Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Industri perbankan merupakan industri yang syarat dengan risiko,

terutama karena melibatkan pengelolaan uang masyarakat dan diputar

dalam bentuk berbagai investasi, seperti pemberian kredit, pembelian

surat-surat berharga dan penanaman dana lainnya, Imam Ghozali

(2007:27). Perkembangan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari sektor

perbankan. Karena perbankan memiliki peranan yang penting dalam

pertumbuhan perekonomian. Hal ini dikarenakan sektor perbankan

memiliki fungsi utama yaitu sebagai perantara keuangan (financial

intermediary) antara pihak pihak yang memiliki dana (surplus dana)

dengan pihak-pihak yang memerlukan dana (defisit dana).

Dalam menciptakan dan memelihara perbankan yang sehat

diperlukan lembaga perbankan yang senantiasa terdapat pembinaan dan

pengawasan yang efektif. Karena pada dasarnya kesehatan bank

merupakan cerminan dari kondisi bank saat ini dan di waktu yang akan

datang. Sehat tidaknya perbankan dapat dilihat melalui profitabilitas bank

itu sendiri. Karena tujuan utama perbankan adalah mencapai profitabilitas

yang maksimal. Kondisi perbankan Indonesia selama tahun 1997-2014

merupakan periode yang penuh dinamika bagi industri perbankan nasional.

Di tengah beratnya tantangan yang dihadapi, bank pada umumnya mampu

mempertahankan kinerja yang positif.

1
Profitabilitas, likuiditas dan solvabilitas bank stabil pada tingkat

yang memadai.namun demikian, fungsi intermediasi masih terkendala

akibat perubahan kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan.

Kondisi tersebut mengisyaratkan perlunya dilakukan serangkaian analisis

yang sedemikian rupa sehingga risiko kegagalan bank dapat dideteksi

sedini mungkin. Kondisi perekonomian yang sulit, terjadinya perubahan

peraturan yang cepat, persaingan yang semakin tajam dan semakin ketat

sehingga kinerja bank yang menjadi rendah karena rendah karena

sebenarnya tidak mampu bersaing di pasar.

Hal tersebut mengakibatkan banyak bank yang sebenarnya kurang

sehat. Sehat tidaknya kinerja keuangan perbankan dapat dilihat melalui

kinerja profitabilitasnya suatu bank tersebut. Profitabilitas merupakan

kemampuan bank dalam menghasilkan atau memperoleh laba secara

efektif dan efisien. Secara garis besar, laba yang dihasilkan perusahaan

berasal dari penjualan dan pendapatan investasi yang dilakukan oleh

perusahaan. Intinya adalah profitabilitas menunjukkan efisiensi

perusahaan, Kasmir (2010:196).

Sejalan dengan maksud penjelasan diatas, Menurut Harmono

(2009:109) Profitabilitas merupakan suatu kemempuan yang

menggambarkan kinerja fundamental perusahaan yang ditinjau dari tingkat

efisiensi dan efektivitas operesi perusahaan dalam memperoleh laba.

Lukman Dendawijaya (2005:79) menjelaskan profitabilitas atau

rentabilitas adalah alat untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan

profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Pendapat ini

2
menekankan pada sejauh mana kegiatan operasi perbankan mampu secara

efektif berjalan dengan baik dan mampu menghasilkan laba yang

maksimal. Hubungan antara Return On Assets dan shareholder equity ada

dua ukuran yakni Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE).

ROA memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning

dalam operasi perusahaan, sedangkan ROE hanya mengukur return yang

diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut.

Bank Indonesia juga lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu

bank yang diukur dengan ROA dibandingkan dengan ROE karena Bank

Indonesia lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur

dengan asset yang dananya sebagian besar berasal dari simpanan

masyarakat sehingga ROA lebih mewakili dalam mengukur tingkat

profitabilitas bank. Berikut analisis data keuangan PT. Bank Central

Asia,Tbk tahun 2012-2016 terkait dengan variabel penelitian:

Tabel 1.1
Rasio keuangan 2012-2016 (dalam %)

TAHUN CAR NPL ROA


2012 14,2 0,4 3,6
2013 15,7 0,4 3,8
2014 16,9 0,6 3,9
2015 18,7 0,7 3,8

2016 21,9 1,3 4,0


Sumber: Data Laporan Keuangan Publikasi Bank Central Asia

3
25

21.9
20
18.7
16.9
15 15.7
14.2 CAR
NPL
10
ROA

5
3.6 3.8 3.9 3.8 4

0.7 1.3
0 0.4 0.4 0.6
2012 2013 2014 2015 2016

Gambar 1.1
Kurva CAR,NPL dan ROA
Sejalan dengan paparan teori di halaman sebelumnya, PT Bank

Central Asia, Tbk, merupakan perusahaan bergerak dibidang perbankan

yang kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat (berupa tabungan,

deposito, giro dan investasi) dan menyalurkan kepada masyarakat berupa

pemberian kredit. Oleh karenanya, Bank Central Asia menyadari akan

pentingnya menjaga dan meningkatkan kesehatan kinerjanya dalam upaya

mempertahankan eksistensi bisnis melalui peningkatan profitabilitas.

