Anda di halaman 1dari 17

http://cetak.joglosemar.co/berita/dampak-negatif-tv-pada-anak-108121.

html

http://www.microsofttranslator.com/BV.aspx?ref=IE8Activity&a=http%3A%2F%2Fcetak.joglosemar.
co%2Fberita%2Fdampak-negatif-tv-pada-anak-108121.html

http://www.anneahira.com/dampak-positif-dan-negatif-televisi.htm

http://books.google.co.id/books?id=K903DvN6TYwC&pg=PA115&lpg=PA115&dq=penyebab+outsou
rcing+harus+dihentikan+adalah&source=bl&ots=gnFNl8ZAgU&sig=_eWC1E2BFy-
lyB4NeE41jsOHkJo&hl=id&sa=X&ei=gVLJUICkEsasrAfBw4GAAg&ved=0CCUQ6AEwAA#v=onepage&q
=penyebab%20outsourcing%20harus%20dihentikan%20adalah&f=false

Pengaruh Televisi terhadap Perkembangan Anak

Dengan segala potensi yang dimilikinya itu, televisi telah mendatangkan banyak perdebatan yang
tidak kunjung berakhir. Bagi orang dewasa, mungkin apa yang ditampilkan oleh televisi itu bukanlah
sebuah masalah besar, sebab mereka sudah mampu memilih, memilah dan memahami apa yang
ditayangkan di layar televisi. Namun bagaimana dengan anak-anak? Dengan segala kepolosan yang
dimilikinya, belum tentu mereka mampu menginterpretasikan apa yang mereka saksikan di layar
televisi dengan tepat dan benar. Padahal Keith W. Mielke sebagaimana dikutip oleh Arini Hidayati
dalam bukunya berjudul ‘Televisi dan Perkembangan Sosial Anak’ mengatakan bahwa:

“Masalah paling mendasar bukanlah jumlah jam


yang dilewatkan si anak untuk menonton televisi, melainkan program-program yang ia tonton dan
bagaimana para orang tua serta guru memanfaatkan program-program ini untuk sedapat mungkin
membantu kegiatan belajar mereka.”(1998:74).
Dari kutipan tersebut diatas jelas bahwa yang harus diwaspadai oleh para guru dan orang tua adalah
acara apa yang ditonton anak di televisi itu dan bukannya berapa lama anak menonton televisi.
Padahal kecenderungan yang ada justru sebaliknya. Orang tua jarang benar-benar memperhatikan
apa yang ditonton anak-anaknya dan lebih sering melarang anak-anak agar jangan menonton televisi
terlalu lama karena bisa mengganggu jam belajar mereka.
Disamping itu, apakah pernah pula terbersit dalam benak orang tua untuk ikut menonton tayangan-
tayangan televisi yang diklaim sebagai tayangan untuk anak-anak? Pernahkan orang tua
memperhatikan, apakah tayangan untuk anak itu memang sesuai dengan usianya? Padahal disinilah
peran orangtua menjadi sangat penting artinya. Orang tualah yang menjadi guru, pembimbing,
pendamping dan pendorong pertumbuhan anak yang paling utama. Dari orangtualah anak pertama
kali belajar tentang sesuatu kebenaran dan kemudian menanamkan kepercayaan atas kebenaran itu.
(Ibid)
Sudah menjadi tanggung jawab orang tua pula untuk selalu mendampingi anak-anak dalam
menonton televisi, memberikan pengertian dan penjelasan atas apa yang tidak dimengerti oleh
anak-anak. Memberikan penjelasan kenapa suatu tindak kekerasan bisa terjadi dan apa akibat dari
semua itu.
Orang tua juga harus jeli dalam melihat program-program acara televisi yang ditonton oleh anak.
Apakah cocok dengan usianya, apakah bersifat mendidik atau justru malah merusak moral si anak.
Mungkin sebagai orang tua, tidak akan kesulitan untuk langsung melarang seorang anak untuk
menonton film-film dewasa yang mengandung unsur seks dan kekerasan secara vulgar, karena
dengan memandang sepintas lalu saja sudah jelas diketahui bahwa acara tersebut tidak cocok untuk
anak. Tetapi pernahkah orangtua mengamati film-film kartun yang kelihatannya memang sudah
layak menjadi konsumsi anak-anak? Pernahkah orang tua peduli bahwa berbagai tayangan film
kartun Jepang yang mempertontonkan heroisme, seperti film seri Kenji, Dragon Ball dan sebagainya
telah menyebabkan seorang anak menjadi seorang yang agresif? Demikian pula dengan tayangan
film-film kartun yang penuh romantisme seperti Sailor Moon? Dan bagaimana pula dengan film-film
yang lain?
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa tingkat pornografi pada film kartun anak-anak itu cukup
tinggi, dan diantara film-film kartun anak di Asia, film kartun produksi Jepang menempati posisi
paling tinggi dalam penayangan unsur pornografi. Sebagai contoh, Film Seri Crayon Sinchan yang
sekarang begitu di gemari di Indonesia, ternyata di Jepang sendiri film tersebut tidak diperuntukkan
untuk konsumsi anak-anak melainkan untuk konsumsi orang dewasa yang ingin kembali ke masa
kanak-kanak. Akibatnya saat ini muncul perdebatan yang cukup seru dalam membahas masalah film
seri Crayon Sinchan ini.
Sebuah tulisan di Jawa Pos yang mengetengahkan keprihatinan terhadap film tersebut mengatakan
bahwa sosok Sinchan itu tidak cocok untuk menjadi teladan bagi anak-anak. Sinchan sering bertindak
kurang ajar dan kekurang ajarannya itu sering mengarah ke masalah seks. Sebagai anak kecil,
Sinchan sering bermimpi tentang perempuan-perempuan dengan bikini dan ia pun senang sekali
menyingkapkan rok ibunya.
Memang dikatakan oleh Joseph T. Klapper bahwa media bukanlah penyebab perubahan satu-
satunya melainkan ada faktor-faktor lain yang menengahi (mediating factors). Namun
bagaimanapun juga, jika mengacu pada teori efek media maka terdapat teori Belajar, dimana
seseorang itu belejar melakukan sesuatu dari media. Seorang anak bisa dengan fasihnya menirukan
ucapan atau lagu-lagu yang di dengarnya di televisi. Mereka pun dengan segala kepolosan dan
keluguannya sering pula menirukan segala gerak dan tingkah laku tokoh idolanya di televisi. Dengan
demikian tidaklah mustahil jika anak-anak pun akan menirukan kenakalan Sinchan dengan segala
kekurang ajarannya. Atau menirukan tindakan Superman ketika menumpas kejahatan dengan
memukuli anak lain yang dianggapnya sebagai musuh. Dan ini menjadi langkah pembenar setiap
anak-anak berbuat sesuatu, yang bisa jadi melanggar norma umum yang ada di tengah masyarakat
kita.
Langkah Antisipasi
Bagaimanapun juga kehadiran televisi merupakan sebuah kebutuhan, tidak sekadar sebagai sarana
untuk memudahkan kita mengakses setiap informasi tapi juga berperan sebagai sarana penghibur
yang mudah untuk kita dapatkan. Tetapi, tetap saja efek negatif selalu ada dan ini perlu untuk
diantisipasi secara serius. Apalagi kalau yang terkena dampaknya adalah anak-anak yang notabene
mereka akan menjadi iron stock di masa datang.
Secara khusus penulis berharap orang tua yang secara langsung berhubungan dan berkaitan dengan
pengaruh televisi terhadap anak-anak bisa mengambil langkah-langkah nyata. Walaupun tidak
menutup kemungkinan memberikan alternatif solusi terhadap pihak terkait seperti pihak media
televisi dan para pemerhati media secara umum. Pertama, jelas perlu ada sosialisasi secara massif
kepada para orang tua tentang bahaya program yang ada di televisi pada setiap media yang ada,
termasuk koran ini dan juga diperlukan kewaspadaan yang penuh dengan tidak membiarkan anak-
anak menonton televisi dengan bebas. Meskipun label pihak televisi yang diberikan adalah acara
untuk anak. Kedua, perlu penjagaan program acara televisi secara langsung dengan cara
mendampingi waktu anak-anak menonton televisi dan sekaligus bisa memberi penjelasan saat
dibutuhkan. Untuk itu, kesiapan orang tua untuk mendampingi di tengah kesibukan seabrek kegiatan
mutlak diperlukan. Ketiga, perlu diupayakan pemberdayaan masyarakat dengan diadakan lembaga
kontrol yang bisa memberi masukan dan kajian kritis tentang isi program siaran televisi dan dampak
yang ada.

