Anda di halaman 1dari 58

Keracunan karbon monoksida di Iran selama tahun 1999-2016:

Tinjauan sistematik dan meta analisis

Seyed Mohammad Hosseninejad, Hamed Aminahidashti, Iraj Goli Khatir, Seyed Khosro
Ghasempouri, Ali Jabbari, Mahmoud Khandashpour

ABSTRAK

Latar Belakang: Kasus keracunan karbon monoksida (CO) merupakan satu penyebab

utama dirawatnya individu di bagian penanganan gawat darurat (ED/ emergency

department) di seluruh dunia dengan tingkat morbiditsa dan kematian yang tinggi.

Tidaklah terdapat statistik yang secara nasional inklusif untuk kasus keracunan CO di

Iran yang tersedia. Reviu/ tinjauan ini ditujukan untuk menjelaskan dan meninjau

pola keracunan CO di Iran.

Metode: Pencarian di Medline, SCOPUS, Cochrane Library, Google Scholar,

Magiran, IranDoc, dan SID (Scientific Information Database/ Database Informasi

Ilmiah) yang menghasilkan 10 penelitian tentang epidemiologi keracunan CO di Iran.

Outcome dari tinjauan ini adalah untuk dapat mengetahui karakteristik-karakteristik

demografis, tingkat prevalensi dan kematian, kecenderungan tahunan, dan sumber

serta mekanisme utama, lokasi insiden keracunan CO dan juga upaya peningkatan

kepedulian serta kehati-hatian di masyarakat.

Hasil: Total sebanyak 10 penelitian, yang didalamnya termasuk 6372 korban

keracunan CO pun ditinjau oleh peneliti. Tingkat insiden keracunan CO yang

diperkirakan terjadi adalah sekitar 38,91 per 100.000 individu, dan tingkat kematian

yang disebabkan oleh hal ini adalah 11,6 per 1000 kematian, dan tingkat fatalitas

gabungan diketahui mencapai 9,5% (CI [Interval Kepercayaan] 95% 6,3%-14,30%).

Dari total 5105 individu yang mengalami keracunan CO, 2048 orang (40,12%) nya

1
adalah laki-laki, sedangkan 3057 orang (59,88%) nya adalah perempuan. Selain itu,

dari 5105 individu dengan kasus keracunan, 4620 orang (90,50%) bisa bertahan

hidup, dan 485 orang (9,50%) meninggal. Jumlah kasus keracunan CO yang bersifat

fatal diantara korban pria dan korban wanita adalah masing-masing 259 orang

(5,07%) dan 226 orang (4,43%); sedangkan jumlah kasus keracunan CO yang

bersifat tidak fatal di kalangan korban yang berjenis kelamin laki-laki dan yang

berjenis kelamin perempuan adalah masing-masing 1790 korban (35,06%) dan 2830

korban (55,44%). Usia rata-rata korban adalah sekitar 30 tahun. Hampir dari seluruh

korban (36,37%) diketahui memiliki tingkat pendidikan sekolah menengah, dan

52,74% korban adalah tidak/ belum menikah (termasuk telah bercerai atau ditinggal

pasangannya yang meninggal), serta 27,48% dari seluruh korban diketahui memiliki

pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga.

Kesimpulan: Tingkat insiden, tingkat kematian proporsional dan tingkat fatalitas

kasus keracunan CO di Iran adalah tinggi, terutama pada individu yang berusia masih

muda. Tampaknya bahwa strategi pencegahan haruslah diajarkan oleh petugas

kesehatan secara lebih intensif dan menyeluruh dan juga harus diimplementasikan

oleh para perumus kebijakan sehingga regulasi tentang hal ini dapat berjalan secara

ketat.

Kata kunci: Karbon monoksida, Keracunan, Intoksikasi, Iran, Epidemiologi

2
1. Pendahuluan

Kasus keracunan masihlah merupakan salah satu masalah kesehatan yang

serius di seluruh dunia. Di Iran, 20% dari kasus penanganan pasien di bagian

penanganan gawat darurat adalah disebabkan karena kasus keracunan CO. Penyebab

yang paling umum untuk kasus keracunan di Iran adalah intoksikasi oleh senyawa

obat seperti contohnya opioid, tramadol, dan pestisida.

Karbon monoksida (CO) merupakan senyawa yang beracun, senyawa ini

tidak memiliki warna dan tidak berbau, yang dapat dihasilkan dari pembakaran tidak

sempurna bahan bakar tiper karbon dan senyawa-senyawa organis seperti contohnya

dari generator dengan tenaga gas, tungku atau panggangan batu parah, kompor

propana, briket batu bara, kendaraan bermotor, kebakaran, asap kendaraan bermotor,

pemanas air tenaga gas yang tidak memiliki ventilasi yang baik, pemanas ruangan

tenaga kerosen, dan dari peralatan-peralatan lain. Karena afinitas CO ke hemoglobin

adalah jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan oksigen (setidaknya 200 kali lipat

lebih tinggi), maka inhalasi nya diketahui dapat meningkatkan proporsi

karboksihemoglobin dan penurunan jumlah hemoglobin bebas untuk proses transfer

oksigen di dalam plasma, dengan demikian, keracunan CO dapatlah menyebabkan

morbitas yang signifikan, kematian, dan bahkan gangguan neurologis pasca

keracunan.

Di antara kasus-kasus keracunan, keracunan CO diketahui merupakan satu

penyebab yang umum yang dapat menyebabkan penderitanya harus dirawat di

bagian penanganan gawat darurat, dan hal ini diketahui memiilki kaitan dengan

tingginya tingkat morbiditas dan kematian. Kasus ini merupakan satu tantangan yang

serius di dunia kesehatan masyarakat di seluruh dunia, seperti di beberapa negara,

3
tingkat kematian akibat keracunan CO adalah sama dengan tingkat kematian akibat

diabetes melitus dan kecelakaan lalu lintas.

Walaupun terdapat kemajuan/ peningkatan di dalam pencegahan dan

penanganan keracunan CO, namun hal ini masih menjadi beban kesehatan yang

signifikan di Iran, khususnya di musim dingin. Prevalensi keracunan CO di seluruh

wilayah Iran adalah berkisar dari 1,9 sampai 37 per 100.000 individu. Selain itu,

tingkat fatalitas kasus di provinsi bagian barat Iran diketahui dapat mencapai 20%.

Dan lagi, menurut laporan terakhir dari Organisasi Kedokteran Hukum Iran (ILMO/

Iranian Legal Medicine Organization), di tahun 2016, telah terjadi 836 kasus

kematian yang diakibatkan oleh keracunan CO.

Selama beberapa dekade terakhir, beberapa penelitian epidemiologis pun

telah dilakukan untuk mengkaji kasus keracunan CO, yang dimana hasil dari

penelitian-penelitian ini ditujukan untuk memberikan pemahaman tentang efek

kesehatan dari CO di Iran. Namun demikian, hasil dari penelitian-penelitian ini

diketahui tidaklah konsisten, dan tidaklah terdapat kesimpulan tunggal yang didapat

dari hasil penelitian-penelitian tersebut. Lebih jauh lagi, belumlah terdapat statistik

nasional yang detail tentang kasus-kasus keracunan CO di Iran. Upaya

pengembangan solusi untuk mengurangi tingkat morbiditas dan kematian akibat

keracunan CO adalah memerlukan pemahaman yang inklusif tentang epidemiologi

dan pola-pola nya. Dengan demikian, data epidemiologis tentang keracunan CO

adalah penting bagi para pembuat kebijakan, para perumus kebijakan kesehatan, dan

juga data ini dibutuhkan untuk proses alokasi sumber daya serta untuk meningkatkan

kepedulian dan pemahaman pada masyarakat, dengan demikian, reviu kali ini adalah

ditujukan untuk menjelaskan dan meninjau pola kasus keracunan CO di Iran.

4
2. Metode

Satu tinjauan sistematik literatur dilakukan untuk menginvestigasi dimensi-

dimensi kasus keracunan CO di Iran. Selain itu, kami pun melakukan satu meta

analisis untuk menemukan tingkat fatalitas gabungan akibat kasus keracunan CO.

2.1. Kriteria Eligibilitas/ Kelayakan

Kriteria inklusi mensyaratkan bahwa (1) penelitian harus dilakukan di Iran;

(2) semua kasus keracunan CO yang terdiagnosis secara klinis harus didasarkan pada

Klasifikasi Penyakit Internasional, 10 Revisi (ICD-10) yang mencakup kode T58,

X47, X67, dan Y17.

2.2. Pengukuran Outcome

Tujuan dari reviu ini adalah (1) untuk dapat mengetahui karakteristik-

karakteristik demografi para korban; (2) untuk dapat memahami prevalensi

keseluruhan dari kasus keracunan CO diseluruh wilayah negara; (3) untuk dapat

mengetahui sumbe-sumber utama CO; (5) untuk dapat mengklasifikasikan

mekanisme-mekanisme utama dari insiden keracunan CO; (6) untuk dapat

mengidentifikasi lokasi dari kasus keracunan CO dan penempatan perkakas; (7)

untuk dapat mengetahui tingkat kematian akibat keracunan CO di seluruh wilayah

negara; (7) untuk memberikan kepedulian serta pengetahuan tentang keselamatan.

2.3. Sumber informasi

Satu strategi yang ditetapkan dan didasarkan pada masing-masing database

pun dikembangkan untuk mencari database berikut ini: Medline via PubMed,

SCOPUS, Cochrane Central Register of Controlled Trials, dan Cochrane Database of

Systematic Reviews, serta Google Scholar dan juga database-database dalam negeri

5
yang mencakup Magiran, IranDoc, dan SID (Database Informasi Ilmiah). Bagian

referensi dari penelitian-penelitian yang disertakan, meta-analisis yang diterbitkan

(jika ada), dan artikel-artikel tinjauan/ reviu yang relevan (jika tersedia) pun dicari

untuk menemukan artikel-artikel tambahan.

2.4. Strategi pencarian

Kami menggunakan heading/ tajuk subjek dan istilah-istilah teks bebas di

dalam pencarian database. Strategi pencarian terdiri dari tiga komponen: (1) karbon

monoksida atau CO; (2) keracunan ATAU intoksikasi ATAU toksisitas; dan (3) Iran.

Ketiga komponen ini dikombinasikan dengan menggunakan operator Boolean,

“DAN”, untuk mendapatkan kaitan atau hubungan antara ketiganya. Mengingat

bahwa database dalam negeri tidaklah sensitif dengan operator Boolean, maka kami

pun melakukan pencarian yang sangat sensitif dengan hanya menggunakan kata

kunci “karbon monoksida” (untuk memastikan sensitifitas yang cukup) dan

kemudian menyaring artikel-artikel yang didapatkan untuk masuk kedalam kriteria

inklusi. Kami juga mencari database-database dengan pengetatan (pembatasan)

tanggal penerbitan dari awal (21 Maret 1997 sampai 21 Juli 2017).

2.5. Pemelihan penelitian dan proses pengumpulan data

Tiga peneliti (SMH, HA, AJ) pun mengeksplorasi database dengan

menggunakan strategi pencarian yang sudah ditentukan (n = 5470). Sebanyak 1892

judul pun ditolak karena diketahui merupakan penelitian yang tidak relevan atau

yang terduplikasi. Para penelitian secara terpisah melakukan skrining judul dan

abstrak dari penelitian-penelitian yang didapatkan untuk disesuaikan dengan kriteria

inklusi yang sudah ditentukan. Detail untuk pentidaksertaan artikel pun disusun.

Teks penuh artikel-artikel yang berkaitan (n = 63) pun ditinjau ulang untuk

6
memenuhi kriteria inklusi/ penyertaan. Ketidaksepahaman tentang pemilihan

penelitian pun ditangani dengan cara diskusi dan konsensus dengan peneliti keempat

dan keenam (SKG dan MK). Jika terdapat data tambahan yang dibutuhkan, peneliti

dari penelitian yang bersangkutan pun dihubungi. Tiap penelitian yang disertakan

pun dievaluasi oleh empat peneliti (SMH, MK, AJ, dan SKG). Untuk hal ini, tabel

ekstraksi data diisi dengan data yang bersangkutan dari penelitian-penelitian yang

disertakan (n = 10). Tidak ada peninjau yang tidak diberitahu tentang semua hal yang

berkaitan dengan upaya reviu ini selama proses pemilihan penelitian.

2.6. Menilai resiko bias

Karena jumlah penelitian yang memenuhi kriteria inklusi tidaklah banyak,

maka kualitas keseluruhan dari pelaporan penelitian yang disertakan adalah rendah

sampai sedang, dan gaya pelaporan adalah sangat berbeda satu sama lain, dan

kualitas metodologi dari penelitian-penelitian yang terpilih tidaklah dievaluasi.

Namun demikian, kekurangan dari penelitian-penelitian yang disertakan pun

dipertimbangkan di dalam analisis data.

