Anda di halaman 1dari 25

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Post partum merupakan suatu periode dalam minggu-minggu pertama
setelah kelahiran. Lamanya periode ini tidak pasti, sebagian besar
mengganggapnya antara 4 sampai 6 minggu. Walaupun merupakan masa yang
relatif tidak komplek dibandingkan dengan kehamilan, nifas ditandai oleh
banyaknya perubahan fisiologi. Beberapa dari perubahan tersebut mungkin
hanya sedikit mengganggu ibu baru, walaupun komplikasi serius juga sering
terjadi.
Asuhan keperawatan pasca persalinan diperlukan untuk meningkatkan
status kesehatan ibu dan anak. Masa nifas di mulai setelah dua jam lahirnya
plasenta atau setelah proses persalinan kala 1 sampai IV selesai. Berakhirnya
proses persalinan bukan berarti ibu terbebas dari bahaya atau komplikasi.
Berbagai komplikasi dapat dialami ibu pada masa nifas dan bila tidak
tertangani dengan baik akan memberi kontribusi yang cukup besar terhadap
tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui faktor risiko perdarahan post partum
2. Untuk mengatahui intervensi dini terhadap faktor risiko perdarahan post
partum

1
BAB 2 TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Perdarahan pasca persalinan didefinisikan sebagai kehilangan 500 ml
atau lebih darah setelah persalinan pervaginam atau 1000 ml atau lebih
setelah seksio sesaria (Kenneth, 2009). Hal tersebut sejalan dengan pendapat
Wiknjosastro (2010) yang mengatakan perdarahan postpartum adalah
perdarahan 500cc atau lebih setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir).
Perdarahan setelah melahirkan atau hemmorrhagic postpartum (HPP) adalah
konsekuensi perdarahan berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di
traktus genetalia dan struktur sekitarnya, atau keduanya (Walyani, 2015).

B. Klasifikasi HPP
Perdarahan postpartum dibagi atas dua bagian menurut waktu
terjadinya
(Manuaba, 2001):
1. Perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorrhage) ialah
perdarahan >500 cc yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir.
2. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) ialah
perdarahan >500 cc setelah 24 jam pasca persalinan.
Selaras dengan Mochtar (2011) juga mengklasifikasikan perdarahan
postpartum menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian:
1. Perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorrhage) yang
terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir.
2. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) yang
terjadi setelah 24 jam, biasanya antara hari ke 5 sampai 15 postpartum.
Kemenkes RI (2013) juga mengatakan, perdarahan pascasalin primer
terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan, sementara perdarahan
pascasalin sekunder adalah perdarahan pervaginam yang lebih banyak dari
normal antara 24 jam hingga 12 minggu setelah persalinan.

2
C. Etiologi
Perdarahan setelah melahirkan menurut Walyani (2015), disebabkan
karena atonia uteri, retensio plasenta, dan robekan jalan lahir. Mochtar (2011)
menyebutkan, etiologi perdarahan postpartum yakni atonia uteri, sisa plasenta
dan selaput ketuban, robekan jalan lahir (robekan perineum, vagina serviks,
forniks dan rahim), serta kelainan pada darah. Penyebab utama perdarahan
postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta dan
robekan jalan lahir. Penyebab utama perdarahan postpartum sekunder adalah
robekan jalan lahir dan sisa plasenta (Manuaba, 2001). Etiologi perdarahan
postpartum dini diantaranya atonia uteri, laserasi jalan lahir, hematoma, dan
lain-lain (sisa plasenta atau selaput janin, ruptura uteri, inversio uteri), serta
etiologi perdarahan postpartum lambat yakni tertinggalnya sebagian plasenta,
subinvolusi di daerah insersi plasenta, luka bekas seksio sesarea.
(Winkjosastro, 2010).
Faktor Predisposisi terjadinya atonia uteri adalah umur yang terlalu tua
atau muda, paritas yang sering dijumpai pada multipara dan grandemultipara,
partus lama dan partus terlantar, obstetri operatif dan narkoba, uterus terlalu
regang dan besar (misalnya pada gemeli, hidramnion, dan janin besar),
kelainan pada uterus (seperti mioma uteri, uterus couvelair pada solusio
plasenta) dan faktor sosio ekonomi yaitu malnutrisi (Mochtar, 2011).
Departemen kesehatan RI menyebutkan bahwa kematian ibu akibat
perdarahan postpartum dapat dicegah melalui deteksi dini adanya faktor
resiko. Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian perdarahan
pascapersalinan pada kehamilan, antara lain placenta previa, atonia uteri,
infeksi penyakit, gizi buruk, eklamsia, paritas ibu hamil, anemia kehamilan,
jarak persalinan, usia kehamilan, umur ibu, riwayat pemeriksaan kehamilan
(ANC), dan riwayat persalinan terdahulu.(Manuaba, 2001).
D. Patofisiologi
a. Atonia uteri
Atonia uteri yakni keadaan lemahnya tonus/kontraksi rahim yang
menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari
tempat implantasi plasenta setelah bayi lahir dan plasenta lahir. Pada

