Anda di halaman 1dari 18

Konservasi dan Restorasi Gua1

M Iqbal Willyanto2

“Jangan pernah tanyakan apa saja yang telah gua berikan untuk kita, tapi coba renungkan,
apa saja yang telah kita berikan untuk kelestarian gua dan lingkungannya”

I. INTRODUKSI
Sebelum membahas konservasi gua, kita harus paham bahwa gua merupakan suatu
sistem yang terbentuk secara alamiah, mengandung nilai keanekaragaman hayati dan non-
hayati, bersifat unik dan langka, mempunyai nilai yang strategis dan penting bagi
keberlangsungan kehidupan dan ekosistem. Di sisi lain, gua juga sangat peka dan rentan
terhadap perubahan dari lingkungan luar, serta amat sensitif terhadap pencemaran sekaligus
sulit diperbaiki atau direhabilitasi seperti sedia kala. Untuk itu perlu disadari dengan bijak,
bahwasanya segala macam bentuk aktifitas manusia pada gua (baik itu penelusuran,
pemetaan, penelitian, fotografi, wisata petualangan, dll), dapat menimbulkan dampak dan
perubahan terhadap kondisi lingkungan gua. Terlebih aktifitas penambangan yang dapat
mengganggu serta merusak lingkungan gua dengan skala dan dampak yang lebih luas.
Ketika membicarakan konservasi gua, keberadaan organisme mikroskopis tidak boleh
diabaikan begitu saja. Beberapa penelitian mengungkapkan, bahwa organisme mikroskopis
memiliki peranan penting dalam pembentukan speleothem gua3. Dari penelitian-penelitian
tersebut membuat kita sadar, bahwasanya selama ini dalam melakukan aktifitas di dalam gua
kita begitu abai terhadap komunitas organisme mikroskopis di lingkungan gua. Mengabaikan
lumpur atau sisa makanan yang melekat di peralatan dan perlengkapan kita dari penelusuran
gua sebelumnya, merupakan suatu tindakan yang kurang bijak dan dapat berpotensi
mengkontaminasi serta mempengaruhi komunitas mikroba di gua lainnya. Hal ini tentu saja
dapat berpotensi menimbulkan efek terganggunya rantai makanan dari ekosistem gua yang
kita telusuri.
Sikap bijaksana dan kehati-hatian perlu kita terapkan juga saat setiap melakukan
aktifitas penelusuran gua, terutama pada gua-gua yang dihuni oleh kelelawar. Jangan sampai
aktifitas penelusuran yang kita lakukan, mengusik keberadaan kelelawar di dalam gua.
Kelelawar yang terusik atau terganggu, akan berpindah tempat dan mencari hunian baru.
Padahal kelelawar merupakan penghasil guano yang merupakan sumber energi di dalam gua.
Berpindahnya kelelawar secara permanen ke tempat lain, akan menyebabkan berkurang atau
hilangnya guano tersebut. Hal ini dapat berakibat terganggunya siklus rantai makanan di
dalam gua dengan dampak banyak spesies yang akan mati akibat ketidak-tersedianya bahan
makanan dasar mereka, yakni guano. Sebagai seorang penelusur gua, memasuki gua yang
dihuni oleh kelelawar harus dilakukan dengan selektif dan dilakukan pada malam hari, saat
kelelawar berada di luar gua guna mencari makan.
Namun, ada pula beberapa orang yang mengaku dirinya sebagai caver yang
memandang gua hanya sebagai dunia hiburan semata saja layaknya Taman Impian Jaya
Ancol versi bawah tanah. Mereka hanya mencari kesenangan dan sensasi petualangan tanpa

1
Disampaikan pada Kursus Instruktur Sekolah Speleologi Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 18 – 22
Desember 2017 di STP Bandung.
2
Pecinta Karst, ISS Member (ISS 1310160067), email: Iqbal.willyanto@gmail.com
3
Seperti pada penelitian: Pacton, M., Breitenbach, S.F.M., Lechleitner, F.A., Vaks, A., Rollion-Bard, C.,
Gutareva, O.S., Osintcev, A.V : The Role of Microorganism in the Formation of a Stalactite in Botovskaya Cave,
Siberia – Paleoenvironmental Implication, Biogeosciences, 10, 6115 – 6130, 2013.
sekalipun mengevaluasi dampak yang ditimbulkan dari aktifitas mereka. Terlebih jika
aktifitas mereka tersebut dapat menghasilkan uang banyak dengan “menjual dan memperkosa
gua” untuk dinikmati oleh orang banyak dan tanpa pernah mengevaluasi serta memperbaiki
dampak kerusakan yang ditimbulkan. Bagi mereka, semakin sering serta semakin banyak
memasukkan orang ke dalam gua adalah kenikmatan yang paling paripurna dan tentu saja
semakin banyak uang yang diperoleh oleh mereka. Mereka tidak peduli dengan formasi atau
speleothem yang rusak akibat perbuatan vandalisme yang dilakukan oleh tamu mereka.
Mereka juga tidak peduli dengan terganggunya kelelawar dan ekosistem gua. Mereka hanya
peduli terhadap egoisme dan kepentingan pribadi mereka saja. Hal ini berbanding terbalik
dengan real caver, yakni para penelusur gua sejati yang selalu memegang teguh kode etik
penelusuran gua. Walaupun sebenarnya memang tidak ada aturan yang mengikat dan sanksi
bagi yang melanggar kode etik penelusuran gua.
Perlu kiranya kita pahami dengan seutuh-utuhnya, sebagai penelusur gua setiap
melakukan penelusuran kita harus sadar, bahwa kegiatan yang kita lakukan ini merupakan
suatu karunia, berkah dan anugerah dari Tuhan yang Maha Esa. Untuk itu tidaklah perlu
bersikap jumawa dan merasa paling hebat. Tanpa pencahayaan di dalam gua, kita tidak ada
apa-apanya dibandingkan biota gua yang dapat bertahan hidup di lingkungan gua dalam
kondisi sunyi dan gelap abadi. Sebagai orang yang suka menelusuri gua sekaligus
mencintainya, janganlah pernah merasa puas dengan ilmu yang telah kita dapatkan, teruslah
belajar dimana saja dan dengan siapa saja. Dengan begitu, kita dapat mencintai dan
melindungi gua beserta lingkungannya secara sepenuh hati. Yang terakhir tentu saja tetaplah
berpegangan teguh kepada etika penelusuran gua yang bertanggungjawab.

Take nothing but conservation-wise photo.


Leave nothing but careful footprints on established trails.
Kill nothing but time.

