Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PERTOLONGAN PERTAMA PADA GAWAT DARURAT


( PPGD )

DISUSUN OLEH:

NAMA KELOMPOK 3:

1. HARIANTO HASU 6. RIVANA NGAJOW


2. LIDYA SAMBALAO 7. STEVENSON LIMAT
3. MASPA MANGADAI 8. DEVITA TOISUTA
4. MILANDARI LADJA 9. SHINTA KILIS
5. RIDEL NGAJOW

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN INDONESIA


FAKULTAS KEPERAWATAN
MANADO
2018
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat
menyusun dan menyelasaikan makalah ini dengan baik dan lancar. Penulis menyusun makalah ini
berdasarkan tugas yang diberikan oleh dosen Keperawatan Bencana. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada dosen Keperawatan Bencana atas tugas yang telah diberikan beserta arahan yang
diberikan.

Penyusun

Manado, 05, April 2018


PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT

(PPGD)
Pertolongan pertama merupakan pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit/cedera yang
memerlukan penanganan medis yang mendasar. Pelaku pertolongan pertama adalah orang yang pertama
kali tiba di tempat kejadian. Pertolongan penderita gawat darurat merupakan suatu usaha tindakan pertama
untuk mencegah/melindungi korban dari fungsi organ tubuh yang sangat penting artinya bagi kehidupan si
korban bukan untuk memberikan pengobatan. Secara tegas hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah t e r
j a d i n y a k e m a t i a n d a nmenghindarkan dari cacat bila si korban dapat diselamatkan jiwanya.
Penyebab utama kematian dari seorang penderita gawat darurat adalah gangguan pernapasan dan henti
jantung, perdarahan serta syok (shock).
Keadaan gawat darurat berupa kecelakaan seperti misalnya tersengat aliran listrik, keracunan
obat/makanan, serangan jantung, tenggelam, kelahiran bayi mendadak, kehilangan darah, dan lain-lain,
dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan kerja, di tempat umum maupun di
lingkungan keluarga. Bila pada gawat darurat tersebut, jantung dan paru berhenti bekerjasecara mendadak
maka hidup/matinya korban tergantung dari cepat, tepat dan terampilnya orang melakukan pertolongan
pertama, yaitu anda yang berada dilapangan/garis depan.
ALAT PERLINDUNGAN DIRI
Alat perlindungan diri merupakan suatu peralatan yang digunakan ketika melakukan penolongan yang
berfungsi untuk melindungi diri penolong.
Jenis-jenis alat perlindungan diri:
- Sarung tangan
- Kacamata pelindung
- Baju pelindung
- Masker pelindung
- Masker resusitasi
- Helm
EVAKUASI
Evakuasi atau pemindahan korban adalah suatu cara yang digunakan untuk menyelamatkan korban ke
tempat yang lebih aman. Dengan memindahkan korban maka akan membantu dalam proses penanganan
korbannya. Penanganan korban ynag salah akan menimbulkan cedera lanjutan atau cedera baru. Evakuasi
sendiri dibagi menjadi 2 yaitu.
1. Evakuasi darurat

Evakuasi yang dilakukan ketika kondisi dalam keadaan yang darurat atau yang memerlukan untuk
dilakukan evakuasi yang cepat karena terdapat banyak korban dan tempat terjadinya bencana
dikhawatirkan akan terjadi bencana susulan. Bahaya terbesar dalam melakukan evakuasi darurat adalah
terjadi cedera yang baru.
Cara pemindahan darurat:
- Shirt drag ( tarikan baju), cara ini dilakukan dengan menarik baju bagian belakan milik korban
- Blanket drag ) tarikan selimut), cara ini dilakukan dengan korban dipindahkan terlebih dahulu di atas
selimut, baru kemudian ditarik selimutnya
- Shoulder drag (tarikan bahu), cara ini dilakukan dengan mengangkat bahu korban dari belakang
- Sheet drag (tarikan kain), cara ini sama dengan cara dari tarikan selimut
- Piggyback carry ( menggendong), cara ini dilakukan dengan gendongan berada dibelakang
- One rescuer crutch (menyokong), cara ini
- Cradly carry ( membopong)
- Firefighter drag

