Anda di halaman 1dari 25

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) - SEMESTER AKHIR 2017/2018

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI AGRO


POLITEKNIK ATI MAKASSAR
MATA KULIAH: ETIKA PROFESI
HARI/TGL.: APRIL 2018
WAKTU: 60 MENIT
RUANGAN:.........
DOSEN: IR.H.MUHAMMAD NUSRAN, MM., Ph.D. IPM

1. Jelaskan definisi etika Profesi

2. Jelaskan Prinsip-prinsip Etika

3. Apa tujuan dari dibuatkan kode etik pada berbagai profesi

4. Apa saja pelanggaran-pelanggaran kode etik yang terjadi

5. Buat penjelsan tgt ringkasan buku mulai dari judul, pengarang, konten/isi buku,

pembahasan dan analisis serta kesimpulan


1. Etika Profesi adalah konsep etika yang ditetapkan atau disepakati pada tatanan
profesi atau lingkup kerja tertentu, contoh : pers dan jurnalistik, engineering
(rekayasa), science, medis/dokter, dan sebagainya.
2. PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI

terdapat delapan prinsip yang mejadi dasar dalam kode etika akuntansi. Prinsip
tersebut adalah

a. TANGGUNG JAWAB PROFESI


Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota
harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam
semua kegiatan yang dilakukannya.

Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat.


Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada
semua pemakai jasa profesional mereka.

b. KEPENTINGAN PUBLIK

Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka


pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan
komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah
penerimaan tanggung jawab kepada publik.

Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa


akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi
sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi
tersebut.

c. INTEGRITAS

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus


memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan
berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa.

Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan


pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan
perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau
peniadaan prinsip.

d. OBJEKTIVITAS
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitasnya
adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota.

Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur


secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan
kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.

e. KOMPETENSI DAN KEHATI-HATIAN PROFESIONAL


Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati,
kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan
pengetahuan.

Selain itu juga memiliki ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan
untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari
jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir.

Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk


melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan
tanggung jawab profesi kepada publik.

f. KERAHASIAAN
Prinsip ini menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan
jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi
tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau
hukum untuk mengungkapkannya.

Seorang akuntan berkewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi


tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang
diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar
anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.

g. PERILAKU PROFESIONAL
Setiap anggota harus berperilaku konsisten dengan reputasi profesi yang baik
dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi


harus dipenuhi sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa,
pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

h. STANDAR TEKNIS
Setiap kegiatan harus mengikuti standar teknis dan standar profesional yang
relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, berkewajiban untuk
melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan
dengan prinsip integritas dan obyektivitas.

Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah
standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional
Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-
undangan yang relevan.

3. - Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.


- Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
- Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
- Untuk meningkatkan mutu profesi.
- Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
- Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
- Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
- Menentukan baku standarnya sendiri.

4. Contoh kasus sebagai berikut

a. Kasus PT Muzatek Jaya 2004


Menkeu Sri Mulyani telah membekukan ijin AP (Akuntan Publik) Drs Petrus M.
Winata dari KAP Drs. Mitra Winata dan Rekan selama 2 tahun yang terhitung
sejak 15 Marit 2007, Kepala Biro Hubungan Masyaraket Dep. Keuangan, Samsuar
Said saat siaran pers pada Selasa (27/3), menerangkan sanksi pembekuan
dilakukan karena AP tersebut melakukan suatu pelanggaran atas SPAP (Standar
Profesional Akuntan Publik).
Pelanggaran tersebut berkaitan dengan pelaksanaan pemeriksaan audit terhadap
Laporan Keuangan PT. Muzatek Jaya pada tahun buku 31 December 2004 yang
dijalankan oleh Petrus. Dan selain itu Petrus juga melakukan pelanggaran
terhadap pembatasan dalam penugasan audit yaitu Petrus malaksanakan audit
umum terhadap Lap. keuangan PT. Muzatek Jaya dan PT. Luhur Arta Kencana
serta kepada Apartement Nuansa Hijau mulai tahun buku 2001. hingga tahun
2004.
b. Kasus PT KAI 2006
Komisaris PT KAI (Kereta Api Indonesia) mengungkapkan bahwa ada manipulasi
laporan keuangan dalam PT KAI yang seharusnya perusahaan mengalami
kerugian tetapi dilaporkan mendapatkan keuntungan.
5. Judul : Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru
Konten : Menjelaskan Etika Profesi Guru Di Indonesia
Pembahasan :

