Anda di halaman 1dari 18

Referat

ALOPESIA ANDROGENIK
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS)
di Departemen Dermatologi dan Venereologi RSMH Palembang

Oleh:
Tri Wulandari, S.Ked
04054821719056

Pembimbing:
dr. Inda Astri Aryani, Sp.KK

DEPARTEMEN DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP DR. MOH. HOESIN PALEMBANG
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Diskusi Kasus
Judul
Alopesia Androgenik
Oleh
Tri Wulandari, S.Ked

Pembimbing
dr. Inda Astri Aryani, Sp.KK
Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam
mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Dermatologi
dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/RSUP
Dr. Moh. Hoesin Palembang periode 6 November 2017 – 10
Desember 2017.

Palembang, November 2017

dr. Inda Astri Aryani, Sp.KK

2
ALOPESIA ANDROGENIK
Tri Wulandari, S.Ked
Pembimbing: dr. Inda Astri Aryani, Sp.KK
Bagian/Departemen Dermatologi dan Venereologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang
2017

Pendahuluan
Rambut merupakan salah satu adneksa kulit yang terdapat pada seluruh
tubuh kecuali telapak tangan, telapak kaki, kuku, dan bibir.1
Kerontokan rambut adalah hal yang pernah dialami hampir semua orang,
tetapi bila kerontokan rambut tersebut berlangsung lama dan menyebabkan
alopesia atau kebotakan akan menimbulkan masalah. Banyak hal yang dapat
menyebabkan kerontokan rambut, pada umumnya rambut rontok berhubungan
dengan penyakit sistemik atau internal, diet yang buruk, penyakit tiroid, atau
konsumsi obat-obatan tertentu.
Androgenik alopecia merupakan miniaturisasi dari batang rambut dan jenis
rambut rontok yang paling umum terjadi pada pria dan wanita. Alopesia
androgenik pada laki-laki (male pattern alopecia) adalah kebotakan progresif
umum yang terjadi akibat pengaruh faktor predisposisi genetik dan androgen
terhadap folikel rambut. Meskipun pola kebotakan pada perempuan berbeda
dengan laki-laki, namun female pattern alopecia juga sering disebut alopesia
androgenik karena karakteristik kebotakan yang sama pada kedua kelompok
gender yaitu ditandai dengan pemendekan fase anagen, pemanjangan fase telogen,
dan pengecilan folikel rambut yang mengakibatkan batang rambut tumbuh
semakin menipis pada setiap siklus. Alopesia biasanya dimulai setelah memasuki
masa puberitas dan meningkat seiring bertambahnya usia.2 Hampir semua pasien
memiliki onset sebelum usia 40 tahun, walaupun banyak pasien (baik laki-laki dan
perempuan) mengalami alopesia pada usia 30 tahun dan alopesia pada laki-laki
memiliki pola yang khas yaitu dimulai dari rambut bagian frontal dan vertex
sehingga garis rambut tampak mundur, menyisakan rambut di bagian parietal saja.

3
Sedangkan pada perempuan, pola kebotakan lebih diffuse dan dimulai dari
puncak kepala.2,3,4
Alopesia androgenik pada perempuan lebih sedikit terjadi dibandingkan
pada laki-laki tetapi memiliki kesamaan pada usia terjadinya. Sama halnya dengan
laki laki alopesia muncul setelah masa pubertas dan akan terus berlanjut seiring
dengan bertambahnya usia. Alopesia androgenik dapat mempengaruhi kualitas
hidup penderita meskipun sebenarnya merupakan hal yang lazim terjadi dan
bukan merupakan penyakit serius bila dilihat dari sudut pandang medis. Penderita
alopesia androgenik sering mengalami psikologis seperti frustasi dan kehilangan
rasa percaya diri terutama pada perempuan. Tidak ada terapi yang efektif untuk
menghambat progesivitas dari alopesia andogenik, meskipun pengobatan tetap
bisa dilakukan, batang rambut tidak dapat tumbuh selebat dan setebal dulu.2

