Anda di halaman 1dari 8

1.

SUBTANCE ABUSE

Penyalahgunaan zat secara sederhana dapat diartikan sebagai pola penggunaan berbahaya zat untuk
mengubah suasana hati tujuan. Ensiklopedia medis Medline itu mendefinisikan penyalahgunaan narkoba
sebagai "penggunaan obat terlarang atau penyalahgunaan obat resep atau over-the-counter untuk
tujuan selain yang yang mereka ditandai atau dengan cara atau dalam jumlah yang selain diarahkan."

Namun berbagai penyalahgunaan zat di masyarakat saat ini tidak sederhana itu.

Ada zat yang dapat disalahgunakan untuk mengubah suasana hati mereka efek obat yang tidak sama
sekali - inhalansia dan pelarut - dan ada obat yang dapat disalahgunakan yang tidak mengubah suasana
hati atau properti keracunan, seperti steroid anabolik.

Secara umum, ketika kebanyakan orang berbicara tentang penyalahgunaan zat, mereka mengacu pada
penggunaan narkoba. Kebanyakan profesional di bidang pencegahan penyalahgunaan narkoba
berpendapat bahwa setiap penggunaan obat-obatan terlarang adalah dengan penyalahgunaan definisi.
Obat tersebut harus melanggar hukum di tempat pertama karena mereka berpotensi adiktif atau dapat
menyebabkan efek kesehatan negatif yang parah, sehingga setiap penggunaan zat ilegal berbahaya dan
kasar.

Yang lainnya berpendapat bahwa kasual, penggunaan rekreasi dari beberapa obat tidak berbahaya dan
hanya menggunakan, bukan pelecehan. Yang paling vokal pendukung penggunaan narkoba adalah
mereka yang merokok ganja. Mereka berpendapat bahwa ganja tidak adiktif dan memiliki kualitas yang
bermanfaat banyak, tidak seperti "keras" obat-obatan.

Tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa bahkan ganja mungkin memiliki efek fisik, mental, dan
psikomotor lebih berbahaya dari pertama percaya, dan National Institute on Drug Abuse laporan bahwa
pengguna ganja bisa menjadi tergantung secara psikologis, dan karena itu kecanduan.

Narkoba bukan hanya zat yang dapat disalahgunakan. Alkohol, resep dan over-the-counter, inhalansia
dan pelarut, dan bahkan kopi dan rokok, semua dapat digunakan secara berlebihan berbahaya. Secara
teoritis, hampir zat apapun dapat disalahgunakan.

Untuk berbagai zat, batas antara penggunaan dan penyalahgunaan tidak jelas. Apakah memiliki
beberapa minuman setiap hari setelah bekerja untuk bersantai penggunaan atau melanggar? Apakah
minum dua teko kopi di pagi hari untuk mendapatkan hari Anda mulai menggunakan atau melanggar?
Umumnya dalam situasi ini, hanya individu sendiri dapat menentukan di mana ujung penggunaan dan
penyalahgunaan dimulai. Lihat Apakah Anda Kecanduan?

Apakah Anda pikir Anda mungkin perlu pengobatan untuk penyalahgunaan narkoba? Ambil Drug Abuse
Kuis Pengobatan Skrining untuk mencari tahu.

Ketika datang ke zat ilegal, masyarakat telah menetapkan bahwa penggunaan berbahaya, dan telah
menempatkan larangan hukum atas penggunaannya dalam rangka melindungi individu dan untuk
melindungi masyarakat dari biaya yang terlibat dengan sumber daya kesehatan, kehilangan produktivitas,
penyebaran penyakit, kejahatan dan tunawisma.

Untuk melihat obat yang paling sering disalahgunakan, bagaimana mereka digunakan, nama jalan
mereka, dan memabukkan dan kesehatan mereka melihat efek Obat Umumnya Disalahgunakan. Untuk
informasi lebih lanjut dan pertanyaan yang sering diajukan, lihat bagian kami pada Obat
Penyalahgunaan.

Meningkat, Perokok Pemula di Indonesia

Merokok dianggap sebagai budaya warisan, bukan sebagai masyarakat yang kecanduan.

rokok,anakGilbert Soenjaya Gunawan/Fotokita.net

Perokok pemula di Indonesia yang berusia 5-9 tahun meningkat dari tahun ke tahunnya. Bahkan,
peningkatannya sebanyak enam kali lipat dalam 12 tahun terakhir ini, yakni 71.126 anak di tahun 1995
menjadi 426.214 di tahun 2007.