BAB 1

PESAN GURU SEDUNIA UNTUK PROFESIONALISASI

Pesan Guru Sedunia

Secara organisatoris, guru Indonesia menjadi bagian dari guru sedunia. Karena itu,

uraian berikut ini sangat bermakna untuk membedah harapan kita menghadirkan guru-guru

Indonesia yang profesional di ruang kelas dalam rangka menyiapkan generasi muda yang

bermutu pada masa depan. Merekalah yang akan menjadi generasi yang siap bersaing pada

era globalisasi. Yaitu, itu-isu yang berkaitan dengan hasil Kongres Dunia ke-5 Education

International (The 5'" Education International World Congress) yang dilaksanakan di Hotel

Estrel, Berlin, dari tanggal 22 sampai dengan 26 Juli 2007.

Kongres ini diikuti lebih dari 1.686 peserta mewakili 331 organisasi guru dari

mancanegara, dengan keanggotaan lebih dari 30 juta orang. Tema Kongres adalah

”Educators -Joining Together for Quality Education and Social Justice”. Tema ini terdiri dari

empat subtema. Pertama, pendidik semua orang terlibat dalam menentukan perbaikan

mutu pendidikan, terutama afiliasi Education International (El) dengan semua anggotanya.

Kedua, joining together merefleksi pada partisipasi semua anggota dalam dengan laki-laki,

dan pemerintahan mana pun harus memberi peluang lebih besar untuk mengangkat
martabat kaum perempuan. Keempat, Laki-laki dan remaja putra harus bertanggungjawab

untuk menerima perempuan dan remaja putri pada posisi yang setara. Kelima, wanita yang

bekerja di lingkungan pendidikan harus memiliki akses untuk mengikuti program pelatihan

lanjutan dalam rangka peningkatan keterampilan dan kualifikasi mereka. Keenam, E/

percaya bahwa hal-hal yang disebut di bawah ini sangat esensial.

1. Merangsang anak-anak dan siswa untuk memandang bahwa mereka memiliki posisi yang

setara.

2. Mendorong integrasi siswa di sekolah, tanpa diskriminasi atas jenis kelamin.

3. Menggaransi akses yang sama antara remaja putri dan remaja putra memasuki

pendidikan.

4. Mengeliminasi penyebab tingginya ketidakhadiran dan putus sekolah bagi remaja putri,

dan memberikan layanan khusus untuk tetap bersekolah bagi mereka yang mengalami

kehamilan dini.

5. Memperkuat program pemberantasan huruf bagi wanita dan remaja putri.

Guru Pahlawan Setiap Hari

Acara Kongres ini dibuka oleh Horst thler, Presiden Republik Federal Jerman. Pada

kesempatan itu Horst Kohler mengamanatkan beberapa hal. Pertama, pendidikan

merupakan hak asasi manusia (education is a human right). Kedua, pendidikan harus

mampu membekali siswa agar mandiri dan dapat menjalani kehidupan masa depan secara

baik. Ketiga, di seluruh dunia, lebih dari 80 juta anak usia sekolah yang sama sekali belum

mengenyam pendidikan. Keempat, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Milenium


(Millenium Development Goals, MDGs), pada tahun 2015 semua anak usia sekolah harus

dipenuhi hak-haknya untuk memasuki bangku sekolah. Kelima, inisiatif untuk mencapai

tujuan itu mengharuskan keterlibatan guru secara penuh untuk mewujudkannya. Keenam,

setiap hari guru menjadi pahlawan (teachers, every day is hero), karena keterlibatan guru

secara penuhlah yang memungkinkan anak didik menjadi manusia masa depan yang mampu

menjalani kehidupan secara baik.


BAB 2

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN GURU

Siapa Guru ltu?

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur

pendidikan formal. Tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat profesionalitas

tertentu yang tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau keterampilan yang

memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu. Siapa guru itu? Secara definisi sebutan

guru tidak termuat dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

(Sisdiknas). Didalam UU No. 20 Tahun 2003, kata guru dimasukkan ke dalam genus pendidik.

