Anda di halaman 1dari 17

STATUS PASIEN

I.IDENTITAS PASIEN
 Nama : Ny. AM
 Tanggal Lahir : 5 September 1980
 Umur : 36 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Agama : Islam
 Suku : Sunda
 Pendidikan : SMEA
 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
 Status : Menikah
 Alamat :Jakarta Utara
 Tgl Masuk RS : 25 Oktober 2016
 No. Kamar : Mawar
 No. Rekam Medik : 514063

II.ANAMNESIS
Keluhan Utama :Keluar darah dan gumpalan dari jalan lahir sejak 1 hari SMRS.

Keluhan Tambahan :Nyeri perut bawah, mual, muntah 1x

Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang ke IGD RS Pelabuhan Jakarta tanggal 25


Oktober 2016 sekitar pukul 09.20 WIB dengan keluhan keluar darah dan gumpalan dari jalan
lahir. Pasien merasa hamil 3 bulan, G3P2A0, HPHT 1 Agustus 2016, haid terakhir lama 3
hari, ganti pembalut 3x/hari, teratur, siklus 28 hari selama 3 bulan terakhir. Taksiran
persalinan 8 Mei 2017, sesuai usia kehamilan 11 minggu. Selama hamil pasien sering mual
dan terkadang mutah (1x/hari) namun pasien masih dapat makan dan minum. Sejak 4 hari
SMRS, pasien mengeluh keluar flek (darah kecoklatan) dari jalan lahir, jumlah flek tidak
terlalu banyak (sekitar 1 pembalut hari), kram perut (+). Sejak 1 hari SMRS, keluar darah
segar dari jalan lahir disertai gumpalan yang jumlahnya cukup banyak. Pada pukul 03.00WIB

1
keluar darah sangat banyak dari jalan lahir sehingga pasien sudah mengganti pembalut
sebanyak 4x sejak saat itu. Selain itu pasien juga merasa nyeri di perut bawah, mual (+),
muntah (+) 1x. Riwayat adanya trauma pada daerah perut disangkal, riwayat keputihan
selama hamil disangkal, riwayat keluar darah dari jalan lahir sebelumnya disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi (-), Diabetes Mellitus (-), Asma (-), Alergi (-), Penyakit Jantung (-), Kelainan
pembekuan darah (-) Riwayat pembedahan sebelumnya  SC tahun 2011

Riwayat Penyakit Keluarga

Hipertensi (-), Diabetes Mellitus (-),Alergi (-), Riwayat Abortus (-)


Riwayat Menstruasi

Menarche usia 15 tahun. Haid teratur siklus 28 hari, lama haid 5-7 hari, ganti pembalut 3-
5x/hari, tidak ada nyeri haid.

Riwayat Pernikahan

Pasien menikah 1 kali pada tahun 2006 di usia 26 tahun dan suami usia 28 tahun. Pernikahan
yang pertama bagi pasien dan suaminya.

Riwayat Obstetri

ANAK Penolong Tahun Keterangan


J. Kelamin BB Lahir Umur Keadaan
Perempuan 2500g 8 tahun Sehat Bidan 2008 Spontan
Laki-laki 2750g 5 tahun Sehat Dokter 2011 SC
Hamil ini

Riwayat KB

KB Suntik 3 bulan selama 5 tahun

Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien tidak bekerja (ibu rumah tangga), sehari-hari mengurus anak di rumah. Suami bekerja
sebagai wiraswasta. Pasien tidak merokok dan tidak minum alkohol.

2
III.PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : tampak sakit sedang


Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 90 x/menit, reguler, isi cukup
Pernapasan : 20 x/menit, dalam, teratur
Suhu :36,50C
Status gizi :
- BB : 45 kg
- TB : 150 cm
- IMT : 20 kg/m2
- Kesan : Status Gizi Baik

