Anda di halaman 1dari 46

Konsensus Nasional

Penanganan Trauma Kapitis


dan Trauma Spinal

~ PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS SARAF INDONESIA (PERDOS


Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal
Oleb : PERDOSSI

Hak cipta © 2006 pada penulis

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan


· sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun
mekanis, tennasuk memfotocopy, merekam atau dengan sistem penyimpanan lainnya,
tanpa izin tertulis dari Penulis.

Penerbit:
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI)
Bagian Neurologi FKUI/RSCM
Jl. Salemba Raya 6, Jakarta I0430 Indonesia

Percetakan :
CV. Prikarsa Utama
Jl. Pramuka Raya No. 14
Telp. 021-8520292

Perpustakaan Nasional Rl : Katalog Dalam Terbitan


Konsensus nasional penanganan trauma kapitis
dan trauma spinal. -- Jabrta : Perbimpunan
Doktm' Spesialis Saraflndonesia (PERDOSSI),
2006'.
vi+ 40 him.; .15 x 21 em.

IS.BN 979-24-4205-5

I. Traumatologi.
\ 617.1

ii Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Daftar lsi

Kata Pengantar ........ ... ... ... .... .. .................. ...... .. .. .... .... .... .. v

Bab I Trauma Kapitis ................................ ................... 1

Bab II Trauma Medula Spinalis .... ... .. ..... .. .. ............. ..... 19

Da:ftar Kontributor 30

Lampiran ... ... ... .. ...... ... ............................................ ........ 31

Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal m


Kata Pengantar

Kasus-kasus neurotraumatologi, baik trauma kapitis maupun


trauma medulla spinalis, banyak ditemukan saat bencana alam
dan pada kehidupan keseharian, banyaknya kejadian trauma
ini akibat dari kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja dan
perkelahian.

Tuntutan tatalaksana yang sesuai dengan evidence based medicine


dan guidelines yang sudah baku didunia menjadi dorongan untuk
penyusunan konsensus nasional neuro-traumatologi ini.

Buku konsensus ini dimaksudkan untuk menyatukan pemikiran


tentang tatalaksana dari segi de:finisi, diagnostik, manajemen
baik pre hospital, gawat darurat, rawat inap dan rehabilitasi.

Konsensus neuro-traumatologi ini terdiri dari dua bah. Bah


pertama berisi hal-hal yang menyangkut trauma kapitis dan bah
kedua berisi hal-hal yang menyangkut trauma medulla spinalis.
Masing-masing bah tersebut, terdiri dari konsensus umum,
konsensus keseragaman diagnostik, konsensus manajemen
pre hospital, konsensus manajemen di ruang gawat darurat,
konsensus manajemen di ruang rawat, konsensus neurorestorasi
dan rehabilitasi, serta konsensus penelitian multisenter.

Tim editor menyadari bahwa format dan isi buku ini belum
sempurna, oleh sebab itu kami mengharapkan saran dan
sumbangsih pikiran dari sejawat sekalian untuk penyeinpurnaan
sehingga konsensus ini dapat direvisi di tahun tahun mendatang
sesuai dengan perkembangan ilmu yang mutakhir.

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal v


Ucapan terima kasih kami tujukan kepada PT. Takeda Indonesia
yang telah berpartisipasi pada pertemuan seluruh pengurus pokdi
Traumatologi di Jakarta dan sekaligus mencetak hasil konsensus
ini.

Selamat memanfaatkan buku ini.

Jakarta, 28 november 2006


Tim Editor
Dr.Lyna Soertidewi, Sp.S (K), M.Epid
Prof.Dr.H.JusufMisbach, Sp.S(K), FAAN
Prof.DR.Dr.Hasan Sjahrir Sp.S(K)
Dr. Abdulbar Hamid, Sp.S(K)
Dr. Jofizal Jannis, Sp.S (K)
Dr. Mursyid Bustami Sp.S, KIC

vi Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


BAB I
TRAUMA KAPITIS

I. KONSENSUS UMUM

Trauma kapitis dapat merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan


dan kematian yang cukup tinggi dalam neurologi dan menjadi
masalah kesehatan oleh karena penderitanya sebagaian besar orang
muda, sehat dan produktif.

Trauma merupakan penyebab utama kematian pada anak di atas usia


1 tahun di Amerika Serikat. Dibandingkan dengan trauma lainnya,
persentase trauma kapitis adalah yang tertinggi, yaitu sekitar lebih
atau sama dengan 80%. Kira-kira sekitar 5% penderita trauma kapitis,
meninggal ditempat kejadian. Trauma kapitis mempunyai dampak
emosi, psikososial dan ekonomi yang cukup besar sebab penderitanya
sering menjalani masa perawatan rumah sakit yang panjang, dan 5-
10% setelah perawatan rumah sakit masih membutuhkan fasilitas
pelayanan jangka panjang.

Trauma kapitis akan terus menjadi problem masyrakat yang sangat


besar, meskipun pelayanan medis sudah sangat maju pada abad 21 ini.
Sebagian besar pasien dengan trauma kapitis (75-80%) adalah trauma
kapitis ringan ringan; sisanya merupakan trauma dengan kategori
sedang dan berat dalam jumlah yang sama.

Di Indonesia, data tentang trauma kapitis ini belum ada. Yang ada
barulah data dari beberapa Rumah Sakit (sporadis).

Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 1


Data di ruang rawat neurologi RSCM tahun 2005 :
Jenis kelamin TK Ringan TK Sedang TK Berat Operasi Meninggal
Pria 292 229 22 18
Wanita 142 86 6 3 5
Jumlah 434 315 28 23

. Data dari Bedah Saraf RSCM tahun 2005, jumlah pasien trauma
kapitis yang dioperasi 19 orang (pria 8 orang, wanita 11 orang)

Prediksi insiden per tahunnya didunia akan menurun secara signifikan,


dengan adanya undang undang pemakaian helm dan sabuk pengaman
bagi pengendara motor/mobil. Diperkirakan sebanyak kurang lebih
10 juta orang menderita Trauma kapitis berat dengan angka kematian
sekitar separuhnya.

Telah banyak manajemen terapi standar yang berdasarkan evidence


based medicine yang diajukan dan diterapkan di pusat pusat kesehatan
di seluruh dunia. Tetapi mengingat kemampuan dan fasilitas yang
tersedia di pusat pusat kesehatan tersebut, terutama di negara negara
berkembang seperti di Indonesia, maka beberapa penyesuaian perlu
dilakukan.

Beberapa penelitian berbasis penderita orang Indonesia perlu dilakukan


untuk mendapatkan gambaran manajemen maksimum dan optimum
yang dapat diterapkan dan yang sesuai dengan karakter serta fasilitas
yang tersedia.

Manajemen trauma kapitis sendiri pada dasamya dibagi dalam:


Manajemen non operatif (kasus terbanyak), ditangani oleh
keilmuan penyakit saraf (neurologi)
-: Manajemen operatif, ditangani oleh keilmuan bedah saraf

2 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Terapi trauma kapitis yang belum berdasarkan evidence based
medicine, tidak dianjurkan dipakai

Manajemen trauma kapitis dapat menjawab tuntutan kebutuhan


keluaran kualitas hidup yang baik setelah terjadinya cedera otak pada
penderitanya (patient oriented) yang mayoritas berusia muda dan
sehat dan masih berkesempatan untuk mengembangkan kariemya.

