Anda di halaman 1dari 22

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Perusahaan

1. Sejarah Singkat PT. Bank Central Asia (BCA), Tbk

Bank Central Asia resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957

dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat

berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter

yang terjadi pada tahun 1997. Krisis ini membawa dampak yang luar biasa

pada seluruh sistem perbankan di Indonesia. Namun secara khusus,

kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat

mengamcam kelanjutannya. Bank nasabah menjadi panik lalu beramai-

rami menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan

dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)

lalu mengambil alih BCA pada tahun 1998.

Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif,

BCA berhasil pulih dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998,

dana pihak ketiga telah ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp

67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun.

Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA

diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia pada tahun 2000. Selanjutnya,

BCA mengambil langkah besar dengan menjadi perusahaan publik.

Penawaran Saham Perdana berlangsung pada tahun 2000, dengan menjual

saham sebesar 22,55% yang berasal dari investasi BPPN.

67
Setelah Penawaran Saham Perdana itu, BPPN menginvestasikan

10% lagi dari saham miliknya di BCA. Dalam tahun 2002, BPPN melepas

51% dari sahamnya di BCA melalui tender penempatan privatyang

strategis. Frindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius,

memenangkan tender tersebut. saat ini, BCA terus memperkokoh tradisi

tata kelola perusahaan yang baik, kepatuhan penuh regulasi, pengelolaan

risiko secara baik dan komitmen pada nasabahnya baik sebagaibank

transaksional maupun sebagai lembaga intermediasi finansial.

2. Visi, Misi dan Tata Nilai Perusahaan

a. Visi Bank Central Asia, Tbk

“Bank pilihan utama andalan masyarakat, yang berperan sebagai pilar

penting perekonomian Indonesia”.

b. Misi Bank Central Asia, Tbk

1) Membangun institusi yang unggul di bidang penyelesaian

pembayaran dan solusi keuangan bagi nasabah bisnis dan

perseorangan.

2) Memahami beragam kebutuhan nasabah dan memebri layanan

finansial yang tepat demi tercapainya kepuasan optimal bagi

nasabah.

3) Meningkatkan nilai francais dan nilai stakeholder BCA.

c. Tata Nilai Bank Central Asia, Tbk

1) Fokus pada Nasabah (Customer Focus)

Memahami, mendalami dan memenuhi kebutuhan pelanggann

dengan cara terbaik.

89
2) Integritas (Integrity)

Jujur, tulus dan lurus.

Nasabah memiliki Bank yang dipercaya.

Kepercayaan dibangun melalui tindakan yang mencerminkan

integritas dan etika bisnis yang tinggi secara konsisten.

3) Kerja Sama Tim (Team Work)

Tim adalah himpunan orang yang memiliki pertalian khas,

komitemen, tata cara, dan sinergi untuk mencapai satu tujuan.

4) Berusaha Mencapai yang Terbaik (Continous Pursuit of

Excellence)

Senantiasa melakukan yang terbaik dengan cara dan kualitas

terbaik.

90
3. Struktur Tata Kelola Perusahaan

Gambar 4.1
Tata Kelola Perusahaan
4. Deskripsi Jabatan

Melihat dan memperhatikan struktur organisasi yang ada serta

penjelasan yang diberikan oleh pihak bank maka, deskripsi dari masing-

masing jabatan diuraikan di halaman berikutnya yaitu:

91
a. Komisaris

Tugas dan tanggung jawabnya :

1) Melakukan pengawasan dan bertanggung jawab atas pengawasan

terhadap kebijakan pengurusan BCA, jalannya pengurusan pada

umumnya, dan memberi nasihat kepada Direksi. Pengawasan oleh

Dewan Komisaris dilakukan untuk kepentingan BCA sesuai

dengan maksud dan tujuan serta Anggaran Dasar BCA.

2) Memastikan terselenggaranya pelaksanaan prinsip-prinsip tata

kelola perusahaan (Good Corporate Governance) dalam setiap

kegiatan usaha BCA pada seluruh tingkatan atau jenjang

organisasi BCA.