Berdasarkan data dari World Health Organization tahun 2008, Indonesia menduduki posisi ketiga di
dunia setelah China dan India dengan jumlah perokok terbesar yakni lebih dari 68 juta penduduk
Indonesia. Hal ini disampaikan oleh peneliti Quit Tobacco Indonesia (QTI), Retna Siwi Padmawati, dalam
jumpa persnya di Yogyakarta, Rabu (30/5).

Ia pun menambahkan, kematian akibat rokok per tahunnya mencapai 427.948 orang. "Secara sosiologis
bahkan kultural, masyarakat Indonesia adalah friendly smoking. Merokok dianggap sebagai budaya
warisan, bukan sebagai masyarakat yang kecanduan," tambahnya.

Rokok memiliki banyak dampak negatif baik dari segi kesehatan dan ekonomi. Penyakit yang ditimbulkan
mulai dari pernafasan, paru-paru, dan ejakulasi dini pada pria. Sedangkan dari segi ekonomi, rumah
tangga perokok yang menderita sakit akan kehilangan sebagian penghasilan. Rata-rata 6 persen dari
pendapatan perkapita di Indonesia dibelanjakan untuk rokok.

Seiring tingginya dampak merokok, perlu melakukan tindakan nyata untuk mengendalikannya. Di
antaranya pelarangan merokok di tempat kerja di semua institusi, penyediaan kawasan/area merokok,
layanan konseling berhenti merokok, serta pemberdayaan masyarakat dalam pengurangan dampak
buruk.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY Sarminto menuturkan, berdasarkan hasil survei dinas kesehatan
provisnsi DIY tahun 2009 menunjukkan bahwa 50 persen remaja SMA dan 30 persen remaja SMP di
Yogyakarta pernah mencoba merokok. Angka merokok di DIY juga cukup tinggi mencapai 31 persen dari
jumlah penduduk.

Di Yogyakarta, upaya penanggulangan bahaya rokok telah dipayungi oleh Perda nomor 5 tahun 2007
mengenai pengendalian pencemaran udara dan Pergub nomor 42 tahun 2009 tentang kawasan dilarang
merokok. "Selanjutnya akan kita ajukan rancangan perda kawasan tanpa rokok di DIY," kata Sarminto.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Titi Savitri menambahkan perlu adanya keterlibatan
serius perguruan tinggi untuk menghadapi industri rokok. Pasalnya, industri rokok saat ini dinilai semakin
merajai kehidupan generasi muda. Dicontohkan, meski Rektor UGM telah mengeluarkan Peraturan
Rektor UGM No.77/PII/SK/HT/2005, kampus ini masih menerima bantuan dari perusahaan rokok.

“Mungkin karena law enforcement dan endorsement belum kuat, belum ada sanksi yang diberikan
kepada pelanggar, sehingga masih didapati hal tersebut,” katanya.

Kendati demikian, ia menyebutkan FK UGM berupaya konsisten dengan menolak setiap bentuk bantuan
dari perusahaan rokok. Menurutnya hal ini sebagai bentuk perjuangan FK UGM memerangi rokok dan
memberikan edukasi kepada masyarakat.

(Olivia Lewi Pramesti)

2. Hamil di Luar Nikah Dampaknya Lebih Luas

Oleh: Fahrin Malau. Hamil di luar nikah masih banyak terjadi. Kasus pembuangan bayi yang diduga
praktek aborsi, merupakan cermin dari penyimpangan reproduksi dan seks. Sayangnya, berapa banyak
kasus hamil di luar nikah dan praktek aborsi? Tidak ada angka yang pasti. Kasus hamil di luar nikah dan
aborsi, merupakan aib yang harus disembunyikan. Hal ini, masih banyak dilakukan masyarakat.