II. KONSERVASI GUA, MANAJEMEN, dan ETIKA

Konsep Konservasi Gua

Konservasi berasal dari bahasa Inggris (conservation) yang terdiri dari kata con
(together) dan servare (keep/save), yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara
apa yang kita punya, namun secara bijaksana. Secara harfiah konservasi memiliki arti
pelestarian atau perlindungan4. Berdasarkan UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, konservasi (sumber daya alam hayati) adalah
pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk
menjamin kesinambungan persediannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas
keanekaragaman dan nilainya 5 . Masih banyak definisi konservasi lainnya, namun pada
intinya terdapat tiga kata kunci yang perlu diperhatikan dalam konservasi, yaitu:
perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Dalam hal ini, konservasi gua bukan berarti
gua tersebut tidak boleh diapa-apakan, boleh dimanfaatkan dan dikelola, asal sifatnya
berkelanjutan dan di dalam pengelolaannya harus berdasar prinsip konservasi
(perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan).
Namun, implementasi dari konsep konservasi gua (di kalangan penelusur gua) yang
terjadi saat ini di Indonesia masih bersifat ambigu. Kalangan penelusur gua yang notabene

4
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Konservasi, diakses pada 15 Desember 2017.
5
UU Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya, Bab 1, Pasal 1.
merupakan kalangan terdidik dan yang paling memahami gua beserta lingkungannya dari
segi teknik maupun keilmuan, masih dibatasi paradigma berpikirnya yang hanya sebatas
menolak pemanfaatan gua yang sifatnya ekstraktif, tanpa memberikan solusi alternatif untuk
masyarakat di sekitar gua atau kawasan karst. Jika kita mau jujur dengan diri kita sendiri,
bahwasanya sebagai penelusur gua, kita juga turut andil ikut menyumbang kerusakan di
dalam gua, bahkan mungkin dampak kerusakan yang kita lakukan lebih besar secara
kuantitatif dari pada dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh masyarakat ataupun pengelola
gua wisata. Sebagai contoh, dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh pengelola gua wisata
terjadi secara kualitatif dan intens, namun hanya sebatas pada gua yang mereka kelola saja.
Lain hal-nya dengan dampak kerusakan yang dihasilkan oleh para penelusur gua, dampaknya
lebih bersifat kuantitatif (pada banyak gua sekaligus).
Vandalisme gua ialah suatu tindakan perusakan gua yang dilakukan secara sengaja
maupun tidak sengaja, yang memiliki dampak negatif dan berakibat berkurangnya nilai suatu
gua dan lingkungannya 6 . Secara logika, jika menganggap gua dan lingkungannya adalah
sesuatu yang unik, langka, dan rentan, seyogyanya segala tindakan atau usaha untuk merusak
gua harus dikenakan denda dan hukuman. Di Amerika Serikat, setiap negara bagian memiliki
peraturan atau hukum perlindungan gua dan lingkungannya. Pada peraturan tersebut
disebutkan bahwa setiap usaha atau tindakan merusak formasi gua atau mengusik biota gua
diancam denda hingga 500 dollar US 7 . Rasanya hal ini sulit diterapkan di Indonesia,
mengingat masih minimnya pengetahuan serta kesadaran para pemangku kepentingan dan
masyarakat mengenai konservasi gua dan lingkungannya.

Berikut Skema Sederhana Perihal Sebab-Akibat Vandalisme Gua di Indonesia 8:


Pelaku Latar Motivasi Obyek Dampak Dampak
Perusakan Belakang Kegiatan Perusakan Interior Eksterior
Pengunduh Spesialis Menjual kepada Burung Walet Gangguan Terganggunya
sarang buruh pengunduh sarang tengkulak dengan Collocalia terhadap burung fungsi burung
harga tinggi Fuciphaga walet, yang walet sebagai
sebagai bahan berakibat pindah pemakan
makanan khusus tempat atau punah serangga, bisa
timbul hama
serangga
Penggali fosfat Penduduk Untuk dijadikan Lantai gua yang Merusak Pencemaran
gua setempat yang bahan pupuk mengandung kestabilan gua sumber air karst
mendapat upah tanaman fosfat dari guano dan estetika, gangguan
harian atau yang mengalami membahayakan keseimbangan
borongan proses kimiawi penelusur gua. ekologis, bila
Polusi sumber air kelelawar
karst, perusakan terganggu
sedimen, habitatnya dan
mengusik pindah tempat
kelelawar
Pengambil Spesialis Dijual kepada Kelelawar Kelelawar pindah Gangguan
kelelawar penangkap tengkulak penyerbuk bunga tempat atau punah ekologis serius
kelelawar atau pemakan punahnya
serangga beberapa jenis
tanaman. Wabah
atau hama
serangga
Penggali mineral Penduduk Dijual sebagai Formasi kalsit Hilang keindahan Mengandung
kalsit setempat yang bahan dekorasi gua. Gua rusak vandalis untuk
diberi upah harian rumah atau kolam mengambil
atau borongan atau industri formasi gua untuk

6
Definisi vandalisme gua masih bisa diperdebatkan. Pada intinya yang dibahas ialah segala bentuk tindakan
yang sifatnya negatif dan berakibat sesuatu terhadap kondisi gua dan lingkungannya.
7
Lihat dan baca State Cave Protection Law (US).
8
Ko, R.K.T., Vandalisme Goa, tidak diterbitkan.
oleh kontraktor souvenir
Usaha Pihak Dinas Dikomersialkan Interior dan Perusakan nilai Gangguan
membangun gua Pariwisata atau untuk umum eksterior gua oleh estetika oleh ekologis luas bila
dan mengelolanya PEMDA setempat dengan menjual desain overkill bangunan buatan kelelawar.
untuk tujuan dan atau karcis manusia. Polusi Burung, wallet,
wisata rekanannya sedimen dan sriti, terusik oleh
sumber air. Biota lampu-lampu dan
gua terusik ramainya
pengunjung
Penelusur gua Yang tidak Mencari hiburan Dekorasi dan Graffiti, Polusi sumber air,
memahami biota serta pengambilan gangguan
ekosistem dan sedimen gua speleothem, ekologis,
konservasi gua pencemaran air, pindahnya
pengotoran gua kelelawar, wallet
dan sriti

Perlu kita sadari, bahwasanya konservasi gua tidak akan terjadi jika kita hanya fokus
dan menitikberatkan pada aspek lingkungan gua saja, tanpa memperhatikan aspek lainnya
seperti ekonomi dan sosial budaya masyarakat sekitar. Dengan kata lain, “Tujuan konservasi
yang paling utama adalah untuk masyarakat sekitar (bukan untuk penelusur gua). Ketika
masyarakat mendapatkan manfaat (sumber pendapatan, dll), maka masyarakat akan
berusaha menjaganya dengan cara apapun. Dari situlah konservasi akan terjadi dengan
sendirinya”. Hal itulah yang penulis dapatkan saat melakukan penelitian mengenai Studi
tentang Pembangunan Berkelanjutan Kawasan Karst di Gunung Kidul.

