Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN POST SECTIO CAESAREA (SC)

ATAS INDIKASI PLASENTA PREVIA DI RUANG NIFAS LANTAI 1


RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Tanggal 23 April – 28 April 2018

Oleh :
Khairus Sadiq, S.Kep
NIM 1730913310073

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2018
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN POST SECTIO CAESAREA (SC)


ATAS INDIKASI PLASENTA PREVIA DI RUANG NIFAS LANTAI 1
RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Tanggal 23 April – 28 April 2018

Oleh :
Khairus Sadiq, S.Kep
NIM 1730913310073

Banjarmasin, 23 April 2018


Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Emmelia Astika F. D., S.Kep, Ns,. M.Kep Nurdiana, S.Kep, Ns


NIK.1990 2011 1 098 NIP. 19811028 200903 2 005
LAPORAN PENDAHULUAN
POST SECTIO CAESAREA (SC) ATAS INDIKASI PLASENTA PREVIA

A. Sectio Caesarea (SC)


1. Definisi SC
Sectio caesaria (SC) adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim
dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram
(Sarwono, 2009). Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan
membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau
vagina.
2. Indikasi dan Kontra Indikasi
a. Indikasi
Indikasi medis seorang ibu yang harus menjalani seksio sesarea
yaitu :
1) Panggul sempit, sehingga besar anak tidak proporsional dengan
indikasi panggul ibu (disporsi). Oleh karena itu, penting untuk
melakukan pengukuran panggul pada waktu pemeriksaan kehamilan
awal. Dengan tujuan memperkirakan apakah panggul ibu masih dalam
batas normal.
2) Gawat janin akibat terinfeksi misalnya, kasus ketuban pecah dini
(KPD) sehingga bayi terendam cairan ketuban yang busuk atau bayi
ikut memikul demam tinggi. Pada kasus ibu mengalami
preeklamsia/eklamsia, sehingga janin terpengaruh akibat komplikasi
ibu.
3) Plasenta terletak dibawah yang menutupi ostium uteri internum
(plasenta previa), biasanya plasenta melekat di bagian tengah rahim.
Akan tetapi pada kasus plasenta previa menutupi ostium uteri
internum.
4) Kelainan letak, jika posisi anak dalam kandungan letaknya melintang
dan terlambat diperiksa selama kehamilan belum tua.
5) Kontraksi yang lemah dan tidak terkordinasi, hal ini menyebabkan
tidak ada lagi kekuatan untuk mendorong bayi keluar dari rahim.
(incordinate uterine-action).
6) Ibu menderita preeklamsia, yaitu jika selama kehamilan muncul gejala
darah tinggi, ada protein dalam air seni, penglihatan kabur dan juga
melihat bayangan ganda. Pada eklamsia ada gejala kejang-kejang
sampai tak sadarkan diri.
7) Ibu mempunyai riwayat persalinan sebelumnya adalah seksio sesar
maka persalinan berikutnya umumnya harus seksio sesar karena takut
terjadi robekan rahim. Namun sekarang, teknik seksio sesar dilakukan
dengan sayatan dibagian bawah rahim sehingga potongan pada otot
rahim tidak membujur lagi. Dengan demikian bahaya rahim robek
akan lebih kecil dibandingkan dengan teknik seksio dulu yang sayatan
dibagian tengah rahim dengan potongan yang bukan melintang.
b. Kontra indikasi
1) Janin mati atau berada dalam keadaan kritis, kemungkinan janin
hidup kecil
2) Syok
3) Anemia berat
4) Kelainan kongenital berat
5) Infeksi piogenik pada dinding abdomen
6) Minimnya fasilitas operasi Sectio Caesarea (SC)
3. Klasifikasi
a. Berdasarkan insisi
1) Abdomen (Sectio Caesarea Abdominalis)
a) Sectio Caesarea Transperitonealis
Sectio Caesarea klasik atau corporal dengan insisi memanjang
pada corpus uteri.
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada corpus
uteri kira – kira 10 cm.
Kelebihan:
a Mengeluarkan janin lebih cepat
b Tidak menyebabkan komplikasi tertariknya vesica urinaria
c Sayatan bisa diperpanjang proximal atau distal.
Kekurangan :
a Mudah terjadi penyebaran infeksi intra abdominal karena
tidak ada retroperitonealisasi yang baik.
b Sering terjadi rupture uteri pada persalinan berikutnya.
b) Sectio Caesarea ismika atau profunda atau low cervical dengan
insisi pada segmen bawah rahim.
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang ( konkaf ) pada
segmen bawah rahim, kira – kira 10 cm.
Kelebihan:
a Penutupan luka lebih mudah.
b Penutupan luka dengan retroperitonealisasi yang baik.
c Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk
menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum.
d Perdarahan kurang.
e Kemungkinan terjadi rupture uteri spontan kurang / lebih
kecil dari pada cara klasik.
Kekurangan:
a Luka dapat melebar ke kiri , ke kanan dan ke bawah sehingga
dapat menyebabkan arteri Uterina putus sehingga terjadi
pendarahan hebat.
b Keluhan pada vesica urinaria post operatif tinggi.
c) Sectio Caesarea Extraperitonealis yaitu tanpa membuka
peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum
abdomen.
2) Vagina ( Sectio Caesarea Vaginalis )
Menurut arah sayatan rahim, section caesarea dapat dilakukan
sebagai berikut:
a Sayatan memanjang ( longitudinal )
b Sayatan melintang ( transversal )
c Sayatan huruf T ( T incision )