Perkembangan teknologi, salah satu pemicu penyimpang seks. Kita lihat, anak remaja terpapar informasi
teknologi. Ketika warnet berkembang di dalam teknologi, terdapat informasi pornografi. Remaja dapat
dengan mudah mengakses situs pornografi. Untuk merendam penyiaran pornografi, pemerintah
mengambil kebijakan setiap warnet tidak dibenarkan menampilkan situs pornografi. Sekarang dengan
perkembangan teknologi remaja mengakses pornografi tidak lagi di warnet tapi di handphone. Remaja
mengakses pornografi melihat kehidupan yang normal dan itu menjadi tren.

Dulu orangtua mengkhawatirkan anak remaja tentang pornografi. Kondisinya sekarang kesempatan
untuk mengakses pornografi tidak saja anak remaja, juga anak-anak mulai SD sampai SMP.

"Saya punya klien yang mengakses pornografi yang dimulai sejak SMP dan itu tidak pernah terpikir oleh
kita," ungkap Psikologi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumatera Utara, Rahmadani
Hidayatin, Psi.

Satu sisi, aktifitas remaja sudah lebih terbuka berinteraksi di luar rumah dan sekolah. Tran prilaku sudah
mulai mengiring mereka kepada seksual menjadi tidak sehat. Misalnya dalam hal berpacaran. Dahulu
orang berpacaran setelah tamat SMA. Lalu mundur menjadi SMA. Terus mundur menjadi SMP. Sekarang
ada anak-anak masih SD sudah berpacaran. Secara psikologi terjadi percepatan perkembangan
ketertarikan pada lawan jenis dan perkembangan seksualitas lebih cepat.
Beberapa kasus di PKBI Sumut, pada bulan September dan Oktober yang datang anak remaja status SMP
dalam keadaan sudah hamil di luar nikah akibat pacaran. Ini membuktikan aktifitas seksual tidak
dibarengi informasi tentang seks secara benar. Minimnya pengetahuan mereka tentang seks, orangtua
baru mengetahui keadaan anak kondisi hamil. Kondisi itu yang selalu terjadi. Banyak orangtua yang tidak
terima setelah mengetahui anak sudah hamil.

Kenyataannya, ketika akan remaja hamil mereka cenderung tidak berani bercerita pada orangtau dan
kehamilan berlanjut. Kalau mereka menceritakan kehamilan kepada orangtua, respon yang didapat
orangtua panik dan menyalahkan anak. Orangtua jangan memperparah keadaan, justru membantu. Kita
paham tidak ada orangtua ingin anaknya bermasalah. Orangtua tidak cukup memberikan fasilitas materi
yang diinginkan anak. Orangtua memberikan akses informasi psikologi, persoalan sosial. Apalagi masa
remaja masa transisi. Interaksi lingkungan sangat kuat, disitu orangtua berperan karena masa fase kritis.

Persoalan hamil di luar nikah berdampak luas. Bagaimana orangtua apakah dapat menerima atau tidak.
Kalau orangtua tidak bisa menyelesaikan persoalan, langkah yang dilakukan anak dibuang atau diusir dari
rumah. Ketika anak dibuang pertama anak nekat menggugurkan kandungan karena dianggap menjadi
persoalan. Kedua anak meneruskan kandungan. Dengan keterbatasan keterampilan, anak butuh
kehidupan dan akhirnya terjebak ke dunia prostitusi. Memang tidak semua kasus perempuan
melacurkan diri karena kasus hamil di luar nikah, bisa faktor lain. Prostitusi, buat remaja, pekerjaan yang
paling mudah untuk melanjutkan kehidupan.

Padahal ketika anak mengalami pertumbuhan seksual, orangtua dimana? Apakah orangtua telah
memberikan nilai-nilai dan informasi seputar reproduksi dan seksual dengan benar. "Anak hamil di luar
nikah tidak bisa disalahkan. Mereka hamil dalam keadaan tidak tahu. Pengetahuan mereka tentang
proses kehamilan tidak ada. Mereka tidak tahu perubahan yang mereka alami. Hamil dalam usia dini
sangat berpengaruh pada psikologi dan beresiko pada kesehatan. Bayangkan anak kelas tiga SMP hamil
tidak bisa digugurkan. Anak berhadapan pada kesehatan fisik dan mentalnya. Usia muda harus mengurus
kehamilan yang mereka sendiri tidak siap," ungkapnya.