II. KONSENSUS KESERAGAMAN DIAGNOSIS

SINONIM: trauma kapitis = cedera kepala = head injury = trauma


kranioserebral = Traumatic Brain Injury

DEFINISI:
Trauma kapitis adalah trauma mekanik terhadap kepala baik secara
langsung ataupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi
neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial baik
temporer maupun permanen.

KLASIFIKASI
Klasifikasi trauma kapitis berdasarkan :
1. Patologi:
1.1. Komosio serebri
1.2. Kontusio serebri
1.3. Laserasio serebri
2. Lokasi lesi
2.1. Lesi diffus
2.2. Lesi kerusakan vaskuler otak
2.3. Lesi fokal
2.3 .l. Kontusio dan laserasi serebri

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 3


2.3.2.Hematoma intrakranial
2.3.2.1. Hematoma ekstradural (hematoma epidural)
2.3.2.2. Hematoma subdural
2.3.2.3. hematoma intraparenkhimal
2.3.2.3.1. Hematoma subarakhnoid
2.3.2.3.2. Hematoma intraserebra1
2.3.2.3.3. Hematoma intraserebellar
3. Derajat kesadaran berdasarkan SKG

Kategori SKG Gambaran Klinik CT Scan otak


Minimal 15 Pingsan (-},defisit naurologi(-) Normal
Ringan 13-15 Pingsan < 10 manit, dafisit Normal
nauroloaik (-)
Sadang 9-12 Pingsan > 10 manit s/d 6 jam Abnormal
Dafisit nauroloaik (+)
Berat 3-8 Pingsan>6 jam, daflsit naurologik Abnormal
(+)
Catatan:
1. Tujuan klasifikasi ini untuk pedoman triase di gawat darurat
2. Jika abnormalitas CT Scan berupa perdarahan intrakranial, penderita
dimasukkan klasifikasi trauma kapitis berat

DIAGNOSTIK PASCA PERAWATAN :


1. Minimal (Simple Head Injury)
SKG 15, Tidak ada penurunan kesadaran, tidak ada amnesia pasca
trauma (APT), Tidak ada defisit neurologi.
2. Trauma kapitis ringan I Mild Head injury:
SKG 13-15, CT Scan normal, pingsan < 30 menit, tidak ada lesi
operatif, rawat rumah sakit < 48 jam, amnesia pasca trauma (APT)
< 1 jam
3. Trauma kapitis sedang I Moderate Head Injury
SKG 9-12 dan dirawat > 48 jam, atau SKG > 12 akan tetapi ada
1esi operatif intrakrania1 atau abnormal CT Scan, pingsan > 30
menit- 24 jam, APT 1-24 jam

4 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


4. Trauma kapitis berat I Severe Head injury:
SKG < 9 yang menetap dalam 48 jam sesudah trauma, pingsan >
24 jam, APT> 7 hari.

PELAPORAN DIAGNOSIS BERDASARKAN


INTERNATIONAL CLLASSIFICATION DISEASES (lCD) IX
(lampiran 1)

SKALA KOMA GLASGOW


Nilai SKG orang dewasa
- penjumlahan dari komponen Mata + Verbal + Motorik
- jumlah minimal 1 + 1 +I = 3 - koma dalam
- jumlah maksimal 4 + 5 + 6 = 15 - kompos mentis - normal

Normal Skor pada anak:


