Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Bayi baru lahir yaitu kondisi dimana bayi baru lahir (neonatus), lahir
melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan,
menangis kuat, nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000
gram.Neonatus (BBL) adalah masa kehidupan pertama diluar rahim sampai
dengan usia 28 hari,dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari
kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim.Pada masa ini terjadi
pematangan organ hampir pada semua system.
Neonatus (BBL) bukanlah miniature orang dewasa,bahkan bukan pula
miniature anak.Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam
rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang
serba mandiri.Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72
pertama.Transisi ini hampir meliputi semua system organ tapi yang terpenting
bagi anastesi adalah system pernafasan sirkulasi,ginjal dan hepar.Maka dari
itu sangatlah diperlukan penataan dan persiapan yang matang untuk
melakukan suatu anastesi terhadap neonates (BBL).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan bayi baru lahir normal ?
2. Untuk mengetahui tentang ciri-ciri bayi baru lahir!
3. Untuk mengetahui bagaimana tahapan bayi baru lahir
4. Untuk mengetahui tentang adaptasi fisiologis
5. Untuk mengetahui tentang Asuhan Segera Pada Bayi Baru Lahir Normal
6. Untuk mengetahui tentang Neonatus Bayi Dan Anak Balita Dengan
Penyakit Yang Lazim Terjadi
7. Untuk mengetahui adanya bayi baru lahir bermasalah
8. Untuk mengetahui tentang kelainan-kelaiana pada bayi baru lahir
9. Untuk mengertahui apa sajakah Trauma yang terjadi pada bayi baru lahir
10. Untuk mengetahui bagaimana Neonatus beresiko tinggi pada bayi
11. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada bayi baru lahir

C. Tujuan Penulisan
1. Umum
Tujuan dari penulisan makalah ini di harapkan mahasiswa dapat
memahami dan menjadikan salah satu sumber untuk referensi tugas
tentang bayi baru lahir
2. Khusus
a. Mahasiswa dapat memahami apa yang dimaksud dengan bayi baru
lahir dengan normal
b. Mahasiswa dapat mengetahui tentang ciri-ciri bayi baru lahir,
tahapan bayi baru lahir
c. Dapat mengetahui bagaimana adaptasi fisologis pada bayi baru lahir
d. Mengetahui asuhan segera pada bayi baru lahir, dan mengetahui
tentang neonatus bayi dan balita
e. Adanya penyakit lazim atau kelainan yang sering terjadi pada bayi
baru lahir, serta adanya trauma pada bayi baru lahir
BAB II
Bayi Baru Lahir

A. Pengertian Bayi Baru Lahir Normal


Neonatus atau bayi baru lahir normal adalah bayi baru lahir normal
dengan berat lahir antara 2.500 – 4.000 gram, cukup blan, lahir langsung
menangis, dan tidak ada kelainan kongenital ( cacat bawaan ) yang berat (M.
Sholeh Kosim, 2007).
Menurut Depkes RI (2005), bayi baru lahir normal adalah bayi yang
lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir
2.500 – 4.000 gram.
Menurut Saifuddin (2002), bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir
selama satu jam pertama kelahiran.

B. Ciri-ciri Bayi Baru Lahir


1. Lahir atern antara 37-42 minggu.
2. Berat badan 2.500 – 4.000 gram.
3. Panjang badan 48 – 52 cm.
4. Lingkar dada 30 – 38 cm.
5. Lingkar kepala 33 – 35 cm.
6. Lingkar lengan 11 – 12 cm.
7. Frekuensi denyut jantung 120 – 160 x/menit.
8. Pernapasan ± 40 – 60 x/menit.
9. Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup.
10. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna.
11. Kuku agak panjang dan lemas.
12. Nilai APGAR > 7.
13. Gerak aktif.
14. Bayi lahir langsung menangis kuat
15. Reflex rooting (mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada pipi
dan daerah mulut) sudah terbentuk dengan baik.
16. Reflex sucking (isap dan menelan) sudah terbentuk dengan baik.
17. Reflex morro (gerakan memeluk bila di kagetkan) sudah terbentuk
dengan baik.
18. Reflex grasping (menggenggam) sudah baik.
19. Genitalia.
a. Pada laki – laki kematangan ditandai dengan testis yang berada pada
skrotum dan penis yang berlubang.
b. Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uretra yang
berlubang, serta adanya labia minora dan mayora.
20. Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya meconium dalam 24 jam
pertama dan berwarna hitam kecoklatan.
