Anda di halaman 1dari 9

A.

Faktor Resiko
1. Umur
Proporsi kasus AIDS terbanyak dilaporkan pada kelompok umur 20-29 tahun
(54,76%) disusul kelompok umur 30-39 tahun (27,17%) dan kelompok umur 40-49
tahun (7,90%). Sebagian besar kasus AIDS terjadi pada usia yang termasuk kelompok
usia produktif, yaitu pada kelompok umur 20-49 tahun yang mencapai 7369 kasus atau
89,93% (Depkes, 2006).

2. Jenis kelamin
Menurut BKKBN (2008), jenis kelamin yaitu suatu sifat atau ciri yang membedakan
laki-laki dan perempuan, sedangkan seksual berarti yang ada hubungannya dengan seks
atau yang muncul dari seks. Berdasarkan laporan dari Depkes (2006), jenis kelamin
laki-laki merupakan prevalensi terbanyak yang menderita HIV/AIDS baik dengan
infeksi oportunistik maupun tidak.

3. Pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan dalam menimbulkan suatu penyakit melalui beberapa
jalan, yakni (Notoatmodjo, 2003) :
a. Adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan seperti
bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat
menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
b. Situasi pekerjaan yang penuh dengan stres
c. Ada tidaknya “gerak badan” di dalam pekerjaan
d. Karena berkerumunan dalam satu tempat yang relatif sempit
Masyarakat yang berisiko untuk penyebaran infeksi HIV cukup beragam, seperti
mahasiswa, militer, lingkungan gay, penjara, pemandian, pelacuran, dan lingkungan
tunawisma. Ada variasi tingkat risiko dalam masyarakat tergantung dari masing-masing
pekerjaannya, tetapi ketika HIV menyebar dalam diri mereka, biasanya menyebar
dengan cepat karena adanya jaringan terkait erat yang terhubung melalui seks dan
narkoba (IOM, 1995).

4. Pendidikan
Pendidikan formal yang ditempuh seseorang pada dasarnya adalah merupakan suatu
proses menuju kematangan intelektual, untuk itu pendidikan tidak dapat terlepas dari
proses belajar. Dengan belajar pada hakikatnya adalah penyempurnaan potensi atau
kemampuan pada organisme biologis dan psikis yang diperlukan dalam hubungan
manusia dengan luar dan hidup masyarakat. Pendidikan merupakan upaya atau kegiatan
untuk mencipatkan perilaku masyarakat yang kondusif (Notoatmodjo, 2003).
Dengan demikian, semakin tinggi pendidikan formal sesorang maka akan semakin
baik pengetahuannya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan, termasuk di
dalamnya pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan yang dibutuhkan manusia
dalam hidup bermasyarakat, berwawasan, cara berpikir seseorang, pengambilan
keputusan hingga pembuatan kebijakan. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka
akan semakin cenderung dapat mengantisipasi untuk menghindari penyakit
(Notoatmodjo, 2003).

5. Status perkawinan
Status pernikahan sangatlah penting tidak hanya merupakan salah satu faktor yang
menentukan kesuburan tetapi juga sebagai aturan sosial yang mengatur hubungan seks
heterogen. Dari segi agama, status pernikahan adalah baik seperti juga di mata hukum
(Utomo, et al 1998)
Menurut Meehan et.al (2004), perkawinan dan kesetiaan perempuan tidak cukup
untuk melindungi mereka dari infeksi HIV di banyak negara. Contohnya wilayah
Zimbabwe, Durban dan Suweo (Afrika Selatan) yang dilaporkan 66% populasinya
hanya memiliki satu pasangan hidup, 79% tidak melakukan hubungan seks paling
kurang sampai mereka berusia 17 tahun (kira-kira hampir sama dengan rata-rata
hubungan seksual pertama di kebanyakan negara di dunia). Namun, 40% perempuan
muda di sana telah terinfeksi HIV meskipun mereka tetap setia dengan satu pasangan
saja. Di Kolombia, 72% perempuan dinyatakan positif terinfeksi HIV dan di India
dilaporkan proporsi yang signifikan kasus baru adalah perempuan yang telah menikah
dan terinfeksi oleh suami mereka yang sering melakukan hubungan seks komersial
(UNAIDS, 2005). Dari laporan WHO dikatakan bahwa jumlah infeksi baru yang cukup
signifikan terjadi di kalangan perempuan hamil yang sudah menikah dan ditularkan
oleh suami mereka (UNAIDS, 2005).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Barnighausen (2008) menemukan bahwa risiko
progresivitas infeksi HIV 2 kali lebih besar terjadi pada kelompok yang belum
menikah.
6. Penurunan berat badan
Berat badan merupakan salah satu prediktor progretivitas infeksi HIV dan prediktor
kematian akibat AIDS. Terjadinya penurunan berat badan menunjukkan adanya
perkembangan infeksi yang cukup pesat pada tubuh penderita HIV/AIDS.Seperti yang
dikatakan oleh Baratawidjaja (2009), penderita AIDS lanjut sering disertai menurunnya
berat badan yang disebabkan perubahan metabolisme dan kurangnya kalori yang masuk
ke dalam tubuh.