3
atonia uteri, uterus tidak mengadakan kontraksi dengan baik, dan ini
merupakan sebab utama dari perdarahan postpartum (Walyani, 2015).
Uterus yang sangat teregang (hidramnion, kehamilan ganda atau
kehamilan dengan janin besar), partus lama dan pemberian narkosis
merupakan predisposisi terjadinya atonia uteri (Wiknjosastro, 2005).
b. Retensio plasenta
Perdarahan akibat Retensio plasenta yakni perdarahan yang disebabkan
karena plasenta belum lahir hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah
bayi lahir. Hal itu disebabkan karena plasenta belum lepas dari dinding
uterus atau plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan
(Wiknjosastro, 2010). Menurut Mochtar (2011), sebab-sebabnya adalah :
1) Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh melekat
lebih dalam, yang menurut tingkat pelekatannya dibagi menjadi (a)
Plasenta adhesiva, yang melekat pada desidua endometrium lebih
dalam; (b) Plasenta inkreta, dimana vili khorialis tumbuh lebih dalam
dan menembus desidua sampai ke miometrium; (c) Plasenta akreta,
yang menembus lebih dalam kedalam miometrium tetapi belum
menembus serosa; (d) Plasenta parkreta, yang menembus sampai
serosa atau peritoneum dinding rahim.
2) Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan
menyebabkan perdarahan yang banyak. Atau karena adanya lingkaran
konstriksi pada bagian bawah rahimakibat kesalahan penanganan kala
III, yang menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata)
c. Robekan jalan lahir
Perdarahan akibat robekan jalan lahir adalah perdarahan yang terjadi
karena adanya robekan pada jalan lahir (perineum, vulva, vagina, portio,
atau uterus). Robekan pada perineum, vulva, vagina dan portio biasa
terjadi pada persalinan pervaginam (Manuaba,2001). Perdarahan dalam
keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik,
dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan
lahir. (Walyani, 2015).

4
d. Kelainan pada Darah
Perdarahan dapat terjadi karena terdapat kelainan pada pembekuan darah.
Sebab tersering perdarahan postpartum adalah atonia uteri, yang disusul
dengan tertinggalnya sebagian plasenta. Namun, gangguan pembekuan
darah dapat pula menyebabkan perdarahan postpartum. Hal ini
disebabkan karena defisiensi faktor pembekuan dan atau penghancuran
fibrin yang berlebihan (Wiknjosastro, 2010).
e. Sisa plasenta
Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus,
sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka sehingga terjadi
perdarahan (Wiknjosastro, 2010).
f. Inversio uteri
Inversio uteri sangat jarang terjadi. Menurut kepustakaan angka
kejadiannya adalah 1 : 5000-20000 persalinan. Sebab inversio uteri yang
tersering adalah kesalahan dalam memimpin kala III, yaitu menekan
fundus terlalu kuat dan menarik tali pusat pada plasenta yang belum
terlepas dari insersinya (Wiknjosastro, 2010).

5
PATHWAY

Etiologi

Atonia uteri Episiotomi, Retensio plasenta Inversio uteri


robekan serviks,
Kegagalan robekan perinium Plasenta tidak dapat Fundus uteri
miometrium terlepas/masih ada terbalik
berkontraksi Terputusnya sisa plasenta dalam sebagian/selur
kontinuitas rahim uhnya masuk
Uterus dalam pembuluh darah dalam cavum
keadaan relaksasi, Mengganggu uteri
melebar & lembek kontraksi uterus
Lingkaran
Pembuluh darah Pembuluh darah kontruksi
tak mampu tidak dapat menutup uterus akan
kontraksi mengecil

Pembuluh darah Uterus akan


tetap terbuka Perdarahan Post Partum terisi darah

Penurunan cairan Berlangsung Episiotomi, robekan


intravaskuler terus-menerus serviks, robekan
perinium
Hemoglobin dalam Penurunan
darah menurun cairan Prosedur invasif Terbentuknya
intraseluler pintu masuk
Suplay oksigen ke dalam jumlah virus dan
jaringan menurun banyak Terputusnya bakteri
(hipoksia) kontinuitas jaringan
Rentan Virus dan
hipovolemik Nyeri Akut bakteri masuk
5L, mukosa pucat,
akral dingin, menyebabkan
konjungtiva Resiko syok infeksi
anemis, nadi cepat hipovolemik
tapi lemah Risiko infeksi

Ketidakffektifan
perfusi jaringan
perifer

E. Manisfestasi Klinis
Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10%
dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik, gejala-gejala baru
tampak pada kehilangan darah sebanyak 20%. Gejala klinis umum yang biasa