Status Generalis
Kulit : sawo matang, turgor kulit baik, tidak kering
Kepala : normocephal, tidak ada deformitas
Rambut : hitam, persebaran rambut merata, tidak mudah dicabut
Mata : konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik,
pupil bulat isokor, refleks cahaya (+/+)
Hidung : tidak ada deformitas, tidak keluar sekret
Telinga : daun telinga tidak tampak kelainan, liang telinga lapang, serumen (-)
Tenggorokan : uvula di tengah, arkus faring simetris, T1/T1, tidak hiperemis
Gigi dan mulut : mukosa bibir dan mulut lembab, tidak pucat.
Leher : Tidak teraba pembesaran KGB
Jantung
 Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : iktus kordis teraba pada sela iga 4, linea midklavikula sinistra.
 Perkusi : batas-batas jantung dalam batas normal
 Auskultasi : BJ I-II reguler, tidak ada murmur dan gallop
Paru
 Inspeksi : ekspansi dinding dada simetris saat statis dan dinamis
 Palpasi : ekspansi dada kanan = kiri, fremitus kanan = kiri

3
 Perkusi : lapang atas : sonor/sonor
lapang bawah : sonor/sonor
 Auskultasi : vesikuler/vesikuler, tidak ada ronki maupun wheezing
Abdomen
 Inspeksi : datar, simetris
 Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba
 Perkusi : timpani pada seluruh kuadran
 Auskultasi : bising usus (+) intensitas normal
Ekstremitas : akral teraba hangat,edema tungkai tidak ada, CRT < 2s

Status Obstetri
Palpasi : Tinggi Fundus Uteri (TFU) 3 jari di atas simfisis pubis.
Inspeksi : Vulva dan ostium uretra eksternum tenang.
Inspekulo : Ostium uteri terbuka, fluksus (+), perdarahan aktif
VT : Ostium uteri pembukaan 2 cm, teraba jaringan.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Laboratorium tanggal 25 Oktober 2016 pukul 09.27 (sebelum kuret)

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


Hematologi
Hemoglobin 12.8 g/dl
Leukosit 7.50 103/µL
Hematokrit 36.4 % 5.00-10.00
3
Trombosit 193 10 /µL 40.0-48.0
Eritrosit 4.22 106/µL 150-400
MCV 86 fL 4.50-5.50
MCH 30 pg 82-92
MCHC 35 g/dl 27-31
RDW-SD 41.8 fL 32-36
Glukosa Darah Sewaktu 107 mg/dL 35-47
BT 4 menit 70-140
CT 13 menit

4
V. DAFTAR MASALAH
1.Abortus inkomplit pada G3P2A0 hamil 11 minggu

VI. TATALAKSANA
1. Rencana Kuret CITO
2. Infus RL/8jam
3. Oksitosin drip 10 IU
4. Kalnex 500mg IV
5. Ondansentron 8mg (ekstra)

VII. OBSERVASI
1. Laporan Kuretase
- Operator: dr. Riady SpOG
- Anestesi: dr. Meli SpAn
- Lama tindakan ±15 menit
- Perdarahan ±30cc
- Jaringan ±10cc
- PA (-)

2. Hasil Laboratorium Post Kuret


Pemeriksaan Laboratorium tanggal 25 Oktober 2016 pukul 12.31 (setelah kuret)
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
Hematologi
Hemoglobin 10.4 g/dl
Leukosit 13.20 103/µL 5.00-10.00
Hematokrit 29.9 % 40.0-48.0
Trombosit 226 103/µL 150-400
Eritrosit 3.43 106/µL 4.50-5.50
MCV 87 fL 82-92
MCH 30 pg 27-31
MCHC 35 g/dl 32-36
RDW-SD 42 fL 35-47

5
3. Rencana Pulang & Kontrol
Pasien rencana dipulangkan pukul 22.00 WIB dengan obat pulang:
o Cefadroksil 2x500mg
o As. Mefenamat 3x500mg
o Hemafort 1x1
Pasien dijadwalkan kontrol ke poli Obsgyn tanggal 1 November 2016.

