Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fenomena kebangkitan jilbab sebagai identitas keagamaan di kalangan anak

muda sebagai tren fashion di Indonesia, merupakan hal yang perlu ditanggapi dengan

positif. Berawal dari munculnya komunitas pengguna jilbab yaitu “Hijabers

Community” pada tahun 2010 (Hijaberscommunity.com) memperkenalkan fashion

muslimah modern dengan gaya berhijab yang modern dan modis. Istilah hijab juga

dipopulerkan oleh komunitas ini agar lebih terdengar internasional, karena jilbab

dalam bahasa Inggris adalah hijab. Selain merupakan perkumpulan wanita berhijab,

komunitas ini memberikan tutorial cara mengkreasikan hijab, rias wajah, menawarkan

mode pakaian muslimah terbaru dan kegiatan pengajian serta kepedulian antar sesama.

Peran publik figur berhijab dan munculnya perancang busana muslimah di televisi,

media sosial dan surat kabar semakin menambah ketertarikan muslimah Indonesia

untuk mengenakan hijab.

Kemunculan fashion “hijab” modern tidak terlepas dari pro dan kontra di

masyarakat, keberadaan fashion hijab yang ditunjukkan oleh komunitas hijabers

dianggap telah berusaha menggeser aturan, nilai-nilai dan fungsi hijab menjadi tren

mode berpakaian yang sudah tidak sesuai dengan Alquran, namun justru mengajak

untuk bergaya hidup yang lebih konsumtif serta menunjukkan identitas baru sebagai

muslimah kelas atas, karena komunitas tersebut lebih banyak melakukan kegiatan yang

berhubungan dengan mode dibandingkan dengan kegiatan kajian agama Islam

(Nuariza, 2012; Yedesiasi, 2013). Oleh karena itu, kini muncul berbagai komunitas
wanita berhijab lain yang memiliki tujuan untuk mengajak wanita Islam Indonesia

menggunakan hijab sesuai dengan syariat agama Islam juga sebagai bentuk

keprihatinan wanita muslimah lain dengan munculnya komunitas “jilboobs” wanita

berkerudung namun berpakaian ketat (Hidayat, 2014). Berikut ini adalah beberapa

komunitas wanita muslimah berjilbab di Indonesia

Tabel 1.1

Komunitas Muslimah Berhijab Di Indonesia

1. Hijabers Community
Tahun 2010

2. Hijabbillah
Komunitas hijab
modern 28 September
2013

3. Komunitas hijab
Syar’i
November 2012

4. Wanita Indonesia
Bercadar
September 2014

Sumber : Fanpage Hijaberscommunity, Komunitas Hijab Syar‟i, Hijabspeak dan


Wanita Indonesia Bercadar

Alasan menggunakan hijab saat ini sudah berubah sebagai pemenuhan mode,

menutup kepala, aksesoris, agar terlihat lebih menarik dan lain-lain. Esensi hijab

sebagai perintah tidak lagi ada dalam perilaku berhijab, sehingga tidak jarang banyak

muslimah yang menegenakan hijab tidak sesuai dengan syariat Islam menuai kritik di
kalangan masyarakat. Padahal, jelas bahwa sesungguhnya menggunakan hijab perlu

dipahami sebagai kewajiban dan perintah bagi semua wanita yang beragama Islam

untuk menjaga kehormatan wanita. Selain itu, hijab juga merupakan sumber kebaikan

bagi wanita, dimana Allah mengangkat derajat wanita yang mengenakan hijab agar

tidak diganggu oleh pandangan laki-laki. Kitab suci Alquran menegaskan perintah

menggunakan hijab dalam surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya sebai berikut :

Maksud dari ayat tersebut adalah Tuhan memerintah semua wanita yang sudah

balig atau sudah mendapatkan haid untuk menutup auratnya. Aurat adalah anggota

badan yang tidak boleh diperlihatkan jika akan keluar rumah, khususnya bagi wanita

muslim hanya diperkenankan menampakkan telapak tangan dan wajahnya saja.

Sedangkan jilbab dalam ayat tersebut merupakan sejenis baju kurung yang lapang

dapat menutup kepala, wajah dan dada (Tafsir dalam Al qur’an Cordoba special for

Muslimah, 2012). Sehingga tidak nampak aurat dan menimbulkan prasangka tidak

baik terhadap wanita yang berhijab.

Al qur’an surat Al-Ahzab ayat 59 tersebut sejalan dengan kesimpulan Droogsma

(2007) yang dilakukan pada wanita muslim di Amerika menyebutkan bahwa, fungsi

hijab untuk mendefinisikan identitas muslim, melakukan pemeriksaan perilaku,

menolak obyektifitas seksual, mampu memberikan rasa hormat yang lebih tinggi,

melestarikan hubungan intim dengan pasangan dan memberikan kebebasan

(Droogsma, 2007). Sehingga dapat dikatakan bahwa keberadaan fenomena hijabers

merupakan gambaran akan kebutuhan ekspresi keagamaan dalam nilai-nilai dan

norma-norma global yang terus berubah, serta merupakan bentuk artikulasi wacana

sosial diperkotaan, yaitu kesalehan dan kehidupan perkotaan global mampu


menciptakan industri kreatif Islam yang dinamis dan kesuksesan bagi wanita muslim

di kota besar Indonesia menunjukkan simbol religiusitas dalam pandangan

kosmopolitan (Beta, 2014).

Sedangkan di sisi lain, hijab syar’i sendiri dapat didefinisikan sebagai busana

muslimah untuk menutup aurat dengan dilengkapai kerudung atau penutup kepala

yang menutup hingga ke dada, berbahan kain yang tidak transparan, longgar atau tidak

ketat, tidak menyerupai pakaian laki-laki, dan bukan pakaian untuk mendapatkan

popularitas (Salim, 2012). Sejalan dengan kepopuleran minat berhijab, bisnis terkait

fashion hijab menjadi sasaran pelaku usaha di Indonesia Majalah SWA edisi 28

Agustus-10 September 2014, membahas mengenai ledakan kelas menengah Muslim di

Indonesia. Bahwa globalisasi telah merubah gaya hidup masyarakat Muslim dari

konvensional menuju Muslim yang modern. Berbagai produk barang dan jasa yang

menyebutkan “syariah” ataupun “halal” kini menjadi tren di Indonesia, mulai dari jasa

layanan keuangan, fashion, entertaintment, travelling hingga produk kecantikan.

Populasi Muslim menengah Indonesia yang besar diperkirakan memiliki nilai

pasar mencapai Rp 112 triliun per bulan. Yuswohady (2013) menyebutkan dalam buku

yang berjudul “Marketing to the Middle Class Moslem” bahwa hampir semua bank

memilki unit bank syaria demi memenuhi peluang pasar perbankan yang memegang

nilai-nilai syariah. Selain itu, industri makanan dan kosmetik kini berupaya untuk

memproduksi produk halal, serta munculnya perancang busana muslimah yang

menjadi idola dan rujukan dalam berbusana.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan 3 partisipan terkait dengan niat

berhijab secara syar’i, 2 diantaranya telah mengenakan hijab jika akan keluar rumah

dan 1 partisipan belum menggunakan hijab. Ketiganya juga menyadari bahwa


menggunakan hijab adalah kewajiban bagi wanita yang beragama Islam, namun

bagaimana menggunakan hijab yang benar masih belum dimengerti. Berikut ini

kutipan pernyataan mereka :

Awalnya aku ga tau alasan mengapa berhijab, baru tahun 2008 atau pas awal
kuliah mulai memakai hijab. Setelah makai hijab baru tau alasan kenapa makai
hijab. Sebelumnya sama sekali tidak pernah mengenakan hijab. Jilbab itu
penutup aurat, lambang muslimah sejati dan pelindung wanita. Menurutku
makai hijab itu wajib, tapi juga ga bisa memaksa ke orang lain yang terpenting
adalah bersikap baik dan hatinya baik. Saya sedang mencoba untuk istiqomah
menggunakan hijab sesuai dengan perintah Allah yaitu tidak tipis, menutup
dada dan tidak ketat, sedangkan fenomena hijab modern saat ini cukup bagus,
dari segi kualitas ya lumayan lah karena ga mungkin to memaksa pake hijab
syar‟i seperti cadar?. jadi sah sah saja orang berhijab niatnya untuk fashion.
Uut (25 tahun, mahasiswa, menikah, berhijab, 6 tahun).

Alasan pertama aku memakai jilbab ya karena hanya ingin menutup aurat itu
saja. Saya dulu mulai memakai jilbab setelah lulus SMP, meskipun SMP juga di
Muhammadiyah dan kalau main masih lepas jilbab. Menurut saya hijab
membuat anggun dan terlihat rapi bagi penggunanya. Seiring dengan
berjalannya waktu, saat ini alasan saya menggunakan hijab mulai berubah yaitu
ingin menjadi orang yang lebih baik. Saya sudah berniat menggunakan hijab
yang benar, tapi menggunakan hijab yang baik dan benar itu seperti apa saya
justru ingin tahu, karena yang saya tau berhijab yang baik dan benar adalah
menutup anggota badan keculai wajah dan telapak tangan, tidak transparan,
menutupi dada dan tidak ketat. Menurut saya berhijab itu wajib bagi semua
muslimah. Sedangkan jilbab jaman sekarang memang modern tapi saya kurang
sreg karena malah jadi ribet. Kalau berhijab syar‟i gambaran saya seperti artis
Oki Setianadewi itu bagus,tapi kalau syar‟i yang bercadar itu sepertinya kurang
cocok ya kalau di Indonesia, tapi tergantung pada masing-masing individunya.
Ratna (20 tahun, karyawan swasta, belum menikah, berhijab 4 tahun)

Saya belum menggunakan hijab karena saya takut melakukan kesalahan dan
masih menggunaan pakaian yang tidak sesuai dengan yang selayaknya orang
berhijab, meskipun kadang-kadang dalam acara tertentu saya sudah
menggunakan hijab. Saya sudah memiliki niatan untuk berhijab tapi, karena
saya kan dari dulu sudah tidk berhijab jadi butuh waktu dan proses menuju
berhijab. Keberadaan hijab modern saat ini memang bagus dan menarik, tapi
saya masih belum memantapkan hati untuk benar-benar berhijab. Saya juga
belum tau berhijab yang benar itu seperti apa.
Budi (ibu rumah tangga, 25 tahun, menikah, belum berhijab)

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa sebagian partisipan sudah

mengetahui bagaimana menggunakan hijab dengan benar, namun masih terdapat


keraguan pada awal seseorang ingin memulai menggunakan hijab, meskipun mereka

menyadari bahwa menggunakan hijab adalah kewajiban bagi semua wanita yang

beragama Islam. Peran publik figur seperti artis juga dirasa penting untuk

mempengaruhi individu dan memberikan contoh yang baik dalam keputusan

menggunakan hijab secara syar’i, karena partisipan juga menyebutkan nama-nama

artis yang saat ini mulai banyak menggunakan hijab yang sesuai dengan kaidah dan

nilai-nilai hijab sebenarnya.

Keputusan untuk memakai hijab sebagai salah satu pengembangan identitas dan

reorientasi perempuan usia kuliah dari keluarga (William dan Vashi, 2007). Wiliam

dan Vashi (2007) juga menyebutkan bahwa menggunakan hijab memiliki dinamika

fashion yang tidak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan sebagai motivasi agama,

etika atau latar belakang kelas, namun seiring dengan makna religius dan sosial, hijab

adalah fashion, sehigga membicarakan tentang hijab seolah-olah sedang

membicarakan tentang pakaian di mal, cara menggunakan disesuaikan dengan gaya,

inovasi dan tren yang sedang berkembang. Wanita dengan gaya hijab yang berbeda

saling mengajarkan kepada teman dan saudara mereka.

Sementara itu, perkembangan hijab di Amerika, kini hijab telah menjadi simbol

dari identitas Islam Amerika, sebagai penegasan kepercayaan publik dalam sistem

Amerika yang menjamin kebebasan berbicara dan beragama, serta sebagai simbol

solidaritas dan perlawanan anti kolonial untuk upaya pemberantasan Islam di

lingkungan Amerika yang dilihat sebagai anti Islam (Haddad, 2007). Agama

merupakan salah satu pengaruh lingkungan sosial dalam keputusan pembelian yaitu

melalui budaya, sejumlah karakteristik demografi yang dapat digunakan untuk

mengidentifikasi subkultur, sebagai contoh yaitu nasionalitas (hispanik, orang Italia


dan lain-lain), usia (anak–anak, remaja, dewasa) dan agama (Katolik, Yahudi, dan

Fundamentalis) (Bearden, 2001).

Berdasarkan paparan sebelumnya dapat diketahui bahwa agama memiliki peran

yang penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia, hal ini tercermin dalam ideologi

yang dipegang oleh negara Indonesia yaitu Pancasila sila pertama “Ketuhanan yang

Maha Esa”. Jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam sekitar 87,3% dari

keseluruhan penduduk Indonesia (BPS, 2010). Perilaku yang berorientasi agama juga

ditunjukkan melalui kegiatan ibadah dan bermasyarakat. Salah satu bentuk

mengamalan agama adalah melaksanakan perintah menggunakan hijab bagi wanita

yang beragama Islam.

Fenomena hijab juga dapat diartikan sebagai keterlibatan religiusitas dalam

kehidupan sehari-hari. salah satu bentuk religiusitas yang mempengaruhi perilaku

berbelanja wanita muslimah dalam menggunakan pakaian muslimah untuk mengikuti

mode yang sedang berkembang. Zaidi (2014) menyebutkan bahwa, hallo effect juga

terjadi pada evaluasi positif dari wanita yang menggunakan hijab, dimana seorang

pengguna hijab menunjukkan religiusitas yang lebih besar dibandingkan yang tidak.

Zaidi (2014) juga menyebutkan bahwa religiusitas, mampu mengontrol status jilbab

pribadi, namun tidak memiliki pengaruh independen pada persepsi dari pengguna hijab

baik yang berasal dari Amerika Serikat atau Uni Emirat Arab, meskipun di Uni Emirat

Arab, wanita yang lebih religius bukan pengguna hijab kurang menarik. Hijab syar’i

sendiri adalah gabungan dari pakaian dengan kerudungnya dengan syarat pakaian yang

digunakan adalah pakaian yang longgar, tidak transparan, tidak ketat, tidak

menyerupai laki-laki seperti menggunakan celana panjang, menutup hingga mata kaki,
sedang syarat untuk kerudung syar’i adalah berbahan tidak transparan, lebar,dan

menutup dada.

Religiusitas merupakan variabel yang menjelaskan mengenai komitmen individu

untuk melaksanankan aturan dan perintah agamanya dalam kehidupan sehari-hari.

Pengaruh religiusitas terhadap perilaku pembelian konsumen masih terdapat perbedaan

antara hasil penelitian satu dengan yang lain. Lindridge (2005) menyatakan bahwa

anteseden religiusitas bukan merupakan aspek penting kehidupan sehari–hari. Essoo

dan Dibb (2004) menyimpulkan bahwa agama sebagai sebuah konstruk yang penting

dalam studi perilaku konsumen dan mempengaruhi cara orang berbelanja.

Theory of Planned Behaviour (TPB) (Ajzen, 1991) telah banyak diterapkan

dalam memahami perilaku yang direncanakan oleh individu. Teori ini memilki faktor-

faktor penentu keputusan individu untuk melakukan perilaku tertentu. Theory of

Reason Action (TRA) merupakan teori yang dikembangkan sebelum TPB diajukan,

karena TRA dinilai memiliki beberapa kelemahan dan dilakukan penambahan variabel

lain yaitu kontrol keperilakuan yang dirasakan. TPB menyatakan bahwa penentu

perilaku adalah niat berperilaku yang ditentukan oleh dari sikap terhadap perilaku,

norma subyektif, dan kontrol keperilakuan yang dipersepsikan. Niat berperilaku

didefinisikan sebagai motivasi yang dibutuhkan untuk menampilkan perilaku tertentu

(Armitage dan Conner, 2000). Niat diasumsikan memiliki faktor-faktor motivasional

yang memiliki dampak pada perilaku yang merupakan indikasi seberapa besar upaya

yang dilakukan seseorang untuk menampilkan perilaku. Oleh karena itu, semakin kuat

niat seseorang maka semakin besar kemungkinan perilaku tersebut untuk dilakukan.

Selain itu, perkembangan TPB kini telah mampu menguji dan diterapkan dalam
memahami dan menjelaskan berbagai perilaku terkait dengan religiusitas. Lada et al.,

(2009), menyebutkan bahwa sikap terhadap perilaku dan norma subyektif merupakan

prediktor yang baik dalam memprediksi niat untuk memilih produk halal, hal itu

sejalan dengan hasil penelitian Khalek dan Ismail (2014) TPB merupakan model yang

efektif yang dapat digunakan untuk memprediksi niat dalam mengkonsumsi makanan

halal. Sedangkan Alam et al., (2012) menyimpulkan bahwa kontrol keprilakuan yang

dirasakan, sikap dan religiusitas mampu menjelaskan niat konsumen untuk memilih

jasa keuangan Islami, oleh karena itu religiusitas dianggap berperan penting

berpengaruh pada niat akan tetapi norma subyektif berpengaruh tidak langsung, hal ini

dapat dikarenakan adanya hubungan dengan pengalaman, pengetahuan, tingkat

kepedulian, persepsi dan kepercayaan konsumen.

Selain itu, peran religiusitas dalam penerapan TPB juga dimanfaatkan untuk

menguji niat berperilaku tidak etis (Chen dan Tang, 2012), penggelapan pajak (Lau et

al, 2013), niat melakukan donasi (Khasif et al, 2014; Teah et al., 2014); consumer

social responsibilities (Schouten et al., 2014), mengkonsumsi makanan halal (Khalek

dan Ibrahim, 2014) dan niat beli (Souiden dan Rani, 2015). Akan tetapi, dalam

menggunakan variabel religiusitas melalui TPB masing-masing penelitian masih

berbeda-beda.

Implementasi Theory of Planned Behavior dalam perkembangan penelitian yang

berkaitan dengan religiusitas memiliki hasil yang berbeda-beda antara peneliti satu

dengan yang lainnya. Dimana masing-masing peneliti menemukan bahwa terdapat

perbedaan pengaruh religiusitas pada niat berperilaku. Alam, Janor, Zanarriah, Che

Weld dan Ahsan (2012) menyeimpulkan bahwa religiusitas berpengaruh secara


signifikan positif pada niat untuk menggunakan jasa keuangan perumahan Islami,

sementara itu Schouten, Graafland dan Kaptein (2014) menyebutkan bahwa

religisuitas mempengaruhi niat perusahaan melakukan tanggungjawab sosial dengan

dimediasi sikap terhadap perilaku, akan tetapi religiusitas intrinsik berpengaruh negatif

pada diversity dan secara langsung berpengaruh pada charity. Pendapat Scouten et al

(2014) tersebut didukung oleh Souiden dan Rani (2015) yang menyebutkan bahwa

religiusitas secara signifikan mempengaruhi sikap terhadap perbankan Islami.

Perbedaan penggunaan variabel religiusitas juga ditunjukkan oleh Teah, Lwin dan

Ceah (2014) yang menyatakan bahwa religiuitas memoderasi pengaruh sikap terhadap

perilaku pada niat mendonasikan uang.

Alam et al., (2012) mengadaptasi pengukuran yang dikembangkan oleh Alam et

al., (2011) yang berkaitan dengan pengukuran keagamaan Islam dalam kehidupan

sehari-hari. Schouten et al.,(2014) mengadaptasi pengukuran mengadaptasi instrumen

pengukuran religiusitas intrinsik dan ekstrinsik yang dikembangkan oleh Allport and

Ross (1967) sementara terdapat pendapat bahwa pengukuran religiusitas yang

dikembangkan oleh Allport dan Ross (1967) tidak seseuai untuk mengukur religiusitas

dalam konteks agama Islam karena dalam praktiknya orientasi agama dalam Islam

tidak hanya terdiri dari 2 (ekstrinsik dan intrinsik) namun 7 orientasi (inspirasional,

intrinsik, sosial, konsensional, theo-pasifik, kemanusiaan dan pengorbanan) (Khodady

dan Bagheri, 2012).

Religiusitas menurut Soiden dan Rani (2015) dipecah menjadi 3 komponen yaitu

keyakinan agama, keterlibatan agama takut hukuman Ilahi, dengan mengadaptasi

instrument pengukuran dari penelitian lain untuk disesuaikan dengan konteks


konsumen Tuniasia. Oleh karena itu, dalam penelitian ini menggunakan instrumen

pengukuran religiusitas yang dikembangkan oleh Worthington et al (2003), karena

dianggap mampu mengukur religiusitas berdasarkan komitmen individu secara afektif

terhadap keyakinan agamanya untuk melaksanakan kegiatan keagamaan berdasarkan

hubungan terhadap Tuhan (Interpersonal) dan hubungan terhadapsesama manusia

(Intrapersonal).

Konteks penelitian yang digunakan oleh penelitian sebelumnya seperti Alam et

al., (2012) dan Nizar dan Rani (2015) menginvestigasi peran religiusitas dalam

penerapan TPB pada konteks produk layanan perbankan, sedangkan Schouten et al.,

(2014) pada konteks tanggungjawab sosial perusahaan dan Teah et al., (2014) pada

konteks motivasi untuk mendonasikan uang. Sementara itu, penerapan TPB dalam

konteks perilaku keagamaan yang sangat spesifik seperti menggunakan hijab masih

kurang seperti Heikal (2014) menerapkan TPB dalam konteks niat mebayar zakat dan

Winahjoe, Sutikno dan Sudiyanti, (2013) yang menerapkan peran religiusitas pada niat

berhijab, sedangkan dalam penelitian ini mencoba untuk menggunakan TPB dalam

konteks niat berhijab sesuai dengan syariat Islam atau hijab syar’i pada wanita muda

muslim di Indonesia

Alam et al., (2012) menyimpulkan bahwa religiusitas merupakan faktor yang

penting dalam mempengaruhi niat untuk melakukan pembiayaan rumah secara syariah.

Alam et al., (2012) menggunakan religiusitas sebagai variabel independen secara

langsung mempengaruhi niat. Sedangkan Schouten et al., (2014) menggunakan

variabel religiusitas sebagai variabel independen yang mempengaruhi perilaku

tanggung jawab sosial perusahaan yang dimediasi oleh sikap terhadap perilaku. Hal
yang sama diajukan oleh Souiden dan Rani (2015), bahwa religiusitas mempengaruhi

niat beli dengan dimediasi oleh sikap terhadap niat. Berbeda dengan Teah et al.,

(2014), fungsi variabel religiusitas adalah sebagai moderasi antara sikap terhadap

perilaku pada motivasi untuk mendonasikan uang. Sedangkan hasil penelitian dalam

hal konteks penelitian. Alam et al., (2012) dan Nizar dan Rani (2015) menginvestigasi

peran religiusitas dalam penerapan TPB pada konteks produk layanan perbankan,

sedangkan Schouten et al., (2014) pada konteks tanggungjawab sosial perusahaan dan

Teah et al., (2014) pada konteks motivasi untuk mendonasikan uang. Sementara itu,

penerapan TPB dalam konteks perilaku keagamaan yang sangat spesifik seperti

menggunakan hijab masih kurang seperti Heikal (2014) menerapkan TPB dalam

konteks niat mebayar zakat dan Winahjoe, Sutikno dan Sudiyanti, (2013) yang

menerapkan peran religiusitas pada niat berhijab, sedangkan dalam penelitian ini

mencoba untuk menggunakan TPB dalam konteks niat berhijab sesuai dengan syariat

Islam atau hijab syar’i pada wanita muda muslim di IndonesiaOleh karena perbedaan

fungsi dari variabel religisitas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai religiusitas dalam konteks niat menggunakan hijab syar’i dikalangan anak

muda Indonesia.