Anda di halaman 1dari 8

Kedua, pola provinsi terintegrasi (Integrated Investment Promotion).

Pola
promosi ini dapat diwujudkan melalui seminar investasi, pameran hasil produksi
atau pameran kawasa industri, temu usaha dan one-one meeting. Para calon
investor dari berbagai negara dan berbagai sektor usaha dikumpulkan dalam suatu
acara untuk saling bertukar pikiran sekaligus sebagai promosi investasi.

Ketiga, promosi investasi koordinat dalam paket prohram komprehensif.


Pelaksanaan promosi dilakukan melalui kerjasama dengan instansi terkait
misalkan dinas perdangan maupun dinas parawisata untuk investasi di kawasan
wisata. Bentuk pola promosi dapat berupa kerjasama perdangan, parawisata dan
investasi (Trade, Tourism and Investment/TTI)

Keempat, door to door marketing, dengan cara mengirimlan delegasi promosi


investasi kepada beberapa negara yang ditargetkan menjadi investor di dalam
negeri. Pola ini dapat diwujudkan dalam kerjassama bilateral untuk menarik
investasi di dalam negeri. Kendatipun demikian pola ini cenderung membutuhkan
biaya yang cukup besar.

Kelima, country focus, marketing investment Indonesia. Pola ini dapat


dilaksanakan dengan bentuk tim khusus yang terpusat denagn kantor perwakilan
di luar negeri dan bertugas memasarkan potensi investasi di Indonesia kepada
negara-negara yang potensial.

Keenama, jaringan ekonomi global (Global Networking), melalui jaringan


ekonomi global dapat diadakan promosi penanaman modal asing langsung
(Foreigen Direct Investment/FDI) melalui bank dunia maupun UNCTAD). Selain
itu juga melalui asosiasi bisnis internasional (International Business Association)

Ketuju, melalui pola promosi pasif berupa penyedian bahan promosi yang mudah
diakses. Bahan promosi ditempatkan pada institusi-institusi startegis seperti
departemen ataupun dimasukkan sebagai data elektronik yang dapat diakses
melalui internet.
Selain promosi dalam skla nasional, promosi investasi dapat dilakukan dalam skla
internasional melalui program promosi investasi di luar negeri. Program tersebut
dapat dilakukan dalam berbagai cara antara lain:

 Penyusuna profil-profil negara yang potensial. Penyusunan ini


memperhatikan juga perbedaan karakteristik budaya dan kondisi sosial
ekonomi di masing-masing negara.
 Menjalin hubungan kerja sama dengan lembaga investasi negara asing
utuk membantu upaya promosi investasi di dalam negeri.
 Workshop pedoman perancangan strategi promosi investasi daerah yang
melibatkan peserta dari laur negeri khususnya calon-calon investor.
 Meyebarluaskan informasi peluang dan kebijakan investasi Indonesia dan
potensi investasi nasional, serta kemungkinan pelaksanaan kerjasama
perdangan, parawisata, dan investasi.
 Pembangunan citra reposisi dan rebranding investasi Indonesia khusus
pasca krisis ekonomi yang merembet pada krisis multi dimensi serta
melunturkan kepercayaan investor asing.
 Koordinasi program kerja dengan instansi-instansi terkait misalnya
departemen luar negeri yang berhubungan dengan pihak luar negeri.
 Pembukaan Kantor Investasi Luar Negeri (KILN) yang bertugas sebagai
Marketing Investasi Indonesia (MII).

Khususnya untuk perencanaan Pemasaran DAERAH, BKPM sudah mengadakan


simposium dengan judul “Marketing the Investment Opportunity in Indonesia”
pada tahun 2005 dengan hasil berupa langkah-langkah yang harus dilakukan guna
mendorong investasi di daerah yaitu:

 Memeratakan perubahan lingkungan eksternal termasuk perkembangan


ekonomi regional, ekonomi global dan segala sesuatu yang dapat
mempengaruhi perkembangan ekonomi domestik. Lingkungan eksternal
memasukkan faktor permintaan masyarakat sebagai sesuatu yang sangat
penting dalam keputusan melakukan investasi.
 Memetakan pesaing, investor dan kondisi internal. Pesaing dapat berasal
dari negara lain, ataupun daerah lain di dalam negeri. Kondisi internal
yang ada mencakup kesediaan sumber daya alam dan manusia, kecukupan
infrastruktur serta permintaan yang berasal dari pasar domestik.
 Merumuskan, segmentasi, tergeting dam positioning. Segmentasi
berkaitan dengan perbedaan karakteristik calon investor dan perbedaan
karakteristik masing-masing sektor usaha serta kondisi daerah di dalam
negeri. Targeting berkaitan dengan indetifikasi calon investor yang
potensial untuk menanamkan dananya di dalam negeri. Positioning
berkaitan dengan citra yang akan ditampilkan kepada calon investor.
 Merumsukan diferensiasi (keunikan daerah), marketing mic (alternatif
startegi promosin) dam selling (penjualan). Keunikan daerah dapat berupa
kemudahan berinvestasi yang tidak terdapat di daerah lainnya ataupun
keunikan produk lokal yang dapat dipasarkan baik di pasar domestik
maupun luar negeri.
 Merancang promosi dengan mempertimbangkan berbagai faktor internal
yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi domestik dan eksternal
yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi negara lain sehingga
promosi dapat dilakukan dengan tepat dam efektif.
 Merumsukan merek, servis dan proses serta evaluasi startegi pemasaran.
Merek berkaitan dengan pencitraan daerah, servis, dan proses berkaitan
dengan pelaksanaan promosi di daerah serta evaluasi berkaitan dengan
upaya perbaikan promosi di masa datang.

3.2 Kerjasama Investasi

Kerjasama invetasi dilakukan dengan kesadaran akn kepentingan penanaman


modal asing (PMA) langsung atau sering disebut juga dnegan Foreign Direct
Investmen (FDI). Penanaman modal langsung lebih bermanfaat dalam hal
penyerapan tenaga kerja di Indonesia daripada penanaman modal tidak langsung
melalui pasar uang maupun pasar saham. Kerjasama investasi juga dapat
ddilakukan dnegan membina dengan hubungan baik antara negara untuk
kepentingan bersama. Kerjasama khusu di bidang investasi dan peningkatan
investasi serta keasadran pentingnya jaminan pelrindungan dan keamanan
berinvesati juga ikut mendorong terwujudnya kerjasama inevestasi.

Kerjasama internasional bidang investasi didefinisikan sebagai perjanjian antar


satu negara dengan negara-negara lain yang berlaku secara timbal baliks sebagi
landasan hukum pelrindungan dan penegmabngan investasi asing langsung di
suatu negara. Kerjasama ini bertujuan untuk melindungi invetasi FDI agar
nalainya meningkat secara terus menerus, mempromosikan investasi antar kedua
negara sehingg masing-masing negara memperoleh manfaat dari kerjasama serta
sebagai landasan hukum untuk meyakinkan investor akan adanya jaminan atau
perlindungan kondisi yang aman dalam berinvestasi di suatu negara. Kerjasama
inevestasi dapat diwujudkan dengan berbagai cara yaitu:

 Kerjasama negara dalam suatu kawasan


Contoh kerjasama regional adalah kerjasam antar negara-neagra ASEAN,
kerjasama dalam APEC, IMT-GC, IMS-GT, BIMP-EAGA, konferensi
Asia-Afrika.
 Kerjasama bilateral antara dua negara
Beberapa yang sudah dilaksanakan antara lain Bilateral Investment Treart/
Investment Guarante Agreement/P4M kepanjangan dan Perjanjian
Perlindungan dan Peningkatan Penanaman Modal. Sudah ditandatangani
dengan 59 negara (53 negara yang sudah diratifikasi).
 Kerjasama multilateral dengan berbagai negara misalnya WTO, MIGA,
UNCTAD, UNESCAP.
 Kerjasama dengan dunia uasaha.
Kerjasama ini dapat diwujudkan dengan perusahaan multinasional seperti
SOFI-Swiss, UBI-France, BOI Thailand, ACCIM dan ASLI Malaysia,
Indover-Belanda, DEG-Jerman ataupun dnegan perusahaan local seperti
Bank Mandiri.
Kerjasama investasi akan memberikan implikasi berupa memberikan kontribusi
dan arahan kebijakan ekonomi nasional. Kebijakan ekonomi nasional dapat
berjalan dalam rel yang tepat untuk teru mencipatkan situasi yang kondusif bagi
investasi. Kerjasama investasi turut memberikan arahan kebijakan iklim investasi
yang sesuai dengan perkemabnagan global. Pengetahuan yang didapatkan dari
pengalaman-pengalaman negara-negara mitra kerja dapat memberikan masukan
penting bagi pemilihan kebijakan yang tepat dan efektif bagi pemulihan iklim
investasi. Pencegahan terhadap sengketa investasi yang serius dapat dilakukan
dengan negosiasi yang intensif dalam forum kerjasama investasi. Masing-masing
negara yang terliat dalam kerjasama investasi juga harus menjaga untuk tidak
melakukan tindakan yang merugikan investor yang bedampak pada penurunan
kepercayaan dunia internasional.