Sistem Penilaian AFGAR

Tanda Nilai : 0 Nilai : 1 Nilai : 2

Appearance Pucat/biru seluruh Tubuh merah, Seluruh tubuh


(warna kulit) tubuh ekstremitas biru kemerahan
Pulse
(denyut Tidak ada < 100 > 100
jantung)
Grimace Ekstremitas sedikit
Tidak ada Gerakan aktif
(tonus otot) fleksi
Activity Langsung
Tidak ada Sedikit gerak
(aktivitas) menangis
Respiration Lemah/tidak
Tidak ada Menangis
(pernapasan) teratur
Interpretasi :
1. Nilai 1 – 3 asfiksia berat ;
2. Nilai 4 – 6 asfiksia sedang ;
3. Nilai 7 – 10 asfiksia ringan (normal).
C. Tahapan Bayi Baru Lahir
1. Tahap I terjadi segera setelah lahir, selama menit-menit pertama
kelahiran. Pada tahap ini digunakan system scoring apgar untuk fisik dan
scoring gray untuk untuk interaksi bayi dan ibu.
2. Tahap II disebut tahap transisional reaktivitas. Pada tahap II dilakukan
pengkajian selama 24 jam pertama terhadap adanya perubahan perilaku.
3. Tahap III disebut tahap periodik, pengkajian dilakukan selama 24 jam
pertama yang meliputi pemeriksaan seluruh tubuh.

D. Adaptasi Fisiologis
Baru lahir terjadi perubahan fungsi organ yang meliputi:
1. Sistem pernapasan
Selama dalam uterus janin mendapat oksigen dari pertukaran
melalui plasenta. Setelah bayi lahir pertukaran gas terjadi pada paru-paru
(setelah tali pusat dipotong). Rangsangan untuk gerakan pernapasan
pertama ialah akibat adanya tekanan mekanis pada toraks sewaktu
melalui jalan lahir, penurunan tekanan oksigen dan peningkatan
karbondioksida merangsang kemoreseptor pada sinus karotis. Usaha bayi
pertama kali untuk mempertahankan tekanan alveoli adanya surfaktan
adalah menarik nafas, mengeluarkan dengan menjerit sehingga oksigen
tertahan di dalam. Fungsi surfaktan untuk mempertahankan ketegangan
alveoli.
Masa alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku. Pernapasan pada
neonatus biasanya pernapasan diafragma dan abdominal. Sedangkan
respirasi setelah beberapa saat kelahiran yaitu 30 – 60 x / menit.
2. Jantung dan Sirkulasi Darah
Di dalam rahim darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi berasal
dari plasenta masuk ke dalam tubuh janin melalui vena umbilikalis,
sebagian besar masuk ke vena kava inferior melalui duktus dan vena
sasaranti, darah dari sel-sel tubuh yang miskin oksigen serta penuh
dengan sisa-sisa pembakaran dan sebagian akan dialirkan ke plasenta
melalui umbilikalis, demikian seterusnya.
Ketika janin dilahirkan segera, bayi menghirup dan menangis kuat,
dengan demikian paru-paru akan berkembang, tekanan paru-paru
mengecil dan darah mengalir ke paru-paru, dengan demikian duktus
botali tidak berfungsi lagi, foramen ovale akan tertutup. Penutupan
foramen ovale terjadi karena pemotongan tali pusat.
3. Saluran Pencernaan
Pada kehamilan 4 bulan, pencernaan telah cukup terbentuk dan
janin telah dapat menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak.
Absorpsi air ketuban terjadi melalui mukosa seluruh saluran pencernaan,
janin minum air ketuban dapat dibuktikan dengan adanya mekonium (zat
yang berwarna hitam kehijauan). Mekonium merupakan tinja pertama
yang biasanya dikeluarkan dalam 24 jam pertama.
4. Hepar
Hepar janin pada kehamilan 4 bulan mempunyai peranan dalam
metabolisme hidrat arang, dan glikogen mulai disimpan di dalam hepar,
setelah bayi lahir simpanan glikogen cepat terpakai, vitamin A dan D
juga sudah disimpan dalam hepar.
Fungsi hepar janin dalam kandungan segera setelah lahir dalam
keadaan imatur (belum matang). Hal ini dibuktikan dengan
ketidakseimbangan hepar untuk meniadakan bekas penghancuran darah
dari peredaran darah. Enzim hepar belum aktif benar pada neonatus,
misalnya enzim UDPGT (Uridin Disfosfat Glukoronide Transferase) dan
enzim GGFD (Glukosa 6 Fosfat Dehidrogerase) yang berfungsi dalam
sintesis bilirubin sering kurang sehingga neonatus memperlihatkan gejala
ikterus fisiologis.
5. Metabolisme
Pada jam-jam pertama energi didapat dari pembakaran karbohidrat
dan pada hari kedua energi berasal dari pembakaran lemak. Energi
tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam pertama sesudah lahir
diambil dari hasil metabolisme lemak sehingga kadar gula darah dapat
mencapai 120 mg/100 ml.