3. Hasil

3.1. Pemilihan penelitian dan karakteristik-karakteristik penelitian

Dari 5470 kutipan yang teridentifikasi melalui pencarian database, mayoritas

dari kutipan tersebut tidaklah relevan dengan kasus keracunan CO, dan dengan

demikian, kutipan-kutipan ini tidaklah disertakan di dalam reviu. Setelah skrining

utama, 63 artikel pun dikaji secara lebih detail. Terakhir, 10 penelitian yang

menyertakan 6372 individu diketahui sesuai dengan kriteria inklusi dan disertakan di

dalam penelitian ini untuk peninjauan dan pembahasan. Empat penelitian lain

diketahui dapat memberikan informasi umum yang berguna, namun keempat

7
penelitian ini tidaklah memberikan data tentang outcome dari reviu kami. Pencarian

artikel-artikel yang disertakan tidaklah berkontribusi untuk artikel-artikel lanjutan.

Ukuran sampel dari 27 sampai 3424 subjek dari 10 penelitian dengan rerata jumlah

subjek yang mencapai 637. Diagram alir untuk memilih sepuluh penelitian

digambarkan pada Gambar 1.

Dari 10 penelitian yang dikaji, sebaran geografis dari tiga penelitian yang

dilakukan adalah di Tabriz, dua di Tehran, satu di Kermanshah, satu di Khorasan

Razavi, satu di Mazandaran, satu di Ardabil, dan satu penelitian telah menyertakan

data dari 23 provinsip. Dari penelitian-penelitian yang disertakan, hanyalah empat

penelitian yang menilai/ mengkaji kasus-kasus keracunan CO yang bersifat fatal dan

non-fatal, sedangkan sisanya hanya menilai kasus-kasus kematian yang memiliki

hubungan dengan keracunan CO. Kasus-kasus keracunan CO pun diteliti antara

tahun 1999 dan 2016. Penelitian yang paling berjangka panjang adalah penelitian

yang dilakukan oleh Khadem-Rezaiyan dkk dengan durasi total yang mencapai 84

bulan. Tabel 1 memberikan data tentang kota, populasi, dan ukura sampel dari

penelitian-penelitian yang disertakan – yang distratifikasikan oleh kategori

keracunan CO, dan Tabel 2 pun meringkas karakteristik-karakteristik utama dari

penelitian-penelitian yang disertakan.

3.2. Sintesis hasil

3.2.1. Karakteristik-karakteristik demografi para korban

3.2.1.1. Jenis Kelamin/ Gender. Untuk mengevaluasi distribusi semua kasus

keracunan CO (baik yang bersifat fatal ataupun yang non-fatal) dengan berdasarkan

pada jenis kelamin, kami hanyalah menyertakan hasil dari empat penelitian yang

meliputi semua kasus keracunan CO (n = 5105, 100%), karena enam penelitian

8
lainnya hanya menilai kasus-kasus keracunan CO fatal saja. Dari 5105 individu yang

mengalami keracunan CO, 2048 nya (40,12%) adalah berjenis kelamin laki-laki dan

3057 nya (59,88%) adalah berjenis kelamin perempuan. Selain itu, dari 5105 subjek

yang mengalami keracunan, 4620 individu (90,50%) tetap hidup, dan 485 individu

(9,50%) meninggal. Jumlah kasus keracunan CO fatal diantara pria dan wanita

adalah masing-masing 259 orang (5,07%) dan 226 (4,43%); sedangkan jumlah kasus

keracunan CO non-fatal di kalangan subjek pria dan wanita adalah masing-masing

1790 individu (35,06%) dan 2830 individu (55,44%).

Gambar 1. Diagram alir reviu literatur sistematis

9
Dari keenam penelitian lain yang hanya menilai kasus keracunan CO fatal (n

= 1267, 100%), jumlah korban pria dan wanita adalah masing-masing 821 orang

(64,80%) dan 446 orang (35,20%).

Untuk mengevaluasi distribusi kasus-kasus keracunan CO saja dengan

berdasarkan pada jenis kelamin, kami pun menggunakan kasus-kasus fatal dari 10

penelitian. Dari total jumlah kematian (1752) di semua penelitian yang di-reviu,

diketahui terdapat 1078 individu (61,53%) adalah pria dan 674 individu (38,47%)

adalah perempuan. Gambar 2 mengindikasikan outcome dari kasus keracunan CO

yang didasarkan pada jenis kelamin korban.

3.2.1.2. Usia. Diantara 10 penelitian yang disertakan, tiga penelitian diketahui hanya

melaporkan kelompok usia korban. Kami pun mengestimasi usia rata-rata subjek

pada penelitian-penelitian ini dari data kelompok dengan menggunakan titik-tengah

dari tiap kelompok. Untuk mengestimasi usia rerata dari seluruh kasus keracunan CO

(baik yang fatal maupun yang non fatal), kami pun menggunakan data dari empat

penelitian yang menginvestigasi semua kasus keracunan CO. Usia rata-rata korban di

seluruh penelitian ini adalah 31,68 tahun. Usia rerata para korban keracunan CO di

enam penelitian, yang hanya menginvestigasi kasus-kasus keracunan CO fatal,

adalah 30,29. Estimasi usia rerata untuk semua kasus keracunan CO di seluruh

penelitian adalah 31,24 tahun (rerata berkisar antara 25,58 – 34,84 tahun). Diantara

semua penelitian, diketahui bahwa hampir dari seluruh korban adalah berada di

kelompok usia 15 – 44 tahun.

10
Tabel 1 – Kota, populasi, dan ukuran penelitian jika penelitian-penelitian yang diikutsertakan distratifikasi dengan kategori keracunan CO
Kategori keracunan CO Peneliti pertama, tahun Kota/ provinsi Populasi di wilayah dimana Ukuran penelitian Periode penelitian (bulan)
penelitian dilakukan
Semua kasus (fatal dan non- Dianat, 2011 Tabriz 1580000 1095 24
fatal) Khadem-Rezaiyan, 2016 Khorasan Razavi 6000000 443 84
Nazari, 2010 Azerbaijan Timur 3600000 3424 60
Yari, 2012 Kermanshah 1940000 143 24
Total semua kasus - - 13120000 5105 192
Kasus keracunan fatal saja Farzaneh, 2012 Ardabil 500000 35 60
Khademi, 2010 Iran (23 provinsi) Tidak dilaporkan 156 3
Nazari, 2008 Tabriz 1580000 249 60
Sheikhazadi, 2010 Tehran 7600000 666 60
Tofighi, 1999 Tehran 6800000 134 12
Shokrzadeh, 2013 Mazandaran 3000000 27 36
Total kasus keracunan fatal - 19480000 1267 231

Tabel 2 – Karakteristik-karakteristik utama dari penelitian yang disertakan


Kategori Semua kasus keracunan CO (fatal dan non-fatal) Kasus-kasus keracunan CO yg bersifat fatal
Item Dianat, 2011 Khadem, Nazari, 2010 Yari, 2012 Farzaneh, Khademi, Nazari, 2008 Sheikhazadi, Tofighi, Shokrzadeh, Total semua Persen Total kasus Persen Total dalam
Rezaiyan, 2012 2010 2010 1999 2013 kasus yang semua
2016 bersifat fatal penelitian
saja
Total N 1095 443 3424 143 35 156 249 666 134 27 5105 100 1267 100 6372
dalam kasus
keracunan
CO
Total N 1005 425 3078 112 0 0 0 0 0 0 4620 90,50 Tidak Tidak 4620
dalam kasus tersedia tersedia
keracunan
CO non-fatal
Total N pada 90 18 346 31 35 156 249 666 134 27 485 9,50 1267 100 1752
kasus
keracunan
CO fatal
Total N yg 367 268 1361 52 19 107 135 456 91 13 2048 40,12 821 64,80 2869
berjenis
kelamin pria
Total N yg 728 175 2063 91 16 49 114 210 43 14 3057 59,88 446 35,20 3503
berjenis
kelamin
perempuan
Jumlah laki- 326 256 1176 32 0 0 0 0 0 0 1790 35,06 Tidak Tidak 1790
laki non fatal tersedia tersedia
Jumah 679 169 1902 80 0 0 0 0 0 0 2830 55,44 Tidak Tidak 2830
perempuan tersedia tersedia
non fatal
Jumlah laki- 41 12 185 21 19 107 135 456 91 13 259 5,07 821 Tidak 1080
laki fatal tersedia
Jumah 49 6 161 10 16 49 114 210 43 14 226 4,43 446 Tidak 627
perempuan tersedia
fatal
Rerata usia 31,5 32,3 28,06 34,84 33,66 28,6 32,9 29,2 27,58 29,8 31,68 Tidak 3029 Tidak 31,24
(tahun) tersedia tersedia
11
3.2.1.3. Status pendidikan. Diantara 10 penelitian yang disertakan, hanyalah terdapat

lima penelitian – yang melibatkan 1669 individu – yang menyebutkan tingkat

pendidikan para korban keracunan CO. Secara total, terdapat 668 individu (40,02%)

yang memiliki tingkat pendidikan maksimal sekolah dasar dan 1001 individu

(59.98%) memiliki tingkat pendidikan minimal sekolah menengah. Tingkat literasi

atau kemampuan baca tulis pada 89 orang korban (5,33%) korban tidaklah diketahui.

Hampir dari seluruh korban (607 individu [36,37%]) memiliki tingkat pendidikan

sekolah menengah. Sebagaimana yang digambarkan pada Gambar 3, kasus

keracunan CO yang paling fatal dan yang tidak fatal terjadi pada korban dengan

tingkat pendidikan sekolah menengah.

3.2.1.4. Status pernikahan. Hanya empat penelitian (yang melibatkan 883 subjek)

yang mengkaji status pernikahan para korban keracunan CO. Diantara para korban

ini, 417 korban (47,23%) diketahui menikah dan 466 orang korban (52,74%)

diketahui tidak menikah – yang mencakup lajang, telah bercerai, dan ditinggal

meninggal oleh pasangannya.

3.2.1.5. Pekerjaan. Delapan penelitian (yang melibatkan 1390 individu) melaporkan

status pekerjaan para korban. Jumlah korban terbanyak adalah memiliki pekerjaan

sebagai pembantu rumah tangga dengan 382 kasus keracunan CO (27,48%). Tabel 3

mengindikasikan karakteristik-karakteristik demografis sampel secara keseluruhan di

semua penelitian yang disertakan.

12
3.3. Insiden keracunan CO secara keseluruhan

Durasi total semua penelitian yang disertakan adalah 423 bulan (berkisar

antara 3 sampai 84 bulan) yang dimulai dari 1999 sampai 2016. Ukuran populasi

yang diagregasikan dengan berdasarkan pada tiap tahun kalender penelitian adalah

32.600.000. Secara keseluruhan, 6372 individu pun terdiagnosis mengalami

keracunan CO (baik hidup maupun meninggal) pada periode ini. Dari jumlah ini,

4620 korban (72,50%) diketahui dapat tetap hidup, sedangkan 1752 korban (27,50%)

meninggal.

Kami pun mengestimasi tingkat insiden keracunan CO secara keseluruhan

dengan berdasarkan pada hasil dari empat penelitian yang menginvestigasi seluruh

kasus keracunan CO fatal dan non-fatal. Durasi total semua penelitian ini adalah 192

bulan (berkisar dari 24 sampai 84 bulan). Populasi yang diagregasikan dengan

berdasarkan pada tahun kalender penelitian adalah sekitar 13.120.000. Secara

keseluruhan, 5105 individu terdiagnosis mengalami keracunan CO (meninggal atau

tetap hidup) pada periode ini, yang dimana angka ini sama dengan tingkat insiden

38,91 per 100.000 penduduk.

3.4. Kasus tingkat fatalitas

Hanya empat penelitian yang melibatkan/ menyertakan 5105 korban yang

mengukur outcome dari kasus keracunan CO sebagai ‘meninggal atau tetap hidup’.

Tingkat fatalitas kasus keracunan CO yang didasarkan pada empat penelitian ini

adalah 9,5%. Kami pun melakukan meta analisis untuk menemukan tingkat fatalitas

gabungan dari kasus keracunan CO. Empat penelitian ini dapat memberikan data

yang cukup tentang tingkat kematian dari kasus keracunan CO. Tingkat fatalitas

kasus keracunan CO adalah berkisar antara 4,1% (rendah) sampai 21,7% (tinggi).

13
Tingkat fatalitas kasus gabungan akibat keracunan CO adalah 9,5% (CI 95% 6,3%-

14,30%), yang dimana berarti bahwa sekitar 9,5% individu yang mengalami

keracunan CO diketahui mengalami outcome yang fatal. Dengan demikian,

heterogenitas yang signifikan pun terdeteksi (I2 = 92,5%, P < 0,001). Gambar 4

menunjukkan forest plot (blobbogram) untuk fatalitas kasus keracunan CO.

Outcome dari kasus keracunan CO berdasarkan jenis kelamin

Gambar 2. Outcome keracunan CO berdasarkan pada jenis kelamin para korban.

14
Distribusi semua kasus keracunan CO berdasarkan pada tingkat pendidikan.

Gambar 3. Distribusi kasus keracunan CO dengan berdasarkan pada tingkat

pendidikan.

