Anda di halaman 1dari 40

REVIEW ARTIKEL UNDERSTANDING CORPORATE GOVERNANCE

A Survey of corporate governance. Shleifer, A., and Vishny, R. (1997)


Corporate governance and agency conflict. Dey, A. (2008)
The State of Corporate Governance Research. Bebchuk, L., and Weisbach, M. (2010)
The research frontier in corporate governance. Ahrens, T., Filatotchev, I. and Thomsen, S. (2011)
Corporate Governance Codes: A Review And Research Agenda. Francesca Cuomo*,
Christine Mallin and Alessandro Zattoni (2016)

Tugas :
Seminar Riset Tata Kelola Dan Akuntabilitas

Dosen :
Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak., CMA.
Prof. Dr. Bambang Tjahjadi, SE., MBA., Ak., CPM., CMA.
Prof. Dr. Arsono Laksmana, SE., CPA., Ak.
Dr. Noorlailie Soewarno, SE., MBA., Ak., CMA.
Dr. Ardianto, SE., M.Si., Ak.

Oleh :
Mar A Elthaf I(041717147311)
Anwar Hariyono (041717147310)
Rusdiyanto (041717147309)
Vidia Gati (041717147301)
Onong Junus (041717147306)

PROGRAM DOKTOR ILMU AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA (UNAIR)
SURABAYA
2018

1
Mar A Elthaf I (041717147311)
Review Jurnal "A Survey of Corporate Governance" by Andrei Shleifer and Robert W
Vishny

Masalah

Jurnal ini pada dasarnya membahas tentang tata kelola perusahaan dengan berfokus pada dua hal
utama yaitu: (1) Perlindungan legal terhadap investor; (2) Struktur Kepemilikan terhadap tata
kelola perusahaan.Fenomena yang terjadi saat ini adalah semakin banyaknya perusahaan
bergantung pada pendanaan dari pihak luar untuk pembiayaan kegiatan perusahaan, investasi dan
menciptakan pertumbuhan. Hal ini menyebabkan perusahaan perlu memastikan kepada pihak
eksternal atau investor bahwa dana tersebut digunakan secara tepat dan efisien serta manajemen
bertindak yang terbaik untuk kepentingan perusahaan. Kepastian ini dapat diberikan melalui
sistem tata kelola perusahaan (corporate governance) untuk memberikan perlindungan yang
efektif kepada pemegang saham dan pihak kreditur sehingga pihak-pihak ini akan memperoleh
keyakinan akan kembalinya investasi dengan nilai wajar dan bernilai tinggi. Corporate
governance merupakan hal yang sangat diperlukan bagi perusahaan untuk memperoleh
peningkatkan modal. Sebaliknya perusahaan yang mengabaikan corporate governance akan
mengalami kemunduran atau kesulitan kinerjanya. Corporate governance utamanya terdiri dari
komponen transparancy dan disclosure serta fairness. Transparansi dan disclosure mengacu
kepada transparansi keuangan dan disclosure informasi. Sedangkan fairness terkait adanya
pelaksanaan keadilan melalui penegakan legal. Semakin besar transparansi dan disclosure suatu
perusahaan, maka stakeholder akan mendapatkan lebih banyak informasi mengenai pengelolaan
perusahaan. Disclosure yang lebih baik akan berdampak positif terhadap efisiensi pasar modal.
Pada bagian lain, kebijakan pembayaran dividen perusahaan berhubungan dengan perlindungan
investor. Oleh sebab itu, perlindungan kepada investor pasar modal dapat diperoleh melalui
perlindungan hukum investor, disclosure perusahaan dan dividen. Penelitian corporate
governance menyatakan bahwa perlindungan legal pada investor luar merupakan determinan
kunci dan pengembangan pasar modal, capital dan struktur kepemilikan, kebijakan dividen dan
keuntungan pengendalian privat di seluruh dunia . Perlindungan pihak-pihak internal dan
ekstemal perusahaan menjadi penting di berbagai negara, terutama setelah terjadinya kasus
Enron. Tanpa mengesampingkan keberadaan pihak internal dan ekstemal lain di perusahaan,
perhatian perusahaan ditujukan pada perlindungan investor sebagai penyandang dana
perusahaan. Ketika investor mendanai perusahaan, mereka memiliki hak atau kekuatan, kreditor
memiliki hak to respossess collateral (jaminan) atau untuk reorganisasi perusahaan yang tidak
melaksanakan kewajibannya atau pelanggaran perjanjian hutang. Shareholders memiliki hak
untuk menyeleksi direktur atau menuntut direktur dan perusahsan serta berhak mendapatkan
informasi mengenai perusahaan. Contohnya, tanpa data akuntansi, kreditur tidak mengetahui
apakah perjanjian hutang telah dilanggar.

Struktur Kepemilikan Perusahaan


Struktur kepemilikan merupakan komposisi kepemilikan saham dalam perusahaan, khususnya
jumlah mayoritas (baik sendiri-sendiri maupun bersama) akan menentukan luas dan intensitas

2
pengendalian kepada manajeman. Struktur kepemilikan (ownership structure) adalah presentase
saham yang dimiliki oleh pihak insider shareholder dan pihak outsider shareholder. Pihak Insider
yaitu pemegang saham yang berada dijajarkan direktur dan komisaris. Pada pihak outsider yaitu
pihak institusi, individu dan lain-lain. Kepemilikan perusahaan dapat dilihat dari sudut konsep
tata kelola perusahaan, pemilik sebagai mekanisme eksternal, yang berhubungan kuat dengan
dewan komisaris dan direksi perusahaan publik. Anggota lain yang bukan merupakan komisaris
independen harus berasal dari pihak eksternal independen serta menguasai dan memiliki latar
belakang akuntansi dan keuangan. Struktur kepemilikan merupakan komposisi kepemilikan
saham dalam perusahaan, khususnya jumlah mayoritas (baik sendiri-sendiri maupun bersama)
akan menentukan luas dan intensitas pengendalian kepada manajeman. Struktur kepemilikan
(ownership structure) adalah presentase saham yang dimiliki oleh pihak insider shareholder dan
pihak outsider shareholder. Pihak insider yaitu pemegang saham yang berada dijajarkan direktur
dan komisaris. Pada pihak outsider yaitu pihak institusi, individu dan lain-lain. Kepemilikan
perusahaan dapat dilihat dari sudut konsep tata kelola perusahaan, pemilik sebagai mekanisme
eksternal, yang berhubungan kuat dengan dewan komisaris dan direksi. Masalah keagenan
merupakan suatu masalah yang timbul akibat pihak yang terlibat mempunyai kepentingan yang
berbeda satu dengan lain. Struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi
konflik antara manajemen dan pemegang saham. Jadi agency problem dapat dikurangi dengan
adanya struktur kepemilikan, karena dengan adanya struktur kepemilikan yang terstruktur,
dipercaya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya perusahaan yang nantinya dapat
mempengaruhi biaya keagenan yang dikeluarkan perusahaan.

Mengapa Tata Kelola?


Salah satu teori yang berkaitan erat dengan tata kelola perusahaan yang baik adalah teori agen
(agency theory). Teori ini menjelaskan hubungan antara dua pihak yang memiliki perbedaan
kepentingan terkait dengan pengelolaan perusahaan. Misal, antara pemilik (principal) dan
eksekutif (agent) perusahaan. Kedua pihak mungkin memiliki perbedaan preferensi. Pemilik
mungkin akan mengharapkan return yang menarik atas investasi mereka, sementara eksekutif
perusahaan mungkin mengharapkan keleluasaan dalam menjalankan perusahaan. Pemilik
mungkin mengharapkan eksekutif perusahaan tidak mengambil proyek yang memiliki risiko
tinggi agar tidak mengurangi kemungkinan keuntungan mereka, sementara eksekutif perusahaan
ingin mengambil proyek berisiko tinggi agar ketika berhasil, mereka akan dihargai pula dengan
setimpal. Di sinilah tata kelola perusahaan yang baik berperan. Perbedaan kepentingan dan
persepsi melatari keinginan pemilik perusahaan untuk mendapatkan informasi yang cukup terkait
dengan aset mereka. Investopedia mendefinisikan tata kelola perusahaan sebagai sistem aturan,
praktik, dan proses yang dilakukan oleh perusahaan sebagai kerangka kerja untuk mencapai
tujuan perusahaan dengan memperhatikan pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan:
pemilik, manajemen, klien, pemasok, pemberi modal, pemerintah, dan masyarakat umum.
Sistem ini mencakup banyak hal termasuk kontrol internal yang cukup, transparansi, dan
pengungkapan.

3
Latar Belakang Permasalahan dalam Jurnal:
Jurnal ini ingin mengetahui bagaimana investor mendapatkan dana dari hasil investasi mereka
oleh pihak manajer.
Tujuan artikel
Jurnal ini membagi tingkat permasalahan yang ada dalam:
Bagian 1 menjelaskan agency teori mengenai permasalahan yang dihadapi oleh pihak pemegang
kepentingan dan pihak agen, salah satu hal yang mendasari adalah masalah insentif.
Bagian 2 Mengapa Investor sepenuhnya memberikan kepercayaan kepada pihak manajemen
terhadap sejumlah dana yang akan diinvestasikan? Kebijakan diskersi apakah yang nantinya
akan diterapkan oleh Manajemen terkait sejumlah dana yang telah diterima dari pihak investor?
Bagian 3 dan 4 Membahas tentang bagaimana seharusnya perlindungan yang harus diberikan
kepada investor baik mayoritas maupun minoritas dalam berivestasi terhadap adanya kebijakan
diskersi yang dilakukan oleh manajemen
Bagian 5 Biaya kepemilikan/ownership yang timbul akibat adanya pihak pemegang saham yang
dominan.
Adanya pemegang saham seperti institusional ownership memiliki arti penting dalam memonitor
manajemen. Adanya kepemilikan oleh institusional seperti perusahaan asuransi, bank,
perusahaan-perusahaan investasi dan kepemilikan oleh institusi-institusi lain akan mendorong
peningkatan pengawasan yang lebih optimal. Mekanisme monitoring tersebut akan menjamin
peningkatan kemakmuran pemegang saham. Signifikasi institusional ownership sebagai agen
pengawas ditekankan melalui investasi mereka yang cukup besar dalam pasar modal. Apabila
institusional merasa tidak puas atas kinerja manajerial, maka mereka akan menjual sahamnya ke
pasar. Perubahan perilaku institusional ownership dari pasif menjadi aktif dapat meningkatkan
akuntabilitas manajerial sehingga manajer akan bertindak lebih hati-hati dalam pengambilan
keputusan. Meningkatnya aktivitas institusional ownership dalam melakukan monitoring
disebabkan oleh kenyataan bahwa adanya kepemilikan saham yang signifikan oleh institusional
ownership telah meningkatkan kemampuan mereka untuk bertindak secara kolektif. Dalam
waktu yang sama, biaya untuk keluar dari investasi yang mereka lakukan menjadi semakin mahal
karena adanya resiko saham akan terjual pada harga diskon. Kondisi ini akan memotivasi
institusional ownership untuk lebih serius dalam mengawasi maupun mengoreksi semua perilaku
manajer dan memperpanjang jangka waktu investasi. Mekanisme pengawasan dapat dilakukan
dengan menempatkan dewan ahli yang tidak dibiayai perusahaan sehingga posisinya tidak
berada dibawah pengawasan manajer. Dengan demikian, dewan ahli dapat menjalankan
fungsinya secara efektif untuk mengontrol semua tindakan manajer. Pengawasan lain yang dapat
dilakukan adalah dengan cara memberikan masukan-masukan sebagai bahan pertimbangan bagi
manajer dalam menjalankan usaha dan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Semakin besar prosentase saham yang dimiliki oleh institusional ownership akan menyebabkan
pengawasan yang dilakukan menjadi lebih efektif karena dapat mengendalikan perilaku
oportunistik manajer dan mengurangi agency cost.
Bagian 6 Menjelaskan bagaimana penerapan perlindungan legal secara hukum terhadap investor
di beberapa belahan Negara yang ada di dunia.

Kontribusi Artikel

4
Good Corporate Governance (GCG) merupakan konsep tentang praktik tata kelola yang baik
dalam suatu institusi, yang di dalamnya terdapat prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung
jawab/responsibilitas, kemandirian, dan kewajaran yang perlu dilaksanakan oleh sebuah institusi.
OECD mendefinisikan GCG sebagai seperangkat hubungan antara manajemen perusahaan,
dewan direksi, pemegang saham, dan pemangku kepentingan yang lain. Setiap perusahaan harus
memastikan bahwa asas GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran
perusahaan.