Posted 11 Aug 2011 03:06 PM by admin in


Artikel ini disalin dari : http://blog.tp.ac.id/pengaruh-televisi-terhadap-perkembangan-
anak#ixzz2EttJfFY3

Outsourching

http://books.google.co.id/books?id=K903DvN6TYwC&pg=PA115&lpg=PA115&dq=penyebab+outsou
rcing+harus+dihentikan+adalah&source=bl&ots=gnFNl8ZAgU&sig=_eWC1E2BFy-
lyB4NeE41jsOHkJo&hl=id&sa=X&ei=gVLJUICkEsasrAfBw4GAAg&ved=0CCUQ6AEwAA#v=onepage&q
=penyebab%20outsourcing%20harus%20dihentikan%20adalah&f=false

Inilah Alasan Logis Sistem Kerja Outsourcing Harus


Dihapus
GLOBALISASI dan persaingan usaha yang ketat menuntut perusahaan untuk meningkatkan
kinerja melalui pengelolaan organisasi yang efektif dan efisien. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah mempekerjakan tenaga kerja seminimal mungkin, namun memberi
kontribusi maksimal.

Akibatnya, upaya perusahaan terfokus pada penanganan pekerjaan yang menjadi bisnis inti
atau core business. Sementara pekerjaan penunjang diserahkan kepada pihak lain. Proses
kegiatan inilah yang disebut outsourcing.

Banyak buruh sebagai tenaga kontrak, yang direkrut melalui perusahaan pengerah tenaga
kerja (outsourced) yang banyak muncul di pusat-pusat industri. Ini terjadi karena bisnis ini
sangat menguntungkan bagi perusahaan penyedia buruh kontrak.

Buruh hanya mendapatkan upah pokok sebesar upah minimum setempat tanpa tunjangan
lain, sementara outsourced mendapat untung karena potongan pendapatan buruh.

Ini sangat memprihatinkan, pasalnya mereka buruh outsourcing melakukan pekerjaan yang
persis sama dengan buruh tetap.

Kontrak kerja mereka umumnya pendek-pendek dari 1 hingga 6 bulan dan dapat diputus
setiap saat. Kontrak kerja yang pendek menciptakan ketidakpastian kerja, apalagi
peningkatan karir.

Buruh outsourcing juga kehilangan kesempatan berserikat, karena baik secara terbuka
maupun terselubung, perusahaan pengerah maupun pengguna tenaga buruh melarang
mereka untuk berserikat dengan resiko kehilangan pekerjaan.

Adanya sistem kontrak dan outsourcing ini membuat posisi tawar pekerja atau buruh
semakin lemah karena tidak ada kepastian kerja, kepastian upah, jaminan sosial, jaminan
kesehatan, pesangon jika di PHK, dan tunjangan-tunjangan kesejahteraan lain.

Kian sempitnya lapangan kerja membuat buruh tidak dihadapkan pada banyak pilihan,
kecuali menerima kondisi yang ada.

Dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK), pekerja alih daya berhak mendapat
perlindungan kerja sesuai dengan Pasal 65 Ayat (4) dan Pasal 66 Ayat (2) UU
Ketenagakerjaan. Dengan demikian, baik perusahaan asal pekerja alih daya maupun
perusahaan yang mengalihkan sebagian pekerjaan kepada pihak ketiga wajib melindungi
pekerja tanpa memperhatikan status pekerja tersebut.

Dengan demikian, putusan ini menghapus diskriminasi antara pekerja tetap dan pekerja alih
daya pelaksana tugas sama persis dalam perusahaan yang memborongkan sebagian
pekerjaan pada perusahaan penyedia jasa alih daya.

Tetapi sejak adanya putusan MK tentang outsourcing masih banyak pemberi kerja atau
perusahaan yang masih memberlakukan sistim Perjanjian Kerja Paruh Waktu (PKWT) yang
banyak merugikan kaum pekerja atau buruh, dimana masih banyak buruh yang bekerja
dengan sistim outsourcing tidak mendapatkan fair benefits and welfare.

Dengan adanya pergantian perusahaan yang melaksanakan sebagian pekerjaan borongan


dari perusahaan lain atau perusahaan penyedia jasa, serta banyaknya buruh outsourcing
tidak dibayarkannya uang pesangon jika di PHK atau habis masa kerjanya

Serta masih banyaknya perusahaan melakukan eksploitasi terhadap pekerja atau buruh yang
hanya untuk kepentingan keuntungan bisnis dan tidak memperhatikan jaminan dan
perlindungan atas hak-hak pekerja atau buruh untuk mendapatkan pekerjaan dan upah yang
layak, dan masih banyaknya peerusahanan yang melanggar hak-hak konstitusional para
pekerja outsourcing bukti bahwa buruknya pengawasan ketenaga kerjaan oleh
Menakertrans Muhaimin Iskandar.