6
terjadi pada perdarahan post partum adalah kehilangan darah dalam jumlah
yang banyak (lebih dari 500 cc), nadi lemah, pucat, ekstremitas dingin, lochia
berwarna merah, haus, pusing, gelisah, mual, tekanan darah lemah dan dapat
terjadi syok hipovolemik (Wiknjosastro, 2005).
F. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis biasanya tidak sulit bila timbul perdarahan banyak dalam
waktu pendek. Tetapi apabila perdarahan sedikit dalam waktu lama, tanpa
disadari penderita telah kehilangan banyak darah. Beberapa gejala yang bisa
menunjukkan perdarahan postpartum yakni terdapat pengeluaran darah yang
tidak terkontrol, penurunan tekanan darah, peningkatan detak jantung,
penurunan hitung sel darah merah (hematokrit) dan pembengkakan dan nyeri
pada jaringan daerah vagina dan sekitar perineum (Wiknjosastro, 2010).
Pada tiap-tiap perdarahan postpartum harus dicari apa penyebabnya.
Secara ringkas membuat diagnosis adalah sebagai berikut:
a. Palpasi uterus: bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
b. Memeriksa plasenta dan ketuban: apakah lengkap atau tidak
c. Lakukan eksplorasi kavum uteri untuk mencari sisa plasenta dan ketuban,
robekan rahim, plasenta suksenturiata
d. Inspekulo: untuk melihat robekan pada vagina, serviks, dan varises yang
pecah
e. Pemeriksaan laboratorium: pemeriksaan darah, Hb, clot bservation test
(COT), dan lain-lain (Mochtar, 2011).
G. Komplikasi
Menurut Oxorn Forte (2010), bahaya perdarahan postpartum ada dua yakni:
a. Anemia yang diakibatkan perdarahan tersebut memperlemah keadaan
pasien, menurunkan daya tahannya dan menjadi factor predisposisi
terjadinya infeksi nifas.
b. Jika kehilangan darah ini tidak dihentikan, akibat akhir tentu saja
kematian.
H. Penatalaksanaan
Menurut Rukiyah (2010), langkah-langkah penanganan perdarahan
primer maupun sekunder adalah:

7
a. Langkah penanganan perdarahan postpartum primer
1) Pijat uterus agara berkontraksi dan keluarkan bekuan darah.
2) Kaji kondisi pasien (denyut jantung, tekanan darah, warna kulit,
kesadaran, kontraksi uterus) dan perkirakan banyaknya darah yang
keluar.
3) Berikan oksitosin (10 IU IV dan ergometrin 0,5 IV. Berikan melalui
IM apabila tidak bisa melalui IV).
4) Siapkan donor untuk transfuse, ambil darah untuk kroscek, berikan
NaCl 11/15 menit.
5) apabila pasien mengalami syok (pemberian infuse sampai sekitar 3 Lt
untuk mengatasi syok).
6) Kandung kemih selalu dalam kondisi kosong.
7) Awasi agar uterus dapat terus berkontraksi dengan baik
8) Jika perdarahan persisten dan uterus tetap rileks, lakukan kompresi
bimanual.
9) Jika perdarahan persisten dan uterus berkontraksi dengan baik, maka
lakukan pemeriksaan pada vagina dan serviks untuk menemukan
laserasi yang menyebabkan perdarahan tersebut.
10) Jika ada indikasi bahwa mungkin terjadi infeksi yang diikuti dengan
demam, menggigil, lokhea yang berbau busuk, segera berikan
antibiotik berspektrum luas.
11) Lakukan pencatatan yang akurat.
b. Langkah penanganan perdarahan postpartum sekunder
1) Prioritas dalam penatalaksanaan HPP sekunder (sama dengan HPP
primer).
2) Masukkan pasien ke rumah sakit sebagai salah satu kasus
kedaruratan.
3) Percepatan kontraksi dengan cara melakukan massage uterus, jika
uterus masih teraba.
4) Kaji kondisi pasien, jika pasien di daerah terpencil mulailah sebelum
dilakukan rujukan.
5) Berikan oksitosin (oksitosin 10 IU IV dan ergometrin 0,5 IV.

8
6) Berikan melalui IM apabila, tidak bisa melalui IV)
7) Siapkan darah untuk transfuse, ambil darah untuk cross cek, berikan
NaCl 11/15 menit apabila pasien mengalami syok (pemberian infuse
sampai sekitar 3 Lt untuk mengatasi syok), pada kasus syok yang
parah gunakan plasma ekspander.
8) Awasi agar uterus tetap berkontraksi dengan baik.
9) Tambahkan 40 IU oksitosin dalam 1 liter cairan infuse dengan tetesan
40 tetes/menit.
10) Berikan antibiotic berspektrum luas.
11) Jika mungkin siapkan pasien untuk pemeriksaan segera di bawah
pengaruh anastesi.
c. Langkah penanganan syok hipovolemik
Syok hemoragik secara khusus merupakan hilangnya darah secara akut
dalam jumlah yang signifikan dalam rongga dada atau abdomen sehingga
volume sirkulasi menjadi tidak adekuat. Syok hemoragik diklasifikasikan
menjadi 4 derajat, yaitu (Vincent, 2013):

Tujuan utama dalam mengatasi syok hipovolemik adalah (1) memulihkan


volume intravascular untuk membalik urutan peristiwa sehingga tidak
mengarah pada perfusi jaringan yang tidak adekuat. (2) meredistribusi

