Anda di halaman 1dari 131

[2016]

MODUL KULIAH ILMU SOSIAL


BUDAYA KESEHATAN
Visi
Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya

“Menjadi Program Studi Ilmu Keperawatan yang memiliki keunggulan bidang


perawatan paliatif pada tahun 2022”.

Misi
Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya

1. Menyelenggarakan pendidikan yang unggul dan berkualitas dalam bidang


perawatan paliatif.
2. Mengembangkan penelitian keperawatan untuk mendukung
pengembangan perawatan paliatif
3. Mendharmabaktikan keahlian bidang keperawatan untuk mendukung
peningkatan kualitas kesehatan masyarakat
4. Menyelenggarakan sistem manajemen yang berorientasi pada mutu
Sri Maryatun, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp. Kep. Jiwa

 Ilmu Sosial Budaya Dasar

 Promosi Kesehatan

 Stigma Gangguan Jiwa


ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

LATAR BELAKANG

a. Kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan

keanekaragaman budaya.

b. Proses pembangunan yang terus menerus akan menin bulkan dampak yang positif dan

negatif berupa pergeseran nilai budaya yang memungkinkan timbulnya konflik dalam

kehidupan.

c. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi meninmbulkan perubahan kondisi kehidupan

manusia, kemajuan merupakan akibat sifat ambivalen positif/negatif

LINGKUP ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

Ilmu budaya dasar identik dengan Basic Humanities Humanities berasal dari kata latin

Human yang berarti manusiawi, yang berbudaya dan berbudi halus ( refined) diharap seseorang

mempelajari Basic Humanities tidaklah sama dengan the humanities ( pengetahuan budaya )

yang menyangkut keahlian filsafat dan seni : seni pahat, seni tari dll

Melainkan teori budaya yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah

kebudayaan :( norma , adat, saling menghormati, saling menghargai, intuisi, sikap ) dll.

Ilmu Sosial Dasar : adalah Sebagai organisasi pengetahuan tentang pokok masalah sosial ,

tidak merupakan penggabungan beberapa ilmu sosial ( Siswanto 1988 )

Fakta sosial merupakan abstraksi kejadian sosial yang konkrit yang dinyatakan dengan

pernyataan diskriptif ( Koentjoronigrat 1971)


SASARAN PERHATIAN

1. Berbagai kenyataan secara bersama-sama merupakan masalah sosial

2. Adanya keanekaragaman golongan- golongan dan kesatuan sosial lain didalam

masyarakat yang masing-masing mempunyai kepentingan dan kebutuhan serta pola pikir

dan tingkah laku sendiri-sendiri yang berbeda sehingga menyebabkan pertentangan ( M.

Moenandar Soelaiman 1987 )

POKOK BAHASAN

Menurut Sudjatmiko ( 1984 : 35 ) Pokok bahasan materi dapat dirumuskan menurut

kepentingan pengamatannya dan masalah yang dialaminya mulai lahir sampai mati. Rumusan

tersebut dirinci oleh Tim Ilmu Budaya Dasar menjadi 8 topik bahasan ( 19880 ) a.l

1. Manusia dan cinta kasih,

 cinta antara pria dan wanita ( seks )

 Kekeluargaan

 Persaudaraan

2. Manusia dan keindahan

 Kontemplasi

 Eksistensi

3. Manusia dan penderitaan

 Nasib buruk

 Penyesalan

 Kehilangan yang dicintai


4. Manusia dan keadilan

 Rasa keadilan

 Perlakuan yang tidak adil

5. Manusia dan pandangan hidup

 Cita-cita

 Kebajikan

6. Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian

 Kesadaran

 Pengorbanan

 Kewajiban

7. Manusia dan kegelisahan

 Keterasingan

 Kesepian

 Ketidakpastian

8. Manusia dan harapan

 Kepercayaan diri

 Gairah mengatasi kesulitan

Selain topik-topik tersebut dapat pula dikelompokan secara berbeda diubah formulasinya

sesuai dengan pandangan seseorang terhadap hidupnya : misalnya

1. seks 4. keadilan 7.keyakinan

2. kegelisahan 5. pengabdian 8. maut

3. derita 6. kasih sayang


MASALAH PADA SOSIAL BUDAYA DASAR

Masalah budaya adalah segala sistem atau tata nilai atau sikap mental, pola pikir, pola tingkah

laku dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak memuaskan bagi masyarakat secara

keseluruhan, atau dapat dikatakan bahwa masalah budaya adalah tata nilai yang dapat

menimbulkan krisis-krisis kemasayrakatan yang akan menyebabkan “ dehumanisasi “ atau

terjadi pengurungan terhadap seseorang.

Masalah tersebut mencakup :

1. Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan

dan budaya

2. Hakekat manusia Universal : akan tetapi perwujudannya beraneka ragam, ada persamaan

tapi ada pula perbedaan, ada kelemahan akan tetapi ada keunggulan yang diungkapkan

secara tidak seragam. Sebagaimana yang terlihat ekspresinya dalam berbagai bentuk

corak ungkapan pikiran dan perasaan tiingkah laku al :

 Masyarakat masih cenderung minta pertolongan ke dukun bayi karena dukun

dianggap masih kharismatik, lebih diterima sebagai anggota keluarga, imbalan

jasa diltakan padsa nilai gotong royong/ kekeluargaan dan biasanya lebih murah

 Faktor yang lain lokasi Puskesmas yang lebih jauh dari temapat tinggal

masyarakat

KEBUDAYAAN

Kebudayaan atau yang disebut peradapan ; adalah pemahaman yang meliputi :

pengetahuan, kepercayaan , seni, moral, hukum, adat istiadat yang diperoleh dari anggota

masyarakat ( Taylor 1997 ).


Pendapat umum sesuatu yang baik dan berharga dalam kehidupan masyarakat. ( Bakker

1984 ).

Pola tingkah laku mantap : pikiran, perasaan, dan reaksi yang diperoleh dan terutama

diwujudkan oleh simbul-simbul pada pencapaian tersendiri dari kelompok manusia yang bersifat

universal ( Kroeber & klukhon 1950 ).

Tujuan :

1. Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkup budaya, sehingga

mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru terutama untuk

kepentingan profesinya.

2. Memberi kesempatan mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan tentang masalah

kemanusiaan serta mengembangkan daya kritis terhadap persoaslan.

3. Mengusahakan agar para mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dan ahli disiplin

ilmu masing-,asing tidak jatuh dalam sifat kedaerahan

4. Menjembatani para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain secara

lancer

KONSEP KEBUDAYAAN

Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta budayah atau bodhi yang berarti budi akal

atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal. Budaya dapat dipisahkan sebagai kata majemuk

Budi & Daya yang berupa : cipta , rasa, karsa, karya ( Kuncoroningrat 1980 ).

Dimensi wujud kebudayaan

a. Dimensi gagasan , konsep, pikiran manusia,nilai dan norma peraturan. Wujud ini disebut

“ sistem budaya “ sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat berpusat pada kepala.
b. Dimensi aktifitas : disebut sistem sosial ; berupa aktifitas manusia yang saling

berinteraksi, sifat konkrit dapat diamati atau diobsevasi

c. Wujud sebagai benda ( sistem konkrit ) hasil daya cipta manusia yang berwujud benda.

KERANGKA KEBUDAYAAN

1. Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan

& budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya ( the

humanistik ) dari berbagai disiplin ilmu.

2. Hakekat manusia sebagai kesatuan atau universal akan membentuk beraneka ragam

kebudayaan yang masing-masing sesuai dengan masa dan zamannya

Kedua masalah pokok tersebut memerlukan penjabaran lebih lanjut dengan beberapa

unsur: al.

SISTEM NILAI

Pengertian :

1. Gambaran mengenai apa yang diinginkan yang pantas, atau berharga yang

mempengaruhi pola perilaku sosial dari yang memiliki nilai dimaksud ( Drs, Robert . M )

2. Konsep-konsep yang hidup yang muncul dari alam pikiran sebagain masyarakat

mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai daam hidup ( Kuncoro

Ningrat )

3. Suatu kesadaran plus emosi yang relatif lama hilangnya terhadap suatu obyek atau

gagasan seseoarang. Nilai hidup juga seringdisebut pandangan atau orientasi hidup yang

tercermin pada tingkah laku seseorang ( Para Sosiolog )


Kesadaran itu tersusun sebagai berikut :

Susunan nilai hidup itu berubah dari waktu kewaktu dan dari tempat. Nilai hidup

seseorang ada yang berdasarkan angan-angan atau idealisme namun juga ada yang rasional dan

praktis. Nilai hidup rasional : misalkan upaya demokrasi dalam pengambilan keputusan.

Sedangkan praktis atau rasional adalah upay yang ditempuh secara pintas tapi bisa

mengakomodasi berbagai kepentingan atau dan disetujui berbagai pihak.

Nilai semacam ini membentuk landasan bagi hati nurani dapat mengakibatkan timbulnya

perasaan malu atau bersalah yang yang sulit untuk dihilangkan.

Nilai – nilai yang tercernakan sering kali berfungsi untuk menutupi perasaan hati seseoarng

untuk mengahadapi konflik.

Contoh : Orang tua menyuruh anaknya untuk betindak pasif dalam suatu perkelehaian di

wilayahnya agar tidak terjadi konflik yang meluas. Walaupun perasaan orang tua yang

sebenarnya juga tidak terima alias mendongkol

1. Nilai Dominan

Adakah kegiatan yang dilakukan yang harus ditempuh dalam menentukan pilihan-pilihan

pada kegiatan sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan pokok sehingga harus dilakukan. Nilai

dominan ini dianggap sebagai menjadi lebih pokok dan sebagai nilai ayng lebih baik.

Pada hakekatnya nilai- nilai dominan ini berfungsi sebagai suatu latar belakang atau

kerangka patokan bagi tingkah laku sehari-hari.

PENGERTIAN NORMA

 Cara (usage) :

 Bentuk perbuatan antar individu


 Penyimpangan berakibat celaan

 Kebiasaan (folkways) :

 Bentuk perbuatan yang diulang dalam bentuk yang sama

 Lebih mengikat daripada ‘cara’

 Tata Kelakuan (mores)

 Kebiasaan yang dianggap cara berperilaku dan diterima sebagai norma pengatur

 Pelanggaran akan dihukum

 Adat Istiadat (customs)

 Tata kelakuan yang kekal serta kuat intgrasinya dengan pola-pola perilaku

masyarakat

 Pelanggaran akan menerima sanksi keras

1) Kebudayaan dan Unsur-unsurnya

a. Peraturan dan perlengkapan hidup manusia : ( pakaian, perumahan, transportasi) dsb

b. Mata pencaharian hidup dan sistem –sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem

produksi, distribusi) dll

c. Sistem kemasyarakatan ( system kekerabatan, orpol, sistem hukum, sistem perkawinan )

dll

d. Bahasa ( lesan maupun tertulis)

e. Kesenian ( seni rupa, seni suara, seni gerak, seni pahat ) dll

f. Sistem pengetahuan ( pengathuan alam, fisika dll )

g. Religi ( sistem kepercayaan )


2) Wujud Kebudayaan

a. Wujud kebudayaan mempunyai sifat yang abstrak : artinya tidak dapat dilihat tidak dapat

diraba, hanya bisa diyakini keberadaannya. Bertempat di alam pikiran/ di kepala.

Misal : adat istiadat setempat bersih desa

b. Wujud kebudayaan yang bersifat sosial ( sosial system) adalah merupakan tindakan

yang terpola dari manusia itu sendiri. Sistem ini merupakan kegiatan setiap hari manusia

itu sendiri ( kegiatan pasar, kegiatan perkantoran) dll

c. Wujud kegiatan fisik : adalah merupakan seluruh hasil fisik dari perbuatan manusia

dalam masyarakat, bersifat konkrit , mis bangunan , komputer, OHP dll.

3) Sistem Sosial dan Sistem Budaya

Sistem sosial dan sistem budaya merupakan sistem- sistem yang secara analissis dapat

dibedakan: Sistem sosial : sistem ini lebih banyak mengkaji pada kajian sosiologi yang

mengarah kepada konsep relasional (hubungan manusia) sebagai pengganti pengganti konsep

perilaku sosial.

a. Sistem Sosial

Sistem sosial menjadi suatu model analisis bagi terhadap organisasi sosial ( Talkot .

Peron )sebagai sistem sosial mempunyai bagian yang saling menguntungkan, saling

ketergantungan termasuk hubungan berdua kelompok kecil .

Empat hal yang harus berbeda :

- Ada dua orang atau lebih

- Terjadi interaksi diantara mereka

- Menjadi tujuan yang sama

- Memiliki struktur simbul & harapan yang sama(Person)


b. Sistem budaya ( cultural system )

Merupakan ide –ide dan gagasan manusia hidup bersama dalam suatu

masyarakat. Sistem budaya bagian dari kebudayaan dalam pola adat istiadat, sistem

norma, pranata yang ada di masyarakat. Proses budaya ini dilakukan melalui

pembudayaan ( institutionalization) pelembagaan yang dimulai dengan meniru kemudian

diinternalisasikan.

BERBAGAI KEBUDAYAAN DI INDONESIA

Pola Pikir Budaya Barat

 Pikiran cenderung menekankan dunia obyektif dari pada rasa sehingga membuahkan ilmu

dan teknologi

 Filsafat dipusatkan pada ujud dunia rasio

 Cara berpikir dalam hidup lebih terpikat oleh kemajuan, material, serta teknis & ilmiah

analisis

 Dasar kehidupan adalah : martabat manusia kebebasan & teknologi

 Manusia adalah ukuran segala-galanya manusia mempunyai kemampuan

menyempurnakan diri yang bertitik tolak rasio , intelek, pengalaman, kemampuan sebagai

ukuran dan bukan kebijakan hati. Kepuasan diperoleh lewat usaha keras sehingga

persaingan.

 Kebebasan dimulai dari sosialisasi anak dengan membiarkan membentuk dirinya

sendiri dalam mengembangkan bakat , bebas dari campur tangan orang tua dan

mengarah spesialisasi
 Teknologi merupakan kebutuhan manusia, teknologi menghasilkan dinamisme

tentang manajemen keberanian berusaha, dan penguasaan materi

POLA PIKIR BUDAYA TIMUR

Pada intinya bersumber dari agama, menyukai intuisi dari pada akal budi. Pemikir timur

lebih menekankan segi dalam jiwa, bersifat khayalan. Timur lebih disiplin mengendalikan diri,

mengedepankan keharmonisan dengan alam sebab alam memberikan makan, tempat berteduh,

Keberhasilan diperoleh dengan cara meditasi, terikat dengan mistik. Menegakan norma

bersumber dari ajaran agama. Nilai kehidupan tertinggi datang dari dalam nurani seperti nrimo

karena takdir, pepesten, pasrah.

Rumusan Kebudayaan Nasional Indonesia Menurut hasil rapat Kebudayaan Nasional

Indonesia 1936 oleh Sutan Takdir Alisabana Cs dengan Ki Hajar Dewantoro & Dr Soetomo

merumuskan sebagai berikut : Kebudayaan bangsa Indonesia adalah kebudayaan yang timbul

dari sebuah usaha budinya rakyat Indonesiasendiri dengan rumusan : BHINEKA TUNGGAL

IKA “ dan bertumpau pada kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak kebudayaan di

daerah –daerah diseluruh Indonesia yang ber idiologi PANCASILA. Puncak kebudayaan daerah

bersifat universal.