6. Produksi Panas
Pada neonatus apabila mengalami hipotermi, bayi mengadakan
penyesuaian suhu terutama dengan NST (Non Sheviring Thermogenesis)
yaitu dengan pembakaran “Brown Fat” (lemak coklat) yang memberikan
lebih banyak energi daripada lemak biasa. Cara penghilangan tubuh
dapat melalui konveksi aliran panas mengalir dari permukaan tubuh ke
udara sekeliling yang lebih dingin. Radiasi yaitu kehilangan panas dari
permukaan tubuh ke permukaan benda yang lebih dingin tanpa kontak
secara langsung. Evaporasi yaitu perubahan cairan menjadi uap seperti
yang terjadi jika air keluar dari paru-paru dan kulit sebagai uap dan
konduksi yaitu kehilangan panas dari permukaan tubuh ke permukaan
benda yang lebih dingin dengan kontak secara langsung.
7. Kelenjar Endoktrin
Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu, pada
waktu bayi baru lahir kadang-kadang hormon tersebut masih berfungsi
misalkan pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai haid
perempuan. Kelenjar tiroid sudah terbentuk sempurna sewaktu lahir dan
mulai berfungsi sejak beberapa bulan sebelum lahir.
8. Keseimbangan Air dan Ginjal
Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar
natrium relatif lebih besar daripada kalium. Hal ini menandakan bahwa
ruangan ekstraseluler luas. Fungsi ginjal belum sempurna karena jumlah
nefron matur belum sebanyak orang dewasa dan ada ketidakseimbangan
antara luas permukaan glomerulus dan volume tubulus proksimal, renal
blood flow (aliran darah ginjal) pada neonatus relatif kurang bila
dibandingkan dengan orang dewasa.
9. Susunan Saraf
Jika janin pada kehamilan sepuluh minggu dilahirkan hidup maka
dapat dilihat bahwa janin tersebut dapat mengadakan gerakan spontan.
Gerakan menelan pada janin baru terjadi pada kehamilan empat bulan.
Sedangkan gerakan menghisap baru terjadi pada kehamilan enam bulan.
Pada triwulan terakhir hubungan antara saraf dan fungsi otot-otot
menjadi lebih sempurna. Sehingga janin yang dilahirkan diatas 32
minggu dapat hidup diluar kandungan. Pada kehamilan 7 bulan maka
janin amat sensitif terhadap cahaya.
10. Imunologi
Pada sistem imunologi Ig gamma A telah dapat dibentuk pada
kehamilan 2 bulan dan baru banyak ditemukan segera sesudah bayi
dilahirkan. Khususnya pada traktus respiratoris kelenjar liur sesuai
dengan bakteri dapat alat pencernaan, imunoglobolin G dibentuk banyak
dalam bulan kedua setelah bayi dilahirkan. Ig A, Ig D dan Ig E
diproduksi secara lebih bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai
sampai pada masa kanak-kanak dini. Bayi yang menyusui mendapat
kekebalan pasif dari kolostrum dan ASI.
11. Sistem Integumen
Kulit bayi baru lahir sangat sensitif dan mudah mengelupas, semua
struktur kulit ada pada saat lahir tetapi tidak matur. Epidermis dan dermis
tidak terikat dengan erat dan sangat tipis, vernik keseosa juga bersatu
dengan epidermis dan bertindak sebagai tutup pelindung dan warna kulit
bayi berwarna merah muda.
12. Sistem Hematopoiesis.
Saat bayi lahir nilai rata-rata Hb, Ht, SDM dan Leukosit lebih
tinggi dari nilai normal orang dewasa. Hb bayi baru lahir 14,5 – 22,5
gr/dl, Ht 44 – 72%, SDM 5 – 7,5 juta/mm3 dan Leukosit sekitar
18000/mm3. Darah bayi baru lahir mengandung sekitar 80% Hb janin.
Presentasi Hb janin menurun sampai 55% pada minggu kelima dan 5%
pada minggu ke 20.
13. Sistem Skelet
Arah pertumbuhan sefalokaudal terbukti pada pertumbuhan tubuh
secara keseluruhan. Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat
panjang tubuh. Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai. Wajah
relatif kecil terhadap ukuran tengkorak yang jika dibandingkan lebih
besar dan berat. Ukuran dan bentuk kranium dapat mengalami distorsi
akibat molase.
Pada bayi baru lahir lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan
tumit disatukan sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung. Saat
baru lahir tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki. Ekstremitas harys
simetris, terdapat kuku jari tangan dan kaki, garis-garis telapak tangan
dan sudah terlihat pada bayi cukup bulan.