2. Evakuasi tidak darurat


Evakuasi tidak darurat dilakukan ketika korban sudah selesai mendapat pertolongan dan tidak
mengharuskan untuk segera dievakuasi, dimisalkan korban harus mendapat pertolongan terlebih dahulu.
Evakuasi ini bisa dilakukan dengan angkatan langsung maupun adanya alat gerak. Misalkan dragbar.
Dragbar (tandu) merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat atau mengevakuasi korban yang
berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bahan yang relatif ringan. Jenis-jenis dragbar (tandu):
- Tandu beroda
- Tandu kursi
- Tandu basket
- Tandu scoop
- Tandu lipat
- Matras vakum
- Papan spinal

Langkah-langkah dasar PPGD


Langkah-langkah dasar dalam melakukan pertolongan pertama gawat darurat adalah ada 4, yaitu A-B-C-
D. A=Airways (Buka jalan napas), B=Breathing (Periksa Nafas) C=Circulation (Periksa Sirkulasi nafas
Survei Awal), D=Dangerous (mengamankan korban dari lingkungan yang membahayakan bagi
keselamatan korban). Keekmpat poin tersebut harus benar-benar diingat dalam penanggulangan pasien
dalam kondisi darusat.
Algoritma Dasar PPGD
1. Terdapat pasien yang tidak sadar
2. Pastikan tempat pertolongan aman bagi korban
3. Yakinkan kepada masyarakat jika anda akan berusaha menolong
4. Posisikan diri anda sejajar dengan bahu pasien
5. Bebaskanlah korban dari pakaian di daerah dada (buka bagian kancing baju bagian atas agar dada
terlihat)
6. Cek kesadaran korban dengan memeriksa respon

Ada 4 tingkatan yang biasanya dipakai utuk memeriksa respon seseorang


A -> alert : korban sadar, jika tidak sadar lanjut ke langkah berikutnya
V-> Verbal :caranya dengan memanggil nama korban dengan sekeras-kerasnya diatas telinga korban.
Jika masih tidak merespon lanjut ke pos selanjutnya
P-> pinful: rangsangan nyeri, coba untuk memberi rangsangan nyeri pada pasien, yang paling
mudahadalah menekan bagian putih dari kuku tangan (dipangkal kuku).
U-> Unresponsive : korban tidak bereaksi apapun setelah mendapat rangsangan nyeri maupun
terhadap suara, hal ini menandakan korban tidak sadar.

7. Segera perintahkan masyarakat sekitar untuk menelpon ambulans dewngan memberitahukan:


Jumlah korban
Tempat terjadi kegawatan (alamat lengkap)
Jenis kelamin (laki-laki atau perempuan)
Kesadaran korban (sadar atau tidak sadar)

8. Cek apakah ada tanda-tanda berikut:


Luka-luka dari bagian bawah ke bahu atas
Pasien mengalami tumbukan di berbagai tempat (misalkan jatuh dari motor)
Berdasarkan saksi pasien mengalami cedera di tulang belakang bagian leher.

9. Tanda-tanda tersebut adalah tanda-tanda kemungkinan terjadinya cedera pada tulang belakang bagian
leher, cedera bagian ini sangat berbahaya karena disini terdapat syaraf-syaraf yang mengatur fungsi vital
manusia (bernapas, denyut jantung).
a. Jika tidak terdap tanda-tanda tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift.

Chin Lift dilakukan dangan cara menggunakan dua jaru untuk mengangkat tulang dagu keatas ini disertai
dengan melakukan Head Tilt yaitu menahan kepala. Hal ini dilakukan untuk membebaskan jalan nafas
korban.
b. Jika ada tanda-tanda tersebut, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit kepala pasien dengan
menggunakan paha, usahakan agar kepalanya tidak
bergerak-gerak lagi dan lakukanlah Jaw Thrust. Jaw Thrust dilakukan dengan cara meraba bagian kepala
dimulai dengan meletakkan tangan disamping kepala bagian depan dekat dengan dagu, kemudian mulailah
dengan meraba kebagian belakang kepala korban sampai 3 kali. Hal ini memastikan apakah terdapat
cedera dibagian kepala bagian belakang