Hal diatas menunjukan bahwa sistem pengawasan yang dilakukan Kemenakertrans kepada
pemberi kerja atau perusahaan sangat lemah. Kemenakertrans terkesan tidak peduli dengan
penerapan sistim kerja outsourcing yang tidak sesuai dengan pasal-pasal yang berhubungan
dengan sistem kerja outsourcing sudah dikabulkan oleh MK.

Terkait dengan hal di atas maka tidak ada jalan lain bagi para pekerja dan buruh baik yang
menjadi pekerja tetap maupun pekerja kontrak untuk terus melakukan perjuangan dan
perlawan terhadap rezim SBY dan pengusaha yang tidak berpihak kepada kesejahteraan
Buruh. Pemerintahan SBY dan harus menghapus sistim kerja outsourcing.

Sumber : http://www.rmol.co/read/2012/10/03/80287/Inilah-Alasan-Logis-Sistem-Kerja-
Outsourcing-Harus-Dihapus-

Legalitas Outsourcing Pasca Putusan MK


Oleh: Juanda Pangaribuan*)

Untuk memberi kepastian hukum, kini, saat yang tepat bagi pemerintah dan DPR membahas
perubahan UU Ketenagakerjaan.

A. Outsourcing dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu

Belakangan ini outsourcing menjadi salah satu kosa kata yang populer. Sebenarnya, praktik
outsourcing sudah berlangsung sebelum pemerintah mengundangkan UU No 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan). Praktik outsourcing sangat mudah kita
temukan terutama pada sektor pertambangan minyak dan gas bumi (migas).

Sebelum UU Ketenagakerjaan berlaku sebagai hukum positif, UU bidang perburuhan tidak


mengatur sistem outsourcing. Pengaturan tentang outsourcing dan Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu (PKWT) pertama kali diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No 5
Tahun 1995 dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 2 Tahun 1993. Melihat subtansi Bab IX UU
Ketenagakerjaan khususnya mengenai PKWT, pembentuk undang-undang mengadopsi isi dari
dua Permenaker di atas.

Dalam perkembangannya, lantaran dianggap tak memberikan jaminan kepastian bekerja, tak
lama setelah UU Ketenagakerjaan diberlakukan, sebanyak 37 serikat pekerja/serikat buruh
mengajukan perlawanan ataslegalisasi sistem outsourcing dan PKWT ini. Caranya dengan
mengajukan uji materi (judicial review) ke Mahkamah Konstitusi (MK) sebagaimana teregistrasi
dengan permohonan No 12/PUU-I/2003.

Ada beberapa pasal yang diuji, termasuk Pasal 64, Pasal 65 dan Pasal 66 UU Ketenagakerjaan
yang mengatur soal outsourcing. Saat itu, MK menolak permohonan atas ketiga ketentuan
tersebut. Salah satu pertimbangan dalam putusan No 12/PUU-I/2003 mengatakan, sistem
outsourcing tidak merupakan modern slavery dalam proses produksi.

Upaya buruh melawan sistem outsourcing dan kerja kontrak seakan tidak pernah berhenti.
Buktinya, tuntutan untuk menghapus sistem outsourcing dan buruh kontrak kembali memasuki
gedung MK.

Dalam register permohonan No 27/PUU-IX/2011 tercatat Didik Supriadi mewakili Aliansi


Petugas Pembaca Meter Listrik Indonesia (AP2MLI) mengajukan judicial review terhadap Pasal
59, Pasal 64, Pasal 65 dan Pasal 66 UU Ketenagakerjaan.

Lembaga pengawal konstitusi itu mengabulkan permohonan Didik Supriadi untuk sebagian dan
menolak permohonan atas Pasal 59 dan Pasal 64 UU Ketenagakerjaan. Secara eksplisit MK
menyatakan kedua ketentuan itu tidak bertentangan dengan UUD 1945.

Serikat pekerja/serikat buruh menyambut putusan MK itu dengan argumen tak senada. Ada
yang gembira dan ada yang mencibir. Kelompok yang gembira berasumsi bahwa MK telah
menyatakan outsourcing dan PKWT sebagai praktik illegal. Asumsi lain menyimpulkan, MK
telah menghapus sistem outsourcing dan PKWT. Yang mencibir berkata, putusan MK
melegalisasi dan mengkonstitusionalkan sistem outsourcing dan PKWT.

Sambutan pekerja/buruh atas putusan MK itu sudah pasti berbeda dengan pemerintah. Itu
konsekuensi dari psikologi politik. Bagaimanapun, substansi undang-undang yang dikabulkan
oleh MK itu merupakan karya perjuangan pemerintah di gedung DPR. Pertimbangan MK
mengatakan Pasal 65 ayat (7) dan Pasal 66 ayat (2) huruf (b) UU Ketenagakerjaan
inkonstitusional bersyarat (conditionally unconstitutional) membuktikan bahwa isi UU
Ketenagakerjaan semakin banyak yang bertentangan dengan UUD 1945. Putusan MK seperti itu
cukup sebagai argumen menuduh DPR dan pemerintah telah mengabaikan konstitusi saat
menyusun materi undang-undang.

Putusan MK No 27/PUU-IX/2011 ini juga memberi efek kejut yang lebih dasyat bila
dibandingkan putusan MK lainnya di bidang Ketenagakerjaan. Ada yang mengatakan, dasar
hukum outsourcing tidak sah pasca putusan MK. Bahkan, PKWT yang sudah ditandatangani
sebelum putusan MK oleh sebagian kalangan dinilai telah bertentangan dengan putusan MK.

Untuk menjawab hal itu Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial
Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menerbitkan Surat Edaran (SE) No.
B.31/PHIJSK/I/2012 tanggal 20 Januari 2012. Butir akhir dari SE itu menguraikan sikap
Kemenakertrans berkaitan dengan efektivitas waktu berlakunya putusan MK. Yaitu, PKWT yang
sudah ada sebelum putusan MK tetap berlaku sampai berakhir waktu yang diperjanjikan.

Untuk menyelaraskan pemahaman tentang eksistensi dan peluang praktik outsourcing dan
PKWT, kita perlu menelaah secara cermat amar dan pertimbangan putusan MK dimaksud. Di
dalam pertimbangan hukum, MK menawarkan dua model pelaksananaan outsourcing.

Model pertama, outsourcing dilakukan dengan menerapkan perjanjian kerja waktu tidak
tertentu (PKWTT) secara tertulis. Model ini bukan hal baru sebab Pasal 65 ayat (7) UU
Ketenagakerjaan telah mengaturnya secara opsional. Model kedua, lanjut MK, menerapkan
prinsip pengalihan tindakan perlindungan bagi pekerja/buruh (Transfer of Undertaking
Protection of Employment atau TUPE) yang bekerja pada perusahaan yang melaksanakan
pekerjaan outsourcing.