- < 6 bulan : 12
- 6-12 bulan : 12
l-2thn :13
- 2-5 thn : 14
- > 5 thn : 14

Skala KQma Glasgow


Buka mata
i
~~~- :·=~~hun I0-1 tahun
14 . . . j Spon~~------- ---,r-S-p-o-nta-n~·-----1

~-;--··ro-~n~~erinta_h_v-erb_a_l_ _ _ _ _ _ jo_en-g-an_p_a_n_gg-11-an---l

1-;--- ro~~gan nyer~--· ---· 1Dengan nyeri

~~--~Tidak ada respon ITdk ada respon

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 5


>1 tahun
.-~M;n~~; ~~-r~~;~h- ..... ----------- ----- - . -.!
5 - I Dapat melokalisa~i~~~;i·-···--------- . ·rMelokasi nyeri ·r

~==~A~k.; tem~cO;ny~-=~~~~;Sfhadap~~~~- __I

!3 1 Fleksi abnormal (dekortikasi) I Fleksl ~bn~rmal !


· 1 (dekort1kas1) I
;--·-·- ,-----·-·· ··-·-·---·---·- . r-::::=·-------1
i2 I Ekstensi (desereberasi) I Ekstensi (desereberasi) j

~ Tidak ada respon jTidak ada respon

Respon verbal terbaik


r.· -·.

i; Nilai
···-·r··--- . -·-····--·- · -· · ·-
>5 tahun

Disorientasi dan
berbicara

~-~-- -- ~~~~;;~i!i~:id~k----~-Be~~;i::·-

Merintih
' ~---~----···--

Tidakada
11 I Tidak ada respon respon

Catatan:
Pasien yang disfasia atau dalam intubasi tidak mampu berbicara, dan
skor verbalnya tidak dapat dinilai, diberi tanda T untuk komponen verbal
tersebut. Pasien dengan intubasi, skor SKG maksimal adalah I OT dan
minimal2T.
Pasien dengan cedera lokal pada mata dan mata tidak bisa dibuka, diberi
tanda C (eye closed) utk komponen mata.

6 Konsensus Nasiona/ Penanganan TraumaKapitis dan Trauma Spinal


Untuk pasien yang diberi obat pelemas otot di ICU (knock down), diberi
tanda M pada komponen motoriknya.
SKG ini, dipergunakan untuk membantu membedakan beratnya suatu
trauma kapitis. Trauma kapitis ringan mempunyai skor SKG 13-15, dan
trauma kapitis sedang mempunyai skor SKG 9-12. Skor SKG kurang
dari 9 dikatakan sebagai trauma kapitis berat. Definisi ini tidak kaku
dan harus dipertimbangkan sebagai panduan umum terhadap tingkatan
trauma.

PEMBAGIAN TRAUMA KAPITIS RINGAN DALAM


TRAUMA OLAH RAGA
Kehilangan kesadaran Lamanya amnesia
Ringan/grade I Tidak ; bingung; disorientasi 5-15 manit
concussion
Sedang/grade II Tidak atau singkat ( 1-5 min) 15-30 manit
concussion
Berat/grade Ill Ada (> 5 min) > 1 jam
concussion

PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan
l. Anamnesis
Trauma kapitis dengan I tanpa gangguan kesadaran atau
dengan interval lucid
Perdarahan I otorrhea I rhinorrhea
Amnesia Traumatika (retrograd I anterograd)
2. Hasil pemeriksaan klinis Neurologis
3. Foto kepala polos, posisi AP, lateral, tangensial
4. Foto lain dilakukan atas indikasi tennasuk foto servikal.

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 7


Dari basil foto, perlu diperhatikan kemungkinan adanya fraktur :
• linier
• impresi
• terbuka I tertutup
5. CT Scan Otak : untuk melihat kelainan yang mungkin terjadi
berupa
• Gambaran kontusio
Gambaran edema otak
• Gambaran perdarahan (hiperdens) :
• Hematoma epidural
• Hematoma subdural
• Perdarahan subarakhnoid
• Hematoma intraserebral

PEMERIKSAAN KLINIS UMUM DAN NEUROLOGIS


• Penilaian Kesadaran berdasarkan skala koma Glasgow
(SKG)
• Penilaian fungsi vital tensi, nadi, pernafasan
• Otorrhea, Rhinorrhea
• Ecchymosis periorbital bilateral I Eyes/ hematoma kaca
mata
• Ecchymosis mastoid bilateral I Battles Sign
• Gangguan fokal neurologik
• Fungsi motorik : lateralisasi. kekuatan otot
• Refleks tendon, refleks patologis
• Pemeriksaan fungsi batang otak:
• Ukuranbesar, bentuk, isokor I anisokor & reaksi pupil
• Refleks kornea
• Dolls eye phenomen
• Monitor pola pernafasan:
o cheyne stokes : lesi di hemisfer

8 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


o central neurogenic hyperventilation : lesi di
mesensefalon - pons
o apneustic breath : lesi di pons
o ataxic breath : lesi di medulla oblongata
Gangguan fungsi otonom
• Funduskopi

HEMATOMA EPIDURAL
Perdarahan yang terjadi diantara tabula intema- duramater
Hematom massif, akibat pecahnya a.meningea media atau sinus
venosus

Tanda Diagnostik Klinik :


1. Lucid interval (+)
2. Kesadaran makin menurun
3. Late Hemiparese kontralaterallesi
4. Pupil anisokor
5. Babinsky (+) kontralaterallesi
6. Fraktur di daerah temporal

HEMATOMA EPIDURAL DI FOSSA POSTERIOR:


Gejala dan Tanda Klinis :
1. Lucid interval tidak jelas
2. Fraktur kranii oksipital
3. Kehilangan kesadaran cepat
4. Gangguan serebellum ,batang otak dan pemafasan
5. Pupil isokor

Penunjang Diagnostik :
CT Scan otak: gambaran hiperdens (perdarahan) di tulang tengkorak
dan dura, umurnnya di daerah temporal, dan tampak bikonveks

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 9


HEMATOMA SUBDURAL
Perdarahan yang terjadi di antara duramater - arakhnoid, akibat
robeknya "bridging vein" (vena jembatan)
Jenis
1. Akut Interval Lucid 0-5hari
2. Subakut Interval Lucid 5 hari - bbrp minggu
3. Kronik Interval Lucid > 3 bulan

Hematoma Subdural Akut


Gejala dan tanda klinis :
sakit kepala
kesadaran menurun + I -
Penunjang Diagnostik :
CT Scan otak : gambaran hiperdens (perdarahan)
diantara duramater dan araknoid, umumnya karena
robekan dari bridging vein, dan tampak seperti bulan
sabit

HEMATOMINTRASEREBRAL
Adalah perdarahan parenkhim otak, disebabkan karena pecahnya
arteri infraserebral mono atau- multiple

FRAKTUR BASIS KRANII:


1. Anterior •
Gejala dan tanda klinis :
keluarnya cqiran likuor melalui hidung I rhinorea
perdarahan\ilateral periorbital ecchymosis I raccoon
eye
anosmia
2. Media
Gejala dan tanda klinis :
keluarnya cairan likuor melalui telinga I otorrhea

10 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


gangguan n. VII & VIII
3. Posterior
Gejala dan tanda klinis :
bilateral mastoid ecchymosis I Battles sign

Penunjang diagnostik :
Memastikan cairan serebrospinal secara sederhana
dengan tes halo
Scaning otak resolusi tinggi dan irisan 3 mm (50%
+) (high resolution and thin section)

DIFFUSE AXONAL INJURY (DAI)


Gejala dan tanda Klinis:
koma lama pasca trauma kapitis (prolonged
coma)
disfungsi saraf otonom.
demam tinggi
Penunjang Diagnostik :
CT Scan otak :
awal - normal, tidak ada tanda adanya perdarahan,
edema, kontusio
ulangan setelah 24 jam - edema otak luas

PERDARAHAN SUBARAKHNOID TRAUMATIKA
