap-tahap :
Tahap-Tahap Suksesi
Adapun tahapan-tahapan suksesi sederhana yaitu :
7) Nudation, yaitu terbukanya areal baru
8) Migraton, yaitu sampai dan tersebarnya biji di areal terbuka tersebut
9) Ecesis, yaitu proses perkecambahan, pertumbuhan dan perkembanagn tumbuhan
baru
10) Competition, yaitu proses yang mengakibatkan pergantian jenis-jenis tumbuhan
11) Reaction, yakni adanya perubahan habitat karena aktivitas jenis-jenis baru
12) Climax, yaitu tingkat kestabilan komunitas (Odum, 1992)
Spesies D yang tidak mengalami pertumbuhan disebabkan oleh 2 faktor
yaitu internal dan eksternal. Penyebab internalnya karena jenis spesies D yang
bukan berupa tumbuhan tingkat rendah (Thallus) atau berupa tumbuhan keras
dimana butuh waktu lebih lama dalam proses pertumbuhan karena
pertumbuhan tumbuhan kormus atau tingkat tinggi karena dia mempunyai
kambium sehingga lambat tidak seperti spesies A,B, dan C. Atau disebut
tingkat kestabilan (Climax) karena spesies D belum mampu menstabilkan
populasinya padan lahan tersebut.
Faktor-faktor lingkungan (eksternal) dapat mempengaruhi kecepatan laju
susksesi dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu :

Iklim
a) Curah hujan
Curah hujan menentukan ketersediaan air untuk pertumbuhan dan
proses-proses penting lainnya pada vegetasi). Air merupakan salah satu faktor
penting yang dapat menentukan tipe vegetasi. Air dapat mengubah kadar
garam tanah sehingga dapat mempengaruhi vegetasi suatu daerah. Jumlah

11
hujan yang turun berlainan antara suatu daerah dengan daerah lainnya,
tergantung dari beberapa faktor yaitu topografi, letak daerah dan letak
geografis. (Djambatan Suharno, 1999)
b) Suhu
Suhu di daerah tropika tidak pernah turun sampai titik beku dan
kebanyakan berkisar antara 200°C dan 280°C. Suhu tropika yang tinggi
disebabkan oleh sudut jatuh pancaran surya yang hampir tegak. Perubahan
tahunan panjangnya hari yang hanya kecil, dan kapasitas bahan dalam lautan
dan tanah jatuh pancaran surya yang hampir tegak. Perubahan tahunan
panjangnya hari yang hanya kecil, dan kapasitas bahan dalam lautan dan
tanah. Suhu yang tinggi pada daerah tropika kebanyakan disebabkan oleh suhu
minimum yang lebih tinggi dan tidak dipengaruhi suhu maksimumnya yang
dekat di khatulistiwa mencapai kira-kira 300°C. (Djambatan Suharno, 1999)
c) Kelembapan
Kelembaban udara dipengaruhi oleh temperatur, yaitu apabila suhu turun
menyebabkan kelembaban relatif bertambah, sedangkan jika suhu naik maka
kelembaban akan berkurang. Kelembaban dan suhu juga mempengaruhi dalam
menentukan daerah distribusi tumbuhan terutama pepohonan. (Djambatan
Suharno, 1999)
d) Angin
Pengaruh angin terhadap vegetasi cukup penting. Angin memberikan
pengaruh terhadap konfigrasi, distribusi tumbuhan dan juga mempengaruhi
faktor ekologi lainnya seperti kandungan air dalam udara, suhu di suatu tempat
melalui pengaruhnya terhadap penguapan. Angin juga mempengaruhi secara
langsung vegetasi yaitu dengan menumbangkan pohon-pohon atau
mematahkan dahan-dahan atau bagian-bagian lain. (Djambatan Suharno,
1999)
e) Cahaya
Cahaya juga memainkan peranan penting dalam penyebaran, orientasi
dan pembungaan tumbuhan. Di dalam hutan tropika, cahaya merupakan
faktor pembatas, dan jumlah cahaya yang menembus melalui sudut hutan

12
akan tampak menentukan lapisan atau tingkatan yang terbentuk oleh
pepohonan. (Odum, E. P. 1998)
Fisiologis
Fisiologi yaitu meliputi faktor topografi berurusan dengan corak permukaan
daratan dan mencakup ketinggian, kemiringan tanah, lapis alas geologi yang
mempengaruhi pengirisan, pengikisan dan penutupan. Berbagai corak
permukaan tanah itu berpengaruh pada sifat dan sebaran komunitas tumbuhan.
garam mineral. Dapat berdiri tegaknya tanaman di atas tanah merupakan
masalah yang peka. Beberapa jenis tanaman tidak dapat tumbuh pada pada
tanah jenis tertentu kecuali jika pohon itu telah tersesuaikan secara khusus.
(Michael, P., 1996) .

Edatik
Tanah membentuk lingkungan untuk sistem akar yang rumit pada tumbuhan
dan bagian bawah tanah lainnya seperti rhizoma, subang dan umbi lapis
maupun untuk sejumlah jasad tanah. Tanah juga secara terus menerus
menyediakan air dan garam mineral. Dapat berdiri tegaknya tanaman di atas
tanah merupakan masalah yang peka. Beberapa jenis tanaman tidak dapat
tumbuh pada pada tanah jenis tertentu kecuali jika pohon itu telah tersesuaikan
secara khusus. (Michael, P., 1996) .

Biotik
Meliputi pengaruh jasad kehidupan baik hewan maupun tumbuhan. Pengaruh
itu dapat langsung ataupun tidak langsung dan dapat merugikan atau
menguntungkan tumbuhan tersebut. Di dalam hutan banyak terdapat
tumbuhan, komunitas tersebut berinteraksi satu sama lain dan menyesuaikan
diri dengan keadaan lingkungannya. (Michael, P., 1996) .

13
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan data hasil pengamatan dalm praktikum “Suksesi Sederhana.


Maka dapat disimpulkan bahwa pada saat terjadi pertumbuhan pada taip
spesies sebelum dan sesudah dibersihan lahan mengalami peningkatan jumlah
spesies (A,B dan C) dan penurunan jumlah spesies pada spesies D.
Disebabkan oleh faktor internal dan eksternal karena ada 6 tahap dalam
suksesi sederhana Nudation, Migraton, Ecesis, Competition, Reaction, Climax.

14
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil. 2000. Biologi jilid 3 Edisi Kelima.


Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga

Odum, E. P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi, edisi ketiga. Yogyakarta : Gadjah


Mada University Press.

Heddy, Suwasono. 1986. Pengantar Ekologi. Jakarta : CV Rajawali.

Michael, P. 1996. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang


dan Laboratorium. Jakarta : UI Press.

Odum, H. T. 1992. Ekologi Sistem Suatu Pengantar . Yogyakarta : UGM

Djambatan Suharno, 1999 , Biologi. Jakarta : Erlangga.

Sutanto, 2002. Suksesi Vegetasi Jenis Pohon dan Tumbuhan Bawah Pasca
Letusan Gunung Galunggung. Bogor: Institut Pertanian Bogor

Heddy, S .1986 dalam Kurniawati M. 2010. Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi.


Jakarta : Raja Grafindo Persada.

15

Anda mungkin juga menyukai