Bagian utama dari amar putusan MK menyatakan “frasa perjanjian kerja waktu tertentu dalam
Pasal 65 ayat (7) dan Pasal 66 ayat (2) huruf (b) UU No. 13 tahun 2003 bertentangan dengan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak memiliki kekuatan
hukum mengikat sepanjang dalam perjanjian kerja tersebut tidak disyaratkan
pengalihan perlindungan hak-hak bagi pekerja/buruh yang objek kerjanya tetap
ada, walaupun terjadi pergantian perusahaan yang melaksanakan sebagian
pekerjaan borongan dari perusahaan lain atau perusahaan penyedia jasa
pekerja/buruh.” Kata sepanjang dan seterusnya dalam amar di atas berlaku sebagai syarat bila
pengusaha menggunakan sistem PKWT.

Berikut adalah beberapa catatan terkait dengan amar dan pertimbangan hukum MK di atas:
a. MK menyatakan Pasal 59, Pasal 64, Pasal 65 kecuali ayat (7) dan Pasal 66 kecuali ayat (2)
huruf (b) UU No. 13 tahun 2003 tidak bertentangan dengan UUD 1945. Artinya, ketentuan selain
ayat (7) pada Pasal 65 dan ayat (2) huruf (b) pada Pasal 66 tetap berlaku sebagai hukum positif.

Dengan demikian, pengusaha tetap boleh menyerahkan atau memborongkan pekerjaannya


kepada perusahaan lain sehingga sistem outsourcing tetap bisa dilaksanakan. Hal ini sesuai
dengan pertimbangan MK yang menyatakan “...penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan
kepada perusahaan lain melalui perjanjian pemborongan pekerjaan secara tertulis atau
melalui perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh (perusahaan outsourcing) adalah kebijakan
usaha yang wajar dari suatu perusahaan dalam rangka efisiensi usaha.”

b. MK tidak menyatakan sistem outsourcing sebagai sistem terlarang dalam relasi bisnis dan
hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha. Dalam posisi itu, Pasal 64 UU No 13
Tahun 2003 tetap sah sebagai dasar hukum bagi perusahaan untuk melaksanakan outsourcing
dan Pasal 65 kecuali ayat (7) dan Pasal 66 kecuali ayat (2) huruf (b) sebagai teknis hubungan
kerja dalam perusahaan outsourcing.

c. Yang tidak mengikat dalam Pasal 65 ayat (7) dan Pasal 66 ayat (2) huruf (b) UU No 13 Tahun
2003 hanya mengenai frasa ‘perjanjian kerja waktu tertentu’ sepanjang tidak mengatur syarat
jaminan pengalihan perlindungan hak pada perusahaan pemenang tender berikutnya. MK tidak
menyebutkan apa yang dimaksud dengan pengalihan perlindungan hak pekerja/buruh tetapi hal
itu dapat dipahami meliputi dua hal: (a) jaminan kelangsungan bekerja saat berakhir perjanjian
pemborongan; (b) jaminan penerimaan upah tidak lebih rendah dari perusahaan sebelumnya;

d. Pengusaha dapat menerapkan sistem outsourcing dengan status PKWT sepanjang PKWT
memuat klausul yang memberi jaminan perlindungan hak pekerja/buruh bahwa hubungan kerja
pekerja/buruh yang bersangkutan akan dilanjutkan pada perusahaan berikutnya, dalam hal
objek kerjanya tetap ada. Bila objek pekerjaan itu tetap ada sedangkan syarat pengalihan
perlindungan hak tidak diatur di dalam PKWT, hubungan kerja pekerja/buruh berupa PKWTT.
Secara teknis, syarat PKWT bisa diatur pada bagian penutup perjanjian. Pada akhirnya, klausul
itu berfungsi sebagai alat ukur untuk menilai bentuk hubungan kerja, apakah berbentuk PKWT
atau PKWTT;

e. Amar putusan MK tidak secara eksplisit menyatakan perjanjian kerja pekerja/buruh dalam
lingkungan perusahaan outsourcing harus dengan perjanjian kerja waktu tidak tertentu
(PKWTT). Di dalam pertimbangan hukumnya MK menawarkan PKWTT sebagai salah satu
model outsourcing. Sesuai uraian di atas, MK tidak mengharuskan perusahaan menerapkan
PKWTT. Status PKWTT dalam perusahaan hanya terjadi bila: (a) PKWT tidak mensyaratkan
pengalihan perlindungan hak pekerja/buruh yang objek kerjanya tetap ada; atau (b) perusahaan
sejak awal menerapkan PKWTT.

B. Pengalihan Perlindungan Hubungan Kerja


Berkaitan dengan PKWT dalam outsourcing, amar putusan MK mempertahankan dua bentuk
hubungan kerja yang salama ini dikenal dalam UU Ketenagakerjaan, yakni PKWT dan PKWTT.
Penegasan lain dari putusan MK adalah memperkenalkan sekaligus membolehkan dua macam
PKWT, yaitu PKWT bersyarat dan PKWT tidak bersyarat. Termasuk PKWT bersyarat adalah
PKWT yang mengharuskan perusahaan outsourcing mensyaratkan pengalihan perlindungan
hak-hak bagi pekerja/buruh apabila objek kerjanya tetap ada meskipun perusahaan
pemborong pekerjaan atau perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh diganti. Adapun PKWT
tanpa syarat adalah PKWT yang dilaksanakan tanpa mensyaratkan adanya pengalihan hak-hak
bagi pekerja/buruh sebagaimana disebutkan di atas.

Dalam praktik outsourcing, pekerja/buruh ada yang bekerja belasan hingga puluhan tahun pada
satu lokasi kerja walaupun perusahaan outsourcing-nya sudah berganti. Kadangkala pemilik
perusahaan-perusahaan itu sama, yang berbeda hanya nama perusahaan.

Putusan MK yang menyatakan PKWT sah bila mengatur syarat pengalihan perlindungan hak
pekerja/buruh tentu mengundang pertanyaan. Apa yang akan terjadi bila klausul PKWT yang
sedang berjalan mengharuskan perusahaanpemenang tender yang belum dikenal wajib
melanjutkan hubungan kerja para pekerja/buruh yang sedang terikat PKWT?

Sesungguhnya hal demikian tidak menimbulkan kerugian pada perusahaan yang lama. Masalah
akan mengancam perusahaan pemborong yang baru bila masa kerja pada perusahaan
sebelumnya harus diperhitungkan sebagai masa kerja pada perusahaan yang baru.

Masalah lain yang munculadalah apakah isi perjanjian kerja pekerja/buruh suatu perusahaan
mengikat pada perusahaan lain? Bagaimana bila bidang pekerjaan yang diborongkan itu
berkurang, apakah perusahaan baru selaku pemenang tender boleh mengurangi jumlah
pekerja/buruh yang dibutuhkannya?