Sesungguhnya guru dan pendidik merupakan dua hal yang berbeda. Kata pendidik (Bahasa

Indonesia) merupakan padanan dari kata educator (Bahasa Inggris). Di dalam Kamus

Webster kata ' educator berarti ' educationist atau educationalist yang padanannya dalam

bahasa Indonesia adalah pendidik, spesialis di bidang pendidikan, atau ahli pendidikan. Kata

guru (bahasa Indonesia) merupakan padanan dari kata teacher (bahasa Inggris). Di dalam

Kamus Webster, kata teacher bermakna sebagai ”The person who teach, especially in

school" Buru adalah seseorang yang mengajar, khususnya di sekolah. atau Dalam Peraturan

Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 tentang Guru sebutan guru mencakup: (1) guru itu

sendiri, baik guru kelas, guru bidang studi, maupun guru bimbingan dan konseling atau guru

bimbingan karir; (2) guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah; dan (3) guru

dalam jabatan pengawas. Sebagai perbandingan atas ”cakupan” sebutan guru ini, di Filipina,

seperti tertuang dalam Republic Act 7784, kata guru (teachers) dalam makna luas adalah

semua tenaga kependidikan yang menyeleng. garakan tugas-tugas pembelajaran di kelas


untuk beberapa mata pelajaran, termasuk praktik atau seni vokasional pada jenjang

pendidikan dasar dan menengah (elementary and secondary level). Istilah guru juga

mencakUp individu-individu yang melakukan tugas bimbingan dan konseling, supervisi

pembelajaran di institusi pendidikan atau sekolah-sekolah negeri dan swasta, teknisi

sekolah, administrator sekolah, dan tenaga layanan bantu sekolah (supporting staf) untuk

urusan-urusan administratif. Guru juga bermakna lulusan pendidikan yang telah lulus ujian

negara (government examination) untuk menjadi guru, meskipun belum secara aktual

bekerja sebagai guru.

Secara formal, untuk menjadi profesional guru disyaratkan memenuhi kualifikasi

akademik minimum dan bersertifikat pendidik. Guru-guru yang memenuhi kriteria

profesional inilah yang akan mampu menjalankan fungsi utamanya secara efektif .dan

efisien untuk mewujudkan proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia

yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta

menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab teacher bermakna sebagai

”The person who teach, especially in school" Buru adalah seseorang yang mengajar,

khususnya di sekolah. atau pendidikan atau sekolah-sekolah negeri dan swasta, teknisi

sekolah, administrator sekolah, dan tenaga layanan bantu sekolah (supporting staf) untuk

urusan-urusan administratif. Guru juga bermakna lulusan pendidikan yang telah lulus ujian

negara (government examination) untuk menjadi guru, meskipun belum secara aktual

bekerja sebagai guru.

Secara formal, untuk menjadi profesional guru disyaratkan memenuhi kualifikasi

akademik minimum dan bersertifikat pendidik. Guru-guru yang memenuhi kriteria


profesional inilah yang akan mampu menjalankan fungsi utamanya secara efektif .dan

efisien untuk mewujudkan proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia

yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta

menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab


BAB 3

PENGEMBANGAN DIRI MENUJU GURU PROFESSIONAL

Makna Pengembangan-Diri

Guru profesional melakukan aktivitas pengembangan-diri yang cerdas dan kontinyu.

Dia menyadari bahwa tanpa tumbuh secara profesional akan ditelan oleh sejarah peradaban

pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Guru madani memiliki rasa kuriositas

ekstratinggi, menjadi pembelajar sejati, dan haus akan informasi baru yang bermanfaat

baginya dalam menjalankan tugas-tugas profesional. Idealnya, baik secara individu maupun

kelembagaan, kegiatan pembinaan dan pengembangan profesional guru berlangsung secara

kontinyu.

Definisi Pengembangan-Diri

Apakah pengembangan-diri (self-development) itu? Pengembangan-diri adalah

penyemaian potensi diri sendiri. Pengembangan-diri, ibarat bibit yang perlu disemaikan dulu

baru bisa ditanam. Guru, selayaknya manusia kebanyakan, memiliki potensi dasar untuk

dikembangkan dan yang lebih utama mengembangkan diri, seperti potensi fisik, intelektual,

emosional, empati, spiritual, moral, kata hati, dan lain-lain. Pengembangan-diri yang

konsisten merupakan alur catatan yang benar untuk mencapai prestasi dan pemenuhan