Epidemiologi
Pada alopesia androgenik, prevalensi sangat bervariasi. Persentase
meningkat sejalan dengan kenaikan usia. Angka kejadian pada perempuan
dibandingkan dengan laki-laki adalah 1:3. Alopesia biasanya dimulai setelah
memasuki masa puberitas dan meningkat seiring bertambahnya usia.2 Hampir
semua pasien memiliki onset sebelum usia 40 tahun, walaupun banyak pasien
(baik laki-laki dan perempuan) mengalami alopesia pada usia 30 tahun. 3,4
Dilaporkan 13% dari perempuan premenopause menderita alopesia androgenik,
namun, insidennya sangat meningkat setelah menopause. Sekitar 50% laki-laki
dan perempuan mengalami alopesia Norwood-hamilton tipe III saat usia diatas 40
tahun, dan 80 % laki-laki mengalami alopesia Norwood-hamilton tipe VI/VII dan
50% perempuan mengalami alopesia pada usia 70 tahun.2
Selain itu faktor lain yang mempengaruhi terjadinya alopesia adalah faktor
genetik, dimana seseorang yang memiliki riwayat alopesia pada keluarga (ayah,
ibu, kakek dari pihak ibu) dua kali lebih mungkin untuk mengalami alopesia.
Insiden tertinggi pada orang kulit putih (kaukasia), kedua di Asia dan Afrika-
Amerika, dan terendah pada penduduk asli Amerika dan Eskimo.5,6,7

Etiopatogenesis

4
Siklus pertumbuhan rambut yang normal terbagi atas 3 fase, yaitu :2
 Fase Anagen (fase pertumbuhan rambut) : sel-sel matriks melalui mitosis
membentuk sel-sel baru mendorong sel-sel yang lebih tua ke atas.
Aktivitas ini lamanya antara 2-6 tahun.
 Fase Catagen (fase transisi dari tumbuh ke tahap istirahat) : masa peralihan
yang di dahului oleh penebalan jaringan ikat di sekitar folikel rambut.
Bagian tengah akar rambut menyempit dan bagian di bawahnya melebar
dan mengalami pertandukan sehingga terbentuk gada (club). Masa
peralihan ini berlangsung 2-3 minggu.
 Fase Telogen (fase rambut istirahat) dimulai dengan memendeknya sel
epitel dan berbentuk tunas kecil yang membuat rambut baru sehingga
rambut gada akan terdorong keluar.

Gambar 1. Siklus Pertumbuhan Rambut Normal. Dikutip dari kepustakaan8

Lama masa anagen adalah berkisar 1000 hari, sedang masa telogen sekitar
100 hari sehingga perbandingan rambut anagen dan telogen berkisar antara 12:1.
Jumlah folikel rambut pada kepala manusia sekitar 100.000. Jumlah rambut
rontok per hari 100 helai. Hormon androgen dapat mempercepat pertumbuhan dan
menebalkan rambut di janggut, ketiak, dan suprapubis tetapi pada kulit kepala,
hormon androgen menyebabkan rambut vellus nonpigmented. Namun, perbedaan
efek tersebut belum jelas.5,9
Penyebab alopesia androgenik adalah percepatan konversi hormon
testosteron menjadi hormon turunannya yaitu Dihydrotestosteron (DHT).
Konversi ini terjadi sesaat setelah proses pubertas berakhir atau kisaran usia 20
tahun. Hormon DHT menghasilkan enzim tipe II, 5-a reductase. Folikel yang
terpapar oleh DHT menjadi lemah dan tidak mampu menumbuhkan batang

5
rambut (graft sehat). Mekanisme kebotakan disebabkan singkatnya durasi anagen
akibat terpapar DHT, memanjangnya durasi telogen, dan mengecilnya folikel
rambut.10,11,12