JENIS KEBUDAYAAN DI INDONESIA

a. Kebudayaan Modern

Kebudayaan modern biasanya berasal dari manca negara datang di Indonesia

merupakan budaya/ kesenian import. Budaya modern akting, penampilan, dan

kemampuan meragakan diri didasari sifat komersial. Budaya modern lebih


mengesampingkan norma , gaya menjadi idola masyarakat dan merupakan target sasaran

Contoh : film, musik jazz.

b. Kebudayaan Tradisional

Bersumber dan berkembang dari daerah setempat. Penampilan mengutamakan

norma dengan mengedepankan intuisi bahkan bersifat bimbingan. Dan petunjuk tentang

kehidupan manusia. Kebudayaan tradisional kurang mengutamakan komersial dan sering

dilandasi sifat kekeluargaan. Contoh : Ketoprak, wayang orang, keroncong, ludruk.

c. Budaya Campuran

Budaya campuran pada hakekatnya merupakan campuran budaya modern dengan

budaya tradisional yang berkembang dengan cara asimilasi ataupun defusi. Kebudayaan

campuran sudah memperhitungkan komersiel tapi masih mengindahkan norma dan adat

setempat. Contoh : Musik dangdut, orkes gambus, campur sari

PERUBAHAN KEBUDAYAAN

1. Defusi : adalah penyebaran unsur kebudayaan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain

antar individu antar keluarga ataupun golongan. Difusi ini dapat menyebar dengan cara :

 Penetration Pacifiqua : masuknya unsur kebudayaan dari masyarakat satu

kemasyarakat lain tanpa adanya paksaan : mis listrik masuk desa

 Penetration Hard : masuknya unsur kebudayaan dari masyarakat satu kemasyarakat

lain disertai kekerasan : misal model pakaian yang tidak sesuai adat setempat

2. Akulturasi : adalah diterimanya kebudayaan lain/luar kemudian diolah menjadi

kebudayaan sendiri . Mis : politik dakwah, pendidikan. Musik padang pasir menjadi musik

gambus.
3. Asimilasi : Terjadi pada kelompok masyarakat yang tidak sama kebudayaannya tapi

dapat hidup secara berdampingan dengan damai saling mendekat lambat laun menjadi sama

bahkan menjadi model kebudayaan yang baru. Kebudayaan ini dibentuk dari unsur yang

berbeda-beda oleh mobilitas penduduk Contoh : keroncong dan langgam menjadi campur

sari.

TIMBULNYA KEBUDAYAAN

Kebudayaan bisa timbul secara :

a. Discavery ; adalah penemuan sesuatu yang baru yang terjadi dengan tidak sengaja dan

secara kebetulan serta tidak direncanakan. Contoh penemuan obat kina

b. Invention : kebudayaan tercipta karena suatu rancangan/ perencanaan kebudayaan

dengan melalui suatu proses. Contoh model pakaian, komputer. OHP dll.

KONSEP MEMPELAJARI KEBUDAYAAN

1. Hindari sikap ethnocentrism (memberi penilaian tertentu kepada kebudayaan yang

dipelajar)

2. Tidak menyadari kebudayaan lain, kecuali memasuki masyarakat tersebut

3. Variasi kemudahan perubahan yang berbeda pada tiap unsur kebudayaan

4. Unsur kebudayaan saling kait mengait

5. Perubahan terjadi secara lambat v.s cepat

6. Perubahan yang pengaruhnya kecil v.s besar

7. Perubahan yang direncanakan v.s tidak direncanakan


KELOMPOK SOSIAL

1. Pengertian

Suatu kesatuan yang terdiri dari 2 (dua ) atau lebih individu yang mengadakan

interaksi yang cukup intensif dan teratur sehingga diantara individu sudah ada pembagian

tugas berdasarkan norma yang berlaku

2. Jenis-jenis kelompok

1. Kelompok primer ( Face to face Group ) terjadinya kelompok sosial yang anggota-

anggota sering berhadapan muka, saling mengenal dari dekat, dan berhubungan

secara erat.

Ciri-ciri kelompok primer :

1). Mengindahkan norma

2). Mengutamakan kelompok

3). Mengembangkan kecakapan demi kepentingan

kelompok contoh : Dalam masyarakat ( RT ), kelompok kawan sepermainan

2. Kelompok Skunder

Interaksi yang langsung berhubungan, tapi saling berjauhan walaupun bersifat

formil, kurang bersifat kekeluargaan, pasif tapi lebih bersifat obyektif. Berperan

untuk tujuan rasional. Contoh : Kelompok studi banding Kelompok lawatan olah

raga.

3. Kelompok Formal & Informal

Informal Tidak didukung peraturan secara tertulis ( AD. ART). Penbagian tugas,

peranan, Norma, tingkah laku para anggotanya tidak dirumuskan secara tegas.
Ciri Utama Kelompok :

1. Terdapatnya dorongan yang sama antar individu untuk mencapai tujuan yang

sama

2. Terdapat interaksi yang berlainan dari individu yang berbeda dengan kecakapan

yang berbeda sehingga pembagian tugas disesuaikan dengan keahlian masing-

masing anggota

3. Pembentukan dan penegasan struktur organisasi : Peranan –peranan dan

kedudukan herarki yang lambat laun berkembang dengan sendiri, struktur dalam

kelompok terdiri dari susunan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan.

4. Terjadi penegasan-penegasan, norma-norma kelompok, tingkah laku yang

diharapkan seluruh anggota kelompok

BENTUK –BENTUK KELOMPOK

1. Crowd ( Kumpulan Orang Banyak) Merupakan kesatuan kemasyarakatan ketika ada

suatu pengumuman atau adanya kumpulan individu pada suatu tempat tertentu.

Ciri-ciri :

 Terdapatnya orang banyak terjadi karena adanya suatu pengumuman, pada suatu

tempat tertentu

 Ada interaksi, biasanya berupa komentar-komentar

 Merupakan kesatuan dengan kepentingan dalam waktu singkat

2. Golongan

Terjadi karena suatu ciri yang dapat ditentukan ada pada sejumlah masyarakat secara

obyektif. Penggolongan itun biasanya untuk keperluan tertentu


Misalnya : Golongan Balita, golongan wanita, golongan pria

3. Kolektif

- Terjadi karena sejumlah warga dari suatu masyarakat tampak sebagai kesatuan

masyarakat berdasarkan suatu komplek ciri-ciri yang mencolok

- Terjadi adanya kebudayaan dengan adat istiadat serta sistem norma dan kadang-

kadng dengan bahasa khusus dalam mengatur suatu kehidupan

- Warga kolektif mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan kemasyarakatan

karena ciri –ciri yang mencolok dari kesatuan kebudayaan tadicontoh : Warga Negro,

Indian, orang islam di Amerika.

BENTUK LAIN DARI KELOMPOK

1. Kelompok

Merupakan sekumpulan kelompok yang berinteraksi antar anggotanya

mempunyai adat istiadat tertentu , norma-norma secara berkesinambungan. Rasa identitas

yang sama serta mempunyai organisasi dan sistem pimpinan. Sifat kepemimpinannya

berdasarkan kewibawaan dan kharisma, serta hubungannya berdasarkan perorangan.

Contoh :

- Kelompok yang terikat hubungan keturunan , mis warga

batak

- Kelompok remaja, kelompok dasa wisma

- Kelompok organisasi adat


2. Himpunan

Merupakan kesatuan manusia yang berdasarkan sifat tugas guna, sifat hubungan

berdasarkan kontrak. Dasar organisasinya secara formal. Pimpinan berdasarkan

wewenang dan hukum Contoh : Himpunan berdasarkan pendidikan, yayasan pendidikan :

mis perkumpulan pemberantasan buta huruf

STRATIFIKASI SOSIAL

Pengertian : Berasal dari bahasa “STRUM “ = “ Strata “ yang berarti perbedaan penduduk /

masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau herarkis

Fungsi Stratifikasi

1. Membagi mengatur pembagian kerja sesuai dengan kemampuan atau keahliannya

2. Mengatur imbalan jasa sebagai pendorong agar individu bersedia melakukan

kewajibannya sesuai dengan tingkat kedudukannya

3. Membantu masyarakat memecahkan persoalan yang dihadapinya

PENGGOLONGAN LAPISAN DALAM MASYARAKAT

Dengan ukuran sebagai berikut

a. Ukuran kekayaan

b. Ukuran kepangkatan

c. Ukuran kehormatan

Secara lapisan masyarakat diklasifikasikan ke dalam 3 kelas


1. Ekonomi

 Uper class ( Tingkat atas ) adalah kelompok klas yang mempunyai tingkat

penghasilan tinggi, mereka yang mempunyai barang yang berharga. Seperti tanah,

emas mobil misal sebagai direktur, pengusaha sukses.

 Midle class ( Klas menengah )Mereka berada pada tingkat pendapatan yang cukup

saja untuk memenuhi kebutuhan hidup. contoh : pegawai negeri, pedagang

 Low Class ( klas bawah )Mereka yang berada pada tingkat pendapatan yang rendah :

mis kaum buruh, pedagang asongan.

2. Politis

Stratifikasi sosial yang dimaksud adalah pembedaan cara pandang terhadap lapisan sosial

yang dibedakanpribumi dan atau non pribumi

3. Jabatan

Didasarkan pada jabatan anggota dimasyarakat. Mis : Gubernur, Direktur perusahaan,

Bupati dll.

ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI HIDUP SEHAT

Kesehatan mencakup seluruh aspek kehidupan. Konsep kesehatan tidak saja berorientasi

pada aspek klinis saja, tetapi lebih berorientasi pada ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan

kesehatan & kemasyarakatan , a.l : Ilmu Sosiologi, Psikologi, Perilaku dll yang kegunaannya

sebagai penunjang yang sekaligus sebagai faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan.

Salah satu cabang sosiologi yang membahas kebudayaan termasuk didalamnya adalah :

Pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat yang dilakukan oleh

masyarakat.
Di negara maju terdapat unsur kebudayaan yang dapat menunjang peningkatan status

kesehatan seperti tingkat pendidikan yang optimal sosial ekonomi yang tinggi, lingkungan hidup

yang baik

Di Negara berkembang terjadi sebaliknya. Melihat luasnya masalah tersebut maka

PERAWAT sebagai salah satu petugas kesehatan harus mempelajari ilmu tersebut diatas agar

mengenal pengaruh dari masing-masing faktor. Faktor tersebut a.l :

1. Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Kesehatan Masyarakat : Masalah yang kita hadapi

adalah jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi.

Serta penyebaran yang tidak merata. Tingkat pengetahuan dan pendidikan yang

rendah terutama pada golongan wanita, kebiasaan yang negatif yang berlaku di

masyarakat serta adat istiadat & kepercayaan yang kurangnya peran serta masyarakat

terhadap pembangunan kesehatan.

Kondisi sosial budaya masyarakat yang mendukung adalah semangat gotong

royong dan kekeluargaan serta bermusyawarah dalam mengambil keputusan

Masalah lain yang sering muncul adalah dampak dari industrialisasi adalah timbulnya

kawasan kumuh ( SLUMP AREA) serta Ibu-Ibu karier tidak/ kurang memberi ASI pada

bayinya secara optimal.

ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN

a. Kesehatan Ibu

 Angka kematian ibu yang tinggi, menurut sensus kesehatan rumah tangga. ( SKRT )

angka kematian Ibu maternal 450 / 100 000 kelahiran hidup. Kematian ibu
merupakan salah satu indikator derajat kesehatan dimana jumlah yang banyak adalah

Ibu masa hamil, partus dan nifas.

 Tingkat pendidikan wanita yang rendah, terutama pada wanita dewasa muda masih

berkisar 25,7 %, kondisi ini menyebabkan ibu-ibu tidak mengetahui perawatan

semasa hamil, kelahiran, perawatan bayi, dan semasa nifas, juga tidak mengetahui

kapankapan datang ke pelayanan kesehatan.

 Kurangnya pengetahuan ibu tentang cara pemilihan jenis/ bahan makanan, cara

memasal dan carapenyajian secara serasi

 Sebagian besar ibu-ibu masih berpandangan “ makan “ itu yang penting kenyang

tanpa memperhatikan nilai gizi

 Pengaruh pola makan terhadap timbulnya penyakit mis : anaemi, pre eklamsi,

Diabites melitus dll .

 Budaya pantang terhadap makan makanan tertentu yang mestinya sangat dibutuhkan

 Proses kehamilan & persalinan merupakan penyebab kematian tertinggi pada wanita

yang berkisar 94,4% disebabkan perdarahan, infeksi, toxemia, dan anaemi.

b. Terhadap Kesehatan Anak

Angka kematian bayi masih tinggi yaitu 58/1000 kelahiran hidup. Jenis kematian

adalah jenis penyakit D.3 I antara lain Tetanus, campak, pertusis, dan sebab lain yaitu

BBLR

Angka kematian balita masih 10,6/1000 31% dari jumlah tersebut disebabkan

PD3I dan folio


Angka kelahiran dan angka kesuburan dirasa masih cukup tinggi, angka kelahiran

kasar berkisar antara 26-32/ 1000 penduduk

Kematian tersebut berkaitan erat dengan faktor sosial budaya dimasyarakat seperti

halnya tingkat pendidikan yang rendah pada wanita, sosek, kepercayaan pada pelayanan

tenaga kesehatan masih rendah.

 Pandangan sebagian masyarakat bahwa kelahiran anak adalah merupakan sumber

rezeki, sehingga tambah anak akan tambah rezeki. Anak itu tumpuhan dihari tua

 Kurangnya pemenuhan nutrisi bagi anak & bayi karena mempreoritaskan ayah

sebab ayah adalah pencari nafkah.

c. Terhadap Pelayanan Kesehatan

 Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan masih rendah ini

tertera pada

 Bumil dengan ANC frekuensi kunjungan berkisar 3.17 kali sebasar 54 %

 Masyarakat yang memeriksakan diri ke Puskesmas 59,7% swasta 28,9%

Posyandu 11,2% .

 Pelayanan di Posyandu tidak / kurang tersedia ruangan yang tertutup dan memadai

untuk menjaga privacy.

 Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap petugas kesehatan masih rendah , yang

disebabkan karena relasi interpersonal yang dirasa masih ada batas.Petugas

kesehatan pada umumnya pendatang sehingga ada perbedaan pengakuan dan

penerimaan sebagai keluarga, Imbalan jasa kepada petugas kesehatan relatif

mahal serta dibatasi dengan tarif.


d. Masalah Kesehatan Jiwa

1. Angka gangguan jiwa meningkat 1,5 % atau sekitar 500.000 orang tiap tahunnya

2. Angka gangguan jiwa remaja – dewasa awal naik 1,2 % setiap tahunnya

3. Angka kekerasan seksual meningkat 100% dari tahun2015

4. Angka penyalhgunaan napza meningkat 7% utk remaja, 3 % utk dewasa dan 2 %

utkibu rumah tangga

Keberhasilan serta kegagalan kita dalam meraih sesuatu,

selalu erat hubungannya dengan cara kita untuk membina

sebuah hubungan antar sesama

Lakukan yang terbaik hari ini, jangan tunda esok hari,

karena esok adalah masa depanmu.

SELESAI
PROMOSI KESEHATAN

PENDAHULUAN

• Upaya memasarkan,

• Penyebarluasan,

• Memperkenalkan

Five Level Prevention (Leavel and Clark) ;

1. Health Promotion

2. Specific Protection

3. Early Diagnosis and Prompt Treatment

4. Disability Limitation

5. Rehabilitation

Kerangka Promosi Kesehatan


PENGERTIAN

Promosi Kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi

yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan

perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan. (Lawrence Green, 1984).

Promosi Kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol

terhadap, dan memperbaiki kesehatan mereka (WHO, 1984).

Proses untuk meningkatkan kemampuan orang dalam mengendalikan dan meningkatkan

kesehatannya. Untuk mencapai keadaan sehat, seseorang atau kelompok harus mampu

mengidentifikasi dan menyadari aspirasi, mampu memenuhi kebutuhan dan merubah atau

mengendalikan lingkungan (Piagam Ottawwa, 1986)

Promosi Kesehatan merupakan program yang dirancang untuk memberikan perubahan

terhadap manusia, organisasi, masyarakat dan lingkungan.