E. Asuhan Segera Pada Bayi Baru Lahir Normal


1. Cara memotong tali pusat
a. Menjepit tali dengan klem dengan jarak 3 meter dari pusat, lalu
mengurut tali pusat kepada ibu dan memasang klem ke-2 dengan
jarak 2 cm dari klem.
b. Memegang tali pusat diantara 2 klem dengan menggunakan tangan
kiri (jari tengah melindungi tubuh bayi) lalu memotong tali pusat
diantara 2 klem.
c. Mengikat tali pusat dengan jarak + 1 cm dari umbilikus dengan
simpul mati lalu mengikat balik tali pusat dengan simpul mati. Untuk
kedua kalinya bungkus dengan kasa steril, lepaskan klem pada tali
pusat, lalu memasukannya dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5
%.
d. Membungkus bayi dengan kain bersih dan memberikannya kepada
ibu.
2. Mempertahankan suhu tubuh BBL dan mencegah hipotermia.
a. Mengeringkan tubuh bayi segera setelah lahir, untuk mencegah
terjadinya hipotermia, bayi yang baru lahir harus segera dikeringkan
dan dibungkus dengan kain kering kemudian diletakan telungkup
diatas dada ibu untuk mendapatkan kehangatan dari dekapan ibu.
b. Menunda memandikan BBL sampai tubuh bayi stabil
Pada BBL cukup bulan dengan berat badan lebih dari 2.500 gram dan
menangis kuat bisa dimandikan +24 jam setelah kelahiran dengan
tetap menggunakan air hangat. Pada BBL berisiko yang berat
badannya kurang dari 2.500 gram atau keadaan sangat lemah
sebaiknya jangan dimandikan sampai suhu tubuh nya stabil dan
mampu mengisap ASI dengan baik.
c. Menghindari kehilangan panas pada bayi baru lahir
Ada empat cara yang membuat bayi kehilangan panas, yaitu melalui
radiasi, evaporasi, konduksi, dan konveksi.

F. Neonatus Bayi Dan Anak Balita Dengan Penyakit Yang Lazim Terjadi
1. Bercak mongol
Suatu pigmentasi yang datar dan berwarna gelap di daerah pinggang
bawah dan bokong yang biasanya dapat ditemukan pada beberapa bayi
saat lahir.
2. Hemangioma
Suatu tumor jaringan lunak/tumor vaskular jinak akibat ploleferasi
(pertumbuhan yang berlebih) dari pembuluh darah yang tidak normal dan
dapat terjadi pada setiap jaringan pembuluh darah.
3. Ikterus
Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terjadi pada bayi
baru lahir akibat hiperbilirubinemia.
4. Muntah
Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin mangalami
muntah lender, bahkan kadang disertai sedkit darah. Muntah ini tidak
jarang menetap setelah pemberian ASI atau makanan, keadaan tersebut
kemungkinan disebabkan karena iritasi mukosa lambung oleh sejumlah
benda yang tertelan selama proses persalinan.
5. Gumoh
Keluarnya kembali sebagian kecil isi lambung setelah beberapa saat
setelah makanan dicerna dalam lambung. Biasanya disebabkan karena
bayi menelan udara pada saat menyusu. Gumoh tidak akan menyebabkan
perubahan berat badan secara signifikan.
6. Oral trush
Terjadinya infeksi jamur candidiasis pada membran mukosa mulut bayi
yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak keputihan, membentuk
plak-plak berkeping dimulut, ulkus dangkal, demam, dan adanya iritasi
gastrointestinal.
7. Diaper rash (ruam popok)
Terjadinya ruam-ruam kemerahan pada bokong akibat kontrak terus-
menerus dengan lingkungan yang tidak baik.
8. Sabhorrea
Radang berupa sisik yang berlemak berupa eritema pada daerah yang
terdapat banyak kelenjar sebasea-nya biasanya terjadi di daerah kepala.
9. Furunkel (boil atau bisul)
Peradangan pada folikel rambut kulit dan jaringan sekitarnya yang sering
terjadi didaerah bokong, kuduk, aksila, badan, dan tungkai.
10. Milliariasis
Milliariasis yang disebut biang keringat.
11. Diare
Pengeluaran feses yang tidak normal dan cair, bayi dikatakan diare bila
BAB sudah lebih dari 3 kali dalam sehari.
12. Obstipasi
Penimbunan feses yang keras akibat adanya penyakit atau adanya
obstruksi pada saluran cerna, atau tidak ada pengeluaran feses selama 3
hari atau lebih.

G. Bayi Baru Lahir Bermasalah


1. Masalah yang perlu tindakan segera dalam 1 jam
a. Tidak bernapas/sulit bernapas
Penanganan umum yang bisa diberikan adalah:
1) Keringkan bayi atau ganti kain yang basah dan bungkus dengan
pakaian hangat dan kering.
2) Segera klem dan potong tali pusat.
3) Letakan bayi pada tempat yang keras dan hangat.