b. Berdasarkan saat dilakukan SC


1) Seksio Sesarea Primer/Efektif
Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara
seksio sesarea, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada
panggul sempit (CV kecil dari 8 cm).
2) Seksio Sesarea Sekunder
Mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan), bila tidak
ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru dilakukan
seksio sesarea.
3) Seksio Sesarea Ulang (Repeat Caecarean Section)
Ibu pada kehamilan lalu mengalami seksio sesarea (previous
caesarean section) dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan
seksio sesarea ulang.
4) Seksio Sesarea Postmortem (postmortem Caesarean Section)
Adalah seksio sesarea segera pada ibu hamil cukup bulan yang
meninggal tiba-tiba sedangkan janin masih hidup.
4. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada ibu SC adalah :
1. Infeksi puerperial : kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas
2. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan
cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri
3. Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan yang akan datang
4. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain : luka kandung kemih, dan
embolisme paru yang sangat jarang terjadi.
5. Perawatan Pasca SC
Perawatan diri terdiri dari perawatan luka, nutrisi, ambulasi dini, perawatan
perineum, perawatan payudara, miksi dan defekasi.
a. Perawatan Luka Seksio Sesarea
Perawatan luka merupakan tindakan untuk merawat luka dan melakukan
pembalutan dengan tujuan mencegah infeksi silang (masuk melalui luka)
dan mempercepat proses penyembuhan luka. Luka insisi diperiksa setiap
hari. Karena itu bebat yang tipis tanpa plester yang berlebihan lebih
menguntungkan. Biasanya, jahitan kulit dilepas pada hari keempat
setelah operasi.
b. Nutrisi masa nifas
Kebutuhan gizi pada masa nifas meningkat 25 % dari kebutuhan biasa
karena berguna untuk proses kesembuhan sehabis melahirkan dan untuk
memproduksi air susu yang cukup. Ibu yang menyusui harus
mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, makan dengan diet
berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup,
meminum sedikitnya 3 liter air setiap hari dan ibu sebaiknya minum
setiap kali menyusui, pil zat besi harus diminum untuk menambah zat
gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin, mengkonsumsi kapsul
vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada
bayinya melalui ASInya.
c. Ambulasi Dini
Sehabis melahirkan ibu merasa lelah karena itu ibu harus istirahat dan
tidur telentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian ibu boleh
miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya thrombosis dan
tromboemboli.
Manfaat mobilisasi bagi ibu post operasi adalah
1) Ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan ambulasi dini. Dengan
bergerak, otot–otot perut dan panggul akan kembali normal sehingga
otot perutnya menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit
dengan demikian ibu merasa sehat dan membantu memperoleh
kekuatan, mempercepat kesembuhan, faal usus dan kandung kencing
lebih baik. Dengan bergerak akan merangsang peristaltik usus
kembali normal. Aktifitas ini juga membantu mempercepat organ-
organ tubuh bekerja seperti semula.
2) Mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli, dengan
mobilisasi sirkulasi darah normal/lancar sehingga resiko terjadinya
trombosis dan tromboemboli dapat dihindarkan.
6. Pathway
Etiologi

