Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

LAJU PERTUMBUHAN POPULASI KUTU BERAS (Sitophylus oryzae)

PADA MEDIUM KEDELAI (Glycine soja)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ekologi


Dosen pengampu :
Drs. Nugroho Edi Kartijono, M.Si
Drs. F. Putut Martin HB., M.Si

Disusun oleh:
Yusi Azizah (4411416003)
Reny Rahayu (4411416023)
Alma’iyyatun Najihah (4411416025)
Slamet Wiji Handriyani (4411416029)
Nur Hidayah (4411416035)

Kelompok 6 /Rombel 1 Biologi 2016

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
A. Tujuan:
Mengetahui laju pertumbuhan populasi kutu beras (Sitophilus oryzae) pada
media kedelai (Glycine soja).

B. Landasan Teori:

Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah
dan waktu tertentu. Contoh populasi dari komunitas sungai dapat berupa populasi
rumput, populasi ikan, populasi kepiting, popuasi kerang, populasi sumpil, dan
lain-lain. Contoh populasi dari komunitas sawah dapat berupa populasi padi,
populasi tikus, populasi ular, dan lain-lain. Antara populasi yang satu dengan
populasi lain selalu terjadi interaksi baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam komunitasnya (Winatasasmita, 1993).
Ukuran populasi dapat berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam
populasi ini disebut laju pertumbuhan populasi. Perubahan ini dihitung dengan
menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan
perubahan dalam populasi. Penyebab kecepatan rata-rata dinamika atau laju
pertumbuhan populasi ada berbagai hal. Dari alam mungkin disebabkan oleh
bencana alam, kebakaran, serangan penyakit, sedangkan dari manusia misalnya
karena tebang pilih. Namun, pada dasarnya populasi mempunyai karakteristik
yang khas untuk kelompoknya yang tidak dimiliki oleh masing-masing individu
anggotanya. Karakteristik tersebut antara lain adalah kepadatan (densitas), laju
kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), potensi biotik, penyebaran umur,
dan bentuk pertumbuhan. Menurut Waluya (2011), natalitas dan mortalitas
merupakan penentu utama pertumbuhan populasi.
Laju pertumbuhan populasi juga dapat disebabkan karena adanya imigrasi
dan emigrasi. Hal ini khususnya untuk organisme yang dapat bergerak, misalnya
hewan dan manusia. Imigrasi adalah perpindahan satu atau lebih organisme
kedaerah lain atau peristiwa yang didatanginya. Imigrasi ini akan meningkatkan
populasi, sedangkan emigrasi adalah keluarnya individu dari populasi tersebut ke
luar daerah asalnya sehingga emigrasi akan menyebabkan menurunnya populasi
(Campbell, 2010).
Menurut Molles (2004) laju pertumbuhan populasi dibagi 2 yaitu
pertumbuhan populasi yang berbentuk eksponensial dan pertumbuhan populasi
bebentuk sigmoid. Laju pertumbuhan populasi eksponensial dapat terjadi apabila
suatu populasi mengalami kelimpahan atau cukup dari makanan yang
diperolehnya sedangkan laju pertumbuhan populasi sigmoid dapat terjadi apabila
suatu populasi mengalami ketersendatan dalam hal memperoleh makanan.

C. Alat dan Bahan


 Alat :
a. Toples sosis
b. Kain
c. Karet gelang
d. Alat tulis
 Bahan :
a. Kutu beras (Sitophilus oryzae) 20 betina dan 5 jantan
b. Kedelai (Glycine soja) 250 gram

D. Cara Kerja

Sebanyak 250 gram


kedelai (Glycine dicatat natalitas dan
soja) dimasukkan mortalitasnya.
kedalam toples.

20 kutu beras betina perubahan jumlah


dan 5 kutu jantan populasi diamati
dimasukkan dan dicatat setiap
kedalam toples. seminggu sekali.