3.5. Tingkat kematian proporsional pada kasus keracunan CO

Kami pun mengestimasi tingkat kematian proporsional pada kasus keracunan

CO dengan berdasarkan pada informasi statistik yang diberikan oleh Organisasi

Kedokteran Hukum Iran (ILMO) dan Organisasi Catatan Sipil Nasional (NOCR) –

yang merupakan dua organisasi yang bertanggungjawab atas registrasi kematian di

Iran. Jumlah kematian akibat keracunan CO yang diregistrasikan selama 6 tahun

(2011 sampai 2016) adalah 4578, yang dimana angka ini sebanding dengan 763

kematian per tahun (SD [simpangan baku]: 135,83). Jumlah total kematian dari

semua penyebab selama interval waktu yang sama adalah 2.359.467, yang dimana

angka ini secara kasar sama dengan 393.225 kematian per tahun. Dengan demikian,

tingkat kematian proporsional yang diakibatkan oleh keracunan CO adalah sekitar

11,6 per 1000 kematian ([4578/393.225] x 1000). Di Iran, pada tahun 2016, menurut

NOCR, telah terjadi total 376,356 kematian. Selain itu, menurut data Bank Dunia,

15
populasi Iran pada waktu yang sama adalah 80.277.428. Dengan demikian, tingkat

kematian kasar pada tahun 2016 adalah (376.356 / 80.277.428) x 100.000, atau

468,81 kematian per 100.000 populasi.

3.6. Trend/ kecenderungan tahunan kasus keracunan CO

Menurut laporan ILMO, yang menerbitkan laporannya secara online, 4578

kematian telah terjadi akibat keracunan CO selama periode 6 tahun dari mulai tahun

2011 sampai 2016, yang termasuk 1218 korban perempuan (26,61%) dan 3360

korban yang berjenis kelamin laki-laki (73,39%). Jumlah kematian ini adalah sama

dengan 763 kematian per tahun atau 63,58 kematian per bulan di seluruh wilayah

negara Iran. Mengacu pada populasi Iran yang mencapai 80,3 juta, kematian yang

disebabkan oleh keracunan CO mencapai 0,95 kematian per 100.000 penduduk Iran.

Pada periode 6 tahun ini, jumlah kasus keracunan CO fatal tertinggi adalah terjadi

pada tahun 2011 – yang memakan 965 korban (21,08%). Gambar 5 menggambarkan

kecenderungan/ tren kematian dari tahun 2011 sampai 2016 di Iran. Sebagaimana

yang ditunjukkan pada Gambar 5, jumlah kematian mengalami fluktuasi pada

periode ini, sehingga setelah menurun sampai 626 pada tahun 2014, tren ini juga

kembali meningkat menjadi 836 di tahun 2016.

Tabel 3 – Karakteristik-karakteristik demografi keseluruhan sampel di seluruh

penelitian yang disertakan

Status pendidikan Non-fatal Fatal Total Persen


Tidak sekolah/ buta huruf 152 168 320 19,17%
Sekolah Dasar 202 146 348 20,85%
Sekolah Menengah 434 173 607 36,37%
Universitas 153 152 305 18,27%
Tidak diketahui 64 25 89 5,33%

16
Total 1005 664 1669 100,00%

Status pernikahan Jumlah Persen


Lajang 442 50,06%
Menikah 417 47,23%
Bercerai 9 1,02%
Ditinggal pasangan 13 1,47%
meninggal
Tidak diketahui 2 0,23%
Total 883 100%

Pekerjaan Jumlah Persen


Bekerja sendiri/ pekerja lepas 195 14,03%
Tukang/ buruh 179 12,88%
Pembantu rumah tangga 73 5,25%
Pelajar 382 27,48%
Tidak bekerja 66 4,75%
Supir 220 15,83%
Lainnya 40 2,88%
Total 235 16,91%

Gambar 4. Fatalitas kasus keracunan CO

17
Kecenderungan/ tren kematian dari tahun 2011 sampai 2016 di Iran

Gambar 5. Tren/ kecenderungan kematian dari tahun 2011 sampai 2016 di Iran

Dari 10 penelitian, hanya empat penelitian yang diketahui mengkaji tentang

tren/ kecenderungan tahunan kasus keracunan CO. Tren dari kasus keracunan CO

pun diketahui mengalami fluktuasi. Sebagai contoh, hasil dari penelitian yang

dilakukan oleh Sheikhazadi dkk di Tehran menunjukkan bahwa jumlah kematian dari

87 kasus kematian pada tahun 2002 pun meningka tmenjadi 186 di tahun 2006, yang

dimana hal ini adalah sama dengan peningkatan 20 kematian per tahun. Sebaliknya,

Khadem-Rezaiyan dkk menunjukkan bahwa tingkat prevalensi CO tidaklah hanya

berubah secara signifikan, namun juga berkurang. Karena prevalensi kasus

keracunan CO yang mencapai 2,2 per 100.000 pada tahun 2004 menjadi menurun ke

angka 2,1 per 100.000 pada tahun 2011. Hasi dari penelitain Nazari dkk

menunjukkan bahwa jumlah kematian dari 30 kasus kematian pada tahun 2004

menjadi meningkat ke angka 59 di tahun 2008, yang dimana hal ini dapat menjadi

indikasi peningkatan angka kematian sebanyak dua kali lipat.

18
3.7. Pola musiman kasus keracunan CO

Tren musiman kasus keracunan CO di tuju penelitian yang di-reviu

menunjukkan bahwa terdapat pola musiman dalam hal kemunculan kejadian

keracunan CO. Walaupun hal ini tidaklah bersifat konstan di seluruh penelitian yang

disertakan, namun pola global mengindikasikan bahwa jumlah dari kasus keracunan

CO diketahui mulai mengalami peningkatan di bulan September; dan angka ini

mencapai puncaknya pada bulan Desember, kemudian turun kembali di akhir bulan

Maret. Secara keseluruhan, hampir dari seluruh kasus keracunan CO terjadi pada

musim gugur.

3.8. Sumber dan mekanisme keracunan CO

Sumber yang paling umum untuk kasus keracunan CO – sebagaimana yang

dibahas pada enam penelitian yang disertakan – adalah peralatan rumah tangga yang

menggunakan gas, pemanas air, alat pemanas, boiler, alat masak, pemanas tanpa

penopang, kontainer gas mobile, saluran pembuangan sisa pembakaran pada

kendaraan, pemanggang atau tungku yang berbahan bakar batu bara dan arang.

Beberapa mekanisme utama insiden adalah kesalahan di dalam pemasangan,

kerusakan peralatan, kesalahan penggunaan, ruangan yang kecil, sistem pemanasan

yang tidak memiliki ventilasi yang baik, kebocoran saluran gas, dan karena bunuh

diri.

3.9. Lokasi insiden

Mayoritas dari kasus keracunan CO seringnya terjadi di rumah, lebih sering

daripada di tempat bekerja. Lokasi terjadinya kasus keracunan CO di dalam gedung

19
umumnya terjadi di dapur, kamar mandi, ruang keluarga, kamar tidur, basement, dan

ruangan penyimpanan pakaian.

4. Pembahasan

Penelitian ini ditujukan untuk meninjau ulang profil dan data-data klinis dari

semua korban yang mengalami keracunan CO. Reviu ini merupakan penelitian

nasional inklusif pertama untuk mengkuantifikasi dan menjelaskan semua kasus

keracunan CO (baik yang fatal maupun yang non-fatal) di Iran. Saat ini, penelitian

tentang kasus keracunan dan kematian akibat CO masihlah terbatas di Iran. Reviu

saat ini hanya menyertakan 10 penelitian epidemiologis yang berfokus mengkaji

tentang kasus keracunan CO. Hasil dari reviu ini dapatlah memberikan beberapa

informasi tentang status dan tren kasus keracunan CO di Iran. Dengan tanpa melihat

kualitas metodologi dari penelitian-penelitian yang disertakan, hasil yang didapatkan

ternyata cukup konsisten dari semua penelitian yang disertakan. Secara umum, hanya

sedikit tulisan atau hasil penelitian yang mengkaji kasus keracunan CO (fatal dan

non fatal) di Iran yang dapat kami temukan dan kami tinjau ulang secara mendalam.

Beberapa temuan dari reviu kami mengindikasikan bahwa selama 192 bulan

periode penelitian, tingkat insiden dari kasus keracunan CO adalah sekitar 38,91 per

100.000 penduduk. Selain itu, tingkat fatalitas kasus gabungan keracunan CO adalah

9,5% pada seluruh penelitian yang disertakan, yang dimana hal ini

merepresentasikan sekitar 9 kematian per 100 individu yang mengalami keracunan

CO. Haruslah diingat bahwa karena heterogenisitas nya yang tinggi pada penelitian-

penelitian yang disertakan, maka temuan ini haruslah diinterpretasikan secara

seksama, atau jangan dianggap sebagai hasil yang mutlak. Lebih jauh lagi, tingkat

20
kematian proporsional untuk kasus keracunan CO adalah sekitar 11,6 per 1000

kematian, yang dimana hal ini berarti bahwa dari setiap 1000 kematian, 12 kematian

diantaranya adalah disebabkan karena keracunan karbon monoksida. Lebih jauh lagi,

menurut temuan-temuan dari penelitian-penelitian yang disertakan dan juga dari

laporan-laporan ILMO, tren kematian akibat kasus keracunan CO juga mengalami

fluktuasi dari tahun 1999 sampai 2016. Rerata jumlah kematian yang diakibatkan

oleh keracunan CO per tahun adalah 763 kematian dan kematian dengan penyebab

spesifik untuk keracunan CO adalah 0,95 kematian per 100.000 pada populasi Iran,

yang dimana hal ini berarti bahwa sekitar satu dari 100.000 individu diketahui

meninggal akibat keracunan CO. Kami juga menemukan fakta yang menunjukkan

fakta bahwa jumlah total kasus-kasus keracunan CO yang bersifat fatal adalah lebih

tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan pada perempuan.

Dibandingkan dengan penelitian yang mengkaji kasus-kasus keracunan CO di

beberapa kota di Turki, tingkat kematian proporsional untuk kasus keracunan CO di

Iran adalah lebih rendah dibandingkan dengan yang terjadi di Turki (11,6 versus

20,62 per 1000 kematian). Adalah penting juga untuk diketahui, bahwa jumlah tahun

dimana kasus keracunan CO yang diinvestigasi oleh penelitian-penelitian di Turki

juga jauh lebih banyak daripada jumlah tahun pada penelitian-penelitian yang kami

sertakan (27 versus 16 tahun).

Dibandingkan dengan di Inggris dan Wales, jumlah kematian tahunan yang

diakibatkan oleh keracunan CO di Iran adalah jauh lebih tinggi (763 versus 182 per

tahun). Berbeda dengan sedikit perubahan di dalam tren kematihan tahunan di Iran,

jumlah kematian tahunan akibat keracunan CO diketahui mengalami penurunan yang

signifikan di Inggris dan di Wales, yaitu 166 pada tahun 1979 menjadi 25 di tahun

21
2012. Selain itu, pada penelitian lain di Amerika Serikat, jumlah rata-rata kematian

akibat kasus keracunan CO (kecuali untuk kasus-kasus bunuh diri) dari tahun 1999

sampai 2014 adalah 416 kematian per tahun. Lebih jauh lagi, tingkat fatalitas kasus

untuk keracunan CO (yang tidak disebabkan oleh kebakaran) di Amerika Serikat

adalah sampai 3%, yang mana angka ini sama dengan sepertiga dari fatalitas kasus

yang dilaporkan di dalam penelitian kami (9,5%).

Kasus keracunan CO tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang,

namun juga terjadi di negara-negara maju, dan hal ini menjadi penyebab tingginya

kasus morbiditas dan kematian. Sebagai contoh di Amerika Serikat, 50.000

kunjungan pasien ke bagian penanganan gawat darurat adalah disebabkan oleh kasus

keracunan CO (yang tidak disebabkan oleh kebakaran), dan hal ini dapat

menyebabkan 1200 kematian setiap tahunnya. Selain itu, dalam satu penelitian

prospektif observasional yang berukuran besar di Austria, prevalensi kasus

keracunan CO – dengan berdasarkan pada diagnosis definitif keracunan CO – adalah

mencapai 28 per 100.000 pasien yang dirujuk ke bagian penanganan gawat darurat.

Lebih jauh lagi, tingkat insiden kematian akibat keracunan CO di kota besar di

Tiongkok yang bernama Wuhan, menunjukkan bahwa kematian tahunan akibat hal

ini adalah 0,492 per 100.000 populasi. Namun demikian, jumlah ini tidaklah sama

dengan yang ada pada penelitian kami.

Kami menemukan bahwa jumlah kasus keracunan CO non-fatal adalah lebih

tinggi terjadi pada individu yang berjenis kelamin perempuan; namun demikian, pada

kasus keracunan CO yang bersifat fatal, jumlah penderita pria pun lebih banyak dari

perempuan, yang mana hal ini adalah konsisten dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh para peneliti lain. Sesuai dengan temuan yang kami dapatkan,

22
penelitian-peneitian nasional dan internasional sebelumnya telah menunjukkan

bahwa kematian yang disebabkan oleh keracunan adalah lebih umum terjadi pada

pria dibandingkan dengan pada wanita. Selain itu, menurut laporan ILMO, telah

terjadi 4578 kematian akibat kasus keracunan CO selama periode 6 tahun dari tahun

2011 sampai 2016, kematian pada individu pria adalah dua kali lipat lebih tinggi

daripada kematian yang terjadi pada wanita.