Moral

Pencegahan tidak terjadi penyimpangan seks, harus dilakukan sejak dini. Kita bicara saat awal,
bagaimana pencegahan dengan menyampaikan informasi kepada mereka. Kalau wadah keluarga sebagai
pusat informasi bisa dilakukan orangtua. Sayangnya masih ada orangtua yang menganggap tabu bicara
reproduksi atau orangtua tidak paham bagaimana menjelaskan.

Orangtua punya peran sangat penting dalam membenteng anaknya dari penyimpangan seks.
Masalahnya bagaimana kemampuan orangtua menjelaskan kepada anak. Jangan sampai anak belajar di
luar dan tidak punya filter. Ketika belajar di luar, keluarga bisa membantu menyaring informasi yang di
dapat di luar.

Sekolah alternatif kedua dengan mengembangkan edukasi dan memasukkkan kesehatan reproduksi
dalam kurikulum pendidikan. Itu salah satu mengembangkan program yang teredukater.

"Saya melihat program pemerintah tidak serius dalam melakukan pencegahan penyimpangan seks.
Seharusnya, pemerintah punya program yang dapat memberikan edukasi pada mereka. Kalau ada
program hanya sekadar program, tapi tidak melibatkan remaja itu sendiri dalam melaksanakan program .
Program tidak hanya dilakukan orang dewasa ke remaja, tapi antar anak remaja dengan remaja. Peran
orang dewasa hanya pelatih, konsultan ketika mereka tidak bisa menyelsaikan masalah. Orang dewasa,
instansi pemerintah hanya sebagai wadah konsultasi, pusat informasi.

Membangun lingkungan kondusip pemerintah bisa mengambil peran seperti puskesmen, institusi sampai
kepling untuk membangun program pempinaan remaja di lingkungan masing-masing. Lingkungan lebih
dekat dengan warganya. PKK bisa mengambil perannya. Harus dibuat program secara koprehensif.
Pertanyaannya sekarang apakah instansi punya program. Kalau ada tidak kelihatan. Dalam program
kesehatan reproduksi remaja. Dinkes kerjanya sendiri, begitu juga dengan BKKBN. Padahal Dinkes dan
BKKBN bisa saling bekerjsama dengan melibatkan instansi lain dan masyarakat secara bersama.

Kematian Perempuan

Kematian perempuan, salah satu penyebab dari kehamilan tidak diinginkan atau aborsi yang tidak aman
cukup tinggi. Tidak ada data yang ril berapa banyak perempuan korban aborsi tidak aman. Kebanyakan
datang ke rumah sakit sudah infeksi, pendarahan. Tidak menutup kemungkinan infensi dan pendarahan
disebabkan mencoba melakukan aborsi tidak aman.
Berdasarkan data WHO ada 11 persen pada perempuan melakukan aborsi tidak aman. Ketika bicara
aborsi negara menilai negatif. Harusnya bagaimana untuk mengetahui sebab kematian aborsi, berapa
banyakpenyebabnya. Bila diketahui penyebab dapat melakukan antisipasi hal-hal kehamilan tidak
diinginkan.

Undang-undang secara tegas mengatakan, tidak boleh melakukan aborsi. Kehamilan harus diteruskan.
Kecuali apabila ada indikasi medis yakni kehamilan menganggu kesehatan ibu dan bayi dan kasus
pemerkosaan tidak lebih dari enam minggu masih dapat dilakukan aborsi. Pada kasus pemerkosaan
sangat tidak mungkin dilakukan aborsi. untuk menentukan apakah betul kasus pemerkosaan, ada
mekanisme hukum yang mengatur. Proses ini membutuhkan waktu delapan minggu. Artinya tidak bisa
dilakukan aborsi.

"Saya setuju, aborsi bukan langkah menyesaikan masalah. Setidaknya aborsi pada kasus tertentu dapat
menyelesaikan masalah," terangnya.

Kasus perempuan mati melahirkan, ada empat kategori, yakni terlalu muda melahirkan, terlalu tua
melahirkan, terlalu kering dan terlalu rapat. Terlalu muda beresiko kematian. Bila dipaksanakan
melahirkan juga resiko kematian jika tidak mendapatkan penangan yang baik. Secara psikologi, anak
tidak siap melahirkan dan mengurus anak. Pencegahan secara promosi dan informasi, harus lebih
ditingkatkan ditingkatkan.