Gambar 2. Pengaruh DHT terhadap Folikel Rambut. dikutip dari kepustakaan 13

Fase anagen lebih pendek sedangkan fase telogen memanjang, rasio


anagen dengan telogen dari 12:1 menjadi 5:1. Akibatnya lebih banyak rambut
berada fase telogen, sehingga penderita mengalami peningkatan kerontokan
rambut. Daerah ini bervariasi pada individu, namun biasanya ditandai kebotakan
pada vertex. Wanita dengan alopesia androgenik umumnya dimulai perluasan dari
bagian pusat dan kemudian kehilangan rambut atas mahkota. Hal ini bertahap
sehingga akhirnya mengalami kebotakan. Rambut laki-laki secara bertahap mulai
menipis di daerah temporal. Sebagian besar evolusi kebotakan berkembang sesuai
dengan klasifikasi Norwood/Hamilton bagian depan dan vertex menipis. Rambut
wanita biasanya mulai menipis di puncak. Secara umum, perempuan
mempertahankan garis rambut bagian depan. Laki-laki dan perempuan dengan
kelainan alopesia androgenik, rambut terminal pigmennya lebih tipis, lebih
pendek, tak jelas dan akhirnya menjadi rambut vellus nonpigmented secara
bertahap.10,13,14

Gejala Klinis

6
Alopesia androgenik timbul pada akhir umur dua puluh atau awal umur
tiga puluhan. Rambut rontok secara bertahap dimulai dari bagian verteks dan
frontal. Garis rambut anterior menjadi mundur dan dahi menjadi terlihat lebar.
Puncak kepala menjadi botak. Beberapa varian bentuk kerontokan rambut dapat
terjadi, yang tersering adalah bagian frontoparietal dan verteks.1,2
Folikel membentuk rambut yang lebih halus dan berwarna lebih muda
sampai akhirnya sama sekali tidak terbentuk rambut terminal. Rambut velus tetap
terbentuk menggantikan rambut terminal. Bagian parietal dan oksipital menipis.1,11

Adapun gejala klinis alopesia androgenik menurut Hamilton:1,2


Tipe I : Rambut masih penuh
Tipe II : Tampak pengurangan rambut pada kedua bagian temporal pada tipe I
dan II belum terlihat alopesia
Tipe III : Border line
Tipe IV : Pengurangan rambut daerah frontotemporal, disertai pengurangan
rambut bagian midfrontal
Tipe V : Tipe IV yang menjadi lebih berat
Tipe VI : Seluruh kelainan menjadi satu
Tipe VII : Alopesia luas dibatasi pita rambut jarang
Tipe VIII : Alopesia frontotemporal menjadi satu dengan bagian vertex

Klasifikasi Hamilton dimodifikasi Norwood dengan adanya variasi pada derajat


IIIa, III vertek, IVa dan Va

7
Gambar 3. Hamilton- Norwood classification of pattern hair loss in man2

8
Gambar 4. Pattern hair loss in women.19

Pada laki-laki diatas 50 tahun, 58% ada di tipe V, yang mengalami


progresivitas pada usia 70 tahun.1 Pada wanita tidak dijumpai tipe VI sampai
dengan VIII, kebotakan pada wanita tampak tipis dan disebut female pattern
baldness. Kerontokan terjadi secara difus mulai dari puncak kepala. Rambutnya
menjadi tipis dan suram. Sering disertai rasa terbakar dan gatal.2

Pemeriksaan Penunjang
Analisis laboratorium dehydroepiandrosterone (DHEA)-sulfate dan
testosteron perlu dilakukan, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui hubungan
kelebihan hormon androgen dengan alopesia androgenik. Dehydroepiandrosterone
(DHEA), suatu hormon yang diproduksi glandula adrenal, yang merupakan
prekursor dari hormon estrogen dan testosteron. Kadarnya akan terus meningkat
hingga puncaknya pada usia 20 tahunan dan kemudian menurun hingga berhenti
pada usia 70-80 tahun. Nilai optimum Dehydroepiandrosterone (DHEA) pada pria
400-500ug/dl dan wanita 350-430ug/dl. Kebanyakan pria memproduksi 6-8 mg
testosteron (sebuah androgen) per hari, dibandingkan dengan kebanyakan wanita
yang memproduksi 0,5 mg setiap hari.16,17,18
Biopsi jarang dibutuhkan untuk membuat diagnosis. Jika satu spesimen
biopsi diperoleh, itu umumnya dipotong melintang jika pola alopesia dicurigai.10