3) Mengarahkan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan

kebijakan strategis BCA

4) Memastikan bahwa Direksi telah menindaklanjut temuan audit dan

rekomendasi dari Divisi Audit Internal, Auditor Eksternal, hasil

pengawasan pihak Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia ,

dan/atau Bursa Efek Indonesia.

5) Memberitahukan kepada Otoritas Jasa Keuangan/Bank Indonesia

paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukan pelanggaran

peraturan perundang-undangan di bidang keuangan dan

perbankan, dan/atau keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat

membahayakan kelangsungan usaha BCA.

92
b. Direktur Utama

1) Memimpin dan mengurus BCA sesuai dengan maksud dan tujuan

BCA.

2) Menguasai, memelihara dan mengurus kekayaan BCA untuk

kepentingan BCA.

3) Menciptakan struktur pengendalian internal, menjamin

terselenggranya fungsi Audit Internal dalam setiap tingkatan

manajemen dan menindaklanjuti temuan Divisi Audit Internal

BCA sesuai dengan kebijakan atau arahan yang diberikan Dewan

Komisaris.

4) Menyampaikan Rencana Kerja Tahunan yang memuat juga

Anggaran Tahunan kepada Dewan Komisaris untuk mendapat

persetujuan dari Dewan Komisaris, sebelum dimulainya tahun

buku yang akan datang, dengan memperhatikan ketentuan yang

berlaku.

5) Melaksanakan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan (Good

Corporate Governance) dalam setiap kegiatan usaha BCA pada

seluruh tingkatan atau jenjang organisasi BCA.

Dibawah ini adalah beberapa nama dewan komisaris serta dewan

direksi bank BCA saat ini sebagai berikut :

a) Dewan Komisaris

Komisaris Utama : Djohan Emir Setijoso

Komisaris : Tonny Kusnadi

Komisaris Independen : Cyrillus Harinowo

93
Komisaris Independen : Raden Pardede

Komisaris Independen : Sumatri Slamet

b) Dewan Direksi

Direktur Utama : Jahja Setiaatmadja

Wakil Direktur Utama : Eugede Keith Galbraith

Wakil Direktur Utama : Armand Wahyudi Hartono

Direktur :Suwignyo Budiman

Direktur : Subur Tan

Direktur : Henry Koenaifi

Direktur : Erwan Yuris Ang

Direktur : Rudy Susanto

Direktur : Lianawaty Suwono

Direktur : Santoso

Direktur : Inawaty Handoyo

B. Hasil dan Pembahasan

1. Capital Adequacy Ratio (CAR) pada Bank Central Asia, Tbk

Menurut Kasmir (2014:46), Capital Adequacy Ratio (CAR)

adalah perbandingan rasio antara rasio modal terhadap Aktiva

Tertimbang Menurut Resiko dan sesuai ketentuan pemerintah. Capital

Adequacy Ratio (CAR) menurut Dendawijaya (2005:121) dapat

dihitung dengan menggunakan rumus :

Modal Bank
CAR = × 100%
Aset Tertimbang menurut risiko

94
Tabel 4.1
Perhitungan Capital Adequacy Ratio (CAR)
Pada Bank Central Asia, Tbk
Tahun Modal (Rp) ATMR (Rp) CAR (%)
2012 46.304.184 315.123.731 14,7
2013 58.604.765 365.510.273 16
2014 70.961.097 411.665.878 17,2
2015 89.624.490 483.083.499 18,6
2016 112.433.077 517.789.779 21,7

2. Non-Performing Loan (NPL) Pada Bank Central Asia,Tbk

Non Performing Loan (NPL) merupakan persentase jumlah

kredit bermasalah (kurang lancar, diragukan, macet) terhadap total

kredit, adapun rumus dari Non Performing Loan (NPL) adalah

(Kusumawati, 2008):

Kredit Bermasalah
NPL = ×100%
Total Kredit

Tabel 4.2
Perhitungan Non-Performing Loan (NPL)
Pada Bank Central Asia, Tbk
Tahun Kredit Bermasalah Total Kredit NPL (%)
(Rp) (Rp)
2012 983.328 252.211.007 0,38
2013 1.372.760 306.203.573 0,44
2014 2.068.136 339.306.154 0,60
2015 2.801.255 377.669.347 0,74
2016 5.451.447 400.521.269 1,36