3. KEHAMILAN TIDAK DI INGINKAN

Tidak semua kehamilan menjadi berkah. Bagi beberapa pasangan, terjadinya kehamilan justru tidak
diinginkan lantaran berbagai sebab. Baik ketidaksiapan psikologis maupun tekanan sosial, seringkali
menjadi alasan mengapa banyak perempuan tidak menghendaki janin yang dikandungnya. Dalam kasus
paling ekstrim, yang terjadi kemudian adalah upaya untuk mengaborsi janin tersebut. Hal inilah yang
menjadi bahasan dalam talk show “Arisan” bersama Rifka Annisa yang disiarkan Jogja TV, Sabtu (14/1).
Talk show yang mengangkat tema “Kehamilan Tidak Diinginkan” kali ini menghadirkan tiga nara sumber
yaitu Muhammad Saeroni sebagai perwakilan Aliansi Satu Visi (ASV), Aditya Putra Kurniawan selaku
konselor laki-laki Rifka Annisa, dan Hani Barizatul Baroroh, tim media Rifka Annisa.

Kehamilan yang tidak diinginkan menjadi satu fenomena yang cukup penting untuk disoroti. Persepsi
orang pada umumnya, kehamilan tidak diinginkan seringkali dialami oleh para pasangan akibat
hubungan seksual di luar nikah. Namun, tidak menutup kemungkinan hal ini juga terjadi pada pasangan
yang sudah menikah. Sekitar 60 hingga 80 persen permintaan aborsi yang dirujuk dari data kedokteran
berasal dari pasangan yang telah menikah, sehingga menunjukkan bahwa tingkat kehamilan tidak
diinginkan juga cukup tinggi pada pasangan di dalam perkawinan.

Memang, fenomena kehamilan di luar nikah akan lebih bermasalah jika dialami oleh pasangan di luar
nikah karena ada resiko-resiko psikologis maupun fisik yang utamanya diderita oleh pihak perempuan.
Saeroni mengungkapkan bahwa dalam kebanyakan kasus yang ditangani Rifka Annisa, 45 persen
merupakan kasus kekerasan seksual dalam berpacaran dan 28 persen kasus kehamilan tidak diinginkan
pun dialami oleh pasangan pacaran.

Kehamilan ini biasanya terjadi akibat hubungan pacaran yang tidak sehat yang menjadi tren kebanyakan
remaja sekarang ini. Beberapa korban melaporkan bahwa telah dipaksa untuk melakukan hubungan
seksual oleh pasangannya sehingga terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Namun, seringkali yang
masih menjadi solusi andalan para orang tua terkait kehamilan anaknya ialah menikahkan mereka. Hal
ini sebenarnya bukan lantas menjadi solusi yang efektif karena akan menimbulkan masalah lainnya.

Aditya, selaku konselor laki-laki, menyoroti bahwa solusi pernikahan untuk remaja yang hamil di luar
nikah justru rentan memicu konflik terutama ketika menjalani rumah tangga. Umumnya, beberapa
pasangan masih menimbang-nimbang solusi terbaik untuk kehamilan yang tidak diinginkannya tersebut.
Mereka seolah hanya memiliki dua opsi yaitu aborsi atau menikah di usia muda. Kebanyakan remaja laki-
laki yang menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap pasangannya menyetujui solusi pernikahan karena
dorongan emosional sesaat. Para pelaku mengalami ketakutan akan dilaporkan kepada pihak berwenang
oleh keluarga korban. Mereka mendapat banyak tekanan dari orang tua sehingga terpaksa mengambil
opsi pernikahan meskipun secara psikologis belum siap.

“Banyak orang tua yang belum cukup paham bahwa remaja sangat rentan dengan masalah ketika harus
menjalani pernikahan dini. Pada fase remaja tersebut, secara fisik kelihatannya memang telah dewasa
tapi secara psikis mereka masih anak-anak. Meskipun mereka mengatakan siap menikah tetapi
sebenarnya belum memiliki kematangan untuk menghadapi rumah tangga,” tambah Aditya.