VIII. RINGKASAN
Pasien wanita 36 tahun datang pada tanggal 25 Oktober 2016 pukul 09.20 WIB ke IGD RS
Pelabuhan Jakarta dengan keluhan keluar darah dan gumpalan sejak 1 hari SMRS yang
semakin memberat sejak 6 jam SMRS. Pasien juga mengeluh nyeri perut bawah, mual dan
muntah 1x. Tidak ada riwayat trauma maupun keputihan. Pasien G3P2A0 hamil 11 minggu,
HPHT 1 Agustus 2016, taksiran persalinan 8 Mei 2017 (siklus menstruasi 28 hari, teratur).
Pasien riwayat SC tahun 2011 (anak ke 2), anak pertama lahir normal. Tidak ada riwayat
penyakit lain pada pasien maupun keluarga. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital
dalam batas normal, gizi baik, status generalis dalam batas normal. Status obstetrik, TFU 3
jari di atas simfisis pubis, ostium uteri terbuka 2cm, fluksus (+), perdarahan aktif. Dari
pemeriksaan laboratorium pre kuret tidak ada kelainan. Pasien direncanakan kuret cito,
diberikan infus RL/8jam, oksitosin drip 10 IU, kalnex 500mg IV dan ondansentron 8mg
(ekstra). Hasil tindakan kuret didapatkan perdarahan ±30cc dan jaringan ±10cc. Pasien
diobservasi dan dilakukan pemeriksaan lab ulang post kuret. Pasien dipulangkan pukul 22.00
WIB dengan obat pulang cefadroksil 2x500mg, asam mefenamat 3x500mg, hemafort 1x1.
Pasien dijadwalkan kontrol ke poli Obsgyn tanggal 1 November 2016.

IX. PROGNOSIS
Ad Vitam : Bonam
Ad Functionam : Bonam
Ad Sanactionam : Dubia ad Bonam

6
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Abortus

Abortus merupakan istilah terminasi kehamilan, baik spontan maupun intensional, sebelum
fetus cukup berkembang untuk bertahan hidup.1,2 Terminasi kehamilan yang dikategorikan
sebagai abortus adalah terminasi kehamilan yang terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu
atau sebelum berat janin mencapai 500 gram.1,2,3

Diagnosis Abortus2
- Perdarahan pervaginam (dapat berupa bercak hingga perdarahan masif)
- Nyeri perut, perut tegang
- Pengeluaran jaringan konsepsi (berupa gumpalan)
- Serviks dapat tertutup maupun terbuka
- Ukuran rahim lebih kecil dari seharusnya
- Diagnosis pasti melalui ultrasonografi

Patofisiologi Abortus
Abortus spontan dapat dibagi menjadi 4 tahapan yaitu abortus iminens, abortus insipien,
abortus inkomplit, dan abortus komplit. Keempat tahapan ini bersifat berkelanjutan.
1. Abortus Iminens (threatened abortion)1,2
Abortus iminens merupakan perdarahan pervaginam tanpa adanya dilatasi
serviks atau perubahan konsistensi serviks. Pada abortus iminens, nyeri tidak terlalu
dirasakan, namun terkadang terdapat kram ringan di bagian perut. Abortus iminens
sangat umum terjadi pada trimester pertama (sekitar 25%-30% kehamilan) dan hanya
kurang dari setengahnya saja yang berlanjut menjadi abortus komplit. Pada
pemeriksaan didapatkan darah atau cairan berwarna kecoklatan yang keluar dari
vagina (brownish vaginal discharge). Tidak ada jaringan janin maupun membran
yang keluar dari vagina.
Dari hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG), kehamilan pada abortus iminens
masih terus berlangsung. Apabila dari pemeriksaan USG ditemukan uterus yang
kosong, perlu dilakukan pemeriksaan hCG untuk memastikan (dikhawatirkan terjadi
kehamilan ektopik).3 Kantung kehamilan/gestational sac seharusnya sudah ditemukan
pada usia kehamilan >5,5 minggu, bila kadar hCG 1500-2400mIU/mL melalui USG

7
transvaginal dan hCG >3000mIU/mL melalui USG abdomen (kecuali pada kasus
gemeli).

2. Abortus insipien (inevitable abortion) 1,2


Abortus insipien merupakan perdarahan pervaginam pada kehamilan muda
disertai dilatasi serviks. Biasanya perdarahan yang terjadi lebih berat dari abortus
iminens dan kram yang dirasakan lebih hebat. Meskipun serviks sudah terbuka, belum
ada jaringan yang keluar melaluinya. Dari pemeriksaan USG, hasil konsepsi terletak
pada uterus segmen bawah atau pada kanal serviks.

3. Abortus inkomplit (incomplete abortion) 1,2


Abortus inkomplit merupakan perdarahan pervaginam disertai dilatasi serviks, dan
adanya jaringan yang keluar. Biasanya kram atau nyeri perut yang terjadi sangat berat
dan perdarahan yang terjadi sangat masif. Pasien dapat menceritakan adanya jaringan
yang keluar melalui vagina atau pemeriksa dapat menemukan jaringan di jalan lahir.
USG menunjukkan adanya sisa konsepsi pada jalan lahir.