Hasil Analisis Studi Tentang Pembangunan Berkelanjutan Kawasan Karst di Gunung Kidul 9

9
Willyanto, Iqbal., 2012, Kemitraan Dalam Pengelolaan Obyek Wisata Minat Khusus Karst Kali Suci (Studi
tentang Pembangunan Berkelanjutan Kawasan Karst), Skripsi Universitas Gadjah Mada, hal. 185.
Masalah utama paling mendesak yang dialami oleh penduduk kawasan karst ialah tekanan
penduduk, karena sebagian besar penduduknya ialah petani dengan luas lahan pertanian yang terbatas
dan sangat bergantung dengan ketersediaan air. Untuk itu harus dicarikan strategi pembangunan
berkelanjutan yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan, padat modal dan karya, dapat
meningkatkan kesejahteraan penduduk, dapat merangsang pertumbuhan ekonomi wilayah, serta
memihak kelestarian lingkungan kawasan karst. Salah satu strategi pembangunan berkelanjutan yang
dapat diwujudkan tersebut ialah pemanfaatan gua melalui pariwisata.
Selama ini seakan-akan pemanfaatan gua dianggap berbenturan dengan konsep
konservasi gua. Padahal jika dikaji kembali berdasarkan definisi konservasi sesuai Undang-
Undang RI, pemanfaatan gua merupakan bagian dari konsep konservasi10. Secara substansi,
konsep pemanfaatan gua yang berdasarkan prinsip konservasi harus memperhatikan tiga aspek
pembangunan berkelanjutan agar dapat berjalan beriringan, yakni aspek ekologi, berarti pemanfaatan
gua dan lingkungannya tidak memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kelestarian
lingkungan sumber daya dan nilai gua. Terkait aspek sosial-budaya berarti, kegiatan pemanfaatan di
dalamnya tidak menimbulkan konflik dan ketidakharmonisan hubungan sosial, serta tidak
menghilangkan budaya masyarakat lokal yang diakibatkan pengaruh budaya dari eksternal.
Sedangkan dari aspek ekonomi, ialah kegiatan pemanfaatan gua dan lingkungannya dapat
meningkatkan kesejahteraan hidup bagi para pelakunya, maupun masyarakat sekitar (terciptanya
multiplier effect). Konsep konservasi gua yang kita bahas disini, dapat kita sederhanakan
sebagai tindakan pemanfaatan gua yang bersifat kuratif-restoratif (meminimalisir dampak
kerusakan serta berupaya memperbaikinya) dan preventif (melakukan upaya perlindungan
untuk menghambat dampak kerusakan).

Inventarisasi Sumber Daya Gua

Inventarisasi gua ialah suatu upaya melakukan pengamatan secara sistematis dan
melakukan pencatatan fitur-fitur penting yang ditemukan di dalam gua. Inventarisasi gua
meliputi data atau informasi tentang arkeologi, biologi, hidrologi, geologi, mineralogi,
paleontologi, speleogenesis, dan lain sebagainya yang ditemukan di dalam gua. Selain itu,
inventarisasi dampak kunjungan manusia juga penting untuk dilakukan. Semakin banyak data
atau informasi yang dikumpulkan tentu saja semakin baik, namun kembali lagi kepada
keterbatasan teknis, keuangan, personil dan waktu dalam melakukan inventarisasi gua. Data
dan informasi adalah kunci untuk mempelajari sekaligus memahami suatu gua dan
lingkungannya. Dari situ kita bisa melakukan kajian secara mendalam dan terukur guna
mengelola sekaligus melindungi sumber daya gua dan lingkungannya sebagai satu kesatuan.
Agar pengumpulan data dan informasi berjalan secara optimal, perlu kiranya
mendefinisikan kembali tujuan inventarisasi di awal, termasuk di dalamnya menentukan jenis
informasi apa saja yang akan diinventarisasi dan seberapa detail informasi yang ingin
dihasilkan. Tanpa adanya data dan informasi, kita tidak akan bisa melakukan apa pun untuk
konservasi gua dan lingkungannya. Pepatah “Tak kenal maka tak sayang” mungkin cocok
untuk mewakili konsep konservasi gua.

Metode dan Pengumpulan Data Inventarisasi Sumber Daya Gua

Inventarisasi sumber daya gua dapat dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif
maupun kuantitatif. Inventarisasi sumber daya gua menggunakan metode kualitatif lebih
mudah dilakukan, karena hanya sebatas memberikan informasi atau data temuan sumber daya
di dalam gua berdasar distribusi geografis tanpa rincian pengukuran spesifik (misal, tingkat

10
Baca UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
kelangkaan, kelimpahan, kerapatan) atau atribut terukur lainnya di suatu gua. Berikut adalah
contoh bentuk form inventarisasi sumber daya gua11:

Contoh Form Inventarisasi Sumber Daya Gua Metode Kualitatif (Atas) dan Metode Kuantitatif (Bawah):

11
Hanya sebagai referensi, desain form bersifat bebas sesuai kebutuhan.
Berikut Sejumlah Daftar Item-Item Potensial Sumber Daya Gua Untuk Diinventarisir12:

Speleothems Speleothems
Sulfate Moonmilk Minerals Water
(Aragonite) (Calcite)
• Anthodites • Bell Canopies • Barite • Ballons • Aragonite • Dripping water
• Bushes • Coatings • Crystals • Coatings • Barite • Pools
• Frostwork • Crusts • Massive • Calcite • Seeps
• Crystals • Stalactites • Gypsum • Streams
• Draperies • Celestite • Nitrates • Pools
• Drip Pit Linings • Coating • Quartz • Raceways
• Flowstone • Crystals • Riffles
• Helictites • Gypsum • Springs
• Mammillaries • Crust • Swallets
• Rafts • Crystals • Wet Surfaces
• Rims • Needles
• Rimstone dams • Flowers
• Shelfstones
• Shields
• Soda straws
• Splash rings
• Stalactites
• Stalagmites
• Trays

Fill Material Bedrock Features Paleontological Features Speleogenetic Features Biota