4) Lakukan pedoman pencegahan infeksi dalam setiap melakukan
tindakan.
5) Lakukan resusitasi bila terdeteksi adanya kegagalan napas
setelah bayi lahir.
6) Jika resusitasi tidak berhasil, maka berikan ventilasi.
b. Sianosis /kebiruan dan sukar bernafas.
Jika bayi mengalami Sianosis (kebiruan) sukar bernafas (frekuensi
<30 atau >60 x/mnt), ada tarikan dinding dada ke dalam, atau
merintih, maka lakukan hal berikut:
1) Isap mulut dan hidung untuk memastikan jalan napas tidak
tersumbat.
2) Berikan oksigen 0,5 liter/mnt.
3) Rujuk ke kamar bayi atau tempat pelayanan yang men-support
kondisi bayi.
4) Tetap menjaga kehangatan bayi.
c. Bayi berat lahir rendah (BBLR) <2.500 GRAM
Bayi lahir kecil akibat kurang bulan, dan bayi lahir kecil dengan BB
yang seharusnya untuk masa gestasi (dismatur).
1) Bayi lahir kecil akibat kurang bulan (prematur).
a) Masa gestasi <37 minggu
b) Faktor penyebab adalah sebagai berikut:
1) Ibu mengalami pendarahan antepartum, trauma
fisik/fsikologis, dan DM.
2) Keadaan social ekonomi rendah
3) Kehamilan ganda atau hidramnion.
c) Ciri-ciri bayi prematur adalah sebagai berikut:
1) Berat kurang <2.500 gram
2) Lingkar dada <30 cm
3) Panjang badan <45 cm
4) Lingkar kepala <33 cm
5) Kepala lebih besar dari badannya
6) Kulitnya tipis transparan dan banyak lanugo
7) Lemak subkutan minimal
2) Bayi lahir kecil dengan BB yang seharusnya untuk masa gestasi
(dismatur).
1) Sukar bernapas
2) Sukar minum (mengisap)
3) Ikterus berat
4) Infeksi
5) Rentan hipotermi
d. Letargi
Tonus otot rendah dan tidak ada gerakan sehingga sangat mungkin
bayi sedang sakit berat. Jika ditemukan kondisi demikian, segera
rujuk.
e. Hipotermi (suhu <36 c)
Untuk mengatasi kondisi tersebut, lakukan hal berikut:
1) Gunakan alat yang ada inkubator, radian heater, kamar hangat.
2) Rujuk ke pelayanan kesehatan yang memiliki Neonatal instensif
care unit (NICU).
3) Jika bayi sianosis, sukar bernapas, atau ada tarikan dinding dada
dan merintih, segera berikan oksigen.
f. Kejang
g. Diare
Pengeluaran feses yang tidak normal dan cair, bayi dikatakan diare
bila BAB sudah lebih dari 3 kali dalam sehari.
Obstipasi
Penimbunan feses yang keras akibat adanya penyakit atau adanya
obstruksi pada saluran cerna, atau tidak ada pengeluaran feses
selama 3 hari atau lebih.
h. Infeksi
Infeksi perinatal adalah infeksi pada neonatus yang terjadi pada masa
antenatal, intranatal, dan postnatal.
i. Sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome
/SIDS).
Sudden infant death syndrome /SIDS terjadi pada bayi yang sehat
secara mendadak, ketika sedang ditidurkan tiba-tiba ditemukan
meninggal beberapa jam kemudian. Angka kejadian SIDS sekitar 4
dari 1.000 kelahiran hidup. Insiden puncak dari SIDS terjadi pada
bayi usia 2 minggu dan 1 tahun.
H. Kelainan-Kelainan Pada Bayi Baru Lahir
1. Labioskizis dan labiopalatoskizis
2. Atresia esopagus
3. Atresia rekti dan anus
4. Hirschprung
5. Obstruksi billiaris
6. Omfalokel
7. Hernia diafragmatika
8. Meningokel, ensefalokel
9. Hidrosefalus
10. Fimosis
11. Hipospadila
I. Trauma Pada Bayi Baru Lahir
Trauma pada bayi baru lahir adalah cedera yang didapatkan saat
persalinan. Trauma ini bisa disebabkan oleh makrosomia, prematur, chepalo
pelvic disporpotion (CPD), distosia, persalinan lama, presentasi abnormal, dan
persalinan dengan tindakan (vaccum atau forceps). Trauma atau cedera pada
bayi baru lahir dapat dibedakan menjadi:
1. Cedera kepala (kaput suksedaneum, sefal hematoma, dan perdarahan
intracranial).