Kalau menghendaki kepastian atas kondisi seperti itu, dibutuhkan kesepakatan semua pihak.
Yaitu pekerja outsourcing, perusahaan outsourcing, perusahaan yang memborongkan pekerjaan,
dan perusahaan outsourcing baru yang memenangkan tender. Kesepakatan itu dituangkan
dalam perjanjian kerja.

Selama hukum positif tidak mengatur seperti itu, sulit melaksanakan cara ini. Karena itu,
perusahaan yang memborongkan pekerjaan lebih efektif melakukan intervensi dengan cara
menentukan jumlah dan gaji pekerja/buruh yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan yang
diborongkan disertai pengawasan yang prima. Metode ini bisa mencegah tindakan manipulasi
upah oleh perusahaan pemborong atau penyedia pekerja/buruh.

Dari segi hukum dan sumber keuangan, sulit mewajibkan perusahaan pemborong atau penyedia
pekerja/buruh memperhitungkan atau melimpahkan masa kerja pekerja/buruh ke perusahaan
pemborong berikutnya. Bila masa kerja pada semua perusahaan pemborong diperhitungkan
sebagai masa kerja pada perusahaan berikutnya, misalnya si Polan bekerja di PT. Samudra
selama 3 tahun, kemudian PT. Samudra diganti oleh PT. Alaska, selanjutnya, si Polan yang baru
bekerja 1 tahun pada PT. Alaska mengalami PHK, tidak logis menghukum PT. Alaska membayar
uang pesangon untuk masa kerja 4 tahun kepada si Polan.

Masalahnya, siapa yang akan membayar uang pesangon itu, apakah PT. Alaska atau perusahaan
yang memborongkan pekerjaan itu? Putusan MK tidak tegas mendorong ke arah itu. Tetapi, di
sisi lain, putusan MK itu bisa diterjemahkan ke sana. Bila masa kerja si Polan pada PT. Samudra
diperhitungkan untuk mendapat kompensasi PHK maka tidak tepat membebankan keuangan
PT. Alaska untuk membayar masa kerja pada perusahaan lain.

Beberapa tahun lalu, di sektor migas berlaku kebijakan, saat berakhir PKWT perusahaan
pemborong pekerjaan atau penyedia jasa pekerja/buruh memberi kompensasi pengakhiran
kontrak kerja sebesar satu bulan gaji kepada pekerja/buruh. Pembayaran itu mirip dengan uang
pesangon. Yayasan Dana Tabungan Pensiun (YDTP) bertindak sebagai pelaksana kebijakan itu.
Oleh karena outsourcing dan PKWT masih menjadi sistem kerja yang sah dalam hukum
ketenagakerjaan, maka untuk mengurangi dampak buruk dari PKWT pemerintah perlu membuat
regulasi dengan mewajibkan perusahaan memberi kompesasi pengakhiran PKWT kepada
pekerja/buruh outsourcing.

C. Norma Baru dan Tindak Lanjut Putusan MK


Dalam praktik, hasil uji materi UU terhadap UUD 1945, MK tidak hanya menyatakan isi UU
bertentangan dengan UUD 1945. Beberapa putusan MK menegaskan penafsiran atas ketentuan
serta memberi norma baru. Terkait permohonan uji materi di atas, MK memberi norma baru
sebagaimana terurai pada butir 3 (tiga) amar putusan.

Bila membaca secara cermat amar dan pertimbangan putusan MK No. 27/PUU-IX/2011,
tampaknya pertimbangan lebih lugas dan tegas daripada amar putusan. Untuk memahami
maksud dari amar putusan itu, pembaca dituntut melakukan penafsiran.

Dalam sistem peradilan, bagian putusan yang bisa dieksekusi adalah amar putusan. Hal-hal yang
dikemukakan di dalam pertimbangan bila tidak diuraikan secara tegas di dalam amar putusan,
maka uraian pertimbangan itu bukan bagian yang dapat dieksekusi. Karena itu, amar putusan
pengadilan harus final dan terbebas dari tafsir. Segala sesuatu terkait dengan penafsiran
diuraikan di dalam pertimbangan hukum. Berikut ini salah satu pertimbangan putusan MK yang
tegas tetapi tidak disebut secara eksplisit di dalam amar.

“Dengan menerapkan pengalihan perlindungan....Masa kerja yang telah dilalui para pekerja
outsourcing tersebut tetap dianggap ada dan diperhitungkan, sehingga pekerja outsourcing
dapat menikmati hak-hak sebagai pekerja secara layak dan proporsional.”

Dalam kaitan dengan amar putusan MK di atas, Kemenakertrans dalam Surat Edaran No.
B.31/PHIJSK/I/2012 menafsirkan amar putusan MK itu sebagai berikut :
a. Apabila dalam perjanjian kerja antara perusahaan penerima pemborongan pekerjaan atau
perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh dengan pekerja/buruhnya tidak memuat adanya
pengalihan perlindungan hak-hak bagi pekerja/buruh yang objek kerjanya tetap ada (sama),
kepada perusahaan penerima pemborongan pekerjaan lain atau perusahaan penyedia jasa
pekerja/buruh lain, maka hubungan kerja antara perusahaan penerima pekerjaan borongan atau
perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh dengan pekerja/buruh harus didasarkan pada
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWTT).
b. Apabila dalam perjanjian kerja antara perusahaan penerima pemborongan pekerjaan atau
perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh dengan pekerja/buruhnya memuat syarat adanya
pengalihan perlindungan hak-hak bagi pekerja/buruh yang objek kerjanya tetap ada (sama),
kepada perusahaan penerima pemborongan pekerjaan atau perusahaan penyedia jasa
pekerja/buruh lain, maka hubungan kerja antara perusahaan penerima pekerjaan borongan atau
perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh dengan pekerja/buruhnya dapat didasarkan pada
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.

Meskipun MK memberi norma baru bagi kepentingan perlindungan pekerja/buruh outsourcing,


MK tidak menjelaskan kapan putusan No. 27/PUU-IX2011 mulai berlaku. Maka, tidak salah
menyatakan putusan itu mengikat sejak diucapkan. Artinya, putusan MK tersebut tidak berlaku
surut. Konsekuensinya, perbuatan hukum perihal PKWT dalam outsourcing yang sudah dibuat
sebelum putusan MK dibacakan tidak bisa dikualifikasi tidak sah atau batal berdasarkan putusan
MK.

Bila putusan MK dinyatakan berlaku surut akan menimbulkan keresahan terutama di kalangan
pengusaha sebab PKWT yang sedang berjalan berkorelasi dengan nilai tender kerja. Karena itu,
putusan MK tersebut dapat diterapkan untuk perjanjian kerja outsourcing yang dibuat setelah
putusan MK dibacakan.

Eksekutif dan legislatif sebagai pembentuk undang-undang seharusnya memiliki beban moral
untuk segera merespon putusan MK yang memberikan norma baru atas suatu undang-undang.