Gejala dan tanda Klinis :
Kakukuduk
Nyeri kepala
Bisa didapati gangguan kesadaran

Penunjang diagnosis :
CT Scan otak: perdarahan (hiperdens) di ruang subaraknoid

Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 11


III. KONSENSUS MANAJEMEN DI UNIT GAWAT
DARURAT

PENANGGULANGAN TRAUMA KAPITIS AKUT


Penanganan emergensi sesuai dengan beratnya trauma kapitis (ringan,
sedang, berat) berdasarkan urutan :
1. Survei Primer, gunanya utk menstabilkan kondisi pasien,
meliputi tindakan tindakan sbb :
A= Airway Ualan nafas).
Bebaskan jalan nafas dengan memeriksa mulut dan
mengeluarkan darah, gigi yang patah, muntahan, dsb. Bila
perlu lakukan intubasi (waspadai kemungkinan adanya fraktur
tulang leher)
B =Breathing (pemafasan).
Pastikan pemafasan adekuat.
Perhatikan frekuensi, pola nafas dan pemafasan dada atau
perut dan kesetaran pengembangan dada kanan dan kiri
(simetris). Bila ada gangguan pemafasan, cari penyebab
apakah terdapat gangguan pada sentral (otak dan batang
otak) atau perifer (otot pemafasan atau paru-paru). Bila perlu,
berikan Oksigen sesuai dengan kebutuhan dengan target
saturasi 02 > 92%.
C =Circulation (sirkulasi)
Pertahankan Tekanan Darah Sistolik > 90 mmHg.
Pasang sulur intravena. Berikan cairan intravena drip, NaCI
0,9% atau Ringer. Hindari cairan hipotonis. Bila perlu berikan
obat vasopresor dan I inotropik.

Konsultasi ke spesialis bedah saraf berdasarkan indikasi

12 Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


(lihat indikasi operasi penderita trauma /capitis)
D = Disability (yaitu untuk mengetahui lateralisasai dan kondisi .
umum dengan pemeriksaan cepat status umum dan neurologi )
- Tanda vital : tekanan darah, nadi, pemafasan, suhu
Skala koma Glasgow
Pupil : ukuran, bentuk dan refiek cahaya
Pemeriksaan neurologi cepat : hemiparesis, refieks
patologis
Luka-luka
Anamnesa : AMPLE (Allergies, Medications, Past
Illnesses, Last Meal, Event I Environment related to the
injury)

2. Survei Sekunder, meliputi pemeriksaan dan tindakan lanjutan


setelah kondisi pasien stabil .
E = Laboratorium
Darah : Hb, leukosit, hitung Jems lekosit, trombosit,
ureum, keatinin, gula darah sewaktu, analisa gas darah dan
elektrolit
Urine : perdarahan (+) I (-)
Radiologi:
Foto polos kepala, posisi AP, lateral, tangensial
CT scan otak.
Foto lainnya sesuai indikasi (termasuk foto servikal)
F = Manajemen Terapi
Siapkan untuk operasi pada pasien y~g mempunyai
indikasi
Siapkan untuk masuk ruang rawat
Penangananlukaluka
Pemberian terapi obat obatan sesuai kebutuhan

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal l3


INDIKASI OPERAS! PENDERITA TRAUMA KAPITIS
1. EDH (epidural hematoma);
a. > 40 cc dengan midline shifting pada daerah
temporal I frontal I parietal dengan fungsi batang
otak masih baik.
b. > 30 cc pada daerah fossa posterior dengan tanda-
tanda penekanan batang otak atau hidrosefalus
dengan fungsi batang otak masih baik.
c. EDH progresif.
d. EDH tipis dengan penurunan kesadaran bukan
indikasi operasi.

2. SOH (subdural hematoma)


a. SDH luas (> 40 cc I > 5 mm) dengan GCS > 6,
fungsi batang otak masih baik.
b. SDH tipis dengan penurunan kesadaran bukan
indikasi operasi.
c. SDH dengan edema serebri I kontusio serebri
disertai midline shift dengan fungsi batang otak
masih baik.

3. ICH (perdarahan intraserebral) pasca trauma.


Indikasi operasi ICH pasca trauma:
a. Penurunan kesadaran progresif.
b. Hipertensi dan bradikardi dan tanda-tanda
gangguan nafas (Cushing reflex).·
c. Perburukan defisit neurologi fokal.
4. Fraktur impresi melebihi 1 (satu) diploe.
5. Fraktur kranii dengan laserasi serebri.
6. Fraktur kranii terbuka (pencegahan infeksi intra-kranial).
7. Edema serebri berat yang disertai tanda peningkatan
TIK, dipertimbangan operasi dekompresi.

14 Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


KASUS RINGAN (Simple Head Injury)
1. Pemeriksaan status umum dan neurologi
2. Perawatan luka luka
3. Pasien dipulangkan dengan pengawasan ketat oleh
keluarga selama 48 jam
Bila selama di rumah terdapat hal-hal sebagai berikut :
Pasien cenderung mengantuk
Sakit kepala yang semangkin berat
Muntah proyektil
maka pasien harus segera kembali ke rumah sakit.
4. Pasien perlu dirawat apabila ada hal-hal berikut:
Ada gangguan orientasi (waktu, tempat)
Sakit kepala dan muntah
Tidak ada yang mengawasi di rumah
Letak rumah jauh atau sulit utk kembali ke RS

IV. KONSENSUS DI RUANG RAWAT

Pelayanan medis:
Tujuan yang paling utama dari tata laksana trauma kapitis tertutup
harus maksimal terhadap proses fisiologis dari perbaikan otak itu
sendiri (Miller, 1978)

A. KRITIKAL- SKG 3 - 4
Perawatan di Unit IntensifNeurologi (Neurological ICU)/ICU
(bila fasilitas tersedia)

B. TRAUMA KAPITIS SEDANG DAN BERAT- SKG 5- 12


I. Lanjutkan penanganan ABC
2. Pantau tanda vital ( suhu, pernafasan, tekanan darah ),
pupil, SKG, gerakan ekstremitas, sampai pasien sadar

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 15


(memakai lembar pantauan kondisi medisiObservation
Chart, lampiran 2)
pantauan dilakukan tiap 4 jam
lama pantauan sampai pasien mencapai SKG 15
Perhatian khusus harus diberikan untuk mencegah
terjadinya hipotensi (Miller, 1978;Chestnut 1993 ).
Data dari Traumatic Coma Data Bank (TCDB)
memperlihatkan bahwa hipotensi pada pasien dengan
trauma kranioserebral berat akan meningkatkan angka
kematian dari 27% menjadi 50% (Wilkins, 1996).
Tatalaksana tradisional yang meliputi pembatasan cairan
dalam mengurangi terjadinya edema otak, kemungkinan
akan membahayakan pasien, terutama pada pasien yang
telah mengalami banyak kehilangan cairan (misalnya
perdarahan).
Dijaga jangan terjadi kondisi sebagai berikut :
- Tekanan darah sistolik < 90 mm Hg
- Suhu > 38 derajat Celcius
- Frekuensi nafas > 20 x I menit
3. Cegah kemungkinan terjadinya tekanan tinggi
intrakranial, dengan cara :
Posisi kepala ditinggikan 30 derajat.
Bila perlu dapat diberikan Manito) 20% (hati-hati
kontraindikasi). Dosis awal 1 gr I kg BB, berikan
dalam waktu Yz - 1 jam, drip cepat , dilanjutkan
pemberian dengan dosis 0,5 gr I kg BB drip cepat, Yz
- 1 jam, stlh 6 jam dari pemberian pertama dan 0,25