9
Pada pemeriksaan histologis didapatkan pola alopesia, dengan folikel rambut yang mini. Pola alopesia, diameter shaft rambut

bervariasi. Sisa saluran berserat (disebut pita) dapat ditemukan di bawah miniatur folikel. Meskipun alopesia androgenik dianggap sebagai

bentuk peradangan rambut rontok. Rasio durasi anagen dan telogen sering diamati.16

Gambar 5. Histologi Hair Loss (2 terminal & 3 vellus rambut)19

Diagnosis
Dalam menegakkan diagnosis alopesia androgenik diperlukan pengalaman
observasi kebotakan. Ada 3 hal yang merupakan indikasi kebotakan dini:20,21
1. Terjadi kerontokan gradual yang menyebabkan penipisan di areal widow’s
peak (kening, crown, dan vertex)
2. Rambut-rambut di areal widow’s peak tipis, ringan, tidak hitam pekat, dan
mudah lepas
3. Penipisan semakin parah dan melebar seiring dengan waktu
Bila ketiga hal di atas terjadi dan ditemukan riwayat alopesia androgenic dalam keluarga dipastikan orang tersebut mengalami

alopesia androgenik. Sehingga memerlukan penanganan yang sedini mungkin untuk menyelamatkan folikel-folikel yang lemah agar tidak

mati.

Stadium kebotakan pria distandarisasi dengan menggunakan tabel Norwood Hamilton Scale :21

10
Gambar 6. Skala Norwood-Hamilton21

Norwood 2-3 V, adalah kondisi kebotakan berada pada stadium awal. Pada
stadium ini fase/siklus pertubuhan rambut mulai kacau dan tubuh mempunyai
kadar konsentrasi DHT yang mulai meninggi. Pada stadium ini penanganan
perlu dilakukan agar kadar DHT di dalam tubuh menjadi nol dan tidak sampai
mengganggu folikel. Tingkat keberhasilan pada stadium ini sangat besar
sekali, mengingat masih banyaknya papilla-papilla reseptor yang masih hidup
dan siap untuk menumbuhkan kembali rambut-rambut baru. Estimasi waktu
pertumbuhan rambut secara merata (80% coverage) antara 8-12 bulan.21

Norwood 4-4 V, adalah kondisi kebotakan pada stadium tengah (medium)
yang progresnya sudah mulai bergerak cepat menuju kebotakan berpola
(MPB). Pada stadium ini fase/siklus pertumbuhan rambut sudah kacau dan
konsentrasi DHT sudah sangat berlebih. Pada stadium ini pengobatan harus
dilakukan secara intensif selama 18-24 bulan. Tingkat keberhasilan pada
stadium ini +/- 80%, dengan syarat penggunaan produk farmasi yang tepat
guna dan tepat sasaran (bukan trial-error).21

11

Norwood 5-7, disebut sebagai rambut rontok luas, dimana tahap ini telah
kehilangan lebih dari 20.000 unit folikel dari daerah frontal dan area mahkota
kepala. Kondisi ini terjadi karena adanya konsentrasi DHT yang sangat tinggi
dan tidak ada penanganan sama sekali selama lebih dari 15 tahun. Pada
kondisi ini sebagian besar papilla reseptor dan folikel sudah dorman dan opsi
yang tersisa hanyalah transplantasi rambut.21,22

Diagnosis Banding

Alopesia Areata : Penyebabnya belum diketahui, namun sering dihubungkan
dengan adanya infeksi fokal, kelainan endokrin dan stres emosional. Gejala
klinis ditandai adanya bercak dengan kerontokan rambut pada kulit kepala,
alis, janggut, dan bulu mata.2,5,23