Grand Theory yang Digunakan


Jurnal ini menggunakan grand theory agency. Teori agensi merupakan konsep yang menjelaskan
hubungan kontraktual antara principals dan agents. Pihak principals adalah pihak yang
memberikan mandat kepada pihak lain, yaitu agent, untuk melakukan semua kegiatan atas nama
principals dalam kapasitasnya sebagai pengambil keputusan (Jensen dan Smith, 1984).
Tujuan dari teori agensi adalah pertama, untuk meningkatkan kemampuan individu (baik
prinsipal maupun agen) dalam mengevaluasi lingkungan dimana keputusan harus diambil (The
belief revision role). Kedua, untuk mengevaluasi hasil dari keputusan yang telah diambil guna
mempermudah pengalokasian hasil antara prinsipal dan agen sesuai dengan kontrak kerja (The
performance evaluation role). Secara garis besar teori agensi dikelompokkan menjadi dua
(Eisenhardt,1989), yaitu positive agency research dan principal agent research. Positve agent
research memfokuskan pada identifikasi situasi dimana agen dan prinsipal mempunyai tujuan
yang bertentangan dan mekanisme pengendalian yang terbatas hanya menjaga perilaku self
serving agen. Secara ekslusif, kelompok ini hanya memperhatikan konflik tujuan antara pemilik
(stockholder) dengan manajer. Sementara itu principal agent research memfokuskan pada
kontrak optimal antara perilaku dan hasilnya, secara garis besar penekanan pada hubungan
principal dan agent. Principal-agent research mengungkapkan bahwa hubungan agent-principal
dapat diaplikasikan secara lebih luas, misalnya untuk menggambarkan hubungan pekerja dan
pemberi kerja, lawyer dengan kliennya, auditor dengan auditee. Agency theory tidak dapat
dilepaskan dari kedua belah pihak diatas, baik
prinsipal maupun agen merupakan pelaku utama dan keduanya mempunyai bargaining position
masing-masing dalam menempatkan posisi, peran dan kedudukannya. Prinsipal sebagai pemilik
modal memiliki akses pada informasi internal perusahaan sedangkan agen sebagai pelaku dalam
praktek operasional perusahaan mempunyai informasi tentang operasi dan kinerja perusahaan
secara riil dan menyeluruh. Posisi, fungsi, situasi, tujuan, kepentingan dan latar belakang
prinsipal dan agen yang berbeda dan saling bertolak belakang tersebut akan menimbulkan
pertentangan dengan saling tarik menarik kepentingan (conflict of interest) dan pengaruh antara
satu sama lain. Berkaitan dengan auditing, baik prinsipal maupun agen diasumsikan sebagai
orang yang memiliki rasionalitas ekonomi, dimana setiap tindakan yang dilakukan termotivasi
oleh kepentingan pribadi atau akan memenuhi kepentingannya terlebih dahulu sebelum
memenuhi kepentingan orang lain. Teori keagenan mengatakan sulit untuk mempercayai bahwa
manajemen (agent) akan selalu bertindak berdasarkan kepentingan pemegang saham (principal),
sehingga diperlukan monitoring dari pemegang saham (Copeland dan Weston,1992:20).
Shareholder atau prinsipal mempekerjakan agen untuk melaksanakan tugas termasuk
pengambilan keputusan ekonomik, dalam lingkungan yang tidak pasti seperti perusahaan dalam

5
kondisi financial distress. Agen sebagai seorang manajer akan mengambil keputusan untuk
melakukan berbagai strategi guna mempertahankan kelangsungan usaha perusahaan. Disisi lain
agen merupakan pihak yang diberikan kewenangan oleh prinsipal berkewajiban
mempertanggungjawabkan apa yang telah diamanahkan kepadanya. Teori keagenan menyatakan
bahwa dalam pengelolaan perusahaa selalu ada konflik kepentingan (Brigham dan
Gapenski,1996) antara (1) manajer dan pemilik perusahaan (2) Manajer dan bawahannya, (3)
Pemilik perusahaan dan kreditor.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pihak yang melakukan proses pemantauan dan pemeriksaan
terhadap aktivitas yang dilakukan oleh pihak-pihak tersebut diatas. Aktivitas pihak-pihak
tersebut, dinilai lewat kinerja keuangannya yang tercermin dalam laporan keuangan. Lebih lanjut
dalam agency theory, pemilik perusahaan membutuhkan auditor untuk memverifikasi informasi
yang diberikan manajemen kepada pihak perusahaan. Sebaliknya, manajemen memerlukan
auditor untuk memberikan legitimasi atas kinerja yang mereka lakukan (dalam bentuk laporan
keuangan), sehingga mereka layak mendapatkan insentif atas kinerja tersebut. Disisi lain,
kreditor membutuhkan auditor untuk memastikan bahwa uang yang mereka kucurkan untuk
membiayai kegiatan perusahaan, benar-benar digunakan sesuai dengan persetujuan yang ada,
sehingga kreditor bisa menerima bunga atas pinjaman yang diberikan.
Pengawasan atau monitoring yang dilakukan oleh pihak independen memerlukan biaya atau
monitoring cost dalam bentuk biaya audit, yang merupakan salah satu dari agency cost (Jensen
dan Meckling, 1976). Biaya pengawasan (monitoring cost) merupakan biaya untuk mengawasi
perilaku agent apakah agent telah bertindak sesuai kepentingan principal dengan melaporkan
secara akurat semua aktivitas yang telah ditugaskan kepada manajer. Uraian tersebut diatas
memberi makna bahwa auditor merupakan pihak yang dianggap dapat menjembatani
kepentingan pihak pemegang saham (principal) dengan pihak manajer (agent) dalam mengelola
keuangan perusahaan (Setiawan, 2006) termasuk menilai kelayakan strategi manajemen dalam
upaya untuk mengatasi kesulitan keuangan perusahaan. Auditor independen melakukan fungsi
pengawasan atau monitoring atas pekerjaan manajer melalui sebuah sarana yaitu laporan
keuangan, sehingga auditor akan melakukan proses audit terhadap kewajaran laporan keuangan
yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas
termasuk catatan atas laporan keuangan yang kemudian akan memberikan pendapat atas
pekerjaan auditnya dalam bentuk opini audit. Auditor independen melakukan pengawasan atau
monitoring karena manajer berkeinginan untuk menyajikan laporan keuangan agar tampak lebih
baik dari kondisi senyatanya (Cosserat, 1999). Sejalan dengan pendekatan audit topdown
holistic, auditor berkewajiban untuk mengevaluasi resiko bisnis klien (Boynton, 2002).
Perusahaan yang mengalami financial distress memiliki resiko bisnis yang lebih besar. Oleh
karena itu, auditor akan mempertimbangkan rencana dan tindakan stratejik yang dilakukan
manajemen, khususnya rencana manajemen yang terlalu optimistik (Hackenbrack dan Nelson,
1996).
Sumber Data dan Metode Riset
Sumber data yang digunakan dalam jurnal ini adalah studi literature dengan mengkaji beberapa
penelitian terdahulu yang bersifat pemaparan tentang bagaimana agency teori berpengaruh
terhadap Good Corporate of Governance.
Main Result dan Implikasinya

6
Implikasi hasil jurnal ini adalah bagaimana GCG berhubungan dengan agensi teori GCG
berhubungan dengan teori agensi, bagaimana seharusnya perlindungan legal diterapkan kepada
investor, bagaimana penerapan GCG dapat berjalan sukses pada beberapa Negara maju,
bagaimana biaya dan benefits berpengaruh signifikan terhadap struktur kepemilikan, apakah ada
pengaruh politik dan ekonomi yang mempengaruhi penerapan GCG.
Penjelasan:
Sulit dipungkiri, selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate Governance (GCG)
kian populer. Tak hanya populer, tetapi istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat. Hal
itu, setidaknya terwujud dalam dua keyakinan. Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses
perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan
persaingan bisnis global - terutama bagi perusahaan yang telah mampu berkembang sekaligus
menjadi terbuka. Kedua, krisis ekonomi dunia, di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini
muncul karena kegagalan penerapan GCG. Di antaranya, Sistem Regulatory yang payah, Standar
Akuntansi dan Audit yang tidak konsisten, praktek perbankan yang lemah, serta pandangan
Board of Directors (BOD) yang kurang peduli terhadap hak-hak pemegang saham minoritas.
Berdasarkan keyakinan-keyakinan di atas itulah maka tidak mengherankan jika selama
dasawarsa 1990-an, tuntutan terhadap penerapan GCG secara konsisten dan komprehensif datang
secara beruntun. Mereka yang menyuarakan hal itu di antaranya adalah berbagai lembaga
investasi baik domestik maupun mancanegara, termasuk institusi sekaliber World Bank, IMF,
OECD, dan APEC. Dengan melontarkan beberapa prinsip umum dalam CG seperti fairness,
transparency, accountability, stakeholder concern, dapat disimpulkan bahwa penerapan GCG
diyakini akan menolong perusahaan dan perekonomian negara yang sedang tertimpa krisis
bangkit menuju ke arah yang lebih sehat, maju, mampu bersaing, dikelola secara dinamis serta
profesional. Ujungnya adalah daya saing yang tangguh, yang diikuti pulihnya kepercayaan
investor. Tentunya, lembaga-lembaga besar itu tak asal bicara. Namun, apa sebetulnya GCG itu
sendiri? Apa prinsip-prinsip dasar yang dikandungnya? Lantas, apa manfaat menerapkan GCG?
Sangat jelas bahwa perhatian terhadap corporate governance belakangan ini terutama dipicu oleh
skandal spektakuler perusahaan-perusahaan publik di Amerika dan Eropa, seperti Enron,
Worldcom, Tyco, London & Commonwealth, Poly Peck, Maxwell, dan lain-lain.Cadbury Report
(UK) dan Treadway Report (US) secara mendasar menyebutkan bahwa keruntuhan perusahaan-
perusahaan publik tersebut dikarenakan oleh kegagalan strategi maupun praktik curang dari
manajemen puncak yang berlangsung tanpa terdeteksi dalam waktu yang cukup lama karena
lemahnya pengawasan yang independen oleh corporate boards.

Dua teori utama yang terkait dengan corporate governance adalah stewardship theory dan agency
theory. Stewardship theory dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia yakni
bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggung
jawab memiliki, integritas, dan kejujuran terhadap pihak lain. Inilah yang tersirat dalam
hubungan fidusia yang dikehendaki para pemegang saham. Dengan kata lain, stewardship theory
memandang manajemen sebagai dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi
kepentingan publik pada umumnya maupun shareholders pada khususnya.
Sementara itu, agency theory yang dikembangkan oleh Michael Johnson, seorang professor dari
Harvard, memandang bahwa manajemen perusahaan sebagai 'agents' bagi para pemegang saham,

7
akan bertindak dengan penuh kesadaran bagi kepentingannya sendiri, bukan sebagai pihak yang
arif dan bijaksana serta adil terhadap pemegang saham sebagaimana diasumsikan dalam
stewardship model. Bertentangan dengan stewardship theory, agency theory memandang bahwa
manajemen tidak dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan
publik pada umumnya maupun shareholders pada khususnya. Dalam perkembangan selanjutnya,
agency theory mendapat respons lebih luas karena dipandang lebih mencerminkan kenyataan
yang ada. Berbagai pemikiran mengenai corporate governance berkembang dengan bertumpu
pada agency theory di mana pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk
memastikan bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan
dan ketentuan yang berlaku. Upaya ini menimbulkan apa yang disebut sebagai agency costs,
yang menurut teori ini harus dikeluarkan sedemikian rupa sehingga biaya untuk mengurangi
kerugian yang timbul karena ketidakpatuhan setara dengan peningkatan biaya enforcement-nya.
'Biaya' yang harus dibayar tersebut, dalam konteks corporate governance, adalah biaya untuk:
"…control managerial 'opportunism' by having a board chair independent of the CEO and using
incentives to bind CEO interests to those of shareholders (Jensen, M.C., and W.H. Meckling
(1986), 'Theory of the firm - managerial behaviour, agency costs and ownership structure, "
Journal of Financial Economics, No. 3, pp. 305-60).
Agency costs ini mencakup biaya untuk pengawasan oleh pemegang saham; biaya yang
dikeluarkan oleh manajemen untuk menghasilkan laporan yang transparan, termasuk biaya audit
yang independen dan pengendalian internal; serta biaya yang disebabkan karena menurunnya
nilai kepemilikan pemegang saham sebagai bentuk 'bonding expenditures' yang diberikan kepada
manajemen dalam bentuk opsi dan berbagai manfaat untuk tujuan menyelaraskan kepentingan
manajemen dengan pemegang saham.
Meskipun demikian, potensi untuk munculnya agency problem tetap ada karena adanya
pemisahan antara kepengurusan dengan kepemilikan perusahaan, khususnya di perusahaan-
perusahaan publik.
Bagaimana perbandingan kegiatan antara corporate governance dan corporate management
memperlihatkan bahwa corporate governance sangat terkait dengan aspek pengawasan dan
akuntabilitas, sementara corporate management terkait dengan keputusan-keputusan dan
pengendalian eksekutif serta manajemen operasional. Sementara itu, titik temu atau irisan antara
keduanya dalam banyak hal terwujud dalam pengambilan keputusan-keputusan strategik
perusahaan sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini:
Definisi Good Corporate Governance (GCG) Sebagai sebuah konsep, GCG ternyata tak memiliki
definisi tunggal. Komite Cadburry, misalnya, pada tahun 1992 - melalui apa yang dikenal dengan
sebutan Cadburry Report - mengeluarkan definisi tersendiri tentang GCG. Menurut Komite
Cadburry, GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai
keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan
pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya.
Tentu saja hal ini dimaksudkan pengaturan kewenangan Direktur, manajer, pemegang saham, dan
pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.
Center for European Policy Studies (CEPS), punya formula lain. GCG, papar pusat studi ini,
merupakan seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right), proses, serta pengendalian, baik
yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan. Sebagai catatan, hak di sini adalah

