Anda di halaman 1dari 14

PAKET PENYULUHAN

HIPERTENSI
Di Ruang 5 CVCU RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh:
TIM PKRS IRNA II

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT


RSUD Dr SAIFUL ANWAR MALANG

MALANG
2018
PAKET PENYULUHAN
HIPERTENSI DAN HAND HYGIENE
Di Ruang 5 CVCU RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh:
PSIK A Kelompok 2

Ratna Juwita
Zahirotul Ilmi
Hesti Sriwahyuni

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG
2018

PAKET PENYULUHAN
Pokok bahasan : Hipertensi
Waktu : 25 menit
Sasaran : Keluarga pasien dan pengunjung
Hari/Tanggal : Kamis, 14 Juni 2018
Tempat : Ruang 5 CVCU RSSA

A. LATAR BELAKANG
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan masalah yang ditemukan pada
masyarakat baik di negara maju maupun berkembang termasuk Indonesia. Hipertensi
merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan
140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg. Hipertensi dapat
diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu hipertensi primer atau esensial yang
penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang dapat disebabkan oleh
penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, dan gangguan anak ginjal.
Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang terus-
menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena
itu, hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara
berkala (Sidabutar, 2009).
Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, prevalensi hipertensi di Indonesia
tahun 2004 sekitar 14% dengan kisaran 13,4-14,6%, sedangkan pada tahun 2008
meningkat menjadi 16-18%. Secara nasional Provinsi Jawa Tengah menempati
peringkat ke-tiga setelah Jawa Timur dan Bangka Belitung. Data Riskesdas (2010) juga
menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian nomor tiga setelah stroke dan
tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian pada semua
umur di Indonesia (Depkes, 2010).
Prevalensi hipertensi pada penduduk berumur 18 tahun ke atas di Indonesia
tahun 2013 berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4%, dan pengukuran
tekanan darah sebesar 25,8%. Berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan, provinsi Jawa
Timur merupakan urutan ke 6 tertinggi di Indonesia, sedangkan berdasarkan
pengukuran tekanan darah provinsi Jawa Timur berada pada urutan ke 10 di Indonesia
(Kemenkes RI, 2014).

1. Tujuan Intruksional Umum


Setelah mendapatkan penyuluhan selama 30 menit tentang hipertensi, diharapkan
peserta memahami mengenai manajemen pada pasien dengan hipertensi
2 Tujuan Intuksional Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan satu kali diharapkan peserta penyuluhan mampu:
1. Klien mampu memahami dan menjelaskan kembali tentang pengertian
hipertensi.
2. Klien mampu memahami dan menjelaskan kembali tentang penyebab
hipertensi .
3. Klien mampu memahami tanda dan gejala hipertensi.
4. Klien mampu memahami cara penatalaksanaan hipertensi.
5. Klien mampu memahami komplikasi hipertensi.
6. Klien mampu memahami mengenai terapi komplementer pada penderita
hipertensi

3. Sasaran
Keluarga pasien ruang 5 CVCU

4. Materi
a. Pengertian Hipertensi
b. Penyebab hipertensi
c. Tanda dan gejala hipertensi
d. Penetalaksanaan hipertensi
e. Komplikasi hipertensi
f. Terapi komplementer pada penderita hipertensi

5. Pemateri : Zahirotul Ilmi


6. Moderator : Ratna Juwita
7. Dokumentasi : Hesti Sriwahyuni
8. Notulen :
9. Observer : Hesti Sriwahyuni

10. Metode
 Demonstrasi
 Ceramah
 Tanya jawab

11. Media
 PPT dan Leaflet
12. Kegiatan penyuluhan
NO WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA

1 3 Menit Pembukaan:
 Memperkenalkan diri  Menyambut salam dan
 Menjelaskan tujuan dari
mendengarkan
penyuluhan.  Mendengarkan
 Melakukan kontrak waktu.  Mendengarkan
 Menyebutkan materi penyuluhan  Mendengarkan
yang akan diberikan

2 15 Menit Pelaksanaan :
 Mendengarkan dan
 Menjelaskan memperhatikan
Pengertian Hipertensi
 Menjelaskan
Penyebab hipertensi
 Menjelaskan
Tanda dan gejala hipertensi
 Menjelaskan
Penetalaksanaan hipertensi
 Menjelaskan
Komplikasi hipertensi
 Menjelaskan
Terapi komplementer pada
penderita hipertensi