(path to noteworthy achievement and fulfillment) aspek personal dan profesional dalam

kehidupan. Untuk tidak bingung dengan Perubahan temporal (temporary change) dalam

perilaku-diri, pengembangan diri merupakan katalis bagi transformasi mendalam dari dalam

di individu. Pengetahuan itu tanpa batas, selayaknya otak manusia tidal pernah akan penuh.
Sehebat dan setekun apa pun guru belajar, ruang otaknya akan tetap memberi tempat bagi

tambahan pengalaman dal ngetahuan baru. Makin banyak yang diketahui. makin bangkit

kesadaran bahwa kita banyak tidak tahu


BAB 4

PROFESIONALISASI DAN ETIKA PROFESI GURU

1. Profesi Panggilan Jiwa

Sebelum era sekarang, telah lama profesi guru dicandra oleh masyarakat

sebagai ”profesi kelas dua”. Memang, pada dasarnya pilihan seseorang untuk

menjadi guru adalah “panggilan jiwa" untuk memberikan pengabdian _pada sesama

manusia dengan mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih, yang diwujudkan

melalui proses belajar mengajar serta pemberian bimbingan dan pengarahan

siswanya agar mencapai kedewasaan masing masing. Dalam kenyataannya menjadi

guru tidak cukup sekadar untuk memenuhi panggilan jiwa, tetapi juga memerlukan

seperangkat keterampilan dan kemampuan khusus dalam bentuk menguasai

kompetensi guru, sesuai dengan kualifikasi jenis dan jenjang pendidikan jalur sekolah

tempatnya bekerja.

Penghargaan itu layak diberikan pada profesi guru dengan sistem gaji khusus

karena berbeda dari profesi lainnya yang ada di masyarakat Perbedaan itu antara

lain adalah:

a. Profesi guru memerlukan dua jenis keahlian, terdiri dari keahlian dalam bidang

pembelajaran dan keahlian dalam bidang studi yang diajarkan Sedang profesi yang

lain hanya memerlukan satu jenis keahlian.

b. Profesi guru dilaksanakan selama jam kerja dan di luar jam kerja, karena guru

harus menyusun perencanaan mengajar, melaksanakan proses belajar-mengajar,

menilai pekerjaan rumah dan hasil evaluasi belajar, membimbing siswa, melayani
orang tua/wali siswa di jam sekolah dan di rumah, berkunjung pada orang tua siswa

untuk melaksanakan kerjasama dalam membantu siswa yang bermasalah.

2. Pendekatan Karakteristik

Lebih dari itu, jika pendidikan merupakan salah satu instrumen utama

pengembangan SDM, berarti tenaga kependidikan, terutama guru, memiliki.

tanggung jawab untuk mengemban tugas itu. Siapa saja yang menyandang profesi

sebagai tenaga kependidikan, dia harus secara kontinyu menjalani profesionalisasi.

Namun demikian, masalah esensial yang dihadapi dalam pengelolaan tenaga

kependidikan di indonesia saat ini tidak lagi semata-mata terletak pada bagaimana

menghasilkan tenaga kependidikan yang bermutu melalui lembaga pendidikan

tenaga kependidikan (LPTK), melainkan sejauh mana profesi itu dapat diakui oleh

negara sebagai profesi yang sesungguhnya. Menurut R.D. Lansbury dalam

Professionals and Management (1978), dalam konteks profesionalisasi istilah profesi

dapat dijelaskan dengan tiga pendekatan (approach), yaitu pendekatan karakteristik,

pendekatan institusional, dan pendekatan legalistik.

Pendekatan karakteristik (the trait approach) memandang bahwa profesi

mempunyai seperangkat elemen inti yang membedakannya dengan pekerjaan

lainnya. Seseorang penyandang profesi dapat disebut profesional manakala elemen-

elemen inti itu sudah menjadi bagian integral dari kehidupannya. Hasil studi

beberapa ahli mengenai sifat-sifat atau karakteristik-karakteristik profesi itu

menghasilkan kesimpulan seperti berikut ini.


a. Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan dimaksud

adalah jenjang pendidikan tinggi. Termasuk dalam kerangka ini, pelatihan-pelatihan

khusus yang berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki oleh seorang penyandang

profesi.

b. Memiliki pengetahuan spesialisasi. Pengetahuan spesialisasi adalah sebuah

kekhususan penguasaan bidang keilmuan tertentu. Siapa saja bisa menjaudi “guru”,

akan tetapi guru yang sesungguhnya memiliki spesialisasi bidang studi (subject

matter) dan penguasaan metodologi pembelajaran.