GAMBAR MODEL DARI PROMOSI KESEHATAN

Sumber : Dowie et al (1990)


VISI & MISI PROMOSI KESEHATAN

Visi

Visi Pembangunan Kesehatan Indonesia (UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992)

“ Meningkatnya kemampuan masyarakat u/ memelihara & meningkatkan derajad kesehatannya

>> fisik,mental & sosial sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial “

Empat Kata Kunci Visi Promosi Kesehatan :

1. Willingnes ( Mau )

2. Ability ( Mampu )

3. Memelihara Kesehatan : mau & mampu mencegah penyakit, melindungi diri dr

kesehatan & mencari pertolongan pengobatan yg professional bila sakit

4. Meningkatkan Kesehatan : mau & mampu mencegah penyakit, kesehatan perlu

ditingkatkan bersifat dinamis

Misi

1. Advokat (advocate) : Ditujukan kepada para pengambil keputusan atau pembuat

kebijakan

2. Menjembatani (mediate) :Menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor yang

terkait dengan kesehatan

3. Memampukan (enable) : Agar masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan

kesehatan secara mandiri

Strategi Promosi Kesehatan (Who, 1984)

1. Advokasi (advocacy) : Agar pembuat kebijakan mengeluarkan peraturan yang

menguntungkan kesehatan
2. Dukungan Sosial (social support) : Agar kegiatan promosi kesehatan mendapat dukungan

dari tokoh masyarakat

3. Pemberdayaan Masyarakat (empowerment) Agar masyarakat mempunyai kemampuan

untuk meningkatkan kesehatannya

Strategi Promkes (Piagam Ottawa, 1986)

1. Kebijakan Berwawasan Kesehatan

2. Lingkungan yang Mendukung

3. Reorientasi Pelayanan Kesehatan

4. Keterampilan Individu

5. Gerakan Masyarakat

Sasaran Promosi Kesehatan

• Sasaran Primer : Sesuai misi pemberdayaan. Misal : kepala keluarga, ibu

hamil/menyusui, anak sekolah

• Sasaran Sekunder : Sesuai misi dukungan sosial. Misal: Tokoh masyarakat, tokoh adat,

tokoh agama

• Sasaran Tersier : Sesuai misi advokasi. Misal : Pembuat kebijakan mulai dari pusat

sampai ke daerah

Ruang Lingkup Promkes

Ilmu dicakup Promkes dikelompokkan 2 bidang :

1. Ilmu Perilaku  Dasar membentuk Perilaku Manusia

2. Ilmu-Ilmu yg diperlukan u/ Intervensi Perilaku

Ruang Lingkup Promkes didasarkan pada 2 Dimensi, yaitu :

1. Dimensi Aspek Sasaran Pelayanan Kesehatan


2. Dimensi Tempat Pelaksanaan Promosi Kesehatan atau Tatanan ( Setting )

Dimensi Aspek Sasaran Pelayanan Kesehatan, yaitu :

1. Promkes pd Tingkat Promotif

2. Promkes pd Tingkat Preventif

3. Promkes pd Tingkat Kuratif

4. Promkes pd Tingkat Rehabilitatif

Ad.1. Promkes pd Tk.Promotif

• Sasaran : Kelompok orang sehat

• Tujuan : Mampu meningkatkan kesehatannya

• Dalam suatu populasi 80% - 85% orang yg benar-benar sehat (Survei di negara

berkembang)  memelihara kesehatannya shg jlhnya dpt dipertahankan

Ad.2. Promkes pd Tk.Preventif

• Sasaran : Kelompok orang sehat & kelompok high risk (bumil, bayi, obesitas, PSK dll)

• Tujuan : Mencegah kelompok tsb agar tdk jatuh sakit

• Primary Prevention

Ad.3. Promkes pd Tk.Kuratif

• Sasaran : Para penderita penyakit, utamanya penyakit kronis (DM, TBC, Hipertensi)

• Tujuan : Mencegah penyakit tsb tdk menjadi lebih parah

• Secondary Prevention

Ad.4. Promkes pd Tk.Rehabilitatif

• Sasaran : Para penderita penyakit yg baru sembuh (recovery) dr suatu penyakit

• Tujuan : Segera pulih kembali kesehatannya & / mengurangi kecatatan seminimal

mungkin
• Tertiary Prevention

Dimensi Tempat Pelaksanaan Promosi Kesehatan atau Tatanan ( Setting ), yaitu :

1. Tatanan RT

2. Tatanan Sekolah

3. Tatanan Tempat Kerja

4. Tatanan Tempat-Tempat Umum

5. Tatanan Institusi Yankes

Nurse’s Role in Health Promotion

• Model healthy lifestyle

• Facilitate client involvement

• Teach self-care strategies

• Assist clients to increase levels of health

• Educate clients to be effective healthcare consumers

• Assist clients to develop and choose health-promoting options

• Guide development of effectiveproblem-solving and decision-making

• Reinforce clients’ personal and family health-promoting behaviors

• Advocate in the community forchanges that promote a healthy environment

Assessment of Health

•Health history

•Physical examination

•Physical fitness assessment

•Lifestyle assessment
•Spiritual health assessment

•Social support system review

•Health risk assessment

•Health beliefs review

•Life-stress review

Developing HealthPromotion Plans

Based on health needs, desires, and priorities of the client

 Client decides on:

- Goals

- Activities or interventions to achieve these goals

- Frequency and duration of activities

- Method of evaluation

Implementing HealthPromotion Plans

 Emphasis on self responsibility

 Nursing interventions include:

1. Supporting

2. Counseling

3. Facilitating

4. Teaching

5. Consulting

6. Enhancing the behavior change

7. Modeling
Evaluating Health Promotion Plans

 Ongoing

 Collaborative effort

 Client actions may include:

1. Continue the plan

2. Reorder priorities

3. Change strategies

4. Revise the contract


STIGMA GANGGUAN JIWA
RETARDASI MENTAL

a. Retardasi mental adalah keterbatasan dalam kecerdasan yang menganggu adaptasi

normal terhadap lingkungan, dimanifestasikan dengan perkembangan abnormal dan

berkaitan dengan kesukaran belajar dan adaptasi sosial, (Sacharin, 1994).

b. (AAMR) American Association on mental Reterdation."Kelemahan/ ketidakmampuan

kognitif muncul pada masa kanak- kanak (sebelum 18 tahun) ditandai dengan fungsi

kecerdasan dibawah normal (IQ 70 – 75 atau kurang) dan disertai keterbatasan lain pada

sedikitnya dua area berikut: berbicara dan berbahasa; keterampilan : merawat diri, ADL;

keterampilan sosial penggunaan sarana masyarakat; kesehatan dan keamanan; akademik

fungsional; bekerja dan rileks, dll.

KIasifikasi menurut PAGE

a. Idiot : ( IQ dibawah 20, umur mental dibawah 3 tahun)

b. Imbisil : (IQ antara 20 - 50, umur mental 3 - 7, 5 tahun).

c. Maron : (IQ 50 - 70, umur mental 7 ,5 - 10,5 tahun).

Etiologi

a. Organik.

1) Faktor prekonsep.: Kelainan kromosom (tnsomi 21/ Down syndrom)

2) Faktor Prenatal: Kelainan pertumbuhan otak selama kehamilan (infeksi zat

teratatogenik dan toxin, disfungsi plasenta).

3) Faktor perinatal: Prematuritas, perdarahan intrakranial, asfiksia neonatorum,

dll.
4) Masa Pasca natal: Infeksi paskanatal oleh virus dan bakteri, keracunan oleh

bahan seperti timah dan cedera kepala berat, malnutrisi merupakan efek utama/

b. Non organik

1) Kemiskinan dan keluarga tidak harmonis.

2) Sosial kultural.

3) Interaksi anak kurang.

4) Penelentaraan anak

5) Faktor lain, pengaruh lingkungan dIn kelainan mental lain.

Manifestasi Klinis

a. Gangguan kognitif

b. Lambatnya keterampilan dan bahasa

c. Gagal melewati tahap perkembangan utama

d. Kemungkinan lambatnya pertumbuhan

e. Kemungkinan tonus otot abnormal

f. Terlambatnya perkembangan motorik halus dan kasar

Stigma Retardasi Mental dan Cacat Fisik

• Dimasukkan untuk mencari pesugihan

• Kutukan Tuhan karena kesaalahan nenek moyang, orang tua, keluarga

• Merupakan aib dalam masyarakat

• Dijauhi oleh saudara dan tetangga


Keluarga Pak S (cacat fisik) dan anaknya cacat menta

Kisah keadaan keluarga Bapak S yang menyakitkan keluarga. Dalam suasana lebaran,

sedikit orang yang berkunjung ke rumah mereka. Bahkan saudara-saudara mereka tidak ada

yang datang mengunjungi mereka. Tidak hanya itu, dalam kehidupan sehari-hari mereka juga

tidak luput dari tindak diskriminasi karena stigma yang terlanjur melekat pada keluarga tersebut

yang tidak normal, dianggap mengalami kutukan dan menjadi aib bagi masyarakat disekitarnya.

Keluarga dengan sebagian besar anggota keluarganya mengalami kecacatan fisik dan cacat

mentail. Ayah mengalami cacat fisik (kaki kiri buntung sejak lahir, anak pertamanya An. H

umur 16 tahun mengalami penyakit spastic, dan anak kedua An. S umur 8 tahun mengalami

retardasi menta!

B. Pengertian

PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III)

menempatkan schizophrenia pada kode F20. Schizophrenia termasuk dalarn kelompok psikosis
fungsional. Psikosis fungsional merupakan penyakit mental secara fungsiona yang non organis

sifatnya, hingga terjadi kepecahan kepribadian yang ditandai oleh desintegrasi kepribadian dan

maladjustment sosial yang berat, tidak marnpu mengadakan hubungan sosial dengan dunia luar,

bahkan sering terputus sama sekali dengan realitas hidup; lalu menjadi ketidakmampuan secara

sosial.

Etiologi

1. Keturunan

2. Endokrin

3. Hiper Neurotransmiter

Tentang stigma pada penderita gangguan jiwa yang ada di masyarakat

Desa Manik Saribu Kabupaten Simalungun adalah:

1. Adanya stigma masyarakat bahwa gangguan kejiwaan itu merupakan suatu kutukan

(pembawa sial) sebingga bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga yang

mengalami gangguan jiwa perlu di ungsikan sebab ada anggapan di masyarakat

menimbulkan dampak tertentu misalnya gagal panen di desa tersebut

2. Adanya kecenderungan keluarga memiliki rasa malu tersingkir dari masyarakat bila ada

salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa sebingga memilih untuk

mengurungnya atau mengucilkannya dari masyarakat.

3. Adanya anggapan di masyarakat batak bahwa gangguan jiwa merupakan kutukan dari

leluhur akibat keluarga tidak mentaati ajaran nenek moyang


Pasien gangguan Jiwa di Klaten

"PO" Sering berontak bila duduk dan dirantai dikursi, ingin berjalan-jalan tak ada tujuan.

Pada kenyataannya si Tentrem atau PO adalah satu contoh pengucilan masyarakat terhadap

penderita skizofrenia, sampai ia harus dirantai tangannya dan adiknya belum berkeluarga

padahal usianya sudah lebih dari cukup ini dikarenakan mempunyai saudara yang skizofrenia.

Kasus Gangguan jiwa di Cirebon


Untuk saat ini Tn. P ditempatkan di sebuah ruangan berukuran kira-kira 1 meter x 2 m dengan

model panggung, beralas papan, dengan dinding dari bambu, di sudut dapur, bergabung dengan

rumah utama, dan tidak dipasung, hanya saja pintu ruangan tersebut selalu terantai atau terkunci

Setiap kegiatan dilakukan Tn. P di tempat tersebut, dari makan, tidur maupun buang air. Saat

dipasung Tn. P masih mau memakai baju, tetapi akhir-akhir ini Tn. P tidak mau mamakai baju

dan masih sulit untuk diajak berkomunikasi lebih suka diam, meringkuk di sudut kamarnya, acuh

terhadap lingkungan sekitar, dan terkadang terlihat komat-kamit seperti sedang berbicara.

Gudang Tua yang ditempati Sdr W


Dahulu sebelum mengalami gangguan kejiwaan menurut TnK Nn. W adalah seorang

yang baik dan ramah akan tetapi ketika sang ibu mengaJami gangguan kejiwaan. Nn.W merasa

malu dan sering mengurung diri dirumah dan jarang keluar rumah sampai suatu ketika ibunda

dan No.W meninggai dunia.


Setelah ibunya meninggal tidak berapa lama Nn. W mengenal seorang pemuda yang

membuatnya jatuh cinta, akan tetapi hubungan itu ditentang habis-habisan oleh keluarga si

pemuda tadi karena dianggap Nn. W merupakan wanita yang berasal dari keluarga yang tidak

jelas "bibit, bebet dan bobotnya" apalagi mengingat ibunya yang mengalami gangguan jiwa.

Sebingga pemuda idaman Nn. W dijodohkan dan menikah dengan wanita lain yang dianggap

memiliki bibit, bebet dan bobot yang lebih baik. Keputusan dan kejadian tersebut membuat Nn.

W semakin merasa dirinya tak berbarga lagi. ia main, marah dan menyesali nasibnya sebingga

membuatnya depresi dan lama- kelamaan mengalami gangguan jiwa sama seperti yang diaIami

oleh ibunda Nn. W.

Disuatu daerah di Tarakan tepatnya di kampung pukat pada suku Banjar-Tidung terdapat

seorang ibu yang menderita gangguan jiwa yang diasingkan oleh keluarganya yang kemudian

dievakuasi oleh dinas kesehatan setempat untuk di rawat diruang jiwa RSU. Tarakan.

Pada suku Banjar-Tidung terdapat kepercayaan bahwa setiap kelahiran harus mempersembahkan

sesajen kepada sang penjaga pantai beringin. Pada saat kelahiran Ny.I sang ayah memberikan

sesaji kepada penjaga pantai beringin tetapi sesaji tersebut kurang. Pada saat dewasa Ny.I

menikah dan tinggal di Sulawesi bersama suaminya dan dikaruniai 2 orang anak, kehidupan

rumah tangganya mengalami kesulitan keuangan dalam rumah tangganya, hal ini membuat Ny.I

mengalami stress. Pada saat berkunjung ke rumah ayahnya setelah berada ditempat ayahnya

selama 3 hari Ny.I mengalami kelainan yaitu Ny.I mendengar ada seseorang yang menyuruhnya

untuk berjalan keluar tanpa menggunakan pakaian. Dari kejadian tersebut Ny.I langsung

diungsikan kesuatu tempat yang jauh dari keramaian selama satu tahun setelah sebelumnya telah

diobati dengan menggunakan acara "belian" yaitu upacara pengusiran rob halus. Menurut ayah

Ny.I, Ny I menderita 'gila' karena sesaji yang diberikan olehnya pada saat kelahiran Ny I kurang
dari yang diminta sehingga sang penjaga pantai beringin marah dan memberikan kutukannya

kepada Ny I. Setelah mengalami gangguan jiwa sang suami menceraikannya karena malu.

Berikut ini beberapa foto Nn. H dikamar tempat pengurunangan Nn.H di Kabupaten

Bangka Tengah Propinsi Bangka Belitung

Stigma pada penderita gangguan jiwa ini adalah Nn.H berusia 26 tahun. Nn. H adalah

anak ke-3 dari 5 bersaudara. Nn. H telah dikurung selama 1 tahun, hal ini dilakukan karena Nn.
H dianggap gila dan mempermalukan keluarga. Kamar yang menjadi tempat pengurungan Nn.

H ini berukuran 2x2 m, dengan jendela tertutup sehingga kamar sangat kurang cahaya. Selama

dikurung Nn. H mendapat makan 3x sehari, makan tersebut tidak akan dimakan oleh Nn. H jika

. ridak dipaksakan oleh keluarganya, oleh karena itu Nn. H terlihat sangat kurus. Jika Nn. H mau

mandi, BAB, BAK, keluarga mengeluarkannya untuk ke kamar mandi terdekat, setelah itu Nn.

H dimasukan lagi ke kamar kurungan. Keluarga Nn. H sangat tertutup, sehingga untuk

memperoleh informasi tentang penyebab Nn. H mengalami gangguan jiwa tidak dapat saya

peroleh.

Selama mengalami gangguan jiwa, keluarga tidak mau membawa Nn. H ke Rumah

Sakit, walaupun keluarga ini termasuk keluarga yang mampu di desa. Hal ini juga dikarenakan

keluarga sangat malu dengan keadaan Nn. H hanya diobati kepada dukun. Menurut keluarga,

dengan berobat ke dukun selain tidak malu, tapi juga biaya

Hasil Penelitian Sumarni dan Renang A

Tingginya stigma pada anak ADHD menyebabkan depresi pada ibunya Bentuk stigma :

 Karena perbuatan ibu masa lalu tidak benar

 Karena kutukan Allah

 Karena membuat malu keluarga

 Karena manfaat masa depan suram

Upaya Penanggulangan Stigma Gangguan Jiwa

1. Pendidikan terus menerus terhadap masyarakat melalui berbagai media

2. Pemanfaatan media massa


3. Pembaharuan peraturan perundangan dan kebijakan (kebijakan yang berkaitan dengan

gangguan jiwa menjadi lebih berpihak dan menjadi pelindung bagi penderita gangguan

jiwa (PKBTK, 2006))

4. Kerjasama dengan lembaga non pemerintah

5. Peningkatan pelayanan kesehatan jiwa:

a. Pengembangan SDM di bidang kesehatan jiwa

b. Pelayanan kesehatan jiwa di Pelayanan kesehatan Daerah

c. Ketersediaan obat psikotropika di berbagai tingkat pelayanan

d. Mendorong inovasi baru dalam penanganan gangguan jiwa terlayani secara

holistic

e. Mendorong peran serta masyarakat dan keluarga

f. Perawatan kesehatan jiwa di masyarakat

g. Kerjasama antar sektor (pendidikan,hukum, tenaga kerja, agama)

h. Pemantauan pelayanan kesehatan jiwa di masyaraka

i. Mendorong pelaksanaan etika kedoktera

j. Penelitian tentang kesehatan jiwa di bidang biologi, psikososial, budaya, agama

terkait penyebab dan penatalaksanaannya

(PKBTK, 2006) (Pusat Kajian Bencana dan tindakan Kekerasan)


Bina Melvia Girsang, S.Kep., Ns., M.Kep.