gr I kg BB drip cepat, Yz - 1 jam setelah 12 jam dan 24
jam dari pemberian pertama
Berikan analgetika, dan hila perlu dapat diberikan
sedasi jangka pendek

16 Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


4. Atasi komplikasi :
kejang : profilaksis OAE selama 7 hari utk mencegah
immediate dan early seizure pada kasus risiko tinggi
infeksi akibat fraktur basis kranii I fraktur terbuka :
profilaksis antibiotika, sesuai dosis infeksi intrakranial,
selama l 0 - 14 hari.
gastrointestinal - perdarahan lambung
demam
DIC: pasien dengan trauma kapitis tertutup
cenderung· mengalami koagulopati akut.
5. Pemberian cairan dan nutrisi adekuat
6. Roboransia, neuroprotektan, nootropik sesuai indikasi.

C. TRAUMA KAPITIS RINGAN (KOMOSIO SEREBRI)


1. Di rawat 2 x 24 jam
2. Tidur dengan posisi kepala ditinggikan 30 derajat
3. Obat-obat simptomatis seperti analgetik, anti i~metik, dan
lain-lain sesuai indikasi dan kebutuhan

V. KONSENSUS NEURORESTORASI DAN NEURORE-


HABILITASI

1. Evaluasi defi.sit neurologi


a. Parese nervi kranialis
b. Parese motorik
c. Gangguan sensorik
d. Gangguan otonom
e. Koordinasi
f. Neurobehavior (kognitif dan emosi) :
TOAG (fes Orientasi dan Amnesia Galveston)
(di ruang rawat) (lampiran 3)

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 17


MMSE (Minimental State Examination) (lampiran 4):
1. dilakukan setelah nilai TOAG > 75
2. di ruangan
3. hila ada penurunan nilai (< 30), dikirim ke
divisi neurobehavior
g. Status mental neuro lengkap (dilakukan di Divisi
Neurobehavior)
2. Membuat program restorasi berdasarkan acuan baku
sesuai dengan defisit yang didapatkan
3. Membuat discharge planning
4. Mengirim pasien ke pusat rehabilitasi

VI. KONSENSUS PENELITIAN MULTISENTER


Penelitian epidemiologi klinis praktis :
1. Surveilen data trauma kapitis l;>erbasis rumah sakit.
2. Obat- obatan : neuroprotektan
3. Keluaran:- Neurobehavior
Post Traumatic Syndrome
QoL (Quality of Life), dengan Glasgow Outcome
Scale (GOS) (lampiran 5)
Skoring keluaran probabilitas hidup I mati dengan :
i. Systemic Inflammatory Response Syndrome
(SIRS) (lampiran 6)
ii. Revised Trauma Score (RTS) (lampiran 7)

18 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


BABII
TRAUMA MEDULA SPINALIS

I. KONSENSUS UMUM
Trauma Medula Spinalis (TMS):
Adalah trauma pada tulang belakang yang menyebabkan
lesi di medula spinalis sehingga menimbulkan gangguan
neurologis, dapat menyebabkan kecacatan menetap atau
kematian.
• Merupakan keadaan darurat neurologi yang memerlukan
tindakan yang cepat, tepat dan cermat untuk mengurangi
angka kecacatan dan kematian.
lnsidens trauma medula spinalis diperkirakan 30-40 per
satujuta pendudukpertahun, dengan sekitar 8.000.-10.000
kasus per tahun.
Angka mortalitas diperkirakan 48% dalam 24 jam pertama,
dan lebih kurang 80% meninggal di tempat kejadian, ini
disebabkan vertebra servikalis yang memiliki resiko trauma
yang paling besar, dengan level tersering C5, diikuti C4,
C6 dan kemudian Tl2, Ll dan TlO.
Tujuan pengobatan pada trauma medula spinalis adalah:
o Menjaga sel yang masih hidup agar terhindar dari
kerusakan lanjut.
o Eliminasi kerusakan akibat proses patogenesis ·
sekunder
o Mengganti sel sarafyang rusak.
o Menstimulasi perturnbuhan akson dan
koneksitasnya.
o Memaksimalkan penyembuhan defisit neurologis.

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 19


o Stabilisasi vertebra.
o Neurorestorasi dan neurorehabilitasi untuk
mengembalikan fungsi tubuh.
* Prognosis tergantung pada :
a). Lokasi lesi (lesi servikal atas prognosis lebih
buruk).
b). Luas lesi (komplit I inkomplit).
c). Tindakan dini (prehospital dan hospital).
d). Trauma multipel.
e). Faktor penyulit (komorbiditas).

H. KONSENSUS KESERAGAMAN DIAGNOSIS


Penegakkan Diagnosis :
- Anamnesis riwayat trauma
- Berdasarkan Gejala dan Tanda Klinis (ASIA scale)
- Gambaran klinis tergantung letak dan luas lesi
Definisi:
Trauma medula spinalis (spinal cord injury): adalah trauma langsung
atau tidak langsung terhadap medula spinalis yang menyebabkan
kerusakan medula spinalis.
Mekanisme terjadinya dikarenakan:
a. fraktur vertebraldislokasi.
b. luka penetrasi/tembus.
c. perdarahan epidural/subdural.
d. trauma tidak langsung.
e. trauma intramedular/kontusio.

Whiplash injury : gerakan tiba-tiba hiperekstensi kemudian diikuti


hiperfleksi servikal, menyebabkan cedera jaringan lunak spinal, tidak
ada kerusakan pada medula spinalis.

20 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Klasifikasi
1. ASIA/IMSOP
Klasifikasi tingkat dan keparahan trauma medula spinalis ditegakkan
pada saat 72 jam sampai 7 hari setelah trauma.

a. berdasarkan impairment scale:


Grade Tipe Gangguan medula spinalis ASIAIIMSOP

A Komplit Tidak ada fungsi motorik dan sensorik sampai S4-S5

B lnkomplit Fungsi sensorik masih baik tapi motorik terganggu


sampai segmen sakral S4-S5

c lnkomplit Fungsi motorik terganggu dibawah level, tapi otot-oto


motorik utama masih punya kekuatan < 3

D lnkomplit Fungsi motorik terganggu dibawah level, otot-otot motorik


utama punya kekuatan > 3

E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal

ASIA : American spinal injury association/International medical


society of Paraplegia(/MSOP)

b. Berdasarkan tipe dan lokasi trauma:


i) Complete spinal cord injury (Grade A)
(a) Unilevel
(b) Multilevel
ii) Incomplete spinal cord injury (Grade B,C, D)
(a) Cervico medullary syndrome
(b) Central cord syndrome
(c) Anterior cord syndrome
(d) Posterior cord syndrome
(e) Brown Sequard Syndrome
(f) Conus Medullary Syndrome
iii) Complete Cauda Equina Injury (Grade A)
iv) Incomplete Cauda Equina Injury (Grade B, C dan D)

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 21


2. Sindroma Trauma Spinal

'Sindroma Kausa Utama Ge'ala & Tanda Klinis


Hemicord (Brown Sequard Trauma tembus, Kompresi - Paresis UMN ipsilateral di
syndrome) ekstrinsik bawah lesi dan LMN setinggi
iesi
• Gangguan eksteroseptif
(nyeri & suhu ) kontralateral
• Gangguan propioseptif (raba
dan tekan )·ipsilateral
Sindroma Spinalis anterior Cedera yang menyebabkan • Paresis LMN setinggi lesi,