Bank Central Asia menyadari akan pentingnya memperhatikan

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dilihat dari sisi aset.

Dengan kata lain, peningkatan profitabilitas dalam hal ini ROA dianggap

oleh Bank Central Asia cukup ideal, mengingat kegiatan perbankan lebih

dominan pada operasional bisnis, maka tidak khayal Bank Central Asia

mengacu pada ketentuan Bank Indonesia, standar yang paling baik untuk

Return On Assets adalah 2,00%.

4
Selama peroide 2012-2016, nampak terlihat jelas permasalahan

yang terjadi pada Bank Central Asia. Dimana terjadi fluktusi meskipun

memiliki tingkat ROA yang melebihi standar yaitu 2,00%. Hal ini

menunjukkan bahwa masa ketidakstabilan ekonomi dunia perbankan

sangat rentan terhadap kondisi makro, yang berimbas pada tidak

optimalnya kegiatan perbankan sehingga rendahnya kemampuan bank,

khususnya Bank Central Asia dalam menghasilkan laba dari operasi.

Adanya masalah profitabilitas tersebut, akan berdampak pada

lahirnya permasalahan baru, yakni melemahnya modal operasi (ekuitas)

dengan ditunjukkannya minimnya laba bersih yang diperoleh sehingga

tidak dapat menyimpan laba ditahan lebih banyak. Kemudian lahir pula

permasalahan modal sendiri menjadi lebih sedikit yang mendorong

perusahaan harus melakukan peminjaman modal dari asing (kredit). Dan

lahir pula permasalahan baru yaitu lahirnya kegiatan bisnis, dimana tidak

ada bergairahnya pasar yang dilihat dari skala investasi yaitu para investor,

sehingga kegiatan perbankan menjadi belum optimal.

Dalam upaya menyelesaikan permasalahan tersebut di atas,

dibutuhkan peran serta Capital Adequacy Ratio (CAR). CAR adalah rasio

yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang

mengandung risiko (kredit, penyertaan surat berharga, tagihan pada bank

lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank disamping memperoleh

dana-dana dari sumber-sumber diluar bank, seperti dana masyarakat,

pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain, capital adequacy ratio

adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki

5
bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko,

misal kredit yang diberikan.

Return On Asset (ROA) memfokuskan kemampuan perusahaan

untuk memperoleh earning dalam operasi perusahaan. Hubungan antara

Profitabilitas (ROA) terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR) suatu bank

adalah positif, dimana jika Profitabilitas (ROA) suatu bank meningkat

maka Capital Adequacy Ratio (CAR) akan meningkat juga. Jadi apabila

Profitabilitas (ROA) suatu bank terus meningkat maka modal bank

tersebut akan terus bertambah dan dapat digunakan untuk kegiatan

operasional yang akan dapat menghasilkan laba atau keuntungan. Dimana

standar besarnya CAR yaitu sebesar 8%. Sesuai dengan Surat Edaran BI

No.25/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993 besarnya CAR yang harus dicapai

oleh suatu bank minimal 8% sejak akhir tahun 1995 dan sejak akhir tahun

1997 CAR yang harus dicapai minimal 9%.

Almilia dan Wahyu (2006:32) mendefinisikan CAR adalah rasio

yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang

mengandung risiko ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank disamping

memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank. Dengan kata lain,

CAR adalah rasio kecukupan modal yang merupakan faktor yang penting

bagi bank dalam rangka pengembangan usaha dan menampung risiko

kerugian. Semakin kecilnya CAR, sebagian perbankan tidak bisa lagi

menjalankan kegiatan operasionalnya.

Paparan tersebut, sayangnya justru kondisinya terbalik di dunia

perbankan Indonesia, khususnya Bank Central Asia. Jika melihat pada

6
tabel data diatas bahwa CAR atau rasio modal yang dimiliki justru lebih

dari standar dalam periode 2012-2016 dengan rata rata CAR yang dicapai

yaitu 17,48%. Namun pada kenyataannya tingginya CAR tidak berdampak

signifikan terhadap peningkatan profitabilitas. Hal ini terlihat pada tabel

data diatas dimana terjadi peningkatan CAR secara berturut-turut (dari

tahun 2012 hingga tahun 2016) namun tidak terjadi peningkatan secara

berturut-turut seperti peningkatan CAR pada profitabilitasnya (ROA).