 Komunikasi Antar Budaya

 Organisasi

 Kebijakan Kesehatan Terkait

Politik
KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
KEBUDAYAAN

 Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu

pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan yang lain

serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (E. B Taylor)

 Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam

rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

(Koentjaraningrat)

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

 Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang

memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau

gabungan dari semua perbedaan ini ( Wikipedia, 2010)

 Menurut Stewart L. Tubbs,komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-

orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio

ekonomi)

 Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across

national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana

bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain

 Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka diantara

orang-orang yang berbeda budayanya

 Komunikasi yang dilakukan sebagai akibat dari terjalinnya komunikasi antar unsur

kebudayaan itu sendiri, seperti komunikasi antar masyarakatnya.


 Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu

pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan yang lain

serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (E. B Taylor)

 Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya

adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku

manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA ITU DILAKUKAN: (Alo Liliweri,2003)

Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang

membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol

tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-

makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan :

 Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang

terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses

pemberian makna yang sama;

 Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena

mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;

 Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari

kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.

KARAKTERISTIK KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

 Ada dua atau lebih kebudayaan yang terlibat dalam komunikasi

 Ada jalan atau tujuan yang sama yang akhirnya menciptakan komunikasi itu
 Komunikasi lintas budaya dijalin baik secara individu anggota masyarakat maupun dijalin

secara berkelompok atau dewasa ini dapat dilakukan melalui media,

 Tidak semua komunikasi lintas budaya menghasilkan feedback yang dimaksud, hal ini

tergantung kepada penafsiran dan penerimaan dari sebuah kebudayaan yang terlibat, mau

atau tidaknya dipengaruhi,

 Bila dua kebudayaan melebur karena pengaruh komunikasi yang dijalin maka akan

menghasilkan kebudayaan baru, dan inilah yang disebut akulturasi,

 Komunikasi Lintas budaya menghasilkan kuntungan dan kerugian diantara dua budaya

atau lebih yang terlibat,

HAKIKAT KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Enkulturasi

Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu

generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur

ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah,

lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur.

Enkulturasi terjadi melalui mereka.

Akulturasi

Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak

atau pemaparan langsung dengan kultur lain.[5] Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian

berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh

kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari
kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama,

kultur tuan rumah pun ikut berubah.

FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

 Fungsi Pribadi

Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui

perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.

1. Menyatakan Identitas Sosial

Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi

individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan

melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa

itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul

suku bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang.

2. Menyatakan Integrasi Sosial

Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi,

antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap

unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna

yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus

komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan

komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip

utama dalam proses pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah: saya

memperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan


sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat

meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka.

3. Menambah Pengetahuan

Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan

bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing.

4. Melepaskan Diri atau Jalan Keluar

Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau

mencri jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu

kita namakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang komplementer dan

hubungan yang simetris.

Hubungan komplementer selalu dilakukan oleh dua pihak mempunyai perlaku

yang berbeda. Perilaku seseorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplementer dari

yang lain. Dalam hubungan komplementer, perbedaan diantara dua pihak

dimaksimumkan. Sebaliknya hubungan yang simetris dilakukan oleh dua orang yang

saling bercermin pada perilaku lainnya.

Perilaku satu orang tercermin pada perilaku yang lainnya.

 Fungsi Sosial

Fungsi sosial adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perubahan

massa atau orang banyak bukan dari individu.

 Pengawasan

Fungsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya

di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling


mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk

menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak

dilakukan oleh media massa yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa

yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks

kebudayaan yang berbeda.

 Sosialisasi Nilai

Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan

nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.

 Menjembatani

Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan

antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara

mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka

pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga

menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks

komunikasi termasuk komunikasi massa.

 Menghibur

Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya.

Misalnya menonton tarian hula-hula dan "Hawaian" di taman kota yang terletak di depan

Honolulu Zaw, Honolulu, Hawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan

antarbudaya
ORGANISASI
Organisasi profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang

menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-

fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka seagai individu.

Ciri-ciri organisasi profesi

Menurut Prof. DR. Azrul Azwar, MPH (1998), ada 3 ciri organisasi sebagai berikut :

- Umumnya untuk satu profesi hanya terdapat satu organisasi profesi yang para anggotanya

berasal dari satu profesi, dalam arti telah menyelesaikan pendidikan dengan dasar ilmu

yang sama

- Misi utama organisasi profesi adalah untuk merumuskan kode etik dan kompetensi

profesi serta memperjuangkan otonomi profesi

- Kegiatan pokok organisasi profesi adalah menetapkan serta meurmuskan standar

pelayanan profesi, standar pendidikan dan pelatihan profesi serta menetapkan kebijakan

profesi

Peran organisasi profesi

- Pembina, pengembang dan pengawas terhadap mutu pendidikan keperawatan

- Pembina, pengembang dan pengawas terhadap pelayanan keperawatan

- Pembina serta pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan

- Pembina, pengembang dan pengawas kehidupan profesi


Fungsi organisasi profesi

Bidang pendidikan keperawatan

a. Menetapkan standar pendidikan keperawatan

b. Mengembangkan pendidikan keperawatan berjenjang lanjut

Bidang pelayanan keperawatan

a. Menetapkan standar profesi keperawatan

b. Memberikan izin praktik

c. Memberikan regsitrasi tenaga keperawatan

d. Menyusun dan memberlakukan kode etik keperawatan

Bidang IPTEK

a. Merencanakan, melaksanakan dan mengawasai riset keperawatan

b. Merencanakan, melaksanakan dan mengawasi perkembangan IPTEK dalam keperawatan

Bidang kehidupan profesi

a. Membina, mengawasi organisasi profesi

b.Membina kerjasama dengan pemerintah, masyarakat, profesi lain dan antar anggota

c. Membina kerjasama dengan organisasi profei sejenis dengan negara lain

d. Membina, mengupayakan dan mengawasi kesejahteraan anggota

Manfaat organisasi profesi

Menurut Breckon (1989) manfat organisasi profesi mencakup 4 hal yaitu :

1. Mengembangkan dan memajukan profesi

2. Menertibkan dan memperluas ruang gerak profesi

3. Menghimpun dan menyatukan pendapat warga profesi


4. Memberikan kesempatan pada semua anggota untuk berkarya dan berperan aktif dalam

mengembangkan dan memajukan profesi

Organisasi keperawatan tingkat nasional yang merupakan wadah bagi perawat di

Indonesia adalah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang didirikan pada tanggal 17

Maret 1974 dan merupakan gabungan dari berbagai organisasi keperawatan saat itu.

PPNI pada awalnya terbentuk dari penggabungan beberapa organisasi keperawatan

seperti IPI (Ikatan Perawat Indonesia), PPI (Persatuan Perawat Indonesia), IGPI (Ikatan Guru

Perawat Indonesia), IPWI (Ikatan Perawat Wanita Indonesia). Dalam penggabungan ini IBI

(Ikatan Bidan Indonesia) tidak ikut serta karena mempunyai anggapan bahwa bidan adalah

profesi sendiri.

Setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang sah dapat

mendaftarkan diri sebagai anggota PPNI dan semua siswa/mahasiswa keperawatan yang sedang

belajar dapat disebut calon anggota.

Tujuan PPNI

1. Membina dan mengambangkan organisasi profesi keperawatan antara lain : persatuan

dan kesatuan,kerja sama dengan pihak lain dan pembinaan manajemen organisasi

2. Membina, mengambangkan dan mengawasi mutu pendidikan keperawatan di Indonesia

3. Membina, mengembangkan dan mengawasi mutu pelayanan keperawatan di indonesia

4. Membina dan mengembangkan IPTEK keperawatan di Indonesia

5. Membina dan mengupayakan kesejahteraan anggota


Fungsi PPNI

1. Sebagai wadah tenaga keperawatan yang memiliki kesatuan kehendak sesuai dengan

posisi jabatan, profesi dan lingkungan untukmencapai tujuan organisasi

2. Mengembangkan dan mengamalkan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada

program-program pembangunan manusia secara holistic tanpa membedakan golongan,

suku, keturunan, agama/kepercayaan terhadap Tuhan YME

3. Menampung,memadukan,menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi tenaga

keperawatan serta mengembangkan keprofesian dan kesejahteraan tenaga keperawatan.

STRUKTUR ORGANISASI PPNI

Jenjang organisasi

1. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPNI

2. Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I (DPD I) PPNI

3. Dewan Pimpinan Daerah Tingkat II (DPP II) PPNI

4. Komisariat PPNI (pengurus pada institusi dengan jumlah anggota 25 orang)

Struktur organisasi tingkat pusat

1. Ketua umum

Ketua-ketua :

a. Pembinaan Organisasi

b. Pembinaan pendidikan dan latihan

c. Pembinaan pelayanan

d. Pembinaan IPTEK

e. Pembinaan kesejahteraan
2. Sekretaris Jenderal

Sekretaris berjumlah 5 orang yang dibagi sesuai dengan pembidangan ketua-ketua

dan Departemen

a. Departemen organisasi, keanggotaan dan kaderisasi

b. Departemen pendidikan

c. Departemen pelatihan

d.Departemen pelayanan di RS

e. Departemen pelayanan di puskesmas

f. Departemen penelitian

g. Departemen hubungan luar negeri

h. Departemen kesejahteraan anggota

i.Departemen pembinaan yayasan

Lama kepengurusan adalah 5 tahun dan dipilih dalam Musyawarah Nasional atau

Musyawarah Daerah yang juga diselenggarakan untuk :

1.Menyempurnakan AD / ART

2.Perumusan program kerja

3. Pemilihan Pengurus

PPNI juga menyelenggarakan rapat pimpinan (rapim) dan rapat pimpinan daerah

(rapimda) setiap 2 tahun sekali dalam rangka evaluasi dan penyempurnaan program kerja

berikutnya. Selain itu, PPNI juga mengadakan rapat bulanan atau harian sesuai dengan

kebutuhan. Keanggotaan PPNI biasanya terdiri dari tenaga perawat. Namun demikian terdapat
juga anggota non – perawat yang telah berjasa dibidang keperawatan dan mereka ini termasuk

dalam anggota luar biasa/kehormatan.

Sumber dana PPNI : uang pangkal, iuran bulanan dan sumber-sumber lain yang sah.

Program kerja utama PPNI :

1. Pembinaan organisasi dan keanggotaan

2. Pengembangan dan pembinaan pendidikan

3. Pengembangan dan pembinaan serta pendidikan dan latihan keperawatan

4. Pengembangan dan pembinaan pelayanan keperawatan di rumah sakit

5. Pengembangan dan pembinaan pelayanan keperawatan di puskesmas

6.Pembinaan dan Pengembangan IPTEK

7. Pembinaan dan Pengembangan kerja sama dengan profesi lain dan organisasi

keperawatan internasional

8. Pembinaan dan Pengembangan sumber daya/yayasan

9. Pembinaan dan Pengembangan kesejahteraan anggota

Antisipasi yang harus dilakukan PPNI dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat akan

pelayanan keperawatan yang berkualitas dan dalam rangka profesionalisasi keperawatan adalah

dengan melakukan upaya antara lain :

1. Membenahi sistem pendidikan keperawatan yang berorientasi pada kebutuhan

masyarakat serta pelayanan kesehatan utama (PHC) dengan landasan yang kokoh yang

meliputi wawasan keilmuan, orientasi pendidikan dan kerangka konsep pendidikan

keperawatan profesional yang berfokus pada penguasaan iptek keperawatan


2. Membenahi sistem pelayanan keperawatan. Upaya ini dapat dilakukan dengan selalu

berusaha memberikan asuhan keperawatan yang profesional dengan menggunakan

pendekatan proses keperawatan. Dalam rangka menopang keterlaksanaan asuhan

keperawatan profesional diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu

diperlukan pengembangan kemauan tenaga keperawatan secara kualitatif dan kuantitatif

dan juga advokasi terhadap perawat.

3. Membenahi kinerja PPNI. Dalam hal ini sangat mendesak untuk mengoptimalkan peran

dan fungsinya,sehingga mampu mengangkat citra keperawatan,menyusun standar

pelayanan/praktik keperawatan dan memelihara kesejahteraan anggota.

4. Mendesiminasikan pengertian keperawatan profesional serta lingkup

peran,fungsi,tanggung jawab, dan kewenangan profesi keperawatan kepada masyarakat

luas dan para penyusun/pengambil kebijakan.

Kewajiban Anggota PPNI

1. Menjunjung tinggi, mentaati dan mengamalkan AD dan ART organisasi.

2. Membayar uang pangkal dan uang iuran kecuali anggota penghormatan

3. Mentaati dan menjalankan segala keputusan

4.Menghadiri rapat yang diadakan organisasi

5. Menyampaikan usul untuk mencapai tujuan yang digariskan dalam program kerja

6.Memelihara kerukunan dalam organisasi secara konsekwen

7. Setiap anggota baru yang diterima menjadi anggota membayar uang pangkal dan uang

iuran
Hak Anggota PPNI

1. Semua anggota berhak mendapat pembelaan dan perlindungan dari organisasi dalam hal

yang benar dan adil dalam rangka tujuan organisasi

2. Semua anggota berhak mendapat kesempatan dalam menambah dan mengambangkan

ilmu serta kecakapannya yang diadakan oleh organisasi

3. Semua anggota berhak menghadiri rapat, memberi usul baik lisan maupun tulisan

4. Semua anggota kecuali anggota kehormatan yang mempunyai hak untuk memilih dan

dipilih sebagai pengurus dan dipilih sebagai pengurus atau perawatan atau perwakilan

organisasi

Tugas pokok PPNI

1. Bidang pembinaan organisasi

PPNI bertugas membina kelembagaan anggotanya dan akder kepemimpinan

2. Bidang pembinaan profesi

PPNI bertugas meningkatkan mutu pelayanan, penghayatan dan pengamalan kode etik

perawat, mengutamakan terbentuknya peraturan perundang-undangan keperawatan serta

mengembangkan ilmu dan teknologi keperawatan

3. Bidang kesejahteraan anggota

PPNI bertugas membina hubungan kerja sama dengan organisasi dan lembaga lain didalam

maupun diluar negeri

Keanggotaan PPNI ada 2 yaitu:

1. Anggota biasa

a. WNI, tidak terlibat organisasi terlarang.


b. Lulus bidang pendidikan keperawatan formal dan disahkan oleh pemerintah

c. Sanggup aktif mengikuti kegiatan yang ditentukan organisasi

d. Penyatakan diri untuk menjadi anggota

2. Anggota kehormatan

Syaratnya sama dengan anggota biasa yaitu pada butir a, c, d, dan bukan berasal

dari pendidikan perawatan tetapi elah berjasa terhadap organisasi PPNI yang ditetapkan

oleh DPP (dewan pimpinan pusat)

ORGANISASI KEPERAWATAN INTERNASIONAL

1. International Council of Nurses (ICN)

Merupakan organisasi profesional wanita pertama didunia yang didirikan tanggal 1 Juli

1899 yang dimotori oleh Mrs. Bedford Fenwick. ICN merupakan federasi perhimpunan perawat

nasional diseluruh dunia. Tujuan pendirian ICN adalah memperkokoh silaturahmi para perawat

diseluruh dunia, memberi kesempatan bertemu bagi perawat diseluruh dunia untuk

membicarakan berbagai maslah tentang keperawatan, menjunjung tinggi peraturan dalam ICN

agar dapat mencapai kemajuan dalam pelayanan, pendidikan keperawatan berdasarkan dan kode

eik profesi keperawatan.

Kode etik keperawatan menurut ICN (1973) menegaskan bahwa keperawatan bersifat

universal. Keperawatan menjunjung tinggi kehidupan, martabat dan hak asasi mnausia.