Gambar 7. Alopesia Areata19



Trikotilomania : Alopesia neurosis, rambut ditarik berulang kali sehingga
putus. Sering pada gadis yang mengalami depresi. Kulit kepala normal tanpa
peradangan atau parut.2

Gambar 8. Trikotilomania19

12

Tinea Kapitis : Kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh
spesies dermatofita seperti T. rubrum, T. Mentagrophytes, M. gypseum. Gejala
ini ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia, dan kadang-
kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat, yang disebut kerion.16,23

Gambar 9. Tinea Kapitis19



Telogen Efluvium : adanya kerontokan rambut terlalu cepat dan terlalu banyak
pada folikel rambut yang normal. Kelainan ini terjadi karena adanya
rangsangan yang mempercepat fase anagen menjadi fase telogen. Keadaan ini
terjadi pada pascapartum,pascanatal, stress, pascafebris akut.2,16

Gambar 10. Telogen Efluvium 19

Terapi
1. Medikamentosa

Rogaine (minoxidil) adalah obat yang digunakan untuk mengobati
tekanan darah tinggi (vasodilator) yang bila dioleskan ke kulit
menyebabkan pertumbuhan rambut melalui efek angiogenik sehingga
meningkatkan fase anagen dan mengembalikan proses miniaturisasi

13
folikel rambut. Minoxidil adalah suatu cairan yang dioleskan pada
kulit kepala. Satu mL dari larutan minoxidil harus diterapkan dua kali
sehari untuk mencapai dan mempertahankan pertumbuhan, hasil akan
terlihat setelah 4-6 bulan atau maksimal 1 tahun. 20-25% terjadi
pertumbuhan klinis, pada sebagian besar pasien kerontokannya
berhenti. Efek samping minoxidil pada kulit kepala adalah iritasi,
kekeringan, scaling, gatal kemerahan, dan dermatitis alergi. Formula
baru busa 5% memiliki efektivitas sama dengan larutan 5%, tapi lebih
sedikit efek iritasinya karena tidak mengandung propilen glikol.6,7,15,25

Finasteride adalah obat dalam bentuk pil (oral).Mekanisme kerja obat
ini melekat secara ireversibel pada 5α-reduktase isoenzyme tipe 2 dan
mencegah perubahan testosteron menjadi DHT (dihidrotestosteron)
dan menurunkan tingkat dihidrotestosteron dalam serum dan kulit
kepala. Dosis 1 mg/hari dapat mencegah rambut rontok. Tidak
diperlukan penyesuaian dosis untuk rentang usia atau hilangnya
rambut. Perlu diingatkan penderita yang mengalami gangguan fungsi
hati. Obat ini hanya untuk laki-laki > 18 tahun, tidak efektif pada laki-
laki berusia lebih dari 60 tahun. Kontraindikasi pada wanita. Dosis
orang dewasa 1 mg PO qd sedangkan pada anak-anak tidak tersedia.
Hasil efektif setelah 3 bulan, 50% respon pada 1 tahun dan 66% pada 2
tahun. Efek samping penurunan libido dan disfungsi ereksi
(1,8%).13,15,16,20


Dutaseride adalah dual 5-ARI yang menghambat perubahan
testosterone menjadi DHT.

Anthralin memiliki efek modulasi kekebalan tubuh nonspesifik. Aman
dan digunakan pada anak-anak dan orang dewasa.13

Kortikosteroid : triamsinolon asetonid (TA), pertumbuhan rambut
setelah 4-6 minggu. Sekitar 33% pasien tidak responsif
1. Injeksi intradermal, jarak 1-2 cm, spuit insulin/no 30
2. Pengenceran TA 2,5-10 mg/ml, kira-kira 0,05-0,10 ml tiap injeksi,
maksimum volume 2-3 ml

14
3. Interval 4-6 minggu, jika 3 bulan tidak ada pertumbuhan stop
4. Jika setelah 3-6 bulan rambut menipis, dapat diinjeksi ulang.

Antiandrogen : spironolaktone 1x100 mg, flutamid 2-3x250-500 mg,
siproteron asetat, simetidin, mengikat reseptor androgen dan memblok
aksi DHT. Tidak boleh digunakan pada laki-laki.