Rerata usia para korban adalah 31,24 tahun, dan hal ini mengindikasikan

bahwa tipe keracunan ini adalah lebih umum terjadi pada individu yang berusia

muda. Terlebih lagi, kelompok usia para korban yang mengalami keracunan ini

adalah 15 sampai 44 tahun; dan rentang usia ini memiliki kaitan dengan tingkat

kinerja tertinggi di semua kelompok masyarakat. Berbeda dengan beberapa

penelitian internasional, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa para korban

keracunan CO di Iran adalah berusia lebih muda. Hampir dari seluruh penelitian

yang mengkaji kasus keracunan di Iran, khususnya penelitian-penelitian yang kami

sertakan di dalam reviu kami – menunjukkan bahwa hampir dari seluruh kasus

keracunan terjadi pada rata-rata usia 30 tahun (rerata usia berkisar antara 25,58

sampai 34,84 tahun).

Di dalam mengevaluasi kasus keracunan CO dengan berdasarkan tingkat

pendidikan, kami menemukan bahwa hampir dari seluruh korban kasus keracunan

CO (fatal dan non fatal) diketahui memiliki tingkat pendidikan sekolah menengah

(masing-masing 173 dan 434 kasus). Selain itu, walaupun status pernikahan dari para

korban yang dianalisis adalah menikah, namun kesimpulan tentang apakah status

pernikahan dengan tingginya resiko kasus keracunan CO adalah memiliki hubungan

atau tidak? Hal ini belumlah diketahui. Hal ini karena jumlah penelitian yang

23
mengkaji tentang hal ini masihlah sangat sedikit, yaitu empat dari 10 penelitian yang

disertakan di dalam reviu dan meta analisis kami.

Gas CO diketahui banyak dihasilkan di lingkungan dan wilayah-wilayah

industri. Karena hal ini, tampaknya bahwa hampir dari seluruh kasus keracunan CO

haruslah terjadi di dunia industri. Namun demikian, jumlah tertinggi akan korban di

dalam reviu kami adalah para pembantu rumah tangga, dan lokasi dari hampir

seluruh insiden keracunan CO adalah terjadi di rumah. Hal ini dapat membenarkan

bahwa tingginya tingkat keracunan CO pada perempuan adalah terjadi di rumah,

dibandingkan dengan pada laki-laki. Sesuai dengan hal ini, kami pun menemukan

fakta bahwa lokasi yang paling rentan untuk terjadinya keracunan CO adalah di

dapur dan kamar mandi. Dengan mempertimbangkan hal ini, beserta dengan status

pernikahan dan usia para korban, maka beban keracunan CO dapatlah ditebak tanpa

perlu statistik yang bersifat khusus/ spesifik.

Singkatnya, temuan kami mengindikasikan bahwa (1) hampir dari seluruh

korban adalah berada di kelompok usia 15-44 tahun dengan rerata usia sekitar 31

tahun; (2) jumlah kasus-kasus keracunan CO non fatal pada wanita adalah lebih

tinggi daripada pada pria, namun demikian, jumlah kasus keracunan CO secara

keseluruhan adalah lebih tinggi pada pria; (3) mayoritas dari kasus keracunan CO

adalah terjadi di rumah, bukan di tempat kerja; dan (4) jenis pekerjaan para korban

yang paling umum menyebabkan kasus keracunan CO adalah pembantu rumah

tangga (n = 382,27/ 48%). Hal ini berarti bahwa hampir dari seluruh korban adalah

para wanita pembantu rumah tangga yang berusia muda dengan tingkat pendidikan

sekolah menengah, dan para korban ini lebih sering bekerja di ruangan dapur. Hal ini

sesuai dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya di Turki. Selain itu, sesuai dengan

24
temuan-temuan yang kami dapatkan, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa

peningkatan kasus keracunan CO lebih sering terjadi di musim gugur.

Dengan meninjau sumber dan mekanisme keracunan CO, kita dapat

menunjukkan bahwa banyak dari insidek keracunan CO yang tidak disengaja adalah

dapat dicegah melalui pendidikan masyarakat yang tepat. Pemasangan dan

penggunaan perlatan yang tepat dan juga pengimplementasian sistem ventilasi yang

baik merupakan solusi yang tidak mahal, namun jika kita dapat menerapkannya,

maka kita akan dapat mencegah kasus keracunan. Secara jelas, kasus-kasus ini

telahlah sering diberitahukan, namun tidaklah ada salahnya jika lebih diintensifkan

lagi penyuluhannya oleh para petugas kesehatan. Beberapa penelitian telah

menunjukkan faktor-faktor resiko kasus keracunan karbon monoksida non-okupansi

(tidak terjadi di tempat kerja), yaitu: kebocoran CO dari kompor di dalam rumah,

kebocoran dari pemanas air, rusaknya fungsi sistem pemanas, buruknya sistem

ventilasi untuk peralatan-peralatan yang membutuhkan bahan bakar, seperti

contohnya pemanas berbahan bakar minyak tanah, tungku yang berbahan bakar batu

bara, kompor portabel, genset listrik berbahan bakar bensin, dan kendaraan bermotor

yang dinyalakan di tempat yang tidak memiliki sistem ventilasi yang baik.

Dengan demikian, jika banyak dari peralata rumah tangga yang dipasang dan

digunakan secara tepat, maka akan banyak dari kasus keracunan CO yang dapat

dicegah.

4.1. Kepedulian dan pemahaman dalam hal keselamatan

Kasus keracunan CO yang tidak disengaja adalah hal yang dapat dicegah

melalui penyuluhan kepada masyarakat.

25
Namun demikian, beberapa hasil dari penelitian-penelitian di Iran

menunjukkan bahwa banyak dari masyarakat yang tidak mengetahui akan gejala

keracunan CO. Dengan demikian, tampaknya bahwa strategi preventif haruslah

diajarkan/ diberitahukan oleh para petugas kesehatan kepada masyarakat, dan harus

diimplementasikan oleh para pembuat kebijakan sebagai sesuatu hal yang wajib.

Pengedukasian masyarakat tentang instruksi pencegahan kebakaran, peningkatan

keamanan akan penggunakan peralatan pemanas dan memasak serta penggunaan

material pemamdam api di rumah serta di tempat industri merupakan sebuah

keharusan. Penggunaan dan pemasangan alarm CO, pengedukasian klien tentang

penggunaan dan pemeliharan peralatan, serta peningkatan pemahaman masyarakat

tentang tanda-tanda awal dan gejala keracunan CO merupakan solusi yang baik dan

harus didukung oleh pemerintah. Tentu saja, perlulah diingat bahwa strategi-strategi

mendasar ini dapatlah menurunkan tingkat morbiditas dan kematian akibat keracunan

CO aksidental. Selain itu, dengan menghindari pengoperasian mesi di ruang tertutup,

pemeriksaan berkala pada peralatan pemanas, dapatlah mencegah banyak kasus

keracunan CO.

4.2. Arahan untuk penelitian di masa mendatang

Diantara informasi yang penting yang diperlukan untuk mengestimasi beban

keracunan CO adalah jumlah individu yang mengunjungi bagian penanganan gawat

darurat dan membutuhkan perawatan di rumah sakit. Tipe data ini adalah dibutuhkan

untuk memahami akan luas, distribusi, dan tren dalam hal paparan CO. sayangnya,

tipe informasi ini tidaklah tersedia atau tidaklah lengkap di dalam penelitian-

penelitian yang kami reviu. Akibatnya, beban rumah sakit secara keseluruhan akibat

26
kasus keracunan CO belumlah diketahui secara akurat. Beberapa penelitian di masa

mendatang haruslah mempertimbangkan data-data ini.

4.3. Keterbatasan/ Kekurangan

Reviu kami masihlah memiliki beberapa kekurangan. Pertama, karena

kurangnya data untuk mengkluster kunjungan pasien ke bagian penanganan gawat

daruat karena keracunan CO, maka kita tidaklah dapat mengestimasi tingkat admisi

yang berkaitan dengan keracunan CO. kedua, tingkat fatalitas kasus antara

penelitian-penelitian yang disertakan tidaklah memiliki heterogentias yang

signifikan. Dengan demikian, tingkat fatalitas kasus gabungan yang diestimasi di

dalam reviu ini haruslah diinterpretasikan secara cermat karena heterogenitas antara

penelitian yang disertakan. Ketiga, akibat kurangnya sistem registrasi yang

terintegrasi, jumlah yang tepat akan kasus keracunan CO (yang fatal maupun yang

non fatal) di Iran tidaklah diketahui secara sangat pasti. Dengan demikian, tingkat

fatalitas kasus yang dilaporkan masih perlu diinterpretasikan dengan seksama.

Keempat, beberapa penelitian dilakukan dengan berdasarkan pada registri rumah

sakit, namun terdapat juga beberapa penelitian lain yang dilakukan dengan

berdasarkan pada catatan para korban yang meninggal dari pusat Medis Forensik;

dengan demikian, estimasi akan jumlah total pasien keracunan CO dapatlah berbeda-

beda. Kelima, pelaporan kasus-kasus keracunan CO fatal dan non fatal yang

distratifikasi berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi, dan musim tidaklah konsisten

(atau tidak lengkap) pada penelitian-penelitian yang kami sertakan; dengan

demikian, kami tidaklah dapat memberikan statistik yang tepat dalam hal ini.

Terakhir, karena tidak lengkapnya informasi yang dilaporkan pada penelitian-

penelitian yang disertakan di dalam reviu kami, maka kamit tidak dapat memberikan

27
banyak informasi lain yang dibutuhkan untuk perencaan dan pembuatan kebijakan di

dalam pencegahan kasus keracunan CO. Dengan tidak melihat kekurangan-

kekurangan tersebut, periode penelitian yang panjang dan generalisabilitas hasil yang

kami dapatkan di negara-negara berkembang seperti contohnya di Iran dapatlah

menjadi dua poin kekuatan yang dimiliki oleh reviu kami. Reviu ini pun membahas

tentang pemahaman saat ini tentang kasus keracunan CO (fatal dan non fatal) di Iran.

Kami berpikir bahwa temuan-temuan yang didapat dari reviu ini adalah cukup

berguna bagi para petugas kesehatan dan para pembuat kebijakan. Penelitian-

penelitian di masa mendatang haruslah dapat mempertimbangkan kekurangan-

kekurangan ini di dalam rancangan penelitian mereka, dan diharapkan dapat

melaporkan variabel-variabel yang penting seperti contohnya jenis kelamin, usia,

tingkat admisi di bagian penanganan gawat darurat, tingkat hospitalisasi, biaya,

status fatalitas, tingkat pendidikan, status pernikahan, status pekerjaan, tempat

tinggal, hari, bulan, dan juga tahun insiden.

5. Kesimpulan

CO merupakan salah satu penyebab keracunan yang paling umum di banyak

negara dan di Iran, hal ini karena banyaknya material dan peralatan rumah dan

industri yang dapat menghasilkan CO. Kami meninjau kasus-kasus keracunan CO di

Iran untuk dapat menginvestigasi karakteristik-karakteristik para korban. Di dalam

reviu kami, tingkat prevalensi gabungan yang terestimasi untuk kasus keracunan CO

adalah 19,55 per 100.000. Sekitar satu pertiga dari angka ini adalah memiliki kaitan

dengan kasus keracunan CO yang bersifat fatal, yang dimana angka ini adalah sama

dengan 4,1 kematian per bulan. Tingkat fatalitas kasus keracunan CO secara

28
keseluruhan adalah 9,5%. Jumlah korban perempuan akibat keracunan CO non fatal

adalah lebih banyak. Namun demikian, korban yang berjenis kelamin laki-laki adalah

yang paling banyak untuk mayoritas dari kasus keracunan CO. Hampir dari seluruh

insiden keracunan CO terjadi pada individu yang berusia muda dengan rerata usia

31,14 tahun (kelompok usia 15-44 tahun) yang memiliki tingkat pendidikan sekolah

menengah. Status pernikahan dari para korban yang dianalisis adalah menikah.

Jumlah tertinggi dari para korban yang dianalisi di dalam reviu kami adalah

mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan lokasi paling sering

terjadinya kasus keracunan CO adalah di rumah. Tampaknya, strategi-strategi

preventif haruslah diedukasikan oleh para petugas kesehatan dan diimplementasikan

oleh para pembuat kebijakan sebagai aturan yang wajib untuk mencegah kemunculan

kasus-kasus baru akan insiden keracunan CO. Penelitian-penelitian di masa

mendatang adalah hal yang dibutuhkan untuk dapat menginvestigasi beban

keracunan CO di negara Iran.