Selain itu, masalah yang sering dihadapi bisnis perbankan adalah

adanya persaingan tajam yang tidak seimbang yang dapat menimbulkan

ketidakefisienan manajemen yang berakibat pada pendapatan dan

munculnya kredit bermasalah yang dapat menimbulkan penurunan laba.

Kredit bermasalah akan mempengaruhi permodalan yang juga dapat

menyebabkan bank mengalami masalah likuiditas.

Pemberian kredit yang dilakukan oleh bank mengandung resiko

yaitu berupa tidak lancarnya pembayaran kembali kredit atau dengan kata

lain disebut kredit bermasalah (Non Performing Loan-NPL) sehingga akan

mempengaruhi kinerja bank. Kredit bermasalah yang terjadi pada bank

tersebut dapat diturunkan dengan cara ekspansi atau restrukturisasi. Upaya

menghindari resiko kerugian karena kualitas kredit yang semakin

memburuk pemerintah harus merestrukturisasi kredit perbankan.

Pada peraturan Bank Indonesia, kriteria Bank yang sehat dalam

penyaluran kredit dengan kriteria rasio NPL < 5% dikatakan Bank dalam

predikat yang sehat. Namun apabila rasio NPL >5% Bank dikatakan dalam

kriteria tidak sehat dalam penyaluran kreditnya. Bila kita lihat pada tabel

7
data diatas tingkat rasio NPL nya selama kurun waktu tahun 2012 tahun

2016 kurang dari 5% yang artinya menurut peraturan Bank Indonesia,

Bank Central Asia dikatakan dalam predikat bank yang sehat namun rasio

kredit bermasalah selama empat tahun berturut-turut mengalami

peningkatan (dari tahun 2013 sampai tahun 2016).

Berdasarkan pemaparan diatas penulis tertarik mengangkat judul

“Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non-Performing Loan

(NPL) terhadap Profitabilitas (ROA) Pada PT Bank Central Asia,

Tbk”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada paparan diatas, maka dapat dikemukakan

permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu:

1. Persaingan yang semakin tajam dan semakin ketat sehingga kinerja

bank yang menjadi rendah.

2. Terjadinya penurunan pada ROA Bank Central Asia.

3. Peningkatan CAR tidak diikuti dengan peningkatan ROA.

4. Terjadinya peningkatan pada kredit bermasalah.

5. Pergerakan margin laba mengalami fluktuasi yang cenderung

menurun.

C. Pembatasan Masalah

Banyaknya masalah diatas, maka penulis melakukan pembatasan

terhadap masalah-masalah yang hanya menjadi focus dalam penelitian ini,

yakni masalah yang berkaitan dengan judul penelitian, yaitu:

8
1. Profitabilitas (ROA)

Kemampuan perusahaan untuk memperoleh pendapatan dalam kegiatan

operasi perusahaan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya.

Rumusnya adalah ROA = 𝑙𝑎𝑏𝑎𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙


𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘
𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡
X 100%

2. Capital Adequacy Ratio (CAR)

CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva

bank yang mengandung risiko ikut dibiayai dari dana modal sendiri

bank, disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar

𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐵𝑎𝑛𝑘
bank. Rumusnya adalah CAR = 𝑋 100%
𝐴𝑇𝑀𝑅

3. Non-Performing Loan (NPL)

NPL merupakan rasio untuk mengetahui sejauh mana risiko kredit

bermasalah yang telah disalurkan bank kepada masyarakat. Rumusnya

𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
adalah NPL = 𝑋 100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛

4. Objek penelitian dalam penelitian skripsi ini adalah PT. Bank Central

Asia, Tbk yang beralamat di jalan M.H Thamrin no.1 Menara BCA

Jakarta Pusat, dengan waktu penelitian selama lima bulan dari bulan

Mei 2017 hingga Oktober 2017.

5. Periode data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data rasio

keuangan pada tahun 2012-2016.

9
D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian, identifikasi dan batasan

masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat diajukan rumusan

masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return

On Assets (ROA) PT. Bank Central Asia,Tbk?

2. Bagaimana pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap Return On

Assets (ROA) PT. Bank Central Asia, Tbk?

3. Bagaimana pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non

Performing Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA) PT. Bank

Central Asia,Tbk?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap

Return On Assets (ROA) PT. Bank Central Asia,Tbk.

2. Untuk mengetahui pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap

Return On Assets (ROA) PT. Bank Central Asia, Tbk.

3. Untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non

Performing Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA) PT. Bank

Central Asia,Tbk.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberi manfaat kepada pihak-

pihak yang terkait, diantaranya:

10
1. Peneliti, sebagai pengetahuan atas pemahaman terhadap kinerja

perbankan yang meliputi CAR, NPL dan Profitabilitas (ROA).