3. Pendekatan Legalistik

Pendekatan institusional (the institutional approach) memandang profesi dari segi

proses institusional atau perkembangan asosiasional. Maksudnya, kemajuan suatu

pekerjaan ke arah pencapaian status ideal suatu profesi dilihat atas dasar tahap-

tahap yang harus dilalui untuk melahirkan proses pelembagaan suatu pekerjaan

menuju profesi yang sesungguhnya. H. L. Wilensky (1976) mengemukakan lima

langkah untuk memprofesionalkan suatu pekerjaan. '

a. Memunculkan suatu pekerjaan yang penuh waktu atau full-time, bukan pekerjaan

sambilan. Sebutan full-time mengandung makna bahwa penyandang profesi

menjadikan suatu pekerjaan tertentu sebagai pekerjaan utamanya. Tidak berarti

tidak ada kesempatan baginya untuk melakukan usaha kerja lain sebagai pekerjaan

tambahan yang menghasilkan penghasilan tambagan pula.


b. Menetapkan sekolah tempat menjalani proses pendidikan atau pelatihan. Jenis

profesi tertentu hanya dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang tertentu pula.

Misalnya, hakim, jaksa, dan pengacara dihasilkan oleh Fakultas Hukum; dokter

dihasilkan oleh Fakultas Kedokteran, biolog dihasilkan oleh Fakultas Biologi, dan

sebagainya.

c. Tampilan profesional guru

Guru Indonesia harus menyadari bahwa jabatan guru adalah suatu profesi yang

terhormat, terlindungi, bermartabat, dan mulia. Dalam mukadimah Kode Etik Guru

Indonesia (KEGI) disebutkan bahwa guru mengabdikan dir dan berbakti untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkar kualitas manusia Indonesia yang

beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan,

teknologi, dan seni dalam mewujudkar masyarakat yang maju, adil, makmur, dan

beradab.

d. Komitmen atas Kode Etik

Di lndonesia, guru dan organisasi profesi guru bertanggung jawab atas pelaksanaan

KEGl. Kode Etik harus mengintegral pada perilaku guru. Di samping itu, guru dan

organisasi guru berkewajiban mensosialisasikan Kode Etik dimaksud kepada rekan

sejawat, penyelenggara pendidikan, masyarakat, dan pemerintah. Bagi guru, Kode

Etik tidak boleh dilanggar, baik sengaja maupun tidak. teacher bermakna sebagai
”The person who teach, especially in school" Buru adalah seseorang yang mengajar,

khususnya di sekolah.

e. Rumusan Kode Etik Guru lndonesia

1. Hubungan Guru dengan Peserta Didik:

a. Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan meng.

gunakannya untuk kepentingan proses kependidikan.

b. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terusmenerus

harus berusaha menciptakan, memelihara, dan

c. mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai

lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi peserta didik.

2. Hubungan Guru dengan Orangtua/Wali Siswa:

a. Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan objektif

mengenai perkembangan peserta didik.

b. Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang

bukan orangtua/walinya.

c. Guru memotivasi orangtuafwaii siswa untuk beradaptasi dan berpartisipasi

dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan.


BAB 5

PROF ESIONALISASI GURU Dl MANCANEGARA

Filipina

Guru memiliki makna luas di negara ini. Di dalam Republic Act 7784 tentang 'An Act

Strenghtening Teacher Education in the Philippines by Establishing Centers of Excellence,

Creating A Teacher Education Council for the Purpose, Appropriating Funds Therefore and

for Other Purpose’ dirumuskan definisi guru dan yang terkait dengan masalah-masalah

keguruan.

1. istilah 'Guru' (teachers) dalam makna luas adalah semua personel yang

menyelenggarakan tugas-tugas pembelajaran di kelas untuk beberapa mata

pelajaran, termasuk praktik atau seni vokasional pada jenjang pendidikan dasar dan

menenegah (elementary and secondary level). Istilah guru juga mencakup individu-

individu yang melakukan tugas bimbingan dan konseling, supervisi pembelajaran di

institusi pendidikan atau sekolah-sekolah negeri dan swasta, teknisi sekolah,

administrator sekolah, dan tenaga layanan bantu sekolah (supporting stan untuk

urusan-urusan administratif. Guru juga bermakna lulusan pendidikan yang telah lulus

ujian negara (goverment examination) untuk menjadi guru, meskipun belum secara

aktual bekerja sebagai guru.