4. Abortus komplit (complete abortion) 1,2


Abortus komplit merupakan abortus yang telah selesai terjadi. Biasanya,
pasien menceritakan adanya perdarahan pervaginam, nyeri perut, dan adanya jaringan
yang telah keluar. Setelah jaringan keluar, pasien merasa nyeri membaik dan
perdarahan berhenti. Dari pemeriksaan didapatkan adanya sedikit darah di jalan lahir,
serviks tertutup dan dari USG didapatkan uterus yang kosong.

5. Missed Abortion1,2
Selain keempat tahapan abortus tersebut, terdapat istilah lain yang disebut
Missed Abortion. Missed abortion merupakan kematian janin di kandungan tanpa
adanya pengeluaran spontan dari rahim. Biasanya tidak ada gejala apapun kecuali
amenorrhea. Diagnosis ditegakkan setelah pemeriksaan USG dan tidak ditemukan
detak jantung janin. Pada kasus ini tidak ada perdarahan pervaginam, nyeri perut,
jaringan yang keluar, maupun perubahan serviks. Kelima jenis abortus di atas dapat
dirangkum dengan tabel di bawah ini.

8
Gambar 1. Jenis-Jenis Abortus2

Tabel 1. Jenis-Jenis Abortus2

Secara garis besar, abortus diawali dengan adanya perdarahan di desidua basalis,
diikuti nekrosis jaringan di sekitarnya. Pada abortus yang terjadi di awal kehamilan, ovum
yang terlepas dari dinding uterus mengakibatkan terjadinya kontraksi uterus sehingga terjadi
ekspulsi. Apabila sudah terbentuk kantung kehamilan (gestational sac), perdarahan

9
mengakibatkan kantung kehamilan terbuka, dan janin mengalami maserasi. Pada beberapa
kasus, di dalam kantung kehamilan yang terbuka, tidak ditemukan janin (blighted ovum).1

Pada abortus yang terjadi di usia kehamilan lebih lanjut, janin akan mengalami
maserasi seperti kolapsnya tulang tengkorak, distensi abdomen, dan degenerasi organ dalam
lainnya. Kulit janin mengalami pelembutan dan pengelupasan di dalam kandungan (hanya
dengan sentuhan halus). Selain itu, apabila cairan amnion terabsorbsi, janin dapat terkompresi
dan mengering sehingga membentuk fetus compressus. Pada beberapa kasus, janin menjadi
sangat kering sehingga berbentuk perkamen yang disebut fetus papyraceous.1

Etiologi Abortus
Sekitar 80% abortus terjadi pada 12 minggu awal kehamilan. Penyebab utama abortus
spontan di trimester pertama adalah masalah pada embrio (80-90%) yang sekitar 50% nya
terjadi akibat kelainan kromosom. Setelah trimester pertama terlewati, insiden terjadinya
kelainan kromosom dan abortus menurun drastis.1
Berikut ini adalah faktor predisposisi terjadinya abortus:1,2,3

- Faktor Janin (fetal):


o kelainan genetik
o kelainan perkembangan zigot
- Faktor dari Ibu (maternal):
o Infeksi aktif seperti rubella, CMV, listeria, toksoplasma, malaria, bruselosis,
HIV, demam dengue, influenza, bacterial vaginosis (BV)5,6
o Penyakit kronik seperti PCOS, penyakit ginjal kronik
o Kelainan endokrin seperti hipotiroid, diabetes melitus, dan defisiensi
progesteron7
o Nutrisi
o Obat-obatan dan faktor lingkungan seperti rokok, alkohol, kafein dosis tinggi,
radiasi, kontrasepsi, dan toksin
o Imunologis seperti SLE
o Trauma fisik
o Defek uterus seperti uterus didelfis dan sinekia uteri akibat sindrom
Asherman
o Inkompeten Serviks (penipisan dan pembukaan serviks sebelum waktu
inpartu)