8
hak seluruh stakeholders, bukan terbatas kepada shareholders saja. Hak adalah berbagai kekuatan
yang dimiliki stakeholders secara individual untuk mempengaruhi manajemen. Proses,
maksudnya adalah mekanisme dari hak-hak tersebut. Adapun pengendalian merupakan
mekanisme yang memungkinkan stakeholders menerima informasi yang diperlukan seputar
aneka kegiatan perusahaan.
Sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri tentang GCG. Beberapa negara
mendefinisikannya dengan pengertian yang agak mirip walaupun ada sedikit perbedaan istilah.
Kelompok negara maju (OECD), umpamanya mendefinisikan GCG sebagai cara-cara
manajemen perusahaan bertanggung jawab pada shareholder-nya. Para pengambil keputusan di
perusahaan haruslah dapat dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan
nilai tambah bagi shareholders lainnya. Karena itu fokus utama di sini terkait dengan proses
pengambilan keputusan dari perusahaan yang mengandung nilai-nilai transparency,
responsibility, accountability, dan tentu saja fairness.
Sementara itu, ADB (Asian Development Bank) menjelaskan bahwa GCG mengandung empat
nilai utama yaitu: Accountability, Transparency, Predictability dan Participation. Pengertian lain
datang dari Finance Committee on Corporate Governance Malaysia. Menurut lembaga tersebut
GCG merupakan suatu proses serta struktur yang digunakan untuk mengarahkan sekaligus
mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan
akuntabilitas perusahaan. Adapun tujuan akhirnya adalah menaikkan nilai saham dalam jangka
panjang tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan para stakeholder lainnya.
Lantas bagaimana dengan definisi GCG di Indonesia? Di tanah air, secara harfiah, governance
kerap diterjemahkan sebagai "pengaturan." Adapun dalam konteks GCG, governance sering juga
disebut "tata pamong", atau penadbiran - yang terakhir ini, bagi orang awam masih terdengar
janggal di telinga. Maklum, istilah itu berasal dari Melayu. Namun tampaknya secara umum di
kalangan pebisnis, istilah GCG diartikan tata kelola perusahaan, meskipun masih rancu dengan
terminologi manajemen. Masih diperlukan kajian untuk mencari istilah yang tepat dalam bahasan
Indonesia yang benar. Kemudian, "GCG" ini didefinisikan sebagai suatu pola hubungan, sistem,
dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (BOD, BOC, RUPS) guna memberikan nilai
tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan
norma yang berlaku. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance
merupakan:
1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris,
Direksi, Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya.
2. Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang
dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset
perusahaan.
3. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut
pengukuran kinerjanya.
Dari pengertian di atas pula, tampak beberapa aspek penting dari GCG yang perlu dipahami
beragam kalangan di dunia bisnis, yakni;
Adanya keseimbangan hubungan antara organ-organ perusahaan di antaranya Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS), Komisaris, dan direksi. Keseimbangan ini mencakup hal-hal yang

9
berkaitan dengan struktur kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga organ perusahaan
tersebut (keseimbangan internal)
Adanya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat
kepada seluruh stakeholder. Tanggung jawab ini meliputi hal-hal yang terkait dengan pengaturan
hubungan antara perusahaan dengan stakeholders (keseimbangan eksternal). Di antaranya,
tanggung jawab pengelola/pengurus perusahaan, manajemen, pengawasan, serta
pertanggungjawaban kepada para pemegang saham dan stakeholders lainnya.
Adanya hak-hak pemegang saham untuk mendapat informasi yang tepat dan benar pada waktu
yang diperlukan mengenai perusahaan. Kemudian hak berperan serta dalam pengambilan
keputusan mengenai perkembangan strategis dan perubahan mendasar atas perusahaan serta ikut
menikmati keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam pertumbuhannya.
Adanya perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama pemegang saham
minoritas dan pemegang saham asing melalui keterbukaan informasi yang material dan relevan
serta melarang penyampaian informasi untuk pihak sendiri yang bisa menguntungkan orang
dalam (insider information for insider trading).
Empat Prinsip Utama Corporate Governance Setelah definisi serta aspek penting GCG
terpaparkan di atas, maka berikut adalah prinsip yang dikandung dalam GCG. Di sini secara
umum ada empat prinsip utama yaitu: fairness, transparency, accountability, dan responsibility.
1. Fairness (Kewajaran)
Secara sederhana kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan yang adil dan setara
di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan
perundangan yang berlaku. Fairness juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal, sistem
hukum dan penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor - khususnya pemegang
saham minoritas - dari berbagai bentuk kecurangan. Bentuk kecurangan ini bisa berupa insider
trading (transaksi yang melibatkan informasi orang dalam), fraud (penipuan), dilusi saham (nilai
perusahaan berkurang), KKN, atau keputusan-keputusan yang dapat merugikan seperti
pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan, penerbitan saham baru, merger, akuisisi, atau
pengambil-alihan perusahaan lain.
Biasanya, penyakit yang timbul dalam praktek pengelolaan perusahaan, berasal dari benturan
kepentingan. Baik perbedaan kepentingan antara manajemen (Dewan Komisaris dan Direksi)
dengan pemegang saham, maupun antara pemegang saham pengendali (pemegang saham
pendiri, di Indonesia biasanya mayoritas) dengan pemegang saham minoritas (pada perusahaan
publik biasanya pemegang saham publik). Di tengah situasi seperti ini, lewat prinsip fairness, ada
beberapa manfaat yang diharapkan bisa dipetik. Apa saja manfaat itu?
Fairness diharapkan membuat seluruh aset perusahaan dikelola secara baik dan prudent (hati-
hati), sehingga muncul perlindungan kepentingan pemegang saham secara fair (jujur dan adil).
Fairness juga diharapkan memberi perlindungan kepada perusahaan terhadap praktek korporasi
yang merugikan seperti disebutkan di atas. Pendek kata, fairness menjadi jiwa untuk memonitor
dan menjamin perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan dalam perusahaan.
Namun seperti halnya sebuah prinsip, fairness memerlukan syarat agar bisa diberlakukan secara
efektif. Syarat itu berupa peraturan dan perundang-undangan yang jelas, tegas, konsisten dan
dapat ditegakkan secara baik serta efektif. Hal ini dinilai penting karena akan menjadi penjamin
adanya perlindungan atas hak-hak pemegang saham manapun, tanpa ada pengecualian. Peraturan

10
perundang-undangan ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menghindari
penyalahgunaan lembaga peradilan (litigation abuse). Di antara (litigation abuse) ini adalah
penyalahgunaan ketidakefisienan lembaga peradilan dalam mengambil keputusan sehingga pihak
yang tidak beritikad baik mengulur-ngulur waktu kewajiban yang harus dibayarkannya atau
bahkan dapat terbebas dari kewajiban yang harus dibayarkannya.
2. Transparency (Keterbukaan Informasi)
Transparansi bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilan
keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.
Perbincangan prinsip ini sendiri sangatlah menarik. Pasalnya, isu yang sering mencuat adalah
pertentangan dalam menjalankan prinsip ini. Semisal, adanya kekhawatiran perusahaan bahwa
jika ia terlalu terbuka, maka strateginya dapat diketahui pesaing sehingga membahayakan
kelangsungan usahanya. Wajarkah kekhawatiran seperti itu? Menurut peraturan di pasar modal
Indonesia, yang dimaksud informasi material dan relevan adalah informasi yang dapat
mempengaruhi naik turunnya harga saham perusahaan tersebut, atau yang mempengaruhi secara
signifikan risiko serta prospek usaha perusahaan yang bersangkutan. Mengingat definisi ini
sangat normatif maka perlu ada penjelasan operasionalnya di tiap perusahaan. Karenanya,
kekhawatiran di atas, sebetulnya tidak perlu muncul jika kita mampu menjabarkan kriteria
informasi material secara spesifik bagi masing-masing perusahaan. Dalam mewujudkan
transparansi ini sendiri, perusahaan harus menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan tepat
waktu kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut. Setiap
perusahaan, diharapkan pula dapat mempublikasikan informasi keuangan serta informasi lainnya
yang material dan berdampak signifikan pada kinerja perusahaan secara akurat dan tepat waktu.
Selain itu, para investor harus dapat mengakses informasi penting perusahaan secara mudah pada
saat diperlukan. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari penerapan prinsip ini. Salah satunya,
stakeholder dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan transaksi dengan
perusahaan. Kemudian, karena adanya informasi kinerja perusahaan yang diungkap secara
akurat, tepat waktu, jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan, maka dimungkinkan terjadinya
efisiensi pasar. Selanjutnya, jika prinsip transparansi dilaksanakan dengan baik dan tepat, akan
dimungkinkan terhindarnya benturan kepentingan (conflict of interest) berbagai pihak dalam
manajemen.
3. Accountability (Dapat Dipertanggungjawabkan)
Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertangungjawaban organ perusahaan
sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. Masalah yang sering ditemukan di
perusahaan-perusahaan Indonesia adalah mandulnya fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Atau
justru sebaliknya, Komisaris Utama mengambil peran berikut wewenang yang seharusnya
dijalankan direksi. Padahal, diperlukan kejelasan tugas serta fungsi organ perusahaan agar
tercipta suatu mekanisme pengecekan dan perimbangan dalam mengelola perusahaan.
Kewajiban untuk memiliki Komisaris Independen dan Komite Audit sebagaimana yang
ditetapkan oleh Bursa Efek Jakarta, merupakan salah implementasi prinsip ini. Tepatnya,
berupaya memberdayakan fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Beberapa bentuk implementasi
lain dari prinsip accountability antara lain: Praktek Audit Internal yang Efektif, serta Kejelasan
fungsi, hak, kewajiban, wewenang dan tanggung jawab dalam anggaran dasar perusahaan dan
Statement of Corporate Intent (Target Pencapaian Perusahaan di masa depan)Bila prinsip

11
accountability ini diterapkan secara efektif, maka ada kejelasan fungsi, hak, kewajiban,
wewenang, dan tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris, serta direksi. Dengan
adanya kejelasan inilah maka perusahaan akan terhindar dari kondisi agency problem (benturan
kepentingan peran).
4. Responsibility (Pertanggungjawaban). Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian
(patuh) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan
perundangan yang berlaku. Peraturan yang berlaku di sini termasuk yang berkaitan dengan
masalah pajak, hubungan industrial, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan/ keselamatan
kerja, standar penggajian, dan persaingan yang sehat. Beberapa contoh mengenai hal ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :
Kebijakan sebuah perusahaan makanan untuk mendapat sertifikat "HALAL". Ini merupakan
bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. Lewat sertifikat ini, dari sisi konsumen, mereka
akan merasa yakin bahwa makanan yang dikonsumsinya itu halal dan tidak merasa dibohongi
perusahaan. Dari sisi Pemerintah, perusahaan telah mematuhi peraturan perundang-undangan
yang berlaku (Peraturan Perlindungan Konsumen). Dari sisi perusahaan, kebijakan tersebut akan
menjamin loyalitas konsumen sehingga kelangsungan usaha, pertumbuhan, dan kemampuan
mencetak laba lebih terjamin, yang pada akhirnya memberi manfaat maksimal bagi pemegang
saham.
Kebijakan perusahaan mengelola limbah sebelum dibuang ke tempat umum. Ini juga
merupakan pertanggungjawaban kepada publik. Dari sisi masyarakat, kebijakan ini menjamin
mereka untuk hidup layak tanpa merasa terancam kesehatannya tercemar. Demikian pula dari sisi
Pemerintah, perusahaan memenuhi peraturan perundang-undangan lingkungan hidup. Sebaliknya
dari sisi perusahaan, kebijakan tersebut merupakan bentuk jaminan kelangsungan usaha karena
akan mendapat dukungan pengamanan dari masyarakat sekitar lingkungan.

Kekuatan artikel
Penelitian ini sebagai pencetus awal tentang bagaimana corporate governance menyatakan
bahwa perlindungan legal pada investor luar merupakan determinan kunci dan pengembangan
pasar modal, capital dan struktur kepemilikan, kebijakan dividen dan keuntungan pengendalian
privat di seluruh dunia.

Kelemahan artikel
Jurnal berisi tentang pemaparan secara studi literature dengan mengkaji beberapa penerapan
GCG khususnya di AS. Mungkin masukan saya agar kedepannya lebih digali secara kuantitatif
bagaimana skala pengukuran GCG diterapkan apabila kita hubungkan dengan adanya teori
agensi. Objek pengkajian survey tentang penerapan GCG untuk kedepannya juga harusnya lebih
diperbesar berdasarkan wilayah/daerahnya karena jurnal ini hanya membahas pada lingkup US.

Studi di masa depan


Negara Amerika Serikat, Inggris serta Jepang memiliki tingkat perlindungan hukum yang tinggi
bagi investor sedangkan negara Indonesia masih lemah. Perlindungan investor melalui disclosure
informasi keuangan yang luas terdapat pada negara Amerika Serikat, Inggris serta Jepang.
Sebaliknya Indonesia masih kurang dalam mengungkapkan disclosure laporan keuangannya.

12
Namun kebijakan pembayaran dividen yang besar tidak langsung berhubungan dengan
perlindungan investor, tetapi dipengaruhi juga oleh sistem penegakan hukum bagi investor serta
adanya peluang investasi yang baik bagi perusahaan. Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan
bahwa untuk meningkatkan iklim investasi perusahaan suatu Negara diperlukan kesiapan dalam
instrument perlindungan bagi investor itu berupa sistem perlindungan hukum yang kuat untuk
investor, disclosure informasi keuangan yang luas serta padanya kebijakan pembayaran dividen
yang meningkat.