Pemberian norma baru oleh MK berkaitan dengan pengujian UU Ketenagakerjaan, bukan kali ini
saja dilakukan. Dalam putusan No. 115/PUU-VII/2009, MK memberi norma baru terkait dengan
keterwakilan serikat pekerja/serikat buruh dalam perundingan perjanjian kerja bersama (PKB)
di dalam perusahaan. Norma dalam putusan itu sama krusialnya dengan norma dalam putusan
No. 27/PUU-IX/2011 ini.

Untuk memberi kepastian hukum, kini, saat yang tepat bagi pemerintah dan DPR membahas
perubahan UU Ketenagakerjaan. Sejatinya, DPR dan pemerintah bisa memanfaatkan momen ini
untuk mengadopsi keseluruhan norma yang terdapat dalam beberapa putusan MK menjadi
hukum positif.

Tindaklanjut seperti ini paralel dengan Pasal 10 ayat (1) huruf (d) UU No 12 tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Ketentuan itu mengamanatkan bahwa salah satu
materi muatan undang-undang adalah tindak lanjut dari putusan MK. Artinya, implementasi
putusan MK hanya dapat dimuat di dalam undang-undang. Pemerintah tidak boleh mengatur
tindaklanjut putusan MK ke dalam peraturan pemerintah (PP), peraturan menteri (Permen)
maupun surat edaran (SE).

Oleh karena itu, tindakan Kemenakertrans yang telah mengadopsi isi putusan MK No. 115/PUU-
VII/2009 ke dalam Peraturan Menakertrans No. 16/Men/XI/2011 dan penerbitan Surat Edaran
No. B.31/PHIJSK/I/2012untukmenindaklanjuti putusan MK Nomor 27/PUU-IX/2011adalah
tidak selaras dan bertentangan dengan UU No 12 tahun 2011.

Selain itu, isi butir ketiga SE yang berbentuk seperti peraturan yang mengatur (regeling) juga
menjadi masalah sendiri. Karena pada dasarnya surat edaran tidak termasuk bagian dari hirarki
perundang-undangan.
Bagir Manan dan Kuntana Magnar menjelaskan, SE tidak mengikat secara hukum
(wetmatigheid) sehingga kedudukannya sering disebut bukan hukum (Bagir Manan & Kuntana
Magnar, 1997 : 172). Dalam bukunya ‘Perihal Undang-Undang’ -Jimly Asshiddiqie menjabarkan,
surat edaran sebagai aturan kebijaksanaan (policy rules atau beleidsregels). Surat edaran, Jimly
menegaskan, bukan peraturan perundang-undangan (Jimly Asshiddiqie, 2010 : 273). Dengan
demikian, tindaklanjut putusan MK ke dalam SE tidak relevan sebagai kepatuhan eksekutif
melaksanakan putusan MK. Mengingat objek yang diputus oleh MK adalah UU, pemerintah dan
DPR harus membuat sikap bersama sebab putusan MK berimplikasi pada produk politik kedua
lembaga.

Barangkali ini yang menjadi masalah dalam penyusunan perundang-undangan khususnya yang
berkaitan dengan tindak lanjut atas putusan MK. Membentuk UU memerlukan proses yang tidak
singkat karena harus melalui tahapan Prolegnas. Namun, Presiden dan DPR karena alasan
tertentu sebagaimana diuraikan di dalam Pasal 23 ayat (2) UU No. 12 tahun 2012 berhak
mengajukan RUU di luar Prolegnas.

Untuk menyempurnakan hukum positif, saat ini cukup alasan pemerintah dan DPR melakukan
perubahan atas UU Ketenagakerjaan. Menurut penulis, pendapat hukum yang terdapat dalam
beberapa putusan MK terkait UU Ketenagakerjaan perlu segera dijabarkan ke dalam undang-
undang sehingga implementasi putusan lebih optimal. Karena itu, perubahan UU
ketenagakerjaan merupakan kebutuhan mendesak untuk memperketat aturan main outsourcing
sehingga praktik outsourcing berjalan lebih baik

Sumber : http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4f4b372fe9227/legalitas-ioutsourcing-i-
pasca-putusan-mkbr-oleh--juanda-pangaribuan

MAN AND WOMEN ALL EQUAL

Kesetaraan Wanita dan Laki-Laki


24 Mei 2012
tags: ceramah audio, Kesetaraan Wanita dan Laki-Laki, khutbah jum'at, ma'shiyat

Heboh akhir-akhir ini sesuai dengan yang dipublikasikan dan dipropagandakan oleh orang-
orang kaafir dari kalangan Yahudi tentang bahwa “Wanita Setara dengan Laki-Laki”
dalam berbagai jenis. Tidak sedikit dengan propaganda usaha gigih Yahudi diatas, kaum
Muslimin yang tidak atau kurang terpelajar, bahkan juga dari kalangan orang-orang yang
berpuluh-puluh tahun menikmati bangku sekolah dan akademi; mereka ikut terpengaruhi dan
tercemar ‘aqiidah mereka dengan propaganda tersebut. Bahkan mereka menjadi corong
terhadap propaganda ini dan berbalik membahayakan kaum Muslimin.

Sesungguhnya Islam satu-satunya pedoman Illahi yang telah dengan proporsional


memposisikan peran dan tanggung jawab wanita dan laki-laki sesuai dengan apa yang Sang
Pencipta desain dan rancang, sebelum manusia itu sendiri ada dan tercipta.
Laki-laki dan wanita itu pasti beda. Betapapun hal itu tidak patut difahami sebagai suatu
pendiskriminasi-an terhadap kaum Hawa, karena balasan Allooh ‫ سبحانه وتعالى‬bagi mereka
baik di dunia maupun di akherat adalah sama, bahkan bisa jadi jika wanita itu lebih bertaqwa
dari laki-laki maka wanita itu telah mendapatkan status lebih mulia dalam pandangan Allooh
‫سبحانه وتعالى‬, dibanding dengan orang-orang yang ma’shiyat dan melanggar ketetapan Syari’at
Allooh ‫سبحانه وتعالى‬, apalagi menentangnya.

Sesungguhnya sejak awal, perbedaan penciptaan wanita dan laki-laki adalah dalam peran dan
tanggung jawab serta medan yang sudah sedemikian serasi untuk berbeda antara laki-laki dan
perempuan. Jika ketetapan ini dilanggar, maka petaka akan Allooh ‫ سبحانه وتعالى‬selimutkan
kepada para pembangkangnya.

Simaklah audio Khutbah Jum’at yang satu ini.