10. Setelah melaksanakan metode a dan b diatas, maka segera lakukan pemeriksaan kondisi jalan nafas
dan pernapasan.

Cara pengecekan dengan menggunakan cara dengar, rasa, dan lihat. Dilihat apakah ada pergerakan
terjadinya nafas atau tidak. Dengar apakah terdengar hembusan nafas dari korban secara normal ataukah
ada napas tambahan. Rasakan pernapasan korban dengan teliti bahwa nafas korban teratur.
Jenis-jenis suara tambahan karena hambatan sebagian jalan napas:
a) Snorong: suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan yang mengganggu jalannya
pernapasa. Periksa jalan pernapasan dimulut dengan menggunakan cross finger, gnakan jari telunjuk dan
ibi jari. Jari telunjuk digunakan untuk mendorong rahang bawah sedangkan ibu jari digunakan untuk
mendorong rahang atas ke atas. Jika terdapat benda padat yang menyumbat jalannya pernapasan maka
segera ambil benda padat tersebut dengan menggunakan kedu jari telunjuk kita.

b) Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebutuhan yang disebabkan oleh cairan
misalnya darah, maka lakukanlah cross finger seperti di atas, kemudian lakukan finger sweep. Cara ini
dilakukan dengan menyapu rongga mulut dengan dua jari yangsudah dibalut dengan kauin untuk
membersihkan cairannya. Kain tersebut berfungsi supaya cairan yang terdapat dalam rongga mulut
meresap ke kain.

c) Crowing: suara dengan nada tinggi, biasanya disebabkan karena pembengkakan pada trakea, uuntuk
pertolongan paertama tetap lakukan maneuver head tilt dan chin lift atau jaw thrust saja.
Jika suara nafas sudah tidak terdengar lagi dikarenakan ada hambatan total, maka lakukan:
Pukul bagian punggung daerah diantara tulang scapula dengan menggunakan telapak tangan sebanyak 5
kali
Setelah itu berdirikan korban, kemudian peluk dari belakang dan tarik tangan ke arahbelakang atas
Tekan bagian dada, hal ini dilakukan pada ibu hamil, bayiatau obesitas dengan cara memposisikan diri
kita diatas korban dari daerah paha kemudian mendorong dada ke arah dalam atas.

11. Jika pasien masih bernafas, maka hitunglah frekuensi pernapasan pasien dalam 1 menit (pernapasan
normal adalah 12-20 kali tiap menit).
12. Jika kondisi pernapasan normal, amati terus kondisi korban dengan tetap melakukan lihat, dengar,
rasa.
13. Jika pasien mengalami henti nafas, maka berikan nafas buatan.
14. Setelah pemberian napas buatan maka periksalah nadi karotis yang terletak di leher. Caranya yaitu
gunakan 2 jari dan letakkan di darah tengah leher, kemudian raba kesamping sampai terhambat otot leher,
kemudian rasakan denyut nadi karotis selama 10 detik.

15. Jika tidak terdapat denyut nadi, maka lakukanlah Resusitasu Jantung Paru (RJP). Cara ini dilakukan
dengan cara menekan jantung di daerah dada atau bisa dikatakan memijat, setelah itu berikan nafas buatan
. Rasio RJP pada orang dewasa dilakukan sampai 5 siklus dengan perbandingan 30 tekan dan 2 kali
tiupan. Tiap Siklusnya dilakukan selama 2 menit . sedangkan kedalaman penekanan yaitu 4-5 cm dan
panjang masing-masing tiupan 1 detik.

16. Cek lagi nadi karotis dengan metode sama seperti yang diatas selama 10 detik. Jika teraba lakukan
lihat, dengar, rasakan nafas, jika tidak teraba maka lakukanlah poin 15.

17. Pijat jantung dan nafas dihentikan apabila:


Penolong kelelahan dan sudah tidak kuat lagi
Pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian
Bantuan sudah datang
Nadi karotis sudah teraba

18. Setelah berhasil mengamankan kondisi diatas periksalah tanda-tanda shock pada korban:
a) Denyut nadi
- pada bayi 120-150 kali per menit
- anak-anak 80-150 kali per menit
- dewasa 60-90 kali per menit

b) Telapak tangan dingin dan pucat


c) Capilarry Refill Time > 2 detik, yaitu denagn cara menekan ujung kuku pasien dengan kuku penolong
selama 5 detik lalu lepaskan, cek berapa lama waktu yang dibutuhkan agar warna ujung kembali memerah
lagi