7. Kepatuhan minum obat


Terapi antiretroviral (ARV) telah terbukti secara bermakna menurunkan angka
kematian dan kesakitan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Untuk mencapai tujuan
tersebut, tentu dibutuhkan adherens yang merupakan bentuk sikap dan perilaku yang
mempengaruhi seseorang untuk patuh terhadap minum obat. Untuk mencapai
keberhasilan virologi menurunkan jumlah virus sesuai target yang diinginkan
dibutuhkan tingkat adherens minimal 95%. Adherens yang buruk meningkatkan risiko
terjadinya mutasi virus dan resistensi obat ARV dan pada situasi di Indonesia akan
meningkatkan kebutuhan obat ini selanjutnya (aidsindonesia.or.id).

8. Transmisi Penularan
a. IDU
Penularan melalui pemakaian jarum suntik atau semprit secara bergantian.
Menggunakan kembali atau memakai jarum atau semprit secara bergantian
merupakan cara penularan HIV yang sangat efisien. Risiko penularan dapat
diturunkan secara berarti di kalangan pengguna narkoba suntikan dengan
penggunaan jarum dan semprit baru yang sekali pakai, atau dengan melakukan
sterilisasi jarum yang tepat sebelum digunakan kembali. Di kalangan pengguna
NAPZA suntik, infeksi HIV berkisar antara 50 sampai 90%. Penularan dalam
lingkup perawatan kesehatan dapat dikurangi dengan adanya kepatuhan pekerja
pelayanan kesehatan terhadap Kewaspadaan Universal (Universal Precautions)
(aidsindonesia.or.id).

b. Hubungan seksual
Penularan Secara Seksual: HIV dapat ditularkan melalui seks penetratif yang
tidak terlindungi. Sangat sulit untuk menentukan kemungkinan terjadinya infeksi
melalui hubungan seks, kendatipun demikian diketahui bahwa risiko infeksi melalui
seks vaginal umumnya tinggi. Penularan melalui seks anal dilaporkan memiliki
risiko 10 kali lebih tinggi dari seks vaginal. Seseorang dengan infeksi menular
seksual (IMS) yang tidak diobati, khususnya yang berkaitan dengan tukak/luka dan
duh (cairan yang keluar dari tubuh) memiliki rata-rata 6-10 kali lebih tinggi
kemungkinan untuk menularkan atau terjangkit HIV selama hubungan seksual
(aidsindonesia.or.id).
HIV bisa ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan homoseksual,
maupun heteroseksual. HIV juga bisa ditularkan melalui transfusi darah. Dalam hal
penularan HIV, seks oral dipandang sebagai kegiatan yang rendah risiko. Risiko
dapat meningkat bila terdapat luka atau tukak di sekitar mulut dan jika ejakulasi
terjadi di dalam mulut (Aggleton et all, 1994).
PENGKAJIAN DASAR KEPERAWATAN

1. Identitas Klien
a. Nama : Tidak terkaji
b. Usia : 28 tahun
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Alamat : Tidak terkaji
e. Pekerjaan : Tidak terkaji
f. Pendidikan : Tidak terkaji