• Clay • Bedding Planes • Bedrock Fossils • Boxwork • Vertebrates


• Gravel • Breccia • Algal deposits • Drip Pits • Amphibians
• Guano • Limestone beds • Brachiopods • Karren • Bats
• Ice • Sandstone beds • Bryozoans • Pothole Karren • Birds
• Mud • Shale beds • Cephalopods • Rillenkarren • Fish
• Sand • Strike and dip of beds • Coral • Spitzkarren • Mammals
• Loess • Faults • Crinoids • Scallops • Reptiles
• Topsoill • Joints • Echinoids • Stream slots • Invertebrates
• Gastropods • Water lines • Amphipods
• Pelecypods • Isopods
• Scaphopods • Beetles
• Sponges • Centipedes
• Secondary Fossil Deposits • Crayfish
• Pleistocene bones • Earthworms
• Trace fossils • Flies
• Footprints • Leeches
• Scratch marks • Millipedes
• Scat • Moths
• Nests • Psuedoscorpions
• Dens • Scorpions
• Snails
• Spiders
• Microbiota
• Coatings
• Filaments

Archaeological Features Historical Features Damage (Restoration Targets)

• Cultural Artifacts • Habitation • Batteries


• Carbon blackened • Historical signatures • Broken Formations
• Walls • Mining equipment • Carbide dumps
• Ceilings • Nitrate leaching tools • Chalk Marks
• Ceremonial items • Stills • Contemporary graffiti
• Chips and flakes • Flagging Material
• Hearths • Human waste
• Pottery • Mold blooms
• Pottery sherds • Mud tracks
• Projectile points • off-trail footprints
• Petroglyphs • Trail markers needed
• Pictographs • Soiled formations
• Sandals • Trails
• Tools • Contemporary trash
• Torch fragments
• Human Remains
• Bones
• Burials
• Coprolites
• Scat

12
Duchene, Harvey. R., 2006, Resource Inventory: A Tool for Cave Science, Management, and Restoration,
Carlsbad (New Mexico) – Cave Conservation & Restoration – NSS.
Peta Gua Sebagai Alat Inventarisasi Sumber Daya Gua

Guna mendukung proses inventarisasi sumber daya gua, dibutuhkan yang namanya peta
gua. Disini peta gua memainkan peranan yang cukup penting dalam konservasi gua. Erin
Lynch pada seminar stasiun nol festival 2016 di Yogyakarta, menjelaskan bahwa peta gua
adalah hal yang paling fundamental dalam konservasi gua 13 . Adanya peta gua, dapat
memudahkan kita dalam menginventarisasi sumber daya gua. Tampilan peta gua yang
dibutuhkan dalam proses inventarisasi berbeda dengan tampilan peta gua secara umum. Peta
gua untuk kebutuhan inventarisasi sumber daya gua, tidak hanya menampilkan bentuk lorong
dinding kiri-kanan serta atap-lantai gua saja, namun juga menampilkan berbagai macam
informasi dan data terkait sumber daya gua. Selain itu, guna memudahkan dalam proses
pengamatan dan perlindungan sumber daya yang terdapat pada suatu gua, kita membutuhkan
yang namanya marker atau penanda (bisa permanen ataupun yang sifatnya temporary) di
suatu titik lorong gua 14 . Marker ini digunakan sebagai titik stasiun dalam pemetaan gua
sekaligus dapat berfungsi untuk titik pengamatan kondisi area gua (monitoring).

Berikut Contoh Bentuk Peta Gua


Sebaran Sumber Daya dan Titik (Marker) Monitoring Kondisi Gua:

13
Disampaikan oleh Erlyn Lynch pada acara seminar internasional Stasiun Nol Festival 2016 di Yogyakarta
(dengan judul seminar: Latest Cave Mapping Techniques & Cave Mapping as Science and Role of Cave Maps in
Global Karst Conservation).
14
Tergantung kebutuhan.
Upaya-Upaya Melindungi Gua dan Lingkungannya

Gua dan lingkungannya telah memberikan banyak manfaat untuk umat manusia.
Dimulai dari jaman prasejarah hingga sampai detik ini sudah tak terhitung jasa yang
diberikan oleh gua dan lingkungannya kepada manusia. Entah itu sebagai tempat hunian dan
berlindung di masa lampau, sebagai penyedia sumber air, sebagai penyedia jasa lingkungan,
sebagai penyerap karbon dan masih banyak lagi jasa lainnya. Sudah sepatutnya kita
memberikan timbal balik untuk gua dan lingkungannya dengan cara melindunginya agar
tetap terus bisa dimanfaatkan oleh umat manusia secara berkelanjutan hingga di masa yang
akan datang. Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan sebagai usaha untuk melindungi
gua dan lingkungannya.
 Pedoman dan Etika
 Pendidikan dan Penelitian
 Observasi dan Monitoring
- Pemetaan Dampak Kunjungan Gua
- Photomonitoring
 Mengontrol akses gua
 Administrasi

III. RESTORASI GUA


Introduksi dan Manajemen Restorasi Gua

Kunjungan manusia ke dalam gua dapat berpotensi memberikan dampak negatif kepada
gua dan lingkungannya. Untuk itu perlu dilakukan suatu tindakan atau upaya untuk
merestorasi gua dan lingkungannya yang terkena dampak negatif dari kunjungan manusia.
Istilah restorasi gua masih terasa asing di Indonesia, karena memang sampai saat ini, belum
banyak pihak ataupun para ahli Speleologi dari Indonesia yang meneliti dan melakukan
restorasi gua. Padahal seperti yang kita ketahui, banyak gua yang dikelola dan dikembangkan
telah mengalami degradasi kualitas dari tahun ke tahun dan tidak ada upaya untuk
merestorasi gua-gua tersebut. Upaya melakukan restorasi gua berfungsi untuk memperbaiki
kerusakan yang disebabkan oleh kecerobohan manusia baik tindakan yang tidak disengaja,
maupun perbuatan vandalisme yang dilakukan secara sengaja15.
Perencanaan restorasi gua dimulai dengan melakukan inventarisasi dan dokumentasi
fitur, sumber daya dan nilai. Inventarisasi sumber daya di dalam gua dilakukan dengan
pencatatan dan pengarsipan berbagai macam informasi yang ditemukan di dalam gua maupun
di lingkungan sekitar gua secara sistematis. Data atau informasi yang dikumpulkan guna
kebutuhan implementasi restorasi gua antara lain, data tentang nilai estetika, arkeologi,
biologi, klimatologi, sosial budaya masyarakat sekitar, kimia, geologi, sejarah, hidrologi,
habitat mikroba, mineralogi, meteorologi, paleontologi, speleogenesis, dan data dampak yang
ditimbulkan oleh kunjungan manusia. Selama melakukan proses inventarisasi, sebaiknya
dilakukan juga evaluasi mengenai kerusakan dan potensi terhadap risiko sumber daya gua
guna memperjelas arah dan tujuan restorasi gua.