3. Return On Assets (ROA) Pada PT Bank Central Asia,Tbk

Return On Asset (ROA) menurut Kasmir (2012:201) adalah rasio

menanjukan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam

perusahaan. Selain itu Return On Asset (ROA) memberikan ukuran

yang lebih baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukan

95
efektivitas manajemen dalam menggunakn aktiva untuk memperoleh

pendapatan. Return On Asset (ROA) digunakan untuk mengukur

efektivitas perubahan dalam menghasilkan keuntungan dengan

memanfaatkan aktiva yang dimiliki oleh Return On Asset (ROA)

merupakan rasio antara laba sebelum pajak terhadap total aset. Rumus

untuk menghitung return on assets (ROA) adalah sebagai beritut:

𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘


ROA= × 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡

Tabel 4.3
Perhitungan Return On Assets (ROA)
Pada Bank Central Asia, Tbk
Tahun Laba Bersih Sebelum Total Aset (Rp) ROA
Pajak (Rp) (%)
2012 14.686.046 442.994.197 3,6
2013 17.815.606 496.304.573 3,8
2014 20.741.121 552.423.892 3,9
2015 22.657.114 594.372.770 3,8
2016 25.839.200 676.738.753 4,0

4. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif mengemukakan gambaran umum mengenai

data, dimana kita dapat mengemukakan informasi riil mengenai data

penelitian yang digunakan. Berikut ini analisis deskriptif dalam

penelitian ini pada halaman berikutnya:

96
Tabel 4.4
Uji Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Std.
Statistic Statistic Statistic Statistic Error Statistic

CAR 5 14,20 21,90 17,4800 1,32831 2,97019


NPL 5 ,40 1,30 ,6800 ,16553 ,37014
ROA 5 3,60 4,00 3,8200 ,06633 ,14832
Valid N
5
(listwise)
Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Dari tabel 4.4 di atas, dapat dilihat bahwa variabel dependen yaitu

Return On Asset (ROA) (Y) dengan jumlah data sebanyak 5 memiliki

nilai terkecil (min) sebesar 3,60 dan nilai terbesar (max) sebesar 4 dan

nilai rata-rata 3,8200 dan standar deviasi sebesar 0,14832. Capital

Adequacy Ratio (CAR) (X1) dengan jumlah data sebanyak 5 memiliki

nilai terkecil (min) sebesar 14,20 dan nilai terbesar (max) sebesar

21,90 dan nilai rata-rata 17,4800 dan standar deviasi sebesar 2,97019.

Non Performing Loan (NPL) (X2) dengan jumlah data sebanyak 5

memiliki nilai terkecil (min) sebesar 0,40 dan nilai terbesar (max)

sebesar 1,30 dan nilai rata-rata 0,16553 dan standar deviasi sebesar

0,37014.

5. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Hasil pengujian normalitas data pada variabel CAR dan NPL

terhadap ROA diperoleh hasil pada halaman berikutnya:

97
Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Gambar 4.2
Normal Probability Plot
Dari hasil normal probability plot diatas dapat dilihat bahwam

titik-titik plot mengikuti dan mendekati garis diagonalnya

sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi

asumsi normalitas.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam

model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas

(independen). Dalam model regresi yang baik seharusnya tidak

terjadi korelasi di antara variabel bebas.

Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan

variance inflation factor (VIF) dari hasil analisis dengan

98
menggunakan SPSS. Apabila tolerancevalue lebih tinggi daripada

0,10 atau VIF lebih kecil daripada 10 maka dapat disimpulkan

tidak terjadi multikolinearitas, Santoso (2002:206)

Table 4.5
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa

Unstandardized Standardized Collinearity


Coefficients Coefficients Statistics

Model B Std. Error Beta T Sig. Tolerance VIF

1(Constant) 2,896 ,845 3,425 ,076


CAR ,058 ,068 1,163 2,848 ,046 ,776 3,228

NPL -,134 ,549 -,335 -,244 ,830 ,776 3,228

a. Dependent Variable: ROA


Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Berdasarkan data diatas dapat dilihat nilai tolerancevalue lebih

tinggi daripada 0,10 yaitu sebesar 0,776 serta VIF lebih kecil

daripada 10 yaitu sebesar 3,228 maka dapat disimpulkan tidak

terjadi multikolinearitas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam

sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual

suatu pengamatan ke pengamatan lain. Model regesi yang baik

tidak terdapat heteroskedastisitas, yaitu model regesi yang

memiliki persamaan variance residual suatu periode pengamatan

yang lain. Uji heteroskedastisitas ini dapat dilihat pada gambar

yang terdapat di bawah ini.