Hani selaku tim media Rifka Annisa, memberikan analisis bahwa fenomena kehamilan tidak diinginkan di
kalangan remaja dapat terjadi salah satunya karena pengaruh media. Banyak konten media yang
mengarahkan terjadinya kekerasan seksual seperti perkosaan. Merebaknya pengaruh video porno di
kalangan remaja menjadi salah satu pemicu terjadinya fenomena perkosaan tersebut. Bahkan jika kita
mencermati tayangan di televisi saat ini, banyak sekali acara yang menyuguhkan adegan pacaran seperti
ciuman dan pelukan yang rentan ditiru oleh anak kecil sekalipun. Ketika konten tersebut menjadi
konsumsi remaja, yang terjadi justru pengadopsian perilaku tersebut dalam gaya berpacaran. Awalnya
bermula dari ciuman namun selanjutnya dapat mengarahkan pada hubungan seksual. Hal ini rentan
sekali menimbulkan Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), ketika diikuti pemaksaan oleh salah satu pihak. Jika
telah terjadi kehamilan pada remaja lantaran hubungan seksual dalam berpacaran maka yang rentan
menjadi korban adalah pihak perempuan. Kehamilan di luar nikah selain menjadi aib bagi remaja
perempuan juga menjadi dilema sebab tidak ada jaminan perlindungan hukum yang cukup kuat untuk
membela remaja perempuan.

Banyak permasalahan yang muncul lantaran kehamilan yang tidak diinginkan di usia remaja. Selain
masalah psikologis yang banyak disoroti di atas, masalah yang tidak kalah krusial ialah masalah
kesehatan reproduksi dan kemungkinan munculnya penyakit menular seksual. Usia remaja, sekitar 22
tahun ke bawah, menjadi fase dimana organ-organ seksual belum cukup matang untuk digunakan
sehingga terjadinya hubungan seksual di usia remaja rentan bermasalah. Saeroni menegaskan bahwa
dalam hal ini pendidikan kesehatan reproduksi perlu diupayakan sejak dini agar remaja dapat
mengantisipasi kehamilan tidak diinginkan dan segala masalahnya. Perlu adanya lembaga yang
membantu remaja untuk memperoleh hak-hak pengetahuan akan kesehatan reproduksi.

“Sejauh ini Aliansi Satu Visi (ASV) telah berupaya untuk menyediakan layanan kepada remaja terkait
pendidikan kesehatan reproduksi baik melalui lembaga sekolah maupun luar sekolah. Anak-anak perlu
diberikan pendidikan seksual sejak dini bagaimana cara memperlakukan organ-organ vitalnya,” tegas
Saeroni memaparkan pengalamannya terlibat dalam ASV.

Setibanya pada fase remaja pengetahuan tersebut dapat membantu memproteksi diri mereka dari
melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan pertimbangan konsekuensi-konsekuensi yang dapat
merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Menurutnya, Indonesia perlu mengacu kebijakan di negara
maju tentang penerapan kurikulum pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi sejak dini. Memang di
beberapa sekolah telah mencoba menjadikan pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi ini sebagai
pilot project, namun hal ini belum bisa diterapkan secara nasional. Kebijakan semacam ini perlu
diterapkan dalam skala nasional yang kemudian diikuti oleh mentoring kesehatan reproduksi remaja,
sosialisasi tentang healthy choice, serta sosialisasi bagaimana membangun konsep diri remaja.

Di sisi lain, Aditya mengakui bahwa pendidikan seksual bagi remaja masih dianggap tabu di Indonesia.
Pendidikan seksual justru membuat para orang tua semakin cemas. Oleh karenanya sekali lagi para orang
tua perlu dipahamkan dan dilibatkan dalam proses ini. Maka, upaya untuk mencegah kekerasan seksual
maupun kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja salah satunya adalah dengan membuka
komunikasi yang intensif antara orang tua dan remaja. Sudah selayaknya orang tua menjadi teman bagi
remaja yang serba ingin tahu. Mereka dituntut pula untuk dapat menjelaskan dengan cara yang bijak
terkait keingintahuan remaja akan masalah seksual dan reproduksi. Dengan membuka diri terhadap
remaja dan sesekali memperbaiki cara berkomunikasi dengan mereka, para orang tua dapat
menempatkan dirinya sebagai partner untuk mengatasi masalah pergaulan remaja. Sehingga cara ini
dapat memproteksi remaja dari terjadinya kekerasan seksual maupun kehamilan yang tidak diinginkan