Promosi melalui kerjasama investasi dapat terus ditingkatkan dengan


penyebarluasan informasi yang didukung oleh paket atau program promosi yang
disajikan secara profesional, maksimal, terarah dan efektif. Kerjasama investasi
dengan “Internasional Key-Stakeholders” merupakan salah satu “official
facilitation” oeningkatan kegiatan promosi investai, meskipun tidak berimplikasi
langsung terhadap masuknya investasi ke dalam negeri, kecuali kerjasama
investasi dalam lingkup dunia usaha. Dalam lingkup daerah, senagai pengelola
daerah maka pemerintah daerah hendaknya sunguh-sungguh “menyimak”
perkembangan dan tuntutan bisnis/invetasi global, jika ingin berhasil dalam
marketing strategy-nya.

IV. Penutup

Perekonomian Indonesia sudah mewujudkan perkembangan yang


menggembirakan. Pencapaian target pemerintah yang tinggin perlu didukung
investasi, Peningkatan investasi dapat dilakukan melaui promosi investasi dengan
startegi yang tepat. Kerjasama invetasi dnega berbagai pihak di dalam negeri dan
laur negeri diimplementasikan dengan efektif untuk mendukung program lain
kerjasama regional antara negara-negara ASEAN sampai dengan kerjasama antar
negara dengan skla lebih tinggi melalui organisasi perdangan dunia.
BAB IV. STARTEGI :EXPORT LED INDUSTRY” DAN DAYA SAING
BERKLAJUTAN

I. Pendahuluan

Terpuruknya perekonomian dalam masia masa krisis dan terbatsanaya proses


pemulihan ekonomi membuat daya saing ekonomi Indonesia semakin merosot,
Sebuah lembaga internasional yang melakukan ranking daya saing pada berbagai
negara, menempatkan Indoensia pada posisi yang terus menuru. The Worl
Economic Forum’s Global Competitivess Report meperhatika bahwa peringkat
daya saing Indonesia terhadap 59 negara berturut-turu menurun daru tahun 2996
sampai 2000, merosot lagi ke peringkat 31, lalu anjlok lagi menuju 37 dan makin
merosot ke peringkat 44.

Didalam laporam tetang Global Competitivess Report 2004, Indonesia masih


ditempatkan lagi sebgai negara papan bawah di bidang daya saing, yaitu pada
posisi 69. Sementara itu negara yang berdaya saing tinggi diantaranya dalah
Singapur, Hongkong, Amerika Serikat, Taiwan, Kanada, Swiss, Luksemburg,
Inggris, Belanda dan Irlandia. Negara-negara tersebut hampir setiap tahun selalu
berada di papan atas dalam kemampuan kompetisi dibandingkan berbagai negara
lain.

Kembali kepada apa yang terjadi dengan Indonesia, kecenderungan yang terus
menurun demikian sangatlah ironis, sebab negara-negara tetangga laiinya di Asia
seperti Malaysia, China dan Vietnam pada kurun waktu yang sama justru
memperlihatkan peningkatkan daya saing. Pasalnya, Indonesia justru malah
sebaliknya. Tentu saja hal itu menimbulkan pertanyaan, sebenarnya apa yang akan
terjadi pada Indonesia. Apakah economic power Indonesia yang semakin
melemah ataukah negara lain yang semkain kuat? Atau, apakah kecenderuangan
itu terjadi pada kedua-duanya dimana Indonesia makin lemah daya sainnya
sementara negara lain makin kuat, sehingga Indonesia makin tertinggal jauh?

II. Elemen dan faktor yang Mempengaruhi Daya Saing


Daya saing suatu negara memiliki dimensi yang luas, namun demikian, ada
beberapa faktor atau elemen yang dilihat punya kontribusi besar terhadap daya
saing suatu negara. Faktor seperti keterbukaan, baik dalam hal institusi keuangan
maupu dalam institusi perdagangan adalah salah satunya. Terntunya apek
keterbukaan yang didalamnya terdapat ketakelolaan yang baik (good govermance)
dan transparansi akan menimbulkan rasa kepastian dan trust, sheingga jamninan
kepastian untuk berusaha menjadi faktor menarik investasi. Disamping itu, daya
saing juga sangat ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur yang menunjang
aktifitas ekonomi misalnya akses transfortasi yang memadai (jalan, jembata,
pelabuhan dll) serta jaminan ketersediaan energi (listrik, gas, BBM dll).