Defisiensi pengetahuan Proses Persalinan SC

Ansietas Insisi dinding abdomen

Terputusnya kontinunitas jaringan

Nyeri akut Resiko infeksi


B. Plasenta Previa
1. Definisi
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada
tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi
sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ). Plasenta
previa diklasifikasikan menjadi 3 :
a. Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta
b. Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta
c. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan
plasenta.
Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
a. Endometrium yang kurang baik
b. Chorion leave yang peresisten
c. Korpus luteum yang berreaksi lambat
2. Maifestasi Klinis
a. Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III
b. Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala
c. Perdarahan berwarna merah segar
d. Letak janin abnormal
e. Adanya anemia
f. Timbulnya perlahan-lahan
g. Waktu terjadinya saat hamil
h. His biasanya tidak ada
i. Rasa tidak tegang saat palpasi
j. Denyut jantung janin ada
k. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
l. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul.
3. Patofisiologi
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-
kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus,
dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa.Karena segmen bawah
agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha
mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding
usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi
pendarahan.
Pathway :
Etiologi : kelainan plasenta

Dilatasi serviks Nyeri

Perdarahan Ansietas

Hipovolemia Anemia Kekurangan volume cairan

Ketidakefektifan perfusi jaringan

4. Komplikasi
a. Prolaps tali pusat
b. Prolaps plasenta
c. Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu
dibersihkan dengan kerokan
d. Robekan-robekan jalan lahir
e. Perdarahan post partum
f. Infeksi karena perdarahan yang banyak
g. Bayi prematuritas atau kelahiran mati
5. Penatalaksanaan
a. Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan
inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi
apapun baik rectal apalagi vaginal)
b. Apabila ada penilaian yang baik, perdarahan sedikt janin masih hidup,
belum inpartus. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin
di bawah 2500 gr. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat.Berikan obat-
obatan spasmolitika, progestin atau progesterone observasi teliti
c. Sambil mengawasi periksa golongan darah, dan siapkan donor transfusi
darah. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar
dari premature.
d. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan
plasenta previa, kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan
tranfuse darah ada
e. Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan.
C. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Data Subjektif
1) Data umum
Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya.
2) Keluhan utama
Biasanya keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada
kehamilan 28 minggu.
3) Riwayat kesehatan yang lalu
4) Riwayat kehamilan
a) Haid terakhir
b) Keluhan
c) Imunisasi
5) Riwayat keluarga
a) Riwayat penyakit ringan
b) Penyakit berat
c) Keadaan psikososial
d) Dukungan keluarga
e) Pandangan terhadap kehamilan
6) Riwayat persalinan
7) Riwayat menstruasi
a) Haid pertama
b) Sirkulasi haid
c) Lamanya haid
d) Banyaknya darah haid
e) Nyeri
f) Haid terakhir
8) Riwayat perkawinan
a) Status perkawinan
b) Kawin pertama
c) Lama kawin
b. Data Objektif
1) Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.
a) Rambut dan kulit
Biasanya terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu
dan linea nigra. Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah
abdomen dan paha. Laju pertumbuhan rambut berkurang.
b) Wajah
Mata : pucat, anemis, Hidung, Gigi dan mulut.
c) Leher
d) Payudara
Biasanya peningkatan pigmentasi areola putting susu.
Bertambahnya ukuran dan noduler.
e) Jantung dan paru
Biasanya volume darah meningkat. Peningkatan frekuensi nadi.
Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah
pulmonal. Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. Peningkatan
volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas. Diafragma
meninggi serta Perubahan pernapasan abdomen menjadi
pernapasan dada.
f) Abdomen
Menentukan letak janin. Menentukan tinggi fundus uteri.
g) Vagina
Biasanya peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna
kebiruan (tanda Chandwick) serta Hipertropi epithelium.
h) System musculoskeletal
Biasanya persendian tulang pinggul yang mengendur. Gaya
berjalan yang canggung. Terjadi pemisahan otot rectum
abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal.
c. Khusus
1) Tinggi fundus uteri
2) Posisi dan persentasi janin
3) Panggul dan janin lahir
4) Denyut jantung janin
2. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan inspekulo
b. Pemeriksaan radio isotopic
c. Ultrasonografi
d. Pemeriksaan dalam
3. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut
b. Kekurangan volume cairan
c. Ketidakefektifan perfusi jaringan
d. Defisiensi pengetahuan
e. Ansietas
f. Resiko infeksi
4. Rencana Tindakan Keperawatan