2. Staf pengajar atau staf akademik (teaching or academic staf) adalah semua orang

yang yang bertugas dalam pembelajaran aktual dan/atau tugas-tugas penelitian, baik

yang bersifat penuh maupun parohwaktu dalam semua level sistem pendidikan.
Pendidikan guru bermakna pendidikan prajabatan (preservice education),

pendidikan dalam jabatan (inservice education), dan pendidikan lanjutan (continuing

education) bagi guru-guru pada banyak area spesifikasi atau kekhususan bidang studi

tertentu.

3. Keunggulan (excellence) merujuk pada efisiensi, efektifitas, dan inovasi layanan yang

relevan, fungsional, dan kualitas program-program dalam pendidikan guru, serta

pelatihan, penelitian, dan layanan kegiatan kemasyarakatan.


BAB 6

PERNYATAAN PGRI UNTUK MARTABAT GURU

Gerakan Guru Menuju Profesionalitas

Konsep pendidikan kekinian memposisikan mengajar sebagai “hak", bukan

'kewajiban" guru, sementara belajar merupakan hak, bukan kewajiban siswa. Statemen

umum untuk ini adalah "The right to teach and the right to learn.” Statemen ini

membangkitkan kesadaran bahwa guru dan siswa adalah inti proses pendidikan dan

pembelajaran, selebihnya adalah supporting systems. Jika guru dan siswa tidak mau

menunaikan hak-haknya, dunia pendidikan persekolahan akan mengalami lumpuh total, dan

siapa pun juga nyaris tidak mungkin menggantikan fungsi guru dalam makna sebenarnya.

Oleh karena mengajar adalah hak guru, maka perlindungan profesi, perlindungan

hukum, dan efisiensi manajemen, serta sistem remunerasi dan kesejahteraan harus

terjamin. Sejalan dengan itu, sarana pendidikan dan pembelajaran wajib dipenuhi oleh

pemerintah dan masyarakat sebagai organisasi penyelenggara demi perwujudan hak untuk

mengajar dan hak

PGRI memiliki jaringan yang luas dengan keanggotaan yang sangat banyak. Dengan

keanggotaannya yang besar itu, PGRl sangat terbuka melakukan beberapa hal. Pertama,

melakukan tekanan kepada eksekutif dan legislatif, termasuk kepada partai untuk secara

sungguh-sungguh memperjuangkan pembangunan pendidikan dan memperbaiki kesejahta

raan guru. Kedua, melakukan sosialisasi, penyadaran, dan transformasi politik pendidikan

kepada siswa dan masyarakat agar semua pihak membangun kesadaran untuk membangun

pendidikan dan mengembang. kan SDM secara sungguh-sungguh. Ketiga, memberi


pencerahan kepada siswa dan seluruh lapisan masyarakat untuk dapat menentukan

pilihannya pada Pemilu, misalnya, untuk anggota DPR, DPR, DPRD, Presiden dan Wakil

Presiden, Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati/Wali Kota dan Wakil Bupati/Wakil Wali

Kota, setidaknya pada tingkat kriteria. Semua ini dapat dan sah mereka lakukan, tanpa harus

menjadi partisan.

PGRI adalah organisasi yang independen. Kata independen (independent), tidak

identik netral, apalagi natural. Kata netral bermakna tidak berpihak, sementara independen

bermakna hak untuk memutuskan dan menentukan nasib sendiri, tanpa diintervensi oleh

pihak ketiga. PGRI tidak identik dengan guru, karena keanggotaannya terdiri dari anggota

biasa, anggota luar biasa, dan anggota kehormatan. Pengurus PGRl pun bervariasi, mulai

dari guru aktif, pengawas aktif, guru PNS, guru non-PNS. pensiunan:
BAB 7

REFORMASI PENDIDIKAN

Membangun Manusia Seutuhnya

Pada konteks lndonesia, sudah saatnya kita secara sungguh-sungguh berusaha dan

melakukan aksi-aksi riil untuk keluar dari kehidupan sebagai pecundang ke sebagai

pemenang. Sudah saatnya pula kita membuktikan , diri sebagai bangsa yang besar.