29
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Karbon Monoksida

Karbon monoksida (CO) adalah racun yang tertua dalam sejarah manusia.
Sejak dikenal cara membuat api, manusia senantiasa terancam oleh asap yang
mengandung CO. Gas CO adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
merangsang selaput lendir, sedikit lebih ringan dari udara sehingga mudah
menyebar.1 Setelah keracunan alkohol dan beberapa obat farmaseutikal, kasus
keracunan karbon monoksida (CO) merupakan kondisi keracunan yang paling umum
ditangani di dunia patologi forensik.2

2.2. Etiologi Karbon Monoksida

Gas CO dapat ditemukan pada hasil pembakaran yang tidak sempurna dari
karbon dan bahan-bahan organik yang mengandung karbon. Sumber terpenting
adalah motor yang menggunakan bensin sebagai bahan bakar (Spark Ignition),
karena campuran bahan yang terbakar mengandung bahan bakar lebih banyak
daripada udara sehingga gas yang dikeluarkan mengandung 3-7% CO. Sebaliknya
motor diesel dengan compression ignition mengeluarkan sangat sedikit CO, kecuali
bila motor berfungsi tidak sempurna sehingga banyak mengeluarkan asap hitam yang
mengandung CO.1

Sumber lain CO adalah gas arang batu yang mengandung kira-kira 5% CO,
alat pemanas berbahan bakar gas, lemari es gas dan cerobong asap yang tidak
berfungsi dengan baik. Gas alam jarang sekali mengandung CO, tetapi pembakaran
gas alam yang tidak sempurna tetap akan menghasilkan CO. Pada kebakaran juga
akan terbentuk CO. Asap tembakau dalam orofaring menyebabkan konsentrasi yang
diinhalasi menjadi kira-kira 500 ppm.1

Pada alat pemanas air berbahan bakar gas, jelaga yang tidak dibersihkan pada
pipa air yang dibakar akan memudahkan terjadinya gas CO yang berlebihan.

30
Terdapat banyak penelitian yang mengkaji tentang toksisitas CO, baik di
dalam konteks lingkungan maupun industri. Sekali lagi, pembahasan hal ini hanya
dibatasi pada keterlibatan ahli patologi di dalam fatalitas. Tubuh yang diotopsi
karena terduga (atau terkadang tidak terduga) mengalami keracunan CO akan
menderita kondisi toksik tersebut melalui beberapa cara dibawah ini.

Gas pembuangan kendaraan bermotor


Mesin bensin diketahui dapat memproduksi 5-7 persen CO pada asap
knalpotnya dan persentase ini akan meningkat ketika kendaraannya tidak bergerak
ataupun ketika mesinnya mengalami kerusakan. Mesin diesel diketahui dapat
menghasilkan monoksida yang jauh lebih sedikit dari mesin bensin.2

Normalnya, knalpot pembuangan digunakan untuk menyalurkan gas ke luar


(ke atmosfer), yang dimana hal ini dapat berkontribusi terhadap kontaminasi
monoksida kadar rendah di kota-kota besar, akibatnya, para polisi lalu lintas
diketahui dapat memiliki sampai 10 persen saturasi monoksida di dalam
hemoglobinnya. Ketika asap knalpot terkurung di ruangan yang sempit, maka kadar
yang berbahaya dapat tercipta dengan waktu yang lebih cepat juga. Menurut
kalkulasi, bahwa 1,5 liter bensin, yang digunakan pada kendaraan yang diam di
dalam garasi, dapat menghasilkan konsentrasi yang berbahaya di atmosfir garasi
dalam 10 menit.2
Beberapa pelaku bunuh diri ada yang duduk di dalam mobil di dalam garasi
(dengan jendela mobil yang terbuka) yang mesinnya dibiarkan menyala, sehingga
gas yang dihasilkannya dapat membunuh pelaku bunuh diri tersebut.
Sifat dari efek racun CO yang tidak jelas/ tidak tampak dapat membuat
individu ini tidak mengetahui akan kondisi stupor dan koma yang dapat dirasakan
tiba-tiba.
Kabon monoksida juga dapat mempengaruhi supir yang menjalankan
kendaraan, umumnya karena kerusakan sistem pembuangan sisa bahan bakar, yang
dimana hal ini akan memungkinkan gas masuk melalui lantai atau penyekat mesin ke
ruangan interior mobil. Bahkan terkadang, gas pembuangan yang masuk tiba-tiba ke
dalam ruangan van atau truk yang disebabkan oleh hembusan angin pun juga pernah
terjadi.2

31
Pada pesawat – umumnya pesawat yang kecil dengan mesin yang berada di
dekat kokpit – kebocoran gas buangan dari kompartement/ ruang mesin mungkin
tidak dapat menyebabkan pilot meninggal secara langsung, namun kondisi gangguan
kesehatan akibat CO, dimana pilot dapat bingung, pusing, atau pingsan, yang
kemudian menyebabkan kecelakaan pesawat. Hal ini juga dapat berlaku pada para
pengendara kendaraan di darat yang mengalami gangguan akibat gas sehingga para
sopir ini menjadi tidak mampu mengendarai kendaraannya.2

Kematian juga dapat dialami oleh para penyelam, yang dimana tabung
udaranya dapat terkontaminasi dengan CO selama pengisian tabung yang
menggunakan kompresor berbahan bakar bensin.

Peralatan rumah tangga


Pemanas ruangan di rumah juga dapat menghasilkan CO. Bahan bakar yang
dapat digunakan untuk pemanas ruangan dapatlah berasal dari gas alam, yang bebas
dari kandungan monoksida, namun jika peralatannya mengalami rusak atau
gangguan, produksi CO pun dapat terjadi.
Pemanas yang berbahan bakar parafin atau minyak tanah diketahui dapat
terbakar dengan asupan oksigen yang tidak mencukupi dan bentuk peralatan dengan
bahan bakar hidrokarbon lain dapat mengalami malfungsi, sehingga bahan-bahan
bakar diatas dapat menghasilkan monoksida.
Beberapa penelitian dilakukan terhadap beberapa kasus kematian yang
muncul akibat kesalahan instalasi/ pemasangan peralatan yang berbahan bakar gas
alam, atau karena buruknya sistem ventilasi, yang dimana hal ini dapat
memungkinkan monoksida untuk kembali masuk ke dalam ruangan. Peralatan-
peralatan yang berbahan bakar gas, khususnya pemanas air dapat menjadi satu alasan
kenapa kamar mandi dapat menjadi tempat yang berbahaya. Selain bahaya akibat
listrtik, bathtube untuk berendam, permukaan lantai yang licin dan instrumen-
instrumen yang tajam seperti contohnya pisau cukur, ruangan kamar mandi yang
berukuran kecil pun dapat membuat kamar mandi menjadi tempat dimana kematian
sering terjadi.2

Kebakaran gedung/ tempat tinggal

32
Satu penyebab yang umum akan kematian akibat keracunan monoksida
adalah kebakaran rumah atau gedung. Mayoritas dari kematian pada kasus kebakaran
umumnya tidaklah disebabkan oleh terbakar, melainkan karena para korban yang
menghisap asap. Kematian ini umumnya disebabkan oleh keracunan CO, walaupun
memang terdapat gas-gas lain seperti contohnya sianida, fosgen, dan acrolein.
Banyak dari para korban kebakaran rumah yang meninggal dengan posisi yang jauh
dari api, dan kematian dapat terjadi pada ruangan yang berbeda atau bahkan pada
lantai yang berbeda, karena monoksida diketahui dapat meresap atau menyebar
dengan jarak yang jauh dan membunuh korban ketika tertidur atau terperangkap di
dalam bangunan.2

Proses industri
Banyak dari proses industri yang dapat menyebabkan keracunan monoksida,
khususnya pada industri besi dan baja, dimana producer gas dan water gas dapat
terbentuk dan tersimpan sebagai bagian dari proses manufaktur. Water gas dapat
mengandung 40% CO, dan di masa lampau, gas air ini ditambahkan ke town gas
untuk suplai rumah tangga, yang dimana hal ini dapat menambah kandungan
monoksidanya. Banyak dari proses industri lain, seperti contohnya metode Mond
dalam produksi nikel, yang menggunakan CO, selain itu proses pemanasan yang
menghasilkan gas selama pembakaran juga dapat sangat berbahaya. Di dalam
penambangan batu bara, CO merupakan salah satu gas yang dapat menjadi ancaman
darurat; dimana gas CO dapat keluar langsung dari lipitan batu bara dan juga dapat
terpicu karena keberadaan bara api.2

Pembakaran tidak sempurna


Pembakaran gas api yang tidak sempurna dari semua jenis bahan bakar gas
akan memproduksi CO. Dimana saat api tersebut mengenai benda metalik dengan
permukaan dingin atau permukaan yang dilapisi oleh jelaga, proses oksidasi parsial
terhadap bahan bakar tersebut akan menghasilkan CO. Pada peralatan-peralatan
berbahan bakar butan atau propan, seperti pada karavan dan perahu, pemasangan
yang tidak tepat atau buruknya sistem ventilasi diketahui dapat menghasilkan
monoksida secara perlahan namun berbahaya. Kematian seluruh anggota keluarga

33
pernah terjadi akibat kondisi seperti itu, karena semuanya terpapar dengan CO secara
perlahan sepanjang malam dari lemari es dan peralatan-peralatan lain.2

2.3. Epidemiologi Keracunan Karbon Monoksida


Gas CO adalah penyebab utama dari kematian akibat keracunan di Amerika
Serikat dan lebih dari setengah penyebab keracunan fatal lainnya di seluruh dunia.
Terhitung sekitar 40.000 kunjungan pasien pertahun di unit gawat darurat di Amerika
Serikat yang berhubungan dengan kasus intoksikasi gas CO dengan angka kematian
sekitar 500-600 pertahun yang terjadi pada 1990an. Sekitar 25.000 kasus keracunan
gas CO pertahun dilaporkan terjadi di Inggris. Dengan angka kematian sekitar 50
orang pertahun dan 200 orang menderita cacat berat akibat keracunan gas CO. Di
Singapura kasus intoksikasi gas CO termasuk jarang. Di Rumah Sakit Tan Tock
Seng Singapura pernah dilaporkan 12 kasus intoksikasi gas CO dalam 4 tahun (1999-
2003). Di Indonesia belum didapatkan data berapa kasus keracunan gas CO yang
terjadi pertahun yang dilaporkan.1,2

2.4. Struktur Kimia Karbon Monoksida


Karbon dan oksigen dapat bergabung membentuk senyawa karbon
monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran senyawa organik yang tidak sempurna
dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida
merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal
berbentuk gas yang tidak berwarna. Karbon monoksida terdiri dari satu atom karbon
yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat
dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi antara atom karbon dan
oksigen.3
Karbon monoksida terbentuk apabila terdapat kekurangan oksigen dalam
proses pembakaran. Gas karbon monoksida mempunyai potensi bersifat racun yang
berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu
hemoglobin:
Hemoglobin + CO ↔ COHb (karboksihemoglobin) (3,4)

34
Gambar 1. Oksihemoglobin dan Karboksihemoglobin3,4

Molekul CO memiliki panjang ikat 0,1128 nm. Perbedaan muatan formal dan
elektronegativitas saling meniadakan, sehingga terdapat momen dipol yang kecil
dengan kutub negatif di atom karbon walaupun oksigen memiliki elektronegativitas
yang lebih besar. Alasannya adalah orbital molekul yang terpenuhi paling tinggi
memiliki energi yang lebih dekat dengan orbital p karbon, yang berarti bahwa
terdapat rapatan elektron yang lebih besar dekat karbon. Selain itu, elektronegatif
karbon yang lebih rendah menghasilkan awan elektron yang lebih baur, sehingga
menambah momen dipol. Ini juga merupakan alasan mengapa kebanyakan reaksi
kimia yang melibatkan karbon monoksida terjadi pada atom karbon, dan bukannya
pada atom oksigen. Panjang ikatan molekul karbon monoksida sesuai dengan ikatan
rangkap tiga parsialnya. Molekul ini memiliki momen dipol ikatan yang kecil dan
dapat diwakiliki dengan tiga struktur resonansi:

Resonans paling kiri adalah bentuk yang paling penting. Hal ini diilustrasikan
dengan reaktivitas karbon monoksida yang beraksi dengan karbokation.Dinitrogen
bersifat isoelektronik terhadap karbon monoksida. Hal ini berarti bahwa molekul-
molekul ini memiliki jumlah elektron dan ikatan yang mirip satu sama lainnya. Sifat-
sifat fisika antara N2 dan CO sangat mirip, walaupun CO lebih reaktif.

35
2.5. Mekanisme Keracunan Karbon Monoksida
Karbon monoksida tidak mengiritasi tetapi sangat berbahaya (beracun) maka
gas CO dijuluki sebagai “silent killer” (pembunuh diam-diam). Keberadaan gas CO
akan sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia karena gas itu akan menggantikan
posisi oksigen yang berkaitan dengan haemoglobin dalam darah. Gas CO akan
mengalir ke dalam jantung, otak, serta organ vital. Ikatan kerbosihaemoglobin jauh
lebih kuat 200 kali dibandingkan dengan ikatan antara oksigen dan haemoglobin.
Akibatnya fatal.