2. Cedera leher dan bahu (fraktur klavikula dan brakial palsi).
3. Cedera intraabdomen (perdarahan di hati, limpa, atau kelenjar adrenal).
J. Neonatus Beresiko Tinggi
1. Asfiksia Neonatorum
Suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernapas secara spontan dan teratur
segera setelah lahir sehingga bayi tidak dapat memasukan oksigen dan tidak
dapat mengeluarkan zat asam arang dari tubuhnya.
2. Pendarahan tali pusat.
Pendarahan yang terjadi pada tali pusat bisa timbul karena trauma pengikatan
tali pusat yang kurang baik atau kegagalan proses pembentukan trombus
normal.
3. Kejang neonatus
Suatu gejala penting akan adanya penyakit lain sebagai penyebab kejang atau
adanya kelainan susunan saraf pusat. Penyebab utama terjadinya kejang
adalah kelainan bawaan pada otak.
BAB III
Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian
1. Aktivitas/Istirahat
Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama, bayi tampak semi
koma saat tidur ; meringis atau tersenyum adalah bukti tidur dengan
gerakan mata cepat, tidur sehari rata-rata 20 jam.
2. Pernapasan dan Peredaran Darah
Bayi normal mulai bernapas 30 detik sesudah lahir, untuk menilai
status kesehatan bayi dalam kaitannya dengan pernapasan dan peredaran
darah dapat digunakan metode APGAR Score. Namun secara praktis dapat
dilihat dari frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta wajah,
ekstremitas dan seluruh tubuh, frekwensi denyut jantung bayi normal
berkisar antara 120-140 kali/menit (12 jam pertama setelah kelahiran),
dapat berfluktuasi dari 70-100 kali/menit (tidur) sampai 180 kali/menit
(menangis).
Pernapasan bayi normal berkisar antara 30-60 kali/menit warna
ekstremitas, wajah dan seluruh tubuh bayi adalah kemerahan. Tekanan
darah sistolik bayi baru lahir 78 dan tekanan diastolik rata-rata 42, tekanan
darah berbeda dari hari ke hari selama bulan pertama kelahiran. Tekanan
darah sistolik bayi sering menurun (sekitar 15 mmHg) selama satu jam
pertama setelah lahir. Menangis dan bergerak biasanya menyebabkan
peningkatan tekanan darah sistolik.
3. Suhu Tubuh
Suhu inti tubuh bayi biasanya berkisar antara 36,50C-370C. Pengukuran
suhu tubuh dapat dilakukan pada aksila atau pada rektal.
4. Kulit
Kulit neonatus yang cukup bulan biasanya halus, lembut dan padat dengan
sedikit pengelupasan, terutama pada telapak tangan, kaki dan
selangkangan. Kulit biasanya dilapisi dengan zat lemak berwarna putih
kekuningan terutama di daerah lipatan dan bahu yang disebut verniks
kaseosa.
5. Keadaan dan Kelengkapan Ekstremitas
Dilihat apakah ada cacat bawaan berupa kelainan bentuk, kelainan
jumlah atau tidak sama sekali pada semua anggota tubuh dari ujung
rambut sampai ujung kaki juga lubang anus (rektal) dan jenis kelamin.
6. Tali Pusat
Pada tali pusat terdapat dua arteri dan satu vena umbilikalis. Keadaan tali
pusat harus kering, tidak ada perdarahan, tidak ada kemerahan di
sekitarnya.
7. Refleks
a. Refleks moro (refleks terkejut).
Bila diberi rangsangan yang mengagetkan akan terjadi refleks lengan
dan tangan terbuka.
b. Refleks menggenggam (palmer graps).
Bila telapak tangan dirangsang akan memberi reaksi seperti
menggenggam. Plantar graps, bila telapak kaki dirangsang akan
memberi reaksi.
c. Refleks berjalan (stepping).
Bila kakinya ditekankan pada bidang datang atau diangkat akan
bergerak seperti berjalan.
d. Refleks mencari (rooting).
Bila pipi bayi disentuh akan menoleh kepalanya ke sisi yang disentuh
itu mencari puting susu.
e. Refleks menghisap (sucking).
Bila memasukan sesuatu ke dalam mulut bayi akan membuat gerakan
menghisap.
8. Berat Badan
Pada hari kedua dan ketiga bayi mengalami berat badan fisiologis. Namun
harus waspada jangan sampai melampaui 10% dari berat badan lahir.
Berat badan lahir normal adalah 2500 sampai 4000 gram.
a. Mekonium
Mekonium adalah feces bayi yang berupa pasta kental berwarna gelap
hitam kehijauan dan lengket. Mekonium akan mulai keluar dalam 24
jam pertama.
b. Antropometri
Dilakukan pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan
atas dan panjang badan dengan menggunakan pita pengukur. Lingkar
kepala fronto-occipitalis 34cm, suboksipito-bregmantika 32cm, mento
occipitalis 35cm. Lingkar dada normal 32-34 cm. Lingkar lengan atas
normal 10-11 cm. Panjang badan normal 48-50 cm.
c. Seksualitas
1) Genetalia wanita ; Labia vagina agak kemerahan atau edema, tanda
vagina/himen dapat terlihat, rabas mukosa putih (smegma) atau
rabas berdarah sedikit mungkin ada.