9
volume cairan, dan (3) memperbaiki penyebab yang mendasari
kehilangan cairan secepat mungkin. Jika pasien sedang mengalami
hemoragi, upaya dilakukan untuk menghentikan perdarahan mencakup
pemasangan tekanan pada tempat perdarahan atau mungkin diperlukan
pembedahan untuk menghentikan perdarahan internal. Pemasangan dua
jalur intra vena dengan jarum besar dipasang untuk membuat akses intra
vena guna pemberian cairan. Maksudnya memungkinkan pemberian
secara simultan terapi cairan dan komponen darah jika diperlukan.
Contohnya : Ringer Laktat dan Natrium clorida 0,9 %, Koloid (albumin
dan dekstran 6 %). Pemberian posisi trendelenberg yang dimodifikasi
dengan meninggikan tungkai pasien, sekitar 20 derajat, lutut diluruskan,
trunchus horizontal dan kepala agak dinaikan. Tujuannya, untuk
meningkatkan arus balik vena yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1) Kaji jumlah kehilangan volume cairan dan mulai lakukan
penggantian cairan sesuai order. Pastikan golongan darah untuk
pemberian terapi transfusi
2) Kaji AGD/Analisa Gas Darah, jika pasien mengalami cardiac atau
respiratory arrest lakukan CPR
3) Berikan terapi oksigen sesuai order. Monitor saturasi oksigen dan
hasil AGD untuk mengetahui adanya hypoxemia dan mengantisipasi
diperlukannya intubasi dan penggunaan ventilasi mekanik. Atur
posisi semi fowler untuk memaksimalkan ekspansi dada. Jaga pasien
tetap tenang dan nyaman untuk meminimalkan kebutuhan oksigen
4) Monitor vital sign, status neurologis, dan ritme jantung secara
berkesinambungan. Observasi warna kulit dan cek capillary refill
5) Monitor parameter hemodinamik, termasuk CVP, PAWP, dan cardiac
output, setiap 15 menit, untuk mengevaluasi respon pasien terhadap
treatmen yang sudah diberikan
6) Monitor intake dan output. Pasang selang cateter dan kaji urin output
setiap jam. Lapor dokter jika urin output tidak meningkat
7) Berikan transfuse sesuai lorder, monitor Hb secara serial dan HCT

10
8) Berikan Dopamin atau norepineprin I.V., sesuai order untuk
meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi renal
9) Awasi tanda-tanda adanya koagulopati seperti petekie, perdarahan,
catat segera
10) Berikan support emosional
11) Siapkan pasien untuk dilakukan pembedahan, jika perlu.
(Dewi & Rahayu, 2010).
Pemantauan yang perlu dilakukan dalam menentukan kecepatan infus:
Nadi: nadi yang cepat menunjukkan adanya hipovolemia. Tekanan darah:
bila tekanan darah < 90 mmHg pada pasien normotensi atau tekanan
darah turun > 40 mmHg pada pasien hipertensi, menunjukkan masih
perlunya transfuse cairan. Produksi urin. Pemasangan kateter urin
diperlukan untuk mengukur produksi urin. Produksi urin harus
dipertahankan minimal ½ ml/kg/jam. Bila kurang, menunjukkan adanya
hipovolemia. Cairan diberikan sampai vena jelas terisi dan nadi jelas
teraba. Bila volume intra vaskuler cukup, tekanan darah baik, produksi
urin < 1/2 ml/kg/jam, bisa diberikan Lasix 20-40 mg untuk
mempertahankan produksi urine. Dopamin 2-5 μg/kg/menit bisa juga
digunakan pengukuran tekanan vena sentral (normal 8-12 cmH2O), dan
bila masih terdapat gejala umum pasien seperti gelisah, rasa haus, sesak,
pucat, dan ekstremitas dingin, menunjukkan masih perlu transfusi cairan
(Dewi & Rahayu, 2010).
I. Asuhan Keperawatan
1. Riwayat kesehatan
Hal penting yang perlu dikaji adalah riwayat penyakit sekarang, dahulu
dan keluarga, hal-hal yang perlu ditanyakan misalnya riwayat kehamilan:
riwayat hipertensi dalam kehamilan, preeklamsi / eklamsia, bayi besar,
gamelli, hidroamnion, grandmulti gravida, anemia, perdarahan saat hamil.
Persalinan dengan tindakan, robekan jalan lahir, partus precipitatus,
partus lama/kasep, chorioamnionitis, induksi persalinan, manipulasi,
tanyakan juga adakah kelemahan,serta perasaan pusing.