Sumber : http://ustadzrofii.wordpress.com/2012/05/24/kesetaraan-wanita-dan-laki-laki/

Wanita itu Mulia, Sehingga Tidak Perlu


Disetarakan Dengan Pria
OPINI | 26 April 2012 | 16:02 Dibaca: 235 Komentar: 11 2 aktual

Prokontra tentang RUU Keadilan dan Kesamaan Gender terus kian bergulir. Pernyataan pro
terus terdengar, yang kontrapun terus mengalir. Isu gender sering menjadi isu hangat dan
menarik untuk dibicarakan. Tidak hanya seksi, tetapi sering kali isu-isu itu dikait-kaitkan
dengan tindakan kejahatan dan kekerasan baik di luar atau di dalam ranah rumah tangga.

Bagi sebagian orang, isu “gender” menjadi indah dibicarakan karena memang laris untuk
dijual. Para penggiat emansipasi dan hak asasi biasanya lebih antusias membicarakannya,
tidak hanya karena kebanyakan penggiatnya adalah kaum wanita yang sering berkaca kepada
liberalisme yang menganggap bahwa hidup itu harus bebas dan merdeka. Apalagi sering pula
kita dengar dan saksikan berita-berita kejahatan yang menyinggung kaum wanita.

Munculnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) itu
dilihat berbeda oleh sebagian kalangan dalam masyarakat. Kita semuanya mafhum, tidak
sedikit isu itu dihembuskan oleh para penggiat hak asasi, kesetaraan gender atau kasus-kasus
kejahatan terhadap kaum wanita yang dianggap sebagai hal yang umum. Pihak yang sering
lantang menyuarakannya adalah mereka yang bergerak di balik isu-isu pluralisme dan
liberalisme.

Pluralisme adalah paham yang memandang bahwa hidup itu penuh keragaman. Sebetulnya
definisi itu sangat kabur dan tidak jelas. Karena sering terdengar para penggiat pluralisme itu
tidak pernah memberi definisi yang jelas dan definitif. Sehingga terkesan implementasi
pluralisme itu sulit untuk dipahami dan bias. Sebagai derivasi dari makna itu, maka
muncullah pluralisme sosial, pluralisme agama, dan pluralisme ilmu pengetahuan. Dan setiap
kelompok juga memiliki cara pandang yang berbeda.

Pun liberalisme lebih sering dipandang sebagai paham yang memandang bahwa hidup itu
bebas tanpa batasan. Dalam Wikipedia, Liberalisme atau Liberal dimaknai sebagai sebuah
ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa
kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.

Dengan meminjam pada persamaan hak inilah definisinya sering dikaburkan dan dibenturkan
dengan kenyataan di lapangan pada kasus per kasus. Kasus-kasus yang menimpa beberapa
kaum wanita sering menjadi alasan bagi penggiat hak asasi sebagai generalisasi bahwa wanita
itu diposisikan tidak sepantasnya dan menjadi lebih rendah dari kaum pria. Logika
generalisasi ini sering menjadi tameng untuk menganggap bahwa gender itu harus
disetarakan.

Di sinilah para “pluralist” itu keliru dalam melihat masalah. Terminologi kesetaraan gender
yang hingga saat ini tidak jelas itu terus dikembangkan dan diperjuangkan. Padahal kata
setara itu diadopsi dari kata bahasa Inggris “equal”: “the same in amount, number or size”:
sama jumlah dan ukuran, sehingga munculah “gender equality” itu. Dalam kamus itu juga
disebutkan equality sebagai wujud kesamaan hak.

Apabila kaum prularist itu konsisten, bahwa kehidupan ini memang banyak ragam, mestinya
memahami juga bahwa gender itu mamang beda dan tidak perlu di sama-samakan.

Kata gender, dalam Cambridge Learner Dictionary dimaknai dengan “the state of being
male and female”. Sehingga tentunya lelaki dan perempuan itu yang tidak perlu disama-
samakan secara fisik maupun psikis. Dalam konteks lain, bahkan kesetaraan hak telah
diberikan oleh Tuhan/ Allah. Tuhan sudah menentukan nilai yang tiada tara kepada
keduanya. Hak-hak hidup dan ibadahnya juga telah diatur oleh Tuhan dengan aturan-aturan
yang telah ditentukan.

Dalam ranah keluarga, suami dan istri memiliki peran masing-masing. Dalam beberapa hal
ada bidang-bidang pekerjaan yang dapat dilakukan oleh keduanya, sendiri-sendiri atau
bersamaan. Namun ada bagian-bagian lain yang peran itu tidak dapat disetarakan atau
disamakan. Tugas mencari nafkah kehidupan keluarga tetap terletak ditangan suami, sebagai
kepala rumah tangga. Dan bila wanita melakukan hal yang sama, itu bukan sebuah kewajiban
sepanjang suaminya masih mampu.

Penulis juga belum menemukan literatur yang mengatakan bahwa tugas kepala keluarga
diserahkan kepada sang istri sepanjang suami masih ada. Apalagi tugas-tugas kodrati,
misalnya tugas melahirkan masih tetap pada kaum wanita, dan kaum lelaki tidak hamil. Dari
bentuk fisik, kecenderungan linguistik, psikologis pun juga tidak bisa disetarakan.

Dari aspek bahasa, D. Jones (1980) menyatakan bahwa secara sintaksis, morfologi dan
pelafalan wanita dan lelaki sangat berbeda. Lebih lanjut, dalam bukunya Living Language,
George Keith dan John Shuttlewoth merekam ragam perbedaan antara wanita dan pria itu
secara detail. Kaum pria misalnya lebih banyak sumpah, tidak suka membicarakan sesuatu
atas dasar emosi, lebih suka bicara olah raga, kecenderungan bicara tentang wanita dan mesin
tidak ada bedanya, sering mendominasi konversasi, berbicara dengan otoritas lebih, sering
meninterupsi. Sedangkan wanita lebih banyak bicara dari pada pria, lebih sopan, peragu,
sering banyak bertanya, saling mendukung dan lebih kooperatif. Bahkan Robin Lakof hingga
memberikan gambaran ekspresi-ekspresi yang sering digunakan oleh keduanya dalam
berbicara.