Faktor lain yang menjadi perhatian utama dalam penetuan daya saing suatu negara
adalah sektor pemerintahan. Peran pemerintah tetap penting namun tidaklah
berperan dominan, ia perlu menyentuh beberapa aspek tertentu saja dan perlu
lebih mendorong sektor swasta. Pemerinta difokuskan melaksanakan peranannya
sebagai fasilitator, regulator dan meminimumkan peranannya sebagai aktor dalam
perekonomian. Dengan demikian, pemerintah dengan para birokratnya dituntut
untuk memiliki kapasitas, integritas dan profesionalisme, dalam menjalankan
perannya sebagai wasit, sehingga pemerintah dengan birokrasi yang korup adalah
sebuah kemustahilan dalam membangun daya saing.

Dalam hal ini pertumbuhan ekonomi, indkes daya saing didasarkan pada tiga
kategori variabel yang mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka
menengah dan panjang yaitu: teknologi, kelembagaan publik, dan lingkungan
ekonomi makro secra berkesinambungan sehingga dibutuhkan kemampuan
teknologi. Peranan jaminan publik dibutuhkan untuk menjamin hak kepemilikan
(property right), jaminana kontarak dan penyelesaian perselisihan, efisiensi
pengeluaran pemerintah, dan transparansi pemerintahan di semua tingkatan.
Indeks lembaga publik terdiri dari: tingkat korupsi, jaminan pelaksanaan kontrak
dan sistem hukum. Disamping itu, kebijaksanaan fiskal dan moneter, serta
stabilitas lembaga keuangan mempunyai pengaruh penting bagi perekonomian
dalam jangka pendek dan panjang. Sehingga Indeks Lingkungan Ekonomi Makro
yang mencakup stabilitas ekonomi yaitu inflasi, tabungan nasional, nilai tukar
mata uang, peringkat kredit negara yang bersangkutan, dan tingkat pengeluaran
pemerintah sangat menentukan daya saing suatu negara dimata pelaku usaha
dunia.

Indeks Daya Saing Ekonomi Mikro mempergunakan indikator ekonomi mikro


untuk mengukur kelembagaan, struktur pasar, dan kebijaksanaan ekonomi yang
mendukung tingkat kesejahteraan yang tinggi. Indeks ini terutama mengacu pada
pemanfaatan sumber daya ekonomi secara efektif. Jika Indeks Pertumbuhan
mengukur daya saing jangka menengah, Indeks Daya Saing Ekonomi Mikro
justru mengukur tingkat kesinambungan produktivitas. Dimana produktivitas, dan
penciptaan kekayaan bertumpu pada kecanggihan operasi perusahaan, dan juga
kualitas lingkungan ekonomi mikro dimana perusahaan melakukan persaingan.

Menurut Porter, pada dasarnya faktor yang mempengaruhi daya saing suatu
negara adalah startegi, struktur, dan persaingan perusahaan, sumber daya disebuah
negara, permintaan domestik dan keberadaan industri terkait dan pendukung.
Empat komponen yang sering disebut model berlian Porter tersebut
mengkondisikan lingkungan dimana perusahaan-perusahaan berkompetisi dan
mempengaruhi keunggulan daya saing bangsa. Analisis tersebut menyatakan
bahwa pemerintahan suatu negara memiliki peran penting dalam membentuk
eksistensifikasi faktor-faktor yang menentukan tingkat keunggulan kompetitif
industri suatu negara.

Secara lebih rinci, hal itu dijelaskan sebagai berikut:

1. Kondisi faktor (Factor Cindition), yakni posisi bangsa tersebut dalam faktor-
faktor produksi, seperti tenaga kerja terampil atau infarastruktur, yang diperlukan
untuk bersaing dalam indsutri bersangkutan. Ketersediaan faktor-faktor awalan ini
menjadi determinan ekspansi industri di suatu negara. Ketika terjadi kelangkaan
pada salah satu jenis faktor tersebut maka, investasi industri di suatu negara
menjadi investasi yang mahal.