19. Jika pasien shock, lakukan shock position pada pasien, yaitu dengan cara mengangkat kaki pasien
keatas setinggi 45 derajat dengan harapan agar sirkulasi darah lebih banyak ke jantung.
20. Pertahankan posisi shock sampai bantuan datang atau tanda-tanda shock menghilang
21. Jika terdapat perdarahan pada korban, maka cobalah untuk menghentikan perdarahan dengan cara
mengikat daerah yang terjadi perdarahan atau menekan bagian ayng mengalami perdarahan ( mengikat
luka jangan terlalu erat karena dapat mengikat jaringan yang diikat mati).
22. Setelah kondisi pasien stabil, tetap mengontrol kondisi pasien dengan lihat, dengar dan rasa karena
sewaktu-waktu pasien bisa memburuk secara tiba-tiba.

Tahap-tahap pada proses Resusitasi Jantung Paru (RJP)


I. Nafas Buatan

Nafas buatan adalah nafas yang diberikan kepada pasien untuk menormalkan frekuensi napas pasien yang
dibawah normal. Prosedur untuk melakukan nafas buatan adalah:
a) Posisikan diri disamping pasien
b) Jangan melakukan pernapasan langsung dari mulut ke mulut, gunakanlah kain sebagai pembatas antara
mulut pasien dengan mulut korban. Hal ini mencegah terjadinya penularan penyakit.
c) Selama melakukan nafas buatan hidung korban harus ditekan supaya oksigen yang diberikan tidak
terbuang tercuma dan juga tetap melakukan Chin Lift.
d) Mata memperhatikan pada perut korban
e) Tutupilah seluruh mulut korban dengan mulut penolong
f) Hembuskanlah nafas satu kali (tanda jika napas yang diberiakan masuk adalah dada mengembang)
g) Lepaskanlah penutup hidung dan jauhkan mulut sesaat untuk membiarkan pasien menghenbuskan
napas keluar
h) Lakukan lagi pemberian napas sesuai dengan perhitungan agar napas kembali normal

II. Pijat jantung

Pijat jantung adalah usaha untuk memaksa jantung memompakan darah keseluruh tubuh, pijat jantung
diberikan pada korban yang nadi karotisnya tidak teraba. Pijat jantung biasanya di lakukan bersama
dengan melakukan anfas buatan, namun ada kalanya ketika melakukan pijat jantung tidak perlu
melakukan nafas buatan.
Cara melakukan pijat jantung adalah :
a) Posisikan diri disamping pasien
b) Posisikan tangan tepat di tengah dada pasien, tangan dijadiakn satu dengan tangan yang lainnya.
Adapun untuk tangan yang terletaj diatas harus mengisi ruas-ruas tangan yang berada dibawah
c) Posisikan tangan tegak lurus dengan korban
d) Tekanlah dada korban menggunakan tenaga (jangan terlalu keras dan jangan terlalu lembut)
e) Tekan dada sekitar 4-5 cm
f) Setelah menekan, tarik sedikit tangan ke atas agar posisi dada kembali normal
g) Satu siklus pjat jantung dilakukan sebanyak 30 kali tekanan
h) Prinsip pijat jantung yaitu:
Push deep
Push hard
Push fast
Maximum recoil (berikan waktu jantung relaksasi)
Minimum interruption (pada saat melakukan prosedur ini penolong tidak boleh diinterupsi)

Perdarahan merupakan keluarnya darah yang disebabkan oleh suatu rudal paksa, misalnya kepala
terbentur, perut tertusuk atau yang lainnya. Pendarahan merupakan keluarnya darah yang tidak disebabkan
oleh suatu rudal paksa, misalnya datangnya menstruasi. Syok dapat diartikan sebagai berkurangnya atau
gagalnya pasokan oksigen dan zat nutrisi ke sel dan organ tubuh vital, yang mengakibatkan penumpukan
zat sampah hasil pembakaran tubuh sehingga mengancam keberadaan sel dan organ tersebut. Untuk
mencegah pendarahan diperlukan suatu pembalut.
Pembalut sendiri dibagi menjadi 4:
- Pembalut gulung/pita
- Pembalut kedap udara
- Pambalut cepat
- Pembalut segitiga