13
Anwar Hariyono (041717147310)
Review Corporate Governance and Agency Conflicts By AIYESHA DEY
Pengantar
Penelitian berbicara peraturan baru di tahun 2002, Sarbanes Oxley Act (SOX), yang berkaitan
dengan tata kelola perusahaan dan nilai pemegang saham, sebagai topik yang sangat penting di
kalangan akademisi, praktisi, dan regulator. Penelitian yang juga berhubungan antara berbagai
aspek tata kelola dan berbagai fitur kinerja dan keputusan organisasi (Teoh and Wong [1993],
Vafeas [2000], Felo, Krishnamurthy, dan Solieri [2003], Bushman dkk. [2004 ]).
Tujuan penelitian, ini adalah untuk menjelaskan masalah ini dengan menyelidiki bagaimana
struktur tata kelola secara lintas seksi. Secara khusus, Dey (2008) memeriksa apakah tingkat
konflik agensi di perusahaan terkait dengan struktur governance. Bukti mengenai hubungan ini
akan meningkatkan pengetahuan kita tentang peran governance di perusahaan dan apakah
memperbaiki berbagai aspek tata kelola akan membantu dalam meningkatkan kinerja organisasi
untuk semua perusahaan atau apakah tindakan tersebut akan lebih efektif untuk jenis perusahaan
tertentu.
Dey (2008) mengunakan analisis principal components analysis (PCA) terhadap 22 variabel tata
kelola perorangan dan mendapatkan tujuh faktor tata kelola yang berbeda yang mewakili
komposisi dan fungsi dewan direksi, kompensasi eksekutif, kompensasi berbasis ekuitas direksi,
independensi auditor, struktur dan fungsi komite audit, dan kontrol dewan atas kualitas pelaporan
keuangan (the composition and functioning of the board of directors, executive compensation,
equity-based compensation of directors, independence of the auditor, structure and functioning
of the audit committee, and the board's control over financial reporting quality).
Argumen untuk membentuk hipotesis, Dey (2008) mempertimbangkan berbagai atribut khusus
perusahaan yang menunjukkan adanya konflik keagenan. Secara khusus, Dey (2008)
memasukkan ukuran perusahaan, kompleksitas organisasi, struktur kepemilikan, pertumbuhan,
leverage, risiko operasional, dan arus kas bebas sebagai ukuran tingkat konflik agensi di
perusahaan. Dey (2008) menemukan bukti yang konsisten dengan teori bahwa struktur tata
kelola, terutama yang terkait dengan dewan direksi, komite audit, dan auditor, secara positif
terkait dengan tingkat konflik keagenan di perusahaan.
Hipotesis yang diajukan , bahwa perusahaan yang lebih besar, perusahaan dengan struktur
kepemilikan yang lebih menyebar, perusahaan dengan tingkat leverage yang lebih tinggi, dan
perusahaan dengan risiko operasi lebih banyak memiliki mekanisme tata kelola yang lebih baik.
Hipotesis Null adalah bahwa hubungan antara kinerja perusahaan secara keseluruhan dan tata
kelola juga tidak mungkin seragam di seluruh perusahaan.
Argumen:
Dey (2008) menggunakan faktor-faktor (the composition and functioning of the board of
directors, executive compensation, equity-based compensation of directors, independence of the
auditor, structure and functioning of the audit committee, and the board's control over financial
reporting quality) sebagai representasi dari berbagai dimensi tata kelola yang berbeda. Dengan
tidak adanya teori mengenai struktur governance, teknik ini lebih tepat karena prosesnya
mengidentifikasi berbagai struktur faktor dengan indikator tata kelola individu yang berkorelasi
tinggi. Faktor-faktor ini kemudian dapat digunakan untuk menjelaskan dimensi governance yang

14
mendasarinya. Metode ini juga digunakan dalam penelitian terbaru oleh Larcker, Richardson,
dan Tuna [2007] untuk mengukur tata kelola.
Kontribusi; Dey (2008) mendokumentasikan faktor-faktor yang terkait dengan penentuan
struktur tata kelola di perusahaan, dan untuk memberikan bukti bahwa peran governance tidak
seragam di seluruh perusahaan. Dey (2008) menggunakan seperangkat besar variabel tata kelola
dan agensi untuk menunjukkan bahwa perusahaan dengan konflik agensi yang lebih tinggi
memiliki struktur governance yang lebih kuat. Akibatnya, hubungan antara tata kelola dan
kinerja perusahaan juga merupakan fungsi dari tingkat konflik keagenan. Hasil ini konsisten
dengan hipotesis mendasar: Permintaan akan tata kelola kualitas yang lebih tinggi lebih besar
pada perusahaan dengan kebutuhan pengawasan yang lebih besar. Bukti tersebut mendukung
klaim bahwa seperangkat aturan tata kelola yang seragam tidak mungkin efisien untuk semua
perusahaan (Klein [2002a], Romano [2005], Ribstein [2005]).
Grand Theory, Konflik Agency dalam organisasi yang disebabkan oleh pemisahan kepemilikan
dan kontrol, tujuan pemilik dan manajer yang bertentangan, dan asimetri informasi antara
pemilik dan manajer (Coase [1937], Jensen dan Meckling [1976], Fama dan Jensen [1983a, b] ).
Sebagai hasil dari konflik agensi ini, dan mengingat bahwa manajer memiliki keleluasaan yang
cukup dalam menerapkan prosedur akuntansi yang berlaku, mereka cenderung memiliki insentif
untuk mengambil tindakan yang memaksimalkan utilitas mereka, bahkan ketika tindakan
tersebut tidak memaksimalkan kekayaan pemegang saham (Watts dan Zimmerman [1986 ]).
Struktur tata kelola perusahaan melibatkan mekanisme untuk meminimalkan konflik agensi.
Ceteris paribus, permintaan akan mekanisme kontrol ini cenderung lebih tinggi bagi perusahaan
dengan kebutuhan lebih besar untuk pengawasan, atau tingkat konflik agensi yang lebih tinggi.
Dengan kata lain, konflik keagenan dan mekanisme tata kelola di sebuah perusahaan cenderung
saling melengkapi tingkat konflik agensi yang lebih tinggi akan menghasilkan struktur
governance yang lebih kuat. Dey (2008) menguji teori bahwa perusahaan dengan tingkat konflik
agensi yang lebih tinggi memiliki mekanisme tata kelola yang lebih efisien.

Data
Data yang analisis mencakup tahun 2000 dan 2001. Karena dari tahun 2000 karena data tentang
biaya audit tidak tersedia sebelum periode ini. Data dikumpulkan tentang Board dan auditor dari
pernyataan proxy mengikuti (schedule 14A). Schedule 14A mewajibkan perusahaan untuk
mengungkapkan semua nama, umur, hubungan keluarga yang ada antara calon direktur, calon,
atau pejabat eksekutif, setiap transaksi signifikan saat ini atau yang diusulkan dengan
manajemen, hubungan bisnis yang signifikan dengan perusahaan, dan jumlah saham dipegang
oleh direksi. Schedule 14A juga mengharuskan perusahaan untuk menyatakan apakah mereka
memiliki komite audit, pencalonan, kompensasi, dan tata kelola yang ada. Jika komite semacam
itu ada, perusahaan diminta untuk mengungkapkan fungsi dan tanggung jawab mereka, anggota
mereka, dan berapa lama komite bertemu selama tahun fiskal yang terakhir. Rincian mengenai
perusahaan audit dan biaya audit dan non-audit juga disediakan. schedule 14A biasanya diajukan
oleh perusahaan pada bulan Maret setiap tahun dan laporan pada tahun sebelumnya (ini juga
menyebutkan nama direksi yang ditunjuk dan dipilih untuk tahun berikutnya). Oleh karena itu,
saya mengode informasi yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan pada bulan Maret tahun t + 1
sebagai karakteristik tata kelola perusahaan untuk tahun t.
Diskripsi Variabel terdiri dari
BOD 13 Item
15
Director Ownership 2 Item
Executive Compensation 3 item
Auditor 4 Item
Total Keseluruhan 22 Item
Agency Conflict Group, untuk memeriksa agency variabel bagaimana struktur tata kelola
perusahaan bervariasi sebagai fungsi dari tingkat konflik agensi di perusahaan, pertama-tama
Dey (2008) mengklasifikasikan perusahaan ke dalam kelompok homogen yang menggunakan
analisis klaster berdasarkan tujuh variabel tabel 4. Analisis klaster adalah alat analisis data
eksploratif yang memilah Objek yang berbeda menjadi beberapa kelompok dengan
memaksimalkan tingkat hubungan antara dua objek dalam kelompok yang sama dan
meminimalkan tingkat hubungan antara dua objek di antara kelompok. Dengan menggunakan
alat analisis data, seperti analisis klaster, untuk memisahkan perusahaan menjadi beberapa
kelompok lebih efisien (daripada, misalnya, memberi peringkat pada perusahaan dan membentuk
desiles) karena proses itu sendiri mengidentifikasi kelompok perusahaan yang optimal untuk
sampel berdasarkan variabel yang ditentukan.
Main Result dan Implikasinya
Analisis tambahan daru Dey (2008) Satu pertanyaan penting yang telah dipelajari secara ketat
dalam literatur tata kelola adalah apakah governance, atau berbagai aspek governance,
mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Namun, bukti empiris tentang hubungan
ini bercampur aduk. Misalnya, Hermalin dan Weisbach [1991] dan Bhagat dan Black [2001]
tidak menemukan hubungan antara proporsi direktur outsider dan berbagai ukuran kinerja.
Sebaliknya, Baysinger dan Butler [1985] dan Rosenstein dan Wyatt [1990] menunjukkan bahwa
penghargaan market perusahaan untuk menunjuk direksi outsider.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa perusahaan dengan persentase direktur
independen yang tinggi mungkin mengalami kinerja buruk. Misalnya, Yermack [1996]
melaporkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara proporsi direktur independen dan
Tobin's Q yang tidak umum, namun tidak ada korelasi signifikan untuk beberapa variabel kinerja
lainnya (penjualan / aset, pendapatan operasional / aset, pendapatan operasional / penjualan).
Yermack [1996] juga mendokumentasikan hubungan terbalik antara ukuran dewan dan
profitabilitas, pemanfaatan aset, dan Tobin's Q. Agrawal dan Knoeber [1996] melaporkan
hubungan negatif antara proporsi direktur outsider dan Tobin's Q. Klein [1998] tidak menemukan
hubungan yang signifikan antara kinerja perusahaan dan struktur dewan secara keseluruhan,
namun dokumen yang diwakili oleh direktur dalam komite keuangan dan investasi dewan
berkorelasi dengan kinerja perusahaan yang lebih baik. Dia menemukan sedikit bukti bahwa
komite audit, kompensasi, dan pencalonan, yang biasanya didominasi oleh direktur independen,
mempengaruhi kinerja.
Baru-baru ini, LRT mendokumentasikan bahwa beberapa indeks tata kelola mereka dikaitkan
dengan return on asset (ROA) di masa depan. Mereka menemukan bahwa kepemilikan
institusional, kompensasi jangka panjang dan bonus CEO, dan tindakan antitakeover tertentu
memiliki hubungan positif dengan ROA di masa depan, dan ukuran dewan, ukuran komite audit
dan ukuran komite kompensasi, dan kesibukan direksi memiliki hubungan negatif dengan ROA
masa depan.

16
Bukti di atas menunjukkan bahwa komposisi dan fungsi dewan, komite audit yang efektif, dan
kompensasi saham dan opsi yang diberikan kepada direksi terkait secara signifikan dengan
kinerja perusahaan di masa depan. Namun, relasi ini terutama ditujukan untuk perusahaan-
perusahaan di kelompok agensi tertinggi untuk kedua variabel kinerja. Menariknya, untuk
variabel kinerja ROA, faktor komite audit signifikan untuk semua kelompok agensi,
menunjukkan bahwa komite audit yang kuat dikaitkan dengan ROA yang lebih tinggi untuk
semua perusahaan. Hasil ini mendukung dugaan bahwa hubungan antara berbagai aspek tata
kelola dan kinerja perusahaan adalah fungsi dari tingkat konflik agen perusahaan. Dengan kata
lain, hasil dalam literatur sebelumnya bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara proporsi
direktur outsider (yang merupakan bagian dari faktor Dewan I dalam analisis saya) dan kinerja
perusahaan mungkin benar hanya untuk perusahaan di mana tingkat konflik agensi rendah
(Hermalin dan Weisbach [1991], Bhagat dan Black [2001]). Secara keseluruhan, hasil ini
memberikan penguatan yang lebih besar untuk teori bahwa kehadiran dan peran struktur tata
kelola berbeda-beda di setiap perusahaan tergantung pada berbagai karakteristik spesifik
perusahaan, salah satunya adalah tingkat konflik keagenan yang ada di perusahaan.

Hasil riset juga penting dari sudut pandang peraturan. Tujuannya untuk meningkatkan nilai
pemegang saham dan kepercayaan investor terhadap pengungkapan perusahaan dan keputusan
operasional lainnya dengan memperkenalkan reformasi tata governance akan lebih terpenuhi jika
ada bukti mengenai aspek tata kelola yang perlu dimodifikasi, dan jenis perusahaan yang akan
digunakan untuk tindakan tersebut. lebih efektif. Akhirnya, analisis ini mengulangi pentingnya
penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana struktur governance berkembang, dan hubungan
antara dimensi governance yang berbeda. Ini tidak hanya akan membantu dalam meningkatkan
pengetahuan kita tentang mengapa perusahaan memiliki struktur governance yang berbeda,
namun juga memungkinkan pemeriksaan yang lebih canggih mengenai pentingnya mekanisme
tata kelola dalam mempengaruhi kinerja organisasi dan nilai pemegang saham.

Kekuatan Artikel
Saya memeriksa hubungan antara tingkat konflik agensi di perusahaan dan struktur tata kelola
perusahaan. Saya menemukan bahwa perusahaan dengan tingkat konflik agensi yang lebih tinggi
juga memiliki mekanisme tata kelola yang lebih baik, terutama terkait dengan komposisi dan
fungsi dewan direksi, komite audit, dan independensi auditor. Hasil ini mendukung teori tentang
tata kelola perusahaan bahwa mekanisme tata kelola merupakan respons endogen terhadap
lingkungan bisnis dan ekonomi perusahaan. Saya juga memeriksa apakah hubungan antara tata
kelola dan kinerja perusahaan secara keseluruhan bervariasi sebagai fungsi dari konflik agensi,
dan menemukan konsistensi bukti dengan dugaan ini. Bukti yang didokumentasikan dipaper
memberikan dukungan untuk argumen yang diajukan oleh beberapa peneliti mengenai tata kelola
bahwa "satu ukuran tidak sesuai untuk semua."
Kelemahan Artikel
Kareana membentuk tiga kelompok karena keterbatasan jumlah perusahaan dalam sampel.
Dengan menggunakan metode pengelompokan Ward, yang membentuk kelompok dengan
meminimalkan varians dalam setiap cluster. Metode pengelompokan Ward adalah metode yang

17
paling umum digunakan di antara algoritma clustering hirarkis, dan menghasilkan cluster dengan
jumlah observasi yang sama.
Tinjaun Masa Depan
Hasil riset ini juga penting dari sudut pandang peraturan. Tujuan untuk meningkatkan nilai
pemegang saham dan kepercayaan investor terhadap pengungkapan perusahaan dan keputusan
operasional lainnya dengan memperkenalkan reformasi tata governance akan lebih terpenuhi jika
ada bukti mengenai aspek tata kelola yang perlu dimodifikasi, dan jenis perusahaan yang akan
digunakan untuk tindakan tersebut. lebih efektif. Akhirnya, analisis ini mengulangi pentingnya
penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana struktur governance berkembang, dan hubungan
antara dimensi governance yang berbeda. Ini tidak hanya akan membantu dalam meningkatkan
pengetahuan kita tentang mengapa perusahaan memiliki struktur governance yang berbeda,
namun juga memungkinkan pemeriksaan yang lebih canggih mengenai pentingnya mekanisme
tata kelola dalam mempengaruhi kinerja organisasi dan nilai pemegang saham.