2. Perusahaan, sebagai saran masukan guna menjadi bahan pertimbangan

dalam melihat kinerja bank yang dilihat dari modal, kredit dan

pendapatan

3. Universitas, menjadi khasanah keilmuan manajemen keuangan yang

berkaitan dengan perbankan meliputi profitabilitas, likuiditas,

solvabilitas dan aktivitas.

4. Akademis, sebagai dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya dan

memberi masukan pada perkembangan kinerja bank.

5. Bagi pembaca, sebagai wahana keilmuan yang menambah khasanah

ilmu keuangan perbankan.

G. Kerangka Berpikir

Adapun kerangka berfikir dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan data-data yang diperoleh dari PT. Bank DKI,Tbk berupa

laporan keuangan yang terdiri dari laporan rasio keuangan untuk

mengetahui pengaruh CAR dan NPL terhadap Profitabilitas (ROA) PT.

Bank Central Asia,Tbk periode 2012-2016.

Kerangka pemikiran merupakan penjelasan terhadap gejala- gejala

yang menjadi obyek permasalahan. Kriteria utama agar suatu kerangka

pemikiran bisa meyakinkan semua ilmuwan adalah alur- alur pikiran yang

logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan

kesimpulan yang berupa hipotesis.

11
Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan berbagai cara

dan tujuan, diantaranya dengan menggunakan rasio CAR, NPL, dan ROA.

ROA menggambarkan keberhasilan manajemen dalam menghasilkan laba

secara keseluruhan dengan cara membandingkan antara laba sebelum

pajak dengan total asset. ROA juga menggambarkan perputaran

aktivayang diukur dari volume penjualan.Semakin besar ROA suatu bank,

maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut,

dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari penggunaan asset.

Semakin kecil rasio ini mengindikasikan kurangnya kemampuan

manajemen bank dalam hal mengelola aktiva untuk meningkatkan

pendapatan dan atau menekan biaya.

NPL atau kredit bermasalah adalah kredit dimana pembayaran

kembalinya dalam bahaya, terutama apabila sumber-sumber pembayaran

kembali yang diharapkan diperkirakan tidak cukup untuk membyar

kembali kredit sehingga belum mencapai atau memenuhi target yang

diinginkan oleh bank.

Sedangkan CAR merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa

jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko ikut dibiayai dari dana

modal sendiri bank, disamping memperoleh dana- dana dari sumber-

sumber diluar bank. Perhitungan analisis laporan keuangan sangatlah

penting bagi suatu perusahaan, karena dengan adanya analisis laporan

keuangan yang cukup akurat akan memungkinkan bagi perusahaan

beroperasi secara efektif dan efisien.

12
CAR (X1) ROA (Y)
- Modal Bank H1 - Laba
- ATMR Sebelum
Pajak
NPL (X2) - Asset
H2
- Kredit bermasalah
- Kredit yang
diberikan H3

Gambar 1.2
Kerangka Berpikir
H. Hipotesis Penelitian

Sugiyono (2008:69) “Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap

rumusan masalah sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Variabel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas (independent)

dan variabel terikat (dependent). Variabel bebas dalam penelitian ini

adalah Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non-Performing Loan (NPL)

sedangkan variable terikat yang digunakan adalah Profitabilitas (ROA).

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai

berikut:

1. H0 : β1 = 0 tidak terdapat pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR)

terhadap Return On Assets (ROA) secara parsial pada PT.

Bank Central Asia, Tbk.

Ha :β1 ≠ 0 terdapat pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap

Return On Assets (ROA) secara parsial pada PT. Bank

Central Asia,Tbk.

2. H0 2 : β2 = 0 tidak terdapat pengaruh Non Performing Loan (NPL)

terhadap Return On Assets (ROA) secara parsial

pada PT. Bank Central Asia, Tbk.

13
Ha 2 : β2 ≠ 0 terdapat pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap

Return On Assets (ROA) secara parsial pada PT. Central

Asia, Tbk.

3. H0 3 : β3 = 0 tidak terdapat pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) dan

Non Performing Loan (NPL) terhadap Return On Assets

(ROA) secara simultan pada PT. Bank Central Asia, Tbk.

Ha 3 : β3 ≠ 0 terdapat pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) dan

Non Performing Loan (NPL) terhadap Return On Assets

(ROA) secara simultan pada PT. Bank Central Asia, Tbk.

Berdasarkan pembahasan dihalaman sebelumnya, dapat ditarik

kesimpulan sementara dalam bentuk hipotesis penelitian, yaitu Diduga

terdapat pengaruh yang signifikan CAR dan NPL terhadap ROA PT.Bank

Central Asia ,Tbk.

14