HNP pada T4-6 UMN dlbawah lesi
• Dapat disertai dlsosiasi
sensibilitas
• Gangguan eksteroseptif,
propioseptif normal
• Disfungsi spinkter
Sindroma Spinalis sentral Hematomiella, • Paresis Iangan > tungkai
servikal Trauma spinal (fleksi·ekstensi) • Gangguan sensorik ber
variasi (disestesia/hiper·
estesia) di ujung distallengan
• Disosiasi sensibilitas
• Disfungsi miksi, defekasi dan
seksual
Sindroma Spinalis posterior Trauma, lnfark a.spinalls • Paresis ringan
posterior • Gangguan eksteroseptif
(nyerVparestesia) pada
punggung, leher dan bokong
• Gangguan propioseptif
bilateral
Sindroma konus medullaris Trauma lower sacral cord - Gangguan motorik ringan,
simetris, tidak ada atropi
• gangguan sensorik saddle
anestesi, muncullebih awal,
bilateral. ada disosiasi
sensibilitas.
- nyerl jarang, relatif ringan,
Slmetris, bilateral pd daerah
Perinueum dan paha
·reflex achilles(·)
• reflex patella (+)
• disfungsi sphincter terjadi
dinl dan berat.
• reflex bulbocavernosus dan
anal(·)
• gangguan ereksi dan ejaku-
lasI.
Sindroma Cauda Equina Cedera akar saraf lumbosakral • gangguan motorik sedang sp
berat, asimetris, dan atropi.
• gangguan sensibilitas saddle
anestesi, asimetris, timbul
lebih lambat, disosiasi sensi
bilitas (·)
• nyeri menonjol, hebat, timbul
dini, radikular, asimetris.
• gangguan reflex bervariasi
• gangguan sphincter timbul
lambat, jarang berat, reflex
jarang terganggu, disfungsi
seksual jarang

22 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


* Otot-otot utama:
- lengan otot fleksor (elbow flexors), otot ekstensor
tangan (wrist extensors), otot ekstensor (elbow
extensors), otot fleksor jari-jari (finger flexors
- distal phalanx of middle finger), abduktor jari
jari (finger abductors - little finger).
- tungkai otot fleksor panggul (hip flexors), otot ekstensot
lutut (knee extensors), otot dorsofl.eksi
pergelangan kaki (ankle dorsiflexors), otot
panjang ekstensor jari jari (long toe extensors),
otot fleksor plantar pergelangan kaki (ankle
plantar flexors)

III. KONSENSUS MANAJEMEN PRE HOSPITAL

Untuk mendukung tujuan penyembuhan yang optimal, maka perlu


diperhatikan tatalaksana di saat pre hospital :
stabilisasi manual
membatasi fleksi dan gerakan gerakan lain
penanganan imobilitas vertebra dengan kolar leher
dan vertebral brace.

IV. KONSENSUS MANAJEMEN DI UNIT GAWAT


DARURAT
Tindakan darurat mengacu pada :
I. A (AIRWAY)
Menjaga jalan nafas tetap lapang.
2. B (BREATHING)
Mengatasi gangguan pemafasan, kalau perlu lakukan

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 23


intubasi endotrakheal (pada cedera medulla spinalis
servikal atas) dan pemasangan alat bantu nafas supaya
oksigenasi adekuat.
3. C (CIRCULATION)
Memperhatikan tanda-tanda hipotensi, terjadi karena
pengaruh pada sistem saraf ortosimpatis. Harus
dibedakan antara :
a). Syok hipovolemik (hipotensi, tachycardia,
ektremitas dingin I basah. ). Tindakan - Berikan
cairan kristaloid (NaCl 0,9% I Ringer Laktat).
kalau perlu dengan koloid (misal: Albumin
5%)
b). Syok neurogenik (hipotensi, bradikardia,
ekstremitas hangat I kering), pemberian cairan
tidak akan menaikkan tensi (awasi edema paru)
maka harus diberi obat vasopressor:
- dopamine untuk menjaga MAP>70
- hila perlu adrenalin 0,2 mg s.k
- dan boleh diulangi 1 jam kemudian
* Cairan yang diberikan kristaloid ( NaCl 0,9% I
Ringer Laktat) atau koloid (mis: Albumin 5%)
4. Selanjutnya
* pasangfoley kateter untuk monitor basil urine dan cegah
retensi urine
* pasang pipa naso gastrik (hati-hati pada cedera servikal),
dengan tujuan untuk :
dekompresi lambung pada distensi
kepentingan nutrisi enteral
5. Pemeriksaan Umum dan Neurologis Khusus
* Jika terdapat fraktur atau dislokasi kolumna
vertebralis:

24 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Servikal : pasang kerah fiksasi leher, jangan
dimanipulasi dan disamping kiri-kanan leher
ditaruh bantal pasir
Torakal : lakukan fiksasi (torakolumbal brace)
Lumbal : fiksasi dengan korset lumbal
* Defisit Neurologis
Berdasar gejala & tanda klinis sesuai dengan tinggi
dan luas lesi

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium:
Darah perifer lengkap
Urine lengkap
Gula darah sewaktu
Ureum & Kreatinin
Astrup (analisa gas darah)
b. Radiologi
Foto Vertebra posisi APILAT/odontoid dengan
sesuai letak Lesi.
CT Scan I MRI jika dengan foto konvensional
masih Meragukan atau hila akan dilakukan
tindakan operasi
c. Pemeriksaan lain
EKG hila terdapat aritmia jantung

7. Pemberian Kortikosteroid
* Bila diagnosis ditegakkan < 3 jam pasca trauma
berikan:
Methylprednisolon 30 mg!KgBB i.v bolus selama
15 menit, ditunggu selama 45 menit (tidak diberikan
Methylprednisolon dalam kurun waktu ini), selanjutnya

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 25


diberikan infus terns menerus methyl prednisolon
selama 23 jam dengan dosis 5.4 mg!KgBB/jam.
* Bila 3-8 jam, idem, hanya infus Me-prednisolon
dilanjutkan untuk 47 jam
* Bila > 8 jam tidak dianjurkan pemberian methylpredni-
solon

V. KONSENSUS MANAJEMEN DI RUANG RAWAT


1. Perawatan Umum
Lanjutkan A,B,C sesuai keperluan
Usahakan suhu badan tetap normal Uika lesi diatas C-8,
termoregulasi tidak ada)
Jika ada gangguan miksi pasang kondom kateter atau dauer
kateter dan jika ada retensi alvi, berikan laksan I klisma.
2. Pemeriksaan Neurofisiologi Klinik- SSEP
3. Medikamentosa
a). Lanjutkan pemberian Metilprednisolon (mencegah proses
sekunder)
b). Anti spastisitas otot sesuai keadaan klinis.
c). Analgetik.
d). Mencegah dekubitus, kalau perlu pakai kasur khusus.
e). Mencegah trombosis vena dalam (DVT) dengan stoking
kaki khusus atau fisioterapi. Kalau perlu dapat diberikan
antikoagulan (Heparin atau LMWH)
f). Mencegah proses sekunder ( free radikal, dll) dengan
pemberian anti oksidan (vit. C, vit E).
g). Stimulasi sel saraf dengan pemberian GM !-Ganglioside.
Dimulai dalam kurun waktu 72 jam sejak onset sampai
dengan 18-32 hari
h). Terapi obat lain sesuai indikasi, seperti antibiotik bila ada
infeksi, dll.

26 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


,.. ...

i). Memperbaiki sel saraf yang rusak dengan stem sel (dimasa
mendatang).

4. Operasi