Keperawatan tidak dibatasi oleh perbedaan kebangsaan, ras, warna kuliut, usia, jenis kelamin,

aliran politik, agama, dan status sosial.

ICN mengadakan kongres setiap 4 tahun sekali. Pusatnya di Geneva, switzerland.


2.American Nurses Association (ANA)

ANA adalah organisasi profesi perawat di Amerika Serikat. Didirikan pada akhir tahun

1800 yang anggotanya terdiri dari organisasi perawat dari negara-negara bagian. ANA berperan

dlm menetapkan standar praktek keperawatan, melakukan penelitian untuk meningkatkan mutu

pelayanan keperawatan serta menampilkan profil keperawatan profesional dengan

pemberlakukan legislasi keperawatan.

3. Canadian Nurses Association (CNA)

CNA adalah asosiasi perawat nasional di Kanada. Mempunyai tujuan yang sama dengan

ANA yaitu membuat standar praktek keperawatan, mengusahakan peningkatan standar praktek

keperawatan, mendukung peningkatan profesionalisasi keperawatan dan meningkatkan

kesejahteraan perawat. CNA juga berperan aktif meningkatkan mutu pendidikan keperawatan,

pemberian izin bagi praktek keperawatan mandiri.

4.National League for Nursing (NLN)

NLN adalah suatu organisasi terbuka untuk semua orang yang berkaitan dengan

keperawatan meliputi perawat, non perawat seperti asisten perawat (pekarya) dan agencies.

Didirikan pada tahun 1952. Bertujuan untuk membantu pengembangan dan peningkatan mutu

pelayanan keperawatan dan pendidikan keperawatan.

5. British Nurses Association (BNA)

BNA adalah asosiasi perawat nasional di Inggris. Didirikan pada tahun 1887 oleh Mrs.

Fernwick. Bertujuan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan seluruh perawat di inggris dan

berusaha memperoleh pengakuan terhadap profesi keperawatan.


KEBIJAKAN KESEHATAN TERKAIT
POLITIK
KEBIJAKAN KESEHATAN TERKAIT POLITIK DI INDONESIA
Kebijakan Kesehatan Merupakan tindakan yang mempunyai efek terhadap institusi, organisasi,
pelayanan, dan pendanaan dari sistem pelayanan kesehatan…..(kebijakan kesehatan) penting
dalam pemberian pelayanan kesehatan pada: public goods, private goods, LSM kesehatan.

 Konteks : kegiatan, waktu


 Hal dibicarakan, di formulasikan
 Aktor : orang yang berpartisipasi
 Mempengaruhi pembuatan kebijakan
 Proses : tindakan, jalan
 Pengembangan dan implementasi kebijakan
 Konten : isi, isue
 Menjelaskan tujuan

FENOMENA KESEHATAN
 Pola penyakit semakin kompleks
 Penyakit tidak menular  demand pely kuratif
 (rawat inap)
 Sistem pelayanan kesehatan tidak merata
 Angka kesakitan & kematian klg miskin >> klg kaya
 Kinerja pelayanan kesehatan sektor publik cendrung
Swasta dominasi pelayanan
Penduduk miskin: pely kesehatan non-medis
Pendanaan kesehatan cendrung rendah dan tidak merata sebagian besar dana bukan dari
pemerintah, dari dana tsb, sbgn besar dr kantong pribadi.

Munculnya penyakit-penyakit baru


HIV (provinsi tertentu: industri, tambang, turism)
flu burung
flu babi

Desentralisasi
Pemindahan wewenang untuk membuat keputusan, manajemen yang digunakan dan
mengunakan sumber-sumber yang ada. Perpindahan wewenang dari pemerintahan pusat ke
pemerintahan daerah.
Administrasi : sub-ordinat unit

Tipe Desentralisasi: kekuasaan


 Dekonsentrasi (fungsi/integrasi) : Sama departemen
 Devolusi : Level rendah dari pemerintah
 Delegation to semi-independant agencies : Kemandirian dari pemerintah
 (Privatisation)

Figure 1: Functional Deconcentration (example)

Figure 2: Integrated Deconcentration (example)


Figure 3: Devolution (example)

Figure 4: Delegation (example)

Kenapa Desentralisasi?
 Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan
 Memberikan kesempatan kepada pemerintahan lokal untuk mengunakan dana pada
program yang mereka pedulika/butuhkan
o ex: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dll
 Meningkatan alur informasi secara cepat, meningkakan efisiensi
 Memberdayakan masyarakat yang potensial seperti pengusaha lokal

Pelaksanaan di Indonesia?
- Tahun 2001
Dana 10% pusat  50% daerah
pely kesehatan < responsif thd kebutuhan
-- fokus: gaji pegawai & cendrung kuratif,
-- preventif & promotif sering terabaikan
sehingga pely public goods
pertimbangan ekonomi sering terabaikan
disparitas antar daerah
- Masalah yang sering di temui
- Melemahkan ‘public sector’
 pemerintah lokal tidak siap
- Melemahkan departemen kesehatan??
 Perubahan peraturan
- ‘ineguity’
 pemasukan pemerintah lokal tergantung aktivitas ekonomi di kota
- Konflik
 banyak kepentingan
- Peningkatan pengeluaran administrasi
Jum Natosba, S.Kep., Ns., M.Kep. Sp.Mat Kep. M

Mat

 Pelayanan Kesehatan

 Undang-undang Keperawatan
PELAYANAN KESEHATAN

DEFINISI

 Sistem adalah suatu keterkaitan diantara elemen-elemen pembentuknya dalam pola

tertentu untuk mencapai tujuan tertentu (System is interconnected parts or elements in

certain pattern of work).

 Sistem Kesehatan adalah suatu jaringan penyedia pelayanan kesehatan (supply side) dan

orang-orang yang menggunakan pelayanan tersebut (demand side) di setiap wilayah, serta

negara dan organisasi yang melahirkan sumber daya tersebut, dalam bentuk manusia

maupun dalam bentuk material. sistem kesehatan mencakup sektor-sektor lain seperti

pertanian dan lainnya

 Pelayanan kesehatan adalah sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah

pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran

masyarakat.

 Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara

bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,

mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan perseorangan keluarga

kelompok, dan ataupun masyarakat.

 Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara

bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara danmeningkatkan kesehatan,

mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan,

keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat


Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah pengunaan fasilitas pelayanan yang

disediakan baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh petugas kesehatan

ataupun bentuk kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan tersebut yang didasarkan pada

ketersediaan dan kesinambungan pelayanan, penerimaan masyarakat dan kewajaran, mudah

dicapai oleh masyarakat, terjangkau serta bermutu (Azwar, 1999).

TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN DALAM SISTEM PELAYANAN

• Promosi kesehatan / health promotion


1.

• Perlindungan khusus (specific protection)


2.

• Diagnosa dini dan pengobatan segera/early diagnosis and


3. prompt treatment

• Pembatasan kecacatan/disability limitation


4.

• Rehabilitasi/rehabilitation.
5.

Promosi kesehatan / health promotion

 Pelayanan diberikan melalui peningkatan kesehatan dengan tujuan peningkatan status

kesehatan. Sasarannya adalah agar tidak terjadi gangguan kesehatan.

 Tingkat pelayanan ini meliputi : kebersihan perseorangan, perbaikan sanitasi lingkungan,

pemeriksaan kesehatan berkala, pelayanan status gizi, kebiasaan hidup sehat, pelayanan
prenatal, pelayanan lansia, dan semua kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan

status kesehatan.

Perlindungan khusus (specific protection)

Di lakukan dengan melindungi masyarakat dari bahaya yang akan menyebabkan

penurunan status kesehatan atau bentuk perlindungan terhadap penyakit penyakit tertentu dan

ancaman kesehata yang termasuk dalam tingkat ini adalah : imunisasi, pelayanan dan

perlindungan keselamatan kerja.

Diagnosa dini dan pengobatan segera/early diagnosis and prompt

treatment

 Diberikan mulai timbulnya gejala. Dilaksanakan untuk mencegah meluasnya penyakit

lebih lanjut serta dampak dari timbulnya penyakit sehingga tidak terjadi penyebaran.

 Misalnya : survei pencarian kasus baik secara individu maupun masyarakat, survei

penyaringan kasus serta pencegahan terhadap meluasnya kasus.

Pembatasan kecacatan/disability limitation

 Dilakukan untuk mencegah agar pasien atau masyarakat tidak mengalami dampak

kecacatan akibat penyakit tertentu. Dilakukan pda kasus yang memiliki potensi

kecacatan.

 Misal : perawatan untuk menghentikan penyakit, mencegah komplikasi lebih lanjut,

pemberian segala fasilitas untuk mengatasi kecacatan, menncegah kematian.

Rehabilitasi/rehabilitation.
 Dilakukan setelah pasien sembuh. Sangat diperlukan pada fase pemulihan terhadap

kecacatan. misal : program latihan, konsultasi dan diskusi psikologis untuk meningkatkan

koping individu positif sehingga gairah hidup meningkat.

BENTUK DAN JENIS PELAYANAN KESEHATAN

Pelayanan kesehatan tingkat


pertama (primer)

Pelayanan kesehatan tingkat


kedua (sekunder)

Pelayanan kesehatan tingkat


ketiga (tersier)

Pelayanan kesehatan primer (primary health care)

 Pelayanan kesehatan primer (primary health care) atau pelayanan kesehatan masyarakat

adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali diperlukan masyarakat

pada saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau kecelakaan.

 Primary health care pada pokoknya ditunjukan kepada masyarakat yang sebagian besar

bermukim di pedesaan, serta masyarakat yang berpenghasilan rendah di perkotaan.

Pelayanan kesehatan ini sifatnya berobat jalan (Ambulatory Services).


 Pelayanan kesehatan primer ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan

masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan.

 pelayanan kesehatan yang bersifat pokok yang dibutuhkan oleh sebagian besar

masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat

kesehatanmasyarakat. Biasa dilakukan pada masyarakat yang memiliki masalah atau

masyarakat sehat.

 Sifat pelayanan adalah pelayanan dasar yang dapat dilakukan di puskesmas, balai

kesehatan masyarakat, poliklinik dll.

Pelayanan kesehatan sekunder

 Pelayanan kesehatan sekunder adalah pelayanan yang lebih bersifat spesialis dan bahkan

kadang kala pelayanan subspesialis, tetapi masih terbatas.

 Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier (secondary and tertiary health care) adalah

rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut (rujukan).

 Pelayanan kesehatan dilakukan oleh Dokter Spesialis dan Dokter Subspesialis terbatas.

Pelayanan kesehatan ini sifatnya pelayanan jalan atau pelayanan rawat (inpantient

services).

 Pelayanan kesehatan sekunder ini diperlukan untuk kelompok masyarakat yang

memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan

primer. Diperlukan bagi masyarakat atau klien yang memerlukan perawatan rumah sakit

dilaksanakan di rumah sakit yang tersedia tanaga spesialis.

 Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D. Di Indonesia terdapat berbagai

tingkat rumah sakit, mulai dari rumah sakit tipe D sampai dengan rumah sakit kelas A.
Pelayanan kesehatan tersier

 Pelayanan kesehatan tersier adalah pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan

subspesialis serta subspesialis luas.

 Pelayanan kesehatan dilakukan oleh Dokter Subspesialis dan Dokter Subspesialis Luas.

 Pelayanan kesehatan ini sifatnya dapat merupakan pelayanan jalan atau pelayanan rawat

inap (rehabilitasi).

 Pelayanan kesehatan tersier ini diperlukan untuk kelompok mas-yarakat atau pasien yang

sudah tidak dapat ditangani oleh pe-layanan kesehatan sekunder. Contohnya: Rumah

Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.

Faktor Prilaku Yang Mempengaruhi Penggunaan Pelayanan Kesehatan

Pemikiran dan Perasaan (Thoughts and Feeling)


• Berupa pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan
penilaianpenilaian seseorang terhadap obyek, dalam hal ini
obyek kesehatan
Orang Penting sebagai Referensi (Personal Referensi)
• Seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh seseorang yang
dianggap penting atau berpengaruh besar terhadap dorongan
penggunaan pelayanan kesehatan.
Sumber-Sumber Daya (Resources)
• Mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga, dan
sebagainya. Sumbersumber daya juga
berpengaruh terhadap prilaku seseorang atau
kelompok masyarakat dalam memanfaatkan
pelayanan kesehatan. Pengaruh tersebut dapat
bersifat positif dan negatif.

Kebudayaan (Culture)
• Berupa norma-norma yang ada di masyarakat
dalam kaitannya dengan konsep sehat sakit

Syarat Pokok Pelayanan


• Ketersediaan dan Kesinambungan Pelayanan
1.

• Kewajaran dan Penerimaan Masyarakat


2.

• Mudah Dicapai oleh Masyarakat


3.

• Terjangkau
4.

• Mutu (kualitas) yaitu menunjukkan tingkat kesempurnaan


5. pelayanan kesehatan
UNDANG-UNDANG KEPERAWATAN
PERKEMBANGAN PROFESI PERAWAT

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN

 1983 Konvensi Nasional Keperawatan

Perawat adalah Profesi

 1985 S 1 Perawat (PSIK FKUI)

 1999 S2 Manajemen Kepemimpinan Kep

 2003 Spesialisasi Keperawatan (telah ada 5 sp Kep)

 2008 Program Doktoral Keperawatan

PERKEMBANGAN REGULASI

 2000 : Kepmenkes 647/2000 ttg Registrasi & praktik Perawat

 2001 : Kepmenkes 1239/2001  Revisi Kepmenkes 647/2000

 2010 : PMK no. 148 /2010 ttg Izin & penyelenggaraan Praktik Perawat DAN PMK No.

161/2010 ttg Registrasi Nakes

PERKEMBANGAN PELAYANAN ……….? (Praktik)

KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI

KOSEKUENSI

 Pendidikan Perawat pada Pendidikan Tinggi

 Pelayanan Adalah Asuhan/Pelayanan Professional

KARAKTERISTIK PROFESI:

 Kelompok pengetahuan landasan praktik

 Pelayanan unik kepada masyarakat


 Pendidikan yang memenuhi standar

 Pengendalian standar praktik & kode etik

 Betanggung gugat terhadap praktik

 Kematangan professional melalui sosialisasi

 Karir seumur hidup & penghasilan utama

 Fungsi mandiri & mempunyai kewenangan

Karakteristik Keperawatan Profssional (Schein, 1972)

 Beda dg Amatir : seumur hidup & penghasilan utama

 Mempunyai motivasi yang kuat, pilihan karier profesionalnya

 Memiliki IP yang mantap dan kokoh, keterampilan khusus melalui Pendidikan yang lama

 Mengambil keputusan klinik berdasarkan aplikasi prisip teori.

 Berorientasi pada pelayanan menggunakan keahlian demi kebutuhan klien

Karakteristik Keperawatan Profssional (Schein, 1972)

 Pelayanan berdasar kebutuhan Objetif klien

 Lebih mengetahui apa yang baik bagi klien daripada kliennya sendiri, otonomi dalam

pertimbangn tindakan

 Membentuk perkumpulan profesi

 Mempunyai kekuatan dan status dalam bidang kehaliannya yang khusus.

 Dlam pelayanan tidak mencari kelien / advertensi.


CIRI-CIRI PROFESI : Dahrendrof R,J Royal (1984)

Arti & makna keperawatan professional

 Klien mendapatkan Yan./Askep – tim keperawatan & berkolaborasi dengan tim

profesi terkait

 Keputusan keperawatan – berdasarkan pada masalah keperawatan, Ilmu dan teknologi

kep, standar praktek / kode etik keperawatan

 Mempertimbangkan hak klien

 “Clinical Inquiry” – pendekatan yang halus

 Pengembangan model praktek keperawatan.

 Penilaian kinerja – penilaian mutu/kepuasan klien & keputusan kerja perawat

Keperawatan Sbg profesi harus memberi pelayanan / asuhan professional kpd masyarakat

à professional services / care >> Praktik Keperawatan dlm Sistem Pelayanan / Asuhan

Keperawatan.

Keperawatan Memiliki kewenangan – bertanggung jawab atas pelaksanaan Sistem

Pemberian Pelayanan / Asuhan Keperawatan kpd masyarakat (Nursing Care Delivery

Systems)>> Bagian integral dari : Pemberian Pelayanan Kesehatan kpd Masyarakat.

Praktik Keperawatan Memberi “bantuan” kpd klien / pasien utk mengatasi masalah

keperawatan yg dihadapi ( nursing problems ) >> Menggunakan bbg btk intervensi keperawatan

(nursing intervention).