11
a. Pemeriksaaan fisik
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui adanya
gangguan lain atau masalah lain yang berhubungan, fokus pengkajian
adalah:
1) Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital dalam batas normal
2) Inspeksi
Inspeksi perineum apakah ada memar, bengkak, dan karakteristik
episiotomi.
Kaji karakter lokia, yakni warna, bau dan jumlah.
Pervaginam: keluar darah, robekan. Inspeksi kaki apakah ada
edema atau goresan merah.
Inspeksi tanda-tanda anemia.
3) Palpasi
Palpasi apakah uterus lembek, lokasi dan nyeri tekan
Palpasi adakah nyeri tekan, hangat, benjolan, dan nyeri pada kaki
Kulit apakah dingin, berkeringat, kering, hangat, pucat, capilary
refil memanjang
Kandung kemih : distensi, produksi urin menurun/berkurang.
4) Pemeriksaan Penunjang
No. Jenis pemeriksaan Nilai normal Manfaat

1. Hitung darah Hb: 12-16 Untuk menetukan tinghkat


lengkap gr/dL hemoglobin (Hb) dan
hematocrit (Hct), melihat
Hct: 12-16
adanya trombositopenia, serta
gr/dL
jumlah leukosit. Pada keadaan
yang disertai dengan infeksi.

2. Menentukan Dengan hitung protombrin time


adanya gangguan (PT) dan activated Partial
kongulasi Tromboplastin Time (aPTT)
atau yang sederhanadengan

12
Clotting Time (CT) atau
Bleeding Time (BT). Ini
penting untuk menyingkirkan
garis spons desidua.

J. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
jumlah hemoglobin dalam darah, perdarahan pasca persalinan
3. Risiko syok hipovolemik
4. Risiko infeksi
K. Intervensi keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
1. Nyeri akut Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
berhubungan Setelah dilakukan tindakan - Lakukan pengkajian nyeri
dengan agens keperawatan selama 1x8 jam, komprehensif yang meliputi
cedera fisik nyeri dapat teratasi dengan lokasi, karakteristik ,onset
kriteria hasil: /durasi, frekuensi dan kualitas
1. Nyeri yang dilaporkan dan intensitas atau beratnya
dari skala 3 (sedang) ke nyeri
skala 4 (ringan) - Observasi adanya petunjuk
2. Ekspresi nyeri wajah non verbal mengenai
dari skala 3 (sedang) ke ketidaknyamanan
skala 4 (ringan) - Gali pengetahuan dan
3. Tidak bisa beristirahat kepercayaan pasien mengenai
dari skala 3 (sedang) ke nyeri
skala 4 (ringan) - Evaluasi pengalaman nyeri
pasien dan tim kesehatan
lainya mengenai efektifitas
tindakan
- Berikan informasi mengenai
nyeri, seperti penyebab nyeri
berapa lama nyeri akan
dirasakan antisipasi
ketidaknyamanan akibat
prosedur
- Gali penggunaan metode
farmakologi yang dipakai
pasien saat ini untuk
menurunkan nyeri
- Dorong pasien

13
untukmenggunakan obat –
obatan penurun nyeri yang
adekuat
- Ajarkan prinsip manejemen
nyeri
- Kolaborasi dengan pasien,
orang terdekat dan tim
kesehatan lainnya

Pemberian Obat
- Pertahankan aturan dan
prosedur yang sesuai dengan
keakuratan dan keamanan
pemberian obat-obatan
- Ikuti prosedur lima benar
dalam pemberian obat
- Catat alergi yag dialami klien
sebelum pemberian obat
- Beritahukan klien mengenai
jenis obat alasan pemberian
obat dan hasil yang di
harapkan
- Siapkan obat-obatan dengan
menggunakan peralatan yang
sesuai selama pemberian terapi

2. Ketidakefektifan Status sirkulasi Manajemen Elektrolit/ cairan


perfusi jaringan Setelah dilakukan tindakan - Monitor perubahan status paru
perifer keperawatan selama 1x8 jam, atau jantung yang
berhubungan perfusi jaringan menjadi menunjukkan kelebihhan
dengan penurunan efektif dengan kriteria hasil: cairan atau dehidrasi
jumlah 1. Tekanan darah sistol dari - Berikan cairan, yang sesuai
hemoglobin skala 4 (deviasi ringan - Monitor tanda-tanda vital yang
dalam darah, dari kisaran normal) ke sesuai
perdarahan pasca skala 5 (tidak deviasi - Timbang berat badan harian
persalinan dari kisaran normal) dan pantau gejala
2. Tekanan darah diastol - Jaga infus intravena yang tepat
dari skala 4 (deviasi ,transfuse darah,atau laju aliran
ringan dari kisaran enternal , terutama jika tidak di
normal) ke skala 5 (tidak atur pompa
deviasi dari kisaran - pantau adanya tanda gejala
normal) retens i cairan
3. Tekanan nadi dari skala - Monitor hasil
4 (deviasi ringan dari - laboratorium yang relevan
kisaran normal) ke skala dengan keseimbangan cairan
5 (tidak deviasi dari misalnya hemetokrin protein
kisaran normal) BUN , albumin protein total
4. Capillary refill dari dan urin spesifik tingkat

14
skala 4 (deviasi ringan grafitasi
dari kisaran normal) ke
skala 5 (tidak deviasi
dari kisaran normal)