Dx
No NOC NIC
Keperawatan
NIC :
Pain Management
1. Lakukan pengkajian
nyeri secara
NOC : Pain level, Pain
kompherensif
Control, Comfort Level
2. Berikan informasi
Setelah dilakukan tentang nyeri seperti
tindakan keperawatan penyebab nyeri
selama 1 x 30 menit 3. Observasi reaksi
masalah pasien teratasi, nonverbal dari
dengan kriteria hasil: ketidaknyamanan
4. Ajarkan tentang
1. TD = teknik non
120/80mmHg, N = farmakologi:
60-80x/menit, RR = massase
16-20x/menit, T = 5. Kolaborasikan
Nyeri akut b.d 36,5-37,5oC dengan dokter
dilatasi 2. Mampu mengontrol pemberian analgetik
1. serviks atau nyeri (tahu 6. Monitor vital sign
kontraksi otot penyebab nyeri,
rahim mampu Analgesic
menggunakan Administration
tehnik 1. Cek instruksi
nonfarmakologi dokter tentang jenis
untuk mengurangi obat, dosis, dan
nyeri, mencari frekuensi
bantuan) 2. Cek riwayat alergi
3. Melaporkan nyeri 3. Tentukan pilihan
berkurang analgesic dari tipe
4. Menyatakan rasa dan beratnya nyeri
nyaman setelah 4. Berikan obat sesuai
nyeri berkurang rute pemberian
5. Tidak mengalami 5. Monitor ttv pasien
gangguan tidur sebelum dan
sesudah pengobatan
6. Berikan analgesic
tepat waktu
terutama saat nyeri
hebat
2. Kekurangan NOC : NIC :
volume cairan
b.d Fluid Balance Fluid Management
kehilangan Setelah dilakukan 1. Pertahankan catatan
cairan tindakan keperawatan intake dan output
vaskuler selama kekurangan yang akurat
berlebihan volume cairan teratasi,
2. Monitor status
dengan kriteria hasil: dehidrasi
3. Terapi IV
1. Keseimbangan administrasi cairan
output dan intake 4. Berikan cairan
dalam 24 jam 5. Distribusikan cairan
selama 24 jam
2. Tekanan darah
dalam batas normal Vital Sign Monotoring
120/80 mmHg
1. Monitor tekanan
3. Turgor kulit < 2 darah, nadi, dan
detik pernafasan sebelum,
selama, dan sesudah
aktifitas, dengan
sesuai
2. Monitor pelebaran
atau penyempitan
tekanan nadi
3. Identifikasi
kemungkinan
penyebab
perubahan tanda
vital