Pelayanan Profesi >> Selalu berbasis kompetensi à kompetensi professional (professional

competence). Mencakup sikap, tingkah laku profesi, etika profesi, pengetahuan ilmiah dan

teknologi professional, serta keterampilan professional; dipertanggungjawabkan kpd masyarakat.


PENGEMBANGAN PERAWAT DI INDONESIA

1. Komunitas

Menyadari pentingnya penyelesaian masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya

sebagai realisasi pewujudan hak asasi manusia, tetapi juga sebagai modal dasar

keberhasilan pembangunan bangsa, maka pelbagai langkah terobosan perlu dilakukan

a. Kompetensi dan ruang gerak perawat tidak lagi terbatas pada intervensi

keperawatan, tetapi juga intervensi medis berupa penyembuhan penyakit serta

pemulihan kesehatan

b. Perlu mengembangkan perawat komunitas (community nurse) yang ditempatkan

di pedesaan

Kompetensi Perawat Komunitas

Pengembangan perawat komunitas yang dimaksudkan

– tidak hanya memiliki kompetensi keperawatan

– tetapi juga kompetensi tambahan lainnya, sesuai dengan permasalahan kesehatan

yang ada di masyarakat

• Penanggulangan penyakit menular dan wabah

• Penatalaksanaan penyakit rakyat

• Pertolongan pertama dan tanggap darurat

Kompetensi Pelimpahan Perawat Komunitas

Untuk hasil pembangunan kesehatan yang optimal, pelimpahan kompetensi medis

tertentu kepada perawat komunitas (skill mixed competences) perlu dilakukan

 Dibanyak negara pelimpahan kompetensi medis tertentu kepada perawat bukan

merupakan hal baru


 Terbukti telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara

memuaskan

2. Klinis

Pada area Klinis, secara konsep maupun yuridis (UU. No.36 tahun 2009)

menegaskan kontribusi Perawat dengan Perawatan dan Ilmu keperawatan dalam upaya

Penyembuhan Penyakit dan Pemulihan Kesehatan.

Praktik Perawat Di Klinik

• Pemberian asuhan Keperawatan Professional Langsung

• Keahlian memberikan pendidikan pada klien

• Kolaborasi yang optimal dg Multidisplin

• Menerima Konsultansi pihak lain

• Research

• Kepemimpinan klinik yang Professional

• Pengambilan Keputusan Etik

Perawat Klinik Professional

 Perlu Pengakuan

 Kejelasan Kewenangan dan tanggung Jawab dalam Praktik

 Kemandirian sesuai keilmuan

 Perlu Sistem Penghargaan

 Dalam Kerangka Professional Regulasi


PRAKTIK KEPERAWATAN
URGENSI UU KEPERAWATAN

Menata “Sistem” Keperawatan Di Indonesia

- Pengakuan

- Bentuk Praktik/ Asuhan

- Kualifikasi Dan Kompetansi

- Standarisasi

MENGAPA UU KEPERAWATAN PENTING?

1. Memberikan kepastian dan jaminan hukum bagi masyarakat yang akan memanfaatkan

pelayanan keperawatan
2. Memberikan kepastian dan jaminan hukum bagi tenaga perawat yang bertanggungjawab

menyelenggarakan pelayanan keperawatan

3. Meningkatkan aksesibilitas, keterjangkauan dan mutu pelayanan keperawatan

4. Mempercepat keberhasilan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat

MENGAPA UU KEPERAWATAN PENTING?

• Hakekad setiap UU adalah mengatur perilaku anggota masyarakat yang akan menjamin

berlangsungnya interaksi antar anggota masyarakat secara harmonis dan lancar

• Untuk warga profesi keperawatan, pengaturan perilaku dalam bentuk UU Keperawatan,

terutama pada dua interaksi pokok

– Interaksi antara sesama warga keperawatan

– Interaksi antara warga keperawatan dengan pihak-pihak lain diluar keperawatan

• 75% Kegiatan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas adalah kegiatan Keperawatan

(DEPKES 2005)

• 80 % Kegiatan pelayanan di Rumah Sakit adalah pelayanan/Asuhan Keperawatan (Gilles,

2000)

• 60 % tenaga Kesehatan adalah Perawat yang tersebar tidak terbatas kondisi geografis

• Survei 2010: Ada kesenjangan antara harapan masyarakat dengan kompetensi saat ini

yaitu 92,3% : 68,7%

• Survei 2010: mayoritas perawat menyatakan bahwa beban kerja sangat berat karena tidak

sesuai dengan tugas dan fungsinya perawat (studi kualitatif)


PERMASALAHAN HUKUM

1. Sejak tahun 2005 ada 33 Kasus Penagkapan Perawat yg sedang manjalani pelayanan di 7

Propinsi yang baru dilaporkan datanya.

2. Tidak ada perlindungan hukum perawat di Puskesmas karena tidak jelas pengaturan

Kewenangan dan metode Pelimpahan Wewenang

3. Lebih dari 80 % tindakan yang dilakukan oleh Perawat di RS dapat dikatagorikan ilegal

karena tidak jelas pengaturannya.

4. Kontroversi kewajiban Perawat menolong Gawat Darurat (di pidana) disisi lain tidak

boleh menyimpan obat

5. Tidak ada perlindungan perawat dalam melakuakan Pekerjaan di Sarana Kesehatan

6. Depkes & WHO :2005): perawat di praktek-praktek swasta: (1) melakukan diagnosa

medis (92.6%); (2) tulis resep (93.1%); (3) memberi pengobatan (97.1%); (4) melakukan

pre-natal periksa (70.1%) dan tindakan postnatal)

LANDASAN FILOSOFIS

• Pelayanan Keperawatan adalah bagian Integral dari Pelayanan Kesehatan, karenanya

Perawat sangat mempengaruhi kualitas pelayanan Kesehatan.

• Hampir sebagian besar tindakan atau intervensi keperawatan terhadap manusia adalah

melanggar hukum, karenanya perlu ada perlindungan dalam pelaksanaannya.

• Tugas dan Fungsi Perawat dalam yankes yang luas mencakup dimensi : fisik, psikososial,

spiritual Manusia, perlu penguatan untuk memfungsikan cakupan agar diterima seutuhnya

oleh masyarakat
• Tugas dan Fungsi Perawat dalam yankes yang luas mencakup dimensi : fisik, psikososial,

spiritual Manusia, perlu penguatan untuk memfungsikan cakupan agar diterima seutuhnya

oleh masyarakat

• Sifat Keperawatan yang melayani secara Kontinyu (24 jam), sangat dekat dengan Pasien

dan

LANDASAN YURIDIS

 Amanat UUD 1945 pasal 28 H ayat (1): “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta

berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Negara menyediakan pengaturan yang kuat

untuk menjamin pelayanan Kesehatan masyarakat dengan Professionalitas dan

akuntabilitas Perawat.

 UU No 36 tahun 2009 pasal 63 ayat (1),(2),(3),(4). Menerangkan bahwa keperawatan

adalah sebuah entitas yang telah diakui secara Yuridis, dalam hal penyembuhan,

pemulihan dan pengendalian memerlukan Perawatan yang berdasarkan ilmu

Keperawatan, tentu memerlukan pengaturan lebih lanjut secara teknis Profesi dalam

bentuk UU keperawatan.
LANDASAN SOSIOLOGIS

• Perawat adalah jumlah tenaga kesehatan terbesar dari selurh tenaga kesehatan (60%),

• Perkembangan zaman memposisikan perawat saat ini rentan terhadap KRIMINALISASI

dalam melaksanakan tugas Profesinya yg dipaksakan oleh kondisi kebijakan kesehatan.

Sementara ada kewajiban pelayanan Kesehatan harus diterima masyarakat didaerah-

daerah terpencil dan perifer.

LANDASAN SOSIOLOGIS

 saat ini ada Permenkes yg mengatur Prtaktik Perawat terutama didaerah terpencil dan

perifer, karena Level Peraturan sebatas keputusan Menteri maka pada kebijakan OTDA

Praktik Perawat tidak menjadi acuan (tdk mengikat) menjadi penghambat akses

masyarakat mendapat yankes.

 Globalisasi adalah ancaman serius, dan martabat bangsa pertaruhannya. Dan Indonesia

belum punya sistem “Register nurse (RN)” spt kebanyakan negara di dunia

 Lebih dari 1000 perawat Indoesia bekerja di jepang 50 % nya tidak menjadi perawat

tetapi Candidate nurse, 50 % lainnya bahkan menjadi care worker yg sama sekali tidak

menggunakan kompetensi perawat dlm pekerjaaanya. (DOWN GRADE)

 Hampir semua perawat di timur tengah dan sebagian eropa bekerja dibawah supervisi

perawat negara lain (karena bukan “RN”)

 ASEAN Mutual Recognition Arangement (MRA) on Nursing services. Mengharuskan

mempunyai sitem yang sama dengan kompetensi yang direkognisi, saat ini yg belum ada

: Indonesia, Laos
LANDASAN TEKNIS KEPERAWATAN

• Perawat adalah Profesi, dengan Keilmuan tersendiri (Body Of Knowladge) perlu

mengamalkan Profesi dengan keilmuannya secara OTONOMI

• Kejelasan Kewenagan dan batas tanggung jawab dalam pelayanan Kesehatan penting

untuk totalitas melayani masyarakat

• Perlu pengaturan mekanisme Pendelegasian wewenang, dan sistem Rujukan untuk

peningkatan cakupan dan kualitas Pelayanan

• Pelayanan Perawat perlu diakui oleh Masyarakat

• Mengangkat CITRA PERAWAT INDONESIA

PROGRES

• Usulan Draft sudah ke 21 sejak tahun 1998

• Prolegnas 2004-2009 no 160

• Sampai dengan 2008 tidak menjadi Prioritas

• Aksi 2008  Inisistif DPR Hasil sbb:

– Minimal : eksplisit UU Kep dlam UU Kesehatan

– Maksimal: UU keperawatan tahun 2009

• Prolegnas th 2009 No urut 26  Tidak sempat terbahas

• Prolegnas th 2010 No Urut 18  Tidak sempat terbahas

• 11 Oktober 2010 : RDPU RUU Nakes

– RUU nekes Prioritas th 2010 menggantikan RUU Keperawatan

– Akan diusulkan oleh pada Sidang Paripurna 12 Oktober 2010

• Sidang Paripurna 12 Oktober 2010 : menunda usulan Baleg : Memasukkan RUU NAKES

prioritas tahun 2010 menggantikan RUU Keperawatan


• 14 Desember 2011, dalam sidang paripurna penetapan prolegnas tahun 2011 RUU

Keperawtan masuk no. 19

• Informasi akhir KOMISI IX Sepakat membentuk PANJA RUU Keperawatan untuk

membahas dalam masa sidang berikutnya.

KONTRA TERHADAP UU KEPERAWATAN

 Persoalan EKONOMIS (biaya UU), bila perawat ada UU maka profesi lain akan meminta

hal yg sama. Tidak semuaProfesi diperlukan pengaturan dg UU tergantung ;Karakteristik,

dan Urgensinya. Sbg perbandingan di hampir semua negara Profesi kesehatan yg diatur

dg UU adalah : Dokter, farmasi, Perawat dan/atau Bidan.

 Persoalan Kedudukan Profesi Perawat dlm Pelayanan Kesehatan:

 Perawat dlm Pelayanan kesehatan bertanggung jawab sendiri thd Perannya,

beberapa kasus Perdata maupun Pidana pelayanan Kesehatan Perawat menjadi

tersangka, bukan dokter penanggung jawab.

 Dg Keilmuan perawat menggunakan metodologi Keperawatan

 Persoalan Kewenangan Praktik Mandiri

 Saat ini ada Permenkes 148/2010 sebagai pengganti PermenKes 1239/2001

tentang PRAKTIK Perawat. Mengilustrasikan bahwa Bangsa ini memerlukan

perawat melayani masyarakat dalam Praktik Mandiri, soal kewenangan

disesuaikan dengan kondisi kebutuhan kesehatan dan ketersediaan sumber daya.

Berbagai metode Pendelegasian dpt dilakuakn : langsung atau atributif dg

memperketat persyaratan : SANGAT MENGUNGTUNGKAN MASYARAKAT

 Kewenangan memberikan obat, dalam kurikulum perawat diajarkan dalam batas

obat bebas terbatas dan obat bebas maupun obat dalam daftar apotik (DOA)
ANATOMI RUU PRAKTIK KEPERAWATAN

 BAB I : Ketentuan Umum

 BAB II : Azas dan Tujuan

 BAB III : Lingkup Praktik Keperawatan

 BAB IV : Konsil Keperawatan Indonesia

 BAB V : Standard Pendidikan Profesi Kep.

 BAB VI : Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan

 BAB VII : Registrasi Praktik Keperawatan

 BAB VIII : Penyelenggaraan Praktik Kep.

 BAB IX : Pembinaan, Pengembangan dan Pengawasan

 BAB X : Ketentuan Peralihan

 BAB XI : Ketentuan Penutup

TUJUAN

 memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada MASYARAKAT dan

PERAWAT.

 Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh

perawat.

LINGKUP KEPERAWATAN

 PERAN PERAWAT

 Pemberi pelayanan

 Pengelola

 Pendidik
 Peneliti

 Fungsi Perawat

 Independen

 Dependen

 Kolaborasi

PRAKTIK KEPERAWATAN

 Praktik keperawatan diberikan melalui Asuhan keperawatan untuk klien individu,

keluarga, masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks.

 Asuhan keperawatan dapat dilakukan melalui tindakan keperawatan mandiri dan atau

kolaborasi dengan tim kesehatan dan atau dengan sektor terkait lain

KEWENANGAN PERAWAT

 Wewenang perawat sesuai dengan pmk no 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik

perawat

 Wewenang perawsat sesuai dengan PMK no 148 tentang izin dan Penyelenggaraan

Praktik Perawat

 Wewenang Perawat dalam rancangan UU Keperawatan


PRAKTIK KEPERAWATAN

Praktik keperawatan diberikan melalui Asuhan keperawatan untuk klien individu,

keluarga, masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks. Asuhan

keperawatan dapat dilakukan melalui tindakan keperawatan mandiri dan atau kolaborasi dengan

tim kesehatan dan atau dengan sektor terkait lain

KEWENANGAN PERAWAT

 Wewenang perawat sesuai dengan pmk no 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik

perawat

 Wewenang perawsat sesuai dengan PMK no 148 tentang izin dan Penyelenggaraan

Praktik Perawat

 Wewenang Perawat dalam rancangan UU Keperawatan


KEWENANGAN PERAWAT

1. ASUHAN KEPERAWATAN

- pengkajian,

- penetapan diagnosa keperawatan,

- perencanaan,

- implementasi,

- dan evaluasi keperawatan

2. DAPAT MEMBERI OBAT BEBAS

3. DAN BEBAS TERBATAS

4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

- penerapan perencanaan

- pelaksanaan tindakankeperawatan

5. TINDAKAN KEPERAWATAN KOMPLEMENTER

- Aromatherapy

- Massage

- Reflexology

- Hipnotherapy

- Shiatsu

- Bach flower remedies

- Alexander technique

- Acupuncture *

- Herbal meicine *

- Dll
 Perawat dapat melakukan diluar kewenangan kondisi gawat darurat

 Diwilayah tersebut tidak ada dokter

 Dalam rangka melaksanakan program pemerintah

 Wewenang perawat dalam ruuk

 Wewenang perawat mandiri :

- Melakukan pengkajian klien secara holistik

- Menetapkan diagnosis keperawatan

- Merencanakan tindakan keperawatan

- Melaksanakan tindakan keperawatan

- Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan

- Melakukan rujukan klien

- Menerima konsultasi keperawatan

- Melakukan pelayanan keperawatan dan atau kesehatan dirumah

- Memberikan pengobatan terbatas dan tindakan medik terbatas sesuai peraturan

perundang-undangan yang berlaku

- Melaksanakan tugas limpah

- Dalam keadaan darurat yang mengancam kehidupan atau nyawa klien perawat

dapat melakukan tindakan di luar kewenangan.

- Dalam keadaan luar biasa atau bencana, perawat dapat melakukan tindakan di

luar kewenangan untuk membantu mengatasi keadaan luar biasa atau bencana

tersebut.
- Untuk meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan, perawat dapat

melakukan tindakan di luar kewenangannya sebagai perawat dengan ketetapan

pemerintah daerah setempat.