3. Risiko syok Keparahan syok:hipovolemik Manajemen hipovolemi


hipovolemik Setelah dilakukan tindakan - Monitor status hemodinamik
keperawatan selama 1x8 jam, - Monitor adanya tanda
syok hipovolemik tidak dehidrasi
terjadi dengan kriteria hasil :
- Monitor asupan dan
1. Penurunan tekanan darah
sistolik dari skala 4 pengeluaran
(ringan) ke skala 5 (tidak - Dukung asupan cairan oral
ada) - Jaga kepatenan akses IV
2. Penurunan tekanan darah - Berikan transfuse darah
diastolik dari skala 4 - Instruksikan pada pasien untuk
(ringan) ke skala 5 (tidak menghindari posisi yang
ada)
berubah cepat, khususnya dari
3. Melambat waktu
pengisian kapiler dari posisi telentang pada posisi
skala 4 (ringan) ke skala 5 duduk atau berdiri
(tidak ada) - Implementasikan posisi
4. Nadi lemah dan halus dari trendelenburg yang
skala 4 (ringan) ke skala 5 dimodifikasi saat hipotensi
(tidak ada)
5. Akral dingin, kulit lembab
/basah dari skala 4
(ringan) ke skala 5 (tidak
ada)
4. Risiko infeksi Kontrol Risiko Kontrol infeksi
Setelah dilakukan tindakan - Kaji tanda-tanda terjadinya
selama 1x24 jam, masalah infeksi (Hasil Lab, dll)
teratasi dengan kriteria hasil: - Lakukan pencucian tangan
1. Pasien bebas dari tanda pada 5 momen
dan gejala infeksi - Lakukan tindakan pencegahan
2. Jumlah leukosit dalam infeksi dengan melakukan
batas normal (4.300- tindakan secara aseptic
10.800/mm3) - Batasi jumlah pengunjung
- Anjurkan pengunjung untuk
mencuci tangan pada saat
memasuki dan meninggalkan
ruangan pasien
- Tingkatkan intake nutrisi yang
tepat
- Dorong intake cairan yang
sesuai
- Berikan terapi antibiotic yang
sesuai

15
- Ajarkan pasien dan keluarga
mengenai tanda dan gejala
infeksi dan kapan harus
melaporkan kepada penyedia
perawatan kesehatan
- Ajarkan pasien dan keluarga
mengenai bagaimana
menghindari infeksi

16
BAB 3 RINGKASAN JURNAL

A. Judul Jurnal
Incidence and risk factors for postpartum hemorrhage in Uganda
B. Penulis Jurnal
Sam Ononge, Florence Mirembe, Julius Wandabwa and Oona M. R.
Campbell
C. Tahun Publikasi Jurnal
Tahun 2016
D. Latar Belakang Penelitian
Secara global, perdarahan postpartum (PPH) tetap menjadi penyebab
utama kematian ibu. Namun demikian banyak negara berpenghasilan rendah
dan menengah, sulit mendapatkan informasi tentang besarnya dan faktor
risiko untuk PPH (kehilangan darah 500 ml atau lebih). Penting untuk
memahami berbagai faktor risiko pada kasus ini.
Penyebab umum PPH adalah atonia uterus, cedera saluran genital,
kegagalan sistem pembekuan darah dan trauma jalan lahir. Atonia uterus
menjadi mayoritas penyebab PPH yakni sebesar 75%. PPH adalah yang
terdepan penyebab kematian ibu. Prevalensi global PPH adalah 6% dan beban
tertinggi dialami di negara berpenghasilan rendah.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko PPH di
Uganda
F. Metode Penelitian
1. Design
Kohort
2. Tempat
6 fasilitas kesehatan di Uganda
3. Waktu
Maret 2013- Maret 2014
4. Sampel

17
Wanita hamil dengan usia kehamilan 28 minggu keatas dengan
perencanaan persalinan normal yang berdomisili di 6 wilayah fasilitas
kesehatan di Uganda
5. Instrument
Kuesioner, yang mana digunakan untuk mengumpulkan data faktor
risiko : riwayat kesehatan sebelumnya
G. Hasil Penelitian
Terdapat 107 wanita yang mengalami perdarahan post partum dan
terdapat 14 wanita yang perdarahannya lebih dari 1000 ml.

Cenderung wanita yang mengalami perdarahan post partum yaitu


memiliki usia yang berisiko untuk melahikan, kelahiran kembar serta wanita
yang terinfeksi HIV. Obat-obatan pasca melahirkan untuk merangsang uterus
berkontraksi sudah dilakukan, hanya 31 wanita yang tidak mendapatkan hal
tersebut untuk mencegah perdarahan post partum karena ketersediaan fasilitas
dan obat-obatan terkait daerah sangat terpencil. Wanita dengan perdarahan
hebat dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk mendapatkan
penanganan lanjutan seperti pemberian oxytocin dan transfusi darah.
Studi ini menunjukkan bahwa, hampir semua (97%) wanita melahirkan
di enam fasilitas kesehatan di pedesaan Uganda menerima obat-obatan untuk
pencegahan perdarahan post partum.

