Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan

usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa dehidrasi disertai

muntah. Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak

normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak

dari biasa (Sowdent, 2012).

Gastroenteritis adalah suatu keadaan inflamasi pada usus yang

ditandai buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan konsistensi

tinja lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya, dan

berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu (Suharyono, 2008). Diare

adalah suatu kondisi dimana seseorang BAB dengan konsistensi lembek

atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering

(biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari (DEPKES RI 2015).

Angka kejadian gastroenteritis di sebagian besar wilayah Indonesia

hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162.000 balita

meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil

Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2007 di Indonesia,

gastroenteritis merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita dan

nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di

Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun

(Piogama, 2010).

1
Gastroenteritis dianggap akut kalau berlangsung kurang dari 7

hingga 14 hari dan kronik kalau berlangsung lebih dari 2 sampai 3

minggu. Gastroenteritis infeksius yang akut dan tersebar di seluruh

penjuru dunia menyebabkan lebih dari 4 juta kematian setiap tahunnya

pada balita, khususnya di negara berkembang dan menjadi penyebab

utama malnutrisi kalori, protein dan dehidrasi (Deven, 2010).

Diantara anak yang diperiksa di klinik perawatan setiap hari,

gastroenteritis infeksius akut umumnya terjadi dan penularan antar

manusia organisme yang paling sering terlibat dalam epidemic diare

ditempat perawatan tersebut adalah Shigella, Giardia Lambia, dan Cryptos

Poridium. Angka serangan sekunder yang berkisar antara 10 dan 20 %

menggambarkan sumber infeksi yang penting bagi orang tua serta saudara

sekandung (Khalik, 2009).

Data dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Departemen

Kesehatan menyebutkan, pada tahun 2008 angka kematian rata-rata yang

diakibatkan gastroenteritis adalah 23 per 100.000 penduduk, sedangkan

angaka tersebut lebih tinggi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun,

yaitu 75 per 100.000 penduduk. Hasil survey pada tahun 2009

menunjukkan bahwa kejadian gastroenteritis pada semua usia di Indonesia

adalah 423 per 1000 penduduk dan terjadi satu-dua kali per tahun pada

anak-anak berusia di bawah lima tahun (Diah, 2010).

Sampai saat ini penyakit diare merupakan penyebab utama

kesakitan dan kematian, khususnya pada bayi dan balita di Indonesia.

Menurut hasil Riskesdas 2007, diare merupakan penyebab kematian

2
nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada

golongan semua umur merupakan penyebab kematian yang ke-empat

(13,2%).

Pada tahun 2013 terjadi 8 KLB yang tersebar di 6 propinsi, 8

kabupaten dengan jumlah penderita 646 orang dengan kematian 7 orang

(CFR 1,08%). Sedangkan pada tahun 2014 terjadi 6 KLB Diare yang

tersebar di 5 propinsi, 6 kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 2.549

orang dengan kematian 29 orang (CFR 1,14%) (Depkes RI, 2015).

Cakupan penemuan dan penanganan diare di Dinas Kesehatan Kota

Banjarmasin tahun 2017 sebesar 13.135 (2,94%) lebih tinggi dibanding

tahun 2016 sebesar 12.942 (2,08%). Berdasarkan data yang diperoleh dari

Puskesmas Kuin Raya Kota Banjarmasin, kasus gastroenteritis atau diare

antara tahun 2015, 2016 dan tahun 2017 dengan rincian untuk tahun 2015

terdapat 1042 klien diare, tahun 2016 terdapat 802 klien diare, dan tahun

2017 terdapat 624 klien diare dengan penderita terbanyak diantaranya

adalah bayi/balita.

Kematian akibat gastroenteritis yang jumlahnya jutaan, mayoritas

disebabkan oleh hal sepele, yaitu habisnya cairan tubuh yang keluar karena

buang air dan muntah. Hilangnya cairan sedikit demi sedikit oleh banyak

orang dianggap hal biasa. Di pelosok desa terutama di daerah Jawa,bahkan

ada yang menganggap bahwa anak gastroenteritis sebagai pertanda akan

bertambah pintar. Padahal jika kekurangan cairan lebih dari 10% dari berat

badan anak atau bayi akan menyebabkan kematian hanya dalam tempo

tiga hari. Belakangan juga ditemukan retrovirus yang menjadi biang

3
keladi munculnya gastroenteritis anak-anak di bawah usia 2 tahun. Namun,

ASI yang diisap bayi memiliki kemampuan untuk mengikis habis virus

tersebut asal anak tetap diberi cairan pengganti yang hilang karena buang

air dan muntah (Widjaja, 2010).

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menjadikan

kasus Gastroentritis ini sebagai bahan studi kasus dengan judul “Asuhan

Keperawatan Gastroenteritis Pada Klien Di PuskesmasKuin Raya”.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan GastroenteritisPada Klien Di

Puskesmas Kuin Raya Kota Banjarmasin.

1.3 Tujuan Penulisan

A. TujuanUmum

Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman belajar secara nyata

dalam melaksanakan “Asuhan Keperawatan Gastroentritis Pada Klien

Di Puskesmas Kuin Raya Kota Banjarmasin “.

B. TujuanKhusus

1. Mendapatkan gambaran tentang pengkajian keperawatan secara

komprehensif pada klien dengan Gastroenteritis.

2. Dapat mengindentifikasi diagnosa keperawatan yang muncul pada

klien dengan Gastroenteritis.

3. Dapat membuat rencana asuhan keperawatanklien dengan kasus

Gastroenteritis.

4
4. Dapat melaksanakan implementasi klien dengan kasus

gastroenteritis.

5. Dapat melaksanakan evaluasi terhadap keberhasilan asuhan

keperawatan.

1.4 Manfaat Penelitian

A. Bagi Keluarga

Keluarga mengetahui gastroenteritis dan melakukan penanganan yang

tepat supaya tidak terjadi dehidrasi yang dapat membahayakan

keselamatan anak.

B. Bagi Peneliti

Sebagai aplikasi ilmu yang diperoleh terutama riset keperawatan dan

dapat menambah pengetahuan dan keterampilan penulis dalam

melakukan penelitian serta menambah wawasan tentang

Gastroenteritis.

C. Bagi Tempat Penelitian

Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Kuin Raya Kota Banjarmasin

dalam meningkatkan perencanaan program usaha kesehatan

Puskesmas Kuin Raya Kota Banjarmasin, khususnya tentang penyakit

Gastroenteritis.

D. Bagi Institusi

Hasil penelitian diharapkan dapat sebagai data dasar bagi peneliti

lainya yang ingin melanjutkan penelitian dengan lingkup yang sama.