99
Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Gambar 4.3
Scatterplot
Berdasarkan gambar hasil pengelolaan SPSS (Scatterplot)

di atas maka dapat dilihat titik residual menyebar secara acak

merata, tidak terjadi pengelompokkan data yang signifikan,

sehingga data ini telah memenuhi syarat heteroskedastisitas, yang

artinya data dapat dilanjutkan dalam pengujian regesi.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model

regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada

periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika

100
terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model

regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.

Untuk mengetahui uji autokorelasi dapat menggunakan uji Durbin-

Watson (D-W). Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi

dapat dilihat dari ketentuan berikut:

 Bila nilai D-W terletak dibawah -2 berarti ada autokorelasi

positif.

 Bila nilai D-W terletak diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada

autokorelasi.

 Bila nilai D-W terletak diatas +2 berarti ada autokorelasi

negatif.

Tabel 4.6
Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of Durbin-


Model R R Square Square the Estimate Watson

1 ,846a ,716 ,432 ,11183 2,459

a. Predictors: (Constant), NPL, CAR

b. Dependent Variable: ROA


Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Berdasarkan data diatas, diketahui nilai DW 2,459,

selanjutnya nilai akan dibandingkan dengan nilai tabel signifikansi

5%, jumlah sampel N=5 dan jumlah variabel independen adalah 2

maka K=2. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa regresi ini

terdapat autokorelasi negatif.

101
6. Uji Korelasi Product Moment

Uji korelasi adalah suatu analisis statistic yang mengukur tingkat

asosiasi atau hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas (X)

dan variabel terikat (Y). Pengukuran korelasi secara linier adalah

pengukuran atau perhitungan korelasi yang hanya melihatkan satu

variabel (X) dan suatu variabel (Y). Untuk menentukan keeratan

hubungan dapat ditentukan dengan kriteria interval nilai koefisien dan

kekuatan hubungan berikut:

a. Koefisien korelasi 0,00-0,199 menunjukkan tingkat keeratan yang

sangat rendah.

b. Koefisien korelasi 0,20-0,399 menunjukkan tingkat keeratan yang

rendah.

c. Koefisien korelasi 0,40-0,599 menunjukkan tingkat keeratan yang

sedang.

d. Koefisien korelasi 0,60-0,799 menunjukkan tingkat keeratan yang

kuat.

e. Koefisien korelasi 0,80-1,000 menunjukkan tingkat keeratan yang

sangat kuat.

Berikut ini terdapat hasil uji korelasi product moment pada

halaman berikutnya:

102
Tabel 4.7
Hasil Uji Korelasi Product Moment
Correlations

ROA CAR NPL

Pearson Correlation ROA 1,000 ,841 ,783

CAR ,841 1,000 ,961

NPL ,783 ,961 1,000


Sig. (1-tailed) ROA . ,037 ,059
CAR ,037 . ,005
NPL ,059 ,005 .
N ROA 5 5 5

CAR 5 5 5

NPL 5 5 5

Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Berdasarkan output diatas, peneliti dapat menarik kesimpulan

dengan merujuk pada dasar pengambilan keputusan uji korelasi:

a. Berdasarkan Signifikansi: dari output diatas diketahui antara Capital

Adequacy Ratio (CAR) (X1) dengan Return On Assets (ROA) (Y) nilai

signifikansi 0,037 < 0,05 yang berarti terdapat korelasi yang

signifikan. Antara Non Performing Loan (NPL) (X2) dengan Return

On Assets (ROA) (Y) nilai signifikansi 0.059 > 0,05 yang berarti

tidak terdapat korelasi yang signifikan.

b. Berdasarkan nilai korelasi antara Capital Adequacy Ratio (CAR)

terhadap Return On Assets (ROA) sebesar 0,841 yang berarti korelasi

bersifat sangat kuat. Antara Non Performing Loan (NPL) terhadap

Return On Assets (ROA) sebesar 0,783 yang berarti korelasi bersifat

kuat.