3. Ketidakefektif NOC : NIC :


an perfusi
jaringan b.d Circulation status Peripheral Sensation
hipovolemi Management
Setelah dilakukan (Manajemen sensasi
tindakan keperawatan perifer)
setiap 1 x 24 jam 1. Observasi tanda
diharapkan nyeri akan vital
berkurang. 2. Kaji pengisian
Kriteria hasil: kapiler, warna
a. Klien menunjukkan kulit/membran
perfusi adekuat, mukosa, dasar kuku.
misalnya tanda vital 3. Tinggikan kepala
stabil.
tempat tidur sesuai
toleransi
4. Awasi upaya
pernapasan;
auskultasi bunyi
napas.
5. Observasi keluhan
nyeri dada/palpitasi
6. Kolaborasi
pengawasan hasil
pemeriksaan
laboraturium.
Berikan sel darah
merah
lengkap/packed
produk darah sesuai
indikasi
7. Berikan oksigen
tambahan sesuai
indikasi.
4. Ansietas b.d NOC: Anxiety self- NIC:
ancaman control
kematian diri Anxiety Reduction
sendiri dan Setelah dilakukan
tindakan keperawatan 1. Gunakan
janin
selama 1 x 30 menit pendekatan yang
masalah anxietas pasien menenangkan
teratasi dengan kriteria 2. Jelaskan diagnosis
hasil: dan semua prosedur
dan apa yang
1. Pasien mampu dirasakan selama
mengidentifikasi dan prosedur
mengungkapkan 3. Dorong keluarga
gejala cemas untuk menemani
2. Vital sign dalam pasein
batas normal 4. Lakukan back /
3. Postur tubuh, neck rub
ekspresi wajah, 5. Dengarkan dengan
bahasa tubuh dan penuh perhatian
tingkat aktivitas 6. Instruksikan pasien
menunjukkan menggunakan
berkurangnya teknik relaksasi
kecemasan
5. Defisiensi NOC : NIC :
Pengetahuan Knowledge : Postpartal Care
berhubungan Postpartum Maternal 1. Monitor tanda-
dengan Health tanda infeksi
kurang Setelah dilakukan 2. Informasikan
informasi tindakan keperawatan terkait infeksi luka
terkait selama 1 x 60 menit episiotomi dari
perawatan pengetahuan ibu adanya kemerahan,
postpartum meningkat, dengan ekimosis, edema
kriteria hasil : 3. Ajarkan perawatan
1. Klien mengetahui payudara
perawatan episitomi 4. Ajarkan cara
2. Klien memahami menyusui dengan
perawatan payudara tepat
Klien memahami cara 5. Anjurkan mobilitas
menyusui dengan baik fisik ringan
dan benar 6. Jadwalkan
pemeriksaan
perawatan luka
episiotemi atau SC
6. Resiko infeksi. NOC : Kontrol infeksi NIC : Kontrol infeksi
Faktor risiko: Setelah dilakukan
prosedur asuhan keperawatan 1. Lakukan perawatan
invasif selama 1x4 jam parienal setiap 4
berulang, diharapkan tidak terjadi jam.
trauma infeksi dengan kriteria
2. Catat tanggal dan
jaringan, hasil : tidak ditemukan
waktu pecah
pemajanan tanda-tanda adanya
ketuban.
terhadap infeksi.
patogen, 3. Lakukan
persalinan pemeriksaan vagina
lama atau hanya bila sangat
pecah perlu, dengan
ketuban. menggunakan
tehnik aseptik.
4. Pantau suhu, nadi
dan sel darah putih
5. Gunakan tehnik
asepsis bedah pada
persiapan peralatan.
6. Ajarkan keluarga
mengenai tanda dan
gejala infeksi dna
kapan harus
melaporkan kepada
penyedia perawatan
kesehatan
7. Ajarkan keluarga
mengenai
bagaimana
menghindari infeksi
8. Kolaborasi :Berikan
antibiotik sesuai
indikasi..
DAFTAR PUSTAKA

1. Manuaba, Chandarnita, dkk,. 2008. Gawat-darurat obstetri-ginekologi &


obstetri-ginekologi sosial untuk profesi bidan. Jakarta: EGC.
2. Cunningham, F.G. 2005. Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta : EGC.
3. Muchtar. 2005. Obstetri patologi, Cetakan I. Jakarta : EGC
4. Bobak. Lowdermilk. Jensen. 2004. Keperawaytan Maternitas. Jakarta: EGC
5. Manjoer, arif. Kapita selekta kedokteran. Jakarta : Aesculapius, 2000
6. Doengoes, E. Marlyn, 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC.
7. Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka.
8. Wiknjosastro,Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga. Yayasan Bina Pustak
Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.
9. Prawirohardjo,Sarwono .2002.Ultrasonografi dalam Obstetri, Ilmu kebidanan.
Jakarta:Yayasan Bina Pustaka
10. Pusdiknakes, 1993, Asuhan Kebidanan pada Ibu Gangguan Sistem Reproduksi,
Jakarta
11. Saifudin, A.B. dkk, 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal, Jakarta
12. Hanafiah, T.M 2004. Plasenta Previa, on line, (http://www.
Library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-tmhanafiah2.pdf, diakses tanggal 7 April
2018)