18
Rusdiyanto (041717147309)
Critical Review
The State of Corporate Governance Research
Lucian A. Bebchuk, Michael S. Weisbach 2010.
The Review Of Financial Studies/ v 23n 3 2010

Masalah
Masalah didalam artikel ini adalah isu penelitian corporate governance yang masing-masing
diwakili oleh sebuah artikel dalam edisi khusus ini. Untuk masing-masing bidang ini membahas
pentingnya wilayah dan pertanyaan yang diajukannya bagi para peneliti, bagaimana artikel
dalam edisi khusus dan penelitian terbaru lainnya memajukan pemahaman kita tentang wilayah
tersebut, dan pertanyaan yang mungkin dapat dilakukan oleh penelitian di masa depan
memeriksa. Penelitian ini menekankan pertanyaan mengenai tata kelola perusahaan yang
dihadapi oleh pembuat keputusan publik dan swasta; penelitian yang dapat menjelaskan
pertanyaan ini akan memiliki implikasi dan imbal hasil yang substansial.
Bagian 1 berfokus pada aktivisme pemegang saham dan pemegang saham - tindakan yang dapat
diambil pemegang saham untuk melindungi kepentingan mereka.
Bagian 2 berfokus pada direktur perusahaan, sementara
Bagian 3 beralih ke eksekutif dan kompensasi mereka. Sedangkan Bagian 1-3 fokus pada
perusahaan tanpa pemegang saham pengendali,
Bagian 4 mempertimbangkan perusahaan dengan pemegang saham tersebut.
Bagian 5 dan 6 berfokus pada tata kelola perusahaan internasional, dengan Bagian 5
mempertimbangkan perbandingan lintas negara dan
Bagian 6 yang membahas investasi lintas batas oleh investor asing. Akhirnya,
Bagian 7 berfokus pada ekonomi politik tata kelola perusahaan

Tujuan artikel
Tujuan artikel ini adalah menjelaskan tujuh bidang penelitian corporate governance yang
penting, yang masing-masing diwakili oleh sebuah artikel dalam edisi khusus ini. Untuk masing-
masing bidang ini, penelitian ini membahas pentingnya wilayah dan pertanyaan yang
diajukannya bagi para peneliti, bagaimana artikel dalam edisi khusus dan penelitian terbaru
lainnya memajukan pemahaman kita tentang wilayah tersebut, dan pertanyaan yang mungkin
dapat dilakukan oleh penelitian di masa depan. Sepanjang, peneliti menekankan pertanyaan
mengenai tata kelola perusahaan yang dihadapi oleh pembuat keputusan publik dan swasta;
penelitian yang dapat menjelaskan pertanyaan ini akan memiliki implikasi dan imbal hasil yang
substansial.
Bagian 1 berfokus pada aktivisme pemegang saham dan pemegang saham - tindakan yang dapat
diambil pemegang saham untuk melindungi kepentingan mereka.
Bagian 2 berfokus pada direktur perusahaan, sementara
Bagian 3 beralih ke eksekutif dan kompensasi mereka. Sedangkan Bagian 1-3 fokus pada
perusahaan tanpa pemegang saham pengendali,
Bagian 4 mempertimbangkan perusahaan dengan pemegang saham tersebut.
Bagian 5 dan 6 berfokus pada tata kelola perusahaan internasional, dengan
Bagian 5 mempertimbangkan perbandingan lintas negara dan

19
Bagian 6 yang membahas investasi lintas batas oleh investor asing. Akhirnya,
Bagian 7 berfokus pada ekonomi politik tata kelola perusahaan

Kontribusi artikel
Kontribusi teoritis maupun praktis
Masing-masing artikel mewakili penelitian mutakhir di bidang corporate governance dalam tata
kelola perusahaan telah berkembang pesat, baik di dalam maupun di luar akademisi, bersamaan
dengan pengakuan akan pentingnya. Di dunia akademis, ketertarikan pada tata kelola perusahaan
telah benar-benar bersifat interdisipliner, dengan banyak pekerjaan dilakukan oleh para peneliti
tidak hanya dari ekonomi dan keuangan tetapi juga dari hukum, manajemen, dan akuntansi.
Istilah "corporate governance" muncul sebagai kata kunci dalam abstrak 987 artikel selama
setahun terakhir di Social Science Research Network (SSRN), dan, mengingat banyaknya
penelitian yang dilakukan di wilayah tersebut.

Ground theory yang digunakan


Teori yang digunakan dalam artikel ini adalah teori tentang Corporate Governance/ tata kelola
perusahaan.

Artikel ini mengombinasikan teori Corporate Governance/ tata kelola perusahaan tersebut dan
menjelaskan mengenai keberadaan Sharreholders/ Pemegang Saham, Boards Of Directors/
Direksi, Executive Compensation/ Kompensasi Eksekutif, Controlling Shareholders/ Mengontrol
Pemegang saham, International Comparisons/ Perbandingan Internasional, Cross Border
Investing/ Investasi Lintas Batas, Politics/ politik, tahap-tahap proses keputusan, dan masalah
tata kelola perusahaan yang berpotensi terjadi jika terdapat pemisahan diantara keduanya, serta
aplikasi yang terjadi dalam organisasi untuk mengatasi masalah tata kelola dalam perusahaan.

Sumber data dan metode riset


Riset dalam artikel ini cenderung melakukan studi literature, baik berupa text book maupun
hasil-hasil riset sebelumnya yang mengulas tentang perusahaan/ organisasi, teori Corporate
Governance/ tata kelola perusahaan, masalah tata kelola dalam perusahaan, dan struktur
organisasi perusahaan.

Main result dan implikasinya


Model tata kelola perusahaan menyebutkan bahwa pemegang saham yang tersebar secara
kolektif memiliki insentif untuk memantau pengelolaan perusahaan di tempat mereka, memiliki
saham, secara terpisah, masalah pembebas dapat merusak insentif, yang menyebabkan
kurangnya keterlibatan pemegang saham di perusahaan. Sehingga menjelaskan bahwa melalui
kemungkinan pengambilalihan yang tidak bersahabat, karena pengambilalihan tersebut dapat
lebih menguntungkan bagi pemegang saham yang telah memiliki blok saham yang besar
daripada yang tidak

Ketika terjadi pemantau langsung oleh pemegang saham adalah tata kelola melalui dewan
direksi, yang dipilih oleh pemegang saham. Namun, seperti yang telah diakui setidaknya

20
kepentingan direktur mungkin tidak sepenuhnya tumpang tindih dengan pemegang saham,
mengingat semakin pentingnya direksi independen, baik karena peraturan atau pilihan yang
dibuat oleh perusahaan, penting untuk mempelajari secara empiris pengaruh independensi
direktur.

Ketika ada dua pandangan tentang kompensasi eksekutif dalam literatur. Satu pandangan
("pandangan kontrak yang optimal") melihat pengaturan gaji eksekutif sebagai produk kontrak
panjang lengan antara dewan dan eksekutif, yang menghasilkan kontrak yang memberikan
insentif efisien untuk mengurangi masalah tata kelola perusahaan sebanyak mungkin.

Salah satu tipe penting dari pemegang saham pengendali adalah mereka yang berlabel
"mengendalikan pemegang saham minoritas". Pemegang saham yang hanya memiliki minoritas
dari hak arus kas perusahaan namun mengendalikan sebagian besar suara sehingga memiliki
kunci kendali. Seorang pemilik minoritas hak arus kas dapat mengendalikan mayoritas suara saat
hak arus kas dan suara dipisahkan karena penggunaan saham kelas ganda, piramida korporat,
atau kepemilikan silang. Struktur seperti itu cukup umum di banyak negara.

Hasil riset ini menunjukkan bahwa Isu khusus The Review of Financial Studies ini menyajikan
tujuh artikel yang dipresentasikan pada sebuah pertemuan proyek tata kelola perusahaan dari
Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER). Artikel-artikel yang disusul konferensi tersebut berjalan
melalui proses peninjauan biasa terhadap Review of Financial Studies, merupakan penelitian
mutakhir di bidang penelitian corporate governance yang penting. Isu khusus ini memberi
kesempatan bagus untuk meneliti penelitian corporate governance selanjutnya.

Kekuatan artikel
Artikel ini mampu menjelaskan Isu khusus tata kelola dalam perusahaan baik dari Biro Riset
Ekonomi Nasional (NBER). Artikel-artikel yang disusun dalam konferensi tersebut berjalan
melalui proses peninjauan biasa terhadap Review of Financial Studies, merupakan penelitian
mutakhir di bidang penelitian corporate governance yang penting. Isu khusus ini memberi
kesempatan bagus untuk meneliti penelitian corporate governance di wilayah ini

Kelemahan artikel
Artikel ini merupakan kajian atas literature teks dan riset-riset sebelumnya dan memunculkan
proposisi-proposisi yang dibentuk berdasarkan analisis tersebut. Keterbatasan penelitian ini
berada pada dugaan yang dibentuk tersebut mengingat tidak didukung oleh fakta pelaksanaanya
dalam praktek. Oleh karena itu, riset berikutnya sebaiknya mencoba menguji proposisi yang
diusulkan oleh penulis.

Studi di masa depan


Studi dalam artikel ini dapat diperluas dengan cara meneliti penerapan dari pemisahan tahapan
proses keputusan dalam mengatasi permasalahan tata kelola dalam perusahaan yang baik.
21
Metode yang dapat dilakukan diantaranya dengan melakukan survey ke perusahaan yang
menerapkan tata kelola perusahaan yang baik untuk keputusan dengan menanggung risiko; dan
mengaitkannya dengan kinerja perusahaan sebagai proksi dari kelangsungan hidup perusahaan.

Beberapa artikel telah mencoba mengulas mengenai tata kelola perusahaan yang mengacu pada
cara pemasok keuangan memastikan pengembalian investasinya sendiri dijelaskan oleh Shleifer
dan Vishny (1997), sedangkan pengaruh budaya terhadap praktik tata kelola perusahaan di
Nigeria (Nobert Osemeke, Louis Osemeke 2017) dalam organisasi masih terbatas dilakukan
sehingga menjadi peluang bagi riset selanjutnya.

22
Vidia Gati (041717147301)

Critical Review
The Research Frontier in Corporate Governance
Thomas Ahrens, Igor Filatochev, Steen Thomsen (2011).
Journal of Management and Governance 26(2), 311-325.

Masalah

Krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2007-2009 dianggap sebagai awal untuk lebih
melihat kembali persoalan tata kelola (corporate governance). Runtuhnya bank terkemuka
dan icon perusahaan seperti GM dan Chrysler membuat semua pihak mempertanyakan
kembali tentang riset riset fungsi tata kelola. Apakah datangnya krisis seperti depresi
ekonomi, munculnya pengangguran masal dan malapetaka ekonomi tidak dapat diprediksi
sebelumnya? Kirkpatrick (2009) mengatakan bahwa krisis keuangan dapat disebabkan
oleh kegagalan dan kelemahan dalam tata kelola perusahaan.
Beberapa tantangan dari kejadian krisis ekonomi adalah mengevaluasi kembali : ukuran
kinerja ekonomi (kasus AIG), executive pay, Board, shareholders dan Dampak Sistem.

Tujuan artikel

Dalam artikel ini mencoba untuk mengidentifikasi wilayah penelitian corporate governance
dengan menggunakan tiga pendekatan:
1. Tantangan penelitian yang terkait corporate governance pasca krisis keuangan
2007-2009.
2. Dampak yang muncul terhadap corporate governance.
3. Penelitian yang muncul khususnya pada praktik corporate governance saat ini.

Kontribusi artikel

Artikel ini mengajak untuk mengevaluasi kembali beberapa topik penelitian tentang tata
kelola yang jumlahnya banyak (sebelum krisis), namun ternyata tidak dapat menjadi early
warning akan terjadinya krisis ekonomi yang sangat besar. Tata kelola yang baik
seharusnya juga menunjukkan kinerja yang baik, namun ternyata tidak mampu bertahan
ketika terjadi krisis. Sehingga dalam artikel ini membahas tentang hubungan tata kelola
dengan sistem yang lebih luas (negara/lingkungan di luar perusahaan), praktik tata kelola
yang baik dengan beberapa pendekatan.
Menekankan kembali adanya peran peneliti agar dapat memberikan informasi yang akurat
kepada para pemilik kepentingan. Krisis ekonomi memberikan pelajaran berharga adanya
kelemahan dan bukti bahwa penelitian yang sebelumnya ternyata tidak relevan.

Ground theory yang digunakan

23
1. Teori Agency, dalam teori tradisional agensi tata kelola perusahaan fokus pada
kepentingan pemegang saham. Sementara dalam perusahaan ada stakeholder lain
yang juga memiliki kepentingan yang juga harus dipenuhi.
2. Teori Institusional, menjelaskan bahwa perbedaan sistem dalam negara akan
berdampak pada efektifitas tata kelola sampai pada level perusahaan.
3. Practice Theory, bagaimana sebuah tindakan dilakukan berdasarkan kesamaan
konteks, waktu dan kemudian meng organize tanpa ada asumsi terhadapnya.