3 5 Menit Evaluasi :
 Menjawab dan
 Memberi kesimpulan materi menjelaskan pertanyaan
 Menyampaikan hasil evaluasi dan
umpan balik
 Menanyakan pada bapak-bapak
tentang materi yang diberikan dan
reinforcement kepada bapak-
bapak bila dapat menjawab &
menjelaskan kembali
pertanyaan/materi
4 2 Menit Teriminasi :
 Mengucapkan terimakasih kepada  Mendengarkan dan
peserta penyuluhan membalas salam
 Mengucapkan salam

13. Kriteria Evaluasi


1. Evaluasi Struktur
 Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di ruang 5 lantai 2 RSSA
 Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya
2. Evaluasi Proses
 Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
 Peserta tidak meninggalkan tempat penyuluhan.
 Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
 Penguasaan materi oleh penyaji ± 80-100 %
3. Evaluasi Hasil
 Sebelum dilakukan penyuluhan, peserta dapat memahami materi
sebanyak ± 40 %
 Setelah dilakukan penyuluhan, peserta dapat memahami materi sebanyak ± 80 %

MATERI PENYULUHAN

HIPERTENSI

1. Pengertian
Hipertensi adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami
peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka
systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi
darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air
raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. Menurut Joint
National Commite on Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High
pressure VII, 2003; hipertensi adalah suatu keadaan seseorang mengalami
peningkatan tekanan darah di atas normal, yaitu tekanan darah sistolik ≥140
mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Hipertensi adalah
tekanan darah tinggi yang abnormal dan diukur paling tidak pada 3
kesempatan yang berbeda. Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia,
sehingga setiap diagnosis hipertensi harus bersifat spesifik usia. Pada
umumnya, tekanan yang dianggap optimal adalah kurang dari 120 mmHg
untuk tekanan sistolik dan 80 mmHg untuk tekanan diastolik, sementara
tekanan yang dianggap hipertensif adalah lebih dari 140 mmHg untuk sistolik
dan lebih dari 90 mmHg untuk diastolik. Istilah “prahipertensi” adalah tekanan
darah antara 120 dan 139 mmHg untuk sistolik dan 80 dan 89 mmHg untuk
diastolik (Corwin, 2009: Price, 2005).
2. Klasifikasi
Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)


Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Tingkat 1 (hipertensi ringan)140-159 90-99
Tingkat 2 (hipertensi160-179 100-109
sedang)
Tingkat 3 (hipertensi berat) ≥ 180 ≥ 110
Hipertensi sistol terisolasi ≥ 140 < 90

3. Penyebab
a) Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial
Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), meskipun
hipertensi primer lebih dikaitkan dengan faktor gaya hidup gaya hidup
(Kemenkes R.I.,2014).
b) Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial
Meruapakan hipertensi yang diketahui penyebabnya.Beberapa
penyebab diantaranya seperti penyakit penyakit ginjal. Kemudian
penyebab yang lain seperti kelainan hormonal atau pemakaian agen
farmakologi pada obat-obat kontrasepsi seperti pil KB kombinasi
(Kemenkes R.I.,2014).
4. Faktor resiko
a) Faktor yang tidak dapat dikontrol
 Keturunan, ketika salah satu dari orangtua mengalami hipertensi maka
anaknya memiliki resiko terkena hipertensi sebesar 25% dan saat
kedua orangtua menderita hipertensi resikonya menjadi 60%
 Jenis kelamin, hipertensi lebih mudah menyerang laki-laki, hipertensi
pada perempuan atau peningkatan risiko terjadi setelah masa
menopause (45 tahun) (Dalimartha dkk, 2008).
 Umur, pada umumnya, hipertensu menyerang pria pada usia di atas 31
tahun, sedangkan pada wanita terjadi setelah usia 45 tahun
(menopause) (Dalimartha dkk, 2008).
b) Faktor yang dapat dikontrol
 Kegemukan, (obesitas) daya pompa jantung pada penderita obesitas
dengan hipertensi lebih tinggi, dibandingkan penderita hipertensi
dengan berat badan normal (Dalimartha dkk, 2008)
 Konsumsi garam berlebih, konsumsi garam yang berlebihan dengan
sendirinya akan menaikan tekanan darah (Nadar, 2015).
 Kurang olah raga, olahraga dapat mengurangi atau mencegah
obesitas serta mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. Garam
akan keluar dari tubuh bersama keringat (Dalimartha dkk, 2008).
 Konsumsi alkohol, penelitian menunjukkan bahwa efek dari konsumsi
alkohol merangsang hipertensi karena adanya peningkatan sintesis
katekolamin dalam jumlah besar dapat memicu kenaikan tekanan
darah (Dalimartha dkk, 2008).
 Tingkat stres yang tinggi berpotensi memicu peningkatan tekanan
darah (Dalimartha dkk, 2008).