Jumlah CO yang diabsorbsi oleh tubuh tergantung pada ventilasi semenit,


durasi paparan, dan konsentrasi relatif karbon monoksida di lingkungan ikatan CO
dengan haemoglobin menimbulkan terjadinya penurunan kapasitas oksigen terhadap
haemoglobin dan penurunan pengiriman oksigen ke sel berdasarkan tiga mekanisme.

a. Berikatan dengan hemoglobin


Saat karbon monoksida terinhalasi maka ia akan mengambil posisi
oksigen yang berikatan dengan hemoglobin, dimana normalnya hemoglobin
akan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Ikatan karbon monoksida dengan

36
hemoglobin memiliki afinitas 200-300 kali dibandingkan ikatan oksigen
dengan hemoglobin sehingga terjadi perubahan reversibel berupa
perpindahan oksigen dari molekul hemoglobin. Efeknya kumulatif dan
bertahan lama, menyebabkan kekurangan pengangkutan oksigen ke jaringan.
Pemberian udara segar yang lama (atau oksigen murni) dibutuhkan untuk
melepaskan ikatan antara CO dan haemoglobin.

Selain itu, pembentukan COHb menyebabkan Hb mengikat oksigen


lebih ketat. Sehingga terjadi pergeseran kurva diasosiasi oksigen-
haemoglobin ke kiri yang berarti tekanan oksigen jaringan berada pada
tingkat terendah. Sehingga oksigen yang dilepaskan ke jaringan menurun
yang berlanjut pada hipoksia. Depresi miokard, vasolidatasi perifer, dan
distrimia ventrikel berperan dalam terjadi hipotensi, penurunan perfusi
jaringan dan selanjutnya terjadi hipoksia jaringan.6,7

b. Berikatan dengan kompleks sitokrom oksidase sehingga terjadi penurunan


respirasi efektif intra sel

Saat karbon monoksida berikatan dengan sitokrom oksidasi, terjadi


disfungsi mitokondria sehingga oksidasi mitokondria untuk menghasilkan
ATP berkurang. Terjadi pembebasan nitrit okside dari sel platelet dan endotel
menjadi bentuk radikal bebas peroksinitrit. Lebih lanjut menginaktifkan
enzim mitokondrial dan merusak endotel vaskular di otak. Hasil akhir berupa
lipid peroksidase (degradasi asam lemak tak jenuh) di otak yang dimulai pada
fase reperfusi sehingga terjadi demieliminasi reversible dari lipid sistem saraf
pusat. Intoksida CO juga bisa menyebabkan stress oksidatif pada sel, dengan
menghasilkan oksigen radikal yang mengkonversi xantin dehirogenase
menjadi xanthin oksidasi.6,7

c. Berikatan dengan mioglobin membentuk karboksi mioglobin (COMb)

CO juga memiliki afinitas tinggi terhadap mioglobin, dan berikatan


secara langsung dengan otot jantung dan skelet yang menyebabkan toksisitas
secara langsung (case history). Ikatan CO dengan mioglobin dapat
mengganggu cardiac out put dan menimbulkan iskemia serebral. Ditemukan

37
gejala yang lambat muncul akibat terpapar kembali CO dengan peningkatan
kadar COHb. Hal ini dikarenakan lambatnya pelepasan ikatan CO dengan
mioglobin setelah berikatan dengan hemoglobin.8

Mekanisme keracunan CO adalah perinhalasi. Absorbsi CO terjadi di paru-


paru di mana CO kontak dengan sel darah merah di kapiler dan mengadakan ikatan
dengan CO-Hb. Karbon monoksida menyebabkan hipoksia jaringan dengan cara
bersaing dengan oksigen untuk melakukan ikatan pada hemeprotein pembawa
oksigen. Di samping itu, lebih kuatnya afinitas hemoglobin terhadap CO mulai dari
30-500 kali lebih kuat dibandingkan afinitas oksigen yang menyebabkan adanya
karboksihemoglobin yang mengganggu afinitas oksigen terhadap sehingga
mengurangi pelepasan oksigen ke jaringan. Namun demikian, ikatan reaksi ini
adalah reversibel.8

Karbon monoksida juga memiliki efek toksik langsung pada tingkat seluler
dengan cara mengganggu respirasi mitokondria, karena karbon monoksida terikat
pada kompleks sitokrom oksidase. Berbeda dengan hemoglobin, afinitas sitokrom
oksidase lebih kuat terhadap oksigen. Akan tetapi selama anoksia seluler, karbon
monoksida dapat terikat pada sitokrom oksidase tersebut.7

Oleh karena afinitas hemoglobin yang lebih kuat terhadap karbon


monoksida, konsentrasi rendah di udara dapat menghasilkan saturasi darah yang
tinggi dengan gas ini. Kelembaban, suhu lingkungan yang tinggi, pada daerah
ketinggian dan afinitas fisik akan meningkatkan kecepatan respirasi, dan juga
absorbsi karbon monoksida. The Occupational Safet and Health Administration
(OSHA) menganjurkan batas keterpaparan maksimum yang dapat diterima adalah
35 ppm selama 8 jam.

Untuk alasan keamanan, para pekerja yang terpapar karbon monoksida


seharusnya tidak pernah memiliki karboksihemoglobin darah di atas 5%.
Peningkatan kadar karboksigemoglobin sebesar 10-14% sudah pernah ditemukan
pada pemadam kebakaran setelah memadamkan kebakaran. Peningkatan kadar
karboksihemoglobin sebesar 13% dapat juga ditemukan pada polisi yang bertugas
diterowongan atau pekerja-pekerja dibengkel di mana kendaraan bermotor

38
dinyalakan. Jadi asfiksia dengan kegagalan pernapasan atau sirkulasi merupakan
sebab kematian dari kematian karbon atau kombinasi dari kedua hal tersebut di atas.
5,7

2.6. Farmakokinetik

Karbon monoksida (CO) hanya diserap melalui paru dan sebagian besar
diikat oleh hemoglobin secara reversibel (tidak tetap) dan membentuk karboksi-
hemoglobin. Selebihnya mengikat diri dengan mioglobin dan beberapa protein heme
ekstravaskuler lain. Ikatan CO dengan Hb tidak tetap dan setelah CO dilepaskan oleh
Hb, sel darah merah tidak mengalami kerusakan. Absorbsi atau ekskresi CO
ditentukan oleh kadar CO dalam udara lingkungan (ambient air), kadar COHb
sebelum pemaparan (kadar COHb inisial), lamanya pemaparan dan ventilasi paru.
Bila orang yang telah mengabsorbsi CO dipindahkan ke udara bersih dan berada
dalam keadaan istirahat, maka kadar COHb semula akan berkurang 50% dalam
waktu 4- 5 jam. Dalam waktu 6-8 jam darahnya tidak mengandung COHb lagi.
Inhalasi O2 mempercepat ekskresi CO sehingga dalam waktu 30 menit kadar COHb
telah berkurang setengahnya dari kadar semula.9

2.7. Farmakodinamik

Karbon monoksida (CO) bersaing dengan O2 dalam mengikat protein heme


yaitu hemoglobin, mioglobin, sitokrom oksidase (sitokrom a, a3) dan sitokrom p-450
serta peroksidase dan katalase. Diikatnya Hb menjadi COHb, menyebabkan Hb
menjadi inaktif, sehingga kemampuan darah untuk mengangkut O2 berkurang.
Selain itu, adanya COHb dalam darah akan menghambat disosiasi Oxi-Hb, dengan
demikian jaringan akan mengalami hipoksia. Hipoksia jaringan juga disebabkan
karena reaksi CO dengan sitokrom a3 yang merupakan link penting dalam sistem
enzim pernapasan sel yang terdapat dalam mitokondria sehingga menghambat
pernapasan sel. Hipoksia jaringan ini mempresipitasi sel endothelial dan platelet
untuk melepaskan nitrit oxide yang kemudian membentuk radikal bebas
peroxynitrate. Lebih jauh pada otak kejadian ini menyebabkan gangguan
mitokondria, kebocoraan kapiler, sekuestrasi leukosit dan apoptosis. 9

39
Konsentrasi CO dalam udara lingkungan dan lamanya inhalasi menentukan
timbulnya gejala-gejala atau bahkan kematian dalam waktu singkat. Pada 50 ppm
(0,005%) adalah TLV (Threshold Limit Value, nilai ambang batas) gas CO yaitu
konsentrasi CO dalam udara lingkungan yang dianggap aman pada inhalasi selama 8
jam setiap hari dan 5 hari setiap minggu untuk jumlah tahun yang tidak terbatas.
Pada 200 ppm (0,02%), inhalasi 1-3 jam akan mengakibatkan kadar COHb mencapai
15-20% saturasi dan gejala keracunan CO mulai timbul. Pada 1000 ppm (0,1%),
inhalasi 3 jam dapat menyebabkan kematian, sedangkan pada 3000 ppm (0,3%),
inhalasi 2 jam sudah dapat menyebabkan kematian. Pada 10.000 ppm (1%) inhalasi
15 menit dapat menyebabkan kehilangan kesadaran dengan COHb 50% saturasi,
sedangkan inhalasi 20 menit menyebabkan kematian dengan COHb 80% saturasi. 9

Rumus Handerson dan Haggard berlaku bagi orang dalam keadaan istirahat.
Konsentrasi CO dalam udara dinyatakan dalam ppm dan lamanya inhalasi dalam
jam. Bila hasil perkalian (Waktu) dan (Konsentrasi) = 300, tidak ada gejala yang
muncul. Bila hasil perkalian adalah 900, telah timbul gejala sakit kepala rasa lelah
dan mual, sedangkan hasil 1500 menandakan bahaya dan dapat berakibat fatal.
Selain konsentrasi CO dalam udara, lamanya inhalasi, ventilasi paru dan kadar
COHb sebelum terkena CO, terdapat faktor faktor lain yang turut mempengaruhi
toksisitas CO yakni aktivitas fisik, penyakit yang menyebabkan gangguan oksigenasi
jaringan seperti arteriosklerosis pembuluh darah otak dan jantung, emfisema paru,
asma bronchial, dan TB paru. 9

Keracunan karbon monoksida dapat menyebabkan turunnya kapasitas


transportasi oksigen dalam darah oleh hemoglobin dan penggunaan oksigen di
tingkat seluler. Karbon monoksida mempengaruhi berbagai organ di dalam tubuh,
organ yang paling terganggu adalah yang mengkonsumsi oksigen dalam jumlah
besar, seperti otak dan jantung. Hipoksia yang memanjang akibat peningkatan kadar
CO dapat menyebabkan aritmia atau gagal jantung dan berbagai macam sekuel
neurologis. 9

2.8. Tanda Klinis Keracunan Karbon Monoksida4

40
Keracunan yang disebabkan oleh CO akut sangat bervariasi dapat ringan,
sedang dan berat. Gejala yang muncul berkorelasi dengan level COHb seperti pada
tabel di bawah. Tidak adanya gejala yang spesifik pada keracunan CO membuat
diagnosis menjadi sulit, sehingga diperlukan riwayat penyakit terdahulu pada pasien.

Gambar. Presentase Gejala Akut Setelah Paparan CO

Efek yang paling sering muncul dari keracunan CO adalah hipoksia jaringan.
Efek ini akan lebih signifikan pada daerah dengan aliran darah dan penggunaan
oksigen yang banyak, sehingga manifestasi pada sistem saraf dan kardiovaskular
menjadi gejala yang biasa muncul. Hal ini karena saraf, jantung dan pembuluh darah
adalah jaringan yang memiliki resiko terbesar pada kasus intoksikasi CO.

41
Gejala yang biasa muncul adalah kelelahan, sakit kepala, pusing, kesulitan
berpikir, mual, dipsneu, kelemahan dan konfusi. Diare, nyeri perut, gangguan
penglihatan, dan nyeri dada lebih jarang ditemukan.

Kesalahan diagnosis sering terjadi karena beragamnya keluhan dan gejala


pada pasien. Gejala-gejala yang muncul sering mirip dengan gejala penyakit lain.
Pada anamnesa secara spesifik didapatkan riwayat paparan oleh gas CO. Penderita
trauma inhalasi atau penderita luka bakar harus dicurigai kemungkinan terpapar dan
keracunan gas CO. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan takikardi, hipertensi
atau hipotensi, hipertermia, takipnea. Pada kulit biasanya didapatkan wama kulit
yang merah seperti buah cherry, bisa juga didapatkan lesi di kulit berupa eritema dan
bula.

% Saturasi Gejala-gejala
COHb
10 Tidak ada
10-20 Rasa berat pada kening, mungkin sakit kepala ringan, pelebaran
pembuluh darah subkutan, dispneu, gangguan koordinasi.
20-30 Sakit kepala, berdenyut pada pelipis, emosional.
30-40 Sakit kepala keras, lemah, pusing, penglihatan buram, mual,
muntah, ataksia.
40-50 Sama dengan yang tersebut diatas tetapi dengan kemungkinan
besar untuk kolaps atau sinkop. Pernapasan dan nadi bertambah
cepat, ataksia
50-60 Sinkop , pernapasan dan nadi bertambah cepat, koma dengan
kejang intermiten, pernapasan cheyne stokes.
60-70 Koma dengan kejang, depresi jantung dan pernapasan, mungkin
mati
70-80 Nadi lemah, pernapasan lambat, gagal pernapasan dan mati.
Gambar. Gejala keracunan CO berkaitan dengan kadar COHb dalam darah

Pada pemeriksaan fisik, seperti gejala dapat membantu untuk


menegakkaan diagnosis. Takikardia dan takipneu biasa muncul sebagai cara sistem
respirasi dan kardiovaskuler untuk mengkompensasi penurunan pengangkutan oksigen

42
ke perifer. Hipertensi ringan dapat muncul pada beberapa pasien, sedangkan pada
pasien yang lain dapat muncul hipotensi akibat hipoksia miokardium.