2) Genetalia pria ; Testis turun, skrotum tertutup dengan rugae,
fimosis biasa terjadi.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan refleks hisap tidak adekuat.
2. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan adaptasi dengan
lingkungan luar rahim, keterbatasan jumlah lemak.
3. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
(pemotongan tali pusat) tali pusat masih basah.
4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya
air (IWL), keterbatasan masukan cairan.
5. Kurangnya pengetahuan orangtua berhubungan dengan kurang
terpaparnya informasi.
C. Perencanaan Keperawatan
1. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan refleks hisap tidak adekuat.
a. Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi.
b. Kriteria hasil:
1) Penurunan BB tidak lebih dari 10% BB lahir.
2) Intake dan output makanan seimbang.
3) Tidak ada tanda-tanda hipoglikemi.
c. Rencana tindakan:
1) Timbang BB setiap hari.
2) Auskultasi bising usus, perhatikan adanya distensi abdomen.
3) Anjurkan ibu untuk menyusui pada payudara secara bergantian 5-
10 menit.
4) Lakukan pemberian makanan tambahan.
5) Observasi bayi terhadap adanya indikasi masalah dalm pemberian
makanan (tersedak, menolak makanan, produksi mukosa
meningkat).
2. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan adaptasi dengan
lingkungan luar rahim, keterbatasan jumlah lemak.
a. Tujuan: perubahan suhu tidak terjadi.
b. Kriteria:
1) Suhu tubuh normal 36-370 C.
2) Bebas dari tanda-tanda strees, dingin, tidak ada tremor, sianosis
dan pucat.
c. Rencana tindakan:
1) Pertahankan suhu lingkungan.
2) Ukur suhu tubuh setiap 4 jam.
3) Mandikan bayi dengan air hangat secara tepat dan cepat untuk
menjaga air bayi tidak kedinginan.
4) Perhatikan tanda-tanda strees dingin dan distress pernapasan(
tremor, pucat, kulit dingin).
3. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
(pemotongan tali pusat) tali pusat masih basah.
a. Tujuan : infeksi tidak terjadi
b. Kriteria hasil:
1) Bebas dari tanda-tanda infeksi.
3) TTV normal:S: 36-370C, N:70-100x/menit, RR: 40-60x/menit
4) Tali pusat mengering
c. Rencana tindakan :
1) Pertahankan teknik septic dan aseptic.
2) Lakukan perawatan tali pusat setiap hari setelah mandi satu kali
perhari.
3) Observasi tali pusat dan area sekitar kulit dari tanda-tanda infeksi.
4) Infeksi kulit setiap hati terhadap ruam atau kerusakan integritas
kulit.
5) Ukur TTV setiap 4 jam.
6) Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium.
7) Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
hilangnya air (IWL), keterbatasan masukan cairan.
d. Tujuan: kebutuhan cairan terpenuhi
e. Kriteria hasil:
1) Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi yang ditandai
dengan output kurang dari 1-3ml/kg/jam.
2) Membran mukosa normal.
3) Ubun-ubun tidak cekung.
4) Temperature dalam batas normal.
f. Rencana tindakan :
1) Pertahankan intake sesuai jadwal
2) Berikan minum sesuai jadwal
3) Monitor intake dan output
4) Berikan infuse sesuai program
5) Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, ubun-ubun, turgor
kulit, mata
6) Monitor temperatur setiap 2 jam
4. Kurangnya pengetahuan orangtua berhubungan dengan kurang
terpaparnya informasi.
a. Tujuan : orang tua mengetahui perawatan pertumbuhan dan
perkembangan bayi
b. Kriteria hasil:
1) Orang tua mengatakan memahami kondisi bayi.
2) Oaring tua berpartisipasi dalam perawatan bayi
c. Rencana tindakan:
1) Ajarkan orang tua untuk diskusi dengan diskusi fisiologi, alasan
perawatan dan pengobatan.
2) Diskusikan perilaku bayi baru lahir setelah periode pertama.
3) Lakukan pemeriksaaan bayi baru lahir saat orang tua ada.
4) Berikan informasi tentang kemampuan interaksi bayi baru lahir.
5) Libatkan dan ajarkan orang tua dalam perawatan bayi.