2. Status kesehatan saat ini


a. Keluhan utama : Diare 5-6x/hari, pusing, batuk berdahak, badan lemah,
demam sejak 3 hari yang lalu
b. Lama keluhan : 1,5 bulan yang lalu
c. Kualitas keluhan :-
d. Faktor pencetus :-
e. Faktor pemberat :-
f. Upaya yang telah dilakukan : 2x berobat ke dokter (namun penyakitnya kambuh
lagi)
g. Diagnosa medis : HIV/AIDS

3. Riwayat kesehatan terdahulu


a. Kecelakaan : Tidak terkaji
b. Operasi : Tidak terkaji
c. Penyakit
- Kronis : Diare 5-6x/hari, pusing, batuk berdahak, badan lemah, demam
- Akut :-
d. Alergi : Tidak terkaji
e. Terakhir masuk RS : Tidak terkaji
Klien pernah menjadi pengguna narkoba suntik saat SMU dan memiliki kecenderungan
homoseksual.
4. Riwayat keluraga
a. Orang tua : Tidak terkaji
b. Saudara kandung : Tidak terkaji
c. Penyakit keturunan yang ada : Tidak terkaji
d. Anggota keluarga yang meninggal : Tidak terkaji
e. Penyebab meninggal : Tidak terkaji

5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : Kompos mentis
b. Tanda-tanda vital
- TB : 175 cm
- BB : 60 kg
- TD : 100/70 mmHg
- Nadi : 90x/mnt
- RR : 22x/mnt
- Suhu : 38˚C
c. Head to Toe
- Head : - Konjunctiva anemis - Mukosa bibir kering
- Turgor kulit menurun
- Dada/Thorax : - Pemeriksaan paru :
- Auskultasi : Ronchi +/+

6. Pemeriksaan penunjang
- ELISA :+
- CD4 : 380 sel/mm3
7. Analisa data

No Analisa Data Etiologi Masalah


1. DS : Virus HIV masuk Ketidakseimbangan
- Px mengeluh diare 5- kebutuhan nutrisi,
6x/hari Menyerang sel T Nutrisi kurang dari
- BB turun drastis hingga 8
kebutuhan b/d intake
kg
Invasi nutrisi yang kurang.
DO :
- BB = 60 kg
Aktivasi virus CD4 & Sel T
menurun

Imun/daya tahan tubuh menurun

Mudah terpapar
infeksi/mikroorganisme

Infeksi oportunistik

Menyerang sistem pencernaan

Infeksi Gg. peristaltik


mikroorganisme

Peradangan mulut Diare kronis

Sulit menelan/mual

Intake nutrisi
menurun

Ketidakseimbangan kebutuhan
nutrisi/ Gg. Pemenuhan nutrisi

2. DS : Virus HIV masuk Kekurangan volume


- Px mengeluh diare 5- cairan b/d kehilangan
6x/hari Menyerang sel T cairan aktif
- BB turun hingga 8 kg
- Px mengeluh badan
Invasi
lemah

DO :
Aktivasi virus CD4 & Sel T
- Turgor kulit menurun menurun
- Membran mukosa
kering
- Konjunctiva anemis
- Suhu = 38˚C Imun/daya tahan tubuh menurun

Mudah terpapar
infeksi/mikroorganisme

Infeksi oportunistik

Menyerang sistem pencernaan

Gangguan peristaltik

Diare kronis

Output cairan naik

Bibir kering, Turgor kulit menurun

Kekurangan volume cairan


3. DS : Virus HIV masuk Ketidakefektifan
- Px mengeluh batuk bersihan jalan nafas
berdahak Menyerang sel T

DO : Invasi
- Ronchi +/+
- RR = 22x/mnt
Aktivasi virus CD4 & Sel T
menurun

Imun/daya tahan tubuh menurun

Mudah terpapar
infeksi/mikroorganisme

Infeksi oportunistik

Menyerang sistem pernafasan

Batuk, sesak, demam

Ketidakefektifan bersihan jalan


nafas