2. Nonmedikamentosa

Pencangkokan rambut dilakukan dengan mengangkat sekumpulan
kecil rambut dari daerah dimana rambut masih tumbuh dan
menempatkannya di daerah yang mengalami kebotakan. Hal ini bisa
terbentuk jaringan parut di daerah donor dengan resiko infeksi rendah.
Metode ekstraksi bedah (Follicular Unit Transplantation (FUT) atau
Follicular Unit Extraction (FUE)).11,16


Tips perawatan rambut yang baru tumbuh
1. Bershampo 2x seminggu dengan diikuti dengan kondisioner,
seperti untuk rambut kering atau rusak
2. Hindari pengering rambut, panas yang berlebih akan merusak
rambut dan kulit
3. Minimalkan penggunaan sisir, sasak, keriting, kepang, karena
rambut baru cenderung patah/rusak
4. Gunakan mousse, semprot rambut, gel secara terbatas

Prognosis
Prognosis kebotakan (alopesia) tergantung penyebabnya. Namun,
prognosis androgenetic alopesia tidak diketahui. Pada umumnya lebih mudah
rambut rontok daripada rambut tumbuh.16,20

Komplikasi
Rambut rontok dapat menyebabkan gangguan kosmetik, mempengaruhi
secara psikologis (kecemasan) dan jarang monosymptomatic hypochondriasis.
Kulit kepala botak mudah terpapar sinar matahari (sinar ultraviolet), dan
menimbulkan Multipel Actinic Keratosis.3,16

15
Simpulan
1. Alopesia androgenik (juga dikenal sebagai androgenetic alopecia, alopecia
androtesticleas, male pattern baldness, common baldness) merupakan
sebuah bentuk umum kehilangan rambut pada laki - laki dan perempuan,
timbul pada akhir umur dua puluh atau awal umur tiga puluhan.
2. Alopesia androgenik merupakan tipe kebotakan yang paling banyak,
angka kejadian pada laki-laki sekitar 50% dan 13% perempuan
premenopause, namun insidennya sangat meningkat setelah menopause.
3. Alopesia Androgenik disebabkan berbagai faktor herediter yang dominan
dan naiknya konsentrasi androgen ekstra gonadal di kulit kepala. Dapat
pula disebabkan karena kepekaan jaringan terhadap hormon, sensitivitas
ini disebabkan oleh faktor genetic
4. Rambut rontok secara bertahap dimulai dari bagian verteks dan frontal.
Beberapa varian bentuk kerontokan rambut dapat terjadi, tetapi yang
tersering adalah bagian frontoparietal dan verteks menjadi botak.
5. Analisis laboratorium dehydroepiandrosterone (DHEA)-sulfate dan
testosteron, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui hubungan kelebihan
hormon androgen dengan alopesia androgenik.
6. Terapi alopesia androgenik yakni dengan memberikan Rogaine
(minoxidil), Finasteride, Anthralin dan pencangkokan rambut.
7. Prognosis alopesia adalah tergantung dari penyebabnya, namun prognosis
dari alopesia androgenik tidak diketahui dengan pasti.
8. Alopesia dapat menyebabkan kecemasan dan jarang monosymptomatic
hypochondriasis, selain itu juga menimbulkan Multipel Actinic Keratosis
karena adanya paparan sinar matahari langsung.