-Primum non nocere-


(Pertama, jangan merusak !!!)

15
Werker, V.H & Werker, J.C., 2006, Overview of Cave Restoration, Carlsbad (New Mexico) - Cave Conservation
& Restoration – NSS.
Satu hal yang perlu diingat dalam melakukan restorasi gua, yakni jangan menambah
kerusakan yang sudah ada. Lakukanlah tugas restorasi gua tanpa merusak nilai gua. Banyak
sumber daya gua yang sifatnya tidak dapat diperbaharui atau tergantikan. Beberapa spesies
gua dan speleothem sangat rentan terhadap perubahan. Terkadang memutuskan untuk tidak
melakukan restorasi gua saat menghadapi keraguan adalah suatu pilihan yang terbaik. Untuk
itu diperlukan kehati-hatian dan lakukanlah secara perlahan dan sesuai skenario terbaik saat
melakukan restorasi. Pada dasarnya, restorasi gua terbagi menjadi tiga tujuan, yakni: restorasi
ke kondisi alami seperti semula, restorasi ke kondisi tertentu (berdasar catatan atau hasil
dokumentasi sebelumnya), dan restorasi biasa (hanya untuk nilai estetika).
Untuk kasus gua wisata (yang memiliki dampak kunjungan bersifat kumulatif),
restorasi dilakukan secara bertahap dan parsial merupakan opsi terbaik dibandingkan harus
melakukan restorasi secara total. Sedangkan pada gua-gua liar yang tidak dibuka secara
umum, dapat dilakukan restorasi gua seperti ke kondisi alaminya seperti semula. Restorasi
juga dapat dilakukan pada sinkhole ataupun ponor-ponor yang dijadikan sebagai tempat
pembuangan sampah (cleanup project), agar dampak pencemaran bisa direduksi dan sebagai
upaya untuk memulihkan kualitas air bawah tanah.
Proyek restorasi gua di dalamnya melibatkan banyak pihak dengan terdapat berbagai
macam tugas, peralatan, dan keahlian. Dalam implementasinya membutuhkan banyak
sukarelawan serta menghabiskan banyak tenaga, waktu, pikiran, dan tentu saja biaya. Berikut
tugas-tugas yang dapat dilakukan pada restorasi gua, antara lain: pembersihan debris atau
puing dari luar gua, pembersihan sinkhole dan ponor, pembersihan graffiti, pembersihan gua
dari serat pakaian dan debu, mengontrol lampenflora, restorasi habitat, membersihkan atau
memperbaiki speleothem-speleothem gua, dll.
 Habitat
Melakukan perbaikan atau pemulihan pintu masuk gua, sirkulasi udara dan kondisi
hidrologi dapat merehabilitasi biota dan habitatnya16. Hal yang dapat dilakukan bisa dengan
memasang pagar gua yang didesain khusus, agar aman dan pulih dari gangguan para
vandalis. Pembersihan sampah dan tumpukan kayu yang telah lama berada di dalam gua
perlu dilakukan secara bertahap. Hal ini dilakukan karena kemungkinan biota gua tertentu
telah menjadikan sampah dan tumpukan kayu tersebut sebagai habitat khusus dan
membutuhkan waktu secara bertahap untuk dapat bermigrasi ke daerah baru.
 Serat Pakaian dan Debu
Serat pakaian dan debu merupakan salah satu gangguan secara estetika pada gua dan
lingkungannya. Berikut beberapa keuntungan dari merestorasi gua dari serat pakaian dan
debu:
- Memulihkan kondisi alami gua
- Mencegah kerusakan speleothem gua
- Memulihkan estetika gua
Serat pakaian dan debu merupakan material asing bagi gua dan lingkungannya yang
berasal dari kunjungan manusia dan efek dari kesalahan pengelolaan gua17. Serat pakaian dan
debu dapat dihilangkan dengan menggunakan sikat halus, vacum cleaner, tusuk gigi, dan alat
lainnya. Akumulasi serat pakaian dan debu dari efek kunjungan, jika dibiarkan dapat
mengganggu dan menimbulkan masalah bagi gua dan lingkungannya. Sebagai contoh yang
terjadi di lokasi wisata gua Gong. Di gua Gong, serat pakaian dan debu banyak dijumpai di
sekitar jalur penelusuran dan di titik-titik lokasi instalasi kipas. Akumulasi debu yang
dihasilkan oleh kipas di gua Gong secara visual telah merusak fisik speleothem dan
menurunkan nilai gua secara estetika.

16
Aley, T., 1989, Restoration and maintenance of natural cave microclimates, NSS News 47 (2):39-40.
17
Pemasangan kipas di dalam gua untuk menambah kenyamanan pengunjung dapat menghasilkan debu.
 Lampenflora
Hal yang paling sering ditemui pada gua-gua wisata ialah adanya instalasi penerangan
untuk menarik pengunjung. Penerangan dipasang secara asal dan tanpa dilakukan riset
terlebih dahulu. Penerangan yang dipasang secara asal dapat mengubah iklim mikro gua di
sekitar area instalasi. Penerangan biasanya dipasang di dekat speleothem dan dinding gua.
Akibatnya timbul organisme autotrof fotosintesis atau alga yang berkembang secara alami
pada formasi batuan sekitar instalasi penerangan di dalam gua dan dikenal dengan istilah
Lampenflora18.