6) Jelaskan komplikasi dengan mengenai tanda-tanda hiperbilirubin
D. Pelaksanaan Keperawatan
Tahap pelaksanaan merupakan langkah keempat melaksanakan berbagai
strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam
rencana tindakan keperawatan (Hidayat 2004). Dalam tahap ini perawat harus
mengetahui berbagai hal diantaranya bahaya-bahaya fisik dan perlindungan
pada klien. Teknik komunikasi kemampuan dalam prosedur klien. Dalam
pelaksanaan rencana tindakan terdapat dua jenis tindakan yaitu tindakan jenis
mandiri dan kolaborasi. Sebagai profesi perawat mempunyai kewenangan
dalam tanggung jawab dalam menentukan komponan pada tahap asuhan
keperawatan.
Komponen pada tahap implementasi adalah :
1. Tindakan keperawatan mandiri
Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa pesanan dokter. Tindakan
keperawatan mandiri ini ditetapkan dengan standar praktek American
Nurses Associatioin (1973) dan kebijakan institusi perawatan kesehatan.
2. Tindakan keperawatan kolaboratif
Tindakan keperawatan kolaborasi diimpelementasikan bila perawat
bekerja dengan anggota tim perawat kesehatan yang lain dalam membuat
keputusan bersama yang bertujuan untuk mengatasi masalah klien.
3. Dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap tindakan
keperawatan
Dokumentasi merupakan pernyataan dari kejadian/identitas yang otentik
dengan mempertahankan catatan-catatan yang tertulis. Dokumentasi
merupakan wahana untuk komunikasi dan suatu profesional ke profesional
lainnya tentang kasus klien. Dokumen klien merupakan bukti tindakan
keperawatan mandiri dan kolaborasi yang diimplementasikan oleh perawat
dan perubahan-perubahan pada kondisi klien. Frekuensi dokumentasi
tergantung pada kondisi klien dan terapi yang diberikan idealnya therapi
dilakukan setiap shift. Rekam medis klien merupakan dokumentasi yang
legal, rekam medis tersebut diterima di pengadilan. Pada tuntutan mal
praktik, catatan perawatan memberikan bukti tindakan perawat. Perawat
harus melindungi catatan tersebut dari pembaca yang tidak berhak seperti
pengunjung. Tanda tangan perawat di akhiri catatan perawat merupakan
akuntabilitas terhadap isi catatan. Mengubah dokumen legal tersebut
merupakan suatu kejahatan adalah tidak bisa di teruma untuk menghapus
tulisan pada catatan menggunakan tipe x, penghapusan tinta atau lainnya.
E. Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan kriteria
hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Kemampuan yang harus dimiliki
perawat pada tahap ini adalah memahami respon terhadap intervensi
keperawatan. Kemampuan mengembalikan kesimpulan tentang tujuan yang
dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan-tindakan
keperawatan pada kriteria hasil.
Pada tahap evaluasi ini terdiri 2 kegiatan yaitu:
1. Evaluasi formasi menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat
memberikan intervensi dengan respon segera.
2. Evaluasi sumatif merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis
status klien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncanakan
pada tahap perencanaan. Disamping itu, evaluasi juga sebagai alat ukur
suatu tujuan yang mempunyai kriteria tettentu yang membuktikan apakah
tujuan tercapai, tidak tercapai atau tercapai sebagian.
a. Tujuan Tercapai
Tujuan dikatakan teracapai bila klien telah menunjukkan perubahan
kemajuan yang sesuai dengan keiteria yang telah ditetapkan
b. Tujuan tercapai sebagian
Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan tidak tercapai
secara keseluruhan sehingga masih perlu dicari berbagai masalah atau
penyebabnya, seperti klien dapat makan sendiri tetapi masih merasa
mual, setelah makan bahkan kadang-kadang muntah.
c. Tujuan tidak tercapai
Dikatakan tidak tercapai apabila tidak menunjukkan adanya perubahan
kearah kemajuan sebagaimana kriteria yang diharapkan.
Evaluasi sumatif masing-masing diagnosa keperawatan secara teori
adalah :
1) Resiko tinggi perubahan nutrisi tidak terjadi.
2) Resiko tinggi perubahan suhu tubuh tidak terjadi.
3) Resiko tinggi infeksi tidak terjadi.
4) Resiko tinggi kekurangan volume cairan tidak terjadi.
5) Kurangnya pengetahuan orang tua teratasi.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir
dengan umur kehamilan 38-40 minggu,lahir melalui jalan lahir dengan
presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis kuat, nafas secara
spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000 gram.
Pada bayi lahir normal umumnya tidak dilakukan pemeriksaan
laboratorium, namun kadang-kadang dengan riwayat kehamilan dan kondisi
tertentu perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi tertentu
Obat profilaksis yang rutin diberikan pada bayi baru lahir yaitu:
1. Vitamin K
2. Tetes / zalf mata
B. Saran
Jika dalam penulisan makalah ini terdapat kekuarangn dan kesalahan,
kami mohon maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik di
kemudian hari.