103
7. Uji Regesi Liniear Berganda

Untuk mengetahui pengaruh-pengaruh variabel independen

yakni Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non Performing Loan

(NPL) terhadap Return On Asset (ROA) maka dalam penelitian ini

digunakan analisis regresi berganda dengan persamaan kuadrat terkecil

(Ordinary Least Square – OLS). Berikut ini terdapat tabel uji regesi

linear berganda dari hasil olahan data spss versi 22.0:

Tabel 4.8
Hasil Uji Regesi Liniear Berganda

Coefficientsa

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta

1 (Constant) 2,896 ,845

CAR ,058 ,068 1,163

NPL -,134 ,549 -,335


a. Dependent Variable: ROA
Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Dari hasil analisis regresi linier berganda dengan program

SPSS 20 pada tabel 4.8 diatas, maka persamaan regresi berbentuk

sebagai berikut:

Y = 2,896 + 0,058X1 – 0,134X2 +𝓮

Interpretasi dari persamaan tersebut adalah:

a. β0 = 2,896

Nilai ini adalah nilai konstanta, nilai positif ini yaitu perkiraan

pertumbuhan nilai Return On Assets yang menunjukkan bahwa

apabila ada pertumbuhan variabel Capital Adequacy Ratio (CAR)

dan Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,896 mengandung arti

104
bahwa apabila terjadi peningkatan Capital Adequacy Ratio (CAR)

dan Non Performing Loan (NPL) 1% maka Return On Assets

(ROA) akan mengalami kenaikan sebesar 2,896%.

b. β1 = 0,058

Nilai ini adalah nilai koefisien regresi yang menunjukkan bahwa

apabila setiap Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat 1%

maka Return On Assets (ROA) akan mengalami kenaikan sebesar

0,058% dengan asumsi variabel yang lain tetap.

c. β2 = -0,134

Nilai ini adalah nilai koefisien regresi yang menunjukkan bahwa

apabila setiap Non Performing Loan (NPL) meningkat 1% maka

Return On Assets (ROA) tidak akan mengalami peningkatan.

d. ℯ Standar eror adalah variabel acak dan mempunyai distribusi

probabilitas. Serta mewakili semua faktor yang memiliki

pengaruh terhadap variabel dependen tetapi tidak dimasukan ke

dalam persamaan.

8. Uji Koefisien Determinasi

Untuk mengetahui besarnya sumbangan sebuah variabel bebas

terhadap variasi(naik/turunnya) variabel terikat. Pada halaman

berikutnya terdapat tabel uji koefisien determinasi dari hasil olahan

data spss versi 22.0 pada halaman berikutnya:

105
Tabel 4.9
Hasil Uji Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of Durbin-


Model R R Square Square the Estimate Watson

1 ,846a ,716 ,432 ,11183 2,459

a. Predictors: (Constant), NPL, CAR


b. Dependent Variable: ROA
Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Hasil analisis korelasi yang diperoleh berdasarkan tabel 4.9 diatas

dapat diketahui nilai R2 sebesar 0,716. Artinya pengaruh variabel

independen Capital Aqeduacy Ratio (CAR) dan Non Performing Loan

(NPL) terhadap variabel dependen Return On Assets (ROA) sebesar

71,6%, sedangkan sisanya sebesar 28,4% dipengaruhi oleh variabel

lainnya yang tidak dimasukan dalam model penelitian ini. Kemudian

nilai R sebesar 0,846 atau 84,6% menunjukkan sangat kuatnya

pengaruh dari variabel independen dalam model penelitian ini yakni

Capital Aqeduacy Ratio (CAR) dan Non Performing Loan (NPL)

terhadap variabel dependennya yakni Return On Assets (ROA).

