Anda di halaman 1dari 7

TUGAS RANGKUMAN HUKUM

AGRARIA
BAB 4 “SEJARAH PENYUSUNAN
UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA”
Dosen : Sriwati, S.H.,M.Hum.
Kp : A

Di susun oleh :

Stanny Cindy The ( 2090102 )

Nikita Cintya Dewanty ( 2090129 )

Alvenila Fitri Sitoresmi ( 2090143 )

Helina ( 2090149 )

Ariantriarny Bunga Pratiwi ( 2090151 )

Mahendra Wangsa ( 2090861 )

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SURABAYA

1
Tahun Ajaran 2009 / 2010
SEJARAH PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA

Pada tahun 1948 di mulai usaha – usaha untuk menyusun dasar – dasar
hukum agraria yang akan menggantikan hukum Agraria warisan
pemerintah jajahan. Dimulai dengan pembentukan panitia agraria yang
berkedudukan di yogyakrta. Panitia Agraria Yogya “dibentuk dengan
Penetapn presiden republik Indonesia tanggal 21 Mei 1948 no.16,
diketahui oleh sarimin Reksodihardjo dan beranggotakan pejabat –
pejabat dari berbagi kementrian dan jawatan, anggota anggota Badan
Pekerja KNIP yang mewakili organisasi- organisasi tani dan daerah, ahli-
ahli hukum adat dan wakil dari serikat buruh perkebunan.

Panitia bertugas : memberi pertimbangan kepada pemerintah


tentang soal- soal yang mengenai hukum tanah seumumnya : merancang
dasar- dasar hukum tanah yang memuat politik agraria Negara republik
Indonesia; merancang perubahan, penggantian pencabutan, peraturan –
peraturan lama, baik dari sudut legislative maupun dari sudut praktik dan
menyelidiki soal- soal lain yang berhubungan dengan hukum tanah.

Asas- asas yang akan merupakan dasar Hukum Agraria Panitia


menggusulkan:

1. dilepaskan asas domein dan pengakuan hak ulayat;

2. diadakan peraturan yang memungkinkan adanya hak perseorangan


yang kuat

3. supaya diadakan penyelidikan dahulu dalam peraturan- peraturan


Negara – Negara lain

4. perlunya diadakan penetapan luas minimum tanah untuk


menghindarkan pauperisme di antara petani kecil dan memberi
tanah yang cukup untuk hidup yang patut

5. perlunya ada penetapan luas maksimum.

6. Menganjurkan untuk menerima skema hak- hak tanah yang


diusulkan oleh Sarimin Reksodihardjo

7. Perlunya diadakan registrasi tanah milik dan hak- hak menumpang


yang penting.

PANITIA AGRARIA JAKARTA

Atas pertimbangan bahwa “Panitia Agraria Yogya” tidak sesuai lagi


dengan keadaan Negara – terutama sesudah terbentuknya kembali
2
Negara Kesatuan – maka dengan dengan Keputusan Presiden Republik
Indonesia tanggal 19 Maret 1951 no. 36/1951 Panitia tersebut
dibubarkan dan dibentuk Panitia Agraria baru, yang berkedudukan di
Jakarta. Panitia diketuai oleh sarimin Reksodihardjo dan beranggotakan
pejabat – pejabat dari berbagai kementrian dan jawatan serta wakil-
wakil organisasi- organisasi tani. Sebagai wakil- ketuanya diangkat
Sadjarwo, Kepala bagian politik umum dan planning Kementrian
Pertanian. Tahun 1953 berhubung dengan pengangkatannya menjadi
gubernur Nusa tenggara Sarimin dig anti oleh Singgih Praptodihardjjo.
Dalam Laporan Ketuanya tertanggal 9 juni 1955 dikemukakan
kesimpulan – kesimpulan Panitia mengenai soal tanah untuk pertanian
kecil, yaitu :

1. Mengadakan batas minimum sebagai ide

2. Ditentukan pembatasan maksimum 25 hektr untuk satu keluargs

3. Yang dapat memiliki tanah untuk pertanian kecil hanya penduduk


warganegara Indonesia.
4. Untuk pertanian kecil diterima bangunan- bangunan hukum

5. Hak ulayat disetujui untuk diatur

PANITIA SOEWAHJO

Panitia perumus mengusulkan nama : Undang- undang tentang Pokok-


pokok Hukum Tanah. Tetapi “Panitia Soewahjo” menganggap nama
tersebut terlalu sempit. Maka yang digunakan adalah nama : undang –
undang pokok agraria.

Dengan keputusan presiden tanggal 29 Maret 1955 no 55/1955


dibentuk Kementrian Agraria dengan tugas antara lain mempersiapkan
pembentukan perundang- undangan agraria dengan tugas antara lain
mempersiapkan pembentukan perundang-undangan agraria nasional
yang sesuia dengan ketentuan- ketentuan dalam pasal 38 ayat 3, pasal
26 dan 37 ayat 1 Undang- Undang Dasar Sementara.

Karena melihat susunan dan cara bekerjanya, “Panitia Agraria


Jakarta” tidak dapat diharapkan akan dapat menyusun rancangan
undang- undang pokok agraria tersebut dalam waktu yang singkat maka
dengan keputusan Presiden Republik Indonesia tanggal 14 januari 1956
panitia baru : panitia Negara urusan Agraria, berkedudukan di Jakarta.

Panitia yang baru itu diketahui oleh Soewahjo Soemodilogo,


Sekertaris Jendral Kementrian Agraria dan beranggotakan pejabat-
pejabat erbagai Kementrian dan Jawatan, ahli- ahli hukum adat dan wakil-
wakil beberapa orgaisasi tani.