18
Secara keseluruhan insidensi PPH adalah 9,0% dan PPH berat 1,2%.
Faktor risiko untuk perdarahan post partum itu sendiri adalah HIV positif,
kehamilan ganda, persalinan dengan operasi caesar dan bayi berat lahir besar.
Angka kejadian perdarahan post partum juga dipengaruhi oleh karakteristik
lokasi terkait ketersediaan fasilitas dan obat-obatan dibawah standar.
Peningkatan risiko perdarahan post partum diantaramya wanita yang
melahirkan bayi besar . Bayi besar akan membuat uterus dilatasi yang hebat
sehingga beresiko untuk mengalami atonia uteri. Hal ini membutuhkan lebih
banyak kewaspadaan oleh praktisi yang membantu persalinan dan kelahiran
untuk mengidentifikasi wanita yang berisiko, memiliki persiapan yang
memadai dan merencanakan intervensi dini untuk mencegah perdarahan post
partum.
H. Pembahasan
Perdarahan setelah melahirkan menurut Walyani (2015), disebabkan
karena atonia uteri, retensio plasenta, dan robekan jalan lahir. Mochtar (2011)
menyebutkan, etiologi perdarahan postpartum yakni atonia uteri, sisa plasenta
dan selaput ketuban, robekan jalan lahir (robekan perineum, vagina serviks,

19
forniks dan rahim), serta kelainan pada darah. Penyebab utama perdarahan
postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta dan
robekan jalan lahir. Penyebab utama perdarahan postpartum sekunder adalah
robekan jalan lahir dan sisa plasenta (Manuaba, 2001). Etiologi perdarahan
postpartum dini diantaranya atonia uteri, laserasi jalan lahir, hematoma, dan
lain-lain (sisa plasenta atau selaput janin, ruptura uteri, inversio uteri), serta
etiologi perdarahan postpartum lambat yakni tertinggalnya sebagian plasenta,
subinvolusi di daerah insersi plasenta, luka bekas seksio sesarea.
(Winkjosastro, 2010).
Faktor Predisposisi terjadinya atonia uteri adalah umur yang terlalu tua
atau muda, paritas yang sering dijumpai pada multipara dan grandemultipara,
partus lama dan partus terlantar, obstetri operatif dan narkoba, uterus terlalu
regang dan besar (misalnya pada gemeli, hidramnion, dan janin besar),
kelainan pada uterus (seperti mioma uteri, uterus couvelair pada solusio
plasenta) dan faktor sosio ekonomi yaitu malnutrisi (Mochtar, 2011).
I. Kesimpulan Penelitian
Insiden perdarahan post partum yang tinggi perlu pengenalan sejak dini
agar risiko pada wanita selama periode antenatal dan perinatal mendapatkan
intervensi dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
J. Kekurangan Jurnal
Penelitian ini menggunakan tempat penelitian di fasilitas kesehatan tingkat
bawah yaitu puskesmas dimana layanan seperti transfusi darah dan operasi
tidak tersedia.
K. Kelebihan Jurnal
Penelitian ini menggunakan pengait bawah pantat yang dikalibrasi untuk
mengukur kehilangan darah sehingga dapat diukur secara objektif. Selain itu
penelitian ini juga menggunakan 6 fasilitas pelaytanan kesehatan yang
seluruh tenaga kesehatan didalamnya diberikan pelatihan khusus untuk
menunjang dalam pengumpulan data perdarahan pada wanita post partum
secara akurat.

20
BAB 4 ANALISIS PICO

No Kriteria Jawaban Pembenaran & Critical Thinking


1 P Ya Dalam jurnal ini yang menjadi latar belakang
ialah mengacu pada kondisi negara berpenghasilan
rendah yang tinggi angka PPH pada wanita periode
post partum.
Hal ini membuat peneliti tertarik untuk
mengetahui faktor risikoperdarahan post partum yang
penyebab umumnya adalah atonia uterus, cedera
saluran genital, kegagalan sistem pembekuan darah
dan trauma jalan lahir. Atonia uterus menjadi
mayoritas penyebab PPH yakni sebesar 75%. PPH
adalah yang terdepan penyebab kematian ibu.
Prevalensi global PPH adalah 6% dan beban tertinggi
dialami di negara berpenghasilan rendah.
2 I Ya Jurnal ini mengulas studi kohort yang
dilakukan di 6 fasilitas kesehatan Uganda sejak Maret
2013 sampai Maret 2014 untuk mengetahui factor
risiko perdarahan post partum. Peneliti memilih
responden wanita dengan usia kehamilan 28 minggu
keatas dengan rencana persalinan normal.
Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner
kemudian intervensi yang dilakukan oleh peneliti
dengan cara penilaian perdarahan post partum
sebanyak 500 ml atau lebih.
Dalam jurnal ini para peneliti melakukan
pelatihan untuk semua asisten penelitian tentang
prosedur penelitian termasuk proses persetujuan dan
pengumpulan data seminggu sebelum penelitian dan
juga melakukan pertemuan studi setiap minggu untuk
meninjau masalah yang ditemukan dan cara untuk