9. Uji Hipotesis

a. Uji Parsial (Uji t)

Untuk menguji kebenaran hipotesis (dugaan sementara) diperlukan

pengujian. Untuk mengujinya, dilakukan dengan membandingkan

antara 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 dan 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 . Ketentuan dalam pengujian ini adalah:

H0 diterima jika thitung < ttabel dengan taraf signifikansi < 0,05

H0 ditolak jika thitung > ttabel dengan taraf signifikansi < 0,05

106
Adapun ketentuan t-tabel diperoleh dengan cara

membandingkan jumlah sampel dengan taraf signifikan (5 sampel:

0,05) maka diperoleh t-tabel sebesar 2,0150.

Tabel 4.10
Uji T (Uji Parsial) (X1 terhadap Y)

Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta T Sig.

1 (Constant) 3,086 ,276 11,189 ,002

CAR ,042 ,016 ,841 2,692 ,047

a. Dependent Variable: ROA


Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Berdasarkan tabel 4.10 diatas maka dapat dilihat bahwa

adanya pengaruh yang signifikan antara variabel Capital

Adequacy Ratio (CAR) terhadap variabel Return On Assets

(ROA) dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,047 lebih kecil

dari pada batas nilai signifikansi sebesar 0,05. Dapat dilihat

juga bahwa nilai thitung lebih besar daripada ttabel atau sebesar

2,692 > 2.015 artinya H0 ditolak Ha diterima, maka

disimpulkan bahwa adanya pengaruh positif yang signifikan

variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap variabel

Return On Assets (ROA).

107
Tabel 4.11
Uji T (Uji Parsial) (X2 terhadap Y)

Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta T Sig.

1 (Const
3,607 ,109 33,152 ,000
ant)

NPL ,314 ,144 ,783 2,182 ,017

a. Dependent Variable: ROA

Berdasarkan tabel 4.11 di atas maka dapat dilihat dari

nilai signifikansi sebesar 0,017 lebih besar dari pada batas nilai

signifikansi sebesar 0,05. Dapat dilihat juga bahwa nilai thitung

lebih besar daripada ttabel atau sebesar 2,182 > 2.0150 yang

artinya H0 ditolak Ha diterima, maka disimpulkan bahwa

terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel Non

Performing Loan (NPL) dengan Return On Assets (ROA).

b. Uji Simultan (Uji F)

Untuk menguji pengaruh variabel Capital Aqeduacy Ratio

(CAR) (X1) dan Non Performing Loan (NPL) (X2) terhadap

variabel dependennya yakni Return On Assets (ROA) (Y) dapat

dilakukan uji F (uji simultan). Sebagai pembanding untuk melihat

pengaruh signifikan, maka digunakan kriteria taraf signifikan

sebesar 5% (0.005) dan membandingkan F-hitung dan F-tabel

dengan kriteria sebagai berikut:

Jika F-hitung < F-tabel berarti H0 diterima dan Ha ditolak.

Jika F-hitung > F-tabel berarti H0 ditolak dan Ha diterima.

108
Ketentuan F-tabel diperoleh dengan cara membandingkan

jumlah variabel independen dengan taraf signifikan (2 variabel :

0,05) , maka diperoleh F-tabel sebesar 5,79. Berikut hasil uji F

menggunakan program SPSS 22:

Tabel 4.12
Uji F (Uji Simultan)

ANOVAa

Sum of Mean
Model Squares Df Square F Sig.

1 Regression ,063 2 ,031 6,518 ,024b

Residual ,025 2 ,013


Total ,088 4

a. Dependent Variable: ROA


b. Predictors: (Constant), NPL, CAR
Sumber: Hasil Pengolaha data dari software spss 2.2, data diolah sendiri

Berdasarkan tabel uji simultan diatas (Anova), diketahui

nilai F-hitung lebih besar yaitu 6,518 > 5,79 dan nilai signifikan

lebih kecil dari syarat signifikansi (0,024 < 0,05). Ini memberikan

penjelasan bahwa variabel independen Capital Aqeduacy Ratio

(CAR) (X1) dan Non Performing Loan (NPL) (X2) terbukti

memiliki pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama atau

simultan terhadap variabel dependennya yakni Return On Assets

(ROA) (Y).

109