Kita besar dan menjadi besar bukan karena wilayahnya sangat luas dan strategis,

penduduknya sangat banyak (overpopu/ation), sumber daya alamnya melimpah, apalagi

sebatas omongan yang besar. Kita hanya akan menjadi bangsa yang besar jika mampu

mendongkrak kualitas SDM sampai dengan tingkat kompetitif seperti SDM yang ada di

negara-negara maju sekarang, memiliki sistem pemerintahan yang demokratis dengan good

novemance-nya,'bercitra positif di mata internasional dengan kemampuan deplomasl yang

kuat, dan memiliki daya saing tinggi pada aneka sektor, Untuk sampel ke posisi seperti

disebutkan di atas, pemerintah dan masyarakat lndonesia harus berbenah diri secara

sungguh-sungguh.
BAB 8

KOMUNITAS PELAJAR

Lima Pilar

Bagi sebagian besar guru, membangun kebiasaan-diri untuk menjadi komunitas

pembelajar mungkin merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Hanya guru-guru berprestasi

dan subgguh-sungguh mencintai profesinyalah yang akan menjelma sebagai pribadi atau

komunitas pembelajar. Sebagai komunitas pembelajar, guru-guru belajar dari banyak hal,

misalnya, dari pengalaman keberhasilan atau kegagalan orang_lain, dan pengalaman diri

sendiri yang bersifat sukses atau yang bersifat gagal. Juga dari buku-buku, jurnal, majalah,

koran, hasil-hasil penelitian, hasil observasi, hingga yang bersifat spontan. Untuk dapat

menjadi komunitas pembelajar, setidaknya guru harus menjunjung-tinggi lima pilar utama

dalam perilaku keseharian.

1. Rasa ingin tahu. lnilah merupakan awal mula dari seorang atau sekelompok guru

untuk menjadi insan berpengetahuan. Guru yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi

adalah pembelajar sejati.

2. Optimisme. Inilah modal dasar seorang atau sekelompok guru untuk tidak mudah

menyerah dengan aneka keadaan lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah

yang sering digambarkansebagai buram. Adakalanya, bahkan mungkin banyak

terjadi, karena tampil pesimis, ~ guru tiba-tiba menghentikan usaha atau

perjuangannya untuk berhasil mengemban tugas-tugas profesi ketika sesungguhnya

keberhasilan itu sudah amat dekat untuk dicapai, misalnya, perbaikan proses dan

hasil belajar siswa.


3. Keikhlasan. Guru-guru yang ikhlas dalam menjalankan tugas-tugas keprofesian nyaris

tidak mengenal lelah, demi pendidikan dan pembelajaran anak didiknya. Dia selalu

bergairah pada setiap keadaan. Banyak siasat, strategi, atau akal baru yang bakal

muncul ketika guru berpikir dan memutuskan untuk berbuat bagi anak didiknya.

Muncul juga “enerji kedua” (second win) dari diri guru, ketika dia sudah mulai

merasa kelelahan tatkala masih diperlukan waktu cukup panjang dan enerji cukup

besar untuk menyelesaikan tugas pekerjaan. Sebaliknya, guru-guru yang tidak ikhlas,

akan mencari argumen untuk meligitimasi argumen "tidak mungkin” yang

diucapkannya.

4. Konsistensi. Barangkali masih banyak guru yang bekerja dalam format “keras kerak,

yang tersiram air sedikit saja menjadi lembek”, "tergoda dengan hal baru lalu

meninggalkan keputusan yang telah dibuat dan tengah dicoba dijalankan”, dan

sebagainya. Sehabis mengikuti penataran mereka begitu bersemangat, namun dalam

sekejap semangat itu hilang. Semangat mereka pun menurun tajam, ketika

mengalami kesulitan untuk naik pangkat ke golongan tertentu.

5. Pandangan visioner. Pandangan jauh ke depan, melebihi batas-batas pemikiran guru

kebanyakan. Guru-guru yang termasuk kelompok ini jarang sekali tergoda untuk

melakukan apa saja demi hasil yang instan, mengejar target jangka pendek dengan

mengorbankan kepentingan jangka panjang. Misalnya, melakukan manipulasi hasil

ujian demi mengangkat citra diri secara semu di mata kepala sekolah atau

atasannya.
Kesimpulan : Kesimpulan yang bisa kami dapatkan adalah butuhnya etika dalam profesi

guru karena profesi guru mencantumkan generasi yang akan datang, jika

guru mempunyai etika baik maka generasi nya akan baik, jika gurunya

mempunyai etika buruk maka generasinya akan buruk