- Kewenangan perawat vokasional dan profesional lebih rinci diatur dalam

peraturan konsil.

KOMITE-KOMITE DALAM KONSIL

 Komite uji kompetensi dan registrasi

 Komite standar pendidikan profesi

 Komite praktik keperawatan

 Komite disiplin keperawatan

KUALIFIKASI PERAWAT

 Vokasional

 Professional

 Professional spesialis

 Konsultan

LISENSI

 Diberikan oleh Dinkes Kab/Kota

 Dalam dua bentuk

o SIPV untuk Perawat Vokasional

o SIPP untuk Perawat Profesional/Spesialis

 SIPV di sarana Kesehatan


 SIPP di Sarana Kesehatan dan Praktik Mandiri

 Vokasi (PVL) dapat memperoleh SIPP : lulus uji kompetensi RN

 Memerlukan Rekomendasi OP

HAK & KEWAJIBAN PERAWAT

 PERAWAT ASING

 PERLINDUNGAN

 PENGHARGAAN
Putri Widita S.Kep., Ns., M.Kep

 Konsep Dasar Kesehatan dan

Pendekatan Sosial dalam

Kesehatan

 Psikologi Perkembangan

 Sejarah Keperwatan

 Transkultural
KONSEP DASAR KESEHATAN DAN
PENDEKATAN SOSIAL DALAM
KESEHATAN

PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk sosial. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang

pergaulan hidup manusia (individu- individu, individu-kelompok, kelompok- kelompok).

Gangguan kesehatan dapat muncul dari lingkungan social. Manusia sering hidup dalam

lingkungan sosial yang membuat marah, sedih, cemas, frustasi dapat menyebabkan gangguan

kesehatan. House, Landis dan Umberson mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan

adanya hubungan antara hubungan sosial dan kesehatan.

Perawat harus memperhatikan aspek kepercayaan, nilai, norma yang dijadikan sebagai

acuan oleh masyarakat dalam berperilaku termasuk dalam prilaku kesehatan. Keperawatan

adalah bentuk pelayanan yang diberikan pada manusia dalam rentang sehat sakit.

RENTANG SEHAT SAKIT

Alat ukur dalam menilai status kesehatan yang bersifat dinamis dan selalu berubah dalam setiap

waktu. Diawali dari status kesehatan sehat normal, sehat sekali dan sejahtera
KESEHATAN

Definisi :

• Kondisi terbebas dari penyimpangan pemenuhan kebutuhan dasar

• Keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan mengatasi stressor

Faktor yang mempengaruhi status kesehatan :

• Perkembangan

• Sosial dan kultural

• Pengalaman masa lalu

• Harapan seseorang tentang dirinya

• Keturunan

• Lingkungan

• Pelayanan

Perkembangan

• Perubahan status kesehatan dipengaruhi faktor usia (pertumbuhan dan perkembangan)

• Contoh: pada bayi dan anak-anak rentan terserang penyakit bila dibadingkan dengan

orang dewasa menyebabkan daya imunitas belum matang.


Sosial Kultural

• Sosial kultural mempengaruhi pemikiran dan keyakinan sehingga perubahan dalam

perilaku kesehatan.

• Contoh: sso yang tinggal di lingkungan kotor namun jarang dijangkiti penyakit sehingga

timbul anggapan bahwa mereka dalam keadaan sehat.

• Sso dengan sosek rendah akan berespon baik ketika mengalami flu dan menganggap hal

tsb bukan masalah, sosek tinggi menganggap flu akan mengganggu status kesehatannya.

Pengalaman masa lalu

• Pengalaman kesehatan yang tidak diinginkan/ buruk berdampak besar dalm status

kesehatan selanjutnya.

• Contoh: sso yang mengalami diare karena pengalaman yang salah mengatasi diare pd

masa lalu .

Harapan Sso Tentang Dirinya

• Harapan dapat menimbulkan motivasi dalam menerapkan gaya hidup sehat dan

menghindari hal yang membahayakan kesehatan

Keturunan

• Faktor genetik mempengaruhi status kesehatan sso dan respon terhadap penyakit

Lingkungan

• lingkungan fisik ( sanitasi lingkungan, tempat pembuangan limbah, dll)

Pelayanan

• Tempat pelayanan kesehatan:

a. Jarak

b. Kualitas
SAKIT

• Keadaan penyimpangan pemenuhan kebutuhan dasar

• Gangguan dalam fungsi tubuh yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas tubuh

sehingga menimbulkan respon sakit

• Dapat diketahui dari adanya suatu gejala yang dirasakan serta terganggunya kemampuan

individu dalam melaksanakan aktivitas sehari- hari.

Tahapan Proses Sakit

• Tahap gejala :

a. Tahapan awal sso mengalami proses sakit

b. Tanda: perasaan tidak nyaman pada diri, misal meliputi gejala fisik seperti nyeri,

panas sebagai manifestasi ketidakseimbangan dalam tubuh

• Tahap asumsi terhadap sakit

a. Sso akan melakukan interpretasi thdp sakit yang dialaminya

b. Merasakan keraguan pada gangguan yang dirasakan

c. Merespon dalam bentuk emosi thdp gejala tsb. seperti: merasa takut atau cemas

d. Perubahan emosional bergantung pada beratnya penyakit, tk. Kemampuan dan

perkiraan lama sakit.

e. Awalnya sso menyangkal pentingnya intervensi dari pelayanan kesehatan

menunda kontak dengan sistem layanan kesehatan

f. Pada tahap ini sso melakukan peran selama sakit dengan tujuan memperoleh

kesehatan:

- Tidak memegang tanggung jawab selama sakit

- Dibebaskan dari tugas dan fungsi sosial


- Diharuskan berusaha memperoleh kondisi sehat secepat mungkin

- Bersama dengan keluarga mencari bantuan pada pihak yang berkompeten

• Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan

a. Sso meminta pendapat/ nasehat dari tenaga kesehatan atas inisiatif sendiri

b. Pencarian informasi dilakukan untuk mencari pembenaran keadaan sakitnya,

mengetahui gejala2 yang tidak dimengerti dan meyakini dirinya akan lebih baik

• Tahap ketergantungan

a. Tjd saat sso didiagnosa menderita suatu penyakit mendapat pertolongan

ketergantungan dalam pengobatan.

b. Setiap org memiliki tingkat ketergantungan yang berbeda berdasarkan tingkat

kebutuhannya/ penyakitnya

• Tahap penyembuhan

a. Tahap terakhir sso melakukan proses belajar untuk melepaskan perannya selama

sakit dan kembali ke peran sebelum sakit

b. Persiapan untuk kembali ke kehidupan sosial

c. Peran tenaga kesehatan adalah meningkatkan kemandirian serta memberikan

harapan.

Hambatan-hambatan yang Sering Dihadapi dalam Memecahkan Masalah Kesehatan Masyarakat

a. Hambatan dari masyarakat

- pendidikan yang rendah

- keterbatasan sumber-sumber daya (keuangan, sarana dan prasarana)

- kebiasaan-kebiasaan yang melekat


- sosial budaya yang tidak menunjang

b. Hambatan dari perawat

- Sarana dan prasarana yang tidak menunjang dan mencukupi, seperti: transportasi

- Kondisi alam (geografi yang sulit)

- Kesulitan dalam berkomunikasi (bahasa)

- Keterbatasannya pengetahuan tentang kultur masyarakat


PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

DEFINISI

Ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang perkembangan manusia dimana perkembangan

itu bersifat sistematis, adaptif dan berlangsung sepanjang rentang kehidupan (papalia, olds &

feldman 2009).

MENGAPA PENTING MEMPELAJARI PERKEMBANGAN MASA HIDUP (LIFE-

SPAN DEVELOPMENT)?

1. Mengenal diri sendiri

2. Bekal dalam mengadakan pendekatan dengan individu lain (bayi sampai lansia)

3. Menambah wawasan tentang proses perkembangan individu dalam rangka

mengembangkan ilmu pengetahuan,

4. Melalui penelitian-penelitian

PERTUMBUHAN

Definisi :

Pertumbuhan adalah proses perubahan progresif yang bersifat kuantitatif dan terjadi

pada aspek fisik. Contoh pertumbuhan : bertambahnya tinggi badan, bertambahnya panjang

rambut, munculnya gigi-gigi baru, dsb.


Pertumbuhan Meliputi :

 perubahan fisik

 peningkatan jumlah sel

 ukuran

 kuantitatif

 tinggi badan, berat badan, ukuran tulang, gigi

PERKMBANGAN

Definisi :

Perkembangan adalah proses perubahan progresif yang bersifat kualitatif fungsional dan

yang terjadi pada aspek fisik dan psikis. Contoh perkembangan : munculnya kemampuan berdiri

dan berjalan, semakin meningkatnya kemampuan berbicara, berimajinasi, berpikir, dll.

Perkembangan meliputi :

 kualitatif

 maturation

 sistematis, progresif dan berkesinambungan

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

 Persamaan pertumbuhan dan perkembangan : keduanya merupakan proses perubahan

progresif.

 Perbedaannya : Sifat perubahan : pada pertumbuhan perubahan bersifat kuantitatif

sedangkan pada perkembangan perubahan bersifat kualitatif fungsional.


HUBUNGAN PERTUMBUHAN DENGAN PERKEMBANGAN

 Perkembangan tidak terpisahkan dari pertumbuhan.

 Perkembangan terjadi dengan baik jika didukung oleh pertumbuhan yang normal

 Ada beberapa anak yang usianya sama atau hampir sama, tetapi tingkat perkembangan-

nya tak selalu sama.

 Ada beberapa anak yang berasal dari orang tua yang sama, tetapi kemampuan dan sifat-

sifatnya tak selalu sama.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang

1. Faktor genetik

 faktor keturunan -- masa konsepsi

 bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan

 menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata,

pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen

 Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara

positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.

2. Faktor eksternal / lingkungan

• mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat

menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan

• faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan,

sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya

a. Keluarga : nilai, kepercayaan, adat istiadat, dan pola interaksi dan komunikasi.

Fungsi :rasa aman, perkembangan emosi dan sosial, penjelasan mengenai dunia luar

(masyarakat dan dunia) dan membantu mempelajari peran dan perilaku


b. Kelompok teman sebaya : lingkungan yang baru dan berbeda, memberi pola dan

struktur yang berbeda dalam interaksi dan komunikasi, dan memerlukan gaya

perilaku yang berbeda.

fungsi: belajar kesuksesan dan kegagalan, mendapatkan penerimaan, dukungan dan

penolakan sebagai manusia

c. Pengalaman hidup : pengalaman hidup dan proses pembelajaran membiarkan

individu berkembang dengan mengaplikasikan apa yang telah dipelajari

Tahapan proses pembelajaran

- mengenali kebutuhan

- penguasaan ketrampilan

- menjalankan tugas

- integrasi ke dalam seluruh fungsi

- mengembangkan penampilan perilaku yang efektif

d. Kesehatan

- Tingkat kesehatan --- respon individu terhadap lingkungan

- Kesehatan prenatal (sebelum bayi lahir) mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan dari fetal (janin)

- Butuh Nutrisi adekuat

- Butuh Keseimbangan antara istirahat, tidur dan olahraga

- Kondisi sakit --- ketidakmampuan untuk melaksanakan tugas- tugas

perkembangan --- tumbuh kembang terganggu


e. Lingkungan tempat tinggal :kehidupan sehari-hari dan status sosial ekonomi

ASPEK PERKEMBANGAN

Perkembangan Fisik, mencakup:

– Pertumbuhan fisik& otak, panca indera, kemampuan motorik(gerak tubuh) & kesehatan

Perkembangan Kognitif, mencakup:

– Proses belajar, ingatan , pemahaman moral, bahasa, proses berfikir & kreatifitas

Perkembangan Psikososial, mencakup :

– Perkembangan kepribadian, emosi & relasi sosial

Periode Perkembangan Manusia Sepanjang Rentang Kehidupan


TEORI-TEORI TUMBUH KEMBANG

Development task theory (Robert Havighurst) --- 6 stages

1. Infancy & Early Childhood (masa bayi dan kanak-kanak awal)

– Belajar berjalan, mengambil makanan padat

– Belajar bicara

– Belajar mengontrol eliminasi (urin & fekal)

– Belajar tentang perbedaan jenis kelamin

– Membentuk konsep-konsep sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik

– Belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mengembangkan

hati nurani

– Belajar mengadakan hubungan emosi

2. Middle childhood (masa sekolah)

– Membangun perilaku yang sehat

– Belajar ketrampilan fisik melalui bermain

– Belajar bergaul dengan teman sebaya

– Belajar peran sosial terkait dengan maskulinitas dan feminitas

– Mengembangkan ketrampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung

– Mengembangkan konsep-konsep yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari

– Membangun moralitas, hati nurani dan nilai-nilai

– Pencapaian kemandirian

– Membangun perilaku dalam kelompok sosial maupun institusi (sekolah)


3. Adolescence (remaja )

– Membina hubungan baru yang lebih dewasa dengan teman sebaya baik laki

maupun perempuan

– Pencapaian peran sosial maskulinitas atau feminitas Pencapaian kemandirian

emosi dari orang tua, orang lain

– Pencapaian kemandirian dalam mengatur keuangan Menerima keadaan fisiknya

– Memilih dan mempersiapkan pekerjaan

– Mempersiapkan pernikahan dan kehidupan keluarga Membangun ketrampilan

dan konsep-konsep intelektual yang perlu bagi warga negara

– Pencapaian tanggungjawab sosial

– Memperoleh nilai-nilai dan etik sebagai penuntun dalam berperilaku

4. Early Adulthood (dewasa muda)

– Memilih pasangan

– Belajar hidup bersama orang lain sebagai pasangan

– Mulai berkeluarga

– Membesarkan anak

– Mengatur rumah tangga

– Mulai bekerja

– Mendapat tanggungjawab sebagai warga negara

– Menemukan kelompok sosial yang cocok

5. Middle-age (dewasa lanjut)

– Mendapat tanggungjawab sosial dan sebagai warga negara

– Membangun dan mempertahankan standard ekonomi keluarga


– Membimbing anak dan remaja untuk menjadi dewasa yang bertanggungjawab

dan menyenangkan

– Mengembangkan kegiatan-kegiatan di waktu luang

– Membina hubungan dengan pasangannya sebagai

– individu

– Mengalami dan menyesuaikan diri dengan beberapa perubahan fisik

– Menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua yang bertambah tua

6. Late maturity (usia lanjut)

– Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan

– Menyesuaikan diri dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin

berkurang

– Menyesuaikan diri dengan keadaan kehilangan pasangan (suami/istri)

– Membina hubungan dengan teman sesama usia lanjut

– Melakukan pertemuan-pertemuan sosial

– Membangun kepuasan kehidupan Kesiapan menghadapi kematian

Teori Perkembangan Psikoseksual (Sigmund Freud)

a. Tahap oral-sensori (lahir sampai usia 12 bulan)

karakteristik :

- aktivitas melibatkan mulut (sumber utama kenyamanan)

- Perasaan dependen (bergantung pada orang lain)


- Gangguan pd tahap ini --- kesulitan mempercayai orang lain, menunjukkan

perilaku seperti menggigit kuku, mengunyah permen karet, merokok,

menyalahgunakan obat, minum alkohol, makan terlalu banyak, overdependen.

b. Tahap anal-muskular (usia 1-3 tahun / toddler)

Karakteristik :

- Organ anus dan rectum merupakan sumber kenyamanan

- Masa “toilet training”

- Mengotori adalah aktivitas yang umum Gangguan pada tahap ini dapat

menimbulkan

- kepribadian obsesif-kompulsif seperti keras kepala,

- kikir, kejam dan tempertantrum

c. Tahap falik (3-6 tahun / pra sekolah)

Karakteristik :

- Organ genital sebagai sumber kenyamanan

- Dapat mengalami kompleks Oedipus atau kompleks Elektra

- Hambatan pada tahap ini dapat menyebabkan kesulitan dalam indentitas seksual

d. Tahap latensi (6-12 tahun / masa sekolah)

Karakteristik :

- energi digunakan untuk aktivitas fisik dan intelektual Ini adalah periode tenang,

dimana kegiatan sexual tidak muncul (tidur).

- Anak mungkin terikat dalam aktivitas erogenus (perasaan erotik) dengan teman

sebaya yang sama jenis kelaminnya.

- Penggunaanmekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini


- Konflik yang tidak diatasi pada masa ini dapat menyebabkan obsesif dan kurang

motivasi diri.

e. Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa)

Karakteristik :

- genital menjadi pusat dari tekanan dan kesenangan seksual

- Produksi hormon seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual

- Energi ditujukan untuk mencapai hubungan seksual yang matur

- Pada awal fase sering terjadi emosi yang belum matang, kemudian mulai

berkembang kemampuan untuk menerima dan memberi cinta


SEJARAH KEPERAWATAN

SEJARAH INTERNATIONAL

• Sejarah keperawatan di dunia diawali pada zaman purbakala (Primitive Culture) sampai

pada munculnya Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan yang berasal dari

Inggris.

• Perkembangan keperawatan sangat dipengaruhi oleh kemajuan peradaban manusia.

Zaman Purbakala (Primitive Culture)

• Manusia diciptakan memiliki naluri untuk merawat diri sendiri (tercermin pada seorang

ibu).

• Harapan pada awal perkembangan keperawatan adalah perawat harus memiliki naluri

keibuan (Mother Instinc).

• Masa Mother Instinc bergeser ke zaman dimana orang masih percaya pada sesuatu

tentang adanya kekuatan mistic yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia

(Animisme).

• Animisme meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan karena kekuatan

alam/pengaruh gaib seperti batu-batu, pohon- pohon besar dan gunung-gunung tinggi.

• Kemudian dilanjutkan dengan kepercayaan pada dewa-dewa dimana pada masa itu

mereka menganggap bahwa penyakit disebabkan karena kemarahan dewa sehingga kuil-

kuil didirikan sebagai tempat pemujaan dan orang yang sakit meminta kesembuhan di

kuil tersebut.

• Perkembangan keperawatan terus berubah dengan adanya Diakones & Philantrop : suatu

kelompok wanita tua dan janda yang membantu pendeta dalam merawat orang sakit,
• sejak itu mulai berkembanglah rumah2 perawatan awal perkembangan ilmu

keperawatan

Zaman Keagamaan

• Perkembangan keperawatan mulai bergeser kearah spiritual

• Seseorang yang sakit dapat disebabkan karena dosa/kutukan Tuhan.

• Pusat perawatan adalah tempat-tempat ibadah : pemimpin agama disebut sebagai tabib

yang mengobati pasien.

• Perawat dianggap sebagai budak dan yang hanya membantu dan bekerja atas perintah

pemimpin agama.

Zaman Masehi

• Keperawatan dimulai pada saat perkembangan agama Nasrani >>>>>banyak terbentuk

Diakones (suatu organisasi wanita yang bertujuan untuk mengunjungi orang sakit ;laki-

laki bertugas memberikan perawatan untuk mengubur bagi yang meninggal)

• Pada zaman ini berdirilah Rumah Sakit di Roma yaitu Monastic Hospital

• RS digunakan sbg tempat merawat orang sakit, cacat, miskin dan yatim piatu

• Perkembangan keperawatan mulai maju di daratan Benua Asia, khususnya Timur

Tengah, seiring dengan perkembangan Islam

• Muncul tokoh Islam dalam keperawatan Rufaidah

Zaman permulaan abad 21

• Masa perang eksplorasi alam pengetahuan berkembang pesat

• Keperawatan tidak lagi dikaitkan dengan keagamaan tetapi berubah kepada faktor

kekuasaan
• Tempat ibadah tidak lagi digunakan untuk merawat orang sakit

Zaman sebelum PD II

• Timbul prinsip rasa cinta dan saling bantu sesama manusia yang membutuhkan

• Tokoh keperawatan Florence Nightingale (1820-1910) menyadari pentingnya sekolah

untuk mendidik perawat

• Florence mendirikan sekolah, menetapkan tujuan pendidikan perawat dan pengetahuan

yang harus dimiliki perawat.

• Rintisan Florence dalam profesi keperawatan diawali dengan membantu korman perang

antara Roma dan Turki:

• Florence membangun RS Thomas di London

• Florence membangun sekolah perawatan Nightingale Nursing School

Masa PD II

• Timbul tekanan bagi dunia pengetahuan dalam penerapan teknologi akibat penderitaan

yang panjang

• Perlu meningkatkan diri dalam tindakan perawat mengingat penyakit dan korban perang

yang beragam.

Periode tahun 1950

• Perkembangan pada penataan sistem pendidikan

• Terbukti di Amerika dimulai pendidikan perawat setingkat master dan doktoral

• Penerapan proses keperawatan mulai dikembangkan (pengkajian, diagnosa,

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi).

Masa pascaperang dunia II


• Tuntutan perawat untuk meningkatkan masyarakat sejahtera semakin pesat akibat

pederitaan masy. karena PD II

• Sifat pekerjaan perawat dari individu bergeser ke arah pekerjaan bersifat tim

• Tahun 1948 perawat diakui sebagai profesi>>>timbul perhatian dalam pemberian

penghargaan pada perawat atas tanggung jawabnya dlm tugas.

SEJARAH NASIONAL

• Perkembangan perawatan di Indonesia dipengaruhi oleh kolonial penjajah (Jepang,

Belanda dan Inggris)

• Perkembangan keperawatan dibagi 2:

1. Masa sebelum kemerdekaan

2. Masa setelah kemerdekaan

1. Masa sebelum Kemerdekaan

Masa Indonesia masih dijajah Belanda. Perawat berasal dari penduduk pribumi

disebut “velpleger” dengan dibantu “zieken oppaser” sebagai penjaga orang sakit.

Perawat tsb pertama kali bekerja di rumah sakit Binnen Hospital di Jakarta yang

didirikan tahun 1799>>> tugas: memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda .

Pada masa VOC berkuasa, Gubernur Jendral Inggris Raffles (1812-1816), memiliki

semboyan “Kesehatan adalah milik manusia”. Pada saat itu Raffles melakukan

pencacaran umum, membenahi cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa serta

memperhatikan kesehatan dan perawatan tahanan.


Pada tahun 1819 didirikan beberapa rumah sakit. Salah satunya adalah rumah sakit

Sadsverband (di Glodok- Jakarta Barat}. Pada tahun 1919 rumah sakit tersebut

dipindahkan ke Salemba dan sekarang dengan nama RS. Cipto Mangunkusumo

(RSCM).

Dalam kurun waktu 1816-1942 telah berdiri beberapa rumah sakit swasta milik

misionaris katolik dan protestan seperti:

- RS. Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Cikini-Jakarta Pusat,

- RS. St. Carolos Salemba-Jakarta Pusat.

- RS. St Bromeus di Bandung

- RS. Elizabeth di Semarang.

Bahkan pada tahun 1906 di RS. PGI dan tahun 1912 di RSCM telah

menyelenggarakan pendidikan juru rawat. Namun kedatangan Jepang (1942-1945)

menyebabkan perkembangan keperawatan mengalami kemunduran

2. Masa setelah Kemerdekaan

Terdapat pendidikan perawat dengan dasar, lulusannya disebut mantri juru rawat.

Tahun 1953 dibuka sekolah pengatur rawat dengan tujuan menghasilkan tenaga perawat

yang lebih berkualitas. Pada tahun 1955, dibuka Sekolah Djuru Kesehatan (SDK)

dengan pendidikan SR ditambah pendidikan satu tahun dan sekolah pengamat kesehatan

sebagai pengembangan SDK, ditambah pendidikan lagi selama satu tahun.

Pada tahun 1962 dibuka Akademi Keperawatan dengan pendidikan dasar umum

SMA di Jakarta, di RS. Cipto Mangunkusumo. Sekarang dikenal dengan nama Akper

Depkes di Jl. Kimia No. 17 Jakarta Pusat.


Periode 1945-1962

• 1945 s/d 1950 merupakan masa transisi pemerintahan NKRI

• Perkembangan keperawatan pun masih jalan di tempat.

• pengembangan tenaga keperawatan yang masih menggunakan sistem pendidikan

yang telah ada, yaitu perawat lulusan pendidikan Belanda, untuk ijazah A

(perawat umum) dan ijazah B untuk perawat jiwa.

Periode 1963 – 1983

• Periode ini masih belum banyak perkembangan dalam bidang keperawatan.

• Pada 17 April 1972, lahir organisasi profesi dengan nama Persatuan Perawat

Nasional Indonesia (PPNI) di Jakarta.

• merupakan suatau langkah maju dalam perkembangan

keperawatan.

• Namun baru mulai tahun 1983 organisasi profesi ini terlibat penuh dalam

pembenahan keperawatan melalui kerjasama dengan Depkes dan organisasi

lainnya.

Walupun sudah ada pendidikan tinggi namun pola pengembangan pendidikan

keperawatan belum tampak. Hal tsb ditinjau dari kelembagaan organisasi di rumah sakit

dan juga dari masih berorientasinya perawat pada keterampilan tindakan dan belum

dikenalkannya konsep kurikulum keperawatan.

Konsep-konsep perkembangan keperawatan belum jelas, dan bentuk kegiatan

keperawatan masih berorientasi pada keterampilan prosedural yang lebih dikemas

dengan perpanjangan dari pelayanan medis.


Periode 1984 Sampai Dengan Sekarang

• Pada tahun 1985, resmi dibukanya pendidikan S1 keperawatan dengan nama

PSIK di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta.

• Sejak saat itulah PSIK-UI telah menghasilkan tenaga keperawatan tingkat

sarjana sehingga pada tahun 1992 dikeluarkannya UU No. 23 tentang kesehatan

yang mengakui tenaga keperawatan sebagai profesi.

• Pada tahun 1996 dibuka PSIK di Universitas Padjajaran Bandung.

• Pada tahun 1997 PSIK-UI berubah statusnya menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan

Universitas Indonesia (FIK-UI)

• Guna meningkatkan kualitas lulusan, pada tahun 1998 kurikulum pendidikan Ners

disyahkan dan digunakan.

• Selanjutnya juga pada tahun 1999 kurikulum D-III keperawatan mulai dibenahi dan

mulai digunakan pada tahun 2000

MODEL KEPERAWATAN

Model keperawatan Vokasional (abad 19)

• Berkembangnya pendidikan keperawatan non formal, pendidikan diberikan melalui

pelatihan-pelatihan model vokasional dan dipadukan dengan latihan kerja.

Model keperawatan kuratif (1920)

• Pelayanan pengobatan menyeluruh bagi masyarakat dilakukan oleh perawat seperti

imunisasi/vaksinasi, dan pengobatan penyakit seksual.


Keperawatan semi professional

• Tuntutan kebutuhan akan pelayanan kesehatan (keperawatan) yang bermutu oleh

masyarakat, menjadikan tenaga keperawatan dipacu untuk meningkatkan pengetahuan

dan ketrampilan dibidang keperawatan. Pendidikan-pendidikan dasar keperawatan

dengan sistem magang selama 4 tahun bagi lulusan sekolah dasar mulai bermunculan.

Keperawatan preventif

• Pemerintahan belanda menganggap perlunya hygiene dan sanitasi serta penyuluhan

dalam upaya pencegahan dan pengendalian wabah,

• timbul kesadaran bahwa tindakan kuratif hanya berdampak minimal bagi masyarakat

dan hanya ditujukan bagi mereka yang sakit.

• Pada tahun 1937 didirikan sekolah mantri higene di Purwokerto, pendidikan ini terfokus

pada pelayanan kesehatan lingkungan dan bukan merupakan pengobatan.

Menuju keperawatan professional

• sejak Indonesia merdeka (1945) perkembangan keperawatan mulai nyata dengan

berdirinya sekolah pengatur rawat (SPR) yang bertujuan untuk menunjang pelayanan

kesehatan di rumah sakit.

• Pendidikan itu diperuntukan bagi mereka lulusan SLTP ditambah pendidikan selama 3

tahun

• didirikan sekolah bagi guru perawat dan bidan untuk menjadi guru di SPR.

• Perkembangan keperawatan semakin nyata dengan didirikannya organisasi Persatuan

Perawat Nasional Indonesia tahun 1974


Keperawatan professional

• Melalui lokakarya nasional keperawatan dengan kerjasama antara Depdikbud RI,

Depkes RI dan DPP PPNI, ditetapkan definisi, tugas, fungsi dan kompetensi tenaga

perawat professional di Indonesia.

• Diilhami dari hasil lokakarya itu maka didirikanlah akademi keperawatan, kemudian

disusul pendirian PSIK FK-UI (1985) dan kemudian didirikan pula program pasca

sarjana (1999).
TRANSKULTURAL

Trankultural nursing dikembangkan oleh Medeleine Leininger. Menurut Leininger dasar

penjabaran konsep keperawatan adalah perbedaan nilai-nilai cultural dalam masyarakat.

“Sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam

penerapan asuhan keperawatan kepada klien”.

Pada pertengan tahnu 1950 Leininger bekerja sebagai perawat spesialis anak di

Midwestern United States. Leininger menemukan bahwa terdapat perbedaan perilaku anak-anak

yang didasari oleh perbedaan budaya. Leininger mengidentifikasi keterbatasan pengetahuan

perawat untuk memahami budaya anak dan hal ini menjadi suatu kekurangan dalam pelayanan

keperawatan kepada klien.

Pada tahun 1966 Penyampaian konsep transcultural nursing dalam kursus/seminar.

Transcultural nursing merupakan Bagian atau cabang perawatan yang difokuskan pada studi

komparatif dan analisis budaya dengan tetap memperhatikan perawatan dan sehat-sakit serta

keyakinan dan nilai-nilai yang bertujuan memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang lebih

berarti dan lebih nyata dalam membantu pasien berdasarkan nilai-nilai budaya dan konteks sehat

sakit.

Pada tahun 1991, Leininger Budaya merupakan nilai-nilai, keyakinan, dan cara hidup

dari setiap kelompok yang dipelajari, ditrasmisikan, yang menuntun untuk berfikir,

mengambil keputusan, dan bertindak.

Menurut Leininger budaya atau culture dapat memberikan informasi bagi perawat dalam

menentukan jenis perawatan yang diinginkan oleh pasien dari pemberi pelayanan kesehatan,
karena budaya merupakan pola kehidupan masyarakat yang berpengaruh terhadap keputusan

dan tindakan.

Dalam kondisi dimana terjadi perubahan kesehatan, diperlukan suatu proses adaptasi

selama masa penyembuhan. Dalam konteks budaya, setiap individu akan mempertahankan

tradisi lama dalam meningkatkan kesehatan.

Leininger berpendapat tindakan keperawatan menjembatangani Kebutuhan masyarakat

awam dengan sistem professional.

Kebutuhan masyarakat awam dengan sistem profesional

1. Manusia :diyakini mampu merawat dan memenuhi kebutuhan, kesehatan dan bertahan

hidup. Manusia mampu bertahan dalam berbagai budaya pada tempat dan waktu.

Contoh: dapat ditunjukkan oleh kesiapannya dalam mengasuh bayi, anak, dan orang tua

dengan berbagai macam cara dan lingkungan yang berbeda pula.

2. Kesehatan : Kondisi sehat yang dicapai merupakan refleksi kemampuan individu atau

kelompok untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu perawat diharapkan

mempunyai pengetahuan yang spesifik tentang budaya yang dipakai dalam praktek

keperawatan.

3. Lingkungan : Lingkungan diterjemahkan sebagai segala situasi, kejadian dan

pengalaman. Budaya sebagai hasil dari belajar, sharing, dan penyampai- an nilai,

keyakinan, norma dan cara hidup yang ada dalam suatu lingkungan kehidupan.

4. Keperawatan : Profesi esensial yang memperhatikan aspek budaya dalam memberikan

layanan keperawatan
3 model praktik keperawatan yang dengan dasar budaya untuk mencapai keseimbangan

antara kebutuhan dan nilai-nilai klien, yaitu: (Leininger)

1. cultural care preservation : Upaya untuk mempertahankan dan menfasilitasi tindakan

profesional untuk mengambil keputusan dalam memelihara dan menjaga nilai-nilai

pada individu/kelompok, sehingga dapat mempertahankan kesejahteraan klien,

sembuh dari sakit serta mampu menghadapi kecacatan/kematian.

2. cultural care accomodation : Teknik negosiasi dalam menfasilitasi sekelompok orang

dengan budaya tertentu untuk memutuskan tindakan yang tepat.

3. cultural care repatterning : Upaya perumusan ulang dari fasilitasi tindakan dan

pengambilan keputusan profesional sehingga diharapkan dapat membawa perubahan

cara hidup dan pandangan sekelompok individu.

SUNRISE MODEL

Klien: pengetahuan dan pemahaman akan budaya yang dimiliki oleh klien sebagai suatu

kekuatan utama.