Waktu operasi
* Waktu operasi antara 24 jam sampai dengan 3 minggu.
* Tindakan operatifawal (< 24 jam) lebih bermaknamenurunkan
perburukan neurologis, komplikasi, dan keluaran skor
motorik satu tahun paska trauma.
Indikasi operatif
* Ada fraktur, pecahan tulang menekan medula spinalis.
* Gambaran neurologis progresifmemburuk.
* Fraktur, dislokasi yang labil.
* Terjadi hemiasi diskus intervertebralis yang menekan medula
spinalis.
Konsultasi ke Bagian Bedah Saraf/Spinal Ortopedik berdasarkan
indikasi.

VI. KONSENSUS NEURORESTORASI DAN NEUROREHA-


BILITASI

Tujuan:
1. Memberikan penerangan · & pendidikan kepada pasien dan
keluarga mengenai trauma medula spinalis.
2. Memaksimalkan kemampuan mobilisasi & self-care (latihan
mandiri) dan/atau latih langsungjika diperlukan.
3. Mencegah komorbiditi (kontraktur, dekubitus, infeksi paru, dll).

Tindakan:
l. Fisioterapi
2. Terapi Okupasi

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 27


3. Latihan miksi dan defekasi rutin.
4. Terapi psikologis.

Rebabilitasi cedera spinal servikal


Merupakan suatu kegiatan rehabilitasi dari hanya berbaring ditempat
tidur menuju kehidupan berkomunitas ("rehabilitation from bedside
to community").
1. Penyembuhan (Recovery)
a. penyembuhan dapat terjadi karena adanya neuroplastisitas
b. Penyembuhan fungsi dinilai dengan. FIM ( "Functional
Independence Measure") ada 18 items.
2. Rehabilitasi
Definisi WHO : Rehabilitasi ialah suatu proses progresif, dinamis,
dalam waktu yang terbatas bertujuan untuk meningkatkan kualitas
individu yang mengalami gangguan secara optimal dalam bidang
mental, fisik, kognitif dan sosial.
Rehabilitasi cedera medula spinalis merupakan suatu pelayanan
kesehatan profesional yang bersifat multi-disiplin, yang dimulai
sejak fase akut, secara terus menerus dan ekstensif, lalu melakukan
pelayanan khusus se1ama fase sub-akut meliputi :
perawatan,
terapi fisik,
terapi kerja,
menjaga pernafasan dan obat-obatan,
istirahat dan rekreasi,
psikologi,
latihan mengendarai mobil,
pelayanan nutrisi,
latihan wicara,
pekerja sosial,
konseling kesehatan seksual.

28 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Kemudian Rehabilitasi dilanjutkan supaya pasien dapat kembali
kedalam lingkungan komunitasnya dan dapat berperan sesuai dengan
keadaan fisiknya yang baru.

VII. KONSENSUS PENELITIAN MULTISENTER


./ Insiden trombosis vena dalam (D V7)
./ Keluaran pada penggunaan Metil Prednisolon
./ Keluaran dengan penggunaan Metil Prednisolon dan
neuroprotektan lain
./ Reabilitas ASIA Skor
./ Functional Independence Measure (FIM)

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 29


DAFTAR KONTRIBUTOR
No Nama Cabang Tanda Tangan

('------·::-:~~~
I. Prof.Dr. H. JusufMisbach, Sp.S(K) FAAN Jakarta .

2. Prof.DR.Dr. Hasan Sjahrir, Sp.S(K) Medan !.J. '-f '---

3. Dr. Lyna Soertidewi, Sp.S(K), M.Epir'


--
Jakarta ~-
4. Dr. H. Abdulbar Hamid, Sp.S(K) Jakarta
I~
5. Dr. Jofizal Jannis, Sp.S(K) Jakarta
~
6. Dr. Mursyid Bustami, Sp.S, KIC Jakarta -~
.·.' •7·,
7. Dr. Darwin Amir, Sp.S(K) Padang (__ tj:z;_)
8. Dr. Billy I. Gunawan, Sp.S(K) Palembang llfr··
, ...... !::.l
-·---

9. Dr. Hartono Prabowo, Sp.S Jakarta {


10. Dr. Andi Basuki, Sp.S Bandung I
:II
II. Dr. Hj. IndaJwati Setyaningsih, Sp.S Yogyakarta ,f0
' \.
L_,
12. Dr. M. Noetjanto, Sp.S(K) Semarang
_\§~,
13. Dr. Leksomono P., Sp.S(K) Surabaya
ts . I
,•
14. Dr. H. Taufik Tjahjadi, Sp.S Makassar I
/t
15. Dr. Jimmy Mahama, Sp.S Man ado
!
16. Dr. DPG Purwa Samatra, Sp.S Denpasar /?
17. Dr. Bambang Budiarso, Sp.S Malang ~~
-
18. Dr. Amsar A. Taudjidi Pekanbaru
c=Z~

30 Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Lampiran 1

Diagnosis berdasarkan Intemational Clossijication Diseases (lCD) X


SOO - S09. Cedera pada kepala
S l 0 - S 19. Cedera pada leher
SOO.O. Cedera pennukaan kulit kepala
SOO.l. Cedera pada celah mata dan daerah sekitarnya
S00.7. Cedera multipel pennukaan kepala
S00.8. Cedera pennukaan bagian lain dari kepala
S00.9. Cedera pennukaan dari kepala bagian tidak spesifik

SOl. Luka terbuka kepala


Tidak tennasuk dekapitasi (S 18), cedera mata dan orbita (S05) dan
amputasi trauma dari kepala
SOLO. Luka terbuka kulit kepala, tidak tennasuk avulsi kulit kepala
(S08.0)
SOl.7. Luka terbuka multipel pada kepala
SOl.8. Luka terbuka dari bagian lain kepala
SOl.9. Luka terbuka kepala, bagian tidak spesifik

S02. Fraktur tulang kepala dan tulang wajah


S02.0. Fraktur dari kubah tengkorak kepala
Tulang frontal, tulang parietal
S02.l. Fraktur basis tengkorak kepala
Fossa:
Anterior
Media
Posterior
• Oksiput
• Lantai orbita
• Sinus
Sinus ethmoid
Frontal
Sphenoid
Tulang temporal
Tidak termasuk Orbit NOS (802.8) dan lantai
orbita(S02.3)

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 31


S02.7. Fraktur multipel yang melibatkan tulang tengkorak dan tulang
wajah
S02.8. Fraktur pada bagian lain dari tulang tengkorak dan tulang wajah
Alveolus
Orbit NOS
Palate
S02.9. Fraktur dari tulang tengkorak dan tulang wajah, bagian tidak
spesifik

S04. Cedera saraf kranial


S04.0. Cedera pada saraf optik dan jarasnya
Chiasma optik
Saraf otak ke 2
Korteks visual
S04.1. Cedera pada saraf okulomotor (saraf otak ke 3)
S04.2. Cedera pada saraftrokhlear (saraf otak ke 4)
S04.3. Cedera pada saraftrlgeminal (saraf otak ke 5)
S04.4. Cedera pada saraf abdusen (saraf otak ke 6)
S04.5. Cedera pada saraf fasial ( saraf otak ke 7)
S04.6. Cedera pada saraf akustik (saraf otak ke 8/ saraf auditori)
S04.7. Cedera pada saraf asesori (saraf otak ke 11)
S04.8. Cedera pada saraf kranial yang lain
Saraf G1osofaringeal (ke 9)
Saraf Hipog1osa1 (ke 12)
Saraf 01faktori (ke I)
SarafVagus (ke 10)
S04.9. Cedera sarafkranial yang tidak spesifik

S06. Cedera intrakrania1


S06.0. Konkusion (komosio serebri)
S06.1. Edema serebral traumatik
S06.2. Cedera otak diffus.
Kontusio serebral NOS
Laserasi serebral NOS
Kompresi otak traumatik NOS
S06.3. Cedera otak fokal
Kontusi otak fokal

32 Konsensus Nosional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Laserasi otak fokal
Perdarahan dalam otak traumatik
S06.4. Perdarahan epidural
Perdarahan ekstradura traumatik