Gambar: Lampenflora yang tumbuh di sekitar penerangan buatan di dalam gua

Salah satu ciri lingkungan alami gua ialah rendahnya nutrisi yang berada di lingkungan
gua 19 . Kondisi ini akan berubah ketika di dalam gua dipasang cahaya buatan yang turut
mempengaruhi siklus hidup biota gua. Tumbuhnya Lampenflora di dalam gua berpotensi
mengundang biota dari luar gua. Jika ini terjadi, kemungkinan biota di dalam gua akan kalah
berkompetisi dengan biota pendatang tersebut. Konsekuensinya, penghuni biota gua asli akan
terancam keberadaannya dan dapat punah. Selain itu tumbuhnya Lampenflora pada formasi
batuan gua, juga dapat membuat speleothem dan lukisan dinding gua mengalami kerusakan.
Lampenflora sulit untuk dihilangkan dan dibersihkan secara langsung20. Satu-satunya
cara yang dapat dilakukan ialah dengan mengontrol laju pertumbuhan Lampenflora. Yakni
dengan mengurangi atau menghilangkan instalasi penerangan buatan di dalam gua atau
mengganti penerangan di dalam gua menggunakan lampu LED seperti yang diterapkan di gua

18
Mulec, J., dan Kosi, G., 2009, Lampenflora Algae and Methods of Growth Control, Journal of Cave and Karst
Studies, vol. 71, no. 2, p.109-115.
19
Simon, K.S., Pipan, T., and Culver, D.C., 2007, A Conceptual Model of the Flow and Distribution of Organic
Carbon in Caves, Journal of Cave and Karst Studies, vol. 69, no. 2, p.279-284.
20
Membersihkan dengan menggunakan sikat atau alat lainnya tidak dianjurkan, karena lampenflora telah
merusak fisik speleothem atau formasi batuan gua.
Mammuth (USA) 21 . Alternatif lain untuk menghilangkan Lampenflora adalah dengan
menggunakan metode kimia maupun biologi. Namun ini perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut.

 Graffiti
Graffiti merupakan dampak negatif akibat dari kunjungan ke dalam gua yang paling
sering kita jumpai. Tidak hanya di gua wisata, graffiti kadang juga kita jumpai di gua-gua
liar. Graffiti yang dimaksud disini bukan lukisan-lukisan dinding gua peninggalan prasejarah.
Tetapi lebih kepada lukisan dan tulisan (modern) yang dibuat oleh para vandalis di dinding
gua dan tidak memiliki nilai apapun. Graffiti sangat mengganggu dan merusak gua secara
estetika. Graffiti bisa dihapus atau dihilangkan, namun prosesnya sangat lama karena
dilakukan secara perlahan dan penuh kehati-hatian. Hal ini karena bahan untuk menggambar
atau menulis di dinding gua tersebut, biasanya menggunakan cat semprot yang mengandung
bahan yang berbahaya bagi gua dan lingkungannya. Perlakuan khusus untuk menghilangkan
graffiti perlu dilakukan, agar saat menghapus graffiti tersebut sisa-sisa cat yang dihilangkan
dari dinding gua tidak menyebar dan menempel di sedimen lantai gua. Pemilihan sikat perlu
diperhatikan dengan seksama sesuai karakteristik dinding gua. Selain itu kita juga
membutuhkan air untuk melarutkan dan menghapus sisa-sisa cat. Sebisa mungkin gunakanlah
air yang terdapat di lingkungan gua untuk membasuh dinding gua yang sedang dibersihkan.
Poin penting lain ketika membersihkan graffiti di dalam gua adalah kesabaran, konsentrasi
tinggi dan tentu saja keamanan-kesehatan para relawan22.

Berikut peralatan dan perlengkapan untuk menghapus graffiti:


- Sikat
- Air
- Spon atau busa
- Sarung tangan bedah
- Masker
- Safety glasses
- Terpal
- Ember
- Botol semprot
- Perekat
- Peralatan dokter gigi
- Kuas
- Tripod
- Kamera
- Form pengerjaan restorasi
- Alat tulis

 Delineasi Jalur Pengunjung dan Rambu-Rambu Gua


Gua-gua yang dibuka untuk kunjungan umum, sebaiknya dibikin jalur pengunjung
secara permanen dan di tiap sisinya terdapat pagar dengan ketinggian tertentu. Walaupun
sepintas terkesan menyalahi etika konservasi, namun hal ini dirasa sebagai salah satu solusi
untuk meminimalisir dampak kumulatif kunjungan, sekaligus mempersempit akses
pengunjung untuk melakukan tindakan vandalisme di seluruh area gua. Jalur pengunjung juga
21
Olson, R., 2002, Control of Lamp Flora in Mammoth Cave National Park, in Hazslinszky, T., ed., International
Conference on Cave Lighting, Budapest, Hungary, Hungarian Speleological Society, p.131-136.
22
Karena saat menghapus graffiti kita bersinggungan dengan zat kimia berbahaya dan berada di lokasi dengan
sirkulasi udara terbatas.
berfungsi untuk meminimalisir tersebarnya segala bentuk material asing yang terbawa oleh
pengunjung di dalam gua23. Pembuatan jalur pengunjung harus direncanakan dan didesain
berdasar kajian hasil dari inventarisasi gua dan lingkungannya. Sebisa mungkin jalur yang
dibuat bersifat aman baik bagi pengunjung maupun sumber daya gua. Bahan material untuk
pembuatan jalur dan pagar di kedua sisinya sebaiknya terbuat dari stainless steel. Selain jalur
pengunjung, rambu-rambu gua juga diperlukan untuk memberikan himbauan dan peringatan
kepada pengunjung. Secara tidak langsung, fungsi dari rambu-rambu gua ini sebagai alat
media edukasi untuk pengunjung selama di dalam gua ketika memang tidak ada pemandu
gua.
 Pemungutan Sampah
Banyak kasus di beberapa daerah menjadikan gua vertikal, sink hole dan ponor sebagai
tempat pembuangan sampah oleh masyarakat. Tentu saja hal ini menyalahi etika konservasi.
Selain berpotensi menimbulkan pencemaran, menjadikan sinkhole dan ponor sebagai tempat
sampah adalah tindakan tidak bijak serta dapat berpotensi menyebabkan bencana alam banjir.
Adanya penumpukan sampah dan sedimen membuat saluran-saluran bawah tanah tersumbat.
Akibatnya saat musim hujan, air yang seharusnya mengalir dan masuk menuju saluran-
saluran bawah tanah, tertahan oleh sedimen dan sampah yang menumpuk dan menutupi
saluran-saluran tersebut. Banjir yang terjadi pun surutnya akan lama. Oleh sebab itu untuk
menghindari hal-hal tersebut perlu kiranya para penelusur membuat semacam program
“proyek membersihkan gua” terutama pada gua-gua yang telah dijadikan tempat sampah
tersebut. Selain itu program mengedukasi dan mendampingi masyarakat setempat perlu
dilakukan juga, agar tindakan menjadikan gua, sink hole, dan ponor sebagai tempat sampah
tidak terulang lagi di masa yang akan datang.
 Pembersihan dan Perbaikan Speleothem
Air merupakan agen pembersih utama untuk merestorasi speleothem gua. Banyak gua
yang di dalamnya terdapat sumber air berupa aliran bawah tanah untuk mendukung kegiatan
restorasi. Namun, ada beberapa gua yang sama sekali tidak memiliki sumber air yang
mengalir di dalamnya. Hindari sebisa mungkin menggunakan air yang berasal dari kolam
yang terisolasi dalam jangka waktu lama. Biasanya pada tipe kolam ini menjadi hunian
mikroba dan biota gua tertentu. Memindahkan air kolam yang terisolasi dalam jangka waktu
yang lama dapat membahayakan dan menghancurkan populasi mikroba.
Menggunakan air sungai permukaan dan danau untuk restorasi gua juga dapat berisiko.
Dikhawatirkan air yang berasal dari sungai permukaan dan danau tersebut telah
terkontaminasi limbah dan berpotensi terangkutnya mikroba yang berasal dari permukaan ke
dalam sistem gua. Pilihan terbaik adalah menggunakan air bersih yang berasal dari kolam-
kolam yang mengalir serta tetesan air perkolasi.
Menggunakan water canon (air bertekanan tinggi) juga dapat diterapkan untuk
membersihkan speleothem gua. Penggunaan water canon dapat mempercepat pekerjaan
restorasi speleothem. Namun, menggunakan alat ini juga memiliki risiko tinggi. Sebelum
memilih menggunakan alat ini, periksa dan pelajari dulu area sekitar yang akan direstorasi.
Apakah area tersebut memungkinkan dan cukup aman untuk digunakannya water canon
dalam melakukan pembersihan atau tidak? Apakah formasi batuan yang akan dibersihkan
tahan terhadap tekanan water canon atau tidak? Jika memungkinkan untuk digunakannya
water canon di area yang akan dibersihkan, pastikan untuk selalu menggunakan tekanan yang
paling rendah pada water canon. Jangan lupa untuk selalu mengontrol air larian water canon
dengan menggunakan terpal.
Alat yang paling aman digunakan untuk membersihkan speleothem atau formasi batuan
gua adalah menggunakan botol semprotan (biasanya digunakan untuk menyemprot tanaman