Mulut toples ditutup


toples diletakkan
dengan beberapa
diatas meja dengan
lapis kain kassa dan
ruangan yang cukup
diikat dengan karet
cahaya.
gelang.
E. Data Pengamatan

Tabel. kehidupan kutu beras pada kedelai


Tanggal Minggu Hidup Mortalitas Natalitas
Ke-
02/04/2018 0 25 0 0
09/04/2018 1 20 5 0
16/04/2018 2 1 20 1
23/04/2018 3 0 1 0
30/04/2018 4 0 0 0
07/05/2018 5 0 0 0
∆𝑡 = 6 ∆𝑀𝑛 = 26 ∆𝑁𝑛 = 1

Grafik Kehidupan Kutu Beras pada


Kedelai
25
20
Jumlah

15
Natalitas
10
Mortalitas
5
0
Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu
ke- 0 ke-1 ke-2 ke-3 ke-4 ke-5

F. Analisis Data
a. Laju Natalitas Mutlak
∑ 𝑁𝑛 1
N= = = 0,17
∆𝑡 6

b. Laju Mortalitas Mutlak


∑ 𝑀𝑛 26
M= = = 4,3
∆𝑡 6

c. Laju Pertumbuhan Populasi


R = N – M = 0,17 - 4,3 = -4,13
 Menghitung Kadar Air Kedelai
Kadar Air Kedelai = Massa Awal – Massa Akhir (sampai tidak ada perubahan
massa lagi)
= 250 g – 220 g = 30 g
∆ 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
% Kadar Air Kedelai = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙 X 100% = 12%

G. Pembahasan
Pada praktikum laju pertumbuhan populasi Sitophyllus oryzae ini,
kelompok kami melakukan percobaan dengan menggunakan biji kedelai sebagai
media hidupnya. Perbandingan antara kutu jantan dan kutu betina yang digunakan
adalah 1:4. Dalam media kedelai tersebut kami memasukkan 20 kutu betina dan 5
kutu jantan, sehingga total jumlahnya 25 ekor. Dengan ini diharapkan akan terjadi
perkawinan sehingga nantinya dapat diamati pertumbuhan populasi kutu beras.
Hasil dari percobaan ini adalah setelah 1 minggu dijumpai adanya kutu
yang mati sebanyak 5 ekor, sehingga totalnya menjadi 20 ekor karena terjadinya
kematian kutu tidak diiringi dengan kelahiran. Pada minggu ke-2 ada 20 ekor kutu
lagi yang mati, dan ada 1 ekor kutu yang masih hidup. Hal ini dapat diketahui
berarti pada minggu ke-2 ini telah terjadi natalitas sebanyak 1 ekor, karena pada
minggu ke-1 diketahui sebelumnya hanya terdapat 20 ekor. berarti sisa kutu pada
toples hanya tinggal satu, sehingga dimungkinkan tidak dapat terjadinya proses
perkawinan untuk meningkatkan jumlah populasi kutu. Pada minggu ke-3, kutu
beras yang sebelumnya tinggal satu ternyata mengalami kematian, yang
mengakibatkan pada toples sudah tidak terdapat satupun ekor kutu beras lagi.
Pada minggu ke-4 dan ke-5 dapat dikatakan tidak terdapat adanya peristiwa
kelahiran dan kematian kutu karena semua kutu pada toples telah mati pada
minggu ke-3, sedangkan faktor imigrasi dan emigrasi tidak mungkin terjadi
karena tempat hidup (medium kedelai dalam toples) sudah dikondisikan agar tidak
ada kutu beras dari luar yang masuk maupun kutu beras yang keluar. Jika dihitung
rata-ratanya maka laju mortalitasnya adalah 4,3 kutu sedangkan nilai untuk laju
natalitasnya adalah 0,17, sedangkan laju pertumbuhan populasinya adalah -4,13
yang berarti kutu beras (Sitophilus oryzae) tidak mengalami laju pertumbuhan
populasi melainkan mengalami semakin berkurangnya populasi akibat adanya
mortalitas yang tinggi.
Dari grafik dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan populasi Sitophilus
oryzae dari minggu ke minggu semakin menurun, hal ini menunjukkan tipe laju
pertumbuhan populasi kutu beras (Sitophilus oryzae) tersebut adalah tipe laju
pertumbuhan populasi yang sigmoid, karena bukan kelimpahan yang diperoleh
melainkan semakin berkurangnya populasi akibat mortalitas yang terjadi. Faktor-
faktor yang mempengaruhi mortalitas populasi kutu beras tersebut adalah
mungkin karena adanya kompetisi diantara kutu dalam memperebutkan makanan,
ruang gerak, oksigen, dan sebagainya. Dalam mengetahui suatu kepadatan
populasi suatu jenis organisme di habitatnya maka perlu dilakukan penghitungan.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghitung semua jumlah organisme pada
habitatnya masing-masing dan angka yang diperoleh merupakan angka yang
absolute untuk menyatakannya sebagai kepadatan absolute ( Suin, 2003).
Perkembangan suatu individu berawal dari adanya perkawinan antara
kelamin jantan dengan kelamin betina. Lama kelamaan individu ini akan
mengalami perbanyakan pada suatu kawasan hidup. Perbanyakan individu yang
sejenis inilah yang dinamakan sebagai populasi. Laju pertumbuhan populasi kutu
beras pada medium kedelai tersebut sangat rendah sekali dikarenakan
makanannya berupa kulit biji yang keras sehingga sulit untuk di pecah. Menurut
Suyono dan Sukarno (1985), kuantitas dan kualitas makanan juga berpengaruh
terhadap natalitas kutu beras (Sitophilus oryzae). Supaya makanan dapat memberi
pengaruh yang baik, maka ketersediaan makanan juga dalam jumlah yang cukup
dan kandungan nutrisi yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Keadaan biji seperti
bentuk biji, kekerasan kulit, warna dan adanya kandungan zat kimia tertentu
berpengaruh pula pada preferensi serangga. Faktor lingkungan berupa kelembapan
pun berpengaruh terhadap fase hidup kutu beras terutama fase setelah telur. Hal
ini disebabkan karena kadar air yang rendah menjadikan biji lebih keras sehingga
serangga hama sukar menggerek biji, sedangkan pada biji yang kadar airnya
relative tinggi, memiliki biji lebih lunak sehingga memudahkan serangga untuk
menggerek dan mengkonsumsi (Yudhansa, 2013). Semakin tinggi kelembaban
lingkungan, maka kadar air bahan pakan yang tersimpan akan meningkat dan akan
menurunkan tingkat kekerasan bahan sehingga larva berkembang dengan lebih
cepat pada pakan dengan kadar air yang lebih tinggi. Kalshoven (1981)
menyimpulkan bahwa perkembangan populasi serangga sangat cepat jika kadar
air bahan simpan lebih dari 15%, sebaliknya bila kadar air bahan diturunkan maka
mortalitas serangga akan lebih besar sehingga perkembangan populasi terhambat.
Hal tersebut telah menambah penjelasan dari hasil praktikum yang telah kami
lakukan mengapa kutu beras pada medium kedelai tingkat mortalitasnya lebih
tinggi dibanding tingkat natalitasnya, karena setelah kami melakukan
penimbangan awal kedelai dan kemudian mengovennya untuk mengetahui kadar
airnya kemudian melakukan penimbangan lagi sampai massa kedelai tidak
mengalami perubahan lagi dan setelah dilakukan perhitungan ternyata kadar air
pada kedelai yang kami gunakan hanya sebanyak 12%.

H. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pengamatan dan analisis data, didapatkan laju
pertumbuhan Sitophylus Oryzae pada media kedelai sebesar -4,13. Hasil negatif
tersebut berarti pada medium kedelai, kutu tidak mengalami pertumbuhan
populasi karena tingkat mortalitasnya lebih tinggi dibandingkan tingkat
natalitasnya.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell,Reece Mitchell. 2010. Biologi. Jakarta : Erlangga

Kalshoven, L.E. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Rivised and translated by
P.A. Vander Laan with Assistance of G.L.H. Rothsid. PT. Ikhtiar
BaruVan Hoeven. Jakarta .p. 499-500.

Molles, Manuel C,Jr. 2004. Ecology Concepts And Applications. Third Edition.
Mc Grow Hill. New Mexico
Suin, N.M. 2003. Ekologi Populasi. Padang : Andalas University Press

Waluya. bagja. 2011. ekologi parawisata. website: http://file.upi. edu/direktori/


fpips/jur._pend._geografi/197210242001121-bagja_waluya/ekologi _pari
wisata/ho_ekologi_.pdf. Diakses pada hari minggu 14 Mei 2018 pada
pukul 10:02 WIB.

Winatasasmita, Djamur.1993.Biologi I.Jakarta: Balai Pustaka

Yudansha A. et al. 2013. Perkembangan Dan Pertumbuhan Sitophilus Oryzae L.


(Coleoptera: Curculionidae) pada Beberapa Jenis Beras dengan Tingkat
Kelembaban Lingkungan yang Berbeda. “Jurnal HPT”. Vol. 1 (3): 1-8.

Anda mungkin juga menyukai