5. Tanda dan Gejala

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi


meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan
gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan
medis.

Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang


menderita hipertensi yaitu :

 Mengeluhsakitkepala,

 Pusing

 Lemas,

 Kelelahan

 Sesak nafas
 Gelisah

 Mual

 Muntah

 Epistaksis

 Kesadaran menurun

6. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan
pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip
pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
a. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan
dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi
tanpa obat ini meliputi
b. Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah:
1. Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
2. Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
3. Penurunan berat badan
4. Penurunan asupan etanol
5. Menghentikan merokok
6. Diet tinggi kalium

c. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan
untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat
prinsip yaitu :
 Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging,
bersepeda, berenang dan lain-lain
 Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik
atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.
Denyut nadi maksimal dapat ditentukan dengan rumus 220 – umur
 Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona
latihan
 Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x
perminggu

7. Komplikasi
a. CVA (Cerebrovascular Attack)
Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan
tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila
arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan
menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya
berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat
melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya
aneurisma (Corwin, 2000). Gejala terkena stroke adalah sakit kepala
secara tiba-tiba, seperti, orang bingung, limbung atau bertingkah laku
seperti orang mabuk, salah satu bagian tubuh terasa lemah atau sulit
digerakan (misalnya wajah, mulut, atau lengan terasa kaku, tidak dapat
berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri secara mendadak
(Smeltzer, 2001).
b. IMA (Infark Miokard Akut)
Infark Miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerosis
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila
terbentuk trombus yang menghambat aliran darah melalui pembuluh
darah tersebut. Karena hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka
kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan
dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga
hipertropi ventrikel dapat menimbulkan perubahan-perubahan waktu
hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia
jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan (Corwin, 2000).
c. Gagal Ginjal
Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan
tinggi pada kapiler-kepiler ginjal, glomerolus. Dengan rusaknya
glomerolus, darah akan mengalir keunit-unit fungsional ginjal, nefron
akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksia dan kematian.
Dengan rusaknya membran glomerolus, protein akan keluar melalui
urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan
edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik (Corwin, 2000).
d. Gagal Jantung
Gagal jantung atau ketidakmampuan jantung dalam memompa darah
yang kembalinya kejantung dengan cepat mengakibatkan cairan
terkumpul di paru,kaki dan jaringan lain sering disebut edma.Cairan
didalam paru – paru menyebabkan sesak napas,timbunan cairan
ditungkai menyebabkan kaki bengkak atau sering dikatakan edema
(Amir, 2002)
e. Ensefalopati
dapat terjadi terjadi terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang
cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan
peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang
intertisium diseluruh susunan saraf pusat. Neron-neron disekitarnya
kolap dan terjadi koma serta kematian (Corwin, 2000).
8. Terapi Komplementer
a. Jus mentimun, bawang putih, belimbing
b. Terapi Otot Progresif
Manfaat Kombinasi Relaksasi Otot Progresif dan Nafas Dalam
 Menciptakan ketentraman batin