S06.5. Perdarahan subdura traumatik
S06.6. Perdarahan subarakhnoid traurnatik
S06.7. Cedera intrakranial dengan koma yang lama
S06.8. Cedera intrakranial yang lain
Perdarahan traumatik
Serebeli
Intrakranial NOS
S06.9. Cedera intrakranial tidak spesifik
Cedera otak NOS

S07. Cedera tumbukan pada kepala


S07.0. Cedera tumbukan pada wajah
S07.1. Cedera tumbukan pada tulang tengkorak
S07.8. Cedera tumbukan pada bagian lain kepala
S07.9. Cedera tumbukan pada kepala, bagian tidak spesifik

S09. Cedera kepala bagian lain dan tidak spesifik


S09.7. Cedera kepala multipel
Klasifikasi cedera lebih dari satu kategori
S09.8. Cedera kepala lain yang tidak spesifik

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 33


Lampiran 2

NAMA I UMUR JENIS KELAMIN OOKTER I REGISTER

-
TANGGAL
Matatertull.lp
WAKTU 0-24JAM
4 .......
K BUKA r.-"""" 3 bongkak
OAATA Terf11daP.nyefi 2 •C
E

·-
T.. oda 1
s
A """"'"" .... 5
tube llaU

-___
RESPON BroguiQ 4 r,.c:Mos~om<
0 VERBAL 81C111kaelu 3 •T
A 2
T.....
R _,
Mon?IW'-
1
6
A
Penggl.f'INn
5
N RESPON
MOTORIK
Fleksi Mlngan eOnotmal 4
r-1 pelumpuh
01C~

~
Aeksl atlr'lolmlllengan exter\11 ·M L
abnor'Tnalkaki
'2
....
Extenst
T.. _ lbnormallen;ln
_ dan
M
1 B
GCSTOTAL A
I R
230 40
T
39 E 0

.
220
M B

. 210 38
1
37
p s
200 E E
2 I 38 R
190 R
• 3 180 35 A v
• 4
TEKANAN
170 34
T
u
A
s
• 5 DARAH
180
I 33 R

• 150 32
DAN N
6 140 31
E
NADI
• 7 130 u
R

• Puptl
8
120
110
100
0
L
0
Scale
(mm) 90
G
I
80
70
80

Skale 50
40
Pupil
30
(mm)
RESPIRASI

Kanan Ukuron
Reabi + Bereakll
Pupil - Tak Bereakai
I.Jkuran
0 Mala le11ulup
Km Reolcsl

34 Konsensus Nasiona/ Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Lampiran 3
Test Orientation and Amnesia Galveston (TOAG)
TEST ORIENT ASI DAN AMNESIA GALVESTON (TOAG)

Test ini terdiri dari sejumlah pertanyaan yang harus diajukan kepada penderita nilai
kesalahan terlampir dalam tanda kurung, skor dari TOAG adalah 100 dikurangi jumlah
nilai kesalahan dari 10 kelompok pertanyaan-pertanyaan yang terlampir yaitu sebagai
berikut:

Nilai kesalahan
I. Siapa nama saudara? ....... (2)
Kapankah saudara dilahirkan? ...... (4)
Dimanakah Saudara tinggal? ...... (4)
2. Dimana Saudara berada sekarang? kota ...... (5)
rumah sakit ....... (5)
3. Kapankah saudara dibawa kerumah sakit ini? ..... (5)
Bagaimanakah caranya saudara dapat sampai disini? ...... (5)

4. Kejadian pertama apakah yang saudara ingat setelah


kecelakaan ..... (5), jelaskan lebih terperinci (misalnya
waktu, tempat, nama kawan) .... (5)

5. Jelaskan kejadian terakhir apa saja yang saudara ingat


sebelum kecelakaan? ....... (5)
Dapatkah saudara jelaskan secara terperinci
(misalnya waktu tempat, nama kawan ? ....... (5)
6. Jam berapa sekarang? ....... (tiap beda y,jam nilai
kesalahan I, maksimal 5)

7. Hari apa sekarang ?.......(tiap beda I hari nilai kesalahan I)


8. Tanggal berapa sekarang? ..... (tiap beda I nilai kesalahan I)

9. Bulan apa sekarang? ...... (tiap beda I bulan nilai kesalahan


5, maksimal nilai 15)

10. Tahun berapa sekarang ? ....(tiap beda I tahun nilai


kesalahan 10, maksimal nilai 30)

Nilai kesalahan

Skor TOAG = I00 (jumlah nilai kesalahan)


Lamanya amnesia pasca cedera ditentukan sebagai periode dimana TOAG belum
mencapai nilai 75.
(dikutip dari: Levin HS. O'Donnell VM, Grossman RG: The Gaslveston Orientation and
Amnesia Test, The Journal of Nervous and Mental Diseases 1979, 167: 675-634).

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 35


Lampiran 4

Test Mini Mental State Examination (MMSE)


STATUS MINI MENTAL
Nama Pasien
Tgl Lahir
Tgl pemeriksaan

I. ORIENTASI I. Tanggal
(jawab pertanyaan 1-1 0) 2. Hari
3. Bulan
4. Tahun
5. Musim
6. Ruangan (klinik, lantai ?)
7. Rumah Sakit
8. Kota
9. Propinsi ............ .
JONegara ............ .
II. REGISTRASI II. Bola ............ .
(mengingat3kata: 11-13) 12.Melati ........... ..
13.Kursi ............ .
Ill. ATENSI/KALKULASI 14. 93 atau U ............ .
(Serial 100- 7 atau sebut 15. 86 y ............ .
Urutan huruf dari belakang 16. 79 H ............ .
KataWAHYU) 17. 72 A ............ .
18. 65 w ............ .
IV. REKOL (MEMORI) 19 Bola ........... ..
(mengingat kembali 11-13 20. Melati ........... ..
21. Kursi ............ .
v. BAHASA~ penyebutan 22. Jam tangan (arloji) ............ .
23. Pensil ............ .
- pengulangan 24. Namun, tanpa dan bila ............ .
- pengertian verbal 25. Ambil kertas ini dengan
tangan kanan ............ .
(perintah kalimat 25-27 ) 26. Lipatlah menjadi dua dan ........... .
27. Letakan di Jantai ............ .
- membaca + pengertian 28. Tutup mata anda ............ .
bahasa tulisan- menulis 29. (tulis kalimat lengkap) ............ .

c§J
VI. Konstruksi 30. Tiru gambar ini ........... ..
Total Skor : (

WTIWMATA~A

36 Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal


Lampiran 5

Glasgow Outcome Scale (GOS)


0 =Death
1 = Vegetatif State
2 = Severe Disability
3 = Moderate Disability
4 = Good Recovery

Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal 37


Lampiran 6

Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS)


Nilai
Demam atau Hipotennia (suhu 38 atau < 36 derajat Celcius) 1
Takikardia (denyutjantung > 90 xI menit) 1
-Takipneu (pemafasan > 20 x I menit atau PaC02 < 32 mmHg) 1
Hitung Leukosit yg Abnonnal > 12.0001mm atau < 4.0001mm
atau lebih dari 10% ditemukan neutrophil yg immature

Diagnosa SIRS bila nilai ~ 2


Resiko relatifkematian pada nilai SIRS I sebesar 3,5
SIRS 4 sebesar 37,3

38 Konsensus Nasional Penanganan '!rauma Kapitis dan '!rauma Spinal


:) Lampiran 7

Revised Trauma Score (RTS)

SKG Tekanan Darah Sistolik Frekwensi Nafas Nilai


13-15 >89 10-29 4
9-12 76-89 >29 3
6-8 50-75 6-9 2
4-5 1-49 1-5 1
3 0 0 0

Konsensus Nasional Penanganan Traum(l Kapitis dan Trauma Spinal 39


Lampiran 8

FIM (Functional Independence Measure)

Motor Items
Bathing, grooming
Dressing upper and lower body
Eating, Swallowing
Spinchter control, bowel and bladder management

Mobility
Locomotion, walking, stairs, wheelchair
Transfer; bed, chair, wheelchair; auto,
Community mobillity

40 Kons.ensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal