Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peranan sentral dari otak dan kelainan fungsional yang terjadi


mencerminkan beratnya akibat yang ditimbulkan oleh tumor otak.

Insiden tahunan tumor SSP berkisar dari 10-17 per 100.000 orang
untuk tmor intracranial dan 1-2 per 100.000 oarang untuk tumor
intraspinal. Sekitar setengah atau tiga per empatnya adalah tumor primer,
dan sisanya ialah tumor metastatic. Tumor SSP memiliki proporsi yang
besar pada kanker anak-anak sebanyak 20% dari semua tumor pediatric.
Tumor SSP pada anak-anak berbeda dengan pada dewasa baik dalam
subtype histologis maupun lokasinya. Pada anak-anak tumor
biasanyamuncul di fossa posterior, sedangkan pada dewasa biasanya di
supratentorial.

Menurut WHO (World Health Organization) terdapat tiga jenis


glioma yang dapat dibedakan dari pemeriksaan histopatologis yaitu
astrositoma, oligendroglioma, dan mixed oligoastrositoma. Dari ketiga
jenis glioma ini, astroitoma merupakan tumor yang paling sering dan
mencakup 50% tumor ganas primer di otak.

1.2. Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan tumor intracranial?

2. Bagaimana etiologi dari tumor intracranial?

3. Bagaimana gambaran klinis dari tumor intracranial?

4. Bagimana mendiagnosis tumor intracranial?

1
5. Bagaimana tatalaksana tumor intracranial?

6. Bagaimana prognosis dari tumor intracranial?

1.3. Tujuan

1. Mengetahui apa itu tumor intracranial.

2. Mengetahui etiologi dari tumor intracranial.

3. Mengetahui gambaran klinis dari tumor intracranial.

4. Mengetahui bagaimana mendiagnosis tumor intracranial.

5. Mengetahui bagaimana tatalaksana pada tumor intracranial.

6. Mengetahui prognosis dari tumor intracranial.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi

Tumor intracranial dapat berupa tumor glial seperti astrositoma,


oligodendridoma, ependimoma; dan tumor neural seperti meduloblastoma,
ganglioglioma, tumor krista neuralis, meningioma, neuroma akustik,
adenoma pituitary, serta tumor metastatic.

Tumor system saraf pusat memiliki karakteristik unik yang


membedakannya dari proses neoplastic di tempat lain dalam tubuh, yakni:

- Tumor ini tidak memiliki stadium in situ atau premalignant yang dapat
dideteksi bila dibandingkan dengan karsinoma lain.

- Bahkan lesi derajat renah dapatmengnfiltrasi secara luas di region otak,


menyebabkan deficit klinis serius, tidak dapat direseksi, dan
prognosisnya buruk.

- Lokasi anatomic neoplasma dapat mempengaruhi hasil klasifikasi


histologis karena efek lokalnya (misalnya, meningioma jinak dapat
menyebabkan berhentinya jantung dan pernafasan karena penekanan
pada medulla) atau tidak dapat direseksi (contoh, glioma batang otak).

- Meningioma bahkan yang terganas jarang menyebar ke luar SSP,


selain infiltrasi local, ruang subaraknoid memungkinkan penyebaran
disepanjang neuroaxis.

Glioma adalah tumor parenkim otak yang diklasifikaikan secara


histologis berdasarkan kemiripannya dengan berbagai jenis sel glia. Jenis-
jenis utama tumor glia adalah astrositoma, oligodendroglioma dan
ependimoma. Jenis yang tersering bersifat infiltrative atau glioma difus

3
yaitu bentukan astrositik, ologodendroglial, dan campuraan. Sebaliknya,
ependimoma cenderung membentuk massa padat.

a. Astrositoma

 Astrositoma difus

Astrositoma difus terhitung sebanyak 80% glioma dewasa.


Tumor ini paling sering muncul pada decade keempat sampai
keeam kehidupan. Tumor biasanya ditemukan pada hemisfer
serebri.

Astrositoma berdiferensiasi baik merupakan tumor infiltrasi


yang tidak tegas dan berwarna abu-abu yang meluas dan
mengacaukan daerah otak yang diinvasi tanpa membentuk massa
tegas. Infiltrasi yang melewati batas yang terlihat secara
makroskopik selalu ada. Permukaan tumor dapat bias keras atau
lunak dan gelatinosa (degenerasi kistik dapat terlihat). Transisi
antara jaringan tumor dan jaringan normal tidak jelas, dan sel
tumor dapat terlihat menginfiltrasi jaringan normal beberapa
sentimeter dari lesi utama.

 Astrositoma pilositik

Astrositoma pilositik merupakan tumor yang relative jinak,


biasanya mengenai anak-anak dan dewasa muda. Lokasi tersering
adalah serebelum, dapat juga mengenai ventrikel ketiga, jalur optic,
korda spinalis, dan kadang hemisfer serebri. Kista terkait tumor
sering terlihat, dan kekambuhan simtomatik dari lesi yang direseksi
tidak sempurna sering berhubungan dengan pembesaran kista,
daripada pertumbuhan massa padatnya. Tumor yang mengenai
hipotalamus tidak dapat direseksi dengan sempurna.

4
Astro pilokistik sering berbentuk kistik, dengan nodul
mural pada dinding kista; jika padat, tumor biasanya berbatas
tegas. Tumor tersusun dari sel-sel bipolar dengan penonjolan
panjang, tipis “mirip rambut” yang positif terhadap GFAP. Sering
terdapat mikrokista seperti nekrosis dan mitosis jarang terlihat.

b. Oligodendroglioma

Oligodendroglioma ditemukan sebanyak 5%-15% dari glioma


dan paling sering dideteksi pada decade keempat dan kelima
kehidupan. Lesi paling sering ditemukan di hemisfer serebri, terutama
di lobus frontal atau temporal.

Oligodendroglioma berdiferensiasi baik (WHO derajat II/IV)


adalah tumor infiltrative yang membentuk massa gelatinosa abu-abu
dan dapat memperlihatkan kista, perdarahn local dan kalsifikasi. Pada
pemeriksaan mikroskopik, tumor tersusun dari lapisan sel-sel regular
dengan inti sferikal berisi kromatin granula halus dikelilingi oleh halo
jernih pada sitoplasma.

c. Ependimoma

Ependimoma paling sering terjadi pada bagian sesudah system


ventrikel yang dilapisi ependim, termasuk kanal sentrak korda spinalis.
Pada dua decade kehidupan, tumor biasanya terjadi didekat ventrikel
keempat dan merupakan 5%-10% tumor otak primer pada kelompok
usia ini. Pada orang dewasa, korda spinalis merupakan lokasi tersering.

Pada ventrikel keempat, ependimoma biasanya berupa massa


solid atau papiler yang meluas dari dasar ventrikel. Sel tumor dapat
membentuk struktur bulat atau memanjang (roset, kanal) yang mirip
dengan ependim embriologik, dengan prosessus panjang dan rapun

5
yang meluas ke dalam lumen. Lebih sering terlihat pseudoroset
perivaskuler yaitu sel tumor yang tersusun mengelilingi pembuluh
darah dengan zona intervensi berisi prosesus ependim tipis.

d. Ganglioglioma

Ganglioglioma adalah tumor dengan capuran unsur glia,


biasanya astrositoma derajat rendah, dan neuron yang tampak matur.
kebanyakn tumor tumbuh lambat, tetapi komponen glia terkadang
dapat menjadi anaplastic dan penyakit berprogresi dengan cepat.

e. Meduloblastoma

Meduloblastoma umumnya terjadi pada anak-anak dan hanya


terdapat di serebelum. Petanda neural dan glia hampir selalu
diekspresikan, sedikitnya dalam batas tertentu. Tumor ini sangat ganas,
namun meduloblastoma bersifat rediosensitif.

f. Meningioma

Meningioma merupakan tumor yang predominan jinak berasal


dari sel meningotel araknoid. Tumor ini biasa terjadi pada orang
dewasa dan sering melekat pada duremater. Meningioma dapat
ditemukan disepanjang permukaan eksternal otak dan juga di dalam
system ventrikel.

g. Tumor metastasis

Lesi metastatik yang paling sering adalah karsinoma, terhitung


sebanyak seperempat hingga setengah dari seluruh tumor intracranial.
Tumor primer biasanya berasal dari paru, payudara, kulit, ginjal dan
saluran cerna. Metastasis membentuk massa berbatas tegas, seringkali

6
diperbatasan substansi abu-abu dan putih, dan memperlihatkan edema.
Perbatasan anatara tumor dan parenkim otak terlihat tegas pada tingkat
mikroskopik, dengan gliosis reaktif disekitarnya.

2.2. Etiologi

Sejumlah penelitian epidemiologi belum berhasil menemukan


factor penyebab terjadinya tumor otak, terkecuali pemaparan terhadap
sinar-X. Anak-anak dengan limfositik akut yang menerima radioterapi
profilaksis pada susunan system saraf pusat akan meningkatkan
resikountuk menderita astrositoma, bahkan glioblastoma. Tumor ini juga
dihubungkan dengan makanan yang banyak mengandung senyawa nitroso
(seperti nitosurea, nitrosamine, dan lain-lain).

Saat ini penelitian yang menghubungkan tumor jenis ini dengan


kerentanan genetic tertentu terus dikembangkan. Tumor ini sering
dihubungkan dengan berbagai sindroma seperti Li-Fraumeni Syndrom,
mutasi Germline p53, Turcot Syndrom, dan neurofibromatosis tipe 1 (NF-
1).

2.3. Gambaran Klinis

Tumor intracranial dapat menimbulkan efek desak massa, disfungsi


struktur saraf sekitarnya, pembengkakan, dan aktivitas listrik yang
abnormal. Tumor supratentorial umumnya menimbulkan deficit neurologis
fokal seperti kelemahan ekstremitas kontralateral, deficit lapang pandang,
sakit kepala, atau kejang.tumor infratentoriallebih cepat menimbulkan
peningkatan tekanan intracranial akibat hidrosefalus karena kompresi
ventrikel ke-empat, sehingga penderitanya mengalaminausea, vomitus,
atau diplopia. Jikaa tumor timbul di serebelum atau batang otak, dapat
terjadi ataksia, nistagmus, atau kelumpuhan saraf kranial.

7
Table 1. Gambaran klinis tumor intracranial

No. Jenis tumor Gejala klinis

1. Astrositoma Sakit kepala, kejang, dan deficit


neurologic fokal yang berhubungan
dengan lokasi anatomi yang terkena.

2. Oligodendroglioma Pasien dapat merasakan keluhan


neurologic beberapa tahun sebelumnya,
biasanya berupa kejang.

3. Ependimoma Nyeri kepala disertai mual dan muntah,


kaku leher, gangguan kasadaran dan
gangguan penglihatan.

4. Ganglioglioma Lesi sering bermanifestasi sebagai


kejang.

5. Meduloblastoma Sakit kepala kronis, gangguan koordinasi


dan keseimbangan, dan gangguan
penglihatan.

6. Meningioma Gejala non local dan tidak jelas, atau


gejala local disebabkan oleh penekanan
pada jaringan otak disebelahnya

7. Tumor metastatic Gejala local dan langsung yang


disebabkan oleh metastasis. Beberapa
pola yang sering yaitu: ataksia, demensia
subakut, perubahan sensasi nyeri,
sindroma dengan onset cepat psikosis,
katatonia, epilepsy dan koma.

2.4. Diagnosis

2.4.1. Pemeriksaan Radiologi

8
A. Angiografi Serebral

Bermacam kontras telah dipergunakan untuk pemeriksaan


angiografi serebral dengan memperhatikan efek toksisitasnya.
Kontras yang dipakai adalah:

- Renografin (meglumin diatrizoate)


- Conray 60 (me glumin iothalamate)
- Urografin
- Angiografin

Teknik pemeriksaan:

Teknik pemeriksaan dibagi atas dua cara, yaitu:

1. Pungsi langsung
1) Pasien terlentang, punggung diganjal, atau kepala
diturunkan, hinggadenyut arteri karotis kommunis teraba.
Diberikan anestesi local di daerah pungsi atau anestesi
umum.
2) Dilakukan pungsi pada leher di daerah perabaan denyut
nadi arteri karotis kommunis (kira-kira sekitar di bawah
bifurkasio dengan jarum Abbocath No. 20 atau No. 18.
3) Pungsi harus menembus dinding anterior atau posterior
pembuluh darah lalu ditarik perlahan-lahan sampai darah
memancur dengan lancer.
4) Teflon sheath nya didorong ke dalam lumen arteri dan
mandarin ditarik ke luar.
5) Pangkal Teflon sheath bias disambung dengan sambungan
teflon berikut luerlock.
6) Kontras diberikan ± 8-10 ml dengan injeksi cepat pada tiap
exposure atau sekali injeksi saja bila memakai rapid serial
film changer. Sinar X diarahkan ke glabella membentuk
sudut ± 270 -300 dengan verikal, kraniocaudal.
7) Fase-fase pemeriksaan:
- Fase arteri: 1-3 detik, setelah mulai suntikkan.
- Fase kapiler: 3-4 detik, setelah mulai suntikkan.
- Fase vena 4-12 detik, setelah mulai suntikan.
2. Pungsi tidak langsung (dengan kateter)

9
1) Pungsi dilakukan pada daerah arteri femoralis (inguinal)
dengan jarum Abbocath No.16 atau No.18 setelah diberikan
anestesi local dan insisi kecil.
2) Dengan memasukkan guide-wire ke dalamlumen arteri
femoralis cukup jauh kearah proksimal, maka abbocath
ditarik keluar.
3) Kateter dimasukan kedalam guide-wire, lalu guide-wire
ditarik ke luar. Pangkal kateter disambung dengan luer-
lock.
4) Kateter didorong mencapai aretri karotis kommunis atau
selektif arteri karotis interna atau arteri karotis eksterna.
5) Pemberian kontras ± 8-10 ml dengan injeksi cepat.

Tumor-tumor intracranial:

Tumor-tumor di daerah frontal anterior, jika cukup besar


akan mendesak arteri serebri antarior melewati garis tengah
(midline). Pada tumor-tumor puncak kepala bagian depan, akan
terjadi herniasi subflaksial, karena falk serebri yang kaku sukar
tergeser. Tumor-tumor daerah deep frontal, parietal, parietal
posterior, temporal posterior, oksipital memberikan gambaran
distal shift. Vena serebri interna bias tergeser melewati garis tengah
(miline). Vaskularisasi kearah tumor berbeda-beda tergantung pada
jenis tumor.

Pada tumor-tumor ganas seperti glioblastoma, tampak


vaskularisasi abnormal dan fase arteri dengan ciri khas adanya
early filling vein pada fase arteriogram.

Pada meningioma terlihat gambaran difuse, berbatas tegas


dan tumor pada fase late artery dan jelas pada fase vena. Banyak
tumor pada arteriogram memberikan gambaran avaskuler
(astrositoma). Kebanyakan metastasis avaskuler dengan bagian
perifer banyak vaskularisasi abnormal, karena adanya vascular
necrotic center.

10
Beberapa herniasi yang timbul akibat tumor intracranial,
ialah:

1. Herniasi subfalksial
2. Herniasi unkus
3. Herniasi tonsiler
Ditandai dengan turunnya cabang-cabang tonsiler (arteri tonsilo
hemisfer) dan arteri serebeli inferior posterior melalui foramen
magnum.
4. Herniasi tentorium
Masuknya culmen dan declive onticular melalui insisura ke
arah daerahsupratentorium ditandai dengan arteri komunikans
posterior dan bagian proksimal ateri serebri posterior
melengkung ke atas.

Gambar 1. A. Serebri anterior kearah sisi yang berlawanan. A.


serebri terdorong kea rah lateral.

11
Gambar 2. Shipon tampak terbuka. A. serebri anterior
terangkat pada bagian 1/3 proksiamal.

B. CT Scan Kepala
Prosedur pemeriksaan CT Scan adalah sebagai berikut:
pemotretan awal/permulaan dilakukan dengan tabung yang
dibiarkan diam, sedangkan pasien dengan mejanya yang tidak
digerakkan. Hasilnya adalah sama dengan foto Roentgen biasa. Ini
disebut topogram atau skanogram.
Skanogram I dibuat untuk memogramkan potongan-
potongan mana saja yang akan dibuat. Kemuadian satu persatu
dibuat scannya menurut program tersebut. Dalam hal ini pasien
tetapdiam ditempat, sehingga arah scan dapat ditentukan dengan
tepat, sehingga arah scan dapat ditentukan dengan tepat, sedangkan
tabung memutari pasien.
Skanogram kepala dibuat dengan posisi tabung berada
disamping kepala pasien yang berbaring terlentang. Dengan
demikian hasilnya seperti foto tengkorak biasa lateral. Kemudian
dibuat scan menurut program, baru dalam hal ini pasien diam dan
tabung mengelilingi pasien sambil memotret.
Scan pertama merupakan penampang setinggi tengkorak.
Ini akan tampak jelas kedua mastoid, liang-liang telinga luar

12
zygoma, ruang hidung dan kedua bulbus okuli. Dalam scan ini juga
sebagian dari kedua hemisfer serebelum dengan vermis
ditengahnya. Scan lebih kranial lagi memperlihatkan kedua tulang
petrosum dengan sella ditengahnya. Kedua bulbus oculi dengan N.
opticusnya masing-masing tampak jelas.
Scan berikutnya memperlihatkan kedua nucleus caudatus,
lentiformis, thalamus, anteriorhorns dan ventrikel III.
Scan berikutnya lagi memperlihatkan kedua ventrikel
lateral denganplexus chorioideusnya masing-masing.
Penyuntikan kontras sangat membatu dalam hal adanya
tumor atau abses otak. Tumor otak dapat dilihat dengan cepat pada
pemeriksaan ini.
Gambaran dari potongan CT scan kepala memperlihatkan
dengan jelas kelainan-kelainan organ kepala dan sekitarnya.
Beberapa garis penting yang diketahui adalah:
- Orbitomeatal line (OM line)
- Anthropological base line (German plane). Reid base line
(infraorbito meatal line)
- Supraorbitomeatal line (SM line)
Potongan lain yang dipergunakan ialah coronal section yang sejajar
dengan submentoveertex line. Pemberian media kontras untuk
melihat adanya enhancement dipergunakan untuk menilai
pembuluh darah, meningen, parenkim otak.
CT Scanner yang dipakai ada 2 tipe yaitu:
- Head CT Scan
- Whole body CT Scan

Gambaran normal CT Scan kepala:


Gambar-gambar : - OM line (aksial); Koronal.

Gambaran CT Scan pada kelainan-kelainan intracranial


Densitas dari lesi bias dibagi atas (pada Window level normal):
- High density (hyperdens).
Bila densitas lesi lebih tinggi daripada jaringan normal
sekitarnya.
- Isodensity (Isodens)
Bila densitas lesi sama dengan jaringan sekitar.
- Low density (hipodens)
Memperlihatkan gambaran CT Scan dengan nilai absorbs yang
rendah seperti pada infark.

13
Kelainan-kelainan jaringan otak:
Kelainan-kelainan yang ditemukan pada CT Scan kepala terbagi
atas:
1. Tumor otak
2. Kelainan serebrovaskuler
3. Trauma kepala
4. Anomaly
5. Penyakit-penyakit infeksi
6. Atrofi serebral atau penyakit-penyakit degenerative.

Tumor-tumor supratentonial yang sering ditemukan adalah:


- Astrositoma
- Glioblastoma
- Oligodendroglioma
- Ependimoma
- Meningioma
- Adenoma hipofisis
- Pinealoma
- Kraniofaringioma
- Metastasis
Tumor yang jarang ditemukan, seperti:
- Kista dermoid
- Kista epidermoid
- Lipoma
- Papilloma pleksus koroid
- Sarcoma

Astrositoma
Tampak pada CT Scan suatu area hipodens batas agak
tegas, edema ringan dan efek massa. Pada pemberian media
kontras, tak tampak enhancement atau hanya sedikit enhancement.

14
Gambar 3. Astrositoma. Pada pemberian kontras tampak
penyangatan sekeliling/diantara area hipodens berbentuk cincin.

Glioblastoma multiform
Derajat keganasan glioblastoma multiform sangan tinggi
dibandingkan dengan tumor-tumor otak yang lain. Pada CT Scan
tampak gambaran densitas campuran disertai edema dan efek
massa yang luas. Pada pemberian media kontras tampan
enhancement berbentuk cincin dengan area hipodens di sentral.
Derajat enhancement nya tinggi, tepi cincin ireguler dan dinding
tidak uniform.

Oligodenroglioma
Kalsifikasi pada daerah lesi sangat sering ditemukan. Pada
plain CT Scan tampak area hiperdens oleh kalsifikasi dikelilingi
area hipodens. Kebanyakan tidak enhancement pada pemeberian
media kontras, tetapi beberapa kasus memberikan enhancement.

15
Gambar 4. Tampak area hipodens berbentuk kistik dan kalsifikasi
yang mendesak ventrikel III dan menimbulkan hiposefalus
internus. Disertai edema yang luas.

Gambar 5. Sesudah pemberian kontras. Tampak penyangatan di


daerah lesi.

Meningioma

16
Indeks meningioma tinggi dibandingkan dengan tomor
cerebri lainnya pada orang dewasa. Pada plain Ct tampak area
hiperdens homogeny berbatas tegas, tepi halus melekat pada dura,
kadang disertai kalsifikasi dan destruksi tulang. Pada pemberian
media kontras tampak enhancement yang homogeny (kenaikan ±
20 H.U). sering disekeliling tumor terdapat area hipodens (edema).

Gambar 6. Meningioma. Tampak area hiperdens sesudah


pemberian kontras pada daerah para sagittal kanan yang homogeny.

Adenoma hipofisis
Adenoma hipofisis terdiri atas adenoma kromofob
(terbanyak), adenoma eosinofilik dan adenoma basofilik. Pada
plain CT tampak area sedikit hiperdens atau isodens, bebatas tegas
di daerah sella. Kadang ada bentuk kista adenoma dengan
gambaran hipodens. Didaerah sisterna suprasellar tampak area
filling defect terisi tumor tersebut. Jika tumor cukup besar akan
timbul destruksi tulang sella tursika. Dengan pemberian media
kontras tampak enhancement yang jelas.

Pinealoma

17
Tumor ini sesungguhnya tidak berasal dari parenkim
glandula pinealis, tetapi merupakan bentuk anomaly teratoma
atipikal. Tumor yang berasal dari glandula pinealis adalah
pineablastoma dan pineositoma. Pada plain CT Scan tamoak area
sedikit hiperdens dibagian posterior ventrikel III, tetapi berbenjol-
benjol.bagian posterior ventrikel III mengalami obstruksi dan
ventrikel lateralis mengalami dilatasi. Pada pemberian media
kontras tampak enhancement yang homogen.

Metastasis
Metastasis ini bias soliter atau multiple. Pada plain CT
tampak area agak hiperdens dengan edema (hipodens)
disekelilingnya. Pada pemeberian media kontras tampak
enhancement berbentuk nodul atau ring like (matastasis besar).

Tumor-tumor infratentorium
Tumor infratentorium ialah:
1. Meduloblastma
2. Ependimoma
3. Astrosita
4. Neurinoma
5. Meningioma

Meduloblastoma
Meduloblastoma merupak tumor otak yang sering
ditemukan pada anak-anakdi daerah velum medularis dan ventrikel
IV. Pada plain CT tampak area hiperdens atau isodens di daerah
fossaposterior bagian medial, bentuk nodular, batas agak tegas,
sedikit berbenjol. Hidrosefalus internus selalu ditemukan.pada
pemberian media kontras tampak enhancement yang homogen.

18
Gambar 7. Medulloblastoma. Sebelum kontras: tampak area
hiperdens di daerah vermis serebeli dengan pendesakan ventrikel
IV ke anterior. Pelebaran ventrikel lateralis, ventrikel III dan
ventrikel IV.

Gambar 8. Sesudah kontras: tampak penyangat yang homogeny


pada lesi.

Ependimoma
Ependimoma berasal dari sel-sel ependim dinding
ventrikel, sering berkalsifikasi. Pada plain CT tampak area isodens,
tepi regular dan sering disertai kalsifikasi, disertai hidrosefalus

19
obstruktif. Pada pemberian media kontras tampak enhancement
homogeny atau noduler.

Gambar 9. Ependimoma. Sebelum kontras: tampak area isodens,


tepi ireguler di dalam ventrikel IV, dilatasi ringan system ventrikel.
Sesudah kontras: tampak penyangatan di daerah lesi.

C. MRI
Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI) merupakan salah
satu cara pemeriksaan diagnostic dalam ilmu kedokteran,
khususnya radiologi, yang menghasilkan gambaran potongan tubuh
manusia dengan menggunakan medan magnet tanpa menggunakan
sinar X.
Pada umumnya pemeriksaan MRI tanpa menggunakan zat
kontras. Akan tetapi pada keadaan tertentu seperti pada tumor
diperlukan zat kontras untuk mengetahui bagaimana vascularisasi
pada tumor tersebut. Zat kontras terdiri atas unsur atom
Gadolinium (Gd3+). Unsur ini mengandung 7 elektron yang
terpisah sehingga mempunyai tenaga magnit yang besar. Saat ini
dengan ditambah DTPA (diethylene triamine pentaacetic acid).
Gd.DTPA ini di suntikan intra vena dengan dosis 0.1 mmol/kgBB
= 0.2 ml/kgBB.
Bila pasien beratnya 50 kg maka cukup 10 ml kontras.yang
dinilai ada tidaknya penyangatan (enhancement) dari kontras

20
tersebut. Dibandingkan dengan T1 sebelum kontras dan T1 sesudah
kontras . pada umumnya potongan sesudah kontras 3 dimensi,
aksial, koronal dan sagital.
Dengan MR dapat dibedakan bagian otak yang abu-abu
dengan bagian otak yang putih. Bagian otak yang putih
mengandung 12% lebih sedikit air dibandingkan dengan otak yang
abu-abu. Akan tetapi bagian yang putih mempunyai banyak lemak
dari pada otak yang abu-abu. Karena banyak mengandung lemak,
bagian otak yang putih mempunyai waktu T1 yang pendek dan T2
yang panjang.
Pada gambar T1: bagian otak yang abu-abu memiliki sinyal
yang lebih sedikit dibandingkan dengan bagian otak yang putih.
Cairan likuor tidak menghasilkan sinyal (hiporintens).
Pada gambar T2 bagian otak yang abu-abu mempunyai
sinyal intensitas yang lebih tinggi di bandingkan dengan otak yang
putih. Cairan likuor juga mempunyai sinyal intensitas tinggi
(hiperintens).
Lemak mempunyai sinyal intensitas tinggi yang sama pada
gambar T1 dan T2 dengan perubahan waktu relaksasi dapat
dibedakan antara bagian otak yang padat denga kista. Untuk
membedakan lesi tersebut mengandung lemak atau darah
diperlukan pemeriksaan dengan teknik Fat suppression atau
inversion recovery. Dimana bila memamng lemak maka akan
terjadi hipointens , bila bukan lemak akan tetaphiperintens.

Indikasi MRI kepala:


1. Tumor
2. Strok
3. Penyakit demyelinisasi (multiple sclerosis).
4. Kelainan vaskuler seperti aneurisma, AVM mauun stenosis.
5. Infeksi
6. Metastase
Edema : dengan MR dapat diketahui dengan jelas, sehingga edema
perifokalpada tumor otak seperti glioblastoma (hamper 90% edema
perifokal positif) dapat dikenal dengan mudah.
Tumor otak : pada MRI ditandai melalui kerusakan/lesi yang ada
dengan bermacam-macam intensitas signal atau melalui tanda-

21
tanda yang tidak langsung dari tumor seperti pergeseran tempat,
pendesakan atau pelebaran ventrikel dan edema perifokal yang
positif.
Tumor menyebabkan perubahan waktu relaksasi. Umor
ganas lebih sering mempunyai waktu relaksasi yang lebih panjang
daripada tumor jinak. mR dapat pula menunjukan pula bagian
tumor yang vital dan yang nekrosis. Bagian yang nekrosis
mempunyai sinyal sedikit. Edema perifokal memiliki waktu T 2
lebih lama, dan pada gambar T2 mempunyai sinyal intensitas
tinggi.
a) Astrositoma
Hanya sekitar 2% dan disertai edema perifokal. Tumor ini
lebih dari 80% mengandung sehingga pada gambar T1
mempunyai sinyal yang lemah dan gambar T2 mempunyai
sinyal intensitas tinggi. Pada pemberian kontras penyangatan
tergantung dari gradasi tumor tersebut. Pada grade 1 dan 2
tidak menyangat sedangkan grade 3 dan 4 menyangat kuat.

Gambar 9. (1) potongan coronal T-1 tampak massa hipointens, (2)


potongan axial T-2 tampak massa hiperintens

b) Metastasis intracranial
Hamper 90% disertai edema perifokal positif, sehingga
agak sukar dibedakan dengan glioblastoma. Perlu zat kontras

22
untuk mengetahui multiple lesi penyangatan. Yang sukar bila
lesi hanya satu, sedangkan primer ditempat lain ada seperti
diparu atau payudara.

c) Meningioma
CT Scan lebih baik mendiagnosis daripada MR, karena
tumor ini banyak mengandung perkapuran. Pada keadaan yang
meragukan, baru diperlukan zat kontras yang mengandung
unsur Gadolinium (Gd3+) pada umumnya menyangat,
disbanding gambar T1 sebelum dengan sesudah diberikan zat
kontras.

2.5. Tatalaksana

Tatalaksana simtomatis awal penderita tumor intracranial yaitu


pemberian dexametason jika terdapat peningkatan intracranial, dan
fenitoin bila terdapat gejala kejang.

Lesi metastasis tunggal atau multiple namun terletak di daerah


yang dapat dijangkau dapat direseksi. Pembedahan harus selalu diikuti
dengan terapi radiasi seluruh otak. Perkembangan radiosurgery
stereotaktik seperti pisau gamma, kini memungkinkan reseksi metastasis
multiple dengan hasil akhir yang lebih baik.

2.6. Prognosis

Prognosis pada masing-masing tumor intrakranial berbeda-beda, yakni:

 Astrositoma

Memiliki prognosis buruk bila terdapat gambaran glioblastoma.

23
 Oligodendroglioma : prognosis lebih baik dari pada pasien
astrositoma.

 Ependimoma : prognosis untuke reseksikomplit ependimoma


supratentorial dan spinal lebiah baik daripada ependimoma fossa
posterior.

 Meduloblastoma : prognosis buruk pada pasien yang tidak di obati.

 Meningioma: prognosis ditentukan oleh ukuran dan lokalisasi lesi,


kemungkinan dilakukan pembedahan dan derajat histologic.

24
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Diagnosis tumor intracranial dapat ditegakan dengan pemeriksaan


radiologi Angiografi, CT Scan dan MRI.

2. Lesi metastasis tunggal atau multiple yang terletak di daerah yang


dapat dijangkau dapat direseksi. Pembedahan harus selalu diikuti
dengan terapi radiasi seluruh otak.

3. Prognosis masing-masing tumor intracranial berbeda-beda tergantung


keganasan tumor itu sendiri.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik Edisi 9. Jakarta: Balai Penerbit


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015

2. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku Ajar Patologi Edisi 9. Jakarta:
penerbit Buku Kedokteran EGC, 2013.

3. Sjamsuhidajat & de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 2010.

4. Japardi Iskandar. Astrositoma: Insidens dan Pengobatan. Bagian Bedah


Saraf Kedokteran Universitas Sumatra Utara. 2013 [Vol 22, No.3]

26