Penemuan neurologis yang biasa ditemukan adalah sakit kepala, mual,


muntah, pusing, letargi dan kelemahan. Pada bayi, mungkin muncul iritabilitas dan
tidak mau makan, pingsan, dan kejang. Pada kasus keracunan yang ekstrim
dapat menyebabkan edema serebri. CT Scan dan MRI menunjukkaan bagian putih
lebih sensitif terhadap hipoksia serebral pada keracunan CO. meskipun bagian abu-
abu memiliki metabolisme oksigen yang lebih besar, bagian putih memiliki limit
toleransi suplai vaskuler yang terbatas akibat penurunan tekanan oksigen dan ini
meningkatkan kerantanan akan kerusakan selama terjadi hipoksia jaringan. Sekuel
yang terlambat, muncul pada lebih dari 45% pasien yang muncul secara perlahan
dari tiga hari sampai tiga minggu setelah paparan awal dan terapi pada keracunan
akut. Pembentukan dari sekuel yang terlambat dapat diprediksikan dengan
munculnya perubahan neurologis yang dilihat dengan CT Scan dalam waktu 24 jam
setelah paparan. hasilnya berupa gangguan neurologis berupa deteriorasi intelektual,
gangguan memori, dan perubahan kepribadian dengan manifestasi berupa
peningkatan iritabilitas, agresivitas dan kekerasan. Jika diberikan terapi yang tepat,
saat terapi awal, banyak dari sekuel ini dapat di cegah. 9

Warna merah (Cherry-red) pada kulit menjadi tanda sepesifik pada keracunan
CO, tetapi ini jarang ditemukan. Perdarahan retina, jarang ditemui, namun jika ada
dapat menguatkan diagnosis. Penemuan tanda inhalasi asap seperti rambut hidung
yang terbakar, mucus yang hangus, atau trauma pada mukosa hidung dapat menjadi
perhatian. Jika tanda ini ditemukan, kemungkinan pasien menderita keracunan CO
yang berat. 9

Pada korban koma dapat ditemukan sianosis dan pucat, pernapasan cepat,
mungkin pernapasan cheyne-stokes menjelang kematian pernapasan menjadi lambat.
Nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah, pupil melebar, dan reaksi cahaya
menghilang, suhu badan di bawah normal, tetapi pada keadaan terminal mungkin
malah terjadi hipertermia. 9

43
Diagnosis kematian akibat keracunan gas CO ditegakkan dengan bantuan
hasil pemeriksaan di TKP (tempat kejadian perkara) atau gambaran klinik saat
korban baru dirawat. 9

2.9. Pemeriksaan Klinis Keracunan Karbon Monoksida4

Diagnosis keracunan CO pada korban hidup biasanya berdasarkan anamnesis


adanya kontak dan ditemukannya gejala keracunan CO. Pada korban yang mati tidak
lama setelah keracunan CO ditemukan lebam mayat berwarna merah muda terang
(Cherry Pink Colour) yang tampak jelas bila kadar COHb mencapai 30% atau lebih.
Warna lebam mayat seperti ini dapat ditemukan pada mayat yang didinginkan, pada
korban keracunan sianida dan pada orang yang mati akibat infeksi oleh jasad renik
yang mampu membentuk nitrit, sehingga dalam darahnya terbentuk nitroksi-
hemoglobin (nitric-oxide Hb). Meskipun demikian, masih dapat dibedakan dengan
pemeriksaan sederhana. Pada mayat yang didinginkan dan pada keracunan CN,
penampang ototnya berwarna biasa, tidak merah terang. Juga pada mayat yang
didinginkan warna merah terang lebam mayatnya tidak merata, selalu masih
ditemukan daerah yang keunguan (livid). Sedangkan pada keracunan CO, jaringan
otot, viscera, dan darah juga berwarna merah terang. Selanjutnya tidak ditemukan
tanda khas lain. Kadang-kadang dapat ditemukan tanda asfiksia dan hyperemia
visera. Pada otak besar dapat ditemukan petekiae di substasia alba bila korban dapat
bertahan hidup lebih dari ½ jam.

Pada analisa toksikologi darah akan ditemukan adanya COHb. Pada korban
keracunan CO yang tertunda kematiannya sampai 72 jam, maka seluruh CO telah
diekskresi dan darah tidak mengandung COHb lagi, sehingga ditemukan lebam
mayat seperti livid biasa, demikian juga jaringan otot, viscera dan darah. Untuk
keracunan CO, jika dilakukan pemeriksaan dalam maka organ limpa dapat diperiksa
untuk memastika diagnosis.

Kelainan yang dapat ditemukan adalah kelainan akibat hipoksemia dan


komplikasi yang timbul selama penderita dirawat.

Otak.

44
Pada substansia alba dan korteks kedua belah otak, globus palidus
dapat ditemukan ptekiae. Kelainan ini tidak patognomonik untuk keracunan
CO, karena setiap keadaan hipoksia otak yang cukup lama dapat
menimbulkan ptekiae. Ensefalomalasia simetris dapat ditemukan pada
globus palidus yang juga tidak patognomonik, karena dapat juga ditemukan
pada keracunan barbiturate akut dan arteriosklerotik pembuluh darah korpus
striatum.

Pemeriksaan mikroskopik pada otak memberi gambaran :

 Pembuluh-pembuluh halus yang mengandung trombihialin.


 Nekrosis halus dengan ditengahnya terdapat pembuluh darah yang
mengandung trombihialin dengan perdarahan di sekitarnya, lazimnya
disebut dengan ring hemorrhage.
 Nekrosis halus yang dikelilingi oleh pembuluh-pemb uluh darah yang
mengand ung trombi.
 Ball hemorrhage yang terjadi karena dinding arteriol menjadi nekrotik
akibat hipoksia dan memecah.

Gambar. Ensefalomalasia Simetris Globus Palidus

Miokardium.

Dapat ditemukan perdarahan dan nekrosis, paling sering di muskulus


papilaris ventrikel kiri. Pada penampang memanjangnya tampak bagian ujung

45
muskulus papilaris berbercak-bercak perdarahan atau bergaris-garis seperti
kip as berjalan dari tempat insersio tendinosa ke dalam otot. Kadang-kadang
ditemukan p eradarahan pada otot ventrikel terutama di subperikardial dan di
subendokardial. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan perangai sesuai
dengan infark miokardium akut.

Ginjal.

Terjadi nekrosis tubulus ginjal yang secara mikroskopis seperti payah


ginjal.

Kulit.

Ditemukan eritema dan vesikel /bula pada kulit dada, perut, muka,
atau anggota gerak badan, baik di tempat yang tertekan maupun yang tidak
tertekan. Kelainan tersebut disebabkan oleh hipoksia pada pembuluh kapiler
di bawah kulit. Selain itu juga bisa didapatkan lebam mayat berwarna merah
bata.

Paru.

Pneumonia hipostatik paru mudah terjadi karena gangguan peredaran


darah. Dapat terjadi thrombosis arteri pulmonalis.

Peredaran Darah.

Terdapat gangguan peredaran darah akibat perubahan degeneratif


miokardium yang memudahkan terbentuknya trombus. Trombus dalam
ventrikel kiri (mural trombus) mungkin mengakibatkan infark otak
sedangkan trombus dalam a. femoralis mungkin menyebabkan timbulnya
ganggren.

Pada kasus yang kematiannya tidak segera terjadi (delayed death) diagnosis
kematian harus didasarkan atas bukti-bukti di sekitar kejadian (Circumstansial
evidences), ditemukannya perubahan akibat hipoksia dan disingkirkannya
kemungkinan lain yang dapat menyebabkan perubahan hipoksik tersebut.

46
Pemeriksaan histologik perlu dilakukan pada substansia alba, korteks serebri,
serebelum, ammon`s horn dan globus palidus.

2.10. Pemeriksaan Penunjang Keracunan Karbon Monoksida

2.10.1. Pemeriksaan Laboratorium

Analisa kadar HbCO membutuhkan alat ukur spectrophotometric yang


khusus. Kadar HbCO yang meningkat menjadi signifikan terhadap paparan gas
tersebut. Sedangkan kadar yang rendah belum dapat menyingkirkan kemungkinan
terpapar, khususnya bila pasien telah mendapat terapi oksigen 100% sebelumnya
atau jarak paparan dengan pemeriksaan terlalu lama. Pada beberapa perokok,terjadi
peningkatan ringan kadar CO sampai 10%. Pemeriksaan gas darah arteri juga
diperlukan. Tingkat tekanan oksigen arteri (PaO2) harus tetap normal.Walaupun
begitu, PaO2 tidak akurat menggambarkan derajat keracunan CO atau terjadinya
hipoksia seluler. Saturasi oksigen hanya akurat bila diperiksa langsung, tidak melaui
PaO2 yang sering dilakukan dengan analisa gas darah. PaO2menggambarkan
oksigen terlarut dalam darah yang tidak terganggu oleh hemoglobin yang mengikat
CO. Untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat dikerjakan uji dilusi alkali.10

Caranya adalah sebagai berikut :

 Ambil 2 tabung reaksi, masukkan ke dalam tabung pertama 1-2 tetes darah

korban dan tabung kedua 1-2 tetes darah normal sebagai kontrol.

 Encerkan masing-masing darah dengaan menambahkan 10 ml air

sehingga warna merah pada kedua tabung kurang lebih sama.

 Tambahkan pada masing-masing tabung 5 tetes larutan NaOH 10-20% lalu


dikocok.
 Darah normal segera berubah warna menjadi merah-hijau kecoklatan karena
segera terbentuk hematin alkali, sedangkan darah yang mengandung COHb
tidak berubah warnanya selama beberapa waktu ,tergantung pada konsentrasi
COHb, karena COHb bersifat lebih resistenterhadap pengaruh alkali.

47
 COHb dengan kadar saturasi 20% memberi warna merah muda yang
bertahan selama beberapa detik dan setelah 1 menit baru berubah warna
menjadi coklat kehijauan.

Perlu diperhatikan bahwa darah yang dapat digunakan sebagai control dalam uji
dilusi alkali ini haruslah darah dengan Hb yang normal. Jangan gunakandarah fetus
karena juga resisten terhadapa lkali.

Selain dengan uji dilusi alkali seperti di atas, dapat juga dengan
menggunakan uji formalin (Eachlolz-Liebman) yakni dengan cara darah yang akan
diperiksa ditambahkan larutan formalin 40% sama banyaknya. Bila darah
mengandung COHb 25% saturasi maka akan terbentuk koagulat berwarna merah
yang mengendap pada dasar tabung reaksi. Semakin tinggi kadar COHb, semakin
merah warna koagulatnya, sedangkan pada darah normal akan terbentuk koagulat
yang berwarna cokelat. Pemeriksaan adanya COHb dalam darah juga dapat melalui
penentuan secara spektroskopis. Pemeriksaan kuantitatif CO dapat dilakukan dengan
cara Getler-Freimuth, spektrofotometrik maupun kromatografi gas.Cara Getler-
Freimuth(Semi-kuantitatif) menggunakan prinsip sebagai berikut :

Darah + Kalium ferisianida > CO dibebaskan dari COHb


CO + PdCl2 +H2O > Pd + CO2 + HCl

Paladium (Pd) ion akan diendapkan pada kertas saring berupa endapan
berwarna hitam. Dengan membandingkan intensitas warna hitam tersebut dengan

warna hitam yang diperoleh dari pemeriksaan terhdap darah dengan kadar COHb
yang telah diketahui., maka dapat ditentukan konsentrasi COHb secara
semikuantitatif.10

Cara spektrofotometrik adalah cara terbaik untuk melakukan analisis CO atas


darah segar korban keracunan CO yang masih hidup, karena hanya dengan cara ini
dapat ditentukan rasio COHb : OxiHb. Darah mayat adalah darah yang tidak segar,
sehingga memberikan hasil yang tidak dapat dipercaya.10

48
Cara kromatografi gas banyak dipakai untuk mengukur kadar CO dari sampel
darah mayat (darah tidak segar) dan cukup dapat dipercaya.10

2.10.2. Pemeriksaan Pencitraan

Pemeriksaan foto thorax perlu dilakukan pada kasus kasus keracunan gas dan
saat terapi oksigen hiperbarik diperlukan. Hasil pemeriksaan foto thorax biasanya
dalam batas normal. Adanya gambaranground-glass appearance, perkabutan
parahiler, dan intra alveolar edema menunjukkan prognosis yang lebih jelek.CT scan.
Pemeriksaan CT Scan kepala perlu dilakukan pada kasus keracunan berat gas CO
atau bila terdapat perubahan status mental yang tidak pulih dengan cepat. Edema
serebri dan lesi fokal dengan densitas rendah pada basal ganglia bisa didapatkan dan
halo tersebut dapat memprediksi adanya komplikasi neurologis. Pemeriksaan MRI
lebih akurat dibandingkan dengan CT Scan untuk mendeteksi lesi fokal dan
demyelinasi substansia alba dan MRI sering digunakan untuk follow up pasien.
Pemeriksaan CT Scan serial diperlukan jika terjadi gangguan status mental yang
menetap. Pernah dilaporkan hasil CT Scanadanya hidrosefalus akut pada anak-anak
yang menderita keracunan gas CO.10

2.10.3. Pemeriksaan Lain-lain

Elektrokardiogram. Sinus takikardi adalah ketidaknormalan yang sering


didapatkan. Adanya aritmia mungkin disebabkan oleh hipoksia iskemia atau infark.
Bahkan pasien dengan kadar HbCO rendah dapat menyebabkan kerusakkan yang
serius pada pasien penderita penyakit kardiovaskuler.