16
DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardiman L. Kelainan rambut. Dalam : Buku Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi 7. Jakarta: FKUI. h.359-377. 2015
2. Wolff,K., Johnson,R.A. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine.
8th ed. New York: McGraw-Hill Company, 2012.
3. Thomas J. Androgenetic Alopecia-Current Status. Indian J Dermatol
[serial online] 2005 [cited 2009 Nov 12]; 50(4):179-190.
4. Hajheydari Z, Akbari J, Saeedi M, Shokoohi L. Comparing the therapeutic
effects of finasteride gel and tablet in treatment of the androgenetic
alopecia. Indian J Dermatol Venereol Leprol [serial online] 2009 [ cited
2009 Nov 14]; 75:47-51.
5. Soepadirman L. Kelainan Rambut. In Djuanda A, Hamzah, Aisyah S,
editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta : FKUI; 2007.p.
303-306.
6. Kucerova R, Bienova M, Novotny R, et al. Current Therapies Of Female
Androgenetic Alopecia And Use Of Fluridil, A Novel Topical
Antiandrogen. Jorurnal of Journal of the European Academy of
Dermatology and Venereology 1999; 12: 205–214. The Scripta Medica
(BRNO) 2006; 79 (1): 35–48
7. Beth Kapes. Alopesia. The Gale Group Inc., Gale, Detroit, Gale
Encyclopedia of Medicine. [serial online] 2002 [cited 2009 Nov 21]; 1-2.
8. http://www.hairtransplantsurgery.ie/images/cycle.jpg
9. Sinclair Rodney. Male Pattern Androgenetic Alopecia. BMJ [serial online]
1998 [dikutip 2008 April 15];317;865-869.
10. Hajheydari Z, Akbari J, Saeedi M, Shokoohi L. Comparing the therapeutic
effects of finasteride gel and tablet in treatment of the androgenetic

17
alopecia. Indian J Dermatol Venereol Leprol [serial online] 2009 [ cited
2009 Nov 14]; 75:47-51.
11. Marks J, and Miller J. Principles of Dermatology. 4th ed. Cina: Saunders
Elsevier, inc.; 2006.p.265-267
12. Hunter J, Savin J, Dahl M. Clinical Dermatology. 3rd ed. Denmark:
Blackwell Publishing, Inc.; 2003.p.162-167, 216.
13. Sinclair Rodney. Male Pattern Androgenetic Alopecia. BMJ [serial online]
1998 [dikutip 2008 April 15];317;865-869.
14. Singh G. Androgenic alopecia. Indian J Dermatol Venereol Leprol [serial
online] 2002 [cited 2009 Nov 14]; 68 : 40.
15. Wolff K, Katz LGSI, Paller BGA, Leffell DJ. Fitzpatrick’s Dermatolgy In
General Medicine. 7th ed. USA : The Mc Graw-Hill Companies, Inc.;
2008.p.761-770.
16. Feinstein Robert P. Androgenetic Alopecia. Associate Clinical Professor,
Department of Dermatology, Columbia University College of Physicians
and Surgeons [serial online] 2009 [cited 2009 Jan 22];
17. Admin. Hormon. Kesrepro copyright @ 2007 [serial online] 2008 [cited
2009 Nov 29]
18. Zwageri. 10 Jenis Uji Laboratorium Darah yang Penting Bagi Kesehatan.
[serial online] 2007 [cited 2009 Nov 29]
19. Wolff K, Katz LGSI, Paller BGA, Leffell DJ. Fitzpatrick’s Dermatolgy In
General Medicine. 7th ed. USA : The Mc Graw-Hill Companies, Inc.;
2008.p.761-770.
20. Beth Kapes. Alopesia. The Gale Group Inc., Gale, Detroit, Gale
Encyclopedia of Medicine. [serial online] 2002 [cited 2009 Nov 21]; 1-2.
21. Purwana Reinhard. Kebotakan Dini? Bukan Masalah. Medicastore. [serial
online] 2009 [cited 2009 Nov 21]; 1-2.
22. Patel JC. Hair loss. Indian J Med Sci [serial online] 2000 [cited 2009 Nov
14];54:106-109.
23. Jawetz, Melnick, & Adelberg. Mikrobiologi Kedokteran. 20rd ed. Jakarta :
EGC, Inc.;1996.p. 614.
24. Poswal Arvind. Indian J Dermatol [serial online] 2007 [cited 2009 Nov
14]; 52:104-5.
25. Marks J, and Miller J. Principles of Dermatology. 4th ed. Cina: Saunders
Elsevier, inc.; 2006.p.265-267.

18