23
Material yang dimaksud seperti, tanah, serat pakaian, debu, rambut, dll.
atau memandikan burung). Penggunaannya lebih mudah dan lebih ringan dibandingkan water
canon. Untuk menampung air hasil semprotan cukup menggunakan sponge atau busa di
bagian bawah area yang disemprot.

Berikut peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk membersihkan speleothem:


- Sponge atau busa lembut (busa cuci piring atau mobil)
- Sarung tangan bedah
- Botol semprotan burung atau tanaman
- Ember
- Sikat lembut
- Sikat busa (foam)
- Sikat gigi
- Kuas kecil
- Tusuk gigi
- Peralatan dokter gigi
- Plastik atau trashbag
- Police line
- Form pengerjaan restorasi
- Alat tulis
- Kamera
- Tripod
- Pakaian bersih buat pengerjaan
- Terpal
- Aqua shoes (yang memiliki alas lembut)

Speleothem yang patah maupun rusak akibat tindakan vandalisme dapat diperbaiki
kembali seperti semula. Ketika memutuskan untuk memperbaiki speleothem yang patah atau
rusak, anda harus yakin bahwa tindakan vandalis di masa depan tidak akan terjadi lagi pada
speleothem yang sama. Sesuatu yang sia-sia jika kita harus memperbaiki speleothem yang
sama secara berulang dan berulang lagi. Hampir semua jenis speleothem yang patah atau
rusak, dapat diperbaiki dengan metode, peralatan dan teknik restorasi yang sama. Namun, ada
juga beberapa jenis speleothem yang membutuhan penanganan dan keahlian khusus untuk
merestorasinya seperti stalagtit, sodastraw, dan heliktit. Untuk 2 speleothem terakhir yang
disebut, merestorasinya cukup sulit bahkan hampir mustahil untuk dilakukan. Mengingat
kedua speleothem tersebut sangat rentan dan mudah patah berkeping-keping jika terkena
sentuhan.
Memperbaiki speleothem yang menggantung di langit gua (terutama stalagtit)
membutuhkan teknik khusus. Musuh terbesar saat memperbaiki speleothem yang
menggantung di langit gua adalah gravitasi bumi. Terlebih jika speleothem tersebut
berukuran besar dan memiliki bobot yang berat. Sebelum melakukan retorasi speleothem,
berikut beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab guna sebagai bahan pertimbangan saat
melakukan restorasi speleothem.

- Apakah speleothem patah secara alami?


Speleothem yang patah secara alami tidak perlu diperbaiki kembali. Karena itu
merupakan bagian dari siklus lingkungan. Perbaikan speleothem yang patah lebih
ditujukan pada kerusakan yang ditimbulkan oleh tindakan manusia.
- Apakah potongan speleothem sesuai dan pas satu sama lainnya?
Jika tidak pas atau tidak sesuai, jangan memaksakan untuk menyambung kedua
potongan speleothem.
- Apakah speleothem yang telah diperbaiki akan aman dari kerusakan kembali
di masa yang akan datang?
Jika berpotensi akan mengalami kerusakan kembali akibat tindakan vandalisme,
perlu kiranya melakukan pengawasan ketat.
- Apakah dalam melakukan perbaikan speleothem, faktor keamanan dan
keselamatan penelusur dan ornemen telah diperhatikan?
Keamanan dan keselamatan hal yang mutlak dan wajib diutamakan dalam
melakukan perbaikan atau pemasangan speleothem yang rusak. Sebelum melakukan
perbaikan dan pemasangan, analisa terlebih dahulu potensi risiko yang ada.
Terutama kita melakukan perbaikan dan pemasangan speleothem di lokasi atap gua
atau area yang berbahaya. Terlebih jika speleothem memiliki bobot yang sangat
berat.
- Apakah terdapat biota gua yang sensitif di area sekitar perbaikan dan
pemasangan speleothem?
Mengingat penyambungan speleothem menggunakan zat adhesives atau residu yang
berasal dari perekat yang berpotensi mengganggu biota, terlebih sirkulasi udara
pada lorong gua terbatas, maka perlu dievaluasi ulang apakah akan tetap
meneruskan atau menghentikan pengerjaan.
- Apakah bahan material perbaikan dan pemasangan speleothem aman bagi
lingkungan gua?
Evaluasi efek yang ditimbulkan dari bahan-bahan material yang digunakan.
Pilihlah bahan-bahan material yang aman bagi lingkungan gua.
- Cleanup?
Setelah melakukan perbaikan dan pemasangan speleothem, jangan lupa untuk
membersihkan area atau lokasi pengerjaan.