Pulse oximetry. Cutaneus pulse tidak akurat untuk mengukur saturasi


hemoglobin yang dapat naik secara semu karena CO yang mengikat
hemoglobin.Cooximetry (darah arteri) menggunakan tehnik refraksi 4 panjang
gelombangdapat secara akurat mengukur kadar HbCO.11

2.11. Penanganan dan Terapi Keracunan Karbon Monoksida

Penanganan pada kasus keracunan karbon monoksida diarahkan pada


perbaikan hipoksia jaringan dan menghilangkan karbon monoksida dari dalam tubuh.

49
Pemberian 100% oksigen normobarik direkomendasikan pada banyak kasus,
sedangkan terapi oksigen hiperbarik digunakan untuk keracunan yang parah.11

2.11.1. Perawatan Saat di Unit Gawat Darurat

Target terapi pada keracunan CO akut adalah mereduksi kadar COHb di


dalam darah ke level dasar dengan pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi
membantu setiap sistem yang terpengaruh akibat hipoksia. Pemberian oksigen 100 %
dilanjutkan sampai pasien tidak menunjukkan gejala dan tanda keracunan dan kadar
HbCO turun dibawah 10%. Pada pasien yang mengalami gangguan jantung dan paru
sebaiknya kadar HbCO dibawah 2%. Lamanya durasi pemberian oksigen
berdasarkan waktu-paruh HbCO dengan pemberian oksigen 100% yaitu 30 - 90
menit. Pertimbangkan untuk segera merujuk pasien ke unit terapi oksigen hiperbarik,
jika kadar HbCO diatas 40 % atau adanya gangguan kardiovaskuler dan neurologis.
Apabila pasien tidak membaik dalam waktu 4 jam setelah pemberian oksigen dengan
tekanan normobarik, sebaiknya dikirim ke unit hiperbarik. Edema serebri
memerlukan monitoring tekanan intra cranial dan tekanan darah yang ketat. Elevasi
kepala, pemberian manitol dan pemberian hiperventilasi sampai kadar PCO2
mencapai 28-30 mmHg dapat dilakukan bila tidak tersedia alat dan tenaga untuk
memonitor TIK. Pada umumnya asidosis akan membaik dengan pemberian terapi
oksigen.11

2.11.2. Terapi Oksigen Hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik (HBO) masih menjadi kontroversi dalam


penatalaksanaan keracunan gas CO. Meningkatnya eliminasi HbCO jelas terjadi,
pada beberapa penelitian terbukti dapat mengurangi dan menunda defek neurologis,
edema serebri, perubahan patologis sistem saraf pusat. Secara teori HBO bermanfaat
untuk terapi keracunan CO karena oksigen bertekanan tinggi dapat mengurangi
dengan cepat kadar HbCO dalam darah, meningkatkan transportasi oksigen
intraseluler, mengurangi aktifitas-daya adhesi neutrofil dan dapat mengurangi
peroksidase lipid.11

50
Saat ini, indikasi absolut terapi oksigen hiperbarik untuk kasus keracunan gas
CO masih dalam kontroversi. Alasan utama memakai terapi HBO adalah untuk
mencegah defisit neurologis yang tertunda. Suatu penelitian yang dilakukan
perkumpulan HBO di Amerika menunjukkan kriteria untuk HBO adalah pasien
koma, riwayat kehilangan kesadaran , gambaran iskemia pada EKG, defisit
neurologis fokal, test neuropsikiatri yang abnormal, kadar HbCO diatas 40%,
kehamilan dengan kadar HbCO >25%, dan gejala yang menetap setelah pemberian
oksigen normobarik.11

2.12. Pencegahan Keracunan Karbon Monoksida


2.12.1. Di rumah

Sumber potensial gas karbonmonoksida di rumah antara lain:

- Gas knalpot mobil dalam garasi


- Alat pemanggang berbeque di dalam garasi
- Pengering pakaian
- Dapur tanpa ventilasi yang memadai
- Kebocoran tabung gas
- Sumbatan pada cerobong asap rumah
Peringatan:

- Jangan pernah menggunakan peralatan berbahan bakar minyar dan gas di dalam
ruangan, dan jika memungkinkan gunakan peralatan yang digerakkan oleh listrik.
- Memasang detektor karbonmonoksida
- Yakinkan untuk membuka jendela untuk mendapatkan ventilasi yang baik

51
- Jika memiliki generator di rumah anda, yakinkan generator memiliki jarak bebas
sekitar 3-4 kaki di semua sisi dan di atasnya
- Yakinkan semua peralatan yang digunakan di dalam ruangan bekerja dengan
kondisi baik
- Jika mengalami gejala keracunan gas CO segera dapatkan udara segar dan
dapatkan perawatan medis

Gambar. Detektor

2.12.2. Di Tempat Kerja

- Memasang carbon monoside gas detector atau detektor gas CO, yang dilengkapi
dengan alarm, di ruangan di mana gas CO dihasilkan.
- Memastikan bahwa sistem ventilasi terpasang dan beroperasi dengan baik.
- Sebelum melakukan pekerjaan di area tertutup atau confined space, dilakukakn
terlebih dahulu.

52
Gambar. Contoh masker yang dapat dipakai untuk mencegah keracunan CO

2.12.3. Di Dalam Mobil

- secara rutin periksa sistem pembangunan kendaraan anda setiap tahunya,


kebocoran kecil bisa memicu gas karbonmonoksida masuk ke dalam mobil
- jangan menjalankan mobil di dalam garasi kendaraan yang sedang tertutup, gas
karbon monoksida bisa dengan cepat memenuhi ruangan
- jika beristirahat di dalam mobil, jangan menutup semua kaca dan pintu dengan
penyejuk udara masih menyala. Banyak kasus kematian di dalam mobil karena
keracunan gas karbonmonoksida
- periksa sistem AC mobil anda apakah ada kebocoran yang mungkin terjadi

Gambar. Detektor CO yang dipasang di mobil

2.13. Aspek Hukum


2.13.1. Kasus kecelakaan (Ketidaksengajaan)

53
Pasal 359 KUHP

“Barang siapa karena kekhilafanya menyebabkan orang mati, dipidana


dengan penjara selama-lamanya lima tahun, atau pidana kurungan selam-
lamanya satu tahun”. (UU. N.1/1960)

Pasal 360 KUHP

1. Barang siapa karena khilafan menyebabkan orang luka berat, dipidana


dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun atau pidana kurungan
selama-lamanya satu tahun.
2. Barang siapa karena kekhilafatnya menyebabkan orang luka
sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak
dapat menjalankan jabatan atau pekerjaanya sementara dipidana dengan
pidana penjara selama-lamanya sembilan bulan atau dipidana dengan
pidana kuruangan selama-lamanya enam bulan atau pidana denda
setinggi-tingginya empat ribu lima ratus rupiah (UU. No. 1 Tahun 1960)
2.12.2. Kasus pembunuhan
Pasal 338 KUHP

“Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang,karena


pembunuhan biasa, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya penjara
lima belas tahun”.

Pasal 340 KUHP

“Barang siapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu


menghilangkan nyawa orang, karena bersalah melakukan pembuhuan
berencana, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau
penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun”.

Sebab kematian seorang korban yang mati karena racun dan diduga karena
suatu tidak pidana, sangat perlu untuk diketahui oleh pihak pengadilan karena
memegang peranan penting dalam menentukan kesalahan yang telah dilakukan oleh
terdakwa, sehingga dengan demikian hakim dapat menjatuhkan pidana yang seadil
mungkin:

54
Apabila kesalahan itu dilakukan tanpa kesengajaan (karena kealpaannya)
maka terdakwa dapat dijatuhi pidana berdasarkan:

Pasal 203 KUHP:

1) “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaanya) menyebabkan bahwa


barang sesutau dimasukan ke dalam sumur, pompa, sumber atau ke dalam
perlengkapan air minum untuk umum atau untuk dipakai oleh bersama-sama
dengan orang lain. Sehingga karena perbuatan ituiar lalu berbahaya bagi
nyawa atau kesehatan orang diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.
2) “Jika perbuatan itu mengakibatkan orang mati, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana
kurungan paling lama satu tahun”.
Pasal 205 KUHP

1) “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan barang-


barang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang, dijual, diserahkan,
atau dibagi-bagikan tanpa diketahui sifat bahaya oleh yang memberli atau
memperoleh diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan
atau pidana kurangan paling lama enam bulan atau pidana denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah
2) “Barang-barang itu dapat disita
Pasal 359 KUHP:

Barang siapa karena kesalahanya (kealpaannya) menyebabkan orang lain,


diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan
paling lama satu tahun.

Apabila perbuatan itu dilakukan dengan sengaja, maka terdakwa dapat dijatuhi
pidana berdasarkan pasal 202 dan 338 KUHP.

55
Apabila tidakan pembunuhan dengan racun itu dilakukan dengan direncanakan
terlebih dahulu, maka terdakwa dapat dijatuhi pidana berdasarkan pasal 304 KUHP
yang berbunyi:

“Barang siapa dengan sengaja dan direncanakan terlebih dahulu merampas


nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan
pidana mati atau pidana seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling
lama dua puluh tahun”

Apabila tindakan itu dilakukan atas permintaan korban, terdakwa dapat dipidana
berdasarkan pasal 344 KUHP yang berbunyi:

“Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaa orang itu sendiri
yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun”

Sesorang yang sengaja menghasut, membantu atau memberi sarana untuk membunuh
diri dengan racun, sehingga korban meninggal dunia, maka terdakwa dapat dijatuhi
pidana berdasarkan pasal 345 KUHP yang berbunyi:

“Barang siapa yang mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya
dalam perbuatan itu atau memberi sarana padanya untuk itu diancam dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Dari pasal-pasal di atas dapatlah dilihat perbedaan lamanya pidana yang


dijatuhkan berdasarkan modus operandi yang dilakukan terdakwa dengan melihat
perbedaan itu, maka hasil pemeriksaan mengenai sebab kematian korban melalui
bedah jenasah sangat diperlukan dengan mengetahui apakah korban diperkirakan
meninggal meninggal karena recun atau bukan dan apakah korban meninggal karena
bunuh diri, kecelakan ataukah karena pembunuhan.

Dalam kasus kematian karena diduga karena racun, bedah jenasah dan
pemeriksaan toksikologinya harus dilakukan dengan teliti dan lengkap (dengan
pemeriksaan histopatologi).

56
Dalam kasus kematian yang diduga karena racun, penyidik harus secepat
mungkin mengajukan permintaan visum et repertum jenazah agar bedah dapat
dilakukan secepat mungkin pula. Pada kasus yang demikian, bedah jenasah harus
dilakukan dengan teliti dan lengkap (dengan pemeriksaan histopatologi).

Apabila dokter menemukan sebab kematian bukan karena racun, misalnya


karena sakit jantung atau penyakit penyakit yang lain, maka penyidik harus menyidik
lagi tempat kejadian pekara. Bila tidak ada kecurigaan bahwa matinya karena racun,
maka pemeriksaan toksikologi dapat dibatalkan.

57
BAB III

KESIMPULAN

Karbon monoksida merupakan suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau,
tidak berasa yang berbahaya bagi manusia. Karbon monoksida merupakan hasil
pembakaran yang tidak sempurna dari senyawa karbon dan oksigen.
Pada TKP korban yang dicurigai keracunan CO harus diperhatikan sumber
dari gas CO. Pada korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan
lebam mayat berwarna merah terang (cherry pink color) yang tampak jelas bila kadar
COHb menempati 30% atau lebih. Pada mayat yang didinginkan dan pada keracunan
CN, penampang ototnya berwarna biasa, tidak merah terang. Juga pada mayat yang
didinginkan warna merah terang lebam mayatnya tidak merata selalu masih
ditemukan daerah yang keunguan (livid). Sedangkan pada keracunan CO, jaringan
otot, visera dan darah juga berwarna merah terang. Kadang-kadang dapat ditemukan
petekiae di substansia alba bila korban dapat bertahan hidup lebih dari ½ jam.

58