Sumber data dan metode riset


Meneliti 7.776 artikel dari jurnal tata kelola, serta 8.268 artikel yang terkait dengan
kepemilikan, insentif dan dewan. Kemudian melihat pengaruh riset sebelumnya ketika
terjadi krisis ekonomi dan menganalisa untuk memberikan alternatif solusi pengukuran
tata kelola yang baik

Main result dan implikasinya

Teori agency (tradisional) dirasakan tidak sesuai lagi dengan tantangannya karena
ukuran, kompleksitas dan leverage yang meningkat serta deregulasi finansial. Sebelum
krisis yaitu 2003-2006 terjadi kebijakan moneter yang cukup longgar, praktik moral hazard
(dimana seleksi dengan cara menekan harga aset, kemudahan memberikan dana untuk
segala macam proyek) hal ini menunjukkan tata kelola bank dan keuangan sudah tidak
sesuai dengan tantangannya. Diperlukan restrukturisasi dalam “membayar” eksekutif
untuk jangka panjang serta mengupayakan lebih banyak lagi jumlah anggota dewan dengan
keahlian yang baik dan beragam.
Tata kelola perusahaan adalah bagian dari tata kelola yang lebih besar (makro
ekonomi), sehingga sangat penting untuk lebih akurat dalam mengoreksi nilai risiko saat
menilai kinerja (belajar pada kasus AIG sebagai perusahaan yang besar dan
menguntungkan sampai tahun 2007 namun pada tahun berikutnya ternyata sudah tidak
berharga).
Efek sistem telah dikenal dalam penelitian tata kelola perusahaan, kasus kanada
yang lolos dari krisis karena peraturan keuangan yang konservatif. Hal ini dapat dijelaskan
dengan mengeksplorasi hubungan antara praktik tata kelola perusahaan dengan kinerja
perusahaan. Teori agensi tradisional menekankan peran tata kelola perusahaan sebagai
memastikan bahwa perusahaan beroperasi di kepentingan pemegang saham (Fama dan
Jensen 1983), namun mengasumsikan institusional konteks yang mirip dengan sistem
pemerintahan Anglo-Amerika. Dari perspektif ini, tata kelola perusahaan berfokus secara
eksklusif pada akuntabilitas, untuk meminimalkan risiko penurunan pada pemegang
saham, dan memungkinkan manajemen menjalankan perusahaan untuk memastikan
bahwa pemegang saham mendapatkan keuntungan dari potensi perusahaan (Filatotchev
dan Wright 2005). Namun fokus kepada pemegang saham terlihat ekslusif dan terlalu
sempit, karena ada stakeholder yang lain yang juga harus diperhatikan kepentingannya.
Terdapat perbedaan masalah agency di negara

24
Secara umum, hukum 'dan' perspektif ekonomi (misalnya, La Porta dkk., 2000)
mengemukakan asumsi bahwa negara yang berbeda mungkin memiliki sistem
pemerintahan yang berbeda, yang mungkin mengarah pada perbedaan sifat dan tingkat
masalah agensi pada tingkat perusahaan. Penelitian ini menghubungkan perbedaan
institusi dengan tradisi hukum yang mendukung perusahaan hukum di berbagai negara.
Lebih khusus lagi, dalam masyarakat common law, investor bersedia mengambil lebih
banyak risiko dan menggunakan mekanisme kontrol seperti upaya hukum untuk menuntut
di pengadilan jika anggota dewan direksi dan manajer tidak bertindak untuk kepentingan
terbaik mereka dan memaksimalkan profitabilitas perusahaan, sedangkan di negara civil
law investor lebih mengandalkan jaringan berbasis, '' hubungan ''pemerintahan (Hoskisson
et al., 2004).
Studi yang lebih baru yang menggabungkan penelitian keagenan dengan teori
institusional menunjukkan bahwa perbedaan dalam institusi nasional dapat
mempengaruhi efektivitas tata kelola perusahaan di tingkat perusahaan (Aguilera et al
2008; Aguilera dan Jackson 2003). Penelitian sebelumnya cenderung memperlakukan teori
keagenan sebagai teori universal yang akan dilakukan berlaku persis sama dalam
pengaturan kelembagaan yang berbeda. Namun, disiplin lainnya Di bidang-bidang seperti
motivasi dan kepemimpinan telah mengenali dampak yang berbeda pengaturan
kelembagaan. Lebih khusus lagi, logis jika efektivitas parameter tata kelola perusahaan
yang diprediksi oleh teori agensi dipengaruhi oleh faktor kelembagaan. Membangun karya
perintis di bidang hukum dan ekonomi (misalnya, La Porta et al. 1998, 2000),
Dalam tulisan ini muncul selain teori agency dan institusional adalah teori yang berasal
dari politik, ekonomi dan sosiologi. Bahwa tindakan strategis yang dilakukan manajer
adalah pengaruh dari lingkungan.
Pada lingkungan yang memberikan tingkat perlindungan kepada investor cukup tinggi,
maka:
1. Pemegang saham dapat mengendalikan perilaku managerial dan menahan
oportunisme manajer.
2. Terkonsentrasi pada kepemilikan menyebabkan pengurangan biaya koordinasi
Tetapi dalam situasi ekonomi dengan pasar modal yang kurang berkembang, proteksi
investor cenderung negatif terhadap nilai perusahaan.
Mewujudkan tata kelola yang efektif, paling tidak menggabungkan antara tiga hal :
1. Direreksi terlibat secara tidak langsung, seperti memiliki pengetahuan tentang
aspek - aspek kunci dari bisnis, misalnya, dengan mengunjungi pabrik dan
pelanggan utama, dan menemani manajer dalam perjalanan Namun mereka
seharusnya tidak menganggap dirinya sebagai eksekutif.
2. Challanging but supportive, direksi menggunakan pengalaman mereka untuk
menentukan tolok ukur yang sesuai kinerja dan proses dan untuk menguji
kemampuan direktur eksekutif untuk mencapai tolok ukur tersebut.
3. Independent but involved, mensinergikan antara dewan, chiev executive dengan
suasana yang baik

25
Membahas tata kelola dengan cakupan yang lebih luas, yaitu mengaitkan dengan pengaruh
kebijakan pemerintahan. Teori agency diterapkan tidak hanya sebatas ruang lingkup
perusahaan tetapi lebih luas lagi, meliputi stakeholders dan juga lingkungan /sistem yang
mempengaruhinya.

Implikasinya, tidak dapat mengandalkan ukuran tata kelola yang baik semata mata dari
ukuran kinerja ekonomi, fungsi Board, debatable persoalan executive pay, share holders
dan efek sistem saja.

Kekuatan artikel
Membuktikan bahwa ukuran tata kelola yang baik yang selama iini digunakan ternyata
tidak dapat menjadi “early warning” bagi perusahaan. Bahkan perusahaan dengan kinerja
sangat baik sebelum krisis menjadi “hancur” di tahun berikutnya ketika terjadi krisis.

Kelemahan artikel

Dalam artikel ini tidak secara langsung menunjukkan kuantitas penelitian sebelumnya yang
dianggap kontraproduktif dengan pengukuran tata kelola sehingga berpengaruh pada
kondisi yang buruk ketika terjadi krisis ekonomi.

Studi di masa depan

1. Kebutuhan ukuran kinerja perusahaan yang lebih baik , karena ukuran sebelumnya
(seperti ukuran berbasih pasar saham, rasio akuntansi) gagal dalam mengoreksi dan
memotret apa yang dimaksud dengan value creation.
2. Perlunya untuk fokus pada efek yang lebih luas.
3. Perlu untuk lebih mengaitkan dengan economic competence,
4. Kebutuhan studi lapangan tentang praktik tata kelola perusahaan
5. Teori keagenan dalam faktanya memiliki banyak variasi di beberapa negara,
sehingga perlu untuk mengintegrasikan agency dengan institusioanl untuk
menghasilkan prediksi yang kuat.
6. Perlunya mempertimbangkan adanya banyaknya konflik agency yang menghasilkan
tata kelola yang berbeda. Hal ini dikuatkan Bruton dkk (2009) bahwa konflik agency
dapat bervariasi sesuai dengan perbedaan pemerintahan.

26
Onong Junus (041717147306)
Review Artikel
CORPORATE GOVERNANCE CODES: A REVIEW AND RESEARCH AGENDA
Francesca Cuomo*, Christine Mallin and Alessandro Zattoni (2016)

1. Masalah yang ingin diatasi dari artikel


krisis keuangan yang terjadi yang terjadi di beberapa perusahaan sehingga munculnya
kecurangan dan skandal perusahaan (misalnya Enron, WorldCom, Tyco di AS)

2. Tujuan dari artikel


tujuan dari artikel ini adalah untuk melakukan kajian terhadap program tata kelola di tingkat
negara dan tingkat perusahaan.

3. Kontribusi terhadap literatur


 Adanya perubahan terhadap program tata kelola dari waktu ke waktu (Johanson &
Østergren, 2010; Nordberg & McNulty, 2013) dan untuk mengeksplorasi peran aktor
institusional dan elit bisnis dalam proses politik penerbitan program (Haxhi et al ., 2013).
 Memberikan penjelasan tentang dampak institusi formal dan informal (termasuk variabel
budaya) mengenai penerbitan program tata kelola di berbagai negara (Haxhi & van Ees,
2010).
 Berkontribusi untuk memperkaya analisis komparatif isi program (Cicon et al., 2012),
dan telah memberikan perhatian untuk menganalisis perbedaan definisi independensi
direktur di seluruh program nasional (Zattoni & Cuomo, 2010).

4. Teori dasar yang digunakan


Mengambil teori agensi yang dominan (misalnya Fama & Jensen, 1983; Jensen & Meckling,
1976), program tata kelola perusahaan mendorong dewan direksi untuk berperan aktif dan
independen dalam mengendalikan perilaku manajemen puncak. Pemisahan peran Chairman
dan CEO, pembentukan komite dewan (komite audit, remunerasi, dan nominasi) yang terdiri
dari independen direktur non-eksekutif, dan beberapa praktik lainnya yang bertujuan untuk
meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas dewan (lihat Aguilera & Cuervo-Cazurra, 2009;
Zattoni & Cuomo, 2008).

5. Sumber Data dan Metode Penelitian yang Digunakan


Sumber data yang digunakan berasal dari artikel peer review yang terpublikasi data base
utama yaitu Business Source Complete, Scopus, Science Direct dan JSTOR. Dan hanya yang
berbahasa inggris dengan menggunakan kata kunci "program tata kelola" atau " Pedoman tata
kelola "dalam baik yang tertuang dalam judul / abstrak atau pokok bahasannya. Yaitu 149
artikel yang dipublikasikan di 82 jurnal dari tahun 1993 sampai November 2014.

27
Metode yang digunakan, menganalisis secara empiris kecepatan dan jalur penyebaran
program tata kelola perusahaan yang tersebar di seluruh dunia sampai akhir 2014. Kemudian
juga menganalisa literatur dan mengkodekan studi sebelumnya mengenai program tata kelola
perusahaan dengan menggunakan kriteria berikut: (i) jenis artikel (yaitu, konseptual,
empiris), (ii) teori yang digunakan (yaitu, agensi, institusional, teori lain, banyak teori), (iii)
topik penelitian (di tingkat negara dan tingkat perusahaan). Selain itu, hanya untuk studi
empiris, kami juga mempertimbangkan: (iv) pengaturan penelitian (yaitu, satu negara atau
beberapa negara), dan (v) analisis data (metode kualitatif, kuantitatif, campuran, eksperimen)

6. Hasil Utama
Hasil analisis kami tentang program tata kelola perusahaan yang dikeluarkan oleh negara-
negara nasional dan institusi transnasional di seluruh dunia menunjukkan bahwa jumlah
program (isu dan revisi pertama) meningkat dari waktu ke waktu. Negara yang paling aktif
adalah negara maju, dengan Inggris dan Amerika Serikat mengeluarkan jumlah program
terbanyak. Apalagi, pembuatan program corporate governance nasional biasanya dipercepat
setelah dikeluarkannya program transnasional yang berpengaruh dan terjadinya skandal
korporasi dan kecurangan. Akhirnya, menarik untuk dicatat bahwa, di luar program
tradisional yang ditujukan untuk mengatasi kekurangan tata kelola perusahaan dari semua
perusahaan publik, ada peningkatan proliferasi program yang bertujuan untuk memperbaiki
tata kelola jenis perusahaan tertentu, lembaga keuangan dan investor institusi, dan organisasi
sukarela dan amal.
A. Kajian Evolusi Program Tata Kelola di tingkat negara
 Mekanisme penerapan Program, mencakup kajian tentang mekanisme penerapan
program tata kelola (yaitu, program keras versus lunak). Dimana penerapan program
tata kelola yang keras dapat memperkuat mekanisme penegakan kelembagaan di
negara-negara transisi dan negara berkembang (Osemeke & Adegbite, 2014;
Wanyama, Burton, & Helliar, 2009). Menurut pendapat mereka, pendekatan hukum
lunak tidak efisien - yaitu berguna, tapi tidak memadai - untuk memperbaiki praktik
tata kelola di lingkungan kelembagaan yang lemah, yaitu di negara-negara yang
dicirikan oleh hak investor yang lemah, penegakan hukum yang buruk, dan pasar
modal yang belum berkembang
 Alasan di balik penerapan program, alasan yang dimaksudkan disini yaitu efisiensi
atau legitimasi difusi program tata kelola diseluruh dunia, dan hasilnya kedua alasan
tersebut berkontribusi untuk menjelaskan difusi program di seluruh dunia, serta ada
hubungan positif antara penerbitan program dan integrasi ekonomi negara, liberalisasi
pemerintah, ukuran pasar modal, dan tingkat perlindungan investor (Aguilera &
Cuervo-Cazurra, 2004; Zattoni & Cuomo , 2008).
 Isi dari program tata kelola nasional secara spesifik, Sampai akhir tahun 2008, artikel
(misalnya, Cromme, 2005; Fernández-Fernández, 1999; Roberts, 2004; Webb, Beck,
& McKinnon, 2003) menjelaskan beberapa negara yang pertama mengeluarkan isi