Dalam kehidupan sosial dan politik kita juga telah melihat peran wanita. Bila yang dimaksud
adalah kesetaraan hak, di Indonesia telah banyak contoh hal itu. Pada jaman kerajaan banyak
muncul pemimpin-pemimpin wanita, pada masa-masa perjuangan juga telah muncul puluhan
dan mungkin ratusan pejuang wanita, pun Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden
wanita. Gubernur dan bupati/ wali kota wanita juga telah membuktikan bahwa mereka adalah
makhluk mulia yang tetap tidak bisa meletakkan fungsi ibu dari putra-putrinya dan istri dari
suaminya. Bahkan Dr. Adian Husaini dalam artikelnya di Republika (25/4/12) mensitir
pembicaraan suami istri yang keduanya sudah profesor. Istri bilang “Pak, saya mau istirahat
bekerja sudah lelah”. Sang Profesor suami menjawab “Itulah enaknya kamu, bisa mengatakan
itu. Tetapi seorang suami tidak boleh mengatakan itu”

Sekali lagi wanita dan pria itu memang berbeda, sehingga menurut hemat penulis upaya
penyetaraan itu ibarat menyamakan antara matahari dan rembulan yang memang tak akan
pernah setara. Tetapi matahari dan rembulan itu dua benda ciptaan Tuhan yang sangat
berguna dalam kehidupan ini. Cukup bagaimana memberdayakannya sesuai dengan perannya
masing-masing, itu yang lebih penting.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/26/wanita-itu-mulia-sehingga-tidak-perlu-
disetarakan-dengan-pria/

Kesetaraan Gender, FemiMan dan


GentleWomen
by KampusCrew19 April 2012What's onTags: emansipasi, feminisme, hari kartiniNo Comment

Ibu kita Kartini


Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
Cuplikan lagu itu sudah sangat familiar bagi saya dan mungkin teman-teman yang sedang
membaca postingan ini. Biasanya lagu ini kembali booming setiap tahun, tepatnya setiap
tanggal 21 april.

Sudah siap menyambut hari kartini di 2012 ini? Sedikit pendapat dari kacamata saya jika
dilihat dari cerita sejarah yang diceritakan di Wikipedia, Raden Adjeng Kartini (lahir di
Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September
1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah
seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor
kebangkitan perempuan pribumi. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan
priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati
Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A.
Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di
Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana
VI.

Yang menarik dari seorang kartini adalah, dari pemikiran-pemikirannya tentang sebuah
perubahan untuk bangsa pribumi, khususnya kaum perempuan. . Sebagian pemikiran berisi
keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai
penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan
belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-
onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas
dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan
Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta
tanah air). Pemikiran-pemikiran kartini itu melahirkan suatu gerakan yang sudah kita kenal
yang disebut emansipasi wanita.

EMANSIPASI

Apa emansipasi itu?

Saya jamin bahwa kita bisa menjelaskan tentang definisinya, namun saya lebih menjamin lagi
kalau kita tidak bisa menjelaskan batasan-batasan dari emansipasi itu. Kalau dilihat di
Wikipedia, emansipasi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha
untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak
diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu.
Dan mengacu pada definisi kita sebelumnya, pasti kita juga akan berpendapat tidak jauh dari
yang namanya kesetaraan gender.

Emansipasi memang terkait dengan kesetaraan gender, dan menurut saya banyak yang salah
kaprah tentang emansipasi itu. IMHO, emansipasi bukanlah kesetaraan gender. Asumsi
saya,apakah memang bisa gender disetarakan? sudah secara fisik gender berbeda dan tidak
bisa disamakan, apa masih bisa gender itu disetarakan? Ya gender bukan hanya terkait
kelamin fisik, tapi memang lebih dari itu. Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat
ini, tapi saya punya alasan tersendiri,kenapa gender tidak bisa disetarakan. Jika perempuan
ingin disetarakan dengan laki-laki,mari kita coba jawab pertanyaan dan analogi iseng dari
saya yang berkaitan dengan emansipasi.

 apakah perempuan bisa disetarakan dengan laki-laki? Jika memang bisa,laki-laki juga bisa
dong disetarakan dengan perempuan. Kalau begitu apakah jika laki-laki bersikap seperti
perempuan itu wajar?

Pasti asumsi kita sama,bahwa cowok yang bersikap seperti itu adalah
banci. Dan faktanya, banyak stigma negative tentang cowok-cowok
banci ini karena masyarakat mengaggap bahwa itu diluar kodrat
mereka sebagai laki-laki. Contoh sederhana,diluar cowok yang
bersikap seperti perempuan,tapi bisa dibilang banci adalah , jika
didalam bis, cowok membiarkan ibu-ibu untuk berdiri,sedangkan dia
tidak memberikan kursinya dan dengan santainya duduk atau pura-
pura tidak tahu., itu termasuk banci.
 Bagaimana dengan pertanyaan jika perempuan melahirkan, apakah laki-laki juga bisa
melahirkan?

Jawaban saya,tidak bisa karena ada kodrat yang mengatur hak dan
kewajiban perempuan dan laki-laki. Sudah kodratnya perempuan
yang melahirkan, dan laki-laki yang bertanggung jawab memenuhi
nafkah, dan saya rasa kedudukan seperti itu tidak bisa disetarakan.
Pernyataan ini bukan menunjukkan kalau perempuan tidak boleh
bekerja. Tidak ada hukum yang melarang untuk perempuan bekerja,
tapi kembalilah kepada kodrat kaum perempuan.
 Satu lagi pertanyaan yang silahkan dijawab, lebih baik mana cowok menembak cewek, atau
cewek menembak cowok?

Jawaban yang relevan menurut saya adalah sudah kodratnya,laki- laki


yang mendekat dan wanita menunggu. Gak ada istilah FEMIMAN dan
GENTLEWOMEN. Allah menciptakan kita dengan keharusan
bersikap sesuai dengan kodratnya. Walaupun baik cowok atau cewek
punya hak memilih dan dipilih,menolak dan ditolak. Tapi sudah
seharusnya Adam yang mendatangi hawa dan hawa menunggu atau
hanya memberi sinyal kepada adam.
Mengutip dari teman saya, Luthfia, di Jurusan Sistem Informasi, seorang aktivis perempuan
dikampus dalam blognya mengatakan pendapatnya tentang feminismie dan emansipasi
Feminisme adalah suatu keterbukaan dan pandangan kaum wanita
dalam menyuarakan aspirasi mereka. Serupa namun tak sama. Kaum
perempuan ingin terlibat aktif dalam organisasi dan diakui oleh
publik akan keberadaannya. Saya tidak ingin berbicara mensejajarkan
dengan kaum Adam. Emansipasi bukan berarti sama persis dengan
kaum adam. Berbicara tentang apapun, antara kaum perempuan dan
lelaki tidak akan bisa disamakan. Saya adalah penganut feminisme
‘ala saya’. Feminisme yang bebas, bertanggung jawab, dan tetap pada
kodratnya
Inilah sebenarnya emansipasi itu harus didefinisikan dan dilakukan. Bukan suatu kebebasan
untuk melakukan apa saja, namun melupakan kewajiban sebagai seorang perempuan yang
bertanggung jawab kepada keluarganya, istri yang mengabdi pada suaminya dan ibu yang
berkewajiban mendidik anak-anaknya. Dan terakhir, jika ada yang bertanya seperti apa
kartini itu? silahkan lihat ibu kita. Beliau lah kartini bagi anak-anaknya.

Sumber : http://www.kampusnews.com/2012/04/19/kesetaraan-gender-femiman-dan-
gentlewomen/