10
- Faktor dari Ayah (paternal)  kelainan kromosom sperma

Diagnosis Banding
Gejala utama abortus adalah perdarahan pervaginam yang terjadi pada kehamilan
muda. Perdarahan pervaginam pada kehamilan muda dapat disebabkan oleh abortus,
kehamilan ektopik terganggu, dan mola hidratidosa. Oleh karena itu terdapat 2 diagnosis
banding Abortus:7
1. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar uterus/rahim.
Kehamilan ektopik dapat terjadi di berbagai tempat namun 95% terjadi di tuba falopii,
sementara 5% sisanya terjadi di rongga peritoneum, ovarium, dan serviks. Bila terjadi
ruptur di daerah implantasi, dapat terjadi nyeri abdomen akut dan perdarahan masif
yang disebut kehamilan ektopik terganggu. Diagnosis KET didapatkan dari adanya
perdarahan pervaginam, penurunan kesadaran, pucat, hipotensi, hipovolemia, nyeri
abdomen dan pelvis.Pada pemeriksaan fisisterdapat nyeri goyang portio, dan kavum
douglasi menonjol. Pada pemeriksaan penunjang, tes plano, USG, pungsi kavum
douglasi (kuldosentesis). Faktor predsposisi KET diantaranya adanya riwayat operasi
di tuba dan atau tubektomi, riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, penggunaan
AKDR, infertilitas, inseminasi buatan, infeksi saluran kemih dan pelvic inflammatoy
disease (PID), riwayat abortus, riwayat promiskuitas, riwayat SC, merokok.
Tatalaksana awal KET adalah terapi cairan dengan NaCL 0,8%atau RL 500cc dalam
15 menit, atau 2 L dalam 2 jam. Setelah itu lakukan pemeriksaan darah dan
persiapkan laparotomi.2,3

11
Gambar 2. Lokasi kehamilan ektopik1

2. Mola Hidratidosa2,3
Mola hidatidosa merupakan penyakit trofoblastik gestasional yang terjadi
akibat kelainan vili korionik karena proliferasi tofoblastik dan edema. Gejala yang
dialami pasien mola hidatidosa adalah perdarahan ervaginam (bercak hingga
perdarahan masif), mual dan muntah hebat (karena hCG sangat tinggi), ukuran uterus
lebih dari usia kehamilan, tidak ada janin di dalam uterus, nyeri perut, serviks terbuka,
keluar jaringan seperti anggur, serta dapat disertai tanda tirotoksikosis seperti
takikardi. Penegakan diagnosis dapat dibantu dengan USG. Mola hidatidosa sering
terjadi pada usia kehamilan yang terlalu muda (<15 tahun) dan terlalu tua (>45 tahun),
pasien dengan riwayat mola sebelumnya, serta pada beberapa kasus penggunaan
kontrasepsi oral. Mola hidatidosa harus ditangani di fasilitas kesehatan lengkap. Bila
serviks tertutup, lakukan pemasangan laminaria selama 24 jam. Lakukan vakuasi
mola dengan AVM (disarankan menyiapkan 3 tabung AVM karena jaringan mola
biasanya banyak). Selain itu siapkan darah untuk transfusi terutama pada mola
berukuran besar. Bila tersedia dapat dilakukan aspirasi vakum elektrik. Selama proses
evakuasi, beri infus oksitosin 10 IU dalam 500cc NaCl 0,9% atau RL dengan
kecepatan 40-60tpm untuk mencegah perdarahan. Setelah kehamilan mola, pasien
disarankan menggunakan kontrasepsi hormonal bila masih ingin memiliki anak, dan

12
melakukan tubektomi bila tidak ingin memiliki anak lagi. Setelah itu, lakukan
pemeriksaan serum hCG setiap 2 minggu. Bila homon hCG terus menetap atau naik
dalam 2x pemeriksaan berturut-turut, rujuk ke RS tersier untuk persiapan tindakan
kemoterapi. Bila setelah 8 minggu hCG tetap positif di urin, rujuk ke RS tersier.2,3