28
dari program tata kelola secara nasional : Jerman, Inggris, Rusia, dan Spanyol.
Beberapa tahun terakhir, hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa kajian mereka
menfokuskan dalam dua arah: pertama, mereka melampaui pengalaman negara-
negara Eropa Barat dan mulai menganalisis program negara-negara berkembang
(misalnya Nigeria, Hungaria, Indonesia, Malaysia), dan kedua, mereka memusatkan
perhatian tentang evolusi isi program tata kelola nasional di beberapa institusional
(misalnya, Martin, 2010 untuk Hungaria; Haxhi et al., 2013 dan Nordberg &
McNulty, 2013 untuk Inggris)
 Perbandingan isi program nasional di tingkat internasional, hasil analisis kami
menunjukkan bahwa sejumlah artikel terbatas berfokus pada perbandingan isi
program nasional yang berbeda dari waktu ke waktu. Artikel awal tentang topik ini
diterbitkan hanya setelah tahun 2004 dan jumlah mereka menurun pada periode
terakhir. Sebagian besar menganalisis dan membandingkan isi program yang
dikeluarkan oleh sejumlah kecil negara (yaitu antara dua dan tujuh). Mengenai
pengaturan negara, Uni Eropa adalah yang paling umum karena setengah artikel
meninjau isi program yang dikeluarkan oleh sejumlah negara Uni Eropa
 Internasionalisasi dan konvergensi-divergensi program tata kelola, Hasil kajian ini
tentang internasionalisasi program telah dipublikasikan baru-baru ini, yaitu, setelah
2004. Meskipun mendapat tekanan kuat untuk konvergensi terhadap model tata kelola
perusahaan Anglo-Amerika, kajian ini menunjukkan bahwa di dunia ada perbedaan
bahwa isi program adalah tidak berkumpul baik di Eropa atau di negara berkembang
saja. (misalnya, Collier & Zaman, 2005; Hermes et al., 2006; Roberts, 2004; Zattoni
& Cuomo, 2008). Secara keseluruhan, hasil ini mendukung konvergensi terbatas dari
sistem tata kelola perusahaan yang berbeda terhadap model tata kelola Anglo-
Amerika
 Konsekuensi dari program yang dikeluarkan oleh transnasional institusi, konsekuensi
program tata kelola yang dikeluarkan oleh institusi transnasional tidak diragukan lagi
karena berpengaruh penting dalam pengembangan program tata kelola perusahaan
nasional di seluruh dunia (Aguilera & Cuervo-Cazurra, 2009; Mallin, 2013; Reid,
2003). Bukti empiris menunjukkan bahwa rekomendasi utama yang diajukan oleh
program yang dikeluarkan oleh organisasi transnasional telah digabungkan dalam
banyak program nasional (misalnya di Yunani, China, Republik Cheska, Mesir, dan
Hongaria) dan bahwa organisasi internasional (seperti Dunia Bank, OECD dan Dana
Moneter Internasional)
B. Kajian Evolusi Program Tata Kelola di tingkat perusahaan
 Kajian kepatuhan di tingkat Internasional, dari hasil artikel Nowland (2008)
menganalisis data untuk beberapa negara Asia Timur (yaitu, Hong Kong, Indonesia,
Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand) menemukan
bahwa tingkat kepatuhan perusahaan kecil dan keluarga adalah lebih rendah dari

29
tingkat kepatuhan perusahaan dengan ukuran lebih besar dan kepemilikan yang lebih
tersebar. Salterio, Conrad, dan Schmidt (2013), dalam sebuah studi empiris mengenai
perusahaan-perusahaan Kanada dan Australia, menunjukkan bahwa perusahaan di
kedua negara mematuhi prinsip "patuh atau jelaskan" secara berbeda.
 Kajian penjelasan untuk penyimpangan dari program tata kelola perusahaan, hasilnya
menunjukkan bahwa perusahaan yang lebih kecil cenderung memiliki tingkat
kepatuhan yang lebih rendah terhadap rekomendasi program daripada perusahaan
yang lebih besar (misalnya, Talaulicar & von Werder, 2008 untuk Jerman;
Hooghiemstra & van Ees, 2011 untuk Belanda; Arcot, Bruno, & Faure-Grimaud,
2010 untuk Inggris). Selain itu, mereka menemukan bahwa perusahaan milik keluarga
cenderung tidak mematuhi rekomendasi sukarela daripada perusahaan non-keluarga
(misalnya, Arcot et al., 2010 untuk Inggris; Zeidan, 2014 untuk Brasil)
 Kajian hubungan antara kepatuhan program dan kinerja perusahaan. secara empiris
dari sejumlah penelitian di beberapa negara di seluruh dunia beragam, dan tidak
meyakinkan mengenai apakah tingkat kepatuhan terhadap program yang lebih tinggi
meningkatkan kinerja perusahaan, walaupun beberapa ukuran untuk kinerja telah
digunakan. beberapa penelitian menemukan bahwa kepatuhan terhadap program yang
lebih tinggi meningkatkan kinerja perusahaan (misalnya, Del Brio, Maria-Ramires, &
Perote, 2006 dan Fernández-Rodríguez, Gómez-Ansón, & Cuervo-García, 2004 untuk
Spanyol; Luo & Salterio, 2014 untuk Kanada; Machuga & Teitel, 2007 untuk
Meksiko, Nowland, 2008 untuk tujuh negara di Asia Timur; dan Renders et al., 2010
untuk 14 negara Eropa). Sebaliknya, beberapa penelitian tidak menemukan hubungan
(misalnya, Haniffa & Hudaib, 2006 untuk Malaysia; Price et al., 2011 untuk Meksiko)
atau memberikan hasil yang beragam (misalnya, McKnight & Weir, 2009 dan Weir,
Lang, & McKinght, 2002 untuk Inggris) tentang hubungan antara kepatuhan terhadap
program dan kinerja perusahaan.

7. Kelebihan pada Penelitian


Memberikan gambaran secara umum tentang praktik penyelenggaran program tata kelola
perusahaan di berbagai negara serta di berbagai perusahaan seluruh dunia

8. Kelemahan pada Penelitian


Beberapa keterbatasan dari penelitian ini :
 Artikel yang dipilih dalam analisa ini hanyalah artikel peer-review dalam bahasa Inggris,
sedangkan jenis publikasi lainnya mengenai topik ini belum tidak disertakan dalam
tinjauan analisa. (misalnya, buku akademis seperti van den Berghe, 2002 atau laporan
konsultasi seperti Gregory & Simmelkjaer, 2002)
 Artikel yang pilih hanya memfokuskan pada dampak kepatuhan program terhadap
efektivitas dan efisiensi operasi perusahaan (misalnya, pengendalian internal) dan
kualitas pengungkapan informasi (misalnya, informasi akuntansi keuangan).

30
 Artikel yang dijadikan acuan sebelumnya mengenai program tata kelola selama tiga
periode penelitian berdasarkan tahun publikasi jurnal, dan artikel yang sangat
berpengaruh.

9. Studi di Masa Depan


 studi di masa depan juga dapat mencakup jenis publikasi lainnya atau mengeksplorasi
apakah, dan bagaimana, mereka telah berkontribusi dalam pengembangan pengetahuan
kita tentang program tata kelola
 Studi masa depan bisa, misalnya, menganalisis proses politik yang mengarah pada
pengembangan program dan pembentukan konten mereka, untuk lebih memahami peran
investor institusional, asosiasi direksi, pemegang saham besar, otoritas pemerintah, dan
pihak-pihak lain.

31
Daftar Referensi

Adams, R., B. E. Hermalin, and M. S. Weisbach. Forthcoming. The Role of Boards of Directors
in Corporate Governance: A Conceptual Framework & Survey. Journal of Economic
Literature.

Aggarwal, R., I. Erel, R. M. Stulz, and R. Williamson. 2008. Differences in Governance


Practices between U.S. and Foreign Firms: Measurement, Causes, and Consequences.
Review of Financial Studies. Advance Access published December 22, 2008, doi:
10.1093/rfs/hhn107.

Allen, F. 2005. Corporate Governance in Emerging Economies. Oxford Review of Economic


Policy 21:164–77.

Bainbridge, S. 2006. Directory Primacy and Shareholder Disempowerment. Harvard Law


Review 119:1735–49.

Bar-Gill, O., M. Barzuza, and L. A. Bebchuk. 2006. The Market for Corporate Law. Journal of
Institutional and Theoretical Economics 162:134–71.

Beasley, M. S. 1996. An Empirical Analysis of the Relation between the Board of Director
Composition and Financial Statement Fraud. Accounting Review 71:443–55.

Beasley, M., J. V. Carcello, D. R. Hermanson, and P. D. Lapides. 2000. Fraudulent Financial


Reporting: Consideration of Industry Traits and Corporate Governance Mechanisms.
Accounting Horizons 14:441–52.
Bebchuk, L. A. 1992. Federalism and the Corporation: The Desirable Limits on State
Competition in Corporate Law. Harvard Law Review 105:1435–510.

———. 2005. The Case for Increasing Shareholder Power. Harvard Law Review 118:833–917.

———. 2007. The Myth of the Shareholder Franchise. Virginia Law Review 93:675–732.

Bebchuk, L. A., J. Coates, and G. Subramanian. 2002. The Powerful Antitakeover Force of
Staggered Boards: Theory, Evidence & Policy. Stanford Law Review 54:887–951.

Bebchuk, L. A., and A. Cohen. 2003. Firms’ Decisions Where to Incorporate. Journal of Law and
Economics 46:383–425.

———. 2005. The Costs of Entrenched Boards. Journal of Financial Economics 78:409–33.

Bebchuk, L. A., A. Cohen, and A. Ferrell. 2009. What Matters in Corporate Governance. Review
of Financial Studies 22:783–827.

Bebchuk, L. A., and J. Fried. 2003. Executive Compensation as an Agency Problem. Journal of
Economic Perspectives 17:71–92.

32
———. 2004. Pay without Performance. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Bebchuk, L. A., and Y. Grinstein. 2005. The Growth of Executive Pay. Oxford Review of
Economic Policy 21:283–303.

Bebchuk, L. A., Y. Grinstein, and U. Peyer. Forthcoming. Lucky CEOs and Lucky Directors.
Journal of Finance. Bebchuk, L. A., and A. Hamdani. 2002. Vigorous Race or Leisurely
Walk? Yale Law Journal 112:553–615.

———. 2009. The Elusive Quest for Global Governance Standards. University of Pennsylvania
Law Review 157:1263–317.

Bebchuk, L. A., R. Kraakman, and G. Triantis. 2000. Stock Pyramids, Cross-ownership, and
Dual Class Equity. In R. Morck (ed.), Concentrated Corporate Ownership. Chicago:
University of Chicago Press.

Bebchuk, L. A., and Z. Neeman. 2009. Investor Protection and Interest Group Politics. Review of
Financial Studies (this issue).

Bebchuk, L. A., and M. Roe. 1999. A Theory of Path Dependence in Corporate Ownership and
Governance. Stanford Law Review 52:127–70.

Becht, M., and A. Roell. 1999. Blockholding in Europe: An International Comparison.¨


European Economic Review 43:1049–56.
Becht, M., P. Bolton, and A. Roell. 2003. Corporate Governance and Control. In George M.
Constantinides,¨ Milton Harris, and Rene M. Stulz (eds.),´ Handbook of the Economics
of Finance. Amsterdam: North Holland.

Becht, M., J. Franks, C. Mayer, and S. Rossi. 2008. Returns to Shareholder Activism: Evidence
from a Clinical Study of the Hermes U.K. Focus Fund. Review of Financial Studies.
Advance Access published May 28, 2008, doi: 10.1093/rfs/hhn054.

Berle, A. A., and G. C. Means. 1932. The Modern Corporation and Private Property. New
York:MacMillan.

Bertrand, M., and S. Mullainathan. 2001. Are CEOs Rewarded for Luck? The Ones Without
Principals Are. The Quarterly Journal of Economics 116:901–32.

Bertrand, M., P. Mehta, and S. Mullainathan. 2002. Ferreting Out Tunneling: An Application to
Indian Business Groups. The Quarterly Journal of Economics 117:121–48.

Bhagat, S., and B. S. Black. 1999. The Uncertain Relationship between Board Composition and
Firm Performance. The Business Lawyer 54:921–63.

33
———. 2002. The Non–Correlation between Board Independence and Long-Term Firm
Performance. Journal of Corporation Law 27:231–73.

Bizjak, J. M., R. Whitby, and M. Lemmon. 2009. Option Backdating and Board Interlocks.
Review of Financial Studies 22:4821–47.

Borokhovich, K. A., K. R. Brunarski, and R. Parrino. 1997. CEO Contracting and Anti–Takeover
Amendments. Journal of Finance 52:1495–517.

Brav, A., W. Jiang, R. S. Thomas, and F. Partnoy. 2008. Hedge Fund Activism, Corporate
Governance, and Firm Performance. Journal of Finance 63:1729–75.

Brickley, J. A., J. L. Coles, and R. L. Terry. 1994. Outside Directors and the Adoption of Poison
Pills. Journal of Financial Economics 35:371–90.

Bruno, V., and S. Claessens. 2007. Corporate Governance and Regulation: Can There Be Too
Much of a Good Thing? ECGI Working Paper Series in Finance 142.

Byrd, J. W., and K. A. Hickman. 1992. Do Outside Directors Monitor Managers? Evidence from
Tender Offer Bids. Journal of Financial Economics 32:195–221.

Carleton, W. T., J. M. Nelson, and M. S. Weisbach. 1998. The Influence of Institutions on


Corporate Governance through Private Negotiations: Evidence from TIAA-CREF.
Journal of Finance 53:1335–62.

Chhaochharia, V., and Y. Grinstein. 2006. Corporate Governance and Firm Value: The Impact of
the 2002 Governance Rules. Journal of Finance 62:1789–825.

———. 2008. Executive Compensation and Board Structure. Working Paper, Cornell University.

Chhaochharia, V., and L. Laeven. 2007. The Invisible Hand in Corporate Governance. CEPR
Discussion Paper 6256.

Claessens, S., S. Djankov, and L. H. P. Lang. 2000. The Separation of Ownership and Control in
East Asian Corporations. Journal of Financial Economics 58:81–112.