 Mengurangi rasa cemas, khawatir, dan gelisah
 Menjadikan tekanan dan ketegangan jiwa lebih rileks
 Menjadikan detak jantung lebih rendah
 Mengurangi tekanan darah tinggi
 Menciptakan ketahanan yang lebih besar terhadap penyakit
 Membuat tidur lebih lelap dan kesehatan mental menjadi lebih baik
 Menjadikan daya ingat lebih baik dan meningkatkan daya berpikir logis
 Meningkatkan kreativitas dan keyakinan
 Meningkatkan daya kemauan dan intuisi
 Menurunkan tekanan darak sistolik dan diastolik pada penderita
hipertensi.
 Meningkatkan kemampuan berhubungan dengan orang lain (Handoyo,
2006).
Prosedur Kombinasi Relaksasi Otot Progresif dan Nafas Dalam
Latihan ini akan lebih nyaman jika diberikan dengan posisi terlentang
dengan menutup mata. Pada latihan ini otot akan di tegangkan atau
dikondisikan kontraksi selama 7-10 detik kemudian direlaksasi selama 10-
15 detik (Suratini, 2019)
c. Terapi Rendam Kaki Dengan Air Hangat (Ferayanti., 2017)
Setelah dilakukan rendam kaki air hangat didalam baskom / ember
yang diisi air hangat dengan suhu 39oC dalam waktu 15 menit setiap
pagi dan sore selama 2 mingguberturut-turut, dinyatakan ada
penurunan tekanan darah. Dimana air hangat secara konduksi terjadi
perpindahan panas/hangat dari air hangat ke dalam tubuh akan
menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan penurunan ketegangan
otot sehingga dapat melancarkan peredaran darah yang akan
mempengaruhi tekanan arteri oleh baroreseptor pada sinus kortikus
dan arkus aorta yang akan menyampaikan impuls yang dibawa serabut
saraf yang membawa isyarat dari semua bagian tubuh untuk
menginformasikan kepada otak perihal tekanan darah, volume darah
dan kebutuhan khusus semua organ ke pusat saraf simpatis ke medulla
sehingga akan merangsang tekanan sistolik yaitu regangan otot
ventrikel akan merangsang ventrikel untuk segera berkontraksi.
Efek biologis panas/hangat dapat menyebabkan dilatasi pembuluh
darah yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi darah. Secara
fisiologis respon tubuh terhadap panas yaitu menyebabkan pelebaran
pembuluh darah, menurunkan kekentalan darah, menurunkan
ketegangan otot, meningkatkan metabolisme jaringan dan
meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga akan menurunkan
tekanan darah. Rendam kaki air hangat disini akan mempengaruhi
arteri-arteri kecil yang akan mengalami dilatasi (melebar) tekanan darah
sistolik dan diastolik akan turun. Respon dari hangat inilah yang
dipergunakan untuk keperluan terapi pada berbagai kondisi dan
keadaan dalam tubuh. Perubahan tekanan darah setelah dilakukan
rendam kaki air hangat disebabkan karena manfaat dari rendam kaki
air hangat yaitu mendilatasi pembuluh darah, melancarkan peredaran
darah

Prosedur rendam kaki air hangat:


1. Rendam menggunkan air hangat dengan suhu 39 derajat (hangat-
hangat kuku)
2. Dilakukan saat pagi dan sore hari
3. Sehari selama 2x terapi
4. Rendaman selama 15-20 menit

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC,
2002
Chung, Edward.K. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III,
diterjemahkan oleh Petrus Andryanto, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1995
Corwin, Elizabeth J. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta : EGC
Dalimartha, Setiawan. 2008. Care Your Self Hipertensi. Penebar Plus : Jakarta
Darmojo, R. Boedhi. Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut ), Balai penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, jakarta, 1999
Kementerian Kesehatan R.I. 2014. Infodatin Pusat Data Dan Informasi
KementerianKesehatan Republik Indonesia Hipertensi. Jakarta : Kementerian
Kesehatan R. I.
Kementerian Kesehatan R.I. 2014. Infodatin Pusat Data Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta :Kementerian Kesehatan R. I
Nadar, S.2015.Hypertension. New York :Oxford University Press
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. 2015. Pedoman
Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakit Kardiovaskular. Jakarta :PP PERKI
Rokhaeni, H., Purnamasari, E., dan Rahayoe, A.U., 2001. Buku Ajar
Keperawatan Kardiovaskuler, Pertama. ed. Pusat Harapan Kita, Jakarta.
Smeltzer, S.C. and Bare, B.G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8
Vol.2. Jakarta : EGC