Anda di halaman 1dari 5

PATOGENESIS DISKOLORISASI (AKIBAT TRAUMA)

Intrapulpal Hemorrhage

trauma Pembuluh darah Darah


kapiler dalam kamar menggenangi
pulpa terjadi kamar pulpa
pendarahan

Terjadi degradasi dan Sel darah meraah Darah masuk ke


pelepasan komponen mengalami hemolisis tubulus dentin
besi (Fe) + jaringan dan melepasakan Hb secara difusi
pulpa yang nekrotik
(membusuk)

Fe + Hidrogen Black ferric Penetrasi ke Terjadi


sulfida sulphide dalam tubulus perubahan warna
dentin
Bleaching Non Vital

Indikasi

· Perubahan warna berasal dari kamar pulpa.

· Perubahan warna dentin.

· Perubahan warna yang tidak dapat diatasi dengan pemutihan eksterna.

Kontraindikasi

· Perubahan warna email superfisial.

· Pembentukan email yang tidak sempurna.

· Kehilangan dentin yang parah.

· Ada karies.

· Komposit yang berubah warna.

Teknik

a. Teknik Termokatalitik
Teknik termokatalitik adalah teknik pemutihan dengan meletakkan material oksidator di dalam kamar pulpa dan
kemudian memanaskannya. Panas ini diperoleh dari lampu, alat yang dipanaskan, atau alat pamanas listrik yang
dibuat khusus untuk memutihkankan gigi.

Kerusakan berat yang timbul karena teknik termokatalitik ini adalah resorpsi eksterna dari akar di daerah servikal
akibat iritasi pada sementum dan ligamen periodontium. Iritasi mungkin berasal dari bahan oksidator yang
dikombinasikan dengan panas. Oleh karena itu, aplikasi panas selama pemutihan ini harus dibatasi.

b. Teknik Walking Bleach

A. Pewarnaan interna dari dentin yang disebabkan oleh sisa material obturasi (OM) dalam ruang pulpa, juga oleh
material dan debris jaringan di dalam tanduk pulpa (PH).

B. Restorasi koronanya dibuang semua, preparasi aksesnya diperbaiki, dan gutapercanya dibuang sampai sebatas
di bawah margin gingiva. Kemudian, tanduk pulpa dibersihkan dengan bur bulat.

C. Basis semen protektif (B) diletakkan diatas gutaperca dan tidak melampaui margin gingiva. Setelah sisa semen
saluran akar dan material dibersihkan dari kamar pulpa dengan pelarut, letakkan pasta (P) campuran dari Na-
perborat dengan air yang konsistensinya seperti pasir basah. Daerah insisalnya diberi undercut guna retensi
tambalan sementaranya.

D. Tutup akses dengan campuran tebal ZOE (Z).

E. Pada kunjungan berikutnya, jika warna yang dikehendaki telah dicapai, buat restorasi permanennya. Metode
yang dianjurkan adalah menambal kamar pulpa dengan penambal sementara yang putih (TS) atau dengan
polikarboksilat atau Zn-fosfat berwarna muda. Komposit (C) etsa asam merestorasi akses lingual dan meluas ke
tanduk pulpa untuk retensi dan mendukung insisal.
Material Bleaching

a. Hidrogen Peroksida

Hidrogen peroksida adalah pengoksidasi kuat yang tersedia dalam berbagai tingkat kekuatan walaupun yang biasa
dipakai adalah larutan yang distabilkan dengan kadar 30 sampai 35 persen. Larutan berkadar tinggi ini harus
dipakai dengan hati-hati karena tidak stabil, kehilangan oksigen dengan cepat, dan bisa meledak kalau tidak
disimpan dalam lemari es atau disimpan di tempat gelap. Juga, material ini adalah material kaustik dan dapat
membakar jaringan jika berkontak dengannya.

b. Natrium Perborat

Material ini dapat diperoleh dalam bentuk bubuk atau dalam berbagai kombinasi campuran komersial. Jika masih
baru, bahan ini mengandung kira-kira 95% perborat, yang dapat menghasilkan 9,9% oksigen. Natrium perborat
stabil bila dalam keadaan kering, tetapi jika ada asam, air hangat, atau air, akan berubah menjadi natrium
metaborat, hydrogen peroksida, dan oksigen bentuk nasen. Preparat natrium perborat yang tersedia adalah
monohidrat, trihidrat, dan tetrahidrat. Semua berbeda dalam kandungan oksigennya, yang menentukan keefektifan
pemutihannya. Preparat natrium perborat yang biasa digunakan adalah yang bersifat alkali dan pH-nya bergantung
pada jumlah H2O2 yang dilepaskan dan Na-metaborat yang tersisa.

Natrium perborat lebih mudah dikontrok dan lebih aman daripada larutan hydrogen peroksida pekat. Oleh karena
itu, material ini merupakan material pilihan bagi pemutihan interna.

c. Karbamid Peroksida

Karbamid peroksida, juga dikenal sebagai hydrogen peroksida urea, dapat diperoleh dalam berbagai konsentrasi
antara 3 dan 15%. Preparat komersial yang terkenal mengandung kira-kira 10% karbamid peroksida dengan pH
rata-rata 5 sampai 6,5. Biasanya juga mengandung gliserin atau propilen glikol, natrium stannat, asam fosfat atau
asam sitrat, dan aroma. Dalam beberapa preparat, ditambahkan Carbopol, suatu resin yang larut dalam air, untuk
memperlama pelepasan peroksida aktif dan meningkatkan masa penyimpanannya. Karbbamid peroksida 10% akan
terurai menjadi urea, ammonia, karbondioksida, dan sekitar 3,5% hydrogen peroksida.

Sistem karbamid peroksida digunakan pada pemutihan eksterna dan dikaitkan dengan berbagai derajat kerusakan
gigi dan jaringan lunak di sekitarnya. Material ini dapat memengaruhi kekuatan ikatan resin komposit serta
penutupan tepinya. Oleh karena itu, material ini harus dipakai dengan sangat hati-hati, biasanya dibawah
pengawasan ketat dokter gigi.4

Perubahan Warna Alami atau Didapat

a. Nekrosis Pulpa

Nekrosis pulpa dapat disebabkan oleh iritasi pada pulpa, baik itu karena bakteri, mekanik, atau kimia.

Patogenesis :

Pulpa nekrosis à dilepasnya produk disintegrasi jaringan à merembes ke tubulus à mewarnai dentin disekelilingnya.

b. Perdarahan Intrapulpa

Dikaitkan dengan cedera tumbukan pada gigi. Diskolorasi jenis ini jika dibiarkan akan makin parah. Jika pulpa
menjadi nekrosis, perubahan warnanya menetap. Jika pulpanya dapat bertahan, diskolorasi bisa membaik dan gigi
kembali ke warna asalnya.

Patogenesis :

Cedera tumbukan pada gigi à pembuluh darah di mahkota putus dan terjadi perdarahan serta lisisnya eritrosit à
produk disintegrasi darah memasuki tubulus à mewarnai dentin sekelilingnya.

Anda mungkin juga menyukai