Coffee, J. 1999. The Future as History: The Prospects for Global Convergence in Corporate
Governance and Its Implications. Northwestern Law Review 93:641–708.

Core, J., W. R. Guay, and D. F. Larcker. 2003. Executive Equity Compensation and Incentives: A
Survey. Economic Policy Review 9:27–50.

Core, J., R. W. Holthausen, and D. F. Larcker. 1999. Corporate Governance, CEO Compensation,
and Firm Performance. Journal of Financial Economics 51:371–406.

34
Cotter, J. F., A. Shivdasani, and M. Zenner. 1997. Do Independent Directors Enhance Target
Shareholder Wealth During Tender Offers? Journal of Financial Economics 43:195–218.

Cremers, M., and Y. Grinstein. 2009. The Market for CEO Talent: Implications for CEO
Compensation. Yale ICF Working Paper 09–11.

Cyert, R. M., S.–H. Kang, and P. Kumar. 2002. Corporate Governance, Takeovers, and Top-
Management Compensation: Theory and Evidence. Management Science 48:435–69.

Daines, R. M. 2001. Does Delaware Law Improve Firm Value? Journal of Financial Economics
62:525–58.

Dann, L., D. Del Guercio, and M. Partch. 2003. Governance and Boards of Directors in Closed-
end Investment Companies. Journal of Financial Economics 69:111–48.

Dechow, P. M., R. G. Sloan, and A. P. Sweeney. 1996. Causes and Consequences of Earnings
Manipulation: An Analysis of Firms Subject to Enforcement Actions by the SEC.
Contemporary Accounting Research 13:1–21.

Del Guercio, D., and J. Hawkins. 1999. The Motivation and Impact of Pension Fund Activism.
Journal of Financial Economics 52:293–340.

Dew-Becker, I., and R. J. Gordon. 2007. Selected Issues in the Rise of Income Inequality.
Brookings Papers on Economic Activity 2:169–90.

Djankov, S., R. La Porta, F. Lopez–de–Silanes, and A. Shleifer. 2008. The Law and Economics
of Self–Dealing. Journal of Financial Economics 88:430–65.

Doidge, C., G. A. Karolyi, K. V. Lins, R. M. Stulz, and D. P. Miller. 2009. Private Benefits of
Control, Ownership, and the Cross-listing Decision. Journal of Finance 64:425–66.

Doidge, C., G. A. Karolyi, and R. M. Stulz. 2004. Why Are Foreign Firms Listed in the U.S.
Worth More? Journal of Financial Economics 71:205–38.

Edmans, A., X. Gabaix, and A. Landier. Forthcoming. A Multiplicative Model of Optimal CEO
Incentives in Market Equilibrium. Review of Financial Studies.

Faccio, M., and L. H. P. Lang. 2002. The Ultimate Ownership of Western European
Corporations. Journal of Financial Economics 65:365–95.

Fahlenbrach, R., and R. M. Stulz. 2009. Bank CEO Incentives and the Credit Crisis. Working
Paper, Charles A Dice Center 2009–13.

Franks, J. R., and C. Mayer. 2001. Ownership and Control of German Corporations. Review of
Financial Studies 14:943–77.

35
Frydman, C., and R. Saks. 2010. Executive Compensation: A New View from a Long-Term
Perspective, 1936– 2005. Review of Financial Studies doi: 10.1093/rfs/hhp120.

Gabaix, X., and A. Landier. 2008. Why Has CEO Pay Increased So Much? Quarterly Journal of
Economics 123:49–100.

Gillan, S. L., and L. T. Starks. 2000. Corporate Governance Proposals and Shareholder Activism:
The Role of Institutional Investors. Journal of Financial Economics 57:275–305.

———. 2007. The Evolution of Shareholder Activism in the United States. Journal of Applied
Corporate Finance 19:55–73.

Gillette, A. B., T. H. Noe, and M. J. Rebello. 2003. Corporate Board Composition, Protocols, and
Voting Behavior: Experimental Evidence. Journal of Finance 58:1997–2032.

Glaeser, E., and A. Shleifer. 2002. Legal Origins. Quarterly Journal of Economics 117:1193–229.

Gompers, P. A., J. Ishii, and A. Metrick. 2003. Corporate Governance and Equity Prices.
Quarterly Journal of Economics 118:107–155.
———. 2009. Extreme Governance: An Analysis of Dual-Class Firms in the United States.
Review of Financial Studies. Advance Access published May 2, 2009, doi:
10.1093/rfs/hhp024.

Gordon, J. N. 2007. The Rise of Independent Directors in the United States, 1950–2005: Of
Shareholder Value and Stock Market Prices. Stanford Law Review 59:1465–568.

Greenwood, R., and M. Schor. 2009. Investor Activism and Takeovers. Journal of Financial
Economics 92:362– 75.

Grossman, S., and O. Hart. 1980. Takeover Bids, the Free-Rider Problem, and the Theory of the
Corporation. The Bell Journal of Economics 11:42–64.

Hail, L., and C. Leuz. 2006. International Differences in the Cost of Equity Capital: Do Legal
Institutions and Securities Regulation Matter? Journal of Accounting Research 44:485–
531.

Hallock, K. F. 1997. Reciprocally Interlocking Boards of Directors and Executive Compensation.


Journal of Financial and Quantitative Analysis 32:331–44.

Hartzell, J. C., and L. T. Starks. 2003. Institutional Investors and Executive Compensation.
Journal of Finance 58:2351–74.

Hermalin, B. E. Forthcoming. Corporate Governance: A Critical Assessment. In Robert Gibbons


and John Roberts (eds.), Handbook of Organizational Economic. Princeton, NJ:
Princeton University Press.

36
Hermalin, B. E., and M. S. Weisbach. 1991. The Effects of Board Composition and Direct
Incentives on Firm Performance. Financial Management 20:101–12.

———. 1998. Endogenously Chosen Boards of Directors and Their Monitoring of Management.
American Economic Review 88:96–118.

Hermalin, B. E., and M. S. Weisbach. 2003. Boards of Directors as an Endogenously Determined


Institution: A Survey of the Economic Literature. Economic Policy Review 9:7–26.

———. 2009. Information Disclosure and Corporate Governance. Working Paper, Ohio State
University.Holderness, C. G. 2009. The Myth of Diffuse Ownership in the United
States. Review of Financial Studies 22:1377–408.

Holmstrom, B. 1979. Moral Hazard and Observability. The Bell Journal of Economics 10:74–91.
Jackson, H. E., and M. J. Roe. 2008. Public Enforcement of Securities Laws: Resource-Based
Evidence. Journal of Financial Economics 93:207–38.

Jensen, M., and K. Murphy. 1990. Performance Pay and Top-Management Incentives. Journal of
Political Economy 98:225–64.

Jensen, M. C., K. J. Murphy, and E. Wruck. 2004. Remuneration: Where We’ve Been, How We
Got to Here, What Are the Problems, and How to Fix Them. ECGI Working Paper
Series in Finance 44.

Kahan, M. 2006. The Demand for Corporate Law: Statutory Flexibility, Judicial Quality, or
Takeover Protection? The Journal of Law, Economics, and Organization 22:340–65.

Kahan, M., and E. Rock. 2007. Hedge Funds in Corporate Governance and Corporate Control.
University of Pennsylvania Law Review 155:1021–93.

Kaplan, S. 2008. Are U.S. CEOs Overpaid? Academy of Management Perspectives 22:5–20.

Kaplan, S. N., and J. Rauh. 2009. Wall Street and Main Street: What Contributes to the Rise in
the Highest Incomes? Review of Financial Studies. Advance Access published March 3,
2009, doi: 10.1093/rfs/hhp006.

Karpoff, J. M. 2001. The Impact of Shareholder Activism on Target Companies: A Survey of


Empirical Findings. Working Paper, University of Washington.

Kedia, S., and T. Philippon. 2009. The Economics of Fraudulent Accounting. Review of
Financial Studies 22:2169–99.

Klein, A., and E. Zur. Forthcoming. Hedge Fund Activism. Journal of Finance.

La Porta, R., F. Lopez-de-Silanes, and A. Shleifer. 1999. Corporate Ownership Around the
World. Journal of Finance 54:471–517.

37
———. 2006. What Works in Securities Law? Journal of Finance 61:1–32.

———. 2008. The Economic Consequences of Legal Origin. Journal of Economic Literature
46:285–332.

La Porta, R., F. Lopez-de-Silanes, A. Shleifer, and R. W. Vishny. 1997. Legal Determinants of


External Finance. Journal of Finance 52:1131–50.

———. 1998. Law and Finance. Journal of Political Economy 107:1113–55.

———. 2000a. Agency Problems and Dividend Policies Around the World. Journal of Finance
55:1–33.

———. 2000b. Investor Protection and Corporate Governance. Journal of Financial Economics
58:3–27. ———. 2002. Investor Protection and Corporate Valuation. Journal of Finance
57:1147–70.
Leuz, C., K. V. Lins, and F. E. Warnock. 2008. Do Foreigners Invest Less in Poorly Governed
Firms? Review of Financial Studies. Advance Access published October 8, 2008, doi:
10.1093/rfs/hhn089.

Levine, R. 2005. Law, Endowments, and Property Rights. Journal of Economic Perspectives
19:61–88.

Lipton, M., and W. Savitt. 2007. The Many Myths of Lucian Bebchuk. Virginia Law Review
93:733–58.

Masulis, R. W., C. Wang, and F. Xie. 2007. Corporate Governance and Acquirer Returns. Journal
of Finance 62:1851–89.

Morck, R., A. Shleifer, and R. W. Vishny. 1988. Management Ownership and Market Valuation:
An Empirical Analysis. Journal of Financial Economics 20:293–315.

Morck, R., D. Wolfenzon, and B. Yeung. 2005. Corporate Governance, Economic Entrenchment
and Growth. Journal of Economic Literature 43:657–722.

Murphy, K. J. 1999. Executive Compensation. In Orley Ashenfelter and David Card (eds.),
Handbook of Labor Economics, vol. 3. Amsterdam: North-Holland.

Murphy, K. J., and J. Zabojnik. 2007. Managerial Capital and the Market for CEOs. Working
Paper, Queen’s University.

Nenova, T. 2003. The Value of Corporate Votes and Control Benefits: A Cross-country Analysis.
Journal of Financial Economics 68:325–51.

38
Pagano, M., A. Roell, and J. Zechner. 2002. The Geography of Equity Listing: Why Do
Companies List Abroad?¨ Journal of Finance 57:2651–94.

Pagano, M., and P. Volpin. 2005a. The Political Economy of Corporate Governance. American
Economic Review 95:1005–30.

———. 2005b. Workers, Managers, and Corporate Control. Journal of Finance 60:841–68.

Perotti, E., and E.-L. von Thadden. 2006. The Political Economy of Corporate Control and Labor
Rents. Journal of Political Economy 114:145–74.

Perotti, E., and P. Volpin. 2008. Politics, Investor Protection and Competition. ECGI Working
Paper Series in Finance 162.

Rajan, R., and L. Zingales. 2003. The Great Reversals: The Politics of Financial Development in
the 20th Century. Journal of Financial Economics 69:5–50.
———. 2004. Saving Capitalism from the Capitalists: Unleashing the Power of Financial
Markets to Create Wealth and Spread Opportunity. Princeton, NJ: Princeton University
Press.

Ravina, E., and P. Sapienza. 2009. What Do Independent Directors Know? Evidence from Their
Trading. Review of Financial Studies. Advance Access published April 13, 2009, doi:
10.1093/rfs/hhp027.

Reese, W., and M. S. Weisbach. 2002. Protection of Minority Shareholder Interests, Cross–
Listings in the United States, and Subsequent Equity Offerings. Journal of Financial
Economics 66:65–104.

Roe, M. 2003. Political Determinants of Corporate Governance. Oxford (UK): Oxford


University Press.

Romano, R. 1985. Law as a Product: Some Pieces of the Incorporation Puzzle. Journal of Law,
Economics and Organization 1:225–67.

———. 1997. State Competition for Corporate Charters. In J. Ferejohn and B. Weingast (eds.),
The New Federalism: Can the States Be Trusted? Stanford, CA: Hoover Institution
Press.

Shivdasani, A. 1993. Board Composition, Ownership Structure and Hostile Takeovers. Journal of
Accounting and Economics 16:167–98.

Shleifer, A., and R. Vishny. 1986. Large Shareholders and Corporate Control. Journal of Political
Economy 94:461–88.

———. 1997. A Survey of Corporate Governance. Journal of Finance 52:737–83.

39
Siegel, J. 2005. Can Foreign Firms Bond Themselves Effectively by Renting U.S. Securities
Laws? Journal of Financial Economics 75:319–59.

Smith, A. 1776. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Indianapolis,
IN: Liberty Press.

Spamann, H. 2009. The “Antidirector Rights Index” Revisited. Review of Financial Studies.
Advance Access published September 14, 2009, doi: 10.1093/rfs/hhp067.

Stigler, G. 1971. The Theory of Economic Regulation. Bell Journal of Economic and
Management Science 2:3–21.

Strine, L. E. Jr. 2006. Toward a True Corporate Republic: A Traditionalist Response to Bebchuk’s
Solution for Improving Corporate America. Harvard Law Review 119:1759–83.

Stulz, R. M. 1999. Globalization of Equity Markets and the Cost of Capital. Journal of Applied
Corporate Finance 12:8–25.

Stulz, R. M., and R. Williamson. 2003. Culture, Openness, and Finance. Journal of Financial
Economics 70:313–49.

Weisbach, M. S. 1988. Outside Directors and CEO Turnover. Journal of Financial Economics
20:431–60.

Zingales, L. 1994. The Value of the Voting Right: A Study of the Milan Stock Exchange
Experience. Review of Financial Studies 7:125–48.

———. 1995. What Determines the Value of Corporate Votes? Quarterly Journal of Economics
110:1047–73.

———. 1998. Corporate Governance. In P. Newman (ed.), The New Palgrave Dictionary of
Economics and the Law, New York: MacMillan.

40