21
mengatasinya. Data penelitian juga diperiksa setiap
hari oleh kepala investigasi untuk kelengkapan
sebelum masuk ke dalam data penelitian.
3 C Ya Analisis dari jurnal lain sebagai pembanding
yakni “Risk Factors for Primary Postpartum
Hemorrhage in Benghazi, Libya: A Case
Control Study” pada tahun 2015 yang bertujuan
untuk menentukan faktor risiko potensial terjadinya
perdarahan post partum. Dalam jurnal ini
menggunakan studi case control dengan sampel 353
dengan perdarahan postpartum dipilih dari kebidanan
dan departemen ginekologi di rumah sakit Al-
Jumhorya.
Pada penelitian menyatakan hasil yakni
penyebab perdarahan postpartum ditemukan
dipenelitian ini adalah: rahim Atonic, alat kelamin,
trauma, retensi plasenta, defisit koagulasi. Faktor
risiko potensial utama yang signifikan untuk PPH
adalah: anemia sebelum persalinan, riwayat
sebelumnya caesar, hipertensi yang diinduksi
kehamilan, dan ketidakteraturan kunjungan antenatal.
Dalam jurnal ini juga menyarankan untuk
melakukan program pendidikan berfokus pada faktor
risiko yang dapat dimodifikasi diperlukan khususnya
dengan perbaikan layanan KIA termasuk pendidikan
kesehatan dan promosi perawatan antenatal,
manajemen anemia sebelum persalinan, manajemen
hipertensi yang diinduksi kehamilan.
4 O Ya Hasil dari jurnal penelitian ini menyatakan
bahwa cenderung wanita yang mengalami perdarahan
post partum yaitu HIV positif, kehamilan ganda,
persalinan dengan operasi caesar dan bayi berat lahir

22
besar.
Untuk itu jurnal ini dapat dijadikan implikasi
keperawatan sebagai referensi untuk mengetahui
risiko perdarahan post partum pada wanita pascaf
melahirkan. Peneliti dalam jurnal ini menyarankan
untuk melakukan intervensi dini terhadap wanita yang
memiliki resiko perdarahan post partum.

23
BAB 5 PENUTUP

A. Kesimpulan
Insiden PPH yang tinggi perlu pengenalan sejak dini risiko PPH pada
wanita selama periode antenatal dan perinatal agar dapat mendapatkan
intervensi dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Penyebab umum PPH adalah atonia uterus, cedera saluran genital,
kegagalan sistem pembekuan darah dan trauma jalan lahir. Atonia uterus
menjadi mayoritas penyebab PPH yakni sebesar 75%. PPH adalah yang
terdepan penyebab kematian ibu. Prevalensi global PPH adalah 6% dan beban
tertinggi dialami di negara berpenghasilan rendah.

B. Implikasi dalam Dunia Keperawatan


1. Perawat sebagai edukator dapat menjadikan ini sebagai referensi untuk
pendidikan kesehatan kepada wanita hamil untuk mengenal faktor risiko
perdarahan post partum
2. Perawat dapat mengkaji lebih dalam mengenai riwayat kesehatan wanita
hamil agar dapat mengetahui dan melakukan intervensi dini untuk
mencegah komplikasi lebih lanjut.
3. Skrining cepat melalui pengkajian keperawatan pada klien yang datang
kerumah sakit untuk mengetahui lebih dini klien dengan faktor resiko
mengalami perdarahan post partum serta menyediakan layanan transfusi
darah dan tindakan operasi segera jika diperlukan.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Herdman, TH & Kamitsuru, S. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi &


Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10. Jakarta: EGC.
2. Moorhead, S, et al. 2013. Nursing Outcomes Classificaton (NOC). Edisi
Kelima. UK: Elsevier.
3. Bulechek, GM., et al. 2013. Nursing Interventions Classificaton (NIC). Edisi
Keenam.
4. Rukiyah. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta: Trans
Info Media.
5. Oxorn, Forte. 2010. Ilmu Kebidanan : Patologi & Fisiologi Persalinan.
Yogyakarta: C.V Andi Offset.
6. Walyani, Elisabeth Siwi. 2015. Asuhan kebidanan kegawatdaruratan maternal
dan neonatal. Cetakan pertama. Yogyakarta : Pustaka baru press.
7. Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Edisi 3 Cetakan ke-10. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
8. Wiknjosastro, Hanifa. 2010. Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi 1 Cetakan 6.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
9. Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita selekta penatalaksanaan rutin obstetri
ginekologi dan KB. Jakarta: EGC.
10. Mochtar, Rustam. 2011. Sinopsis Obstetri. Edisi 3. Hal 109-111, 199, 207-
208. Jakarta: EGC.
11. Vincent J, De Backer D. 2013. Circulatory shock. N Engl J Med.
369(18):1726-34.
12. Dewi, Enita & Rahayu, Sri. 2010. Kegawatdaruratan Syok Hipovolemik.
Jurnal Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol. 2. No. 2. Juni 2010, 93-96.
13. http://researchonline.lshtm.ac.uk/2537512/1/12978_2016_Article_154.pdf
14. https://pdfs.semanticscholar.org/6ce8/d10669459ac42f96da7bf5ed273be69a1
8f6.pdf

25