Dalam melakukan perbaikan speleothem, hal yang paling penting adalah memilih
bahan material yang tepat dan aman bagi lingkungan gua. Berikut bahan-bahan material yang
terbukti aman dan telah digunakan untuk restorasi speleothem dalam waktu jangka lama di
berbagai komunitas konservasi gua luar negeri:
- Bahan Epoxy Resin
Beberapa komunitas konservasi gua di luar negeri menggunakan produk Epoxy
Resin dengan merek dagang Epon 828 dan pengeras dengan merk dagang Epi-cure
3234 (TETA). Namun Epoxy Resin dan pengeras dengan merk dagang tersebut
tidak tersedia di Indonesia. Harganya juga cukup mahal dan sulit dilakukan
pengiriman melalui jalur udara. Alternatifnya pilihlah resin dan pengeras yang
tersedia di Indonesia dan ramah lingkungan, terlebih telah lulus ISO. Bisa juga
menggunakan resin berbentuk kapsul kaca yang telah banyak tersedia di pasaran.
- Perekat/Lem (cyanoacrylate adhesive)
Perekat atau lem digunakan untuk menyambung speleothem ukuran kecil dan
ringan. Biasanya menggunakan perekat dengan merk dagang Hot Stuff Super T dan
Special T. Beberapa perekat yang tersedia di Indonesia juga memiliki komposisi
yang hampir sama dengan perekat merk dagang tersebut.
- Stainless Steel Pin dan kawat
Untuk melakukan epoxy speleothem dibutuhkan pin guna menyambung 2 potongan
speleothem. Bahan material pin yang tahan terhadap korosi dan dapat digunakan
untuk jangka waktu panjang ialah yang terbuat dari stainless steel.
Sumber gambar: Google

Gambar: Epoxy Resin Eppon 828 (kiri), Lem Special T, Resin dan Hardener TechniglueCA (kanan)
IV. Berkolaborasi Bersama dalam Konservasi dan Restorasi Gua-Gua di Indonesia

“Sebuah mimpi dari kita selaku penggiat penelusuran gua untuk lebih mencintai, memahami, serta melindungi
gua dan lingkungannya”

Masyarakat Speleologi Indonesia (MSI) atau Indonesian
Speleological Society (ISS)


sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan berbentuk federasi yang mewadahi kegiatan
speleologi dalam pengembangan dan penerapan speleologi untuk pengelolaan dan pelestarian
kawasan karst dan gua di Indonesia untuk kepentingan masyarakat, ikut bertanggungjawab
secara moral dan keilmuan akan kelestarian gua-gua di Indonesia.
Oleh sebab itu, Indonesian Speleological Society ingin merangkul seluruh stakeholders
wisata gua (pemerintah, pengelola obyek wisata gua, masyarakat/komunitas wisatawan, pihak
swasta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, STP Bandung, organisasi/komunitas
speleologi di Indonesia maupun luar negeri yang bergerak di bidang konservasi dan wisata
gua) untuk bersama-sama ikut berpartisipasi dalam gerakan Konservasi dan Restorasi
Lingkungan Gua Wisata Indonesia untuk Menunjang Wisata yang Berkelanjutan. Agar
nantinya, pariwisata gua di Indonesia dapat menjadi tulang punggung destinasi wisata dengan
memperhatikan keberlanjutan kualitas lingkungan gua dan dapat dinikmati juga oleh generasi
mendatang.

Sasaran
Terciptanya wawasan para pemangku wisata gua tentang konservasi dan restorasi lingkungan
gua wisata untuk menunjang wisata yang berkelanjutan dan sekaligus terwujudnya
pengelolaan wisata gua yang berkelanjutan agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Tujuan
1. Memperkenalkan konservasi dan restorasi lingkungan gua wisata kepada stakeholders
pariwisata gua 

2. Melakukan sharing knowledge terkait konservasi dan restorasi lingkungan gua wisata 

3. Meningkatkan kesadaran sekaligus wawasan para stakeholders akan pentingnya
konservasi dan restorasi lingkungan gua wisata dalam pengelolaan wisata gua yang
berkelanjutan 

4. Membangun jaringan terpadu dalam gerakan konservasi dan restorasi lingkungan gua
wisata 

5. Mengaplikasikan keilmuan Speleologi dalam gerakan konservasi dan restorasi lingkungan
gua wisata 

6. Menyajikan informasi mengenai konservasi dan restorasi lingkungan gua wisata 


Strategi
1. Memberikan wadah bagi para stakeholders untuk mengenalkan dan membagi pengalaman,
keilmuan, serta metode (teori dan praktek) terkait konservasi dan restorasi lingkungan gua
wisata 

2. Mengadakan kegiatan yang bersifat enjoy, engage, emphaty, dan education dalam
berbagai bentuk program konservasi dan restorasi lingkungan gua wisata 

3. Mengajak dan melibatkan seluruh stakeholders pariwisata gua untuk berpartisipasi dalam
seluruh program konservasi dan restorasi lingkungan gua wisata 

4. Membentuk SDM di bidang wisata gua yang memiliki dasar keilmuan konservasi dan
restorasi lingkungan gua wisata 

5. Mengajak dan membentuk sebuah jaringan kemitraan terpadu yang terorganisir
melibatkan seluruh stakeholders pariwisata gua sebagai bagian dari gerakan konservasi
dan restorasi lingkungan gua wisata di bawah naungan kementriaan terkait 

6. Menjadikan beberapa gua wisata di Indonesia sebagai studi kasus implementasi program
konservasi dan restorasi lingkungan gua wisata 

7. Menginisiasi dan mendorong adanya hari peringatan konservasi dan restorasi lingkungan
gua Indonesia 

8. Melakukan publikasi, dokumentasi dan share informasi gerakan konservasi dan restorasi
lingkungan gua wisata melalui berbagai media

Rencana Programs (Contribute, Connect, and Collaborate)


1. Pengembangan Kapasitas dan Jaringan
a. Cave Warrior Program (for conserving and protecting Caves) 

b. Workshop & Coaching Clinic Program “Preservation and Restoration for Future
Generations” 

2. Kebijakan dan Pedoman 

a. Guideline Cave Conservation and Restoration
3. Aksi dan Promosi
a. Cave Clean Up Program 

b. Cave Tourism CSR (Connect, Share, and Restoration) Program 

c. Cave Conservation and Restoration Day 

d. Promoting Indonesian Cave Conservation and Restoration through web, social media,
and other venues 


Konservasi dan Restorasi Gua


Kebijakan
Pengembangan
dan Aksi dan Promosi
Kapasitas dan Jaringan
Pedoman

Hari
Konservasi
Cave Program dan
Workshop Pedoman Diseminasi
Warrior Bersih Gua Restorasi
Gua