Gambar 3. Mola hidatidosa1

Tatalaksana Abortus
- Tatalaksana Umum2
Tatalaksana umum abortus diawali dengan penilaian keadaan umum pasien
termasuk tanda vital, tanda-tanda syok (akral dingin, pucat, takikardi, sistolik
<90mmHg) dan laukan penanganan awal bila terdapat tanda-tanda syok. Bila tidak
ada tanda-tanda syok, tetap waspada karena kondisi ibu dapat memburuk dengan
cepat.2
Bila ada tanda-tanda sepsis atau dugaan abotus dengan komplikasi, beri
antibiotik hingga ibu bebas demam 48 jam. Antibiotik yang disarankan adalah
Ampicilin 2g IV/IM kemudian 1g diberikan setiap 6 jam, Gentamicin 5mg/kgBB IV
setiap 24 jam, Metronidazol 500mg IV setiap 8 jam. Lanjut tatalaksana khusus sesuai
jenis abortus.2
- Tatalaksana Khusus
A. Abortus Iminens2
Pada abortus iminens, kehamilan masih dapat dipertahankan. Pasien
diharuskan istirahat, tidak melakukan aktivitas fisik berlebihan dan tidak
diperbolehkan berhubungan seksual, Setelah perdarahan berhenti, kondisi pasien
dipantau dengan USG serial setiap 4 minggu dan pemantauan Hb. Apabila
perdarahan tidak berhenti, perlu dilakukan USG untuk menilai kondisi lain dan

13
menilai kemungkinan penyebab lainnya.2
B. Abortus Insipiens2
Pada abortus isipiens, pasien perlu diberikan konseling mengenai keadaan
janin yang tidak dapat dipertahankan, tindakan yang akan dilakukan serta risiko
dan rasa tidak nyaman selama tindakan, serta kontraspsi pasca keguguran.
o Apabila usia kehamilan <16 minggu, lakukan evakuasi isi uterus. Bila tidak
dapat dilakukan evakuasi segera, beri ergometrin 0,2mg IM (dapat diulang 15
menit kemudian bila perlu) dan rencanakan evakuasi.
o Apabila usia kehamilan >16 minggu, tunggu pengeluaran hasil konsepsi
spontan dan evakuasi sisa hasil konsepsi. Apabila perlu, beri infus oksitosin 40
IU dalam 1 liter NaCl 0,9% atau RL dengan kecepatan 20tpm untuk
membantu pengeluaran.
Lakukan observasi pasca tindakan setiap 30 menit selama 2 jam, bila kondisi ibu
baik dapat dipindahkan ke ruang rawat. Lakukan pemeriksaan PA jaringan.
Lakukan evaluasi tanda vital, perdarahan, tanda akut abdomen, produksi urin
setiap 6 jam selama 24 jam. Bila hasil pemantauan baik dan Hb>8g/dl, pasien
dapat dipulangkan2
C. Abortus Inkomplit2
Pada abortus inkomplit, berikan konseling pada pasien seperti pada abortus
insipiens.
o Bila perdarahan ringan/sedang pada kehamilan <16 minggu, gunakan jari atau
forsep cincin untuk megeluarkan hasil konsepsi yang muncul di serviks.
o Bila perdarahan berat pada kehamilan <16 minggu, lakukan evakuasi isi
uterus. Aspirasi Vakum Manual (AVM) adalah metode yang dianjurkan. Kuret
tajam hanya dilakukan bila tidak tersedia AVM. Bila tidak dapat dilakukan
evakuasi segera, beri ergometrin 0,2mg IM (dapat diulang 15 menit kemudian
bila perlu) dan rencanakan evakuasi.
o Bila usia kehamilan >16 minggu, beri infus oksitosin 40 IU dalam 1 liter NaCl
0,9% atau RL dengan kecepatan 40tpm untuk membantu pengeluaran.
Lakukan observasi pasca tindakan setiap 30 menit selama 2 jam, bila kondisi
ibu baik dapat dipindahkan ke ruang rawat. Lakukan pemeriksaan PA jaringan.
Lakukan evaluasi tanda vital, perdarahan, tanda akut abdomen, produksi urin
setiap 6 jam selama 24 jam. Bila hasil pemantauan baik dan Hb>8g/dl, pasien
dapat dipulangkan

14
o Waspada apabila dari hasil kuret tidak ditemukan jaringan hasil konsepsi.
Lakukan evaluasi ulang untuk memeriksa kemungkinan kehamilan ektopik.
D. Abortus Komplit2
Pada abortus komplit tidak lagi diperlukan evakuasi karena jaringan konsepsi
sudah keluar. Lakukan konseling untuk memberikan dukungan pada pasien dan
membantu pemilihan kontrasepsi pasca keguguran. Bila terdapat anemia sedang
dapat diberikan tablet sulfat ferosus 600mg/hari selama 2 minggu, bila terdapat
anemia beratberikan transfusi. Evaluasi keadaan pasien setelah 2 minggu.2
E. Missed Abortion2
Pada missed abortion perlu dilakukan konseling untuk pasien.
o Bila usia kehamilan <12 minggu lakukan evakuasi dengan AVM atau sendok
kuret
o Bila usia kehamilan >12 minggu namn <16 minggu pastikan serviks terbuka,
bila perlu lakukan pematngan serviks sebelum dilatasi dan kuretase, lakukan
evakuasi dengan tang abortus dan sendok kuret.
o Bila usia kehamilan 16-22 minggu, lakukan pematangan serviks, lalu evakuasi
dengan infus oksitosin 20 IU dalam 500ml NaCl 0,9% atau RL dengan
kecepatan 40tpm hingga terjadi ekspulsi. Bila dalam 24 jam tidak ada
ekspulsi, lakukan evaluasi ulang.
Lakukan observasi pasca tindakan setiap 30 menit selama 2 jam, bila kondisi
ibu baik dapat dipindahkan ke ruang rawat. Lakukan pemeriksaan PA jaringan.
Lakukan evaluasi tanda vital, perdarahan, tanda akut abdomen, produksi urin
setiap 6 jam selama 24 jam. Bila hasil pemantauan baik dan Hb>8g/dl, pasien
dapat dipulangkan2

Prognosis Abortus1,2
Setelah abortus, pada umumnya kesuburan wanita akan kembali setelah 14 hari.
Wanita yang mengalami abortus dengan adanya riwayat memiliki anak hidup sebelumnya,
memiliki 30% risiko terjadinya abortus di kemudian hari, sementara wanita yang abortus
namun belum memiliki anak hidup memiliki risiko 46% mengalami abortus di kemudian
hari.1 Untuk mencegah terjadinya kehamilan segera setelah abortus, disarankan menggunakan
AKDR yang dipasang pasca abortus. Kontraindikasi AKDR pasca abortus adalah infeksi
pelvik, abortus septik, atau kompliasi serius lainnya.2

15
Jenis Abortus Portio / Serviks Jaringan Tatalaksana
Iminens Tertutup (-) Tirah baring
Insipiens Terbuka (-) Evakuasi jaringan + kuretase
Inkomplit Terbuka (+) Evakuasi jaringan + kuretase
Komplit Tertutup (-) Tidak ada tindakan khusus
Abortus Lainnya
- Abortus habitualis: abortus minimal 3x berturut-turut
- Abortus septik: diikuti komplikasi dan tanda-tanda infeksi
- Missed abortion: janin meninggal <20 minggu, masih berada di dalam
uterus, tidak ada nyeri perut perdarahan, maupun perubahan pada serviks
Tabel 2. Jenis abortus da tatalaksananya3

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap L, Wenstrom KD.
Williams Obstetrics 22nd edition. 2005. USA: McGraw-Hill Professional
2. World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan
Dasar dan Rujukan. Edisi 1. 2013; h. 84-93
3. Hadijanto B. Perdarahan pada Kehamilan Muda. In: Saifuddin AB, Rachimhadhi
T, Wiknjosastro GH, editors. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. 4th ed.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2010. p. 459 -90
4. Barnhart KT, Katz I, Hummel A, Gracia CR. Presumed diagnosis of ectopic
pregnancy. Obstet Gynecol. 2002 Sep. 100(3):505-10.
5. Nelson DB, Hanlon AL, Wu G, Liu C, Fredricks DN. First trimester levels of BV-
associated bacteria and risk of miscarriage among women early in
pregnancy. Matern Child Health J. 2015 Dec. 19 (12):2682-7.
6. Giakoumelou S, Wheelhouse N, Cuschieri K, Entrican G, Howie SE, Horne AW.
The role of infection in miscarriage. Hum Reprod Update. 2015 Sep 19.
7. Thangaratinam S, Tan A, Knox E, et al. Association between thyroid
autoantibodies and miscarriage and preterm birth: meta-analysis of evidence. BMJ.
2011 May 9. 342:d2616.

17