3
Tugas utama “panitia soewahjo” ialah : mempersiapkan rencana
undang- undang pokok Agraria yang nasional, sedapat dapatnya dalam
waktu satu tahun. Tahun 1957 panitia telah berhasil menyelesaiakn
tugasnya berupa naskah Rancangan Undang- Undang Pokok Agraria.

Pokok- poko penting Rancangan Undang – Undang Pokok Agraria hasil


karya Panitia tersebut ialah :

1. Dihapuskan asas domein dan diakuinya Hak Ulayat, yang harus


ditundukanpada kepentingan umum (Negara);

2. Asa domein dengan Hak kekuasaan Negara atas dasar ketentuan


pasal 38 ayat 3 Undang- Undang Dasar Sementara;

3. Dualisme hukum agraria dihapuskan.

4. Hak-hak atas tanah

5. Hak milik hanya boleh dipunyai oleh orang- orang warga Negara
Indonesia.
6. Perlu diadakan penetapan batas maksimum dan minimum dan
minimum luas tanah yang boleh menjadi milik seseorang atau
badan hukum;

7. Tanah pertanian pada asasnya harus dikerjakan dan diusahakan


sendiri oleh pemiliknya

8. Perlu di adakan pendaftaran tanah dan perencanaan penggunan


tanah

RANCANGAN UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA

RANCANGAN SOENARJO

Rancangan “Panitia Soewahjo” diajukan oleh mentri Agraria


Soenarjo. “Rancangan Soenarjo” disetujui oleh dewan mentri dalam
sidangnya ke-94 pada tanggal 1 April 1958 dengan Amanat Presiden
tanggal 24 April 1958 no. 1307/HK. Naskah Rancanngan besrta Memori
Penjelasan secara lengkap dimuat dalam majalah Agraria yang telah
beberapa kali disebut di atas.

RANCANGAN SADJARWO

Sadjarwo dalam menyusun rancangan tidak dibentuk panitia khusus


seperti penyusunan Rancangan Soenarjo. Pelaksanaannya ditugaskan
kepada Pejabat- pejabat di lingkungan Departmen Agraria menurut
bidangnya masing- masing dengan arahan dan pimpinan langsung mentri
Agraria
4
“Rancangan Soenarjo” masih memakai dasar undanng- undang
Dasar Sementara ditarik kembali dengan surat Pejabat Presiden tanggal
23 Mei 1960 no. 1532/HK/1960. Setelah disesuaikan dengan undang-
undang Dasar 1945 dan manifesto Politik Republik Indonesia, dalam
bentuk yang lebih sempurna dan lengkap diajukanlah Rancangan
Undang- Undang pokok agraria yang baru oleh Mentri Agraria Sadjarwo.
Dengan Amanat Presiden tanggal 1 Agustus 1960 no. 2584/HK/60.
Rancangan Soenarjotidak tegas konsepsi yang melandasinnya, rancangan
Sadjarwo, secara tegas mengunakan Hukum Adat sebai dasarnya.

PEMBAHASAN DAN PERSETUJUAN OLEH DPR-GR

PEMBAHASAN MARATON DAN PESETUJUAN BULAT

Dengan demikian apa yang dibicarakan dalam sidang pleno pada


hakikatnya sudah merupakan hasil kata-sepakat antara Pemerintah dan
DPR-GR. Oleh karena itu pembahasan Rancangan undang –undang pokok
agraria dalam sidang Pleno hanya memerlukan 3 kali sidang, yaitu
tanggal 12, 13 dan 14 September 1960 pagi, sedang pemandangan
umumnya hannya dilakukan dalam satu babak saja. Untuk seluruhnya
hanya diperlikan 6 jam pembicaraan, lebih dari 45 jam, diantaranya lebih
dari 20 jam untuk pertemuan-pertemuan informal d luar acara sidang-
sidang resmi.

Bahwa tercapainya persesuaian faham antara pemerintah dan


DPRGR mengenai rumusan terakhir rancangan undang- undang pokok
Agraria tidaklah semudah sebagai yang mungkin dikesankan oleh
pembahasannya dalam sidang Pleno, dapat kita simpulkan dari kata-kata
Mentri Agraria Sadjarwo dalam pidato pengantarnya dalam sidang Pleno
tanggal 12 September 1960.

PENGESAHAN AN PENGUNDANGAN

Pada hari sabtu tanggal 24 September 1960 rancangan undang-undang


yang telah disetujui oleh DPR-GR tersebu disahkan oleh Presiden
Soekarno menjadi Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Pokok-pokok Agraria, yang menurut diktumnya yang ke ima dapat
disebut, dan selanjutnya memang lebih dikenal sebagai Undang-undang
Pokok Agraria (UUPA).

UUPA daat diundangkan dalam Lembaran Negara tahun1960 No. 104


sedang Penjelasannya dimuat dalam Tambahan Lembaran Negara No.
2043 (Boedi Harsono, ibid A/1 dan A/2).

5
PERTANYAAN

1. Perubahan fundamental dalam hukum agraria itu ap saja?

2. Berikan contoh agraria di lingkungan administrasi pemerintahan


?

3. Mengapa pengertian “ Penguasaan” dan “ Menguasai” dipakai


dalam aspek perdata?

4. Mengapa rakyat tidak di wajibkan menyerahkan sebagian dari


hasil tanahnya, tetapi seperdua atau sepertiga dari luas tanah
yang bersangkutan diminta oleh pengusaha untuk ditanaminya
sendiri?

5. Mengapa dalam hubungan dengan kekayaan alam di dalam


tubuh bumi dan air tersebut perlu di maklumi adanya
6
pengertian dan lembaga zone ekonomi eksklusif , yang meliputi
jalur perairan dengan batas terluar 200 mil laut di ukur dari
garis pangkal laut wilayah indonesia?